Nona A 19 tahun, datang ke UGD dengan keluhan nyeri perut kanan bawah 2 hari yang lalu.

Tiga hari yang lalu, nona A merasakan nyeri di ulu hatinya. Sejak pagi ini nyeri terasa di perut kanan bawah dan demam. Riwayat menstruasinya normal. Pemeriksaan Fisik : KU baik, kompos mentis, vital sign dalam batas normal, suhu tubuh 37,8ºC. Abdomen : inspeksi : datar ; palpasi : lemas, defans muskular (+) lokal abdomen kanan bawah ; perkusi : timpani, nyeri ketok kanan bawah ; auskultasi : bising usus normal. Laboratorium : Hb 12,4 gr%; laukosit 16,200/mm³ Abdominal USG : sausage sign (+) ___________________________________________________ Analisis: Pasien datang dengan keluhan utama nyeri perut kanan bawah. Secara anatomis, organ-organ yang terletak di daerah perut kanan bawah adalah Apendiks vermiformis, Tuba uterine, Endometrium, Caecum, Ureter, M.psoas, Usus, Colon ascendens. Jadi, bisa kita curigai bahwa suatu kelainan terjadi pada organ-organ tersebut. Penyakit-penyakit yang mungkin timbul berdasarkan keluhan utama pasien (nyeri perut kanan bawah) tersebut adalah apendisitis, adneksitis, endometriosis, kista ovarium, KET (Kehamilan Ektopik Terganggu), divertikulitis, perforasi caecum, dan batu ureter kanan. Pada anamnesis selanjutnya, kita jumpai bahwa tiga hari sebelum datang ke UGD, pasien merasakan nyeri di ulu hatinya. Nyeri ini diakibatkan oleh stimulasi yang dihantarkan oleh serabut saraf yang sama dengan organ pada perut kanan bawah. Dari anamnesis juga terdapat demam yang mengindikasikan bahwa telah tejadi infeksi pada pasien. riwayat menstuasi normal dapat menyingkirkan kemungkinan nyeri abdomen akut yang berhubungan dengan sistem reproduksi, yaitu endometriosis, kista ovarium, KET. Pada pemeriksaan fisik, kita temukan suhu tubuh meningkat. Defans muskular (+) lokal abdomen kanan bawah, yang mengindikasikan adanya upaya mempertahankan peritoneum supaya tidak bergerak, karena pergerakan dapat memicu terjadinya nyeri. Pada perkusi : timpani, nyeri ketok kanan bawah, yang menunjukkan adanya inflamasi. Pada divertikulitis, perforasi caecum, dan batu ureter kanan tidak dijumpai adanya defans muskular dan nyeri ketok kanan bawah. Pada pemeriksaan laboratorium, kita dapatkan leukosit yang meningkat, mengindikasikan adanya infeksi. Dari analisis diatas, hipotesis penyakit pada nona A mengarah pada apendisitis akut.

Apendisitis Akut
Appendisitis akut adalah penyakit radang pada appendiks vermiformis yang terjadi secara akut. Apendiks atau umbai cacing hingga saat ini fungsinya belum diketahui dengan pasti, namun sering menimbulkan keluhan yang mengganggu. Apendiks merupakan tabung panjang, sempit (sekitar 6 – 9 cm), menghasilkan lendir 1-2 ml/hari. Lendir itu secara normal dicurahkan dalam lumen dan selanjutnya dialirkan ke sekum. Bila ada hambatan dalam pengaliran lendir tersebut maka dapat mempermudah timbulnya apendisitis (radang pada apendiks). Di dalam apendiks juga terdapat imunoglobulin, zat pelindung terhadap infeksi dan yang banyak terdapat di

Sekresi mukosa yang terkumpul selama adanya obstruksi lumen appendiks menyebabkan distensil lumen akut sehingga akan terjadi kenaikan tekanan intraluminal dan sebagai akibatnya terjadi obstruksi arterial serta iskemia. Faktor Risiko Feses yang keras Inflammatory and infectious disorders including Crohn disease. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Insidens lebih tinggi 1. Patogenesis Secara patogenesis. benda asing dalam tubuh. Akibat dari keadaan tersbut akan terjadi ulserasi mukosa sampai terjadi kerusakan seluruh lapisan dinding apendiks. Keadaan ini akan terus berlanjut di mana dinding apendiks akan mengalami perforasi. measles. and mononucleosis. infark selanjutnya menjadi gangren. Hasil akhir adri proses peradangan tersebut sangat tergantung dengan kemampuan organ dan momentum untuk mengatasi infeksi tersebut. Strongyloides species). sehingga desakan pada dinding appendiks akan bertambah besar menyebabkan gangguan pada sistem vasa terakhir adalah arteri. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Dengan adanya kuman dalam lapisan submukosa maka tubuh akan bereaksi berupa peradangan supurative yang menghasilkan pus. respiratory infections. Epidemiologi Dapat mengenai semua umur. Lebih lanjut akan terjadi perpindahan kuman dari lumen masuk ke dalam submukosa. gastroenteritis. sehingga pus akan tercurah ke dalam rongga peritoneum dengan akibat terjadinya peradangan pada peritoneum parietal. parasit. tapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun. infeksi parasit (eg. hipeplasia jaringan limfoid. penyakit cacing. keluarnya pus dari dinding yang masuk ke dalam lumen apendiks akan mengakibatkan tekanan intraluminal akan semakin meningkat. Selain itu pada apendiks terdapat arteria apendikularis yang merupakan end-artery. akibatnya akan terjadi edema dan iskemia dari apendiks.dalamnya adalah Ig A.4 kali lipat pada laki-laki dibandingkan perempuan. amebiasis. Patofisiologi Nyeri perut kanan bawah Nyeri perut kanan bawah pada kasus disebabkan oleh meluasnya proses peradangan pada appendiks vermiformis yang mengenai peritoneum parietal setempat. Etiologi Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. cancer primer dan striktur. . Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit). faktor terpenting terjadinya appendisitis adalah adanya obstruksi lumen appendiks yang biasanya disebabkan oleh fekalit. Schistosomes species. jika infeksi tersebut tidak bisa diatasi akan terjadi peritonitis umum. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. Insidens apendisitis ditemukan lebih sedikit pada populasi dengan pola makan kaya serat.

IL-6.8° Celsius. Bila usus buntu pecah. nyeri dan demam bisa menjadi berat. nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Pada bayi dan anak-anak. benda asing. Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan. spasme otot apendiks → stimulasi N. lalu timbul mual dan muntah. dan XII pada saluran pencernaan dan melalui saraf spinal ke diafragma dan dinding abdomen → Mual dan Muntah Demam Proses inflamasi pada appendiks → pelepasan sitokin (IL-1. Dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilakukan.8-38. fekalit. muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. VII. Observasi Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan. diapedesis bakteri. TNF α) → sitokin sampai di otak → mengaktivasi jalur asam arakidonat → menghasilkan PGE2 → meningkatkan set point termostat di hipotalamus → demam Manifestasi Klinis Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas. dan ulserasi mukosa → appendicitis akut fokal ( nyeri epigastrium) → jika berlanjut → tekanan makin meningkat → obstruksi vena → edema ↑ dan bakteri menembus dinding → peradangan meluas → merangsang peritoneum parietal → nyeri di daerah kanan bawah perut. Setelah beberapa jam. di semua bagian perut. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. Pada orang tua dan wanita hamil. rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini. yang terdiri dari : Mual. kranialis V. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar. X. Nyeri ulu hati Obstruksi → distensi lumen yang berlebihan / spasme otot polos dinding appendix → Impuls yang diterima reseptor regang berjalan di dalam serabut syaraf aferen (Slow conducting C fibers) yang mengikuti serabut syaraf simpatis Plexus mesentericus superior dan nervus splanchnicus minor ke medulla spinalis (segmen T10) → Menimbulkan sensasi nyeri yang tidak terlokalisisr dengan baik di daerah periumbilical dan epigastrium → Nyeri ulu hati (KASUS) Mual dan muntah Peradangan apendiks → peregangan lumen. vagus → pusat muntah di medula → Impuls motorik oleh n. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan . Sebelum Operasi 1. striktur karena perdangan sebelumnya. tanda dan gejala apendisitis seringkali masih belum jelas. neoplasma → penyumbatan lumen appendix → mucus terbendung → tekanan intralumen ↑ → menghambat aliran limfe → edema. nyeri bisa bertambah tajam. IX.Hiperplasia folikel limfoid. nyerinya bersifat menyeluruh. Demam bisa mencapai 37. Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk peritonitis lainnya. Penatalaksanaan a.

2. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar. diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan. d. dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Baringkan pasien dalam posisi Fowler. Kemudian berikan minum mulai 15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30ml/jam. berikan penatalaksanaan seperti dalam peritonitis akut. Intubasi bila perlu 3. atau gangguan pernapasan. 2. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. Faktor yang mempengaruhi prognosis apendisitis adalah usia dan rupturnya appendix Kompetensi Dokter Umum apendisitis akut = 3A. Fokal sepsis. misalnya pada perforasi atau peritonitis umum. sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Obstruksi intestinal akibat adanya perlengketan. .hitung jenis) diulang secara periodik. 3. Perforasi appendix. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan ( laboratorium sederhana dan x-ray ). 4. Keesokan harinya diberikan makanan saring. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2x30 menit. Dokter dapat memutuskan memberikan terapi awal. Dengan demikian gejala apendisitis akut akan mereda. Pada kebanyakan kasus. Pasca Operasi Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam syok. Komplikasi 1. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar. dan kemungkinan terjadinya komplikasi akan berkurang. hipertermia. Antibiotik b. Abses appendix. Prognosis Prognosis secara umum baik jika ditangani dengan baik dan tidak terjadi komplikasi. Penatalaksanaan Gawat Darurat Non-Operasi Bila tidak ada fasilitas bedah. dan merujuk ke spesialis yang relevan ( bukan gawat darurat ). Foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang. puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal. Operasi Apendiktomi c.

2008. 2006 http://www. Dasar Patologi Penyakit Edisi 5. 2005. Sylvia A.2006.e-medicine.com . 9. 2003.net/apendisitis www. Antoni S. Acute Appendicitis and Peritonitis. Jakarta: EGC Sherwood. Robbins Cotran. McGraw-Hill Professional : New York Hall. Standar Kompetensi Dokter. Edisi 29. dkk. Chapter 294.Jakarta :PPFKUI Fauci. Price. 1999. 17th Edition. Jakarta. 1997. ed. dan Guyton. Edisi IV.. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Dan Lorraine M. Jakarta: EGC Sjamsuhidajat R.Jakarta: EGC Kapita Selekta Kedokteran.Referensi:              Anatomi Klinik Snell Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Wilson. Ilmu Ajar Bedah. Kumar. Edisi 2. Harrison's Principles of Internal Medicine. Lauralee. Jakarta: EGC. 2006. KKI. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : Media Aesculapius Kamus Kedokteran Dorland. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.dan Wim De Jong. 2002. Jakarta: EGC. Jakarta: EGC.bedahugm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful