P. 1
BERSAMA AL-QUR'AN MENGGAPAI KESUKSESAN DUNIA-AKHIRAT

BERSAMA AL-QUR'AN MENGGAPAI KESUKSESAN DUNIA-AKHIRAT

5.0

|Views: 3,911|Likes:

More info:

Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Jul 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

Hilmy Bakar

Bersama

Al-Qur'an
Menggapai

Kesuksesan
Dunia-Akhirat

1

Kata Pengantar
Alhamdulillah, segala kemuliaan dan puja puji hanyalah milik Allah, Robb al-Alamin, Penguasa jagat raya yang telah menurunkan al-Qur'an, Kitab yang tidak terdapat sedikitpun cacat dan keraguan padanya, sebagai petunjuk dan pembimbing bagi mereka yang hendak menggapai kemenangan hidup di dunia dan akhirat. Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi besar, junjungan alam, Muhammad Rasulullah yang telah menyampaikan amanah, membimbing umat manusia menuju kemenangan bersama dengan al-Qur'an. Demikian pula semoga terlimpahkan sholawat kepada keluarga Nabi saw, para shohabat, pengikut setia dan penyambung perjuangan menegakkan al-Qur'an sampai hari qiyamat. Amin. Hidup dalam kemenangan dan kesuksesan adalah menjadi obsesi setiap manusia waras dalam kehidupannya. Karena tidak ada seorangpun yang ingin gagal dalam kehidupan ini apalagi menjadi orang-orang yang terpinggir dan tidak memiliki peranan. Namun kenyataannya, lebih banyak manusia yang mengalami kegagalan dalam kehidupan ini daripada yang mendapatkan kesuksesan dan kemenangan dalam arti yang sebenarnya. Memang banyak kita saksikan manusia-manusia yang telah dianggap sukses dalam kehidupannya, mereka memiliki kekayaan yang melimpah ruah, kekuasaan yang besar serta hidup dalam gemerlapnya dunia modern. Tapi apakah mereka telah mendapatkan apa yang mereka cita-citakan, apakah mereka telah mendapatkan kesuksesan dalam arti yang sebenarnya. Kenyataannya, manusia yang dipenuhi dengan segala bentuk tumpukan perbendaharaan material ini, baik berupa kekayaan, kekuasaan, pengetahuan, teknologi dan lainnya, tidak menemukan kebahagian dalam kehidupan mereka. Bahkan mereka ditimpa segala bentuk kecemasan dan ketakutan dengan apa yang diperolehnya. Apakah orang yang merasa tidak bahagia dapat dikatakan telah mencapai kesuksesan hidup? Tentu tidak, karena buah dari kesuksesan sejati tentunya adalah kebahagian itu sendiri.

2

Untuk mencapai kesuksesan, banyak cara yang ditempuh oleh manusia ini sepanjang sejarahnya. Ada yang berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan dengan harapan harta yang melimpah ruah dapat mengantarkannya menuju kebahagian. Ada yang menghimpun kekuatan untuk mendapatkan kekuasaan sehingga menjadi orangt-orang yang dapat melakukan apapun, sebagaimana dalam sejarah kita dengar cerita tentang Yulius Caesar, Raja Namrud, Fira'un sampai zaman modern kita mengenal Stelin, Hitler dan sejenisnya. Demikian pula ada yang mengembangkan berbagai bentuk pengetahuan dan teknologi yang telah memudahkan kehidupan umat manusia, dengan berkembangnya pengetahuan dan lahirnya peradaban akan mengantarkan kebahagian kepada umat manusia. Banyak jalan untuk menggapai kesuksesan hidup, namun apakah hanya kesuksesan sebatas ini saja yang diinginkan manusia ? Ternyata setelah manusia mendapatkan segalanya, baik kekayaan, kekuasaan, pengetahuan dan lainnya, mereka tidak dapat merasakan kebahagian sejati sebagaimana yang dirasakan oleh manusia modern yang mendasarkan kehidupan mereka pada materi semata. Jadi tidak selamanya kekayaan, kekuasaan dan sejenisnya dapat mengantarkan manusia menuju kebahagian sejati, bahkan sebaliknya, kadangkala semua itu justru mengantarkannya kepada jurang kenestapaan ataupun keangkuhan yang pada akhirnya berujung pada kehancuran dan kebinasaan sebagaimana yang dialami hartawan angkuh seperti Qarun ataupun penguasa tiran macam Fir'aun. Untuk itu, manusia perlu mendapatkan sebuah kesuksesan sejati yang akan mengantarkannya menuju kebahagian sejati, yaitu kebahagian di dunia dan di akhirat kelak. Inilah kesuksesan dan kemenangan sebenar-benarnya yang harus di raih oleh umat manusia. Untuk memahami sekaligus meraih kesuksesan sejati ini, manusia memerlukan bimbingan dari Yang Maha Mengetahui tentang dirinya. Dan tentu tidak ada yang lebih mengetahui tentang diri manusia, kecuali Pencipta manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Kepada Sang Penciptalah sepatutnya manusia belajar tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Itulah sebabnya Sang Pencipta telah menurunkan kitab-kitab yang senantiasa menjadi panduan hidup manusia melalui para utusan-Nya sejak pertama kali

3

mereka diciptakan. Dan dengan kasih sayang-Nya pula, Dia telah menurunkan al-Qur'an, kitab terakhir yang tiada keraguan dan kekurangan sedikitpun padanya sebagai pemimpin dan pembimbing manusia dalam menggapai kesuksesan sejati. Hanya al-Qur'anlah yang akan mengantarkan manusia menuju kesuksesan sebagaimana dicita-citakannya. Itulah sebabnya, al-Qur'an sepatutnya dipelajari, difahami, diimani dan diamalkan segala perintahnya agar manusia mendapatkan kesuksesan sejati. Itulah tujuan utama ditulisnya buku ini, agar mereka yang ingin menggapai kesuksesan sejati menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman dalam menggapai cita-citanya. Bukan dengan mencari jalan-jalan yang kelihatannya mengantarkan manusia pada kesuksesan, namun hakikatnya hanya kesuksesan semu yang akan menambah nestapa mereka. Karena kesuksesan sejati adalah apabila manusia sukses menjalani hidupnya di dunia sesuai dengan kehendak Allah yang telah menciptakannya. Memang Allah tidak melarang hamba-hamba-Nya untuk memperoleh kekayaan sebanyak-banyak yang mereka mampu kumpulkan, tidak pernah melarang agar mereka menjadi penguasa-penguasa agung yang memiliki daerah kekuasaan yang luas, demikian pula Sang Pencipta tidak melarang manusia untuk mengembangkan pengetahuan dan teknologi setinggi-tingginya. Bahkan Allah senantiasa memerintahkan manusia agar memiliki semua itu untuk memudahkan mereka mengabdikan diri kepada-Nya. Inilah yang terpenting, agar harta, kekuasaan, pengetahuan dan nikmat-nikmat lainnya dapat menjadi sarana bagi manusia dalam menyembah kepada Allah SWT. Apabila manusia telah sampai pada drajat ini, yang menjadikan segala apa yang ada padanya sebagai sarana untuk menggapai keridhoan Allah Sang Pencipta, maka inilah sebenar-benar dan sesejati-sejatinya keseuksesan dan kemenangan sebagaimana diajarkan al-Qur'an. Untuk mencapai pemahaman ini, manusia, terutama yang telah meyakini al-Qur'an, wajib mengikuti segala tuntutan yang diajarkan al-Qur'an. Karena hanya al-Qur'an dengan segala keutamaan dan kelengkapannyalah yang akan mampu membimbing manusia menggapai cita-cita agung yang telah ditetapkan Sang Pencipta ini. Kesuksesan sejati sebagai hamba-hamba Allah yang menjadikan sarana pengabdian apa-apa yang dimilikinya,

4

baik berupa harta, kekuasaan, pangkat, pengetahuan dan lainnya. Inilah yang diajarkan alQur'an kepada manusia agar mereka dapat merasakan kebahagian sejati dan menggapai kesuksesan dalam hidupnya, baik di dunia maupun akhirat. Buku ini terdiri dari delapan bab. Bab pertama merupakan pendahuluan dari buku ini yang membahas latar belakang permasalahan ditulisnya buku ini. Bab kedua membahas hakikat al-Qur'an sebagaimana yang dimaksudkan al-Qur'an dan pembahasan para cendekiawan dan ulama. Bab ketiga membahas tentang bukti-bukti kebenaran al-Qur'an dari berbagai sisi dan pendekatan ilmiyah yang menggambarkan bagaimana sempurnanya alQur'an sebagai wahyu Allah SWT. Bab keempat membahas bagaimana cara beriman kepada al-Qur'an dengan segala implikasi yang menyertainya. Bab kelima membahas masalah manhaj Qur'ani, metode menerapkan al-Qur'an dalam kehidupan nyata, metode yang telah dicontohkan Rasulullah dan para shahabatnya. Bab keenam membahas masalah ciri khas masyarakat Qur'ani yang telah dibina oleh Rasulullah berdasarkan ajaran al-Qur'an pada masa-masa awal priode Islam. Bab ketujuh membicarakan masalah keunggulan alQur'an sebagai pedoman hidup manusia sepanjang zaman, pedoman yang akan mengantarkan manusia menuju kesuksesan sejati sebagaimana dikehendaki Sang Pencipta alam. Bab kedelapan adalah kesimpulan dan penutup dari semua pembahasan. Sebagai sebuah upaya manusia yang lemah, tentunya buku ini tidak terlepas dari segala bentuk kekurangan dan kelemahan. Apabila terdapat kebenaran di dalamnya, maka tidak lain hal ini bersumber dari Allah dan Rasul-Nya semata, namun apabila ada kesalahan dan kekeliruan, maka pasti ia berasal dari kelemahan dan kebodohan penulis. Itulah sebabnya penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk melengkapi buku ini. Penulis berharap mudah-mudahan buku kecil ini akan mendorong para pembaca untuk mencintai al-Qur'an, dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan, petunjuk dalam menggapai kemenangan dan kesuksesan. Dengan demikian, mudah-mudahan penulis dilimpahkan karunia yang besar oleh Allah dan senantiasa ditambah kecintaan dan

5

pemahamaan kepada al-Qur'an nan agung. Dan Sang Pencipta mencatatnya sebagai amal sholeh yang senantiasa mengalir sampai akhir zaman, amin. Demikian pula, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua fihak yang telah membantu keberadaan buku ini, yang tidak mungkin disebut satu persatu, karena banyaknya. Tidak lupa pula penulis haturkan doa keselamatan kepada Abahanda dan Uminda yang telah tiada, semoga karya kecil ini dapat menjadi amal sholeh yang selanjutnya akan menjadi doa anak sholeh. Kepada Allahlah kita serahkan semua urusan. Jakarta, 01 Agustus 2004 Hilmy Bakar Almascaty

6

DAFTAR ISI
I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. IX.
X.

KATA PENGANTAR BAB I : PENDAHULUAN BAB II : HAKIKAT AL-QUR'AN BAB III : BUKTI KEBENARAN AL-QUR'AN BAB IV : BERIMAN KEPADA AL-QUR'AN BAB V : MANHAJ QUR'ANI BAB VI : MASYARAKAT QUR'ANI BINAAN RASULULLAH BAB VII : AL-QUR'AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP MANUSIA SEPANJANG MASA BAB VIII : AL-QUR’AN DAN FENOMENA PERUBAHAN MANUSIA BAB IXI : KESIMPULAN DAN PENUTUP LAMPIRAN-LAMPIRAN

XI.

7

Bab I : Pendahuluan
Kini dunia telah memasuki babak baru dalam perjalanan sejarahnya yang penuh kompleksitas dengan segala perbendaharaan material yang menyertainya, sebuah babak yang dikenal luas sebagai milenium ketiga. Babak yang merupakan awal mulai terjadinya perubahan-perubahan drastis dalam orientasi dan pola kehidupan umat manusia dalam mengatur eksistensi mereka. Orientasi dan pola lama ditinggalkan akibat kerancuan dan kegagalan yang ditimbulkannya. Dalam era yang dipenuhi dengan berbagai bentuk kecanggihan sain dan teknologi, manusia benar-benar haus akan hakikat diri mereka yang kian terasing dan terpinggirkan dalam glemournya kehidupan modern. Ternyata kehidupan yang dipenuhi materi ini tidak dapat mengantkan mereka untuk mengetahui hakikat diri mereka sebagai manusia, siapa sebenarnya mereka ? Untuk apa keberadaan mereka di muka bumi ? Dan kemanakah mereka akan pergi setelah berakhirnya kehidupan dunia ini? Pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat dalam kehidupan manusia modern ternyata belum mampu menjawab secara tuntas pertanyaan-pertanyaan abadi dan mendasar yang senantiasa diajukan generasi demi generasi oleh umat manusia sejak awal keberadaannya di muka bumi ini. Bahkan lebih jauh dunia modern telah mengantarkan manusia kebingungan demi kebingungan yang menimbulkan kekecewaan dan keputusasaan yang menjadi gejala global saat ini. Keadaan ini diperparah dengan munculnya manusiamanusia perusak yang mengeksploitasi alam, menghancurkan lingkungannya, sanggup memerangi dan membunuh manusia-manusia tak berdosa, yang pada akhirnya memusnahkan peradaban yang dibangun berabad-abad oleh generasi terdahulu. Dan manusia modern dengan perbendaharaan pengetahuan dan teknologinya ternyata telah mengantarkan kehancuran pada alam raya, memusnahkan makhluk hidup dan membunuh sesama manusia. Bersamaan dengan krisis global ini, banyak terjadi perubahan-perubahan besar dan mendasar yang mencengangkan dan mengejutkan umat manusia. Peristiwa-peristiwa besar telah terjadi yang akan merombak tatanan dunia masa depan yang mencemaskan

8

manusia modern. Umat manusia sudah mulai hilang kepercayaan pada semua jenis sistem hidup ciptaan manusia, baik yang dianjurkan oleh Barat ataupun Timur, yang Kapitalis ataupun Sosialis dan sistem sekuler sejenisnya, yang pada hakikatnya telah mengantarkan pengikutnya menuju kerancuan demi kerancuan, yang pada akhirnya menimbulkan bencana demi bencana kemanusiaan. Bahkan tidak diragukan, bencana yang ditimbulkan manusia modern dengan perbendaharaan pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya sangat mengerikan akibat dampak luas kehancuran yang ditimbulkannya. Karena semua sistem manusiawi itu pada hakekatnya mengarahkan manusia menuju jurang kehancuran dengan segala problematika yang ditimbulkannya. Sistem hidup manusiawi itu tidak mampu menyelesaikan problematika yang dihadapi manusia modern, bahkan menambah problematika baru di atas segala bentuk problematika yang sudah ada. Teori-teori yang disanjung dan diagungkan hari ini, pada kemudian hari dikecam habis-habisan oleh pendukung-pendukung setianya sendiri. Konsep hidup yang pada awalnya berslogankan kebebasan, keadilan, samarata-samarasa, keamanan, kedamaian dan kata-kata indah lainnya, hanya melahirkan kediktatoran, penyelewengan, penindasan golongan kelas elit baru dan membentuk manusia-manusia perusak yang tidak berperikemanusiaan. Mereka menciptakan teknologi canggih untuk saling memusnahkan. Akhirnya, sistem yang diagungagungkan itu mendorong lahirnya eksploitasi bangsa atas bangsa lain yang dikenal sebagai imprialisme dan kolonialisme. Konsep manusiawi itu pada hakikatnya mengubah sifat manusia menjadi hewan yang tidak mengenal malu terhadap pelanggaran nilai-nilai moral, sehingga lahirlah manusia yang lebih kejam dan lebih sadis dari binatang buas. Akibat kepalsuan dan kegagalan yang ditimbulkannya, masyarakat modern yang penuh dengan perbendaharaan materi sudah mulai ragu dan menolak dengan kerasnya sistem hidup manusiawi itu. Karena sistem yang mengantarkan mereka pada dunia modern ini telah menjadikan mereka sebagai manusia-manusia yang kehilangan arah, kehilangan jati diri, kehilangan hakikat hidup, bahkan lebih jauh mereka telah ditimpa penyakit yang sangat membahayakan kehidupan manusia, krisis spiritual. Modernisme yang dilahirkan dari

9

sekulerisme yang menolak peranan agama, ternyata tidak mampu memenuhi tuntutan hakiki manusia yang memerlukan kebahagian dan ketenangan sejati. Walaupun Peradaban modern dengan segala produknya telah mengantarkan mereka menuju puncak kegemilangan material, namun kegelisahan dan ketakutan telah menghantui masyarakat yang menamakan dirinya modern. Akhirnya tidak diragukan mereka amat merindukan sistem hidup yang akan membawa mereka menuju kedamaian abadi di dunia dan akhirat. Itulah sebabnya, masyarakat modern kini mulai mengkritisi keberadaan dan pencapaian yang tengah mereka alami. Apakah kemodernan yang dicapainya mampu melahirkan kebahagian dan ketenangan sejati pada masyarakatnya. Apakah mampu mengantarkan manusia menuju kesuksesan hidup yang mereka cita-citakan, sebuah tatanan masyarakat yang harmonis, aman, damai dan berkembang sesuai dengan segala potensi yang mereka miliki. Apakah modernisme yang berdasarkan sekulerisme ini benar-benar mampu menciptakan kesuksesan dalam arti yang sebenarnya, kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan kesuksesan dalam kehidupan setelahnya. Namun kenyataannya masyarakat modern yang menganut faham sekulerisme dengan segala cabangnya telah mengalami kegagalan dalam menggapai kesuksesan sejati dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Mereka lahir menjadi manusia dan sekumpulan masyarakat yang sangat egois, mementingkan diri sendiri, penuh penyakit jiwa dan eksploitatif serta agresif. Mereka sangat takut dengan produk peradaban yang mereka ciptakan sendiri, terutama teknologi persenjataan yang dapat memusnahkan umat manusia dan alam sekitarnya dalam hitungan detik. Akhirnya kemodernan (modernisasi) yang ditawarkan dunia Barat kepada dunia terbelakang dan berkembang telah menimbulkan konflik baru, yang diistilahkan oleh Huntington sebagai "The Clash of Civilizations", terjadinya pergesekan antar peradaban yang akan memicu perang dunia. Sehubungan dengan masalah ini, kaum Muslimin yang selalu menjadi obyek modernisasi dari kaum imprialis Barat, kini mulai membuka matanya dari mimpi panjang. Setelah berabad-abad dibohongi Barat dengan segala janji-janji kosongnya yang telah menghancurkan identitas dan keagungan mereka, kini kaum Muslimin mulai menyakini

10

hanya Islamlah ideologi, cara hidup, filsafat yang terunggul dan tersempurna. Panduan hidup yang akan mampu menjawab permasalahan masyarakat modern dengan segala nestapanya, mengobati segala penyakit yang telah menimpa mereka. Bahkan tidak diragukan akan mengantarkan mereka menjadi manusia-manusia modern dalam arti sebenarnya, yaitu manusia-manusia agung yang menguasai peradaban modern yang berlandaskan pada spiritualisme Islam. Mereka benar-benar telah sadar, selama ini dibohongi Barat dengan segala propaganda-propaganda sesatnya yang telah mendoktrin mereka dengan berbagai sistem manusiawi yang kemudian berakhir dengan kegelisahan, kekacauan dan kehancuran. Mereka mulai sadar bahwa materialisme dan cabang-cabangnya yang diajarkan Barat kepada kaum Muslimin telah melahirkan manusia bingung yang penuh dengan tragedi, menanggalkan fitrahnya sebagai pemakmur alam raya. Mereka telah diperbudak oleh materi yang mereka ciptakan sendiri. Kenyataan-kenyataan ini telah mengukuhkan kesadaran kaum Muslimin bahwasanya Islam adalah sumber kekuatan yang akan membawa mereka menuju kejayaan, kesuksesan hidup sejati di dunia dan akhirat. Hari demi hari kesadaran kaum Muslimin ini semakin meluas, menjangkau semua lapisan masyarakat, dari para profesor di universitas, politisi, pengusaha, mahasiswa sampai masyarakat awam. Mereka telah sepakat bahwa ad-dinul Islam adalah sumber kekuatan yang akan menjadikan mereka sebagai penguasa dunia yang agung sebagaimana generasi-generasi Islam terdahulu yang telah menguasai dunia dan menegakkan kalimah Allah di atasnya sehingga terwujudnya keadilan, kedamaian dan kemakmuran yang meluas. Mereka telah menyadari bahwa mereka adalah Khalifatullah, wakil Allah di muka bumi yang akan mengatur alam ini sesuai menurut kehendak-Nya. Kebangkitan kembali Islam dan kaum Muslimin telah menjadi kenyataan, tidak ada siapapun yang mampu menahan gelombang kebangkitannya, karena menjadi rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kaum Muslimin. Bersamaan dengan gema kebangkitan Islam yang semakin kuat ini, kaum Muslimin di penjuru dunia mulai berusaha untuk memahami ajaran Islam dari sumbernya yang asli, yaitu al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah. Mereka berusaha memahami secara pasti

11

inti ajaran Islam menurut sumbernya yang asli, bukannya dari pemahaman-pemahaman musuh-musuh Islam yang senantiasa berusaha menghancurkan Islam dengan segala tipu muslihatnya. Para orientalis, agen Yahudi dan Nasrani sejak lama menyajikan Islam menurut pemahaman mereka dengan metode yang sangat menarik agar umat tersesat dan tetap dalam kemunduran serta terjajah pemikirannya. Mereka menghendaki umat tetap menjadi budak-budak Yahudi dan Nasrani sebagaimana yang telah menimpa intelektual Muslim terdahulu yang terlalu mengagungkan Barat dan segala pemikirannya. Agen Yahudi dan Nasrani ini telah berhasil menghilangkan ruh Islam dari pengikutnya, sehingga mereka menyamakan Islam dengan ilmu-ilmu lainnya, bukannya Islam sebagai panduan hidup yang akan membawa mereka menuju kemenangan dunia dan akhirat. Bahkan kebanyakan intelektual Muslim hari ini telah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran orientalis sehingga mereka menjadi musuh Islam tanpa menyadarinya. Universitas-universitas yang dikelola kaum Muslimin ini lebih tertarik merujuk kepada mereka, sehingga lahirlah intelektual yang namanya Muslim namun pemikirannya seperti para orientalis yang memusuhi Islam. Sesungguhnya dengan berpandukan hanya kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah, kaum Muslimin akan dapat memahami ajaran agama mereka dengan ruhnya dan sekaligus akan mengangkat martabat mereka menjadi pemimpin-pemimpin dunia. Untuk melemahkan arus kebangkitan Islam ini sejak awal para orientalis Barat, agen Yahudi dan Nasrani berusaha menghilangkan sumber kekuatan kaum Muslimin. Mereka sangat menyadari bahwa sumber kekuatan kaum Muslimin tidak lain adalah al-Qur'an yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w. sebagai panduan hidup umat manusia. Dengan seribu satu cara, mereka berusaha menjauhkan al-Qur'an dan ruh yang terkandung di dalamnya. Mereka menimbulkan keraguan-keraguan terhadapnya dengan berbagai teori ilmiyah yang mereka ciptakankan agar kaum Muslimin menjauhi al-Qur'an, agar mereka menganggap al-Qur'an buatan Nabi Muhammad s.a.w. yang sudah ketinggalan zaman. Jika mereka berhasil menjauhkan semangat al-Qur'an sebagai panduan hidup dari umat, berarti mereka telah berhasil menghalangi kebangkitan Islam. Kaum Muslimin tidak

12

akan mencapai kebangkitannya sebelum mereka menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman hidup mereka. Sejarah telah membuktikan al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. telah berhasil mengubah bangsa Arab jahiliyah menjadi penguasa-penguasa agung sepanjang masa. Sebelum diturunkan al-Qur'an, bangsa Arab adalah bangsa terbelakang yang tidak pernah diperhitungkan di gelanggang peradaban dunia. Mereka adalah bangsa kecil yang bertekuk lutut di bawah Imperialis Romawi dan Parsi. Namun setelah Allah s.w.t. menurunkan al-Qur'an kepada mereka sebagai pedoman hidup, dalam tempo waktu singkat mereka menjadi bangsa besar yang menguasai Romawi dan Parsi, menjadi lambang peradaban baru dunia. Kaum Muslimin terdahulu menjadi agung bukan karena mereka menyimpan lembaranlembaran al-Qur'an di rumah-rumah mereka, namun karena mereka telah menerapkan al-Qur'an dalam kehidupan nyata mereka, menjadikan al-Qur'an sebagai panduan hidup, sehingga mereka menjadi 'al-Qur'an hidup'. Maka jika kaum Muslimin hendak memimpin dunia kembali dalam semua lapangan kehidupan, mereka harus kembali kepada pemahaman yang telah menjadikan generasi terdahulu sebagai pemimpin. Mereka harus menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman hidup mereka, pedoman yang mengatur seluruh langkah kehidupan mereka di alam nyata sebagaimana firman Allah: Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan mengkabarkan berita gembira kepada orang-orang yang mukmin yang beramal salih, bahwa bagi mereka ada ganjaran besar, (Q17:9) Maka dalam keadaan seperti sekarang, di mana dunia modern sedang mengalami kerancuan, kebingungan dan ketakutan, kehadiran manusia-manusia agung, masyarakat baru yang modern dan berperadaban, yang menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya sangat diharapkan kehadirannya dan dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia. Kerena merekalah yang diharapkan akan menyelesaikan problematika manusia modern dan

13

segala krisis yang menimpanya. Dan tidak diragukan bahwa al-Qur'an dengan segala keutamannya pasti mampu melahirkan masyarakat modern dalam arti yang sebenarnya. Masyarakat yang menguasai dan mampu berinteraksi dengan perbendaharaan peradaban modern berdasarkan kekuatan spiritual yang datangnya dari al-Qur'an. Kebangkitan Islam yang dilaungkan dengan penuh semangat oleh kaum Muslimin di penjuru dunia akhir-akhir ini akan hanya menjadi slogan-slogan kosong yang tak bermakna jika mereka tidak mendidik dan membina dengan serius generasi baru dengan al-Qur'an, menguasai dan memahaminya dengan benar, menggunakan manhaj al-Qur'an yang telah diwariskan oleh Rasulullah s.a.w. dan para Sahabatnya. Maka tidak diragukan baghwa tugas terbesar kaum muslimin saat ini adalah mencetak manusia-manusia agung berdasarkan nilai-nilai keagungan al-Qur'an. Tidak ada satu ayatpun yang mencegah seorang muslim menjadi manusia yang maju, sukses, berperadaban dan menguasai dunia, bahkan dengan tegasnya al-Qur'an memerintahkan agar para pengikutnya menjadi penghulu-penghulu umat manusia yang akan membimbing mereka menuju kebahagian sejati. Namun jika modern diidentikkan dengan Barat dengan segala bentuk kebebasan hidupnya yang permissif dan hedonis, maka jelas al-Qur'an mencegah pengikutnya menjadi manusia yang berperilaku rendah seperti binatang. Menjadi manusia yang ingin menggapai kesuksesan hidup sejati, tidak ada cara lain, kecuali seseorang harus menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, mengikuti petunjuk Rasul-Nya, melaksanakan ajaran Islam dan meninggalkan perbuatan yang dilarang agama. Namun pada saat yang sama dapat menguasai dan berinteraksi dengan dunia modern, bahkan mengarahkan dunia modern dengan segala perbendaharaannya menuju keridhoan Allah dibawah naungan Islam. Dengan kata lainnya, manusia harus benar-benar mengikuti petunjuk yang dibawa al-Qur'an, karena hanya alQur'an dengan segala kemukzijatan yang menyertainyalah yang akan dapat mengantarkan manusia menuju kesuksesan sejati, kesuksesan di dunia dan kesuksesan di akhirat. Sukses sebagai pribadi dan komponen masyarakat yang akan membangun dunia baru berdasarkan al-Qur'an.

14

BAB2 HAKIKAT AL-QUR'AN
Dalam dunia modern yang penuh dengan perbendaharaan peradaban manusia saat ini, banyak orang yang mempermasalahkan kitab suci umat Islam, al-Qur'an serta peranannya dalam membangun peradaban dan kemajuan umat manusia. Apakah al-Qur'an memang benar sebuah kitab suci yang diturunkan Allah Sang Pencipta kepada umat manusia? Jika memang benar kitab suci dari Allah, apakah masih terjaga keasliaannya? Para ulama biasanya mengartikan al-Qur'an sebagai, "Kumpulan kalam Allah yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad s.a.w. melalui perantaraan malaikat Jibril a.s. sebagai mukjizat dan dipandang ibadah bagi yang membacanya". (lihat, Dr. Shubhi Sholeh, Mabahits fi 'Ulumil Qur'an, dan Dr. Shabir Thayyimah, Haza al-Qur'an) Imam Hasan Al-Banna pula menyatakan, "Al-Qur'an Karim adalah kitab Allah Tabaraka wa Taala yang berisi berita tentang orang-orang sebelum kamu, khabar tentang orang-orang sesudah kamu dan hukum yang ada di antara kamu. Al-Qur'an adalah kata putus, bukan senda gurau. Barangsiapa yang meninggalkannya dengan sombong, dia akan dibinasakan Allah s.w.t. Sesiapa yang mencari petunjuk selain dari al-Qur'an, dia akan disesatkan Allah s.w.t. Al-Qur'an adalah tali Allah yang kukuh, cahaya-Nya yang terang-benderang dan peringatan-Nya yang bijaksana. Al-Qur'an adalah Siratul Mustaqim (jalan lurus). la tidak dapat dipalingkan hawa nafsu, tidak dapat dikaburkan lisan dan tidak dapat dicerai-beraikan pendapat. Para ulama tidak merasa kenyang terhadapnya dan para muttaqin pun tidak merasa bosan kepadanya. AlQur'an tidak pernah usang karena banyak diulang dan tidak akan habis keajaiban-keajaibannya. Para jin yang mendengarnya tidak henti-henti mengatakan: "Sesungguhnya kami telah mendengar al-Qur'an yang menakjubkan”. Siapa yang mengetahuinya, akan unggul ilmunya; siapa yang mengatakannya, akan benar ucapannya; siapa yang berhukum kepadanya, akan adil hukumannya; siapa yang mengamalkannya akan mendapat pahala dan siapa yang menyeru

15

kepadanya akan mendapatkan petunjuk ke jalan lurus. " (Muqaddimah fi Tafsir ma'a Tafsir al-Fatihah wa awwalil Surah al-Baqarah, hal.1) Syeikh Muhammad Rasyid Ridha menulis: "Al-Qur'an adalah sebuah kitab, tetapi tidak seperti kitab-kitab lainnya. la adalah ayat, tetapi tidak seperti ayat-ayat yang lain. Ia adalah mukjizat, tetapi tidak seperti mukjizat-mukjizat yang lain. la adalah rahasia, tetapi. tidak seperti rahasia-rahasia yang lain. la adalah firman, tetapi tidak seperti firman-firman yang lain. la adalah kalam Allah Yang Maha Hidup dan Maha Pengurus makhluk-makhluk-Nya terusmenerus. la bukan dari Ruhul Amin, Jibril a.s. pembawa wahyu. Jibril hanya memindahkannya dari langit tertinggi ke atas persada bumi ini. la bukan pula dari Nabi Muhammad s.a.w., utusan Allah dan penutup sekalian Nabi. Nabi Muhammad s.a.w. hanya menyampaikannya kepada manusia dengan bahasa yang diterimanya dari Jibril a.s., Ruhul Amin, lalu menjelaskan al-Qur'an itu kepada manusia dengan ucapan dan perbuatan agar manusia mendapat petunjuk dengannya. Bahasa al-Qur'an, aturan-aturannya, gaya susunannya, bimbingannya, pengaruhnya dan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya merupakan sesuatu di luar kemampuan manusia untuk meniru dan menandinginya".(al-Wahyul Muhammadi, hal.225) Al-Qur'an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada manusia bukan sekedar untuk dijadikan bahan bacaan yang dipertandingkan, hiasan yang memperindah rumah ataupun dijadikan sebagai azimat penangkal bala sebagaimana dilakukan kebanyakan kaum Muslimin, tapi ia adalah kitab yang memberikan petunjuk kepada manusia jalan-jalan yang harus dilaluinya agar mereka mendapat kemenangan di dunia dan akhirat kelak. la adalah kitab yang akan memberikan petunjuk jalan lurus, jalan keselamatan dan kesejahteraan bagi siapa yang mengikutinya. Alif lam mim. Kitab ini (al-Qur'an) tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang muttaqin. (Q2:2) Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan mengkhabarkan berita gembira kepada orang-orang yang mukmin yang beramal salih, bahwa bagi mereka ada ganjaran besar. (Q17:9)

16

... Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah cahaya dan kitab (al-Qur'an) yang nyata. Dengan kitab itulah Allah hendak memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan kesejahteraan..(Q5:15-16) Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur'an) kepada mereka, yang Kami telah menjelaskannya ilmu pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q7:52) Al-Qur'an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada manusia dengan kandungannya yang sempurna, membahas segala permasalahan manusia, dari aspek individu sampai masyarakat, membahas masalah ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya, pengetahuan sampai kepada masalah ketentaraan. Maka al-Qur'an adalah kitab yang tidak meninggalkan satu bagianpun dari kehidupan manusia. ... Tidaklah Kami tinggalkan di dalam al-Kitab (al-Qur'an) ini sesuatu apa pun... (Q6:38) ... Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu... (Q16:89) ... Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q12:111) Seorang ahli sejarah termasybur, Edward Gibbon di dalam bukunya The History of the Decline and Fall of the Roman Empire menulis, "Al-Qur'an itu tidak hanya mulia, akan tetapi juga memuat hukum-hukum Syariah, dan segala yang tertulis di dalamnya itu adalah pangkal peradaban. Al-Qur'an adalah sebuah kitab agama, kitab kemajuan, kitab kenegaraan, persaudaraan, pengadilan dan undang-undang ketentaraan di dalam Islam. Al-Qur'an mengandung masalah ibadah sampai kepada

17

pekerjaan sehari-hari, dari membicarakan soal kerohanian sampai membicarakan soal kejasmanian, dari hak-hak umat hingga hak-hak anggotanya, membahas soal perilaku hingga soal hukuman, dari soal dunia ini hingga soal pembahasan alam akhirat nanti. Semua itu disebut di dalamnya". Dr. Maurice di dalarn bukunya La Press Francaise Romene menulis, "Kita berani menyatakan bahwa al-Qur'an adalah buku terbesar yang pernah diwahyukan oleh Tuhan kepada Rasul seluruh umat. Al-Qur'an memuat puji-pujian kepada Pencipta Langit dan Bumi, serta mengagungkan Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim. Al-Qur'an dapat dipandang sebagai sumber ilmu oleh para ilmuwan, buku kamus bagi ahli etimilogi, buku tatabahasa bagi ahli bahasa, kumpulan syair bagi pujangga dan ensiklopedia hukum dan perundangan. Sesungguhnya, tiada sebuah buku pun sebelum al-Qur'an yang setaraf walau hanya sepotong suratnya". Sesungguhnya tidak dapat disangsikan lagi, bahwa al-Qur'an adalah Kitab Allah yang sempurna, yang membahas segala permasalahan hidup dan kehidupan manusia, sehingga seorang shahabat berkata, "Seandainya tali untaku hilang, akan kutanyakan kepada al-Qur'an dan pasti akan kutemukan kembali". Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab untuk seluruh umat manusia dimanapun mereka berada dan kapanpun. la tidak khusus diturunkan hanya untuk orang Arab pada zaman Rasulullah s.a.w. saja sebagaimana didakwa para propagandis sesat. Tapi ia adalah untuk orang Arab, Habsyi, Parsi, Eropa, Melayu, Cina, India dan seluruh manusia dari sejak ia diturunkan sehingga dunia ini hancur. (al-Qur'an) ini satu penjelasan bagi seluruh umat manusia dan satu pimpinan serta nasihat untuk mereka yang muttaqin. (Q3:138) Bulan Ramadhan yang padanya diturunkan al-Qur'an sebagai petunjuk seluruh umat

manusia...(Q2:185) Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang-benderang. (Q4:174)

18

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh manusia. (Q25:1) Rasulullah s.a.w. pembawa al-Qur'an adalah diutus untuk seluruh umat manusia, maka dengan demikian al-Qur'an secara otomatis pula ditujukan kepada seluruh umat manusia. Dan tiadalah Kami mengutusmu kecuali untuk seluruh umat manusia, pembawa berita gembira dan ancaman... (Q34:28) Dan tiadalah Kami mengutusmu kecuali untuk rahmat bagi seluruh alam. (Q21:107) AI-Qur'an adalah kitab agung yang sempurna, tidak ada cacatnya sedikit pun, baik dari segi kandungannya, proses pembukuannya, keasliannya dan lainnya; semuanya terbukti kebenarannya. Itulah sebabnya jika ada orang yang masih ragu dengan kebenarannya, Allah s.w.t. menantang mereka agar membuat sepotong surat yang seumpamanya sebagaimana firman-Nya: Dan jika kamu masih ragu-ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka cobalah kamu buat sebuah surat saja yang seumpama dengannya dan ajaklah penolongpenolong kamu selain dari Allah, jika memang kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, dan pasti tidak akan dapat membuatnya, maka hendaklah kamu takut kepada neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang kafir. (Q2:23-24) Ataukah mereka mengatakan: "Ia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Quran)?" Maka katakanlah: "Buatlah sepuluh surat yang seumpamanya dan minta tolonglah kepada siapa saja selain Allah jika kamu orang-orang yang benar". (Q11:13)

19

Katakanlah: "jika berkumpul manusia dan jin untuk membuat semisal al-Qur'an ini, mereka tidak akan mampu membuatnya, walaupun sebahagian dari mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lainnya. " (Q17:88) Waheduddin Khan dalam Islam Yatahadda ketika mengulas ayat di atas menulis: "Tantangan tersebut adalah suatu tantangan paling aneh dalam sejarah dan banyak menimbulkan keheranan. Belum pernah dalam sejarah manusia, sebuah buku dengan sepenuh kemampuan akal dan kesadarannya berani mengemukakan tantangan yang sedemikian. Tidak mungkin seorang penulis yang berkeupayaan menghasilkan sebuah buku yang mustahil dihasilkan oleh penulis lain yang sama nilainya, ataupun lebih baik mutunya. Oleh yang demikian, apabila ada suatu kalam yang tidak mungkin ditandingi oleh manusia, malah manusia gagal menyahut tantangan tersebut sepanjang sejarah, dengan sendirinya ini membuktikan bahwa kalam tersebut bukan merupakan kalam manusia, tetapi merupakan kalam yang berasal dari Tuhan. Tentunya segala sesuatu Yang bersumber dari Tuhan tidak mungkin ada yang mampu menyahut tantangannya" J. Sarwar di dalam bukunya Muhammad the Holy Prophet menceritakan mengenai Lubaid ibnu Rabiah, seorang yang terkenal karena keindahan kata-katanya, kefasihan lidahnya dan kekuatan syairnya. Pada waktu Lubaid mendengar Nabi Muhammad s.a.w. melancarkan tantangan tersebut terhadap masyarakatnya, dia pun membuat beberapa untai syair untuk menyahut tantangan tersebut. Syair itu kemudian digantungkan di pintu Ka’bah dan merupakan suatu penghormatan yang tidak mudah didapatkan pada masa itu kecuali oleh sekelompok kecil penyair terkenal bangsa Arab. Kemudian salah seorang kaum Muslimin melihat hal yang diperbuat oleh Lubaid itu, lalu terpanggil untuk menyanggahnya. Dia menyalin beberapa ayat al-Qur'an dan kemudian menggantungkannya di sisi syair Lubaid. Pada hari berikutnya Lubaid melalui pintu Ka’bah (pada waktu itu dia belum masuk Islam), lalu ia terpesona oleh ayat-ayat tersebut sehingga dia berteriak dengan kerasnya: "Demi Allah, ini bukan kata-kata manusia, dan saya termasuk orang yang menyerahkan diri (Islam)". Akhirnya pada tahun 9H, Lubaid masuk Islam.

20

Kemudian di dalam buku As Syi’ir Wasy Syuara', jilid I karya Ibnu Quthaibah, diceritakan bahwa di antara akibat pengaruh balaghah al-Qur'an terhadap penyair besar bangsa Arab ini ialah Lubaid tidak mau lagi membuat syair. Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepadanya: "Hai Abul Aqil, bacakanlah aku beberapa syairmu!" Lubaid pun membaca surah al-Baqarah dan berkata: "Sejak Allah mengajariku surah al-Baqarah dan surah Ali Imran, aku tidak pernah membaca syair lagi". Wallastaine di dalam bukunya Muhammad : His Life Doctrine menceritakan mengenai sekelompok orang yang tidak beragama dan orang-orang zindik yang merasa tidak senang melihat pengaruh al-Qur'an terhadap masyarakat luas. Mereka bersepakat untuk menyambut tantangan al-Qur'an. Untuk tujuan tersebut, mereka menemui Abdullah ibnul Muqaffa (727 M). Ibnul Muqaffa adalah seorang sastarawan besar dan penulis yang terkenal. Ibnul Muqaffa mengatakan bahwa karya beliau untuk menandingi al-Qur'an akan memakan waktu setahun, dan beliau memberi syarat bahwa mereka harus menanggung semua keperluannya selama setahun itu. Ketika perjanjian tersebut mendekati waktu setengah tahun, mereka pun datang kepada Ibnul Muqaffa. Mereka ingin mengetahui perkembangan usaha yang telah dikerjakan oleh sastrawan tersebut untuk menyabut tantangan al-Qur'an. Pada waktu mereka masuk ke kamar sastrawan Parsi tersebut, mereka menemuinya sedang duduk memegang pena. Beliau sedang tenggelam dalam alam fikiran yang dalam. Kertas-kertas tulis bertebaran di hadapan beliau. Kamar beliau penuh dengan kertas-kertas yang telah ditulis kemudian beliau robek-robek!!! Penulis yang terkenal tersebut telah mencoba mencurahkan semua daya dan tenaganya untuk mencapai tujuannya dalam rangka menghadapi tantangan yang diajukan al-Qur'an. Tetapi beliau gagal dalam usaha tersebut, sehingga beliau mengakui di hadapan para shahabatnya dengan rasa malu dan menyesal bahwa setelah lebih setengah tahun, satu ayat pun tidak dapat dihasilkan yang menyamai alQur'an! !! Al-Qur'an adalah satu-satunya petunjuk dan panduan hidup yang akan membawa manusia menuju kebenaran hakiki, kebenaran yang sangat dihajatkan oleh seluruh umat manusia dalam menempuh kehidupan di dunia yang penuh tantangan dan rintangan.

21

Kebenaran itu hanya dari Allah saja dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu, (Q2:147) Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (al-Qur'an) dari Robbmu, sebab itu barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya untuk kebaikan dirinya.. (Q10:108) Alif lam mim raa, inilah ayat-ayat al-Kitab (al-Qur'an) dan Kitab yang diturunkan kepadamu dari Robbmu itu adalah benar, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Q13:1) Maka itulah Allah Robbmu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan... Q10:32) Dan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalanjalan lain, karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu darijalan-Nya... (Q6:153) AI-Qur'an adalah kitab Allah yang jelas kebenarannya, yang terang isinya, sempurna kandungannya, maka siapa yang berpaling ataupun menentangnya, sedikit ataupun banyak, maka merekalah orang-orang yang mendapat kerugian, orang-orang yang jahil dan zalim. Sebenarnya, al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (Q29:49) Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. (Q2:145) Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Zikr (al-Qur'an) ketika datang kepadanya, mereka celaka dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah Kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya

22

kebatilan baik dari depan, maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Q41:41-42) Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk dan pedoman al-Qur'an dengan sempurna, mereka akan mendapat kebahagiaan dan ketenteraman, sedangkan mereka yang berpaling akan mendapat kecelakaan dan kesempitan. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (Q20:123) Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, nescaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. (Q2:38) Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah mereka: "Ya Rabbi mengapa Engkau menghimpun aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah seorang yang melihat? "Allah berfirman: "Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kau melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan. " (Q20:124-126) Al-Qur'an adalah Kitab Allah yang sempurna sebagai petunjuk dan pedornan hidup kepada manusia yang akan membawa mereka menuju kemenangan di dunia dan akhirat. Maka itulah sebabnya orang-orang yang menghendaki kemenangan, mesti menyakininya dengan seyakin-yakinnya, kemudian mengamalkan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Ikutilah apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu dan janganlah kamu mengikuti penolong-penolong selain dari-Nya, tetapi sedikit sekali kamu mengingat. (Q7:3) Dan al-Quran itu adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertawakkal agar kamu diberi rahmat. (Q6:155)

23

Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Robbmu. Tidak ada Ilah (Tuhan) selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (Q6:106) Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan, dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (Q10:109) Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (Q5:49) Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dar ijalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikut ipersangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (Q6:116) Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (Q5:48) Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk serta rahmat bagi kaum beriman. (Q16:64) Maka sesungguhnya al-Qur'an adalah sumber kekuatan kaum Muslimin, karena ia datang dari segala sumber Kekuatan Yang Maha Kuat. Ia adalah kitab yang akan menggerakkan manusia untuk berfikir, bekerja, berjuang, berkorban, menegakkan keadilan, memberantas kelalaian, menyeru kemakrufan dan mencegah kemungkaran dengan bahasanya yang indah, yang menuntun dan menyentuh relung terdalam hati manusia. Walaupun pesanannya disampaikan berulang-ulang, namun

24

tidak pernah membosankan, karena disarnpaikan dengan bahasa berbeda yang sangat memikat. Inilah kekuatannya yang luar biasa. Al-Qur'an dengan gayanya yang khas mengajak manusia berfikir, menggunakan akalnya dalam kehidupan ini, menjadikan mereka manusia-manusia dinamis dan kreatif. Sesungguhnya generasi Islam terdahulu yang telah berhasil dengan gemilang menjadi pemimpin peradaban dunia, adalah karena mereka menjadikan al-Qur'an sebagai panduan hidup mereka, menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan pengetahuan, menjadikannya sebagai semangat untuk menguasai dunia. Segala permasalahan, mereka kembalikan kepada al-Qur'an. Al-Qur'an telah membentuk pribadi mereka yang jahiliah menjadi peribadi muslim yang agung. Namun generasi sesudah mereka menjadi generasi yang jumud karena mereka menjadikan al-Qur'an hanya sebagai bahan bacaan saja, hanya sebatas sebagai ilmu pengetahuan yang diperdebatkan, bukannya sebagai panduan hidup. Kenyataan seperti inilah yang akhirnya menghancurkan mereka, dan kepemimpinan yang ada di tangan mereka dirampas Barat yang sebenarnya mewarisi peradaban mereka. Maka tidak dapat diragukan, jika al-Qur'an dijadikan pedoman hidup, dijadikan sebagai sumber kekuatan yang dinamis oleh generasi masa kini, maka mereka pasti akan menjadi manusia-manusia unggul sebagaimana yang telah dicetak al-Qur’an terdahulu. Dengan segala kemukjizatan yang terkandung di dalamnya, al-Qur’an akan membimbing dan memimpin pengikutnya menuju kesempurnan dan keunggulan hidup. Mereka akan menjadi mercusuar umat manusia, sebagaimana telah dijanjikan Allah dan telah dibuktikan oleh Rasul-Nya dan para shahabatnya.

25

Bab 3 BUKTI KEBENARAN AL-QUR'AN
Sejak diturunkan sampai saat ini masih banyak orang yang ragu dengan kebenaran alQur'an. Mereka menganggap al-Qur'an sebagai hasil karya Nabi Muhammad s.a.w. yang lahir dari inspirasi dan imajinasi beliau sebagai seorang manusia, ataupun pengaruh keadaan psikologis alam bawah sadarnya, mendengar pengalaman-pengalaman dari orang-orang sebelumnya hingga mampu menceritakannya kembali dan berbagai bentuk prasangka sesat lainnya. Bahkan banyak di kalangan kaum Muslimin yang terbius dengan tipu muslihat yang menyesatkan ini, sehingga mereka menjadi antek dan agen yang memusuhi al-Qur'an. Namun demikian tidak kurang para cendekiawan Muslim yang bangkit membela kebenaran al-Qur'an dengan dalil-dalil pasti serta menelanjangi kebohongan dan kesesatan mereka yang memusuhi al-Qur'an. Diantaranya yang terkenal adalah Syeikh Muhammad Rasyid Ridha dalam al-Wahyu al-Muhammadi, Malik ben Nabi dalam al-Dzahir al-Qur'aniyyah sampai Dr. Harun Yahya yang telah menerbitkan beberapa seri buku tentang bukti-bukti kebenaran al-Qur'an. Di zaman milenium ketiga ini, zaman yang mengutamakan ilmu pengetahuan, di mana fakta-fakta kebenaran dinilai dan diukur menurut pengetahuan dengan metode ilmiyah, maka di sini akan dikemukakan beberapa fakta ilmiyah bukti kebenaran al-Qur'an. KEINDAHAN BAHASA AL-QUR'AN Bahasa al-Qur'an adalah bahasa Arab, namun berbeda dengan bahasa Arab yang lazim digunakan masyarakat Arab, bahasa yang digunakan al-Qur'an adalah babasa baku yang amat tinggi nilai sastranya, sangat memikat dan mempesona. Bahasa al-Qur'an yang indah dan tinggi ini telah banyak menjinakkan hati-hati yang keras menjadi manusia beriman, seperti Umar bin Khattab. Para ahli bahasa telah sepakat menyatakan bahwa bahasa yang

26

digunakan al-Qur'an adalah bahasa terindah dari seluruh kitab di muka bumi. (lihat, M. Rasyid Ridho, al-Wahyul Muhammadi). Dalam hal ini, mungkinkah seorang manusia seperti Rasulullah s.a.w. yang ummi, yang tidak dapat membaca dan menulis mampu membuat sekumpulan syair tinggi dengan gaya bahasa yang sangat memikat, sampai-sampai jinpun tertakluk, menulis sedemikian banyaknya kata-kata hikmah yang telah membuat tercengang dan menimbulkan kekaguman para sastrawan-sastrawan hebat dari zaman dahulu sampai sekarang. Kitab yang telah mengubur syair-syair jahiliyah yang sangat dibanggakan bangsa Arab, memporakporandakan kebanggaan yang mereka pelihara turun temurun. Al-Qur'an telah menunjukkan mukjizatnya dengan gaya bahasa yang digunakannya, pasti bersumber dari Yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pencipta alam. AL-QUR'AN SESUAI DENGAN FAKTA SEJARAH Dalam surat Yunus ayat 90-92, al-Qur'an menyatakan bahwa pada suatu saat nanti mayat Fir'aun yang tenggelam sewaktu mengejar Nabi Musa akan dikembalikan kepada manusia (dapat disaksikan dengan mata) untuk menjadi bukti kebenaran ayat-ayat Allah. Dan Kami sebrangkan Bani Israil melintasi lautan, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas mereka; hingga ketika Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)." Apakah sekarang kamu percaya, padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tandatanda kekuasaan Kami. (Q 10:90-92) Ayat ini turun kepada Rasulullah s.a.w. 2100 tahun sesudah zaman Fir'aun, sedangkan di dalam Taurat maupun Injil tidak pernah disebutkan bahwa "tubuh Fir'aun" akan diselamatkan sebagai tanda kepada generasi mendatang. Setelah turunnya ayat ini,

27

Rasulullah mendapat ejekan dari orang-orang yang mengingkarinya, karena kaum Musyrikin tidak dapat mempercayai bahwa tubuh Fir'aun, yang sudah berusia ribuan tahun akan tetap utuh. Tapi demikianlah kehendak Allah s.w.t. Setelah lebih 4000 tahun Fir'aun mati, namun tepat pada 6 Juli 1879, mayat Fir'aun telah ditemukan di dalam Piramid, dan masih dalam keadaan utuh. The Historian's History of teh World Jilid 1 edisi 1926 menerangkan penemuan dahsyat tersebut : "Muhammad Ahmad Abdul-Rasul, seorang arkeolog Mesir yang menyerahkan hidupnya untuk melakukan penelitian tanpa jemu-jemunya, telah berhasil pada akhirnya memberikan petunjuk kepada ekspedisi ilmiyah Jerman-Mesir di bawah pimpinan Emil Brugsch dan Ahmad Efendi Kamal itu, sebuah lubang kecil yang terletak tinggi pada dinding batu karang di "Lembah Raja-Raja" (Valley of Kings). Dengan peralatan dan tenaga manusia yang seadanya, pada 6 Juli 1879 mereka telah berhasil menembus terowongan sempit yang berliku-liku, dan di ujung terowongan itu mereka sampai ke ruangan besar yang menempatkan puluhan mummi para pharaoh, termasuk mummi Ramses II (Fira'un) yang hidup pada masa Nabi Musa, yakni pharaoh terbesar dan teragung dalam sejarah dinasti-dinasti Pharaoh di tanah Mesir. " Berdasarkan bukti penemuan tersebut dapatkah kita menerima tuduhan bahwa al-Qur'an adalah ciptaan Nabi Muhammad s.a.w.? Itulah sebenarnya kehebatan dan mukjizat al-Qur'an yang datang dari Allah s.w.t. dengan segala kebenaran faktanya. Di samping cerita Firaun masih banyak lagi fakta-fakta sejarah di dalam al-Qur'an yang terungkap; di antaranya yang terakhir ialah pada awal tahun 1992 ditemukan runtuhan bangunan kuno di jazirah Arab, yang ditengarai sebagai peninggalan bangsa 'Ad (Iram) yang disebutkan al-Qur'an di dalam Surah Al-Fajr ayat 7 hingga 8.

28

AL-QUR'AN SESUAI DENGAN PENGETAHUAN MODERN Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. 1500 tahun lalu memiliki persamaan dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern yang dikembangkan sekarang. Seorang astronomi terkenal, George Gusmow pada sekitar abad ke-18 mengemukakan teori kejadian alam raya. Menurutnya, alam raya ini asalnya merupakan satu kesatuan yang padu yang sangat kecil sekali. Kemudian, karena adanya kepadatan massa yang tinggi, maka terjadilah ledakan yang maha dahsyat. Hal ini menyebabkan massa yang ada tercerai berai menjadi bagian-bagian yang paling kecil, yaitu proton dan elektron. Bagian-bagian inilah yang selanjutnya berperanan dalam pembentukan zat-zat kimia yang lainnya, dan seterusnya. Namun pada abad ketujuh, Rasulullah s.a.w. telah memetik ayat al-Qur'an: Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahawasanya langit dan bumi itu keduanya adalah suatu yang menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Q21:30) Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih berupa gas (dukhon), lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". (Q4 1:11) Demikian pula halnya ahli fisika terkenal, Albert Einstein pada tahun 1917 telah mengemukakan teori pengembangan alam dengan menggunakan persamaan-persamaan matematika. Namun dia hanya mampu mengemukakan model persamaan matematikanya saja, tetapi tidak berhasil memecahkannya. Lima tahun kemudian, pada tahun 1922 seorang ilmuwan Soviet, Friedman telah berhasil, menunjukkan bahwa persamaan matematika alam raya harus bersifat dinamis, sehingga penemuannya dianggap lebih maju dibandingkan Einstein. Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1929, seorang astrofisika Amerika, Edwin B. Hubble, berdasarkan pengamatannya terhadap galaksi-galaksi di alam raya menyimpulkan bahwa

29

alam raya ini berkembang menurut model matematika seperti yang dikemukakan Einstein dan Friedman. Hubble telah membuktikan alam ini berkernbang terus. Kenyataan ini mendorong para ilmuwan untuk mengadakan penelitian secara intensif, dan akhirnya mereka menyimpulkan alam raya ini benar-benar berkembang dengan kecepatan tinggi. Prof. Eddington mengatakan: "Perumpamaan bintang-bintang dan planet-planet adalah seperti lukisan yang ditempel pada permukaan balon yang ditiup secara terus mneru. Demikianlah keadaan seluruh benda-benda angkasa, semakin menjauh dengan gerakannya sendiri dalam proses perluasan alam". Namun 15 abad silam teori ini telah dikemukakan Nabi Muhammad s.a.w. yang ummi dengan menyampaikan firman Allah: Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami, dan sesungguhnya Kami telah meluaskannya. (Q51:47) Demikian pula halnya, para ilmuwan yang mengemukakan teori kosmologi yang menyatakan bahwa apabila alam raya ini "tertutup" bila pengembangannya terhenti maka akan terjadi penyusutan hingga akhirnya alam raya ini kembali seperti asalnya. Galaksi-galaksi akan merapat kembali, suhu akan menjadi tinggi bahan-bahan kosmos yang merapat itu menjadi terlalu rapat sehingga akhirnya seluruh alam raya akan lenyap seperti asalnya. Namun al-Qur'an telah pun mengungkapkannya, jauh lebih awal sebelum teori modern ini dikemukakan dengan firman Allah s.w.t.: Pada hari Kami menggulung (mengecilkan) langit bagaikan menggulung lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah satu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang melaksanakan. (Q21:104) Di samping itu, al-Qur'an yang turun pada zaman Rasulullah, yang pada ketika itu belum ditemui segala teknologi modern seperti sekarang ini, telah memberikan anjuran untuk menjelajah ruang angkasa, sebagaimana firman Allah s.w.t.:

30

Hai masyarakat jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q 55:33-34) Apakah yang terbayang di benak masyarakat ketika turunnya ayat ini. Tentu mereka tidak mampu memahaminya secara benar. Namun pada zaman kita sekarang, pada abad teknologi, tentu ayat ini tidak asing, karena manusia modern sudah dapat menjelajahi ruang angkasa dan planet menggunakan roket. Apakah informasi yang berusia 15 abad ini tidak mengandungi kebenaran? Bukti kebenaran al-Qur'an dari sisi pengetahuan yang dikemukakan para ilmuwan yang telah bekerja keras mengungkap kebenaran kandungan al-Qur'an, pasti akan menambah keyakinan tentang keagungan dan kesucian al-Qur'an. Salah seorang ilmuwan Muslim besar abad ini, Harun Yahya dari Turki telah melakukan penelitian masalah ini. Bersama ini kami kutipkan beberapa perkara yang berkaitan dengan pembahasan bukti keangungan dan kesucian al-Qur'an. Al-Qur'an dan Sejarah Menceritakan sejarah Kemanusiaan Sebelum Terjadi Sisi keajaiban lain dari al-Qur'an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat ke-27 dari surat Al Fath, misalnya, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menaklukkan Mekah, yang saat itu dikuasai kaum penyembah berhala: "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui, dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Q 48:27)

31

Ketika kita lihat lebih dekat lagi, ayat tersebut terlihat mengumumkan adanya kemenangan lain yang akan terjadi sebelum kemenangan Mekah. Sesungguhnya, sebagaimana dikemukakan dalam ayat tersebut, kaum mukmin terlebih dahulu menaklukkan Benteng Khaibar, yang berada di bawah kendali Yahudi, dan kemudian memasuki Mekah. Kemenangan Bizantium Penggalan berita lain yang disampaikan al-Qur'an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan. "Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Q 30:1-4) Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

32

Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan al-Qur'an takkan pernah menjadi kenyataan. Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.) Akhirnya, "kemenangan bangsa Romawi" yang diumumkan oleh Allah dalam al-Qur'an, secara ajaib menjadi kenyataan. Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu. Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan "Adnal Ardli" dalam bahasa Arab, diartikan sebagai "tempat yang dekat" dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata "Adna" dalam bahasa Arab diambil dari kata "Dani", yang berarti "rendah" dan "Ardl" yang berarti "bumi". Karena itu, ungkapan "Adnal Ardli" berarti "tempat paling rendah di bumi". Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di

33

titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. "Laut Mati", terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi. Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini. Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam al-Qur'an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa al-Qur'an adalah wahyu Ilahi.

Al-Qur'an dan Biologi Otak Sebagai Sumber Penggerak Aktivitas Manusia Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubunubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Q 96:15-16) Ungkapan "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka" dalam ayat di atas sungguh menarik. Penelitian yang dilakukan di tahun-tahun belakangan mengungkapkan bahwa bagian prefrontal, yang bertugas mengatur fungsi-fungsi khusus otak, terletak pada bagian depan tulang tengkorak. Para ilmuwan hanya mampu menemukan fungsi bagian ini selama kurun waktu 60 tahun terakhir, sedangkan al-Qur'an telah menyebutkannya 1400 tahun lalu. Jika kita lihat bagian dalam tulang tengkorak, di bagian depan kepala, akan kita temukan daerah frontal cerebrum (otak besar). Buku berjudul Essentials of Anatomy and Physiology, yang berisi temuan-temuan terakhir hasil penelitian tentang fungsi bagian ini, menyatakan: Dorongan dan hasrat untuk merencanakan dan memulai gerakan terjadi di bagian depan lobi frontal, dan bagian prefrontal. Ini adalah daerah korteks asosiasi…(Seeley, Rod R.; Trent D.

34

Stephens; and Philip Tate, 1996, Essentials of Anatomy & Physiology, 2. edition, St. Louis, Mosby-Year Book Inc., s. 211; Noback, Charles R.; N. L. Strominger; and R. J. Demarest, 1991, The Human Nervous System, Introduction and Review, 4. edition, Philadelphia, Lea & Febiger , s. 410-411) Buku tersebut juga mengatakan: Berkaitan dengan keterlibatannya dalam membangkitkan dorongan, daerah prefrontal juga diyakini sebagai pusat fungsional bagi perilaku menyerang…(Seeley, Rod R.; Trent D. Stephens; and Philip Tate, 1996, Essentials of Anatomy & Physiology, 2. edition, St. Louis, Mosby-Year Book Inc., s. 211) Jadi, daerah cerebrum ini juga bertugas merencanakan, memberi dorongan, dan memulai perilaku baik dan buruk, dan bertanggung jawab atas perkataan benar dan dusta. Jelas bahwa ungkapan "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka" benar-benar merujuk pada penjelasan di atas. Fakta yang hanya dapat diketahui para ilmuwan selama 60 tahun terakhir ini, telah dinyatakan Allah dalam al-Qur'an sejak dulu. Jenis Kelamin Manusia Hingga baru-baru ini, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sel-sel ibu. Atau setidaknya, dipercaya bahwa jenis kelamin ini ditentukan secara bersama oleh sel-sel lelaki dan perempuan. Namun kita diberitahu informasi yang berbeda dalam al-Qur'an, yang menyatakan bahwa jenis kelamin laki-laki atau perempuan diciptakan "dari air mani apabila dipancarkan". "Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan." (Q 53:45-46) Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti genetika dan biologi molekuler telah membenarkan secara ilmiah ketepatan informasi yang diberikan al-Qur'an ini. Kini

35

diketahui bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sel-sel sperma dari tubuh pria, dan bahwa wanita tidak berperan dalam proses penentuan jenis kelamin ini. Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut "XY" pada pria, dan "XX" pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gengen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan. Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria. Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita. Tak satu pun informasi ini dapat diketahui hingga ditemukannya ilmu genetika pada abad ke20. Bahkan di banyak masyarakat, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh pihak wanita. Inilah mengapa kaum wanita dipersalahkan ketika mereka melahirkan bayi perempuan. Namun, tiga belas abad sebelum penemuan gen manusia, al-Qur'an telah mengungkapkan informasi yang menghapuskan keyakinan takhayul ini, dan menyatakan bahwa wanita bukanlah penentu jenis kelamin bayi, akan tetapi air mani dari pria.

36

Penciptaan Manusia Dalam al-Qur'an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya. "... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (Q 39:6) Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut: "Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran." (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.) Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut: - Tahap Pre-embrionik Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.

37

- Tahap Embrionik Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai "embrio". Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisanlapisan sel tersebut. - Tahap Fetus Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai "fetus". Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran. Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat al-Qur'an dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam al-Qur'an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa al-Qur'an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.

Al-Qur'an dan Astronomi Asal Mula Penciptaan Alam Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al-Qur'an pada ayat berikut: "Dialah pencipta langit dan bumi." (Q 6:101) Keterangan yang diberikan al-Qur'an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa

38

keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan "Big Bang", membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada. Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam al-Qur'an 1.400 tahun lalu. Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan Sungguh, al-Qur'an adalah Kebenaran yang Nyata Semua yang telah kita pelajari sejauh ini memperlihatkan kita akan satu kenyataan pasti: alQur'an adalah kitab yang di dalamnya berisi berita yang kesemuanya terbukti benar. Faktafakta ilmiah serta berita mengenai peristiwa masa depan, yang tak mungkin dapat diketahui di masa itu, dinyatakan dalam ayat-ayatnya. Mustahil informasi ini dapat diketahui dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masa itu. Ini merupakan bukti nyata bahwa alQur'an bukanlah perkataan manusia. Al-Qur'an adalah kalam Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan dalam al-Qur'an "Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an ? Kalau kiranya al-

39

Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Q 4:82) Tidak hanya kitab ini bebas dari segala pertentangan, akan tetapi setiap penggal informasi yang dikandung al-Qur'an semakin mengungkapkan keajaiban kitab suci ini hari demi hari. Apa yang menjadi kewajiban manusia adalah untuk berpegang teguh pada kitab suci yang Allah turunkan ini, dan menerimanya sebagai satu-satunya petunjuk hidup. Dalam salah satu ayat, Allah menyeru kita: "Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Q 6:155) Dalam beberapa ayat-Nya yang lain, Allah menegaskan: "Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (Q 18:29) "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya." (Q 80:1112)

Sebenarnya masih banyak lagi teori-teori pengetahuan modern yang dikemukakan para ilmuwan dengan penelitian-penelitiannya bersesuaian dengan ayat-ayat al-Qur'an, tapi tidak mungkin diungkapkan di sini semuanya. Semua ini jelas membuktikan bahwa al-Qur'an adalah mutlak kebenarannya, dan hingga sampai hari ini tidak ada satu pun ayat-ayat alQur'an yang ditolak kebenarannya.

40

KEASLIAN TEKS AL-QUR'AN Sejak diturunkannya al-Qur'an sampai hari ini, teks al-Qur'an tidak pernah berubah, walaupun banyak orang jahat yang ingin mengubahnya. Tidak seperti kitab-kitab agama lain yang tidak jelas, bahkan teks aslinya pun tidak diketahui, teks al-Qur'an yang asalnya ditulis di pelepah/kulit kurma, kulit binatang (onta/kambing) dan lainnya masih utuh tersimpan sampai saat ini, tanpa mengalami sedikitpun perubahan. Hal ini juga diperkuat dengan mukjizat al-Qur'an yang mudah dihafal banyak orang sehingga keaslian al-Qur'an tetap terpelihara. Bahkan Allah s.w.t. tetap akan menjaganya sampai hari kiamat kelak. Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Al-Zikr (al-Qur'an), maka Kami pulalah yang akan menjaga (keaslian)nya.(Q15:19) KANDUNGAN AL-QUR'AN SANGAT LENGKAP Sesungguhnya al-Qur'an yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang berjumlah 30 juz dengan jumlah 6666 ayat itu, mengandung segala permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun yang tertinggal di dalamnya. Di sana dibahas masalah-masalah ekonomi, moral, pendidikan, politik, ilmu pengetahuan, budaya, seni, sosial, kemanusiaan, ketentaraan dan lainnya. Sungguh berbahagialah orang-orang beriman yang diberikan al-Qur'an. Sebenarnya masih banyak lagi fakta-fakta ilmiah yang tidak mungkin diungkapkan di sini yang menguatkan kebenaran al-Qur'an, sebagai satu-satunya Kitab Allah yang akan memimpin manusia menuju kemenangan dunia akhirat. Dari aspek mana pun dinilai alQur'an, ia pasti akan menimbulkan kekaguman para peneliti wahyu Allah ini.

41

Bab 4

BERIMAN KEPADA AL-QUR'AN
Jika diperhatikan secara saksama perlakuan sebahagian besar kaum Muslimin pada hari ini terhadap al-Qur'an, kitab Allah yang diturunkan kepada mereka sebagai petunjuk yang harus diamalkan, sungguh menyedihkan sekali. Banyak diantara mereka yang telah menyelewengkan hakikat diturunkannya al-Qur'an, sehingga tidak berfungsi sebagaimana yang dikehenclaki Allah s.w.t. yang telah menurunkannya. Merekalah orang-orang yang dikeluhkan Rasulullah s.a.w. sebagai orang-orang yang mengacuhkan al-Qur'an. Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur'an ini sebagai sesuatu yang diacuhkan (Q25:30) Di antara mereka ada yang mengakui dengan penuh keyakinan bahwa al-Qur'an adalah wahyu Allah yang suci dan memuliakannya. Namun sayang, cara mereka memuliakannya salah. Mereka tidak berusaha memahami kandungannya, perintahnya, kehendaknya terhadap mereka, bahkan ada yang tidak bisa sama sekali membacanya dan tidak berusaha seupaya mungkin untuk mempelajarinya. Dalam urusan ini mereka mengacuhkannya, tapi jika menyangkut kepentingan duniawi, mereka akan berusaha sedaya upaya mencapainya. Generasi muda kaum Muslimin sangat berbangga jika dapat menguasai bahasa Inggris, Jepang, Francis, Jerman dan lainnya. Tapi untuk mempelajari bahasa al-Qur'an, mereka beranggapan sudah kuno dan ketinggalan zaman. Mereka beranggapan mempelajari alQur'an tidak mendatangkan keuntungan. Ironisnya banyak orang yang mengaku dirinya muslim, namun tidak mau mempelajari petunjuk yang akan menjadikan mereka seorang Muslim sejati. Demikian pula halnya di kalangan masyarakat awam; mereka sangat marah jika lembaran atau buku yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur'an dihina, diremehkan. Mereka sanggup mengorbankan nyawa untuk membela kehormatan tulisan al-Qur'an yang dihina itu. Sayangnya, mereka berdiam diri, tidak bertindak jika kandungan al-Qur'an diinjak-injak dan

42

dipermain-mainkan. Mereka membisu, bahkan menjadi pendukung-pendukung, jika syari'at dan hukum Allah yang termaktub jelas di dalam al-Qur'an diinjak-injak, diremehkan, disenda-guraukan dan disingkirkan dari kehidupan mereka oleh agen-agen musuh yang mengaku sebagai Muslim. Apalah artinya mereka menghormati tulisan-tulisan al-Qur'an, namun membiarkan kandungannya ternoda dan dihina? Mereka membaca al-Qur'an dengan suara nyaring, indah dan merdu, mempesona banyak orang, namun mereka tidak mengerti apa yang dibacanya. Mereka tidak mengerti apa yang dikehendakinya, apa yang dimaksudkannya dan tidak mengamalkan perintahnya. Lihat sahaja betapa lucunya para pemimpin negara yang mengangguk anggukkan kepala mereka ketika menikmati bacaan al-Qur'an yang indah pada hari-hari besar Islam, padahal ayat-ayat yang dibaca itu mengkritik orang-orang seperti mereka yang tidak mau menerapkan ajaran al-Qur'an, hukum dan syari'at Allah dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Orang-orang yang menentang dan menyingkirkan ajaran alQur'an ini apabila ditanya akan tetap menyatakan bahwa mereka beriman kepada alQur'an!!! Demikian pula halnya dengan mereka yang menganggap dirinya sebagai intelektual Muslim. Sebagian mereka dengan penuh keberanian menafsirkan al-Qur'an menurut akal dan hawa nafsunya. Ayat-ayat Allah yang suci dan mulia itu dipelintir, dikotak-katik hingga menjadi teori-teori asing dan aneh, yang membingungkan umat, bertentangan maksudnya dengan apa yang dikehendaki Allah s.w.t. agar al-Qur'an menjadi petunjuk jalan yang nyata dan terang. Mereka mengkaji ayat-ayat Allah dengan begitu terperinci, diulas dengan metode ilmiah bebas ala-Barat, seperti Barat memperlakukan al-Qur'an. Mereka mengkaji al-Qur'an sekedar sebagai sains dan pengetahuan tanpa ada usaha mengamalkannya. Bahkan metode penelitian mereka didasarkan kepada prasangka dan kebencian Barat terhadap alQur'an sebagaimana dilakukan para orientalis. Akibatnya ada di antara. mereka yang mulai menggugat atau meragukan ayat-ayat al-Qur'an. Namun yang paling sesat di antara mereka adalah kelompok yang menyimpulkan al-Qur'an tidak sesuai dengan keadaan masyarakat

43

modern, karena diturunkan untuk masyarakat primitif zaman lalu, bukan untuk masyarakat era irformatika seperti sekarang. Mereka telah memperlakukan al-Qur'an sebagaimana manusia-manusia Barat memperlakukan Injil palsu yang penuh kebohongan itu. Mereka membuang al-Qur'an sebagaimana manusia Barat membuang Injil yang dikatakannya sebagai sumber keterbelakangan, padahal keduanya amat jauh berbeda. Sebenarnya masih banyak lagi perlakuan-perlakuan aneh yang dilakukan kaum Muslimin terhadap alQur'an, dan ironisnya mereka semua beranggapan itulah yang dituntut dalam mengimani al-Qur'an. Akibatnya al-Qur'an kehilangan fungsi mulianya sebagai perombak kehidupan manusia, yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari keterbelakangan menuju kemajuan. Ruh al-Qur'an yang demikian hebatnya dalam membimbing manusia menjadi sirna tak berarti, karena kaum Muslimin telah salah dalam memahami hakikat keimanan mereka terhadap al-Qur'an. PENGERTIAN BERIMAN KEPADA AL-QUR'AN Beriman kepada al-Qur'an adalah salah satu Rukun Iman yang wajib dilaksanakan oleh mereka yang telah mengikrarkan dirinya sebagai seorang Muslim, sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. Iman itu adalah kamu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhirat dan mengimani takdir baik dan buruk. (HR. Muslim) Al-Qur'an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, merupakan petunjuk bagi orang-orang yang mempercayainya. Beriman kepada al-Qur'an mengandung pengertian mempercayai alQur'an dengan sepenuh keyakinan tanpa ragu sedikitpun, bahwa al-Qur'an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dan Allah s.w.t. telah memerintahkan agar manusia beriman kepada al-Qur'an dengan firman-Nya: Hai ahli Kitab, berimanlah kamu semua kepada apa yang telah Kami turunkan ini (al-Qur'an) yang membenarkan apa yang telah ada pada kamu, sebelum Kami hancurkan kamu dan Kami paksa mundur ke belakang. (Q4:47)

44

Rasul sudah beriman kepada apa yang telah diturunkan Allah kepadanya. Demikian pula sepatutnya orang-orang mukmin, semuanya sudah beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci dan Rasul. (Q2:285) (Tanda-tanda orang muttaqin) Yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (alQur'an) dan yang diturunkan sebelummu.(Q2:4) Beriman kepada al-Qur'an tidak cukup hanya sekedar diucapkan saja sebagaimana yang difahami kebanyakan orang. Tapi harus ditambatkan di dalam hati, dibuktikan dengan perbuatan, sebagaimana diterangkan Rasulullah s.a.w.: Iman itu bukan hanya sekedar angan-angan belaka, namun harus ditambatkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. (HR. Bukhari) Iman yang dikehendaki di sini bukan sekedar iman ikut-ikutan (taqlid) saja, di mana keimanan seperti ini masih dapat dipengaruhi. Iman yang dikehendaki adalah iman yang mantap, keyakinan yang seyakin-yakinnya, tidak dapat diragu-ragukan oleh siapapun dan apapun; keimanan yang lahir dari pengetahuan yang mendalam dan ilmu yang hak. Maka untuk mencapai drajat ini tidak ada jalan lain kecuali al-Qur'an harus dipelajari, difahami isinya, diketahui kehebatan mukjizatnya dan selanjutnya diamalkan dalam kehidupan. Semakin orang mengenal al-Qur'an dengan kehebatan-kehebatannya, semakin orang mengetahui kandungannya yang luar biasa, semakin orang mendalami hikmah-hikmah kemuliaan di dalamnya, semakin orang merenunginya dengan bersungguh-sungguh, semakin orang menelitinya dari berbagai aspek pengetahuannya, maka semakin bertambah keyakinan mereka kepada al-Qur'an.

45

CARA BERIMAN KEPADA AL-QUR'AN 1. Menyakini bahwasanya al-Qur'an adalah benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. sebagai petunjuk umat manusia. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran supaya engkau mengadili antara orang-orang dengan apa yang telah diwahyukan Allah kepadamu. (Q4:105) Dan tidaklah yang diucapkan itu (al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya sendiri. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu (yang diwahyukan Allah) kepadanya. (Q53:3-4) Dan bacakanlah apa-apa yang diwahyukan kepadamu yaitu kitab Tuhanmu (al-Qur'an). Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimah-kalimah-Nya. (Q18:27)

2. Tidak meragukan sedikitpun kandungan al-Qur'an. Segala yang ada padanya adalah mutlak kebenarannya. Alif lam mim, Kitab ini (al-Qur'an) tidak ada keraguan sedikit pun padanya, petunjuk bagi orang-orang yang muttaqin. (Q2:1-2) Kebenaran itu hanyalah datang dari Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Q2:147) Dan tiadalah al-Qur'an ini dibuat-buat oleh selain daripada Allah. Akan tetapi ia membenarkan apa yang telah terdahulu daripadanya, Kitab yang memberikan penjelasan dan tiada keraguan sedikitpun padanya dari Tuhan semesta alam. (Q10: 3 7)

46

Al-Kitab (al-Quran) yang diturunkan itu, tiada keraguan sedikitpun padanya adalah daripada Tuhan seru sekalian alam. (Q32:2) 3. Menjunjung tinggi semua keputusan/ajarannya dengan mutlak. Semua faham manusiawi harus tertakluk di bawahnya. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. (Q7:3) Dan orang-orang yang berilmu berpendapat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah kebenaran yang mutlak (al-Haq). (Q34:6) Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa al-Huda (al-Qur'an) dan agama yang benar untuk mengalahkan ad-din (agama dan faham) seluruhnya, walaupun orang-orang yang musyrik tidak menyukainya. (Q61:9) Hai orang-orang yang beriman, taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu. Kalau kamu berselisih pendapat tentang segala sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul-Nya jika kamu beriman kepada Allah dan hari kiamat. (Q4:59)

4. Mempelajari al-Qur'an, mengetahui hakikatnya, kandungannya, perintah dan larangannya. Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi, seorang Rasul di antara mereka untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan mereka dan mengajarkan mereka al-kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah. (Q62:2)

47

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

5.

Merenungi (tadabbur) hakikat al-Qur'an dengan mendalami rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya sehingga terbentuk keimanan yang kokoh.

Al-Kitab (al-Qur'an) yang telah Kami turunkan kepadamu yang diberkati, agar mereka merenungkan (mentadabburkan) ayat-ayat-Nya dan orang-orang yang mempunyai fikiran agar mengambil peringatan darinya. (Q38:29) Apakah mereka tidak merenungkan al-Qur'an itu, atau hati mereka tertutup. (Q47:24) Ulama besar, Imam Ibnu Thaimiyah berkata: "Barangsiapa yang membaca al-Qur'an, namun tidak difahami artinya, maka tidaklah dia termasuk orang yang membacanya. Barangsiapa yang membaca al-Qur'an, memahami artinya, namun tidak direnungkannya (tadabbur) maka dia tidaklah termasuk orang yang membacanya. " 6. Melaksanakan panduan hidup. Hai orang-orang yang beriman, taatlah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, padahal kamu mendengar. (Q8:20) ajaran-ajaran al-Qur'an dalam kehidupan nyata, mematuhi

perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya serta menjadikan al-Qur'an sebagai

48

Hai orang-orang yang beriman, taatlah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu merusak amal-amal kamu. (Q4 7:3 3) Tidak ada perkataan lain orang-orang beriman apabila diajak kepada Allah dan Rasul-Nya untuk berhukum di antara mereka, melainkan mereka berkata: "Kami mendengar dan kami taati". Maka mereka itulah orang-orang yang akan memperolehi kejayaan.(Q24:51) Dan tiadalah patut bagi orang beriman baik lelaki maupun perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu hukum, ada hak bagi mereka untuk memilih dalam urusan mereka, kerana barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesatlah dia suatu kesesatan yang nyata. (Q3 3:3 6)

Mentaati Allah s.w.t. dalam ayat-ayat diatas tidak lain maksudnya, adalah mentaati dan mengamalkan al-Qur'an, karena al-Qur'an adalah Kitab Allah. Dalam melaksanakan perintah al-Qur'an ini, haruslah secara kaffah, menyeluruh, tidak boleh setengah-setengah seperti melaksanakan setengah ajarannya dan meninggalkan setengah ajaran yang lain. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Kitab (al-Quran) dan mengingkari sebagian lainnya? Maka tidak adalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kamu melainkan mereka akan ditimpa kehinaan pada kehidupan dunia dan pada hari kiamat nanti mereka akan dilemparkan ke dalam azab yang pedih dan Allah tidaklah lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Q2:85) Hai orang-orangyang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan. (Q2:208)

49

Oleh karena di dalam melaksanakan ajaran al-Qur'an ini, tidak boleh satu ayatpun yang ditinggalkan, bahkan harus dilaksanakan semuanya secara konsisten sebagaimana yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. 7. Menyampaikan ajaran-ajaran al-Qur'an kepada orang lain, menyeru seluruh manusia agar mengikuti ajaran-ajaran mulianya dengan senang hati, tanpa paksaan dan ancaman. Para Rasul diperintahkan Allah s.w.t. untuk menyampaikan Risalah kepada manusia, maka demikian pula halnya dengan orang-orang beriman. Hai para rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika itu tidak kamu kerjakan, maka berarti engkau tidak menyampaikan tugas risalah-Nya, (Q5:67) Aku sampaikan kepada kamu ajaran-ajaran Tuhanku. (Q7:68) Demikian pula halnya, kaum Muslimin adalah umat terbaik karena mereka menyeru kepada kebaikan. Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan di antara manusia karena kamu mengajak kepada kebaikan. (Q3:1 10) Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah. (Q16:125) Rasulullah s.a.w. bersabda: Sampaikanlah apa yang dariku walaupun satu ayat. (HR. Bukhari) 8. Menjaga kesucian dan keasliannya dari perbuatan orang-orang yang hendak mengubahnya, atau menimbulkan keraguan kepadanya. Sejak zaman permulaan diturunkannya al-Qur'an, sudah banayak musuh yang hendak melenyapkannya, baik

50

orang Yahudi, Nashrani dan kini para orientalis sesat yang hendak meragukan kaum muslimin dengan memutarbalikkan al-Qur'an; Dan berkatalah orang-orang kafir itu,, janganlah kamu mendengarkan al-Quran itu, dan buatlah kekacauanlkekeliruan padanya, semoga kamu mendapat kemenangan (Q41:26) Dan tidaklah akan ridha orang Yahudi dan Nasrani itu kepadamu sehingga kamu mengikuti ajaran mereka.(Q2:120) Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu akan membelanjakan harta-harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. (Q8:36) Kaum muslimin harus berusaha menjawab segala bentuk tantangan yang dikemukakan orang-orang yang sakit hatinya demi memelihara kemurnian al-Qur'an, dalam rangka membuktikan keimanan mereka pada al-Qur'an. Pada zaman modern ini telah muncul banyak penyeru kebatilan yang mengajak umat jauh dari al-Qur'an dengan mendakwa alQur'an sudah ketinggalan zaman, bahkan ada yang bertindak lebih jauh lagi dengan merendahkan al-Qur'an, seperti buku Salman Rushdie "Ayat-ayat Syaitan" (The Satanic Verses). Kaum Muslimin harus menghadapi orang-orang ini dengan hujah atau dengan'mengorbankan nyawa, demi membuktikan keimanannya kepada al-Qur'an. MEMIKIRKAN AYAT-AYAT AL-QUR'AN, REALISASI KEIMANAN PADA AL-QUR'AN Salah satu bentuk mengimani al-Qur'an adalah memikirkan ayat-ayatnya. Sehubungan dengan perkara ini, disini penulis kutipkan tulisan Dr. Harun Yahya yang membahas masalah ini dengan sangan indah dan konfrehensif. Al-Qur'an adalah kitab terakhir yang Allah turunkan bagi semua manusia. Setiap orang yang hidup di bumi wajib mempelajari al-Qur'an dan melaksanakan perintah-perintahnya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mempelajari

51

ataupun melaksanakan apa yang Allah perintahkan dalam al-Qur'an kendatipun mereka menerimanya sebagai sebuah kitab yang diwahyukan. Ini adalah akibat dari belum memikirkan tentang al-Qur'an tetapi sekedar mengetahui dari informasi yang didapat dari sana sini. Sebaliknya, bagi orang yang berpikir, alQur'an memiliki kedudukan dan peranan yang sangat besar dalam kehidupannya. Pertama-tama, orang yang "berpikir" ingin mengetahui tentang Pencipta yang telah menciptakan dirinya dan jagad raya di mana ia tinggal dari ketiadaan, yang telah memberinya kehidupan ketika dirinya belum berwujud, dan yang telah menganugerahkan kepadanya nikmat dan keindahan yang tak terhitung jumlahnya; dan ia pun mempelajari tentang bentuk-bentuk perbuatan yang diridhai Allah. Al-Qur'an, yang Allah wahyukan kepada Rasul-Nya, adalah petunjuk yang memberikan jawaban atas pertanyaan manusia di atas. Dengan alasan ini, manusia perlu mengetahui kitab Allah yang diturunkan untuknya sebagai petunjuk yang dengannya ia membedakan yang baik dari yang buruk, merenungkan setiap ayatnya dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan dengan cara yang paling tepat dan diridhai. Allah berfirman tentang tujuan diturunkannya al-Qur'an untuk manusia: "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (Q 38: 29) "Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur'an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (al-Qur'an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun." (Q74: 54-56)

52

Banyak orang membaca al-Qur'an, namun yang penting adalah sebagaimana yang Allah nyatakan dalam ayat-Nya yakni merenungkan tiap ayat al-Qur'an, mengambil pelajaran dari ayat tersebut dan memperbaiki perilaku seseorang sesuai dengan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Orang yang membaca ayat: "Karena sesungguhnya ayat ini: adalah ia sesudah kesulitan Allah kepada itu ada kemudahan, kemudahan menantikan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Q94: 5-6), misalnya, akan merenungkan sebuah paham percaya bahwa penuh menciptakan Allah dan disamping setiap kesulitan, karena itu yang ia harus lakukan ketika menemui kesulitan kemudahan yang akan datang kemudian. Dengan janji Allah ini, ia melihat bahwa putus harapan atau menjadi panik di saat munculnya kesulitan adalah sebuah tanda dari lemahnya iman. Setelah membaca dan merenungkan ayat di atas, perilakunya selalu sejalan dengan ayat tersebut sepanjang hidupnya. Dalam al-Qur'an, Allah mengisahkan beberapa pelajaran dari kehidupan para nabi dan rasul yang hidup di masa lampau agar manusia dapat melihat bagaimana perilaku, pembicaraan dan kehidupan manusia yang diridhai Allah, dan menjadikan mereka sebagai panutan. Allah berfirman dalam beberapa ayatNya bahwa manusia hendaknya memikirkan dan mengambil pelajaran dari kisahkisah para rasul tersebut: "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (Q12: 111) "Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mu'jizat yang nyata." (Q 51: 38) "Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia." (Q29: 15)

53

Dalam al-Qur'an, disebutkan beberapa ciri bangsa-bangsa kuno, akhlaq serta bencana-bencana yang menimpa mereka. Adalah sebuah kesalahan yang besar untuk memahami ayat-ayat ini hanya sebagai peristiwa sejarah dengan berbagai peristiwa yang menimpa mereka. Sebab, sebagaimana di semua ayat yang lain, Allah mengisahkan kehidupan bangsa-bangsa di masa lampau untuk kita renungkan dan ambil pelajaran dari berbagai bencana yang menimpa bangsabangsa ini sebagai pedoman dalam memperbaiki perilaku kita: "Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (Q54: 51) "Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya adzab-Ku dan ancaman-ancamanKu. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (Q54: 13-17) Allah telah menurunkan al-Qur'an untuk semua manusia sebagai petunjuk. Oleh karena itu, memikirkan setiap ayat al-Qur'an dan menjalani hidup sesuai alQur'an dengan mengambil pelajaran dan peringatan dari setiap ayatnya adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan keridhaan, kasih sayang dan surga Allah.

Tentang Apakah Manusia Diajak Berfikir dalam Al-Qur'an "Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur'an), agar kamu

menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (Q16: 44)

54

Sebagaimana dalam ayat di atas, di banyak ayat-Nya yang lain, Allah mengajak manusia untuk merenung. Memikirkan tentang apa-apa yang Allah perintahkan kita untuk berpikir, dan melihat makna tersembunyi dan keajaiban ciptaa-Nya adalah salah satu bentuk ibadah. Setiap hal yang kita renungkan akan membantu kita untuk lebih mengetahui dan mengakui akan Kekuasaan, Kebijaksanaan, Ilmu, Seni dan sifat-sifat Allah yang lain. Allah mengajak manusia untuk memikirkan penciptaan dirinya sendiri "Dan berkata manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?" Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?" (Q19: 66-67)

Allah Mengajak Manusia untuk Memikirkan Penciptaan Alam Semesta "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (Q 2: 164)

Allah Mengajak Manusia Memikirkan Sifat Kehidupan Dunia yang Sementara "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya

55

karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tanam-tanaman tumbuh kemarin. tiba-tiba yang datanglah disabit, Kami kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) seakan-akan belum laksana pernah sudah Demikianlah

menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir." (Q10: 24) "Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (Q2: 266)

Allah Mengajak Manusia Untuk Memikirkan Nikmat Yang Mereka Miliki "Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gununggunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanamantanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-

56

tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (Q13: 3-4)

Allah Mengajak manusia Untuk Berfikir Bahwa Seluruh Alam Semesta Telah Diciptakan Untuk Manusia "Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (Q45: 13) "Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang

57

bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." (Q16: 11-17) "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)." (Q16: 12) "Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (meningat Allah)." (Q50: 6-8)

Allah Mengajak Manusia Untuk memikirkan Tentang Dirinya Sendiri "Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?" (Q30: 8)

Allah Mengajak Manusia Untuk Berfikir Tentang Akhlaq yang Baik

58

"Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat." (Q6: 152) "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat

kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (Q16: 90) "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." (Q24: 27)

Allah Mengajak Manusia untuk Berfikir Tentang Akhirat, Kiamat dan Hari Penghisaban "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya." (Q3: 30) "Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan

59

kepada mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat." (Q38: 45-46) "Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?" (Q47: 18) (Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya lah segala penentuan dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." (Q28: 70)

Allah Mengajak Manusia untuk Memikirkan Makhluk Hidup yang Dia Ciptakan "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (Q16: 68-69) Orang yang berpikir akan dapat melihat sifat-sifat luar biasa pada makhluk hidup ciptaan Allah. Dengan demikian, ia akan megetahui Kekuasaan dan Ilmu Allah yang tak terbatas.

60

Allah Mengajak manusia untuk memikirkan Adzab yang dapat secara tiba-tiba menimpanya "Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!" (Q6: 40) "Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (Q 6: 46) Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang dzalim?" (Q6: 47) "Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (Q10: 50) "Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (Q9: 126) "Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat." (Q28: 43)

61

"Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (Q54: 51) "Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. (Q7: 130)

Allah Mengajak manusia untuk Memikirkan tentang Al-Qur'an "Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an? Kalau kiranya alQur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Q 4: 82) "Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?" (Q23: 68) "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (Q38: 29) "Sesungguhnya Kami mudahkan al-Qur'an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran." (Q44: 58) "Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah peringatan.Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (al-Qur’an)." (Q56: 54-55) "Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) al-Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.". (QS. Thaahaa, 20: 113)

62

Rasul-Rasul Allah Mengajaak Umatnya yang kurang dalam Pemahaman untuk Berfikir "Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (Q6: 50) "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku". Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" (Q6: 80)

Allah Mengajak Manusia Berfikir untuk Melawan Pengaruh Syaitan "Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam

63

menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (QS. AlA‘raaf, 7: 200-202)

Perintah Allah untuk Mengarahkan Orang Berpengetahuan agar Berfikir Mendalam "Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Q20: 42-44)

Allah Mengajak Manusia untuk Berfikir tentang Kematian dan Mimpi "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir." (Q 39: 42)

64

BAB 5

MANHAJ QUR'ANI
-Metode Penerapan al-Qur'an Dalam KehidupanTidak diragukan lagi bahwa manusia adalah makhluk terbaik dan tersempurna yang diciptakan di alam raya ini. Itulah sebabnya, ketika awal penciptaannya terdahulu seluruh makhluk diperintahkan untuk sujud kepadanya, terutama malaikat yang mewakili seluruh makhluk terbaik. Hal ini merupakan lambang atas pengakuan atas keagungan penciptaan makhluk yang bernama manusia. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia yang telah diciptakan-Nya, setelah disempurnakan penciptaannya dengan segala kemampuannya, lalu diberikan-Nya amanah sebagai khalifah di muka bumi. Salah satu kasih sayang Allah s.w.t. terbesar kepada manusia adalah Dia menurunkan panduan hidup yang akan memimpin umat manusia menuju kemenangan hidup di dunia dan di akhirat. Sejak pertama diciptakan umat manusia telah diberikan bekal oleh Pencipta sesuai dengan tingkat peradaban yang mereka miliki. Panduan hidup yang berbentuk syari'at dan manhaj sebagaimana firmannya: ... Tiap-tiap umat telah Kami jadikan baginya syari'at dan manhaj... (Q5:48)

65

Syari'at adalah undang-undang Allah s.w.t. yang mengatur kehidupan umat manusia agar tercipta keamanan, kedamaian dan keadilan di muka bumi, yang meliputi hubungan manusia dengan Allah s.w.t., manusia dengan manusia dan manusia dengan seluruh makhluk. Sedangkan manhaj adalah metode dalam melaksanakan syari'at tersebut di dalam kehidupan nyata secara sistematik sesuai dengan tahap-tahapnya. Para nabi terdahulu, baik Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s., Isa a.s., masing-masing membawa syari'at dan manhaj. Syari'at mereka adalah sama, yaitu untuk menegakkan tauhid, keesaan Allah s.w.t. dalam segala masalah dan menjauhi thoghut. Namun manhaj mereka, yaitu perlaksanaan syari'at mereka adalah berbeda menurut keadaan masyarakat yang dibimbingnya. Maka manhaj yang turun kepada para nabi dalam rangka menegakkan tauhid ini juga berbeda. Sebagai contoh, Nabi Ibrahim a.s. membawa tugas menegakkan tauhid, demikian pula halnya dengan Nabi terakhir, Muhammad s.a.w., namun manhaj (cara) mereka melaksanakan tauhid ini adalah berbeza. Nabi Ibrahim a.s. tidak membawa perintah salat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan dan lain-lain perintah Allah s.w.t. sebagaimana diperintahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Para nabi dan rasul silih berganti diutus Allah s.w.t. dengan membawa syari'at dan manhaj yang akan membimbing umat manusia menuju kehidupan ideal di bawah pancaran keredhaan Allah s.w.t. Apabila manusia menyimpang dan melupakan syari'at dan manhaj para rasul terdahulu, Allah s.w.t. dengan kasih dan sayang-Nya senantiasa mengutus kembali nabi dan rasul bagi membawa syari'at dan manhaj yang meluruskan, menggantikan ataupun menyempurnakan syari'at dan manhaj rasul terdahulu. Oleh karena syari'at dan manhaj yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. adalah yang terakhir, maka tentunya bersifat sempurna, universal, tidak ketinggalan zaman sehingga hari penghabisan kelak. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui maka itulah sebabnya Dia menurunkan al-Qur'an yang mengandung ajaran sempurna dan lengkap untuk membahas seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu aspek kehidupan manusia pun yang ketinggalan. Syari'atnya tidak akan ketinggalan zaman, walau zaman silih

66

berganti, karena ia diturunkan dalam bentuk global dan mengandung pokok-pokok kehidupan manusia yang terpenting. Dengan syari'at dan manhaj inilah, Rasulullah s.a.w. membimbing bangsa Arab Jahiliyah yang lemah dan terkebelakang dengan penuh ketekunan. Sejarah telah membuktikan, bagaimana bangsa Arab jahiliyah itu menjadi bangsa besar dan utama serta kuat, memiliki wilayah kekuasaan yang luas, menghancurkan Super Power besar Romawi serta Parsi dan memakmurkan alam ini dengan penuh keadilan dan kasih sayang. Semua ini berkat syari'at dan manhaj yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w. Sejarah juga telah membuktikan, generasi-generasi setelah mereka, walaupun tetap memelihara dan menjalankan syari'at Allah, namun lalai melaksanakan sepenuhnya rnanhaj yang menyertai syari'at itu, manhaj yang terkandung di dalam al-Qur'an, manhaj Qur'ani. Di sinilah awal kemunduran kaum Muslimin, pada saat mereka mengganti metode al-Qur'an dengan metode-metode selainnya, yang bercorak filsafat, sufi, kalam ataupun fiqh. Keadaan menjadi lebih buruk ketika pintu ijtihad turut ditutup, karena ijtihad merupakan salah satu cara dinamis metode al-Qur'an yang akan mempertahankan keuniversalannya hingga akhir zaman. Setiap penyimpangan atau campur tangan manusia di dalam metode ini, bukannya menambah keunggulannya, namun semakin menghancurkannya, menghilangkan keutamaan-keutamaan Ilahiah yang terkandung di dalamnya yang telah disusun dengan amat sempurna oleh Maha Pencipta Alam. Itulah sebabnya Islam melarang sejak awal lagi penambahan-penambaban semacam ini yang dikenal dengan bid'ah, bahkan Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap yang sesat dimasukkan ke dalam neraka (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim). Ini jelas karena syari'at dan manhaj yang ada di dalam al-Qur'an telah sempurna; tidak perlu tambahan-tambahan ataupun perubahan-perubahan. Setiap keputusan yang telah ditetapkan Allah s.w.t. dan RasulNya di dalam syari'at dan manhaj adalah mutlak, tidak dapat diubah, ditambah dan diganti, karena ini di luar kemampuan dan pengetahuan manusia, sebagaimana ditegaskan Allah s.w.t. di dalam firman-Nya.

67

Sesungguhnya tiada perkataan lain yang diucapkan orang-orang Mukmin jika diseru agar mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam berhukum di antara mereka, kecuali: "Kami mendengar dan kami mentaatinya".(Q24:51) Dan tiadalah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan-perempuan mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu keputusan, untuk memilih selainnya dari urusan tersebut, dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.(Q33:36) Aku tinggalkan padamu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya, maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur'an) dan Sunnah Basulullah. (HR. Bukhari dan Muslim) Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia mengikuti apa-apa yang aku bawa padanya. (HR. Tirmiziy) Berpegang teguh kepada syari'at dan manhaj merupakan realisasi dari ketaatan kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya yang seringkali ditegaskan al-Qur'an. Penyelewengan dari syari'at dan manhaj yang diajarkan al-Qur'an adalah sama artinya dengan tidak mentaati Allah s.w.t. dan Rasul-Nya. Ini berarti penentangan terhadap Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, yang pasti akan mengakibatkan kecelakaan dan kehinaan bagi siapa yang melakukannya, di dunia dan akhirat. Sejak generasi terdahulu sampai kini, sejak kaum Muslimin meninggalkan metode al-Qur'an (manhaj al-Qur'an) yang unik dan sempurna dalam melaksanakan syari'at, mereka tidak pernah mengalami kecemerlangan sebagaimana generasi awal, kecuali sekelompok kecil yang belum mampu mengubah dunia yang penuh dengan kejahiliyahan dan kekufuran,

68

padahal al-Qur'an, sumber utama syari'at dan manhaj yang digunakan generasi Muslim terdahulu masih tetap utuh di tangan kaum Muslimin hari ini. Demikian pula Sunnah Rasulullah. Namun mengapa mereka menjadi umat yang terkebelakang, umat yang terbodoh, termiskin, teraniaya dan terendah kualitasnya di kalangan seluruh umat manusia? Mengapa mereka tidak mampu menjadi seperti generasi-generasi Muslim terdahulu, yang merupakan umat terbaik, umat termaju, terpandai, tercemerlang, paling berkualitas dan menjadi mercusuar peradaban dunia? Jawabannya jelas; semua ini adalah akibat terlalu banyak penyimpangan dan campur tangan manusia dalam metode al-Qur'an. Mereka telah mengubah metode al-Qur'an yang sempurna menjadi metode beku ala-fiqh, hayali ala-filsafat dan retorik ala-kalam ataupun pasif ala sufi. Mereka telah mengembangkan metode-metode baru yang bertentangan dengan semangat metode Qur'ani, yang melemahkan nilai Ilahiah al-Quran. Metode Ilahiah yang suci dan sempurna dicampur aduk dengan metode rekaan manusia yang serba lemah dan kurang. Metode al-Qur'an yang sempurna dicampur dengan metode filsafat Yunani, metode kerahiban Nasrani, metode akliah Israiliyat dan metode-metode manusiawi lainnya, sehingga metode al-Qur'an hilang terkubur di antara tumpukan metode manusiawi tersebut dan menjadi metode statis yang tertinggal di dalam al-Qur'an sebagai teori yang tak bermakna. Sejak itulah tidak pernah muncul generasi al-Qur'an yang lahir dari metode al-Qur'an. Generasi produk metode non Qur'ani ini akhirnya menguasai perjalanan sejarah umat. Mereka dengan mudah menutup ikhtiar pembaharuan pemikiran (ijtihad) yang senantiasa diserukan al-Qur'an. Mereka sibuk memperdebatkan masalah-masalah cabang (furu) dengan perincian-perincian (syarah-syarah min syarah) yang rumit, yang tidak perlu diperdebatkan panjang lebar, yang akhirnya hanya menimbulkan firqah-firqah baru yang saling sesat menyesatkan dengan rasa fanatik yang berlebihan. Bahkan disebabkan masalah kecil dan remehpun seringkali terjadi pertumpahan darah sesama Muslim, sementara masalah fundamental (ushul) terabaikan. Salah satu fakta yang sampai kini masih diwarisi turun-temurun ialah kaum Muslimin sibuk menyerang dan memberantas apa yang mereka

69

namakan taqlid, bid'ah dan khurafat tanpa toleransi sedikitpun, namun masalah akidah, masalah manhaj hidup yang fundamental terus diabaikan. Macam-macam metode non Qur'ani telah dicoba generasi Muslim terakhir ini, namun metode tersebut belum dan tidak akan mampu melahirkan generasi agung sebagaimana generasi yang lahir dari metode al-Qur'an di zaman kegemilangannya. Kaum Muslimin kini telah mengadopsi metode non-Qur'an peninggalan pendahulu mereka yang bercorak fiqh, kalam, sufi ataupun filsafat, demikian pula mereka telah mengadopsi metode Imperialis Barat yang sekuler, liberal, sosial, nasional dan lain-lainnya yang campuradukkan dengan Islam, bertujuan untuk mengembalikan kejayaan Islam dan umatnya sebagai pemimpin peradaban dunia. Namun hasilnya sangat jauh dari memuaskan. Bahkan dengan metode-metode semacam itu, telah lahir generasigenerasi penentang Islam yang berani menyeru penolakan ayat-ayat Allah dengan alasan tidak sesuai dengan zaman dan masyarakat. Mereka beranggapan ayat-ayat Allah dengan segala kesempurnaannya itu hanya untuk masyarakat Arab, bukan untuk seluruh makhluk di muka bumi ini. Oleh sebab itu, metode pembinaan umat yang diterapkan generasi terakhir ini perlu dirubah dan dirombak, dikembalikan sebagaimana metode generasi terdahulu yang telah berhasil gilang-gemilang dalam tempo waktu singkat. Hanya inilah satu-satunya jalan untuk mengembalikan kejayaan Islam dan umat, serta mengangkat mereka dari kehinaan dan keterbelakangnya hari ini, sebagaimana dikatakan Imam Malik: "Tidak akan bangkit kembali umat ini, kecuali dengan metode (manhaj) yang telah membangkitkan umat terdahulu". Hanya dengan metode al-Qur'an saja umat ini akan bangkit kembali sebagaimana Allah telah menetapkannya : Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang amat lurus. Maka ikutilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan selainnya, maka pasti kamu akan terpecah-belah...(Q6:153) PENGERTIAN MANHAJ MENURUT AL-QUR'AN

70

Di dalam al-Qur'an, kata manhaj hanya disebut sekali saja, yaitu pada surat al-Maidah, ayat 48: Dan Kami turunkan al-Kitab (al-Qur'an) kepadamu dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab suci terdahulu, sebagai penimbang atas kitab-kitab itu. Maka berilah hukum kepada mereka menurut hukum yang telah diturunkan Allah kepadamu. janganlah kamu menuruti kemauan mereka yang menyeleweng dari kebenaran yang ada padamu. Tiap-tiap umat telah Kami jadikan padanya syari'at dan manhaj. Jikalau Allah menghendaki, maka Dia dapat jadikan kamu satu umat saja, tetapi Dia mau menguji kamu tentang apa yang telah diberikan-Nya...(Q5:48) Umumnya para Mufassirin seperti Ibnu Abas, Thabari, Qurthubi, lbnu Katsir, Al-Naisaburi, al-Alusyi, Imam Jalalain, Khazin, al-Baghawi, al-Qasyimi, Ar-Radzi, Asy-Syaukani,

an-Nasaibury, al-Wahidi, al-Qushairi, al-Baidhawi, al-Zamakhsari, al-Mudzkari, Ibnu Abi Hayyan, Thanthowi Jauhari, ath-Thaba'taba'i, Al-Sabzawari, M. jawad Al-Mughniyah, asy-Shabuni, aI-Maraghi, Muhamad Abduh, Sayyid Qutb, Said Hawwa1 dan lainnya
1

Lihat : Ibnu Abbas, Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas, (Teheran : Intatsorot Istiqlal, tt) hlm. 95, Thabari, Tafsir al-Thabari, Jil. 10 (Kaherah : Dar al-Maarif, tt) hlm. 384, Qurthubi, al-Jami’ al_Ahkam al-Qur’an, juz. 5 (Beirut : Dar Ihya’ al-Turats al-Arbi, 1965) hlm. 211., Jamaluddin alQashimi, Mahasin al-Ta’wil,juz 6. (Beirut : Dar Ihya’ al-Kutub al-Arbi,1958) hlm.2017, al-Radzi, alTafsir al-Kabir, juz III,(Beirut : Dar Fiqr, 1878) hlm. 412-413, Ibnu Katsir,Tafsir al-Qur’an al-Adzim. juz II. (Kaherah: Dar al-Khairat, 1988) hlm.63, al-Naisaburi, Gharaib al-Qur’an wa Raghaib al-Furqan, (Hulfa : M.Nashir al-Halbi, 1962) hlm. 107-108. al-Alusyi al-Bagdadi, Ruh al-Ma’ani, juz V-VI (Beirut : Dar Ihya’ al-Turats al-Arbi, Thaba’ah Rabi’ah, 1985) hlm.153, al-Jalalayn, Tafsir Jalalayn, (Beirut : Dar Fiqr, 1981) hlm.102. Khazin (Ibrahim al-Bagdadi), Tafsir al-Khazin, juz II (Beirut : Dar Fiqr, 1979) hlm.61, al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, juz II, (Beirut : Dar Fiqr, 1979) hlm.61, al-Syaukani, Fath alQadir, jil.II (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.48, al-Nasafi, Tafsir al-Nasafi, jil.I (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.286, al-Wahidi, Marah labid Tafsit al-Nawawi, jil.I (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.207, al-Qushairi, Lataif alIsyarah, Tafsir Shauf Kamil li al-Qur’an al-Karim, jil.I (Mesir : Markaz Tahqiq al-Turats, Thabaah Tsaniyah, 1981) hlm.429. al-Baidhawi, Tafsir Baidhawi, (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.152. al-Zamakhsari, al-Khasysyaf, jil I, (Beirut : Dar al-Ma’rifah, tt) hlm.618, al-Mudzkari, Tafsir al-Mudzkari, jil.III, (Pakistan : Masjid Ruud, 1982)hlm.123, Ibn Abi Hayyan, Tafsir al-Bahr al-Muhith, juz III (Beirut : Dar Fiqr, Thaba’ah Tsaniyah, 1988) hlm.102, Thanthawi Jauhari, al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim, juz II (Teheran : Intasyarat Aatab, Thaba’ah Tsaniyah, 1350 H) hlm.190, al-Thaba’thaba’i, al-Mizan, jil V,(Beirut : Muassasah al-A’lami, Thaba’ah Tsaniyah, 1974) hlm.351, al-Sabzawari, al-Jadid fi Tafsir al-

71

mengartikan manhaj sebagai Thariqan Wadhihan (jalan yang terang benderang) atau Sabilan (jalan). Di antara mereka ada pula yang menukilkan pendapat, bahwasanya manhaj satu makna dengan syari'at, di mana manhaj berfungsi sebagai penguat (taukid) dari kata syari'at yang mendahuluinya, sebagaimana dinukilkan al-Alusyi dan Khazin. Ath-Thabari menyebutkan ada perbedaan di antara para Mufassirin tentang arti likulli minkum (pada tiap-tiap kamu). Ada yang mengartikan kamu (kum) dengan arti seluruh umat manusia dari zaman dulu telah diturunkan kepada mereka syari'at dan manhaj, namun ada yang mengartikannya sebagai umat Nabi Muhammad s.a.w. saja. Namun dalam hal ini, sebagaimana dikemukakan Khazin, jika dilihat konteks ayatnya secara menyeluruh, maka jelaslah ayat tersebut membahas tentang umat terdahulu dengan disebutkannya kitab-kitab terdahulu mereka dan juga kalimat "dan jika sekiranya Allah menghendaki, maka Dia dapat jadikan kamu satu umat saja". Maka yang lebih kuat adalah diartikan kum di sini sebagai seluruh umat manusia sebagaimana difahami jumhur mufassirin. Di antara para Mufassirin, pendapat yang dinukilkan Khazin mungkin berkaitan erat dengan pembahasan di sini, yaitu ketika dia memberikan penjelasan lebih lanjut perbedaan antara syari'at dan manhaj dalam menyanggah mereka yang berpendapat syari'at dan manhai itu sama. Dia menulis: "Dan telah berkata yang terakhir, di antara keduanya (syari'at dan manhaj) berbeda jauh, yaitu sesungguhnya syari'at adalah apa yang diperintahkan Allah s.w.t. kepada hamba hamba-Nya, sedangkan manhaj jalan terang dalam merealisasikan syari'at tersebut". Demikian juga pendapat ar-Radzi dan ar-Maraghi.
Qur’an al-Majid, juz III (Beirut : Dar al-Ta’aruf li al-Batba’ah, 1982)hlm.476, Jawad al-Mughniyah, alTafsir al-Kasysyaf, jil III (Beirut : Dar Ilm li al-Maliyin, thaba’ah tsaditsah, 1980) hlm.67, al-Shabuni, Shafwat al-Tafasir, jil.I (Beirut : Dar al-Qur’an al-Karim,tt) hlm.346, al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, juz. VI (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.129-130, Abduh, M, Tafsir al-Qur’an al-Karim, Asyakir bi Tafsir al-Manar, juz.VI, (Beirut : Dar Ma’rifah, tt) hlm.312-313, Sayyid Qutb, Fi Zilal al-Qur’an, juz II. (Jeddah : Dar Ilm li al-Thaba’ah, Thaba’ah al-Tsaniyah asyarah, 1987) hlm.901-902, Said Hawa, al-Asas fi al-Tafsir, juz.III, (Kaherah : Dar Salam, 1985)hlm.1397.

72

Al-Alusyi telah menukilkan: "Ada yang berpendapat bahwa pengertian manhaj pada ayat tersebut dengan jelas Minhajul Kitab (manhaj Kitab), yang jelas maksudnya adalah manhaj Kitab Allah, salah satunya adalah manhaj al-Qur'an". Menurut pendapat terakhir ini, jelaslah maksud perkataan manhaj pada ayat di atas menunjukkan pengertian manhaj (metode) dalam merealisasikan syari'at ataupun al-Kitab. Pengertian ini diperkuat dengan pendapat beberapa Mufassirin yang disebutkan terdahulu yang mengartikan manhaj sebagai Thariqun Wadhihan ataupun Sabilan yang dapat diartikan sebagai jalan terang-benderang dalam merealisasikan syari'at ataupun Kitab-Nya. Maka dengan demikian beberapa pendapat para Mufassirin ini dapat dihubungkan dan saling menguatkan, dengan kesimpulannya manhaj adalah thariqlsabil (jalan/cara/metode) dalam merealisasikan syari'at ataupun Kitab Allah. Maka dengan pengertian ini, manhaj al-Qur'an diartikan sebagai jalan/metode yang diturunkan Allah s.w.t. bersamaan dengan diturunkan al-Qur'an dalam merealisasikan pesan-pesan yang terkandung di dalam al-Qur'an yang harus dilaksanakan pengikutnya secara mutlak, sebagaimana mutlaknya syari'at. PENGERTIAN MANHAJ MENURUT HADITS RASULULLAH Ada beberapa hadits Rasulullah s.a.w. yang menggunakan perkataan manhaj ini. Di antaranya, hadits yang diriwayatkan dari Khuzaifah Al-Yaman, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: Tegaklah pada kamu zaman Nubuwwah (Kenabian) sampai beberapa masa yang dikehendaki Allah, maka terjadilah ia, kemudian diangkat. Kemudian tegaklah sesudah itu pada kamu zaman khalifah atas Manhaj Nubuwwah, maka terjadilah padamu beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Kemudian terjadilah pada kamu Mulkun Adhudhan (Kerajaan yang menggigit), maka terjadilah beberapa lama yang dikehendaki Allah kemudian diangkat. Kemudian tegaklah sesudah itu Mulkan Jabbariayan (kerajaan diktator), terjadilah beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Kemudian setelah itu tegaklah padamun Manhaj Nubuwwah. (HR. Ahmad)

73

Manhaj Nubuwwah di dalam hadits ini diartikan sebagai cara-cara yang telah ditempoh oleh Rasulullah s.a.w. dalam melaksanakan pemerintahannya. Hal ini sama dengan pengertian hadits: Kemudian datanglah setelahmu seorang lelaki yang berjalan di atas manhajmu. (HR. Ahmad) Maka dengan demikian, perkataan manhaj dalam hadits yang digunakan oleh Rasulullah s.a.w. mengandung pengertian jalan, cara, metode, jejak dan sejenisnya. PENGERTIAN MANHAJ MENURUT BAHASA Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab menukilkan: "Manhaj berasal dari pangkal kata 'Nahjun', yang diartikan sebagai 'thariq (jalan); 'Bayyinun wadhihun (jelas, terang-benderang) jamaknya 'nahjaatun wa nujuhun wa nuhuu-jun, 'Thariqun nahjatun' atau sabilun manhajun sama artinya 'wadhihuhu' (meneranginya). Manhaj dengan Minhaj adalah sama artinya. Jika dikatakan 'anhajuth-thariq', maka artinya 'wadhaha wastabaana wa shara nahjan wadhihan bayyinan (dijelaskan, diterangi, diterangi dengan jelas). Dan Al-Manhaj/Al-Minhaj artinya 'ath-thariqan al-Wadhihah' (jalan yang terang- benderangl metode yang jelas). Demikian pula, ahli-ahli bahasa lainnya mengartikan manhaj sebagai thariqan wadhihan (jalan yang terang). Di antara mereka adalah Imam ar-Radzi dalam Mukhtasar Ash-Shihah, Fairuzzabadi dalam al-Qamus al-Muhith, Ibnu Faris dalam Mujam Muqayisul Lughah, al-jauhari dalam Ash-Shihah Tajul Lughah, Farid Wajdi dalam Dairah Maariful Qur'an dan lain-lainnya. bijak". Maka dengan demikian, pengertian manhaj menurut al-Qur'an, al-Hadits ataupun bahasa, mengandung maksud, metode dalam merealisasikan sesuatu. Jika dikatakan manhaj al-Qur'an, maka mengandung pengertian metode yang ditempuh dalam merealisasikan/menjelaskan al-Qur'an. KESIMPULAN PENGERTIAN MANHAJ QUR'ANI Sementara Abdul Fattah Hadhor mengartikan manhaj sebagai "Seni penyusunan yang bernas (sahih) untuk merumuskan susunan pemikiran-pemikiran yang

74

Pada pembahasan ini, yang dimaksudkan dengan manhaj Qur'ani adalah jalan, cara atau metode yang telah ditempoh Rasulullah s.a.w. dan para Sahabat dalam merealisasikan al-Qur'an serta perintah-perintah Allah, di dalam kehidupan mereka, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Jadi manhaj Qur'ani adalah manhaj (metode) yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w. bersamaan dengan turunnya al-Qur'an ke muka bumi ' Manhaj al-Qur'an berfungsi sebagai metode dalam merealisasikan ajaran yang terkandung di dalam al-Qur'an Karim dengan syari'atnya yang sempurna. Al-Qur'an yang mengandung ajaran-ajaran sempurna, membicarakan seluruh aspek kehidupan umat manusia dengan teori-teori suci yang dibawanya secara global kepada umat manusia, mutlak memerlukan pedoman nyata dalam pelaksanaannya. Mungkin dapat dibayangkan, bagaimana jadinya jika Allah s.w.t. hanya menurunkan al-Qur'an tanpa pedoman pelaksanaannya - dari mana memulai pengamalan ajarannya yang sangat kompleks itu - dan pasti akan membingungkan mereka karena tidak mengetahui susunan sistematikanya. Maka pedoman pelaksanaan al-Qur'an inilah yang dimaksudkan dengan manhaj al-Qur'an. Pedoman ini akan menjelaskan dari mana harus memulai penerapan ajaranajaran al-Qur'an, peringkat pelaksanaannya, sistemnya, susunannya, bagian-bagiannya dari awal hingga akhir dan lain-lain hal yang menyentuh realisasi al-Qur'an di muka bumi. Manhaj al-Qur'an inilah, yang diterapkan Rasulullah s.a.w. kepada para Sahabatnya dalam merealisasikan teori-teori al-Qur'an yang turun kepadanya dengan peringkat-peringkatnya yang unik sehingga al-Qur'an terbentuk dalam peribadi mereka dan mereka menjadi "al-Qur'an hidup." Maka jelaslah manhaj al-Qur'an adalah jalan atau metode memindahkan ajaran al-Qur'an dari alam teori ke alam nyata, di dalam kehidupan umat manusia. Rasulullah s.a.w. dan para Sahabatnya telah berhasil dengan amat gemilang menerapkan manhaj al-Qur'an ini di dalam kehidupan mereka dan merealisasikan ajaran al-Qur'an, sehingga mereka menjadi manusia utama, sebaik-baik umat di muka bumi ini. Mereka memahami benar cara menerapkan al-Qur'an ke alam nyata - dari mana memulainya dan peringkat-peringkatnya. Mereka

75

benar-benar mengikuti manhaj al-Qur'an yang diturunkan Allah s.w.t. melalui utusan-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. Mereka mengikuti dengan penuh kesungguhan dan tersistematik manhaj al-Qur'an yang diajarkan Rasulullah s.a.w. dengan peringkat-peringkatnya. Mereka tidak akan melampaui peringkat-peringkat itu sebelum diperintahkan Allah s.w.t. menuju ke peringkat yang lain. Mereka bagaikan tentara yang amat patuh kepada jendralnya, melaksanakan dengan penuh ketaatan apa pun juga yang diperintahkan kepada mereka. Mereka tidak akan meminta tambaban perintah sebelum perintah yang terdahulu mereka amalkan. Mereka sangat menyakini, manhaj al-Qur'an adalah manhaj yang tersempurna, terbaik dan terunggul, karena ia diturunkan dari Allah Yang Maha Sempurna. Mereka yakin Allah s.w.t. telah menjadikan mereka sebagai umat teladan terbaik sepanjang masa, dan Allah s.w.t. berkenan berhubungan dengan mereka melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan tiadalah kemuliaan tertinggi bagi mereka yang melebihi karunia ini. Allah Maha Pencipta berkenan berhubungan dengan mereka lalu mengajarkan hal-hal terbaik demi kebaikan mereka. Allah s.w.t. telah berkenan mengatur mereka secara langsung dengan manhaj-Nya, manhaj al-Qur'an yang telah menjadikan mereka generasi-generasi agung sepanjang masa. Namun berbeda halnya dengan generasi-generasi sesudah mereka, yang melalaikan manhaj al-Qur'an yang unik ini. Walaupun al-Qur'an yang diturunkan kepada generasi terdahulu masih tetap utuh di tangan mereka namun mereka tidak mencapai taraf keagungan sebagaimana generasi terclahulu. Bahkan sejarah membuktikan mereka adalah generasi yang menyimpang dari jalan generasi terdahulu mereka. Mereka menggunakan kekuasaan untuk kepentingan peribadi dan keluarganya, menindas penegak-penegak keadilan sejati karena cita-cita duniawi dan seribu satu penyimpangan yang tidak pernah dikenal generasi terdahulu mereka. Hal ini terjadi, karena mereka tidak menerapkan al-Qur'an menurut manhajnya sebagaimana generasi Rasulullah s.a.w. dan para Sahabat yang telah mengikuti semua tingkatannya dengan cemerlang. Generasi ini mengadopsi manhaj-manhaj asing ke dalam al-Qur'an, yang telah menghasilkan generasi-generasi yang kualitasnya jauh

76

di bawah

standar

al-Qur'an

yang

menghendaki generasi-generasi agung berjiwa

Khalifatullah dan Abid. Mereka telah memperlakukan al-Qur'an sebagai objek pengetahuan yang diulas panjang lebar dengan perincian-perincian yang rumit, sehingga menghasilkan pemahaman al-Qur'an yang asing, bahkan menyimpang jauh dari kehendak manhaj al-Qur'an. Akibatnya lahirlah generasi-generasi asing pula, yang jauh berbeda dari generasi agung terdahulu yang lahir dari manhaj al-Qur'an yang murni dan asli, yang tidak tercemar manhaj-manhaj manusiawi sebagaimana telah dibuktikan sejarah. Kemurnian manhaj al-Qur'an dengan nilai Ilahiahnya mutlak dipertahankan, tidak dapat diubah-ubah menurut selera manusia, karena metode ini adalah konsep terunggul yang diturunkan Allah Yang Maha Mengetahui dengan Ilmu-Nya Yang Maha Sempurna. Manhaj generasi pasca-Sahabat yang menjadikan al-Qur'an sebagai objek pengetahuan belaka harus diluruskan, karena dengan menerapkan al-Qur'an di dalam kehidupan nyata, secara otomatis pasti akan menghasilkan perbendaharaan pengetahuan juga sebagaimana yang dialami generasi Sahabat. Mereka menerapkan al-Qur'an di dalam kehidupan nyata mereka, lalu mendapat segala-galanya: pengetahuan, kekayaan dan kekuasaan. Namun bukan itu semata-mata tujuan manhaj Qur'ani. Sebaliknya untuk mewujudkan al-Qur'an ke alam nyata, sehingga lembaran-lembaran al-Qur'an itu nuzul pada manusia, hidup dan berperanan aktif di tengah-tengah kehidupan umat manusia yang akan mengarahkan mereka menjadi umat terbaik. Ini bukannya berarti penafian terhadap segala perbendaharaan ilmu dan pengetahuan yang telah dicapai generasi terdahulu dengan segala kegemilangannya, namun sebagai pelengkap sehingga al-Qur'an dan manhajnya tegak kembali, melahirkan generasi agung sepanjang masa, sebagaimana generasi terdahulu. Generasi Rasulullah s.a.w. dan para Sahabat berhasil menuju kegemilangan karena mereka memahami benar hakikat manhaj al-Qur'an, kemudian menerapkannya di dalam kehidupan mereka. Sebaliknya generasi sesudah mereka berpaling dari manhaj al-Qur'an dan menciptakan manhaj-manhaj baru. Maka logikanya, jika kaum Muslimin hari ini ingin mendapatkan kembali kegemilangannya sebagaimana generasi terdahulu, mereka harus

77

kembali menerapkan manhaj yang telah diterapkan generasi terdahulu, manhaj yang telah menjadikan mereka gemilang, manhaj al-Qur'an yang diturunkan bersama al-Qur'an, dan dipraktikkan Rasulullah s.a.w. dan para Sahabatnya, manhaj yang masih tersimpan utuh bersama al-Qur'an sampai hari ini.

HUKUM MENGIKUTI MANHAJ AL-QUR'AN Sebagai makhluk Allah s.w.t. yang diberi akal, manusia berhak untuk berfikir dan bertanya mengenai kehidupannya. Apalagi telah diciptakan sebagai khalifah, wakil Pencipta yang akan mengelola alam ini dengan sebaik-baiknya, memimpin menuju kesejahteraan. Maka adalah wajar jika timbul pertanyaan di dalam benaknya haruskah dia mengikuti panduan hidup yang diturunkan Allah s.w.t. kepadanya? Wajibkah manusia mengikuti metode al-Qur'an yang diturunkan kepada generasi yang terdahulu sebagai metode yang harus diterapkan, dan pertanyaan lain-lain lagi. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, harus dilakukan pendekatan secara akliyah (rasional) dan naqliyah (dalil-dalil wahyu). Dalil Akliyah (Rasional) Penerapan Manhaj AI-Qur'an Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang diciptakan awalnya dari saripati tanah, kemudian dari segumpal darah, diperkuat dengan tulang-belulang, akhirnya dia lahir ke muka bumi dari rahim ibunya. Semua manusia yang lahir awalnya adalah lemah, tidak dapat mendengar, tidak melihat, bahkan tidak mampu berbuat sesuatu. Dia lahir tidak mengetahui apa-apa, bodoh sama sekali. Dengan rahmat Allah, sejak bayi manusia mulai diajar Allah s.w.t. melalui berbagai bentuk perantaraan di alam ini dan ada juga secara langsung. Dalam perjalanan hidupnya, manusia meningkat dari tidak tahu, menjadi tahu sedikit demi sedikit menurut kadar kemampuan akalnya; kemampuannya untuk menerima ilmu-ilmu yang telah diturunkan Maha Pencipta. Dalam mengarungi kehidupannya yang serba tidak pasti,

78

manusia belum tahu apa yang harus diperbuatnya, kemudian dia mengadakan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan dan sebagainya untuk mencari jawaban kepada segala kemusykilannya yang dialaminya. Sebagai contoh, manusia generasi pertama, Qabil, anak Adam a.s., setelah membunuh saudaranya, menjadi bingung tidak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap saudaranya yang sudah mati. Kemudian dia diajar oleh Allah s.w.t. melalui perantaraan burung gagak. Demikianlah manusia mendapat pengetahuan sedikit demi sedikit, dan para generasi sesudahnya meneladani apa yang telah dilakukan generasi terdahulu mereka. Kini banyak pengalaman manusia terdahulu yang telah dijadikan pedoman dan teladan dalam melaksanakan suatu perkara. Namun adalah wajar apabila manusia ingin meneladani generasi terdahulu, mereka perlu mengetahui hakikat keujudan suatu perkara itu. Bahkan mereka harus meneladaninya jika perkara itu sudah dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena dengan demikian mereka tidak perlu lagi mencari-cari pengetahuan baru tentang masalah yang sama. Mereka hanya perlu mengembangkan pengetahuannya yang sudah ada. Ini adalah cara berfikir yang sangat logis. Misalnya, seseorang yang sangat ahli di dalam suatu masalah, dan dapat dipertanggungjawabkan keahliannya dengan berbagai cara dan metode, telah merumuskan suatu teori dengan cermat serta terbukti kebenarannya, apakah teori tersebut akan ditolak begitu saja? Tentulah tidak! Maka adakah di alam raya ini, yang lebih mengetahui segala sesuatu kecuali Maha Pencipta Alam Raya ini? Adakah yang lebih mengetahui hakikat manusia dan keujudannya selain Pencipta manusia itu? Adakah yang lebih hebat dalam merancang program kehidupan alam dan manusia selain Yang Maha Mengetahui segala sesuatu? Adakah yang lebih baik menciptakan teori-teori tentang kehidupan selain Pencipta kehidupan itu sendiri? Tentu akal waras akan mengatakan Maha Penciptalah yang Maha Mengetahui tentang ciptaan-Nya dari ciptaan-Nya terhadap diri mereka sendiri. Jika Maha Pencipta manusia Yang Maha Mengetahui merumuskan teori-teori untuk kebaikan manusia, untuk kemakmurannya, kebahagiaannya dan kesejahteraannya, maka adakah teori yang lebih hebat dari teori-Nya? Adakah teori-teori manusia yang serba terbatas

79

ini lebih hebat dan lebih benar dari teori Maha Pencipta Yang Maha Mengetahui? Akal sehat pasti akan menyatakan Maha Penciptalah yang jauh lebih unggul dalam segala hal dari ciptaan-Nya. Maka demikian pula halnya dengan metode kehidupan manusia. Bukankah Allah s.w.t. melalui utusan-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. telah menurunkan petunjuk bagi kehidupan manusia, agar manusia dapat hidup sebagai pemimpin makhluk di muka bumi? Metode Ilahi yang telah terbukti kebenarannya berabad-abad, mengalahkan segala bentuk teori manusiawi; apapun bentuk dan namanya. Adalah kesalahan yang amat besar jika manusia tidak mau mengambil metode Ilahi ini sebagai petunjuk jalannya, sebaliknya mencari metode lain ciptaan manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya. Manusia dengan kekuatan akalnya, wajar sekali membandingkan teori-teori dan metode-metode manusiawi dengan metode Ilahi; baik kandungannya, lainnya. hakikatnya, wajar kebijaksanaannya, pengaruhnya terhadap manusia dan Adalah

membandingkan tokoh penggeraknya masing-masing, masyarakat yang dihasilkannya dan kesannya terhadap perkembangan peradaban umat manusia dan alam. Bandingkan semua itu dan mereka akan dapat menilai manakah yang lebih unggul dari berbagai aspek. Metode al-Qur'an telah melahirkan tokoh seperti Nabi Muhammad s.a.w. dan pemimpin-pemimpin umat sesudahnya, pemimpin-pemimpin agung yang diakui dunia kebesarannya dan telah melahirkan masyarakat Islam, masyarakat utama dan ideal yang pernah wujud di muka bumi ini. Demikian pula kandungan risalah yang diajarkannya, sampai kini belum ada yang dapat menandinginya. Namun cobalah teliti metode-metode manusiawi itu. Lihatlah tokoh-tokohnya dengan cermat, kehidupannya, kebajikannya ataupun penyelewengan-penyelewengannya. Pemimpin-pernimpin komunis senantiasa menyerukan slogan "sama rata sama rasa", namun merekalah orang yang pertama sekali menikmati kemewahan di antara penderitaan dan kesengsaraan para pengikut setianya, menggantikan borjuis lama yang ditumbangkannya, menduduki dan meneruskan kemewahannya dengan alasan revolusi, membentuk golongan elit baru yang memiliki kekuasaan mutlak. Demikian pula halnya dengan metode-metode manusiawi lainnya. Masyarakat kapitalis adalah

80

masyarakat yang individualistik dan eksploitatif, yang memeras tanpa belas kasih dengan semboyannya "dengan telah modal sekecil-kecilnya golongan untuk mendapatkan penindas keuntungan yang tidak sebesar-besarnya", berperi-kemanusiaan. Cobalah amati dengan teliti di antara seluruh metode tersebut, manakah yang lebih unggul? Maka tidak ada keraguan sedikitpun bahwa metode al-Qur'an dengan ciri khasnya yang unik telah dan akan terus mengatasi sernua metode manusiawi itu, sebagaimana Allah s.w.t. telah menetapkannya: Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (al-Huda) dan Din Al-Haq untuk dimenangkannya atas Din seluruhnya walaupun orang-orang Musyrik tidak menyukainya. (Q61:9) Maka yang demikian adalah tepat sekali bagi manusia yang diciptakan oleh Yang Maha Mengetahui, mengembalikan segala urusan mereka kepada Yang Maha Mengetahui, karena hanya Dia-lah yang mengetahui dengan pasti, fitrah manusia yang telah diciptakan-Nya. Manusia wajib mengikuti segala petunjuk yang telah diturunkan-Nya untuk mencapai kebahagiaan sejati dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh dengan tantangan ini. Tidak seorangpun, atau makhlukpun yang lebih mengetahui keadaan manusia, kecuali Yang Maha Pencipta. Manusia adalah makhluk unik yang kompleks yang hanya diketahui rahasianya oleh Allah s.w.t. saja, Sang Penciptanya. Oleh sebab itu sekiranya manusia ingin mencapai kesempurnaan dan kebahagian sejati di dalam kehidupannya; tidak ada jalan lain,kecuali harus mengikuti metode (manhaj) yang telah dirumuskan Maha Penciptanya. Hanya inilah jalan mutlak satu-satunya. Hanya dengan mengikuti metode Allah s.w.t., manusia akan terangkat martabatnya dari 'hamba hina' sesama makhluk menjadi khalifah, wakil Allah yang akan memimpin alam ini. Maka orang-orang yang memiliki akal waras dan mau mempergunakan akalnya dengan baik, pasti tidak akan mengambil segala bentuk metode manusiawi dengan segala kelemahannya. Mereka pasti hanya akan mengambil metode yang datangnya dari Yang melahirkan masyarakat

81

Maha Sempurna, yang telah menciptakan segala sesuatu di alam ini, kemudian dengan kasih sayang-Nya diberikan petunjuk agar tercapai cita-cita manusia - kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat kelak.

Dalil Naqli Penerapan Manhaj Al-Qur'an Orang-orang yang telah mengikrarkan dirinya sebagai mukmin, diwajibkan tunduk dan patuh kepada peraturan-peraturan Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali mengikuti seluruh yang diperintahkan Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, karena inilah pengertian mukmin yang dikehendaki Islam, sebagaimana Allah s.w.t. telah berfirman: Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya..(Q7:3) Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q3 3:2) Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semua dalam Islam secara keseluruh annya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan, sebab ia musuhmu yang nyata. (Q2:208) Hai orang-orang yang beriman, terimalah ajakan Allah dan Rasul-Nya yang menyeru kamu kepada apa yang menghidupkan kamu...(Q8:24) Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya...(Q4 7:3 3) Ayat-ayat di atas dengan tegas dan jelas memerintahkan orang-orang yang beriman agar mengikuti semua yang diajarkan Allah s.w.t. dan Rasul-Nya. Salah satu ajaran Allah dan Rasul-Nya adalah manhaj (metode/cara) dalam merealisasikan perintah-perintah yang akan

82

membimbing mereka menuju kemenangan. Maka dengan demikian, mengikuti manhaj (metode/cara) yang diturunkan Allah s.w.t. dan Rasul-Nya adalah mutlak, sebagaimana mutlaknya mengikuti ajaran Islam yang lainnya, sebagaimana ditegaskan Sayyid Qutb dalam Maalim Fi al-Thariq: "Manhaj (metode) dalam Islam sama dengan hakikat (kenyataan). Keduanya tidak dapat dipisahkan. Setiap manhaj yang asing pada akhirn.ya tidak mungkin dapat menegakkan (mewujudkan) Islam. Manhaj-manhaj asing mungkin dapat mewujudkan sistem-sistem yang bersifat manusiawi, tetapi tidak mungkin untuk dapat mewujudkan manhaj kita. Maka berpegang teguh kepada manhaj (metode) itu adalah sama pentingnya dengan berpegang teguh kepada akidah, dan seperti berpegang teguh kepada sistem dalam setiap gerakan ajaran Islam. CIRI KHAS METODE AL-QUR'AN Proses pembinaan dan pembentukan generasi Islam terdahulu tidak dapat dipisahkan sama sekali dari metode yang diterapkan al-Qur'an. Metode tersebut sengaja disusun dan diprogram untuk keperluan manusia sepanjang masa, baik dia seorang Arab, Parsi, Eropa, Cina, Melayu atau lainnya. Pada dasarnya manusia adalah sama dari segi ciri-cirinya. Ciri-ciri dasar inilah yang dibentuk dan dipimpin metode al-Qur'an agar manusia mengetahui hakikat hidup dan kehidupannya, hubungan antara dirinya dengan Tuhan Penciptanya, sesama manusia serta seluruh makhluk lainnya. Metode al-Qur'an memerlukan tahap-tahap tertentu untuk melahirkan generasi Islam yang akan menjadi teladan sepanjang masa. Metode al-Qur'an bukan sekedar teori untuk dipelajari dan dihafal serta dibincangkan saja. Sekiranya Allah s.w.t. menghendaki al-Qur'an menjadi perbendaharaan ilmu saja, tentu al-Qur'an tidak akan diturunkan dalam tempo masa 23 tahun - tentu diturunkan 30 juz sekaligus - kemudian manusia dibiarkan menelaahnya sendiri dari pelbagai bidang ilmu, sehingga ilmu al-Qur'an memenuhi kepala mereka dan mereka menjadi pakar-pakar al-Qur'an yang handal, yang dapat menjelaskan

83

maksud-maksud al-Qur'an tersebut secara terperinci, sehingga tidak mampu difaharni oleh masyarakat awam. Namun bukan itu yang dikehendaki metode al-Qur'an. Al-Qur'an diturunkan beransur-ansur sesuai dengan keperluan dan tahap pembinaan generasi al-Qur'an yang selanjutnya melahirkan masyarakat Islam. Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan beransur-ansur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.(Q1 7:106) Metode al-Qur'an adalah metode yang telah digariskan Allah s.w.t. untuk membentuk generasi yang akan mewakili-Nya memimpin dan mengarahkan alam menurut kehendakNya, bukan hanya sekedar melahirkan ulama penghafal teks kitab-kitab kuning ataupun intelektual-intelektual yang hanya pandai berbicara tentang ilmu al-Qur'an. Namun Allah s.w.t. menghendaki agar al-Qur'an terwujud di dalarn realitas kehidupan sehari-hari, bukan sekadar untuk dihafal dan dipelajari saja, apalagi sekedar untuk dilagukan dan dipertandingkan. Akan tetapi al-Qur'an hendaklah terwujud di dalam individu, selanjutnya di dalam keluarga dan masyarakat dengan segala aspek kehidupannya. Itulah sebabnya Allah Yang Maha Mengetahui dengan metode-Nya membentuk generasi yang dikehendaki-Nya dalam tempo 23 tahun, bermula dari hal-hal fundamental dalam kehidupan manusia sampai masalah-masalah kemasyarakatan lainnya agar al-Qur'an tertanam di dalam dada dan dijadikan sebagai sistem dalam realitas kehidupan. Ini memerlukan tahap-tahap yang panjang sehingga terbentuknya pernimpin dunia yang mewakili Allah di muka bumi ini. Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya bagian demi bagian.(Q25:32) TAHAP-TAHAP METODE AL-QUR'AN

84

Tahap metode al-Qur'an secara global dibedakan menjadi metode al-Qur'an Makkiyah dan metode al-Qur'an Madaniah. Metode al-Qur'an Makkiyah adalah metode yang diterapkan Allah s.w.t. di dalam al-Qur'an untuk membina dan membentuk generasi Islam ketika mereka berada pada fase Makkah. Manakala metode al-Qur'an Madaniah adalah metode yang diterapkan Allah s.w.t. di dalam al-Qur'an untuk membentuk generasi Islam ketika mereka berada pada fase Madinah. Kedua metode ini memiliki ciri khas masing-masing dengan penekanan, sasaran, tujuan dan fase yang khusus dan berbeda. Kedua metode ini terpisah, tidak dapat dicampur aduk sesuka hati. Tahapan-tahapan di dalamnya tersusun rapi.

Ciri Metode AI-Qur'an Makkiyah Al-Qur'an Makkiyah dengan ciri khasnya diturunkan dalam tempo 13 tahun dan membicarakan persoalan yang sangat fundamental bagi kehidupan manusia. Dalam tempo tersebut, hanya membicarakan satu persoalan besar yang terus diulang-ulang dengan bahasa dan pendekatan berbeda. Al-Qur'an Makkiyah hanya membicarakan masalah akidah, masalah Ketuhanan Allah dan Kehambaan manusia serta hubungan di antara keduanya yang terlambang di dalam kalimah La ilaha illallah. La ilaha illallah tidak hanya bermakna sempit; "tiada Tuhan selain Allah" saja. La ilaha illallah adalah proklamisi menyeluruh seorang hamba untuk mengangkat Tuan di atas segala tuan, membebaskan diri sepenuhnya dari tuan-tuan selain Allah s.w.t. Penghambaan menyeluruh manusia kepada Allah s.w.t. tidak akan menyekutukan penghambaannya kepada sesuatu pun. Allah s.w.t. adalah satu-satunya Tuan yang paling ditaati, dicintai dan ditakuti, tempat manusia memperhambakan diri dalam, segala bentuk kehidupannya. Seluruh tujuan dan orientasi kehidupannya semata-mata untuk memperhambakan dirinya kepada Allah yang memiliki alam. La i1aha illallah adalah pernyataan manusia untuk menjadikan Allah s.w.t. sebagai Penguasa dan Pemerintah mutlak yang mengatur seluruh kehidupannya dan menyingkirkan

85

sejauh-jauhnya penguasa dan pemerintah selain-Nya, baik dia seorang dukun, raja, tokoh bangsawan, tokoh agama, pemuka adat ataupun pemerintah dan penguasa. Hanya Allah s.w.t. yang paling berhak menentukan segala bentuk perundangan, hukum peraturan dan segala ketetapan. Penguasa dan pemerintah selain-Nya harus dilucuti dari hak-hak yang bukan miliknya dan menerima segala yang telah diputuskan-Nya tanpa bantah, karena Dialah Penguasa Tertinggi yang memiliki kekuasaan mutlak yang paling berhak memutuskan segala sesuatu. Seluruh peraturan hidup yang tidak datang dari-Nya harus disingkirkan. La ilaha illallah bermakna hanya Allah s.w.t yang menjadi Tuhan, Rabb (Pendidik/Pemelihara), Pengatur Kehidupan, Penguasa dan Pemerintah. Hal ini wajib dipercayai dalam hati nurani, diperlihatkan di dalam ibadah dan dinyatakan dalam bentuk hukum pada kehidupan seharian. Manusia tidak berhak memutuskan sendiri apa pun di dalam kehidupannya. Mereka wajib kembali kepada peraturan dan hukum Allah mengambil semua bentuk peraturan tentang kehidupannya dari sumber asalnya, dari yang menyampaikannya kepada manusia, yaitu Nabi Muhammad s.a.w. yang terlambang di dalam kalimah syahadat kedua, Muhammad Rasulullah, Muhammad Utusan Allah. Makna akidah seperti ini difahami benar oleh bangsa Arab. Itulah sebabnya mereka, terutama pemuka-pemuka suku melancarkan serangan yang sangat dahsyat untuk menghapuskan akidah ini dan para penyerunya. Para pemuka ini menyadari jika akidah ini tegak, mereka akan kehilangan hak-hak istimewa yang telah diwarisi turun temurun karena akidah ini menghapuskan hak kebangsawanan dan status sosial. Seluruh manusia adalah sama di sisi akidah ini; tidak ada keistimewaan bangsawan dari budaknya, tidak ada kelebihan Arab, Parsi, Rom dari Habsyah. Yang membedakannya adalah pemahaman dan amalan mereka terhadap akidah ini. Semua hak untuk memerintah dan membuat peraturan hidup akan dilucutkan, dikembalikan kepada yang memiliki hak mutlak yaitu Allah s.w.t. Seluruh tradisi nenek moyang yang diagungkan dari generasi ke generasi harus dimusnahkan, diganti dengan tradisi yang berdasarkan akidah ini. Kebanggaan kaum yang selama ini menjadi kehormatan, harus dikuburkan dan diganti dengan kebanggaan memeluk akidah ini. Namun yang paling

86

dikhuatiri para pemuka itu adalah apabila tegak akidah ini, seluruh berhala jahiliyah yang berabad-abad disembah dan dipuja wajib dihancurkan, karena akidah tidak menghendaki hadirnya tuhan-tuhan selain dari Allah Yang Maha Tunggal. Itulah sebabnya, para pemuka itu pun mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan mereka untuk menghancurkan akidah ini dan para penyerunya. Mereka tidak pandang bulu, hatta keluarga dekatpun ditindas dan dibunuh dengan cara yang amat keji. Peristiwa penindasan dan pembunuhan keluarga Ammar bin Yasir adalah contoh nyata. Ayah dan ibunya rela menjadi syuhada untuk mempertahankan akidahnya. Darah harum mereka telah menyuburkan dakwah dan penyebaran akidah ini. Peristiwa-peristiwa seperti ini akan berlanjut terus sampai akidah ini menemui kejayaannya. Keadaan seperti ini akan terus berulang sampai bumi ini berhenti berputar. Di mana muncul generasi Islam seperti Rasulullah s.a.w., keluarga Ammar dan para Sahabat, pasti akan muncul pula penentang-penentangnya seperti Abu Jabal, Abu Lahab dan kakitangannya yang siap menindas penegak akidah ini. Ini sudah Sunnatullah sejak akidah ini dibawa pertama kali oleh Adam a.s.; setiap penegak akidah pasti akan ditentang dengan hebat, diusir dan dibunuh. Kejadian seperti ini adalah salah satu fase tahap al-Qur'an Makkiyah yang wajib dilalui oleh mereka yang hendak mencapai ketinggian akidah, karena jalan ini adalah jalan yang penuh kesusahan yang memerlukan pengorbanan. Mengapa metode al-Qur'an menghendaki jalan sukar lagi berbahaya dan memakan waktu panjang untuk membina generasinya? Bukankah ada banyak lagi jalan yang lebih realistik dan konsepsional? Bukankah bangsa Arab telah sepakat untuk mengangkat Rasulullah s.a.w. sebagai pemimpin mereka dengan syarat tidak mendakwahkan akidah ini? Syarat itu boleh saja diterima untuk sementara waktu dan setelah Rasulullah s.a.w. kuat dan berkuasa mengendalikan bangsa Arab, barulah beliau mengarahkan manusia menuju akidah ini dengan kekuasaan yang ada padanya. Rasulullah s.a.w. dan para pengikutnya tidak perlu bersusah payah dan menderita akibat menentang arus masyarakat jahiliyah dalam mendakwahkan akidah ini. Bukankah ini jalan yang sangat bijaksana, menghindari kesusahan namun misinya tetap tegak dalam tempo masa yang singkat?

87

Sama halnya dengan mereka yang menyatakan: Mengapa metode al-Qur'an tidak memulai langkah perjuangannya dengan aktivititas sosial kemasyarakatan ataupun ekonomi. Bukankah ini sangat penting artinya dalam mendukung suatu gerakan? Bagaimana mungkin sesuatu gerakan dapat berjalan, jika tidak ada dukungan masyarakat dan dukungan ekonomi yang kuat? Atau sama haInya dengan mereka yang menyatakan: kenapa tidak dimulai dengan persiapan-persiapan ketentaraan yang kuat agar seluruh manusia bertekuk lutut kepadanya. Atau Rasulullah s.a.w. yang terkenal sebagai al-Amin, dipercaya dan dihormati, menyerukan nasionalisme Arab, dengan demikian banyak suku-suku besar dan kuat akan menyertainya. Setelah semua itu berhasil, barulah Rasulullah s.a.w. menanamkan akidah ini sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t. Menurut akal, tentu akan mendapat sambutan baik karena diserukan oleh tokoh masyarakat, tokoh ekonomi, tokoh ketentaraan ataupun tokoh nasionalisme. Maka generasi itu tidak perlu lagi bersusah payah menanggung penderitaan. Semua itu sangat mudah dilakukan oleh seorang besar seperti Muhammad Rasulullah s.a.w. Namun wujudnya metode al-Qur'an tidak menghendaki jalan yang mudah itu. Metode ini menghendaki dan memilih jalan sukar lagi berbahaya dan memerlukan masa panjang. Memulai langkah awaInya adalah dengan menegakkan kalimat La ilaha illallah, ajaran yang sangat dibenci oleh bangsa Arab, yang mengakibatkan kesusahan, kesempitan dan penderitaan, bahkan pembunuhan serta peperangan. Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan metode yang digariskan menghendaki lahirnya generasi-generasi utuh yang ditempa dengan kesusahan dan dibesarkan dalam penderitaan. Generasi yang dididik seperti inilah yang akan mampu memikul beban berat melengkapi dan menyempurnakan ajaran Islam nantinya. Allah s.w.t. tidak menghendaki ajaran tinggi ini dianut dan diperjuangkan oleh generasi oportunis yang manja, bermentalitas lemah akibat berkumpulnya kekuasaan dan kesenangan material. Begitulah Allah s.w.t. tidak menghendaki generasi yang berjiwa tirani yang haus kekuasaan, yang akan menggantikan para tirani sebelumnya. Persoalan besar ini, akidah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah dengan segala pengertian logisnya diterjemahkan dengan indahnya ke dalam kehidupan para generasi

88

Islam terdahulu. Al-Qur'an Makkiyah tidak pernah melampaui persoalan ini kepada persoalan-persoaIan lainnya, sampai terbentuk pasti generasi yang bersedia memikul beban tugas besar. Generasi yang berpegang teguh pada akidah ini dengan pemahaman yang sebenarnya dan disertai pengamalan dan kesediaan menerima akibat penentangan dari masyarakat jahiliyah yang menentangnya. Al-Qur'an Makkiyah dengan tahapnya yang panjang, selama 13 tahun menghendaki akidah ini menjadi fundamen bagi ajaran Islam keseluruhannya. Dengan dasar akidah inilah, kemudian akan tertegak bangunan sosial, politik, pendidikan, ekonomi, budaya, peradaban, sains, ketentaraan dan sistem kehidupan lainnya. Kehidupan manusia seluruhnya wajib bersumber dari akidah ini. Akidah ini harus benar-benar kukuh untuk menopang bangunan Islam yang merangkumi segala aspek kehidupan manusia. Inilah metode al-Qur'an Makkiyah dengan segala tahapannya yang wajib dilalui, diwujudkan dalam kehidupan nyata, bukan sekadar dihafal sebagaimana teori dan perbendaharaan ilmu seperti ilmu Tauhid dan ilmu Kalam yang dikenal selama ini. Ciri Metode Al-Qur'an Madaniah Al-Qur'an Madaniah, diturunkan selama 10 tahun adalah lanjutan dari al-Qur'an Makkiyah. Pada fase ini dibicarakan bangunan keseluruhan ajaran Islam karena masyarakat yang dibina atas akidah telah tegak dan oleh itu memerlukan peraturan-peraturan khusus di dalam kehidupan bermasyarakatnya. Masa seperti itulah al-Qur'an Madaniah diturunkan memenuhi keperluan masyarakat. Al-Qur'an Madaniah membicarakan masalah hukum, peraturan bermasyarakat, sistem politik, ekonomi, ketentaraan dan sistern kehidupan lainnya. Pada keadaan seperti ini, sistem sosial secara menyeluruh sangat diperlukan untuk menyempurnakan metode terdahulu. Bangunan Islam ini dapat terlaksana karena telah ada sekumpulan masyarakat yang memiliki akidah dan menang mempertahankan akidahnya dalam berinteraksi dengan masyarakat jahiliyah. Namun yang terpenting, mereka telah

89

bersedia secara mental maupun fisik untuk menerima sistem kehidupan ajaran Islam yang dibawa al-Qur'an Madaniah dengan segala kesempurnaannya. Al-Qur'an Madaniah tidak mungkin dapat terlaksana di dalam sekumpulan masyarakat, jika al-Qur'an Makkiyah belum terwujud di dalam kehidupan nyata mereka. Kaum Muslimin tidak terlalu perlu bersusah payah membahas al-Qur'an Madaniah dan menjelaskannya secara terperinci satu demi satu sistemnya selagi belum ada masyarakat yang akan menerapkannya di dalam kehidupan nyata mereka. Metode al-Qur'an tidak menghendaki perbuatan seperti itu, karena tidak dilakukan oleh Rasulullah dan Sahabatnya. Metode al-Qur'an ini perlu diterapkan dalam kehidupan nyata dan niscaya akan kelihatan hasil semua itu dengan sendirinya, tanpa melalui perdebatan teoritis yang akan menambah kebingungan dan kesesatan. Di sinilah letaknya keunikan metode al-Qur'an yang tidak dapat dijangkau teori manusia dengan segala perbendaharaan ilmunya. Demikianlah wujudnya metode al-Qur'an yang telah melahirkan generasi baru, generasi yang mampu memimpin dunia dan menghancurkan segala bentuk kejahiliyahan yang sepatutnya direnungkan dalam-dalam, terutamanya oleh mereka yang terlibat secara langsung membina umat. Membina manusia yang berpegang teguh pada Islam secara menyeluruh memerlukan waktu yang panjang dengan sistematika pembinaannya yang konprehensif. Generasi Islam yang paripurna sebagaimana generasi Islam terdahulu tidak akan lahir, jika tidak digunakan metode yang telah mereka gunakan untuk membentuk diri mereka. Generasi Islam terdahulu, telah hidup bersama metode al-Qur'an, dibesarkan dalam metode al-Qur'an dengan segala peringkat serta sukadukanya. Inilah satu-satunya jalan. Kaum Muslimin tidak perlu mencari-cari metode yang tidak pernah dikenal Islam, karena metode itu hanya akan membawa akibat buruk kepada perkembangan generasinya. Masyarakat Qur'ani yang berharkat dan bermartabat, hanya dapat dilahirkan dengan metode yang telah diturunkan Allah bersama al-Qur'an, manhaj Qur'ani, metode al-Qur'an.

90

BAB 6

MASYARAKAT QUR'ANI BINAAN RASULULLAH
Sejarah telah membuktikan 15 abad silam telah lahir di muka bumi ini masyarakat yang tidak pernah ada sebelumnya. Jikalaupun ada, belum pernah terkumpul sedemikian banyaknya manusia-manusia agung dengan keunggulannya masing-masing pada satu waktu, di dalam sebuah kumpulan masyarakat yang tersusun indah. Masyarakat yang penuh persaudaraan, kejujuran menjadi hiasan, mengutamakan keadilan, toleransi dijunjung tinggi, perbedaan dijadikan rahmat, berharkat dan bermartabat. Masyarakat yang mencerminkan kesempurnaan dan keagungan al-Qur'an, sehingga masyarakat ini menjadi mercusuar umat manusia dan pengembangan peradaban. Mereka hidup, berjuang dan berinteraksi langsung dengan masyarakat jahiliyah. Mereka adalah masyarakat agung yang telah menggoncang dunia, memporak-perandakan segala bentuk jahiliyahan dan memimpinnya menuju kedamaian abadi di bawah keridhaan Maha Pencipta Alam. Masyarakat utama ini sebelumnya adalah sekelompok kecil suku bangsa di padang pasir tandus, yang peradabannya terkebelakang dan tidak pernah diperhitungkan dalam arena politik dunia. Mereka saling memerangi antara satu sama lain; yang kuat memperbudak yang lemah. Mereka menyembah berbagai Tuhan yang diciptakan sendiri. Tindakan-tindakan tidak bermoral merupakan pemandangan umum yang menjadi kebanggaan mereka. Keadaan mereka berubah, ketika Maha Pencipta Alam menurunkan utusan-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari kejahiliyahan menuju Islam. Berkat kesabaran dan ketekunan Rasulullah s.a.w., bangsa yang lemah dan

91

terbelakang ini dapat dipimpin menuju kebenaran hakiki. Segala bentuk kemusyrikan, beliau gantikan dengan kalimat tauhid, "Tiada Ilah kecuali Allah" berpedoman kepada panduan hidup yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Masyarakat baru ini lahir dari sistem pembinaan yang diajarkan al-Qur'an dengan pendekatannya yang sangat khas. Mereka adalah masyarakat Qur'ani yang kelahirannya ditunggu-tunggu para penegak kebenaran dan mencemaskan penegak kebatilan. Masyarakat Qur'ani ini memiliki ciri-ciri khas yang sangat membedakan mereka dengan masyarakat lainnya dahulu dan kini. Ciri-ciri khas ini telah menjadikan mereka masyarakat utama yang tak tertandingi. Di antara ciri-ciri khas itu adalah menjadikan al-Qur'an sebagai panduan hiclup, menerapkan al-Qur'an di dalam kehidupan nyata, menggantikan kejahiliyahan dengan Islam dan membentuk masyarakat ideal. MENJADIKAN AL-QUR'AN SEBAGAI PANDUAN HIDUP Masyarakat Qur'ani yang dibina Rasulullah s.a.w., hanya mau mengambil dari satu sumber saja sebagai rujukan dalam segala aspek kehidupan mereka, yaitu al-Qur'an. Sunnah Rasulullah adalah sebagian dari sumber utama itu. Sekiranya mereka menghadapi suatu masalah, mereka akan segera kembali kepada al-Qur'an. Mereka akan merujuk kepada al-Qur'an terlebih dahulu untuk segala urusan sebelum merujuk kepada sumber-sumber lain. Mereka tidak akan terburu-buru mengerjakan sesuatu sebelum alQur'an memerintahkannya dan mereka akan segera meninggalkan suatu urusan jika al-Qur'an melarangnya. Masyarakat ini menolak segala bentuk sumber selain al-Qur'an, walaupun pada saat itu telah wujud ajaran-ajaran nabi sebelumnya ataupun filsafat-filsafat Yunani yang tetap dijadikan rujukan sampai hari ini. Mereka tidak mau sumber-sumber utama pengambilan selain al-Qur'an yang akan mewarnai kehidupan dan menguasai fikiran mereka, hatta kitabkitab terdahulu yang dibawa para nabi. Itulah sebabnya Rasulullah s.a.w. menegur Umar ibn Khattab ketika mengetahuinya membaca lembaran Taurat dan bersabda dengan tegasnya:

92

"Demi Allah, seandainya Musa a.s. masih hidup di antaramu, maka niscaya dia pasti akan mengikuti ajaranku." (HR. Abu Yala). Rasulullah s.a.w. sebagai pembina utama masyarakat Qur'ani memang sengaja membatasi sumber pengambiIan masyarakat utama ini hanya kepada al-Qur'an saja, agar mereka tetap bersih dari pencemaran pemikiran dan pefahaman di luar al-Qur'an. Rasulullah s.a.w. mengetahui sekiranya al-Qur'an dicampuadukkan dengan berbagai filsafa manusiawi saat itu, maka umat binaannya akan mengalami kemunduran dan tidak akan mencapai sasaran yang telah ditetapkan al-Qur'an. Demikianlah kenyataannya, masyarakat yang dibina Rasulullah s.a.w. yang dibangun hanya berpandukan konsepsi yang diajarkan al-Qur'an semata-mata telah menjadi masyarakat agung sepanjang masa dengan segala keutamaan mereka. Sebaliknya masyarakat sesudah mereka; yaitu ketika masyarakat ini mencampuradukkan al-Qur'an dengan filsafat-filsafat manusiawi lainnya, pada saat itulah masyarakat ini mengalami kemunduran yang sangat drastis. Mereka telah kehilangan ruh al-Qur'an yang akan menjadikan mereka manusia utama akibat bercampurnya al-Qur'an dengan filsafat dan produk pemikiran manusiawi yang penuh dengan kekurangan dan tragedi. Rasulullah s.a.w. membatasi sumber utama pengambilan masyarakat binaannya hanya kepada al-Qur'an saja, karena masyarakat ini pada mulanya dikehendaki memiliki fondasi yang kokoh dalam mengembangkan sebuah bentuk masyarakat ideal sepanjang masa. Fondasi yang kokoh itu hanya dapat diperoleh dari al-Qur'an saja, dan tidak mungkin diperoleh dari sumber-sumber selainnya karena melibatkan masalah keimanan, akidah dan keyakinan manusia kepada Allah s.w.t., hari pembalasan, syurga, neraka dan segala hal yang ghaib, yang tidak mungkin mampu disingkap kekuatan manusia, bagaimanapun jeniusnya. Oleh sebab itu, perlu ada penjelasan langsung dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Pencipta alam raya ini. Hanya Sang Maha Penciptalah yang mampu menjelaskan segala permasalahan ini kepada manusia agar mereka benar-benar yakin. Atas dasar keyakinan inilah, kemudian mereka membangun peradaban dunia sebagai Khalifah, wakil Allah di atas bumi. Penjelasan masalah keyakinan ini tidak mungkin mampu diuraikan dengan tepat

93

oleh filosuf-filosuf terkemuka, walaupun mereka telah berusaha dengan segala kemampuan yang ada pada mereka, karena manusia tetaplah manusia yang diciptakan dengan segala kekurangan. Sekiranya Rasulullah s.a.w. berkeinginan untuk mencampurkan sumber pengambilan masyarakat binaannya dengan sumber filsafat manusiawi yang ada, tentu beliau telah melakukannya karena produk filsafat pada masa itu tersebar luas dan menguasai peradaban dunia. Namun sejarah membuktikan Rasulullah s.a.w. tidak berhuat seperti itu, bahkan beliau menolak segala bentuk sumber pengambilan selain al-Qur'an, hatta kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa a.s. Dengan ruh dan metode al-Qur'anlah Rasulullah s.a.w. membimbing masyarakat Islam terdahulu sehingga mereka menjadi masyarakat utama yang terlepas dari segala bentuk kesesatan dan krisis yang telah menimpa masyarakat jahiliyah sebagaimana dijelaskan Allah di dalam firman-Nya: Dialah yang telah membangkitkan di kalangan masyarakat ummi seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat-Nya, membersihkan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab (al-Qur'an) dan Hikmah, dan padahal mereka sebelum itu dalam kesesatan yang nyata. (Q62:2) Masyarakat ini menjadikan al-Qur'an sebagai satu-satunya sumber rujukan utama karena mereka sangat yakin kepada al-Qur'an. Mereka sangat yakin al-Qur'an akan dapat menyelesaikan segala problematika dan krisis yang mereka hadapi. Sikap inilah yang telah menjadikan mereka sebagai masyarakat utama sepanjang masa. MENERAPKAN AL-QUR'AN DALAM KEHIDUPAN NYATA Masyarakat al-Qur'an yang dibina Rasulullah s.a.w. menerima al-Qur'an, membaca al-Qur'an, mempelajari al-Qur'an dan memahami al-Qur'an semata-mata untuk diamalkan, untuk diterapkan di dalam kehidupan nyata mereka sehingga mereka menjadi 'al-Qur'an hidup'. Setelah masyarakat ini menerima ayat-ayat al-Qur'an dari Rasulullah s.a.w., mereka langsung mengamalkannya tanpa mempertanyakan aspek-aspek filosofisnya yang rumit.

94

Ayat-ayat yang diturunkan kepada masyarakat ini adalah ayat-ayat amali yang praktis, yang dapat langsung diterapkan di dalam kehidupan nyata mereka, bukannya teori-teori rumit yang membingungkan mereka. Itulah sebabnya seluruh lapisan masyarakat mudah sekali memahaminya dan mudah melaksanakannya di dalam kehidupan nyata mereka. Masyarakat ini menerima al-Qur'an ibarat seorang perajurit yang menerima perintah harian dari panglima tertingginya. Perintah-perintah harian itu harus segera dilaksanakan di dalam kehidupan. Mereka menerima al-Qur'an untuk menjalankan perintah Allah, Maha Penguasa Tertinggi, tentang segala aspek kehidupan untuk dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan seluruh umat manusia. Mereka akan melaksanakan segera apa saja yang diperintahkan tanpa menangguhkannya ataupun meminta tambahan perintah-perintah baru yang akan memberatkan mereka. Mereka menerima ayat-ayat Allah yang disampaikan Rasulullah s.a.w. dengan penuh perhatian dan kesungguhan, kemudian mereka menghafalnya dan selanjutnya mempraktekkannya di dalam kehidupan nyata. Jika mereka tidak memahaminya, maka Rasulullah s.a.w. akan menjelaskan maksudnya, agar mereka dapat melaksanakannya dengan mudah. Itulah sebabnya, Allah Yang Maha Mengetahui menurunkan al-Qur'an bagian demi bagian, ayat demi ayat menurut keperluan pembinaan masyarakat waktu itu, sebagaimana dijelaskan al-Qur'an. Dan al-Qur'an itu Kami turunkan sebagian demi sebagian, supaya engkau bacakan kepada manusia dengan beransur-ansur dan Kami turunkan terus-menerus. (Q17:106) Dan orang-orang yang kafir itu berkata: Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya dengan sekaligus? Demikianlah (Kami turunkan berangsur-angsur) karena dengannya itu Kami hendak meneguhkan hatimu, dan kami bacakan ia dengan berangsur-angsur.(Q25:32) Ayat demi ayat diturunkan kepada masyarakat melalui utusan Allah, Nabi Muhammad s.a.w. agar masyarakat mengamalkannya sampai ayat itu terlambang kehidupan nyata.

95

Mereka tidak akan meminta tambahan ayat-ayat kepada Rasulullah s.a.w. selain dari apa yang diberikan kepada mereka, karena mereka mengetahui ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka adalah pembinaan yang telah disusun dan dirancang turunnya dengan sangat teliti sesuai menurut keperluan mereka. Allah yang Maha Mengetahui menurunkan ayat-ayat al-Qur'an menurut keadaan pertumbuhan masyarakat yang dibina Rasulullah s.a.w. Satu atau beberapa ayat diturunkan pada suatu peristiwa, keadaan ataupun kejadian tertentu untuk menceritakan kepada manusia tentang apa yang mereka kerjakan demi kebaikan mereka dunia akhirat. Ayat-ayat al-Qur'an menggambarkan keadaan hati mereka, ataupun kejadian-kejadian yang sedang dialami dan menggariskan untuk mereka cara bekerja dalam keadaan tersebut ataupun membetulkan kesalahan pemikiran dan tindakan mereka, menghubungkan mereka dalam semua perkara dengan Allah s.w.t. Al-Qur'an telah menghubungkan hamba dengan Tuhannya secara langsung, mereka berinteraksi. Masyarakat ini menerima al-Qur'an bukan hanya sekedar untuk tujuan menambah khazanah pengetahuan ataupun untuk memperluas wawasan mereka saja. Bukan pula sekedar untuk menikmati keindahan bacaan dan sastaranya yang sangat memukau. Demikian pula tidak ada di antara mereka yang mempelajari al-Qur'an untuk menambah perbendaharaan ilmunya dengan segala pembahasannya yang terperinci, sehingga mereka terkenal sebagai pakar ilmu al-Qur'an. Bukan semua itu tujuan para Sahabat menerima al-Qur'an! Mereka menerima al-Qur'an dan mempelajarinya semata-mata untuk diamalkan dan dipraktekkan dalam kehidupan nyata mereka. Itu yang terutama. Namun karena mereka menerima al-Qur'an untuk diamalkan, maka al-Qur'an memberikan mereka khazanah pengetahuan, wawasan intelektual, petunjuk hidup, kisah-kisah teladan, kesenangan, keindahan, kemukzijatan, kekuatan spiritualitas bahkan memberikan segala jawaban terhadap pernasalahan yang mereka hadapi. Karena mereka telah menjadi 'al-Qur'an hidup', segala perbendaharaan al-Qur'an mereka dapatkan, sehingga mengantarkan mereka menjadi masyarakat agung sebagaimana yang ditulis sejarah kemanusiaan.

96

MENGGANTIKAN KEJAHILIYAHAN DENGAN ISLAM Masyarakat al-Qur'an yang dibina Rasulullah s.a.w. setelah menerima Islam sebagai panduan hidup, secara otomatis mereka menolak dan meninggalkan segala bentuk kejahiliyahan yang lahir maupun batin. Mereka sangat takut kembali kepada kejahiliyahan sebagaimana takutnya mereka dicampakkan ke dalam api yang berkobar. Setelah masuk Islam, mereka mencampakkan semua tuhan palsu jahiliyah, kepemimpinan jahiliyah, teori-teori pemikiran jahiliyah, hubungan ashobiah jahiliyah, pergaulan jahiliyah dan segala yang berbau jahiliyah. Mereka merombak seluruh sistem kehidupan mereka menurut kehendak Allah s.w.t. dan Rasul-Nya. Jahiliyah bukanlah suatu zaman sebelum kedatangan Islam sebagaimana difahami kebanyakan orang. Bahkan mereka mendakwa bahwa sekarang tidak ada lagi kejahiliyahan yang mereka artikan sebatas kebodohan. Masyarakat sebelum kedatangan Islam dikatakan sebagai masyarakat jahiliyah bukan karena mereka bodoh dan tidak memiliki peradaban. Bahkan mereka telah memiliki peradaban yang menjulang tinggi yang masih dijadikan rujukan sampai hari ini. Jahiliyah hakikatnya adalah faham hidup yang tidak bercorak Islam, yang bertentangan dengan ajaran Islam. Masyarakat sebelum kedatangan Islam dikatakan jahiliyah karena mereka tidak menjadikan Islam sebagai panduan hidup mereka. Jadi seseorang yang menganut ideologi selain dari Islam, walaupun dia mengaku Muslim, maka tetap dikatakan sebagai orang jahiliyah. Orang yang mengamalkan teori-teori pemikiran yang bukan bersumber dari Islam dapat juga orang jahiliyah. Segala bentuk akar kejahiliyahan inilah yang dicabut Rasulullah s.a.w. dari masyarakat yang dibinanya. Beliau mengawalinya dengan mencabut akar kejahiliyahan tertinggi yaitu menghilangkan tuhan-tuhan jahiliyah, dan menggantikannya dengan La ilaha illallah, tiada Tuhan kecuali Allah. Rasulullah s.a.w. berjuang siang malam membersihkan segala bentuk kejahiliyahan pada masyarakat binaannya sehingga benar-benar menjadi masyarakat Islam ideal. Kehidupan masyarakat Islam terdahulu benar-benar bebas dari segala bentuk penyakit

97

kejahiliyahan sehingga mereka mampu menjadi masyarakat utama yang mernimpin dunia. Demikian pula masyarakat Qur'ani yang dibina Rasulullah s.a.w. tidak pernah mencampurkan antara Islam dan kejahiliyahan dengan mengambil Islam sehagian dan sebagiannya lagi jahiliyah. Allah s.w.t. dengan tegas melarang pencampur adukan ini sebagaimana firman-Nya: Dan janganlah kam u campurkan antara yang hak (Islam) dengan yang batil (jahiliyah), karena kamu pasti akan menyembunyikan yang hak padahal kamu mengetahui.(Q2:42) Pencampuran antara Islam dengan jahiliyah akan menghancurkan kesucian ajaran Islam serta menghilangkan keutamaan dan kesempurnaan yang terkandung di dalamnya karena Islam adalah sistern hidup yang telah dijamin kesempurnaannya dan tidak memerlukan tambahan-tambahan dari sistern selainnya. Orang yang beranggapan Islam akan kuat dengan sistem jahiliyah, pada hakikatnya telah menghancurkan Islam, menghilangkan ruh yang akan menggerakkan manusia sebagai makhluk sempurna. Mencampurkan sistem jahiliyah ke dalam sistem Islam sama artinya dengan memasukkan racun ke dalam susu. Bergunakah susu yang sudah dicemari racun? Itulah sebabnya masyarakat Qur'ani yang dibina Rasulullah s.a.w. menolak keras segala bentuk kehidupan jahiliyah yang datang dari landasan filsafat selain Islam. Bagi mereka, Islam adalah sistem kehidupan sempurna yang akan membawa manusia menuju kebahagiaan sejati. Menerima kejahiliyahan bersama Islam adalah sama halnya dengan mencampakkan diri ke dalam jurang kebinasaan. MEMBENTUK MASYARAKAT IDEAL Rasulullah s.a.w bersama masyarakat Qur'ani yang dibinanya membentuk sekumpulan masyarakat tersendiri yang berbeda cirinya dengan masyarakat jahiliyah pada masa itu. Mereka membentuk sekumpulan masyarakat yang menegakkan ajaran Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Lingkungan masyarakat mereka bebas dari segala pengaruh masyarakat jahiliyah, dan memiliki sistem kehidupan tersendiri, sistem politik tersendiri, ekonomi tersendiri, pendidikan tersendiri, sosial tersendiri sehingga memiliki

98

kepemimpinan tersendiri yang menjadikan Allah s.w.t. sebagai pemimpin tertingginya. Masyarakat ini tidak menggantungkan sedikitpun keperluan mereka kepada masyarakat jahiliyah, sehingga mereka menjadi merdeka sepenuhnya dari ancaman dan tekanan masyarakat jahiliyah yang mengitari mereka. Masyarakat Qur'ani yang diwujudkan Rasulullah s.a.w. tidak lahir dengan sendirinya. Bahkan kelahiran mereka di bawah bimbingan Rasulullah s.a.w. dengan proses pembinaannya yang sangat mengagumkan. Pembinaan masyarakat yang dipraktikkan masyarakat Qur'ani terdahulu ini dimulai dari pembentukan pribadi Qur'ani (Syakhsiyah Qur'aniyah) yang memahami dengan benar pesan-pesan al-Qur'an dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. Menegakkan ajaran al-Qur'an dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Rasulullah s.a.w. dengan penuh ketekunan membina individu-individu jahiliyah, mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam berpedoman wahyu yang diterimanya dari Allah s.w.t. Kumpulan individu ini kemudian melahirkan keluarga-keluarga Muslim yang merealisasikan ajaran al-Qur'an dalam kehidupan mereka. Kumpulan keluarga inilah yang akan menjadi masyarakat yang memiliki sistem hidup, tersendiri sebagaimana yang dikehendaki Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, berbeda dengan sistem hidup masyarakat jahiliyah. Proses pembinaan masyarakat Qur'ani ini digambarkan dengan indahnya oleh Allah s.w.t. di dalam al-Qur'an: "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti sebuah pohon yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan pohon itu kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanampenanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kofir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada

99

orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang salih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(Q48:29) Masyarakat Islam yang dibina Rasulullah s.a.w. diibaratkan sebagai sebuah pohon yang amat rindang, yang dapat menaungi orang yang berteduh di bawahnya. Namun tentu pohon itu tidak langsung besar dan rindang, pasti mengalami proses pertumbuhan secara alamiyah, dari benih sampai menjadi pohon besar. Demikian pula dengan masyarakat Qur'ani, tidak muncul dengan sendirinya akan tetapi dibina bersusah payah dengan penuh ketekunan oleh Rasulullah s.a.w. berpandukan wahyu yang diterimanya dari Allah s.w.t. Masyarakat yang telah dibentuk al-Qur'an ini bukanlah masyarakat statis yang memisahkan diri dari segala bentuk kehidupan dunia. Masyarakat ini tidak tinggal di gunung dan hutan belantara yang terpencil tanpa menghiraukan sama sekali perubahan dunia. Sebaliknya masyarakat ini adalah masyarakat dinamis yang berhubungan langsung dengan dunia jahiliyah dan berinteraksi dengannya. Mereka memberi contoh nyata kepada masyarakat jahiliyah tentang sistem kehidupan terbaik yang harus diterapkan untuk menuju kebahagiaan sejati. Mereka memberi rumusan-rumusan tepat untuk mengobati dan menyelesaikan segala krisis dan problematika yang telah menimpa masyarakat jahiliyah. Itulah sebabnya, masyarakat yang dibentuk al-Qur'an terdahulu adalah masyarakat idial yang dapat dijadikan contoh sepanjang zaman. Mereka hidup di bawah naungan peraturan-peraturan sempurna yang datang dari Allah, Pencipta Alam, yang Maha Mengetahui segala seluk-beluk manusia. Masyarakat ini lebih mengutamakan kebenaran dan keadilan, dan tidak membeda-bedakan manusia dalam melaksanakan undang-undang. Penguasa dan rakyat adalah sama di sisi undang-undang; semuanya takluk dibawahnya. Keutamaan dan kemuliaan seseorang hanya diukur melalui tingkat ketakwaannya kepada Allah s.w.t. Masyarakat ini tidak membeda-bedakan ras dan suku, sehingga dapat menghimpun berbagai ras dan suku menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Masyarakat idial ini tidak membataskan kewarganegaraannya atas dasar batasan sempit geografi wilayah atau pun ashabiah sempit sebuah bangsa, namun ditentukan oleh akidah

100

mereka. Siapapun yang mengaku beriman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, maka secara otomatis menjadi sebagian dari masyarakat Islam, walaupun mereka datang dari ujung dunia yang lain. Masyarakat yang dibina atas dasar keimanan dan ketakwaan inilah yang telah berhasil mengeluarkan bangsa Arab dari kejahiliyahan dan keterbelakangan peradaban menjadi pemimpin-pemimpin agung dunia yang disegani dan ditakuti. Mereka menjadi mercu suar peradaban dunia, karena anggota masyarakatnya adalah pencinta-pencinta ilmu pengetahuan yang pengaruhnya wujud sampai hari ini. Masyarakat idial yang telah dibina al-Qur'an inilah masyarakat pilihan sepanjang zaman yang menjadi contoh umat manusia dan dijuluki sebagai khoiro Ummah, umat terbaik, oleh Allah Pencipta alam di dalam alQur'an.

101

BAB 7

AL-QUR'AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP MANUSIA SEPANJANG MASA
Mungkin akan banyak orang yang akan tersentak, khususnya mereka yang menamakan dirinya sebagai kaum modern, jika dikatakan bahwa al-Qur'an dapat menjadi pedoman hidup masyarakat modern, masyarakat berteknologi tinggi seperti sekarang ini. Bagaimana mungkin, menurut dakwaan mereka, sebuah kitab suci yang diturunkan 15 abad silam untuk mengatur masyarakat terbelakang di gurun pasir Arab dapat menjadi pedoman hidup masyarakat modern berperadaban yang serba canggih dengan teknologinya yang menjulang tinggi. Masyarakat yang mereka juluki sebagai masyarakat beradab yang telah sampai ke puncak kemajuan pengetahuan dan perbendaharaan materi. Mereka beranggapan al-Qur'an hanya tepat untuk mengatur masyarakat Arab Baduwi yang primitif, bodoh dan terbelakang. Bahkan mereka telah menyatakan bahwa abad ini adalah era sains dan teknologi, sedangkan era agama, termasuk yang diajarkan al-Qur'an sudah ketinggalan zaman. Dakwaan ini mereka perkuat lagi dengan kenyataan terkini, terutama peristiwa-peristiwa dramatis yang telah menimpa mereka dalam kehidupan modern, terutama kegagalan sistem hidup sekulerisme yang mereka anut. Sistem komunisme yang diciptakan kurang seabad lalupun sudah tidak mampu menjawab problematika masyarakat modern sehingga dikubur oleh pengikut setianya sendiri. Demikian pula halnya dengan kapitalisme yang sudah berada di ambang sakratul maut padahal baru seabad lebih usianya.

102

Apakah al-Qur'an mampu menjawab problematika masyarakat modern yang penuh dengan krisis dan tragedi ini, sedangkan usianya sudah 15 abad? Mampukah a-Qur'an menjadi alternatif untuk semua sistem kehidupan manusia yang telah mengalami kebangkrutan dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat modern yang demikian kompleksnya? Mampukah ia menggantikan konsep hidup masyarakat modern yang sudah mapan (establish)? Mampukah al-Qur'an memberikan alternatif pada sistem pendidikan, ekonomi, politik, sosio-budaya, filsafat dan semua produk masyarakat modern lainnya? Mampukah al-Qur'an merombak struktur masyarakat modern yang telah berakar? Mampukah al-Qur'an memberikan penyelesaian baru pada masyarakat modern agar mereka menjadi manusia agung yang mencintai keadilan dan kedamaian? Mampukan al-Qur'an mengobati segala bentuk penyakit kronis yang telah disebarkan kaum atheis, sekuler dan hedonis dengan segala akar-akarnya? Bahkan ada seribu satu pertanyaan lainnya yang menghantui pemikiran mereka. Kenyataannya masih banyak orang yang ragu atas kemampuan al-Qur'an untuk menyelesaikan problematika dan krisis manusia modern. Bahkan di kalangan kaum Muslimin sendiri dan mereka berusaha mencari konsep-konsep selainnya serta menolak ajakan kembali kepada al-Qur'an. Untuk menjawab segala bentuk keraguan itu, pertama sekali perlu difahami hakikat sumber dari segala krisis yang menimpa manusia modern saat ini ataupun sumber permasalahan utama masyarakat modern yang telah menimbulkan menimbulkan segala bentuk krisis dan problematika lainnya. Apakah sama dengan sumber problematika dan krisis masyarakat terdahulu di zaman awal kebangkitan Islam? Jika ditelaah kehidupan masyarakat sebelum diturunkan al-Qur'an, masyarakat yang dikatakan sebagai masyarakat jahiliyah, maka akan kelihatan realitas problematika yang mereka hadapi dengan jelasnya. Untuk mengetahui keadaan mereka, beberapa fakta sejarah dibawah ini akan membantu kita untuk mengenal pasti keadaan mereka. Robert Briffault di dalam bukunya Making of Humanity, halaman 159 menggambarkan kerajaan Romawi pada waktu itu: "Sebab yang mendasari kemunduran dan kejatuhan

103

Kekaisaran Romawi bukanlah karena kerusakan yang baru timbul seperti korupsi dan sejenisnya melainkan karena kerusakan, kejahatan dan kerakusan yang sudah ada sejak kekaisaran itu mulai berdiri. Memang sudah semestinya setiap organisasi yang didirikan di atas dasar yang palsu dan buruk oleh orang-orang yang sudah rusak budi pekertinya, pastilah akan cepat runtuh walaupun mereka itu memiliki intelektualitas dan bertahan dengan kekerasan. Kita semua tau, bahwa Kekaisaran Romowi, hanyalah merupakan alat golongan kecil elit penguasa untuk memeras dan menghisap darah rakyatnya, demi kemewahan mereka semata-mata. " Dr. Alfred G. Butler menulis tentang kekuasaan Romawi di Mesir: "Pemerintahan Romawi di Mesir hanya mempunyai satu tujuan saja, yaitu untuk mengisap kekayaan rakyat untuk kemewahan segelintir penguasa". Seorang ahli sejarah Syria menulis tentang penjajahan Romawi di sana: "Romawi menjajah negeri Syam selama 700 tahun. Waktu yang panjang itu ditandai dengan meluasnya perbudakan, yang tentu saja pada akhirnya menimbulkan penderitaan rakyat. Mereka melakukan penindasan dan memerintah dengan sombong. Yunani menjajah Syam selama 369 tahun. Waktu itu ditandai oleh berkecamuknya peperangan dan kezaliman. Tempo waktu ini dapat dikatakan sebagai zam an yang paling hitam sepanjang sejarah Syam. Keborosan penguasa-penguasa pada zaman itu, dapat digambarkan dari keterangan mengenai permadani Kaisar Parsi yang dirampas tentara Islam yang dilukiskan para pakar sejarah sebagaimana berikut: Permadani itu hanya sehelai, tetapi berukuran 60 x 60 hasta. Lukisannya berupa pemandangan yang indah. Dasarnya disulam dengan benang emas, diselingi dengan mutiara. Ada gambar pohon yang buahnya disulam dengan permata, sedangkan daunnya dengan benang sutra yang dicelup emas. Di dalam lukisan itu ada juga jajan-jalan dan tembok-tembok serta sungai-sungai yang diukir dengan mutiara, ada lembah-lembah yang ditumbuhi tanam-tanaman dan sayur-sayuran, yang semuanya terukir dari emas. Tiang-tiang lampunya terbuat dari perak. Permadani ini digunakan untuk jalanjalan, seakan-akan berada di dalam taman yang sesungguhnya".

104

Hasan bin Thabit menceritakan keadaan dalam majlis Jabalah bin Alham al-Ghassani: "Aku melihat sepuluh orang penyanyi wanita, lima di antara mereka dari Romawi mendendangkan Iagu-Iagu Romawi dengan gitar, dan lima orang membawakan Iagu-Iagu dari Hirah yang dihadiahkan oleh Iyas bin Khaishah. Terkadang berkunjung pula penyanjd-penyanyi wanita Arab dari Makkah dan lainnya. Apabila masuk pada majlis minumnya, dibentangkan permadani-permadani yang terbuat dari sutra "As" dan "Yasmin ", ditaburkan bermacam-macam bunga, dituangkan minyak wangi ambar dan kasturi dimangkok perak dan emas, dibakar kayu cendana yang harum. Pada musim panas diletakkan es di bawah tempat duduknya. Masuklah dia bersama-sama pengiring-pengiringnya dengan pakaian musim panas, khusus untuknya dan rombongannya saja, apabila musim dingin mereka memakai pakaian dingin dan sejenisnya." Al-Syaby berkata: "Orang Parsia membuat topinya menurut kedudukannya. Seorang bangsawan biasanya memakai topi berharga seratus ribu. Hurmuz, sebagai bangsawan tertinggi, memakai topi yang berharga seratus ribu dan ditaburi dengan mutiara. Para pemuka agama juga telah menyelewengkan ajaran-ajaran mulia dan suci agama Allah yang telah diturunkan kepada para nabi daan rasul terdahulu. Mereka telah mencampurkan ajaran-ajaran suci itu dengan kehendak rendah hawa nafsu mereka, demi untuk kepentingan dunia ataupun menuruti kehendak pata pembesar kerajaan yang menggunakan agama untuk menindas masyarakat. Al-Nadwi di dalam bukunya, Madza Khasira al-Alam menulis tentang keadaan agama Kristen pada waktu itu: "Dengan adanya campuran yang aneh ini, maka samarlah ajaran al-Masih yang sederhana itu, sebagaimana hilangnya setetes nila di lautan besar. Akhirnya berubah dan bercampur dengan ajaran yang membingungkan, terdiri dari keyakinan dan tradisi-tradisi yang tidak menghidupkan ruh, tidak mengembangkan akal dan tidak pula mengghairahkan perasaan serta tidak mampu menyelesaikan problematkna kehidupan. Bahkan dengan tambahan-tambahan kaum yang kacau balau dan penafsiran orang-orang bodoh, jadilah agama sebagai penghalang antara manusia dengan ilmu, dan dalam perputaran zaman yang terus-menerus jadilah seperti agama para penyembah berhala. Kaum Masehi telah berlebihan dalam menyembah

105

orang-orang sucinya dan gambar al-Masih, sehingga melebihi penganut Katolik pada waktu ini." Bahkan, agama akhirnya menjadi sumber perpecahan dan peperangan pada waktu itu sebagaimana digambarkan Dr. Alfred G. Batler terhadap agama di Mesir: "Sebenarnya urusan agama di Mesir pada abad ke tujuh lebih berbahaya dari urusan politik. Ketika itu bukan urusan pemerintahan yang menyebabkan tumbuhnya golongan-golongan yang berselisih antara satu dengan lain, tetapi seluruh perpecahan dan pertengkaran bersumber dari masalah akidah agama. Mereka tidak memandang agama itu sebagai sumber yang menggerakkan amal salih, tetapi agama hanya sekedar keyakinan lurus mengenai hal-hal terentu. Maka seluruh perselisihan dan pertengkaran yang sengit di antara rakyat itu berkisar pada soal-soal yang tidak nyata untuk menggambarkan perbedaan-perbedaan yang halus antara akidah yang bermacam-macam. Mereka sedia mengorbankan jiwa raganya dalam masalah-masalah yang tidak ada harganya, dan pebedaan yang tidak beraerti tentang agama serta filsafat metafisika yang susah difahami dan sukar didapatkan." Demikian pula halnya dengan moral masyarakat yang sudah hancur. Kemaksiatan dan kemungkaran meluas. Bahkan mereka sanggup melakukan perbuatan-perbuatan keji yang tidak pernah dilakukan binatang buas sekalipun, seperti perbuatan kaum Arab jahiliyah yang sampai hati menanam anak perempuan mereka hidup-hidup. Demikian pula minuman keras, judi, riba dan perzinaan adalah cara hidup mereka. Labid berkata: "Semalaman aku sibuk bersenang-senang dengan khamar, Aku menemui panji Gahyah telah berkibar, dan aku pun menikmatinya." Karena meluasnya perdagangan khamar pada waktu itu, maka kalimat tijarah (perdagangan) dapat disamakan dengan pedagang khamar seperti apa yang diucapkan oleh Labid di dalam syairnya di atas. Qatadah berkata: "Seorang (jahiliyah) biasa mempertaruhkan kemuliaan keluarga dan hartanya di meja judi, kemudian duduklah dia termenung, berdukacita dan hampa melihat taruhannya berpindah ke tangan lawannya. Demikianlah bibit permusuhan dan kebencian antara sesama mereka."

106

Al-Thabari berkata: "Sistem riba pada zaman jahiliyah berjalan dengan cara melipat-gandakan wang dan menambah umur pada jenis haiwan". Ibnu Abbas r.a. berkata: "Pada zaman jahiliyah, seseorang memaksa hamba sahayanya melacur dan memungut sewanya". Aisyah r.a. berkata: "Nikah pada zaman jahiliyah ada empat macam: Pertama, seorang meminang pada wali anak perempuannya, kemudian diserahkannya mas kawin, lalu dilaksanakan akad nikah itu. Kedua, seorang suami berkata kepada isterinya apabila dia bersih dari haid: "Hubungilah si fulan dan usahakanlah agar hamil darinya." Suaminya sendiri menjauhkan diri dan tidak menyentuh istrinya sampai nyata bahwa istri itu telah berhasil mendapat kandungan yang dimaksudkan. Suami tersebut berbuat dernikian karena ingin mendapatkan anak yang cerdas. Perkahwinan seperti ini disebut Nikah istibda'a (nikah mengharapkan benih baik). Ketiga, sekelompok lak-lakii yang kurang dari sepuluh orang berkumpul dan sama-sama menggauli seorang wanita sampai hamil dan melahirkan anak. Apabila anak itu telah lahir, semua laki-laki itu dipanggil dan mereka tidak bisa mengelak. Apabila mereka telah hadir, wanita itu pun berkata: "Kamu semua tentu sudah maklum tentang perbuatanmu, dan akibatnya aku telah melahirkan anak, maka dengan ini kutetapkan, bahwa anak itu adalah anak si fulan." Maka disebutlah nama salah seorang di antara laki-laki tersebut dan anak itu pun menjadi anak laki-laki tersebut tanpa dia bisa menolak. Keempat, sekumpulan laki-laki mendatangi seorang wanita yang disebut baghaya (pelacur). Wanita ini memasang pengumuman di atas pintu rumahnya sebagai tanda mengundang para lelaki yang berminat menggaulinya agar masuk. Apabila wanita itu hamil dan melahirkan anak, maka mereka berkumpul dengan memanggil seorang gaif (tukang tenung) dan anak itu pun ditetapkan menjadi anak salah seorang yang rupanya mirip anak itu." AI-Nadwi di dalam Madza Khasira al-alam menceritakan keadaan dunia sebelum lahirnya masyarakat Qur'ani: "Kesimpulan bahwa kerusakan telah melanda seluruh dunia, sehingga tidak ada di atas bumi ini (pada waktu itu) ssebuah umat yang baik wataknya, tidak

107

ada satu masyarakatpun yang tegak di atas dasar kebajikan dan akhlak luhur, tidak ada satupun pemerintahan yang bersendikan keadilan dan kasih sayang, tidak ada kepemimpinan yang mencerminkan ilmu dan hikmah, dan tidak ada satu agama benar yang sesuai dengan ajaran nabi-nabi." Keadaan dunia yang gelap gelita dipenuhi segala bentuk kejahiliyahan dan kesesatan pada waktu itu digambarkan dengan tepatnya oleh seorang pencari kebenaran hakiki, yaitu Salman al-Farisi. Dia menceritakan pengalamannya dalam mencari kebenaran sejati: Ketika berada di negeri Syam, maka aku bertanya kepada masyarakat: "Siapakah pemimpin agama yang ada di sini? "Mereka menunjuk seorang uskup, penguasa sebuah gereja. Kutemui dia dan aku mengatakan "Sesungguhnya aku ini menyukai agama (Nasrani). Oleh karena itu aku ingin bersama dan berkhidmat bersama tuan uskup di gereja ini. Aku ingin sekali belajar dan beribadat bersamamu. " Si uskup menerima kehadiranku itu dengan senanghati. Akan tetapi kemudian ternyata dia adalah seorang pemimpin agama yang jahat. Dia menyuruh orang mengumpulkan sedekah dan zakat, untuk diserahkan kepadanya. Sedekah dan zakat itu melimpah ruah, dan di tangan uskup tersebut terkumpul tidak kurang dari tujuh peti emas dan perak, tetapi tidak diberikan kepada fakir miskin. Sebaliknya harta sebanyakitu dimakannya sendiri. Aku menjadi benci sekali kepadanya apabila melihat perbuatannya itu. Ketika dia mati berkumpullah umat Nasrani untuk menguburkannya. Waktu itu aku berkata kepada mereka: "Uskup kamu ini orang jahat. Dia menyuruh kamu memberikan zakat dan sedekah, tetapi harta itu dimakannya sendiri, tidak dibagikan kepada fakir miskin, walau sedikit pun." "Dari mana engkau mengetahuinya?" tanya mereka. Aku membawa mereka ke tempat uskup ini menyimpan harta tersebut. Setelah menyaksikan sendiri tujuh peti emas dan tujuh peti perak tersebut, berkatalah mereka: "Demi Tuhan ! kami tidak mau menguburkan mayat uskup ini" lalu mereka menyalib mayat itu dan melemparnya dengan batu. Uskup yang mati itu diganti oleh uskup baru. Dia terlalu baik, jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak melaksanakan salat lima waktu di kalangan kita. Waktu itu aku sangat sayang kepadanya demi melihat ketekunannya beribadat siang dan malam, demi

108

melihat kesederhanaannya dan kecintaannya kepada akhirat, demi melihat kesolehan dan kesuciannya. Aku selalu bersama uskup yang soleh ini beberapa tahun. Ketika dia sakit parah, akupun berkata kepadanya: "Wahai tuan uskup, sudah agak lama aku bersamamu, dan aku lebih cinta kepadamu dari tuan uskup terdahulu. Sekarang ketentuan Tuhan telah tiba, engkau akan meninggalkan dunia ini. Kepada siapakah engkau menyerahkan diriku dan apa pula wasiatmu padaku?" Uskup itu menjawab, "Hai anakku.… Demi Allah dalam keadaan seperti sekarang ini, di mana-mana manusia telah dipengaruhi kejahiliyahan, nilai-nilai suci telah tidak bermakna, agama yang diwariskan nabi-nabi telah diubah oleh tangan-tangan jahil, aku tidak lagi mengetahui siapa yang masih mengikuti jalanku ini, melainkan hanya seorang yang berada di negeri Mosul, ikutilah dia." Kemudian uskup, itu menghembuskan nafas terakhir, dan setelah selesai penguburan, aku segera berangkat ke negeri Mosul. Setelah berkenalan maka kuceritakan kepadanya pesan dan nasihat uskup negeri Syam tadi. Pemimpin agama itupun menerima kehadiranku dan mempersilahkan aku tinggal bersamanya. Dia memang seorang yang soleh, namun tidak berapa lama kemudian dia wafat. Sebelumnya aku telah lebih dahulu menanyakan kepadanya pertanyaan seperti yang aku ajukan kepada uskup di Syam dahulu. Dia menunjukkan seorang yang solih di negeri Nasibain. Apa yang aku dapati dari orang soleh Nasibain ini sama dengan di Mosul. Dia menerima kedatanganku dengan suka hati. Akupun tinggal bersamanya di tempat itu. Tetapi ketentuan Tuhanpun datang memanggil, maka akupun bertanya kepadanya: "Hai Tuan ... ! Aku ini telah dipesan untuk bersamamu, kepada siapakah aku bergabung dan apakah nasihatmu kepadaku?" Dia menjawab; "Hai anakku ... Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang mengikuti jejak kami, yang dapat kusuruh engkau mendatanginya, melainkan seorang di Amuriyah. Dialah setahuku yang mengikuti ajaran yang kami amalkan. Jika engkau mampu, datangilah dia ... !"

109

Ketika dikuburkan, aku berangkat menuju Amuriyah. Setelah ketemu, kuceritakan kepadanya kisahku. Dia berkata: "Tinggallah bersama kami di sini". Kemudian panggilan Tuhan datang, maka aku berkata kepadanya; "Hai Tuan ... Aku pertama kali masuk jama'ah uskup dari negeri Syam. Ketika ajalnya tiba, aku disuruhnya pergi ke Mosul. Yang kedua ini mewasiatkan aku kepada rakannya di Nasibain. Yang ketiga ini pun ketika ajalnya dekat mewasiatkan aku kepadamu. Sekarang kepada siapakah engkau wasiatkan aku, dan apa nasihatmu kepadaku ?" Uskup itu menjawab: "Anakku ... ! Demi Allah, aku tidak mengetahui orang lain yang meneruskan jejak kami yang dapat kupesankan kepadamu untuk mendatanginya. Akan tetapi engkau sekarang ini berada di ambang pintu suatu zaman di mana seorang nabi akan dibangkitkan Tuhan untuk memperbarui agama Nabi Ibrahim. Nabi itu akan bangkit dari tanah Arab Makkah, dan akan hijrah ke suatu tempat yang diapit dua gunung batu terjal dan dikelilingi kebun-kebun kurma. Dia mempunyai tanda-tanda yang jelas, dia menerima hadiah dan tidak menerima sedekah. Di antara dua belikatnya ada tanda khataman Nubuwah, tanda nabi terakhir. Dan jika engkau mampu memasuki negeri itu berangkatlah... " Masyarakat zaman itu dikatakan masyarakat jahiliyah oleh al-Qur'an bukanlah karena mereka tidak memiliki perbendaharaan ilmu, peradaban ataupun teknologi. Bahkan pada zaman itu telah wujud peradaban-peradaban agung yang dikagumi sampai hari ini. Yunani memiliki pemikir-pemikir besar menakjubkan dengan karya gemilangnya yang masih tetap dijadikan rujukan sampai hari ini. Demikian pula halnya dengan Romawi, Parsia dan Mesir dengan peradabannya yang menjulang tinggi. Namun kenapa zaman itu dikatakan oleh al-Qur'an sebagai zaman jahiliyah? Jelas zaman itu dinamakan sebagai zaman jahiliyah bukannya karena jahil dalam pengertian tidak memiliki peradaban ataupun teknologi. Namun ada kejahiliyahan yang lainnya, sehingga perlu diturunkan obat untuk menyelesaikan kejahiliyahan masyarakat. Pada kenyataannya, Allah Maha Pencipta Alam Raya yang Maha Mengetahui dengan segala ciptaan-Nya menurunkan al-Qur'an dengan pendekatannya yang khas untuk mengobati penyakit masyarakat masa itu. Al-Qur'an tidak mengajarkan mereka teori-teori sains dan

110

teknologi secara terperinci untuk melengkapi khazanah pengetahuan mereka, tetapi al-Qur'an mengajarkan kepada mereka sebuah panduan hidup yang lebih mendasar, yang lebih penting dari semua itu. Allah Maha Mengetahui atas segala kesesatan makhluk-Nya sehingga Dia menurunkan al-Qur'an dengan ajaran-ajarannya yang agung dan mulia untuk mengobati segala krisis dan problematika yang mereka yang mereka hadapi. Apa yang dialami masyarakat jahiliyah pra-Islam terdahulu adalah sama dengan apa yang dialami masyarakat jahiliyah modern hari ini. Mereka tidak memiliki pedoman hidup yang akan mengarahkan mereka menuju kebahagiaan sejati, yang akan membimbing mereka menjadi manusia agung sebagaimana dikehendaki Pencipta-Nya. Masyarakat modern sudah kehilangan fondasi berpijak dalam kehidupan mereka sehingga kehidupan mereka penuh dengan segala bentuk problematika, krisis dan tragedi yang tidak berkesudahan. Oleh karena mereka tidak memiliki panduan hidup yang terang, masyarakat jahilyah modern menjadi masyarakat perusak, merusak alam dengan segala pengetahuan yang dimilikinya. Masyarakat yang dengan serakahnya mengeksploitasi alam tanpa batas sehingga mengganggu keseimbangan alam yang akan mengakibatkan kecelakaan pada seluruh makhluk. Setelah bumi diambang kehancuran akibat perbuatan mereka yang serakah tidak terkontrol, barulah mereka menyadari dan menyesalinya. Inilah akibat penemuan dan pengembangan sains dan teknologi yang tidak didasari panduan hidup Ilahiah yang pasti akan merugikan manusia dan alam. Masyarakat jahilyah modern hari ini telah menemui berbagai jenis teknologi untuk memudahkan kehidupan mereka, tetapi mereka tetap merasa cemas, dilanda kesusahan, kebimbangan, kesedihan serta ketakutan. Mereka tidak merasakan kenikmatan hidup dari tumpukan perbendaharaan materi yang mereka timbun, yang kononnya untuk kebahagiaan hidup mereka. Bahkan sebaliknya, mereka sangat takut dan cemas dengan produk mereka sendiri, terutamanya persenjataan modern yang dapat memusnahkan kehidupan dan lingkungan mereka dalam sedetik saja! Semua ini terjadi karena penemuan-penemuan manusia modern itu diciptakan tanpa fondasi yang dapat menentukan tujuan dan arahnya. Mereka berlomba-lomba menciptakan perbendaharaan materi tapi tidak memahami untuk

111

apa materi itu mereka ciptakan. Akhirnya pengetahuan mereka mendatangkan malapetaka bagi sesama makhluk dengan timbulnya kerusakan-kerusakan akibat penemuan mereka yang bergerak tanpa arah dan tujuan itu. Demikian pula halnya jika diperhatikan keadaan masyarakat modern yang telah mendakwa diri sebagai masyarakat maju ini. Masyarakat ala binatang yang perbuatannya lebih sadis dari binatang sekalipun. Jika zaman jahiliyah dahulu, yang dibunuh hanya anak perempuan, namun masyarakat modern telah menghalalkan untuk membunuh anak-anak mereka, baik yang laki maupun perempuan. Kemaksiatan, pelacuran, perjudian, korupsi dan penyimpangan moral lainnya dikemas sedemikian canggihnya, sehingga tidak dapat dideteksi. Kaum kapitalis mengeksploitasi dan menimbun kekayaan tanpa mengenal moral dan belas kasih, mereka menguasai para penguasa dan politisi yang dapat didektenya untuk kepentingan usahanya. Para generasi muda digiring menuju pola hidup yang hedonistis dan penuh syahwat. Akibatnya muncullah penyakit-penyakit sosial yang mengerikan, demikian pula berkembangnya virus-virus mematikan yang tidak diketahui penyebab dan obatnya, seperti HIV yang dapat menjalar dan menjanggiti siapa saja. Akhirnya tidak diragukan bahwa masyarakat jahiliyah modern sedang menuju jurang kehancuran dengan segala produk peradaban yang mereka ciptakan. Itulah sebabnya masyarakat modern sangat membutuhkan sebuah panduan hidup yang akan membimbing dan memimpin mereka menuju kebahagiaan dan kedamaian sejati. Mereka memerlukan panduan hidup sebagaimana masyarakat jahiliyah terdahulu memerlukannya. Mereka memerlukan panduan hidup yang dapat menyelesaikan segala krisis dan problematika yang mereka hadapi. Mereka memerlukan panduan hidup yang datangnya dari Yang Maha Mutlak Kebenarannya. Mereka memerlukan panduan hidup yang diajarkan al-Qur'an, karena hanya al-Qur'an yang dapat membimbing manusia modern dengan segala perbendaharaan sains dan teknologinya menuju kebahagiaan sejati, sebagaimana dibimbingnya masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat utama, teladan sepanjang masa. Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus... (Q1 7: 9)

112

Di sini sangat perlu difahami bahwa al-Qur'an adalah panduan hidup yang diturunkan untuk seluruh umat manusia pada setiap waktu dan tempat, tidak terbatas pada satu lingkungan geografis dan ras tertentu saja. Karena al-Qur'an membicarakan masalah yang tidak pernah berubah dari zaman dahulu sehingga akhir zaman, permasalahan mendasar umat manusia sejak kehadirannya di muka bumi ini! Manusia, baik yang dahulu, sekarang, maupun yang akan datang tetap sama ciri-cirinya, apapun ras dan kebangsaannya, dimanapun dia lahir dan tinggal, bagaimanapun bentuk fisik dan warna kulitnya, manusia tetaplah manusia yang memiliki karakteristik sebagai makhluk terbaik yang diciptakan Allah Sang Pencipta. Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan, makhluk yang berbeda dengan makhluk lainnya, karena manusia adalah makhluk yang memiliki hati, akal dan hawa nafsu. Sang pencipta telah menganugrahkan manusia dengan kelengkapan yang tidak diberikannya kepada makhluk lainnya, hatta kepada malaikat sekalipun. Hati, akal dan hawa nafsu inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Ketiga komponen penting inilah nantinya yang akan sentiasa menguasai perjalanan hidupnya. Jika hati dan akalnya yang dominan maka manusia itu akan selamat, karena hati dan akal lebih cepat mengenal hidayah Allah s.w.t. Namun sebaliknya, jika hawa nafsunya yang dominan dalam kehidupannya, manusia itu akan mendapat kecelakaan, karena hawa nafsu senantiasa mengajak manusia menuju kesesatan. Karakteristik manusiawi yang terdiri dari hati, akal dan hawa nafsu inilah yang dibina al-Qur'an dengan pendekatannya yang khas dengan tingkatan-tingkatannya yang unik agar terbentuk makhluk terbaik di muka bumi, yang selanjutnya akan ditugaskan sebagai Khalifatullah, wakil Allah yang akan mentadbir alam raya ini. Al-Qur'an akan mendidik dan memimpin hati menuju kebaikan karena demikianlah fitrahnya untuk melahirkan manusia yang soleh dan berguna bagi umat manusia lainnya. Al-Qur'an dengan pendekatannya yang khas akan mengisi rongga-rongga hati dengan hidayah Allah s.w.t. sehingga mampu melihat segala hakikat kehidupan di alam raya ini, menghilangkan segala bentuk penyakit kejahatan yang melekat padanya sehingga menjadi hati yang bersih, penuh dengan ketakwaan dan keikhlasan dan sekaligus mengendalikan

113

hawa nafsu agar tunduk di bawah kehendak Ilahi. Inilah sasaran utama al-Qur'an pada diri manusia yang tidak akan berubah sepanjang sejarah kehadiran mereka, karena hati, akal dan hawa nafsu mereka adalah sama pada dasarnya ketika baru lahir ke muka bumi ini. Itulah sebabnya al-Qur'an akan senantiasa "up to date" (terkini) sepanjang masa untuk mengobati segala penyakit manusia yang memang berasal dari hatinya sebagaimana diterangkan hadits Rasulullah: Pada jasad manusia terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad itu, jika ia rusak maka akan rusak pula jasad itu, segumpal darah itu adalah hati (qolbu). (HR. Bukhari) Demikian pula halnya al-Qur'an dengan pendekatan dan gaya khasnya, akan membimbing masyarakat modern yang sudah kehilangan panduan hidup menuju kegemilangan dan keagungan sebagaimana al-Qur'an telah membimbing masyarakat Arab jahiliyah menjadi pemimpin dunia terdahulu. Al-Qur'an akan menyelesaikan problematika dan krisis yang sedang mereka alami, mengembalikan drajat mereka dari hamba material menjadi khalifah dan hamba Allah. Ini adalah karena sumber segala krisis yang menimpa masyarakat jahiliyah modern hari ini adalah jelas berasal dari manusia sendiri. Manusia yang tidak memahami hakekat diri mereka sebagai pemegang amanah Allah, mengarahkan alam sesuai dengan petunjuk-Nya dan kelak akan dituntut pertanggungjawabannya dengan balasan syurga ataupun neraka. Manusia sendiri itulah sumber krisis masyarakat modern dan manusia itulah yang menjadi sasaran al-Qur'an. Jika masyarakat modern jahiliyah hari ini menjadikan al-Qur'an sebagai panduan hidup mereka, menerapkannya di dalam kehidupan mereka sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh generasi terdahulu mereka yang telah berhasil gemilang dibawah pimpinan Muhammad Rasulullah, maka tidak diragukan segala krisis, problematika, tragedi dan seribu satu kerancuan yang mereka hadapi akan hilang dengan sendirinya. Karena Allah Yang Maha Mengetahui, melalui al-Qur'an akan memberikan bimbingan kepada mereka yang telah menjadikannya sebagai panduan hidup dalam arti yang sebenarnya, yaitu menerapkannya dalam kehidupan, sehingga al-Qur'an menjadi bagian hidup dan kehidupan mereka.

114

Al-Qur'an harus nuzul dalam pribadi-pribadi masyarakat, pribadi-pribadi itu menjadi alQur'an yang berjalan, al-Qur'an yang hidup dan menguasai, membimbing hidup dan kehidupan mereka. Al-Qur'an akan menghubungkan mereka dengan khazanah spiritualitas yang sangat dibutuhkan umat manusia sepanjang masa. Inilah keunikan dan keagungan al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar yang Allah turunkan kepada manusia, yang tidak mungkin dimiliki oleh panduan hidup selainnya, dahulu, kini dan akan datang. Dengan pendekatannya yang khas, al-Qur'an melatih manusia memiliki kekuatan yang menakjubkan yang tidak mungkin diperoleh dari panduan hidup selainnya. Itulah kekuatan yang telah melahirkan manusia-manusia agung seperti Muhammad Rasulullah, Abu Bakar Ash-Siddiq, Umar al-Faruq, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib Karamullah Wajhah, Abdurrahman bin Auf dan ribuan manusia agung lainnya yang telah merombak kejahiliyahan dan mengantarkannya menuju masyarakat utama yang menjadi mercusuar peradaban di zamannya. Al-Qur'an telah memberikan sesuatu yang dahsyat untuk mereka, sebuah kekuatan yang menggerakkan, kekuatan yang merubah karakter serta kekuatan jiwa yang menakjubkan! Manusia yang memiliki kekuatan spiritual akan memandang kecil semua permasalahan yang dihadapinya. Kekuatan spiritual yang dihasilkan al-Qur'an akan menjadikan seseorang dekat dengan Allah s.w.t. Jika mereka sudah dekat dengan Allah s.w.t., maka apapun permintaan mereka akan dikabulkan Allah Pemilik Alam ini. Manusia akan diberikan ilmu oleh Allah s.w.t. tanpa belajar, sebagaimana Allah s.w.t. berikan kepada para nabi, rasul dan aulia. Jika Allah s.w.t. telah berkenan mengajarkan ilmu-Nya, maka siapakah yang lebih mengetahui dari Allah Yang Maha Mengetahui di jagat raya ini? Maka sungguh berbabagialah masyarakat modern yang menjadikan al-Qur'an sebagai panduan hidupnya, karena mereka akan senantiasa berhubungan dengan Yang Maha Mengetahui untuk mengadukan segala permasalahan hidup mereka. Al-Qur'an akan menempa jiwa-jiwa masyarakat modern yang sudah rapuh ini dengan pendekatannya yang luar biasa sehingga jiwa mereka kukuh, mampu menahan segala permasalahan hidup yang mereka hadapi. Al-Qur'an dengan ajaran mulianya akan

115

menjadikan manusia sebagai makhluk yang tegar, tahan ujian dan penderitaan, tidak cepat mengalah dan berputus asa karena al-Qur'an mengajarkan Allah Yang Maha Perkasa adalah sebaik-baik tempat memohon pertolongan. Jika jiwa manusia mengalami keresahan dalam menghadapi realititas kehidupan yang dahsyat ini, maka dengan mengingati Allah s.w.t. saja jiwa-jiwa itu akan kembali tenang dan tenteram. Inilah kehebatan panduan hidup yang diajarkan al-Qur'an yang tidak dimiliki panduan hidup selainnya. Inilah keperluan masyarakat modern yang telah disiapkan al-Qur'an untuk kebahagiaan mereka! Al-Qur'an akan membebaskan pemikiran masyarakat modern yang dibelenggu dan diperbudak materi menjadi manusia yang merdeka dan hanya menghambakan dirinya kepada Maha Pencipta Alam saja. Dengan jiwa dan fikiran yang merdeka inilah, manusia akan menemui dirinya sebagai sebaik-baik makhluk di muka bumi. Mereka akan mendapatkan ketenangan hidup yang sebenarnya, jauh daripada krisis dan problematika. Itulah sebabnya masyarakat Barat yang jenuh dengan segala bentuk perangkap materi berlomba-lomba mencari ketenangan abadi dengan mencari kekuatan spiritual baru. Muncullah apa yang mereka istilahkan sebagai Spiritual Age, era spiritual umat manusia. Walaupun mereka telah menemukan apa yang mereka namakan sebagai kecerdasan spiritual (SQ), namun sejauh ini mereka masih meraba-raba karena ketidaktahuan mereka tentang spiritualitas yang sebenarnya. Al-Qur'an dengan segala khazanahnya adalah jawaban tuntas untuk mereka yang merindukan ketinggian spiritualitas. Al-Qur'an dengan kandungannya yang serba lengkap akan memberikan inspirasi kepada masyarakat modern untuk mengembangkan sains dan teknologi mereka. Di dalam al-Qur'an telah dikemukakan pelbagai persoalan hidup manusia secara global, baik yang berkaitan dengan sains, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan aspek kehidupan lainnya. Dasar-dasar kehidupan yang diajarkan al-Qur'an secara global inilah yang akan memandu masyarakat modern menjadi masyarakat ideal yang kamil (sempurna) yang akan memimpin dan mengarahkan alam menuju keseimbangan sebagai Khalifatullah. Al-Qur'an akan memberikan jalan keluar dan penyelesaian kepada setiap persoalan masyarakat modern dengan pendekatannya yang khas, dengan manhajnya yang unik dan

116

sempurna. Al-Qur'an akan memberikan rumusan-rumusan unik kepada masyarakat modern dalam perjalanan mereka mencapai kejayaan di dunia dan akhirat sebagaimana yang diperlukan secara fitrah oleh manusia dari dahulu sehingga sekarang. Al-Qur'an tidak akan meninggalkan kebingungan bagi mereka yang mengikuti segala petunjuknya, karena al-Qur'an adalah rumusan teori yang akan mendekatkan manusia pada Pencipta Yang Maha Mengetahui. Masyarakat modern yang dililit oleh berbagai krisis dan problematika pasti akan mendapatkan sesuatu yang dicari dan diperlukannya di dalam al-Qur'an. Jika mereka memerlukan bimbingan menuju kebaikan maka al-Qur'an akan membimbing mereka menuju kebaikan sejati yang sangat diidam-idamkan fitrah manusia. Jika mereka mencari kedamaian, maka al-Qur'an akan membawa mereka kepada kedamaian abadi. Jika masyarakat modern memerlukan panduan hidup yang akan menggantikan panduan hidup mereka yang sudah gagal dan bangkrut, panduan hidup yang akan menyelamatkan mereka dari kehancuran, maka mereka pasti akan mendapatnya di dalam al-Qur'an. Jika mereka memerlukan teori-teori pendidikan, ekonomi, politik, sosial, sains dan lainnya, mereka pasti menemukannya di dalam al-Qur'an. Sesungguhnya al-Qur'an akan memberikan kepuasan kepada mereka yang mengikuti petunjuknya. Al-Qur'an akan memberikan kepuasan kepada masyarakat modern, karena seluruh keperluan yang berkaitan dengan kehidupan mereka akan mereka temui di dalam al-Qur'an. Inilah di antara kehebatan al-Qur'an yang tidak dapat ditandingi oleh panduan hidup selainnya! Maka tidak semestinya orang-orang yang mendakwa diri mereka sebagai kaum modern meragukan kemampuan al-Qur'an dalam menyelesaikan problematika masyarakat hari ini yang sangat kompleks. Pada hakikatnya al-Qur'an adalah kitab petunjuk yang akan melahirkan manusia-manusia agung, sebaik-baik makhluk di alam raya ini jika mereka mengikuti segala petunjuknya dengan penuh keikhlasan. Sejarah telah membuktikannya, bagaimana para Sahabat yang telah dilahirkan al-Qur'an dengan manhajnya yang khas dapat menjadi manusia unggul dan pemimpin dunia yang dikagumi. Ini semua dapat dicapai apabila manusia mengikuti petunjuk-petunjuk al-Qur'an dengan teratur. Demikian pula halnya dengan masyarakat modern, jika mereka mengikuti panduan hidup yang diajarkan al-Qur'an,

117

mereka pasti akan menjadi sebaik-baik makhluk di alam raya ini dan akan memimpin seluruh alam sebagai wakil Allah. Namun demikian, timbul pertanyaan, kenapa kaum Muslimin zaman ini yang memiliki al-Qur'an sebagai panduan hidupnya tidak mengalarni kemajuan, bahkan mereka menjadi golongan yang terkebelakang berbanding golongan lainnya? Di sini perlu diberikan jawaban tegas bahwa keadaan ini terjadi karena kaum Muslimin tidak menjalankan apa yang diperintahkan al-Qur'an sebagaimana yang dikehendakinya. Mereka hanya menjalankan bagian-bagian tertentu dari al-Qur'an. Mereka tidak menjalankan perintah al-Qur'an secara kaffah (menyeluruh) sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t. Mereka telah memisah-misahkan ajaran al-Qur'an yang utuh menjadi bagian-bagian yang tidak terkait satu dengan lainnya. Itulah sebabnya mereka ditimpa kehinaan sebagaimana yang telah ditetapkan Allah s.w.t. kepada orang-orang yang menyimpang dari ajaran alQur'an. ... Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagiannya yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kamu, melainkan mereka akan ditimpa kehinaan pada kehidupan dunia dan pada hari kiamat nanti mereka akan dilemparkan ke dalam azab yang pedih dan Allah tidaklah lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Q2:85) Jika kaum Muslimin konsisten menjalankan panduan hidup yang diturunkan Allah s.w.t., sebagaimana Rasulullah s.a.w. dan para Sahabat menjalankannya, maka tentu mereka akan mencapai drajat manusia agung sebagaimana para Sahabat mencapainya terdahulu. Namun kaum Muslimin sekarang telah menyimpang dari jalan pendahulunya, mereka tidak menerapkan al-Qur'an dalam kehidupan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan para Sahabat, maka jadilah mereka seperti sekarang, menjadi umat yang lemah, terbelakang, dizalimi serta dimain-mainkan musuh-musuhnya. Jadi jelaslah, umat manusia akan mencapai kemenangan hakiki jika mereka menjadikan al-Qur'an sebagai panduan hidup mereka, sebagaimana generasi Islam terdahulu yang telah

118

menwarnai hidup mereka dengan corak al-Qur'an, sehingga mereka disebut sebagai "al-Qur'an hidup". Dengan demikian al-Qur'an hanya akan memberi makna sebagai panduan hidup jika ia nuzul (meresap) di dalam individu, keluarga dan masyarakat sehingga terwujudnya individu Qur'ani, keluarga Qur'ani dan masyarakat Qur'ani yang merealisasikan pesan-pesan mulia alQur'an di dalam kehidupan mereka sebagaimana yang telah ditunjukkan dengan indahnya oleh generasi para Sahabat. Seluruh aspek kehidupan mereka diwarnai al-Qur'an sebagai wahyu Allah kepada hamba-Nya. Mereka Iaksana lembaran-lembaran al-Qur'an yang berjalan memenuhi bumi dengan indahnya. Mereka benar-benar menerima al-Qur'an sebagai panduan hidup yang harus diamalkan dalam kehidupan mereka. Mereka tidak seperti generasi sesudahnya yang hanya menjadikan, al-Qur'an sebagai khazanah pengetahuan saja hanya untuk meluaskan wawasan pemikiran sebagaimana yang telah menimpa kalangan intelektual umat pada saat ini di universititasuniversitas yang mengadopsi sistem pendidikan Barat. Akibatnya, sampai hari ini belum lahir masyarakat agung seperti generasi awal Islam yang dapat merombak dunia dan memimpinnya menuju keadiIan dan kedamaian. Jadi jelaslah persoalannya, umat manusia atau masyarakat modern saat ini, termasuk kaum Muslimin tidak akan mendapatkan sesuatu dari al-Qur'an sampai mereka menjadikan al-Qur'an sebagaimana yang telah dilakukan para Sahabat terdahulu. Kemenangan dan kejayaan umat tidak akan pernah dicapai, akan tetap menjadi angan-angan kosong dan mimpi indah akibat tidak sesuai dengan sasaran yang dikehendaki al-Qur'an. Itulah sebabnya mereka tetap diliputi segala bentuk problematika, krisis dan tragedi. Mereka hanya memahami al-Qur'an sebagai pengetahuan, bukannya sebagai panduan hidup yang harus dilaksanakan dalam semua tingkatan. Mereka tidak memahami al-Qur'an sebagaimana yang telah difahami oleh generasi Islam terdahulu. Maka masyarakat modern hari ini, terutama mereka yang menghendaki kebahagiaan sejati sangat memerlukan al-Qur'an yang akan memandu hidup mereka dengan pendekatannya yang khas. Al-Qur'an akan menyelesaikan segala krisis dan tragedi yang menimpa masyarakat modern dengan rumusan-rumusannya yang unik. Masyarakat modern

119

hari ini akan menjadi masyarakat ideal apabila mereka menjadikan al-Qur'an sebagai panduan hidup.Al-Qur'an akan mengubah masyarakat modern sekiranya mereka mau menjalankan ajaran-ajaran mulianya, menerapkannya di dalam kehidupan nyata. Musuh-musuh Islam sangat faham akan perana al-Qur'an bagi kebangkitan kaum Muslimin, itulah sebabnya mereka berupaya untuk menghancurkan umat dengan cara memisahkan ajaran al-Qur'an dengan kaum Muslimin. Sehubungan masalah ini, Dr. Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyat al-Aulad, menukilkan : Kedua: Menghancurkan dan Menghapuskan al-Qur’an Hal ini dilakukan karena ajaran salib beranggapan bahwa al-Qur’an adalah sumber pokok kekuatan orang-orang Islam, sumber mereka untuk kejayaan, kekuatan dan kemajuannya yang telah lalu. 1. Gladstone, yang menjadit perdana menteri Inggris selama empat kali (1864-1894) dalam majelis umum (the House of Commons) Inggris, sambil mengangkat al-Qur’an, berkata : “Selama al-Qur’an ini berada di tangan orang-orang Islam, maka Eropa sama sekali tidak akan dapat menguasai Dunia Timur. Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam”. 2. Seorang missionaris, William Jeford Balcrof, berkata :”Jika al-Qur’an dapat disisihkan dan kota Makkah dapat diputuskan hubungannya dari negara-negara Arab,maka sangat memungkinkan bagi kita untuk melihat seorang Arab secara bertahap mengikuti kemajuan Barat, terjauh dari Muhammad dan sekitarnya.” 3. Seorang missionaris lain, Catly, berkata: “Kita harus menggunakan alQur’an sebagai senjata yang paling ampuh dalam Islam untuk melawan Islam itu sendiri, sehingga kita dapat menghancurkannya. Kita harus menerapkan kepada kaum Muslimin bahwa yang benar dalam al-Qur’an bukanlah baru, dan yang baru bukanlah benar.”

120

4. Seorang penguasa kolonial Prancis di Aljazair, dalam peringatan seratus tahun pendudukannya, berkata :”Kita harus melenyapkan al-Qur’an yang berbahasa Arab itu dari kehidupan mereka, dan melenyapkan bahasa Arab dari lidah mereka agar kita dapat berkuasa penuh”. Itulah sebabnya, kenapa kaum Muslimin mengalami kemunduran saat ini tidak lain karena mereka telah dipisahkan dengan al-Qur'an. Memang benar, kaum Muslimin dapat membaca al-Qur'an, namun sedikit yang dapat memahaminya dengan benar, apalagi yang melaksanakannya. Bahkan musuh-musuh Islam dengan perencanaan tersistemik telah mencetak kader-kader yang bernama Muslim, namun fikiran dan pemahannya terhadap alQur'an sama dengan musuh-musuh Islam yang telah menjadi gurunya. Mereka telah menjadi agen-agen musuh yang menghancurkan umat dengan memberikan pemahaman yang salah terhadap al-Qur'an. Maka al-Qur'an harus difahami sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya sebagai bahan bacaan saja, namun yang paling penting bagaimana agar terlambang dalam kehidupan nyata. Maka tidak diragukan bahwa al-Qur'an akan menjadikan kaum muslimin menjadi masyarakat maju, sukses menggapai kemenangan dalam arti yang sebenarnya, bukan sebaliknya menjadikan mereka sebagai masyarakat terbelakang sebagaimana yang dituduhkan musuh-musuh Islam. Seorang Muslim yang beriman dan menerapkan al-Qur'an dalam kehidupannya secara konsisten sesuai dengan manhaj yang digariskan akan mendapat bimbingan al-Qur'an menjadi masyarakat utama, masyarakat maju yang menguasai peradaban dengan segala produknya, namun memiliki kekuatan spiritualitas tinggi yang diperolehnya dari al-Qur'an. Menjadi masyarakat utama bersama alQur'an adalah sebuah kemestian yang tidak dapat dielakkan oleh mereka yang telah mengikrarkan dirinya sebagai seorang Muslim.

121

BAB 8 Fenomena Al-Qur'an Dalam Merubah Manusia
Seorang konglomerat ternama yang mampu mempengaruhi kebijakan ekonomi bangsanya, tiba-tiba resah dan gelisah dalam usianya yang masih sangat muda, menjelang 40 tahunan. Padahal dia memiliki kehidupan yang mapan, keluarga yang bahagia, istri yang cantik, setia dan penuh pengertian, sementara bangsanya sangat mempercayai dan menghormatinya sebagai pribadi maupun tokoh masyarakat. Keluarga besarnya adalah keturunan terpandang yang menguasai kehidupan strategis, baik dalam politik maupun ekonomi. Kekayaan, kemapanan, kehormatan, penghargaan, kepercayaan dan berbagai bentuk atribut dunia yang ada menambah sesak jiwanya, menambah resah kehidupannya yang berujuang pada kebingungan demi kebingungan, membuatnya bertambah kecewa dengan masyarakatnya yang telah menuhankan tuhan-tuhan kecil. Krisis telah menimpanya, yang menurut Danah Zohar, penulis tentang SQ sebagai Krisis spiritual. Krisis yang sering menghampiri manusia sukses apabila sudah mencapai puncak keberhasilan materinya. Apabila ketenaran sudah diraih, harta melimpah sudah di tangan, keluarga bahagia sudah menyertai, penghormatan dan penghargaan sudah disematkan dan bermacam-macam kenikmatan hidup sudah tersedia, maka justru pada saat-saat seperti itulah bahaya akan menerpa kehidupan manusia apabila hidup tanpa makna sejati. Kegelisahan dan kebingungan hidupnya membuat sang konglomerat muda merana. Setiap malam dia melihat ke langit lepas, mencari jawaban demi jawaban tentang kebingungan yang tengah di deritanya, namun jawaban itu tak kunjung datang kecuali

122

semacam

mimpi-mimpi

yang

menyenangkan

dan

menenangkannya.

Ahirnya

dia

memutuskan untuk beberapa waktu meninggalkan keluarga dan masyarakatnya menuju ketinggian di pinggiran kotanya, menyendiri, meluruskankan hati dan fikiran, mengetahui dengan pasti ada dengan diri dan masyarakatnya. Dari ketinggian itulah dia melihat kehidupan masyarakatnya yang penuh dengan penyimpangan dan kerusakan, sementara dia dapat merasakan keresahan hati mereka terdalam yang menghendaki kebahagian sejati sebuah tujuan universal manusia. Pada malam itu, di tengah keheningan dan kesunyian malam, seseorang datang kepadanya, menegurnya dan mengajaknya berbicara tentang apa yang dirasakan olehnya. Dengan wajah keheranan, sang konglomerat muda yang kebingungan ini menanyakan apa maksud kedatangannya ke tempat yang sunyi sepi ini. Namun tanpa banyak berbicara, seseorang yang berperawakan tegap dan memancarkan kharisma ini memerintahkannya dengan suara yang menggetarkan dan menembus relung terdalam hatinya, "bacalah". Dengan penuh keheranan dan ketakjuban, dia menjawab dengan nada keheranan; "apa yang harus aku baca?". Tanpa memberi kesempatan, sang penanya langsung menghampiri dia yang masih tertegun, kemudian dipeluknya erat-erat sang konglomerat sehingga terasa sesak nafasnya. Kemudian penanya ini memerintah kembali kepadanya, "bacalah", namun dia menjawab dengan jawabannya semula, dan diapun dipeluk seperti semula, sampai tiga kali. Pada kali ketiga, sang penanya dengan pelukannya yang kuat, membacakan kepadanya seuntaian kalimat yang sangat indah dan menawan: "Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (al-Alaq:1-5) Tiba-tiba sang konglomerat muda ini telah menemui dirinya kesendirian, kemana perginya sosok misterius yang memeluknya tadi. Tangan gemetar, tubuhnya berkucuran keringat, hatinya tergoncang, fikirannya melayang-layang tak menentu, dengan terhuyung-huyung dia pulang menemui istrinya, dengan gemetar dia berkata "selimutilah aku, selimutilah aku". Dengan penuh kasih sayang, istrinya yang setia dan pengertian, menyelimutinya sehingga

123

keadaannya membaik, hatinya tenang dan tentram kembali. Dengan penuh kasih, istrinya berkata:"Wahai sayang, bergembiralah engkau. Demi Allah, Tuhanmu tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang senantiasa menyambung persaudaraan, senantiasa berkata jujur, gemar membantu kesulitan orang, suka menghormati tamu dan tetap menegakkan kebenaran". Dengan wajah tenang, sang konglomerat muda ini tertidur pulas dengan penuh kepuasaan, ketenangan dan kebahagiaan. Kalimat demi kalimat yang di terimanya di gunung pinggiran kotanya telah merubah drastis kehidupannya, memberikannya inspirasi, kekuatan, semangat, kesungguhan untuk meniti kemenangan dan kesuksesan abadi. Konglomerat muda ini ahirnya terkenal sebagai Muhammad Rasulullah yang telah membawa pencerahan dan kebangkitan kepada bangsa Arab, memimpinnya dengan ajaran agung menjadi pemimpin peradaban dunia yang hingga kini belum terkalahkan kepribadian ataupun pencapainnya, itulah sebabnya, seorang cendekiawan Barat seperti Michel Heart, menempatkannya sebagai orang nomor satu dari seratus tokoh manusia yang paling berpengaruh sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Dan peristiwa dahsyat yang terjadi 15 abad silam di gua Hiro' ini dikenal sebagai awal turunnya sebuah kitab tersuci dan terbenar sepanjang masa, yang penuh dengan keajaiban dan kemukjizatan, yang mampu merombak dan mencetak manusia-manusia agung sepanjang masa. Itulah al-Qur'an, kumpulan wahyu yang diberikan kepada Muhammad saw melalui sosok agung, malaikat Jibril as, yang kesucian, keaslian dan kebenarannya terjada sepanjang masa. Kitab yang telah merombak kehidupan gelap dan sesat serta terbelakang masyarakat jahiliyah Arab menjadi manusia-manusia agung. Di Tengah teriknya panas matahari padang pasir, seorang pemuda kuat perkasa yang memerah matanya karena dendam dan kemarahan membara, berjalan tegap dengan hentakannya yang khas, yang menakutkan siapa saja yang dilaluinya. Dengan nada tinggi dia berteriak-teriak, "aku harus membunuhnya", berulang-ulang dengan nada geram, sementara ditangannya tertenteng pedang mengkilat yang telah meregang nyawa beberapa orang. Di tengah perjalanannya yang tergesa-gesa, dia berpapasan dengan sahabatnya,

124

dengan penuh keheranan bertanya, "hendak kemana kau Umar". Dengan nada tinggi penuh kemarahan dia menjawab, "aku akan pergi membunuh Muhammad yang telah memecah belah kita, yang telah membuat kekacauan di kota ini", serunya seraya menghentakhentakkan pedangnya. Sahabatnyapun berkata kalem, "hei Umar, urus saja keluargamu, jangan urus orang lain". Dengan penuh keheranan Umar bertanya, "ada apa dengan keluargaku?". "Apakah kamu tidak tau, adikmu telah menjadi pengikut Muhammad?". Mendengar kata-kata ini, lelaki yang tempramental ini ibarat mendengar petir menggelegar di siang hari bolong. Kemarahannya bertambah memuncak yang bercampur dengan rasa malu. Secepat kilat Umar pergi ke rumah adiknya, Fatimah untuk membuktikan kebenaran perkataan sahabatnya. Dengan kekasarannya yang khas, Umar langsung mendobrak pintu rumah adiknya Fatimah. Ternyata Fatimah tidak sendirian, bersama suami dan beberapa orang temannya sedang membaca sebuah lembaran. Melihat kedatangan Umar yang membawa pedang, mereka berhamburan dan bersembunyi. Dengan wajah garang dan keras Umar berkata,"apa yang sedang kalian baca?, berikan kepadaku!!". Dengan penuh ketakutan adiknya yang sudah memar dihajar Umar memberikan selembar kulit yang bertuliskan Arab. Umar mengambil lembaran itu, kemudian membacanya: Thaa haa, Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar engkau menjadi susah, melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut, diturunkan dari Yang Menciptakan bumi dan langit tinggi, Yang Maha Pengasih, Yang bersemayam di atas Arasy'. Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang memiliki nama-nama yang terbaik. (Thaa Haa : 1-8) Umar tersentak, kaget, merinding bulu romanya, bibirnya tidak dapat berkata-kata, hatinya bergetar, keadaan menjadi hening."Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini" katanya berulang-ulang sambil tetap menatap ayat-ayat yang dibacanya. Dengan serta merta Umar berkata, "antarkan aku pada Muhammad segera". Dengan tergopoh-gopoh Umar berjalan ke rumah tempat Muhammad saw dan sahabatnya berada. "Buka pintu" seru Umar sambil

125

mengetuk-ngetuk pintu dengan gagang pedangnya. Sahabat Muhammad saw ketakutan ketika melihat Umar berada di depan pintu membawa pedang terhunus, seraya berkata, " Wahai Rasulullah, Umar datang membawa pedang, habislah kita mau dibunuhnya". Dengan kalem dan mantap, paman Rasul, Hamzah menyela, "Biarkan dia masuk, kalau tujuannya baik akan kita sambut, kalau tujuannya jahat, kita akan bunuh dia dengan pedangnya sendiri". Ketika masuk, Umar terdiam, disaksikan sahabat Rasul saw. Umarpun menemui Rasul, dengan terbata-bata penuh haru dia beucap, "Rasulullah", katanya dengan nada rendah, "saya datang untuk menyatakan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta segala yang datang Allah". Rasululah bertakbir, diikuti sahabat berkalai-kali, mendadak suasana berubah menjadi haru, senang, bahagia dan penuh kasih sayang. Seorang jagoan yang keras kepala, penuh kemarahan, dendam dan memiliki kehidupan yang kelam dan tidak teratur seperti Umar bin Khattab, telah dirombak oleh al-Qur'an saat pertama kali berinteraksi dengannya. Al-Qur'an yang agung telah membuka cakrawala Umar, mengetuk relung hati terdalamnya, membangkitkan hati nuraninya, meluruskan fikiran sesatnya yang penuh dengan kotoran dan membimbing kehidupannya menjadi manusia agung, pemimpin besar yang telah mengantarkan Islam kepada kekuasaan besar, menakluki kekuatan-kekuatan besar seperti Romawi, Parsia, Mesir sampai 2/3 belahan dunia berada di bawah kekuasaannya. Sekali lagi ayat-ayat suci dan mulia al-Qur'an telah menggetarkan hati manusia dan menjadikannya sebagai pemimpin yang sukses karirnya dan bahagia hidupnya. Lain halnya dengan salah seorang paman Muhammad saw bernama Abu Jahal. Dia adalah manusia yang selalu memusuhi Rasulullah dan menyiksa para pengikutnya, terutama dari golongan masyarakat bawah. Pada suatu ketika, sang musuh Islam ini dengan lantangnnya mengancam, "Jika aku melihat Muhammad sholat di Ka'bah, pasti akan aku injak tengkuknya". Mendengar ancaman Abu Jahal ini, para sahabat merasa gelisah dan ketakutan. Maka mengenai keadaan ini turunlah wahyu dari Allah saw, "Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampau batas. Karena melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan solat. Bagaimana pendapatmu jika

126

dia berada di atas kebenaran. Atau dia menyuruh bertaqwa. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?. Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, jika dia tidak berhenti niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. Ubun-ubun orang yang mendustakan lagi salah. Maka biarlah dia memanggil golongannya, kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniah. Sekalikali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah). (al-Alaq : 6-19) Ketika ayat-ayat al-Qur'an yang agung ini sampai di telinga Abu Jahal, diapun gemetaran, ketakutan menyelimutinya bahkan sampai-sampai dia menderita sakit karena ketakutan yang menghantuinya. Dia faham, bahwa secara adat kebiasaan, mana mungkin Muhammad yang masih keponakannya dan tidak memiliki apa-apa berani mengancamnya sedemikian dahsyatnya dengan ucapan-ucapan yang menghunjam jantung dan menusuk relung hati terdalam, yang memnggoncangkan jiwa dan membuat badannya sakit tak menentu. Ini pasti sesuatu yang luar biasa, yang memiliki kekuatan dahsyat, bukan kata-kata gertakan biasa, tapi kata-kata terdahsyat yang melemahkan semangat dan mendirikan bulu roma yang diikuti dengan keteraturan bahasa dengan tepat sehingga menghasilkan sebuah ancaman terdahsyat. Namun demikian, karena Abu Jahal tidak mendapat hidayah Allah akibat kebenciannya yang mendalam kepada Islam dan ambisi pribadinya yang kelewat batas serta merasa dirinya serba berkecukupan dengan harta yang dimilikinya, maka dia tetap menentang Rasulullah dan ajarannya, sampai benarlah terlaksana janji Allah swt, ketika perang Badar, kepala Abu Jahal di penggal sahabat Abdullah bin Mas'ud, dan ubun-ubunnya ditarik dan diseret-seret sebagaimana dijanjikan al-Qur'an lebih 14 tahun lalu. Ini juga adalah bukti keagungan al-Qur'an yang mencerikakan peristiwa yang belum terjadi yang ahirnya jadi kenyataan. Ibnu Abbas ra berkisah: "Ada seorang lelaki dari Azdsyanuah bernama Dlamad. Dia di kenal sebagai dukun pemantra yang sangat masyhur. Suatu ketika dia datang ke Makkah, karena mendengar penduduk Makkah menyebut-nyebut Muhammad terjangkit kegilaan". Dia lalu mendatangi Muhammad seraya berkata:" Sesungguhnya aku adalah ahli jampi dan bisa

127

mengobati. Bila engkau suka, aku akan mengobatimu". Rasul kemudia menjawab dan membacakan beberapa doa dan ayat-ayat al-Qur'an."Segala puji bagi Allah, tempat aku memuji, meminta tolong, dan beriman serta bertawaqqal kepada-Nya. Aku berlindung kepada-Nya dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya maka tiadalah orang yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya". Dlamad tertegun sejenak seperti orang terhipnotis, kemudian berkata "Ulangi kata-katamu". Rasulpun lalu mengulangi apa yang dibacanya. Dlamatpun tertegun kembali seperti kebingungan, kemudian berkata "Ulangilah kata-katamu lagi", Rasulpun mengulanginya. Dengan berkaca-kaca, Dlamat mengatakan: "Sungguh sering aku mendengar perkataan tukang tenung, tukang sihir, penyair dan sastrawan, tetapi aku belum pernah mendengar perkataan dahsyat seperti ini". Dlamat lalu melanjutkan perkataannya:"Ulurkan tanganmu kepadaku, aku akan berbai'at kepadamu". Kemudian Dlamat berbai'at untuk memeluk Islam. Dlamat menjawab :"Begitu juga kepada kaumku". Rasul bersabda:".... juga kepada kaummu!." Ayat-ayat Al-Qur'an telah mengubah keyakinan sang dukun masyur menjadi seorang yang taat menjalankan agamanya dan menjadi pemimpin dikalangan kaumnya. Anas ra meriwayatkan; "Suatu saat Abul Arraf al-Yamani yang merupakan salah seorang tokoh Yaman datang, lalu dia melihat Rasul mengenakan pakaian merah tengah membacakan ayat-ayat al-Qur'an dan penjelasannya kepada orang banyak. Beliau menyeru kemudian "Ucapkanlah La ilaha Illallah, niscaya kamu akan bahagia." Tiba-tiba di belakangnya ada seorang tua yang mengatakan; "Berhati-hatilah kamu, jangan mendekat kepadanya, sesungguhnya dia gila dan pembohong". Abul Arraf bertanya, "siapa orang tua itu?." Lalu dikatakan, "Dia Abu Lahab, paman nabi". Lalu Abul Arraf mendatangi Abu Lahab, mendiskusikan perkataannya dan perkataan Nabi saw. Dengan suara lantang Abu Arraf berkata: "Celaka kau wahai Abu Lahab. Perkataan orang gila tidak lurus dan tidak bisa difahami, sedangkan perilaku anak saudaramu ini sedikitpun tidak menyerupai orang gila".

128

Setelah mendengarkan apa yang dibaca Muhammad saw, dengan tegas Abu Arrat berkata, "Apa yang dikatakan Muhammad adalah wahyu (al-Qur'an), risalah dan kebenaran. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya dia adalah hamba dan utusanNya." Sungguh al-Qur'an yang dibacakan Muhammad saw tidak dapat dibohongi kebenarannya, walaupun yang menenteng dan mempropagandakannya adalah tokoh besar sekelas Abu Labab, pemuka dan pemimpin suku Quraisy. Al-Qur'an akan senantiasa merasuki relung hati terdalam insan yang mendengarkannya dengan mata hati, dengan kejujuran dan kebenaran sebagaimana yang dilakukan Abul Arrat al-Yamani. Selanjutnya, Abul Arrat menjadi pendakwah Islam yang terkenal dan berhasil mengislamkan suku-suku di sekitar tempatnya dan mengajak mereka berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran bersama Rasulullah dan sahabatnya. Abu Said al-Khudri ra telah meriwayatkan: "Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulullah saw sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah satu kampung Arab dan mereka berharap agar bisa menjadi tamu penduduk kampung tersebut. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Tetapi ada yang bertanya, "Apakah ada di antara kalian yang bisa menjampi orang sakit? Karena ketua kampung kami terkena sengatan." Salah seorang dari para sahabat menjawab, "Ya, ada". Lalu ia menemui ketua kampung tersebut dan membacakannya ayat al-Qur'an surat alFatihah. Kemudian ketua kampung tersebut sembuh, maka sahabat tersebut diberi beberapa ekor kambing. Ia tidak mau menerimanya dan mengajukan syarat, "Aku akan menyampaikannya kepada Nabi saw". Dan iapun pulang menemui Nabi saw dan menceritakan pengalaman tersebut. Ia berkata "Ya Rasulullah, Demi Allah, aku hanya menjampi dengan surat al-Fatihah". Mendengar kata-kata itu Rasulullah saw tersenyum dan bersabda, "Tahukah engkau, bahwa al-Fatihah itu memang merupakan jampi". Kemudian baginda saw bersabda, "Ambillah pemberian dari mereka dan pastikan aku mendapatkan bagian bersama kamu". Pada masa Umar bin Khattab ra, seorang bernama Abdul Aziz bin Yahya bin Abdul Aziz An-Nakhai suatu malam melakukan solat di masjid. Ketika sang Imam membaca ayat: "Dan

129

bagi orang yang takut di saat menghadap Tuhannya, akan mendapat dua syurga" (alRahman : 46). Tiba-tiba ia menghentikan solatnya, lalu gila. Dan setelah itu tidak terdengar lagi beritanya. Demikian pula, Shalih al-Murri pernah menceritakan bahwa pada suatu malam seorang lelaki dari kalangan zahid (ahli zuhud) menjumpai seseorang yang sedang membaca ayat, "Kini nyatalah bagi mereka azab Allah yang dulunya tidak mereka duga" (alZumar :47). Tiba-tiba ia menjerit sambil merobek bajunya, kemudian hilanglah kesadarannya. Tak lama kemudian ia ditangkap dan dibelenggu, hingga ahirnya ia mati dalam keadaan demikian. Dan ada juga kisah tentang Bakar bin Muadz yang suatu hari berjalan-jalan, tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang lelaki yang tengah membaca ayat, "Peringatkan mereka pada hari kiamat yang dekat. Pada saat itu kerongkongan sama tersumbat dalam keadaan memendam kemarahan. Bagi orang-orang yang menganiaya tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak mempunyai pembela". (Ghafir : 18). Mendengarnya ia terguncang dan tiba-tiba berteriak histeris, "Ya Allah, kasihanilah orangorang yang sudah mendapatkan peringatan, tapi belummenghadap kepada-Mu!". Lalu dia linglung hingga ajal menjemputnya. Dari ketiga kisah ini dapat dibayangkan bahwa ayat-ayat al-Qur'an memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, kekuatan apakah yang mampu menembus relung terdalam hati manusia sehingga menimbulkan goncangan dahsyat dalam kehidupannya. Ini adalah bukti nyata bahwa al-Qur'an itu bukan sembarangan bacaan, namun sebuah bacaaan yang mengandung kekuatan. Adalah seorang khalifah yang arif lagi bijaksana, bernama Umar bin Abdul Aziz, yang memerintah kekhalifahan Islam pada masa Bani Umayyah. Beliau adalah khalifah ke 8 bani Umayyah dan dikenal juga sebagai Umar II, dia dijuluki demikian karena memiliki hubungan dengan Umar I, Umar bin Khattab melalui jalur ibu, yaitu nenek perempuannya adalah anak Umar. Umar II dididik di Madinah di bawah asuhan ulama-ulama besar, terutama kakek dari ibunya, yaitu Abdullah bin Umar yang sangat terkenal luas ilmu serta kesederhanaannya. Bahkan seringkali Umar II berkata akan mengikuti jejak kakeknya yang alim lagi sederhana. Namun suratan taqdir menyatakan lain, karena yang diterapkan sistem pemerintahan adalah sistem putra mahkota, maka ia terpilih menjadi Khalifah atas saran Perdana Menteri, tanpa

130

dikehendakinya. Ketika menjadi pemimpin tertinggi negara, maka beliaupun menjual segala milik pribadinya dan dimasukkan ke dalam kas negara. Pernah suatu malam anaknya datang menghadap, dia bertanya maksud kedatangannya, apakah urusan pribadi atau negara. Ketika sang anak mengatakan urusan pribadi, Umar II mematikan lampu di depannya dan mereka berbicara gelap gulita tanpa lampu. Menurutnya fasilitas negara tidak boleh digunakan untuk keperluan pribadi, sekalipun untuk lampu yang kelihatannya sepele. Pada suatu ketika, datanglah bibinya yang terbiasa dengan kehidupan ala kekaisaran Romawi yang bermewah-mewah sebagaimana dilakukan para pendahulu Umar II. Bibinya mengkritik kebijakan Umar II yang menurutnya menyimpang dari kebiasaan ini serta menyusahkan keluarga istana yang tidak mendapat fasilitas melimpah sepertu dulu lagi. Khalifah Umar terdian sejenak, kemudia beliau membaca ayat-ayat al-Qur'an sambil membuka tutup tungku pemanas yang penuh dengan bara menyala. Ketika sang bibi melihat bara tersebut langsung pingsan tidak sadarkan diri. Selanjutnya sang bibi yang tadinya keras mengkritik, ahirnya menjadi pendukung setia kebijakan Khalifah Umar II. Ketika ditanya mengapa, dia menjawab, "ketika Umar membacakan aku ayat-ayat al-Qur'an tentang api neraka sambil membuka penutup tunggu, sungguh, aku melihat dari tungku itu kobaran api yang menyala tak terbayangkan panasnya, sehingga aku pingsan tidak tahan melihatanya." Sang bibi Umar melihat langsung apa yang dimaksudkan al-Qur'an tentang neraka secara langsung, melalui perantaraan tungku pemanas. Itu semua adalah bukti nyata kedahsyatan ayat-ayat al-Qur'an, sebuah kitab suci yang penuh keagungan dan keajaiban. Apakah di zaman modern ini masih kita dapatkan kisahkisah yang menggetarkan mengenai al-Qur'an dengan segala kemukjizatannya. Di bawah ini akan diceritakan beberapa kisah yang berkaitan dengan al-Qur'an yang telah merombak jiwa-jiwa yang mendengarnya. Siapa yang tidak kenal Cat Stevan, seorang pemusik rock dunia kondang yang berasal dari Inggris. Kehidupan para artis yang gemerlap tentu sudah menjadi rahasia umum tentang "kerusakannya", apalagi di Barat sana. Namun di tengah-tengah kegemerlapannya sebagai seorang artis kondang, Cat Stevan tidak menemui kebahagian dalam hidupnya. Ia selalu

131

merasa resah, gundah gulana, tidak memiliki harapan hidup sehingga seringkali ditimpa depresi dan frustasi. Sampailah suatu masa, di puncak klimaksnya dia mendengarkan ayatayat al-Qur'an yang indah, yang kemudian mempengaruhi kehidupannya, yang pada ahirnya dia memeluk Islam dan merubah namanya menjadi Yusuf Islam. Dan sekarang dunia mengenal Yusuf Islam sebagai seorang pendukung perdamaian, relawan kemanusiaan sekaligus menjadi pendakwah Islam terkemuka di Barat khususnya. Demikianlah jika alQur'an sudah merasuki jiwa terdalam seseorang, siapapun dia, pasti akan membawa perubahan. Jika kita di tanya, siapakah yang pertama kali mendarat di bulan ?, maka jawabannya adalah Neil Amstrong, astronot dari Amerika Serikat. Ada apa dengan Mr. Amstrong? Sebuah majalah terbesar Malaysia Star, telah mengisahkan tentang pengalaman Amstrong ketika mendarat di bulan. Ketika dia sudah sampe ke dataran bulan, sambil berjalan-jalan dengan perlengkapannya, dia selalu mendengar suara-suara aneh yang belum pernah di dengarnya. Lama sekali dia menyimpan rahasia pribadi ini, sampai beberapa waktu dia berkesempatan mengunjungi negara-negara Muslim. Alangkah kagetnya dia ketika melalui masjid, mendengar kembali suara-suara yang pernah didengarnya di bulan. Dengan setengah tidak percaya, dia menanyakan, suara apakah itu. Pemamndunya dengan jelas mengatakan "Itu suara orang baca al-Qu'an dan adzan untuk memanggil orang solat". Maha Suci Allah, rupanya yang di dengar oleh Mr. Amstrong tersebut adalah ayat-ayat al-Qur'an, dan sejak saat ini dia mendalami Islam dan konon kabarnya ahirnya dia memeluk Islam karena pengelamannya tersebut. Aaron Sellers, seorang warga negara Amerika dan penganut Kristen yang fanatik. Cuma dalam benaknya selalu timbul keraguan padanya, ketika memikirkan tentang penyaliban Yesus Kristus. Baginya tidak masuk akal, jika Tuhan disalib untuk sekedar menebus dosa dan seterusnya. Keadaan ini terus berlanjut sampai dia berinteraksi dengan al-Qur'an. Dia membaca ayat :dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan

132

dengan Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang Isa, selalu dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu, melainkan mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya". (al-Nisa : 147). Setelah membaca ayat ini, Aaron berkata :"The impact of al-Nisa: 157 was to dramatically change my life". Seorang pengusaha dan politiisi ternama Indonesia, pernah menduduki jabatan Mentri, Siswono Yudohusodo pernah menceritakan interaksi spiritualnya dengan al-Qur'an dalam sebuah diskusi dengan beberapa direksi LP3I yang dipimpin Syahrial Yusuf. Beliau memulai dari kisah hidup dan perjalanan bisnisnya, termasuk jatuh bangunnya sebagai seorang pengusaha. Pada suatu waktu beliau pernah mengalami masalah yang sangat rumit diperusahaannya, yang pada intinya mengalami kekuarangan pendanaan yang menjadikan perusahaan yang dipimpinnya hampir gulung tikar. "Pada saat-saat yang sangat dramatis itu, tentu sebagai seorang yang beragama, tidak ada tempat yang paling aman, kecuali kembali ke ajaran agama", kenangnya dengan suara rendah dan mata yang berkaca-kaca."Ahirnya saya menemukan kekuatan kembali pada al-Qur'an dan sejak saat itu dikala susah saya akan membaca al-Qur'an,". Ketika ditanya tentang ayat-ayat apa yang dibacanya ketika menghadapi saat-saat kritis usahanya, beliau menjawab, "saya akan membaca beberapa ayat al-Qur'an, yang dikenal dengan ayat dirham, maka masalah saya pasti akan selesai dan menemukan jalan keluar". Ujarnya mantap. Adapun yang dikatakan ayat dirham adalah: 'Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawaqqal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu". (al-Talaq : 2-3) Seorang teman alumni ITB menceritakan tentang pengalaman temannya yang pada awalnya sangat acuh dengan Islam apalagi al-Qur'an. Dia adalah mahasiswa Geologi yang mengkaji berbagai hal yang berhubungan dengan gunung-gunung dan sebagainya. Dalam perjalan hidupnya, ia berinteraksi dengan al-Qur'an dan membaca surat al-Thur ayat 10 yang

133

menyatakan bahwa gunung berpindah-pindah. Dengan rasa takjub dan bangga ahirnya ia kembali kepada Islam setelah membaca ayat al-Qur'an yang sesuai dengan pengetahuan yang dipelajarinya, padahal ilmu ini baru diperoleh manusia pada abad 19 lalu. Bagaimana mungkin seorang Rasul saw yang dikatakan ummi, tidak dapat membaca dan menulis, serta hidup di padang pasir pada 15 abad yang lalu dapat mengetahui hal ini, kecuali memang tidak diragukan bahwa al-Qur'an adalah wahyu dari Allah Yang Maha Mengetahui. Pengalaman ini membuat sang mahasiswa semakin dekat dengan al-Qur'an dan bertambah pula keyakinannya. Teman saya menceritakan tentang seorang eksekutif yang sudah cukup berhasil dan mapan di Jakarta. Karena kesibukannya yang luar biasa di kota besar macam Jakarta, maka iapun jarang menemui ibundanya di kampung. Kehidupan metropolis membuatnya lalai dengan kewajibannya sebagai seorang anak yang harus menyenangkan dan merawat orang tua, walaupun memang kadangkala dia menyuruh ibunya datang menemuinya ke Jakarta. Namun ketika ibunya datang ke rumahnya, ia tetaplah sibuk sebagai seorang metropolis yang berangkat pagi pulang malam. Segala materi dan kebutuhan ibunya ia penuhi, dilayani oleh pembantu bahkan jika bepergian di antar sopir pribadi. Namun ternyata sang ibu tidak memerlukan itu semua, sang ibu tetap menyayangi dan memahami keadaan anaknya yang super sibuk. Dalam sebuah perjalannya, sang eksekutif mendengar terjemahan ayat 31 surat Luqman yang berarti: Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu". Hatinya langsung bergetar, mengingat ibunya yang selama ini telah mengandung, menyapih, membesarkannya dan menyayanginya tanpa pamrih sementara selama ini ia telah lalai. Saat itu juga dia menghubungi ibunya, langsung pulang, mencium tangannya, memeluknya, mengasihi dan menyayanginya. Ketika ibunya sakit dialah yang selalu mengantarkannya dan merawatnya sampai ibunya meninggal. "Mulai saat itu gue hafalin itu ayat Qur'an sambil belajar al-Qur'an dan terjemahannya" katanya. "Makanya ketika gue mendengar atau mengingat ayat itu, gue langsung menitikkan air mata,

134

mengingat ibu yang penuh kasih sayang". Al-Qur'an telah merasuk ke dalam jiwanya, sehingga merubah kepribadian keperibadian sang eksekutif menjadi seorang yang dekat dengan ajaran agama. Pada paroh ketiga bulan ramadhon 2003 lalu, beberapa pemuda Islam yang bergabung dalam sebuah organisasi mahasiswa Islam tingkat nasional menyelenggarakan suatu pelatihan yang dinamakan dengan "Spiritual Exercise" dengan coba menerapkan beberapa metode-metode yang terkini yang diharapkan dapat menumbuhkan spiritualitas yang akan digunakan sebagai bekal dalam menghadapi aktivitas gerakan di lapangan. Salah satu materi yang diberikan adalah "Spiritualitas al-Qur'an" dengan tujuan sejauh mana al-Qur'an memiliki kekuatan spiritualitas yang dapat memberikan pengaruh kepada kehidupan. Setelah solat taraweh dan diisi dengan ceramah pengantar dan diskusi sampai tengah, maka para peserta diminta untuk bersiap-siap menerima spiritualitas al-Qur'an. Acara dimulai dengan mandi tobat, dilanjutkan dengan zikir-zikir dan selanjutnya solat berjama'ah. Ketika solat itulah imam membaca surat-surat al-Qur'an yang cukup panjang seperti surat an-Nur, Muhammad, al-Fath dan lainnya. Ketika imam membaca surat-surat al-Qur'an dengan suara yang nyaring dan merdu, maka mulailah satu persatu peserta menangis, yang ahirnya hampir semua peserta meledak dalam tangis mendengar bacaan al-Qur'an, padahal mereka tidak memahami arti sesungguhnya ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca. Mereka semua merasakan bagaimana seakan-akan ayat-ayat al-Qur'an yang dibacakan merasuk ke dalam hati mereka sehingga menimbulkan kekuatan dan semangat. Setelah selesai solat, masingmasing peserta diminta pengalamannya yang beraneka ragam dan mereka umumnya memiliki tekad yang kuat untuk merubah diri. Program ini dinamakan dengan "Tanzilul Qur'an", memasukkan ruh al-Qur'an ke dalam jiwa manusia, sehingga al-Qur'an Nuzul dan hidup bersama mereka. Setelah beberapa lama, ternyata pemuda-pemuda ini memili tekad yang sangat kuat untuk menegakkan kebenaran dan memiliki keberanian yang luar biasa dalam berjuang dan beramar makruf. Mereka dijuluki sebagai pasukan "cadangan" yang jika diperlukan mereka siap syahid untuk Islam.

135

Dalam beberapa acara TV nasional belakangan ini, kita sering disajikan dengan programprogram pengobatan alternatif yang menggunakan ayat-ayat al-Qur'an. Dalam beberapa penayangan kita saksikan seorang yang sakit, baik kemasukan jin atau penyakit lainnya, diberi terapi dengan membacakan ayat-ayat al-Qur'an tertentu oleh sekumpulan ustadz yang biasanya dibantu oleh jama'ah yang membacakan zikir-zikir atau ayat-ayat al-Qur'an. Kita dapat menyaksikan bagaimana reaksi pasien ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur'an, ada yang pingsan, menjerit-jerit, histeria dan sejenisnya. Bahkan diantaranya mengeluarkan berbagai bentuk cairan dari mulutnya yang menandakan keluarnya penyakit tersebut. Terkadang ada pasien yang melawan ketika diterapi, yang dilakukannya tanpa sadar. Umumnya pasien merasa baik setelah mereka mendapat terapi dengan ayat-ayat al-Qur'an tersebut. Pengobatan dengan ayat-ayat al-Qur'an, yang dikenal dengan rukyah memang merupakan hal yang dipraktekkan sejak zaman Nabi saw dan beliau sendiri tidak melarangnya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Abu Said al-Khudri di atas. Inti dari pengobatan ini seperti mentransfer kekuatan ayat-ayat al-Qur'an yang dimiliki perukyah kepada pasiennya, seperti memindahkan energi positif dalam tubuh seseorang. Hal ini memang jelas menandakan bahwa al-Qur'an memang memiliki energi yang mengandung kekutan yang dapat menyembuhkan penyakit manusia. Jika kita perhatikan beberapa fenomena di atas, peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak pertama kali turunnya al-Qur'an, dari zaman Nabi saw, zaman sahabat, tabi'in sampai zaman sekarang yang digambarkan dengan beberapa kejadian-kejadian dahsyat tentang al-Qur'an, maka tidak diragukan bahwa al-Qur'an bukan hanya sekedar sebuah sebuah lembaran mush'af yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang hanya untuk dibaca ataupun dihafalkan saja. Jika dianalogikan, maka lembaran-lembaran tersebut seperti sebuah foto alQur'an, namun bukan al-Qur'annya sendiri, karena sesungguhnya al-Qur'an adalah Kitab Allah yang hidup, yang memiliki roh, yang memiliki nyawa, yang memiliki kekuatan/energi meresap ke dalam manusia, menyatu dengannya sehingga antara manusia dan al-Qur'an menjadi satu. Itulah sebabnya ketika Aisyah ra ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab akhlaknya adalah al-Qur'an. Artinya al-Qur'an telah

136

meresap, menyerap dalam diri Rasulullah saw, keduanya telah menyatu menjadi satu kesatuan sehingga tidak dapat dibedakan antara diri Rasul dengan al-Qur'an yang sudah terlambang dari akhlaqnya, al-Qur'an sudah hidup dalam pribadinya, sehingga al-Qur'an mengontrol segala tingkah lakunya. Demikian pula Allah SWT menyebutkan al-Qur’an sebagai ruh,: Dan semikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (al-Qur’an) dengan perintah Kami. (al-Zukhruf : 52) Disamping menyebutkan al-Qur’an sebagai ruh, disebutkan pula bahwa wahyu yang diturunkan Allah SWTpun dinyatakan sebagai al-Ruh ; (Dialah) Yang Mahatinggi derajatNya, yang memiliki Arsy’. Yang menurunkan al-Ruh dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, agar memperingatkan manusia tentang hari pertemuan (hari Kiamat) (al-Mukmin : 15) Pendapat yang masyhur dikalangan kaum muslimin bahwa al-Qur'an adalah kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan malaikat Jibril as. Jika al-Qur'an dikatakan sebagai kalam Allah, maka samalah artinya dengan rahmat Allah ataupun cinta Allah, yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Dzat Allah Yang Maha Suci. Ketika Allah SWT menyatakan bahwa Dia memiliki 100 cinta (al-hubb) dan telah menurunkan satu cinta-Nya ke dunia yang dibagi-bagikan kepada seluruh alam, maka artinya cinta itu merasuk ke dalam sanubari makhluknya, sehingga sang makhluk merasakan cinta, sebagaimana cintanya hewan-hewan buas sekalipun kepada anaknya, ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan termasuk kepada manusia, cinta seorang ibu kepada anaknya, cinta rakyat kepada pemimpinnya, cinta pengikut kepada Nabinya, cinta sang pencinta kepada kekasihnya dan seterusnya. Apakah kemudian yang dikatakan "cinta" itu adalah apabila tertulis dalam lembaran-lembaran kertas dengan difinisinya yang panjang lebar? Tentu tidak, dikatakan sebagai cinta apabila sudah terlambang dalam realita, sudah menyatu dengan kehidupan, yang dilambangkan dengan rasa kasih sayang, pembelaan, penjagaanm pemeliharaan orang tua terhadap anaknya misalnya. Demikian pula halnya dengan al-Qur'an yang dikatakan sebagai kalam Allah. Kesempurnaan tujuan diturunkannya kalam Allah berupa al-Qur'an di muka bumi bukan

137

hanya apabila ia telah tertulis dalam jutaan mush'af al-Qur'an, dalam buku-buku tentang ulum al-Qur'an yang berjumlah ribuan jilid, ataupun pengetahuan-pengetahuan berhubungan dengan al-Qur'an yang tak terhingga jumlahnya itu. Tapi kalam Allah berupa al-Qur'an dinyatakan sempurna turun apabila telah menjadi pembimbing, pengarah, pengatur, pengontrol dan penggerak kehidupan manusia. Karena al-Qur'an diturunkan bukan hanya untuk ditulis, dibukukan, dijabarkan pengetahuannya saja, tapi al-Qur'an harus meresap, mencerap, menyatu dengan manusia dan bersemayam di qolbunya, di relung hati terdalamnya, menyatu dengan alam sadar dan alam bawah sadarnya sehingga seluruh kehidupannya menjadi qur'ani bukan hanya memenuhi aqalnya semata yang melahirkan berbagai pengetahuan tentang seluk beluk al-Qur'an. Bukan berarti yang kedua ini tidak penting, karena memang manusia memerlukan pengembangan pengetahuan untuk keberlangsungan peradabannya. Namun jika yang kedua ini menjadi tujuan utama dengan meninggalkan masksud diturunkannya al-Qur'an sebagai pengontrol dan penggerak kehidupan manusia, maka tentu hal ini bertentangan dengan semangat dan tujuan utama diturunkannya al-Qur'an, yang pada ahirnya akan menimbulkan permasalahan dengan penganutnya sebagaimana yang dialami kaum muslimin saat ini. Mereka memang telah melahirkan berbagai bentuk pengetahuan al-Qur'an, namun al-Qur'an yang harus terlambang dalam manusia yang menjalani kehidupan nyata terabaikan. Kita banyak menyaksikan kitab-kitab tentang al-Qur'an, tapi kemana kita akan mencari manusia-manusia yang telah menyatu dengan al-Qur'an sebagaimana yang telah dilakukan para sahabat terdahulu? Maka jika kalam Allah berbentuk al-Qur'an itu hidup, memiliki roh, memiliki kekuatan, maka jelas tempatnya bukan di aqal manusia, karena hal ini tidak berhubungan dengan pengetahuan dan pengembangan peradaban manusia yang digerakkan oleh fungsi-fungsi otak. Tapi al-Qur'an yang hidup ini tempatnya adalah di qolbu, sebagai sumber pengontrol kehidupan manusia seperti yang diterangkan oleh sebuah hadits Nabi saw: "Pada jasad manusia itu terdapat segumpal daging/darah. Apabila dia baik maka baiklah perbuatan manusia, apabila ia rusak, maka rusaklah manusia, ia adalah qolbu". Roh al-Qur'an yang

138

hidup harus bersemayang di dalam qolbu, sehingga menjadi semacam piranti lunak (software) yang akan menggerakkan manusia dalam menjalani kehidupannya. Jika al-Qur'an menjadi piranti lunak dalam qolbu manusia, maka dijamin kehidupannya akan sesuai dengan semangat al-Qur'an dan aqalnya pun dipergunakan untuk tujuan-tujuan agung. Namun jika hanya aqalnya saja dipenuhi dengan al-Qur'an, sementara qolbunya digerakkan dengan piranti lunak selain al-Qur'an, maka ia akan menjadikan al-Qur'an sebatas pengetahuan belaka. Itulah sebabnya dijumpai seseorang yang menghafal al-Qur'an atau otaknya penuh dengan al-Qur'an dan pengetahuan yang berhubungan dengannya, namun kadangkala kehidupannya jauh dari semangat dan tujuan diturunkannya al-Qur'an. Jika kita perhatikan dengan seksama fenomena yang terjadi pada diri Rasul saw, Umar ra, Dlamat atau beberapa kasus yang dikemukakan terdahulu, maka jelaslah bahwa alQur'an itu bukan hanya sekedar ditempatkan di aqal sebagai sebuah pengetahuan saja. Namun kenyataannya al-Qur'an turun ke tempat yang lebih dalam, yaitu qolbu, tempat yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya ketika Jibril as memerintahkan Rasul untuk membaca, bukan hanya diajarkannya dengan kata-kata ayatayat al-Qur'an yang diturunkan, namun Jibril as mendekap keras-keras Rasul saw, menempelkan dadanya ke dada Rasul saw, dan tidak diragukan ayat-ayat yang dibawa Jibril as merasuk ke dalam qalbu Rasul sehingga menimbulkan efek psikologis yang sangat kuat sebagaimana digambarkan terdahulu. Hal itu terjadi juga pada diri Umar ra yang ketika melihat dan membaca ayat-ayat al-Qur'an dalam lembaran kulit, dia mengalami perubahan, emosi dan pertimbangan aqalnya terkalahkan oleh kekuatan al-Qur'an, sehingga ayat-ayat yang dibacanya langsung meresap ke dalam qalbunya yang menimbulkan dampak sepontanitas keinginannya untuk bertemu rasul saw dan menyatakan keislamannya. Demikian pula halnya dengan beberapa fenomena yang telah dinyatakan terdahulu yang meyakinkan bahwa al-Qur'an sebagai kalam Allah SWT memang hidup, memiliki roh, energi, kekuatan atau sejenisnya yang akan merombak kehidupan manusia. Nah, jika memang al-Qur'an itu hidup, memiliki roh, dimanakah dia saat ini? Apakah ia bersama dengan mushaf al-Qur'an yang kita kenal selama ini? Jika al-Qur'an memang

139

hidup, bagaimana cara berinteraksi dengannya, memasukkan, meresapkan ke dalam diri manusia sehingga menyatu dengannya? Selanjutnya di bagian-bagian buku ini akan mencoba memberikan pengetahuan tentang esensi al-Qur'an, bukti tentang hidupnya alQur'an melalui sumber-sumber al-Qur'an sendiri, didukung al-Sunnah, pendapat para ulama, cendekiawan muslim ataupun dengan pengetahun-pengetahuan modern yang berkaitan dengannya.

Bab 9
PENUTUP DAN KESIMPULAN
Manusia adalah makhluk ciptaan yang sempurna dan mengagumkan, itulah sebabnya Allah telah menjulukinya sebagai "sebaik-baik dan sesempurna-sempurna yang telah diciptakan" di muka bumi ini. Bahkan ketika Allah Sang Pencipta mendapat kritikan dari para malaikat dalam penciptakan manusia karena dikhawatirkan manusia akan menjadi makhluk yang durhaka dan saling merusak satu sama lainnya, namun Allah Yang Maha Kuasa telah menjawabnya dengan tegas, bahwa Dia lebih mengetahui tentang apa yang akan diciptakan-Nya. Maka diciptakanlah manusia dengan segala karakteristik dan problematika yang menyertainya. Dia telah menciptakan manusia dengan segala keunggulan yang terdapat padanya, sehingga manusia layak menjadi Khalifah (wakil) Allah di muka bumi. Karena dimandatkan menjadi wakil Allah di muka bumi, maka manusia diberi segala keutamaan dan kesempurnaan dari seluruh makhluk berupa aqal, hati dan hawa nafsu sebagai komponen penggerak manusia. Dengan keutamaan yang diberikan kepadanya, jadilah manusia sebagai makhluk yang patut dihormati sehingga seluruh malaikat diperintahkan sujud kepadanya. Sepanjang sejarahnya, manusia selalu mendapat bimbingan Sang Pencipta agar hidup dan kehidupannya sesuai dengan maksud dan tujuan diciptakannya. Silih berganti Allah menurunkan utusan yang akan membimbing umat manusia menuju jalan keselamatan, kebahagian dan kedamaian sebagaimana yang diperintahkan Sang Penciptanya. Para

140

utusan dengan penuh kesabaran dan ketabahan membimbing umat manusia menuju jalan Allah, membimbing mereka menjadi hamba-hamba yang menjalankan perintah-Nya. Bersama para nabi dan rasul itulah Allah menurunkan ajaran-ajaran agung dan mulia bahkan diantaranya berupa kitab seperti Taurat, Zabur, Injil dan terakhir adalah al-Qur'an. Kitab-kitab yang diturunkan telah membimbing mereka yang mengikutinya menuju kesempurnaan hidup dibawah naungannya, namun kebanyakan manusia ingkar dan kufur kepada nikmat yang telah diturunkan Allah kepadanya. Mereka mengikuti kehendak hawa nafsu sesatnya mengikuti jalan-jalan lain yang pada akhirnya menjerumuskan mereka menuju lembah kebinasaan. Maka wajar apabila Sang Pencipta adalah Yang Paling Mengetahui segala yang terbaik maupun terburuk untuk manusia dalam hidup dan kehidupannya di muka bumi menurunkan panduan hidup sesuai dengan kebutuhan mereka. Siapakah yang lebih mengetahui tentang keberadaan manusia daripada Yang telah menciptakan manusia itu sendiri? Adakah yang lebih mengetahui daripada Allah Yang telah menciptakan manusia. Walaupun manusia yang menganggap dirinya serba jenius, sepanjang sejarahnya mereka tidak mampu mengetahui dengan pasti hakekat dirinya, bahkan di zaman modern seperti sekarang inipun manusia masih sangat bodoh dengan dirinya sendiri. Itulah sebabnya kehancuran demi kehancuran terjadi akibat kebodohan manusia dalam mengetahui hakekat dirinya. Mereka telah menciptakan berbagai bentuk ajaran yang pada akhirnya menyesatkan dan membingungkan mereka sendiri. Itulah yang terjadi pada masyarakat modern yang sangat mengagungkan kelemahan manusia ini. Manusia-manusia modern telah menganggap dirinya mengetahui segala hakekat yang berkaitan dengan dirinya sehingga mereka menciptakan berbagai bentuk filsafat dan perabadan dengan segala produknya untuk mempermudah kehidupannya. Mereka menciptakan berbagai bentuk isme yang katanya akan mempermudah manusia menuju kebenaran dan kebahagiaan. Namun kenyataannya manusia modern mendapatkan dirinya tiba-tiba di lembah jurang kehancuran yang sangat mengerikan. Mereka ketakutan dan cemas dengan penemuan-penemuan dan ciptaan mereka sendiri yang dapat memusnahkan

141

alam raya ini. Pencapaian-pencapaian material yang menjulang tinggi ternyata tidak mampu memberikan jawaban pasti dan solusi kepada mereka yang telah menjadi pengabdipengabdi pengetahuan dan teknologi yang mereka ciptakan sendiri. Kemajuan yang dicapai telah mengantarkan mereka menuju kehampaan hidup, kehilangan jati diri akibat tersesat di tengah-tengah belantara kemajuan yang senantiasa mendorong mereka menjadi hedonis, agresif dan eksploitatif. Akhirnya dunia modern yang membanggakan materialisme telah menyiapkan bom waktu untuk dirinya akibat kesesatan dan kebingungan mereka sendiri. Maka tidak diragukan, bahwa manusia modern dengan segala perbendaharaan pengetahuan mereka saat ini sangat membutuhkan sebuah panduan hidup yang akan membimbing dan memimpinnya menuju kesempurnaan hidup untuk menggapai kemenangan dan kesuksesan, yang bukan hanya di dunia ini saja, tapi juga dalam kehidupan abadi setelah kematian kelak. Mereka membutuhkan sebuah kitab yang dapat menyelesaikan secara pasti dan tuntas permasalahan-permasalahan utama yang tidak dapat dijawab oleh kemajuan pengetahuan dan teknologi yang mereka kembangkan. Bahkan lebih jauh mereka sangat memerlukan sebuah sarana yang akan menghubungkan mereka dengan Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui, sebagaimana masyarakat jahiliyah terdahulu yang membutuhkan bimbingan Tuhannya. Mereka membutuhkan sebuah kitab yang tidak ada sedikitpun cacat dan keraguan padanya, yang telah berhasil mengantarkan kemenangan dan kesuksesan pada sebuah bangsa kecil jahiliyah menjadi umat terbaik yang menjadi mercusuar peradaban dunia. Sungguh, umat manusia yang tersesat di belantara materialisme saat ini, membutuhkan al-Qur'an !!!. Hanya al-Qur'anlah yang akan dapat mengantarkan mereka menuju kemenangan dan kesuksesan sejati, sebagaimana di-idam-idamkan oleh seluruh umat manusia. Sesungguhnya al-Qur'an adalah kitab yang diturunkan dari Allah Sang Pencipta, Yang Maha Mengetahui tentang penciptaan manusia beserta karakteristik dan tugasnya di muka bumi. Tidak ada keraguan sedikitpun padanya, karena diturunkan oleh Yang Maha Mutlak Kebenarannya. Al-Qur'an akan membimbing para pengikutnya menuju jalan lurus,

142

jalan keselamatan dunia dan akhirat. Demikian pula al-Qur'an terbukti telah mampu melahirkan masyarakat utama, yang keutamaan dan kesempurnaannya tidak akan tertandingi sepanjuang sejarah umat manusia. Al-Qur'an dengan segala kesempurnaan dan keunggulannya telah berhasil mencetak manusia-manusia agung yang terhimpun dalam masyarakat idial yang memberikan rahmat kepada seluruh alam. Rasulullah dan para Sahabatnya telah menjadi masyarakat percontohan sepanjang masa karena mereka telah menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman hidup mereka. Masyarakat yang telah dibina alQur'an terbukti telah menjadi mercusuar peradaban dan menjadi penggerak keagungan dan pencapaian manusia sepanjang masa. Maka tidak diragukan, masyarakat modern yang penuh dengan kejahiliyahan dan kesesatan ini sangat memerlukan al-Qur'an, agar apa yang mereka capai benar-benar menjadi bermakna dalam kehidupannya. Al-Qur'an akan membimbing dan memimpin masyarakat modern dengan segala pencapaian materialnya menuju kehidupan yang agung dan sempurna. Al-Qur'an akan memberikan jawaban terhadap segala bentuk problematika yang dihadapi manusia dengan pendekatannya yang khas dan unik. Hanya al-Qur'anlah yang mampu mengobati segala bentuk penyakit kronis yang diderita manusia modern saat ini, karena al-Qur'an akan mengobati hati dan fikiran mereka yang sakit akibat terlalu mengikuti kehendak jahat hawa nafsu mereka. Al-Qur'an akan mengarahkan masyarakat modern menjadi masyarakat berperadaban tinggi, menyempurnakan penemuan dan penciptaan mereka saat ini yang bersifat material, menjadi masyarakat berperadaban yang menjadikan kekuatan spiritual sebagai fondasi mereka. Inilah yang dikehendaki al-Qur'an. Demikian halnya dengan kaum Muslimin, untuk menjadi manusia yang menang dan sukses, yang maju dan berperadaban, mereka harus berpegang teguh kepada al-Qur'an, menjalankan perintah dan menjauhi semua larangannya. Meninggalkan al-Qur'an atau berpaling darinya akan menjadikan mereka sebagai masyarakat yang terbelakang dengan segala kesesatan yang menyertainya. Maka tidak diragukan bahwa al-Qur'an akan mengantarkan seorang Muslim menjadi masyarakat utama dengan segala keagungannya sebagaimana yang telah dicapai oleh generasi pertama Islam terdahulu. Al-Qur'an akan

143

senantiasa mendorong mereka menjadi manusia-manusia yang senantiasa mencintai kemajuan dan pengembangan peradaban untuk menciptakan kemudahan dan kebahagian umat manusia. Bahkan al-Qur'an dengan segala kemukjizatan dan keutamaan yang terkandung didalamnya, akan menjadikan kaum Muslimin, terutama yang berpegang teguh pada ajaran al-Qur'an, sebagai pemimpin-pemimpin umat manusia yang sedang mengalami kebingungan dan kesesatan saat ini. Karena pada hakekatnya mereka sangat membutuhkan al-Qur'an yang akan menjadikan mereka sebagai manusia dan masyarakat modern dalam arti yang sebenarnya. Hanya al-Qur'anlah yang akan menjadikan kaum Muslimin sebagai manusia dan masyarakat yang berperadaban, yang modern, berharkat dan bermartabat. Itulah sebabnya al-Qur'an harus mereka fahami dengan benar, kemudian dilaksanakan dalam kehidupan nyata sehingga terlambang dalam kehidupan, dan mereka menjadi al-Qur'an yang hidup dan berjalan. Hanya dengan al-Qur'anlah manusia dapat menggapai kemenangan dan kesuksesan, baik di dunia maupun akhirat kelak. Sesungguhnya al-Qur'an ini akan memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus………..

144

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->