You are on page 1of 17

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Sedangkan sinusitis maksilaris odontogenik adalah sinusitis maksilaris yang terjadi akibat penyebaran infeksi dari gigi ke arah sinus maksilaris. Sinus maksila disebut juga antrum highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut sinus dentogen. Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronik.1 Penyebab sinusitis maksilaris terutama adalah faktor rinogen.2 Angka kejadian sinusitis yang bersumber dari odontogenik sebesar 10% dari keseluruhan kasus sinusitis maksilaris. 3,4 Meskipun sinusitis odontogenik adalah suatu kondisi yang relatif umum terjadi, namun patogenesisnya belum diketaui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana fitur-fitur klinis seperti jenis kelamin, usia, faktor etiologi, dan gejala sinusitis odontogenik berbeda dari sinusitis jenis lain. 1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 1.3 Apa sajakah faktor-faktor pedisposisi dari sinusitis maksilaris odontogenik? Bagaimana tanda dan gejala pasien dengan sinusitis maksilaris odontogenik? Bagaimana penatalaksanaan pasien dengan sinusitis maksilaris odontogenik?

Tujuan 1. 2. 3. Mengetahui apa sajakah faktor-faktor pedisposisi dari sinusitis maksilaris odontogenik. Mengetahui tanda dan gejala pasien dengan sinusitis maksilaris odontogenik. Mengetahui penatalaksanaan pasien dengan sinusitis maksilaris odontogenik.

1.4

Manfaat Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu gigi dan mulut pada khususnya mengenai sinusitis maksilaris odontogenik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Abstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaiman fitur-fitur klinis seperti jenis kelamin, usia, faktor etiologi, dan gejala sinusitis odontogenik berbeda dari sinusitis jenis lain. Selain itu, penelitian ini dirancang untuk menemukan metode untuk mengurangi kejadian sinusitis odontogenik. Bahan dan Metode: Analisis retrospektif dilakukan pada 27 pasien dengan sinusitis odontogenik yang dirawat di Rumah Sakit Kangbuk Samsung antara bulan Februari 2006 sampai Agustus 2008. Hasil: Sepuluh pasien (37,0%) memiliki implan gigi yang mengalami komplikasi dan 8 pasien (29,6%) memiliki komplikasi yang terkait dengan ekstraksi gigi. Nasal discharge purulen unilateral merupakan gejala yang paling umum (66,7%). Penatalaksanaan meliputi pembedahan transnasal endiscopic sinus pada 19 pasien (70,4%), dan operasi Caldwell Luc pada 2 pasien (7,4%). Kesimpulan: Dalam penelitian ini, tidak ada perbedaan yang signifikan pada insiden antar jenis kelamin. Usia rata-rata pasien adalah 42,9 tahun. Insiden tertinggi terjadi pada dekade keempat. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara gejala sinusitis odontogenik dengan sinusitis jenis lain. Namun, hampir semua pasien dengan sinusitis odontogenik memiliki gejala unilateral. Penyebab iatrogenik, yang meliputi implan gigi dan pencabutan gigi, merupakan faktor etiologi yang paling umum terkait dengan perkembangan sinusitis odontogenik. Oleh karena itu, konsultasi praoperasi antara rhinologist dan dokter gigi sebelum melakukan suatu prosedur pada gigi harus dapat mengurangi timbulnya sinusitis odontogenik. 2.2 Introduksi Sinusitis dianggap berasal dari rhinogenous. Pada beberapa kasus, infeksi gigi merupakan faktor predisposisi utama. Angka kejadian sinusitis yang bersumber dari odontogenik sebesar 10% dari keseluruhan kasus sinusitis maksilaris. Meskipun sinusitis odontogenik adalah suatu kondisi yang relatif umum terjadi, namun patogenesisnya belum diketaui secara pasti. Sinusitis odontogenik layak mendapatkan pertimbangan khusus karena berbeda dengan penyakit sinus dengan penyebab yang lain dalam hal mikrobiologi,

patofisiologi, dan manajemennya. Studi terdahulu melaporkan bahwa insiden tersebut lebih tinggi pada wanita, dan Kaneko melaporkan bahwa usia muda (dekade ketiga dan keempat) tampaknya lebih rentan. Sinusitis odontogenik terjadi ketika membran Schneidarian berlubang. Hal ini dapat terjadi pada orang dengan karies gigi rahang atas dan trauma gigi rahang atas. Terdapat juga penyebab iatrogenik, seperti pemasangan implan gigi dan pencabutan gigi. 2.3 Bahan dan Metode Peneliti memeriksa 30 pasien yang terdiagnosis sinusitis odontogenik pada Departemen Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgey dari bulan Februari 2006 hingga Agustus 2008. Tiga kasus pansinusitis dengan polip hidung dikeluarkan dari penelitian ini. Sejumlah 23 (85,2%) dari 27 pasien terdiagnosa saat datang ke Departemen Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgey. Empat pasien merupakan rujukan dari praktek dokter gigi (14,8%). Diagnosis sinusitis odontogenik didasarkan pada pemeriksaan gigi dan kesehatan secara menyeluruh. Pemeriksaan ini mencakup evaluasi dari gejala-gejala pasien (menurut kriteria dari American Academy of Otolaryngology-Headand Neck Surgery (AAO-HNS), diagnosis rinosinusitis memerlukan setidaknya 2 faktor utama atau setidaknya 1 faktor mayor dan 2 faktor minor dari serangkaian gejala dan tanda klinis), sejarah masa lalu kesehatan gigi, dan temuan radiologi, termasuk CT scan sinus paranasal. Selain itu, konsultasi dengan departemen kedokteran gigi mendukung peneliti dalam membuat diagnosis sinusitis odontogenik. 2.4 Hasil Pada penelitian ini, perbandingan rasio laki-laki dan perempuan adalah 15:12, dengan insiden yang lebih tinggi pada pria. Distribusi usia yaitu 4-75 tahun, dengan usia rata-rata 42,9 tahun. Kejadian tertinggi terjadi pada dekade keempat. Semua pasien tidak memiliki sejarah sinusitis sebelumnya. Periode follow-up berlangsung antara 2 bulan dan 6 bulan, dengan ratarata 4,5 bulan. Dalam studi ini, kasus sinusitis odontogenik berjumlah 5,2% dari keseluruhan kasus sinusitis maksilaris. Implan gigi yang megalami komplikasi merupakan penyebab paling umum, yaitu 10 (37%) dari 27 pasien (Gambar 1A). Komplikasi yang terkait dengan ekstraksi gigi merupakan penyebab kedua yang paling umum, yaitu 8 (29,6%) dari 27 pasien. Kista dentigenous diderita oleh 3 pasien (11,1%). Kista radikuler, karies gigi, dan gigi tambahan merupakan penyebab lain yang masing-masing ditemukan sebanyak 2 (7,4%) dari 27 pasien (Gambar 2).

Interval waktu dari kunjungan pertama ke klinik rawat jalan untuk melakukan suatu prosedur gigi dengan munculnya gejala adalah 1 bulan pada 11 kasus (40,8%), 1 sampai 3 bulan pada 5 kasus (18,5%), 3 bulan sampai 1 tahun pada 8 kasus (29,6%), dan lebih dari satu tahun pada 3 kasus (11,1%). Sebanyak 23 dari total 27 pasien telah terdiagnosa secara langsung setelah datang ke otorhinolaryngology tanpa mendapatkan pengobatan gigi. Hanya 4 pasien yang terdiagnosis sinusitis odontogenik setelah melalui konsultasi perawatan gigi. Sebanyak 25 dari 27 pasien tidak pernah melakukan konsultasi praoperasi antara rhinologist dan dokter gigi sebelum melakukan prosedur gigi. Gejala sinusitis odontogenik yang paling umum adalah rhinorrhea purulen unilateral. Rhinorrhea ini ditemukan pada 18 pasien (66,7%). Gejala ini diikuti dengan nyeri pipi pada 9 pasien (33,3%), bau yang menyengat pada 7 pasien (25,9%), hidung tersumbat unilateral pada 5 pasien (18,5%), postnasal drip pada 4 pasien (14,8%), dan pembengkakan dan discharge gingiva atas pada 4 pasien (14,8%). Tidak ada pasien yang mengeluh memiliki gejala demam. Satu pasien (3,7%) tanpa gejala terdiagnosis secara kebetulan melalui pemeriksaan radiografi (Tabel 1). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara gejala sinusitis odontogenik dengan sinusitis jenis lain. Namun, hampir semua pasien dengan sinusitis odontogenik memiliki gejala yang bersifat unilateral. Pemeriksaan CT sinus paranasal dilakukan pada semua kasus. Erosi tulang sinus maksilaris terdapat pada 12 kasus (44,4%). Fistula oroantral terdapat pada 7 kasus (25,9%) (Gambar 1B). Distribusi sinus paranasal yang menunjukkan kepadatan jaringan lunak adalah sebagai berikut: sinus maksilaris pada 19 kasus (70,4%), sinus maksilaris dan ethmoid pada 5

kasus (18,5%), sinus maksilaris, ethmoid, dan frontal pada 2 kasus (7,4%), serta sinus maksilaris, ethmoid, dan sphenoid pada 1 kasus (3,7%). Tidak ada kasus dimana semua sinus paranasal menunjukkan kepadatan jaringan lunak.

Distribusi yang menunjukkan keterlibat gigi pada rahang atas adalah sebagai berikut: molar ke-2 pada 11 kasus (40,8%), molar ke-1 pada 9 kasus (33,3%), premolar 2 dan molar 1 pada 3 kasus (11,1%), molar ke-1 dan molar ke-2 pada 2 kasus (7,4%), premolar ke-2 pada 1 kasus (3,7%), dan molar ke-3 dalam 1 kasus (3,7%) (Tabel 2).

Pada 14 dari total 27 pasien, didapatkan kultur bakteri intraoperatif. Organisme aerobik saja pada 3 kasus (21,4%), bakteri anaerob saja pada 1 kasus (7,1%), dan campuran antara bakteri aerobik dan anaerobic pada 3 kasus (21,4%). Bakteri aerobik yang dominan adalah S. aureus. Bakteri anaerob yang dominan adalah basil gram-negatif dan Peptostreptococcus spp. Tidak ada korelasi yang ditemukan antara faktor predisposisi odontogenik dan temuan mikrobiologi. Modalitas terapi meliputi pembedahan transnasal endoscopic sinus pada 19 kasus (70,4%), dan operasi Caldwell Luc pada 2 kasus (7,4%), manajemen gigi meliputi ekstraksi gigi dan pengangkatan implan gigi pada 2 kasus (7,4%), dan hanya pemberian antibiotik pada 4 kasus (14,8%) (Tabel 3). Tidak ada kejadian rekurensi yang diamati selama periode follow-up pada semua pasien. Enam pasien yang menolak dilakukan tindakan bedah

hanya diterapi dengan antibiotik. Antibiotik (cefditoren pivoxil 300 mg/hari atau amoksisilinsam klavulanat 1.875 mg/hari) digunakan secara rutin selama 3 minggu setelah operasi. Periode follow-up dilakukan antara 2 bulan dan 6 bulan, dengan rata-rata 4,5 bulan.

2.4.1 Komplikasi yang terkait dengan implan gigi Terdapat 10 kasus dengan implan gigi yang mengalami komplikasi. Kasus tersebut meliputi 6 laki-laki dan 4 perempuan dengan rata-rata usia 52,3 tahun (rentang: 35-62 tahun). Rentang waktu dari prosedur implan gigi sampai kunjungan pertama pasien ke klinik rawat jalan dengan gejala adalah 1 bulan pada 6 kasus (60%), 1 sampai 3 bulan pada 2 kasus (20%), 3 bulan sampai 1 tahun pada 1 kasus (10%), dan lebih dari satu tahun pada 1 kasus (10%). Terdapat 7 pasien yang menderita rhinorrhea purulen unilateral. Terdapat nyeri pipi dan bau menyengat pada 4 kasus (Tabel 1). Yang paling banyak terlibat adalah gigi molar ke-2 pada rahang atas (4 kasus) (Tabel 2). Modalitas terapi meliputi pembedahan transnasal endoscopic sinus pada 9 kasus dan manajemen gigi, meliputi ekstraksi gigi dan pembuangan implan gigi pada 1 kasus (Tabel 3). 2.4.2 Komplikasi yang terkait dengan ekstraksi gigi Terdapat 8 kasus komplikasi yang terkait dengan ekstraksi gigi. Kasus ini meliputi 4 laki-laki dan 4 perempuan dengan rata-rata usia 39,3 tahun (rentang: 22-61 tahun). Terdapat 5 pasien yang menderita rhinorrhea purulen unilateral. Terdapat nyeri pipi dan bau yang menyengat pada 3 kasus (Tabel 1). Yang paling sering terlibat adalah gigi molar ke-2 rahang atas (4 kasus) (Tabel 2). Modalitas terapi meliputi pembedahan transnasal endoscopic sinus pada 7 kasus dan pengobatan antibiotik pada 1 kasus (Tabel 3). 2.5 Diskusi Studi sebelumnya telah melaporkan bahwa insiden lebih tinggi pada wanita, tetapi dalam penelitian ini rasio perbandingan antara laki-laki untuk perempuan adalah 1,25 : 1.

Tidak ada perbedaan yang signifikan pada kejadian antar jenis kelamin. Kaneko melaporkan bahwa usia muda (dekade ketiga dan keempat) tampaknya lebih rentan. Pada penelitian ini, rata-rata usia pasien adalah 42,9 tahun. Insiden tertinggi pada dekade keempat. Insiden sinusitis odontogenik yang terkait dengan infeksi sangat rendah meskipun frekuensi infeksi gigi tinggi. Namun, kejadian ini secara bertahap meningkat. Pada penelitian ini, penyebab paling umum (10 kasus) adalah implan gigi yang berkomplikasi. Pada penelitian ini, 18 (66,7%) dari 27 pasien mengeluh mengalami rhinorrhea purulen unilateral sebagai gejala utama. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara gejala sinusitis odontogenik dengan sinusitis jenis lain. Pada penelitian ini, peneliti tidak bisa mendiagnosa sinusitis odontogenik hanya berdasarkan pada gejala yang muncul saja. Namun, hampir semua pasien dengan sinusitis odontogenik memiliki gejala unilateral. Kemungkinan sinusitis odontogenik harus selalu dipertimbangkan ketika pasien memiliki gejala unilateral. Penegakan diagnosa meliputi riwayat perawatan gigi, pemeriksaan radiologi, serta pemeriksaan gigi. Akar gigi molar ke-2 adalah bagian yang paling dekat dengan dasar sinus maksilaris, diikuti oleh akar molar ke-1, premolar ke-2, dan premolar ke-1. Jarak yang pendek menjelaskan mudahnya perluasan proses infeksi dari gigi ini ke sinus maksilaris. Pada kasus dalam penelitian ini, molar ke-2 (40,8%) rahang atas adalah sumber infeksi yang paling umum. Diagnosis sinusitis odontogenik didasarkan pada pemeriksaan yang meliputi evaluasi gejala saat ini dan riwayat medis yang berhubungan dengan temuan fisik. Radiologi merupakan alat penting untuk menegakkan diagnosis. CT merupakan alat yang sangat baik untuk mendiagnosis sinusitis odontogenik. CT dapat menunjukkan sumber odontogenik ke dasar sinus maxilaris yang mengalami kerusakan dan jaringan yang sakit. Pemeriksaan tersebut juga dapat menentukan lokasi yang tepat dari benda asing pada sinus maxilaris. Manajemen yang menyeluruh dari gigi penyebab dan sinusitis yang terkait akan memberikan penyelesaian infeksi yang lengkap serta dapat mencegah kekambuhan dan komplikasi. Kombinasi antara pendekatan medis dan bedah umumnya diperlukan untuk pengobatan sinusitis odontogenik. Sumber infeksi harus dihilangkan untuk mencegah kekambuhan. Pembuangan akar gigi dari sinus, atau perlakuan terhadap gigi yang terinfeksi dengan ekstraksi atau terapi saluran akar, diperlukan untuk menghilangkan sumber infeksi. Pada infeksi gigi biasanya terdiri dari campuran polimikrobial aerob dan anaerob. Antibiotik oral efektif terhadap flora oral dan patogen sinus untuk 21 sampai 28 hari. Baru-baru ini,

pembedahan transnasal endiscopic sinus dianjurkan untuk pengobatan sinusitis odontogenik. Pada penelitian ini, 70,4% pasien menjalani operasi transnasal endiscopic sinus, serta 7,4% pasien dikelola dengan operasi Caldwell-Luc. Dalam hal ini, indikasi operasi Caldwell-Luc adalah untuk membuang kista radikuler besar dan gigi tambahan yang terletak di lateral sinus yang tidak dapat dilakukan dengan endoskopik. Enam pasien yang menolak pengobatan bedah diobati hanya dengan antibiotik. Tidak ada kekambuhan selama periode follow-up pada pasien ini. Penyebab paling umum dari sinusitis odontogenik pada penelitian ini adalah komplikasi terkait implan gigi. Sekarang diketahui bahwa kejadian sinusitis yang berhubungan dengan implan gigi sangat rendah meskipun frekuensi dari implan gigi tinggi. Namun, kejadian ini meningkat secara bertahap. Efek samping yang paling sering adalah infeksi jaringan lokal di sekitar implan gigi. Hal ini mungkin terkait dengan resorpsi tulang sekitarnya. Implan gigi yang ditempatkan sangat dekat dengan sinus maksilaris mungkin memudahkan penjalaran infeksi dari rongga mulut ke sinus. Perpindahan dari gigi implan ke dalam sinus maksilaris mungkin menjadi penyebab lain sinusitis maksila. Hal tersebut bereaksi sebagai benda asing dan menghasilkan infeksi kronis. Implan yang terkait dengan sinusitis odontogenik memiliki insiden lebih tinggi pada pasien yang memiliki faktor predisposisi, seperti dasar sinus maksilaris yang tipis. Peneliti menganjurkan evaluasi praoperasi untuk pasien sinusitis yang menderita gejala sebelumnya atau yang memiliki faktor predisposisi mengenai masalah drainase dari sinus paranasal melalui observasi intranasal dan pemeriksaan radiologi. Hal tersebut dapat membantu mengidentifikasi pasien dengan peningkatan risiko perkembangan sinusitis odontogenik. Sebagai kesimpulan, tidak ada perbedaan yang signifikan insiden antara pria dan wanita. Usia rata-rata dari pasien adalah 42,9 tahun. Insiden tertinggi pada dekade keempat. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara gejala sinusitis odontogenik dengan jenis sinusitis lain. Namun, sebagian besar pasien dengan sinusitis odontogenik memiliki gejala unilateral. Kemungkinan sinusitis odontogenik harus selalu dipertimbangkan ketika pasien memiliki gejala hidung unilateral. Konsultasi antara rhinologist dan dokter gigi sebelum dilakukan prosedur gigi berguna untuk mengidentifikasi pasien yang memiliki faktor risiko sinusitis odontogenik harus mampu untuk mencegah perkembangan sinusitis odontogenik, karena penyebab paling umum dari sinusitis odontogenik adalah iatrogenik.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Definisi dan Etiologi Sinusitis Maksilaris Odontogen Sinusitis merupakan inflamasi mukosa pada sinus paranasal. Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Sinus maksila terletak dekat dengan

10

akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut sinus dentogen. Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronik.1 Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi pada rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2) dan molar (M1 dan M2) dan kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3. bahkan akar-akar gigi tersebut kadang-kadang menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi dari gigi mudah naik ke atas dan menyebabkan sinusitis. 5 Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase tergantung dari gerak silia. Proses drainase juga harus melalui infundibulum yang sempit, infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior. Pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis. 6

Gambar 3. Anatomi sinus

Gambar 4. Anatomi Gigi

Infeksi odontogenik umumnya bermula dari infeksi periapikal gigi non vital, hanya sebagian kecil saja yang berasal dari infeksi jaringan periodontal, atau akibat infeksi sekunder pada tulang. Infeksi odontogenik dapat berlokasi hanya sekitar apeks gigi, atau menyebar ke tulang sekitarnya, atau bahkan menembus korteks dan selanjutnya menyebar ke jaringan lunak sekitarnya, atau pada kasus yang gawat, proses infeksi dapat sampai ke daerah yang jauh letaknya dari infeksi primer.5 Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemampuan penyebaran infeksi odontogenik:5 Jenis dan virulensi kuman penyebab. Beberapa jenis kuman cenderung menetap pada fokus infeksi primer, sedangkan jenis lainnya cenderung menyebar secara cepat ke jaringan sekitarnya. Daya tahan penderita. Penderita dengan diabetes mellitus yang tidak terkontrol, dan penderita dengan sistem imunitas rendah, maka penyebaran infeksi akan terjadi lebih cepat dan ekstensif.

11

Faktor anatomi juga sangat mempengaruhi penyebaran dan perluasan infeksi. Infeksi gigi yang memegang peranan penting sebagai fokus infeksi adalah infeksiinfeksi yang kronis yang biasanya berupa:2 A. Pulpitis Kronis Pulpitis Kronis merupakan peradangan pulpa yang bersifat kronis akibat invasi kuman atau toksinnya melalui karies gigi atau kerusakan gigi lainnya. B. Penyakit Periapikal kronik Periapikal adalah daerah lokal di sekitar apek akar gigi. Penyakit periapikal ini dapat merupakan lanjutan dari pulpitis maupun periodontitis. Penyakit periapikal antara lain meliputi granuloma periapikal, kista periapikal dan abses periapikal. C. Penyakit periodontal kronik Periodontitis kronik dapat dimulai dengan suatu gingivitis marginalis. Infeksi secara kronik berjalan ke arah apikal disertai kerusakan membran periodontal dan resorbsi procesus alveolaris yang menyebabkan terbentuknya saku periodontal, dimana eksudat dan pus terkumpul dalam saku tersebut. 3.2 Manifestasi Klinis

3.2.1 Sinusitis odontogenik akut Gejala klinis sinusitis odontogenik akut terjadi dalam beberapa hari dan menunjukkan gejala umum suatu radang akut. Gejala klasik lokal adalah rasa penuh dibawah mata pada sisi yang terlibat pada gerakan kepala, ingus yang keluar baunya mirip pus, rasa tidak enak di mulut dan penyumbatan sisi dari lubang hidung. Disamping itu sinusitis didahului oleh sakit gigi yang singkat dan jelas, dan dapat dirasakan sakit tumpul dan menjalar ke rahang atas dan keluhan sakit saraf dari seluruh bagian wajah. Jarang sekali bengkak pipi dan pelupuk mata bawah, kedua-duanya termasuk gejala periotitis yang berasal dari gigi penyebab.5 3.2.2 Sinusitis odontogenik subakut dan kronis Pada sinusitis subakut dan kronis sering tidak terdapat gejala radang yang jelas. Dalam menentukan diagnosa harus dipertimbangkan dulu apakah benar-benar terdapat sinusitis dan apakah berasal dari odontogenik. Hampir semua penderita mengeluhkan perasaan sakit yang sedang sampai berat pada separuh bagian wajah, dan perasaan penuh dibawah mata pada saat membungkuk atau telah lama mempunyai keluhan sakit kepala. Kadang terdapat obstruksi nasal yang memberikan perasaan pilek yang sulit sembuh dengan pengobatan. Pada

12

kebanyakan penderita terdapat aliran pus yang berbau busuk dan juga merasakan perasaan tidak enak pada mulut, yang disebabkan pus dari nasofarings. Terdapat riwayar pernah menderita sakit gigi pada gigi penyebabnya, terkadang diikuti dengan bengkak pada wajah. Pada pemeriksaan intra oral, gigi dapat terasa sakit ringan pada perkusi.5 3.3 Penegakan Diagnosa Diagnosis sinusitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas adalah adanya pus di meatus medius atau di daerah meatus superior. Kriteria Rinosinusitis akut menurut American Academy of Otolaringology & American Rhinologic Society adalah sebagai berikut:
Tabel 4. Kriteria Diagnosis

Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan didaerah kantus medius. Pemeriksaan pembantu yang penting adalah foto polos atau CT scan. Foto polos posisi waters, PA atau lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar. Kelainan akan terlihat berupa perselubungan, batas udara-cairan atau penebalan mukosa. CT scan sinus merupakan gold standart diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. Namun, karena mahal hanya dikerjakan sbagai penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau praoperasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus. Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan mikrobiologi dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil secret dari meatus

13

medius/superior, untuk mendapat antibiotic yang tepat guna. Lebih baik lagi bila diambil dari pungsi sinus maksila.7 3.4 Penatalaksanaan Sinusitis Maksilaris Tujuan terapi ialah untuk mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan mencegah perubahan menjadi kronis. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. Bila sudah kronis, cara terbaik adalah dengan melakukan operasi. Pengobatan medikamentosa (terapi konservatif) ditujukan untuk menurunkan faktor predisposisi, mengobati serangan infeksi berulang, mengurangi edem jaringan sinus, serta memfasilitasi drainase sekresi sinus. 3.4.1 Terapi Konservatif Terapi ini diberikan pada sinusitis maksila kronis dengan perubahan mukosa yang reversible. Prinsip pengobatan ini adalah untuk memberantas infeksi, memfasilitasi drainase dan memperbaiki fungsi silia. Harapan dari terapi konservatif ini adalah terjadinya regenerasi dari mukosa sehingga fungsi silia menjadi baik dan drainase serta aerasi menjadi normal.8 Secara praktis terapi konservatif sinusitis maksila kronis meliputi:9 1. Pemakaian Antibiotika sensitivitas. Antibiotika diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang. Antibiotik yang digunakan adalah antibiotic spektrum luas, seperti: amoxicillin, ampicillin, atau eritromisin. Alternatif lain berupa amoxicillin/klavulanat, sefaklor, sefuroksim, dan trimetoprim plus sulfonamid. 2. Pemberian nasal dekongestan akan terbuka dan drainase sinus menjadi lancar. Dekongestan yang dapat diberikan antara lain: pseudoefedrin, tetes hidung fenilefrin (neosynephrine) atau oksimetazolin dapat diberikan selama beberapahari pertama infeksi namun kemudian harus dihentikan. 3. Pemberian Antihistamin Antihistamin pada penderita sinusitis maksila kronik karena alergi diberikan dalam jumlah besar untuk menghilangkan gejala-gejala alergi, kecuali bila terjadi efek samping dosisnya dikurangi. 4. Pemberian steroid 2. Nasal dekongestan digunakan untuk mencegah/ mengatasi edem mukosa sehingga ostium 1. Pemakaian antibiotika sebaiknya didahului dengan pemeriksaan bakteri, kultur dan tes

14

Pemberian steroid dimaksudkan sebagai anti udem mukosa, sehingga ostium terbuka dan selanjutnya memperbaiki drainase. Steroid hendaknya diberikan bersama antibiotika dan jangan pada penderita anak-anak untuk jangka waktu lama. 5. Pemberian analgesik Analgesik bersifat simptomatis, untuk mengurangi rasa nyeri, seperti aspirin dan asetaminofen. 6. Irigasi Antrum Irigasi antrum merupakan prosedur bedah paling sederhana yang dianjurkan bagi kasus sinusitis maksila kronis yang telah mendapat terapi medikasi tetapi tidak sembuh/ mengalami kegagalan. 3.4.2 Terapi Radikal Yang dimaksud terapi radikal di sini adalah operasi Caldwell-Luc. Indikasi terapi radikal pada sinusitis maksila kronis adalah : 1. 2. 3. Jelas terlihat perubahan mukosa yang ireversibel Perubahan mukosa menunjukkan reversibilitas, tapi dengan terapi konservatif tidak membawa hasil, atau terapi berhasil tetapi kambuh lagi. Penyebabnya odontogen Operasi ini Caldwell-Luc dilakukan dengan membuat sayatan sublabial kurang lebih dari 2 cm diatas sulkus ginggivobukalis dari insisivus 2 sampai molar 1. Sayatan dilanjutkan sampai periosteum, kemudian periosteum dilepaskan dan mukosa pipi tarik ke atas. Selanjutnya dibuat lubang pada fosa kanina dan melalui lubang tersebut mukosa yang inversibel dibersihkan.

3.4.3 Terapi Obliteratif Operasi obliterasi, yaitu menghilangkan bangunan sinus sama sekali, merupakan alternatif terakhir bila terapi radikal gagal atau mengalami rekurensi. Di sini setelah mukosa sinus diangkat sempurna, ruang sinus ditimbun dengan lemak yang diambil dari dinding ventral abdomen. 3.4.4 Terapi Odontogen

15

Sinusitis maksilaris yang dicurigai disebabkan oleh infeksi gigi, sebaiknya disarankan untuk mengatasi kerusakan gigi terlebih dahulu. Infeksi pada gigi yang tidak segera ditangani bisa menyebabkan abses dengan penimbunan nanah karena infeksi bakteri. Abses pada rahang atas inilah yang bila tidak segera ditangani bisa mengakibatkan sinusitis. Gigi dengan infeksi saluran akar gigi atau dengan kantong-kantong periodontal harus diekstraksi, sebab kerusakan tulang yang terjadi pada sinusitis odontogenik akan menyembuh kembali bila fokus infeksi dihilangkan.10

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Sedangkan sinusitis maksilaris odontogenik adalah sinusitis maksilaris yang terjadi akibat penyebaran infeksi dari gigi ke arah sinus maksilaris. Penyebab paling umum dari sinusitis odontogenik pada penelitian ini adalah komplikasi terkait implan gigi. Pada kasus dalam penelitian ini, molar ke-2 rahang atas adalah sumber infeksi sinusitik maksilaris odontogen yang paling umum. Dari penelitian didapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada insiden antara pria dan wanita. Usia rata-rata dari pasien adalah 42,9 tahun. Insiden tertinggi pada dekade keempat. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara gejala sinusitis odontogenik dengan jenis sinusitis lain. Namun, sebagian besar pasien dengan sinusitis odontogenik memiliki gejala unilateral. Kemungkinan sinusitis odontogenik harus selalu

16

dipertimbangkan ketika pasien memiliki gejala hidung unilateral. Konsultasi antara rhinologist dan dokter gigi sebelum dilakukan prosedur gigi berguna untuk mengidentifikasi pasien yang memiliki faktor risiko sinusitis odontogenik harus mampu untuk mencegah perkembangan sinusitis odontogenik, karena penyebab paling umum dari sinusitis odontogenik adalah iatrogenik. Manajemen yang menyeluruh dari gigi penyebab dan sinusitis yang terkait akan memberikan penyelesaian infeksi yang lengkap serta dapat mencegah kekambuhan dan komplikasi. 4.2 1. Saran Disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter gigi dan dokter ahli sebelum melakukan sutu prosedur pada gigi untuk menghindari komplikasi. 2. Individu yang memiliki kelainan pada giginya seperti karies gigi atau infeksi gigi harus segera melakukan tindakan perawatan gigi supaya tidak terjadi penyebaran infeksi. 3. Disarankan untuk mengunjungi dokter gigi secara rutin setiap 6 bulan sekali.

17

DAFTAR PUSTAKA 1. Hilger, Peter, A., penyakit sinus paranasalis BOEIS Buku Ajar Penyakit THT (BOEIS Fundamentals of Otolaryngology), Edisi 6,Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997. 2. 3. Daud ME. Infeksi Fokal Gigi dan Kemungkinan Terjadinya Infeksi Sekunder dalam : Simposium Gigi Sebagai Fokus Infeksi. FK UNDIP Semarang. 16 : 83. Lopatin AS, Sysolyatin SP, Sysolyatin PG, Melnikov MN. Chronic maxillary sinusitis of dental origin; is external surgical approach mandatory? Laringoscope 2002; 112:1056-9 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Mehra P, Murad H. maxillary sinus disease of odontogenic origin. Otolaryngol Clin North Am 2004;37:347-64 Hadimartana L. Pengaruh Infeksi Odontogen Pada Sinus Maksilaris. 2009. Available at : http://www.geocities.com/rangkinariwebsite/pengaruh_infeksi.html Foster TD. Buku Ajar Ortodonsi. Penerbit Buku Kedokteran EGC 1999 : 10 : 2. Merry AJ. 2001. The Maxillary Antrum. In: Oral Maxillofacial Surgery. An ObjectiveBased Textbook. Churchill Livingstone. Edinburg; 211-23. Bellenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 14 th. Philadelphia : Lea and Febiger Co. 1991. 184-6 Mangunkusumo, et al. Sinus Paranasal dalam Buku Ajar Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi 5. Balai Penerbit FK UI Jakarta. 2007 : 149 : 52 Rahardja A. Sinusitis Maksilaris Odontogen dalam Kumpulan Karya Ilmiah . FK UNDIP, Semarang 1997