You are on page 1of 9

BAB II DASAR TEORI

II. 1. Unit Merchaptane Oxydation / Merox (1600) Feed Kapasitas : Kerosese ex CDU 1 (Column Destilation Unit 1) : Lama : 1970 ton/stream day : Baru : 2119 ton/stream day Tujuan : memproduksi avtur dengan mengoksidasi mercaptane menjadi Disulfida Garis Besar Operasi : Kerosene dikontakan dengan NaOH untuk mengambil H2S kemudian dioksidasi dengan udara Hal ini bertujuan untuk mengubah mercaptane menjadi disulfida yang tak berbau dan tidak terlalu korosif Spesifikasi Produk : Tidak ada kandungan air pada suhu Flash point, oC Sulfur mercaptane, wt ppm Sg 60/60oC IBP, oC FBP, C
o

30oC 38 10 0,77 max 0,81

min max min

min 140 max 250

II. 5. Proses MEROX Aliran Proses : 1. Jet fuel feed > caustic prewash > fix bed reactor > caustic settler > water wash > salt bed > clay bed > avtur storage 2. Udara > kompresor > KO drum > Fix bed reactor

Proses yang terjadi pada unit ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

a) Pretreatment Tujuannya adalah untuk mengambil H2S atau asam naphthenik pada umpan, sebab bisa bereaksi dengan NaOH pada unggun katalis yang dapat mengurangi aktivitas katalis. Selain itu, pencucian kerosene dengan kaustik konsentrasi rendah dapat mencegah terbentuknya emulsi. Kerosene dari CDU I masuk ke caustic prewash drum 16V-1 untuk dikontakkan dengan NaOH 2Be, yang digunakan untuk mengekstrasikan merchaptan. Dari 16V-1, kerosene masuk ke sand filter 16C-1 untuk mengambil senyawa caustic dan zat pengotor.

a) Sweetening Yaitu proses oksidasi mercaptan menjadi disulfide. Reaktor yang digunakan adalah fixed bed dengan katalis activated charchoal yang ditambah merox catalyst dan dibasahi dengan NaOH. Katalis diabsorbsi ke unggun dengan dilarutkan dengan metanol. Agar kondisi unggun tetap dalam suasana basa, unggun dijenuhkan secara teratur dengan NaOH setiap 510 hari. Kerosene dari 16V-1 dicampur dengan udara bertekanan pada air mixer 16M-1 lalu masuk ke Merox reaktor 16R-1. Umpan masuk dari puncak melalui distributor dan mengalir lewat unggun untuk mengoksidasi mercaptan disulfid.

b) Post Treatment Kerosene dicuci dengan air untuk mengambil sisa kaustik dan surfactant. Kerosene kemudian dibebaskan dari air pada salt dryer dan dilewatkan pada clay treater untuk mengambil tembaga dan surfactant yang tidak larut dalam air. Proses ini bertujuan untuk memperbaiki warna produk akhir agar sesuai dengan spesifikasi. Dari reaktor, kerosene dikirim ke caustic settler 16V-4 untuk mengendapkan senyawa kaustik. Kerosene bebas senyawa kaustik kemudian masuk ke water wash drum 16V-5, lalu masuk ke salt filter 16C-2 dan clay filter 16C-3 untuk menyingkirkan kontaminan dari air tahap akhir agar sesuai dengan spesifikasi jet fuel.

II.1. Reaktor Suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi berlangsung, dari suatu bahan berubah ke bentuk bahan lainnya yang terjadi dengan sendirinya atau dengan bantuan energi seperti panas. Reaktor Merox yang digunakan pada Unit 1600 di FOC I merupakan jenis Sweetening Minalk Process Reactor. Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa reaktor ini memiliki fixed bed dan membutuhkan kaustik untuk mempertahankan suasana basa dalam reaktor. Sistem Minalk Process Reactor memungkinkan efisiensi penyerapan kaustik dari hidrokarbon secara maksimal sehingga tidak dibutuhkan lagi penyerapan dengan karbon aktif setelahnya. Selain tipe sweetening, ada pula tipe extracting untuk reaktor merox.

Gambar 1. Reaktor Fixed Bed

Gambar 2. Merox Reactor

Gambar 3. Katalis activated charcoal

Kelebihan fixed bed reactor a) Lifetime katalis lebih panjang b) Tidak membutuhkan operator yang banyak c) Hasil dari spent kaustik yang kontinyu sedikit d) Modal dan biaya perawatannya lebih murah.

Kekurangan fixed bed reactor a) rate transfer massa dan transfer panas rendah b) pemindahan katalis sangat sulit dan memerlukan shut down alat c) konversi lebih rendah

Cara kerja reaktor ini adalah reaksi oksidasi untuk mengubah senyawa merkaptan dalam kerosene menjadi disulfida pada avtur yang tidak korosif. Proses ini menggunakan katalis iron group metal chelate dalam suasana basa. Proses ini bertujuan untuk mendapatkan produk kerosene yang sesuai dengan sepesifikasi aviation fuel (avtur). Reaksi oksidasi mercaptan dengan udara secara keseluruhan adalah sebagai berikut:

Mercaptan dengan berat molekul lebih rendah larut ke NaOH. Reaksi yang terjadi:

Reaksi ini dilakukan pada suhu yang rendah dan suasana basa. Kemudian merchaptan dioksidasi dengan reaksi sebagai berikut :

Proses oksidasi mercaptan dilakukan dengan cara menaikkan temperatur, menambah jumlah udara, dan meningkatkan konsentrasi katalis.

II. 2. Pengertian Katalis

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi. Katalis dapat dibedakan kedalam dua golongan utama : katalis homogeny dan katalis heterogen. Katalis heterogen adalah katalis yang ada dalam fase berbeda dengan pereaksi dalam suatu reaksi, sedangkan katalis homogen berada dalam fasa yang sama dengan pereaksi. Secara sederhana mekanisme kerja katalis heterogen adalah dengan menyediakan suatu tempat bagi pereaktan untuk melakukan suatu reaksi. Tempat ini dapat berupa pori-pori katalis tersebut. Tempat atau pori ini dapat dapat mengarahkan pereaktan untuk bereaksi menjadi produk yang diinginkan. Katalis homogen umumnya bereaksi dengan satu atau lebih pereaksi untuk membentuk suatu perantara kimia yang selanjutnya bereaksi dengan reaktan yang lain membentuk suatu produk. Berikut ini adalah skema umum reaksi katalitik, dimana C melambangkan katalis, A dan B melambangkan reaktan.

Meskipun katalis C terkonsumsi oleh reaksi (1), namun selanjutnya direaksikan kembali oleh reaksi (2) sehingga katalis terlepas dari reaktan (A) dan terbentuk suatu produk yang diinginkan (AB). Secara keseluruhan, reaksi tersebut dapat ditulis sebagai berikut

Dalam hal ini dapat dilihat bahwa katalis tidak termakan ataupun tercipta. Namun, katalis hanya mempercepat reaksi dengan mengarahkan reaktan-reaktan untuk melakukan reaksi yang diinginkan sehingga yield dan selektivitas reaksi menjadi meningkat.

II. 3. Deaktivasi Katalis

Deaktivasi katalis atau penurunan aktivitas katalis dapat disebabkan oleh beberapa factor, yaitu: 1. Akumulasi senyawa ammonia pada katalis Hydrotreating Reaction akan mengubah senyawa Nitrogen organic yang ada dalam umpan menjadi ammonia. Jika kandungan ammonia dalam recycle gas tinggi, maka ammonia akan berebut tempat dengan umpan untuk mengisi sisi aktif katalis. Jika sisi aktif katalis tertutup oleh ammonia, maka aktivitas katalis akan langsung menurun. Untuk menghindari terjadinya akumulasi ammonia pada permukaan katalis, maka diinjeksikan Wash water pada effluent reactor. Dalam hal ini, ammonia diharapkan akan larut dalam air dan tidak menjadi impurities bagi recycle gas. Amonia bersifat racun sementara bagi katalis. Jika injeksi Wash water dihentikan atau mengalami penurunan, maka akan terjadi akumulasi ammonia pada permukaan katalis.

2. Coke Coke dapat terjadi karena beberapa hal berikut: Temperatur reaksi yang tidak sesuai. Dalam hal ini temperature terlalu tinggi atau umpan minyak terlalu ringan. Tekanan reactor atau tekanan gas hydrogen yang rendah Jumlah recylcle gas yang tidak terpenuhi. Dalam hal ini, perbandingan jumlah H2: HC yang masih lebih rendah daripada yang ada pada desain proses. Pembentukan Coke dapat dihambat dengan cara menaikan menaikan tekanan partial hydrogen atau penggunaan Carbon bed absoeber untuk menyerap HPNA.

3. Keracunan logam Pada proses penghilangan logam dari umpan, senyawa logam organic terdekomposisi dan menempel pada permukaan katalis, Jenis logam yang biasanya menjadi racun katalis hydrocracker adalah nikel, vanadium, ferro, natrium, kalsium, magnesium, silica, arsenic, timbale, dan phosphor. Keracunan katalis oleh logam bersifat permanen dan tidak dapat hilang dengan cara regenerasi. Keracunan logam dapat dicegah dengan membatasi kandungan logam dalam umpan. Batasan maksimum kandungan

logam yang terdapat pada umpan hydrotreater adalah 1.5 ppmwt untuk nikel, 2 ppmwt untuk Vanadium, Ferro dan logam lain, serta 0.5 ppmwt untuk Natrium.

4. Kondisi operasi Kondisi operasi yang melebihi desain akan menyebabkan laju pembentukan coke meningkat, shingga akan meningkatkan laju deaktivasi katalis.

II. 4. Evaluasi Kinerja Katalis

Kinerja katalis dapat diketahui atau diukur dengan beberapa parameter sebagai berikut: 1. Analisa laboratorium akan kandungan sulfur, nitrogen, dan olefin pada produk. Jika kandungan sulfur, nitrogen, dan olefin naik pada temperature inlet raktor dengan kapasitas dan komposisi yang sama, maka kinerja katalis sudah mulai menurun dan untuk menjaga kandungan sulfur, nitrogen dan olefin yang sama maka temperature inlet reactor harus dinaikan.

2. Perubahan suhu. Reaksi oksidasi pada MEROX adalah reaksi eksotermis. Berdasarkan tinjauan thermodinamika, indikasi tingkat konversi atau aktivitas dari suatu reaksi atau katalis berbanding lurus dengan besarnya panas yang dihasilkan oleh reaksi tersebut. Apabila perubahan suhu inlet raktor dengan outlet reaktor mulai menurun maka hal ini menunjukan panas yang dihasilkan reaksi tersebut menurun dan mengindikasikan penurunan konversi atau penurunan aktivitas katalis.

3. Perubahan tekanan (Pressure drop). Perubahan pressure drop pada reactor terjadi karena adanya impurities yang mengendap pada permukaan katalis. Secara umum, impurities ini terjadi karena feed mengandung senyawa hasil cracking yang sangat besar atau feed berasal dari tangki penyimpanan yang tidak dilengkapi dengan gas/nitrogen blanketing sehingga feed akan bereaksi dengan oksigen dan akan membentuk gums pada permukaan katalis

II. 6. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju deaktivasi katalis

Variabel-variabel yang berpengaruh di reaktor adalah: 1) Caustic Soda Reaktor terdapat satu bed activated charcoal yang diselubungi dengan catalyst dan dibasahi dengan larutan caustic soda berdasarkan disain adalah 15 % settler volume. Penggantian dengan fresh caustic soda secara periodik sangat membantu untuk menaikkan efektivitas katalyst.

2) Reactor Operating Temperature Suhu juga turut berperan dalam mempengaruhi laju reaksi. Apabila suhu pada suatu rekasi yang berlangusng dinaikkan, maka menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga tumbukan yang terjadi semakin sering, menyebabkan laju reaksi semakin besar dan sebaliknya. Suhu reaktor sesuai disain adalah 40 50C.

3) Tekanan Sistem Unit Merox Tekanan sistem sesuai disain adalah 3,5 kg/cm2, akan berpengaruh pada sifat kelarutan (solubility) udara pada stream umpan. Dengan solubility udara yang rendah akan menyebabkan terbentuknya ruang gas pada reaktor yang berpotensi terjadinya channeling sehingga dapat menyebabkan berkurangnya luas permukaan kontak katalis.

4) Disain Umpan Desain umpan ini dipengaruhi oleh komposisi dalam umpan yang mempengaruhi kondisi operasi proses, berikut desain secara umum untuk kerosene.