P. 1
Ketangguhan Dan Profesionalisme Pertahanan-Keamanan Indonesia_ Modalitas Utama Pembangunan Berkelanjutan Di Era Globalisasi

Ketangguhan Dan Profesionalisme Pertahanan-Keamanan Indonesia_ Modalitas Utama Pembangunan Berkelanjutan Di Era Globalisasi

3.0

|Views: 7,964|Likes:
Published by Tangguh
KATA PENGANTAR

Si vis pacem para bellum
“jika Anda menginginkan perdamaian, bersiaplah berperang”

Peringatan hari kemerdekaan ke – 63 tahun Republik Indonesia beberapa waktu
yang lalu, sudah selayaknya membuat kita berinstropeksi diri sebagai sebuah
bangsa. Sudah sejauh mana bangsa ini berjalan. Salah satu hal yang sangat terkait
dengan proses perebutan kemerdekaan adalah perjuangan yang heroik dari tentara
dan rakyat melawan dan mengusir penjajah.

Masa-masa revolusi fisik itu pantas kita kenang dan kita refleksikan untuk
kembali mempertanyakan bagaimanan nasib militer kita hingga hari ini
khususnya, dan kondisi sistem pertahanan dan keamanan kita pada umumnya.

Momentum ini mengajak hati dan pikiran kami untuk menuliskan sedikit
persolaan pertahanan dan keamanan Indonesia yang dapat dibahas dalam karya
tulisa ilmiah ini. Satu i’tikad dari kami, bahwa kami menginginkan terwujudnya
Indonesia yang kuat, berwibawa, bermartabat, dan disegani negara-negara lain.

Salah satunya dengan cara memiliki sistem pertahanan dan keamanan yang
tangguh dan profesional.

Kami menyadari karya tulis ini belum sempurna dan komprehensif dalam
membahas persoalan, tetapi kami bangga karena niat dan usaha kami terwujud
dengan selesainya penulisan karya tulis ini setelah bekerja keras mengumpulkan
dan menganalisis data dari berbagai sumber. Kami bangga karena bisa
menyumbangkan sumbangan akademis, sekalipun masih sederhana. Setidaknya
kami telah berusaha untuk berkontribusi dalam perluasan wacana pembenahan
sistem pertahanan dan keamanan kita.
Kepada semua pihak yang membaca dan menilai karya ilmiah ini, kami
mengharapkan diskusi, saran, dan kritik untuk semakin membuka cakrawala
berpikir kami, di samping untuk semakin mendinamisasi wacana dalam karya tulis
ini.

Depok, 20 Agustus 2008
KATA PENGANTAR

Si vis pacem para bellum
“jika Anda menginginkan perdamaian, bersiaplah berperang”

Peringatan hari kemerdekaan ke – 63 tahun Republik Indonesia beberapa waktu
yang lalu, sudah selayaknya membuat kita berinstropeksi diri sebagai sebuah
bangsa. Sudah sejauh mana bangsa ini berjalan. Salah satu hal yang sangat terkait
dengan proses perebutan kemerdekaan adalah perjuangan yang heroik dari tentara
dan rakyat melawan dan mengusir penjajah.

Masa-masa revolusi fisik itu pantas kita kenang dan kita refleksikan untuk
kembali mempertanyakan bagaimanan nasib militer kita hingga hari ini
khususnya, dan kondisi sistem pertahanan dan keamanan kita pada umumnya.

Momentum ini mengajak hati dan pikiran kami untuk menuliskan sedikit
persolaan pertahanan dan keamanan Indonesia yang dapat dibahas dalam karya
tulisa ilmiah ini. Satu i’tikad dari kami, bahwa kami menginginkan terwujudnya
Indonesia yang kuat, berwibawa, bermartabat, dan disegani negara-negara lain.

Salah satunya dengan cara memiliki sistem pertahanan dan keamanan yang
tangguh dan profesional.

Kami menyadari karya tulis ini belum sempurna dan komprehensif dalam
membahas persoalan, tetapi kami bangga karena niat dan usaha kami terwujud
dengan selesainya penulisan karya tulis ini setelah bekerja keras mengumpulkan
dan menganalisis data dari berbagai sumber. Kami bangga karena bisa
menyumbangkan sumbangan akademis, sekalipun masih sederhana. Setidaknya
kami telah berusaha untuk berkontribusi dalam perluasan wacana pembenahan
sistem pertahanan dan keamanan kita.
Kepada semua pihak yang membaca dan menilai karya ilmiah ini, kami
mengharapkan diskusi, saran, dan kritik untuk semakin membuka cakrawala
berpikir kami, di samping untuk semakin mendinamisasi wacana dalam karya tulis
ini.

Depok, 20 Agustus 2008

More info:

Published by: Tangguh on Jul 10, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

Ketangguhan dan Profesionalisme Pertahanan-Keamanan Indonesia: Modalitas Utama Pembangunan Berkelanjutan di Era Globalisasi

oleh: Andi Rosilala (0706291193) Tangguh (0706291426) Departemen Ilmu Hubungan Internasional, FISIP UI Disusun untuk ikut serta dalam Olimpiade Ilmiah Mahasiswa Kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa 2008

KATA PENGANTAR Si vis pacem para bellum “jika Anda menginginkan perdamaian, bersiaplah berperang” Peringatan hari kemerdekaan ke – 63 tahun Republik Indonesia beberapa waktu yang lalu, sudah selayaknya membuat kita berinstropeksi diri sebagai sebuah bangsa. Sudah sejauh mana bangsa ini berjalan. Salah satu hal yang sangat terkait dengan proses perebutan kemerdekaan adalah perjuangan yang heroik dari tentara dan rakyat melawan dan mengusir penjajah. Masa-masa revolusi fisik itu pantas kita kenang dan kita refleksikan untuk kembali mempertanyakan bagaimanan nasib militer kita hingga hari ini khususnya, dan kondisi sistem pertahanan dan keamanan kita pada umumnya. Momentum ini mengajak hati dan pikiran kami untuk menuliskan sedikit persolaan pertahanan dan keamanan Indonesia yang dapat dibahas dalam karya tulisa ilmiah ini. Satu i’tikad dari kami, bahwa kami menginginkan terwujudnya Indonesia yang kuat, berwibawa, bermartabat, dan disegani negara-negara lain. Salah satunya dengan cara memiliki sistem pertahanan dan keamanan yang tangguh dan profesional. Kami menyadari karya tulis ini belum sempurna dan komprehensif dalam membahas persoalan, tetapi kami bangga karena niat dan usaha kami terwujud dengan selesainya penulisan karya tulis ini setelah bekerja keras mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber. Kami bangga karena bisa menyumbangkan sumbangan akademis, sekalipun masih sederhana. Setidaknya kami telah berusaha untuk berkontribusi dalam perluasan wacana pembenahan sistem pertahanan dan keamanan kita. Kepada semua pihak yang membaca dan menilai karya ilmiah ini, kami mengharapkan diskusi, saran, dan kritik untuk semakin membuka cakrawala berpikir kami, di samping untuk semakin mendinamisasi wacana dalam karya tulis ini. Depok, 20 Agustus 2008

DAFTAR ISI BAGIAN AWAL Kata Pengantar ................................................................................................. i Daftar Isi …...….…………………………....………………………………… ii Daftar Tabel........................................................................................................ iv Ringkasan ……………...........………………………………………………... BAGIAN INTI I. I.1. I.2. I.3. II. II.1. II.2. II.3. II.4. III. IV. PENDAHULUAN ................................................................................. Latar Belakang ……....……………………………………..............….. Perumusan Masalah ......……………………………......................…… Tujuan dan Manfaat Tulisan ….........…………………………..………. TELAAH PUSTAKA ........................................................................... Realisme .……........………………………………........………………. Pendekatan-Pendekatan terhadap Konsep Pertahanan-Keamanan Konsep Pertahanan-Keamanan yang Tangguh Konsep Pertahanan-Keamanan yang Profesional METODE PENULISAN ... ..…………....……… …….………....… 1 1 3 3 5 5 6 7 8 v

…………………………………....……… 11

PEMBAHASAN ..................................................................................... 12

IV.1. Definisi dan Fungsi Pertahanan-Keamanan Bagi Negara-Bangsa........... 12 IV.2. Signifikansi dan Relevansi Kekuatan Pertahanan-Keamanan di Era Globalisasi................................................................................................ 13 IV.3. Relevansi dan Signifikansi Ketangguhan dan Profesionalisme PertahananKeamanan dalam Proses Pembangunan Berkelanjutan ........................... 15 A. Pemberontakan, Separatisme, dan Terorisme ………………….....…… 16 B. Bencana Alam …………………………………....………………….… 17 IV.4. Realitas Ketangguhan Pertahanan-Keamanan Indonesia......................... 18 A. Kondisi Alutsista ………………………………....…………………..... 18 B. Anggaran Pertahanan-Keamanan dalam APBN C. SDM dan Strategi Pertahanan-Keamanan …....………..……. 20 …………....……...……. 22

IV.5. Realitas Profesionalisme Pertahanan-Keamanan Indonesia .................... 23 A. Keterlibatan dalam Politik ……………………………………….....…. 25 B. Aktivitas Bisnis Militer …………………………………………......…. 26 IV.6. Solusi untuk Realitas Ketangguhan serta Profesionalisme PertahananKeamanan Indonesia................................................................................ 27 A. Solusi Taktis ……………………………………………………......….. 27 B. Solusi Strategis ..……………………………………………..........…… 31 BAGIAN AKHIR V. PENUTUP ……………………………………………....…....……... 33 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN CURRICULUM VITAE PENULIS

DAFTAR TABEL Tabel 1 : Perbedaan Pendekatan Tradisional dan Nontradisional ............ Tabel 2 : Perbedaan Konsep Profesionalisme Militer ……....………...….. 7 8

Tabel 3 : Kondisi Alutsista Tiga Matra ….......…………………….....…… 20 Tabel 4 : Perbandingan Anggaran Militer Negara ASEAN …………....… 22 Tabel 5 : Fungsi Militer dari Masa ke Masa ……...………………………. 25 Tabel 6 : Tingkat Kesejahteraan Prajurit ………………………....……… 28 Tabel 7 : Anggaran Militer dari Tahun ke Tahun ….....………………….. 30 Lampiran-Lampiran Lampiran 1 …………………….… Peta keterlibatan militer dalam politik masa orde baru Lampiran 2 ……………....……… Posisi Indonesia dalam hal anggaran pertahanan di antara negera-negara di dunia Lampiran 3 ...…………………….. Gaji TNI – Polri data terakhir 2007 setelah mengalami penyesuaian

BAB I PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang

Saat ini kita hidup di era kemajuan. Di antara berbagai kemajuan yang paling terasa manfaatnya adalah kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab, dengannya kemudahan demi kemudahan dirasakan oleh umat manusia. Namun, kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan segala macam dan bentuknya belum dapat meninggalkan sengketa dengan kekerasan senjata antarwarga bangsa. Bahkan, salah satu pemicu terjadinya peperangan adalah adanya kemajuan teknologi persenjataan yang makin mutakhir. Perang yang merupakan penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan

pertentangan antarnegara tetap terjadi, meskipun selalu ada niat dan usaha untuk meniadakannya. Oleh sebab itu, menjadi kewajiban setiap bangsa untuk memberikan perhatian besar kepada masalah pertahanan-keamanan jika hendak mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa bangsa yang paling sedikit mengalami gangguan kedaulatan adalah bangsa yang mampu melakukan pertahanan-keamanan secara efektif dalam melindungi kepentingan dan kedaulatan negaranya. Bangsa Indonesia berkewajiban membangun pertahanan-keamanan dengan sebaik-baiknya. Memang, bangsa Indonesia mencintai dan mengutamakan perdamaian. Setelah kemerdekaan, bangsa ini berharap dapat hidup dengan damai dan tenteram tanpa adanya ancaman dan intervensi, lebih-lebih agresi dan okupasi, yang bersifat militer terhadap kedaulatan bangsa ini. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, bangsa Indonesia telah mengalami banyak kerawanan di sektor pertahanan-keamanan, seperti pemberontakan dalam negeri (insurgency), separatisme (separatism), dan terorisme (terrorism). Contoh masing-masing secara berturut-turut adalah Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Semesta (PRRI/Permesta); Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), dan Organisasi Papua Merdeka (OPM); serta

Bom Bali I dan II, Bom J.W. Marriott, Bom Kuningan, dan Bom Istiqlal. Di saat bangsa Indonesia menghadapi banyak ancaman keamanan seperti di atas, secara bersamaan, unsur aparatur negara yang secara langsung berfungsi menanganinya justru belum optimal karena dampak masalah di masa silam yang kelam, ketika Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) – sekarang disebut Tentara Nasional Indonesia (TNI) – banyak campur tangan terhadap urusan politik dan bisnis serta menerapkan sistem pemerintahan represif. Padahal, hal itu bertentangan dengan konsep profesionalisme pertahanan-keamanan. Dan, kondisi kelam ini berpotensi muncul kembali di era reformasi ketika tidak ditangani secara serius. Apabila hal ini benar terjadi, akan menyulitkan unsur aparatur negara ini untuk dapat mengatasi kerawanan-kerawanan di atas. Proses penanganan masalah internal tersebut, dalam perkembangannya,

mengalami pasang surut. Misalnya, ketidaktegasan dan ketidaksinkronan undangundang yang mengatur keterlibatan TNI dalam politik dan bisnis. Salah satu dampaknya adalah lambannya penyelesaian praktik-praktik bisnis militer yang bermasalah. Di samping itu, masih banyak pula purnawirawan yang menduduki jabatan politik strategis dengan cara memensiunkan diri dan menjadi warga sipil. Selain itu, di era pascareformasi, ketika telah berlangsung upaya-upaya menghilangkan represivitas militer, justru tercoreng dengan terjadinya kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Timor-Timur (1999), konflik Maluku (1999), dan pemberlakuan darurat militer Aceh (2003-2004). Proses penanganan masalah di atas membutuhkan keseriusan dan menjadi agenda prioritas. Namun, prioritas penanganan masalah pertahanan-keamanan di negara berkembang, termasuk Indonesia, seringkali terkalahkan oleh masalah-masalah lain, seperti ekonomi, politik, dan budaya. Sehingga, seluruh perhatian dan potensi, termasuk alokasi anggaran, lebih terfokus pada masalah-masalah tersebut, sementara isu pertahanan-keamanan dinilai sebagai isu sekunder karena kita tidak hidup di zaman peperangan, melainkan era globalisasi, di mana pertumbuhan ekonomi dan kemantapan politik dan demokrasi menjadi indikator kuat dan tidaknya sebuah negara. Sebagai negara berkembang yang sedang giat melakukan pembangunan, Indonesia seharusnya tidak mengabaikan pembangunan sektor

pertahanan-keamanan ini.

I.2.

Perumusan Masalah

Memiliki sistem pertahanan-keamanan yang tangguh dan profesional menjadi sebuah keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Keberadaannya tidak bisa disepelekan apalagi diabaikan karena terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi dan kemapanan politik dan demokrasi. Era globalisasi, yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan komunikasi sebagai dampak kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak serta merta membuat kita terbebas sama sekali dari persengketaan dari tingkat paling kecil hingga peperangan yang paling ganas. Realitas kondisi sistem pertahanan-keamanan Indonesia saat ini memang masih jauh dari ideal. Minimnya anggaran, alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang sudah tua dan banyak yang tidak berfungsi lagi, serta rendahnya kehandalan personilnya adalah beberapa indikator lemahnya sistem pertahanan Indonesia. Oleh karena itu, tulisan ini ingin menjawab beberapa persoalan penting terkait sistem pertahanan-keamanan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia. Persoalanpersoalan yang ingin dijawab tersebut adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana relevansi ketangguhan dan profesionalisme pertahanankeamanan dalam proses pembangunan berkelanjutan? 2. Bagaimana relevansi ketangguhan dan profesionalisme pertahanankeamanan dalam proses pembangunan berkelanjutan di era globalisasi? 3. Bagaimana realitas ketangguhan pertahanan-keamanan Indonesia? 4. Bagaimana realitas profesionalisme pertahanan-keamanan Indonesia? 5. Apa saja solusi untuk membenahi kondisi ketangguhan serta

profesionalisme pertahanan-keamanan Indonesia?

I.3.

Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan analisis mengenai: 1. Relevansi ketangguhan dan profesionalisme pertahanan-keamanan dalam proses pembangunan berkelanjutan. 2. Relevansi ketangguhan dan profesionalisme pertahanan-keamanan dalam proses pembangunan berkelanjutan di era globalisasi. 3. Realitas ketangguhan pertahanan-keamanan Indonesia. 4. Realitas profesionalisme pertahanan-keamanan Indonesia. 5. Solusi untuk membenahi kondisi ketangguhan serta profesionalisme pertahanan-keamanan Indonesia. Manfaat yang diharapkan dari pembuatan karya tulis ini adalah untuk: 1. Memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang pertahanan-keamanan. 2. Memberikan gambaran bagi praktisi dan akademisi tentang konsep ketangguhan dan profesionalisme pertahanan-keamanan. 3. Memberikan masukan bagi para pembuat kebijakan Republik Indonesia agar lebih memfasilitasi aparat pertahanan-keamanan dengan alutsista, anggaran, dan SDM yang lebih ideal demi menunjang ketangguhannya. 4. Memberikan masukan bagi pemerintah agar meniadakan unsur

pertahanan-keamanan dalam jabatan politik strategis dan memberangus aktivitas bisnis militer aparat pertahanan-keamanan demi menciptakan atmosfer profesionalisme mereka. 5. Memberikan opsi solusi taktis dan solusi strategis menyangkut ketangguhan dan profesionalisme pertahanan-keamanan.

BAB II TELAAH PUSTAKA

II.1. Realisme Joseph S. Nye, Jr. mengungkapkan bahwa Realisme adalah tradisi dominan dalam memandang politik internasional. Dalam pandangan Realisme, masalah sentral politik internasional adalah perang dan penggunaan angkatan bersenjata. Mazhab ini lahir dari Thomas Hobbes, yang hidup di Inggris abad ke-17 ketika tengah berlangsung perang sipil, sehingga bersenjata, penekanan dan utamanya adalah negara pada yang ketidakamanan, angkatan keberlangsungan

dirangkum dalam istilah “state of war” (keadaan perang). Pemikir Realisme modern antara lain adalah mantan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon dan Henry Kissinger. Kaum Realis menekankan kontinuitas; kekerasan dan perang adalah bahaya kekinian yang akan selalu berulang. Prospek perang dalam sistem anarki1 tersebut membuat negara menjaga keberadaan tentaranya bahkan dalam waktu-waktu damai. Daniel S. Papp menambahkan bahwa pandangan Realpolitik ini bahkan menganggap menyediakan pertahanankeamanan adalah tanggung jawab negara. Kepentingan nasional suatu negara paling sering didefinisikan sebagai penambahan kekuatan dalam berbagai bentuk khususnya kekuatan militer. Realisme atau Realpolitik mengutamakan kebijakan luar negeri daripada kebijakan domestik, pemeliharaan kekuatan militer yang besar, dan penekanan pada nasionalisme. Mengutamakan negara sebagai aktor internasional uniter dengan proses pembuatan keputusan tunggal, pada pokoknya rasional dalam tindakannya, dan berargumen bahwa keamanan nasional adalah isu internasional paling penting. Secara sederhana, Realisme dapat dibedakan dari mazhab lainnya dalam Ilmu
1 Sistem anarki adalah bentuk politik dunia yang terdiri dari negara-negara yang bersatu padu namun tidak memunyai pemerintahan yang lebih tinggi di atas mereka. Politik internasional sekarang ini adalah sistem negara teritorial seperti sistem anarki ini, dengan absennya kedaulatan umum dan pemimpin di atas entitas berupa sejumlah negara-bangsa. Lihat Joseph S. Nye, Jr., Understanding International Conflict: An Introduction to Theory and History, (United States: Longman, 1997), hlm. 2.

Hubungan Internasional dalam empat dimensi, yaitu aktor primernya yang berupa negara-bangsa, isu primernya yang berupa keamanan nasional, metode analisisnya yang menekankan kapabilitas negara, dan perspektifnya yang berada dalam ruang lingkup nasional.

II.2. Pendekatan-Pendekatan terhadap Konsep Pertahanan-Keamanan Tim ProPatria Institute membedakan pendekatan-pendekatan dalam memandang konsep keamanan menjadi dua macam, yaitu pendekatan tradisional dan nontradisional yang perbedaan-perbedaannya melibatkan beberapa dimensi utama konsep keamanan itu sendiri. Pendekatan yang pertama, yaitu pendekatan tradisional, berakar dari mazhab Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional dan menyatakan bahwa konsep keamanan merupakan sebuah kondisi yang terbebas dari ancaman militer atau kemampuan suatu negara untuk melindungi negara-bangsanya dari serangan militer yang berasal dari lingkungan eksternal (the absence of a military threat or with the protection of the nation from external overthrow or attack), sehingga sektor analisis yang harus disoroti adalah kapabilitas militer suatu negara untuk mempertahankan diri. Sementara itu, pendekatan yang kedua, yaitu pendekatan nontradisional, berakar dari perubahan substansial Ilmu Hubungan Internasional pasca-Perang Dingin yang memperluas ruang lingkupnya yang awalnya hanya menekankan politik dan keamanan menjadi mementingkan pula isu-isu ekonomi dan aspek-aspek lainnya dengan sangat luas. Menurut pendekatan nontradisional ini, sektor militer hanyalah salah satu aspek penting dari konsep keamanan, yang dipengaruhi pula oleh sektor politik, ekonomi, sosiokultural, dan lingkungan. Secara sederhana, perbedaan antara pendekatan tradisional dan nontradisional dalam memandang konsep keamanan dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut.2

Perbedaan Pendekatan Tradisional dan Nontradisional
2 Tim ProPatria Institute, Mencari Format Komprehensif Sistem PertahananKeamanan Negara, (Jakarta: ProPatria Institute, 2006), hlm. 37.

Dimensi Keamanan Asal ancaman (origin of threats) Sifat ancaman (nature of threats) Pihak yang bertanggung jawab untuk menyediakan keamanan (the responsibility for providing security) Nilai inti (core values)

Pendekatan Tradisional Negara rival Kapabilitas militer

Pendekatan Nontradisional Nonnegara: domestik dan transnasional Nonmiliter: ekonomi, politik domestik, lingkungan hidup, terorisme, penyakit menular, narkoba Negara, organisasi internasional, individu

Negara

Kemerdekaan nasional, integritas teritorial, kedaulatan

Kesejahteraan ekonomi, hak asasi manusia, perlindungan terhadap lingkungan hidup

II.3. Konsep Pertahanan-Keamanan yang Tangguh Pertahanan-keamanan yang tangguh haruslah memiliki strategi dalam menghadapi ancaman dan tipologi konflik yang kompleks yang disusun dengan mempertimbangkan (a) konteks dan eskalasi ancaman; (b) manifestasi konflik; (c) efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya pertahanan-keamanan negara; serta (d) penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, dan hak-hak asasi manusia. Proses penyusunan kebijakan dan strategi pertahanan-keamanan negara harus dirumuskan melalui mekanisme inklusif partisipatoris, dilaksanakan secara konsisten, serta dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu contoh perumusan tersebut relevan dengan konsep Postur TNI yang ideal menurut Connie Rahakundini Bakrie. Menurutnya, “terkait dengan persoalan gelar kekuatan TNI, secara ideal, dengan mempelajari luasnya wilayah daratan, lautan dan udara, serta daerah perbatasan dengan negara tetangga yang dihadapkan pada potensi ancaman, dapat dibagi kedalam empat wilayah pertahanan, dan menurut saya secara umum, kekuatan TNI AD yang ideal harus menggelar sebanyak 816 batalion tempur dan teritorial, 4 divisi terpusat (Kostrad dan Kopassus) serta 16 skuadron heli-serbu dan heli-angkut. Sedangkan kekuatan TNI AL yang ideal menggelar sebanyak 14 skuadron tempur (KRI), 42 skuadron terbang (KAL) yang berada dalam 4 kapal induk, 4 strategic section dengan kekuatan 14 kapal selam di mana 4 unit di antaranya strategic submarine serta 14 brigade marinir. Terakhir, kekuatan TNI AU yang ideal menggelar 140 skuadron

tempur, 7 skuadron bomber, 27 satuan pertahanan udara, 40 satuan radar, dan 1 satuan strategic missile.”3

II.4. Konsep Pertahanan-Keamanan yang Profesional Yahya A. Muhaimin membedakan profesionalisme militer menjadi dua, yaitu profesionalisme konvensional (conventional professionalism) dan profesionalisme baru (new professionalism). Kedua pengertian profesionalisme militer ini memiliki perbedaan yang cukup substantif, yang digambarkan dalam tabel sebagai berikut.4 Perbedaan Konsep Profesionalisme Militer
Dimensi Perbedaan Awal perkembangan Asal ancaman Profesionalisme Konvensional di negara-negara Barat dari luar (external threat) dan juga dari dalam negeri Profesionalisme Baru pada 1960-an di negara-negara nonkomunis, terutama negara berkembang (negara berada dalam keadaan perang semesta/total war, sehingga ancaman yang dihadapi) bukan hanya datang dari luar batas teritorial negarabangsa, namun juga ada di dalam negara berupa gerakan komunis, kemiskinan dan kebodohan, serta kesenjangan dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik mendayagunakan seluruh potensi nasional dan kemampuan seluruh bangsa dengan mewujudkan paduan dan interaksi yang dinamis antara keamanan nasional dengan pembangunan nasional, atau tidak terpisahnya aspek hankam dari aspek nonhankam di dalam pengelolaan negara (berpandangan bahwa kelompok sipil di negara berkembang tidak memiliki

Tuntutan profesi

memiliki daya tempur yang handal, baik pada segi software, hardware, maupun brainware, sehingga dapat menopang kelestarian dan kehidupan serta eksistensi bangsa, negara, dan masyarakat

Konsep militer yang profesional

tidak boleh disibukkan oleh urusan nonhankam, yaitu

3 4

Connie Rahakundini, Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2007. Yahya Muhaimin, http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/04/01/0038.html, diakses pada 17 Agustus 2008 14:07.

bidang-bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya karena dianggap akan mengurangi konsentrasi perhatian militer pada urusan hankam, sehingga harus dibebankan kepada kelompokkelompok bukan militer (sipil)

keterampilan dan organisasi yang memadai untuk memenangkan peperangan dalam bentuk baru tersebut sehingga kalangan militer) ikut mengatasi segala ancaman nasional yang spektrumnya amat luas itu (pertahanan keamanan sekaligus bidangbidang nonhankam seperti sosial, ekonomi, politik, dan budaya) bersama-sama dengan kalangan sipil

Pada perkembangannya, muncul istilah baru untuk merujuk kedua tipe profesionalisme militer ini, yaitu militer profesional untuk profesionalisme konvensional dan militer pretorian5 untuk profesionalisme baru. Karena di dunia terdapat tipe militer profesional yang pada saat-saat damai hanya menjalankan fungsi pertahanan keamanan (stabilisator) tetapi pada saat-saat revolusi (temporer) berubah menjadi tentara pretorian yang juga menjalankan fungsi sosial politik (dinamisator), pada akhirnya muncul istilah militer revolusioner untuk menyebut militer tipe ini. Karakteristik dan penyebab keterlibatan militer dalam politik ini dirumuskan Eric A Nodlinger dalam bukunya Militer dalam Politik dan Amos Perlmutter dalam Militer dan Politik. Oleh beberapa kalangan, rezim militer yang melibatkan diri dalam politik ini disebut “bureaucratic authoritarian regime”, yang terdiri atas para birokrat, teknokrat, modal, dan rezim militer. Adanya dua tipe profesionalisme militer yang saling berbeda secara substansial ini menimbulkan perdebatan tentang tipe militer manakah yang terbaik. Pada akhirnya, profesionalisme militer konvensional (selanjutnya disebut militer profesional) yang apolitik memenangkan perdebatan ini. Poin-poin penting yang menyebabkan militer harus profesional, tidak memiliki wewenang politik/pretorian adalah sebagai berikut. 1. Militer adalah angkatan bersenjata yang dimaksudkan untuk menyebabkan demoralisasi musuh, sehingga kehadirannya di ruang publik akan

5

Pretoria adalah ibukota administratif Republik Afrika Selatan. Kata “prajurit pretorian” digunakan oleh Eric A Nodlinger dan Amos Perlmutter untuk menyebut militer yang melibatkan diri dalam politik dengan karakteristik dan penyebabnya, seperti tipe tipe profesionalisme militer baru.

menghadirkan ketakutan, selain kemungkinan represif yang lebih besar. 2. Sifat tentara adalah sentripetal, solid, dan monolitik. Kondisi tubuh militer menuntut serba disiplin, main komando, dan hierarki yang sangat kuat. Dalam tradisi militer secara universal tak ditemukan musyawarah mencapai mufakat atau kearifan dalam pengambilan keputusan. Hal itu bertentangan dengan dunia pemerintahan yang mengedepankan permusyawaratan perwakilan. 3. Militer memiliki organisasi yang rigid dan jelas. Mereka tidak diajarkan pendidikan untuk berpolitik praktis, tetapi dididik dengan berbagai strategi peperangan guna menjadi alat pertahanan-keamanan negara yang kuat.6

6

Poin ke-2 dan ke-3 disadur secara bebas dari buku Muhadjir Effendy, Profesionalisme Militer, Profesionalisasi TNI (Malang, UMM Press: 2008).

BAB III METODE PENULISAN

Penulisan karya tulis ilmiah ini dilakukan berdasarkan metode kualitatif, bersifat deskriptif, dan disertai analisis. Deskriptif karena penelitian yang ada dalam karya tulis ilmiah ini berusaha menjelaskan bahwa relevansi dan signifikansi persoalan pertahanan-keamanan tetap berlaku sekalipun kita hidup di era globalisasi. Ia juga berusaha menggambarkan bagaimana hubungan yang saling terkait antara sektor pertahanan-keamanan dengan proses pembangunan di Indonesia. Penulisan karya tulis ilmiah ini juga bersifat analitis karena berusaha melihat lebih dalam konsepsi sebuah sistem pertahanan-keamanan yang ideal. Berpijak dari itu, analisis dilanjutkan kepada realitas kondisi ketangguhan dan profesionalisme sistem pertahanan-keamanan yang ada di Indonesia. Hal ini bertujuan memetakan persoalan dan melihat seberapa ideal pertahanan-keamanan Indonesia, sehingga dapat diperoleh rekomendasi solusinya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini adalah studi literatur. Data yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan adalah buku-buku yang menjelaskan definisi, kriteria, ciri-ciri, dan indikator-indikator yang ada pada sistem pertahanan-keamanan yang ideal, tangguh, dan profesional. Data sekunder yang digunakan berupa buku-buku, jurnal, media massa, serta berbagai literatur dari internet yang berhubungan realitas kondisi pertahanan-keamanan Indonesia. Data-data yang terkumpul kemudian digunakan untuk menjelaskan realitas kondisi pertahanan-keamanan Indonesia, meliputi anggaran, alutsista, jumlah personil, strategi pertahanan, pasang surut keterlibatan militer di bidang politik dan ekonomi. Terakhir, setelah melihat permasalah secara komprehensif, kami coba merekomendasikan solusi atas lambannya reformasi sektor pertahanankeamanan di Indonesia.

BAB IV PEMBAHASAN

IV.1. Definisi dan Fungsi Pertahanan-Keamanan Bagi Negara-Bangsa Secara etimologis, konsep keamanan (security) berasal dari bahasa latin “securus” (se + cura), artinya terbebas dari bahaya, terbebas dari ketakutan (free from danger, free from fear). Bisa juga bermakna dari gabungan kata se (artinya tanpa atau withouth) dan curus (artinya uneasiness). Sehingga, apabila digabungkan akan bermakna “liberation from uneasiness, or a peaceful situation without any risksor threats”.7 Sementara, dalam berbagai literatur ilmu Hubungan Internasional, para sarjana Hubungan Internasional berargumen bahwa konsep keamanan merupakan sebuah “contested concept”. Pendekatan tradisonal yang didomonasi oleh mazhab Realisme menyatakan bahwa konsep keamanan adalah sebuah kondisi yang terbebas dari ancaman militer atau kemampuan negara untuk melindungi negarabangsanya dari serangan militer yang berasal dari lingkungan eksternal (the absence of a military threat or with the protection of the nation from external overthrow or attack).8 Sementara itu, Arnold Wolfers mendefinisikan konsep keamanan sebagai berikut, “Security, in any objective sense, measures the absence of threats to acquired value and in a subjective sense, the absence of fear that such values will be attacked”.9 Sejalan dengan pemahaman di atas, kapabilitas militer suatu negara adalah sebuah keharusan guna mempertahankan diri. Hal ini sebagaimana diungkapkan Walter Lippmann, misalnya, “a nation is secure to the extent to which it is not in danger of having to sacrifice core values if it wishes to avoid war, and is able, if challenged, to maintain them by victory in such a war”10 .
7 Lihat Liota P. H (2002), “Boomerang Effect: The Convergence of National and Human Security” dalam Security Dialogue Vol.33. No.4. hlm. 473 – 488. 8 Helga Haftendorn (1991), “The Security Puzzle: Theory Building and Discipline in International Security” dalam International Studies Quarterly Vol.35. No.1. hlm. 3 – 17 9 Dikutip dari Baylis, John, Smith, Steve (2001), The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, Oxford: Oxford University Press. hlm. 225 10 Ibid.

IV.2. Signifikansi dan Relevansi Kekuatan Pertahanan-Keamanan di Era Globalisasi Kita hidup di era di mana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tengah berkembang pesat. Kemajuan IPTEK diklaim telah menciptakan dan membawa umat manusia pada kehidupan yang lebih sejahtera lahir dan batin. Akan tetapi, ternyata masalah yang dihadapi manusia tidak semakin berkurang. Kehebatan kemajuan sains dan teknologi terbukti tidak dapat mencegah kriminalitas yang amat mengganggu kehidupan umat manusia. Apalagi, mengatasi masalah keamanan yang lebih rumit dan canggih, seperti konflik antargolongan, etnik, suku, dan agama dalam tubuh sebuah bangsa. Bahkan, berkembangnya IPTEK justru mendorong timbulnya masalah etnik dan kesukuan. Dalam tataran yang luas, pertentangan kepentingan politik antarnegara tetap terjadi dan berkembang menjadi konflik bersenjata atau perang. Kemajuan cara berpikir dan hukum internasional tidak mampu mengatasi sama sekali nafsu agresi dan menjaga agar pertentangan antarnegara dapat diatasi dengan cara damai dan diplomasi saja. Ketika Perang Dunia (PD) I berakhir pada 1918, orang menyangka ini adalah perang terakhir (the last war) karena tidak sanggup melihat betapa banyak kematian dan kehancuran akibat peperangan. Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dibentuk untuk merealisasikan tujuan tersebut. Namun, di kemudian hari terbukti LBB tidak mampu mencegah terjadinya perang, ditandai dengan serangan Italia terhadap Ethiopia. Pada 1939, peran LBB berakhir sama sekali ketika Jerman menyerang Polandia. Kejadian tersebut menjadi awal meletusnya PD II. Jika PD I berlangsung di Eropa saja, PD II benar-benar meliputi seluruh dunia, terutama ketika Jepang menyerang Pearl Harbor di Amerika Serikat (AS) pada 1941. Puncaknya, pada 1945, dengan dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di Jepang, kematian dan kehancuran menjadi jauh lebih besar dan mengerikan dari pada sebelumnya. PD II berakhir, muncul Perang Dingin. Perang ini memiliki efek domino terhadap negara-negara lain di dunia. Munculnya perang Korea, Vietnam, dan Kamboja

tidak terlepas dari Perang Dingin. Berbagai perang dengan beragam bentuk dan jenisnya terus berlansung hingga saat ini. Project Ploughshares, sebuah organisasi di Kanada, mengadakan penelitian dan menemukan bahwa pada tahun 1995 terjadi 44 perang dan konflik bersenjata. Tahun 2003 berkurang menjadi 30. Jika diperkirakan, rata-rata ada 35 perang dan konflik bersenjata setiap tahun antara 1995 dan 2003. Dalam 9 tahun, terjadi tidak kurang dari 300 perang dan konflik bersenjata di dunia. Maka, pada hakikatnya, di planet bumi ini, adalah tempat penuh masalah keamanan dan membahayakan kehidupan manusia dan kelangsungan negara dan bangsa. Sekalipun, tingkat kemajuan dan kecanggihan IPTEK berkembang pesat. Albert Einstein, pakar ilmu fisika, pernah menyurati Sigmund Freud, pakar ilmu psikologi, dan mengatakan bahwa semua usaha untuk meniadakan perang telah gagal karena manusia menyimpan kesenangan membenci dan menghancurkan di dalam dirinya. Freud setuju dan mengatakan bahwa manusia itu seperti binatang yang memecahkan persoalan dengan menggunakan kekerasan. Freud mengatakan bahwa manusia hanya diliputi dua insting, yaitu insting untuk tetap hidup dan mempersatukan, serta insting menghancurkan dan membunuh. Oleh karena itu, katanya lagi, tidak ada gunanya mengakhiri semua kecenderungan agresif manusia. Bagaimanapun kemajuan umat manusia dalam menguasai sains dan teknologi serta peradaban materiilnya, selama belum mampu mengendalikan insting menghancurkan dan membunuh, segala cita-cita luhur tentang peradamaian dunia akan tinggal keinginan belaka. Nafsu meterialisme semakin besar dan salah satunya dipicu oleh perkembangan IPTEK. Gambaran di atas adalah realitas yang dihadapi setiap negara-bangsa, tak terkecuali Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia perlu dan harus mengembangkan satu sistem keamanan nasional, yakni sistem yang mewujudkan situasi dan kondisi kemampuan bangsa dalam melindungi semua sistem kehidupan nasionalnya, yang didasarkan pada sistem nilai internalnya sendiri, terhadap setiap ancaman dan tantangan, dari dalam maupun luar negeri. Secara lebih spesifik, berbagai ancaman yang dihadapi di era globalisasi saat ini

dapat diklasifikasikan menjadi enam kelompok. (1) ancaman ekonomi dan sosial, termasuk kemiskinan, penyakit menular, keterbatasan akses pada pangan, dan degradasi lingkungan hidup; (2) konflik antarnegara (inter-state conflict). Walaupun ancaman ini berkecendrungan menurun secara signifikan, tetapi bukan berarti hilang sama sekali; (3) konflik internal (inte-state conflict). Ancaman ini, berbeda dengan sebelumnya, memiliki kecenderungan meningkat, terutama sejak berakhirnya Perang Dingin. Oleh karena itu, peran organisasi internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), makin relevan untuk diperkuat sebagai peace-maker dan peace-keeper; (4) ancaman penyebaran senjata nuklir, biologi, dan kimia; (5) ancaman terorisme, di mana secara kuantitas dan kualitas tingkat ekskalasinya meningkat; (6) ancaman yang dilakukan organisasi kejahatan transnasional. Dari enam klasifikasi ancaman di atas, dapat diasumsikan beberapa hal berikut. Pertama, segala ancaman yang dihadapi tidak lagi mengenal batas tradisional negara. Kedua, sebagian besar ancaman tersebut adalah ancaman yang berhubungan dengan aspek militer daripada non-militer. Ketiga, berbagai ancaman tersebut harus dihadapi dan diatasi secara simultan mulai dari tataran global, regional, hingga nasional.

IV.3. Relevansi

dan

Signifikansi

Ketangguhan

dan

Profesionalisme

Pertahanan-Keamanan dalam Proses Pembangunan Berkelanjutan Isu pertahanan-keamanan seringkali menjadi permasalahan dilematis bagi sebuah negara berkembang seperti Indonesia. Sebab, tidak layaknya negara-negara maju, negara-negara berkembang harus menghadapi berbagai isu krusial secara bersamaan, seperti isu perkembangan ekonomi, sosial budaya, dan politik. Di mana, yang demikian begitu rumit dan terkait erat dengan stabilitas internal serta kemampuan aspek pertahanan keamanan. Dalam banyak kasus di negara-negara berkembang, berbagai isu di atas akhirnya menjadi bagian tak terlepaskan dari isu pertahanan keamanan. Bahkan, merupakan bagian dari domestic vulnerabilities, yang kerap mendominasi agenda pembangunan keamanan nasional dan diterjemahkan ke dalam objek utama pertahanan keamanan.

Sebagai sebuah negara berkembang, Indonesia tengah giat melakukan pembangunan di berbagai bidang, utamanya pertumbuhan di bidang ekonomi agar menjamin kesejahteraan rakyatnya dan kestabilan di bidang politik agar roda pemerintahan dapat berjalan efektif dan lancar. Namun demikian, dalam proses membangun tersebut, faktor pertahanan-keamanan tidak dapat diabaikan.

A. Pemberontakan, Separatisme, dan Terorisme Masalah yang banyak berkembang di negara seperti Indonesia adalah pemberontakan dalam negeri (insurgency). Selain itu, terjadi usaha yang dilakukan daerah dalam satu negara untuk memisahkan diri atau dikenal dengan gerakan separatisme (separatism) dengan menggunakan kekerasan senjata, dan usaha terorisme (terorism) baik yang bersifat nasional maupun internasional. masalah-masalah itu ada yang berkembang sepenuhnya sebagai usaha domestik karena dinamika dalam satu negara, tetapi juga ada yang terjadi karena peran atau pengaruh negara lain. Sekalipun masalah-masalah itu tidak termasuk perang, dampaknya bagi negara yang mengalaminya, dapat menyamai atau malah melebihi perang. Contoh kasus yang pernah terjadi di Indonesia adalah terjadinya pemberontakan PRRI/Permesta. Sementara untuk kasus separatisme, ini lebih sering terjadi, beberapa di antaranya, pada tahun 1999, Timor-Timur berhasil memisahkan diri melaui referendum. Di Aceh, dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) hampir saja berakhir sama dengan Timor-Timur. Akan tetapi berhasil diselesaikan pemerintah RI tahun 2005 yang lalu melalui perjanjian Helsinki. Di Papua dan Maluku ada Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Republik Maluku Selatan (RMS) yang berkonflik hingga saat ini. Dalam kasus terorisme, peristiwa Bom Bali I dan II tahun 2002, bom di Hotel JW Marriott di Jakarta tahun 2003, dan beberapa usaha peledakan lain di berbagai wilayah di Indonesia adalah bukti rentannya Indonesia dengan persoalan terorisme. Pada prinsipnya, masalah-masalah di atas dianggap sebagai masalah keamanan dalam negeri, dan karenanya menjadi urusan kepolisian semata. Akan tetapi, kenyataannya, masalah-masalah itu dapat berdampak begitu luas dan menyangkut

kekuatan begitu besar, sehingga tidak mungkin diatasi oleh organisasi kepolisian saja, dan harus ditangani oleh kekuatan pertahanan atau militer. Tidak jarang satu pemberontakan berkembang begitu luas hingga mengakibatkan runtuhnya pemerintahan yang berkuasa atau setidaknya melemahkan negara sedemikian rupa sehingga dengan mudah dikuasai atau didikte negara lain. Masalah tersebut tentu saja tidak boleh diremehkan dan harus mendapat perhatian yang tidak kalah besar porsinya dengan masalah-masalah lain, seperti politik, ekonomi, dan sosial. Hal ini membuktikan bahwa dalam proses pembangunan, di samping mengejar pertumbuhan ekonomi dan menciptakan kemantapan politik, sektor pertahanan keamanan tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebab, beberapa masalah di atas berpotensi menjadi ancaman serius jika tidak dicegah dengan mempersiapkan kekuatan militer secara serius pula.

B. Bencana Alam Di samping tiga permasalah di atas, masalah bencana alam menjadi masalah serius yang dapat menghambat proses pembangunan di Indonesia. Apalagi mengingat Indonesia sebagai salah satu negara rawan bencana. Bencana alam dipandang sebagai hambatan karena telah banyak anggaran negara secara tiba-tiba harus dialokasikan untuk mengurusi bencana. Di sinilah ketangkasan dan kesigapan personil pertahanan keamanan dituntut agar dapat meminilasasi kerusakan akibat bencana sehingga dapat menghemat anggaran negara. Dalam hal tertentu, militer kita harus dapat difungsitugaskan untuk mencegah kemungkinan terjadinya bencana. Dalam hal lain, TNI turut serta menghadapi akibat terjadinya bencana. Sebagai gambaran, di Amerika Serikat, ditetapkan bahwa Dinas Zeni Angkatan Darat (AD) (corps of engineers) antara lain berfungsi mencegah terjadinya banjir sungai (flood control) Indonesia telah beberapa kali mengalami bencana alam besar-besaran yang bahkan berdampak secara internasional. yang paling fenomenal, 26 Desember 2004 yang lalu, terjadi gempa bumi dan gelombang tsunami di Aceh dan beberapa tempat di Sumatera Utara. Lebih dari seratus ribu orang meninggal, kerugian materiil diperkirakan mencapai miliaran rupiah, belum lagi kerugian immateriil,

seperti trauma dan akibat psikologis lainnya. Di samping itu, Indonesia juga cukup sering mengalami gempa bumi, baik tektonis maupun vulkanis, juga gunung meletus, longsor, dan banjir. Peran TNI dalam mengatasi akibat bencana ini sangatlah besar artinya. Sebab, TNI dengan angkatan udaranya menyediakan helikopter dan pesawat lain untuk mencapai daerah-daerah yang tak lagi terjangkau melalui jalur darat. Angkatan laut dapat segera mengerahkan kapal-kapalnya untuk mendatangi kota-kota di pinggir pantai. Terakhir, angkatan darat dapat menyediakan pasukannya untuk membantu masyarakat mengatasi berbagai persoalannya, seperti mencari korban, mengubur mereka yang terbukti mati, membangun kembali jalan, jembatan, rumah, sarana belajar dan ibadah yang rusak. Serta, yang terpenting mencegah perbuatan jahat mereka yang hendak menyalahgunakan keadaan. Di sini terbukti sekali lagi, bahwa pengerahan kekuatan militer dengan cepat dan efektif akan semakin mempercepat proses pembangunan yang sedang digalakkan Indonesia, bukan sebaliknya. Maka, sepantasnyalah bidang pertahanan keamanan ini tidak lagi diabaikan, karena mengejar pertumbuhan ekonomi dan kemantapan politik dan demokratisasi.

IV.4. Realitas Ketangguhan Pertahanan-Keamanan Indonesia "Kenapa Amerika Serikat disegani negara lain? Selain memiliki kekuatan ekonomi, mereka memiliki angkatan perang yang kuat. Dua kekuatan itu membuat mereka memiliki bargaining power dengan negara dan kekuatan mana pun. Mengganggu AS atau kepentingannya sama dengan membangunkan macan tidur. Kalau saja angkatan perang kita kuat, tak mungkin Malaysia meremehkan kita seperti ini."11

1. Kondisi Alat Utama Sistem Senjata Pertahanan memang tidak sekadar berurusan dengan Alat Utama Sistem Senjata (alutsista). Namun, alutsista yang lengkap dan kuat dapat dijadikan indikator nyata kondisi pertahanan nasional suatu negara. Angkatan perang yang kuat tentu diimbangi dengan alutsista yang kuat pula. Dalam hal ini, bermodal semangat
11 Ungkapan Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Endriartono Sutarto (Kompas, 9/3)

"tidak takut mati membela bangsa" saja tidaklah cukup. Kekuatan alutsista TNI AD sebagian besar masih bertumpu pada aset lama, meliputi 1.261 unit kendaraan tempur, namun yang siap operasi 799 unit; 59.842 unit kendaraan bermotor, namun yang siap operasi 52.165 unit; 538.469 pucuk senjata dengan berbagai jenis yang siap operasi 392.431 pucuk; dan pesawat terbang 53 unit dari berbagai jenis yang siap operasi 27 unit. Kekuatan alutsista Angkatan Laut (AL) meliputi unsur kapal striking force 18 unit, patrilling force 58 unit, supporting force 67 unit, dan KAL 317 unit yang siap operasi 76. Unsur pesawat udara terdiri atas 65 unit dari berbagai jenis yang siap operasi 39. Kendaraan tempur marinir 410 unit yang siap operasi 157 unit. Kekuatan alutsista Angkatan Udara (AU) bertumpu pada pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat helikopter, dan jenis pesawat lain serta peralatan rudal dan radar yang meliputi 234 unit pesawat berbagai jenis dengan kondisi siap operasi 57%, radar 17 unit dengan kondisi siap operasi 88,8%, rudal QW-3 untuk operasional Paskhas dengan kondisi siap operasi. Sumber lain menunjukkan bahwa alutsista yang dioperasikan dan dipelihara TNI berada di ujung tanduk serta perlu dibenahi. Kesiapan operasi alutsista yang ada$ sangat rendah, seperti dirangkum dalam tabel sebagai berikut.12

Kondisi Alutsista Tiga Matra
TNI Angkatan Darat Ranpur (kendaraan tempur): 934 (siap operasi 67,88%) Ranmor (kendaraan bermotor): 59.842 (siap operasi 52,156%) Pesawat terbang: 59 (siap operasi 44,06%) TNI Angkatan Laut Kapal: 207 (siap operasi 36,71%) Ranpur (kendaraan tempur) marinir: 435 (siap operasi 36,09%) Pesawat udara: 75 (siap operasi 48%) TNI Angkatan Udara Pesawat terbang: 246 (siap operasi 44%) Radar: 16 (siap operasi 87,5%)

Kondisi riil alutsista TNI yang kritis ini berfokus pada dimensi persoalan tuanya usia alutsista yang digunakan. Rendahnya kesiapan operasional di atas tak ayal
12 Lihat Majalah Angkasa No. 7 April 2008 Tahun XVIII, hlm. 17.

membawa bencana bagi tubuh TNI itu sendiri, bahkan memakan korban jiwa. Tujuh personil Marinir tewas setelah ikut tenggelam bersama tank Amphibi dalam latihan militer di Situbondo, Jawa Timur. Helikopter S-58T Twinpack, yang telah digunakan TNI AU sejak 1972, jatuh di Pekanbaru pada 8 Januari 2008. Kejadian serupa terjadi pada helikopter Bell 47G Soloy, yang telah digunakan sejak 1978, pada 11 Maret 2008. Sebelum itu, pesawat tua OV-10 Bronco, yang telah digunakan sejak 1979, sudah pernah dua kali jatuh dan memakan korban jiwa pada 2005 dan 2007. Bahaya pengoperasian pesawat tua ini membuat Ketua Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Herman Prayitno pada 2007 memensiunkan OV-10 tersebut.

2. Anggaran Pertahanan-Keamanan dalam APBN Dengan populasi sekitar 234,693,997 (Juli 2007) terdiri dari 17,508 pulau dengan panjang garis pantai 81.000 km, Indonesia adalah negara dengan luas wilayah terbesar ke-5 setelah Amerika dan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 setelah Amerika Serikat, serta negara maritim terbesar ke-2 di dunia setelah Kanada. Kondisi ini menuntut Indonesia menjadi negara yang memiliki kemampuan pertahanan-keamanan yang tangguh guna menjaga keutuhan wilayahnya dari ancaman, baik dari luar maupun dari dalam. Namun, ironisnya, hingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008, anggaran dana yang dialokasikan untuk tiga matra pertahannya hanya sebesar Rp36,39 triliun. Padahal, anggaran ini hanya mampu memenuhi 36 persen dari kebutuhan minimal Departemen Pertahanan (Dephan) dan TNI, yakni sekitar Rp100,53 triliun.13 Bahkan, bulan Februari lalu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, memangkas seluruh anggaran departemen, termasuk Departemen Pertahanan, sebesar 15 persen dengan alasan penghematan. Dalam Rancangan APBN (RAPBN) 2009 yang tengah dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), anggaran ini akan dikurangi lagi menjadi Rp35 triliun saja, sementara untuk Kepolisian RI menjadi hanya Rp25,7 triliun. Rincian alokasi anggaran tersebut adalah TNI AD mendapat sekitar Rp 16,1
13 antara.co.id diakses pada 17 Agustus 2008 15.17

triliun, TNI AL dialokasikan sebesar Rp5,5 triliun, TNI AU menerima sebesar Rp3,98 triliun, sementara Dephan sebesar, dan Markas Besar TNI memperoleh masing-masing sebesar Rp6,3 triliun dan Rp4,5 triliun. Jika dibandingkan dengan AS, tentu angaran Indoensia tidak ada apa-apanya. Pada tahun 2007, Kongres AS dan Gedung Putih telah menganggarkan 522 miliar dollar untuk budget pertahanan dan militer. Anggaran militer ini merupakan terbesar di dunia dan setara dengan 47 persen total anggaran militer dunia. Rivalnya, Cina, Rusia, dan Inggris menggangarkan masing-masing 63 miliar, 62 miliar, dan 51 miliar dollar. Bahkan dengan negara-negara ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) sekalipun, yang kondisi geografis dan demografisnya yang tidak sebesar Indonesia, rasio anggaran militer terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)-nya jauh lebih besar dibandingkan Indonesia yang tak lebih dari satu persen PDB-nya. Anggaran Singapura, misalnya, sebesar 7,13 miliar dollar (5,2 persen), Malaysia sebesar 1, 69 miliar dollar (4 persen), sementara Thailand dan Filipina masingmasing 2,8 persen dan 2,2 persen. Padahal jumlah penduduk Singapura hanya 4,6 juta orang, sementara Malaysia sebanyak 27, 24 orang. Bandingkan dengan Indonesia yang lebih dari 234 juta jiwa.14

Perbandingan Anggaran Militer Negara ASEAN
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Negara Australia Brunei Filipina Malaysia Thailand Singapura Indonesia % Terhadap PDB 2,3 6,9 2,2 4,0 2,8 5,2 1,1 % Terhadap APBN 7,1 18,0 19,9 9,1 15,0 21,0 5,7

Secara umum, anggaran pertahanan Indonesia masih menghadapi beberapa

14

Kompas, 27/2/08

persoalan mendasar.15 Pertama, minimnya besaran anggaran, tidak hanya terhadap pendapatan domestik bruto, melainkan juga secara absolut sangat kecil apabila dilihat dari besar wilayah dan penduduk Indonesia. Lebih parah lagi, kekurangan anggaran menjadi alasan-alasan di balik praktik-praktik off-budget dan kegiatan bisnis militer. Kedua, masalah alokasi anggaran pertahanan yang masih menyimpan berbagai pertanyaan tentang efektifitas dan efisiensinya karena birokrasi yang panjang dalam institusi-institusi pertahanan. Ketiga, anggaran belum mencerminkan suatu cara berpikir yang sistematis tentang apa yang hendak dicapai oleh kebijakan pertahanan Indonesia dan bagaimana mencapainya. Keempat, anggaran pertahanan masih banyak mencerminkan kekuatan eksekutif atas legislatif karena kendala sumber daya manusia, keterbatasan informasi, dan faktor politik.

3. Sumber Daya Manusia dan Strategi Pertahanan-Keamanan Kondisi kekuatan personil TNI hingga saat ini mencapai 383.870 orang (0,17%) dari sekitar 230 juta penduduk Indonesia, yang terdiri atas 298.517 orang TNI AD, 60.963 orang TNI AL, 28.390 orang TNI AU, dan 68.647 Pegawai Negeri Sipil TNI. Jumlah ini, jika dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia, masih belum seimbang. Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Edy Prasetyono, berpendapat bahwa penambahan anggaran berapa pun besarnya tidak berarti apaapa tanpa ada perubahan strategi pertahanan. Bahwa Indonesia harus segera bergerak dari strategi pertahanan kontinental menuju strategi pertahanan maritim dengan zona berlapis. Strategi pertahanan maritim memiliki matra terbuka, manuver fleksibel, dan pergerakan lebih leluasa untuk penangkalan dan penindakan. Ini sesuai dengan karakter geografis kita. Dalam strategi pertahanan maritim, tumpuan kekuatan akan diletakkan pada kekuatan pertahanan laut dan udara. Untuk itu, TNI AL dan TNI AU harus terus diperkuat di masa mendatang.16 Ada sebagian pihak yang berargumen mengapa matra darat mendapat proporsi
15 16 http://www.mail-archive.com/indo-marxist@yahoogroups.com/msg02558.html Kompas, 9/3/08.

anggaran dan jumlah personil lebih dibandingkan dua matra lainnya; udara dan laut. Alasannya adalah bahwa simbol penaklukan atau penguasaan suatu negara atau wilayah ditandai dengan pendudukan pada daratannya, bukan laut apalagi udara. Sepintas, argumen ini dapat diterima. Namun, jika kita melihat secara lebih objektif, bahwa proses pendudukan daratan itu tidak serta merta melalui jalur darat, tetapi akan lebih mudah jika memasukinya setelah menaklukkan wilayah lautan atau udaranya terlebih dahulu. Apalagi, jika mengingat Indonesia adalah negara kepulauan dan dua pertiga wilayahnya adalah laut, logikanya matra laut mendapat priorotas utama dari segi jumlah personil, alutsista, dan strategi pertahanannya guna mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Inilah strategi pertahanan yang perlu segera dibenahi.

IV.5. Realitas Profesionalisme Pertahanan-Keamanan Indonesia Militer Indonesia memiliki keunikan dibandingkan dengan militer di negara lain. Keunikan ini menjadikan peranan militer Indonesia menjadi tidak biasa. Perjuangan mendapatkan kemerdekaan membuatnya melakukan kegiatan kesemestaan, tidak hanya bertempur secara fisik tetapi terlibat dalam penyusunan strategi pendirian bangsa Indonesia. Penggalan sejarah kemerdekaan menjadi legitimasi militer tidak hanya sebagai instrumen pertahanan bangsa, tetapi juga sebagai bagian penting dalam political decision making. Di masa orde lama, Soekarno mengakomodasi militer di awal pemerintahannya dan bersitegang dan menjadi faktor penentu lengsernya Soekarno sebagai presiden. Tampilnya militer di mata masyarakat sebagai aktor penting pengaman keutuhan bangsa Indonesia dari aksi radikalisme Partai Komunis Indonesia (PKI), menjadikan militer semakin dominan dalam perpolitikan dan aktivitas ekonomi Indonesia. Pada masa orde baru, Soeharto menempatkan militer sebagai bagian penting dari alat melanggengkan dan memperluas kekuasaan selain birokrasi dan teknokrat. ABRI, istilah untuk militer saat itu, dijadikan instrumen penting dalam menjaga kebijakan kooperatisme. Dengan dalih menjaga stabilitas, Soeharto memberikan banyak peran istimewa, menempatkan banyak perwira sebagai menteri, gubernur, walikota, bupati, irjen dan lain-lain. Posisi istimewa ABRI

tidak hanya pada ruang politik, namun berada pada ruang yang lain seperti ekonomi. Pemerintahan orde baru menempatkan banyak perwira aktif untuk menjadi komisaris atau direktur utama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Dr. Abdoel Fattah dalam penelitiannya membagi perjalanan militer Indonesia terbagi atas empat periode. Pertama, masa setelah proklamasi kemerdekaan 1945, atau masa perang kemerdekaan sampai berdirinya pemerintahan Republik Indonesia Serikat tahun 1950. Pada masa ini, tentara terpaksa berpartisipasi secara poltik untuk mengerakkan pemerintahan daerah yang lumpuh akibat perang melawan Belanda. Kedua, masa mulai berlakunya demokrasi parlemen 1950 ke demokrasi terpimpin, dimulai dengan dekrit presiden pada 5 juli 1959 sampai jatuhnya presiden Soekaro pada 1966. Pada masa ini, tentara memiliki kekuatan politik yang menonjol dan bersaing dngan PKI. Tentara, terutama AD, menjadi mitra Soekarno sekaligus pesaing. Pada masa ini, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah ke otokrasi. Ketiga, masa Orde abru mulai 11 maret 1966, yang dipimpin oleh Soeharto dengan demokrasi Pancasila sampai jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998. Pada masa ini, tentara mendominasi pemerintahan yang bersifat otokratis dengan dwi fungsinya. Keempat, masa Reformasi mulai 21 Mei 1998.17 Pembagian periode perjalanan militer Indonesia ini relevan dengan proses pergeseran pemahaman konsep peran militer di Indonesia yang dirumuskan Yuddy Chrisnandi sebagai berikut.18

Fungsi Militer dari Masa ke Masa
Generasi I (Masa Perang Kemerdekaan) Generasi II (Masa Pascakemerdekaan, Demokrasi Terpimpin) Generasi A.H. Nasution ABRI sebagai 17 18 ABRI sebagai Prajurit ABRI sebagai Prajurit ABRI sebagai Prajurit Generasi III (Generasi Orde Baru —Generasi Soeharto) Generasi IV (Generasi Masa Transisi—Generasi Wiranto)

Dr. Abdoel Fattah, Demiliterisasi Tentara, (Jogyakarta: Lkis, 2005), hlm. 10-11. Yuddy Chrisnandi, Reformasi TNI: Perspektif Baru Hubungan Sipil-Militer di Indonesia. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2005, hal. 29.

Pejuang Fungsi ABRI (Fungsi tempur dan fungsi teritorial—memegang pertahanan dan perlawanan rakyat)

Pejuang Pikiran jalan tengah Nasution (ABRI sebagai alat pertahanan-keamanan dan fungsi sosial) Fungsi sosial adalah untuk membangun mitra dengan kekuatan sipil (intervensi)

Pejuang Pikiran Seminar AD II 1966

Pejuang Paradigma Baru ABRI

Fungsi pertahanankeamanan dan sosial politik Politik menonjol— dengan menguasai atau menduduki, mengontrol kekuatan rakyat—ABRI sebagai alat penguasa

Bergeser—fungsi sosial politik a) memilih posisi dan metode tidak selalu di depan b) mengubah dari konsep menduduki menjadi memengaruhi c) mengubah dari cara-cara memengaruhi secara langsung menjadi tidak langsung bersedia melakukan berbagai peran politik dengan mitra nonABRI

A. Keterlibatan dalam Politik Indonesia memasuki babakan politik baru pascakegagalan kudeta 1965 yang menandai runtuhnya keseimbangan politik dengan kehancuran PKI dan semakin merosotnya kewibawaan politik Presiden Soekarno. Keberhasilan Angkatan Darat menumpas kekuatan komunis telah menimbulkan efek psikologis luar biasa pada masyarakat anti komunis. Setelah kewibawaan politik Presiden Soekarno merosot secara drastis, sentral kekuatan politik lambat-laun bergeser dari istana kepresidenan ke Markas Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad), di mana Mayjen Soeharto selaku pemegang kendali efektif atas tentara pada

waktu itu. Semakin menguatnya posisi tentara sebagai aktor politik terkuat di Indonesia pasca kejatuhan Soekarno telah mendorong dilakukannya berbagai upaya memperkuat posisi dan kelanggengan dominasi politik tentara dalam sistem politik Indonesia.19 Untuk menguatkan sentralisasi kekuasaannya, tentara digunakan untuk mendominasi jabatan-jabatan politik strategis dan membenarkan campur tangan tentara dalam politik. Pada akhir 1970-an, separuh anggota kabinet dan sepertiga jabatan gubernur dijabat oleh militer. Pada tingkat bupati dan walikota, 56% adalah militet, direktur jenderal 70%, dan sekretaris menteri 84% diduduki oleh militer. Sementara itu, data yang diperoleh Jenkins pada tahun 1980, jumlah anggota ABRI yang berada di luar organisasi militer sebagai berikut: di pemerintahan pusat, menteri dan pimpinan lembaga tinggi negara 47%, sekretaris jenderal 73,6%, inspektur jenderal 29,5%, direktur jenderal 70,9%, sekretaris menteri dan wakil menteri 84%. Di pimpinan daerah, gubernur 70,3%, dan bupati 56,6%. Di perwakilan luar negeri, duta besar 44,4% dan konsul 34,3%. Menurut data Harold Crouch, pada tahun 1968, jumlah Gubernur yang berasal dari militer sebanyak 17 Gubernur (71%). Sesudah pemilihan umum tahun 1971, dari 26 propinsi hanya menyisakan empat (15%) posisi Gubernur untuk orang sipil.20 Sedangkan pada tingkat kabupaten pada tahun 1969 jumlah Bupati dan Walikota di seluruh Indonesia sebanyak 271. Setelah pemilu 1971 imbangannya mencapai dua pertiga. Sampai dengan tahun 1998, sebanyak 4000 anggota militer menduduki posisi jabatan sipil.21 Keterlibatan militer dalam birokrasi lokal selain melalui jabatan Bupati dan Gubernur adalah keterlibatan pimpinan militer melalui Muspida dan Muspika yang berfungsi mengendalikan kehidupan masyarakat daerah terutama dalam kegiatan-kegiatan politik seperti mobilisasi rakyat untuk pembangunan dan untuk Pemilihan Umum.22

19 20

Dwi Pratomo Yulianto, Militer dan Kekuasaan, Jakarta, Narasi, 2005, hlm. 35-47. Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1999, hlm. 271-272. 21 Ibid, hlm. 272. 22 R. William Liddle, Pemilu-Pemilu Orde Baru : Pasang Surut Kekuasaan Politik, Jakarta : LP3ES, 1992, hlm. 1.

B. Aktivitas Bisnis Militer Praktik-praktik bisnis militer secara legal ditetapkan dengan UU Yayasan No.16 tahun 2001. Kecilnya anggaran militer khususnya untuk kesejahteraan prajurit dijadikan alasan kuat prektik ini. Panglima TNI Jenderal Endiarto Sutarto mengungkapkan bisnis militer menjadi andalan TNI untuk mendukung kesejahteraan selama ini, oleh karenanya penghapusan bisnis militer harus diimbangi dengan peningkatan anggaran TNI dalam APBN, dari kebutuhan ideal per tahun Rp 44-46 Triliun.23 Akan tetapi dalam realitanya praktik bisnis militer hasilnya hanya dinikmati pada tataran perwira saja. Hampir 52 tahun bisnis militer berlangsung, akan tetapi sekian lama bisnis itu dilakukan tanda-tanda kesejahteraahn prajurit pun tidak menunjukan perubahan, ada kesenjangan yang amat tajam antara kesejahteraan kopral dengan jenderal. Kesenjangan yang ada dapat jelas dilihat dari tabel di bawah ini.24

Tingkat Kesejahteraan Prajurit
Pangkat Bintang **** Jumlah 1 Perbandingan tingkat kesejahteraan Sangat tinggi (bahkan bisa dikatakan sangat mewah atau kaya), kekayaaannya bisa milyaran rupiah. Bintang *** Bintang ** Bintang * Pangkat Menengah 3 42 70 6. 517 20.004 133.735 114.598 Kesejahteraan terpenuhi (relatif tinggi) Kesejahteraan sedang Kesejahteraan rendah Kesejahteraan rendah Kesejahteraan sangat rendah Kesejahteraan sangat rendah

23 24

Jawapos, 19 Maret 2005. The RIDEF Institute, Praktik-praktik Bisnis Militer, Jakarta, 2003, hlm. 54.

IV.6. Solusi untuk Realitas Ketangguhan serta Profesionalisme PertahananKeamanan Indonesia Solusi yang penting diwacanakan untuk mengatasi realitas kondisi pertahanankeamanan di Indonesia akan dibagi ke dalam dua cara, yakni solusi taktis dan solusi strategis.

1. Solusi Taktis Solusi taktis adalah solusi aplikatif operasional, di mana menyangkut objek daripada pertahanan-keamanan itu sendiri. Solusi taktis ini meliputi;

A. Penguatan Supremasi Sipil Supremasi sipil adalah pengakuan militer atas semua produk yang dibuat sipil hasil pemilu demokratis, baik terkait regulasi militer sendiri atau tidak. Ada dua indikator minimal dari supremasi sipil. Pertama, Dephan harus dipimpin oleh seorang menteri pertahanan dan harus murni berasal dari sipil. Kedua, adanya kontrol efektif dalam kebijakan pertahanan, operasional militer, dan anggaran dari sipil. Adanya kontrol sipil ini harus tercermin dalam peran parlemen untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan legislasi yang telah dilakukan melalui alokasi anggaran negara untuk pertahanan. Dalam konsepsi negara demokratik, kontrol sipil atas militer dalam perspektif hubungan sipil-militer menurut Huntington ada dua bentuk. Pertama, kontrol sipil subjektif (subjective civilian control), yaitu memaksimalkan kekuasaan sipil. Model ini diartikan sebagai upaya meminimalisasi kekuasaan militer dan memaksimalkan kekuasaan kelompok sipil. Kedua, kontrol sipil objektif (objective civillian control), yakni memaksimalkan profesionalisme militer. Model ini menunjukkan adanya pembagian kekuasaan politik antara kelompok militer dan kelompok sipil yang kondusif menuju perilaku profesional. Kontrol sipil objektif bertolak belakang dengan kontrol sipil subjektif. Kontrol sipil subjektif mencapai tujuannya dengan menyipilkan militer dan membuat mereka sebagai alat kekuasaan belaka, sedangkan kontrol sipil

objektif mencapai tujuan dengan memiliterisasi militer dan membuat mereka sebagai alat negara. Inti dari kontrol sipil objektif adalah pengakuan otonomi militer profesional, sedangkan kontrol sipil subjektif adalah pengingkaran sebuah independensi militer. Kontrol sipil objektif akan melahirkan hubungan sipil-militer yang sehat dan lebih berpeluang menciptakan prinsip supremasi sipil. Sebaliknya, kontrol subjektif membuat hubungan sipil-militer menjadi tidak sehat. Oleh sebab itu, kontrol objektif tidak hanya sekedar meminimalisasi intervensi militer ke dalam politik, tapi juga memerlukan keunggulan otoritas sipil yang terpilih (elected politicians) di semua bidang politik, termasuk dalam penentuan anggaran militer, konsep, dan strategi pertahanan nasional. Kedua poin di atas (kepemimpinan Dephan oleh sipil dan keberadaan kontrol efektif sipil atas militer) sudah dilakukan sejak era Presiden Abdurrahman Wahid hingga sekarang dan harus tetap dipertahankan untuk semakin menguatkan supremasi sipil. Jika hal tersebut diabaikan, akan berakibat kembalinya sistem represif militer atas sipil.

B. Pemenuhan Anggaran Pertahanan-Keamanan dan Kesejahteraan Prajurit Keterbatasan dana negara ini membuka peluang penyimpangan. Dengan situasi bangsa seperti ini sulit mewujudkan seketika kebutuhan pertahanan-keamanan. Tetapi, langkah rasionalnya adalah melakukan tahapan-tahapan sistematis untuk menata dan mengelola anggaran yang ada dan meningkatkannya scara gradual namun berarti. Berita baiknya, berikut peningkatan pemenuhan anggaran (dalam triliun) yang semakin menunjukkan keidealan.25 Anggaran Militer dari Tahun ke Tahun
2003 11,536 2004 17,85 2005 21,9 2006 23,6 2007 32,64 2008 36,39

Akan tetapi semua anggaran tersebut hanya mampu mendekati pagu kekuatan
25 Diolah dari berbagai sumber.

utama minimal pertahanan Indonesia sebesar tidak lebih dari 1 persen dari PDB. Apalagi, sebagian besar belanja pertahanan tersebut habis dipakai untuk membiayai gaji prajurit, fasilitas militer, dan pendidikan bela negara. Hingga tahun 2007 ini, pemerintah tetap belum dapat memberikan alokasi yang memadai untuk mengembangkan industri pertahanan. Sehingga perlu adanya komitmen lebih serius untuk memprioritaskan faktor anggaran ini. Tujuan besarnya adalah untuk dapat memenuhi (1) pengeluaran rutin lembaga, di mana termaktub di dalamnya pemenuhan kesejahteraan anggota dan personil; (2) modernisasi dan perawatan alat utama sistem pertahanan (alutsista); dan (3) kebutuhan operasional tempur.

C. Maksimalkan Keterlibatan dan Pengawasan Civil Society Organization (CSO) Keterlibatan CSO yang aktif dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan Security Sector Reform (SSR) di Indonesia. Kengganan masyarakat untuk mengawasi proses SSR disebabkan adanya budaya yang berkembang bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut merupakan suatu hal yang bersifat given. Minimnya sosialisasi dan keterlibatan publik, baik organisasi sektoral maupun masyarakat secara umum, bisa jadi disebabkan isu ini masih menjadi konsumsi elit dan akademisi saja, belum sampai dikonsumsi masyarakat. Penguatan keterlibatan dan pengawasan CSO ini adalah salah satu agenda besar dari SSR. Di mana secara umum SSR di Indonesia dimaksudkan untuk, yakni; 1. Membangun kemampuan pelaksana keamanan (khususnya TNI dan Kepolisian Republik Indonesia – Polri – yang medapatkan mandat untuk menggunakan kekerasan) yang profesional dan tunduk kepada prinsip demokrasi. 2. Mengembangkan kemampuan institusi penyelenggaraan pertahanan (Departemen Pertahanan). 3. Mendorong dan memperkuat peran aktif institusi pengawas (oversight), yakni parlemen dan civil society (termasuk media).

Rizal Sukma menekankan lima parameter untuk mengukur capaian pada prioritas pada reformasi aktor pelaksana, aktor penyelenggara, dan aktor pengawas ditentukan oleh, yakni sebagai berikut. 1. Tertatanya ketentuan perundang-undangan berdasarkan the rule of law. 2. Terbangunnya kemampuan pengembangan kebijakan (policy development), penyusunan perencanaan pertahanan (defense planning), dan implementasi kebijakan 3. Terwujudnya profesionalisme aktor pelaksana, yakni TNI, Polri, dan badan intelejen. 4. Kemampuan dan efektivitas pengawasan dari parlemen dan masyarakat sipil, termasuk media. 5. Pengelolaan anggaran pertahanan TNI dan Polri, serta badan intelijen. Namun, dari lima parameter tersebut Rizal Sukma menekankan pada tiga hal kunci, yakni pengembangan profesionalisme TNI, Polri, dan badan intelejen; capacity building Dephan, dan aktor pengawasan serta kampanye publik mengenai pentingya SSR. Dengan demikian, upaya penegakan dan penguatan kontrol CSO bisa terwujud.

2. Solusi Strategis Solusi strategis adalah solusi yang dampaknya lebih signifikan sekalipun membutuhkan waktu yang relatif lebih lama. Solusi ini meliputi:

A. Perumusan, Penyusunan, dan Pembenahan Landasan serta Kerangka Hukum yang Mengatur Peran dan Posisi TNI Menurut Connie Rahakundini Bakrie, keberhasilan pembangunan landasan hukum tentang peran dan posisi TNI sangat terkait dengan visi politik dan transformasi militer yang dimiliki sipil tentang militer yang profesional dalam tatanan demokratis. Dalam membangun TNI yang profesional dan berwibawa di mata internasional, diperlukan sebuah grand design atas Postur TNI yang ideal. Kekuatan TNI yang ideal yang didukung oleh kapasitas dan kapabilitas setiap karakteristik matra pertahanan berdasarkan kebutuhan spesifik atas alutsista, jumlah dan kemampuan personil serta special force-nya dan juga forcasting

anggaran pertahanan yang diperlukan, sebenarnya dapat diturunkan jika grand strategy telah dirumuskan dan kebijakan yang tepat telah ditetapkan. Persoalan ini sangat membutuhkan kapasitas visi politik sipil dalam

penyelenggaraan pertahanan-keamanan. Dengan adanya komitmen yang kuat, niscaya sipil dapat merumuskan kembali transformasi militer secara tepat menuju TNI yang profesional sesuai tuntutan negara yang 'berdemokrasi'.

B. Program Kerjasama Militer Internsional Program ini ditujukan untuk meningkatkan kerja sama militer dengan negaranegara maju atau sahabat dalam rangka, di samping belajarr dan meningkatkan strategi pertahanan dan kemanan, bisa juga untuk menciptakan kondisi keamanan kawasan, regional, dan internasional, serta meningkatkan hubungan antarnegara. Kegiatan pokok yang dapat dilakukan adalah; 1. pengiriman Liaison Officer (LO) ke negara yang berbatasan dengan Indonesia. 2. peningkatan kerja sama pertahanan Indonesia dengan negara-negara Eropa, Australia, China, Rusia, terutama dalam hal bantuan pelatihan militer dan pengadaan peralatan TNI 3. peningkatan kerja sama pertahanan Indonesia – Philipina dengan tugas sebagai pengawas internasional dalam masalah Moro dan masalah perbatasan melalui forum Joint Commision for Billateral Cooperation. 4. peningkatan kerja sama pertahanan Indonesia – Singapura dalam latihan dan perjanjian Military Training Area (MTA)

C. Program Penelitian dan Pengembangan Pertahanan Program ini ditujukan untuk melakukan penelitian dan pengembangan terhadap strategi dan sistem pertahanan, sumber daya manusia, kemampuan dan pendayagunaan industri nasional serta penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan pertahanan-keamanan yang damai.

Kegiatan pokok yang dapat dilakukan di antaranya 1. kerja sama penelitian dan pengembangan pertahanan guna menghasilkan kejian-kajian tentang konsep pertahanan. 2. penelitian dan pengembangan bidang materiil dan insani, serta 3. kerja sama penelitian dan pengembangan bidang kedirgantaraan, perkapalan, teknik sipil, industri alat berat, otomotif, elektronika, dan kimia untuk mendukung pemenuhan kebutuhan alat pertahanan.

BAB V PENUTUP

V.1. Simpulan Sudah 63 tahun bangsa ini merdeka. Peranan militer bahkan sudah dimulai jauh sebelum teriakan kemerdekaan dipekikkan. Militer senantiasa menjadi garda terdepan dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Sampai sejauh ini, peranan militer sudah mengalami pasang surut, mulai era kemerdekaan, era pemerintahan represif, hingga era transisi. Sejauh itu pula permasalahan demi permasalahan menyertai internal militer. Berbagai pihak, utamanya pemerintah, harus semakin memperhatikan nasib alat pertahanan-keamanan negara tersebut. Berbagai persoalan harus segera diselesaikan dengan pendekatan-pendekatan yang bisa melegakan, seperti persoalan rendahnya anggaran, yang berefek domini pada usangnya alat utama sistem pertahanan dan rendanya tingkat kesejahteraan prajurit, persoalan regulasi yang mengatur peranan dan aturan main yang seharusnya dilakoni militer sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia haruslah jelas, tegas, sinkron, dan tidak saling tumpang tindih. Sebab, hal ini akan berdampak pada kejelasan visi dan misi serta strategi besar daripada pertahanan-keamanan Indonesia itu sendiri. Sudah saatnya, faktor idealnya sistem pertahanan-keamanan ini dipandang sebagai faktor penentu efektif dan efisien serta lancarnya proses pembangunan yang sedang digalakkan di negeri ini. Sehingga, pembenahan pada sektor ini tidak dapat lagi disepelekan apalagi diabaikan, melainkan diprioritaskan dengan suatu grand design dan dijalankan secara gradual dan konsisten. Jika tidak, mimpi Indonesia berwibawa dan bermartabat semakin jauh.

V.2. Rekomendasi Bahwa sektor pertahanan-keamanan adalah modalitas utama efektivitas dan efisiensi proses pembangunan di Indonesia, seharusnya menjadikan pemahaman semua unsur masyarakat yang ada terhadap sektor ini prioritas. Oleh karena itu,

pemerintah diharapkan menggalakkan upaya penanaman pemahaman tentang pertahanan-keamanan kepada masyarakat Indonesia. Hal ini bertujuan membentuk kesadaran semua elemen bangsa terhadap profesi ini, karena sesungguhnya tugas untuk mempertahankan keutuhan seluruh wilayah kedaulatan negeri ini adalah tugas kita bersama, bukan TNI, Polri, dan badan intelejen semata. Itulah yang dikenal dengan prinsip pertahanan-keamanan rakyat semesta. Prinsip ini akan bermasalah dalam implementasinya apabila tidak ada pemahaman dan kesadaran akan urgensi memiliki sistem pertahanan-keamanan yang tangguh dan profesional, baik oleh penentu kebijakan, akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun rakyat pada umumnya. Dengan modal pemahaman dan kesadaran ini, semua elemen bangsa, utamanya pemerintah selaku penentu kebijakan, mengimplementasikan dalam bentuk produk-produk kebijakan yang mengarah pada terwujudnya sistem pertahanankeamanan tangguh dan profesional. Keterbatasan dan kendala yang dihadapi negeri ini tidak seharusnya membuat pemerintah tidak melakukan apa pun. Ada satu kaidah, “apa yang tidak dapat dilakukan seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya”. Artinya, perbaikan demi perbaikan sistem pertahanan-keamanan seyogyanya dilakukan dengan grand design dan gradual tetapi tetap konsisten dan kontinyu. Kata kuncinya terletak pada political will dari pada pemerintah sendiri dengan didukung, tentunya, oleh segenap elemen terkait.

40

DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku Baylis, John, Smith, Steve. The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations. Oxford: Oxford University Press, 2001. Chrisnandi, Yuddy. Reformasi TNI: Perspektif Baru Hubungan Sipil-Militer di Indonesia. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2005. Crouch, Harold. Militer dan Politik di Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1999. Effendy, Muhadjir. Profesionalisme Militer, Profesionalisasi TNI. Malang : UMM Press, 2008. Fattah, Abdoel. Demiliterisasi Tentara. Jogyakarta : Lkis, 2005. John, Smith, Steve. The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations. Oxford : Oxford University Press, 2001. Liddle, R. William. Pemilu-Pemilu Orde Baru : Pasang Surut Kekuasaan Politik. Jakarta : LP3ES, 1992 Nye, Jr., Joseph S. Understanding International Conflict: An Introduction to Theory and History. United States : Longman, 1997. Rahakundini, Connie. Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2007 Tim ProPatria Institute. Mencari Format Komprehensif Sistem Pertahanankeamanan Negara. Jakarta : ProPatria Institute, 2006. The RIDEF Institute, Praktik-praktik Bisnis Militer. Jakarta : 2003. Yulianto, Dwi Pratomo. Militer dan Kekuasaan. Jakarta : Narasi, 2005. Sumber Internet Yahya Muhaimin, http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/04/01/0038.html http://www.mail-archive.com/indo-marxist@yahoogroups.com/msg02558.html antara.co.id

Sumber Majalah Majalah Angkasa No. 7 April 2008 Tahun XVIII. Sumber Koran Koran Kompas Jawa Pos Sumber Jurnal Helga Haftendorn. “The Security Puzzle: Theory Building and Discipline in International Security” dalam International Studies Quarterly Vol.35. No.1, 1991. Liota P. H. “Boomerang Effect: The Convergence of National and Human Security” dalam Security Dialogue Vol.33. No.4, 2002. Jurnal Wacana Edisi 17 tahun 2004. Jogjakarta : Insist Press.

42

LAMPIRAN Lampiran 1 Peta keterlibatan militer dalam politik masa orde baru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Departemen Dalam Negeri Luar Negeri Pertahanan dan Keamanan Kehakiman Penerangan Keuangan Perdagangan dan Koperasi Pertanian Perindustrian Pertambangan dan Energi Pekerjaan Umum Perhubungan Pendidikan dan Kebudayaan Kesehatan Agama Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rata-rata Militer (%) 89 50 100 50 57 30 38 40 38 14 12 56 44 38 56 57 50 48

Sumber : MacDougall, 1982

Posisi Indonesia dalam hal anggaran pertahanan di antara negera-negara di dunia Lampiran 2

Sumber; U.S. Military Spending vs. the World dan Center for Arms Control and Non-Proliferation, February 22, 2008.

44

Lampiran 3 Gaji TNI – Polri data terakhir 2007 setelah mengalami penyesuaian Pangkat TNI AD Jendral Letjen Mayjen Brigjen Kolonel Letkol Mayor Kapten Pangkat Gaji (Rp) Polisi Jendral Pol 2,512,800.00 Komjen 2,436,600.00 Irjen 2,362,800.00 Brigjen Pol 2,291,100.00 Kombes 2,221,700.00 Ajun Kombes 2,154,300.00 Komisaris 2,089,000.00 Ajun 2,025,700.00 komisaris pol Lettu Lettu Lettu Inspektu pol 1,964,300.00 satu Letda Letda Letda Inspektur pol 1,881,300.00 dua Pembantu Pembantu Pembantu Ajun Ins pol 1,652,700.00 lettu lettu lettu satu Pembantu Pembantu Pembantu Ajun Ins pol 1,602,600.00 letda letda letda dua Sersan mayor Sersan mayor Sersan mayor Brigadir pol 1,554,000.00 kepala Sersan kepala Sersan kepala Sersan kepala Brigadir pol 1,506,900.00 Sersan satu Sersan satu Sersan satu Brigadir pol 1,461,200.00 satu Sersan dua Sersan dua Sersan dua Brigadir pol 1,416,900.00 dua Kopral kepala Kopral kepala Kopral kepala Ajun Brig Pol 1,244,700.00 Koptu Koptu Koptu Ajun Brig Pol 1,207,000.00 Satu Kopda Kopda Kopda Ajun Brig Pol 1,170,400.00 Dua Prajurit kepala Prajurit kepala Prajurit kepala Bhayangkara 1,134,900.00 kepala Pratu Kelasi satu Pratu Bhayangkara 1,100,500.00 satu Prada Kelasi dua Prada Bhayangkara 967,200.00 dua Sumber ; http://www.badilag.net/data/PERATURAN_BARU/se_03_2007.pdf Pangkat TNI AL Laksamana Laks.Madya Laks.Muda Laks.Pertama Kolonel Letkol Mayor Kapten Pangkat TNI AL Marsekal Mars.Madya Mars.Muda Mars.Pertama Kolonel Letkol Mayor Kapten

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->