Kata Pengantar

Kebutuhan energi akan semakin meningkat seiring adanya pembangunan berbagai industri sesuai dengan amanah Perpres 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Hingga saat ini sektor industri merupakan sektor yang mendominasi konsumsi energi di Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan energi yang memadai akan menentukan keberhasilan dalam pengembangan industri nasional ke depan. Kajian Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi ini disusun dalam rangka menganalisis tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor industri yang relatif padat energi di Indonesia dan mengidentifikasi permasalahannya. Kami ucapkan terima kasih yang mendalam kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan kajian ini, khususnya Tim INDEF (Institute for Development of Economics and Finance): Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Prof. Dr. Bustanul Arifin, Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, Dr. Enny Sri Hartati, Eko Listiyanto, MSE., Ahmad Heri Firdaus, M.Si., Abra P.G. Talattov, SE. Imaduddin Abdullah, S.Sos., Dzulfian Safian, SE.; serta asosiasi industri: Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI), Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB).

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

|i

Akhirnya kami berharap kajian ini dapat memberi kontribusi bagi pengembangan sektor industri dan energi di masa mendatang.

Jakarta,

Desember 2012

Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian

ii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

Ringkasan Eksekutif
Kajian “Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi”

Sektor industri hingga saat ini merupakan sektor yang mendominasi konsumsi energi di Indonesia, di mana porsinya mencapai 49,4 persen dari total konsumsi energi nasional (Kementerian ESDM, 2012). Dalam sektor industri itu sendiri, terdapat beberapa industri yang dinilai paling padat menggunakan energi, baik yang digunakan sebagai bahan bakar ataupun yang digunakan sebagai bahan baku. Diantaranya adalah industri baja, industri semen, industri pupuk, industri keramik, industri pulp dan kertas, industri tekstil dan industri pengolahan kelapa sawit. Jika dibandingkan dengan faktor input yang lain, biaya energi pada tujuh (7) industri tersebut bahkan lebih besar dari biaya tenaga kerja, serta menempati peringkat kedua setelah biaya bahan baku. Oleh karena itu, dalam mengalisis kebutuhan energi pada sektor industri, selain akan dianalisis kebutuhan energi pada masing-masing sub sektor industri (9 sektor), juga penting dilakukan analisis secara mendalam kebutuhan energi pada 7 industri terpilih tersebut. Secara lebih spesifik, Kajian “Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi” ini bertujuan untuk: 1) menganalisis tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor industri yang lahap energi di Indonesia; 2) mengidentifikasi permasalahan energi yang dihadapi; 3) memproyeksi kebutuhan energi sektor industri; serta 4) menyusun rekomendasi kebijakan perencanaan kebutuhan energi di sektor industri ke depan. Terkait tujuan pertama, hasil analisis menunjukkan bahwa pada 2012 dari 7 industri yang menjadi fokus kajian, industri pupuk merupakan sub sektor industri yang paling padat menggunakan energi. Diikuti dengan

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

| iii

industri pulp dan kertas, industri tekstil, industri semen, industri baja, industri keramik, dan industri pengolahan kelapa sawit. Jika skenario akselerasi dan akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan maka pada 2025 industri pupuk tetap menjadi pengkonsumsi energi terbesar, namun urutan kedua ditempati industri tekstil dan ketiga industri pulp dan kertas, untuk peringkat keempat industri lain urutannya tetap. Industri pupuk menjadi pengguna energi yang terbesar karena lebih banyak menggunakan gas sebagai bahan baku. Sementara Industri pengolahan kelapa sawit menjadi pengguna energi terkecil karena sebagian besar energi yang dibutuhkan dipenuhi dari biomassa. Dari sekian banyak bahan bakar energi yang digunakan oleh industriindustri tersebut, BBM (solar), listrik dan batubara merupakan jenis bahan bakar yang paling banyak digunakan. Namun, belakangan gas telah menjadi jenis bahan bakar yang semakin banyak digunakan oleh industri. Tetapi dalam mendapatkan gas tersebut, industri masih menghadapi berbagai kendala dalam mengakses bahan bakar gas tersebut. Tujuan kedua yaitu mengidentifikasi permasalahan energi yang dihadapi oleh sektor industri. Terdapat sejumlah masalah utama yang dihadapi sektor industri terkait dengan akses mereka terhadap energi, antara lain: 1) Kesulitan memperoleh gas karena terjadi defisit pasokan gas untuk kebutuhan industri dalam negeri, sementara di sisi lain sebagian produksi gas justru ditujukan untuk ekspor. 2) Terbatasnya infrastruktur energi, seperti jaringan transmisi gas bumi yang masih minim. 3) Ketidaksesuaian antara persebaran sumber energi dengan lokasi industri, misalnya sumber gas bumi yang melimpah di Kalimantan dan Sumatera namun lokasi industri terpusat di pulau Jawa. 4) Masih rendahnya pemanfaatan batubara untuk kebutuhan domestik sedangkan sebagian besar (70 persen) dari produksi batubara dipasarkan ke luar negeri. 5) Diversifikasi energi terutama energi terbarukan masih sulit dilakukan karena selain biaya yang dikeluarkan jauh lebih mahal, infrastruktur yang dibutuhkan juga masih belum memadai. Tujuan ketiga, memproyeksi kebutuhan energi sektor industri. Pada tujuan ketiga ini analisis dibagi dua, yaitu kebutuhan energi pada 9 subsektor industri dan kebutuhan energi 7 industri terpilih yang relatif padat energi. Pada proyeksi 9 subsektor industri diperoleh hasil bahwa di tahun 2025 kebutuhan energi yang paling besar terdapat pada industri

iv | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

makanan, minuman dan tembakau, sebesar 72.210 gWh atau sekitar 26,6 persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Saat ini, industri makanan, minuman dan tembakau belum menjadi industri yang paling banyak membutuhkan energi, namun dikarenakan industri ini diproyeksikan akan menjadi salah satu industri yang tumbuh paling pesat, maka menimbulkan konsekuensi bahwa pertumbuhan permintaan energinya pun turut meningkat pesat pula. Selain itu, jumlah perusahaan di industri ini merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan jumlah perusahaan di industri lainnya. Selanjutnya, di urutan kedua industri pupuk, kimia dan barang dari karet yang kebutuhan konsumsi energi pada 2025 mencapai 60.232 gWh atau sekitar 22,0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Di tempat ketiga industri semen dan barang galian bukan logam yang membutuhkan energi sebesar 41.732 gWh (15,35 persen). Urutan keempat industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki yang diproyeksikan akan membutuhkan energi sebesar 36.050 gWh (13,0 persen). Urutan kelima, industri alat angkutan, mesin dan peralatannya sebesar 18.491 gWh (6,8 persen). Keenam, industri logam dasar besi dan baja yang membutuhkan energi sebesar 14.431 gWh (5,3 persen). Ketujuh, industri kertas dan barang cetakan 10.212 gWh (3,8 persen). Terakhir, industri barang kayu dan hasil hutan yang diperkirakan mengkonsumsi energi dengan jumlah yang paling sedikit, sebesar 2.732 gWh atau sekitar 1,0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Pada proyeksi kebutuhan energi 7 industri terpilih yang relatif padat energi dihitung dengan menggunakan 3 skenario; skenario Business as Usual (BAU), skenario akselerasi, dan skenario akselerasi disertai efisiensi. Pendekatan dalam menghitung kebutuhan energi secara sektoral ini lebih bersifat mikro, artinya perhitungan mempertimbangkan berbagai perkembangan yang terjadi di sektor industri tersebut, seperti kemampuan tumbuh (kapasitas, produksi, konsumsi) secara alamiah atau tren pertumbuhan industri, rencana pembangunan pabrik baru, tren diversifikasi penggunaan sumber energi tertentu pada suatu industri, upaya melakukan efisiensi biaya, mengejar target swasembada suatu produk, menyamai/menyetarakan konsumsi per kapita dengan negara lain, dll. Selain itu pendekatan juga bersifat kasuistik dan ilustratif,

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

|v

dengan menampilkan contoh perusahaan tertentu yang memiliki pangsa pasar dominan dalam suatu industri. Secara ringkas kebutuhan energi untuk industri baja dengan skenario Business as Usual (BaU) pada 2025 diperkirakan sebesar 11.626 gWh. Dengan skenario akselerasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan baja domestik (swasembada baja) diperlukan energi sebesar 29.392 gWh pada 2025. Skenario akselerasi disertai efisiensi pada industri baja lebih menekankan pada kemungkinan diturunkannya intensitas energi pada industri baja serta dilakukannya substitusi sumber energi primer. Jika hal ini berhasil dilakukan maka pada 2025 dibutuhkan energi sebesar 19.595 gWh dan penghematan yang berhasil dilakukan sebesar Rp 6,4 triliun. Kebutuhan energi utama pada industri tekstil adalah energi listrik. Mengingat pasokan listrik PLN ke industri tekstil saat ini baru sekitar 70 persen maka sisanya sebesar 30 persen menggunakan pembangkit sendiri yang membutuhkan minyak, batubara, dan gas. Dihitung dengan skenario BaU kebutuhan energi pada industri tekstil pada 2025 sebesar 50.417 gWh. Dengan skenario akselerasi di mana targetnya mencukupi seluruh kebutuhan konsumsi kain dalam negeri, maka pada 2025 dibutuhkan energi 252.955 gWh. Hal ini mengingat proporsi impor kain di Indonesia masih sekitar 39 persen, serta pertumbuhan konsumsi kain domestik yang cukup tinggi, sebesar 17 persen per tahun. Kondisi ini diikuti dengan tingkat pertumbuhan penduduk 2,3 persen per tahun, dan semakin cepatnya perubahan trend fashion. Selanjutnya, pada skenario akselerasi disertai efisiensi, salah satu isu utamanya adalah cukup tuanya mesin-mesin produksi yang digunakan industri tekstil sehingga penggunaan energinya relatif boros. Oleh karena itu, perhitungan skenario akselerasi disertai efisiensi selain menekankan pada urgensi untuk mencukupi konsumsi kain domestik juga pentingnya efisiensi dengan restrukturisasi permesinan dan substitusi energi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kebutuhan energi di industri tekstil pada 2025 sebesar 222.600 gWh. Hasil perhitungan penghematan biaya yang bisa diperoleh jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan pada industri tekstil adalah Rp12,8 triliun pada 2025. Perhematan tersebut bersumber dari program restrukturisasi permesinan yang akan menghemat pemakaian energi dan peningkatan

vi | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

produktivitas, serta adanya diversifikasi energi untuk pembangkit listrik dari BBM ke batubara. Secara umum kebutuhan energi utama pada industri pengolahan kelapa sawit adalah energi listrik, di mana semakin besar kapasitas produksi dan jenis produk olahan, relatif semakin tinggi pula tambahan energi yang diperlukan dalam proses produksi. Hasil perhitungan skenario BaU menunjukkan bahwa pada 2025 industri pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi sebesar 594 gWh. Skenario akselerasi dihitung dengan asumsi produktivitas kebun kelapa sawit Indonesia setara dengan Malaysia. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pada 2025 industri pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi sebesar 832 gWh. Sementara itu, skenario akselerasi disertai efisiensi dihitung dengan asumsi selain industri CPO mampu melakukan akselerasi juga dapat menurunkan intensitas energinya setara world best practice yaitu sebesar 17 kWh per Ton TBS. Hasil perhitungan dengan skenario ini menunjukkan bahwa pada 2025 industri pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi sebesar 786 gWh. Pulp dan kertas ibarat emas hijau bagi pembangunan Indonesia. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara, sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama eksportir di bidang kehutanan sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih dalam Ramli, 2006). Dengan skenario Business as Usual perkiraan kebutuhan energi pada industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 87 ribu gWh. Energi tersebut diperoleh dari biomassa yang dapat menghasilkan energi sekitar 41 ribu gWh. Selain itu, kebutuhan energi juga dipenuhi dari gas sebanyak 22 juta MMBTU dan batubara sebanyak 423 ribu ton. Saat ini Indonesia berada pada posisi ke 9 dunia sebagai produsen pulp dan posisi ke 8 sebagai produsen kertas. Dengan potensi sumber daya hutan produksi yang besar, sangat mungkin bagi Indonesia untuk melakukan akselerasi pada industri pulp dan kertas guna meningkatkan posisi sebagai produsen pulp dan kertas dunia menjadi peringkat ke 5. Dengan skenario akselerasi kebutuhan energi pada industri pulp dan kertas mencapai 145 ribu gWh. Energi tersebut diperoleh dari biomassa setara dengan 72 ribu gWh, gas sebanyak 40 juta MMBTU, dan 742 ribu ton batubara. Sedangkan pada skenario akselerasi disertai efisiensi energi

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

| vii

pada 2025 industri pupuk membutuhkan total gas alam sebesar 1. Hasil perhitungan penghematan biaya yang bisa diperoleh jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan pada industri pulp dan kertas adalah Rp14.321 gWh.589 gWh.314 juta MMBTU yang terdiri dari 1.09 juta ton batubara setara 12. mengingat konsumsi gas merupakan salah satu indikator penting untuk menilai produksi pupuk. dan sebagainya. Kebutuhan energi industri pupuk sangat dipengaruhi oleh ketersediaan gas alam. serbuk kayu (saw dust). Energi tersebut dapat diperoleh dari 24. yakni gas sebanyak 34 juta MMBTU dan 647 ribu ton batubara.560 gWh.414 gWh. kulit pohon (bark). jumlah energi tersebut dapat diperoleh dari 46.4 juta viii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Dalam skenario akselerasi disertai efisiensi diasumsikan kebutuhan energi untuk melakukan akselerasi tersebut dipenuhi dari batubara. sedangkan untuk bahan bakar dibutuhkan 2. Pada skenario akselerasi. konsumsi gas alam sebagai bahan bakar saling kait mengait dengan konsumsi gas alam sebagai bahan baku. Sementara dengan skenario akselerasi berupa peningkatan kapasitas produksi menjadi 86 persen (pencapaian efisiensi tertinggi selama delapan tahun terakhir).81 triliun pada 2025.370 juta MMBTU untuk bahan baku dan 42 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 12. Industri semen merupakan industri yang sedang tumbuh subur seiring dengan meningkatnya pertumbuhan sektor properti dan pembangunan infrastruktur.274 juta MMBTU untuk bahan baku dan 39 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 11.9 triliun pada 2025. Substitusi sumber energi primer tersebut dapat menghemat biaya energy sekitar Rp2. Pada 2025.370 juta MMBTU yang seluruhnya digunakan untuk bahan baku.yang dibutuhkan menjadi berkurang. Berdasarkan skenario BaU pada 2025 industri pupuk membutuhkan total gas alam sebesar 1. Penghematan tersebut sangat mungkin dicapai jika industri pulp dan kertas lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi dari biomassa seperti black liquor.9 juta ton batubara dan 23. Dengan skenario BaU kebutuhan energi pada industri semen pada 2025 mencapai 23. Sementara dihitung dengan skenario akselerasi dan skenario akselerasi disertai efisiensi kebutuhan energi pada industri semen mencapai 38. sludge. cpo. Dalam perhitungan kebutuhan energi industri pupuk.412 juta MMBTU yang terdiri dari 1.414 gWh.173 gWh listrik. kompos. industri pupuk membutuhkan total gas alam sebesar 1.

Industri ini merupakan jenis industri yang relatif banyak mengkonsumsi energi.41 triliun pada 2025.5 gWh.479 gWh.508 gWh. dan kebutuhan listrik sebesar 2. Perlu membuat industri pengelola limbah yang terintegrasi dengan berbagai industri yang lahap energi. Jumlah energi tersebut dapat diperoleh dari gas alam sebesar 170. Jumlah energi ini dapat diperoleh dari gas alam sebesar 129. Dalam hal penggunaan batubara.331 barel dan kebutuhan listrik sebesar 1. Hasil proyeksi dengan skenario BaU energi yang dibutuhkan pada 2025 mencapai 3.977 barel dan listrik sebesar 2. karena sifat spesifik gas yang tidak bisa digantikan oleh sumber energi lain.ton batubara dan 38.408 MMBTU. Seiring meningkatnya harga BBM maka penggunaan batubara dan gas alam sebagai sumber energi alternatif perlu lebih ditingkatkan. Penggunaan batubara terintegrasi dan terlokalisasi di pembangkit listrik PLN bertujuan untuk meminimalisasi pencemaran.437 MMBTU. Lebih lanjut. 2.624 MMBTU. Ketersediaan gas sangat menentukan keberlangsungan produksi keramik. khususnya gas alam.320 gWh listrik. Hasil kajian ini merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut: 1.320 gWh listrik. BBM sebesar 1. Jumlah energi ini dapat diperoleh dari gas alam sebesar 179. 3. jika skenario efisiensi yang disertai akselerasi dapat dilakukan maka diperkirakan energi yang dibutuhkan mencapai 5.586. Penghematan dari alih sumber energi primer ini sebesar Rp1. upaya penyediaan suplai listrik oleh PLN dengan sumber energi pembangkit dari batubara perlu ditingkatkan.4 gWh.299 gWh.607 barel. kebutuhan energi industri keramik mencapai 5.664. Limbah hasil pengolahan industri Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | ix . BBM sebesar 1. Pentingnya melakukan program restrukturisasi permesinan pada berbagai sektor industri yang disertai dengan sejumlah insentif agar penggunaan energi lebih efisien. 4.1 juta ton batubara.831 MMBTU gas alam dan 38.053.752.232 gWh. Sedangkan pada skenario akselerasi disertai efisiensi sumber energi dapat dipenuhi dari 23. 493. Sementara dengan skenario akselerasi. BBM sebesar 1. Permintaan industri keramik saat ini sedang meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan sektor konstruksi.639.

Pemerintah perlu mendorong penelitian-penelitian yang dapat menghasilkan penemuan-penemuan inovatif dalam rangka penghematan (efisiensi) energi di sektor industri dan upaya untuk mendorong penggunaan energi alternatif terbarukan. x | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .bisa dihubungkan dengan industri pengolahan limbah B3. dalam satu wilayah industri bisa dibuat satu industri pengumpul limbah yang berfungsi sebagai distributor limbah yang akan memanfaatkan limbah sebagai bahan bakar. 5. Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar ini akan sejalan dengan tujuan mewujudkan green industry.

Industri Baja 23 23 23 24 24 25 26 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xi . Jenis dan Sumber Data 3. Tujuan Penelitian 1.3. Focus Group Discussion 3. China 2. Kebijakan Energi di Indonesia 2. Asumsi 3.2.1.1.1.1.Daftar Isi Kata Pengantar Ringkasan Eksekutif Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Singkatan dan Istilah i iii xi xv xix xxi BAB I PENDAHULUAN 1.2.2.3. Latar Belakang 1.3.2.2. Wawancara 3.1. Kebijakan Bauran Energi 2. Kendala dalam Pemenuhan Kebutuhan Energi bagi Industri di Indonesia 7 7 7 11 12 15 15 16 20 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Pasokan dan Kebutuhan Energi 2. India 2.1.2.1.1. Overview Pengelolaan Energi Negara Lain 2.1. Manfaat Kajian 1 1 5 5 BAB II GAMBARAN PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL 2.1. Metode Analisis 3.3.3.2.2. Malaysia 2.1.

Industri Keramik 45 45 50 50 52 53 54 55 56 57 57 58 59 60 64 65 67 71 73 76 81 81 88 91 94 BAB V KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI 5. Industri Tekstil.5. Kinerja Subsektor Industri 4. Industri Kelapa Sawit 3.3.2.2.3. Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya 4.3.3.6. Proyeksi Komposisi Penggunaan Energi 9 (Sembilan) Kelompok Industri 5. Industri Makanan.4.4. Industri Semen 3. Industri Pulp dan Kertas 3.3.1. Kimia dan Barang dari Karet 4. Industri Pupuk 4.8. Industri Baja 4. Industri Logam Dasar Besi & Baja 4.1. Industri Pupuk.2.5.7.2. Batasan Studi 29 31 37 39 40 42 43 BAB IV KINERJA SEKTOR INDUSTRI 4.2.3. Mesin dan Peralatannya 4. Permasalahan Energi pada Sektor Industri xii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e .4.2. Industri Tekstil 4.1.3.2.1. Kinerja 7 Industri Terpilih 4.2.2.9.5.2.6.4. Industri Keramik 3.3. Barang dari Kulit dan Alas Kaki 4. Industri Alat Angkutan.3.4. Industri Pengolahan Kelapa Sawit 4.2.3. Industri Barang lainnya 4.3.3.7.2.3.3.7. Industri Pupuk 3. Industri Semen 4. Industri Semen dan Barang Galian bukan logam 4.2.3.2. Kinerja Sektor Industri Indonesia 4. Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Sub Sektor Industri 5. Proyeksi Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Kelompok Industri 5.3.6. Industri Pulp dan Kertas 4.3.3. Industri Kertas dan Barang Cetakan 4. Industri Tekstil 3.3. Minuman dan Tembakau 4.

3.6.1. Rekomendasi Masing-masing Industri Terpilih Daftar Pustaka Lampiran Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xiii .6.1.1.7.1. Industri Semen 6.7. Kesimpulan 7.2.3.2.8.3. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pulp dan Kertas 6.1. Industri Tekstil 6. Realisasi Konsumsi Energi Industri Pupuk 6.1.1. Industri Pupuk 6. Kebutuhan Energi Industri Tekstil 6. Kebutuhan Energi Industri Baja 6. Industri Keramik 6.2.1.2. Realisasi Konsumsi Energi Industri Pulp dan Kertas 6. Kebutuhan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit 6.2. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pupuk 6.2. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pupuk 6.1. Komposisi Penggunaan Energi Industri Keramik 6.4.2.4.2.4. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pulp dan Kertas 6.2. Rekomendasi Umum 7. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih 99 100 100 102 107 107 108 113 113 114 116 116 118 120 124 124 126 127 131 131 132 139 139 141 146 151 151 154 154 156 161 BAB VII PENUTUP 7. Industri Pulp dan Kertas 6. Komposisi Penggunaan Energi Industri Semen 6.4.1.2.2.2. Kebutuhan Energi Industri Semen 6. Industri Pengolahan Kelapa Sawit 6.1.5.BAB VI KEBUTUHAN ENERGI PADA INDUSTRI TERPILIH 6. Komposisi Penggunaan Energi 6. Rekomendasi 7.2. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit 6. Kebutuhan Energi Industri 6. Industri Baja 6.5.1.3.2. Komposisi Penggunaan Energi Industri Tekstil 6.7.3.5.5.6.

xiv | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e .

Daftar Tabel Tabel 3. Neraca Gas Untuk Industri & PLN Tahun 2010 –2011 (MMSCFD) Tabel 4. Kapasitas.2. Beberapa Indikator Kinerja Alat Angkutan. Beberapa Indikator Kinerja Industri Tekstil. Total. dan Efisiensi Produksi Amoniak dan Urea 2003-2010 Tabel 4.12. Rencana Penambahan Kapasitas Produksi Baja Nasional Tabel 3.11. Realisasi Produksi Pupuk dan Non-Pupuk PT Pusri (Holding) tahun 2005-2010 Tabel 4. Kulit dan Alas Kaki Tabel 4. Beberapa Indikator Kinerja Industri Pupuk. Laju pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (persen) Tabel 4.4. Mesin dan Peralatannya Tabel 4. Beberapa Indikator Kinerja Industri Kayu dan Barang dari Kayu Tabel 4.3.9. Beberapa Indikator Kinerja Industri Semen dan Barang Galian bukan logam Tabel 4. Minuman dan Tembakau Tabel 4.2. Beberapa Indikator Kinerja Industri Kertas dan Barang Cetakan Tabel 4.8.14. Kimia dan Barang dari Karet Tabel 4.6.5. Beberapa Indikator Kinerja Industri Logam Dasar Besi dan Baja Tabel 4. Konsumsi per Kapita Baja Beberapa Negara Tahun 2009 Tabel 4. Beberapa Indikator Kinerja Industri Makanan.15.13. Beberapa Indikator Kinerja Industri Barang lainnya Tabel 4.7.1.3. Profil Industri Tekstil Tabel 4.1. Realisasi Produksi Pupuk dan Non-Pupuk PT Pusri (Holding) 2005-2010 Tabel 3.16.4. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (persen) Tabel 4. Realisasi Pemakaian Gas Alam Dalam Proses Pembuatan Urea dan Amoniak Tabel 3.10. Pangsa Produksi CPO 28 32 35 36 45 46 49 51 53 54 55 55 56 57 58 59 62 65 66 72 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xv .

Agregasi Kebutuhan Energi 7 Sektor Industri Terpilih Tabel 6.8.7.2. Nilai Watt (kWh) dari Masing-masing Jenis Bahan Bakar Energi Tabel 5. Struktur Biaya Produksi Industri TPT Tabel 6.1.10. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Baja Tabel 6. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Baja Tabel 6.10. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit Tabel 6. Kebutuhan Energi Industri Tekstil (gWh) Tabel 6. Proyeksi Pertumbuhan Industri Kecil.Tabel 4.5.3. Proyeksi Komposisi Kebutuhan Energi Setiap Jenis Energi Pada 9 Kelompok Industri Tabel 5. Proporsi Konsumsi Energi Industri Baja Tahun 2009 Tabel 6.13.5.4.17.9. Menengah dan Besar 2010-2025 (Persen) Tabel 5. Komponen Biaya Produksi PT.9.7. Penghematan Energi pada Industri Pengolahan Kelapa Sawit (Rp miliar) 73 83 84 85 86 89 90 92 93 96 97 100 101 102 103 104 106 107 107 110 111 112 113 115 116 xvi | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e .6. Persentase Kebutuhan Energi Pada Industri Manufaktur Tahun 2009 Tabel 5. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Baja (gWh) Tabel 6.14. Penghematan Biaya Energi pada Industri Baja Tabel 6. Kebutuhan Energi Industri Tekstil (satuan unit) Tabel 6. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Tabel 5.6.12.2. Persentase Jenis Energi Pada Industri Manufaktur Tahun 2009 Tabel 6.11.1. Proyeksi Kekurangan Kebutuhan Energi Industri Tekstil (satuan unit) Tabel 6.8. Krakatau Steel tahun 2010 Tabel 6. Proyeksi Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Kelompok Industri (gWh) Tabel 5.3. Proyeksi Komposisi Kebutuhan Energi Pada 9 Kelompok Industri (Satuan Unit) Tabel 5.4 Distribusi Komposisi Kebutuhan Energi dari Masingmasing Jenis Industri 2009 Tabel 5. Komposisi Kebutuhan Masing-masing Energi Pada Industri Manufaktur Tahun 2009 Tabel 5. Kebutuhan Energi 9 (sembilan) Kelompok Sektor Industri (gWh) Tabel 5. Penghematan dari Diversifikasi dan Efisiensi Energi Tabel 6.

16.25. Penghematan Biaya Energi pada Industri Semen Tabel 6.17.24.18.31. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada Skenario Akselerasi disertasi Efisiensi (gWh) Tabel 6. Tabel 6.29.21.22. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pupuk 2012-2025 Tabel 6.26.28. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Pupuk 20122025 Tabel 6. Komposisi Input Energi Industri Pulp dan Kertas (Persen) Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pulp dan Kertas Proyeksi Kekurangan Energi Industri Pulp dan Kertas Penghematan Biaya Energi pada Industri Pulp dan Kertas (Rp triliun) Tabel 6. Penghematan Biaya Energi pada Industri Keramik Tabel 6. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada Skenario Business as Usual 120 122 123 124 128 130 137 138 138 139 143 144 145 145 146 147 147 148 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xvii . Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Keramik Tabel 6. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada Skenario Akselerasi (gWh) Tabel 6. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Keramik (gWh) Tabel 6. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada Skenario Business as Usual (gWh) Tabel 6.27.19.23. Tabel 6.32. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Semen (gWh) Tabel 6. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Semen Tabel 6.30. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Semen Tabel 6.15. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Keramik Tabel 6. Tabel 6.20.Tabel 6.

xviii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e .

Daftar Gambar Gambar 1. Kontribusi Industri Non Migas terhadap PDB (persen) Gambar 4.4b.5. Komposisi Kebutuhan Energi Industri Pupuk tahun 2009 (persen) Gambar 4.2. Konsumsi Energi Primer Berdasarkan Jenis Energi Gambar 2. Perkembangan Permintaan Energi Primer Dunia Gambar 2.1.6.2. Rasio Total Produksi Urea dan Amoniak terhadap Total Produksi Industri Pupuk Gambar 3. Komposisi Konsumsi Energi pada Sektor Industri di India (persen) Gambar 2. Bauran Energi Pembangkit Listrik Malaysia Gambar 2. Pasokan Energi di Indonesia Menurut Jenis (20002010) Gambar 2. Sasaran Bauran Energi Primer Nasional 2025 Gambar 2. Perbandingan Permintaan Energi Berdasarkan Sektor Gambar 2.11.2.9. Komposisi Penggunaan Energi China Gambar 2. Penggunaan Energi di Sektor Industri Berdasarkan Wilayah Gambar 2.2. Kontribusi terhadap PDB Gambar 2.8.4a.3. Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang Triwulanan 2009-2012 (persen) Gambar 4.14. Pemasok Batubara untuk Pembangkit Listrik Malaysia Gambar 2. Konsumsi Baja Nasional (juta ton) 2 3 8 8 9 9 9 10 11 12 13 13 14 15 17 18 19 33 33 47 49 60 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xix .3.1. Konsumsi Energi di Indonesia Menurut Jenis (20052010) Gambar 2.12. Konsumsi Energi di Indonesia Menurut Sektor (2004-2010) Gambar 3. Perbandingan Intensitas Energi Primer di Beberapa Negara Gambar 2.13.10. Pemakaian Energi Akhir Menurut Sektor (persen) Gambar 1.1.1. Perkembangan Intensitas Energi Di China Gambar 2.7. Efisiensi penggunaan energi Gambar 2.

Produksi dan Konsumsi Keramik Nasional (juta M2) Gambar 6. Konsumsi Semen Per Kapita Tahun 2010 (kilogram) Gambar 6. Komposisi Biaya Energi Pada Industri Semen Tahun 2009 (persen) Gambar 6.10.9. Produksi Pulp Indonesia (Juta Ton) Gambar 4. Jenis Bahan Bakar di PT.2. Produksi Kertas Indonesia (Juta Ton) Gambar 4.8. Biaya Produksi pada Industri Keramik Tahun 2009 (Persen) Gambar 6. Komposisi Input Industri Pulp dan Kertas Gambar 4. Rata-rata Rasio Total Produksi Urea dan Amoniak terhadap Total Produksi Industri Pupuk Selama Periode 2003-2010 Gambar 4.11.8.4. Konsumsi Semen Nasional (JutaTon) Gambar 4.IKPP (persen) Gambar 6.5.7. Biaya Energi pada Industri Keramik Tahun 2009 (Persen) 66 67 70 70 71 74 78 108 118 118 119 126 129 131 132 135 140 141 xx | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e .5. Proyeksi Konsumsi Energi yang Dibutuhkan Industri Pupuk Gambar 6. Komposisi Sumber Energi Industri Tekstil (persen) Gambar 6. Komposisi Penggunaan Energi untuk Bahan Bakar pada Industri Pupuk 2009 Gambar 6.6.3. Kebutuhan Energi di Industri Pulp dan Kertas Gambar 6.6.4. Komposisi Biaya Energi pada Industri Pengolahan Kelapa Sawit (persen) Gambar 6. Komposisi Kebutuhan Energi Industri Pupuk tahun 2009 (Persen) Gambar 4.1.Gambar 4.10.7.9. Komposisi Biaya Produksi Pada Industri Semen 2009 (persen) Gambar 6.

KS Pusri Rp Scrap Saw dust Sludge Tankos US$ WR : Calorie (kalori) : Cold Rolled Coil : Giga Watt hour : Gram : Hot Rolled Coil : Mega Watt hour : Million Metric British Thermal Units : Mile-Mile Standard Cubic Feet : Kilo Kalori : Kilo Watt Hour : Pupuk Gresik : Pupuk Iskandar Muda : Pupuk Kujang : Pupuk Kalimantan Timur : Perseroan Terbatas Krakatau Steel : Pupuk Sriwijaya : Rupiah : Besi rongsokan : Serbuk kayu : Lumpur/endapan : Tandan kosong kelapa sawit : US dollar : Wire Rod Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | xxi . kulit dan potongan kayu Cal CRC gWh Gr HRC mWh MMBTU MMSCF Kkal kWh PG PIM PK PKT PT.Daftar Singkatan dan Istilah BaU Bark Black liquor : Business as Usual : Kulit pohon : Cairan hitam kental yang merupakan produk sampingan dari proses perubahan kayu menjadi bubur (pulp) Black liquor gasification-combined cycle (BLGCC) : Teknologi gasifikasi dengan menggunakan black liquor.

xxii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi e .

1. utamanya sebagai bahan bakar untuk proses produksi. karena sesuai dengan karakteristik mesin dan sesuai dengan kebutuhan produk. Secara umum. pemerintah berupaya untuk menciptakan kebijakan yang ideal sedemikian agar kenaikan kebutuhan energi dapat diimbangi dengan kenaikan penyediaan energi yang akan menghasilkan tambahan output.BAB I PENDAHULUAN 1. Urgensi ini membuat upaya peningkatan pertumbuhan sektor industri tidak dapat lepas dari analisis penyediaan energi sektor industri. Latar Belakang Peranan energi sangat penting bagi akselerasi sektor industri. Untuk itu. Peningkatan penggunaan energi di sektor industri dalam 10 tahun terakhir terjadi karena proses Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 1 . sektor industri merupakan sektor yang mengkonsumsi energi akhir paling banyak bila dibandingkan dengan sektor lainnya (Gambar 1. Selain sebagai bahan bakar. Jika kondisi ini tercapai maka setiap energi yang dikonsumsi dalam proses produksi akan lebih efisien. Kebutuhan energi akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi nasional yang dicirikan antara lain dengan perkembangan sektor industri dan peningkatan jumlah penduduk. energi juga dapat dipakai sebagai bahan baku produk.1). Namun pemerintah mengalami kesulitan untuk mengimbangi kenaikan permintaan tersebut dengan penyediaan energi yang cukup dan tepat sasaran serta energi yang ekonomis. Mesin produksi hanya dapat bekerja optimal jika energi yang tersedia mencukupi dan sesuai dengan karakteristik mesin.

2 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Terlebih lagi sektor industri dalam negeri pernah sangat terpukul waktu krisis moneter 1997-1998 yang menyebabkan depresiasi besar nilai tukar rupiah. diduga terjadi pemborosan penggunaan energi di sektor industri (ESDM. Sehingga banyak industri yang harus beroperasi hanya dengan mengandalkan mesin-mesin tua yang relatif boros energi. 2007. dalam Pambudi. 2009). Selain peningkatan jumlah industri baik perluasan pabrik maupun pendirian industri-industri baru. Tingginya tingkat ketergantungan terhadap mesin-mesin produksi impor membuat pelaku industri tidak mampu memperbarui mesin-mesin produksinya.transformasi struktural yang cepat dari sektor pertanian ke sektor industri.

Kementerian ESDM. Perbandingan Intensitas Energi Primer di Beberapa Negara Disamping persoalan efisiensi penggunaan energi. utamanya terkait dengan peluang investasi di suatu industri tertentu. Oleh karena itu analisis tentang kebutuhan energi di sektor industri penting untuk dilakukan. 2011 Catatan: PDB konsumsi energi primer menggunakan nilai tetap US$ tahun 2000 Gambar 1. besarnya energi yang diperlukan untuk keberlangsungan sektor industri penting dikaji. Jika tidak segera ditangani. agar upaya akselerasi sektor industri dapat diiringi dengan penyediaan energi yang memadai. Dampak yang lebih besar lagi adalah inefisiensi energi dalam skala massif dan berkepanjangan dapat menyebabkan inefisiensi ekonomi melalui alokasi sumber daya yang tidak optimal. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi |3 . Ketidakefisienan pemakaian energi sangat merugikan sektor industri karena terkait dengan jumlah output yang dihasilkan serta keuntungan agregat industri. Sumber: Handbook Energy 2010. Perencanaan pembangunan industri selalu terkait dengan besarnya energi yang dibutuhkan. akan berdampak pada sulitnya mencapai target pertumbuhan ekonomi rata-rata 7-9 persen per tahun sesuai dengan target Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.2.Indonesia memerlukan energi lebih banyak dibandingkan dengan produk yang sama di negara lain.

industri pengolahan kelapa sawit dan industri pulp dan kertas penting juga dilihat kebutuhan energinya. semen. Beberapa industri seperti baja. 2011). Sementara industri pulp dan kertas 4 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Pada industri berbasis agro. dan merupakan fokus Dokumen Akselerasi Industrialisasi Tahun 20122014 yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian. Terlebih lagi industri tersebut yaitu: baja. pupuk. di mana sebagian besar merupakan industri yang berbasis manufaktur. industri-industri tersebut dapat dijadikan sebagai suatu patokan perhitungan atau signal dalam analisis penyediaan energi sektor industri. sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Ditjen EBTKE. tekstil. tekstil. dan keramik menjadi prioritas dalam pengembangan industri nasional. Hal ini sebagai bahan pertimbangan kebijakan akselerasi industri sekaligus dalam upaya mempercepat pertumbuhan industri nasional yang salah satunya dengan cara menarik investasi baru. Industri pengolahan kelapa sawit. Perhitungan kebutuhan energi sektor industri yang dibedakan menurut basis industrinya yaitu industri material dasar dan industri manufaktur padat karya juga penting dilakukan.Perhitungan kebutuhan energi pada industri terpilih yang tergolong padat energi atau yang paling banyak menggunakan sumber energi penting dilakukan. industri semen. terutama minyak kelapa sawit. Saat ini terdapat sekitar 10 perusahaan yang menggunakan energi terbesar di Indonesia. industri pupuk (petrokimia). Sementara peran penting industri manufaktur padat karya salah satunya terlihat pada industri tekstil dan produk tekstil. berperan dalam meningkatkan daya dukung terhadap industri makanan olahan di Indonesia. Oleh karena itu. dan industri keramik. Peran penting industri material dasar dalam pembangunan antara lain terlihat pada industri dan baja. semen. dan keramik merupakan industri-industri yang mengkonsumsi energi relatif besar dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun (KESDM. pupuk.

Industri Pupuk. dan g. Industri Baja. d. Industri Tekstil. 2) Mengidentifikasi permasalahan energi pada sektor industri.berperan dalam meningkatkan nilai tambah produk seiring permintaan produk kertas yang meningkat. Industri Keramik. Manfaat Kajian Saat ini pemerintah seringkali dihadapkan pada permasalahan yang dianggap sangat krusial yaitu kurang tersedianya energi untuk Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi |5 . b. c. Dengan demikian penelitian ini akan menganalisis secara lebih mendalam mengenai besarnya tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor industri di Indonesia yang tergolong paling banyak menggunakan sumber energi atau industri padat energi. 1. yaitu: a. Tujuan Penelitian Penelitian tentang kebutuhan energi pada sektor industri dimaksudkan untuk menganalisis besarnya kebutuhan energi yang diperlukan oleh industri dalam proses produksinya. 3) Memproyeksi kebutuhan energi pada beberapa sektor industri dengan beberapa skenario. Industri Pengolahan Kelapa Sawit. 1. Secara lebih rinci tujuan yang ingin dicapai dalam kajian ini adalah: 1) Menganalisis tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor industri di Indonesia yang relatif padat energi. Sektor industri yang dianalisis secara lebih mendalam pada kajian ini terdiri dari 7 sektor industri terpilih yang padat energi. Industri Pulp dan Kertas.2. f. Industri Semen. 4) Menyusun rekomendasi kebijakan perencanaan kebutuhan energi di sektor industri ke depan. e.3.

Selain itu kajian ini juga dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi sektor industri khususnya perusahaan dalam membuat strategi penggunaan energi ke depan khususnya yang berkaitan dengan jenis energi yang dibutuhkan sebagai bahan bakar maupun sebagai bahan baku produksi. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sektor industri dapat menunjang target pertumbuhan ekonomi nasional. Ketersediaan data kebutuhan energi pada satuan aslinya akan dapat menjadi alternatif solusi bagi pemerintah dalam membuat kebijakan penyediaan energi di sektor industri. dalam satuan aslinya. Salah satu faktor penghambat adalah kurang tersedianya prasarana distribusi energi sehingga konsumen sulit mengakses energi murah tersebut. sehingga lebih mudah bagi semua pihak untuk melakukan perencanaan energinya. 6 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Ketidaktepatan kebijakan ini pada akhirnya akan menurunkan daya saing industri Indonesia di pasar internasional. maka seringkali terjadi energi yang murah malah diekspor. kajian ini diharapkan dapat menyajikan kebutuhan energi di masing-masing kelompok industri padat energi. khususnya penyediaan energi di 7 sektor industri terpilih yang padat energi. Argumentasi yang seringkali diajukan pemerintah adalah tidak adanya perencanaan energi untuk industri yang dapat dijadikan pegangan bagi pemerintah. Diharapkan dengan tercapainya solusi penyediaan energi di 7 sektor industri terpilih yang padat energi. Akibat dari kurangnya perencanaan energi yang tidak matang. sedangkan industri dalam negeri justru terpaksa menggunakan energi mahal yang tersedia.industri yang sangat strategis. Untuk itu.

Di kawasan ASEAN. di mana China mengambil porsi terbesar atas total permintaan energi dunia.1. namun dengan benchmark negara-negara yang relatif lebih baik pengelolaan energinya harapan akan perbaikan kebijakan ketahanan energi di Indonesia bukan hal mustahil. hanya saja Malaysia mampu menghindar dari ketergantungan sumber energi minyak yang harganya terus melambung saat ini. Overview singkat pengelolaan energi di beberapa negara akan dapat memberi gambaran bagi pengelolaan energi nasional yang lebih baik ke depan. Industri yang tumbuh pesat di kedua negara tersebut tentunya memerlukan ketersediaan energi yang memadai dan berkelanjutan. 2.BAB II GAMBARAN PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL DAN BEBERAPA NEGARA LAIN 2. perekonomian Malaysia relatif setara dengan Indonesia.1. Bahkan jika permintaan energi di China dan India digabung. yang mampu mengelola ketahanan energinya secara lebih baik. Sebuah dominasi yang Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 7 .1. maka kedua negara ini mengambil porsi sebesar 50 persen dari total pertumbuhan permintaan energi dunia. Meskipun kebijakan masing-masing negara masih harus disesuaikan dengan karakteristik yang ada. China Permintaan energi dunia meningkat pesat. Overview Pengelolaan Energi Negara Lain Indonesia perlu belajar dari negara-negara setara. China dan India merupakan dua negara yang perekonomiannya sangat diperhitungkan oleh dunia saat ini.

1. Sumber: World energi Outlook Report-IEA. Dengan demikian sangat wajar jika produk-produk China sangat mendominasi di pasar dunia saat ini. Sebesar 71 persen permintaan energi di China digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasokan energi di sektor industri. sementara di negara-negara lain porsinya masih di bawah 50 persen yang digunakan untuk industri.2. Ketersediaan energi membuat industri-industri di China dapat mengoperasikan kapasitas mesin produksinya secara optimal. salah satu keunggulannya adalah pasokan energi di sektor industri yang memadai. Perkembangan Permintaan Energi Primer Dunia Permintaan kebutuhan energi di China digunakan untuk ‘menghidupkan’ industrinya. Sumber: IEA. 2011 Gambar 2.sangat besar separoh pertumbuhan permintaan energi dunia hanya berasal dari dua negara besar. China dan India. Perbandingan Permintaan Energi Berdasarkan Sektor 8 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .1. lihat Gambar 2. lihat Gambar 2.2. 2011 Gambar 2.

lihat Gambar 2. China tidak hanya fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan energi dengan menyediakan pasokan yang sebesarbesarnya tetapi juga berupaya melakukan efisiensi penggunaan energi melalui berbagai inovasi teknologi secara terencana.4b. 2011 Gambar 2. Sejak 1978 intensitas energi di China semakin turun akibat pengembangan energi-intensif untuk industri seperti industri semen dan baja serta pengembangan teknologi untuk efisiensi energi.3.4a. Efisiensi penggunaan energi Gambar 2. Perkembangan Intensitas Energi Di China Perpaduan antara strategi pemenuhan pasokan energi di sektor industri dan upaya serius dari industri untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi di China menghasilkan output ekonomi yang meningkat pesat. Kontribusi terhadap PDB Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 9 .4. 2011 Gambar 2. nilai intensitas energi di China mengalami penurunan signifikan yang menunjukkan bahwa pemanfaatan energi semakin efisien.3. Sumber: World energi Outlook Report-IEA. Hasilnya cukup mengesankan. lihat Gambar 2. Sumber: World energi Outlook Report-IEA. Berbagai jenis industri lahap energi di China mampu meningkatkan efisiensinya dalam menggunakan energi yang ada disertai dengan peningkatan output produksi sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi.Menariknya.

State Planning Commission (SPC) menentukan berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk industri. kebijakan energi sudah diselaraskan dengan kebijakan industri. lihat Gambar 2. 2011 Gambar 2. Dengan komposisi ini maka fluktuasi harga minyak relatif tidak berdampak langsung pada penyediaan energi di China. Cina juga menyoroti pentingnya kerjasama dengan dunia internasional dalam menjamin pasokan energi dalam negeri. Cina membentuk National Energy Commission (NEC) yang ditujukan untuk meningkatkan strategi pengembangan energi. Pada Januari 2010. fluktuasi di harga minyak juga akan mendorong meningkatnya harga batubara. Hanya saja mengingat batubara merupakan substitusi dari energi minyak. Konservasi Energi mulai direncanakan dalam Rencana Lima Tahun (2006-2010) di mana dalam Rencana tersebut. 10 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Pada tahun 1970an.5.5. sehingga ada gambaran di masa depan.Dilihat dari komposisi penggunaan energi di China batubara merupakan sumber energi yang paling besar digunakan yaitu sebesar 67 persen. Sumber: World energi Outlook Report-IEA. Komposisi Penggunaan Energi China Kebijakan penyediaan kebutuhan energi di China cukup berhasil salah satunya dikarenakan sejak sebelum reformasi Deng Xioping. sementara penggunaan minyak sebesar 17 persen.

kimia dan petrokimia. 2011 Gambar 2. berada di bawah China (24 persen). dan aluminium. lihat Gambar 2. pulp and paper.7. Lima industri di India yang paling lahap energi yaitu industri baja. Amerika Serikat (13 persen). India Dari sisi global. India merupakan negara keempat terbesar dalam penggunaan energi bagi sektor industri (5 persen). serta sisanya berbagai sumber energi lain.6. cukup besarnya penggunaan listrik swasta untuk industri diharapkan dapat meningkatkan ketahanan energi bagi industri di India. serta industri semen. Efisiensi penggunaan energi juga merupakan fokus kebijakan energi di India.6. Selain itu. Sekitar 30 persen listrik untuk industri dihasilkan oleh pembangkit swasta (captive power plant). 23 persen menggunakan minyak. Sumber: IEA. Sebesar 33 persen sumber energi sektor industri menggunakan batubara. Kelima industri ini mengkonsumsi 56 persen dari konsumsi energi sektor industri di India. Sektor industri mengkonsumsi sebesar 45 persen dari total listrik yang dihasilkan oleh pembangkit milik negara.1. Penggunaan Energi di Sektor Industri Berdasarkan Wilayah Batubara dan minyak bumi mendominasi penggunaan energi sektor industri di India. dan Rusia (6 persen). yaitu industri baja. terutama di tiga industri terbesar India. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 11 . lihat Gambar 2.2. semen.2. kimia dan petrokimia.

kaca. keramik. gas dan minyak mendominasi penggunaan energi primer di Malaysia. di mana industri yang mengkonsumsi banyak energi di negara ini adalah baja.3. semen. Malaysia Malaysia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang perkembangan ekonominya relatif cepat. lihat Gambar 2. 12 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . kayu. Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB Malaysia sekitar 28. makanan. Sementara berdasarkan sektornya.Sumber: IEA. sebesar 85 persen. Komposisi Konsumsi Energi pada Sektor Industri di India (persen) 2.7.7 persen. pulp dan paper. Berdasarakan sumber energinya. Perekonomian Malaysia ditopang oleh industri pengolahan dan penciptaan nilai tambah sumber daya alam. transportasi dan industri mendominasi penggunaan energi akhir terbesar di Malaysia.9 persen.8. sebesar 70. dan industri karet.1. 2011 Gambar 2.

Sumber: PETRONAS. Konsumsi Energi Primer Berdasarkan Jenis Energi Salah satu hal menarik dari kebijakan energi di Malaysia adalah terkait dengan penyediaan pasokan energi listrik. Dalam penyediaan energi listrik. secara terencana Malaysia mampu menggeser ketergantungan pembangkit listriknya dari Minyak ke Gas dan Batubara sejak tahun 1990-an. Kebijakan diversifikasi sumber energi listrik sudah dimulai sejak 1980. 2012 Gambar 2. lihat Gambar 2.9. Sumber: Energy Commission of Malaysia.9. setelah pada 1970-an terjadi shock harga minyak dunia.8. Bauran Energi Pembangkit Listrik Malaysia Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 13 . 2012 Gambar 2. Dari sini terlihat bahwa kebijakan energi di Malaysia relatif lebih terencana dan konsisten dalam penerapannya. sehingga fluktuasi harga minyak tidak lagi secara langsung mengancam ketahanan energinya.

Malaysia akan melanjutkan penggunaan gas dan batubara dalam suplai sumber energi pembangkit listriknya. yaitu sebesar 65 persen pada 2011. dan e) peningkatan teknologi untuk mengurangi emisi. Menariknya. 2012 Gambar 2. sebagian besar batubara yang digunakan untuk membangkitkan listrik di Malaysia diimpor dari Indonesia.lihat Gambar 2. terutama di Melaka dan Johor. Indonesia merupakan pemasok batubara terbesar bagi pembangkit listrik Malaysia. untuk meningkatkan ketahanan suplai energi. Pemasok Batubara untuk Pembangkit Listrik Malaysia Dalam rencana jangka panjangnya.Malaysia mampu menggeser ketergantungan sumber energi listriknya dari minyak ke gas dan batubara. Beberapa kebijakan Malaysia tentang gas dan batubara ke depan untuk menjaga ketahanan nasional pasokan energi antara lain: a) mengkaji perjanjian pasokan gas. b) meningkatkan pasokan melalui terminal regasifikasi.10. turun dibandingkan 2008 yang mencapai 84 persen. 14 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . d) menjajaki kemungkinan kepemilikan tambang di negara-negara pemasok. c) diversifikasi negara pemasok batubara untuk menjaga ketahanan pasokan energi. Sumber: Energy Commission of Malaysia.10.

Panas Bumi (5%) 3. Surya. Angin (5%) 4. Sasaran Bauran Energi Primer Nasional 2025 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 15 . Bahan Bakar Nabati/Biofuel (5%) 2. pemerintah Indonesia sendiri telah mengantisipasi dengan merumuskan kebijakan energi nasional yang dituangkan dalam Peraturan Presiden No. * BaU = Business as Usual ** EBT = Energi Baru Terbarukan : 1.1 Kebijakan Bauran Energi Dalam menghadapi ancaman krisis energi.2.5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang berisi strategi untuk menjamin keamanan energi di Indonesia. Air. 2006 Gambar 2. Kebijakan Energi di Indonesia 2. Biomasa. Batubara yang dicairkan (2%) Sumber: Blueprint Pengelolaan Energi Nasional (PEN).2.11. Buklir. Inti kebijakan tersebut ialah mendesain bauran energi di tahun 2025 dengan mengurangi konsumsi energi fosil dan menggantinya dengan energi baru terbarukan.2.

hingga panas bumi.Pada 2005 minyak bumi masih 54. Secara umum. batubara 33% dan energi baru terbarukan sebesar 17%. yaitu 59. Sasaran bauran energi primer dibuat dalam dua skenario yakni skenario konservatif (Business as Usual) serta skenario optimalisasi pengelolaan energi sesuai dengan Perpres Nomor 5 Tahun 2006 yang mengoptimalkan sumber energi terbarukan. Dari Gambar 2.2. dapat dilihat bahwa walaupun persentasenya semakin berkurang sejak tahun 2000.77%.77% pada tahun 2010. 2. Berdasarkan sasaran bauran energi primer nasional.70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi.Disamping itu. gas 22. Akan tetapi. kebijakan bauran energi yang akan dilaksanakan oleh Indonesia dapat dilihat pada gambar 2. gas. batubara.2. UU ini juga menjadi landasan berdirinya lembaga Dewan Energi Nasional (DEN) yang bertugas dalam merancang dan merumuskan kebijakan energi nasional.30 Tahun 2007 tentang Energi yang bertujuan untuk mewujudkan kemandirian energi. kebijakan lain yang telah disiapkan oleh pemerintah yakni UU No. yaitu 46 persen dari total pasokan energi Indonesia. Persentase tersebut sudah lebih rendah dibandingkan beberapa tahun terakhir dimana minyak menguasai lebih dari 50% total pasokan energi Indonesia. Pasokan dan Kebutuhan Energi Selama bertahun-tahun. Indonesia menggunakan berbagai jenis pasokan energi mulai dari minyak.2%.12.11. pada 2025 harus ada perubahan energi mix yang pada saat ini masih didominasi minyak bumi. gas bumi 30%. UU No.78%. Kemudian ada juga PP No.24% dan energi baru terbarukan 6. namun 16 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yang didalamnya juga telah mendorong pengembangan sumber energi terbarukan sebagai penghasil listrik serta Blue Print Pengelolan Energi Nasional 2006-2025. ketergantungan Indonesia terhadap energi minyak sangat besar. batubara 16.64% menjadi 46.Namun pada 2025 energi mix untuk minyak bumi menjadi 20%.

yang pada tahun 2010. Konstribusi energi minyak tersebut jauh di atas rata-rata pasokan energi batubara maupun energi gas yang persentase masing-masing sebesar 21% dan 24% pada periode yang sama.91% dari total suplai energi Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada energi gas. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 17 . Pasokan Energi di Indonesia Menurut Jenis (2000-2010) Bila dilihat secara rata-rata kontribusi suplai energi pada periode tahun 2000 hingga 2010.91% dari total suplai energi. Besarnya subsidi minyak adalah sedemikian sehingga harga eceran minyak dalam negeri hanya setengah dari harga eceran internasionalnya.minyak tetap menjadi sumber energi utama di Indonesia. jumlahnya naik hampir dua kali lipat sehingga mencapai 23. Persentase tersebut naik dibandingkan tahun 2000 ketika suplai energi gas mencapai 22. suplai energi batubara hanya sekitar 12.12. maka energi minyak merupakan energi utama dimana kontribusinya rata-rata mencapai 58% dari total pasokan energi.6% dari suplai energi Indonesia. 2011 Gambar 2.29% dari suplai energi Indonesia. Salah satu sebab mengapa minyak masih mendominasi suplai energi di Indonesia adalah kebijakan subsidi minyak yang masih ada hingga hari ini.12 juga dapat dilihat bahwa terjadi bauran energi yang semakin merata secara perlahan. Pada tahun 2000. Dari gambar 2. dimana suplai gas dan batubara cenderung meningkat. Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia. walaupun pertumbuhannya tidak terlalu signifikan dibandingkan batubara. dimana pada tahun 2010 suplai gas mencapai 24.

Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia. Konsumsi Energi di Indonesia Menurut Jenis (2005-2010) 18 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . lihat Gambar 2. Pada tahun 2005. Pada tahun 2005.13. konsumsi energi batu bara hanya 11% dari total konsumsi energi di Indonesia. persentase penggunaan energi batu baru meningkat menjadi 17%. 2011 Gambar 2. Dari data yang dikeluarkan oleh Kementrian ESDM dalam Handbook of Energy and Economic Statistic of Indonesia (2011) diketahui bahwa sejak tahun 2005.13. BBM merupakan energi yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia baik sektor industri. 57% dari total konsumsi energi Indonesia berbentuk BBM. namun proporsi konsumsi BBM sangat besar dibandingkan jenis energi lain seperti batu bara dan energi gas. namun pada tahun 2010. Walaupun konsumsi BBM mengalami penurunan sejak tahun 2005. namun peningkatan penggunaan energi gas tidak terlalu signifikan dalam lima tahun terakhir. komersial. walaupun sempat mencapai 18% dari total konsumsi energi pada tahun 2009. Sedangkan untuk jenis energi gas. transportasi. maka energi dalam bentuk fuel (BBM) merupakan jenis energi yang paling banyak dikonsumsi. Dibandingkan jenis energi lainnya.Jika dilihat dari konsumsi energi menurut jenisnya. maupun sektor rumah tangga. jenis energi batu bara merupakan jenis energi yang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Jumlah persentase konsumsi BBM berkurang menjadi 46% pada tahun 2010.

Pada tahun 2004. sektor transportasi menggunakan 36% dari total konsumsi energi di Indonesia.14. Jumlah tersebut terus meningkat hingga tahun 2011 sektor industri menggunakan sekitar 47% dari total konsumsi energi Indonesia.76% dari total konsumsi energi di Indonesia digunakan untuk sektor rumah tangga. 16. lihat Gambar 2. 2011 Gambar 2. Berbeda dengan sektor industri maupun sektor transportasi yang mengalami peningkatan dalam persentase penggunaan energi di Indonesia. Pada tahun 2004.Selama ini sektor industri dan sektor transportasi merupakan dua sektor yang paling lahap energi. Namun persentase tersebut semakin berkurang hingga tahun 2010 ketika persentase konsumsi energi di Indonesia untuk sektor rumah tangga hanya 11. meningkat dibandingkan tahun 2004 sebesar 33%. Konsumsi Energi di Indonesia Menurut Sektor (2004-2010) Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 19 . Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia.9% dari total konsumsi energi di Indonesia.51%. Pada tahun 2010. Hal yang sama juga terjadi pada sektor transportasi yang terus mengalami peningkatan secara persentase dalam penggunaan energi di Indonesia. sektor industri menggunakan 39. sektor rumah tangga justru mengalami penurunan dalam persentase total penggunaan energi di Indonesia.14.

maka konsekuensinya industri tersebut akan dianggap sebagai industri yang tidak ramah lingkungan karena menghadapi masalah pelestarian lingkungan yang tertuang dalam peraturan-peraturan tentang lingkungan hidup (UU Lingkungan Hidup). sehingga kebutuhan gas dalam negeri belum terpenuhi secara maksimal. energi gas dikonsumsi dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 50-60% dari kebutuhan akan energi gas dalam negeri. Secara spesifik berikut kendala-kendala aktual yang dihadapi oleh sektor industri dalam aksesibilitasnya terhadap kebutuhan energi: a. Jika industri menggunakan sumber energi yang murah misalnya batubara. permasalahan energi gas di Indonesia antara lain terkait dengan pasokan untuk domestik yang minim. sektor industri khususnya industri yang relatif banyak menggunakan energi hingga saat ini masih merasa kesulitan untuk mendapatkan energi yang murah. Defisit gas bumi juga disebabkan tingginya ekspor gas yang mencapai lebih dari 50 persen dari total produksi gas bumi.3. Kesulitan memperoleh energi gas disebabkan kuranglengkapnya prasarana pendistribusian gas bumi. Terbatasnya infrastruktur pendistribusian gas bumi seperti jaringan transmisi gas bumi yang baru sepanjang 2. sistem distribusi gas yang kurang memadai. baik melalui pipa maupun LNG. dan untuk mendapatkannya pun masih relatif sulit.150 Km 20 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Kendala dalam Pemenuhan Kebutuhan Energi bagi Industri di Indonesia Secara umum. dan belum berkembangnya receiving terminal gas berbentuk cair (liquified natural gas. Perkiraan yang agak kasar. LNG). Selama ini pemerintah lebih banyak mengekspor gas alam ke luar negeri. Lebih lanjut. Hal ini dikarenakan pasokan energi yang ada harus diperoleh dengan biaya yang relatif tinggi. b. infrastruktur (pipa gas) yang belum tersebar ke seluruh pelosok konsumen.2. efisien atau ramah lingkungan.

dan Papua namun lokasi industri terpusat di pulau Jawa.c. Masih rendahnya pemanfaatan batubara untuk kebutuhan domestik sedangkan sebagian besar (70 persen) dari produksi batubara dipasarkan ke luar negeri. e. yakni dengan adanya UU Lingkungan Hidup. infrastruktur yang dibutuhkan juga masih belum memadai. isu lingkungan juga menjadi hambatan bagi industri dalam memanfaatkan sumber energi batubara. Sumatera. padahal lokasi konsumen gas bumi tidak selalu berdekatan dengan sumber gas buminya. Issu lain terkait dengan pengembangan energi terbarukan adalah mahalnya harga energi terbarukan bila dibandingkan dengan harga BBM subsidi. Distribusi gas bumi hanya dapat menggunakan pipa atau bentuk LNG. Disamping itu. dan jaringan distribusi sepanjang 3. sehingga konsumen cenderung tetap memilih membeli sumber energi yang lebih murah.900 Km. Demikian pula energi batubara yang melimpah di Sumatera dan Kalimantan. d. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 21 . Salah satu penyebabnya juga karena keterbatasan infrastruktur dalam hal distribusi. misalnya sumber gas bumi yang melimpah tersebar di Kalimantan. Diversifikasi energi terutama energi terbarukan masih sulit dilakukan karena selain biaya yang dikeluarkan jauh lebih mahal. sementara konsumennya sebagian besar terpusat di pulau Jawa. Ketidaksesuaian antara persebaran sumber energi dengan lokasi industri. f. Belum selesainya penyusunan Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang akan dijadikan sebagai acuan. g.

22 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data sekunder dan data primer. Data sekunder adalah statistik industri nasional dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perindustrian RI, dan data dari asosiasi industri terpilih. Data sekunder digunakan untuk menyusun pemetaan awal yang menggambarkan konfigurasi sektor industri yang dikaji secara umum. Sedangkan data primer digunakan untuk mengetahui karakteristik kebutuhan energi dan pemanfaatan energi sektor industri, khususnya 7 kelompok industri terpilih yang padat energi, sebagai tujuan utama kajian ini. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam langsung ke beberapa pelaku industri dan asosiasi industri.

3.1.1. Wawancara Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung kepada beberapa pelaku industri/perusahaan dan asosiasi industri, menggunakan kuesioner sebagai panduan agar wawancara dapat lebih fokus pada inti kajian. Poin pokok yang digali secara mendalam adalah mengenai besarnya kebutuhan energi, akses terhadap energi, proporsi biaya energi dalam proses produksi, tingkat efisiensi penggunaan energi, intensitas penggunaan energi pada industri yang bersangkutan, dan lain-lain aspek yang berkaitan.

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

| 23

3.1.2. Focus Group Discussion Focus Group Discussion (FGD) dalam kajian ini ditujukan untuk mendapatkan konfirmasi dan masukan dari para pelaku industri terpilih dan para ahli agar kajian dapat menggambarkan realitas yang ada di industri. Selain para pelaku dan pengurus asosiasi industri, FGD juga melibatkan para ekonom, akademisi, serta birokrat dari berbagai instansi terkait.

3.2.

Metode Analisis

Metode analisis kebutuhan energi sektor industri ini secara umum dibagi menjadi 2. Pertama, untuk analisis kebutuhan energi 9 subsektor industri digunakan analisis trend, di mana basis datanya bersumber dari data konsumsi energi pada Industri Besar-Sedang (IBS) yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pada analisis kebutuhan energi 9 subsektor industri ini proyeksi kebutuhan energi ke depan mengacu pada target pertumbuhan masing-masing subsektor industri yang tertuang di dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perindustrian. Kedua, untuk analisis 7 sektor industri terpilih yang padat energi, analisis kebutuhan energi dilakukan dengan metode deterministik. Artinya, output suatu industri diproyeksikan pada tahun depan dengan menggunakan 3 skenario, yang kemudian dilakukan analisis proporsionalitas kebutuhan energinya, dengan asumsi intensitas energi konstan. Setelah mengetahui kebutuhan energi di 7 sektor industri terpilih yang padat energi pada tahun peramalan, kemudian proyeksi tersebut dikurangkan dengan ketersediaan energi di industri masing-masing pada tahun 2009. Hasilnya adalah kekurangan energi pada tahun peramalan terhadap tahun 2009, yang mencerminkan berapa besar kekurangan energi industri ke depan.

24 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

Kebutuhan energi pada beberapa industri terpilih ke depan diproyeksi berdasarkan skenario trend pertumbuhan produksi, di mana skenario dibagi menjadi 3, yaitu: a) skenario Business as Usual (BaU); b) skenario akselerasi; dan c) skenario akselerasi disertai efisiensi.

3.3.

Asumsi

Asumsi yang digunakan untuk menghitung kebutuhan energi pada 7 industri terpilih yang padat energi di masing-masing skenario, ada yang sama, ada pula yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh karakteristik industri dan sumber energi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk disamaratakan. Namun demikian, pada skenario efisiensi atau penghematan, digunakan asumsi patokan harga energi yang sama, yaitu harga energi BBM sebesar 1,11 US$/liter, dengan acuan menggunakan harga solar industri 20121; batubara sebesar 65 US$/Ton, dengan acuan menggunakan harga batubara bulan Oktober 2012 pada kandungan kalori 5.100 kkal/kg atau batubara kategori kalori sedang2; serta gas bumi sebesar 10,2 US$/MMBTU, dengan acuan harga gas alam yang akan mulai berlaku bulan April 2013 mendatang3. Kebutuhan energi pada 7 sektor industri terpilih yang padat energi dihitung dengan menggunakan 3 skenario yaitu: a) skenario Business as Usual (BaU); b) skenario akselerasi, dan c) skenario akselerasi disertai efisiensi. Skenario BaU adalah suatu skenario di mana pemerintah tidak melakukan suatu intervensi baru di luar yang sudah direncanakan sehingga dunia usaha melakukan kegiatan usaha seperti lazimnya dengan peningkatan kegiatan yang alamiah mengikuti permintaan. Meskipun demikian skenario BaU bisa tetap bervariasi jika terjadi pengaruh luar yang cukup dominan seperti
1 2

Tambangnews, 2012 dalam www.tambangnews.com Kementerian ESDM, 2012 dalam www.djmbp.esdm.go.id/sijh/HBA 3 Kementerian ESDM, 2012 dalamwww.esdm.go.id/berita/migas

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 25

resesi perekonomian dunia atau bencana alam sehingga impor menurun. Skenario akselerasi adalah suatu keadaan dimana industri tersebut dipacu peningkatan produksinya guna memenuhi suatu target tertentu. Target tersebut bisa berupa tingkat pertumbuhan produksi, tingkat pemenuhan suatu pasar atau penguasaan pasar, atau ada tujuan nasional yang ingin dicapai seperti swasembada produk industri tertentu. Skenario akselerasi disertai efisiensi adalah suatu skenario akselerasi sebagaimana diuraikan diatas yang pada waktu bersamaan dilakukan upaya-upaya penghematan penggunaan energi atau efisiensi energi. Efisiensi energi diberi arti yang relatif luas, yaitu upaya peningkatan produktivitas mesin industri sehingga menggunakan energi yang lebih sedikit pada tingkat produksi tetap, atau menggunakan energi lain (energi alternatif) yang harganya relatif lebih murah dan lebih ramah lingkungan. Berikut asumsi yang digunakan dalam menghitung kebutuhan energi untuk masing-masing industri padat energi. 3.3.1. Industri Baja Dalam perhitungan kebutuhan energi untuk industri baja asumsi yang digunakan untuk masing-masing skenario adalah sebagai berikut: a. Skenario Business as Usual (BaU) • Dalam skenario BaU, kapasitas produksi baja hingga tahun 2025 tumbuh sebesar rata-rata pertumbuhan per tahun selama sepuluh tahun terakhir periode 2002-2011, yaitu sebesar 7,7 persen per tahun (Worldsteel Association, 2012). • Intensitas energi pada industri baja di Indonesia sebesar 900 kWh per Ton4. Artinya, untuk menghasilkan 1 Ton baja di Indonesia membutuhkan energi sebesar 900 kWh. Angka
4

Berdasarkan hasil FGD dengan pelaku industri pada 4 Mei 2012.

26 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

2009). • Proporsi komposisi jenis energi yang digunakan di industri baja tetap.intensitas ini lebih tinggi dibandingkan dengan India sebesar 600 kWh per Ton dan Jepang sebesar 350 kWh per Ton. batubara 3 persen. teknologi dan jenis bahan baku yang digunakan industri baja sangat menentukan. Berikut rencana pendirian pabrik baja tersebut. yaitu BBM 25 persen. gas alam 7 persen. maka proyeksi kebutuhan energi industri baja skenario akselerasi ini dimulai setelah 2015. 5 Dalam hal efisiensi.1: • Mengingat sampai dengan 2015 sudah ada rencana peningkatan kapasitas produksi baja. • Berdasarkan data sekunder. sesuai dengan kondisi konsumsi energi pada 2009. b. lihat Tabel 3. India menggunakan blast furcane/baja tanur tinggi. listrik 65 persen (BPS. maka skenario akselerasi ini mengasumsikan Indonesia berusaha mencukupi seluruh kebutuhan konsumsi baja domestik dari produksi dalam negeri (swasembada baja) maksimal dapat dicapai pada 2025. diketahui bahwa hingga 2015 yang akan datang sudah ada rencana di Indonesia akan dibangun beberapa pabrik baja baru dan ada ekspansi pabrik baja yang sudah berdiri. yang menunjukkan bahwa penggunaan energi untuk pembuatan baja di Indonesia belum seefisien kedua negara tersebut5. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 27 . di mana Indonesia cenderung menggunakan sponge iron. 28 November 2012). dan Jepang menggunakan scrap/besi tua (Hasil Rakor. Skenario Akselerasi • Mengingat porsi impor yang masih besar dalam konsumsi baja nasional (sekitar 52 persen).

000.000 100.000 3. • Pertumbuhan konsumsi baja nasional sebesar 9.000 315. c.1.000 1.5 persen per tahun. 2012).5 persen. Rencana Penambahan Kapasitas Produksi Baja Nasional No 1 2 3 4 5 6 Perusahaan PT Indoferro PT Delta Prima Steel PT Meratus Jaya Iron and Steel PT Krakatau Posco PT Sebuku Lateritic Iron and Steel PT Jogja Magasa Iron Kapasitas Produksi (Ton per Tahun) 500. dari 900 kWh per Ton baja menjadi 600 kWh per Ton baja.0 persen.000.Tabel 3. langsung dapat dipakai pada tahun mulai beroperasi. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi • Diasumsikan terjadi penurunan intensitas energi. • Terjadi pergeseran proporsi penggunaan sumber energi/konversi: o Penggunaan BBM yang saat ini masih 25 persen secara bertahap berkurang 1. • Intensitas energi industri baja di Indonesia sebesar 900 kWh per Ton.000 1. o Penggunaan batubara yang saat ini sebesar 3 persen secara bertahap meningkat 1 persen per tahun. 28 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .000 Rencana Beroperasi 2012 2012 2014 2014 2014 2015 Sumber: Antara/Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA). sehingga pada 2025 proporsi penggunaan BBM tinggal 5. merupakan rata-rata pertumbuhan konsumsi baja 10 tahun terakhir (Worldsteel Association. sehingga pada 2025 proporsi penggunaan batubara menjadi 16 persen.1.000. 2012 • Untuk periode 2012-2015 diasumsikan seluruh (100 persen) kapasitas produksi pabrik baja yang baru dibangun sebagaimana disebut pada Tabel 3. intensitas energi industri baja di India digunakan sebagai benchmark.

• Mengingat penggunaan energi pada proses produksi tekstil cukup beragam dan sangat tergantung dari jenis produk yang dibuat. maka perhitungan energi dibatasi untuk kegiatan pemintalan dan penenunan.5 persen dan penenunan (weaving) 6. b. 2011). • Intensitas energi untuk kegiatan pemintalan sebesar 9. Sementara untuk konsumsi benang domestik sebagian besar sudah tercukupi dari produksi nasional.9 persen.664 kWh per Ton.3. sebesar 39 persen masih berasal dari impor. KESDM. Oleh karena itu.5 persen.o o Penggunaan gas alam yang saat ini sebesar 7 persen secara bertahap meningkat 0.167 kWh per Ton (Ditjen EBTKE. Dominasi produksi dari hasil pemintalan dan penenunan saat ini sekitar 70 persen dalam industri tekstil nasional.59 gigajoule per Ton atau 2. Proporsi penggunaan energi listrik diasumsikan tetap sebesar 65 persen hingga 2025. Industri Tekstil a. skenario akselerasi ini mengasumsikan Indonesia dapat mencukupi seluruh kebutuhan konsumsi kain dan benang domestik dari produksi Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 29 . Skenario Akselerasi • Dari total konsumsi kain domestik. sementara penenunan sebesar 33 gigajoule per ton atau 9. Skenario Business as Usual • Diasumsikan produksi tekstil tumbuh sebesar rata-rata pertumbuhan lima tahun terakhir periode 2006-2011.2. 3. di mana pemintalan (spinning) tumbuh 7.5 persen per tahun. namun masih ada sekitar 13 persen berasal dari impor. sehingga pada 2025 proporsi penggunaan gas alam menjadi 13.

sehingga konsumsi energi mesin lebih efisien.59 gigajoule per Ton (2. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi • Salah satu isu utama dalam industri tekstil adalah cukup tuanya mesin-mesin produksi yang digunakan sehingga penggunaan energinya relatif boros. atau rata-rata efisiensi energi meningkat sebesar 12 persen. Pada skenario ini diasumsikan dilakukan restrukturisasi permesinan. Berdasarkan hasil evaluasi restrukturisasi permesinan yang dilakukan Kementerian Perindustrian periode 2007-2009 (lihat Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur No. 2011]. 2011]. • Intensitas energi untuk kegiatan pemintalan sebesar 9.59 gigajoule per Ton (2. sementara penenunan sebesar 33 gigajoule per ton (9. setelah program restrukturisasi permesinan terjadi peningkatan efisiensi pengggunaan energi antara 6-18 persen.167 kWh per Ton) [Ditjen EBTKE-Kementerian ESDM. • Intensitas energi untuk kegiatan pemintalan sebesar 9.664 kWh per Ton). • Pertumbuhan konsumsi kain dan benang domestik diasumsikan sebesar 17 persen per tahun.01/BIM/PER/1/2011). dalam satuan mata uang (Kementerian Perindustrian.664 kWh per Ton).167 kWh per Ton) [Ditjen EBTKE-Kementerian ESDM. c. • Terjadi pergeseran proporsi penggunaan sumber energi/konversi: 30 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . 2011). sementara penenunan sebesar 33 gigajoule per ton (9. merupakan ratarata pertumbuhan konsumsi 4 tahun terakhir periode 20072010.dalam negeri (swasembada) yang ditargetkan tercapai pada 2025.

id/wp. Sebagai informasi tambahan silahkan dilihat: www. 3. Industri Pupuk Dalam perhitungan kebutuhan energi untuk industri pupuk asumsi yang digunakan untuk masing-masing skenario adalah sebagai berikut: a.3.o Penggunaan BBM yang saat ini masih 5 persen secara bertahap proporsi berkurang 0.4 persen per tahun. sehingga pada 2025 tidak lagi menggunakan BBM.4 persen per tahun.go.bumn. o Proporsi penggunaan gas alam tetap sebesar 10 persen hingga 2025.3.. Ada lima pemain besar dalam industri pupuk nasional. Jika input gas kurang dari 80 persen maka pabrik pupuk tidak dapat berproduksi.. PT Pupuk Sriwijaya (Pusri). o Proporsi penggunaan energi listrik tetap sebesar 70 persen hingga 2025. dan PT Pupuk Gresik (PG) dimana kelima perusahaan tersebut adalah perusahaan BUMN6.pdf Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 31 . PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Karakteristik Sektoral • Menurut penuturan Perwakilan Asosiasi Industri Pupuk Nasional dalam FGD terkait kebutuhan energi sektor industri./03200701. o Penggunaan batubara yang saat ini sebesar 15 persen secara bertahap proporsinya meningkat 0. sedangkan perusahaan6 Kebijakan Rightsizing terhadap BUMN yang dilakukan Pemerintah pada 1997 membuat 5 perusahaan pupuk menjadi 1 holding company menjadi PT Pusri (Holding). PT Pupuk Kujang (PK). • Produksi pupuk di Indonesia dikuasai oleh perusahaanperusahaan milik negara (BUMN). yaitu PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). sehingga pada 2025 proporsinya menjadi 20 persen. Kelima perusahaan ini menguasai sebagian besar pangsa pasar pupuk di Indonesia. pabrik pupuk minimal membutuhkan input gas senilai 80 persen dari total input.

70 13.15 5. 2008.07 4.31 Total NonPupuk 5.26 5. Realisasi Produksi Pupuk dan Non-Pupuk PT Pusri (Holding) 2005-2010 (dalam juta ton) Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Pertumbuhan Total Pupuk 7.51 10.54 12.37 5.2.2. Produksi urea dan amoniak rata-rata menyumbang sekitar 69 persen hingga 80 persen dengan rata-rata sekitar 75 persen sehingga industri pupuk menggunakan asumsi hanya 2 produk.32 6.29 16.29 5.01 Total Produksi 12. • Dua produk utama pada industri pupuk adalah produk pupuk dan nonpupuk.03 5. batas penelitian dalam analisis ini menggunakan data yang bersumber dari kelima perusahaan BUMN tersebut.1% Sumber: Laporan Tahunan 2005.92 6.9% 1.45 12.29 5.21 11.44 7.20 11. lihat Tabel 3.47 4.95 8.24 14.22 7.34 5. Tabel 3.74 7.57 5.32 2.17 6.59 12. sedangkan sisanya sebanyak 35 persen adalah produk nonpupuk. sedangkan produk nonpupuk terbanyak adalah amoniak.85 5.79 10.43 16. 32 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .86 10.79 6.0% 2.55 12.48 6. yaitu urea (pupuk) dan amoniak (nonpupuk).05 6.72 10.66 7. Oleh karena itu.perusahaan pupuk swasta hanya pemain kecil dari industri pupuk.95 12.47 4.29 5.95 11. Produk pupuk rata-rata menyumbang sekitar 65 persen dari total output. dan 2010 PT Pusri (Holding) • Produk pupuk yang terbesar adalah urea.42 7.92 6.

Oleh karena itu. dan gas alam tidak terlalu signifikan bagi industri pupuk karena hanya menyumbang sekitar 3. dan 2010 Gambar 3. Komposisi Kebutuhan Energi Industri Pupuk 2009 (persen) Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 33 .1 persen dari total input energi yang dibutuhkan untuk industri pupuk. 2008. Rata-rata Rasio Total Produksi Urea dan Amoniak terhadap Total Produksi Industri Pupuk Periode 2003-2010 • Jenis energi terbesar dan utama yang dibutuhkan pada industri pupuk adalah gas alam.2. kebutuhan energi untuk bahan bakar seperti solar. batubara. penelitian pada industri pupuk ini menganalisis kebutuhan gas alam yang digunakan untuk bahan baku dan juga bahan bakar hingga 2025. yang sebagian besar digunakan untuk bahan baku.Sumber : Laporan Tahunan PT Pusri Holding 2005.1. Di sisi lain. Sumber: Statistik IBS-BPS 2012 dan Laporan Tahunan PT Pusri (Holding) 2009 (diolah) Gambar 3.

b. Skenario ini disusun berdasarkan tren yang berlaku di tahun-tahun sebelumnya. kapasitas produksi. • Rata-rata pertumbuhan gas alam yang dibutuhkan untuk membuat 1 ton urea diasumsikan tumbuh sekitar 6. lihat Gambar 1. dengan asumsi tidak ada perubahan fundamental pada industri pupuk itu sendiri. Hal ini dikarenakan urea dan amoniak menyumbang sekitar 69 persen hingga 80 persen atau rata-rata sekitar 75 persen dari total output industri pupuk.16 persen untuk urea dan 3.3. • Dalam skenario BaU. baik dari faktor internal maupun eksternal (business as usual). proyeksi kali ini menggunakan urea dan amoniak sebagai sampelnya. kemudian ditarik rata-ratanya untuk dijadikan acuan memprediksi kondisi industri pupuk di masa depan. Angka ini berasal dari rata-rata pertumbuhan gas alam yang dibutuhkan untuk membuat 1 ton urea dan amoniak selama 2008-2011. Oleh karena itu. produksi. Skenario Business as Usual • Skenario Business as Usual di sini adalah ketika kondisi industri pupuk tidak mengalami perubahan secara signifikan atau fundamental.33 persen untuk amoniak. • Dalam memprediksi konsumsi energi yang dibutuhkan oleh industri pupuk.55 persen untuk urea dan 5. Dari 2008-2011 rata-rata pertumbuhan konsumsi gas per tahun tumbuh sekitar 9. urea dan amoniak dapat digunakan untuk memprediksi batas minimum energi yang dibutuhkan industri pupuk.6 persen untuk amoniak. serta utilisasi diproyeksikan berdasarkan rata-rata pertumbuhan selama empat tahun terakhir. 34 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . lihat Tabel 3.

3 30. Realisasi Pemakaian Gas Alam yang Dibutuhkan dalam Proses Pembuatan Urea dan Amoniak Urea (Pupuk) Tahun Konsumsi Gas Alam (mmbtu) Pertumbuhan Konsumsi gas alam (%) Amoniak (Non-Pupuk) Konsumsi Gas Alam (mmbtu) Pertumbuhan Konsumsi gas alam (%) Total Konsumsi Gas Alam (mmbtu) 2008 2009 2010 2011 30. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 35 .7 34.83% 3. dengan melihat pada pencapaian tertinggi selama 2003-2010.65% 8. • Selain itu.Tabel 3.8 persen didapat dari ratarata pertumbuhan total gas alam yang dibutuhkan untuk membuat 1 ton urea dan amoniak.19% 6.1 68.2 Rata-rata 0.8 Sumber: Laporan Tahunan 2009 dan 2011 PT Pusri (Holding) • Komposisi jenis energi yang digunakan di industri pupuk baik untuk bahan baku dan bahan bakar diasumsikan tetap. lihat Gambar 3. batubara. c.1 77.33% 68.5 36. lihat Tabel 3.8 persen per tahun. sesuai dengan kondisi 2009.4.6 Rata-rata -0.2.8 37.1 72.48% 1.42% 11.86% 6. Skenario Akselerasi • Skenario akselerasi pada perhitungan kebutuhan energi industri pupuk lebih menekankan optimalisasi kapasitas produksi mesin pada industri pupuk sendiri karena rata-rata mesin tidak digunakan secara maksimal sehingga output produksi di bawah kapasitas produksinya.16% 37.6 40. • Skenario akselerasi ini mengasumsikan bahwa utilitas produksi industri pupuk dapat mencapai 86 persen. dan gas mengikuti rata-rata pertumbuhan gas alam yang dibutuhkan sebagai bahan baku yaitu sebesar 4. Angka 4.3 41.3. pertumbuhan energi untuk bahan bakar seperti solar.

Kapasitas. dan Efisiensi Produksi Tahun Amoniak Kapasitas Efisiensi produksi (%) (juta ton) 4.28 5.30 13. 36 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .30 13.55 86% 4.87 8. kemudian dikalikan dengan faktor koefisien sebesar 1.03 8.28 76% 76% 77% 79% 87% 86% Urea Kapasitas produksi (juta ton) 6. • Selebihnya skenario ini memiliki asumsi yang sama dengan skenario akselerasi.03 8. d.30 13.03 8. Total.Tabel 3.28 5. • Diasumsikan harga gas alam sebesar 10. Diasumsikan pada skenario ini gas alam digantikan dengan batubara karena pertimbangan biaya produksi yang lebih murah (efisien).03 8. yaitu gas alam.100 kkal/kg (kilokalori per kilogram). sedangkan harga batubara sebesar 65 US$/ton. • Diasumsikan batubara yang digunakan adalah batubara ketegori sangat tinggi dengan kalori yang dihasilkan diasumsikan minimal sebesar 5.075 (= 86 persen/80 persen).03 8. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi • Skenario akselerasi disertai efisiensi dalam perhitungan kebutuhan energi industri pupuk lebih menekankan pada mencari sumber energi yang relatif lebih efisien atau ekonomis dibanding sumber energi utama pada saat ini.28 5.28 5.30 74% 72% 75% 78% 86% 85% Efisien si (%) 79% 82% 73% 70% 73% 77% 85% 84% 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Sumber: Laporan Tahunan 2004-2010 PT Pusri (Holding) • Asumsi lainnya adalah total energi yang dibutuhkan pada skenario ini menggunakan patokan total energi pada skenario BaU.43 86% 13. Total.28 5. dan Efisiensi Produksi Amoniak dan Urea 2003-2010 Kapasitas.43 82% 11.4.55 91% 5.03 Total Urea+Amoniak Kapasitas Efisiensi produksi (%) (juta ton) 11.30 13.87 6.2 US$/MMBTU.30 13.

3.3. 8.4. artinya dibutuhkan energi sebagai berikut: a. kertas bekas = 470 kWh/ton • Kapasitas terpasang pulp dan kertas pada tahun 2012-2025 akan tumbuh sebesar rata-rata pertumbuhan selama sepuluh tahun terakhir periode 2001-2010. yakni: a. 3 persen/tahun untuk kertas c. pulp = 4. sedangkan tingkat utilisasi pengolahan kertas bekas sama dengan rata-rata tingkat utilisasi lima tahun terakhir periode 2006-2010: a.170 kWh/ton b. kertas = 2. produksi kertas menggunakan asumsi pemanfaatan teknologi produksi kertas rata-rata.030 kWh/ton c. 4 persen/tahun untuk pulp b. dan produksi kertas berbahan baku limbah kertas (waste paper) menggunakan asumsi pemanfaatan teknologi pengolahan limbah kertas (recycle) ekstensif (Sugiyono. 81 persen/tahun untuk kertas c. 80 persen/tahun untuk pulp b. 56 persen/tahun untuk pengolahan kertas bekas Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 37 . 2009). Skenario Business as Usual • Produksi pulp menggunakan asumsi pemanfaatan teknologi pulp kimiawi kayu lunak. sedangkan kapasitas terpasang kertas bekas akan tumbuh sebesar ratarata pertumbuhan selama lima tahun terakhir periode 20062010. Industri Pulp dan Kertas a.6 persen/tahun untuk pengolahan kertas bekas • Tingkat utilisasi produksi pada pulp dan kertas sama dengan rata-rata tingkat utilisasi selama sepuluh tahun terakhir periode 2001-2010.

• Pada 2019 akan ada penambahan 9 pabrik kertas baru ataupun rencana ekspansi. c. • Mengejar peringkat 5 dunia sebagai produsen pulp dan kertas dunia pada tahun 2025. Tingkat pertumbuhan produksi pulp di Swedia dan kertas di Kanada diasumsikan sebesar 4. • Tingkat utilisasi pulp dan kertas sebesar 90 persen per tahun.b. sedangkan tingkat utilisasi pengolahan kertas bekas sebesar 60 persen per tahun. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi • Penghematan energi dengan menggunakan pemanfaatan teknologi yang lebih efisien. pada proses pembuatan pulp 38 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Maka setelah 2019 industri pulp dan kertas Indonesia harus menggenjot produksinya dengan pertumbuhan produksi pulp sebesar 5.2 persen per tahun sesuai dengan tren pertumbuhan produksi pulp dan kertas dunia. dari saat ini di posisi ke 9 untuk pulp dan ke 8 untuk kertas. dimana ekspansi pabrik baru itu akan menambah kapasitas produksi kertas nasional sebesar 700 ribu ton per tahun. • Kapasitas produksi pulp dan kertas Indonesia harus tumbuh lebih besar dari rata-rata pertumbuhan BaU Swedia yang saat ini berada pada peringkat ke 5 produsen pulp dunia dan Finlandia yang saat ini berada pada peringkat ke 4 produsen kertas dunia. dimana hasilnya bisa dipanen pada 2019.2 persen per tahun dan produksi kertas sebesar 7 persen per tahun. akan menambah kapasitas produksi pulp nasional sebesar 8 juta ton per tahun. Skenario Akselerasi • Penambahan lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada 2012.

2009): a.4 kali lebih besar dibanding Indonesia. Jika hal itu dilakukan. • Konsumsi energi listrik di pabrik kelapa sawit adalah 17-19 kWh per ton TBS. Saat ini produktivitas kebun kelapa sawit Malaysia 1.serta pada tahapan pengeringan. • Diasumsikan seluruh hasil produksi kebun kelapa sawit berupa TBS kelapa sawit diolah menjadi CPO (Crude Palm Oil/minyak sawit mentah) dengan konsumsi energi listrik sebesar 18 kWh per Ton TBS. Skenario Business as Usual • Skenario BaU dihitung dengan asumsi pertumbuhan produksi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit sebesar rata-rata pertumbuhan selama lima tahun terakhir. Kertas kWh/ton. Pulp b. maka pada 2013-2015 terjadi penghematan energi sebesar 35 persen (Sugiyono. yaitu sebesar 3.200 kWh/ton. atau rata-rata 18 kWh per Ton TBS. • Pada 2016-2025 terjadi lagi penghematan energi sebesar 40 persen (Sugiyono.500 kWh/ton.3. dari 4.030 kWh/ton menjadi 1.030 kWh/ton menjadi 1. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi • Skenario akselerasi disertai efisiensi dihitung dengan asumsi intensitas energi per Ton TBS dapat diturunkan setara Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 39 . Pulp b.700 kWh/ton. Kertas dari 4.5 persen. b. Industri Pengolahan Kelapa Sawit a.5. dari 2. c.170 kWh/ton menjadi 2. dari 2.170 kWh/ton menjadi 2.300 3. Skenario Akselerasi • Skenario akselerasi dihitung dengan asumsi produktivitas kebun kelapa sawit Indonesia ditingkatkan hingga setara dengan Malaysia. 2009): a.

b. • Besaran tersebut diambil berdasarkan proyeksi Asosiasi Semen Indonesia (ASI) yang memperkirakan kapasitas terpasang industri semen akan terus meningkat karena banyak produsen semen yang akan segera memperluas usahanya dengan cara mendirikan pabrik-pabrik baru. kapasitas terpasang.9 kWh. asumsi yang digunakan untuk masing-masing skenario adalah sebagai berikut: a.961 kilo kalori atau setara dengan 120. untuk menghasilkan 1 Ton semen di Indonesia membutuhkan energi sebesar 780 kilo kalori batubara dan 120 kwh listrik (103. proyeksi kebutuhan energi pada industri semen menggunakan asumsi bahwa hingga tahun 2025.dengan world best practice yakni sebesar 17 kWh per ton TBS.6. sesuai dengan kondisi saat ini. 3. Industri Semen Dalam perhitungan kebutuhan energi untuk industri semen. • Komposisi jenis energi yang digunakan di industri semen tetap.3. Skenario Business as Usual • Dalam skenario Business as Usual (BAU). Saat ini industri semen menggunakan batubara berkalori rendah. Pembangunan pabrik-pabrik baru diperkirakan akan meningkatkan produksi semen sebesar 10 persen per tahun.4 kilo kalori). Skenario Akselerasi • Skenario akselerasi lebih menekankan pada target yang akan dicapai oleh industri semen dalam meningkatkan konsumsi 40 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .181. • Berdasarkan data dari Asosiasi Semen Indonesia. Jadi total energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 ton semen adalah 103. yaitu sekitar 5100 kkal per 1 kg batubara. produksi dan konsumsi semen nasional akan mengalami pertumbuhan dengan besaran rata-rata 10 persen per tahun.

Jadi asumsinya adalah pengalihan dari batubara ke gas. • Saat ini batubara menjadi sumber energi bahan bakar utama yang digunakan untuk proses pembakaran pada industri semen. Thailand.509 kkal. dan Vietnam. • Komposisi dan intensitas energi yang digunakan di industri semen sesuai dengan kondisi saat ini atau sama dengan Business as Usual (BaU). Keuntungannya tentu saja Indonesia bisa menjadi net eksportir semen. Dalam hal ini dipilih rata-rata konsumsi per kapita tiga negara pembanding di ASEAN. Hal ini menjadi target karena konsumsi semen per kapita Indonesia telah tertinggal jauh dibanding negara-negara ASEAN. produksi dan konsumsi harus tumbuh minimal 15 persen per tahun hingga tahun 2025. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi • Skenario efisiensi lebih menekankan pada kemungkinan untuk dilakukannya pengalihan jenis energi dari energi yang relatif kurang efisien (mahal) ke jenis energi yang lebih efisien (murah). • Pada skenario ini asumsi yang digunakan adalah penggunaan batubara dikurangi 50 persen. • Dalam 1 kg batubara mengandung 5100 kkal sedangkan dalam 1 MMSCF gas mengandung 245. • Jika skenario ini dapat dilakukan maka mulai tahun 2016 jumlah produksi semen Indonesia akan kembali mampu melebihi jumlah konsumsinya. dengan catatan bahwa pengalihan energi dari batubara ke gas tersebut diikuti Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 41 .semen per kapita. • Untuk melakukan percepatan pertumbuhan konsumsi semen per kapita di Indonesia maka dalam skenario akselerasi ini kapasitas terpasang. Pada skenario ini akan disimulasikan bagaimana jika penggunaan batubara dikurangi dan dialihkan menjadi gas. c. Sebagai penggantinya akan digunakan energi bahan bakar gas. Penggunaan batubara sebenarnya kurang efisien karena menghasilkan produktivitas tanur putar (alat pembakaran bahan baku semen setinggi 14500 Celcius) yang lebih rendah dari pada menggunakan gas alam. yaitu Malaysia.

asumsi yang digunakan untuk masing-masing skenario adalah sebagai berikut: a. b.dengan penyesuaian teknologi. • Intensitas energi diasumsikan sama seperti pada skenario Business as Usual. Skenario Akselerasi • Diasumsikan rata-rata pertumbuhan kapasitas produksi. Untuk memproduksi 1 ton keramik rata-rata membutuhkan energi sebesar 347 kWh. 3. Hal ini berlandaskan pada sasaran atau target pemerintah dalam roadmap industri keramik nasional yang mentargetkan utilitas produksi mencapai 90 persen pada tahun 2020. Sasaran pemerintah jangka panjang adalah terciptanya peningkatan efisiensi melaui inovasi dan 42 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . sejalan dengan roadmap industri keramik. Industri Keramik Dalam perhitungan kebutuhan energi untuk industri keramik. Namun utilitas produksi semakin meningkat hingga 90 persen pada tahun 2020. diasumsikan rata-rata pertumbuhan kapasitas produksi. Skenario Akselerasi Disertai Efisiensi • Skenario ini mengasumsikan bahwa industri keramik mengalami konservasi energi. Skenario Business as Usual (BaU) • Berdasarkan data historis yang ada hingga tahun 2010. produksi. c.3. agar teknologi yang digunakan menjadi sesuai (match) dengan bahan bakar energi gas. • Penggunaan energi pada industri keramik didominasi oleh gas dan listrik.7. pertumbuhan produksi dan pertumbuhan konsumsi keramik nasional mencapai 8 persen per tahun. dan konsumsi keramik nasional akan mencapai 8 persen per tahun. Utilitas produksi diasumsikan konstan hingga tahun 2025 sebesar 70 persen.

3. Ketujuh industri padat energi yang dipilih tersebut tidak sama dengan pembagian subsektor energi sebagaimana yang sering dipakai dalam data statistik. Justru ini barangkali yang menjadi kekuatan dan keunikan kajian ini karena mengandalkan data primer langsung ke industri atau melalui asosiasi industri yang mewakili suatu kelompok industri tertentu. Peramalan kebutuhan energi menggunakan asumsi faktor teknologi yang relatif konstan. Kajian ini memfokuskan diri pada 7 industri yang sangat banyak menyerap energi dan sesuai dengan rencana pengembangan industri di masa depan. kemudian dihitung berapa besar nilai penghematannya. Pola dan karakteristik kebutuhan energi diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap para wakil industri masing-masing. dengan kata lain. Karena itu secara umum kajian ini mengandalkan data primer untuk menggali karakteristik industri padat energi termasuk pola konsumsi energinya. Hal ini sesuai dengan data dari Dirjen EBTKE Kementerian ESDM (2011) yang melihat potensi penghematan energi pada sektor industri keramik sebesar 5 persen.4. Batasan Studi Kajian ini memiliki keterbatasan ruang lingkup permasalahan yang dibahas. meskipun diupayakan penggunaan alat analisa yang semaksimal mungkin. sehingga kebutuhan energi diperoleh dari Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 43 . industri keramik nasional diharapkan dapat melakukan konservasi energi. • Potensi penghematan energi pada industri keramik ditetapkan sebesar 5 persen.teknologi yang hemat energi. • Dalam teknis perhitungan proyeksi. kebutuhan total energi pada industri keramik diasumsikan berkurang sebesar 5 persen per tahun. selain disebabkan oleh keterbatasan data juga disebabkan oleh keterbatasan waktu.

antara lain karena efisiensi teknologi. Proyeksi peramalan dilakukan hingga tahun 2025. Terdapat 7 industri terpilih atau industri padat energi yang menjadi sampel kajian ini. yaitu industri-industri yang tergolong paling banyak menggunakan energi. Kajian ini yang berjudul kebutuhan energi di sektor industri memiliki batasan lingkup yaitu: 1. Peramalan ini sedikit dilakukan penyesuaian pada skenario efisiensi dimana diasumsikan. Kajian ini difokuskan pada analisa dan perhitungan kebutuhan energi dari sisi permintaan. pada beberapa industri. 4. terjadi penghematan penggunaan energi.pembagian antara proyeksi tingkat produksi dengan faktor teknologi pada saat ini. Kajian ini menganggap wilayah Indonesia sebagai titik sehingga tidak ada persoalan distribusi spasial. yaitu: a) Industri Baja b) Industri Semen c) Industri Pulp dan Kertas d) Industri Pupuk e) Industri Tekstil f) Industri Pengolahan Kelapa Sawit g) Industri Keramik 2. 3. Proyeksi kebutuhan energi pada industri padat energi berdasarkan data primer yaitu dengan wawancara dan data sekunder dari berbagai instansi dan asosiasi industri. dan kebutuhan energi serta lokasi industri tidak menjadi issu dalam kajian ini. mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 dan Dokumen Akselerasi Industrialisasi 2012-2014. Lokasi pasokan energi. 44 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . penyediaan.

Listrik.2 13.04 10. Real Estat.80 100. Perdagangan.8 10. Pertambangan dan Penggalian 3.5 100. Kinerja Sektor Industri Indonesia Industri pengolahan merupakan bagian penting dalam perekonomian Indonesia karena memberikan sumbangan yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.99 0.3 13. Hotel.87 0.41 11. atau lebih rendah dibandingkan dengan data 2010 sebesar 24.08 13. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (persen) Lapangan Usaha 1.81 6. dan Jasa Perusahaan 9. Gas. dan Perikanan 2. Keuangan. Pertanian. namun kontribusi sektor ini cenderung mengalami penurunan.0 Secara umum kontribusi sektor industri pengolahan dalam PDB menurun. setidaknya sejak 2010 hingga awal tahun 2012.3 0.2 10.8 6.0 2011 14.48 11.2 100. yang dapat dilihat dari data struktur dan tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) beberapa tahun terakhir. Peternakan.1 24.7 6. lihat Tabel 4.7 11. Pada triwulan I-2012 kontribusi industri pengolahan terhadap PDB sebesar 23.8 0.44 13.2 10. Industri Pengolahan 4.74 10.50 7.8 10.8 persen serta triwulan I dan IV-2011 berturut- Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 45 . 2012 2010 15.0 2011 Tw III 2012 15.0 15. Konstruksi 6. Jasa-Jasa PDB Sumber: BPS. Kehutanan.1.9 24. Meskipun demikian dominan dalam besaran sumbangan industri pengolahan terhadap PDB.69 7.71 6.BAB IV KINERJA SEKTOR INDUSTRI 4.74 10.6 7.6 persen.44 100.3 11.19 10.65 23.41 23. Tabel 4.6 7.1.1. dan Restoran 7. dan Air Bersih 5. Pengangkutan dan Komunikasi 8.

56 7. sementara pertumbuhan PDB pada periode yang sama meningkat sebesar 1. Hotel.21 1.88 46 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . lebih rendah dari pertumbuhan PDB pada periode yang sama sebesar 6. pertumbuhan sektor industri pengolahan mengalami penurunan sebesar 2 persen.4 persen.04 3. Peternakan.44 6.1 persen dan 24.7 persen.09 6.91 10.17 6. Penurunan kontribusi ini merupakan salah satu indikasi awal adanya kendala dalam pertumbuhan sektor industri pengolahan.36 5. Gas.80 -0. Dalam beberapan tahun terakhir ini. Jika data triwulan I-2012 dibandingkan dengan triwulan IV-2011. dan Restoran 7. Pertambangan dan Penggalian 3. Konstruksi 6.21 3.79 4.turut sebesar 24.99 1.98 6. 2012 Tw III-2012 Terhadap Tw II-2012 6. Kehutanan.40 Tw III-2012 Terhadap Tw III-2011 4. Jasa-Jasa PDB PDB Tanpa Migas Sumber: BPS.48 7. harga energi domestik sangat berfluktuatif dan kondisi penyediaan energi di dalam negeri masih belum stabil serta sering mengalami kelangkaan. Pertanian. sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 5.5 persen. Perdagangan. Laju pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (persen) Lapangan Usaha 1.11 3. Mengingat industri pengolahan merupakan kontributor terbesar PDB Indonesia. Industri Pengolahan 4. Keuangan. Adanya kendala dalam perkembangan industri pengolahan semakin terlihat jika melihat data pertumbuhannya.3 persen.20 2. dan Air Bersih 5. dan Perikanan 2.97 1. Pengangkutan dan Komunikasi 8.2. dan Jasa Perusahaan 9. Real Estat. Salah satu kendala yang mungkin menyebabkan penurunan ini adalah kurang tersedianya pasokan energi yang cukup dengan harga yang relatif murah. Listrik.41 4. maka penurunan laju pertumbuhan sektor industri pengolahan perlu dicermati untuk segera dicarikan solusinya. Jika melihat data triwulan I-2012 terhadap triwulan I-2011. Tabel 4.81 3.15 0.

dan saat ini menjadi 4. rotan. Gambarl 4.12 persen.84 persen.51 persen.1 menunjukkan bahwa dalam tiga triwulan terakhir (triwulan III-2011 s. Namun. quarter to quarter) pertumbuhan produksi IBS turun sebesar 0. kendaraan bermotor.22 persen dibanding triwulan I-2011.Data pertumbuhan produksi industri pengolahan atau manufaktur triwulan I-2012 (year on year) publikasi BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi Industri Besar Sedang (IBS) naik 4. sedangkan IMK turun sebesar 1. Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang Triwulanan 2009-2012 (persen) Meskipun demikian. 2012). dari 7. triwulan I-2012) pertumbuhan tahunan (year on year) produksi industri manufaktur besar dan sedang mengalami perlambatan.d. data BPS pada Mei 2012 mencatat terdapat sejumlah industri manufaktur yang mengalami pertumbuhan produksi (y-on-y) pada triwulan I-2012 dari tahun 2011.82 persen. dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu.91 persen. serta kayu. yaitu: Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 47 . Adapun jenis-jenis industri manufaktur yang mengalami penurunan produksi (y-on-y) pada triwulan I-2012 dari tahun 2011 adalah: pakaian jadi -1. Sumber: BPS. dan alas kaki -2. trailer. Mei 2012 Gambarl 4.57 persen ke 6.88 persen dan IMK (Industri Mikro Kecil) naik 7.37 persen. kulit.1.54 persen. barang dari kulit.47 persen (BPS. barang dari kayu.88 persen. jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (triwulan IV-2011. dan semi trailer -6. tekstil -2. dan sejenisnya -12.

peralatan listrik 15. barang elektronik. pengolahan lainnya 10. karet.12 persen. pengolahan tembakau 9. makanan 4. Salah satu upaya pemerintah untuk mengerem laju penurunan industri non-migas adalah menyediakan kebutuhan pasokan energi bagi industri tersebut. Penurunan pertumbuhan tahunan industri besar dan sedang berturut-turut sejak triwulan III-2011 harus segera diantisipasi guna mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan. Kontribusi industri non-migas berfluktuasi dari tahun 2007 hingga 2012. barang dari karet.50 persen. dan peralatannya 2.84 persen. bukan mesin.75 persen. atau bahkan dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi seperti yang terjadi di Era Orde Baru memerlukan strategi khusus yang terarah. barang logam.10 persen.19 persen. Oleh karena itu pemerintah harus berinisiatif untuk mengamankan ketersediaan energi untuk sektor industri dengan kebijakan energi yang proindustri. komputer.27 persen.15 persen.45 persen.29 persen. furnitur 2. Salah satu persoalan mendasar industri pengolahan saat ini yang memerlukan solusi adalah mengenai penyediaan energi. pencetakan dan reproduksi media rekaman 7. Kontribusi industri non-migas terhadap PDB mirip dengan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB. 48 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan 10. produk dari batubara dan pengilangan minyak bumi 3. dan plastik 5. serta kertas dan barang dari kertas 0. Agenda pemerintah untuk mentargetkan pertumbuhan sektor industri di atas pertumbuhan ekonomi nasional.81 persen.20 persen.46 persen.65 persen. produk obat kimia dan obat tradisional naik 24. serta logam dasar 4. dan optik 3. barang galian bukan logam 7. Keduanya cenderung berfluktuasi dan cenderung mengalami tren penurunan. alat angkutan lainnya 2. Penurunan kontribusi industri non migas terhadap PDB ini memerlukan perhatian yang serius. bahan kimia dan barang dari bahan kimia 1.72 persen.04 persen. Minuman 4.27 persen.farmasi. mesin dan perlengkapan ytdl 8.01 persen.54 persen.

00 974.3.00 3.002.11 1.00 820. Sumber: BPS. Neraca Gas Untuk Industri & PLN Tahun 2010 –2011 (MMSCFD) No 1 Uraian 2010 2011 Kebutuhan a. Pupuk c.799.20 1.03 607.397.00 3.424.Pasokan energi perlu ditingkatkan agar industri dapat bekerja pada kapasitas optimal sehingga dapat meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.3. lihat Tabel 4.11 mmscfd pada tahun 2010 menjadi 1.20 1. Industri b.684.59 mmscfd pada tahun 2011. Dalam penyediaan gas misalnya. data 2011 & 2012 angka sementara Gambar 4.397. 2012 Ket: PDB atas dasar harga konstan 2000. Kontribusi Industri Non Migas terhadap PDB (persen) Harus diakui bahwa penyediaan energi bagi sektor industri memerlukan berbagai langkah-langkah terobosan. 2012 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 49 .59 2 Pasokan a.000.83 1.287. Industri b.00 2.44 -1.796.424. Pupuk c. mengingat hingga saat ini kelangkaan energi masih kerap terjadi.44 793.35 992.772.44 793.55 674. Tabel 4. PLN Jumlah Pasokan (Pasokan-Kebutuhan) Sumber: FIPGB.00 2.44 -1.374. PLN Jumlah Kebutuhan 920. data neraca gas untuk industri dan PLN menunjukkan terjadinya peningkatan defisit kebutuhan gas dari 1.2.

2. sektor industri merupakan pemakai energi akhir terbesar di Indonesia yaitu 44. Populasi penduduk yang besar didukung perekonomian domestik dan daya beli masyarakat yang cukup kuat menjadi pendorong utama tumbuhnya industri makanan dan minuman.Data Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) menyatakan bahwa pada 2010 dan 2011 industri hanya mendapatkan pasokan gas bumi masing-masing sebesar 55.0 persen. Sebagai gambaran.1 persen.5 persen. BBM merupakan yang terbesar 49. Kinerja Subsektor Industri 4.5 persen.4.0 persen. sektor rumah tangga 11. Minuman dan Tembakau Industri makanan. dan tembakau merupakan industri penting dalam struktur industri pengolahan Indonesia.8 persen dan 47.4 persen di tahun 2011.2 persen. Pasokan gas yang defisit ini membuat kapasitas terpasang industri tidak dapat dipakai secara optimal. penting dilakukan diversifikasi penggunaan energi di sektor industri. Kontribusi PDB sektor industri makanan. Dilihat dari porsi konsumsi energi akhir.4 persen.2. 4. listrik 12. Industri hanya mendapatkan pasokan gas bumi sekitar 55 persen dari kebutuhannya. Selain itu. sektor transportasi 36.4 persen. karena pasokan gas bumi dan tenaga listrik di bawah kebutuhan. Memasuki ASEAN Economic Community. komersial 4. serta mengutamakan sumber energi yang ramah lingkungan.4 persen di tahun 2006 menjadi 7.1 persen dari kebutuhannya. akibatnya pertumbuhan sektor industri mengalami penurunan. Industri Makanan. serta LPG 4.6 persen. batubara 18. minuman.1. minuman dan tembakau terhadap PDB nasional selama beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan dari 6. gas alam 15. dan lainnya 4. Survei penjualan eceran yang dilakukan 50 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Saat ini rata-rata sektor industri bekerja di bawah kapasitas terpasangnya.2 persen. lihat Tabel 4. daya saing Indonesia perlu ditingkatkan dengan pasokan gas bumi dan energi listrik yang cukup agar industri dapat bekerja pada tingkatan kapasitas nominal.

7 persen menjadi 16 miliar bungkus dibandingkan 15 miliar bungkus tahun lalu. n.9 persen).a.a.14 8.34 2009 6.23 2.40 7.) data tidak tersedia Sumber: Kementerian Perindustrian.00 2.922 1. Konsumsi mie per kapita Indonesia rata-rata sebesar 5-6 kg per kapita per tahun lebih tinggi dibandingkan negara Asia lainnya seperti China. Dari sisi volume.069 68. n.Bank Indonesia menunjukkan trend indeks penjualan riil makanan minuman dan tembakau yang meningkat pada tahun 2011.21 2007 7.5 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 51 .a.a. dan biskuit.33 7.19 *) Sampai dengan triwulan I n. konsumsi minuman ringan di Indonesia masih didominasi oleh air minuman dalam kemasan (84.530 1. n.78 2011 n. 7. Minuman dan Tembakau Indikator Kinerja Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) Laju Pertumbuhan (persen) 2006 7. minuman.19 2012* n.5 Triliun. Untuk industri minuman.019 72.549 1.71 6. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut di tahun 2012.901 1. yaitu mie.a. diikuti teh cepat saji (8.1 persen).68 5.062 70. Salah satu produk dari industri makanan yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi adalah produk turunan dari tepung berbahan gandum.033 71.a. 7. dan tembakau merupakan industri yang banyak jenis dan variasi produknya. dan Taiwan. roti. Pertumbuhan jumlah gerai ritel modern yang pesat dan menyediakan berbagai produk makanan dan minuman ikut memperkuat permintaan industri makanan dan minuman.55 7. Beberapa Indikator Kinerja Industri Makanan. Jepang.194 1.05 2008 7.22 2010 6. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) memperkirakan nilai penjualan makanan dan minuman tahun 2012 dapat tumbuh hingga 13 persen mencapai Rp734. pasar mie instant di Indonesia tahun ini diperkirakan tumbuh sebesar 6. 2012 (diolah) Industri makanan.82 7. Tabel 4.033 72. n.50 11.4.47 6. minuman berkarbonasi (3.37 9.a.

minuman.8 triliun-Rp 294. baik di pasar domestik maupun di pasar ekspor. 4.6 persen selama tahun 2005-2011 dan diperkirakan pada tahun 2012 volumenya mencapai 19. Secara umum kinerja industri makanan. seperti derasnya arus masuk barang-barang impor.persen).3 triliun. jus.2. meningkat 5 persen-7 persen dibanding proyeksi tahun 2011 yang sebesar Rp 275 triliun. sari buah. Pasar minuman ringan di Indonesia memiliki prospek yang besar untuk tumbuh.22 persen per tahun. Akibatnya. dan alas kaki masih merupakan salah satu industri yang potensial dikembangkan karena potensinya yang besar. Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri tekstil. Hal ini salah satunya terlihat dari peningkatan utilitas produksi yang mengindikasikan meningkatnya jumlah produksi.2. Namun. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan industri ini yang cukup tinggi hingga 7. dilihat dari kontribusinya terhadap PDB nasional. naiknya harga bahan baku. Pasar minuman ringan Indonesia tahun 2012 diestimasikan mencapai Rp 288. dan tembakau mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat selama 5 tahun terakhir. dan aneka masalah domestik yang berpengaruh pada mahalnya biaya produksi. Penjualan air minuman dalam kemasan tumbuh rata-rata 12. potensi yang tersebut seringkali terhalang oleh berbagai permasalahan fundamental. Industri Tekstil.5 persen). Industri minuman Indonesia tumbuh menuju level matang (growing to mature) dimana diperkirakan akan masih mampu berkembang dengan fokus pada jenis minuman ringan berkarbonasi.8 miliar liter. kontribusi industri ini terhadap PDB 52 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . dan minuman ringan lainnya (3. dengan laju pertumbuhan yang fluktuatif. tarif listrik yang terus merangkak naik. dan minuman energi. industri ini menyumbang dengan rata-rata di atas 7 persen per tahun pada periode tahun 2006-2011. pernah mencapai puncaknya pada 2009 yaitu mencapai 11. barang dari kulit.52 persen pada 2011. lihat Tabel 4. Laju pertumbuhan industri ini juga memperlihatkan performa yang relatif baik.5.

a.08 0.201 75.05 2.7 persen pada 2006 menjadi hanya 1.3. Beberapa Indikator Kinerja Industri Tekstil.a. n. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 53 .410 1. 4. Sementara itu kontribusi industri ini terhadap PDB cenderung mengalami tren negatif.a.37 -3.terus mengalami penurunan dari semula 2.68 2008 5.878 unit pada 2006 turun menjadi 5.5.30 persen meningkat hingga 1.393 79.215 unit pada 2010.93 persen pada 2011.48 persen pada tahun 2008.215 1.182 74.878 1. n.39 juta orang pada 2006 menjadi 1. lihat Tabel 4. Jumlah perusahaan yang awalnya 6.77 2. Kulit dan Alas Kaki Indikator Kinerja Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) Laju Pertumbuhan (persen) 2006 6.a.60 2010 5. n.2. 2012 (diolah) Berbagai kendala yang membentur industri ini akhirnya mengurangi jumlah industri di sektor ini. hanya pada 2008 dan 2011 saja terjadi laju pertumbuhan yang positif. Industri Kayu dan Barang dari Kayu Industri kayu dan barang dari kayu mengalami pertumbuhan negatif sepanjang 2006-2010. namun setelah itu terus menurun hingga tingkat terendah pada triwulan 1 tahun 2012 yakni 1.86 1.23 juta orang pada 2010.a.04 1. Tabel 4.294 78.77 2011 n.70 1. Dampak berikutnya adalah terjadi pemutusan hubungan kerja sehingga jumlah tenaga kerja yang terserap dari 1.6. 1.41 *) Sampai dengan triwulan I Sumber: Kementerian Perindustrian.93 1.41 2.09 persen terhadap PDB. dimapa pada tahun 2006 sebesar 1.695 1.21 2. kulit dan alas kaki serta merta mempengaruhi tingkat utilisasi produksi yakni dari semula 79 persen pada 2006 merosot menjadi 76 persen pada 2010.93 7. n.52 2012* n.64 2009 5.501 1.12 -3. 1.23 2007 6. Banyaknya masalah yang dihadapi industri tekstil.a.232 76.

4.a. n. Selain itu. Tingkat utilisasi ini masih jauh dari tingkat ulitisasi produksi yang optimal.33 persen di 2010.38 2010 1. Sementara itu penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan dari 288 ribu orang pada 2006 menjadi 219 ribu orang.66 2007 1. Sementara itu.43 -1.25 -3. ditandai dengan terus menyusutnya jumlah perusahaan dalam industri ini.a. n. Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri kertas dan barang cetakan menunjukkan kondisi yang semakin terpuruk.6.14 0.000 orang sepanjang 2006-2010.252 215 73. utilisasi produksi pada industri ini menunjukkan performa yang baik. 1.09 -0.47 2011 n.a.86 *) Sampai dengan triwulan I Sumber: Kementerian Perindustrian.63 1.2.237 unit pada 2010. Pada 2006 masih ada 1.74 2008 1. lihat Tabel 4. yang terlihat dengan terus meningkatnya utilisasi produksi hingga mencapai puncaknya sebesar 80. 1.30 -0.39 -1.Tabel 4.98 1. Beberapa Indikator Kinerja Industri Kayu dan Barang dari Kayu Indikator Kinerja Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) Laju Pertumbuhan (persen) 2006 1.435 241 71. n.39 1.41 1. 2012 (diolah) Indikator kinerja industri kayu dan barang dari kayu yang perlu disoroti ialah masih rendahnya tingkat ulitisasi produksi yang hanya 70 persen.423 unit usaha dan semakin menurun hingga pada 2010 hanya tersisa 968 unit saja.782 288 71.648 279 67. Namun demikian.a.7.93 1.782 unit pada 2006 menjadi 1.a. terjadi penurunan jumlah unit usaha dari 1.a. 54 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .237 219 70. 4. jumlah tenaga kerja pada industri ini telah menyusut sekitar 5. n.45 2009 1.48 3.35 2012* n.

88 0. Kimia dan Barang dari Karet Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012* Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) Laju Pertumbuhan (persen) 528 3.50 2012* n. 2012 (diolah) Kontribusi industri kertas dan barang cetakan terhadap PDB relatif masih kecil. Kimia dan Barang dari Karet Industri pupuk. dari 1.8. Meskipun demikian.81 1.147 181 76.Tabel 4. dan barang dari karet memperlihatkan kinerja yang cukup menggembirakan.64 1. lihat Tabel 4.05 -1.15 1.48 2009 1. 2.20 persen pada 2006 merosot menjadi 0.95 n.a.a.33 1.34 persen.) data tidak tersedia Sumber: Kementerian Perindustrian.95 2.a. Beberapa Indikator Kinerja Industri Pupuk. 2.50 *) Sampai dengan triwulan I n.09 6.55 3.a.64 580 2.739 72. 0.66 2.69 509 2. 0. n. Kontribusi industri ini terhadap PDB pun relatif baik yakni lebih dari 2 persen per tahun.09 2007 1. tingkat utilisasi produksi pada industri ini masih sangat rendah yakni hanya sekitar 70 persen per tahun.91 1. bahkan mengalami penurunan dalam enam tahun terakhir ini.79 2008 1. kimia. n.a.11 4.35 2. 2012 (diolah) Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 55 .923 69.46 459 2.8 4.a. dengan laju pertumbuhan yang positif sekitar 4 persen per tahun. n.a. n. Laju pertumbuhan industri ini memperlihatkan kecenderungan yang berfluktuatif dengan puncaknya pada tahun 2009 yang mencapai 6.74 4.80 5.07 3.a.5. bahkan pernah mencapai 3 persen pada 2008.20 2.423 177 80. Beberapa Indikator Kinerja Industri Kertas dan Barang Cetakan Indikator Kinerja Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (Ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) Laju Pertumbuhan (persen) 2006 1.02 1.66 1.06 2. n.) data tidak tersedia Sumber: Kementerian Perindustrian.342 193 79.2.8.48 548 2.7.a.93 persen pada 2011.19 *) Sampai dengan triwulan I n.93 1.15 5. Tabel 4.34 2010 968 172 80.a.026 73. n.225 186 72.a. n.59 9.a.728 73.797 71.70 n. Industri Pupuk.a. n.67 2011 n.a. 4.

69 6.6. n.83 3.46 0.a. n.) data tidak tersedia Sumber: Kementerian Perindustrian. Sementara kontribusinya terhadap PDB menunjukkan angka yang tidak terlalu signifikan yang masih dibawah 1 persen per tahun. yang mencerminkan peningkatan pada produksi.18 2011 n.a.76 0.Kinerja lainnya yang perlu disorot yakni penurunan jumlah unit usaha dari 3.78 -0.a.698 176 71. Pemanfaatan hasil industri ini sangat erat kaitannya dengan sektor konstruksi seperti pembangunan perumahan dan infrastruktur di Indonesia. Sektor konstruksi yang meningkat dengan rata-rata sebesar 7 persen per tahun selama 5 tahun terakhir membuat permintaan akan hasil produksi industri semen dan barang galian bukan logam menjadi tinggi.916 135 74. n. dari aspek penyerapan tenaga kerja relatif tetap yakni berkisar 500 ribu orang.026 unit pada 2006 menjadi 2.a. n.a.71 2. 0. menunjukkan bahwa tingkat utilisasi produksi industri ini cenderung meningkat pada periode tahun 2006-2010. Sementara itu. Laju pertumbuhan mencapai puncaknya pada 2011 sebesar 7. 0.40 2008 1.2. Industri Semen dan Barang Galian bukan logam Industri semen dan barang galian bukan logam secara umum mengalami peningkatan kinerja khsusnya selama 2 tahun terakhir. 4.a.047 191 74.90 0.9. Beberapa Indikator Kinerja Industri Semen dan Barang Galian bukan logam Indikator Kinerja Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) 2006 2.616 172 79.62 0.51 2010 1.81 -1.53 2007 1.11 Laju Pertumbuhan (persen) *) Sampai dengan triwulan I n.20 0.783 177 75.73 0.68 7.49 2009 1.19 persen.739 unit pada 2010.9.19 2012* n. Tabel 4.a. 2012 (diolah) 56 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Data pada Tabel 4.

2.05 2009 1.2. n. sempat mengalami penurunan dari beberapa tahun sebelumnya.58 1.10 0.a.93 0.296 178 71. Beberapa Indikator Kinerja Industri Logam Dasar Besi dan Baja Indikator Kinerja Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) Laju Pertumbuhan (persen) 2006 1.17 0. 0.38 2011 n.4. Pada tahun 2011. Pada tahun 2010.42 13.84 0.10. n.60 4.7. Industri Logam Dasar Besi dan Baja Sama halnya seperti industri semen dan barang galian bukan logam.42 5.6 persen dari tahun sebelumnya. Kinerja industri ini juga menggambarkan kecenderungan yang sama dengan industri semen dan barang galian bukan logam. Mesin dan Peralatannya Industri alat angkutan.147 188 73.57 *) Sampai dengan triwulan I n.a.73 2007 1. n.26 2010 1.139 182 75.a. 2012 (diolah) Dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja.48 -4. mesin serta peralatannya merupakan industri yang saat ini sedang berkembang seiring dengan Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 57 .154 195 68.8.10.42 2.a. Berbeda dengan industri lainnya yang telah mencapai angka diatas 70 persen. meningkat 3.06 2012* n.a.77 persen pada 2010.241 173 73. industri ini mengalami pertumbuhan yang signifikan dengan besaran 13.a. 4.77 0.59 -2. jumlah unit usaha atau perusahaan mencapai 1. industri logam dasar besi dan baja juga merupakan salah satu industri pendukung sektor konstruksi.69 2008 1. 0. Utilitas produksi pada industri ini belum terlalu optimal dikarenakan masih berkisar di angka 68. lihat Tabel 4. Tabel 4.154 unit. industri ini menyerap lebih dari 195 ribu orang pada 2010.06 persen.a. n.) data tidak tersedia Sumber: Kementerian Perindustrian. Industri Alat Angkutan.

kecuali di 2009 yang sempat anjlok.meningkatnya permintaan akan alat-alat transportasi serta komponennya. namun kembali meningkat sebesar 10. n. tapi tampaknya terjadi peningkatan kapasitas dan utilisasi produksi dari masing-masing unit usaha sehingga produksi meningkat.59 persen pada 2010.46 6.23 *) Sampai dengan triwulan I n. Kontribusinya terhadap PDBnya pun relatif baik.a. 5.a.11. Tenaga yang terserap pada industri ini juga cenderung mengalami peningkatan walaupun sempat turun pada 2009. Beberapa Indikator Kinerja Alat Angkutan.05 10.44 9. Pertumbuhan industri ini cukup mengesankan selama 5 tahun terakhir.a.87 2010 604 191 80.11. utilisasi industri ini selalu mengalami peningkatan selama 5 tahun terakhir dan telah mencapai 80.55 2007 682 166 70. Hal ini menunjukkan peningkatan produksi pada industri ini.a. Industri ini mencakup beberapa industri yaitu industri permesinan untuk pabrik.a. Mesin dan Peralatannya Indikator Kinerja Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) Laju Pertumbuhan (persen) 2006 716 159 72.2.59 6. furnitur dan lain-lain.67 9.00 2012* n.93 6.79 2009 607 168 73. 2012 (diolah) Dari sisi produksi.18 -2. n. peralatan kedokteran. dengan ratarata di atas 6 persen selama 5 tahun terakhir. alat media dan komunikasi. 5.) data tidak tersedia Sumber: Kementerian Perindustrian.a.73 2008 638 179 73.38 2011 n.75 7.30 7.67 6. mainan anak-anak. Jumlah unit usaha pada industri ini mengalami penurunan selama 5 tahun 58 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . lihat Tabel 4. Tabel 4.a. Industri Barang lainnya Industri barang lainnya merupakan industri yang tidak diklasifikasikan ke dalam industri yang dibahas sebelumnya. n.73 6.9.38 persen di 2010 dan 7 persen di 2011. Walaupun jumlah unit usaha cenderung menurun. 4. elektronik.58 6. n.

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 59 .326 643 2007 4.03 0. Industri Tekstil.2 persen per tahun.a.a. Hal ini tentu saja menjadi diinsentif bagi para produsen.15 1.18 0. Industri Pulp dan Kertas.175 679 2011 n. yaitu selalu kurang dari 0. 2012* n. b. Dari dokumen yang ada.3. berkisar diantara 71 hingga 73 persen.19 73. 0.18 -0. terdapat 7 sektor industri terpilih. yang mengkonsumsi sekitar 70 persen dari total konsumsi energi pada industri pengolahan. n.21 *) Sampai dengan triwulan I n. sehingga jumlahnya semakin berkurang.15 4.12. c.097 650 2008 3. lihat Tabel 4. Kinerja 7 Sektor Industri Padat Energi Sebagaimana telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya pada diantara industri pengolahan di Indonesia.18 3. 0. Dengan laju pertumbuhan yang tidak terlalu mengesankan yaitu maksimal 4 persen. Hal ini diduga karena telah banyak produk impor yang membanjiri pasar domestik yang kualitas dan harganya lebih bersaing.a. d.19 -2.92 0. kontribusi industri ini pun relatif sangat kecil. dapat dibedakan beberapa industri yang sangat banyak mengkonsumsi energi.86 0. e.96 73. Industri Pengolahan Kelapa Sawit. 73.00 n.a.484 633 2010 3.terakhir.) data tidak tersedia Sumber: Kementerian Perindustrian. 2012 (diolah) Utilisasi produksi pada industri ini cenderung mengalami stagnasi selama 5 tahun terakhir.12. Ketujuh sektor industri padat energi adalah: a. Industri Pupuk. n.a.87 0. Beberapa Indikator Kinerja Industri Barang lainnya Indikator Kinerja Jumlah Unit Usaha (unit) Penyerapan Tenaga Kerja (ribu orang) Utilisasi Produksi (persen) Kontribusi terhadap PDB (persen) Laju Pertumbuhan (persen) 2006 4.16 3. Tabel 4.a. Industri Baja.82 n.a.62 71.704 631 2009 3. 4.20 3. yang berikutnya disebut sebagai industri padat energi.82 71.

tingkat utilisasi. Sayangnya.f.1. dll. hingga saat ini kondisi industri baja di Indonesia masih belum seimbang antara industri hulu dan hilir. Industri Baja Industri baja merupakan salah satu pilar penting dari upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Berbagai produk industri banyak yang memanfaatkan prasarana berbahan baku baja sebagai material dasarnya. input.3. Industri Keramik Berikut ini diuraikan kinerja dari masing-masing industri padat energi. 2012 Gambar 4.3. Konsumsi Baja Nasional (juta ton) Penyebab utama dependensi Indonesia terhadap impor bahan baku baja adalah kurang berkembangnya industri baja lembaran yang kapasitasnya tidak banyak mengalami perubahan sejak 2004 60 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . 4. dan g. Perkembangan industri baja menentukan masa depan pembangunan Indonesia. Sumber: South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI). konstruksi pabrik. alat angkut. baik produksi. Industri Semen. Akibat keterbatasan industri hulu membuat industri hilir baja masih sangat tergantung kepada bahan baku impor. seperti mesin-mesin pabrik. dan yang ada kaitannya dengan konsumsi energi serta jenis energi yang dibutuhkannya.

(Indonesia Commercial Newsletter. Oleh karena itu ketersediaan energi di industri baja masih harus ditingkatkan. sponge iron. infrastruktur. Di sektor pertambangan selain untuk pertambangan itu sendiri juga untuk pengembangan sektor minyak dan gas. padahal di sisi lain Indonesia justru mengekspor bijih besi secara besar-besaran. namun utilisasinya hanya 60 persen atau sekitar 3. mengingat upaya hilirisasi di industri ini masih terkendala penyediaan energi. Kondisi demikian membuat upaya untuk meningkatkan nilai tambah bijih besi perlu terus dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat memenuhi kebutuhan bahan baku baja dalam negeri sekaligus mengurangi impor bahan baku. 2012). sebesar 54 persen konsumsi baja nasional masih menggantungkan diri dari impor. Namun. Kapasitas industri baja nasional saat ini sebesar 19 juta ton per tahun dengan total kebutuhan bijih besi 46 juta ton. Di sektor konstruksi dna infrastruktur terutama untuk pembangunan infrastruktur. Suatu negara dengan tingkat pengembangan industri baja yang sangat maju dapat dikatakan sebagai negara yang maju industrialisasinya. kebutuhan bahan baku industri hilir baja berupa iron ore. serta untuk pipa dan tube. dan scrap yang mencapai 4 juta ton per tahun seluruhnya masih impor. baja banyak digunakan di sektor pertambangan. Di Indonesia. Jika kebutuhan ini terpenuhi diperkirakan akan menciptakan nilai tambah sebesar US$15 miliar per tahun (Kemenperin. Dari data di atas. 2012). perumahan dan gedung-gedung. Dalam rangka itu pengembangan industri baja harus mendapat dukungan penyediaan energi yang memadai.6 juta ton per tahun akibat minimnya pasokan energi. Sementara permintaan sektor perhubungan terutama untuk industri otomotif dan perkapalan. yakni gas dan listrik. dan perhubungan. Saat ini kapasitas terpasang industri baja nasional sebesar 6 juta ton per tahun. konstruksi. pellet. Tumbuh kembang industri baja seringkali dijadikan tolok ukur tingkat keberhasilan industrialisasi. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 61 .

konsumsi bajanya sebesar 508 kg per kapita per tahun. 62 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . 2010 Konsumsi (Kg per kapita per tahun) 32 665 508 290 199 115 Dari sisi intensitas energi. Mengingat besarnya energi untuk menghasilkan 1 ton baja di Indonesia cukup beragam dan sangat dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan1. American Council for an Energy Efficient Economy Summer Study on Energy Efficiency in Industry.Dalam cakupan yang lebih luas. Lihat Stephanie J. Tabel 4. Konsumsi baja di Indonesia baru 32 kilogram per jiwa per tahun. Adler. Malaysia 290 Kg per kapita per tahun dan Thailand 199 kg per kapita per tahun.13. Konsumsi per Kapita Baja Beberapa Negara Tahun 2009 Negara Indonesia Singapura China Malaysia Thailand Vietnam Sumber: Badan Standarisasi Nasional. Ini berarti keberadaan industri baja masih belum banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini. Berdasarkan data Ditjen EBTKE-KESDM tahun 2011 intensitas energi pada industri baja di India sebesar 600 kWh per ton dan Jepang sebesar 350 kWh per ton. lihat Tabel 4. Battles and Robert K. China. Data ini dapat digunakan sebagai benchmark untuk menentukan intensitas energi di industri baja yang lebih ideal. Vietnam 115 kg per kapita per tahun. Energy.13. dalam kajian ini intensitas energi industri baja diasumsikan sebesar 900 kWh per ton. Padahal industri ini merupakan tonggak tegaknya industrialisasi. jumlah konsumsi baja suatu bangsa dapat dijadikan indikator tingkat kemajuan dan kesejahteraan bangsa. “Production. seperti dengan India dan Jepang. June 1999. and Carbon Emissions: A Data Profile of the Iron and Steel Industry”. untuk menghasilkan 1 Ton baja di Indonesia memerlukan energi yang relatif lebih besar dibandingkan dengan beberapa negara di Asia. Negara-negara maju umumnya mengonsumsi 700 kilogram baja per jiwa per tahun. Intensitas 1 Perhitungan proyeksi kebutuhan energi dari sisi demand dengan menghitung besarnya intensitas energi yang dikonsumsi per ton produksi baja juga biasa di pakai di Amerika Serikat.

meskipun dengan kadar kandungan besi yang masih rendah antara 35-58 persen.2 juta ton (IISIA.5 ton per jiwa (Rochman. hingga saat ini untuk pasokan scrap saja sebesar 70 persen masih harus impor. Padahal setiap tahun industri baja membutuhkan scrap mencapai 5. maka pasokan energi di sektor industri baja harus ditambah. Cadangan tersebut tersebar di beberapa pulau. bahan pendukung. Sumatera. Sementara itu.energi ini mengacu pada pemain utama industri baja di Indonesia. Agar peningkatan konsumsi baja dapat dipenuhi dari dalam negeri. 2003). Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 63 . Kalimantan. pasar domestik hanya mampu menyuplai 30 persen kebutuhan scrap (besi tua/besi rongsokan). Kontras dengan tingkat konsumsi per kapita baja yang masih rendah dan intensitas energi industri baja yang masih relatif kurang efisien. dan Irian Jaya dengan total melebihi 1. Sulawesi. Sayangnya. Berdasarkan hasil FGD. juga melimpah di Pulau Sumatera dan Kalimantan. seperti Jawa. yaitu PT Krakatau Steel. Jika kapasitas produksi (kapasitas terpasang) dapat dioptimalkan. maka impor baja dapat ditekan. untuk menghasilkan 1 Ton baja yang berasal dari bahan baku material dasar di PT Krakatau Steel membutuhkan energi sekitar 800-900 kWh. Sementara perusahaan lain sejenis yang menggunakan bahan baku besi rongsokan (scrap) memerlukan energi yang lebih rendah. sebesar 650 kWh per Ton. data menunjukkan bahwa cadangan bijih besi di Indonesia berjumlah cukup besar. 2012).300 juta Ton. Ini berarti dari sisi potensi Indonesia sebenarnya mempunyai modal untuk menjadi masyarakat berbasis industri. Cadangan ini dapat memenuhi konsumsi baja dalam negeri sekitar 2. karena suplai produksi baja dalam negeri akan meningkat. seperti batubara dan kapur. Kapasitas produksi baja harus dioptimalkan dari kondisi saat ini di mana tingkat utilisasinya hanya 60 persen.

karpet. dan campuran). acrylic. tenda. dan lainnya).4. Pada struktur industri down stream dicirikan dengan karakteristik sebagai berikut: a) padat karya. tekstil rumah tangga/household (bed linen. serat buatan (sintetis: poliester. kain finished. b) teknologi modern dan berkembang terus. kitchen linen. Pola distribusi dan penjualan antarsektor industri tekstil cukup terintegrasi dan terstruktur (API. d) penyerapan energi sangat besar. Industri tekstil terintegrasi secara vertikal. gorden. c) fleksibilitas tinggi dengan kosumen akhir/pasar sangat bervariasi.2. atau istilahnya one stop service. industrinya berskala besar. nylon). sebagian besar pekerja wanita.3. investasi dan industrinya berskala besar. benang. dan d) produksi : benang/yarn (dari: serat alam. b) teknologi full automatic. d) penyerapan energi besar. 2012). mid stream. c) tenaga kerja lebih besar dari sektor hulu. Karakteristik struktur industri mid stream antara lain sebagai berikut: a) semi padat modal. kain non-woven). Ditambah lagi pola kerja pemasaran dan distribusinya telah tersusun dan terbentuk. serat buatan. rumah sakit. up stream. angkatan perang. sarung bantal. toilet linen. Struktur industri up stream antara lain dicirikan dengan: a) padat modal. antara. Selain terintegrasi pola produksinya juga terstruktur. kain. serta down stream. dan d) produksi: pakaian jadi/garment/clothing. table linen. kain rajut. 64 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . serta serat rayon. sampai dengan pakaian jadi dan barang jadi tekstil lainnya. dan lainnya). yaitu mulai dari industri hulu. Industri Tekstil Dilihat dari strukturnya industri tekstil dibagi menjadi 3 yaitu. mulai dari serat. b) teknologinya selalu berkembang dan kombinasi padat karya dengan padat modal. dan kain/fabrics lembaran (kain grey/blace. dan e) produksinya berupa: serat/fiber alam (cotton/kapas). c) jumlah tenaga kerja kecil tapi output per tenaga besar. Kebutuhan industri (jok mobil. hingga hilirnya sehingga efisiensi bagi buyer.

Produk pupuk rata-rata menyumbang sekitar 65 persen dari total output industri pupuk.853 2010 30 230 1.2 71.2 63.074 1.id/wp.bumn.8 2009 85./03200701.4 86. Kelima perusahaan ini menguasai sebagian besar pangsa pasar pupuk di Indonesia.Saat ini kapasitas terpasang industri tekstil masih tersedia sekitar 20-25 persen dan ini merupakan cadangan dari sisa utilisasi yang dapat ditingkatkan untuk menerima permintaan baru dari dalam negeri maupun luar negeri (API.207 1.090 2009 1. yaitu PT Pupuk Iskandar Muda (PIM).15. PT Pupuk Sriwijaya (Pusri).818 2009 30 225 1.6 miliar yang terdiri dari ekspor senilai USD 14 miliar dan penjualan domestik sebesar USD 7. Tabel 4.go.3. PT Pupuk Kujang (PK).0 88.3.254 2.017 2.8 77.8 2010 83. API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) memperkirakan sampai dengan Desember 2012. diprediksikan total produksinya senilai USD 21.8 61.2 81. Profil Industri Tekstil Numbers of Company Unit 2008 Fiber Yarn Fabrics Garment Others All Sector 30 219 1.pdf 2 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 65 .2 90. Ada lima pemain besar dalam industri pupuk nasional.963 Production Volume Ton (000) 2008 1. dan PT Pupuk Gresik (PG).5 51. Kebijakan Rightsizing terhadap BUMN yang dilakukan Pemerintah pada tahun 1997 membuat 5 perusahaan pupuk menjadi 1 holding company menjadi PT Pusri (Holding). Industri Pupuk Produksi pupuk di Indonesia dikuasai oleh perusahaan milik negara (BUMN)..0 Sumber: API. 2012). 2012 4. Dua produk utama pada industri ini adalah produk pupuk dan nonpupuk.837 1. lihat Tabel 4. PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).542 2009 1..067 996 535 2.8 91. di mana kelima perusahaan tersebut adalah perusahaan BUMN2.837 1.14.798 801 115 6.1 61.107 410 102 4.192 2.058 979 532 2. Sementara dari sisi produksi.0 74.880 Operating Capacity Level Ton (000) 2008 1.750 782 110 6.761 1. sedangkan sisanya (35 persen) adalah produk nonpupuk.3 89.184 2.985 2008 85.843 Utilization persen 2010 1.3 77. sedangkan perusahaanperusahaan pupuk swasta hanya pemain kecil dari industri pupuk.009 2.14.226 486 117 5.502 1.298 483 101 5.199 1.742 2010 1. lihat Tabel 4. Baca : www.6 miliar.041 2.8 59.008 538 2.922 821 130 6.

Tabel 4.48 6.54 12.29 5. dan 2010 Gambar 4.70 13.15.95 8. dan 2010 PT Pusri (Holding) Produk pupuk yang terbesar adalah urea.42 7. Sumber : Laporan Tahunan PT Pusri Holding 2005. 2008.85 5.66 7.4.1% Sumber: Laporan Tahunan 2005. sedangkan produk nonpupuk adalah amoniak.26 5.95 12.43 16.21 11.72 10.74 7.45 12. 2008. Realisasi Produksi Pupuk dan Non-Pupuk PT Pusri (Holding) tahun 2005-2010 (dalam juta ton) Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Pertumbuhan Total Pupuk 7.01 1.17 6. Produksi urea dan amoniak rata-rata menyumbang sekitar 69 persen sampai dengan 80 persen dengan rata-rata sekitar 75 persen sehingga dalam studi industri pupuk ini penulis menggunakan asumsi 2 produk ini.07 4.20 11.92 6.29 5.79 6.79 10. yaitu urea (pupuk) dan amoniak (nonpupuk).29 16.24 14.92 6.47 4.31 2.47 4.86 10.37 5.32 2.44 7.03 5.05 6.57 5.55 12.59 12.95 11.34 5.51 10.9% Total Non-Pupuk 5.32 6.22 7.15 5.29 5.0% Total Produksi 12. Rata-rata Rasio Total Produksi Urea dan Amoniak terhadap Total Produksi Industri Pupuk Selama Periode 2003-2010 66 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .

batubara. Di sisi lain. Industri Pulp dan Kertas Pulp dan Kertas ibarat emas hijau bagi pembangunan Indonesia. yaitu sebesar 96.5. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama eksportir di bidang kehutanan sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih dalam Ramli.1 persen dari total energi yang dibutuhkan untuk industri pupuk. Sumber: Statistik Industri Sedang Dan Besar BPS 2012 dan Laporan Tahunan PT Pusri (Holding) 2009 (diolah) Gambar 4. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 67 . Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.3.Jenis energi terbesar dan utama yang dibutuhkan pada industri pupuk adalah gas bumi.9 persen. 2006).4.5. lihat Gambar 4. dan gas bumi tidak terlalu signifikan bagi industri ini karena hanya menyumbang sekitar 3. Gas bumi sebagian besar digunakan untuk kebutuhan bahan baku. Produk industri kehutanan tersebut terbukti memberikan sumbangan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang luar biasa besarnya. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan. Komposisi Kebutuhan Energi Industri Pupuk Tahun 2009 (persen) 4. kebutuhan energi untuk bahan bakar seperti solar.

95 juta ton. Industri pulp dan kertas juga berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja yakni mampu menyerap 238.28 juta ton. saat ini Indonesia mempunyai 80 perusahaan produsen kertas dan 5 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp. 2009). Buktinya.Sementara itu. Peningkatan ini disebabkan adanya perluasan usaha untuk meningkatkan produksi.89 juta ton per tahun. Industri pulp dan kertas memiliki kapasitas produksi masing-masing sebesar 7. Sungguh pun begitu. Indonesia juga berada diperingkat ke-8 sebagai produsen utama produk kertas dunia dengan volume produksi sebesar 9. Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI).4 triliun Rupiah (harga berlaku) atau sekitar 1. Nilai tambah industri pulp dan kertas juga mengalami peningkatan dari 20 triliun Rupiah pada 2000 (harga konstan 2000) menjadi sekitar 25.9 triliun Rupiah pada 2007 (harga konstan 2000) atau meningkat rata-rata sebesar 3. selain itu juga ada 4 perusahaan yang fokus sebagai produsen pulp.9 juta ton per tahun dan 12. Perusahaanperusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Dan pada tahun yang sama. 16 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara (BUMN). Indonesia sebagai negara berkembang. sumbangan industri pulp dan kertas terhadap pendapatan nasional juga cukup besar yakni mencapai 45. pada 2010 Indonesia berada diperingkat ke-9 sebagai produsen utama produk pulp dunia dengan volume produksi sebesar 6. Sekitar 69 perusahaan berlokasi di pulau Jawa.3 persen dari total pendapatan nasional pada 2007.8 persen (Sugiyono.288 tenaga kerja pada 2010 atau meningkat 13 persen dari tahun sebelumnya. Dari aspek tenaga kerja. 14 perusahaan di Sumatera dan 1 perusahaan berlokasi di Kalimantan. gambaran kinerja yang menggembirakan dalam industri pulp dan kertas tersebut ternyata dibayangi 68 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . mengalami kemajuan yang pesat dalam membangun industri pulp dan kertas.

sedangkan pertumbuhan kapasitas produksi kertas hanya meningkat rata-rata 3. Pada 2010 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru mencapai 12. Secara umum.46 persen dan 81. pada 2010 hanya 67 persen (kertas) dan 79 persen (pulp) dari total produksi kertas dan pulp yang dikonsumsi sendiri didalam negeri. Padahal setiap tahunnya konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat rata-rata sekitar 5. Hal tersebut memungkinkan dilakukannya ekspor pulp dan kertas.89 juta ton per tahun atau tumbuh 30 persen sejak 2001.7 Kg/kapita/tahun) (RISI. maka harus ada upaya untuk terus mendorong industrialisasi di industri pulp dan kertas.5 persen per tahun (selama 2001-2010). jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita.21 persen (selama 2001-2010). Caranya yakni dengan meningkatkan investasi baru guna peningkatan kapasitas produksi maupun dengan meningkatkan efisiensi khususnya dalam proses produksi.8 Kg/kapita/tahun). yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand (62. Dengan melihat kondisi tersebut. Produksi Pulp dan Kertas masih di bawah kapasitas terpasangnya dengan rata-rata utilisasi masing-masing sebesar 79. sedangkan konsumsi per kapitanya pada 2010 telah mencapai 32.1 persen per tahun.6 dan Gambar 4. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 69 .1 Kg/kapita/tahun). Malaysia (110.6 Kg atau meningkat sebesar 40 persen sejak 2001. 2006).7. Namun. Sedangkan konsumsi domestik masih lebih rendah dibandingkan dengan total produksi. potret industri pulp dan kertas di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 4. Terlebih lagi bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri pulp dan kertas tidak bertambah. dan Singapura (197. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun (Ramli.kekhawatiran akan kekurangan pasokan pulp dan kertas di masa yang akan datang. 2008).

Direktori 2011. Biaya energi 70 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . data BPS menunjukkan bahwa rata-rata biaya energi yang dikeluarkan oleh Industri pulp dan kertas selama 2001-2010 mencapai 9 persen terhadap total biaya produksi. Direktori 2011.Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.6. ketersediaan energi sebagai penunjang proses produksi juga menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi guna menyukseskan industrialisasi. Selain itu. Produksi Kertas Indonesia (Juta Ton) Sementara itu. diolah Gambar 4. diolah Gambar 4.7. Produksi Pulp Indonesia (Juta Ton) Beberapa faktor penting guna meningkatkan kinerja industri pulp dan kertas ialah tersedianya bahan baku berupa pulp dan juga kertas bekas untuk produksi kertas.

Dengan demikian. faktor ketersediaan dan biaya energi dalam industri Pulp dan Kertas merupakan aspek penting yang perlu dipenuhi jika ingin menjadikan industri Pulp dan Kertas nasional berada di puncak perdagangan global.tersebut lebih besar dari biaya tenaga kerja dan sewa gedung dan peralatan yang total rata-ratanya mencapai 7. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 71 .87 persen.

4 persen selama satu dasawarsa terakhir. dan Sulawesi Tengah 215.20 Sumber: Kementerian Perindustrian.3 juta ha. Kalimantan Timur 2.2 persen merupakan share sejumlah negara-negara lain.7 ribu ha (Kementerian Pertanian. Pangsa produksi CPO Indonesia di pasar internasional senantiasa menunjukkan tren peningkatan. 2011). Riau 1.6 persen sedangkan Malaysia sebesar 36.7 ribu ha.17.7 persen per tahun. 2011 Peningkatan pangsa produksi CPO tidak lepas dari dukungan penambahan luas areal kebun kelapa sawit.5 juta ha.4 juta ha. Produksi CPO Indonesia tumbuh signifikan rata-rata 13.5 juta ha. 2.20 20. Negara Tahun 2010 1.4 ribu ha. Indonesia Malaysia Negara Lainnya Produksi Minyak Sawit (Ton) 23.2 juta ton. Kalimantan Barat 1. Wilayah Pulau Sumatera merupakan kontributor terbesar produksi kelapa sawit Indonesia dengan luas lahan sekitar 70 persen dari total lahan kelapa sawit nasional. Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki luas areal 454. yang didukung oleh pertumbuhan areal tanam rata-rata 6.16. Papua 1. Pangsa Produksi CPO No.2 persen. Pangsa CPO Indonesia sebesar 43.7 juta Pangsa Produksi (Persen) 43. Tabel 4.2 juta 19.8 juta ha. sisanya sebesar 20. Sumatera Utara 258. lihat Tabel 4.2 juta ha. Jambi 511. Sumatera Barat 47. Sumatera Selatan 1.5 ribu ha.negeri. lihat Tabel 4. 3.16.60 36. Total produksi minyak sawit (CPO dan CPKO) dunia pada 2010 sebesar 53.6 ribu ha. Kalimantan Tengah 1.4 ribu ha. di mana Indonesia dan Malaysia menguasai 80 persen produksi minyak sawit dunia. 72 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . sehingga keberadaannya berpengaruh sangat nyata dalam perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kalimantan Selatan 965.3 juta 10.

788 18.914 6.8 2.2 20. Semen secara tidak langsung juga menstimulasi kemajuan industri lain. pelabuhan. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 73 .7 9. makanan.623 Pertumbuhan Luas Areal (%) 13.453. Oleh karena itu. jembatan.723 5.9 14.3 24. dan industri manufaktur lainnya.508.284.7 6. termasuk Indonesia berupaya mendorong produsen semen agar dapat meningkatkan kapasitas produksinya untuk menjamin ketersediaan semen di dalam negeri.508 8.2 Produksi (Ton) 7.363.17.283. minuman.023 7. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009*) 2010**) Luas Areal (Hektar) 4.200.396. 2011 * = sementara ** = realisasi 4.5 Sumber: Ditjen Perkebunan-Kementerian Pertanian.0 3.861.6 8. Upaya pemerintah tersebut dilakukan dengan beragam insentif diantaranya adalah keringanan pajak. Selain pemberian insentif.830.594.440.5 4.3 1. pertambangan.6 8. properti.472 9. bandara dan infrastruktur fisik lainnya.Tabel 4.3.881 23.058 5.725 17.615 17.8 -0.389 11. faktor lain yang memicu produsen semen ingin meningkatkan kapasitas produksinya ialah konsumsi semen yang terus meningkat seperti yang saat ini sedang terjadi di Indonesia. pertanian. Industri Semen Semen merupakan salah satu komoditi strategis yang berperan vital dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.4 7.836 7. seperti otomotif.539.077 4.640.000.5 46.6.9 2.350.766.158.622.847 7.817 6.067.000 Pertumbuhan Produksi (%) 19.0 4. pemerintah di berbagai negara berkembang.848 17.664.557 5.435 5.345 10.824.834 10.3 0.5 3. Keberadaan semen tidak hanya memacu secara langsung pembangunan jalan.713.

8 juta ton pada tahun 2010 menjadi 48. Sumber: Asosiasi Semen Indonesia. Bahkan pada tahun 2011 pertumbuhan konsumsi semen mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya dan dapat dikatakan mencapai puncaknya setelah 15 tahun terakhir. 2012 Gambar 4. Angka tersebut adalah pencapaian sekitar 82 persen dari total kapasitas terpasang yang ada saat ini.8 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2011. Yakni dari 18.0 juta ton pada tahun 2011. 74 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Pada tahun 2012 pertumbuhan konsumsi semen ditargetkan meningkat sebesar 12 persen.9. lihat Gambar 4. yaitu dari 40.52 juta ton.91 juta ton menjadi 21. Selama 10 tahun terakhir pada periode 2002-2011 menunjukkan bahwa konsumsi semen nasional selalu mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6. Menurut Asosiasi Semen Indonesia (ASI) pada tahun 2011 konsumsi semen Indonesia menunjukkan tingkat pertumbuhan yang relatif signifikan sebesar 18 persen.62 persen.9.Meningkatnya pertumbuhan pembangunan infrastruktur serta permintaan sektor perumahan dan perkantoran di Indonesia secara langsung menyebabkan permintaan akan komoditi semen menjadi naik. Konsumsi Semen Nasional (JutaTon) Lebih lanjut pada Januari-Mei 2012 pertumbuhan konsumsi semen meningkat sebesar 13.

Singapura dan bahkan Vietnam sudah melebihi 350 kg per kapita.1 persennya dipenuhi dari impor.9 persen atau 1. optimalisasi maupun pembangunan pabrik baru. bahkan jumlah impor semen terus menurun yang pada tahun 2011 lalu hanya sebesar 1.0 juta ton semen yang di konsumsi pada tahun 2011. saat ini industri semen sangat tergantung pada energi batubara. ternyata konsumsi semen Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negraga lain. sebesar 2. Peningkatan kapasitas produksi semen yang saat ini sedang didorong baik melalui perluasan. Itulah sebabnya Indonesia telah berhasil menghindari ketergantungan impor semen yang berlebihan. Peningkatan permintaan semen yang terjadi pada saat ini membuat pemerintah menerapkan strategi kebijakan yang bertujuan bagi pengembangan industri semen di Indonesia.Dari 48. Namun Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 75 . Kekhawatiran tersebut beralasan. meningkatkan kemampuan kompetensi sumber daya manusia dalam desain dan perekayasaan pengembangan industri semen. Thailand.6 juta ton. Pada tahun 2010 proporsi impor semen Indonesia tercatat sebesar 3. Meskipun terjadi peningkatan. Terkait dengan penggunaan bahan bakar dan energi. terutama masyarakat yang berlokasi disekitar pabrik semen. meningkatkan daya saing industri semen melalui efisiensi energi. Sedangkan di negaranegara ASEAN seperti Brunei. Impor semen Indonesia cenderung menurun dari tahun ke tahun. melakukan persebaran pembangunan pabrik semen ke luar pulau Jawa. Hal ini terlihat dari tertinggalnya konsumsi per kapita semen Indonesia yang saat ini berkisar 200 kg per kapita. dikhawatirkan banyak pihak. Malaysia. sebab penggunaan bahan baku dan bahan bakar serta proses yang dilalui dalam memproduksi semen berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan dan sosial.01 juta ton. Yaitu dengan cara memenuhi kebutuhan nasional. Pemerintah terus mendorong produsen semen untuk meningkatkan kapasitas produksinya demi menjamin ketersediaan semen di dalam negeri.

pasir silika dan tanah liat (clay) melalui tahapan pembakaran dengan suhu tinggi (sekitar 1. Di masa yang akan datang tentunya sangat diperlukan jenis energi yang hemat dan ramah lingkungan sebagai alternatif pengganti batubara untuk proses pembakaran pada industri semen. feldspar.negara ASEAN lainnya sudah di atas 2 m2 per kapita. 4.3000 Celcius). feldspar. Di satu sisi penambahan penggunaan batubara sangat diperlukan untuk menambah kapasitas produksi semen. Inilah salah satu dilema yang dihadapi industri semen terkait yang terkait dengan penggunan energi dan bahan bakar. Selain itu pembangunan 76 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . pasir silika dan kaolin melalui tahapan pembakaran dengan suhu tinggi. Adapun karakteristik industri keramik meliputi: • Padat energi • Padat karya • Penggunaan bahan baku tambang yang tidak dapat diperbaharui. namun di sisi lain penggunaan batubara tersebut dapat menimbulkan gangguan lingkungan. sedangkan negara .3.hasil pembakaran bahan bakar dan batubara tersebut dapat menyebabkan polusi udara yang sangat mengganggu keseimbangan lingkungan. Keramik adalah berbagai produk industri kimia yang dihasilkan dari pengolahan bahan tambang seperti kaolin.7. Prospek pengembangan keramik ubin dalam beberapa tahun ke depan masih cukup potensial mengingat populasi penduduk Indonesia yang cukup besar dan konsumsi keramik per kapita yang masih rendah sekitar 1 m2. industri bahan penolong dan industri bahan setengah jadi serta produk keramik seperti tile. Industri keramik meliputi industri bahan baku. saniter dan tableware dan alat laboratorium meliputi KBLI 26201 sampai dengan KBLI 26209 atau HS 6901 sampai dengan HS 6914. Industri Keramik Keramik adalah berbagai produk industri kimia yang dihasilkan dari pengolahan tambang seperti clay.

Gambar 4. Industri keramik nasional memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan produsen keramik negara lain yaitu tersedianya deposit tambang bahan baku keramik yang cukup besar yang tersebar di berbagai daerah seperti ball clay. Ini merupakan suatu peluang bagi industri keramik dalam upaya meningkatkan daya saing produk keramik ubin. Jika hal ini terus terjadi. Turki dan Brazil. maka pada masa yang akan datang produksi keramik domestik akan tidak mampu memenuhi permintaan dalam negeri. dan penyerapan tenaga kerja. Data tersebut menunjukkan bahwa laju pertumbuhan konsumsi keramik terlihat lebih cepat daripada pertumbuhan produksinya. Lebih dari itu. Sebanyak 20 persen dari total produksi dunia berasal dari Indonesia. industri keramik terus tumbuh baik dalam kapasitas maupun tipe dan desain produk yang semakin berdaya saing tinggi. yaitu melalui penyediaan kebutuhan keramik domestik. perolehan devisa melalui ekspor. Italia. saat ini Indonesia merupakan salah satu negara produsen keramik ubin terbesar keenam dunia setelah China. Seiring dengan meningkatnyta pertumbuhan sektor konstruksi di Indonesia yang terlihat dengan meningkatnya pembangunan perumahan dan infrastruktur menyebabkan permintaan pada industri keramik menjadi meningkat. Spanyol. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang tersebar di berbagai daerah. feldspar dan zircon di Kalimantan Barat maupun energi gas sebagai bahan bakar proses produksi. Sumbangan industri keramik nasional terhadap PDB saat ini telah mencapai 3 persen. Pada 2012 ini pertumbuhan industri keramik diperkirakan bisa mencapai 12 persen.perumahan maupun properti yang diperkirakan terus berkembang akan membuka peluang pasar keramik yang cukup baik.10 menunjukkan produksi dan konsumsi keramik nasional selama 2006-2011. Industri keramik nasional memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung pembangunan nasional. Pada tahun 2011. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 77 . industri keramik tumbuh sebesar 8 persen.

namun terdapat pula permasalahan yang dihadapi oleh industri ini. Kurang optimalnya produksi keramik ini disebabkan karena masih terbatasnya bahan bakar energi utama pada industri keramik. Pasokan gas alam untuk industri keramik tidak dapat digantikan dengan jenis energi lain. Kebutuhan gas untuk industri keramik yang mencapai 100 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). antara lain karena tingginya titik bakar gas yang hanya dimiliki oleh gas bumi. 75 sampai dengan 78 persen diantaranya masih impor. salah satunya terdapat pada faktor bahan bakar energi.Sumber: www. yaitu gas.5 miliar ton per bulan. Selain itu masih banyak pula komponen bahan baku yang harus didatangkan dari luar negeri (impor). dari kebutuhan bahan baku sebesar 12.10.infotile. namun produksi yang mampu dimaksimalkan oleh produsen lokal hanya 320 hingga 330 M2. sebenarnya kapasitas produksi keramik nasional telah mencapai 370 juta M2. Meskipun industri keramik memiliki keunggulan. Produksi dan Konsumsi Keramik Nasional (Juta M2) Berdasarkan data dari Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI). namun pemerintah saat ini hanya bisa memenuhi sekitar 80 persen dari total 78 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Pasokan gas alam yang digunakan sebagai bahan bakar keramik belum mendapat jaminan khususnya untuk jangka panjang.com/publications (2012) Gambar 4. Berdasarkan data dari Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI).

kebutuhan. Pasokan gas yang masih jauh dari kebutuhan tersebut pun mengakibatkan utilisasi produksi keramik belum bisa optimal. Selain itu harga gas alam ditetapkan dalam US Dollar sehingga, sehingga apabila nilai tukar rupah melemah terhadap mata uang US dollar akan mengakibatkan naiknya harga pokok produksi. Peningkataan mutu keramik dirasa sangat perlu untuk meningkatkan daya saing serta pertumbuhan ekonomi nasional. Karena industri keramik menjadi bagian dari bahan bangunan mineral yang produknya dipergunakan untuk pembangunan fisik baik sarana dan prasarana dan kebutuhannya semakin meningkat sejalan dengan pembangunan nasional.

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

| 79

80 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

B AB V

KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI

Kebutuhan energi di Indonesia dibedakan atas beberapa sektor pengguna energi seperti industri, rumah tangga, transportasi, pemerintahan, dan komersial. Menurut Ditjen EBTKE, KESDM, hingga saat ini sektor industri masih mendominasi konsumsi energi di Indonesia dengan pemakaian sebesar 329,7 juta SBM (Setara Barel Minyak) atau 49,4 peren dari total konsumsi energi nasional. Di tempat kedua, sektor transportasi menyumbang konsumsi sebesar 226,6 juta SBM atau 34,0 persen. Sementara rumah tangga dan bangunan komersial masing masing menggunakan 81,5 juta SBM atau 12,2 persen dan 29,1 juta SBM atau 4,4 persen.

5.1. Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Sub Sektor Industri Sektor industri manufaktur (pengolahan) di Indonesia adalah pengguna energi terbesar yang mencakup hampir separuh dari seluruh kebutuhan energi nasional. Sektor industri pengolahan memiliki populasi dalam kategori sedang dan besar yang diperkirakan lebih dari 25.000 jenis industri. Industri pengolahan sedang dan besar tersebut dikelompokkan ke dalam 23 klasifikasi International Standard Industry Classification 1990 (ISIC 1990). Industri dengan populasi jumlah perusahaan terbanyak adalah berturut-turut industri makanan dan minuman, industri tekstil, industri garmen, dan furnitur. Populasi dari empat sektor industri ini secara bersama-sama bahkan sudah mencapai 50,0 persen dari seluruh populasi industri.

Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 81

Untuk mempermudah analisis, terkait dengan kajian ini, ke-23 klasifikasi sektor industri tersebut diagregasi menjadi 9 kelompok besar, yaitu: a. b. c. d. e. f. g. h. i. Industri Makanan, Minuman dan Tembakau; Industri Tekstil, Barang dari Kulit dan Alas Kaki; Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya; Industri Kertas dan Barang Cetakan; Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet; Industri Semen dan Barang Galian bukan Logam; Industri Logam Dasar Besi dan Baja; Industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya; dan Industri Barang lainnya.

Analisis kebutuhan energi 9 (sembilan) jenis industri menggunakan asumsi bahwa jenis energi yang disertakan dalam perhitungan adalah bahan bakar minyak (bensin dan solar), batubara, gas, dan listrik. Pembatasan jenis energi ini semata-mata didasarkan pada pertimbangan praktis mengenai ketersediaan data yang ada. Data untuk jenis energi selain BBM, batubara, gas dan listrik sejauh ini belum dapat diperoleh. Selain itu, jenis energi yang dimaksud pada bagian ini hanya jenis energi yang digunakan untuk bahan bakar dan bukan bahan baku, kecuali untuk industri pupuk yang menggunakan gas bumi sebagai bahan baku utama. Sumber pasokan energi yang diperoleh industri berasal dari pasar yang dibentuk oleh beberapa produsen pemasok energi. Pasar energi batubara dibentuk oleh beberapa produsen besar dan banyak pensuplai yang lebih kecil, energi gas juga bervariasi karena ada yang disuplai oleh perusahaan niaga gas, namun ada pula industri yang langsung membeli dari produsen di hulu migas. Energi listrik berasal dari perusahaan listrik negara sebagai perusahaan negara yang melakukan monopoli penyaluran energi listrik. Terakhir adalah BBM, yang sebelum tahun 2001 disuplai hanya oleh BUMN Pertamina. Tapi sejak tahun 2006 sudah mulai bertambah banyak supplier energi BBM perusahaan swasta dikarenakan kebijakan pemerintah yang memberlakukan harga internasional bagi BBM industri sejak tahun 2006 yang lalu.

82 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi

seperti kWh untuk listrik. Masing-masing jenis energi memiliki kandungan watt per jam yang berbeda-beda.000. perlu dilakukan penyamaan satuan.6996 5.0000 Setiap jenis industri memiliki komposisi jenis energi yang berbedabeda.Masing-masing jenis energi memiliki satuan energi yang berbedabeda. diolah (2012) kWh 9. kebutuhan energi dari 9 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 83 . mmscfd untuk gas bumi.1. Untuk dapat membandingkan antara satu jenis energi dengan jenis energi yang lain dan untuk dapat menjumlahkan kebutuhan energi industri. Proyeksi kebutuhan energi dilakukan dengan cara memproyeksikan kebutuhan energi dalam satuan kWh. Kg untuk batubara.0133 10. yang tidak bisa dijumlahkan begitu saja. Untuk lebih jelasnya. Untuk itu satuan energi dari berbagai jenis energi dikonversi ke dalam satuan energi listrik yaitu kilo Watt hour (kWh). Namun untuk pembahasan ini masing-masing jenis energi tersebut telah dikonversi ke dalam bentuk satuan unit listrik (gWh) dan dijumlahkan menjadi total peenggunaan energi seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5.2.1. nilai watt per jam dari setiap jenis energi disumsikan seperti pada Tabel 5. liter untuk BBM.9313 293. Setelah diproyeksi hingga tahun 2025.0000 1. mega Watt hour (mWh) atau giga Watt hour (gWh). Secara umum. Tabel 5. Nilai Watt (kWh) dari Masing-masing Jenis Energi Jenis Energi Bensin (liter) Solar (liter) Batubara (Kg) Gas (MMBTU) Listrik (MwH) Sumber: PGN dan Pertamina. maka total energi dalam satuan intensitas listrik (kWh) dapat didistribusikan menjadi menjadi beberapa jenis energi semula dengan asumsi tidak ada perubahan proporsi penggunaan energi seperti yang tercantum pada data historis beberapa tahun terakhir.

297 16. minuman dan tembakau dengan rata-rata mencapai 17.441 16. Kimia & Barang dari Karet Industri Semen & Barang Galian bukan Logam Industri Logam Dasar Besi & Baja Industri Alat Angkutan.909 gWh.502 5.371 17.195 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS.605 6.146 5.463 5.759 6.923 2. diolah INDEF (2012) Selama 2006-2009 kebutuhan energi yang paling besar terdapat pada industri makanan. kimia dan barang dari karet.001 3.945 4.414 18.890 2008 24. Hal ini dapat dipahami karena industri makanan.689 2009 17. Hal ini dapat dipahami karena industri ini lebih banyak 84 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Terlihat dari kebutuhan energi dalam satuan intensitas listrik (gWh) yang relatif lebih besar diantara industri lainnya.574 4.257 6. industri pupuk.259 8. Tabel 5.909 16. minuman dan tembakau merupakan industri yang memiliki populasi terbesar di antara 9 industri pengolahan di Indonesia. industri barang kayu dan hasil hutan lainnya (kecuali furniture) merupakan industri yang kebutuhan energinya paling sedikit diantara industri lainnya.079 8.732 18. minuman dan tembakau.2.725 4.667 2007 18.599 11.122 20. Minuman dan Tembakau Industri Tekstil.(sembilan) jenis industri memiliki kecenderungan yang meningkat kecuali pada 2009. yakni mencapai 1.602 gWh pada 2009 .456 19.745 17.317 4. serta industri logam dasar besi dan baja juga mengkonsumsi energi cukup besar.395 1.209 18.602 4. industri tekstil.390 4. Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri Pupuk.329 19.441 13. industri semen dan barang galian bukan logam. barang dari kulit dan alas kaki. Kebutuhan Energi 9 (sembilan) Sektor Industri (gWh) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Industri Makanan. Mesin & Peralatannya Industri Barang lainnya 2006 11.517 Ratarata 17.629 9. Di lain hal.482 3. Selain industri makanan.454 20.431 2.407 3.673 6.120 16.453 9.424 5.061 5.

257.8 10.6 16.602.3 550.5 13.296.643.0 3.1 2.783.456.8 4. Pada tahun 2009 BBM khususnya solar paling banyak digunakan oleh industri makanan.3 1. Tabel 5.6 1. Industri makanan.6 1.942.5 742. minuman dan tembakau lebih banyak menggunakan energi yang berasal dari solar yakni sebesar 60.5 688.350.526.0 6. Minuman dan Tembakau Industri Tekstil.3 6 7 71.298.5 324.782.5 611.463.86 persen.2 2.470.5 gWh).5 52.981. minuman dan tembakau (10.7 978.9 20.5 1.0 17.526.872.7 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS (2012) Dari penjelasan mengenai total kebutuhan energi pada sektor industri.4.0 358.2 4.3.6 2.9 1.menggunakan energi bio massa.664.8 5.9 207.0 36.270. jika dikomposisikan dari masing-masing jenis energi maka akan terlihat seperti pada Tabel 5.293.4 7. Persentase komposisi kebutuhan dari masing-masing jenis energi khsusunya pada tahun 2009 ditunjukkan pada Tabel 5.8 19. Mesin & Peralatannya Industri Barang lainnya Bensin Solar Batubara Gas Listrik Total 1 2 3 4 5 878.394. Komposisi Kebutuhan Masing-masing Energi pada Industri Manufaktur Tahun 2009 (gWh) No Jenis Industri Industri Makanan.1 gWh). energi listrik paling banyak digunakan oleh industri tekstil.517. Untuk jenis energi batubara dan gas paling banyak digunakan oleh industri semen dan barang galian bukan logam.161.8 2.250.2 420.3.4 442. yang data konsumsinya tidak tercatat dengan baik . Kimia & Barang dari Karet Industri Semen & Barang Galian bukan Logam Industri Logam Dasar Besi & Baja Industri Alat Angkutan.743.573.8 514.207.1 2.0 863.5 6.1 1.566. industri yang paling banyak mengkonsumsi energi adalah industri semen dan barang galian bukan logam (19.142. Berdasarkan data 2009.5 274.257.4 18.8 55.5 gWh). Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri Pupuk.0 913.9 5.2 164. Sementara itu. barang dari kulit dan alas kaki (5.4 898.2 1.7 1.749.910.744.9 8 9 269.1 3.2 0.7 3.0 5.608. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 85 .

72 41.91 15.73 Listrik 18.23 9. Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri Pupuk.64.30 27.26 3.50 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS. industri barang dari kayu dan hasil hutan lainnya saat ini paling tergantung pada energi yang bersumber dari BBM khususnya solar.64 38.14 persen.90 21.05 persen.68 1.43 persen.07 persen.55 32.86 Gas 4.66 41.4 Distribusi Komposisi Kebutuhan Energi dari Masingmasing Jenis Industri Tahun 2009 (Persen) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Industri Makanan.63 6. Selain itu.72 7.65 7.Kemudian yang berasal dari listrik dan batubara masing-masing sebesar 18. terlihat dari porsi energi yang bersumber dari gas hanya sebesar 1.96 0. lebih banyak menggunakan energi batubara yaitu sebesar 40.35 36. Tabel 5.79 42.29 1.07 53.00 71.73 48. Selain itu.05 34. yaitu dengan proporsi sebesar 38. barang dari kulit dan alas kaki. Kimia & Barang dari Karet Industri Semen & Barang Galian bukan Logam Industri Logam Dasar Besi & Baja Industri Alat Angkutan. Sementara energi yang berasal dari gas belum terlalu banyak digunakan pada Industri ini.86 23. Industri tekstil.01 43.40 4.55 persen dan 11.23 40.00 0. industri ini juga memanfaatkan listrik sebagai energi yang diandalkan.21 19. industri ini juga banyak menggunakan energi listrik sebesar 32. Energi yang bersumber dari batubara tergolong kecil pada industri ini.37 3.23 persen. Minuman & Tembakau Industri Tekstil.27 12.05 3.41 Batubara 11. Porsi energi dari solar mencapai 53. Gas belum menjadi sumber energi utama 86 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .56 3.43 20. kemudian diikuti oleh penggunaan energi yang bersumber dari bahan bakar solar sebesar 23.83 9.04 Solar 60.64 11. yaitu hanya 3.19 3.14 42. diolah INDEF (2012) Di lain hal.68 persen.03 6. Mesin & Peralatannya Industri Barang lainnya Bensin 5.90 persen.08 2. Pemanfaatan gas juga belum terlalu banyak pada industri ini. persen.16 6.94 0.

dimana data konsumsi gas ini tampaknya hanya untuk bahan bakar saja.30 persen.0 persen dari nilai produksinya. Energi yang berasal dari gas juga relatif besar yakni sebesar 12. Sementara itu.96 persen dan 19. Selain energi yang berasal dari listrik. Penggunaan gas sebagai bahan bakar pada industri ini tergolong kecil yakni sebesar 3. Seperti diketahui bahwa industri ini sangat membutuhkan gas sebagai sebagai bahan baku. terlihat dari sumbangan energi yang bersumber dari gas hanya sebesar 1. Untuk Industri Pupuk.19 persen. Industri logam dasar besi dan baja paling banyak memanfaatkan listrik dan solar sebagai sumber energi dengan proporsi masingmasing sebesar 42.27 persen. Gas dan batubara Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 87 . Lebih lanjut.66 persen dan 20. energi yang berasal dari listrik dan solar juga tergolong besar yaitu masing-masing sebesar 11.40 persen dan dari total input energi industri ini. energi yang berasal dari solar dan batubara juga relatif tinggi yakni masingmasing sebesar 21. bahan bakar bensin pada industri ini menyumbang porsi energi paling kecil yaitu sebesar 3. Diikuti oleh energi yang berasal dari listrik dan batubara yang menyumbang masing-masing sebesar 27. Kimia dan Barang dari Karet. Sementara itu.79 persen dan 9.yang dimanfaatkan dalam industri ini. sumber energi yang paling besar adalah berasal dari solar yaitu sebesar 41. Industri semen dan barang galian bukan logam terutama menggunakan energi batubara pada jumlah yang sangat besar yaitu 71. dimana komponen gas menyumbang lebih dari 80.65 persen.72 persen.41 persen.21 persen.73 persen. kontribusi ini merupakan yang terbesar diantara 9 industri pengolahan lainnya.86 persen. Energi yang berasal dari gas menyumbang sebesar 6.73 persen.35 persen dan 41. energi yang dimanfaatkan oleh industri kertas dan barang cetakan paling banyak berasal dari listrik dengan porsi sebesar 42.72 persen dari total kebutuhan energi. tidak termasuk penggunaan gas sebagai bahan baku.

00 persen dan 34. Pertumbuhan masing-masing industri mengalami pertumbuhan yang berbeda beda namun dengan kecenderungan meningkat. mengasumsikan bahwa kebutuhan energi untuk masing-masing industri mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan sesuai dengan proyeksi pertumbuhan industri yang terdapat dalam Rencana Strategis Kementerian Perindustrian 20102014.2. minuman dan tembakau serta industri alat angkutan. Masing-masing pertumbuhan industri secara lengkap di tampilkan pada Tabel 5. mesin beserta peralatannya juga paling banyak mengandalkan solar dan listrik sebagai jenis energi dengan proporsi masing-masing sebesar 48.5. Mirip halnya dengan industri logam dasar besi dan baja.91 persen.64 persen dari total energi. 88 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Batubara samasekali tidak digunakan di industri ini yang disebabkan oleh sulitnya proses penggunaannya.05 persen. terlihat dari sumbangan energi yang diberiikan sebesar 15. mesin dan peralatannya diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan yang paling besar diantara industri lainnya. dari tabel tersebut terlihat bahwa industri makanan. Sementara itu.94 persen.menyumbang porsi energi masing-masing sebesar 7. 5.83 persen dan 4. untuk indutri alat angkutan.05 persen). Industri barang lainnya (yang tidak diklasifikasikan ke kelompok industri sebelumnya) juga memanfaatkan solar dan listrik sebagai penghasil energi (43. Penggunaan gas juga relatif besar pada industri ini.01 persen dan 36. energi gas juga diandalkan sebagai sumber energi dengan porsi sebesar 9. Proyeksi Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Jenis Industri Proyeksi kebutuhan energi untuk masing-masing industri dengan asumsi business as usual.

80 5.05 5.30 5.30 5.00 7.5 8. Kimia & Barang dari Karet Industri Semen & Barang Galian bukan Logam Industri Logam Dasar Besi & Baja Industri Alat Angkutan.65 3.938 gWh. Dari hasil proyeksi kebutuhan energi pada 9 (sembilan) jenis Industri yang terlihat pada Tabel 5.90 5.30 7 8 9 4. industri makanan.75 4.8 5.90 2015 10.20 6. gas dan BBM.3 5.50 10. Minuman dan Tembakau Industri Tekstil.40 5. seperti industri kertas dan barang kertas yang banyak menggunakan energi biomassa.50 10.60 2025 9.80 5. tidak semua energi tersebut berupa energi listrik. jumlah perusahaan di industri ini merupakan yang paling banyak Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 89 .90 2013 8.58 8.5 10.90 5.80 Sumber: Rencana Strategis Kementerian Perindustrian 2010-2014 Hasil proyeksi menunjukkan bahwa total kebutuhan energi untuk industri pada 2025 sebesar 271.30 3.78 6.75 2.30 5.60 4 5 6 4.5. Mesin & Peralatannya Industri Barang lainnya 2012 8. Menengah dan Besar 2010-2025 (persen) No 1 2 3 Jenis Industri Industri Makanan.30 8. minuman dan tembakau belum menjadi industri yang paling banyak membutuhkan energi (lihat Tabel 5.40 2014 10. Berdasarkan data tahun 2009.94 4.60 3.30 6.35 5.0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri.Tabel 5. namun dikarenakan industri ini diproyeksikan akan menjadi salah satu industri yang tumbuh paling pesat. minuman dan tembakau pada tahun 2025 akan membutuhkan energi sebesar 72.60 3. Proyeksi Pertumbuhan Industri Kecil.60 5.20 6.54 5. maka menimbulkan konsekuensi bahwa pertumbuhan permintaan energinya pun turut meningkat pesat pula.2 6. Masing-masing industri tersebut menggunakan sumber energi primer seperti batubara.6.60 3.00 4. Selain itu. Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri Pupuk.30 5. Namun meskipun jumlah energi tersebut dinyatakan dalam satuan intensitas listrik.3).50 8. terbesar diantara 8 industri yang lainnya.30 8.20 6.6 2020 9.50 10.15 3. industri makanan.30 7.30 5.00 4.40 5.210 gWh atau sekitar 26.33 5. Pada beberapa industri bahkan ada yang menggunakan energi non fosil sebagai bahan bakar utamanya.

763 108.037 7. Total porsi kedua industri ini 90 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .765 7.169 11.888 40.837 5.008 6.136 24.782 2014 25.235 11.264 5. Proyeksi Kebutuhan Energi 9 (Sembilan) Jenis Industri (gWh) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Industri Makanan. Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri Pupuk.323 6.491 15. Di tempat ketiga terdapat industri semen dan barang galian bukan logam yang membutuhkan energi sebesar 41. kimia dan barang dari karet menempati urutan kedua dalam kebutuhan konsumsi energi pada 2025.938 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS.210 36.431 gWh.852 2015 28.724 2013 23.848 271.591 5.462 7.559 20.918 2020 45.050 2.042 10.405 189.612 21.125 22.353 7.732 5.570 6. Minuman dan Tembakau Industri Tekstil.050 gWh atau sekitar 13. Diperkirakan jumlah perusahaan di industri itu akan terus berkembang seiring dengan pertambahan kebutuhan akan produkproduk pangan yang pemasarannya lebih bersifat eceran.232 41.450 7.0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Untuk industri tekstil.196 115. barang dari kulit dan alas kaki pada 2025 diproyeksikan akan membutuhkan energi sebesar 36. Kimia & Barang dari Karet Industri Semen & Barang Galian bukan Logam Industri Logam Dasar Besi & Baja Industri Alat Angkutan. diolah INDEF (2012) Di lain hal.732 14.001 8.732 gWh atau sekitar 15.686 124.0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri.528 17.6.788 1.208 133.35 persen dari total kebutuhan energi untuk industri.491 gWh dan 14.453 18.892 19.775 25.212 60.449 7.639 8.904 18.045 23. Mesin & Peralatannya Industri Barang lainnya Total 2012 21.bila dibandingkan dengan jumlah perusahaan di industri lainnya.290 2025 72.453 2.906 1. Tabel 5. industri pupuk.232 gWh atau sekitar 22.966 1.738 1. Pada 2025 kedua industri ini diproyeksikan membutuhkan energi masing-masing sebesar 18.899 8. Sementara industri alat angkutan.470 23.428 32.195 21. yaitu sebesar 60.377 11.431 5.093 27.786 27. mesin dan peralatannya beserta industri logam dasar besi dan baja juga juga diproyeksikan tetap menjadi salah satu industri yang padat energi.

Pada tahun 2025.0 persen dari total jenis nergi yang digunakan oleh industri ini.550 gWh dan 11.223. barang dari kulit dan alas kaki. Pada tahun 2025 kebutuhan energi yang berasal dari batubara untuk kedua industri ini mencapai masing-masing sebesar 23.7. minuman dan tembakau paling besar diambil dari BBM khususnya solar yaitu sebanyak 45. Dengan menggunakan proporsi masing-masing jenis energi yang sama pada tahun 2009. 5.mencapai sekitar 12. energi yang digunakan oleh industri makanan.6 gWh atau sekitar 63. Proyeksi Komposisi Penggunaan Energi 9 (Sembilan) Jenis Industri Hasil proyeksi kebutuhan energi untuk masing-masing jenis industri dapat dijelaskan melalui komposisi masing-masing jenis energinya.732 gWh atau sekitar 1.996 gWh dan 11. pada satuan gWh. maka pada tahun 2025 proyeksi komposisi kebutuhan energi masing-masing jenis energi dapat dilihat pada Tabel 5. Terdapat pergeseran komposisi penggunaan jenis energi terhadap total kebutuhan energi pada seluruh industri. Pada tingkat pertumbuhan konsumsi energi sebesar 3.899 gWh.0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Lain halnya dengan industri semen dan barang galian bukan logam serta industri tekstil. Berbeda halnya dengan industri barang kayu dan hasil hutan yang diperkirakan mengkonsumsi energi dengan jumlah yang paling sedikit. Pada tahun 2009 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 91 .0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri.8. Energi listrik pada kedua industri ini juga sangat dibutuhkan. batubara menjadi sumber energi yang paling diandalkan selain listrik. yang berturut-turut mencapai 6.5 persen per tahun maka pada tahun 2025 industri ini hanya membutuhkan energi sebesar 2.3. proyeksi 2025 disajikan pada Tabel 5. Jika menggunakan satuan aslinya.719 gWh. Untuk kedua industri ini.

maka seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5.4 6.8).9 7.2 636.1 23.022. Hal serupa juga terjadi pada energi gas.7 848.179.7 8.354.4 245.209.799.8 15.1 868.3 0.490. namun pada 2025 energi listrik diproyeksikan akan paling banyak digunakan oleh industri pupuk.533.337.6 2.6 24.5 11.8 4.666. Pada tahun 2009 energi gas paling banyak digunakan oleh industri semen dan barang galian bukan logam (Tabel 5.6 5.190. minuman dan tembakau.4 4.050. Proyeksi Komposisi Kebutuhan Energi Setiap Jenis Energi Pada 9 (Sembilan) Jenis Industri Tahun 2025 (gWh) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Industri Makanan.2 2.6 4.8 2.8 9. diolah INDEF (2012) Jika proyeksi komposisi masing-masing jenis energi pada 2025 dikembalikan pada satuan masing-masing jenis energi. energi batubara dan BBM (solar) relatif tidak terjadi perubahan komposisi.6 1.2 14.2 1.2 3. Kimia & Barang dari Karet Industri Semen & Barang Galian bukan Logam Industri Logam Dasar Besi & Baja Industri Alat Angkutan.835.732.094. Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri Pupuk.8 1.727.7 12.8 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS. Pada tabel tersebut menunjukkan kebutuhan energi untuk masing-masing jenis industri dalam bentuk 92 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .2 15.018.898. kimia dan barang dari karet (Tabel 5.618.963.1 7.9 2.4 1.129.6 72.2 219.9 7.223.847.433. sementara solar diproyeksikan akan tetap digunakan paling banyak oleh industri makanan.1 11.3 18. barang dari kulit dan alas kaki (Tabel 5.019.5 41.550.8. Tabel 5.791. Mesin & Peralatannya Industri Barang lainnya Bensin Solar Batubara Gas Listrik Total 2.9 36.29 3.4 10.8 198.931. Di lain hal.211.600.996.965.431.875.3). Energi batubara diproyeksikan akan tetap paling banyak digunakan oleh industri semen dan barang galian bukan logam sama seperti tahun 2009.995.4 7.9 6.1 45.8 11.232.732. Minuman dan Tembakau Industri Tekstil.6 133.6 5.5 2.050.7 11.719.718.6 794.7.566.5 2.750.216.8).112. namun pada 2025 energi gas diproyeksikan akan paling banyak digunakan oleh industri pupuk kimia dan barang dari karet (Tabel 5.4 1.energi listrik paling banyak digunakan oleh industri tekstil.3 60.1 89.3).

862.574 901.181 4.422 1.566.084 53.261 12.343 1. paling banyak dibutuhkan oleh industri semen. dan barang galian bukan logam sebesar 4 juta ton.554 11. Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri Pupuk.102 848.045.091 4. Industri pupuk. Tabel 5.971 450 0. barang dari kulit dan alas kaki sebanyak 1.364 27. Proyeksi Komposisi Kebutuhan Energi Pada 9 (Sembilan) Jenis Industri Tahun 2025 (satuan masing-masing) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Industri Makanan.618 62.977 3.920 Solar (barel) 26.242. diolah INDEF (2012) Gas bumi paling banyak dibutuhkan di industri pupuk. diikuti oleh industri pupuk.190.760 5.995.269 4.050.234 7.865. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 93 .978. Mesin & Peralatannya Bensin (barel) 1.909 2.898.893.961 710.600.9 juta ton serta industri tekstil.626 Batubara (Ribu Ton) 1. selain memerlukan gas paling banyak.212 153.381. barang dari kulit dan alas kaki sebesar 11.616 138.476 4.549 6. kimia dan barang dari karet.satuan standar unit energi.05 ribu ton. kimia dan barang dari karet 1.548.799.449.8.579.9 juta ton.837 605.965.1 juta mWh. minuman dan tembakau sebesar 11.891.792 3.473 11. juga memerlukan energi listrik terbesar yaitu 12 juta mWh.053. Minuman dan Tembakau Industri Tekstil. Industri alat angkutan.870 4. Kebutuhan batubara. minuman dan tembakau sebanyak 17 juta MMBTU. dan kemudian industri makanan.281.079 2.679 5.976 413 359 1. mesin dan peralatannya memerlukan batubara yang sangat sedikit yaitu hanya 0. diikuti oleh tekstil.05 22 Gas (MMBTU) Listrik (mWh) 17. Kimia & Barang dari Karet Industri Semen & Barang Galian bukan Logam Industri Logam Dasar Besi & Baja Industri Alat Angkutan.582. kimia dan barang dari karet sebanyak 27 juta MMBTU.727 11.331 5.843 Industri Barang lainnya Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS.994. seperti yang diperkirakan sebelumnya. dan industri makanan.088 6.045 14.864.346 20.324 443. diikuti oleh industri semen dan barang galian bukan logam sebanyak 20 juta MMBTU.307 554.566. Kebutuhan energi tersebut dalam satuan tahun yaitu pada tahun 2025.653.697 2.8 juta mWh.

215 unit usaha dan menyerap 1. serta industri tekstil. dan solar. namun industri ini merupakan salah satu sumber devisa negara.2 juta pekerja. Meski sumbangannya pada PDB hanya 1. industri ini mampu memberikan sumbangan ke PDB sebesar 1. Kesulitan pada input gas bumi adalah perlunya ketersediaan prasarana distribusi gas bumi hingga mencapai pelosok unit usaha. karena itu industri ini dikategorikan sebagai industri kecil dan padat karya serta terkait langsung dengan kegiatan ekonomi rakyat pada umumnya.530 unit usaha dan menyerap 1 juta pekerja.93 persen. dengan pilihan listrik atau gas bumi. Komponen input listrik dan solar berjumlah sekitar 55 persen. Industri tekstil.Kebutuhan BBM terutama berupa minyak solar sebesar 26 juta barrel untuk industri makanan. Industri kayu dan barang dari hutan lainnya mengalami tingkat pertumbuhan negatif pada tahun 2010. listrik. diikuti oleh industri pupuk. barang dari kulit dan alas kaki sebanyak 5 juta barrel. kimia dan barang dari karet sebanyak 14 juta barrel. yang kemungkinan besar disebabkan oleh semakin terbatasnya pasokan kayu bulat yang siap diolah.25 persen dengan tingkat utilisasi 94 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . maka perlu dilakukan penggantian jenis energi. Namun untuk industri yang berlokasi di kota besar dan berkelompok. maka pilihan input gas bumi sangat memungkinkan. 5. yang potensial untuk dialihkan ke jenis energi batubara atau gas bumi. barang dari kulit dan alas kaki memiliki jumlah 5. Untuk lebih meningkatkan efisiensi dan produktivitas. minuman dan tembakau terdiri dari 6. Industri ini banyak menggunakan batubara. Meskipun demikian.4. minuman dan tembakau. Kesulitan utama yang dihadapi jika memilih batubara adalah masalah angkutan batubara yang relatif mahal. Permasalahan Energi pada Sektor Industri Pada tahun 2010 industri makanan. Sumber energi yang dipakai saat ini didominasi oleh solar yang harganya relatif mahal.

33 persen dengan daya serap pekerja sebanyak 172 ribu orang dan tingkat pertumbuhan yang positif 1.616 buah. Tampaknya pilihan sumber energi ini didasarkan oleh lokasi pabrik yang terpencar.18 persen pada tahun 2010 serta jumlah unit usaha sebanyak 1. Industri ini masih memiliki potensi untuk mengalihkan sebagian input energinya menjadi gas dan batubara. Sehingga pilihan energi solar dan listrik dianggap sudah memadai. Industri logam dasar besi dan baja hanya memberikan sumbangan PDB sebesar 0. maka input energi adalah gas bumi menjadi alternatif yang paling mungkin. bergantung pada lokasi masing2 pabrik. Sumber energi industri ini adalah listrik dan solar yang keduanya berjumlah 64 persen. bukan untuk bahan baku. sekitar 20 persen dari batubara. Sumber utama energi industri ini adalah solar dan listrik dimana keduanya mencapai 92 persen dari total input energi.38 persen Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 95 . Untuk industri semen yang dekat dengan kawasan permukinan. Input energi batubara tampaknya sudah sesuai dengan karakteristik lokasi industri bahan galian bukan logam juga untuk industri semen yang terletak jauh dari pemukiman penduduk.71 persen dengan tingkat pertumbuhan 2. mendekati daerah sumber kayu di hutan. dan relatif jauh dari prasarana umum. Industri ini sangat dominan menggunakan batubara sebagai input energi yaitu sebesar 71 persen. sisanya listrik dan solar. Sebagian besar input energinya berasal dari solar dan listrik sebesar 69 persen.7 persen dengan jumlah pekerja sebanya 2.67 persen pada tahun 2010.63 persen. kimia. Industri pupuk. dan dari karet mengalami pertumbuhan cukup besar yaitu 4. Industri semen dan bahan galian bukan logam memberikan sumbangan PDB relatif kecil sebesar 0.7 juta pada tahun 2010.42 persen dengan tingkat pertumbuhan 2.sebesar 70. Data ini tampaknya hanya menyajikan kebutuhan energi untuk bahan bakar saja. Industri kertas dan barang cetakan memiliki tingkat utilisasi 80. Industri ini cukup potensi untuk dikembangkan karena kontribusi terhadap PDB sebesar 2.74 persen.

42 6.77 persen.20 4.60 16.50 6.9. Keempat industri itu adalah: a) makanan.57 persen.463.00 5.73 6. Kimia & Barang dari Karet Industri Semen & Barang Galian bukan Logam Industri Logam Dasar Besi & Baja Industri Alat Angkutan.744. Tampaknya sektor industri ini memerlukan peralihan input energi karena solar dan listrik termasuk dalam kategori input energi yang relatif “mahal”.602.pada tahun 2010 dan tingkat utilisasi 68. diolah INDEF (2012) 96 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Barang dari Kulit dan Alas Kaki Industri Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya Industri Kertas dan Barang Cetakan Industri Pupuk.257.72 persen dari total input energi industri.394. dan d) semen dan barang galian bukan logam sebesar 20. barang dari kulit dan alas kaki sebesar 17.34 17.97 4.9.573.34 persen. c) pupuk. kimia dan barang dari karet sebesar 19. terdapat 4 kelompok industri yang penggunaan input energinya berada diatas 17 persen dari total input energi industri. Keempat industri lainnya hanya menyerap 22. Persentase Kebutuhan Energi Pada Industri Manufaktur Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Industri Industri Makanan.60 1. Dari seluruh 9 sektor industri diatas. Minuman dan Tembakau Industri Tekstil. b) tekstil.517.456. minuman dan tembakau sebesar 18.7 persen dari total input energi industri. Bahkan gas dan batubara hanya dipakai sebesar 13 persen saja dari seluruh input energi industri ini.79 19.40 18. Dengan demikian.57 20.70 Persentase (%) 18.58 persen dari total input energi industri.296. lihat Tabel 5.09 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS. Hal yang menarik adalah input energi utamanya adalah solar dan listrik yang keduanya berjumlah 84 persen.38 persen. dimana input energi keempat industri tersebut menyerap 75.42 persen. Sementara industri barang kayu dan hasil hutan lainnya menggunakan input energi terkecil sebesar 1.30 19.70 4. keempat industri tersebut merupakan industri yang lahap atau padat energi.90 4. Mesin & Peralatannya Industri Barang lainnya Total (gWh) 17. Tabel 5.38 1.

yaitu hanya 5. Energi batubara relatif baru saja meningkat tingkat konsumsinya dan energi ini memiliki keterbatasan pemakaian yang disebabkan oleh masalah lingkungan.90 33.10. Menarik untuk dilihat adalah bahwa gas bumi masih sangat sedikit pemakaiannya dalam industri pengolahan.251. terlihat bahwa dominasi energi adalah solar sebesar 35.Dilihat dari jenis energi yang digunakan sektor industri pengolahan pada tahun 2009. Banyaknya solar yang dipakai pada industri pengolahan kemungkinan besar disebabkan oleh kemudahan mendapatkan solar dan kecocokan dengan spesifikasi mesin produksi.39 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS. Tabel 5. dan listrik sebesar 26. diolah INDEF (2012) Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 97 .39 persen.425.20 27.022. lihat Tabel 5.90 5. meskipun harganya paling mahal diantara jenis energi lain.75 persen dari total input energi industri pengolahan. diikuti oleh batubara sebesar 28.02 persen.75 26.95 35.720.90 3.02 28.90 persen.885. Hal yang sama juga berlaku untuk jenis energi listrik yang relatif mudah dan simpel dalam penggunaannya.90 24.10.80 5. Persentase Jenis Energi Pada Industri Manufaktur Tahun 2009 No 1 2 Satuan Energi Bensin Solar Batubara Gas Listrik GWH Persentase 3.

98 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .

yaitu: a) industri baja. artinya perhitungan mempertimbangkan karakteristik khusus yang seringkali hanya ada di sektor industri tersebut. b) industri tekstil.B AB V I KEBUTUHAN ENERGI PADA INDUSTRI TERPILIH Sektor industri hingga saat ini masih mendominasi konsumsi energi di Indonesia. b) skenario akselerasi. e) industri pengolahan kelapa sawit. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 99 . c) tren diversifikasi penggunaan sumber energi tertentu pada suatu industri. f) menyamai/ menyetarakan konsumsi per kapita dengan negara lain. b) rencana pembangunan pabrik baru. dan g) industri keramik. konsumsi) secara alamiah atau tren pertumbuhan industri. KESDM. baik yang digunakan sebagai bahan bakar ataupun yang digunakan sebagai bahan baku. produksi. Secara umum beberapa pertimbangan yang digunakan dalam peramalan kebutuhan energi di masa depan adalah: a) kemampuan tumbuh (kapasitas. c) industri pupuk.4 persen dari total konsumsi energi nasional (Ditjen EBTKE. 2012). porsinya mencapai 49. Di dalam sektor industri. Penghitungan kebutuhan energi pada masing-masing industri terpilih bersifat sangat spesifik. d) upaya melakukan efisiensi biaya. Kebutuhan energi pada 7 industri terpilih yang padat energi dalam kajian ini dihitung dengan menggunakan 3 skenario. d) industri pulp dan kertas. yaitu: a) skenario Business as Usual (BAU). e) mengejar target swasembada suatu produk. dan c) skenario akselerasi yang disertai dengan efisiensi. terdapat 7 industri yang dinilai paling padat menggunakan energi. f) industri semen.

911 101.912 21. Industri Baja 6.733 110.129 484. Biaya konsumsi energi juga cukup besar jika dibandingkan dengan komponen biaya produksi lainnya.1.1.920 98.177 227.370 7. Segmentasi biaya penggunaan energi listrik pada industri baja bahkan bisa mencapai 60 persen dari total penggunaan energi. Sementara jika akselerasi yang terjadi juga diikuti dengan efisiensi penggunaan energi.1.87 2013 93. Dalam nilai uang. sisanya berupa gas alam 38 persen dan BBM hanya 2 persen (PT.094 7.048 122. Biaya energi di PT.27 2015 104. Komposisi Penggunaan Energi Industri baja merupakan salah satu jenis industri yang mengkonsumsi energi cukup besar.121 2. Business as Usual 2. listrik dan bahan bakar lebih tinggi dari biaya 100 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . yaitu rata-rata biaya energi di PT. 2012). diolah INDEF (2012) 6. kebutuhan energi pada 7 industri terpilih dihitung dengan skenario BaU sebesar 185.152 136.1.42 2020 138. serta energi sekunder berupa listrik. KS mencapai 16. Akselerasi + Efisiensi gWh Penghematan *) Rp Triliun Keterangan:*) penghematan = akselerasi – akselerasi dan efisiensi Sumber: Asosiasi 7 Industri Terpilih. Agregasi Kebutuhan Energi 7 Sektor Industri Terpilih Skenario 1.267 95.Secara umum. terutama yang berasal dari energi primer berupa gas dan batubara.71 2025 185.686 109. KS yang terdiri dari biaya gas alam.133 423. maka tingkat kebutuhan energinya turun menjadi 423.02 3.1 ribu gWh pada 2025.075 6.4 ribu gWh pada 2025. KS. maka kebutuhan energinya menjadi sebesar 484.522 123.1 ribu gWh pada 2025.87 2014 98.435 37.8 persen terhadap total biaya produksi (Laporan Prospektus PT. Akselerasi Satuan gWh gWh 2012 88.066 264. Namun jika mampu dilakukan akselerasi pada masing-masing industri. penghematan dari efisiensi penggunaan energi tersebut mencapai Rp37 triliun pada 2025. Tabel 6. 2010). Krakatau Steel.

biaya perawatan.3 14. sewa.0 Keterangan: Sumber: Prospektus PT KS. 2009).8 9. gas alam 7 persen.0 55.3. yang rata-rata mencapai 12. Ilustrasi ini menggambarkan betapa industri baja sangat memerlukan dukungan penyediaan energi yang sangat besar.8 17.1 100.8 100. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 101 .0 CRC (persen) WR (persen) Bahan baku yang digunakan Energi Konversi Overhead langsung Lain-lain Biaya Produksi 49. BBM (berupa solar) sekitar 25 persen.2. energi sekunder berupa listrik mendominasi penggunaan energi pada industri baja.4 11.2 6. Komponen Biaya Produksi PT.2 9. serta batubara 3 persen (BPS. 2 November 2010 Jika dipilah antara besarnya energi yang digunakan untuk proses produksi baja dengan biaya yang digunakan untuk menunjang aktivitas di gedung perusahaan perbandingannya sekitar 9:1. Dari sisi proporsi penggunaan sumber energi. 2012). artinya 90 persen kebutuhan listrik di industri baja adalah untuk produksi.5 3.9 2. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2009 proporsi penggunaan energi listrik pada industri besar dan sedang mencapai 65 persen.8 12.0 17. premi asuransi. Tabel 6.2. dan seterusnya. yang memang sesuai dengan karakteristik industri baja.9 persen.8 8. hanya 10 persen yang digunakan untuk penunjang aktivitas perkantoran (PT. Krakatau Steel tahun 2010 Komponen Biaya Produksi HRC (persen) 64.2 17. lihat Tabel 6. lihat Tabel 6.overhead langsung seperti biaya tenaga kerja.2 100. KS.

28113 6.850. yang saat ini mencapai 52 persen terhadap konsumsi baja nasional.631.3 persen per tahun dan tingkat utilisasi rata-rata hanya 60 persen atau sekitar 3.3.086.424. dan dalam periode yang sama konsumsi baja nasional tumbuh sebesar 9 persen per tahun (Worldsteel Association.382.457 2.645 Persen 25% 3% 7% 65% 100% BBM (Solar) Batubara Gas Alam Listrik TOTAL Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS.2.328 2. Mengingat ketersediaan energi merupakan salah satu faktor penentu bagi keberlangsungan sektor industri. 102 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .1. Salah satu faktor penghambat pertumbuhan produksi baja dalam negeri adalah kurang tersedianya energi yang relatif lebih efisien.158 257. 27103. maka penting diperkirakan kebutuhan energi pada industri baja ke depan agar laju peningkatan produksi baja dapat diiringi dengan pasokan energi yang mencukupi.361 4.361 Satuan Liter kg m3 kWh kWh 1.027.631.545.695.6 juta ton per tahun. 27102. 2012). Sementara rata-rata pertumbuhan produksi baja nasional dalam sepuluh tahun terakhir (2002-2011) sebesar 7. Laju pertumbuhan produksi baja yang lebih rendah dibanding peningkatan permintaan baja mengakibatkan perlunya impor untuk mencukupi konsumsi baja di dalam negeri.944 24.7 persen per tahun. diolah INDEF (2012) *) KBLI 27101. Proporsi Konsumsi Energi Industri Baja* Tahun 2009 Jenis Sumber Energi Volume 95.864.668 121.024.017.047 20. 27310.Tabel 6.424. Kebutuhan Energi Industri Baja Kapasitas terpasang industri baja nasional sebesar 6 juta ton per tahun dengan rata-rata pertumbuhan 5.

393 167 390 3.172 1. BBM b.570 1. yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 6.Tabel 6.680 1. c) Akselerasi disertai Efisiensi: (i) intensitas energi 600 kWh per Ton.018 242 565 5. b) Akselerasi: (i) pembangunan pabrik baja tahun 2012-2015 beroperasi sesuai target. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Baja (gWh) Skenario 1.119 1. Akselerasi + Efisiensi a. Listrik 2012 4.105 19. (iii) komposisi sumber energi sama seperti pada tahun 2009.595 1.256 285 457 3.309 1.170 140 328 3.602 29.. Batubara c. BBM b.078 3.201 144 336 3. (iv) intensitas energi 900 kWh per Ton.028 2014 5.566 5. Akselerasi a.071 2.5% per tahun.7 persen per tahun.246 16.4. Gas Alam d.293 155 362 3.120 780 94 218 2. Batubara c.120 733 125 234 2.737 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang diolah INDEF (2012) Berikut ini disampaikan asumsi yang mendasari 3 skenario.348 882 2. (iv) proporsi penggunaan gas alam naik 0.4. Gas Alam d.924 351 819 7.115 134 312 2.170 140 328 3. yaitu: a) Business as Usual (BaU): (i) pertumbuhan produksi baja 7.042 3. Batubara c. Business as Usual a.459 1.680 1.141 257 599 5.293 379 536 4.366 284 662 6. Gas Alam d. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 103 .362 8.709 1. Listrik 2.802 1. (ii) pertumbuhan produksi baja 12 persen per tahun.121 4.678 4.5% per tahun. BBM b.898 4. (iii) proporsi penggunaan Batubara naik 1% per tahun.227 2025 11.042 3.464 2.167 10.135 2.223 7. (ii) proporsi penggunaan BBM turun 1.101 2020 8.445 1.057 19.645 12. Listrik 3.028 2013 4.223 1. (iii) pertumbuhan konsumsi baja 9 persen per tahun. (ii) intensitas energi 900 kWh per Ton.564 2.392 7.696 2.711 2015 5.151 6.169 500 1.621 9.841 11.

821 1. serta listrik 7. Tabel 6.526 21.898 4. Gas Alam d.663 Ton.392 686.615.174.459 104.830. yaitu pada tahun 2025.028 3.261.155 Ton.388.542.412.686 84.552 1.566 2015 5.173 1.5.824 3.041 798.157 5.197.256 4.289 1.105 gWh Kilo liter Ton MMBTU gWh 3. batubara 59.118 47. BBM b. BBM b. kebutuhan energi untuk industri baja dapat dilihat pada Tabel 6.126 1. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Baja Skenario 1.350 23. skenario business as usual menghasilkan perhitungan kebutuhan energi sebesar 11.238 2.118.386 48.172 120.678 389.101 11.089 43.120 72.709 117.479 19. Akselerasi a.208 3. gas alam 13. diolah INDEF (2012) 104 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .621 9.729 MMBTU.335 10.564 200.900 3.338.089 3. Batubara c. Pada skenari business as usual.270 59. BaU a.5. dan skenario akselerasi disertai efisiensi menghasilkan perhitungan kebutuhan energi sebesar 19.147 28.042 2014 5.542.114 3.843 26.729 7.350 23. skenario akselerasi menghasilkan perhitungan kebutuhan energi sebesar 29.711 6.151 2020 8.355 6.028 5.588 40.313 2. Pada skenario akselerasi maka kebutuhan energi pada industri baja hingga 2025 berupa BBM sebesar 686. Listrik 3.119 135.745.635 2.595 100.759 148.065. kebutuhan energi pada 2025 berupa BBM sebesar 273.168 5.309 120.392 gWh. Batubara c.841 2025 11. Gas Alam d.602 gWh. gas alam 5.362 8.802 112.602 29.(v) proporsi penggunaan listrik tetap sebesar 65% per tahun.671 1.181 22.771 3.028. BBM b.595 gWh.680 109.155 5.246 16.696 273.159 1.388.663 13.030.105 gWh. Listrik 2.071 188.203 24.202 4.384 6. batubara 148. Akselerasi + Efisiensi Satuan gWh Kilo liter Ton MMBTU gWh gWh Kilo liter Ton MMBTU gWh 2012 4.120 68. Listrik Sumber: Berbagai Sumber.121 4.671 1.866 2.570 130.952 3.319 12.696 gWh (gigawatt hour).224 7.781 745.900 15.479 MMBTU.091 206.737 a. Dalam satuan asli.759 Kilo liter.580 9.725 528. Gas Alam d. Batubara c.464 221. Dalam kajian ini perkiraan kebutuhan energi pada industri baja dibuat dalam 3 skenario.680 109.229.878 63.558.270 Kilo liter.042 2013 4.392 2.227 19. serta listrik 19.

5 persen per tahun. dari penggunaan BBM yang masih cukup besar porsinya ke batubara dan gas alam. Maksud dari pada pembandingan proyeksi 2025 dengan eksisting 2009 ini agar terlihat berapa kekurangan penyediaan energi pada tahun 2025. sehingga akan terlihat berapa besar upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi tahun 2025. Jika intensitas energi industri baja dapat setara dengan India. Selain itu juga memberikan gambaran kepada dunia usaha khususnya kalangan industri terpilih yang padat energi. batubara 528. Perhitungan dengan skenario akselerasi Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 105 . maka akan terjadi efisiensi energi yang cukup besar. prospek penyediaan energi ke depan pada tahun 2025 tersebut.184 Kilo liter.725 Kilo liter.609 Ton. Upaya meningkatkan efisiensi ini akan lebih terlihat apabila intensitas energi untuk menghasilkan per Ton baja dapat diturunkan.5. serta proporsi listrik tetap yaitu sebesar 65 persen per tahun. gas alam 9. atau menyamai intensitas energi industri baja di India. Skenario akselerasi disertai efisiensi ini akan menghasilkan perhitungan kebutuhan energi pada industri baja hingga 2025 berupa BBM sebesar 100.Hasil perhitungan juga menunjukkan bahwa penggunaan berbagai sumber energi akan dapat diefisienkan secara signifikan jika dilakukan alih sumber energi (diversifikasi). serta proporsi BBM dalam komposisi penggunaan sumber energi pada industri baja dapat berkurang 1.319 MMBTU. gas alam naik 0. gas alam kurang 4. Jika dibandingkan dengan konsumsi energi industri baja pada 2009.580 Ton. batubara masih kurang 38. sementara proporsi batubara naik 1 persen per tahun.028. lihat Tabel 6.737 gWh. maka pada 2025 kebutuhan BBM masih kurang 178.5 persen per tahun. dari saat ini sebesar 900 kWh per Ton baja menjadi 600 kWh per Ton baja. Analisis selanjutnya adalah membandingkan antara proyeksi kebutuhan energi pada tahun 2025 dalam satuan asli masingmasing energi dengan ketersediaan energi yang sama pada tahun 2009.511.971 gWh. serta listrik 12.512 MMBTU. serta penyediaan energi listrik masih kurang 4.

043 2025 7.384.102 10.767 1.613 35. Gas Alam d.825 -603 17.735 411 -908 -26.460. maka dapat menghemat biaya energi sebesar Rp6.897 490 652 14. jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan maka perkiraan kekurangan energi akan berkurang secara signifikan.765 131.6.278 2. BaU Satuan gWh 2012 431 2013 774 2014 1. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Baja Skenario 1.117 3. Apabila skenario akselerasi disertai efisiensi yaitu berupa diversifikasi energi dan penurunan intensitas energi dapat dilakukan.542 2020 4.609 4.681 22.673 128.580 681.006 188.971 25.184 38.470 93.039 1.095 2.436 126.320 1.117 12. Gas Alam d.940 2.264 3.125 240.935 1.511.615 12. Listrik 2.567 5. Secara ekonomi jika proporsi penggunaan energi BBM dapat dikurangi.118 8. Akselerasi + Efisiensi a. Batubara c.639 508.297.080 Sumber: IISIA diolah INDEF (2012) Keterangan: Angka ‘minus’ berarti ketersediaan sumber energi lebih dari tercukupi jika dibandingkan dengan konsumsi energi industri baja tahun 2009. Listrik 3. Hal yang sama juga dapat terjadi jika intensitas energi untuk menghasilkan per satuan baja dapat ditekan.596 178.792 43.menghasilkan proyeksi kekurangan energi yang lebih besar lagi untuk masing-masing jenis sumber energi. Batubara c. Listrik Kilo liter Ton MMBTU GWh GWh Kilo liter Ton MMBTU GWh GWh Kilo liter Ton MMBTU gWh 9. BBM b. BBM b.034 8. Batubara c.007 4.275 953.106 351.512 4.872 411 -908 -22.560 495 -78.536 105.032 27.627 738.668 a. maka biaya energi juga dapat diturunkan.554 1.683 990 5.582 -603 731 4. Namun.7.264 3.868. lihat Tabel 6.520 2.186 -4. maka biaya energi pada industri baja akan menurun.810 5. BBM b.757 5. digantikan dengan penggunaan batubara dan gas alam.005 185.003 22.152.650 294.281 25. Tabel 6.300 27.474 15.167 3.151.4 triliun pada 2025.665. Gas Alam d.210 7.600 63.091 40. 106 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .743 25.144 2015 1.656 3.061 7.021 267 652 14.125 320. Akselerasi a.262 16.951 2.502 20.991 534.364 591.

1. listrik merupakan kebutuhan energi utama pada industri tekstil.2 471.4% 2.817.2. Struktur Biaya Produksi Industri TPT Komponen Biaya Raw Material Energy Labor Depreciation Interest Administrasi & Marketing Sumber: API (2012) Serat 55.7.Tabel 6. minyak.6% 6.4% 13.2% Jika dipilah berdasarkan sumber energinya. dan batubara menempati peringkat kedua setelah biaya bahan baku.7% 1.4 85.3 2.138.3 296.3 149. lihat Gambar 6.3% 6.6 2012 134.1 157.2. gas.0% 3.5 673. lihat Tabel 6.3% 2.8 2020 502.1.0% 25.9 2013 135.8.8 238.5% 6.7 2014 249. Industri Tekstil 6.8 946.9% 6.6 1.3 Sumber: IISIA diolah INDEF (2012) 6.3% 27. Penghematan Biaya Energi pada Industri Baja Skenario Akselerasi Akselerasi + Efisiensi Satuan US$ juta US$ juta US$ juta Penghematan Rp miliar 426. sedangkan sisanya sebesar 30 persen menggunakan pembangkit sendiri yang membutuhkan minyak.1% Benang 58.396.6 89.1% 1.4% 10.6 99. dimana sebesar 70 persen mengandalkan suplai PLN. Tabel 6.8. biaya energi yaitu listrik.0% 4.0% Kain 56.8 49.8 6.3 119.1% 5.5% 14.6 2025 911.4% 5.9 206. dan gas.6 2015 277.1% 6.4% Garment 57. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 107 . Komposisi Penggunaan Energi Industri Tekstil Dalam struktur biaya produksi di industri Tekstil dan Produk Tekstil/TPT nasional. batubara.4% 7.1% 18.7 44.

Sumber: API (2012) Gambar 6. Dalam industri tekstil. Komposisi Sumber Energi Industri Tekstil (persen) 6. 108 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .59 gigajoule per Ton (2. ESDM pada 2011.2.611 kWh per Ton).2 gigajoule per Ton (889 kWh per Ton) dan penenunan butuh energi 31 gigajoule per ton (8. Kebutuhan Energi Industri Tekstil Besarnya kebutuhan energi listrik di industri tekstil membuat kinerja produksi industri ini sangat ditentukan oleh ketersediaan energi sebagai penopangnya.167 kWh per Ton).2. di mana pemintalan di India butuh energi 3. kegiatan pemintalan memerlukan energi sebesar 9. Menurut Ditjen EBTKE. sehingga bila ada gangguan terhadap pasokan energi listrik akan mempengaruhi kegiatan produksi dan dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan biaya produksi yang cukup tinggi dan akhirnya akan mempengaruhi daya saing produk. kegiatan pemintalan (spinning) dan penenunan (weaving) hampir mencapai 70 persen dari seluruh kegiatan proses produksi. sementara penenunan sebesar 33 gigajoule per Ton (9. Penggunaan energi pada proses produksi tekstil cukup beragam.664 kWh per Ton). Terlebih lagi industri tekstil beroperasi 24 jam. Nilai intensitas energi yang digunakan tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan industri tekstil di India.1. tergantung dari jenis produk yang dibuat.

41 juta orang.417 gWh pada 2025. yang kemungkinan disebabkan oleh umur mesin yang cukup tua.04 juta ton. Skenario Business as Usual menghasilkan kebutuhan energi sebesar 50.Nilai intensitas energi di atas menunjukkan bahwa penggunaan energi untuk industri tekstil di Indonesia relatif lebih boros dibandingkan dengan India. 2011). yarn 2.50 juta ton. Hal ini mengingat proporsi impor kain di Indonesia masih sekitar 39 persen. lihat Tabel 6. yang menghasilkan kedua produk tersebut cukup beralasan. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 109 . Produksi yarn dan fabrics mencapai 69. fabrics 1. Pada tahun 2010. dan percepatan perubahan trend fashion (Kementerian Perindustrian.23 juta ton. mesin carding yang 15 tahun lalu biaya energinya hanya mencapai 7 persen.880 perusahaan. Karena itu. 2011). Industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1. Jika dirinci. maka pada 2025 dibutuhkan energi 252. namun saat ini memakan biaya listrik sebesar 15-20 persen (Kementerian Perindustrian. kapasitas produksi industri tekstil sekitar 7 juta ton dengan volume produksi sekitar 6 juta ton serta utilisasi sebesar 86 persen.48 juta ton. Kondisi ini selain menurunkan produktivitas juga boros energi.12 juta ton. bersamaan dengan tingkat pertumbuhan penduduk 2. Melihat besarnya tingkat penyerapan tenaga kerja tersebut maka sangat penting untuk menjaga agar suplai energi pada industri ini terus tercukupi.955 gWh.3 persen per tahun. garment 0.9. Jika dilakukan akselerasi dengan target mencukupi seluruh kebutuhan konsumsi kain atau tekstil dalam negeri. produksi fiber sebesar 1. penggunaan basis intensitas energi untuk kegiatan pemintalan dan penenunan.4 persen produk tekstil Indonesia. serta sisanya produk-produk lain sebesar 0. Jumlah industri tekstil (TPT) di Indonesia secara keseluruhan sekitar 2. serta pertumbuhan konsumsi kain sebesar 17 persen per tahun. Terkait dengan hal ini maka dibuat berbagai skenario kebutuhan energi industri tekstil untuk membantu memperkirakan kebutuhan energi ke depan. Sebagai gambaran.

Kebutuhan Energi Industri Tekstil (gWh) Skenario 1.600 gWh. BBM b.673 18.042 35.295 177.213 2. 110 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . BBM b. Listrik 3.803 26.193 64.277 1. BaU a. Akselerasi a.358 2015 25.469 5. Hasil evaluasi Kementerian Perindustrian periode 2007-2009 menunjukkan setelah program restrukturisasi permesinan. Batubara c.249 2020 35.027 3.820 2.592 1.354 3. Skenario ini menggunakan asumsi akselerasi untuk mencukupi kebutuhan konsumsi kain domestik juga disertai restrukturisasi permesinan.463 6.434 3.188 22.619 1.128 2025 50.726 31.408 26. atau secara rata-rata efisiensi meningkat sebesar 12 persen. Akselerasi Disertai Efisiensi a.202 15.234 4. BBM b.10.695 1.037 21.292 252. Batubara c.349 5. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kebutuhan energi di industri tekstil pada 2025 sebesar 222.932 222.820 22.464 1.260 155.161 6.708 1.027 91.648 37.670 10.447 73. Gas Alam d. dengan tingkat efisiensi energi sebesar 12 persen per tahun.694 43. Listrik 2.303 2. Gas Alam d.112 2.273 3.879 38.359 16.315 1.600 2012 20.386 25.260 2014 23.055 14.413 30. Batubara c.551 1. Gas Alam d.120 3.811 5.546 17.180 3.019 1.226 1.482 4. efisiensi pengggunaan energi meningkat antara 6-18 persen.143 3.028 3. lihat Tabel 6.371 1.569 24.521 7.241 15.556 3. Listrik 1.083 2.9.986 104.068 Sumber: API diolah INDEF (2012) Salah satu isu utama dalam industri tekstil adalah cukup tuanya mesin-mesin produksi yang digunakan sehingga penggunaan energinya relatif boros.321 30.101 3.528 17. Oleh karena itu pada skenario akselerasi disertai efisiensi diasumsikan program restrukturisasi permesinan berhasil dilakukan.825 2013 22.943 25.417 2.562 5.Tabel 6.539 2.223 15.520 22.514 36.768 16.361 2.519 4.792 2.785 5.619 9.264 3.623 25.686 1.353 (0) 44.955 12.

825 21.511 Kilo liter.120 166.708 22.233 0 566.417 118. Gas Alam d. BaU a. Listrik 2. Batubara c.292 43.695 50.664 2. serta energi listrik kurang 30.801.936 488. dan gas alam digunakan oleh industri tekstil untuk menghasilkan listrik.733 7. Kedua skenario lain menghasilkan perhitungan yang lebih tinggi.207.397. BBM b.910 Kilo liter. Gas Alam d.323 MMBTU.879 38.214. Listrik 3.925 169.10.829 Ton.686 693.076 643. BBM b. maka kebutuhan BBM berupa solar untuk menghasilkan listrik pada 2025 sebesar 235. dan listrik 5.408 26.213 104.128 177.182.654. Listrik Satuan gWh Kilo liter Ton MMBTU GWh GWh Kilo liter Ton MMBTU GWh GWh Kilo liter Ton MMBTU gWh 2012 20.091 14.048 17.978.601 639.953 9. Akselerasi + Efisiensi a.051.11.277 35.647.748.972.694 24.386 25. Data konsumsi energi industri tekstil pada 2009 menunjukkan bahwa penggunaan BBM sebesar 314.464 2013 22.186 Ton.726 31.121. maka akan diperoleh perhitungan nilai kekurangan energi. Pada skenario BaU kebutuhan BBM pada 2025 sudah tercukupi.365.725 MMBTU.438 17. lihat Tabel 6.315 26.932 222.249 73.363.014. Batubara c.803 86.324 35.601 Kilo liter.038 519.376. Batubara c.227 75.035.Tabel 6.900 12.828 2.955 118.714 115. BBM b. Jika proyeksi kebutuhan berbagai sumber energi hingga 2025 dikurangkan dengan konsumsi energi industri tekstil pada 2009.10. diolah INDEF (2012) Berbagai sumber energi seperti BBM. lihat Tabel 6. Jika dihitung dengan skenario BaU.207.820 Sumber:API. Hal ini dikarenakan pada skenario akselerasi disertai efisiensi Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 111 .998 15. batubara kurang 153.803 235.015 Ton.794 18. gas alam 992.027 91.619 64.437 12.850 7.260 25.551 96.068 22.600 104. Hal ini dilakukan mengingat pasokan listrik dari PLN untuk industri tekstil baru mencukupi 70 persen kebutuhan.690. 2009).965 6. Kebutuhan Energi Industri Tekstil (satuan unit) Skenario 1.964 768.240 902. serta gas alam 17.695 165.332.286 126.585 10.124 gWh.226 847.019 102.721 17.514 36.121 12. bahkan surplus 78.275. batubara.986 35.896 556.622 8.592 110.688 7. Gas Alam d.245 596. kecuali untuk penggunaan BBM.226 2015 2020 2025 25.744 16.371 2014 23.092.505.121.275.654 10.182.358 30.699 1.119 8.413 30.189 1. Kebutuhan berbagai jenis sumber energi tersebut akan lebih tinggi lagi jika perhitungan menggunakan skenario akselerasi dan skenario akselerasi disertai efisiensi.514.880.774 14.993 141. gas alam kurang 16.626.168 gWh (BPS.525 31. Akselerasi a.015 8.063 916.641. batubara 1.838 7.543 1.469 252.286 201.136 1.048 MMBTU.775 15. batubara 1.053 136.353 155.

130 11.615 -564.190 16.165 11. Gas Alam d.059.480 67. Batubara c.008 30. proporsi penggunaan batubara yang saat ini masih sekitar 15 persen ditingkatkan proporsinya sebesar 0. Batubara c. Sisanya berupa proporsi gas alam tetap 10 persen dan listrik PLN tetap sebesar 70 persen.225 -205. 112 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .680.986 -195.147 2015 9.diasumsikan terjadi alih sumber energi dari BBM ke batubara secara bertahap.893 -172. sehingga pada 2025 pembangkit listrik milik pabrik tekstil tidak lagi menggunakan BBM yang harganya relatif mahal. Listrik Satuan gWh Kilo liter Ton MMBTU GWh GWh Kilo liter Ton MMBTU GWh GWh Kilo liter Ton MMBTU gWh 2012 5.708 -219.373.930 -209. Akselerasi + Efisiensi a. serta adanya diversifikasi energi untuk pembangkit listrik dari BBM ke batubara.693 11.986.266 -525.002 13.652 Sumber: API.589 7.603 8.540 2014 8. diolah INDEF (2012) Hasil perhitungan penghematan biaya yang bisa diperoleh jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan pada industri tekstil adalah Rp12.477 867.214.114 -204.748 -145.698. BBM b.141 6.218 9.799 -196.190. BBM b.980 6. Listrik 3.797 -555.390 -482.798 17. lihat Tabel 6.261 13.398 171.725 30. Batubara c. Sumber energi berupa BBM untuk menghasilkan listrik yang saat ini proporsinya masih sekitar 5 persen dikurangi proporsinya sebesar 0.122 -314.522.767 9.656 6.340.202 21. Akselerasi a.346 20.11. Proyeksi Kekurangan Kebutuhan Energi Industri Tekstil (satuan unit) Skenario 1.454 -149.577 12.960 76. sementara proporsi gas alam dan listrik diasumsikan tetap hingga 2025.383.096 6.451 2020 20.520.735 -112. Listrik 2.091 11. Gas Alam d. sehingga pada 2025 komposisi batubara dalam bauran energi industri tekstil menjadi 20 persen.136 34.634.278 1.991 173.186 16.021. Gas Alam d.549 -177.675 10.756.11.980.001 25. BaU a.401 -188.217 -147.471 150.371.245 14.818 88. Sebagai gantinya.12.8 triliun pada 2025.662.208 7.473 -602.451 20.248 -199.655.452 10.073 -218. Perhematan tersebut bersumber dari program restrukturisasi permesinan yang akan menghemat pemakaian energi dan peningkatan produktivitas.511 6.129.185 2025 34.114 19.678 1.575 -29.768 9.286 9.887.565 5. lihat Tabel 6.541 -211.275.290 85.331 12.865 7.114 16. BBM b.421 11.904 59.4 persen per tahun dalam komposisi energi.081 22.939 -78.458 -274.816 -86.526 27.124 237.900 207.224 -428.518 -477.517 2013 6.586 -353.910 153.124 74. Tabel 6.4 persen per tahun.384.

497 1.546 3.729 2025 2.3. diolah INDEF (2012) Aasumsi Harga: BBBM = 1.348. 2009).349 896 2020 1.885 231.546 266.187 448 2014 373. Namun dari sisi komposisi besarnya biaya energi.1.304 67. Komposisi Biaya Energi pada Industri Pengolahan Kelapa Sawit (persen) Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 113 . harga 65 US$/Ton GGas Alam = 10.689 643 2015 446.125 351. Beberapa jenis energi terbarukan yang sering digunakan antara lain cangkang. serabut. biaya energi solar masih merupakan yang terbesar dalam industri pengolahan kelapa sawit (BPS. dimana perkiraan kasar nilainya mencapai 75-80 persen. Penghematan dari Diversifikasi dan Efisiensi Energi Skenario Akselerasi Akselerasi + Efisiensi Satuan 000 US$ 000 US$ 000 US$ 2012 262. Industri Pengolahan Kelapa Sawit 6.983 392.775 94.262.113 US$/Kilo liter BBatubara = kalori 5.078.809 1.529 685.12. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit Hasil wawancara dengan pelaku industri pengolahan kelapa sawit menyatakan bahwa industri ini sebenarnya sudah menggunakan energi terbarukan dalam proses produksi dalam jumlah yang relatif besar.546 300 2013 313.Tabel 6.688 12.3.611.339 31.994 306.359 47.2. dan sekam. Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang.2 US$/MMBTU (harga yang akan berlaku mulai April 2013) 6.100 kkal/kg. BPS (2012) Keterangan: data konsumsi energi industri minyak goreng dari minyak kelapa sawit (KBLI 15144) Gambar 6.813 Penghematan Rp miliar Sumber: API.

6. Secara umum kebutuhan energi utama pada proses pengolahan kelapa sawit adalah energi listrik. maka upaya hilirisasi kelapa sawit perlu didukung dengan ketersediaan energi. sumber energi terbesar pada industri CPO ialah solar sebesar 35 persen dari total konsumsi energi. Skenario Business as Usual menghasilkan perhitungan kebutuhan energi industri CPO pada 2025 sebesar 594 gWh (gigawatt hour). Dalam kajian ini. di mana semakin besar kapasitas produksi dan jenis produk olahan. 2012]. Sementara pada Skenario Akselerasi disertai Efisiensi maka kebutuhan energi industri CPO pada 2025 sebesar 786 gWh.3. Kebutuhan energi di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dipenuhi secara mandiri dengan menggunakan Boiler sebagai penghasil uap sekaligus sebagai penggerak turbin untuk membangkitkan energi listrik. Pada saat ini Indonesia baru memproduksi sekitar 40 jenis produk hilir kelapa sawit. sementara Malaysia sudah memproduksi lebih dari 100 Jenis (Kementerian Perindustrian. listrik 114 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Berdasarkan data BPS. Pada Skenario Akselerasi kebutuhan energi pada 2025 sebesar 832 gWh. melihat banyaknya produk turunan yang masih harus dikembangkan oleh Indonesia. Sementara itu. Sejauh ini produk hilir CPO di Indonesia belum banyak berkembang dibandingkan Malaysia.13. untuk memenuhi kebutuhan energi pada industri CPO hingga 2025 diperlukan ketersediaan berbagai sumber energi. 2011). Oleh karena itu. Kebutuhan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit Upaya hilirisasi produksi kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) Indonesia memerlukan dukungan ketersediaan energi yang memadai. lihat Tabel 6. relatif semakin tinggi pula tambahan energi yang diperlukan dalam proses produksi. Parameter umum konsumsi energi listrik (power consumption) di pabrik pengolahan kelapa sawit yakni sebesar 1719 kWh/ton TBS (Tandan Buah Segar) [Rahardjo. kebutuhan energi industri pengolahan kelapa sawit dibuat dalam 3 skenario.2.

Meningkatkan produktivitas sebesar 1.32 8 141 168.90 158 786 25.83 7 124 541 17.40 112. batubara sebesar 8 persen.10 91 535 17.35 7.30 129 559 18. Penghematan tersebut cukup besar mengingat dalam skenario efisiensi.84 101.22 5.70 136 142. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pengolahan Kelapa Sawit Skenario BaU (gWh) Solar (juta liter) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Batubara (ribu ton) Gas (ribu mmbtu) Akselerasi (gWh) Solar (juta liter) 2012 382 12.23 8.16 117.4 kali Akselerasi Disertai Efisiensi 1.12 125. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 115 . bahan bakar lain seperti cangkang dan serabut (biomassa) sebesar 21 persen.08 124. Intensitas energi berdasarkan world best practice sebesar 17 kWh per ton TBS Secara ekonomi jika skenario akselerasi disertai efisiensi dilakukan maka akan ada penghematan sebesar Rp 33.30 94 553 18.70 101 592 19.50 97 572 18.30 134.21 6.72 116.68 174.80 120 523 17.40 132 137.12 7.89 5.5 persen per tahun 2.39 7. dan gas sebesar 7 persen.72 2015 423 13.20 106.52 88. lihat Tabel 6.44 142.50 91. Tabel 6.72 11.38 2020 501 16.61 7.16 85.98 2025 594 19.50 167 199.05 6.20 127 132.28 120.40 120.sebesar 24 persen.53 121.14.65 187 Sumber: Ditjen Perkebunan Kementan.13 7.70 119 702 22.39 98.58 miliar pada 2025.10 2014 409 13.13.06 10.74 8 141 832 27.84 113. diolah INDEF (2012) Asumsi: Business as Usual 1.28 198 Akselerasi + Efisiensi (gWh) Solar (juta liter) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Batubara (ribu ton) Gas (ribu mmbtu) 505 16.56 124.52 109. intensitas energi yang digunakan sebesar 17 kWh per ton TBS atau hanya selisih 1 kWh per ton TBS dibandingkan pada skenario akselerasi. Pertumbuhan produksi TBS 3.64 165.93 94.95 5.68 80.42 9. Intensitas energi 18 kWh per ton TBS Akselerasi 1.71 129.12 139.24 105.48 147.50 133 663 21.80 82.51 2013 395 12.73 188.24 Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Batubara (ribu ton) Gas (ribu mmbtu) 128.70 159.83 5.

Realisasi Konsumsi Energi Industri Pulp dan Kertas Kapasitas terpasang industri pulp dan kertas nasional sebesar 7.9 juta ton per tahun untuk kertas.9 381.4.56 2015 432.9 juta ton per tahun untuk pulp dan 12.14.79 21.09 483.78 33. Di sisi lain. Dalam sepuluh tahun terakhir periode 20012010.4. dengan utilisasi rata-rata hanya 79 persen untuk pulp dan 81 persen untuk kertas.07 24.1.99 28.93 22.Tabel 6.5 persen untuk kertas.58 Sumber: Ditjen Perkebunan Kementan. Sementara rata-rata pertumbuhan produksi nasional untuk pulp sebesar 3. Industri Pulp dan Kertas 6. Agar produk pulp dan kertas dalam negeri tidak kalah bersaing dengan produk impor maka sudah semestinya industri pulp dan kertas nasional meningkatkan efisiensi produksi khususnya dalam pemanfaatan teknologi dan sumber energi yang lebih efisien.9 394. Penghematan Energi pada Industri Pengolahan Kelapa Sawit (Rp miliar) Skenario Akselerasi Akselerasi Disertai Efisiensi Penghematan 2012 390. Meskipun kebutuhan konsumsi pulp dan kertas nasional telah terpenuhi seluruhnya oleh produksi di dalam negeri.63 408.55 2013 403.65 21.36 368. 116 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .8 persen per tahun untuk kertas.46 2025 607. tetap saja terdapat impor pulp dan kertas yang rata-rata pertumbuhannya selama sepuluh tahun terakhir ini cukup signifikan yakni 11 persen per tahun untuk pulp dan 12 persen per tahun untuk kertas.69 2014 417.16 2020 512.47 573.5 persen per tahun dan 5. rata-rata pertumbuhan kapasitas terpasang sebesar 4 persen per tahun untuk pulp dan 3 persen per tahun untuk kertas. dalam periode yang sama konsumsi pulp dan kertas nasional tumbuh sebesar 4 persen per tahun untuk pulp dan 5. diolah INDEF (2012) Asumsi Harga: Listrik untuk Industri = Rp730 /kWh 6.

kertas.3 persen untuk kertas. maka total energi yang dibutuhkan oleh Industri Pulp dan Kertas dapat dilihat seperti Gambar 6.5 persen untuk pulp dan 7. 2009).5 juta ton. Agar peningkatan konsumsi dalam negeri dan ekspor dapat terpenuhi. Kapasitas produksi pulp dan kertas harus dioptimalkan dari kondisi saat ini dimana tingkat utilisasinya baru sekitar 80 persen per tahun. diasumsikan bahwa untuk menghasilkan 1 ton pulp dibutuhkan energi sebesar 4. 1 ton kertas dibutuhkan energi sebesar 2.6 kg per kapita) dan terus meningkat setiap tahunnya (peningkatan sebesar 40 persen sejak 2001). rata-rata pertumbuhan ekspor sebesar 5. Dengan tingkat produksi seperti itu total energi yang dibutuhkan oleh Industri Pulp dan Kertas pada 2010 sebesar 51. Dalam sepuluh tahun terakhir yaitu 20012010.3. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 117 .030 kWh. dan 4. 11.2 juta ton. Jika kapasitas produksi dapat dioptimalkan maka kebutuhan konsumsi domestik akan selalu terjaga dan ekspansi ekspor pun dapat digenjot lebih tinggi. Pada 2010 produksi pulp.55 ribu GWh dengan tingkat pertumbuhan sebesar 12.170 kWh. Pada saat ini konsumsi kertas domestik per kapita relatif masih kecil (32. ekspor pulp dan kertas menunjukkan prestasi yang cukup menggembirakan. dan 1 ton kertas dari limbah kertas (waste paper) diperlukan energi sebesar 470 kWh (Sugiyono.48 persen per tahun. Kebutuhan energi di Industri Pulp dan Kertas terus meningkat selama 2006-2010 mengikuti pertumbuhan produksi.Sementara itu. selain prospek pertumbuhan konsumsi domestik. Dengan tingkat produksi selama periode 2006-2010. Pada skenario Business as Usual (BaU). Hal ini mengindikasikan bahwa prospek perdagangan pulp dan kertas dunia masih sangat menjanjikan. maka tidak ada jalan lain selain menambah ketersediaan pasokan bahan baku dan energi di industri pulp dan kertas. dan pengolahan waste paper masing-masing 6.3 juta ton.

Direktori 2011. Industri pulp dan kertas umumnya menggunakan tenaga listrik sebagai sumber utama energi dalam proses produksi.Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Produksi on site dari steam dan listrik merupakan faktor pendukung utama dalam industri pulp dan kertas.2.3.4. Rata-rata 40 persen listrik diproduksi on site melalui kogenerasi steam. Bahan bakar power boiler terdiri dari biomassa yang berasal dari proses pengulitan dan reject 118 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . produksi kertas. 2009). dengan efisiensi bervariasi. Steam (uap) dihasilkan dari multiple boiler dan recovery boiler yang berupa high pressure steam. Kebutuhan Energi di Industri Pulp dan Kertas 6. dan pembuatan kertas secara recycle (Sugiyono. pembuatan pulp secara mekanik. Sistem boiler dinyalakan dengan berbagai macam bahan bakar. Secara garis besar proses di industri ini dibagi menjadi empat kelompok. diolah Gambar 6. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pulp dan Kertas Karakteristik teknologi energi yang digunakan pada industri pulp dan kertas tergantung dari jenis proses yang digunakan. Pembangkit tenaga listrik menggunakan steam (uap) sebagai sumber penggerak turbin. yakni: pembuatan pulp dengan proses kimia dan termokimia. Bahan bakar merupakan senyawa kimia yang dapat menghasilkan energi melalui perubahan kimia. medium pressure steam dan low pressure steam.

Untuk menambah nilai kalor pada biomassa biasanya dicampur dengan batubara. Adapun bahan bakar utama yang digunakan dalam sistem boiler pada industri pulp dan kertas berupa biomassa yang terdiri dari black liqour. Diesel Oil.bahan bakar biomassa berupa black liqour sangat diandalkan sekali dalam proses produksi energi listrik dan panas yakni mencapai 73 persen dari total penggunaan bahan bakar. Sebagai contoh. komposisi input energi didominasi oleh sumber bahan bakar lain yang tak lain adalah biomassa atau Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 119 . sisanya bark (kulit pohon) 13 persen dan batubara 13 persen. IKPP (persen) Sementara itu. CPO. bark. Kompos Sumber: Kementerian Perindustrian. saw dust.4. sludge. untuk kebutuhan listrik kekurangannya dapat dipenuhi dari power boiler berbahan bakar kulit kayu. Komposisi Jenis Bahan Bakar di PT. Saw Dust. Indah Kiat Pulp & Paper (PT. Waste Bark. lihat Gambar 6. Recovery Boiler dapat memproduksi steam 15. CPO. Sludge.penyaringan serpih kayu (pin chips dan fines chips).8 GJ (Giga Joule)/ton kering (ADt/air-dried ton) dan listrik 655 kWh/ADt. Sedangkan bahan bakar fosil seperti batubara dan solar hanya digunakan sebagai tambahan saja. pada salah satu industri pulp dan paper terbesar di Indonesia –PT. Kebutuhan steam untuk proses cukup dipenuhi dari Recovery Boiler.4. kompos. IKPP). *Tankos. tankos. data BPS juga menunjukkan bahwa dari populasi industri pulp dan kertas nasional. 2011 Gambar 6. Heavy Oil. dsb.

76 28.15.5 juta ton dan 6. ternyata impor pulp dan kertas juga meningkat cukup pesat selama sepuluh tahun terakhir yakni 11 persen per tahun untuk pulp dan 12 persen per tahun untuk kertas.89 2. 120 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . dan 8. 3 persen per tahun untuk Kertas.41 persen.bahan bakar non fosil sebanyak 49. Sementara itu.8 2.51 7. 81 persen per tahun untuk kertas. lihat Tabel 6.26 57.54 6. Selain itu.92 0. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pulp dan Kertas Kapasitas terpasang industri pulp dan kertas selama sepuluh tahun terakhir yaitu 2001-2010.46 2009 0. Komposisi Input Energi Industri Pulp dan Kertas (Persen) Bahan Bakar Bensin Solar Batubara Listrik PLN Listrik Non PLN Gas Minyak Tanah Bahan Bakar Lain Pelumas Sumber: BPS.71 0. dan 56 persen per tahun untuk waste paper. Meskipun produksi pulp dan kertas lebih besar dibandingkan jumlah yang dikonsumsi.41 3. rata-rata tumbuh sebesar 4 persen per tahun untuk Pulp. Pada 2010.56 0.29 juta ton. sisanya di ekspor.11 27.4.44 6.63 1. banyak juga perusahaan pulp dan kertas yang memanfaatkan sumber energi listrik PLN sebanyak 28.10 49. Dari jumlah yang dihasilkan tersebut hanya 67 persen produksi pulp dan 79 persen produksi kertas yang dikonsumsi di dalam negeri. produksi pulp dan kertas nasional masing-masing sebesar 11.61 2. 2012 2008 0.71 persen.15.96 0.3.6 persen per tahun untuk pengolahan kertas bekas (waste paper).32 6. rata-rata tingkat utilisasi selama periode yang sama sebesar 80 persen per tahun untuk Pulp. Tabel 6.

6 kg per kapita. maka industri pulp dan kertas harus melakukan terobosan dalam upaya penghematan energi baik melalui penggunaan sumber energi terbarukan maupun penggunaan teknologi yang lebih efisien.8 kg/kapita/tahun) (RISI. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 121 . Malaysia (110. Jepang (245.5 kg/kapita/tahun). Konsumsi kertas nasional pada 2010 saja baru sebesar 32. dalam kajian ini perkiraan kebutuhan energi pada industri pulp dan kertas dibuat dalam 3 skenario. Dengan Skenario Akselerasi kebutuhan energi industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 150 ribu gWh. bahkan untuk menghasilkan 1 ton kraft pulp bisa menghabiskan 8.16.000 kWh (SCA. tentunya ada potensi yang begitu besar pada pasar pulp dan kertas di dalam negeri. untuk menghasilkan 1 ton pulp kering dibutuhkan sekitar 2. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh industri pulp dan kertas ialah besarnya konsumsi energi.6 kg/kapita/tahun). Skenario Business as Usual menghasilkan perhitungan kebutuhan energi industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 87 ribu gWh (gigawatt hour). sedangkan konsumsi kertas per kapita di negara lain seperti China (54. Secara ringkas. Kanada (206 kg/kapita/tahun). Besarnya kebutuhan energi ditambah krisis energi yang tengah melanda dunia. Finlandia (368. lihat Tabel 6.Di sisi lain. 2008). Pada Skenario Akselerasi disertai Efisiensi maka kebutuhan energi industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 130 ribu gWh. Selanjutnya.500 kWh. 2012). konsumsi kertas per kapita di Indonesia juga masih relatif kecil dibandingkan negara-negara lain.8 kg/kapita/tahun). maka dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 230 juta jiwa dan akan terus bertambah.000-6. Amerika Serikat (288 kg/kapita/tahun).

kertas 7 persen/tahun. Gas sebesar 8 persen.69 33.22 30. tankos.44 47.54 420 327 58.89 405 315 55.22 25. pulp 2.95 982 762 129.2 persen/tahun. dan batubara sebesar 3 persen.44 27.700 kWh/ton.6 persen/tahun 4.15 29.25 32.71 17.42 35. bark.77 28. kertas bekas 8. Intensitas energi pulp 4.12 29. Berdasarkan data BPS.63 375 291 64.61 15.34 15.08 362 281 2014 57.83 19. diolah INDEF (2012) Asumsi: Business as Usual 3. 122 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .11 30.34 18. Tingkat utilisasi pulp 90 persen/tahun. kertas bekas 8.200 kWh/ton Untuk memenuhi kebutuhan energi pada industri pulp dan kertas hingga 2025 diperlukan ketersediaan berbagai sumber energi. Solar sebesar 7 persen.75 737 572 94.35 847 657 Akselerasi 1.98 40.98 47. dan lain-lain. kertas 1.030 kWh/ton. Pertumbuhan produksi pulp 5.15 362 281 61.69 472 367 112.09 23. kertas 1.13 20. kertas bekas 56 persen/tahun 5. dari posisi 9 untuk pulp dan 8 untuk kertas 3.35 21.41 26. kertas 2.56 16. Intensitas energi pada 2016-2025. sumber energi biomassa mengambil porsi sebesar 50 persen dari total energi.06 18.81 16.56 17.01 23.65 17.6 persen/tahun 6.57 56. pulp 2.31 28.74 29.170 kWh/ton.45 64.90 30.66 18.29 36.Tabel 6.65 29. Intensitas energi pada 2013-2015.22 436 338 61.54 43.300 kWh/ton 3.08 18.95 19.73 41.74 15.87 380 294 2013 55. kertas bekas 470 kWh/ton 2012 53.69 15. Pada 2009.500 kWh/ton. kertas 90 persen/tahun.09 19.89 573 445 149. kertas 3 persen/tahun. Listrik dari PLN dan Non PLN sebesar 32 persen.56 19.29 27. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pulp dan Kertas (satuan unit) Skenario BaU (ribu gWh) Biomassa (ribu gWh) Listrik (ribu gWh) Gas (juta mmbtu) Solar (juta liter) Batubara (ribu ton) Akselerasi (ribu gWh) Biomassa (ribu gWh) Listrik (ribu gWh) Gas (juta mmbtu) Solar (juta liter) Batubara (ribu ton) Akselerasi dengan Efisiensi (ribu gWh) Biomassa (ribu gWh) Listrik (ribu gWh) Gas (juta mmbtu) Solar (juta liter) Batubara (ribu ton) Sumber: APKI. kertas 80 persen/tahun. sumber energi terbesar pada industri pulp dan kertas ialah bahan bakar lain terutama biomassa seperti black liquor.12 16.57 349 271 59.31 391 303 66.87 380 294 2015 59.68 400 310 2020 72. Rencana penambahan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada 2012-2018 2.60 15.02 30.27 391 303 58. Mengejar peringkat ke 5 dunia.16.72 17.95 74. kertas bekas 60 persen/tahun Akselerasi Disertai Efisiensi 2. Tingkat utilisasi pulp 80 persen/tahun. Pertumbuhan produksi pulp 4 persen/tahun.17 36.87 19.80 618 479 2025 87.09 14.09 16.

92 60.79 15.44 14.26 16.04 17.17.84 17.38 62.30 20.47 41.31 18.79 57.74 26.17.39 19.71 22. skenario akselerasi disertai efisiensi kekurangan energi sebesar 125 ribu gWh pada 2025.77 354 274 13.04 14.79 13.25 145.69 40.24 26.9 triliun pada 2025.82 955 742 125.60 446 345 2025 83.12 Gas (juta mmbtu) Solar (juta liter) Batubara (ribu ton) 14. diolah INDEF (2012) Kekurangan energi pada industri pulp dan kertas masih sangat besar.41 393 306 54.53 348 271 2015 55.25 34.61 16. Penghematan tersebut akan tercapai setelah industri pulp dan kertas mengoptimalkan pemanfaatan teknologi black liquor gasification- Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 123 .68 39.02 336 261 2014 53. Tabel 6.52 18.31 108.04 17.72 29.50 54.51 15.Dari proyeksi kebutuhan energi di atas. skenario Business as Usual masih kekurangan energi sebesar 83 ribu gWh pada 2025.99 335 261 14. industri pulp dan kertas masih kekurangan cukup banyak energi jika dibandingkan dengan konsumsi energi industri pulp dan kertas pada 2009.22 25.67 15.56 373 289 24.74 353 274 15.18 30.80 378 293 51.83 28. skenario akselerasi kekurangan energi sebesar 145 ribu gWh pada 2025.18 364 283 2020 68.58 27.88 72.81 15.37 25.69 16.05 21.37 45. Hasil perhitungan penghematan biaya yang bisa diperoleh jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan pada industri pulp dan kertas adalah Rp14.62 31.04 28.09 62. sebagaimana data dari BPS. Proyeksi Kekurangan Energi Industri Pulp dan Kertas Skenario BaU (ribu gWh) Biomassa (ribu gWh) Listrik (ribu gWh) Gas (juta mmbtu) Solar (juta liter) Batubara (ribu ton) 2012 49.23 821 637 Sumber: APKI.62 710 552 90.34 24.67 27.94 Listrik (ribu gWh) Gas (juta mmbtu) Solar (juta liter) Batubara (ribu ton) Akselerasi dengan Efisiensi (ribu gWh) Biomassa (ribu gWh) Listrik (ribu gWh) 17.48 322 250 2013 51.05 27.79 18.79 546 423 Akselerasi (ribu gWh) Biomassa (ribu gWh) 55. Adapun kekurangan energi di industri pulp dan kertas hingga 2025 dapat dilihat dalam Tabel 6.92 46.18 363 283 54.67 592 459 34.08 27.03 17.19 28.62 17.10 34.09 409 318 57.

Gas alam yang dibutuhkan untuk membuat 1 ton urea pada 2008 hanya sebesar 30.23 94. 2009). Pada 2009.07 68. Penghematan Biaya Energi pada Industri Pulp dan Kertas (Rp triliun) Skenario Akselerasi Akselerasi Disertai Efisiensi Penghematan 2012 43. namun di sisi lain terjadi penurunan efisiensi untuk produk amoniak.83 42. maka secara teknis jika menggunakan teknologi pengering yang efisien dapat diperoleh penghematan energi sebesar 20-30 persen (Sugiyono. lihat Tabel 6. 6. Tabel 6.18.94 13.19 2014 46. Realisasi Konsumsi Energi Industri Pupuk Konsumsi gas alam merupakan salah satu indikator penting untuk menilai efisiensi industri pupuk.43 4. Dengan teknologi ini.5.90 2015 48.18.combined cycle (BLGCC).97 Sumber: Hasil Olahan.7 124 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .47 44.68 2020 82.1. jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Laporan Tahunan PT Pusri. Proses pengeringan merupakan tahap yang sangat boros energi.46 42.61 4. secara teknis dapat dilakukan penghematan energi sebesar 10-20 persen (Sugiyono. secara rata-rata Pusri dan anak-anak perusahaannya mengalami peningkatan efisiensi dalam penggunaan gas alam untuk produksi urea. karena gas alam adalah komponen utama dalam produksi pupuk.3 MMBTU/ton.50 14.5. Industri Pupuk 6.18 2025 109.36 4. 2012 Asumsi Harga: Listrik untuk Industri = Rp730 /kWh Di samping itu.54 2013 45. penghematan juga bisa diperoleh setelah menggunakan teknologi pengering yang lebih efisien. 2009). yang meningkat menjadi 30. 2009).45 1.10 40.

lalu naik menjadi 40.6 MMBTU/ton pada tahun 2011.8 MMBTU/ton. Hal ini disebabkan karena kondisi pabrik yang sudah tua (Laporan Tahunan PT Pusri Holding.MMBTU/ton pada tahun 2009.5 MMBTU/ton kemudian meningkat menjadi 36.3 MMBTU/ton pada 2010 (Tabel 2).5 MMBTU/ton pada 2010. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 125 . yang menyebabkan pemakaian gas alam meningkat cukup besar (Laporan Tahunan PT Pusri (holding). Rasio pemakaian gas alam per ton amoniak tahun 2011 secara ratarata juga semakin kurang efisien dibandingkan tahun sebelumnya.6 MMBTU/ton pada tahun 2009. Tercatat pada 2009 hanya sebesar 30. Tercatat pada 2009 hanya membutuhkan 37.2 MMBTU/ton pada tahun 2010. lalu naik menjadi 41. Tercatat pada tahun 2010 hanya sebesar 34. 2011). Hal ini juga disebabkan karena kondisi pabrik yang sudah tua (Laporan Tahunan PT Pusri Holding. kemudian menurun menjadi 37. secara rata-rata penggunaan gas alam pada pembuatan urea menjadi kurang efisien dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena adanya cut rate dan unscheduled shutdown. Di sisi lain. Hal ini disebabkan karena tingginya scheduled shutdown pabrik PT Petrokimia Gresik (Laporan Tahunan PT Pusri Holding. 2011). Secara rata-rata penggunaan gas alam untuk pembuatan urea pada tahun 2011 semakin kurang efisien dibandingkan tahun sebelumnya. pemakaian gas alam untuk pembuatan amoniak pada 2008 sebesar 37.6 MMBTU/ton. 2010). Rasio pemakaian gas alam per ton amoniak 2010 secara rata-rata juga kurang efisien dibandingkan tahun sebelumnya. meski hanya dua bulan.3 MMBTU/ton. Pada 2010.7 MMBTU/ton kemudian meningkat menjadi 34. 2010). Tercatat pada tahun 2010 hanya membutuhkan 40. Pabrik yang semula direncanakan hanya satu yang beroperasi tetapi dalam realisasinya Pabrik Urea-2 beroperasi.

energi untuk bahan baku dan energi untuk keperluan bahan bakar.5.88 persen ini digunakan untuk keperluan bahan baku dalam industri pupuk. Sebagian besar kebutuhan energi pada industri pupuk digunakan untuk bahan baku (96.5. batubara 4 persen.5. BPS (2012) Gambar 6.6.12 persen) dimana 86 persen juga berasal dari gas alam maka penelitian untuk industri pupuk fokus untuk memproyeksikan kebutuhan gas alam di masa depan hingga 2025.88 persen). Sebagian besar bahan bakar pada industri pupuk juga berasal dari gas alam (86 persen). sedangkan solar hanya 8 persen. sedangkan bahan bakar hanya sisanya (3. Komposisi Penggunaan Energi Industri Pupuk Penggunaan energi pada industri pupuk secara garis besar terdiri dari dua hal.12 persen kebutuhan energi digunakan untuk keperluan bahan bakar.88 persen). Komposisi Penggunaan Energi untuk Bahan Bakar pada Industri Pupuk 2009 126 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . sedangkan sisanya sebesar 3. Sebagian besar kebutuhan energi industri pupuk berasal dari gas alam (96. dan sumber energi lain hanya 2 persen.2. Sumber : Statistik Industri Besar dan Sedang. Gas alam sebesar 96. Adapun detil dari bahan bakar yang dibutuhkan dalam industri pupuk dapat dilihat pada Gambar 6.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan kapasitas produksi menjadi lebih tinggi lagi.55 persen untuk urea dan 5. Pada 2025 meningkat menjadi 1. yang didapatkan dari rata-rata tahunan data historis 2008-2011. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pupuk Proyeksi kebutuhan energi untuk industri pupuk di Indonesia hingga 2025 dapat dilihat pada Tabel 6. Proyeksi total energi gas alam untuk bahan bakar yang dibutuhkan oleh sektor industri pupuk dengan skenario akselerasi pada 2012 mencapai 514 juta MMBTU. terdiri dari 499 juta MMBTU untuk bahan baku dan 15 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 4.289 GWH. Berdasarkan asumsi tersebut. terdiri dari 1.6. skenario BaU. b) skenario akselerasi.5. Diasumsikan pertumbuhan konsumsi gas tiap tahunnnya sebesar 9.370 juta MMBTU untuk bahan bakar dan 42 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 12.19. Kedua.274 juta MMBTU untuk bahan baku dan 39 juta MMBTU untuk bahan bakar. efisiensi tertinggi pernah tercatat hingga 91 persen yaitu pada 2004. Di sisi lain. a) skenario business as usual (BaU). Proyeksi kebutuhan energi ini disusun berdasarkan tiga skenario.412 juta MMBTU. dan c) skenario akselerasi disertai efisiensi. kebutuhan minimum gas alam untuk industri pupuk pada 2015 sebesar 601 juta MMBTU. Efisiensi industri pupuk nasional sebenarnya masih dapat diusahakan untuk lebih efisien lagi. Pertama.520 GWH.314 juta MMBTU yang terdiri dari 1. efisiensi urea biasanya relatif lebih rendah dibandingkan amoniak dengan tingkat efisiensi tertinggi urea sebesar 85 persen pada 2009.6 persen untuk amoniak. Kemudian pada 2025 meningkat menjadi 1.3. setara 11.560 GWH. skenario akselerasi. Efisiensi tertinggi total produksi pernah dicapai sampai tingkat 86 persen yaitu pada 2004 dan 2009. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 127 .414 GWH. Untuk jenis amoniak. terdiri dari 583 juta MMBTU untuk bahan baku dan 18 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 5.

19 2015 601 583 18 5.29 2020 885 859 27 7.87 200 1.540 555 538 17 4.876 0.370 12.262 0.89 183 1.51 116 1.88 62 0.61 53 0.74 58 0. Skenario akselerasi disertai efisiensi secara umum tidak terlalu berbeda dengan skenario akselerasi. batubara adalah sumber energi yang relatif lebih murah dibandingkan sumber energi lainnya.77 92 0. Hanya saja skenario ini mencoba memperhitungkan efisiensi biaya jika industri melakukan substitusi energi dari gas alam ke batubara.41 291 2.680 0.560 1412 1370 42 12.49 50 0.520 499 499 4. Proyeksi Kebutuhan Energi Industri Pupuk 2012-2025 Skenario Jenis Energi/Total Biaya Total Bahan Baku Bahan Bakar Satuan Juta MMBTU ( A=B+C ) Juta MMBTU (B) Juta MMBTU (C) 2012 478 464 14 4.82 170 1.9.289 646 627 19 5.900 599 581 18 5.81 BaU Gas GWH Juta MMBTU ( A=B+C ) Juta MMBTU (B) Juta MMBTU (C) Akselerasi Gas Total Bahan Baku Bahan Bakar GWH Juta MMBTU ( A=B+C ) Juta MMBTU (B) Juta MMBTU (C) Gas Total Bahan Baku Bahan Bakar GWH Juta ton Juta US$ Triliun Rp*) Juta US$ Triliun Rp*) Juta US$ Triliun Rp*) Batubara Akselerasi + Efisiensi Total biaya jika Menggunakan Gas Total biaya jika Menggunakan Batubara Total efisiensi biaya Sumber: Laporan Tahunan PT PUSRI Berbagai Tahun.76 157 1.11 136 1.47 108 1.09 432 4.55 126 1.10 2014 557 540 17 4.365 1.520 0. Hasil wawancara dengan salah satu pelaku industri pupuk pada tahun 2012. 128 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .02 2013 516 501 15 4.414 2.96 198 1.19.789 952 923 29 8.59 135 1.365 923 923 8. pada skenario ini sumber energi diganti dari gas alam menjadi batubara.29 296 2.Tabel 6. Oleh karena itu.209 514 499 15 4.262 581 581 5.414 1370 1.680 627 627 5.90 2025 1314 1274 39 11.876 538 538 4. skenario akselerasi disertai efisiensi.- Ketiga. diolah INDEF (2012) *)Asumsi : 1 US$ = Rp.500.

pada 2012 total kekurangan energi gas mencapai 85 juta MMBTU dimana terdiri dari 83 juta MMBTU untuk bahan baku dan 3 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara dengan 1.456 GWH. Jika diasumsikan industri pupuk menggunakan batubara dengan kalori 5.20 menunjukkan proyeksi kekurangan energi pada industri pupuk hingga 2025 berdasarkan tiga skenario.6.19.1.18. pada 2012 dan 2025 Indonesia dapat menghemat secara berturut-turut sekitar Rp.105 GWH.414 GWH. Pada 2025.370 juta MMBTU gas alam yang semuanya digunakan hanya untuk bahan baku.81 triliun atau 296 juta US$.6.Batubara yang digunakan dalam skenario ini diasumsikan memiliki nilai kalori 5. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 129 . Berdasarkan skenario BaU.100 Mkal/ton.02 triliun atau 108 juta US$ dan Rp. pada Tabel 6.2. jumlah batubara yang dibutuhkan untuk bahan bakar pada 2025 sebanyak 2.100 kkal/kg. Gambar 6. Jika terjadi substitusi dari gas alam menjadi batubara. defisit energi meningkat hingga lebih dari sebelas kali lipat menjadi 921 juta MMBTU terdiri dari 893 juta MMBTU untuk bahan baku. maka total energi yang dibutuhkan pada skenario akselerasi pada 2025 adalah 1. lihat Tabel 6.100 kkal/kg atau 5. lihat Gambar 6. dan 28 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 8.09 juta ton atau setara 12. lihat Tabel 6. Proyeksi Konsumsi Energi yang Dibutuhkan Industri Pupuk dalam Skenario Akselerasi disertai Efisiensi Selanjutnya. Selain itu.

772 2014 164 159 5 1.310 Sumber: Laporan Tahunan PT PUSRI Berbagai Tahun. jumlah kekurangan energinya sama besar.20.772 145 145 1.436 162 157 5 1.Pada skenario akselerasi maupun skenario akselerasi disertai efisiensi di industri pupuk.416 106 106 1. gas alam hanya untuk bahan baku dan gas alam untuk bahan bakar disubstitusi oleh batubara sehingga dapat lebih efisien secara biaya. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Pupuk 20122025 Skenario Jenis Energi/ Total Biaya Total Bahan BaU Gas Baku Bahan Bakar Total Bahan Akselerasi Gas Baku Bahan Bakar Total Akselerasi + Efisiensi Gas Bahan Baku Bahan Bakar Satuan Juta MMBTU ( A=B+C ) Juta MMBTU ( B ) Juta MMBTU ( C ) GWH Juta MMBTU ( A=B+C ) Juta MMBTU ( B ) Juta MMBTU ( C ) GWH Juta MMBTU ( A=B+C ) Juta MMBTU ( B ) Juta MMBTU ( C ) GWH 2012 85 83 3 1. Kekurangan energi pada skenario akselerasi pada 2012 mencapai 121 juta MMBTU gas alam yang terdiri dari 118 juta MMBTU untuk bahan baku dan 3 juta MMBTU untuk bahan bakar.416 2013 123 119 4 1.576 2020 492 477 15 4. sedangkan bahan bakar tidak lagi menggunakan gas alam tetapi batubara.685 559 542 17 5.158 2015 208 202 6 2. Untuk skenario akselerasi disertai efisiensi kekurangan gas alam sebesar 106 juta MMBTU untuk bahan baku. sedangkan pada skenario akselerasi disertai efisiensi. Hal ini dikarenakan perbedaan penggunaan sumber energi pada kedua skenario tersebut.576 234 234 2.456 1.261 530 530 5.105 121 118 4 1.20.019 989 31 9.796 206 199 6 2.310 977 977 9. diolah INDEF (2012) 130 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .158 188 188 2.261 2025 921 893 28 8. Tabel 6. lihat Tabel 6. Skenario akselerasi diasumsikan seluruh energi baik untuk bahan baku dan bahan bakar berasal dari gas alam.185 253 246 8 2.

Data yang ditunjukkan pada Gambar 6. Selain itu. Industri Semen 6. 2011 Gambar 6.26 persen. Selain itu penggunaan energi listrik juga terlihat penting dalam industri ini karena memiliki Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 131 .65 persen dari total biaya produksi. sedikit di bawah komponen biaya bahan baku yang mencapai 38. Komposisi Penggunaan Energi Industri Semen Industri semen merupakan salah satu jenis industri yang paling banyak mengkonsumsi energi.6.8 menunjukkan bahwa batubara merupakan jenis energi yang paling banyak digunakan oleh industri semen dengan proporsi sebesar 57. yaitu berupa energi primer berupa batubara.6.7. Hal tersebut dapat dilihat dari struktur biaya produksi pada industri semen. Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang. Komposisi Biaya Produksi pada Industri Semen 2009 (persen) Energi yang digunakan pada industri semen dibedakan menjadi dua jenis. dan energi sekunder berupa listrik.7 menunjukkan bahwa komponen energi memakan biaya sebesar 34.29 persen. maka biaya untuk tenaga kerja hanya memakan porsi 11.6.87 persen dari total biaya energi. Gambar 6. dikarenakan industri ini merupakan industri yang tergolong capital intensive.1.

proporsi yang cukup besar yakni mencapai 36. Pertumbuhan produksi semen nasional selama periode tersebut meningkat jauh lebih tinggi. 132 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . kapasitas terpasang industri semen telah tumbuh 19.8 juta ton. Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang.2. saat ini proporsinya hanya kurang dari 5 persen.64 persen.8 juta ton.8. karena gas memiliki kadar kalori yang lebih tinggi dari batubara dan relatif lebih ramah lingkungan. Dalam sepuluh tahun terakhir yaitu 2002-2011. Namun sulitnya untuk mendapatkan gas saat ini menjadi kendala dalam pemenuhan kebutuhan energi tidak hanya pada industri semen. 2011 Gambar 6. melainkan pada industri lainnya yang padat energi. Penggunaan BBM dan gas pada industri ini relatif kecil.6. Pada 2002 produksi semen nasional baru mencapai 30. di mana pada 2002 sebesar 47. 6. Kebutuhan Energi Industri Semen Kapasitas terpasang industri semen saat ini mencapai 56. dengan utilisasi rata-rata baru mencapai sekitar 80 persen atau sebesar 45.5 juta ton dan tahun 2011 mencapai 56.2 juta ton semen pada 2011. Komposisi Biaya Energi pada Industri Semen Tahun 2009 (persen) Gas berpeluang untuk dioptimalkan penggunaannya dalam proses produksi industri semen.7 juta ton.12 persen dari total biaya energi.

Jadi total kalori yang dibutuhkan untk menghasilkan 1 ton semen adalah 103.25 persen pada tahun 2011 menjadi sebesar 45. yaitu mencapai 76. Sumber energi utama yang digunakan pada industri semen adalah batubara.15 ton batubara yang mengandung 760-780 kilo kalori dan 120 kwh listrik atau 103.2 juta ton. bahkan utilisasi industri semen sempat mencapai 86 persen pada 2008. namun pada 2011 telah mencapai 80 persen.8 juta ton per tahun. Akibatnya industri nasional termasuk semen hanya mendapatkan batubara dengan kadar kalori yang lebih rendah. Pada kapasitas terpasang saat ini. Artinya industri semen Indonesia sedikit lebih lebih boros dalam jumlah penggunaan Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 133 . karena batubara kalori tinggi lebih diutamakan untuk diekspor.25 persen selama 20022011 atau sekitar 34. Intensitas energi pada industri semen di Indonesia tersebut sedikit lebih besar dibanding Jepang. Namun untuk melakukan percepatan pertumbuhan produksi semen demi mengejar ketertinggalan konsumsi semen per kapita. Di sisi lain. Penurunan ekspor semen yang terjadi pada periode tersebut dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri. Hal ini menunjukkan bahwa utilisasi pada industri semen semakin meningkat. Pada 2002 utilisasi baru mencapai 65 persen. industri semen membutuhkan lebih dari 6 juta ton batubara atau 190 juta Giga Joule (GJ) yang setara dengan 31. Hal ini menjadi insentif tersendiri bagi produsen semen untuk terus meningkatkan kapasitas terpasang dan memaksimumkan utilisasi produksinya. dibutuhkan jumlah batubara yang lebih besar lagi. Untuk menghasilkan 1 ton semen di Indonesia memerlukan sekitar 0.181.4 kilo kalori.kemudian meningkat 47.05 juta Barrels of Oil Equivalent (BOE) atau Setara Barel Minyak (SBM).961 kilo kalori. dalam periode yang sama konsumsi semen nasional tumbuh lebih besar lagi. Permasalahan yang saat ini muncul terkait dengan suplai batubara untuk semen adalah rendahnya kandungan kalori batubara.

Pada skenario BaU diasumsikan produksi semen. Di lain hal skenario akselerasi disertasi efisiensi adalah skenario akselerasi yang menekankan pada pengalihan jenis energi.3 juta ton.batubara. produksi dan konsumsi semen nasional akan mengalami pertumbuhan dengan besaran rata-rata 10 persen per tahun. 134 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . kapasitas terpasangnya dan konsumsi semen nasional mengalami peningkatan 10 persen per tahun. Sementara utilisasi produksi diasumsikan telah mencapai kisaran angka 85 persen per tahun. Dalam ini penggunaan batubara sebagian dialihkan menjadi gas alam. Dengan asumsi demikian atau Business as Usual (BaU). dari energi yang relatif kurang efisien (mahal) ke jenis energi yang lebih efisien (murah). yaitu skenario Business as Usual (BaU). Hal ini dikarenakan kualitas batubara yang digunakan relatif lebih buruk (rendah kalori) dibanding negara-negara lain sehingga membutuhkan jumlah batubara yang lebih banyak. skenario akselerasi dan skenario akselerasi disertai efisiensi. Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memproyeksikan hingga tahun 2025 kapasitas terpasang. Dalam kajian ini proyeksi keburuhan energi pada industri semen dirancang dalam 3 skenario. Saat ini produksi semen dalam negeri masih sedikit di bawah konsumsinya. untuk itu kapasitas terpasang.4 juta ton. Seperti yang telah dijelaskan bahwa kapasitas terpasang industri semen akan terus meningkat karena banyak produsen semen yang akan segera memperluas usahanya. sebagian surplus produksi dapat dialokasikan untuk kebutuhan ekspor. Skenario akselerasi diasumsikan Indonesia ingin menggenjot konsumsi semen per kapita. Pada 2025. Jumlah produksi ini telah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi semen dalam negeri yang pada tahun 2025 nanti diprediksikan akan mencapai sebesar 182. maka diproyeksikan pada tahun 2025 produksi semen akan mencapai 193. selain itu disertai dengan target untuk meningkatkan konsumsi semen per kapita. produksi dan konsumsi harus tumbuh minimal 15 persen per tahun hingga tahun 2025.11 juta ton dengan kapasitas terpasang sebesar 227.

lihat Gambar 6. Singapore dan Vietnam. maka pasokan batubara pada industri semen harus ditambah menjadi hampir dua kali lipat dari jumlah penggunaan yang sekarang. Untuk menyamai Malaysia saja baru akan mungkin terjadi setelah tahun 2022. Sumber: ASEAN Economic Indicator. Maka diperlukan suatu skenario kebijakan dengan target mempercepat pertumbuhan konsumsi semen per kapita agar dapat mengejar ketertinggalan tersebut. Jumlah tersebut sedikit lebih banyak dari jumlah konsumsi semen per kapita Malaysia saat ini. Malaysia.9. Thailand. atau sekitar 11 juta ton batubara. Jika menggunakan asumsi BaU. Skenario BaU menghasilkan perhitungan bahwa konsumsi semen per kapita Indonesia akan sulit mengejar negara-negara lain khususnya di ASEAN seperti Brunei. namun dengan catatan Malaysia tidak menambah konsumsi semen per kapitanya hingga 2022. Konsumsi Semen Per Kapita Tahun 2010 (kilogram) Agar konsumsi semen per kapita Indonesia dapat meningkat dan mengejar ketertinggalan dari negara lain. hingga tahun 2025 konsumsi semen per kapita Indonesia baru mencapai 671 kg per kapita.9. Jika hal ini tercapai maka utilisasi industri semen akan Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 135 . 2011 *) Tahun 2011 Gambar 6.Semua hal tersebut dapat terjadi apabila utilisasi produksi semen mencapai 85 persen per tahun.

Kedua hal ini akan memperpendek umur dari lapisan batu tahan api pada tanur putar. Disamping itu. Indonesia diprediksi akan dapat mengejar konsumsi per kapita Thailand yang saat ini tercatat sebesar 392. Pada Gambar 6.6 kg per kapita).9 kg per kapita). terlihat bahwa konsumsi semen per kapita Indonesia baru mencapai sebesar 200 kg per kapita. Keadaan inilah yang menyebabkan operasi pembakaran dengan memakai batubara akan kurang produktif dibandingkan dengan operasi pembakaran dengan gas alam. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pola operasi pembakaran dari kedua jenis bahan bakar tersebut.9. Penggunaan gas alam pada industri semen dinilai jauh lebih efisien daripada penggunaan batubara. Skenario efisiensi disertai akselerasi yang menekankan pada pengalihan sebagian jens energi dinilai dapat berpotensi menghemat biaya pada industri semen. 136 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Setidaknya pada skenario akselerasi Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dari negara-negara tersebut dalam waktu yang relatif singkat. operasi pembakaran batubara menghasilkan suhu nyala yang lebih rendah serta stabilitas yang kurang baik dibandingkan dengan gas alam. Pemakaian batubara untuk pembakaran dalam tanur putar atau KILN (alat pembakaran bahan dasar semen dengan suhu 1450O Celcius) menghasilkan produktivitas yang berbeda apabila menggunakan energi gas. Operasi pembakaran batubara memerlukan udara dingin yang jauh lebih besar sedangkan operasi pembakaran gas alam memakai udara yang agak panas. Malaysia (587 kg per kapita) dan Vietnam (578. masih di bawah Thailand (392. Operasi pembakaran dengan batubara akan memerlukan konsumsi panas persatuan produk yang lebih besar dibandingkan gas.93 kg per kapita. Pada skenario akselerasi ini.semakin meningkat yang artinya pertumbuhan produksi semen mengalami percepatan.

22 gWh.417.6 10. Dengan asumsi kebutuhan energi tersebut dipenuhi dari sumber energi listrik dan batubara. Utilisasi 80 persen Akselerasi 4.393.853. Pada skenario akselerasi disertai efisiensi. 6.22 gWh. produksi dan konsumsi semen 10 persen per tahun.900.320.417.Secara ringkas.859. ketiga skenario tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.4 21.5 38. Untuk memenuhi kebutuhan energi pada industri semen hingga 2025 diperlukan ketersediaan berbagai sumber energi.21.408.589. listrik ataupun gas alam. Skenario Business as Usual memperlihatkan kebutuhan energi industri semen pada 2025 sebesar 23. 7. maka kebutuhan batubara pada 2025 sebesar 24.1 8.4 2025 23. Tabel 6. seperti batubara.393.2 2014 7. 2.6 2020 13.3 10.1 2015 7.589. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Semen (gWh) Skenario Business as Usual Akselerasi Akselerasi Disertai Efisiensi 2012 5.173. 5. Diversifikasi energi (batubara ke gas alam )sekitar separuhnya (50 persen) Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 137 .540.22.4 8. Pertumbuhan produksi semen 15 persen per tahun.320. Pada skenario akselerasi kebutuhan energi industri semen pada 2025 sebesar 38.15 ton batubara 3. namun dengan tingkat diversifikasi jenis energi ke arah yang lebih efisien bagi industri semen.9 38.7 2013 6.321.2 21. Pertumbuhan konsumsi semen 15 persen per tahun.408. permintaan batubara berkurang dan permintaan gas meningkat. diolah INDEF (2012) Asumsi: Business as Usual 1.2 7. Rencana perluasan (ekspansi) pabrik semen (2012-2025) beroperasi sesuai target.54 gWh (gigawatt hour). Pertumbuhan kapasitas terpasang.859.9 Sumber: ASI.840.139.dimana penggunaan batubara diasumsikan akan dikurangi sekitar separuhnya dan digantikan oleh gas alam. Utilisasi 85 persen Akselerasi Disertai Efisiensi 8.321.7 6.5 gWh.20.3 6.9 juta ton dan kebutuhan listrik sebesar 23. lihat Tabel 6. kebutuhan energi industri semen sama seperti hasil pada skenario akselerasi yaitu 38. Per ton semen membutuhkan 120 kWh dan 0.490.3 7. Sementara pada skenario akselerasi disertai efisiensi.540.

Tabel 6.0 43.8 21.396 3. Jika melihat data aktual pada tahun 2011 yang diperoleh dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI).078 2. Batubara Akselerasi c) d) Listrik Batubara Satuan gWh gWh Juta Ton gWh gWh Juta Ton gWh gWh Juta Ton MMBTU 2012 438 434 0.59 955 950 0.22.6 8.094 7.806 5.919 3.Tabel 6.3 6.22.6 12.61 33.1 8.348 14.931 15.665 1.127 32.495 4.72 4.7 6.9 38.919 4.745 19. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Semen Skenario BaU a) Listrik gWh 5.8 274.391 2.752 23.378 8.3 113.931 15.8 82.042 46.806 8.1 21.859 gWh (BaU) dan 33.892 19.9 7.320 23.028 1.946 4.379 6.25 15.390 2020 8.378 3.396 3. maka tentunya masih sangat banyak energi yang dibutuhkan hingga tahun 2025.8 7.379 3.265 24. Listrik b).23 2.4 38.265 12.488 10.348 6.320 Akselerasi b) a) b) c) Batubara Listrik batubara Gas Jt Ton gWh Jt Ton MMBTU 6.94 3.892 40.862 6.530 2015 2.5 96.5 10.946 4.449 7. diolah INDEF (2012) Sesuai dengan hasil proyeksi kebutuhan energi pada Tabel 6. Tabel 6.375 2.2 133.5 204.585 9.831 Akselerasi Efisiensi Sumber: ASI.127 32. untuk memenuhi kebutuhan tahun 2025 industri semen membutuhkan energi sebesar 17.66 4.1 493.803 13.2 26.066 1.677 1.078 2.4 10.324 9. diolah INDEF (2012) 138 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .0 63.173 Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025 b) a) Batubara Listrik Jt Ton gWh 6.96 2.23 menunjukkan hasil kalkulasi proyeksi kekurangan energi hingga tahun 2025 jika dibandingan dengan data pada tahun 2011.22 15.066 1.200 7.348 22.859 17.836 16.8 423.836 9.52 3.243 2013 1.127 gWh pada skenario Akselerasi.021 1.874 Akselerasi Efisiensi d) e) f) Listrik Batubara Gas Sumber: ASI.628 2014 1.378 2. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Semen Skenario BaU a).084 2025 17.495 7.88 955 950 0.23.21 3.

42 1. maka dapat menghemat biaya energi sekitar Rp1. diolah INDEF (2012) 6.38 1.52 juta ton batubara.5 2025 150. Apabila skenario akselerasi disertai efisiensi yaitu berupa diversifikasi energi dapat dilakukan.41 Satuan US$ juta 2012 168. Industri Keramik 6.58 1. Secara ekonomi jika proporsi energi batubara dapat dikurangi sebesar 50 persen.892 gWh dan 40. Hal yang sama juga dapat terjadi jika intensitas energi untuk menghasilkan per satuan semen dapat dikurangi. harga 65 US$/Ton Gas Alam = 10. maka batubara masih kurang sebesar 19.3 2013 166.9 2015 151.4 2014 160.24. Sementara pada simulasi akselerasi disertai efisiensi.Skenario BaU menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan di tahun 2025.874 MMBTU. kemudian digantikan dengan gas alam. Komposisi Penggunaan Energi Industri Keramik Industri keramik merupakan jenis industri yang relatif banyak mengkonsumsi energi.4 triliun pada 2025. Skenario akselerasi memperlihatkan bahwa di tahun 2025 industri ini kekurangan listrik sebesar 32.100 kkal/kg.8 Keterangan: Batubara = kalori 5.2 US$/MMBTU (harga yang akan berlaku mulai April 2013) Sumber: ASI. Hal tersebut dapat dilihat dari struktur biaya produksinya. Penghematan Biaya Energi pada Industri Semen Skenario Penghematan Rp triliun 1.24.1.8 juta ton dan gas alam masih kurang sebesar 432.745 gWh dan batubara sebesar 19. maka biaya energi pada industri semen akan menurun. Hal ini salah satunya dikarenakan harga gas alam lebih relatif murah dari pada harga batubara. Gambar 6. Tabel 6.56 1.51 1. industri semen kekurangan listrik sebesar 17.7. maka biaya energi juga dapat diturunkan.1 2020 147.61 juta ton. dimana kebutuhan batubara diasumsikan berkurang 50 persen dan gas bertambah 50 persen. lihat Tabel 6.10 menunjukkan bahwa komponen energi Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 139 .7.

memakan biaya sebesar 26 persen dari total biaya produksi.11 menunjukkan bahwa gas merupakan jenis energi yang paling banyak digunakan oleh industri keramik dengan proporsi sebesar 49.10. sementara komponen biaya lainnya mengambil porsi sisanya yaitu 15 persen. Gambar 6. Selain itu penggunaan energi listrik juga relatif penting karena memiliki proporsi 22. yaitu energi primer berupa gas alam. 140 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . meskipun komponen biaya bahan baku masih lebih dominan dengan porsi sebesar 43 persen. 2011 Gambar 6.14 persen dari total biaya energi.22 persen dari total biaya energi. sementara BBM mencapai 15 persen. Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang. dan energi sekunder berupa listrik. Biaya Produksi pada Industri Keramik Tahun 2009 (Persen) Energi yang digunakan pada industri keramik dibedakan menjadi dua jenis. Biaya tenaga kerja mengambil porsi sebesar 13 persen dari total biaya produksi.

2. yang didorong oleh permintaan permintaan dari sektor konstruksi yang saat ini sedang tumbuh pesat. Pembakaran tanur keramik dengan energi gas menghasilkan panas tinggi yang sangat dibutuhkan dalam pembakaran keramik. Pertumbuhan konsumsi keramik nasional selama 5 tahun terakhir meningkat lebih tinggi daripada pertumbuhan produksinya. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 141 . dengan utilisasi rata-rata mencapai 70-80 persen atau sebesar 310 juta M2 pada 2011. 2011 Gambar 6. karena sifat spesifik gas yang tidak bisa digantikan oleh sumber energi lain. Kebutuhan Energi Industri Kapasitas terpasang industri keramik saat ini mencapai 370 juta M2. dan panas tinggi ini tidak bisa digantikan oleh energi lain. 6. Namun sulitnya untuk mendapatkan gas saat ini menjadi kendala dalam pengembangan industri keramik masa depan. Tahun 2012 ini diprediksi kapasitas terpasang industri keramik akan tumbuh di atas 10 persen.Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang.11 Biaya Energi pada Industri Keramik Tahun 2009 (Persen) Ketersediaan gas sangat menentukan keberlangsungan produksi keramik.7.

yaitu mencapai sekitar 1 m2. khususnya tahun 2012 kapasitas terpasang industri keramik diprediksi bisa meningkat sebesar 12 persen. skenario akselerasi. Untuk memperkirakan kebutuhan energi pada industri keramik hingga tahun 2025. Keterbatasan gas diyakini para pelaku usaha industri keramik sebagai hambatan untuk optimalisasi produksi keramik. Pertumbuhan konsumsi keramik yang tinggi tersebut menjadi insentif bagi produsen keramik untuk terus meningkatkan kapasitas terpasang industri ini. proyeksi kebutuhan energi dilakukan dengan 3 skenario. misalnya Vietnam hanya membutuhkan energi sebesar 12.61 mWh. Kendati demikian.6 Giga Joule (GJ) atau 4. namun tingkat utilisasinya baru mencapai 70-80 persen.58 mWh per ton keramik. Dari ketiga skenario tersebut 142 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .Pada tahun 2006 konsumsi keramik mencapai 148 juta M2. Intensitas energi pada industri keramik di Indonesia masih lebih besar dibanding negara lain. yaitu skenario business as usual. Akibatnya kebutuhan gas untuk industri nasional termasuk keramik tidak dapat terpenuhi secara optimal. Selama ini para pelaku industri menilai bahwa gas lebih diutamakan untuk kebutuhan ekspor daripada untuk kebutuhan industri dalam negeri. sedangkan di negara-negara tetangga sudah mencapai 2 m2 per kapita. untuk menghasilkan 1 ton keramik memerlukan energi sekitar 16. dan skenario akselerasi disertai efisiensi. Oleh sebab itu. Di Indonesia. kemudian pada tahun 2011 tumbuh lebih dari 100 persen menjadi 299 juta M2. Teknologi dan inovasi masih sangat diperlukan untuk mendukung penghematan energi pada industri ini. Dari jumlah gas yang dibutuhkan tersebut hanya sekitar 80-90 persen yang tersedia. konsumsi keramik per kapita Indonesia masih tergolong kecil.9 GJ atau 3. Industri keramik membutuhkan lebih dari 140 MMSCFD untuk memenuhi kebutuhan kapasitas terpasang saat ini. Artinya industri keramik Indonesia sedikit lebih lebih boros dalam menggunakan energi.

kebutuhan energi industri keramik pada tahun 2025 akan mencapai 3. India dan China. namun alokasi untuk kebutuhan ekspor tergolong sangat kecil.202 2013 1.415 1. Dalam roadmap tersebut pemerintah membuat target atau sasaran jangka menengah yaitu tercapainya utilitas produksi rata-rata 90 persen Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 143 .245 3.974 2025 3.310 1. Implikasinya adalah Indonesia tidak menjadi jajaran 10 negara pengekspor keramik terbesar.577 1.214 1.232 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian. Sementara utilisasi produksi diasumsikan mencapai kisaran angka di atas 70 persen per tahun.768 1. karena besarnya pasar domestik. lihat Tabel 6.688 2020 2. padahal pada tahun 2012 ini kebutuhan energi industri ini baru mencapai 1.479 5. maka tingkat produksi keramik Indonesia akan sulit mengejar negara-negara lain khususnya Vietnam. Pada skenario Business as Usual. Saat ini meskipun Indonesia menduduki peringkat 6 dunia dalam jumlah produksi keramik. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Keramik (gWh) Skenario Business as Usual Akselerasi Akselerasi Disertai Efisiensi 2012 1.25. diolah INDEF (2012) Proyeksi kebutuhan energi khususnya gas dalam skema akselerasi berpaduan dengan roadmap industri keramik nasional. Pada skenario Business as Usual (BaU) diasumsikan produksi keramik nasional mengalami peningkatan 8 persen per tahun. demikian pula dengan kapasitas terpasangnya (kapasitas produksi) dan konsumsi keramik domestik.juga akan dianalisis tentang proyeksi kekurangan energi untuk mencapai kebutuhan pada 2025.299 5.214 gWh. Tabel 6.506 2015 1.344 2014 1. Jika skenario BaU diterapkan.528 1.115 2.25.408 1. Berbeda dengan negaranegara lain yang masuk dalam 10 besar produsen keramik juga masuk ke dalam 10 besar eksportir keramik.299 gWh.259 1.

Gas BBM MMBTU Barrel 51. BBM sebesar 1.896 88.9 67.902 680. maka pada 2025 kebutuhan energi industri keramik mencapai 5. maka tahun 2025 pemerintah harus menyediakan energi sebesar 5. listrik ataupun gas alam.476 418.358 644.220 716.408 MMBTU.586.635 734.879 129. Untuk memenuhi kebutuhan energi pada industri keramik hingga 2025 diperlukan ketersediaan berbagai sumber energi.232 gWh.753 1.977 2.4 gWh.0 478.476 1. listrik dan BBM. Listrik Gas BBM Listrik Gas gWh MMBTU Barrel gWh MMBTU 583.5 170.607 2. dan kebutuhan listrik sebesar 2. Kebutuhan ini sedikit mengalami penurunan jika dilakukan strategi penghematan dan efisiensi prosed produksi di industri keramik.0 51. a. Jika skenario diterapkan yaitu akselerasi disertai efisiensi.981 1. dengan maksud agar produksi industri keramik mendekati titik optimalnya.293 849.497.0 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian.511 503. meskipun terlihat bahwa penghematan energi yang bisa dilakukan tidak terlalu besar. a.7 122.331 barel dan kebutuhan listrik sebesar 1. b.752.9 48.0 427.3 51. maka menurut skenarion BaU kebutuhan gas pada 2025 adalah sebesar 129.053.641 721.594 451.292 55.8 71.8 54.078 807. diolah INDEF (2012) 144 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . c.652 604.423. lihat Tabel 6.408 1. keramik sebesar 5 persen.476 449.26.570 575.851 677.0 944.26.4 57. KESDM melihat potensi penghematan energi pada industri.624 MMBTU.7 115.586.041 487. c.331 Satuan 2012 2013 2014 2015 2020 2025 c.298 387. Pada skenario akselerasi kebutuhan gas pada 2025 adalah sebesar 179.639. BBM sebesar 1.756 60.298 401.308 51. Proyeksi Kebutuhan Energi pada Industri Keramik Skenario BaU a.624 1. b. Tabel 6.102 994.0 536.079. seperti batubara. Ditjen EBTKE.733 630.4 179.0 1.508.639.664.5 gWh. Pada skenario akselerasi dengan menggunakan target utilisasi tersebut.5 48.607 barel.833 758.hingga tahun 2020. Dengan asumsi kebutuhan energi tersebut dipenuhi dari sumber energi gas. BBM Listrik Barrel gWh 381.437 Akselerasi Akselerasi Disertai Efisiensi b.053.479 gWh.559 564.997 1.752.

034 65 -2.134 883 2025 78. Penghematan Biaya Energi pada Industri Keramik Skenario Penghematan Rp Juta 245 246 275 343 585 860 Satuan US$ Ribu 2012 26.469 145.278 195 20.593 120.967 a.583 694.3 2025 91. lihat Tabel 6.1 2013 26. Jika penggunaan gas dapat dihemat 5 persen. BBM sebanyak 694.215 219 3. c.2 US$/MMBtu (harga yang akan berlaku mulai April 2013) Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian.989 2.137 140 6.674 90 434 91.046 gWh.4 2020 62. Tabel 6. b. Gas BBM Listrik Gas BBM Listrik disertai Efisiensi Gas BBM Listrik MMBTU Barel gWh MMBTU Barel gWh MMBTU Barel gWh Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian.740 104 2014 4. c.309 22. Akselerasi a. Pada skenario BaU.858 958 64.393.232 137 -2.939 177. Tabel 6.5 Keterangan: Gas Alam = 10.999 129.517 205. diolah INDEF (2012) Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 145 .28.366 1. Hasil perhitungan ini akan menghasilkan tabel yang menyatakan kekurangan energi tahun proyeksi terhadap konsumsi riil tahun 2010.460 267 2020 37. Akselerasi a. Proyeksi Kekurangan Energi pada Industri Keramik Skenario BaU Satuan 2012 256 28.26 dikurangkan (selisih) dengan konsumsi riil energi pada industri keramik tahun 2010.498 pada tahun 2025.713 1. Sementara pada skenario akselerasi disertai efisiensi.674 310 16.2 2014 29.Hasil proyeksi pada Tabel 6.713 barel dan listrik 1. b.552 93. maka akan terjadi penghematan biaya energi sebesar US$91. maka kekurangan energi pada tahun 2025 akan lebih kecil jika dibandingkan dengan tidak terjadi efisiensi energi. industri keramik pada 2025 masih kekurangan gas sebesar 78.140 68.060 635.306.955 586. b.178 358. c.689 43 256 43. Tabel 6.27.046 128.099 119.359 1.28 menyajikan besarnya penghematan yang bisa dilakukan jika kita menerapkan skenario akselerasi disertai efisiensi.583 MMBTU.261 540 71. diolah INDEF (2012) Selanjutnya.3 2015 36.023 181 2015 8.396 1.27.952 35 2013 434 59.

696 50. Tabel 6. 7. Tabel 6.31 menyajikan kebutuhan energi 7 industri terpiliih pada skenario akselerasi dan akselerasi disertai efisiensi. Kedua tabel terakhir ini memiliki pola yang sama dengan Tabel 6. 1.459 20.6.29 namun dengan angka kebutuhan energi yang lebih besar. 6. 146 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .8 Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih Kebutuhan energi pada 7 indutri terpilih yang padat energi disajikan pada Tabel 6.29. Meskipun tidak terlalu besar. Secara umum skenario akselerasi disertasi efisiensi hanya mampu menghemat pemakaian energi kurang dari 10 persen jika dibandingkan dengan skenario akselerasi. 3. namun penghematan tersebut tetap patut dilaksanakan.30 dan Tabel 6.299 561. 4. jika industri yang lain menggunakan energi untuk bahan bakar. 2.111 87.093 53. Namun perlu diperhatikan bahwa energi yang dibutuhkan di industri pupuk ini sebagian besar yaitu 96 persen dipergunakan untuk bahan baku pupuk.540 594 23.853 1.214 226. maka industri yang paling memerlukan energi adalah industri pulp dan kertas.410 382 5.528 276. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada Skenario Business as Usual (gWh) No.29 pada skenario Business as Usual. 5. diolah INDEF (2012) Selanjutnya.417 385.321 3.534 2025 11.900 1. yang memperlihatkan bahwa industri pupuk paling banyak memerlukan energi.740 423 7.978 Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang BPS dan Kementerian Perindustrian.277 176. Sementara industri baja dan juga industri semen hanya membutuhkan energi sekitar 10 persen dari kebutuhan industri pulp dan kertas.551 140. Satuan Baja Tekstil Pupuk Pulp dan Kertas Pengolahan Kelapa Sawit Semen Keramik Jumlah 2012 4.009 2015 5.143 59.570 25.

4.331 66.31. terjadi peningkatan sekitar 55 persen jumlah total kebutuhan energinya. Industri pupuk hanya Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 147 .161 129. Terlihat bahwa setiap jenis industri memiliki karakteristik yang berbeda-beda untuk kebutuhan energinya.408 2025 29.669 1.644 59.213 189.690 592 10.589 1.950 832 38.650 535 6.30.466 5.Tabel 6.32 menunjukkan persebaran kebutuhan setiap jenis energi untuk setiap jenis industri yang padat energi pada skenario BaU.688 301.595 222.763 61. 1.202 238.768 321.479 891. diolah INDEF (2012) Tabel 6.450 786 38.259 248. Pada tahun 2025.408 146.955 413. 5. 3.348 58. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada Skenario Akselerasi disertasi Efisiensi (gWh) No. 4.833 149. 6. diolah INDEF (2012) Kebutuhan energi pada skenario akselerasi hanya meningkat sebesar sekitar 10 persen dibandingkan dengan pada skenario BaU.413 Sumber: Masing-masing Asosiasi Industri. Satuan Baja Tekstil Pupuk Pulp dan Kertas Pengolahan Kelapa Sawit Semen Keramik Jumlah 2012 4.864 2025 19.027 183. 7.110 559 10.497 2015 9. Tabel 6.150 505 6.232 820.408 1. 6.404 150. pada tahun 2012. 1.464 43.309 38.120 22. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan akselerasi membutuhkan dukungan semua pihak dalam rangka mengamankan pasokan energi untuk 7 industri terpilih yang padat energi. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada Skenario Akselerasi (gWh) No. 5.497 1. 2. 3.680 25. 7.392 252. 2.589 5.030 Sumber: Masing-masing Asosiasi Industri.230 2015 6.600 404. Satuan Baja Tekstil Pupuk Pulp dan Kertas Pengolahan Kelapa Sawit Semen Keramik Jumlah 2012 3.

729 7.900 17.173 1. Jenis Industri Skenario BBM 1.000 16.000 92 80 0 6.805 43.713.240 8.756. Tekstil Batubara Gas Alam Listrik BBM 3.381.790 2015 130.000 141.000 28.275.014. dan limbah pertanian lainnya.900 3.694 0 0 601.000 17.626. Tabel 6.000 102 89 0 8.841 49.770 19.480 0 129.268. sabut.180 1. kebutuhan energi lainnya sangat kecil sehingga diabaikan.890.000 308. Hal ini sesuai dengan karakteristik kedua industri tersebut yang berinteraksi dengan produk pertanian.900.091 14. Keramik Batubara Gas Alam Listrik BBM Batubara TOTAL Gas Alam Listrik Biomass Satuan Kilo Liter Ton MMBTU gWh Kilo Liter Ton MMBTU gWh Kilo Liter Ton MMBTU gWh Kilo Liter Ton MMBTU gWh gWh Kilo Liter Ton MMBTU gWh gWh Kilo Liter Ton MMBTU gWh Kilo Liter Ton MMBTU gWh Kilo Liter Ton MMBTU gWh gWh 2012 104. Pengolahan Kelapa Sawit Gas Alam Listrik Biomass BBM 6.700 101.621 118.173 167.601 1.113 627.959 2025 273.360.862 61.733 7.401 95.870 13.586 1.000 19. Pupuk Batubara Gas Alam Listrik BBM Batubara 4.602 235.000 0 7.065.120 29.300.090 26.000 0 573.000.000.582 0 51.301 7.840 5.570.388.000 23.120 639.270 59.041 735 730.118.075 29.147 28.32. Baja Batubara Gas Alam Listrik BBM 2.000 271.155 5.911 26. Semen Batubara Gas Alam Listrik BBM 7.000 142 125 0 24.238 2.010 43. diolah INDEF (2012).400.000. Industri pulp dan kertas dan industri pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi biomass yang terdiri dari sekam.038 519.000 0 23.292 0 0 1.385 500.000 0 391.552 1.895 Sumber: Masing-masing Asosiasi Industri.181 22.000 14.membutuhkan energi gas saja.898 96.682 9.000 0 349.500 5.710 12.624 1.298 583 623.207. 148 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .575 0 60.803 77.314.100 91.386 0 0 478.440 8.000 0 5.615. Pulp dan Kertas Gas Alam Listrik Biomass BBM Batubara 5.310.791 26.000 445.048 35.025 17.627 40.791.687. Proyeksi Kebutuhan Energi 7 Industri Terpilih pada Skenario Business as Usual No.

627 MMBTU dibutuhkan pada tahun 2012.360. terbanyak diserap oleh industri semen sekitar 90 persen. Dalam terminologi yang umum.805 gWh pada tahun 2025. Sebagai catatan. dan keramik. yang kira-kira setengahnya dijual ke luar negeri.791 KL pada tahun 2025. sebagian besar diserap oleh industri pulp dan kertas dan industri tekstil.1 juta ton tersebut. Sebagai perbandingan.500 MMSCFD.756. Sehingga kebutuhan BBM industri pengolahan hanya mencakup sekitar 1 (satu) persen dari volume konsumsi BBM nasional.360. meskipun masuk dalam kategori padat energi.7 juta ton pada tahun 2025.401 MMBTU pada tahun 2025.Dari kebutuhan BBM sebanyak 623.401 MMBTU pada tahun 2025. sekitar 66 juta KL. Karena itu kebutuhan batubara riil untuk konsumen domestik jauh lebih besar dari angka 7. memerlukan energi dalam bentuk yang lain. sisanya oleh industri tekstil dan pulp dan kertas. baik BBM subsidi maupun non-subsidi.391 MMSCF per hari. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 149 .000 KL pada tahun 2012 dan 1. Batubara juga dibutuhkan oleh sektor tenaga listrik dan ekspor. kebutuhan konsumsi BBM di Indonesia saat ini. Dari kebutuhan listrik sebanyak 40.791.756. Dari kebutuhan gas alam sebesar 1.391 MMSCFD atau kebutuhan sebesar 1.268. Sisanya diserap oleh industri baja. Dari kebutuhan batubara sebanyak 7.911 gWh pada tahun 2012 dan 95. yang meningkat menjadi 1. sekitar 50 persen. yang berada diluar cakupan kajian ini. terbanyak diserap oleh industri pulp dan kertas. Industri lain. Gas alam atau gas bumi sebanyak 500. produksi gas Indonesia saat ini sekitar 5. industri pupuk menyerap sekitar 96 persen. tekstil. serta industri semen. kebutuhan gas alam pada tahun 2012 dinyatakan dalam satuan MMSCFD atau sebesar 1.1 juta ton pada tahun 2012 dan 26.

150 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .

karena hanya sedikit menggunakan energi yang berasal dari fosil.1. Hasil analisis dari 9 subsektor industri terdapat 4 kelompok industri yang memiliki porsi pengeluaran untuk energi lebih dari 17 persen terhadap total biaya input. barang dari kulit dan alas kaki. (c) industri pupuk. Rendahnya intensitas penggunaan pada sub sektor industri barang kayu dan hasil hutan. Kesimpulan 1. Sementara porsi gas hanya sebesar 5. Di lain pihak.90 persen). (b) industri tekstil. Pemenuhan kebutuhan energi sektor industri di Indonesia secara umum masih didominasi oleh solar (35. dan listrik (26.02persen). minuman dan tembakau. (d) industri semen dan barang galian bukan logam. kimia dan barang dari karet. industri barang kayu dan hasil hutan lainnya merupakan industri yang porsi untuk pengeluaran energi paling kecil. Pada tahun 2010.39 persen).75 persen dan bensin 3.11 MMSCFD. dan lebih banyak menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT). Padahal. terdapat defisit pemenuhan kebutuhan Gas untuk sektor industri sebesar 445. Keempat industri tersebut adalah: (a) industri makanan.BAB VII PENUTUP 7. 2. batubara (28.95 persen dari total konsumsi energi sektor industri. dimana Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 151 . 3. potensi gas alam di Indonesia sangat besar dan termasuk sumber energi ramah lingkungan serta berpotensi menjadi sumber energi yang lebih efisien karena tidak perlu diimpor.

Porsi kebutuhan energi pada industri pupuk mencapai sekitar 60 persen dari total kebutuhan energi 7 industri terpilih. sementara industri baja dan semen relatif sama yaitu sekitar 6 persen. Setelah industri pupuk.03 MMSCFD. Defisit pemenuhan kebutuhan gas untuk industri ini mengalami peningkatan pada tahun 2011. 4. dan (7) industri pengolahan kelapa sawit.467. Hal ini dikarenakan kebutuhan gas untuk industri pupuk bukan hanya untuk bahan bakar. (3) industri tekstil. Sementara hasil proyeksi untuk tahun 2015 kebutuhan energi untuk 7 industri terpilih 152 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . sementara pasokan gas hanya sebesar 1. (5) industri baja. 6. Hal ini dikarenakan kebutuhan gas meningkat menjadi 2. Pasokan energi untuk 7 industri padat energi pada tahun 2012 mencapai 226.400. 5. dimana defisitnya meningkat menjadi sebesar 602. yaitu sekitar 23 persen dari total kebutuhan energi industri yang padat energi pada tahun 2012.912. teridentifikasi ada 7 (tujuh) jenis industri yang merupakan industri padat energi.55 MMSCFD sementara pasokan gas hanya sebesar 1.kebutuhan gas sebesar 1. Jika kebutuhan energi difokuskan hanya untuk bahan bakar saja. (2) industri pulp dan kertas.009 gWh.5 MMSCFD. diikuti oleh tekstil sebesar 23 persen. yaitu sekitar 61 persen dari total kebutuhan energi pada industri padat energi. Tingkat kebutuhan energi pada 7 industri padat energi dalam kajian ini menunjukkan bahwa industri pupuk merupakan industri yang paling padat energi.44 MMSCFD. Yaitu (1) industri pupuk. industri pulp dan kertas menempati urutan kedua. Dari 9 sub sektorsektor industri. maka industri pulp dan kertas mendominasi kebutuhan energi pada tahun 2012. Total kebutuhan energi pada 7 industri tersebut mencapai sekitar 70 persen dari total kebutahan energi pada sektor industri. (4) industri semen. tetapi juga untuk bahan baku.003.44 MMSCFD. (6) industri keramik. 7.

proyeksi kebutuhan energi pada tahun 2025 pada 7 industri padat energi adalah : (a) kebutuhan BBM sebanyak 1.401 MMBTU.791 KL. Jika terjadi akselerasi industri. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 153 . industri pupuk menyerap sekitar 96 persen. Namun jika disertai efisiensi akan berkurang menjadi 423. Efisiensi penggunaan energi akan mengakibatkan pengurangan konsumsi energi sebanyak 12 persen atau senilai kurang lebih Rp37 triliun.534 gWh. Sementara jika terjadi akselerasi industri kebutuhan energi mencapai 321.525 gWh.7 juta ton.4 ribu gWh. Pada 2025.360. tentu saja akan terjadi lonjakan kebutuhan energi. dan keramik. (b) Kebutuhan batubara sebanyak 26. sekitar 50 persen. terbanyak diserap oleh industri semen sekitar 90 persen.268. 8. Berdasarkan jenis penggunaan energi.1 ribu gWh.756. jika terjadi akselerasi industri dibutuhkan energi sebanyak 484. Namun jika akselerasi disertai efisiensi akan mampu melakukan penghematan energi. Sebagai contoh kebutuhan energi pada tahun 2025 akan meningkat sebesar 55 persen dibandingkan dengan skenario BaU.864 gWh. Dengan demikian untuk pemenuhan kebutuhan energi pada tahun 2015 dengan skenario BaU masih perlu tambahan pasokan energi sebesar 50.466 gWh. (c) Gas alam atau gas bumi sebanyak 1. sisanya oleh industri baja. 9. Sementara jika dengan skenario akselerasi diperlukan tambahan pasokan energi sebesar 95.457 gWh.855 gWh. sisanya oleh industril tekstil dan pulp dan kertas. yang sebagian besar digunakan untuk bahan baku. Namun jika akselerasi disertai efisiensi maka tambahan pasokan energi yang dibutuhkan sebesar 75. dimana terbanyak diserap oleh industri pulp dan kertas.dengan skenario BaU mencapai 276. tekstil. Namun jika skenario akselerasi diserta efisiensi maka kebutuhan energi mengalami penurunan menjadi 301.

2. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan industri.10.2. maka skenario akselerasi disertai efisiensi merupakan skenario yang paling ideal untuk diimplementasikan. Dengan demikian. PLN perlu meningkatkan kapasitas pasokan energi untuk industri agar industri dapat mengurangi kebutuhan BBM untuk bahan bakar dan mendapatkan sumber energi yang lebih efisien. 7. Rekomendasi Umum 1. terbatasnya pasokan energi. Untuk mengurangi ketergantungan penggunaan energi fosil. maka perlu dilakukan efisiensi penggunaan energi. Rekomendasi 7. Dalam rangka pemenuhan defisit kebutuhan gas untuk sektor industri di dalam negeri. mengurangi intensitas penggunaan energi dan agar dapat meningkatkan daya saing industri. 3. Seiring meningkatnya harga BBM maka penggunaan batubara dan gas alam sebagai sumber energi alternatif perlu lebih ditingkatkan. maka mutlak diperlukan upaya akselerasi industri. Penggunaan batubara terintegrasi dan terlokalisasi di pembangkit listrik PLN bertujuan untuk menghasilkan sumber energi yang lebih efisien dan meminimalisasi pencemaran. dari ketiga skenario yang dilakukan dalam kajian ini.2. Dalam hal penggunaan batubara dan gas. Kebijakan penggunaan gas seyogyanya diprioritaskan dalam rangka 154 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . maka perlu dilakukan evaluasi terkait besarnya porsi gas yang di ekspor. serta untuk meningkatkan daya saing industri maka semua industri juga wajib melakukan efisiensi. upaya penyediaan suplai listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan sumber energi pembangkit dari batubara perlu ditingkatkan.1. Sementara di sisi lain. tingginya intensitas penggunaan energi pada hampir semua industri dibandingkan negara lain.

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi sektor industri yang efisien maka perlu dikoordinasikan antara perencanaan pembangunan kawasan industri (sisi demand/ hilir) dengan rencana pembangunan rantai pasok energi (sisi supply/sisi hulu). (b) Perlu membuat industri pengelola limbah yang terintegrasi dengan berbagai industri yang lahap energi. (c) Perlu kajian yang lebih mendalam terkait kebutuhan energi pada industri terpilih terutama terkait dengan perubahan penggunaan teknologi. 7. dukungan dan peran serta antar pemangku kepentingan. Terkait dengan temuan skenario yang ideal untuk mencapai akselerasi industri yang hemat energi (skenario akselerasi disertai efisiensi). 6. Limbah hasil pengolahan industri bisa dihubungkan dengan industri pengolahan limbah B3. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 155 . 4. Disamping 7 industri terpilih. ke depan industri makanan dan minuman juga perlu dianalisis mengingat jumlah industri makanan dan minuman sangat besar sehingga kebutuhan energinya cukup besar dan cakupan skala industrinya yang beragam. maka perlu kajian lebih mendalam untuk mengupayakan agar skenario ini dapat diimplementasikan dengan baik.pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri dalam rangka mendukung program akselerasi industri daripada memposisikan gas sebagai instrumen untuk penerimaan devisa negara. dalam satu wilayah industri bisa dibuat satu industri pengumpul limbah yang berfungsi sebagai distributor limbah yang akan memanfaatkan limbah sebagai bahan bakar. Dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan energi. 5. beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain : (a) program restrukturisasi permesinan pada berbagai sektor industri yang disertai dengan sejumlah insentif. Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar ini akan sejalan dengan tujuan mewujudkan green industry. Perlu dikaji secara mendalam koordinasi.

2. Pemerintah perlu mendorong penelitian-penelitian yang dapat menghasilkan penemuan-penemuan inovatif dalam rangka penghematan (efisiensi) energi di sektor industri dan upaya untuk mendorong penggunaan energi alternatif terbarukan.2. dampak lingkungan yang ditimbulkan dari penggunaan batubara yang semakin banyak harus mampu dieliminir dengan cara menciptakan suatu industri pengelola limbah yang terintegrasi dengan industri semen. • Pada umumnya mesin produksi baja sudah tua sehingga efisiensi penggunaan energi dan daya saing rendah. Rekomendasi Masing-masing Industri Terpilih 1. 156 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . oleh karena itu perlu kebijakan insentif investasi (misal tax holiday) terutama untuk industri baja yang melakukan peremajaan permesinan maupun ekspansi. Industri Semen • Konsekuensi dari target peningkatan produksi semen nasional untuk mengejar ketertinggalan konsumsi semen per kapita dengan negara-negara lain adalah kebutuhan energi (batubara) yang semakin meningkat. agar kebutuhan energi sektor industri terintegrasi dengan sisi pasokan energi.2. Kementerian Perindustrian dengan instansi terkait (utamanya kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral/ESDM) perlu membuat neraca kebutuhan energi. Industri Baja • Penggunaan batubara sebagai sumber pembangkit listrik perlu dilakukan sebagai pengganti dari sumber energi gas alam yang tingkat risiko ketersediaannya relatif rentan dan harganya yang relatif lebih mahal. serta bagi pembangunan industri baja baru yang lebih hemat energi.8. 7. Maka dalam jangka pendek. 9.

• Pemerintah perlu mendorong penelitian pada industri pulp dan kertas agar dapat menghasilkan penemuan-penemuan inovatif dalam rangka penghematan (efisiensi) energi di industri ini.• Dalam jangka panjang. • Teknologi gasifikasi mempunyai peluang untuk meningkatkan efisiensi pada industri pulp dan kertas yakni dengan penggunaan black liquor. Namun. Teknologi lain yang bisa digunakan untuk menghemat energi adalah penggunaan teknologi pengering yang efisien. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 157 . penggunaan gas alam dalam industri ini harus disertai dengan jaminan ketersediaan pasokan. 4. Diversifikasi energi dapat dilakukan dengan cara mensubsitusi energi dari batubara ke energi yang lebih tinggi kalorinya untuk meningkatkan efisiensi. Industri Pupuk • Pentingnya memastikan tersedianya kebutuhan gas alam yang mencukupi bagi industri pupuk untuk mendukung tercapainya peningkatan ketahanan pangan nasional. Pemerintah perlu mendorong integrasi antar pabrik pulp dengan pabrik kertas. Teknologi ini sering disebut black liquor gasification-combined cycle (BLGCC) yang tidak hanya bisa digunakan untuk bahan bakar black liquor saja tetapi dapat juga menggunakan biomas seperti kulit dan potongan kayu. 3. hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pada industri pulp dan kertas. seperti penggunaan gas alam. Industri Pulp dan Kertas • Mengingat strategisnya industri pulp dan kertas. industri semen harus mampu melakukan diversifikasi dan konservasi energi.

Penggunaan batubara juga akan membuat industri ini lebih kompetitif baik di pasar domestik maupun internasional. mesin rajut. Oleh karena itu perlu pembaharuan pabrik/mesin/teknologi pada industri pupuk untuk meningkatkan efisiensi konsumsi energi. antara lain dengan penggunaan tenaga listrik dari batubara (penggunaan batubara terintegrasi di PLN agar lebih ramah lingkungan dan meminimalisasi pencemaran) dan suplai gas untuk PLN dijaga dan ditingkatkan untuk mendukung tumbuh-kembangnya industri tekstil.• optimalisasi kapasitas produksi pada industri pupuk perlu mendapat perhatian khusus sehingga efisiensi produksi pada industri pupuk dapat meningkat. jika perlu skalanya diperluas terutama untuk mesin-mesin spinning. • Dukungan penyediaan suplai listrik oleh PLN perlu diperbesar. • Jaminan kelangsungan energi bagi industri tekstil sangat penting. minimal rata-rata efisiensi menjadi 86% seperti yang pernah dicapai pada tahun 2004 dan 2009. mesin tenun. serta mesin garmen agar industri tekstil dapat lebih berkembang dengan penggunaan energi yang semakin efisien. Seiring meningkatnya harga BBM maka penggunaan batubara sebagai sumber energi alternatif bagi pembangkit listrik lebih sesuai. Industri Tekstil • Pentingnya melanjutkan program restrukturisasi permesinan tekstil seperti yang sudah dijalankan. 158 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . untuk itu perlu konversi sumber energi yang sesuai. 5. • Salah satu permasalahan klasik pada industri pupuk adalah kondisi pabrik yang sudah tua.

Ke depan. Industri Keramik • Pertumbuhan konsumsi keramik nasional yang lebih tinggi daripada pertumbuhan kapasitas terpasang maupun produksinya akan mengakibatkan impor keramik yang semakin tinggi. 7. kerjasama penelitian dan pengembangan antara pemerintah. dll. insentif bagi perusahaan sawit yang mengalokasikan/ menginvestasikan dananya dibidang riset.6. Negara lain seperti Vietnam sudah lebih berhasil dalam hal penghematan penggunaan energi bagi industri keramiknya. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 159 . Industri keramik harus dapat melakukan konservasi energi dengan cara melakukan penghematan penggunaan gas. Konsekuensi dari target pemenuhan kebutuhan keramik nasional adalah harus tersedianya pasokan energi (gas) untuk industri keramik yang sesuai dengan kebutuhannya. • Peningkatan pemanfaatan biomas dari limbah kelapa sawit dan pengembangan biofuel dari minyak sawit. Upaya ini antara lain dapat dilakukan melalui peningkatan anggaran dan investasi Litbang. oleh sebab itu produksi keramik nasional harus ditingkatkan dengan pertumbuhan yang lebih besar dari pertumbuhan konsumsinya. Industri CPO • Pemerintah perlu mendorong penguatan penelitian dan pengembangan (Litbang) kelapa sawit untuk meningkatkan inovasi penggunaan sumber energi/bahan bakar ramah lingkungan dan percepatan hilirisasi. • Untuk memperbesar kapasitas produksi. industri keramik membutuhkan kenaikan pasokan gas rata-rata 8 hingga 10 persen per tahun. swasta dan lembaga penelitian termasuk perguruan tinggi.

160 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .

2010. Indonesia Commercial Newsletter. Review On Energy Efficiency In Malaysia FIPGB. Jakarta. KESDM. 2011. Pulp dan Kertas “Emas Hijau yang Memukau” (Peluang. Jakarta. Yaitu Batubara. SNI Penguat Daya Saing Bangsa BPS. 2011. Badan Standarisasi Nasional. 2012. dan Tantangan) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Indonesia Cement Statistic 2011. 2012. Perkembangan Industri Prioritas IEA. 2010. 2012. 2012.Permasalahan Atas Alternatif Sumber Energi. Harapan. Untuk Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Kebutuhan Gas Bumi untuk Industri dalam negeri. 2012. Kerangka Kebijakan dan Instrumen Regulasi Konservasi dan Efisiensi Energi Energy Commission of Malaysia. Direktori 2011 Industri Pulp dan Kertas Indonesia. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). 2012. World energi Outlook Report Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 161 . Kebijakan dan Potensi Efisiensi Energi Di Indonesia Ditjen EBTKE. Statistik Industri Besar dan Sedang BPS Ditjen EBTKE. 2010. KESDM. 2012. 2007. Energi Untuk Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Nasional Asosiasi Semen Indonesia.Daftar Pustaka Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.

Prospektus PT KS. 2011. 2 November 2010 PT. Adler. Prosiding Seminar Teknologi Pulp dan Kertas 18 November 2009 162 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi . Energy. Krakatau Steel Tbk. 2012. June 1999 Sugiyono. Agus. Battles and Robert K. 2011. 15 Maret 2012 Stephanie J. 2010. 2011. Krakatau Steel Tbk. 2012. Peraturan Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur No. 1999. Akselerasi Industrialisasi 20122014 Kementerian Perindustrian. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional (PEN) Kementerian Perindustrian. Rencana Strategis Kementrian Perindustrian 2010-2014 Kementerian Perindustrian. Analyst Meeting PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. and Carbon Emissions: A Data Profile of the Iron and Steel Industry. American Council for an Energy Efficient Economy Summer Study on Energy Efficiency in Industry. 2006. Production. Handbook Energy 2010 Kementerian ESDM.Indonesian Iron and Steel Industry association (IISIA). Penggunaan Energi di Industri Pulp dan Kertas: Aspek Teknologi dan Lingkungan. Perkembangan Baja Kementerian ESDM. 2012. 2009.01/BIM/PER/1/2011 Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2004 Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2005 Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2006 Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2007 Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2008 Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2009 Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2010 Laporan Tahunan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Holding) 2011 PT.

.shnews.bisnis.okezone.html http://www.sca.pdf http://id.html http://suarapengusaha.php http://www./03200701.com/articles/industri-pulp-and-kertas-mintakesiapan-pasok-gas http://www.bestconverter.id/publications/prosiding/3 Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | 163 .go.info/html/natgasunitscalculator.bumn.djmbp.com/read/2012/01/24/19/562608/hargagas-ekspor-lebih-mahal-dari-domestik http://www.com/en/publicationpapers/environment/climatechanges/energy-management-system/ http://www.tambangnews.natgas..foe.co/detile-3755-membedah-potensi-industripulp-dan-kertas.com/2012/11/01/harga-domestik-lebihbaik-kurtubi-juga-desak-penghentian-ekspor-gas/ http://www.go.uk/resource/briefings/consequence_pulp_pape r.com/articles/hendi-prio-santoso-harga-gasakan-ekuilibrium http://economy.com http://www.html http://www.pdf http://www.bbpk.nsf/c5d55c8977 8dd4cb472570bb002ebda6/b0b6900aec7d32df4725737d00 115344?OpenDocument http://www.bisnis.asiapulppaper.esdm.html http://www.co.esdm.html http://www.go.id/berita/migas/40-migas/5931-harga-jualgas-industri-naik-.com/serba-serbi/database/1810-inilahharga-bbm-non-subsidi-periode-15-januari-2012.co/detile-4474-industri-pulp-dan-kertas-rimakin-dominan.go.id/sijh/HBA%20Oktober%202012.fajarpaper.html http://www.http://www.id/wp.shnews.org/unitconverter_energy.com/portal/APP_Portal.

Turun 164 | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi .html http://bisniskeuangan.http://apki.kompas.blogspot.com/articles/industri-pulp-and-kertas-perlutambahan-1-5-juta-hektare-lahan http://indonesiannewnews.com/2012/05/indonesiaberpotensi-rebut-pasar-pulp.com/read/2011/02/28/0337350/Tar if.bisnis.Industri.Listrik.net/?p=2001 http://www.

LAMPIRAN .

102 4.824 84.745.157 1.217 2.631 2.007 2.118 3.671 21.320 43.388.1.041 1.821 1.152.552 23.631 2.217 877.631 2.868.173 47.971 16.202 3.897 1.546 20.735 78.174.227 0 0 0 188 389 135 20.125 -4.546 20.229.335 4.384.615 8.297.338.898 3.246 10.546 20.602 19.313 48.126 1.105 12.208 1.460.384 1.631 0 0 0 95 95 95 20.631 0 0 0 95 95 95 7.656 2.631 2.545 20.512 12.053 2.042 2.940 681.217 2.631 2.118.319 7.631 2.935 1.217 877.261.631 0 0 0 95 95 95 38.991 320.470 0 0 0 35 126 25 2020 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 40.217 877.159 43.289 23.362 5.609 128.197.151.952 798.580 5.671 15.217 877.217 2.613 22.474 10.546 20.683 1.566 3.596 0 0 0 93 294 40 2025 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 59.546 20.217 2.546 877.392 2.546 877.635 3.631 2.631 2.872 131.034 4.217 877.663 528.546 877. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI BAJA KEBUTUHAN Tahun SKENARIO Batubara (Ton) Gas (MMBTU) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) PASOKAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) KEKURANGAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) PROYEKSI 2012 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 22.765 188.355 206.412.631 2.028 0 0 0 104 109 72 20.631 2.580 534.621 6.546 20.121 3.168 6.511.554 731 2.567 2.830.781 1.546 877.546 877.106 0 0 0 178 591 5 .030.631 0 0 0 95 95 50 2.582 490 411 -603 0 0 0 17 14 26 2014 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 26.039 990 3.080 0 0 0 25 105 22 2015 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 28.546 877.275 738.217 877.546 20.546 20.065.217 877.546 20.631 2.101 0 0 0 130 221 120 20.167 953.711 0 0 0 120 200 117 20.900 2.256 3.771 3.866 63.951 5.631 2.627 27.825 267 411 -603 0 0 0 9 14 22 2013 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 24.224 5.841 7.217 613.117 508.042 2.558.665.028.737 0 0 0 273 686 100 20.810 185.006 3.217 877.114 2.262 8.542.210 4.278 63.089 745.546 20.631 0 0 0 95 95 95 5.729 13.217 877.743 3.631 0 0 0 95 95 42 3.151 4.615.546 20.238 1.125 495 351.479 9.217 720.520 1.021 240.028 0 0 0 112 109 68 20.767 27.217 877.155 148.

168 5.656 10.829 1.141 6.694 30.964 566.998 10.340.397.887.001 11.226 7.121.021.323 992.517 0 0 0 -218 -195 -209 Gas (MMBTU) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) PASOKAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) KEKURANGAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) 2013 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 556.190.315 0 0 0 110 169 126 1.091 13.664 8.168 5.121.526 25.829 1.121.051.699 2.986.803 31.373.165 7.208 -205.121. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL KEBUTUHAN Tahun SKENARIO Batubara (Ton) PROYEKSI 2012 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 519.358 22.168 5.828 1.641.190 17.323 5.092.002 -86.662.451 0 0 0 -196 -112 -177 2020 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 902.829 1.634.900 14.353 0 0 0 166 488 165 1.383.680.522.972.708 0 0 0 102 141 115 1.332.091 8.114 8.900 150.721 75.014.081 21.520.169 5.121.904 19.693 -274.261 10.830 992.622 916.168 0 0 0 350 314 314 -525.323 992.880.371.323 992.829 1.978.168 0 0 0 313 313 314 -564.008 11.655.121.744 12.292 177.182 0 1.652 0 0 0 -78 867 -314 .121.331 6.830 1.260 18.324 12.480 30.801.363.323 992.438 35.323 5.121.168 5.829 992.182.865 -555.829 1.185 0 0 0 -147 173 -149 2025 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 1.168 0 0 0 313 315 314 -219.121.413 21.168 5.129.169 0 0 0 314 313 313 -602.829 992.168 5.121.829 992.346 20.121 16.505.323 992.136 1.675 9.240 1.121.186 5.275.960 59.688 7.775 14.525 17.218 12.647.965 2.386 17.136 847.169 5.365.748.323 992.589 -29.830 1.825 15.794 35.829 992.829 1.690.829 1.068 155.654 7.128 64.121.980.654.323 992.275.619 0 0 0 118 201 136 1.323 992.818 67.168 5.119 7.603 6.323 5.121.437 9.830 1.451 9.207.820 0 0 0 235 1.035.421 11.323 992.323 5.980 -353.323 5.245 16.323 992.829 992.063 693.124 171.096 -477.227 24.124 16.121.249 26.168 5.2.452 9.202 12.121.384.147 0 0 0 -240 -145 -188 2015 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 639.168 0 0 0 313 315 314 153.168 0 0 0 314 313 313 -482.733 643.830 1.838 12.121.829 1.543 8.686 0 0 0 96 118 104 1.121.214.286 7.168 5.798 11.121.756.130 1.168 5.048 86.540 0 0 0 -211 -172 -199 2014 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 596.850 768.514.471 30.059.324 992.114 34.376.015 6.768 7.398 74.514 25.774 10.323 992.986 73.626.290 6.585 15.698.324 5.725 85.121.953 17.767 -428.577 13.

000 187.000 136.400 7.000 98 137 129 85 137 113 13 18 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2015 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 5.500 101.650 141.500 8.800 91.000 120.900 119.000 124.300 7.000 127.3.000 133.100 7.000 142 199 188 124 174 165 19 27 25 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 .000 132.200 6.000 94 132 125 82 116 109 12 18 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2014 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 5.000 198.000 11.300 97. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI CPO KEBUTUHAN Tahun SKENARIO Batubara (Ton) Gas (MMBTU) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) PASOKAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) KEKURANGAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) PROYEKSI 2012 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 5.000 120 168 159 105 147 139 16 22 21 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2025 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 8.000 167.000 129.700 8.000 91 128 121 80 112 106 12 17 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2013 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 5.000 101 142 134 88 124 117 13 19 18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2020 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 6.700 9.000 94.500 7.000 158.000 141.280 10.700 7.000 7.

520 364 409 373 2020 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 367.4.220.130.000 1.000 19.300 1.530.040 18.000 20.000 1.150.690 546 955 821 .440 18.300 1. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI PULP DAN KERTAS KEBUTUHAN Tahun SKENARIO Batubara (Ton) Gas (MMBTU) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) PASOKAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) KEKURANGAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) PROYEKSI 2012 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 271.000 310.950 27.830 29.000 1.000 13.090.000 15.000 29.000 637.870 33.000 23.000 35.000 19.120.790 17.000 1.220 472 737 618 22.000 1.740 72.740.000 17.000 1.000 39.560 18.000 293.040 322 363 354 2013 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 281.000 306.820.650 362 405 362 20.000 14.690 28.270.000 20.090.000 327.000 1.000 40.000 274.000 34.350 30.000 13.000 572.300 1.790.840 31.000 14.000 20.030 27 27 27 271.130.000 274.250 45.000 261.980 41.000 20.040 2.000 23.310 28.300 2.000 303.710 29.000 17.000 281.870.670 27.000 14.810 17.000 1.730 573 982 847 22.030 26 27 26 345.120.040 27 27 27 283.000 338.300 1.300 1.300 2.890.000 762.340 19.040 2.040 19.000 1.090.000 30.770 74.350.030 2.190 446 710 592 2025 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 445.000 15.680.290 47.090 36.080 349 391 380 21.030 348 393 353 2015 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 303.250 27.950.000 15.000 15.090.300 2.000 1.800.680 40.000 552.000 22.000 1.130.000 1.130.000 20.690.310 2.000 20.000 16.040 2.300 1.000 28.000 459.000 20.130.000 1.770.000 21.790 17.670.000 15.030 2.220 36.000 16.000 479.060 375 420 380 20.000 1.000 315.030 2.800.000 289.100.000 283.260 17.000 1.300 1.000 16.000 26.600 28.690 27.620.560.000 17.000 21.000 17.720 28.000 1.300 1.660 32.000 24.020 30.000 294.790 34.120 41.040 27 27 26 423.000 22.120 21.000 294.000 1.040 2.000 15.300 26.710 46.610 336 378 335 2014 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 291.000 16.180.040 2.300 1.000 1.000 15.040 27 28 26 250.000 1.890.940 62.000 657.000 318.990.000 17.300 1.090 27.090.920 34.000 14.100.130 29.090 56.980 64.000 15.000 16.040 2.300 2.010 47.790 27.420 43.020.000 21.000 20.100.000 1.130.000 17.410.090 19.510 16.180.310 24.000 15.870.310 1.300 1.000 18.000 18.040 2.000 1.090 18.000 25.000 15.570.340 20.300 2.000 1.540.560 29.040 26 27 27 261.560 391 436 400 20.620 30.750.230.090.000 16.050 54.000 20.310.920 25.740 19.000 1.000 14.610 26.600.720 30.000 1.130.480.390 25.630.080.000 18.810 20.130.000 742.030 2.040 2.

000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 123.000.000 253.000 1.000 393.090.000 393.000.000 923.000 538.000.000 646.000.000.000 627.5.000 393.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 85.000.000 393.000.000.000 393.000.000.000.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 .000.000.410.000 1.000.000.000.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 960.019.000.000 393.000 885.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2020 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 1.000.000 393.000.000 601.000.000 1.000 393.000.000 478.000.000 393.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 492.000.000 514.000 1.000 530.000.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2013 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 820.000.000.000 393.000.000.000 516.410.370.000 121.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 164.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 820.000 162.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 890.000 393.000.000.000.000.000.000.000 393.090.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 921.000 393.000 234.000.000 559.000.000 393.000 499.000 581.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2025 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 2.000 599.000.000.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.000.000 393.000.000 557.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2014 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 890.000 106.000 952.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 208.000 977.314.000 555.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2015 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 960.000.000.000 393.000.000.000.000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 760.000.000.000 393.000.000 393.000.000 145.000.000.000.000. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI PUPUK KEBUTUHAN Tahun SKENARIO Batubara (Ton) Gas (MMBTU) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) PASOKAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) KEKURANGAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) PROYEKSI 2012 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 760.000 188.412.000.000 206.

874 17.000 5.500.000 0 0 204.428 0 0 0 0 0 0 1.429 5.958 5.400.836 0 0 0 0 0 0 2025 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 24.200.230.428 5.880.000 3.000 5.520.348 0 0 0 0 0 0 5.550.429 5.000 23.000 9.000 19.000 0 0 69.000 600.000 0 0 96.000 4.428 5.429 0 0 0 0 0 0 590.890.800.000 5.000 7.000 0 0 82.220.000 0 0 43.324 15.000 1.000 0 0 113.800.958 5.429 0 0 0 0 0 0 9.348 7.806 8.960.495 7.628 1.200.000 0 0 12.094 8.300.000 2.660.900.000 40.449 7.800.000 3.745 32.957 5.836 15.488 7.610.000 0 0 63.957 5.300.800.084 8.000 16.000 880.000 3.066 2. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI SEMEN KEBUTUHAN Tahun SKENARIO Batubara (Ton) Gas (MMBTU) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) PASOKAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) KEKURANGAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) PROYEKSI 2012 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 6.000.806 0 0 0 0 0 0 5.862 6.379 0 0 0 0 0 0 5.585 6.000 0 0 493.210.300.250.066 0 0 0 0 0 0 2014 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 7.700.000 22.428 5.100.720.379 6.428 5.665 3.000 12.429 5.500.320 38.000 5.429 0 0 0 0 0 0 2.900.000 0 0 69.495 0 0 0 0 0 0 5.892 32.500.800.320 0 0 0 0 0 0 5.000 4.000 46.803 10.000 3.880.840.042 13.390 2.957 5.000 3.660.000 3.265 21.375 4.243 434 950 950 0 0 0 0 0 0 2013 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 6.000 9.428 5.919 0 0 0 0 0 0 2020 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 14.300.428 5.300.958 5.000 0 0 69.670.000 6.000.000 10.000 0 0 69.378 0 0 0 0 0 0 2015 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 8.173 38.021 2.940.892 0 0 0 0 0 0 .000 5.428 0 0 0 0 0 0 19.831 23.000 5.265 0 0 0 0 0 0 5.290.000 0 0 69.100.000 0 0 423.600.000 0 0 69.200 5.820.300.200.000 3.000 1.429 5.100.000 0 0 26.428 5.919 4.000 3.680.000 3.752 21.429 5.400.378 3.000 6.429 0 0 0 0 0 0 1.200.000 0 0 133.6.710.348 10.000 0 0 274.000 5.530 1.840.

465 2255.042 51.169 3.459 2255.424 540 539 540 0 0 0 2.253 3.631 2.635 680 758 721 0 0 0 2.408 170.509 6.955 540 958 883 0 0 0 0 0 0 51.102 115.997 1.508 0 0 0 6.762 540 540 540 0 0 0 2255.586 2.309 43 65 35 0 0 0 180 271 144 375 574 432 586 913 755 813 1.079 1.7.042 540 539 540 0 0 0 2255.469 3.459 2255.517 16.465 2255.042 51.042 539 539 540 0 0 0 2255.594 57.041 540 540 541 0 0 0 2255.178 71.526 2.459 2255.396 1.841 3.999 20.099 1.733 583 604 575 0 0 0 2.459 0 0 0 256 256 2.423 0 0 0 4.041 71.216 Gas (MMBTU) Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) PASOKAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) Batubara (Ton) Gas (MMBTU) KEKURANGAN Listrik (gWh) Biomassa (gWh) Solar (Juta Liter) .459 0 0 0 8.298 51.472 0 0 0 51.552 6.459 0 0 0 434 434 2.459 2255.372 2020 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 0 88.459 2255.042 51.902 630 677 644 0 0 0 2.042 46.686 4.437 1.497 1.042 51.459 0 0 0 4.981 734 849 807 0 0 0 3.046 2.511 54.140 90 137 104 0 0 0 0 0 0 51.459 2255.042 51.549 3.042 46.465 2255.476 51.999 3.294 1.220 122.255 5.298 48.459 0 0 0 78.829 2.939 195 310 267 0 0 0 0 0 0 51.625 11.041 51.593 140 219 181 0 0 0 0 0 0 51.116 2.767 8.010 2015 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 0 60.366 119.688 2014 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 0 55.459 2255.459 2255.060 64.639 2.023 10.583 128.042 51. KEBUTUHAN ENERGI INDUSTRI KERAMIK KEBUTUHAN Tahun SKENARIO Batubara (Ton) PROYEKSI 2012 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 0 51.967 0 0 0 0 0 0 51.255 2255.042 539 539 540 0 0 0 2255.942 2025 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 0 129.559 67.069 3.042 51.369 8.400 2013 BaU AKSELERASI AKSELERASI DENGAN EFISIENSI 0 0 0 51.042 51.624 179.436 2.465 0 0 0 37.476 48.042 51.

REKAPITULASI SKENARIO Business as Usual KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI KEBUTUHAN Tahun No.000 0 1.830 0 20.710 0 0 0 Solar (Juta Liter) 104 96 12 349 0 0 2.030 0 0 0 95 313 0 26 0 0 2255.042 PASOKAN Listrik (gWh) 2.000 0 55.300 0 5.841 20.040 0 0 0 95 350 0 27 0 0 2255.000 164.514.000 0 1.631 5.218 0 15.620 0 0 0 586 25 -240 0 348 0 0 .300 281.670.000 15.090 0 5.000 0 534.217 992.514 98 18.000 393.000 393.000 0 Gas (MMBTU) 877.000 0 Gas (MMBTU) 1.000 478.091 91.168 0 1.000.000 0 5.862 583 Biomassa (gWh) 0 0 80 26.000 393.021.300 0 5.631 5.631 20.980 0 261.740 0 6.121.208 0 271.000 516.436 Batubara (Ton) 20.600.000 0 256 KEKURANGAN Listrik (gWh) 267 9.000 14.000.000 557.631 5.006 -602.900.500 291.421 0 14.459 3.168 0 1.480.021 90 0 0 0 25.660.121.630.130.114 8.546 1.021 6.000 0 6.000 123.429 540 0 0 0 2.230.000.346 0 17.090.412.530.440 0 1.000.298 Listrik (gWh) 2.000.020.830 0 20.665 140 0 0 0 26.059.000.476 3.000 0 4.000 0 5.159 596.940.000 0 6.991 6.449 630 0 0 82 27.552 519.000 0 1.000 0 877.546 1.340 0 7.622 5.000.150.546 1.000 15.000 0 351.413 94 17.289 556.255 Batubara (Ton) 2.465 5.168 0 1.768 0 13.613 -525.000 0 5.000 0 51.710.300 0 5.065.898 14.998 94.552 731 11. INDUSTRI Batubara (Ton) 2012 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 22.570.042 2.428 540 0 0 0 2.594 3.040 0 0 0 Solar (Juta Liter) 95 314 0 27 0 0 2.000.660 0 0 0 120 110 13 375 0 0 2.720 0 0 0 112 102 12 362 0 0 2.000 0 7.000 0 Gas (MMBTU) 188.300.428 540 Biomassa (gWh) 0 0 0 2.042 2.000 0 877.051.323 0 1.690 0 0 0 375 17 -211 0 336 0 0 2014 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 26.229.000.217 992.100 271.829 0 21.096 0 250.121 15.670 0 0 0 180 Solar (Juta Liter) 9 -218 0 322 0 0 2013 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 24.522.323 0 1.897 7.744 97.014.040 0 1.217 992.000 0 51.000 85.000 0 51.094 680 0 0 85 28.000 0 51.238 7.743 -564.733 5.362 16.000 0 1.208 7.386 91 17.000 0 434 490 10.323 0 1.121.850 5.000 0 51.100.245 0 16.790 0 434 43 Biomassa (gWh) 0 0 0 24.000 0 590.675 0 14.

152.624 7.050 0 0 0 2.041 2.220 5.600.694 101 KEBUTUHAN 0 0 88 130 118 13 20.030 0 0 0 Solar (Juta Liter) 27 0 0 2255.000 3.124 0 26.824 902.810 0 2.509 20.121.168 12.000 0 51.369 178 -78 0 546 0 0 Sumber: BPS.155 1.000 0 Gas (MMBTU) 15.803 734 Biomassa (gWh) 29.627 -482.634.300 0 5.173 639.683 7.207.121.030.310.428 540 0 0 0 2.745 1.000.121.130 0 345.323 0 1.000.000 0 51.000 0 877.240 5.602 35.000 0 Gas (MMBTU) 1.000 0 60.000 0 51.000 23.829 0 22.729 17.186 0 423.314.000 0 5.000 445.999 Listrik (gWh) 17.631 5.180.168 0 1.800.300 0 5.214.829 0 22. Kemenperind dan Asosiasi Industri.610.000 1.292 142 28.890.870 0 0 0 Solar (Juta Liter) 391 0 0 3.428 539 Biomassa (gWh) 2.000 0 24.000 0 5.699 6.740 0 0 0 4.042 2.000 0 8.511.609 153.900 8.615.173 1.900.546 1.000 0 14.512 16.626.278 -219.000 393.000.324 540 0 0 0 34.100.010 0 23.583 4.217 992.000 0 19.550.586 0 0 124 43.752 1.000 601.090 0 0 0 188 166 16 472 0 0 4.459 Batubara (Ton) 283.042 Listrik (gWh) 1.2015 1 2 3 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO 28.030 0 0 0 95 313 0 27 0 0 2255.526 0 KEKURANGAN 0 0 0 35 -196 0 Tahun No.625 20.720.546 1.000 0 37. diolah (2012) .000 0 2.182.000.190.250.168 0 PASOKAN 0 0 0 95 314 0 7.000.069 Batubara (Ton) 20.275.000 19.951 11.217 992.015 8.040 0 0 0 95 313 0 26 0 0 2255.000 0 2020 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 40.546 1.079 0 0 105 36.046 0 0 0 41.000.168 0 1.631 5.680.290.090 0 13.000.700 367.818 0 21.725 0 22.090.130.000.000 0 5.000 0 9.971 30.000 0 4.459 20.790 0 8.000 921.577 0 990 12.120 0 7.631 5.000 492.000 393.400.986 120 23.900 101.253 93 -147 0 446 0 0 2025 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 59.375 195 Biomassa (gWh) 27.000 885. INDUSTRI Batubara (Ton) Gas (MMBTU) 16.459 38.000 0 877.000 208.840 0 0 0 Solar (Juta Liter) 364 0 0 813 4 5 6 7 INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 303.048 141.700 1.323 0 2.000 0 78.428 539 0 0 0 2.000 393.310 0 5.621 17.770 0 0 0 273 235 19 573 0 0 6.000 0 3.438 119.000 0 8.178 2.589 0 738.000 0 2.246 24.000.710 0 17.000 0 129.114 0 18.217 992.388.324 0 1.829 0 877.000 0 88.790.615 19.000 0 5.690.041 Listrik (gWh) 19.

157 12.260 132 19.000 0 57.829 20.130.000 555.217 992.767 -205.495 677 0 0 116 30.323 0 1.790 0 0 0 Solar (Juta Liter) 14 -195 0 363 0 0 271 2013 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 23.000 206.000 0 320.000 0 5.121.830 0 22.180.000 599.000.125 -477.121.000.631 5.378 219 0 0 0 30.631 5.774 136.000.000.400 315.000 0 3.560 0 8.323 0 1.437 132.654 127.000 0 5.429 540 0 0 0 2.459 22.546 1.121.000 0 1.197.693 0 306.298 Listrik (gWh) 3.300 0 5.313 916.365.000.671 768.460.540.800.000.000 393.371.000 0 Gas (MMBTU) 240.091 0 18.526 Batubara (Ton) 20.735 9.169 0 1.806 758 0 0 137 32.000 16.090 0 0 0 105 -145 0 393 0 0 913 .476 3.511 5.469 2.217 992.300 0 5.428 539 0 0 0 2.000 0 1.790 0 950 65 Biomassa (gWh) 0 0 0 27.671 643.000 0 1.000 0 51.040 0 0 0 95 314 0 27 0 0 2255.510 0 2.465 3.000 393.810 0 7.000 0 256 KEKURANGAN Listrik (gWh) 411 12.000 0 434 411 16.042 2.825 128 19.964 7.130 0 0 0 200 169 18 420 0 0 3.865 0 283.217 992.090.890.358 137 20.000 0 5.066 137 0 0 0 28.090 0 6.190 0 19.000 0 2.920 0 0 0 14 -172 0 378 0 0 574 2014 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 43.210.063 7.363.000.820.410.040 0 0 0 Solar (Juta Liter) 95 313 0 28 0 0 2255.546 1.100.000 0 7.700.872 7.000 514.000 0 6.136 7.379 604 Biomassa (gWh) 0 0 112 29.960.042 2.118.830 0 0 0 Solar (Juta Liter) 109 118 17 391 0 0 2.459 Batubara (Ton) 3.631 5.690.000 0 51.000 0 Gas (MMBTU) 1.000 16.698.000 0 Gas (MMBTU) 877.338.940 11.000 0 877.030 0 0 0 95 313 0 27 0 0 2255.REKAPITULASI SKENARIO AKSELERASI KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI KEBUTUHAN Tahun No.000 0 51.829 0 21.000 17.451 0 16.090.000.373.935 20.000 0 6.000 0 51.840.950 0 0 0 109 141 18 405 0 0 2.200 303.829 0 20.000.260 0 3.042 17.700 327.168 0 1.800.270.000 162.767 0 293.042 PASOKAN Listrik (gWh) 2.089 8.169 20.114 0 15.890.000 0 880.042 21.952 10.546 1.000 0 9.125 -353.331 0 15.429 539 Biomassa (gWh) 0 0 0 2.000 0 877.656 0 17.000 393.000 0 51.566 25.300 0 5. INDUSTRI Batubara (Ton) 2012 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 23.323 0 1.000 121.169 0 1.

520.000 30.631 5.756.000 253.000 2.398 0 39.217 992.520 25.217 992.265 1.830 0 877.000 0 5.000.348 849 Biomassa (gWh) 33.497 0 0 147 56.829 0 20.919 310 Biomassa (gWh) 31.280 762.660.000 0 40.310 0 0 0 Solar (Juta Liter) 409 0 0 1.000.020 0 21.324 141.745.000 0 5.117 5.040 0 0 0 Solar (Juta Liter) 27 0 0 2255.428 540 0 0 0 2.820.121.355 2.000 0 5.099 0 0 0 72.767 Sumber: BPS.639 0 0 174 74.810 1.000 6.000 0 13.828 8.641.168 0 1.000 952.500.060 8.520.001 0 3.721 198.118 34.323 0 2.965 9.130.250 0 0 0 294 173 0 710 0 0 3.300 0 5. diolah (2012) .000.549 Batubara (Ton) 20.335 35.000 393.459 128.631 5.000 0 51.220.068 199 47.900 0 46.136 0 552.680 0 32.350 0 0 0 Solar (Juta Liter) 436 0 0 3.090.290 0 742.042 2.000 0 Gas (MMBTU) 1.000 646.081 0 0 0 0 126 -112 0 KEBUTUHAN Tahun No.261.000.000 0 10.866 1.880.546 1.100.130.002 0 1.000 0 6.042 2.000 0 Gas (MMBTU) 18.829 0 20.412.249 142 0 0 124 221 201 19 20.300 0 5.408 19.255 20.000 0 877.275.092.662.459 63.868.040 0 0 0 95 315 0 27 0 0 2255.474 171.000 0 877.323 0 1.880.262 85.2015 1 2 3 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO 47.384.128 168 36.121. Kemenperind dan Asosiasi Industri.663 6.105 177.000 0 Gas (MMBTU) 17.479 86.000 1.000 0 51.836 958 0 0 0 54.980 0 0 0 686 1.999 2025 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 148.517 Listrik (gWh) 20.000 559.720 0 15.040 0 4.182 27 982 0 0 11.000 0 4.950.559 Listrik (gWh) 21.000 0 71.000 0 46.980 0 38.840.168 0 PASOKAN 0 0 0 95 313 0 27.151 30.340 0 10.000 393.000.023 20.429 539 2020 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 84.000 393.000 0 71.000 1.119 11.102 10.332.290 0 0 0 389 488 22 737 0 0 6.654.217 992.323 0 1.620.000 0 16.300 0 5.465 Batubara (Ton) 318.000.665.000 0 51.546 1.042 KEKURANGAN Biomassa (gWh) 2.320 2.429 539 0 0 0 2. INDUSTRI Batubara (Ton) 4 5 6 7 INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 338.000 0 122.220.500 572.545 1.480 0 29.940 0 0 0 591 867 0 955 0 0 8.019.000 40.000.000.892 2.000.366 16.384 14.000 0 12.040 0 0 0 95 315 0 27 0 0 2255.320 -29.000 0 22.130.000 0 20.167 13.631 5.397.210 67.841 73.542.168 0 1.803 167.340.294 Listrik (gWh) 1.000 0 179.000 0 128.960 0 34.121.750.400.748.000 0 5.

829 0 20.121 129.000 0 798.040 0 0 0 Solar (Juta Liter) 50 313 0 26 0 0 2255.028 18.000 3.000 26.880.686 121 18.126 847.428 540 0 0 0 2.000.635 9.379 575 Biomassa (gWh) 0 0 106 29.000 281.323 0 1.000 113.000 0 1.130.650 0 0 0 2.628 2.770.771 10.500.690 0 7.000 4.000 0 600.129.495 644 0 0 109 27.567 992.000 43.140 -603 13.000 538.000 15.610 0 0 0 432 26 -199 0 335 0 0 2014 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 48.324 0 1.600 0 8.300 0 3.080 17.030 0 0 0 755 22 -188 0 353 0 0 .000 0 681.243 2.781 566.041 693.530 3.000 0 2.000 3.010 117 126 17 380 0 0 20.459 Batubara (Ton) -4.040 0 0 0 144 Solar (Juta Liter) 22 -209 0 354 0 0 2013 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 21.000 188.000. INDUSTRI Batubara (Ton) 2012 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 15.647.300 0 5.300.902 2.655.825 6.887.053 992.066 104 0 0 0 25.200.200 48.631 5.000.168 0 1.000 820.000 15.300 294.000 393.958 51.711 22.217 992.540 0 16.121.000.733 Listrik (gWh) 2.762 2.585 124.990.798 0 14.580 -274.631 5.870.806 721 0 0 113 29.452 0 14.000 12.000 581.042 2.558.392 7.000 0 Gas (MMBTU) 131.000 760.286 0 274.000 3.775 120.121.000 0 720.000 69.000 0 1.147 0 17.000 393.000 0 Gas (MMBTU) 745.261 0 13.000 3.870.800.000.000 69.000 82.631 5.957 46.000.000 820.000 760.323 0 1.000 0 877.593 1.585 48.429 540 0 0 0 2.000.390 0 2.080.168 0 1.424 PASOKAN Listrik (gWh) 2.829 0 20.309 KEKURANGAN Listrik (gWh) -603 10.200.141 0 274.957 46.000 5.310 0 950 35 Biomassa (gWh) 0 0 0 27.400 Solar (Juta Liter) 72 104 16 380 0 0 Batubara (Ton) 20.429 540 Biomassa (gWh) 0 0 0 2.000 890.121.226 7.REKAPITULASI SKENARIO AKSELERASI DISERTAI EFISIENSI KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI KEBUTUHAN Tahun No.543 7.169 0 1.829 0 20.000 15.300 0 5.688 68 115 17 362 0 0 20.000 0 78.060 0 0 0 3.000 0 Gas (MMBTU) 613.300.100.000 96.090.610 0 6.000 499.582 8.080 0 0 0 2.315 129 18.488 54.000 69.546 1.000 145.040 0 0 0 42 314 0 27 0 0 2255.030 0 0 0 95 314 0 27 0 0 2255.517 0 17.000 393.740.000 890.459 27.800 294.300.300 0 5.000.378 181 0 0 0 27.028 15.000 106.121.708 125 17.765 -555.554 9.459 495 -428.000.546 1.688 6.603 0 261.635 3.000.546 1.

101 26.978.102 74.957 51.000 0 19.560 0 0 0 3.000 274.000 0 4.000 0 9.121.410.200.323 0 1.000 0 3.000 35.546 1. Kemenperind dan Asosiasi Industri.920 0 15.090.000 69.090.500.000.000 23.631 5.042 115.000 69.800.829 0 20.130.084 64.000 0 9.030 0 0 0 95 314 0 26 0 0 2255.000 393.619 134 0 0 117 120 136 18 20.040 0 0 0 95 314 0 26 0 0 2255.300 0 5.470 21.000 2.981 Listrik (gWh) 19.106 150.508 0 0 165 64.116 Solar (Juta Liter) 373 0 0 Listrik (gWh) 1.121.546 1.472 20.220 0 0 0 5.041 2.652 0 40.000 204.000 4.042 KEKURANGAN Biomassa (gWh) 2.120 0 32.297.000 3.919 267 Biomassa (gWh) 28.320 2.151.631 5.376.168 0 PASOKAN 0 0 0 95 313 0 43.980.300.580 7.000 960.830 0 20.000 3.256 12.250 0 4.904 0 24.000 1.737 155.185 0 28.310 0 5.217 992.353 159 30.451 0 0 0 0 25 -177 0 KEBUTUHAN Tahun No.100.000 393.000 234.505.900 479.000.955 4.396 10.200.953 10.121.000 493.035.794 187.525 133.000 63.190 0 0 0 40 -149 0 592 0 0 3.560 0 10.000.000 627.227 158. INDUSTRI Batubara (Ton) 4 5 6 7 INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 310.801.348 67.000 0 877.168 0 1.997 7.800.730 0 0 0 100 0 25 847 0 0 10.459 Batubara (Ton) 289.008 0 459.821 1.000 530.420 0 38.939 Listrik (gWh) 18. diolah (2012) .631 5.829 0 877.300.437 12.972.370.000 6.000 423.323 0 1.831 170.000 25.000.000.546 1.000 3.348 807 Biomassa (gWh) 30.686 2025 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 528.230.120.000.892 1.800.410.000 977.323 0 2.656 1.000 0 Gas (MMBTU) 16.429 540 2020 1 2 3 4 5 6 7 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO INDUSTRI PULP DAN KERTAS INDUSTRI PUPUK INDUSTRI SEMEN INDUSTRI KERAMIK 206.042 2.000 923.680.124 0 637.958 51.165 0 953.275 -86.560.039 11.000 69.034 6.000.350.372 Solar (Juta Liter) 400 0 0 Batubara (Ton) 21.596 59.500 1.838 8.000 0 8.942 135 165 21 618 0 0 20.390 16.216 5 -314 0 821 0 0 Sumber: BPS.000 0 Gas (MMBTU) 15.202 2.174.520 0 0 0 1.000 1.040 0 0 0 Solar (Juta Liter) 27 0 0 2255.028.836 883 0 0 0 45.958 51.120.202 0 1.459 508.428 541 0 0 0 2.000 12.2015 1 2 3 INDUSTRI BAJA INDUSTRI TEKSTIL INDUSTRI CPO 63.000 0 Gas (MMBTU) 1.220 0 21.383.680.465 185.429 540 0 0 0 2.820 188 41.650 657.000.664 7.874 119.000 133.227 64.690 0 0 0 8.384.000 393.967 0 0 0 62.000 0 3.217 992.300 0 5.986.000 0 877.000 1.319 75.830.000.670.168 0 1.265 1.471 0 34.423 0 0 139 47.224 31.217 992.007 30.000 2.000.000 960.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful