You are on page 1of 3

Gelombang Revolusi

Pengarang : Christopher Flavin

, Nicholas Lenssen

Harga : Rp. 17,000


Penerbit : Buku Obor

ISBN : 979-461-222-7 Dimensi Buku : 14 x 21 x 2 cm Cetak Isi : Black/White Cover Buku : Soft Cover Jenis Kertas : HVS Tahun Terbit : 1995 Tambahkan ke Keranjang Belanja

Sinopsis Buku
Kunci suksessuatu negara di era globalisasi yang ditandai oleh liberalisme di bidang ekonomi dunia ialah: efisien, harga bersaing, tanpa risiko lingkungan dan berkualitas tinggi. Negara-negara yang tak mampu menghasilkan produk-produk dengan kualifikasi di atas bakalan tergilas kalah. Di sinilah lalu diskusi soal pilihan tekhnologi energi menjadi penting. Ketika tergelar revolusi industri (mesin uap) di Eropa abad ke-18, manusia "meninggalkan matahari". Kini memasuki millennium ketiga, revolusi industri agaknya berarti: "gerakan kembali ke matahari": -- satu-satunya sumber energi yang tiada akan habis, beserta ikutannya yaitu energi angin, energi air (Hidrogen), dan panas bumi. Maka kiranya buku ini wajib di baca oleh para arsitek, pakar tata kota, para pakar rekayasa engineering (mobil, tenaga listrik dan tranportasi massal lainnya), dan para pengambil keputusan agar tidak salah pilih dalam mengantisipasi pilihan tekhnologi masa depan yang dalam buku ini diprediksi sampai tahun 2050! Dengan demikian, pertanyaan "hemat energi, hemat biaya" tiba-tiba menjadi kuno dan sangat tidak mencukupi, sebab pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa dulu tekhnologinya? Mega proyek sentralistik - seperti instalasi PLTN dan bendungan raksasa - sudah ditinggalkan banyak negara, karena tidak efisien dalam investment cost dan social cost. Sungguh, buku ini menantang kita untuk berpikir ulang atas pilihan teknologi di masa depan. Semoga bukuu ini dapat merangsang minat kita untuk penelitian teknologi kecil, kreatif, terdesentralisir dan efisien. Ini semua agar anak cucu kita tetap mendapatkan warisan lingkungan hidup yang "tidak terlalu buruk".

Langkah Menuju Kebebasan


Pengarang : Nelson Mandela

Harga : Rp. 15,000


Penerbit : Buku Obor

ISBN : 979-461-129-8 Dimensi Buku : 14 x 21 x 2 cm Cetak Isi : Black/White Cover Buku : Soft Cover Jenis Kertas : HVS Tahun Terbit : 1993 Tambahkan ke Keranjang Belanja

Sinopsis Buku
"Selama hidup saya, saya telah mengabdikan seluruh hidup untuk perjuangan rakyat Afrika. Saya telah berjuang melawan dominasi kulit Putih dan juga dominasi kulit Hitam. Saya menginginkan demokrasi yang ideal dan masyarakat yang bebas, di mana semua orang dapat hidup bersama secara harmonis dan dengan perlakuan yang sama. Itulah cita-cita yang saya harap dapat berlangsung terus. Tetapi bila diperlukan, untuk mencapai cita-cita itu, saya pun bersedia untuk mati." Dipenjarakan selama lebih dari 27 tahun, Nelson Mandela menjadi sejarah dalam hidupnya sendiri; merupakan perwujudan dalam memperjuangkan kebebasan di Afrika Selatan dan merupakan symbol penting dalam masyarakat baru. Ia merupakan lambing dari kepemimpinan yang rela berkorban

Demokrasi Klasik Modern


Pengarang : Diane Revitch

, Abigail Thernstrom

Harga : Rp. 40,000


Penerbit : Buku Obor

ISBN : 979-461-179-4 Dimensi Buku : 14 x 21 x 2 cm Cetak Isi : Black/White Cover Buku : Soft Cover Jenis Kertas : HVS Tahun Terbit : 1994 Tambahkan ke Keranjang Belanja

Sinopsis Buku
Buku ini menyajikan petikan-petikan dan getar-getar demokrasi yang tak pernah lapuk dan terus bergema sepanjang sejarah peradaban manusia. Lewat kumpulan buah pergulatan para pemikir kelas dunia ini, kita bisa bercermin: sudahkah prinsip-prinsip demokrasi (kedaulatan tertinggi berada ditangan rakyat) mewarnai semua lini kehidupan kita sebagai bangsa: politk, sosial, ekonomi, kebudayaan, pertahanan keamanan, lingkungan, sosial budaya dan lain-lain? Peta kekuatan dunia yang berubah total di penghujung abad ke-20 membuat isu demokrasi secara normatif dan tak terelakkan kembali menduduki tempat terhormat. Dari pengalaman bangsa-bangsa lain kita belajar, bahwa hanya demokrasi saja yang mampu menghindarkan kita dari dua setan kembar yang sama gilanya: Tirani-Oktoritarian dan anarki. Memang, perjuangan menegakkan demokrasi, tempat seluruh rakyat dapat berlindung, bukan pekerjaan mudah, "Tidak segampang membalik tangan; bukan pekerjaan semalam," demikian kata orang. Para pejuang demokrasipun mengakui hal ini. Namun semangat mereka yang penuh gairah tetap melihat bahwa perubahan kearah demokrasi merupakan kemungkinan yang bisa terjadi besok pagi Dan para mahasiswa indonesia 1998 tercatat dalam sejarah pernah melakukan!