HIPERTENSI, PENDEKATAN dan PENATALAKSANAAN DI TINGKAT PELAYANAN PRIMER Oleh : Dani Rosdiana Bagian/SMF Penyakit Dalam FK Univ

Riau- RSUD Arifin Ahmad PENDAHULUAN Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dan di beberapa belahan dunia. Menghadapi hipertensi seperti dihadapkan pada dua sisi mata uang, yaitu berhadapan dengan “despair and hope”. Pasien bahkan dokter kadang putus asa karena hipertensi akan meningkatkan faktor risiko penyakit kardiovaskuler (hampir dua kali lipat), prevalensi nya yang terus meningkat dari waktu ke waktu dan kontrol tekanan darah yang belum terkendali. Bahkan di Negara maju sekalipun seperti di Amerika Serikat tekanan darah yang terkontrol hanya mencapai 29%, Canada 17 %, dan 10 % dibeberapa Negara Eropa. Namun demikian, juga terdapat harapan karena hipertensi dapat dicegah dan dikontrol tekanan darah yang baik dapat menurunkan kejadian stroke dan serangan jantung.. Kearney et al. (2005) melaporkan prevalensi hipertensi di dunia sekitar 26% pada populasi dewasa. Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT 2001) di Indonesia yang menderita hipertensi berumur 25 tahun ke atas yaitu laki-laki sebesar 27%, wanita 29% dan 0,3% menderita penyakit jantung iskemik dan stroke. Dibandingkan dengan faktor risiko merokok, kadar gula darah tinggi, inaktivitas fisik, obesitas dan alkohol, hipertensi ternyata menempati urutan tertinggi sebagai faktor risiko kematian (mortalitas). Melihat bahwa hipertensi merupakan faktor prediktor bagi kejadian infark miokard, sudden death, gagal jantung dan penyakit pembuluh darah arteri (PAD) demikian juga dengan gagal jantung kronik, tidak mengherankan jika beban ekonomi (pembiayaan) yang ditanggung baik oleh pemerintah dan individu karena hipertensi dengan komplikasinya juga besar. Menurut Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) tahun 2012, dokter umum harus kompeten dalam mengelola hipertensi hingga paripurna sejak diagnosis, terapi hingga monitoring dan evaluasinya. Sesuai standar tersebut, dokter umum sebagai garda terdepan di tingkat pelayanan primer harus mampu mengelola pasien hipertensi sehingga upaya preventif, kuratif dapat terwujud.

1. dan tekanan darah diukur minimal dua kali. 1. baik menurut JNC maupun ESH Guideline. Ada beberapa klasifikasi. pasien harus istirahat minimal 5 menit sebelum diukur tekanan darah dalam posisi yang tepat. Klasifikasi Hipertensi Sebagai dokter. Sphigmomanometer harus dikalibrasi dan divalidasi secara berkala. kita harus bisa mengklasifikasikan tekanan darah pasien. Menurut ESH (European Society of Hypertension) – ESC (European Society of Cardiologist) Guideline 2013 Tabel 2 Klasifikasi Tekanan darah menurut ESH-ESC Category Optimal Normal Systolic <120 120–129 And And/or Diastolic <80 80–84 . and treatment of high blood pressure (JNC VII.2 Ketepatan nilai tekanan darah sangat dipengaruhi oleh keakuratan alat dan cara pengukuran yang benar. dimana JNC memiliki klasifikasi tekanan darah yang lebih ketat.PENDEKATAN PASIEN I. PENGERTIAN dan KLASIFIKASI HIPERTENSI Menurut The Seventh Joint National Committee on prevention. 2003) Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan diastolik ≥ 90 mmHg atau sedang dalam pengobatan anti hipertensi. dengan tujuan mengidentifikasi beratnya hipertensi sekaligus membuat target tekanan darah yang akan dicapai dalam terapi. detection. Menurut JNC VII Terjadi perubahan klasifikasi Tekanan darah dari JNC VI menjadi JNC VII Tabel 1 Klasifikasi Tekanan darah menurut JNC JNC 6 Category SBP/DBP Optimal Normal Borderline Hypertension STAGE 1 STAGE 2 STAGE 3 <120/80 120–129/80–84 130–139/85–89 >140/90 140–159/90–99 160–179/100–109 >180/110 STAGE 2 Normal Prehypertension Hypertension STAGE 1 JNC 7 Category 2.

rendahnya kepedulian praktisi kesehatan .intake/konsumsi makana cepat saji/ makanan yang telah diproses .kultur budaya setempat . penatalaksanaan hipertensi harus meliputi usaha preventing selain kuratif. mampu menurunkan mortalitas akibat stroke sebesar 14%.kurangnya jam olah raga . dan lakukan intervensi pada pasien. bahkan di Negara maju sekalipun. Jika program tadi dijalankan dengan baik di tingkat layanan primer.tingginya kandungan garam pada makanan cepat saji Hal-hal tersebut memerlukan pendekatan dan kerjasama multiprogram dan lintas sektoral baik pada populasi luas maupun pada komunitas-komunitas tertentu. mortalitas akibat penyakit jantung sebesar 9%. .intake garam berlebihan .intake buah dan sayur yang tidak adekuat .berat badan berlebih . Usaha preventif hipertensi memang tidak mudah.High normal Grade 1 hypertension Grade 2 hypertension Grade 3 hypertension Isolated hypertension systolic 130–139 140–159 160–179 ≥ 180 ≥ 140 And/or And/or And/or And/or And 85–89 90–99 100–109 ≥ 110 < 90 PENCEGAHAN HIPERTENSI Berbicara mengenai kedokteran komunitas. Teori menunjukkan jika tekanan darah dapat dicegah atau diturunkan maka hipertensi. penyakit jantung dan ginjal juga dapat dicegah.menurunnya aktivitas fisik . Pencegahan dan manajemen hipertensi masih menjadi tantangan. Beberapa penyebab hipertensi telah dapat diidentifikasi seperti : .pemakaian alkohol Kenali keadaan-keadaan tersebut diatas. masih terdapat bebarapa hambatan dalam program pencegahan meliputi: . studi menunjukkan bahwa penurunan 5 mmHg saja tekanan sistolik.kurangnya fasilitas untuk olah raga . usaha pencegahan ini dapat berhasil.minimnya ketersediaan pilihan makanan yang sehat di sekolah/di kantor . Usaha mencegah kenaikan tekanan darah harus diperkenalkan kepada pasien terutama pada individu/populasi pre hipertensi.

EVALUASI PASIEN Evaluasi pasien hipetensi memiliki tiga tujuan antara lain: 1. table 3 Saat bertemu pasien. or low HDL cholesterol* Estimated GFR <60 mL/min Family history of premature CVD (men <55 years of age or women <65 years of age) Microalbuminuria Obesity* (BMI >30 kg/m2) Physical inactivity Tobacco usage. pemeriksaan funduskopi. Evaluasi pasien meliputi 1. palpasi kelenjar thyroid. pembesaran ginjal/ballotmen. Menilai gaya hidup (life style) dan identifikasi faktor risiko kardiovaskuler lainnya. x foto thorak Tabel 3. menghitung BMI. pemeriksaan jantung paru. Anamnesis 2. palpasi vaskuler ekstremitas dan pemeriksaan mini neurologi. 3. abdomen dan bruit femoral. lakukan evaluasi pasien dengan baik. Menilai ada tidaknya kerusakan organ target dan CVD (cardiovaskuler disease). auskultasi arteri carotis. lihat table 3 2. 65 years for women)† Diabetes mellitus* Elevated LDL (or total) cholesterol. Identifikasi faktor risiko kardiovaskuler dan Kelainan Organ target Faktor risiko kardiovaskuler Kelainan organ target Hypertension* Age (older than 55 years for men. Pemeriksaan laboratorium rutin dan prosedur diagnostic lainnya: EKG. distensi vesica urinaria. Pemeriksaan fisk : pengukuran tekanan darah yang adekuat ( bila perlu ukur tekanan darah di kedua lengan). Temukan dan tentukan penyebab kenaikan tekanan darah tabel 4 3. particularly cigarettes Heart LVH Angina/prior MI Prior coronary revascularization Heart failure Brain Stroke or transient ischemic attack Dementia CKD Peripheral arterial disease Retinopathy Tabel 4. Identifikasi penyebab hipertensi Chronic kidney disease Coarctation of the aorta Cushing’s syndrome and other glucocorticoid excess states including chronic steroid therapy Drug induced or drug related (see table 18) Obstructive uropathy Pheochromocytoma Primary aldosteronism and other mineralocorticoid excess states Renovascular hypertension Sleep apnea Thyroid or parathyroid disease .

evaluate and treat immediately or within 1 week depending on clinical situation and complications. Limit consumption to no more than 2 drinks (e. >180/110 mmHg). 2. target tekanan darah lebih rendah yaitu ≤ 130/80 mmHg.g.9 kg/m2). and lowfat dairy products with a reduced content of saturated and total fat.. Reduce dietary sodium intake to no more than 100 mmol per day (2. Engage in regular aerobic physical activity such as brisk walking (at least 30 min per day. 10 oz wine. Approximate SBP Reduction (Range) 5–20 mmHg/10kg 8–14 mmHg Weight reduction Adopt DASH eating plan Dietary sodium reduction 2–8 mmHg Physical activity 4–9 mmHg Moderation consumption of alcohol 2–4 mmHg . namun pada kondisi dengan pemberat lain seperti diabetes mellitus dan gagal ginjal kronik. Consume a diet rich in fruits. Life Style Modification Modification Recommendation Approximate SBP Reduction Maintain normal body weight (body mass index 18. or 3 oz 80-proof whiskey) per day in most men. vegetables.4 g sodium or 6 g sodium chloride). 24 oz beer. Tentukan target Terapi Hipertensi dikatakan terkontrol jika tekanan darah ≤ 140/90 mmHg.. Rekomendasi bagaimana mengikuti/follow up pasien hipertensi pada pengukuran tekanan darah awal (pertama kali dokter bertemu pasien) tanpa adanya kelainan organ target dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5 Recommendations for followup based on initial blood pressure measurements for adults without acute end organ damage Initial Blood Pressure (mmHg)* Followup Recommended† Normal Prehypertension Stage 1 Hypertension Stage 2 Hypertension Recheck in 2 years Recheck in 1 year‡ Confirm within 2 months‡ Evaluate or refer to source of care within 1 month. and to no more than 1 drink per day in women and lighter weight persons. For those with higher pressures (e. most days of the week).g.PENATALAKSANAAN HIPERTENSI Penatalaksanaan meliputi: 1.5–24.

beta blocker. ARB. BB. ARB. CCB. calcium channel blocker. ARB.3. Other antihypertensive drugs (diuretics. DBP. angiotensin converting enzyme inhibitor. BB. or ARB. BB. . or CCB) Drug(s) for the compelling indications. or BB. diastolic blood pressure. Terapi Farmakologi Penatalaksanaan hipertensi meliputi pemberian obat-obat jika penatalaksanaan non farmakologi tunggal gagal dikerjakan. CCB. Berikut algoritme penatalaksanaan hipertensi ALGORITME PENATALAKSANAAN HIPERTENSI Life style modification LAYANAN PRIMER Not at Goal Blood Pressure (<140/90 mmHg) (<130/80 mmHg for those with diabetes or chronic kidney disease) Initial Drug Choices LAYANAN PRIMER LAYANAN PRIMER Without Compelling Indications With Compelling Indications RUJUK Stage 1 Hypertension (SBP 140–159 or DBP 90–99 mmHg) Thiazide-type diuretics for most. SBP. CCB) as needed NOT AT GOAL BLOOD PRESSURE ACEI. ACEI. angiotensin receptor blocker. systolic blood pressure Optimize dosages or add additional drugs until goal blood pressure is achieved. Consider consultation with hypertension specialist. or combination Stage 2 Hypertension (SBP >160 or DBP >100 mmHg) Two-drug combination for most (usually thiazidetype diuretic and ACEI. May consider ACEI.

The Seventh report of the Joint National Committee on Prevention detection Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. Jilid I. The 2013 ESH/ESC Guidelines for the Management of arterial hypertension.Then add BP drugs targeting <140/90 .Menurut ESH.Lifestyle changes . Cermin Dunia Kedokteran 2007.Then add BP drugs targeting <140/90 .Lifestyle changes for several weeks . Sugiyanto E. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Lifestyle changes . Lippincott Williams & Wilkins. CV = cardiovascular. 3. 5. ed. 2007. penanganan hipertensi sesuai grade/ klasifikasinya sesuai table berikut: Other risk factors. CKD stage 3 or diabetes Lifestyle changes No BP intervention .Lifestyle changes - Symptomatic CVD.Lifestyle changes . CVD = cardiovascular disease. DBP = diastolic blood pressure. Edisi IV. REFERENSI 1.Lifestyle changes - Immediate BP drugs targeting <140/90 ≥3 RF Lifestyle changes No BP intervention .Lifestyle changes for several weeks .BP drugs targeting 140/90 . OD = organ damage.HT = hypertension.Lifestyle changes - Immediate BP drugs targeting <140/90 OD.Lifestyle changes - Immediate BP drugs targeting <140/90 BP = blood pressure.Lifestyle changes for several for several months months . editors.Lifestyle changes .Then add BP Then add BP drugs targeting drugs targeting <140/90 <140/90 . Hipertensi dan komplikasi serebrovaskuler.BP drugs .Then add BP drugs targeting <140/90 . 4. SBP = systolic blood pressure. CKD = chronic kidney disease. Sudoyo AW dkk. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia. CKD stage 4 or diabetes OD/RFs with Lifestyle changes No BP intervention .BP drugs targeting 140/90 Grade 3 HT SBP ≥180 or DBP ≥110 . 157. asymptomatic organ damage or disease No other RFg <140/9 No BP intervention High normal SBP 130–139 or DBP 85–89 Blood Pressure (mmHg) Grade 1 HT Grade 2 HT SBP 140–159 or SBP 160–179 or DBP 90–99 DBP 100–109 .Lifestyle changes for several weeks .Lifestyle changes - Immediate BP drugs targeting <140/90 1–2 RF Lifestyle changes No BP intervention .Lifestyle changes for several weeks . RF = risk factor.Then add BP drugs targeting <140/90 .BP drugs targeting 140/90 targeting 140/90 Immediate BP drugs targeting <140/90 . 2006 2.Lifestyle changes . . Kaplan NM in Kaplan's Clinical Hypertension 9th.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful