Bismillah Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam 'ala Rasulillah As-Salaam Alaikum Wa-Rahmatullahi Wa-Barakatuhu 20th Shawwal 1434

(27th August 2013) Narrated by Anas bin Malik (Radi-Allahu 'anhu): The Prophet (Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam) was not one who would abuse (others) or say obscene words, or curse (others), and if he wanted to admonish anyone of us, he used to say: "What is wrong with him, his forehead be dusted!" Bukhari Vol. 8 : No. 58

ROBERT FISK

Tuesday 27 August 2013

Does Obama know he’s fighting on al-Qa’ida’s side?
‘All for one and one for all’ should be the battle cry if the West goes to war against Assad’s Syrian regimeQuite an alliance! Was it not the Three Musketeers who shouted “All for one and one for all” each time they sought combat? This really should be the new battle cry if – or when – the statesmen of the Western world go to war against Bashar al-Assad.
The men who destroyed so many thousands on 9/11 will then be fighting alongside the very nation whose innocents they so cruelly murdered almost exactly 12 years ago. Quite an achievement for Obama, Cameron, Hollande and the rest of the miniature warlords. This, of course, will not be trumpeted by the Pentagon or the White House – nor, I suppose, by al-Qa’ida – though they are both trying to destroy Bashar. So are the Nusra front, one of al-Qa’ida’s affiliates. But it does raise some interesting possibilities. Maybe the Americans should ask al-Qa’ida for intelligence help – after all, this is the group with “boots on the ground”, something the Americans have no interest in doing. And maybe al-Qa’ida could offer some target information facilities to the country which usually claims that the supporters of al-Qa’ida, rather than the Syrians, are the most wanted men in the world. There will be some ironies, of course. While the Americans drone al-Qa’ida to death in Yemen and Pakistan – along, of course, with the usual flock of civilians – they will be giving them, with the help of Messrs Cameron, Hollande and the other Little General-politicians, material assistance in Syria by hitting alQa’ida’s enemies. Indeed, you can bet your bottom dollar that the one target the Americans will not strike in Syria will be al-Qa’ida or the Nusra front. And our own Prime Minister will applaud whatever the Americans do, thus allying himself with al-Qa’ida, whose London bombings may have slipped his

mind. Perhaps – since there is no institutional memory left among modern governments – Cameron has forgotten how similar are the sentiments being uttered by Obama and himself to those uttered by Bush and Blair a decade ago, the same bland assurances, uttered with such self-confidence but without quite enough evidence to make it stick. In Iraq, we went to war on the basis of lies originally uttered by fakers and conmen. Now it’s war by YouTube. This doesn’t mean that the terrible images of the gassed and dying Syrian civilians are false. It does mean that any evidence to the contrary is going to have to be suppressed. For example, no-one is going to be interested in persistent reports in Beirut that three Hezbollah members – fighting alongside government troops in Damascus – were apparently struck down by the same gas on the same day, supposedly in tunnels. They are now said to be undergoing treatment in a Beirut hospital. So if Syrian government forces used gas, how come Hezbollah men might have been stricken too? Blowback? And while we’re talking about institutional memory, hands up which of our jolly statesmen know what happened last time the Americans took on the Syrian government army? I bet they can’t remember. Well it happened in Lebanon when the US Air Force decided to bomb Syrian missiles in the Bekaa Valley on 4 December 1983. I recall this very well because I was here in Lebanon. An American A-6 fighter bomber was hit by a Syrian Strela missile – Russian made, naturally – and crash-landed in the Bekaa; its pilot, Mark Lange, was killed, its co-pilot, Robert Goodman, taken prisoner and freighted off to jail in Damascus. Jesse Jackson had to travel to Syria to get him back after almost a month amid many clichés about “ending the cycle of violence”. Another American plane – this time an A-7 – was also hit by Syrian fire but the pilot managed to eject over the Mediterranean where he was plucked from the water by a Lebanese fishing boat. His plane was also destroyed. Sure, we are told that it will be a short strike on Syria, in and out, a couple of days. That’s what Obama likes to think. But think Iran. Think Hezbollah. I rather suspect – if Obama does go ahead – that this one will run and run

Dialektika Haji Abdul Karim Amurullah & Haji Dt. BatuahLembaran sejarah Sumatra Thawalib Padang
Panjang tidak bisa dilepaskan dari kedua tokoh, seperti yang Anda lihat pada foto berikut. Ya.., Haji Abdul Karim Amrullah dan Haji Ahmad Khatib Dt. Batuah. Kedua tokoh ini, dideskripsikan Hamka tak ubahnya, seperti Bapak-Anak. Selama menuntut ilmu di Sumatra Thawalib Padang Panjang, Haji Ahmad Khatib merupakan murid kesayangan Haji Rasul yang dikenal cerdas dan alim. Setelah menamatkan pendidikannya di Thawalib Padang Panjang, Haji Rasul mengizinkan sang murid untuk kembali ke kampung halamannya di Koto Laweh untuk mengajar di sana. Perkenalannya dengan komunisme dimulai sejak keberangkatannya ke Aceh sebagai utusan dari Haji Rasul untuk meninjau keadaan Thawalib School di Aceh yang pernah dirintis Buya A.R Sutan Mansur. Ia bertemu dengan salah seorang propagandis komunis asal Padang, yakni Natar Zainuddin. Sejak pertemuannya dengan Natar Zainuddin

tersebut, terjadilah diskusi yang hangat di antara keduanya. Untuk membuktikan rasa penasarannya terhadap perkembangan komunis di Jawa, ia diajak untuk bertemu dengan Haji Misbach. Sejak pertemuan dengan Haji Misbach, muncul keinginan dai Dt Batuah untuk merintis PKI di Padang Panjang. Pada tanggal 20 November 1923 berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Batuah (Ketua), Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara), Natar Zainuddin (anggota), dan Dt. Machudum Sati (anggota). Sejak saat itu, Haji Dt. Batuah dianggap sebagai propagandis ilmu kuminih (komunis), yang memadukan ajaran Islam dengan unsur-unsur Marxis di kalangan murid-murid Thawalib Padang Panjang. Tidak hanya mendirikan pusat diskusi dengan nama bufet merah, ia juga mendirikan media pers Pemandangan Islam, dan aktif menulis di Djago Djago dan Doenia Achirat. Sementara, Haji Rasul yang pernah melawat ke Jawa tahun 1917, pernah ditawari HOS Tjokroaminto untuk mendirikan SI di Sumatera Barat pun ditolaknya, karena ia bukan tipe ulama partisan. Apatah lagi dengan komunisme. Lewat Arra’du ‘alad Dahriyyin karangan Djamaluddin Al-Afghani, Haji Rasul sadar bahwa marxisme menetang seluruh agama. Namun, satu hal yang perlu dicatat komunisme yang berkembang di SUmatera Barat pada 1920an tersebut belum dipengaruhi historis-materialism, namun menitik beratkan pada kapitalisme-imprealisme. Sampai suatu hari, Haji Dt. Batuah dan Natar Zainuddin menemui Haji Rasul di Gatangan dan berdeleaktika mengenai komunisme-Islam. Terjadilah, perdebatan sengit malam itu, Haji Rasul menguatkan hujjahnya bahwa komunisme bertentangan dengan Islam, pada saat yang sama Haji Dt. Batuah pun mempertahankan pendapatnya dengan penuh semangat. Hingga suatu hari Dt. Batuah dan Natar Zainuddin pun ditangkap. Meskipun Dt. Batuah pernah menentang pendapatnya, mendengar berita penangkapan itu, wajah Haji Rasul pun muram. Ia berujar kepada puteranya, “Sudah tertangkap Haji Dt. Batuah.. Sayang dia seorang alim besar, terbenam saja ilmunya. Waang jangan masuk komunis pula”. Haji Rasul pun sadar, Dt. Batuah tidak saja berpengaruh di Thawalib Padang Panjang, namun juga mempengaruhi Duski Samad,adik sepupu A.R Sutan Mansur. Fikrul Hanif, saat ini sedang merampungkan naskah:”Menentang Kolonialisme di Sumatera Barat. Protes Intelektual Haji Ahmad Khatib Dt. Batuah 1923-1948″

foto berikut. Ya.., Haji Abdul Karim Amrullah dan Haji Ahmad Khatib Dt. Batuah. Kedua tokoh ini, dideskripsikan Hamka tak ubahnya, seperti Bapak-Anak. Selama menuntut ilmu di Sumatra Thawalib Padang Panjang, Haji Ahmad Khatib merupakan murid kesayangan Haji Rasul yang dikenal cerdas dan alim. Setelah menamatkan pendidikannya di Thawalib Padang Panjang, Haji Rasul mengizinkan sang murid untuk kembali ke kampung halamannya di Koto Laweh untuk mengajar di sana. Perkenalannya dengan komunisme dimulai sejak keberangkatannya ke Aceh sebagai utusan dari Haji Rasul untuk meninjau keadaan Thawalib School di Aceh yang pernah dirintis Buya A.R Sutan Mansur. Ia bertemu dengan salah seorang propagandis komunis asal Padang, yakni Natar Zainuddin. Sejak pertemuannya dengan Natar Zainuddin tersebut, terjadilah diskusi yang hangat di antara keduanya. Untuk membuktikan rasa penasarannya terhadap perkembangan komunis di Jawa, ia diajak untuk bertemu dengan

muncul keinginan dai Dt Batuah untuk merintis PKI di Padang Panjang. Batuah tidak saja berpengaruh di Thawalib Padang Panjang. ia juga mendirikan media pers Pemandangan Islam. Lewat Arra’du ‘alad Dahriyyin karangan Djamaluddin Al-Afghani. Batuah pernah menentang pendapatnya. karena ia bukan tipe ulama partisan. dan aktif menulis di Djago Djago dan Doenia Achirat. Ia berujar kepada puteranya.adik sepupu A. Hingga suatu hari Dt. Batuah. Sayang dia seorang alim besar. Batuah dan Natar Zainuddin menemui Haji Rasul di Gatangan dan berdeleaktika mengenai komunisme-Islam. Luthan kecil merupakan keturunan hartawan dan dikenal sebagai keluarga yang taat menjalankan syari’at Islam. Tidak hanya mendirikan pusat diskusi dengan nama bufet merah. Ibrahim Musa memperoleh pendidikan dasar secara tradisional di beberapa tempat di Minangkabau. Ureh. namun menitik beratkan pada kapitalisme-imprealisme. ia diberi nama Luthan. Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara). Sejak pertemuan dengan Haji Misbach. Waang jangan masuk komunis pula”. perdebatan sengit malam itu. Sejak saat itu. yakni Syech Ibrahim Musa Parabek. dan Syech Jalaluddin AlKusai di Sungai Landai selama satu tahun. Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek pada hari Minggu tanggal 12 Syawal 1301 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1882. Pada tanggal 20 November 1923 berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Tuanku Angin di Batipuh. Batuah dan Natar Zainuddin pun ditangkap. Batuah (Ketua). terbenam saja ilmunya. “Sudah tertangkap Haji Dt. Sampai suatu hari. Natar Zainuddin (anggota). Mula-mula belajar membaca Al-Qur’an dengan orang tuanya sendiri sampai berumur 13 tahun. Karena melihat ketekunan dan kepribadian anaknya. Haji Dt. seorang ulama yang dihormati masyarakat Parabek. Meskipun Dt. Apatah lagi dengan komunisme. Batuah dianggap sebagai propagandis ilmu kuminih (komunis). seperti yang Anda lihat padaSyech Ibrahim Musa Parabek dalam Tinjauan Biografi Tematis Tulisan kali ini. wajah Haji Rasul pun muram. orang tuanya kemudian menyerahkan Ibrahim Musa untuk menuntut ilmu ke beberapa ulama lain di Minangkabau. Machudum Sati (anggota). Pada masa kecil. pernah ditawari HOS Tjokroaminto untuk mendirikan SI di Sumatera Barat pun ditolaknya.Haji Misbach. akan membahas salah seorang tokoh modernisme Islam. Namun. Sementara. Batuah pun mempertahankan pendapatnya dengan penuh semangat. Ulama-ulama Minangkabau yang dikunjunginya untuk menuntut ilmu adalah Syech Mata Air di Pakandangan. dan Dt. Sedangkan ayahnya bernama Musa bin Abdul Malik Al¬Qasthawi. Dt. Syech Abdul Shamad di IV Angkat Candung (Biaro). Haji Rasul sadar bahwa marxisme menetang seluruh agama. yang memadukan ajaran Islam dengan unsur-unsur Marxis di kalangan murid-murid Thawalib Padang Panjang. Haji Rasul menguatkan hujjahnya bahwa komunisme bertentangan dengan Islam.. Sedangkan ibunya. Haji Rasul pun sadar. Batuah 1923-1948″ Lembaran sejarah Sumatra Thawalib Padang Panjang tidak bisa dilepaskan dari kedua tokoh. pada saat yang sama Haji Dt. . saat ini sedang merampungkan naskah:”Menentang Kolonialisme di Sumatera Barat.R Sutan Mansur. Terjadilah. satu hal yang perlu dicatat komunisme yang berkembang di SUmatera Barat pada 1920an tersebut belum dipengaruhi historis-materialism. mendengar berita penangkapan itu. berasal dari suku Pisang. maka dengan penuh semangat. Protes Intelektual Haji Ahmad Khatib Dt. Haji Rasul yang pernah melawat ke Jawa tahun 1917. Fikrul Hanif. namun juga mempengaruhi Duski Samad. Haji Dt.

surau Parabek yang memakai sistem belajar secara konvensional dan konservatif (sistem halaqah) dirubah menjadi sistem berkelas atau klasikal. Abdul Gafar Ismail. Ibrahim Musa masih merasakan kekurangan ilmu pada dirinya. kantor. ternyata banyak dari lulusan Sumatera Thawalib aktif dan campin dibidang politik. Selanjutnya belajar kepada Syech Mukhtar AI-Jawi dan Syech Yusuf Al-Hayat. orang tuanya kemudian menyerahkan Ibrahim Musa untuk menuntut ilmu ke beberapa ulama lain di Minangkabau. Di samping kecurigaan-kecurigaan Belanda diatas banyak lagi hal-hal dan cobaan yang dialami oleh Syech Ibrahim Musa. Ibrahim Musa kemudian melanjutkan petualangannya dalam menuntut ilmu. Pada tanggal 21 September 1921. maka perkumpulan ini berobah menjadi Sumatera Thawalib setelah terinspirasi dengan berdirinya Sumatera Thawalib di Padang Panjang. ia diberi nama Luthan.Meskipun ia telah memiliki banyak murid. berasal dari suku Pisang. Melalui Syech Ahmad Khatib. lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Parabek berasal dari perkumpulan beberapa orang murid di Surau Parabek. Perkumpulan ini diberi nama Muzakaratul Ikhwan. Dengan Syech Djamil Djambek ini. Akhirnya pemerintah Belanda menawarkan bantuan subsidi untuk Thawalib Parabek. Luthan kecil merupakan keturunan hartawan dan dikenal sebagai keluarga yang taat menjalankan syari’at Islam. Ibrahim Musa memperoleh pendidikan dasar secara tradisional di beberapa tempat di Minangkabau. Syech Ibrahim Musa mendapat peringatan dari pemerintah Hindia Belanda Belanda. asrama bertingkat. Ulama-ulama Minangkabau yang . seperti Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) yang dipelopori oleh Ali Imran Jamil. Pemerintahan Belanda masih tetap curiga. Saat suhu politik yang juga ditandai dengan kebijakan Ordonansi Sekolah Liar dan Ordonansi Guru. Ureh. Ulama yang ditemuinya adalah Syech Muh. Karena kegiatan murid-murid ini makin hari makin bertambah intens dan diikuti oleh banyak murid. Pada masa kecil. maka dengan penuh semangat. yakni Syech Ibrahim Musa Parabek. Djamil Djambek. Inyiak Parabek melanjutkan pelajarannya ke tanah suci Mekah pada tahun 1901 bersama kakaknya Abdul Malik. Secara historis. Fikrul Hanif Sufyan adalah penulis dan pengajar di Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh. yang menghanguskan sekolah. terjadi lagi kebakaran yang menghanguskan asrama putri. Disana ia bersama kakaknya belajar kepada Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek pada hari Minggu tanggal 12 Syawal 1301 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1882. Sedangkan ayahnya bernama Musa bin Abdul Malik Al¬Qasthawi. Mula-mula belajar membaca Al-Qur’an dengan orang tuanya sendiri sampai berumur 13 tahun. Setelah belajar Fiqh dengan pelopor gerakan modernis Islam awal abad ke XX ini. Inyiak Parabek pun melawan kebijakan tersebut. hal ini terjadi pada tanggal 17-18 Oktober 1937. juga bertingkat dua. Setelah bermukim di Mekah selama 7 tahun. Ibrahim Musa belajar tentang Ilmu Fiqh mazhab Syafii. Sedangkan ibunya. seorang ulama yang dihormati masyarakat Parabek. Ibrahim Musa kembali ke kampung halamannya. ia belajar tentang seluk beluk Ilmu Falaq. serta staf Dosen Bahasa Belanda di Universitas Andalas Padang Tulisan kali ini. lima tahun kemudian. Abdul Malik Sidik dan lain-lainnya. namun ia (Syech Ibrahim Musa) menolaknya secara halus dan bijaksana. seorang ulama kharismatik asal Minangkabau yang kemampuan keilmuannya di bidang agama Islam diakui di Jazirah Arabia terutama di Mekah. Karena melihat ketekunan dan kepribadian anaknya. akan membahas salah seorang tokoh modernisme Islam. walaupun dalam kurikulum Sumatera Thawalib tidak terdapat pelajaran yang berbau politik. seperti: terjadinya kebakaran di Parabek.

Setelah belajar Fiqh dengan pelopor gerakan modernis Islam awal abad ke XX ini. Selanjutnya belajar kepada Syech Mukhtar AI-Jawi dan Syech Yusuf Al-Hayat. A.dikunjunginya untuk menuntut ilmu adalah Syech Mata Air di Pakandangan. Akhirnya pemerintah Belanda menawarkan bantuan subsidi untuk Thawalib Parabek. Syech Ibrahim Musa mendapat peringatan dari pemerintah Hindia Belanda Belanda. Syech Abdul Shamad di IV Angkat Candung (Biaro). Abdul Gafar Ismail. Pada tanggal 21 September 1921. Djamil Djambek. terjadi lagi kebakaran yang menghanguskan asrama putri. tepatnya kita akan mengunjungi persatuan saudagar di Padang atau Bestuur Saudagar Vereeniging Padang. surau Parabek yang memakai sistem belajar secara konvensional dan konservatif (sistem halaqah) dirubah menjadi sistem berkelas atau klasikal. pagi ini Saya mengajak anda untuk menuju ke masa lampau. serta staf Dosen Bahasa Belanda di Universitas Andalas Padang Bestuur Saudagar Vereeniging Padang 1941-1945 Posted on 29/12/2012 Bloggers…. Di samping kecurigaan-kecurigaan Belanda diatas banyak lagi hal-hal dan cobaan yang dialami oleh Syech Ibrahim Musa. seperti: terjadinya kebakaran di Parabek. Inyiak Parabek pun melawan kebijakan tersebut. asrama bertingkat. Fikrul Hanif Sufyan adalah penulis dan pengajar di Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh. Foto ini kemungkinan diambil pada tahun 1941. Pemerintahan Belanda masih tetap curiga. namun ia (Syech Ibrahim Musa) menolaknya secara halus dan bijaksana. Fatah Sutan Malano (comissaris). Perkumpulan ini diberi nama Muzakaratul Ikhwan. Karena kegiatan murid-murid ini makin hari makin bertambah intens dan diikuti oleh banyak murid. kantor. walaupun dalam kurikulum Sumatera Thawalib tidak terdapat pelajaran yang berbau politik. Dengan Syech Djamil Djambek ini. juga bertingkat dua. hal ini terjadi pada tanggal 17-18 Oktober 1937. yang menghanguskan sekolah. Secara historis. lima tahun kemudian. Ibrahim Musa kemudian melanjutkan petualangannya dalam menuntut ilmu. Adapun nama-nama yang terdapat di foto ini adalah (dari kiri ke kanan): A. lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Parabek berasal dari perkumpulan beberapa orang murid di Surau Parabek. Abdul Malik Sidik dan lain-lainnya. Melalui Syech Ahmad Khatib. Ibrahim Musa kembali ke kampung halamannya. ternyata banyak dari lulusan Sumatera Thawalib aktif dan campin dibidang politik. seorang ulama kharismatik asal Minangkabau yang kemampuan keilmuannya di bidang agama Islam diakui di Jazirah Arabia terutama di Mekah. ia belajar tentang seluk beluk Ilmu Falaq. Karim Yusuf (comissaris). Abdul Aziz Latif . maka perkumpulan ini berobah menjadi Sumatera Thawalib setelah terinspirasi dengan berdirinya Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Ibrahim Musa masih merasakan kekurangan ilmu pada dirinya. seperti Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) yang dipelopori oleh Ali Imran Jamil. Tuanku Angin di Batipuh. Setelah bermukim di Mekah selama 7 tahun. Disana ia bersama kakaknya belajar kepada Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Meskipun ia telah memiliki banyak murid. Ulama yang ditemuinya adalah Syech Muh. dan Syech Jalaluddin AlKusai di Sungai Landai selama satu tahun. Saat suhu politik yang juga ditandai dengan kebijakan Ordonansi Sekolah Liar dan Ordonansi Guru. Ibrahim Musa belajar tentang Ilmu Fiqh mazhab Syafii. Inyiak Parabek melanjutkan pelajarannya ke tanah suci Mekah pada tahun 1901 bersama kakaknya Abdul Malik.

rasanya kurang jika tidak melibatkan satu nama. Datuk Batuah juga mengelola koran “Pemandangan Islam”. Selama kongres itu ia bertemu dengan tokoh-tokoh komunis dari ISDV. M.” Sedangkan kain hasil tenunannya diberi label “Randai” Sebagai putra asal Koto Anau. bersama dengan Djamaluddin Tamin. Selama aktif di VSTP. di antaranya Haji Abdul Karim Amrullah.Tiga tahun ia bekerja sebagai kondektur. Natar Zainuddin slelau mendapat gemblengan dari Semaun. Sutan Harun al-Rasjid (Hoofdcomissaris). yakni Abdul Aziz Latif. Sang Propagandis Komunis dalam DjagoDjago Pagi hari ini mengulang kisah perjalanan Islam dan Komunisme di Sumatera Barat. Ia lahir di Padang tahun 1890. Haji Misbach dari Surakarta tampil berpidato. Saat itu. yang kembali ke Sumatera Barat pada tahun 1923. Datuk Batuah segera menyebarkan pandangan Haji Misbach itu di perguruan Thawalib. Oemar Marah Alamsyah (Secretaris). H. Turki Bagindo Marah (voorzitter). Abdul Latif rela untuk merogoh uang sakunya guna memodernisasi Islam di nagari Koto Anau. Haji Datuk Batuah saat itu terperangah saat Misbach menjelaskan secara progresif tentang kuatnya hubungan Islam dan komunisme. Kedua pabrik textile itu diberi nama “Tenun Haji Abdul Aziz Latif. yakni di Simpang Haru (sekarang STIE Dharma Andalas) dan di Koto Anau Solok. bahwa kelompok ini merupakan kumpulan para saudagar-saudagar atau pengusahapengusaha yang berdomisi di Padang. ia mendatangkan beberapa tokoh modernisasi Islam ke daerah tersebut. Jawa Barat. Natar Zainuddin adalah seorang perantau Minang yang bekerja sebagai kondektur kereta api di Aceh. Keduanya mengikuti kongres Partai Komunis Indonesia/Sarekat Islam Merah (SI-Merah) di Bandung. Haji Dt. dan Haji Misbach. tetapi mereka juga . Abdul Latif demikian biasanya ia akrab dipanggil. Saya sedikit menerangkan salah seorang tokoh dalam foto ini. Pada tahun 1923 itu juga. tahun 1923 takdir mempertemukannya dengan Datuk Batuah yang ditugasi Haji Abdul Karim Amrullah untuk mengurus Thawalib School yang sempat dirintis Buya A. yakni Natar Zainuddin. Marzuki Yatim (Vice Voorzitter). Menurut salah seorang cucu dari Abdul Aziz Latif (yang menjabat sebagai bendahara).R Sutan Mansur. diantaranya Bersgma dan Baars. Abdul Latif adalah seorang pengusaha asal nagari Koto Anau Solok. Kalau kita ibaratkan mungkin sama dengan KADIN saat ini. Untuk mendatangkan kedua tokoh tersebut. Thaib Sutan Mangkuto (Comissaris). Fikrul Hanif Sufyan adalah staf pengajar di Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Abdi Pendidikan dan Dosen di Universitas Andalas Padang Natar Zainuddin. Sepulangnya dari kongres itu. Batuah dan Natar Zainuddin berangkat ke Jawa. Abdul Manap asal Lantai Batu Kabupaten Tanah Datar. Sejak saat itu. pernah menghadiri kongres Vereeniging van Spoor en Tramwegs Personeel (VSTP) di Semarang. Batuah tertarik dengan ceritacerita Natar Zainuddin tentang komunisme dan perlawananya terhadap pemerintah kolonial Belanda. dan rupanya Haji Dt. terjadi interaksi kuat di antaranya. Dharsono.M Thaib (comissaris). Pada tahun 1920. Datuk Madjo Kayo (Comissaris). Sedangkan Natar Zainuddin. Mr. Ia merupakan pengusaha textile yang pabriknya berlokasi di dua tempat. Selain itu.(Penningmeester/bendahara). segera menyebarkan gagasan islam komunis melalui korannya: Djago Djago! Meskipun sebagian besar guru-guru Thawalib adalah pedagang.

tahun 1915 ia kembali ke Padang Panjang dan meneruskan untuk berguru pada Haji Abdul Karim Amrullah. islam juga melarang keras umatnya memupuk kekayaan. pada tahun 1920-an. mereka mengharamkan praktek riba. Sejak saat itu. apakah ia meninggal di Boven Digoel? Atau diasingkan bersama Haji Datuk Batuah ke New South Wales Australia. Sejak pertemuannya dengan Natar Zainuddin tersebut.” (Ruth McVey dan Harry J Benda. Ahmad Khatib gelar Dt. melainkan mencari sepiring nasi. Sebagai pedagang Islam. yakni Natar Zainuddin. masing-masing Sanah. Ahmad Khatib merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. tetapi mereka bukan kapitalis. Saya sendiri belum tahu bagaimana nasib tokoh ini Haji Ahmad Khatib Dt. Batuah Saya mengajak anda untuk singgah ke Nagari Koto Laweh Padang Panjang untuk menyinggahi Haji Ahmad Khatib gelar Dt. demikian sosok ini sering kenang namanya. Haji Rasul. Perkenalannya dengan komunisme dimulai sejak keberangkatannya ke Aceh sebagai utusan dari Haji Rasul untuk meninjau keadaan Thawalib School di Aceh yang pernah dirintis Buya A. Key Documents. PKI mengemukakan sikap: “Sekalipun mereka berdagang.menentang penghisapan atau eksploitasi terhadap orang lain. terjadilah diskusi yang hangat di antara keduanya. Batuah (Ketua). Pada tahun 1909 ia memutuskan berangkat kembali ke Mekah untuk mendalami Islam dan berguru pada Syech Ahmad Khatib al-Minangkabawi.R Sutan Mansur. muncul keinginan dai Dt Batuah untuk merintis PKI di Padang Panjang. Saat penangkapan tokoh-tokoh komunis itu. Djamaluddin Tamim (sekretaris dan . Untuk membuktikan rasa penasarannya terhadap perkembangan komunis di Jawa. yang memimpin perguruan Thawalib. Keduanya dituding mempengaruhi tokoh-tokoh adat untuk melakukan pemberontakan.Ahmad Khatib lahir tahun 1895 di Nagari Koto Laweh dari pasangan Syech Gunung Rajo (seorang pimpinan Tarekat Sy attariyah) dan Saidah. Selain itu. Akibatnya. tidak banyak yang tahu bagaimana nasib Natar Zainuddin. tidak berbuat apa-apa. Ia bertemu dengan salah seorang propagandis komunis asal Padang. satu detasemen polisi bersenjata telah datang untuk menangkap keduanya. Setelah itu. Mereka bukan mencari kaya dan jadi gemuk dan bermalas-malasan. ia diajak untuk bertemu dengan Haji Misbach. PKI Sumatera Barat sendiri. Batuah. Haji Dt. Sejak pertemuan dengan Haji Misbach. sangat membela pedagang kecil. dua bulan setelah kepulangannya dari kongres PKI di Jawa. Enam tahun bermukim di sana. dan Jamaliah. Batuah. Dan mereka digencet oleh pengusaha-pengusaha kapitalis yang telah mengambil seluruh kehidupan mereka. 1960) Aktivitas Haji Batuah dan Natar Zainuddin tidaklah terlalu lama. Batuah. murid-murid pun marah dan memaksa Haji Rasul mengundurkan diri dari sekolah Thawalib. Mereka juga korban kapitalisme. ia menjadi salahmela seorang murid kesayangan tokoh modernisme Islam tersebut dan diamanahi sebagai guru di Sumatra Thawalib Padang Panjang. Sebab. Pada tanggal 20 November 1923 berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Kesesuaian-kesesuaian inilah yang menjadi lahan subur propaganda marxisme di kalangan islam.

yakni KARTINI. Pada tahun 1945. Batuah dan Saadiah menghirup udara kebebesannya dan memutuskan berangkat menuju Solo (belum diketahui apa aktivitasnya di sana).00 siang!!! Program ini tanpa dipungut biaya. tetap berdakwah. dan NABAWIYAH. Dt. Alimin dan Darsono??? Penulis saat ini sedang meneliti Aktivitas Kelompok Propaganda Haji Dt. sejauh mana interaksi Haji Dt. Membesarnya pengaruh komunis di Padang Panjang. Pada tahun 1943. Dt. Pada saat LENIN berumur satu tahun. Dengan native speaker Fikrul Hanif Sufyan. Pada tahun 1948. Sejak saat itu. seperti Semaun. Dari hasil pernikahannya. Batuah dengan Tan Malaka.S. membuat pemerintah Hindia Belanda gusar. untuk kemajuan Mahasiswa dan Prodi Pendidikan Sejarah itu sendiri. eks Digoelis ini pun dipindah ke New South Wales Australia karena kawasan Indonesia diduduko pemerintah fasisme Jepang. pasangan suami isteri ini kembali ke Nagari Koto Laweh. tokoh fenomenal ini pun menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di Nagari Koto Laweh. kursus bahasa Belanda ini berupaya mencari solusi terhadap kendala yang dihadapi mahasiswa dalam membaca dan menterjemahkan Bahasa Belanda yang terdapt di dalam arsip. Kaharoeddin. Silakan begabung dengan kelas Nederlandsetaal cursus pada hari Senin pukul 12. ia juga mendirikan media pers Pemandangan Islam. Batuah dan Natar Zainuddin ditangkap. Haji Dt. seperti Magas. Tanggal 11 November 1924. ia dikaruniai tiga orang anak. yakni LENIN. Machudum Sati (anggota). Untuk mencegah semakin membesar dan bertambahnya jumlah pengikut Haji Dt. Tidak hanya mendirikan pusat diskusi dengan nama bufet merah. komunikasinya dengan tokoh komunis Jawa.bendahara). yakni Saadiah. Haji Dt. isteri pertama Haji Dt. Tahanan politik itu pun diasingkan ke Boven Digoel. SAUKANI. dan aktif menulis di Djago Djago dan Doenia Achirat. Batuah. dan Dt. Pemimpin Berkepala Batu Salah satu alasan Tritunggal (Soekarno-Mohammad Hatta-Sutan Sjahrir) tak bertahan lama karena kepala mereka lebih keras daripada batu. Aktivitas yang dijalani Ahmad Khatib menjelang akhir hayatnya tidak jauh berbeda saat ia menjadi propagandis komunis. yang memadukan ajaran Islam dengan unsur-unsur Marxis di kalangan murid-murid Thawalib Padang Panjang.Hum. M. pemerintah Hindia Belanda melakukan penggeldehan terhadap kantor IDC. Wahab. Batuah dalam Menyebarkan Paham Komunis di Sumatera Barat Setujukah Anda Dengan Nederlandsetaal Cursus??? Program pelatihan Bahasa Belanda (Nederlandsetaal cursus) yang diselenggarakan pihak Prodi Pendidikan Sejarah adalah murni untuk mengajarkan kepada mahasiswa Sejarah untuk mengetahui dasar-dasar bahasa Belanda. Batuah pun menyusul ke sana. Pada tahun 1949. Namun ada satu hal yang menjadi tanda tanya besar. Natar Zainuddin (anggota). Batuah mengakhiri masa lajangnya pada umur 23 tahun dengan mempersunting gadis asal Nagari Koto Laweh. dan lainnya. A. Batuah menikah lagi dengan Zainab dan dikaruniai satu orang anak.S. Djalaludin. mengajak masy Koto Laweh diskusi masalah politik di rumahnya ataupun di kedai kopi. Batuah dianggap sebagai propagandis ilmu kuminih (komunis). Setahun setelah pengasingannya. Kejadian yang sama juga menimpa pimpinan PKI di Padang. Tak heran mereka mirip film kartun Tom . Haji Dt.

Sebagai pejuang. dan Jawaharlal Nehru (1889-1964). dan Sjahrir bersikap nonkooperatif. ia sempat keceplo-san bahwa tanpa Hatta pun ia bisa membaca teks Proklamasi sendirian saja. saya sering ditanyai apa .untungan (luck). Kala itu ia sering melawat ke daerah menggalang kebinekaan ala Pancasila.and Jerry. Sehubungan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Sjahrir. baik sebagai proklamator maupun administrator. ketiga. ada Mahatma Gandhi (1869-1948). kritik Hatta makin tajam setelah Soekarno memberlakukan Dekret 5 Juli 1959. Hatta percaya demokrasi dimulai dari bawah. politik etis Belanda yang membuka sekolah bagi pribumi. Di China ada pula kepemimpinan trio Chiang Kai–shek (1887-1975). Hatta jengkel pada politicking Sjahrir yang ikut menghancurkan demokrasi parlementer sebelum Pemilu 1955. Selain berbakat memimpin dan berotak cair. Namun. Hatta “ditendang ke atas” dari jabatan PM yang berkuasa jadi wapres ban serep. Ketika Republik genting menjelang pemberontakan PRRI/ Permesta 1957-1958.” sindir Hatta. Jalan Keagungan. Soekarno dikenal mendambakan persatuan. Kebebasan bangsabangsa yang baru kala itu merupakan ikhtiar bersama—bukan individual effort. Soekarno dan Sjahrir ibarat air dan minyak yang mustahil dicampur. Hatta menyiapkan Sjahrir sebagai penggantinya. Sebagai politisi.Tentu Soekarno pernah geram kepada Hatta. RSPAD. 7 Januari 1962. dan Zhou Enlai (1899-1976). Saking jengkel-nya. Tritunggal mengenyam pendidikan bermutu tinggi. bukan sekadar untung. Soekarno siuman. termasuk Hatta dan Sjahrir yang belajar ke Belanda. Namun. Mao Zedong (18931976). Ali Jinnah (1876-1948). Dan. Hatta nekat minta izin ke Soeharto menjenguk Soekarno. Kekesalan Hatta tampak dari jawabannya atas pertanyaan basa-basi Sjahrir tentang tugas wapres. Hatta memimpikan kedaulatan rakyat. Kombinasi ketiga faktor itu membuktikan kelahiran Tritunggal sudah menjadi suratan sejarah (fate). dan RTM Budi Utomo. Kedua. kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang 1905 yang menaikkan gengsi Asia. Hatta mengakhiri era keemasan Dwitunggal setelah mundur sebagai wapres tahun 1956 karena menganggap Soekarno makin otoriter. “Saya sekarang mengurus PON (Pekan Olahraga Nasional) agar kita sehat. Hatta pergi ke sejumlah daerah membela Soekarno. Hubungan Hatta-Sjahrir bagus. Di Uni Soviet ada model triumvirat Vladimir Lenin (1870-1924). memimpin Perhimpunan Indonesia. Akibatnya. Di India pun sama. dan Sjahrir meyakini kaderisasi partai.Soekarno memberikan peluang kepada Hatta-juga Sjahrir-memimpin kabinet sebagai perdana menteri. sukses revolusi Bolshevik di Rusia tahun 1917 yang meruntuhkan kekaisaran Rusia. Faktor pertama. Sjahrir ditangkap Soekarno 18 Januari 1962 dan disekap di penjara Madiun. Setelah menyelesaikan studi di Belanda. Soekarno amat menghormati Hatta. termasuk kamu. Tritunggal terbentuk karena tiga faktor. Sjahrir secara terbuka mengkritik Soekarno yang memakai bahasa Belanda-bukan Indonesia-dalam rapat-rapat PNI. Ia dituduh terlibat dalam upaya pembunuhan Soekarno saat iring-iringan mobil Kepala Negara dilempari granat di Makassar. Saat bersua pertama kali di Bandung. Sjahrir dongkol tiap kali Soekarno mandi sambil bernyanyi karena suaranya sumbang. dan Leon Trotsky (1879-1940). Soekarno suka meledek Sjahrir sebagai pejuang yang mengandalkan siaran radio-radio luar negeri. sahabatnya yang sekarat. Soekarno orator pemukau massa. Joseph Stalin (1878-1953). mereka menangis sambil bergenggaman tangan dan dua hari kemudian Soekarno wafat.

Ronkel menjuluki Abdullah Ahmad sebagai politisi dan . Saat kampanye Pemilu 1955. yang sekarang dealers (penjual). Selain itu. Fikrul Hanif Sufyan Arsip tanggal 16 Mei 2009 Prodi Pendidikan Sejarah berada di bawah naungan STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh. dan mendapat pengakuan hukum dari pemerintah Hindia Belanda tanggal 17 Juli 1920. Prof. Prodi Pendidkan Sejarah telah beberapa kali melaksanakan aplikasi mata kuliah sejarah lisan. Sikapnya yang taktis dan tenang dalam berhadapan dengan aturan-aturan hukum pemerintah Hindia Belanda. Haji Abdullah Ahmad sebagai salah seorang ulama modernis dan pembaru pendidikan Islam di Sumatera Barat. Gusti Asnan. Dengan Visi Menjadikan Prodi Pendidikan Sejarah yang menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa. Ia lahir tanggal 1878 di Padang Panjang. serta memiliki kompetensi yang bermutu sesuai kebutuhan masyarakat. sejarah maritim. Pada tahun 1909 Abdullah Ahmad bersama beberapa orang pedagang mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan Syarikat Usaha di Padang. Mestika Zed. karena Kaum Tua dibawah pimpinan Syekh Sulaiman ar-Rusuli mendirikan organisasi serupa dengan nama Ittihadul Ulama Sumatra (Persatuan Ulama Sumatra). “Ia tak meninggalkan warisan apa pun karena enggak punya duit. Tritunggal adalah leaders (pemimpin). Oleh sebab itu. memakai dasi dan topi tidak haram hukumnya. talqin terhadap si mayat. sekaligus berguru pada Syech Ahmad Khatib. membaca barzanji. Abdullah Ahmad cs mengemukakan ijtihad mereka terhadap beberapa masalah yang sebelumnya diharamkan oleh ulama tradisional.” tulis seorang pembaca. Dari organisasi ini. sejarah pers. Selama penerbitannya. seperti berfoto hukumnya boleh. beda ya sama pemimpin sekarang.A. di antaranya Prof. seorang ulama dan pedagang kecil di Padang Panjang. Berdasarkan tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Prodi Pendidikan Sejarah pada awalnya didirikan pada tahun 2005. Syekh Muhammad Djamil Djambek. dan lainnya. Phil. dan Syekh Muhammad Thaib Umar.” Soekarno ngutang untuk beli rumah. “Wah. Melalui majalah al-Munir. sehingga sejak kecil ia telah didik oleh ayahnya yang bernama Haji Ahmad. Hatta sampai wafat gagal membeli sepatu Bally. Maestro Gerakan Modernisasi Islam di Minangkabau Posted on 29/12/2012 by abdipendidikan Bloggers. membedah masalah-masalah bid’ah. penjual berebut mau jumpa Barack Obama. Prodi Pendidikan Sejarah telah beberapa kali melaksanakan seminar nasional yang menampilkan pembicara bertaraf nasional dan internasional. Abdullah Ahmad mendirikan perusahaan pers Islam pertama dan menerbitkan majalah al-Munir. Abdullah Ahmad berasal dari keluarga yang taat terhadap agama. Rubrik yang ditampilkan al-Munir kental dengan nuansa konfrontatif dengan ulama-ulama tradisional. Pada tanggal 1 April 1911. kembali hari saya mengajak anda untuk masuk ke masa lampau untuk mengenal satu sosok tokoh gerakan modernisasi Islam. seperti Haji Abdul Karim Amrullah. M. dan lain sebagainya. Dr. Tujuan berdirinya organisasi ini adalah untuk mempersatukan ulama tradisional dan ulama modernis. Abdullah Ahmad dibantu oleh ulama-ulama modernis. dan hukum memakai dasi. Pemimpin bersahabat dengan Nehru atau Mao.warisan PM pertama kita itu? Saya jawab. Abdullah Ahmad. majalah al-Munir merupakan salah satu media yang dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh modernis Islam dalam menyampaikan ijtihadnya. Biasanya dalam rubriknya dibahas tentang masalah ushalli. Empat tahun kemudian (1899) ia kembali ke Padang Panjang dan mengajar di Surau Jembatan Besi bersama Haji Rasul. makan di rumah orang kematian. Namun usaha ini tidak berhasil sepenuhnya. pemimpin menawarkan program konkret. Pada tahun 1918 Abdullah Ahmad mendirikan Persatuan Guru-guru Agama Islam. Dr. Syarikat Usaha merintis berdirinya Adabiyah School (1909-1914) yang menerapkan sistem pendidikan Islam modernis. Pada usia 17 tahun (1895) ia menunaikan ibadah haji ke Mekah.

mereka berperan juga sebagai politisi. Tulisan-tulisan mereka tidak begitu mengedepankan soal taktik. Politisi cumnegarawan. bersahaja. Soal kepolosan. Prawoto. Kalau politisi Senayan dan di daerah tidak perlu ditanya. Meski ‘polos’. sederhana. Yang begini ini manusia amat sangat langka di Senayan kiwari. Menariknya. Saya merasakan itulah kesan terkuat terkait pembacaan pada perjalanan para bapak bangsa dari rahim umat Islam. ada satu kemiripan dalam hal pembentukan karakter seorang politisi. Sungguh menarik menyimak sisi hidup orang semacam Natsir. Yang dipandang negarawan pun rupanya sosok lebih karena tidak bersentuhan langsung dengan politik. Gemblengan Syech Ahmad Khatib pada murid-murid terbaiknya umumnya memiliki dampak luas dalam mentransmisikan pemikiran-pemikirannya kepada orang Minang. Darinya saya temui cara menjadi politisi dalam arti yang ‘aneh’. Natsir tidak diragukan lagi kepiawaiannya di mata kawan dan lawan.intelektual. Syekh Muhammad Djamil Djambek. penyebaran paham-paham modernis Islam di satu sisi mempercepat “revolusi berpikir” terhadap kejumudan berfikir dan sikap kritis orang Minang terhadap tarekat-tarekat yang berkembang di Sumatera Barat. dan lainnya merupakan agen transmisi pemikiran Syech Ahmad Khatib dalam memodernisasi pendidikan tradisional menjadi pendidikan Islam berbasis modernis. berubah menjadi dakwah yang bertujuan memurnikan ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadits. Melalui murid-murid terbaiknya proses modernisasi Islam yang sebelumnya (masa gerakan Paderi) keras dan tanpa kompromi. Melalui murid-muridnya. Semuanya bersahaja. dalam arti selalu bicara kepentingan kelompok dan taktik memenangkan aspirasinya. Karena bagi mereka. Teknik-teknik mengelabui dan melawan politik pengelabuan lebih ditanamkan dahulu daripada soal-soal penguatan kepercayaan diri. dan tidak begitu berurusan soal yang sepintas menandai pengarangnya seorang politikus kawakan. dan nama-nama di atas. Memperkaya diri? Jauh dari bayangannya. atau kadang kala bicaranya normatif tapi di balik layar ikut kecipratan proyek tertentu. sampai kini kesan yang saya tangkap itulah yang mendalam tentang negarawan. Polos. Kepolosan dalam Berpolitik Membaca biografi tokoh-tokoh Masyumi. teknik. dan tipu muslihat mengelabui lawan. saya selalu terngiang dengan kebiasaan mahasiswa yang saat belajar berpolitik kampus lebih mengedepankan kepentingan golongan. sejenis manusia polos yang tidak berpikir rumit ketika berhadapan dengan lawan-lawannya yang culas. Oleh karena itu. Hamka. semuanya tidak lebih makhluk politik. saya salah besar bila ia bakal mudah dipecundangi kaum nasionalis-sekuler ataupun komunis kala berdebat di parlemen kita masa itu. Pun demikian saya dapati pada Agus Salim. tapi juga bangsa. . Hamka. Natsir tidak semata berjuang buat Masyumi. Roem. tipu-menipu itu bertentangan dengan politik moral yang selalu didengung-dengungkan. khususnya Masyumi. Haji Abdullah Ahmad. yakni tidak seperti bayangan kekecewaan publik dewasa ini. Inilah yang tampaknya berbeda dibandingkan politisicum negarawan semodel Natsir. Saya melihat Natsir. Haji Rasul. Fikrul Hanif Sufyan adalah staf pengajar di Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh dan Dosen Bahasa Belanda di Prodi Ilmu Sejarah Universitas Andalas Padang.

yang sebelum diangkat ‘bertanding duel’ dengan Gubernur Belanda di Yogyakarta. Inilah modal seorang negarawan yang semakin langka diperhatikan oleh para politisi. Dr Lucien Adam. Bahkan membaca Risalah Pergerakan pun di sana juga tertera sebuah kepolosan dalam berjuang. atau Dorodjatun kala Indonesia belum merdeka. Sebuah pelajaran penting bagai generasi muda hari ini yang lebih sibuk beretorika dari pada melakukan kerja nyata. Dorodjatun masih anak kemarin sore. Apakah kondisi ini baru terjadi saat ini setelah reformasi? Sejak kapankah praktik-praktik seperti ini berlangsung? Marilah kita mulai dengan mempelajari sejarah kebangkitan kapitalisme di Indonesia. Tapi. penulis belum mampu menawarkan solusi kemana Indonesia akan melangkah. Bila soal ini tunduk. Kiranya saya harus segera meralat simpulan selama ini. kejatuhan orde lama dan kebangkitan orde baru. Harga diri mereka tidak lagi diacuhkan. harga diri mereka yang dipoles anti-kepolosan benar-benar tidak berguna. ekonomi dan sosial. Dan mereka tahu betul siasat yang dimainkan lawan. "Kepolosan" yang seperti ini adalah hiasan yang selalu melekat pada para pejuang dari masa ke masa. Orang-orang polos di atas lahiriah sepintas gampang digiring. Jadi. Tidak ada yang salah dengan ideologi . Sebaliknya. mafia badan anggaran. tercatat dalam sejarah dari November 1939 hingga Februari 1940. Dengan keterbatsan analisa. Penulis tidak mengkonsentrasikan pada kasus yang terjadi karena tentunya para ahli politik sudah banyak mengkomentari dan debat politik sudah kerap dilakukan.Kapitalisme di Indonesia Posted in Uncategorized on November 27. terutama perut dan di bawah perut. kasus pembangunan wisma atlit yang melibatkan anggota dewan. Tentu saja ini akan berkaitan erat sekali dengan sejarah Indonesia masa kolonial . hanya tampilan lahirian. puta mahkota Kasultanan Yogyakarta. mereka punya kepercayaan diri dari siasat dan muslihat lawan. Kalaulah rakyat ditundukkan oleh hawa nafsunya. di balik kepolosan bersikap. semuanya diganti kepentingan. pengetahuan dan strategi secara politik. Dia pun tidak selalu terlahir dari pentas politik. eksistensinya. semestinya politisi memiliki kesempatan untuk menjadi manusia polos sebagaimana Natsir dan kawan-kawan d Masyumi. sejatinya dalam diri mereka ada keberanian dan ketegaran tersendiri. ya. Apa hasilnya? Pemuda Jawa nan polos itu berhasil menahan perdebatan hingga empat bulan.Mereka polos? Saya berani jawab. dan terutama harga diri. mereka punya sikap percaya diri. kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. bahwa menjadi negarawan itu tidak sesusah yang dibicarakan ramai di Kompas atau media utama lainnya. Sementara yang dihadapinya sosok yang dikenal jagoan menundukkan lawan. Tapi. Ini mengingatkan saya pada sosok Dorodjatun. Kepolosan mereka. dengan demikian. belum punya jam terbang di gelanggang diplomasi. Hanya. manusia politik yang banyak berseliweran di media massa (khususnya televisi) tidak perlu lagi ditakutkan kelihaiannya. Yang begini tidak lama umurnya. tidak benar bila mereka kita katakan polos sama sekali. jangan mudah terkecoh andaipun mereka pintas berargumen dan mahir bersiasat. dan kasus lainnya yang melibatkan para politikus di Senayan dalam keuangan negara. [] Memang seharusnya demikian Pak. Naif bila kita hanya beroleh dari sana. 2012 by aswin Diberitakan secara besar mengenai dugaan pemalakan BUMN oleh anggota DPR.

bukan hubungan antara majikan dengan buruh. pemerintah berupaya mendorong terciptanya kapitalisme domestik.N Aidit yang cukup frustasi akhirnya mengambil jalan pintas meniru Lenin. (November 2012. Tidak adanya upaya yang bersemangat dari kaum borjuis untuk ke arah sana selain hanya mengamankan posisi politiknya. Apapun jenis borjuis. Nasionalisme ekonomi sebagi prioritas. Sebuah sistem yang berkesinambungan dan sebenarnya tidak terputus. borjuis adalah borjuis jika ini bersangkut paut dengan kepentingan Buruh. Artinya. Jika merujuk pada manifesto komunis (1848) bahwa kapital harus dikuasai oleh negara. dan radikal PNI beranggapan kepemilikan penuh oleh negara untuk menjamin nasionalisme kapitalis. PSI dan sebagian PNI menganggap bahwa utk mewujudkan kapitalisme domestik. para bandit. dimana hubungan kawula gusti akan menjelaskan betapa susah menggerakan kaum tani utk bergerak bersama kaum buruh dalam mewujudkan revolusi sosialnya. Seperti kita ketahui ada tiga kekuatan negara saat itu. Melaksanakan ekonomi yang beorientasi pasar dengan para kapitalis yang efisien. Terlepas dari kepentingan politik yang ada. yakni pribumi. Bahkan mempermudah kegiatan ekonomi bagi borjuasi nasional. Pastinya pemberontakan Pangeran Diponegoro ini didukung oleh para santri. Rezim otoriter yang didukung militer AD ini menandai mulai terlibatnya militer dalam penguasaan aset negara peninggalan Belanda. Manifesto komunis yang menjadi doktrinasi tidak semuanya sesuai dengan kondisi Indonesia. yakni: Sukarno. Setelah kemerdekaan Indonesia. Pada periode ofensifnya. mungkin para pemimpin kita sekarang perlu melihat sejenak sejarah sehingga tindakan pencegahan bisa diambil. pemerintah harus membuka terhadap modal internasional dan golongan Cina. Pemerintahan Belanda sendiri menunjuk orang Cina memegang peranan penting sebagai penarik pajak di tiap pintu masuk Kota. Bagi AD adalah suatu kesempatan untuk mengambil perusahaan-Perusahaan Belanda. Kelas kapitalis di Indonesia pun terbagi kapitalis kolonial. Pada tanggal l7 Juni . Syarat untuk terjadinya kapitalis negara ataupun sosialis negara sangat tidak mudah mengingat mutualisme yang erat antara birokrat. Pada masa ini . dimulailah tahun-tahun dimana kapitalis mulai tumbuh subur di Indonesia. Kapitalisme birokrasi atau kapital yang dimiliki para pejabat negara dan birokrasi partai menjadi gambaran utama kepemilikan modal swasta di Indonesia. Sejatinya apa yang berlangsung sekarang adalah warisan masa lalu. Kupang. lahir di Padang (Sumatera Barat) pada tanggal 13 Mei l903 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 24 Mei l979. korupsi yang akut dan nepotisme yang mencengkeram telah dimulai sejak masa kolonial Belanda. Republik Indonesia yang masih muda setelah memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945 harus mengalami serangkaian peristiwa yang akan membawa arah Indonesia ke depan secara politik. Hubungan ini kemudian terus berlanjut setelah Indonesia merdeka. militer AD dan PKI. Perubahan dari sistem kepartaian ke Demokrasi Terpimpin dan akhirnya ke kekuasaan militer yang diikuti penghancuran PKI serta penyingkiran Masyumi dan PNI. rakyat jelata. orde lama dan orde baru. Kondisi sosial yang berbeda antara Indonesia dengan eropa sehingga dapat dipahami bagi D. kapitalis China. Hubungan antara tuan tanah dan penggarap adalah hubungan patron (pelindung) dan klien (yang dilindungi). Laut Arafuru. Keterbatasan modal dan jaringan. Borjuis pribumi lebih memilih bergerak sebagai importir melalui keagenan tunggal yang mereka dapatkan dari program benteng daripada menjadi produsen kapitalis yang memerlukan sejumlah modal dan distribusi. dan Siti Sawiah. Balikpapan) BIOGRAFI SINGKAT ROESTAM EFFENDI Roestam Effendi adalah aktivis gerakan komunis Indonesia dan Belanda. dan kapitalis pribumi. demokrasi terpimpin. ekonomi dan sosial. Ini berarti dimulailah hubungan antara borjuasi nasional dengan golongan Cina. politik dan kapitalis di Indonesia. Sementara bagi PKI adalah kesempatan mengenyahkan musuh-musuh politiknya. Negara yang diharapkan tumbuh sebagai negara kapitalis mengalami stagnasi. Ia adalah putra dari Sulaiman Effendi seorang fotografer. dan sebagian bupati terhadap kolonialisme Belanda. Namun Soekarno.N Aidit dkk dan gerakan ini adalah gagal total. diperlukan modal asing sebagai pendorongnya. Kepemimpinan boleh berganti. Untuk ini pembaca disarankan membaca buku ‘Ramalan Kuasa’. rezim bisa berubah tetapi kapitalis borjuis dan birokrat selalu ada menghuni pada bagian-bagian vital negara. Bagi Masyumi. artinya bisnis ini akan selesai begitu sang penguasa berakhir atau berganti. sebab terjadinya perang Jawa memang komplek. dikenal negaragung dan mancanegara. PKI menciptakan slogan untuk menghantam para kapitalisme birokrasi ini. masa ini.Pancasila. Namun kegiatan ini bergantung terhadap kekuasaan penguasa sebagai patron-nya. Baik PKI ataupun AD mendukung berlakunya Demokrasi Terpimpin. borjuis nasional harus bekerjama dengan mereka. Namun kondisi yang cukup pelik di pemerintahan inilah yang nantinya akan memicu G30S oleh D. Budaya suap. Situasi negara yang tidal stabil dengan jatuh bangunnya kabinet membuat Sukarno menerapkan demokrasai terpimpin. PKI.

Pada masa awal kepengarangannya. Jiwa kebangsaan. Di dunia sastra. lepaskan Dengarlah peluk asmara hamba Kilatkan jaya kekasih hati Isi cerita Bebasari ialah. Bujangga. Ayah Roestam adalah seorang propagandis untuk NIP (Nasional Indies Party) pimpinan saudara Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Namun pengangkatan tersebut ditolaknya. ia pernah diangkat menjadi Waarnemend hoofd pada sekolah tingkatan HIS di Siak Sri Indrapura. Sebelumnya seperti yang sudah dipaparkan diatas bahwa Roestam mulai aktif dalam pergerakan politik yaitu Jong Sumateranbond wilayah Sumatera Barat. ia juga terjun ke dunia politik dan aktif menulis. putri seorang bangsawan yang terkurung di antara kawat berduri. Padang. Roestam Effendi tumbuh dan besar di Padang sebagai anak tertua dari sembilan bersaudara. setelah ayahnya dibunuh. Sebelum di Adabiah. Barangkali dia yakin kekasihnya. kekasih diculik. Dalam aktifitasnya pada dunia politik itu Roestam banyak berkecimpung dengan kelompok Nasionalis. bapak mati berkubang kesedihan. Karyanya yang cukup terkenal pada masa itu ialah Bebasari. Tetapi pada periode 1925-1926 pemerintahan penjajah Hindia-Belanda mulai melakukan tindakan represif kepada kaum pergerakan terutama kepada kelompok radikal . Roestam sempat beberapa lama menjadi kepala sekolah di Adabiah. Naskah ini sempat dilarang oleh pemerintah Belanda ketika ingin dipentaskan oleh siswa MULO Padang dan para mahasiswa kedokteran di Batavia (Jakarta).l937. dan dikaruniai seorang putra dan putri. Bagaimana tak sakit hati Bujangga. Cuplikan teks Bebasari : Harapan beta perawan pada Bujangga hati pahlawan Lepaskan beta oh kakanda. ia menikahi seorang wanita berkebangsaan Polandia yang bernama Johanna Berta Roodveldt. dendam patriotik hingga cinta asmara menjadi senjata pamungkas menghadapi penjajah durjana. Hatinya geram dan bersiap menuntut balas. dan pantun. Bebasari diculik. Di Bandung setelah dia datang maka tidak lama kemudian karena aktifitasnya dalam belajar Roestam remaja bertemu dengan Sukarno. Setelah menyelesaikan sekolah Holland-Hindia (primer). Beberapa karyanya yang terkenal pada masa itu adalah “Pertjikan Permenungan” (Padang . Sejak masih duduk di bangku sekolah. syair. ia merasa memiliki kemerdekaan untuk berbuat. yaitu sebuah naskah drama. Sebelum pergi ke Belanda. dan Rangkayo Elok. Ia kemudian mendirikan sekolah partikelir yang diberi nama "Adabiah". Pelarangan itu disebabkan karena karya ini dianggap sindiran terhadap pemerintah Hindia-Belanda. karena aktifitasnya dalam dunia politik itu maka akhirnya dia banyak berkenalan dengan orang-orang kaum pergerakan baik yang berada di Sumatera Barat ataupun yang berada di Bandung.1925) dan “Bebasari” (1926). ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi karena minatnya yang besar uantuk menjadi guru maka kedua orang tuanya mengirimkan Roestam remaja untuk melanjutkan sekolahnya di Hogere Kweekschool voor Indlanse Onderwijzers (Sekolah Guru Tinggi untuk Guru Bumiputra) di Bandung. aktiftas politiknya berada di wilayah Minangkabau (Sumatera Barat). Sehingga ketika ia mengepalai sekolah. Roestam sering menggunakan namanama samaran seperti Rantai Emas. kerajaan porak-poranda. Roestam sudah banyak menaruh minat pada soal-soal kebudayaan dan pernah bercita-cita hendak memperbaharui dunia sandiwara yang saat itu lebih bersifat komedi stambul. terus membawa dendam kesumat pada penjahat Rahwana. Sebagai kepala sekolah. Rahasia Emas. keseriusannya untuk mengembangkan sastra Melayu diperlihatkan dengan kegigihannya mempelajari hasil-hasil kesusastraan Melayu seperti hikayat. Pada tahun-tahun 1924-1927 Roestam aktif di organisasi Muda Sumatranenbond.

ditengah persiapan yang masih sangat kurang dan banyak organisasi-organisasi atau cabangcabang Partai sudah mulai bergerak dibawah tanah serta banyak juga para pemimpin-pemimpin utamanya baik di tingkat pusat maupun daerah sudah tertangkap Partai memutuskan untuk tetap melakukan pemberontakan pada tanggal 12 November 1926 malam di Jakarta. para ulama ditangkap. Subakat. Akibat ketergesa-gesaan untuk melakukan pemberontakan itu karena “kepala panas” menyebabkan PKI menempuh jalan Opportunisme Kiri atau advonturir karena memang syaratsyarat utama baik factor internal organisasi maupun factor eksternal untuk melakukan pemberontakan belum terpenuhi. Karena banyak pimpinanpimpinannya yang tertangkap dan lalu dibuang maka PKI sebagai organisasi pelopor perlawanan Rakyat pada saat itu berada pada dua pilihan yang sulit. Pemogokan adalah senjata yang populer pada saat itu yang dilakukan oleh kaum pergerakan atau kaum Yang Berlawan. dll. Salim Effendi maka pada bulan-bulan awal tahun 1927 Roestam Effendi pergi ke negeri Belanda dengan alasan untuk melanjutkan pendidikan. Selanjutnya pada tanggal 1 Januari 1927 meletus pemberontakan di Sumarta Barat.yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). dll. Darsono. Sugono. Banten. Mas Marco Kartodikromo. Keputusan yang “dihasilkan” dari “pikiran panas” ini menghasilkan perlawanan yang sangat “premature”. Para pemimpin gerakan Rakyat itu berada pada garis terdepan untuk menentang pemerintahan colonial Belanda. Karena ketidaksiapan organisasi-organisasi yang berada dibawah pimpinan Partai maka pemberontakan itu tidak berlangsung lama hanya hitungan mingguan saja dan berhasil ditumpas sehingga menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi gerakan Rakyat pada saat itu karena ribuan massa Rakyat baik itu Buruh. Soekrawinata. Banyumas. Surakarta. Pemerintahan Penjajahan yang mulai melakukan tindakan represif untuk mengantisipasi perlawan itu dan mulai menangkapi para pimpinan-pimpinan gerakan Rakyat. Karena situasi politik pada saat itu sangat represif dan tidak menguntungkan kaum pergerakan dan pemerintahan Hindia-Belanda di wilayah Sumatera Barat juga sudah menyium bahwa Roestam selain beraktifitas dalam kelompok pergerakan Nasionalis juga pernah berhubungan dengan beberapa pimpinan PKI wilayah Sumatera Barat maka tidak ada pilihan selain menyingkir dari wilayah Indonesia untuk menghindari penangkapan. Misbach. apakah terus melakukan perlawanan secara terbuka untuk segera melakukan pemberontakan atau mengalihkan metode perlawanan menjadi perjuangan bawah tanah agar dapat terus memimpin gerakan Rakyat untuk menentang kolonialisme Belanda. Siapa yang pada saat itu tidak mengenal Semaun. Petani. Selain melanjutkan sekolahnya Roestam juga mulai melakukan aktifitas politik terutama dikalangan para mahasiswa Indonesia dan dia bergabung dengan Perhimpunan . dll di Jawa. Baharoedin Saleh. Karena banyak para pemimpin utamanya sudah ditangkap atau dibuang maka kepemimpinan diserahkan kepada orang-orang yang pada saat itu masih berusia muda seperti Sardjono. Dahlan. Ali Archam. Tan Malaka. Atas rekomendasi dari Hj. Priangan. Setelah tiba di Den Haag negeri Belanda Roestam melanjutkan terlebih dahulu pendidikannya pada sekolah dasar (Collage preparation) sebelum melanjutkannya pada sekolah Hukum Ekonomi. para aktifisnya yang berada di basis Buruh dan Petani sejak tahun 1924 sering melakukan pemogokan karena menentang kesewenang-wenangan Pemerintahan Hindia Belanda. Pekalongan. Miskin Kota. Hj. di represi dan di dibuang oleh pemerintahan Hindia-Belanda karena kegagalan pemberontakan itu menyebabkan PKI hancur berkeping-keping sehingga ada kekosongan “kepemimpinan” pada gerakan Rakyat selama periode 1927-1945. Tindakan represif terus dilakukan oleh Pemerintahan colonial Hindia-Belanda maka para pemimpin-pemimpin PKI yang masih berusia sangat muda itu memutuskan pada “pertemuan Prambanan” pada tanggal 25 December 1925 untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan colonial Hindia-Belanda.

Pada saat pemilihan parlemen itu para pemimpin yang dicalonkan oleh CPN pada tempat pertama adalah L de Visser dan ketiga adalah D. yang tujuan dari organisasi itu adalah berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia. Roestam Effendi adalah wakil pertama dan termuda dari Indonesia yang duduk di Parlemen Belanda sebagai wakil dari CPN. dkk maka PI mengundurkan diri pada tahun 1932 dari Liga Anti Imperialisme dan Kolonialisme. tetapi setelah terjadi perdebatan internal yang tajam. Untuk mengantisipasi kecurangan pemerintahan Borjuis-kolonial Belanda maka CPN mengajukan 4 nama untuk dapat bergabung di parlemen yang baru yaitu: C. Pada masa itu banyak juga simpati anggota PI untuk Partai Komunis Belanda (CPN – Communist Party Netherland) dan Liga Anti-Imperialisme dan Kolonialisme sehingga posisi mereka mayoritas pada saat dilakukan voting. Tan Malaka pada tahun 1922 juga pernah dicalonkan oleh CPN menjadi anggota parlemen sebagai wakil dari tetapi gagal karena pada saat itu usianya masih sangat muda yaitu 24 tahun. Setelah kembali ke negeri Belanda pada tahun 1933 maka oleh CPN Roestam Effendi dicalonkan sebagai kandidat untuk pemilihan parlemen. Roestam Effendi. Wijnkoop. maka pemerintahan borjuis-kolonial Belanda tidak memperkenankan kedua calon yang berasal dari Indonesia tadi untuk dapat duduk di Parlemen Belanda.J. Sardjono yang juga berasal dari Indonesia berada pada calon kedua. dan Alimin berada pada posisi ke-empat peserta pemilihan parlemen. Sutan Sjahrir. Di Belanda. dkk dipecat dari keanggotaan Perhimpunan Indonesia (PI). di mana ia menganjurkan kemerdekaan bagi Indonesia. Seorang jaksa agung bahkan setelah terpilihnya Roestam sebagai anggota parlemen mencoba menunda untuk “menarik” melakukan sumpah karena Roestam Effendi dituduh melakukan penghasutan pada kampanye-kampanye pemilihan. karena dianggap tidak patuh dan tunduk pada keputusan majoritas anggota organisasi maka Hatta. Warga negara Indonesia yang juga dianggap oleh hukum sebagai warga negara Belanda dapat juga bisa menjadi anggota parlemen. Sutan Sjahrir. Pada tahun-tahun itu PI juga aktif di Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme yang berpusat di Belgia dan Liga itu juga mempunyai kontak internasional dari beberapa negara. tetapi setelah dilakukan voting tersebut posisi Hatta dkk tetap tinggal minoritas. Rostam Effendi yang pada awalnya berada pada posisi ketiga di geser ke posisi keenam. De Visser dan D. Tetapi karena ketua PKI yaitu Sardjono ditangkap oleh pemerintahan colonial Hindia-Belanda dan dibuang ke Digoel yang berada di hutan New Guinea dan tidak bisa meninggalkan penjara dan Alimin yang pada pada saat itu tinggal di Moskow yang juga tidak diperkenankan masuk ke negeri Belanda.J. Karena keputusan organisasi tetap bergabung dengan Liga Anti-Imperialisme dan Kolonialisme maka Hatta dkk terus melakukan “perlawanan”. Hatta. yang melibatkan Hatta dkk dengan Roestam Effendi dkk maka dilakukan voting untuk memilih apakah PI tetap bergabung dengan Liga Anti-Imperialisme dan Kolonialisme atau keluar dari organisasi itu. Hatta dkk menolak bergabung dengan Liga tersebut karena dianggap pengaruh Komunis Internasional (Komintern) terlalu besar. Schalker. Di bawah arahan M. Roestam memberikan kontribusi untuk lembaran anti-militeristik dan kiri. CPN memenangkan empat kursi. Roestam Effendi pada akhir tahun Sembilan Belas dua puluhan tinggal di Rotterdam dan Den Haag serta kemudian pindah ke Amsterdam.Indonesia (PI). Rostam . Pada tahun 1929 dia duduk sebagai anggota dewan organisasi itu dan karena aktifitas politiknya itu Roestam mulai mendapat pengawasan dari polisi dan intelegen. Wijnkoop dan oleh komite pemilu pusat dinyatakan terpilih. Dia juga menghabiskan beberapa waktu di Berlin dan belajar pada tahun akademik 1932 -1933 dengan nama samara AlfaRoes ke Sekolah Lenin di Moskow.

Ketika wakil Partai Anti-Revolusioner yaitu J. yang sering mengungkapkan bahasa yang kuat. Pada tahun tahun 1935 Roestam Effendi datang ke Moscow sebagai anggota delegasi Partai Komunis Belanda untuk berpartisipasi dalam Kongres VII Komintern. Indonesia tidak mendapatkan lebih dari sekedar beberapa baris.dari pendiriannya terhadap Negara-negara imperialis yang tidak terdamaikan menjadi politik Front Rakyat. Tetapi Roestam Effendi tetap masih terpilih menjadi anggota parlemen. Ia tetap menduduki tempatnya dalam pimpinan Partai. Roestam Effendi juga harus akibat-akibat dari pendiriannya itu. Setelah kongres ketujuh Komintern Roestam Effendi di Gedung parlemen Belanda dan dalam rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan selalu mengkampanyekan untuk bersama-sama bahumembahu antara pemerintahan Belanda bersama Rakyat Indonesia kebanyakan untuk bersamasama melakukan persiapan terhadap ancaman kebangkitan bahaya fasisme Jepang. . Hasil kongres Komintern ini dikenal dengan sebutan “Doktrin Dimitrov”. Bangsa Belanda punya “kewajiban yang tidak terelakkan dan juga siap untuk membebaskan atau membantu membebaskan bahwa Indonesia dari cengkraman imperialis fasis Jepang. Sebagai anggota parlemen Roestam membatasi diri pada masalah-masalah Indonesia saja dan dalam hal ini dia memperlihatkan kesetiannya pada garis Moscow yang menunjukkan fluktuasi yang mencolok . Schouten yang dalam menghadapi pemberontakan di Kapal Tujuh (De Zeven Provincen) pada tahun 1933 di Indonesia. Dengan restu Moscow de Groot menetapan haluan baru dan kawan-kawan separtai yang “berani memperdengarkan suara kritis” tentang ini ditindak. Dalam pemilihan umum tahun 1937 di Belanda Partai Komunis kehilangan satu kursi dari empat kursi mereka. Kritik dari Komintern terhadap haluan dan aksi CPN menguntungkan bagi tampilnya Paul de Groot sebagai ketua CPN. Roestam menunjukkan pendapatnya pada public yang lebih luas. mengakhiri pidatonya dengan kata-kata “Dan pemerintah harus memerintah!”. Roestam Effendi adalah seorang pendebat cerdas di DPR. Tapi belum satu tahun berselang posisinya menjadi agak muram. Didalam Parlemen Belanda Roestam Effendi berada pada posisi anggaran urusan colonial seperti Indonesia dan beberapa tanah jajahan lain seperti Suriname. tetapi oleh pimpinan ini ia tidak dipilih lagi untuk duduk dalam Biro-Politik. Salah satu keputusan dari kongres Komintern ke VII itu adalah “menghimbau kepada gerakan Buruh sedunia untuk menghadapi bahaya kebangkitan Fasisme dan melakukan perlawanan terhadap kebangkitan organisasi-organisasi Fasis di masing-masing negeri serta ikut menentang imperialisme negeri-negeri fasis”. brosurnya yang diterbitkan di Blaricum tidak mendapat perhatian. namun mungkin sekali tidak berhasil dicapai. Dia mendapatkan banyak peringatan dari Ketua Sidang dan kata-katanya dia sering ditolak. Pada tahun-tahun tersebut Rostam Effendi sering menjadi pembicara pada pertemuan-pertemuan publik dan konferensi. maka Roestam Effendi segera bereaksi mengatakan “Dan orang-orang saya pasti binasa”.Effendi membantah dan menolak tuduhan itu. Dalam konggres tersebut Roestam Effendi yang merupakan anggota dewan dan Polit-Biro (BiroPolitik) CPN terpilih menjadi calon anggota Komite Eksekutif Komunis Internasional. Slogan untuk kemerdekaan bagi Indonesia segera tidak lagi mengambil posisi di latar depan. De Groot menjadikan mereka itu sebagai sasaran serangannya dan ia mendapat dukungan dari mayoritas pimpinan partai.. Roestam Effendi yang juga anggota Biro Politik (Polit-Biro) – yaitu badan partai tertinggi yang dipilih diantara pimpinan Partai – mendukung dua orang oposan terhadap De Groot. Pada tahun 1938 Effendi dan keluarganya pindah ke Blaricum selama pendudukan Jerman. Dengan program yang lunak ia berusaha menembus “isolasi Komunis Paul De Groot dkk” demi kepentingan kerjasama politik yang luas.

Suatu partai yang telah kehilangan banyak kadernya dari masa sebelum perang. yang dalam berbagai kesempatan berkumpul adalah juga Roestam Effendi. dan: “Kita menghadapi saat yang penuh gejolak dan menarik serta berdiri pada ambang peristiwa besar. Segera setelah belanda barat juga dibebaskan. Sikap demikian ini ditentang oleh tokoh terkemuka Komunis Perancis. De Groot pergi ke Amsterdam untuk menawarkan ide-idenya disana. Pendukung kuat tentang ini adalah Paul De Groot yang dalam tahun 1943 mengemban pimpinan CPN illegal. Dengan didirikannya kembali Partai Komunis Amerika pada bulan Juli 1945 praktis Browder disingkirkan dan “Browderisme” di cela sebagai penyimpangan baru dari garis Komunis. Disaat-saat seperti ini dari kita semua diminta keberanian. dan tampakknya juga berhasil mendapat pengaruh yang lebih besar. “De Waarheid” edisi Amsterdam tanggal 14 Mei telah memuat pernyataan dari delapan pimpinan CPN tentang pembubaran Partai mereka dan menyerukan untuk mewujudkan Vereniging van de Vrienden van De Waarheid (Perhimpunan Sahabat De Waarheid) sebagai partai baru dari “kekuatan-kekuatan progresif dan demokratis”. Earl Browder dan digantikan semua “Perhimpunan Politik untuk Amerika yang lebih demokratis dan progresif”. satu hari sebelum konferensi Partai Roestam masih berbicara di depan pertemuan kaum oposisi.Sesudah pembebasan Belanda Roestam menduduki tempatnya lagi dalam barisan Partai. Namun oleh Daan (Goulooze) tokoh terkemuka dalam pemulihan kembali CPN. De Groot berhalangan tetapi ada dua orang utusan yang lain datang yaitu Duclos dan orang pertama Maurice Thorez. kegigihan. Terhadap semua ini De Groot dan kawan-kawannya sesame pimpinan tidak mengetahui. namun dengan surat kabar “De Waarheid” yang illegal telah menerobos isolasi dari sebelum perang. sesudah berkali-kali hampir tidak bisa meloloskan diri dari penangkapan. Kemudia ia menyembunyikan diri di Belanda timur dan tidak ikut serta dalam aksi-aksi CPN. Ini adalah perspektif kerjasama engan SosialDemokrasi dalam konteks yang baru. Jacques Decloc yang pada bulan April 1945 menulis sebuah artikel panjang dalam organ teori “Cahiers du Communisme” tentang pembubaran Browder tersebut. Dalam sebuah surat untuk kawan se-Partai tertanggal 26 Juni 1945 Roestam menyinggung tentang “sedikit kekacauan dalam barisan sendiri”. Tentang ini tiada alasan yang kemukakan. Ternyata dia berhasil kendati adanya perlawanan dari tokoh-tokoh CPN di selatan. karena jaman ini-pun telah ikut . Mulai Juli akhirnya De Groot harus menyesuaikan diri dengan apa yang dikehendaki Moscow: mendirikan kembali CPN – kebijakaan ini berarti pukulan hebat bagi garis kebijakan De Groot. Dalam perjalanan pulang di Brussel mereka bertemu dengan De Groot yang pergi menyusul. yang justru memperkuat perlawanannya terhadap keputusan tersebut. dimana CPN telah didirikan kembali pada bulan December 1944. Termasuk dalam kalangan oposisi yang semakin besar. mengatasi empasan dan rintangan sampai mencapai kemenangan akhir. Rombongan Belanda ini diterima oleh Partai Komunis Belgia. Ini menuntut kita agar membuang schema dan dogma Partai yang tua dan using serta taktik kita harus disesuaikan dengan hubungan-hubungan dan pergeseran-pergeseran kekuatan didalam dan yang terjadi oleh perang ini. Pada tanggal 20 Juli. Pimpinan CPN di selatan sesudah pembubaran itu mencari kontak dengan Partai-Partai sekawan di Belgia dan Perancis di Brussel. Roestam agak sedikit dijauhi. semangat dan keluwesan dalam mengemban cita-cita Komunis. Aksi De Groot ini mirip yang terjadi di Amerika Serikat. Disana Partai Komunis pada bulan Mei 1944 juga dibubarkan oleh ketuanya. Edgar Lalman dan seorang mantan agen Komintern. Kita harus melindungi diri dari politik advontur dan konjungtur yang demikian banyak dilakukan disekitar kita. Dalam bulan Juni diputuskan mengundang De Groot dan tokoh-tokoh pimpinan yang lain ke Paris untuk bisa membeberkan haluan yang benar pada kesempatan Kongres Partai Komunis Perancis.

Sesudah proklamasi Paul De Groot berbicara dalam suatu rapat tertutup kader Partai tentang politik Indonesia pada tanggal 11 oktober 1945: “Pertama-tama kita harus menyatakan dengan tegas bahwa kita setuju ikatan bersama antara Indonesia dengan Belanda dipertahankan. Akhirnya dilakukan pemilihan pimpinan Partai dengan hasil pengikut De Groot mendapat mayoritas. Ini sama sekali merusak nama baik. De Groot berhasil bertahan berkat oposisi yang tampil compang-camping dan tidak taktis serta manuvernya yang cekatan dan menyakinkan. Kekuatan-kekuatan Indonesia belum diketahui. Sudah mendesak waktunya bagi Partai Komunis Indonesia/PKI kembali tampil. Sekarang Belanda berdiri di simpang sejarah. Ini merupakan pernyataan persetujuannya untuk bergabung dengan sukarela dalam suatu “vernieuwd gemenebest (persemakmuran bersama yang diperbaharui) dan akhirnya menyerukan agar “bekerja dengan sukarela” untuk memerdekaakan Indonesia dan bahkan menolak pengiriman “tentara milisi”. Akan-kah menempuh jalan menuju pembaruan dan kemajuan demokratis ataukah akan melangkah terus diatas jalan “dolorosa” kekolotan dan reaksi dengan segala akibat-akibatnya. Terbuka kemungkinan-kemungkinan besar apabila kita melakukan politik yang tepat. Maka akan lebih taktis jika pengadilan terhadap para kolaborator itu diserahkan kepada Rakyat Indonesia sendiri. De Groot berpendapat: “Seluruh gerakan nasional di Indonesia telah bekerjasama dengan Jepang. Di sini kita tidak bisa mendirikan PKI. Perdebatann yang agak sengit berkisar pada masalah pertanggung-jawaban. Dalam hubungan di Belanda pendapat Roestam tidak sesuai dengan suasana “De Waarheid” dan juga PI yang diwakili oleh Setiadjit yang pada tahun 1944 duduk dalam Indische Commissie untuk perjuangan bersama yang dalam bulan Maret 1945 mengeluarkan pernyataan “Voor de bevrijding van Indonesie” (untuk Kemerdekaan Indonesia).menggalakkannya”. musuh Uni Sovyet yang sejak sebelum perang dunia ke II sudah menjadi agen Jepang”. Indonesia terlepas dari Belanda berarti dalam sekejap jatuh ke tangan Inggris” De Groot sungguh-sungguh mempunyai keberatan terhadap pemimpin-pemimpin Revolusi Indonesia yang terpenting terutama Sukarno yang pada masa pendudukan “telah bekerja-sama dengan fasisme dunia” dan juga dengan Hatta yang seorang “Trotskyst. Tapi dari sini kita sejauh mungkin akan mengingatkan tentang keharusan adanya organisasi legal PKI. mencari siapa yang salah dan masalah-masalah pribadi. ketimbang dibawah semboyan Indonesia lepas dari Belanda. Didalam hubungan kenegaraan dengan Belanda kita akan bisa mengambil langkah jauh lebih banyak untuk kemerdekaan Rakyat Indonesia. tapi dari berita-berita ternyatalah bahwa pemerintahan baru yang dibentuk disana mendapat dukungan massa Rakyat yang luas. itulah yang akan menentukan hasilnya". Bagi de Groot dan kawan-kawan yang ingin menyebarluaskan gambaran tentang Gerakan De Waarheid/CPN yang moderat secara nasional. visi Roestam Effendi tidak bisa diterima sama sekali. Pemilihan umum yang dipercepat yang juga dirindukan dengan tidak sabar dan dicari oleh berjuta-juta kaum democrat yang beritikad baik di Indonesia. Dalam konferensi tanggal 21-23 Juli 1945 masalah pendirian kembali CPN tidak lagi didiskusikan. Apabila kita boleh berbicara secara blak-blakan maka kita akan mengatakan: Sukarno dan Hatta adalah kolaborator. Suriname dan Curaqao. .

Visi politik Roestam berjarak jauh dari kelompok disekitar Paul De Groot tapi pimpinan CPN yang baru tidak tidak bisa menyiapkan jalan untuk Roestam guna pengunduran dirinya di Parlemen Belanda sebab Roestam adalah satu-satunya anggota parlemen CPN yang selamat dari perang dunia ke II dan untuk pengunduran dirinya harus dilakukan lewat mekanisme pemilu yang sepertinya baru bisa dilakukan pertengahan 1946. “Kaum Komunis berbicara blak-blakan bahwa mereka mendukung sepenuhnya perjuangan demokratis bangsa Indonesia untuk mengakhiri hubungan-hubungan colonial dan penindasan imperialism.Pada tanggal 17 oktober 1945 Roestam Effendi memberikan reaksinya didalam sidang parlemen Belanda. atas nama “massa demokratis yang luas” dan “kaum Pekerja yang Revolusioner di Belanda”. “Dan jika bicara tentang kerjasama adalah “kebijakan colonial yang fatal” bahwa bangsa Indonesia harus di giring dan di giring dibawah kekuasaan Imperialisme Jepang. politik amuk rezim colonial yang mengancam. yang membikin bangsa Indonesia menjauh dari Belanda. Roestam Effendi sekarang berbicara sebagai “orang Indonesia dan Komunis” kepada “massa luas kaum Pekerja di Belanda” dan kawan-kawanya setanah air di Indonesia. Mereka terlalu berbau udara museum yang apek. Mereka tidak mempunyai orisinalitas dan pemikiran. dimana matahari pikiran waras rupanya tidak pernah tercerahkan! Apa yang ku dengar hanyalah suatu reaksi dan kekolotan. “Kami bekerjasama dengan Jepang hanya karena mengkonsolidasikan kekuatan kami dan tidak karena kami pro-Jepang”. memberikan pernyataan yang sangat bertentangan. “suatu syarat mutlak dan kepentingan vital yang esensil bagi dua Negara” untuk tidak menjadi “bulan-bulanan permainan buruk” dari “kekuatan-kekuatan imperialis yang bergulat. Ketua Tweede Kamer membiarkan Roestam dua kali menarik kembali “bagian yang tidak bisa diterima”. pada saat ini seakan-akan muncul dari gua-gua persembunyian tua mereka dab bermaksud bisa bermain lagi dengan permainan tua devide et impera”. Ia menyerukan kerja sama antara Indonesia dan Belanda. Tapi kerja sama itu hanya bisa dilakukan atas dasar HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI. yang selama bertahun-tahun peperangan dan pendudukan didalam ketakutan dan gentar bersembunyi duduk di tempat persembunyian mereka yang gelap. Roh reaksi dan mentalitas colonial tua. apakah didalam konflik yang pecah terkandung benih untuk permusuhan yang kekal dan jurang yang tidak terjembatani. sehingga kedua-dua bangsa itu akan berpisah untuk selamanya?”. SEDERAJAT DAN HAK SAMA! Bisakah dari “kejadian-kejadian itu sesuatu yang baik dan besar masih akan lahir? Atau. atas dasar yang sama membela kemerdekaan bangsa Indonesia terhadap penindasan bangsa yang lain!” Jalan pikiran Roestam tidak bisa mendapat pengertian sedikitpun dan sama sekali diluar pola pikiran parlemen dan kabiner. menyimpang dan kaku. intrik dan pat-pat gulipat”. Adalah “politik Digul dan politik bayonet yang busuk. Hal serupa juga berlaku bagi Partainya sendiri: Paul De Groot didepan sidang pimpinan Partai. . Roestam pada sidang parlemen tanggal 17 oktober itu menyulut kembang-api retorika menurut tradisi sebelum perang. Untu menjawab pertanyaan ini Roestam sebegitu jauh menegaskan apa yang didengar dari rekanrekannya yang mengandung sifat: “Picik. Kita yang telah mempertaruhkan semuanya dalam perjuangan menentang Nazi di negeri ini.

Abdul Madjid.Bahwa salah langkah politik ini yang dilakukan pada saat Rakyat Indonesia berjuang mati-matian untuk kemerdekaan. suatu cara yang harus diprotes keras oleh setiap orang Komunis.Bahwa pimpinan Partai yang sekarang mengibarkan formalisme setinggi-tingginya dan melecehkan Sentralisme Demokrasi kita! Setelah Roestam di pecat dari keanggotaan CPN maka pada akhir tahun 1946 Roestam Effendi bersama keluarganya pulang ke Indonesia menggunakan kapal laut bersama 250 orang buangan Indonesia yang ada di luar negeri yang termasuk didalamnya terdapat Douwes Dekker atau Setiabudi seorang politikus senior pendiri Nasional Indische Party (NIP). yang tentang ini pimpinan Partai tahu dan harus tahu bahwa banyak kawan separtai dan buka separtai dengan bukti-bukti yang kongkrit bisa membantah insinuasi itu.Bahwa didalam alasan yang disiarkan tentang skorsing saya dilansir insinuasi secara sadar. Setibanya di Jogjakarta mereka disambut dengan meriah dan diterima oleh Sukarno yang pada saat itu merupakan presiden Republik Indonesia pada tanggal 13 Januari 1947. tidak lain berarti suatu penghianatan terhadap persekutuan antara Rakyat Indonesia dan kelas Buruh belanda ditengah-tengah pergulatan anti imperialis melawan musuh bersama. saya menyatakan: 1. tidak demokratis. Dan sejak itulah maka Roestam Effendi sudah berpisah jalan dengan sesama teman Komunisnya di CPN seperti Paul De Groot dkk serta teman Komunisnya sesama orang Indonesia seperti Setiadjit. Pada tanggal 27 November 1945.Bukan saya. melainkan kalian sendiri yang telah membawa keluar krisis intern di dalam CPN melalui publikasi secara sadar didalam “De Waarheid” dan suratkabar-suratkabar lainnya. Pada tanggal 27 Januari 1947 Comite Central (CC) PKI mengumumkan bahwa “berhubung dengan berita-berita dan pertanyaan-pertanyaan” Roestam Effendi tidak bisa diterima menjadi . 3. Setelah tiba di Jakarta maka Roestam dan keluarga bersama Douwes Dekker melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api menuju Jogjakarta. 2.Sementara itu posisi Roestam Effendi didalam CPN ternyata tidak bisa dipertahankan lagi. Maruto Darusman dkk yang dulu pernah bersama-sama di dalam organisasi Perhimpunan Indonesia (PI).Bahwa skorsing itu pada hakikatnya tidak lain berarti suatu daya upaya untuk membelokkan upaya perhatian Partai seluruhnya dari persoalan politik yang penting dan itulah yang dihadapi oleh kelas Buruh belanda dan khususnya Partai.Bahwa tindakan politik baru yang keliru dari pimpinan Partai sementara ini timbul dari pandangan opportunisme yang sama. 5. 4.Bahwa dengan motivasi skorsing melalui perusakan dan pemutar baikkan fakta-fakta dengan cara yang paling halus. Suatu krisis politik yang karena kedisiplinan dan terutama pengendalian diri saya sampai sekarang tidak tersebar keluar. “De Waarheid” memberitakan bahwa pimpinan Partai telah memberhentikan Roestam Effendi untuk sementara waktu sebagai anggota Partai dan juga dianggap bukan lagi sebagai anggota fraksi CPN di parlemen Pada bulan Januari 1946 didalam kongres CPN Roestam Effendi dinyatakan dipecat dari keanggotaan CPN karena dianggap tidak tunduk pada garis kebijakan Partai baik di tingkatan Nasional Belanda maupun dalam urusan Indonesia. dicobanya saya diserahkan kepada reaksi yang merasa marah dan tersinggung dan bersamaan dengan itu membikin pimpinan yang sekarang lebih menarik bagi kaum borjuasi. yang pada waktu itu telah berakibat pada dilikuidasi CPN secara otoriter. 6. 7. Untuk meng-counter usaha pemecatan dirinya dari keanggotaan CPN Roestam Effendi melayangkan sebuah surat kepada ketua sidang kongres CPN: Berdasarkan skorsing saya dan akibat-akibat yang timbul daripadanya.

PKI menuduh Roestam Effendi. Partai Wanita Rakyat. yaitu pemerintahan yang Anti-Imperialis yang memimpin kabinet perang. Sejak peristiwa Solo itulah maka kekuatan Komunis di Indonesia terpecah menjadi dua. Reformisme Amir Sjarifuddin dan Sutan Sjahrir telah kandas. Partai Rakyat Djelata. yang sejak tanggal 1 Febuary 1947 di terbitkan oleh Barisan Banteng pimpinan dr Muwardi. Partai Rakyat. Djamaludin Tamin dkk adalah pengikut Tan Malaka yang berarti kaum Trotskyst dan sejak itulah di mulai satu periode oposisi bersenjata dari kekuatan Komunis di luar lingkaran PKI terhadap jalannya Revolusi Pembebasan Nasional di Indonesia yang dianggap sudah menyeleweng sejak ditandatanganinya perjanjian Linggardjati oleh PM Sutan Sjahrir dan Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin (PKI Illegal). Sejak di Indonesia untuk menyalurkan ide-ide politknya Roestam Effendi sering menulis artikelartikel yang dimuat harian “Pasific” di Solo. Laskar Rakyat Djawa Barat. Partai Buruh Merdeka. sebab menurut berita resmi dari CPN dia sudah di royer (dipecat) karena telah melanggar disiplin Partai dan bahwa PKI sudah sepatutnya mengambil keputusan tersebut”. Tulisan-tulisan dari teks-teks klasik karya-karya Marx. Selain itu juga kakak kandung Roestam Effendi yaitu Boes Effendi juga secara teratur menulis di “Pasific” dari kakaknya itu maka Roestam bisa menyumbangkan karangan-karangannya disana. AKOMA dll. Harus ada perjuangan dan tindakan. Roestam Effendi sering tampil sebagai pembicara pada banyak organisasi politik seperti Barisan Banteng. Nurut. untuk ini diperlukan suatu pemerintahan yang Revolusioner.anggota PKI. Setelah Perjanjian Linggardjati di tandatangani di Jakarta dan tidak lama kemudian belanda melanggar perjanjian gencatan bersenjata di Mojokerto maka Roestam Effendi kembali menuliskan: “menghadapi politik kapitalulasi dan reformisme ini kekuatan Revolusioner harus mengatur organisasinya mereka sendiri”. Roestam menyatakan tentang harus diakhirinya politik diplomasi dan politik slogan. Wiro S. Lenin dan Stalin sering dibawakannya pada khursus-khursus politik tersebut. Semua tapol (dari Persatuan Perjuangan dan semua elemen-elemen lain) yang menolak politik diplomasi dari pemerintahan RI harus mendapat amnesty. Percaya kepada itikad baik belanda merupakan “struisvogel en zelfmoordpolitiek” (politik burung unta dan politik bunuh diri”. Laskar Rakyat Djelata. Linggardjati . Karena lama pernah berdiam di Eropa dan juga pernah mengikuti khursus Marxis-Leninis di Moscow. Perjuangan melawan imperialism belanda tidak bisa dielakkan lagi. Roestam Effendi cukup mampu menyampaikan pengetahuannya tentang Marxisme dengan lebih mendalam kepada para peserta khursus politik baik dari kalangan politikus maupun di kalangan Laskar. Pada saat kongres PKI yang dilangsungkan di Solo pada tanggal 11-13 Januari 1947 Roestam Effendi yang datang beserta banyak anggota-anggota PKI lama dari periode 1926 yang juga baru datang dari pembuangan di Australia seperti Djamaludin Tamin. dll juga ditolak masuk oleh Sardjono dengan alasan bahwa Roestam sudah di royer dari CPN dan para anggota PKI lama tahun 1926 semacam Djamaludin Tamin dkk juga dikatakan sudah di royer sebab pada tahun 1926 menghalang-halangi pemberontakan yang dipimpin oleh PKI terhadap pemerintahan colonial Hindia-Belanda. sebagai pengakuan terhadap kekeliruan tindakan penahanan mereka dan sebagai jaminan politik Anti-Imperialis yang sejati. Masukkanya semua politisi yang bertanggung jawab atas Linggardjati harus di tolak. Roestam Effendi membedah politik kapitalulasi Linggardjati sebagai politik reformis atau paham opportunis kanan. sekarang saatnya Amir dan Sjahrir harus menjawab!! Sesudah dilancarkannya aksi polisionil bulan Juli 1947. Ongko D.

Menurut Roestam Effendi: “kaum “Pseudo-Leninisten” (Leninis gadungan) didalam republic ini hanya menunggu dan sibuk dengan kata-kata mereka. Memang barangkali aka nada suatu “adempauze” .Dipetik dari buku "Politik" . Posisi Roestam Effendi dalam pendidikan politik dan ideology menggantikan sementara posisi Tan Malaka yang masih berada di dalam penjara.24 November 1945 SI TOKE : Apa yang dimaksudkan dengan Merdeka 100%? Buat saya Merdeka itu tak ada batasnya. Pemimpin-pemimpin Revolusioner “gadungan” yang menamakan dirinya sebagai “komunis” dan Leninis-Stalinis seperti Amir Sjarifuddin. Abdul Madjid. Tan Malaka dan Djamaludin Tamin duduk diluar struktur Partai yang pada saat itu banyak diisi oleh para Pemuda. Sjamsu Harja Udaya dan Gondo Wardojo.berarti memantapkan posisi capital asing di Indonesia. . J. Pada saat itu Roestam juga terus diawasi oleh militer sebab aktifitasnya dimasa lalu yang dianggap juga orang kiri. SI GODAM : MERDEKA itu memang selalu ada batasnya. Selain mengajar dia juga aktif menulis tentang karya-karya sastra.jika keadaan “objektif” memerlukan . yang Komunis tapi menentang politik PKI.F. surat-menyurat. Warraow.Tan Malaka . Selama perang Kolonial ke II Roestam Effendi aktif melakukan perang gerilya di Djawa Timoer dan duduk sebagai Komisaris Politik pada Centraal . Sardjono. Ketika terjadi huru-hara politik tahun 1965-1967 yang berbuntut pada tumpasnya Partai Komunis Indonesia dan digulingkannya presiden Sukarno oleh oleh Jendral Suharto-Nasution untuk menghindari penangkapan maka Roestam Effendi membakar seluruh dokumentasi yang dimiliki olehnya baik itu berupa artikel. Mereka mendukung pengembalian hak milik asing dan dengan begitu kapitalisme bisa datang kembali serta menunda jalannya Revolusi Borjuis Demokratis yang harus diselesaikan sampai akhir. dan buku-buku.tapi “adempauze” yang sekarang ini. Pada saat pembentukan Partai Murba pada tanggal 7 November 1948 di Solo posisi Roestam Effendi. Batasnya itu pertama terhadap ke dalam.Commando pada organisasi “Guerilla Pembela Proklamasi” (GPP) bersama Abidin Effendi (adik kandung). Kedua terhadap keluar. pada saat borjuasi berkkuasa hanya berakibat regresif. Dalam setiap kursus-kursus yang dilakukan olehnya selalu dibanjiri oleh banyak peserta terutama dari golongan pemuda anggota-anggota AKOMA yang berpendidikan baik. Roestam Effendi meninggal dunia akibat serangan jantung karena usia tua pada tahun 1979. Iwa Kusuma Sumantri dan Semaun. Setelah perang kemerdekaan selesai pada periode 1950-1965 Roestam Effendi duduk sebagai dewan penasehat Partai Murba. Dibawah pimpinan yang Revolusioner fase ini bisa beralih menjadi Revolusi-Sosialis. Politik Persatuan Perjuangan (PP) mendukung program untuk mendapat dukungan luas dalam fase Borjuis-Demokratis. MERDEKA 100% . Maroeto Darusman. karena PKI dianggap sudah menjalankan politik kapitalulasi/menyerah-isme kepada kaum Imperialis dengan mendukung perjanjian Linggardjati dan perjanjian Renville sebab itu merupakan penyelewengan terhadap Perjuangan Kelas Buruh dan Tani demi kemerdekaan Nasional dan Sosialnya di Indonesia. Alimin dan Setidjit mendukung penuh politik kapitulasi dan opportunis kanan ini. Selama periode akhir 1960an sampai dengan pertengahan tahun 1970an Roestam Effendi mengajar di Fakultas Ekonomi universitas Pajajaran bersama Mr.

Berapa pun kuatnya satu negara Merdeka tidaklah dia bisa berbuat sekehendak hatinya saja terhadap negara lain. September 1947Jalannya Massa-Aksi. . Membentuk Dewan Perwakilan Rakyat untuk membuat Undang-Undang. SI GODAM : Tepat. 2. jika semua syarat sudah ada. Di sinilah terletak batasnya.Dipetik dari buku "Dari Pendjara ke Pendjara". mengesahkan atau merobah Undang-Undang Dasar tadi dan menentukan Garis-garis besarnya dalam Politik. jadi arti luasnya pada suasana Kemerdekaan umumnya. barulah pukulan terakhir dijalankan. kira-kiranya sebagai berikut: 1. Mogok umum dan Demonstrasi bersenjata untuk kemungkinan melawan provokasi. 6. Perdamaian itulah dasar kemakmuran. SI PACUL : Kalau begitu terhadap keluar: tiap-tiap negara Merdeka mesti pula mengakui Kemerdekaan tiap-tiap Negara Merdeka yang lain. Djilid 1 . Mogok umum dan Demonstrasi menuntut pemindahan kekuasaan. 7. Bukankah begitu? SI GODAM : Sebenarnya begitu! Di sana teranglah sudah bahwa Kemerdekaan manusia itu mengandung “perdamaian” buat seluruh manusia. Dengan begitu maka Kemerdekaan satu negara terletak pula pada Kemerdekaan negara lain. maka lambat laun akan hilang Kemerdekaan tiap-tiap negara.SI TOKE : Apa artinya? SI GODAM : Terhadap ke dalam! Bukankah tiap-tiap orang dalam negara Merdeka itu mesti menghargai Kemerdekaan tiap-tiap warga lain? Jadi tiada boleh berbuat sekehendak hatinya saja terhadap warga sejawatnya. Memproklamirkan Kemerdekaan dan membentuk Pemerintahan Sementara. 4. 5. Dari tingkat Mogok-Umum sampai ke Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah bermacam-macam tuntutan dan Aksi yang harus dijalankan. yang memperkosa Kemerdekaan negara lain akhirnya ia jatuh juga! SI TOKE : Kalau satu negara Merdeka mesti menghargai Kemerdekaan negara lain pula tentu satu warga negara Merdeka mesti pula menghormati warga negara lain sebagai tamunya. 8. 3.Tan Malaka .Pendjara Ponorogo. Mengesahkan Pemerintah. Cul! Kalau suasana Kemerdekaan itu dalam arti umum terganggu. (Jalannya dalam praktek tentu bisa sedikit berlainan). Mengesahkan Undang-Undang Dasar. Mogok umum dengan tuntutan Ekonomi. Mogok Demonstrasi dengan tuntutan Ekonomi dan Politik. besar atau kecil. Mengadakan Majelis Permusyawaratan Rakyat (National Assembly). Akhirnya kemakmuran itulah pula yang menjadi dasar Kemerdekaan. MASSA-AKSI TERATUR . Baru setelah nyata bahwa tiap-tiap tuntutan memang diatas oleh Massa (Murba). Lihatlah contoh di sekitar kita dan dalam sejarah dunia! Berapapun kuat satu Negara Merdeka. 9.

tak ada lain jalan buat seorang Pemimpin yang berani bertanggung-jawab kepada Rakyat dan dirinya sendiri. Kalau belum siap. melainkan dengan tipuan diadjak berunding dengan Presiden di Jogja dan dilakukan oleh lasjkar jang tidak resmi. dan menderita .Disiarkan oleh NAIFOSTA . ialah Organisasi pembelaan Kemerdekaan Rakjat. lebih menguntungkan dan lebih senang buat mereka kenbali mendjadi kaki tangannja imperialis daripada berdjuang. Inggris dan Amerika) Tetapi apakah Rakyat dan Proletar Indonesia sudah siap? Yang dibelakang inilah perkara yang penting. mempunyai cukup banyak dan sifat (quantity dan quality) anggotanya buat memberikan pimpinan kepada 70 juta Rakyat yang tersebar diratusan pulau yang akan ditentang oleh tiga imperialis terbesar disekitarnya*? (*Belanda. ialah terus mempersiapkan Rakyat buat Massa-Aksi. Kalau tidak bisa dengan jalan-terbuka.Bukankah semuanya ini membutuhkan Partai yang ulung. setjara pentjerderaan dengan alasan ditjari-tjari dan fitnahan dan oleh Badan jang tidak resmi dengan tjara "MENUHUK KAWAN SEIRING" .bersama-sama MURBA dan untuk MURBA. setjara satria. Kalau sudah siap. bordjuis ketjil merasa dirinja terantjam oleh gerakan Revolusi MURBA. Mereka haruslah ditangkap zonder diberi tahu lebih dahulu tuduhannja. Mereka hendak membelokan gerakan MURBA itu kepada diplomasi jang berwudjutkan mengembalikan Indonesia kebawah telapak kakinja imperialisme Belanda. jang disjahkan oleh Rakjat.TAN MALAKA .Djakarta . Dan seandainja para pemimpin diantjam hendak ditangkap dengan lasjkar tak resmi untuk menantang lasjkar jang tak resmi itui asal sadja setjara terang-terangan setjara satria-rovolusioner!! Demikian penangkapan atas para Pemimpin PERSATUAN PERDJUANGAN di lakukan dengan sokonjong-konjong. tetapi alasan memang alasan ditjari-tjari dan badan resmi tak mau mengakui menangkap. jang terbesar sampai sekarang dengan paksa dan setjara pentjederaan dibubarkan oleh segerombolan PETTYBOURGEOIS jang kebetulan memegang kekuasaan. karena gerombolan petty-bourgeois. PERSATUAN PERDJUANGANdibubarkan dengan djelas mentjedera karena dengan setjara terang-terangan.PERSATUAN PERDJUANGANdibubarkan. ULANG TAHUN PEMBUBARAN PERSATUAN PERDJUANGAN . dengan tuduhan pasti. tertulis menurut undang jang dibuat lebih dahulu. Lebih aman. memantjing dalam belanga. setjara djantan dan tjotjok dengan hak . maka sewaktu-waktu cara Massa-Aksi-lah yang harus dilakukan oleh PARTAI REVOLUSIONER.1948 Dua tahun berselang Persatuan Perdjuangan. maka harus dijalankan dengan jalan-tertutup. tangkapan para pemimpin PERSATUAN PERDJUANGAN pada 17 Maret 1946 itu tak dapat/tidak dapat dilakukan. menggunting dalam lipatan . Sebab kalau diberi tahukan lebih dahulu penangkapan itu mesti di beri alasan dan dilakukan oleh badan resmi. berdisiplin. APAKAH MAKSUD DAN MUSLIHAT PERSATUAN PERDJUANGAN? PERSATUAN PERDJUANGAN.

jang sudah berkorban dengan tak ada hingganja itu. laut dan udara Indonesia. Persatuan antara pemerintah dengan Rakjat jang dikehendaki oleh Persatuan Perdjuangan itu ialah persatuan hasrat atas Dasar Minimum Program dan persatuan untuk berdjuang membela Kemerdekaan 100% tjo tjok dengan Proklamasi dan tjotjok dengan Kemerdekaan 100% (tentulah semua jang ada didunia ini dalam arti FILSAPAT berarti RELATIF ) seperti jang dipegang oleh banjak negara besar dan ketjil didunia fana dan relatif ini. jang sungguh-sungguh mau mengusir pendjadjah dari darat. pertjaja kepada mulutnja si pendjajah jang 350 tahun memeras.dan SIKAP tiap-tiap bangsa Merdeka jang memegang KEHORMATANNJA menentang berunding dengan musuh didalam rumah. djerih pajah dan djiwa. daripada mengakui kesalahan dan mengakui kesalahan-kegagalan mereka membela Prok lamasi Rakjat Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. asal sadja mereka membela/mau bertanggung djawab Kemerdekaan 100% seperti terselit dalam Proklamasi 17 Agustus dan asal sadja mau bertang gung djawab kepada Rakjat jang berdjuang. desakan dan tindakan PERSATUAN PERDJUANGAN. Sekali berdiplomasi berunding dengan musuh bersendjata didada kita. Bukan Pemerintahan jang membelokkan Revolusi kebawah telapak kaki si pendjadjah! 70 djuta Rakjat dari Sumatera Barat sampai ke Papua. Sekali mereka. membohongi MURBA INDONESIA . mereka tetap berdiplomasi berunding! Sekali mereka bergood-will-goodwillan. laut dan udara Indonesia! TETAPI APAKAH MAKSUD DAN MUSLIHAT GEROMBOLAN BORDJUISKETJIL? Mereka mau mengambil djalan tenang. Pantang buat bordjuis ketjil mengakui kesalahan!! Lebih suka mereka melihat seluruhnja Indonesia didjadjah kembali. dari Atjeh sampai ke Timor Kupang sudah mengisi arti Proklamasi 17 Agustus dengan pengorbanan harta-benda. ialah Belanda bersendjata menduduki darat dan laut Indonesia serta meraungi udara Indonesia. BAGAIMANA TJORAK PEMERINTAH MENURUT PERSATUAN PERDJUANGAN? Ialah Pemerintah Rakjat. setelah musuh meninggalkan darat (daratan). PERSATUAN PERDJUANGAN sedang mewudjudkan tjorak Pemerintahan jang tjotjok dengan kehendak 70 djuta Rakjat jang sedang berdjuang. menindas dan menipu. maka mereka terus berunding. dengan kelewang musuh melajang-lajang diatas kepala. PERSATUAN PERDJUANGAN semenit pun tak pernah pertjaja kepada imperialisme Inggeris jang sudah ratusan dibohongi/membohongi Rakjat Asia dan Afrika. mereka terus mau mendjadi tengkulaknja si pendjadjah. PERSATUAN PERDJUANGAN akan mempersatukan siapa sadja. supaja 100% pertjaja kesanggupan 70 djuta Rakjat Indonesia membela Kemerdekaan 100% dan berunding atas pengakuan Kemerdekaan 100% itu. membakar dan membunuh Rakjat Indonesia. djalan aman dan menguntungkan bagi kedudukan mereka sendiri! Setelah mereka merasa aman terhadap sikap. jang tjotjok dengan kemauan Rakjak. Tak perduli siapa sadja jang duduk diputjuk pemerintah itu. denganalat militer. ataupun kepada imperialis Belanda jang sudah 350 tahun memeras menindas dan membohongi Rakjat Indonesia. mereka tetap mentjoba mendapatkan kerdjasama dengan si Pendjadjah jang lengkap bersendjata ditanah air kita itu. tjojok dengan sifatnja/tabiatnja bordjuis ketjil. dari Sultan sampai ke Buruh. selama musuh. itu. berdjuis ketjil ingin kerdja-sama dengan si pendjadjah. tak perduli apakah good-will itu ada pada musuh jang bersendjata lengkap itu. Mereka tetap bersikeras kepala mempertahankan diplomasi bergood-will untuk kerdjasama dengan si pendjajah bersendjata jang terus-menerus merampas. sampai si pendjadjah tak sanggup mendjadjah dan pulang kenegerinja. perekonomian sosial dan politik jang ada pada kita. . dengan pistol diatjukan kedada. menentang berunding dengan musuh. Para pemimpin Persatuan Perdjuangan mengandjurkan kepada Rakjat. jang tidak kalah sifat dan bilangannja dengan Rakjat pada tempat manapun dan pada tempoh bila pundjuga. PERSATUAN PERDJUANGAN.

oleh MURBA Indonesia. walau pun Rakjat/Pemuda sudah berhasil memakai bambu runtjing sebagai batu lontjatan untuk mereka memakai karabin. Tentara jang revolusioner! Tentara jang tidak berideologie. Karena tak pertjaja kepada kekuatan Rakjat dan takut kepada sendjata lahir musuh maka bordjuis-ketjil menentang kemauan Rakjat/Pemuda berdjuang dan dengan 1001 matjam tindakan mematahkan kemauan bulat Rakjat/Pemuda untuk mengusir musuh! TENTARA TJORAK APAKAH JANG DIKEHENDAKI OLEH PERSATUAN PERDJUANGAN? Ialah tentara Rakjat. dan tahu selukbeluknja pembentukan Pemerintah Republik dan undangundangRepublik. keki. meriam. Tentara sematjam ini/tidak mempan/tjiptaan bordjuis ketjil ini memang baik dipertundjukkan dalam satu parade untuk memikat dunia/mata dunia! Tapi untuk berkelahi dalam lumpur dimusim hudjan menggempur musuh setjara gerilja. Tentara jang berdjuang untuk mendapat makan sadja dan tentara cowboy-cowboy-an saja tak akan bisa menahan panas-dingin. kapal terbang. TENTARA TJORAK APAKAH JANG DIWUDJUDKAN OLEH BORDJUIS-KETJIL? Katanja ialah tentara menurut ukuran internasional dan tentara jang tiada berpolitik dan yang effisient. didengar nasehatnja dan ditjintai oleh Buruh-Tani Indonesia.Kemerdekaan 100% bisa terwudjud oleh PEMERINTAH RAKJAT (pasal duaMINIMUM PROGRAM). Satu tentara jang kemauannja tjotjok deng an kemauan Rakjat. Kita mengenal pasukan tentara dan lasjkar . maka been-kap dan badju setrika litjin itu tjuma mendjadi halangan belaka. pendeknja tentara jang mengandung hasrat MURBALAH jang sanggup menderita semua kepahitan perdjuangan itu! Tentara inilah pula jang akan dilajani keperluannja. Tentara sematjam inilah jang bisa memobiliseer seluruh Rakjat/Pemuda Indonesia untuk menentang si pendjadjah setjara gerilja dimana sadja dan bilamana sadja. steep-mas dan topi jang miring-meruntjing. tomygun. Mereka terus tak pertjaja kepada kekuasaan/kekuatan Rakjat dan terus takut kepada sendjata lahirnja MUSUH. Mereka takut kepada sendjata lahirnja MUSUH. jang berideologi Kemerdekaan. Tentara jang ber-ideologie sama dengan ideologie Rakjat berdjuang. pajah-lapar dan senantiasa menghadapi bahaja maut. Tjuma tentara jang mempunjai tjita-tjitanja kaum Buruh Tani dan penduduk djembel. Kita tahu bahwa ukuran internasional itu sampai sekarang tjuma dilaksanakan pada “BEEN-KAP” jang berkilat-kilat. Tetapi itu belum perlu diuraikan disini! Ringkasnja kaum bordjuis ketjil tak pertjaja kepada kekuatan Rakjat 70 djuta dan tak per tjaja kepada DIALEKTIKA-nja Revolusi. Itu sudah dibuktikan oleh Rakjat/pemuda Djakarta jang tahu seluk-beluknja Proklamasi 17 Agustus. bahkan kapal perang pun pada permulaan Revolusi. TETAPI BAGAIMANA SIFAT DAN TINDAKAN PEMERINTAH BORDJUIS KETJIL? Mereka tak pertjaja kepada Rakjat. mitraliur. tentara jang tjuma berdjuang untuk mengisi perutnja sadja atau mau cowboy-cowboy-an tak akan bisa mempersatukan diri dengan Rakjat Murba.

sebab musuh itu sudah melanggar hak dan keamanan hidup kita. milik musuh boleh disita. Belanda adalah musuh.kita. membakar dan membunuh Rakjat Indonesia jang Merdeka itu. tambang itu adalah djaminan ekonomi dan politik buat Murba Indonesia. Sebaliknja tentara jang katanja dibentuk menurut ukuran internasional itu tiada begitu menunjukkan effisienscy dalam menghadapi Belanda. ketjuali sehelai tjawet sadja tetapi berkali-kali mengusir musuh bersendjatakan tank raksasa dan merebut kembali daerah jang mulanja diduduki musuh. semua tambang. Dengan pabrik. Kebon. Bank dan asuransi Asing itu. semua kebon dan semua pengangkutan perkapalan. Bukan tentara musuh! Dengan pengembalian semua pabrik. Zonder kekuasaan ekonomi. ialah menggempur dan mengusir serdadu Belanda dan mensita harta benda Belanda. tapi memangnja “efficienscy" menghadapi Lasjkar Rakjat (DjawaBarat)!!!! Pengganti milik ASING dari negera sahabat! Tetapi mensita (confiscir. plebisit jang didjandjikan di Sumatera dan Djawa. maka mau tak mau besok atau lusa. menurut Renville itu akan menemui fait-accompli. bergood-will mentjoba kerdja-sama dengan imperialis Belanda jang mempunjai rentjana jang pasti dan wudjud jang tetap hendak mendjadjah Indonesia kembali 90% atau lebih wudjud itu sudah tertjapai POLITIK: Belanda sudah berhasil mendirikan dua Negara Boneka dan sedang giat zonder gangguan mendirikan empat Negara Boneka pula. Belanda sudah melakukan perampasan. tambang dan kebon dimiliki masjarakat Indonesia serta diurus dan dikerdjakan oleh bangsa Indonesia untuk kepentingan masjarakat Indonesia sendiri maka Kemerdekaan Indonesia bisa mendapatkan isi dan djaminan politik. Sebab dia datang ke Indonesia Merdeka dengan tentara.Rakyat Indonesia mendapatkan sokongan dari ekonomi ditangan Rakjat Indonesia. Republik Indonesia akan menemui negara baru jang sedang dibentuk. Sikap ini tjotjok dengan undang internasional. Katanja menurut aturan Internasional. pabrik. Kemerdekaan Indonesia itu semata-mata akan berarti: PERKATAAN KOSONG! MURBA INDONESIA!!! Sudah dua tahun bordjuis ketjil berdiplomasi. Kalau maksudnja sampai. pembakaran dan pembunuhan dalam daerah. Tak memandang negara Sahabat atau musuh. jang tiada menghendaki pakaian sama sekali. Dengan . Balasan semua tindakan Belanda itu oleh bangsa Indonesia sebagai bangsa Merdeka semendjak 17 Agustus 1945. beslag) MILIK MUSUH . Tetapi kapankah hak musuh diakui oleh suatu negara Merdeka jang menghormati dirinja? Bordjuis-ketjil rupanja mengganggap tentara Belanda jang merampas. maka Kemerdekaan politik itu hampa belaka! SIKAP BORDJUIS KETJIL? Mengembalikan semua milik-asing.

.... ekonomi dan politik Rakjat 70 juta semuanja itu dapat dibatalkan. perindustrian dan pelajaran diseluruhnja Indonesia.. Tetapi PERSATUAN PERDJUANGAN SUDAH DIBUBARKAN! Tetapi MURBA INSJAF PULA! Bubar tak berarti hantjurl Para pemimpin terpendjara tiada berarti bersalah! Kita semuanja tahu. Marilah pula sekedjap mata kita memperingati arti MINIMUM PROGRAM.... Enam pemerintahan Boneka segera akan berhadapan dengan satu Republik atas dasar deradjat sama maka Republik akan kalah suara.. jakni: mendjadikan NIS (Nederlands Indische Staat) dengan radja Belanda si pemegang kedaulatannja. bahwa kebenarannja Minimum Program selalu banjak mempunjai penganut dari permulaan. Achirnja akan tertjapailah-maksud Belanda jang sebenarnja ialah.kosongnja kantong di Djawa dan Sumatera. EKONOMI: Dengan berlangsungnja BLOKADE. dengan terpukulnja Lasjkar Rakjat Djawa-Barat oleh TNI dengan terus-menerusnja Belanda memperkuat dan mempersiapkan dirinja. jang daerahnja tinggal 1% sadja itu langsung terantjam. Dengan bertambah banjaknja penganut Minimum Program..... maka Rakjat jang kehilangan perlindungan itu akan dibelah. kalau PERSATUAN PERDJUANGAN dapat berdiri terus.. Para penganut bertambah banjak bilangannja dengan bartambah merosotnja hasil perundingan.. u n t u k m e n d j a m i n Ke m e r d e k a a n d a n k e m a d j u a n ! Marilah kita bersama-sama bergembira karena sudah terbuktihnja: "PATAH TUMBUH H I L A N G B E R G A N T I " LE ROI... sebagai pabri jang memperhubungkan 141 organisasi dan sebagai HAK-MINIMUM 70 djuta Rakjat I n d o n e s i a .. bukan berundinrg dengan Republik.. karena dia menduduki semua tempat jang strategist di darat.. pertambangan... disamping merosotnja perekonomian Rakjat didaerah Republik. dibolak-balik oleh tentera Belanda dan dipaksa dengan kasar/halus mengakui pemerintah Boneka.... Seperti Republik akan dihadapkan dengan "faitaccompli (nasi sudah djadi bubur) naka UNO-pun akan mengha dapi faitaccompli pula.. MURBA SEPERDJUANGAN! Mari kita sekedjap memperingati "PERSATUAN PERDJUANGAN" sebagaiPERSATUAN semua lapisan Rakjat untuk membela Kemerdekaan 100%. melainkan mendiktekan kemauannja kepada 70 djuta bangsa Indonesia dan mendirikan kembali djadjahan Belanda! MURBA INDONESIA!! Demikianlah hasil diplomasi bordjuis ketjil! Semuanja ini bisa dibatalkan dua tahun lampau... maka semua organisasi jang dalam hakekatnja dikendali oleh semangat dan ISI-nja Minimum Program sehari demi sehari bertambah kukuh pula.. penguasaan eksport-import oleh Belanda penguasaan daerah surplus untuk makanan.. bersimaradja-lelanja korupsi dan merosotnja keuangan Republik maka Belanda sehari demi sehari dapat memperkuat perekonomian Militer dan politiknja. .. penguasaan hampir se muanja daerah perkebunan. laut dan udara maka Republik. MILITER: Dengan kosongnja kantong. Sukar ditolak maksudnja Belanda menurunkan deradjat Republik ke deradjat NIT....... Perundingan jang berhasil dengan perdjandjian ke-Linggardjati sampai kepada perdjandjian Renville. Dengan sendjata kemiliteran..

Karena hari satu MEI yang akan datang ini akan melahirkan rintangan baru bagi pergerakan kita. sehingga disini kita perlu terangkan lagi.Koran NJALA . Disini kita akan menguraikan sedikitOBJECTIEF. Dengan adanya kedua artikel itu telah teranglah kepada segenap Rakyat apa artinya Kemerdekaan bergerak dan mengarang yang ad adi Indonesia ini. ributlah dalam surat-surat kabar. SAUDARA KITA "API" BERSOEARA PENGHABISAN . FOCK. telah dibicarakan tentang artikel-artikel baru: ada yang kata: WARISAN DARI MR.Koran NJALA .MA’LOEMAT KEPADA SECTIE dan ONDER SECTIE PKI dan RA’JAT DI SELOEROEH INDONESIA . Tetapi lebih dulu kita harus memberitakan bahwa Kommunisten tidak heran dengan . Kita tidak boleh tinggal diam. ada juga yang kata POEKOELAN HAIBAT PULA PADA SOEARA REVOLUSIONER. bukannya hanya untuk lenyapnya kedua artikel itu sahaja. TERUTAMA KOMUNISTEN. tapi kita harus bekerja terus dengan segenap tenaga yang ada pada kita. seperti yang telah diuraikan dalam semua surat kabar di Indonesia.30 April 1926 Soeara kaoem “PROLETAR” dari segala bangsa dan agama Hoofd MEDEWERKERS: TAN SEMAOEN MALACCA Boeat Boeat Asia Eropa Redacteur: SOETIONO -------------------------------------------- Hari satu MEI yang akan datang ini adalah suatu hari yang harus tercatat dengan huruf emas dalam riwayat Kemerdekaan Indonesia. artinya apa yang kita lihat dari adanya artikelartikel itu. terbungkamlah mulut kita sehingga akan ta’ dapat berjalan dan berkata lagi.19 April 1926 SAUDARA-SAUDARA. sebagai menambah jumlah rintangan yang sudah ada sampai pada masa ini. Rintangan yang baharu itu adalah termaktub dalam artikel 153 bis dan 153 ter. akan tetapi buat lenyapnya atau lepasnya semua ikatan yang dikenakan kepada diri kita. Hari satu MEI yang akan datang ini tiadalah boleh dilupakan oleh segenap Rakyat Indonesia yang telah sadar dan asyik berusaha merebut Kemerdekaannya. begitu pun dalam organ kita NJALA. ada yang kata DJERATAN POELA PADA SOEARA PERS. Dengan adanya kedua artikel itu terikatlah hendaknya kedua kaki kita.

Sekarang untuk mengetahui sebab-sebabnya yang lebih panjang pula tentang "de grootste zet" itu kita harus mengulangi lagi keadaan pergerakan Revolusioner di Indonesia. pendek kata semua bis-bis. lebih alus daripada mustinya. Telegram-telegram yang kita baca sehari-hari tidak demikian mengabarkannya. Bagaimana nanti akan jadinya baik atau tambah "jelek" itu menjadi tanggungan pemerintah Indonesia. Semua halangan seolah-olah gelombang dan ombak-ombak yang membawa perahu tadi ke jurusan yang ditujunya. Mereka menghitung-hitung berapa dan siapa yang akan terhela dalam bui. keadaan di tanah-tanah tersebut diatas itu amat menguatirkan pada pendirian Kemodalan. Apa sebab? Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus memperingatkan tentang keadaan diluar Indonesia. Dengan mengingat adanya kegaduhan dan kegegeran dimana-mana tempat luar Indonesia. dikanan kiri Indonesia. maka disini kita kata: "Hij beeft de grootste zet ge daan" (dia bertaruh dengan sebesar-besarnya sendiri). kita akan tersia-sia membuang . Sekarang dengan adanya 153 bis dan 153 ter itu pihak anti Revolusioner bertambah ributnya. yang standvastig menjadi bertambah besar dan bertambah dalam pengaruhnya. Kita tidak akan berhenti. maka aliran yang kiri. yaitu 153 bis dan 153 ter.adanya artikel itu. aliran Revolusioner yang terkiri maju terus tidak ada berhentinya. Tetapi kita akan bekerja terus. Pergerakan di Indonesia hingga sekarang sudah mengalami rupa-rupa. lagi konferensi dan apa yang dibicarakan dalam konferensi itu dengan suara ramai ialah: bagaimana untuk menindas aliran Revolusioner. Hingga membikin ributnya kaum yang anti pada aliran Revolusioner itu. ter-ter. maka lalu kita berpendapatan: "Demikian sekarang pemerintah Indonesia memperlukan adanya artikel 153 bis dan ter. jadi kalau orang mempelajari keadaan dikanan kiri kita. API moelai besoek pagi. Kita tidak kaget. Dan seumpama itu: artikel timbul dari Mr. MET VERSTAND (dengan otak): kita mengerti bahwa pada masa sekarang ini barulah ribut dibicarakan dengan kekuatan bagi menindas aliran Komunisme. semua halangan. Dengan adanya itu. dalam bermain politik. terutama Komunisme. Beberapa kali telah diadakan konferensi. hari saptoe tanggal 17 April akan tidak terbit poela. dengan tulis-menulis dalam koran. maka konferensi-konferensi tadi lalu berbuat tambahan artikel. pendek di seluruh Benua Timur dan lain-lain golongan dunia pula. Begitulah keadaan pergerakan Revolusioner di Indonesia. Semua rintangan. itu sudah termasuk dalam perhitungan kita. sampai apa saja. Fock. Kalau kita menerjang itu semua. Meskipun mendapat rintangan yang amat hebat. Tetapi kita mengerti apa sebabnya. Adanya 153 bis dan ter itu menurut pemandangan pemerintah Indonesia amat perlu. Karena itu. Dan pimpinan itu laksana Colombus berlomba ditengah lautan dengan tetap menuju ketanah yang ditujunya. Ya. Telegram-telegram tadi umpamanya tidak boleh dikatakan dusta atau mengelabui mata maka telegram-telegram tadi toch dibikin lebih baik.

Bersama HERBA PENAWAR ALWAHIDA (HPA) kita SYI'ARkan THIBBUN NABAWI. begitutagline dari Waqfah Tarbawiyah. Somalia and Pakistan Saat akhir di Brunei . setelah kebutuhan semakin berkembang. Ini waktu NJALA belumlah mendapat pukulan yang hebat seperti kamu. dominators and dominated in race and sex. NJALA tau bahwa sesungguhnya "tidak suara bagi kita ada lebih utama daripada bersuara". lebih menghormati tidak bersuara). Memang seharusnya kita dengan segera bekerja yang praktis dan daadwerkelijk. muncul kemasan berupa buku dalam ukuran sekitar 12 x 20 cm atau 14 x 20 cm. a world of victims and executioners. ،‫ وإن الكثرة لتكون أحيانا سببا في الهزيمة‬. Iraq. eer ik het zwigen des te meer (dalam waktu ribut dan keras berbicara saja. capitalists and workers. Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah “ (Al Ahzab : 21). Dicetak untuk dijual seharga seribu rupiah kala saya mendapatkannya sekitar tahun 2000.‫ إنما هي القلة العارفة المتصلة الثابتة المتجردة للعقيدة‬،‫ن الكثرة العددية ليست بشيء‬ ‫ تتزلزل أقدامهم وترتجف في‬،‫ ممن لم يدركوا حقيقة العقيدة التي ينساقون في تيارها‬،‫ التائهين في غمارها‬،‫لن بعض الداخلين فيها‬ . presented as the history of a family.kekuatan. Sebuah media suplemen informasi bagi aktivis Tarbiyah produksi Yayasan Tarbiyatuna Jakarta. as Albert Camus suggested. Di kemudian hari. tiadalah buruknya bila kita mempergunakan kesempatan itu buat sekedar membunyikan suara kita. as well as a string of murderous drone assaults on Yemen. Karena itu kita akan bersikap: In dentijd van hard praten. ،‫ وإن الكثرة لتكون أحيانا سببا في الهزيمة‬. •Nations are not communities and never have been.”-Howard Zinn "All the signs are they're going to do it again. Dimana NJALA masih berkesempatan sedikit buat membentangkan pikiran-pikirannya diatas kertas. Adieu Broeder!! (REDACTEUR NJALA) THIBBUN NABAWI adalah Suatu Ilmu tentang RAHASIA KESEHATAN RASULULLAH SAW (PENGOBATAN ala NABI SAW). Depending how you cut the cake. Libya and Mali. conceals the fierce conflicts of interest (sometimes exploding. The attack on Syria now being planned by the US and its allies will be the ninth direct western military intervention in an Arab or Muslim country in 15 years. masters and slaves. sehingga NJALAbelumlah terpaksa bernafas buat penghabisan untuk berobah menjadi badan halus. often repressed) between conquerors and conquered. BuyaHanya 24 halaman isi buku saku yang lebih mirip buletin. Dr. The history of any country. not to be on the side of the executioners. API sungguh tak boleh dipungkiri kebenarannya pendapatanmu pada achir katamu itu. selesai sidang rundingan #TPPA ke 19. dimana tangan besi reaksi jatuh pada pundak kita sebagaimana terjadi pada dirimu itu. the looming bombardment follows onslaughts on Sudan. “Serial fikrah. And in such as world of conflict. karena dengan demikian musuh kita tak dapat mengukur kekuatan kita bukan? Siapa tau barang kali saudara mu muda NJALA besok atau lusa akan terpaksa mengikut kamu. Ahli Kokus Parlimen terus pantau biography of Hamka. it is the job of thinking people.‫ إنما هي القلة العارفة المتصلة الثابتة المتجردة للعقيدة‬،‫ن الكثرة العددية ليست بشيء‬ ‫ تتزلزل أقدامهم وترتجف في‬،‫ ممن لم يدركوا حقيقة العقيدة التي ينساقون في تيارها‬،‫ التائهين في غمارها‬،‫لن بعض الداخلين فيها‬ ،‫ فوق ما تخدع الكثرة أصحابها فتجعلهم يتهاونون في ثوثيق صلتهم بالله‬،‫ساعة الشدة؛ فيشيعون الضطراب والهزيمة في الصفوف‬ ‫إنشغال بهذه الكثرة الظاهرة عن اليقظة لسر النصر في الحياة‬. da’wah dan harakah”. masih dari yayasan yang sama. Afghanistan.

Dalam edisi nomor 04. Penguatan soal kepemimpinan Islam melalui‬‬ ‫‪ranah politik banyak menghiasi seri-seri Waqfah... khususnya dari pergerakan Tarbiyah (yang‬‬ ‫‪kala itu bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan). diam-diam ustad muda itu menikah siri sebanyak dua kali. Dia pun harus diusir lantaran soal menikah.‬‬ ‫المام محمد عبده‬ ‫شباب السكندرية‪ :‬فريق معرفة السكندرية يدعوكم لثاني ندوات عمود الرواد الحيائيين‪ ،‬ندوة عن الشيخ المام محمد عبده‪،‬‬ ‫الدعوة عامة‬ ‫نفس‪.‬‬ ‫‪:‬لمزيد من التفاصيل‪ ،‬يرجى مطالعة رابط الحدث‬ ‫‪Tidak disangka.‬العمل‪ .‬ومن ل يذوق لذة العمل الختياري ل يذوق لذة الراحة الحقيقية‪ ،‬لن الله تعالى لم يضع الراحة في غير‬ ‫‪.‬‬ ‫‪.‫ساعة الشدة؛ فيشيعون الضطراب والهزيمة في الصفوف‪ ،‬فوق ما تخدع الكثرة أصحابها فتجعلهم يتهاونون في ثوثيق صلتهم بالله‪،‬‬ ‫‪.‬لكن كم من الثورات نحتاج على أنفسنا !!‬ ‫والكسل أو العمل الضطراري‪ ..‬إنشغال بهذه الكثرة الظاهرة عن اليقظة لسر النصر في الحياة‬ ‫‪Buku atau buletin keluaran Tarbiyatuna.‬‬ ‫‪Meski sudah beristri. kali ini dengan seorang pelajar SMA.. tanpa‬‬ ‫‪mengindahkan etika di organisasi dakwahnya.‬‬ ‫الخميس القادم بمكتبة السكندرية‪ ،‬الساعة السادسة مساء بإذن الله‪.‬‬ ‫قع في تعب ل نهاية له‪ ،‬وهو تعب البطالة‬ ‫ن حب الراحة يو ِ‬ ‫ثورة واحدة كافية ضد الظلم‪ ..‬أمر الوحدة هذا التأكيد تحذيرا من طرق الشرك الخفية على أنها أساس الدين وأصله‬ ‫‪..‬عن الله ساس ويسوس وسائس ومسوس‬ ‫بدون إتعاب فكر ول إجهاد ~‬ ‫ن يريد خير البلد فل يسعى إل في اتقان التربية‪ ،‬وبعد ذلك يأتي له جميع ما يطلبه ‪.‬صـ ‪ ،46‬تفسير المنار‪ .. “Kiat Menjadi‬‬ ‫‪Pendengar Efektif” dijadikan tulisan utama.‬‬ ‫‪diulanginya lagi nikah siri.‬‬ ‫‪:‬لتأريخ‬ ‫قد يسمح الستعمار بقيام حكم اسلمي زائف‪ ،‬في بقاع جاهلة من الرض متأخرة‪ ،‬وفي ظل حكم ديكتاتوريات ظالمة مستغلة‪ ،‬كي "‬ ‫"!يكون نموذج سي ً‬ ‫را من حكم السلم‪ ،‬بل من ذات السلم‬ ‫ئا منف ً‬ ‫قف البشرية اليوم على حافة الهاوية(‬ ‫‪.‬ن يريد خير البلد‪ ،‬فل يسعى إل في إتقان التربية! وبعد ذلك يأتي له جميع ما يطلبه‬ ‫"نبههم ~‬ ‫يقول الستاذ المام الشيخ محمد عبده في تفسير آية "وإلهكم إله واحد ل إله إل هو الرحمن الرحيم"‪:‬‬ ‫المام محمد عبده‬ ‫سبحانه وتعالى إلى أن المنافع التي يرقبونها من شركهم إنما هي بيده الكريمة وحده‪ ،‬كأنه يقول ‪:‬إذا أنتم تركتم ما أنتم فيه لجله‬ ‫تعالى فهو بتفرده باللوهية يكفيكم كل ضرر تخافونه‪ ،‬ويعطيكم برحمته الواسعة كل ما ترجونه‪ ،‬فإن بيده ملكوت كل شيء‪ ،‬وكل ما‬ ‫تعتمدون عليه من دونه فليس محل للعتماد‪ ،‬بل اعتمادكم عليه من قبيل الشرك فيجب أن تطرحوه جانبا‪ ،‬وتعتقدوا أن الله الذي بيده‬ ‫أزمة المنافع والقادر على دفع المضار وإيقاعها هو واحد ل سلطان لحد على إرادته‪ ،‬ول مبدل لكلمته‪ ،‬ول أوسع من رحمته‪ ،‬وإنما أكد‬ ‫‪".‬‬ ‫‪Biography text for Hamka Hamka. Format yang dipakai memang ada tulisan‬‬ ‫‪utama yang merupakan judul seri tersebut..‬سيد قطب ‪ -‬سنة ‪١٩٤٨‬م(‬ ‫‪. Waqfah. tapi‬‬ ‫‪juga keterampilan teknis bagi aktivis dakwah. Buya Ranah-Ku (Kabupaten Solok‬‬ .‬سيد قطب ‪ -‬عقب جلء الحتلل النجليزي عن مصر ~‬ ‫خرج النجليز الحمر‪ ،‬وبقي النجليز السمر!‬ ‫~ سيد قطب ‪ -‬عقب جلء الحتلل النجليزي عن مصر‪. Dr.‬ل بسبب التهديد بالفناء المع ّ‬ ‫لق على رأسها‪ ،‬فهذا عرض للمرض وليس هو المرض‬ ‫رج النجليز الحمر‪ ،‬وبقي النجليز السمر‬ ‫!ولكن بسبب إفلسها في عالم "القيم"‪. di tempat peraduan barunya. tidak semata bicara soal mabda. Bahkan. ustad muda yang‬‬ ‫‪kami kenal lama sudah piawai memimpin Shalat Malam di acara-acara mahasiswa di‬‬ ‫‪Yogyakarta itu mengecewakan sang guru.

‬النهضوى من خلل دراسة العمال الفكرية للرواد الحيائيين من نهاية القرن التاسع عشر و حتى نهاية القرن العشرين‬ ‫من هؤلء الرواد الذين سيتم تناول اعمالهم بالدراسة على سبيل المثال و ليس الحصر "جمال الدين الفغانى ‪ -‬محمد رشيد رضا ‪-‬‬ ‫وغيرهم‬ ‫"‬ ‫الكواكبى‬ ‫الرحمن‬ ‫عبد‬ ‫‪-‬‬ ‫عبده‬ ‫‪.‬محمد‬ ‫يتم فى البداية عرض العناصر الساسية للمفكر موضوع الجلسة ثم تدور المناقشة بين العضاء المشاركين فى المشروع و فى حالة ‪-‬‬ ‫المشروع‬ ‫فى‬ ‫المشاركين‬ ‫غير‬ ‫من‬ ‫للجمهور‬ ‫السئلة‬ ‫باب‬ ‫فتح‬ ‫يتم‬ ‫كاف‬ ‫وقت‬ ‫تبقي‬ ‫الرئيسية‬ ‫‪1‬‬‫‪2‬‬‫فكره‬ ‫وتاريخه‬ ‫في‬ ‫المؤثرة‬ ‫عبده‬ ‫والعوامل‬ ‫‪،‬‬ ‫العرض‬ ‫فيه‬ ‫محمد‬ ‫عاش‬ ‫الذي‬ ‫باالشيخ‬ ‫والجتماعي‬ ‫الفكر‬ ‫‪:‬عناصر‬ ‫التعريف‬ ‫الطار‬ . kendati tidak‬‬ ‫‪menyetujui perilakunya. sang istri sudah‬‬ ‫‪memberikannya keturunan.‫‪Saya membayangkan betapa hancur hati sang istri yang pernah memaafkan sang suami‬‬ ‫‪kala diam-diam menikahi mahasiswi di Yogyakarta dulu. Semoga saja saya bisa menjaga perasaan istri dan anak-anak saya untuk‬‬ ‫‪tidak melalimi mereka atas nama kebaikan.‬‬ ‫الفعالية الساسية للرواق خلل كل فصل ثقافى عبارة عن جلسة نقاشية دورية بين العضاء المشاركين فى المشروع يقوم فيها‬ ‫العضاء بتقديم أوراقهم البحثية فى الموضوع محل الدراسة و تتم مناقشة تلك الوراق البحثية بين أعضاء المشروع امام حضور من‬ ‫الجمهور‬ ‫الحالى‬ ‫الثقافى‬ ‫الفصل‬ ‫موضوع‬ ‫‪:‬عن‬ ‫أصبح من الضرورى فى ظل انكباب و‬ ‫تحديدا ً(‬ ‫فى المرحلة التاريخية التى تمر بها المجتمعات العربية و السلمية )الربيع العربي‬ ‫انشغال القطاع الكبر من المجتمع بالتغيير من أعلى و قمة الهرم المجتمعى الحالى من خلل الممارسات السياسية المختلفة بكل ما‬ ‫تحتوى عليه ‪ ،‬أصبح من الضرورى تامل التجارب النهضوية و معرفة السبيل لحداث تغيير فعال و دائم فى المجتمع من خلل إحداث‬ ‫الفكار‬ ‫منظومة‬ ‫فى‬ ‫الحقيقي‬ ‫التغيير‬ ‫و فى سبيل ذلك لبد من مراجعة التجارب الذاتية السابقة للمجتمع المصري فى الماضي القريب لستخراج و فهم هذه التجارب و‬ ‫التجارب‬ ‫هذه‬ ‫من‬ ‫الستفادة‬ ‫و‬ ‫فيها‬ ‫الضعف‬ ‫و‬ ‫القوة‬ ‫مواضع‬ ‫معرفة‬ ‫و هو يهتم بدراسة فكرة محددة و هى الفكر السلمي الحيائي‬ ‫"عمود الرواد الحيائيين"‬ ‫و يأتى الفصل الثقافى الحالى تحت عنوان‬ ‫‪. Saya tidak ingin menghakimi ustad muda itu. Padahal. Yang bisa saya lakukan sebatas memetik hikmah di balik‬‬ ‫‪perilakunya.‬‬ ‫‪Kedudukan perempuan dalam islam hamka‬‬ ‫رواق المعرفة ‪ -‬عمود الرواد اليحيائيين ‪ -‬الشيخ محمد عبده‬ ‫لحضور‬ ‫و‬ ‫الصلحية‬ ‫‪:‬الزمان‬ ‫السكندرية‬ ‫بمكتبة‬ ‫المستقبلية‬ ‫الدراسات‬ ‫وحدة‬ ‫مع‬ ‫بالتعاون‬ ‫السكندرية‬ ‫معرفة‬ ‫فريق‬ ‫دعوكم‬ ‫رؤيته‬ ‫الجلسة النقاشية الثالثة لمشروع رواق المعرفة "عمود الرواد الحيائيين" و ذلك لنقاش فكر الرائد الحيائى المام "محمد عبده"‬ ‫‪2013‬‬ ‫مساءا‬ ‫‪:‬المكان‬ ‫السكندرية‬ ‫المؤتمرات‬ ‫قاعة‬ ‫يناير‬ ‫‪31‬‬ ‫السادسة‬ ‫الخميس‬ ‫يوم‬ ‫الساعة‬ ‫مكتبة‬ ‫مركز‬ ‫‪C‬‬ ‫المعرفة‬ ‫رواق‬ ‫‪:‬عن‬ ‫رواق المعرفة هو نشاط ثقافى تابع لفريق معرفة عبارة عن فصول ثقافية محددة المدة و يتم تناول في كل فصل بشكل مركز‬ ‫معينة‬ ‫فكرة‬ ‫حول‬ ‫تدور‬ ‫فكرية‬ ‫أعمال‬ ‫او‬ ‫معين‬ ‫لكاتب‬ ‫الفكرية‬ ‫العمال‬ ‫‪.

to the best of our knowledge the history of the Party has not been condensed into pamphlet form since PKI leader Aidit’s ‘official history’ three decades ago. Yet at the same time those ideas have suffered decades of Stalinist distortions. Whilst there are many books on the subject (some of them very bad). The theoretical questions that confronted the PKI are fundamentally the same as those that confront activists today throughout Asia. particularly in the ex-colonial world.‫ ومحاولته‬، ‫ ودوره في حركة الصلح السلمي‬، ‫تاثيرات فكر المام محمد عبده علي التجاهات الفكرية المختلفة في ذلك الوقت‬ ‫غفلتها‬ ‫من‬ ‫المة‬ ‫استنهاض‬ ‫في‬. you cannot kill ideas. Twenty five years ago the Indonesian Communist Party (PKI) was the largest aspiring revolutionary party in the world with three and a half million members. We believe the lessons of Indonesia are of burning relevance today throughout all of the ex-colonial world. yet it must be stated that despite all the criticisms it is quite clear that. hang-dog style. and it is at those serious activists that this pamphlet is aimed. The news of the annihilation of the Party was a terrible blow to the whole labour movement internationally.3‫رايه‬ ‫في‬ ‫السياسي‬ ‫النظام‬ ‫وأسس‬ ‫للمام‬ ‫السياسي‬ ‫الفكر‬. with virtually all the leaders of the labour movement internationally singing along with the capitalists. To analyse and correct the distortions is of vital importance and it is hoped that this pamphlet will be of assistance. some of which still linger. 6. all the imprisonment and all the repression. “Marxism is dead!” Yet for all the talk of the triumph of capitalism. Twenty five years on and the capitalist press throughout the world beat their chests and daily trumpet their message. the class struggle continues unabated. all the torture. The pamphlet pretends to be nothing more than an introduction to the enormously rich history of the PKI. Six months later it had been effectively destroyed and up to a million people lay dead. 5‫عصره‬ ‫في‬ ‫لما‬ ‫التقليد‬ ‫ناحية‬ ‫ومن‬ ‫التجديد‬ ‫ناحية‬ ‫من‬ ‫المام‬ ‫وفكر‬ ‫منهج‬ ‫تقييم‬. Africa and Latin America. . This will be an extremely critical look at the Party’s history. Three times in fifty years the PKI rose up and three times it was crushed – most terribly and tragically of all following the events of September 30th 1965. This pamphlet was originally written by Craig Bowen and published by Militant. to the funeral songs for Marxism. Yet this was not the first time the PKI had been crushed. But this has not been written simply for historical interest. over 50 years. 4‫المام‬ ‫يقصدها‬ ‫التي‬ ‫المستنيرة‬ ‫الصفوة‬ ‫دور‬. the forerunner of the Socialist Party. In Indonesia the ideas of Marxism have run through the history of the working class movement like a backbone. Why did it happen? This pamphlet will attempt to answer that question and in doing so focus on a number of basic themes and theoretical questions that recur throughout the Party’s history. And despite all the killing. the PKI attracted to its ranks the cream of several generations of Indonesian society. 7‫؟‬ ‫المرحلة‬ ‫هذه‬ ‫في‬ ‫المة‬ ‫لفكر‬ ‫مجددا‬ ‫مصلحا‬ ‫كان‬ ‫عبده‬ ‫محمد‬ ‫المام‬ ‫حقا‬ ‫هل‬ ‫عبده‬ ‫)مفكرون‬ ‫أحد مشروعات فريق معرفة‬ ‫محمد‬ ‫صفحات‬ ‫المام‬ ‫شبكة‬ ‫صفحة‬ ‫رابط‬ ‫)على‬ Indonesia: The Rise and Fall of the PKI Posted by sp A short history of the Indonesian Communist Party. Our analysis is quite the opposite. It is perhaps fitting that this pamphlet is being produced now.

from the ashes.” But the rebellions had always been at local or regional level. but not for its own sake. The whole point of theory is that it is a guide to action. a revolution never has been. who have the strength of giants and are bestially cruel. But to top it all off. the ideas of Marxism will come once more to be the driving force behind the mighty Indonesian labour movement when. A year before the First World War. “ever since the arrival of the Europeans they (the Javanese) have neglected no opportunity of attempting to regain their independence. “exclusively for European use.” So great was the exploitation of the Indonesian masses that a major part of Dutch social capital formation in the nineteenth century was financed by wealth extracted from Indonesia. Yet for the Indonesians themselves. At around the same time. But he cannot run away. while greedy leeches suck his thin blood and malaria mosquitoes poison his sickly body.” Dutch colonialism was vicious. it rises once again. won from within the walls of a seminar room. “They may not run away from their work for that is forbidden by their contract which the ignorant. or if you like they are slaves. The tjententgs. Founded originally to protect the interests of Javanese batik merchants from competition by Indies Chinese traders. the watchmen and constables of the firm. “A Polynesian transported to a scene of conventional Javanese activity would at once devoutly believe the worst that the missionaries had told him about hell. An American visitor wrote. Political theory is crucially important. Dirt tracks alongside were provided for the ‘natives’!” (1) Yet far from just accepting the situation. Henk Sneevliet. Amongst the Dutch colonialists there was widespread alarm. for the contract binds him. track down the fugitive. he has to stand up to the neck in stinking marshland. A writer who had himself been a plantation boss wrote of Javanese contract workers. September 1990 The Early Years The communist movement in Indonesia sprang from an unusual source. for the contract binds him. Thousands of miles away Lenin wrote. It is only a matter of time. outside the island of Java. under the leadership of Umar Said Tjokroaminoto. toiling and stooping. spreading from the urban commercial class to the poorer population of the towns and into the rural areas.” The first main road in Java. On his initiative the Indonesian Social Democratic Association (ISDV) . came to Indonesia looking for a job.Furthermore. having been blacklisted in Holland. “A significant development is the spread of the revolutionary democratic movement to the Dutch East Indies (the old colonial name for Indonesia)… Parties and unions are being formed at an amazing speed. When they catch him they give him a terrible hiding and lock him up. the road was. The government is banning them. “Study while struggling: without study it is impossible to struggle!” We are fully confident that far from being dead. there were uprisings against the Dutch right throughout the whole colonial period and direct control by the Dutch. living standards were either stagnant or declining. The coolie slogs from morning till night. misled coolie signed somewhere in Java… They are doing forced labour. the winds of revolt were blowing through Java. it rapidly became a rallying point for discontent. a former Dutch railway union official. built by command of the Dutch governor Daendels was likewise built by forced labour and those who failed to complete their allocated quota of road on time were summarily hanged. nor will it ever be. In 1911 the first mass political movement in the country that existed on a national scale. thereby only fanning the resentment and accelerating the growth of the movement. who died in Boven Digul concentration camp said. Sarekat Islam was formed. was not achieved until well into the twentieth century. As the brave old PKI leader Aliarcham. as the new generation of Indonesian activists know. The British colonialist Raffles commented that.

they were not reaching the Indonesian masses. The conservative elements within the ISDV split away during the year over an article written by Sneevliet in the Party newspaper celebrating the February revolution in Russia and saying. . ISDV member Darsono. “Dutch rule in the Indies would go the way of the Tsar if only the Indonesians set their mind to it. “We should oppose those who. Accordingly the ISDV decided to orient their work towards it. By the time of the 1917 conference Tjokroaminoto and other SI leaders wanted all relations with the ISDV cut off. Meanwhile economic conditions continued to deteriorate. Prominent among them was a young railway worker. in contrast – Sarekat Islam. the ISDV began organising soldiers’ and sailors’ soviets (councils) and within three months there were more than 3. and Semaun became SI commissioner in charge of West Java. real income declined continuously from 1914 to 1924 and there was a ‘general restlessness’ in the air. had strong backing from other branches. While Sneevliet was awaiting trial. was the Bolshevik revolution in October 1917. drive a wedge into it through their so-called socialist internationalism. radically improved labour and agrarian legislation and free public education.” The government immediately set about prosecuting Sneevliet and attempted to suppress discussion of the uprising. it didn’t have a strong enough proletariat to take power. But it was particularly inspiring to the revolutionaries in Indonesia because they were always being told that Indonesia was too backward. the SI were forced to state that if. The upshot was. Semaun. a movement rather than a party – had thousands of adherents. a backward peasant-based economy and the working class had taken power! Inspired by the Bolsheviks.000 members of the movement which became known as the Red Guardists. but the Semarang branch.’ And yet here was Russia. Semaun had moved to Semarang where he was instrumental in building a strong SI branch which was becoming increasingly publicly critical of the SI leadership. 1917 was a tumultuous year. and it was from this source that the first generation of Indonesian Marxists were recruited. Soera Merdika (The Free Vice). dominated by the conservatives. and in fact suffered from ‘an absence of all factors assumed necessary for a socialist revolution. Moreover the congress condemned ‘sinful’ – that is. that rather than expelling the ISDV. It sent an electric charge around the world. But most significant in its effects of all the events that year. where the ISDV’s strength was centred.” (2) Thus from what had been a merchant’s protection guild six years earlier. ignoring the unity of the native population groups necessary for the achievement of national independence and freedom. published a declaration saying. Considerable attention was devoted to work in Sarekat Islam and the position and influence of the ISDV steadily gained ground. and had only four years earlier proclaimed it’s unconditional loyalty to the Dutch government. foreign – capitalism and demanded freedom of political organisation. “parliamentary action should prove unfruitful.was founded in 1914. This was because the vast majority of ISDV members were Dutch and despite the fact that poverty was increasing. From an original sixty members their numbers grew to eighty-five by the following year and they began to produce a paper… however it was in Dutch. the SI had become a mass movement heading rapidly in a revolutionary direction. and in 1917 became one of the editors of the first Indonesian language socialist newspaper. who at the age of seventeen was vice chairman of the Surabaya branch of the ISDV. By this time. the Sarekat Islam would not hesitate to revolt. which inevitably had the opposite effect and soon everybody was talking about the Russian revolution. the Batavia branch of the ISDV. became the official SI propagandist.” Meanwhile Sarekat Islam (SI) was in turmoil also.

The right of assembly was prohibited in all areas where the PKI existed. the leadership of the party itself was split over the question of insurrection. it was determined that a local unit could act independently. and many more were to follow. Frustration and desperation grew. with the economy picking up. imprisonment and banishment of party cadres.) In mid-1925. (5) . Then in Semarang major strikes began to break out. without informing party headquarters. Instead. The movement was visibly dissolving into anarchy.By the 1919 SI congress the powerful influence of the ISDV was unmistakable. (No doubt these factors played a large part in the decision being made in the first place. Thereafter followed strikes in Medan and Batavia and a near-general strike in Surabaya. Their paper reporting the congress declared. Within a few years Sarekat Islam had collapsed. and it in turn began to crack apart. During the preparatory period some leaders were touring branches arguing in favour. including the Netherlands.” (4) To make matters worse. It was decided to organise an insurrection – for the following year. and even the sub-sections showed increased independence of section leadership. were in a state of collapse following their defeats. Bergsma and Semaun were expelled from Indonesia – Sneevliet had suffered the same fate. “…the struggle was directed squarely against capitalism and was not. during the 1920s it far outweighed any other political party in Indonesia in terms of its public support. notably of the pawnshop workers in 1922 and the railway workers in 1923. But they further alarmed the Dutch who in turn stepped up their repression of PKI activities. Repression was stepped up. (3) In the increasingly volatile situation. But while Sarekat Islam was falling apart. which were to have provided the major revolutionary thrust. Having changed names. not least among the inexperienced leaders who were left. But the movements in Europe defeated (for reasons we shall go into later). and mostly unsuccessful. an attack by a few on ‘sinful capitalism’. During the early 1920s the PKI led a number of major strikes. Secret terrorist organisations had been established in some regions but the centre had little or no control over them – the transmission of the centre’s ideas had depended to a great extent on its now-banned publications. It was around this time also that the party abandoned the organisational method of democratic centralism. Amongst revolutionaries the perspective had been that the Russian revolution would simply be the first in a series of revolutions that would sweep across Europe. as in previous times. The strikes however were unsuccessful. it became the first Communist Party in Asia and. and others were touring arguing against the idea. the first phase of Indonesian communism was not yet over. and which in turn would intersect with the movement in Indonesia. although numerically small. from the ISDV to the Communist Party of Indonesia (PKI) in 1920. “so long as its decisions were in line with PKI constitution and by-laws”. strikes began to occur again – all wild-cat. such as Tan Malaka. into an overwhelmingly Indonesian organisation that in many areas actually led the masses. to try and organise a revolutionary party on a ‘do your own thing’ basis was a recipe for disaster – particularly given the relative inexperience of the party and the continual arrests. The merchant bourgeois Moslem interests that had steadily lost ground within Sarekat Islam began to reorganise. There were conflicts within the regional party organisations. while in Indonesia Red Guardists and ISDV members were imprisoned and Dutch revolutionaries banished. all small. The work within Sarekat Islam had transformed the ISDV from a small group of Dutch expatriates with almost no contact with the Indonesian masses.” But the tide began to turn. a combination of concepts that rests on a misunderstanding of socialism. “However by then the labour unions of Java. Some of the PKI’s most able leaders.

It is also important to take note of world events and the subsequent development of the communist movement internationally.300 were sent to the horrendous. individual struggle for power. even though the working class had won power in the Soviet Union. malaria infested Boven Digul concentration camp in West Papua. Thousands were imprisoned and 1. formed under the leadership of Lenin and Trotsky as a focal point for the strategy and tactics of revolutionaries internationally. However. by the time of the 1926/27 uprising. “nationalism was a European phenomenon of the nineteenth century and not a real issue in the Indonesia of their day… The concept of revolution aimed not just at independence but also at drastic social change was… not limited to doctrinaire leftists (sic) in the central party leadership.and Sumatra where the insurrection did not begin until early 1927. both bourgeois and Stalinist. of those arrested. but paradoxically growing in confidence (and ruthlessness) with each revolution that was defeated internationally. Consequently. the Comintern had ordered the Chinese Communist Party to work within the Kuomintang (KMT). points out that Indonesian communists of the time felt that. The Communist International (Comintern). There. the movements in Java were quickly put down. And this reaction manifested in the rise to power of a bureaucracy – hesitant at first. Revolutionaries throughout the world expected the Russian revolution to be but the first in a series of revolutions that would bring the working class to power in at least several key countries in Europe that were unquestionably ripe for revolt. the uprisings were a disaster. and was quickly smashed. a bourgeois nationalist organisation with the strategy supposedly being based on the Indonesian experience. to try and put a check on what was happening. it was an integral part of the PKI’s popular appeal… The power of this appeal is shown by the fact that opponents preferred to attack the PKI on almost any issue except communism itself. Despite the rebellious mood that undoubtedly existed. with the exception of Banten where resistance continued until late 1926.Thus when they occurred. fundamentally because the leaders of European Social Democracy sided with ‘their own’ capitalist classes. which in turn had a decisive effect within Indonesia itself. the Stalinisation of the Comintern does not seem to have played a determining role – the Stalinists at this time were mainly pre-occupied with the situation in China. But . and almost brought to its knees by invasion from all the major imperialist powers on top of all that. While undoubtedly the turn of world developments had enormously affected the prospects for Indonesian revolution. In fact Ruth McVey. In the last years of his life Lenin formed a bloc with Leon Trotsky. And personified in this process was the consummate ruthless bureaucrat – Joseph Stalin. but he was extremely ill and died in 1924. the whole movement had been thrown backwards. and because the young revolutionary parties there had not developed the strength to overcome that fact. Underground and Independence It’s important to note that it was only from this point that the focus of the struggle became ‘nationalism and the rise of the nationalist movement occurred. Thus ended the first period of open Communist activity in Indonesia. But to return to Indonesia. the revolutions failed. had suffered a consequent degeneration. an inevitable reaction set in. This was not the crux of what was at stake at all – rather it was a struggle over either the maintenance or abandonment of Bolshevism itself. Historians portray the ensuing struggle between Stalin and Trotsky as some kind of crude. an unspecified number were executed. the other great leader of the revolution. because it was an isolated backward country that had been weakened by three years of world war. Thirteen thousand arrests were made and.” (6) Not only physically but ideologically. this process was already decisively under way. Trotsky now became the individual who personified the struggle against reaction. the most astute of all bourgeois commentators. ravaged by civil war.

Meanwhile the Comintern had veered wildly to the left and then back right again. During the same period a myriad of nationalist organisations sprang up within Indonesia itself including the PNI. having destroyed the revolutionary possibilities in China through leaning on capitalist elements. many of them huge working class organisations. though apparently instigated by a Socialist trade union and by nationalists. was not without effect on developing Indonesian political opinion. The mutiny. Wages paid out (in million guilders) were: 1929-102. “the Comintern leadership instructed the Chinese communists to sacrifice their own programme in favour of the bourgeois programme of the KMT… to dissolve their independent press – and even hand over a list of their members to the KMT leadership. where. But what made it impossible were their policies. The present writer. seized command of the ship and attempted to sail it to a Russian port. This policy had its most tragic consequences in Germany. heard in many Dutch circles that the Communists were really responsible for the mutiny…” (9) Exports collapsed. according to Semaun. where many of the future leaders of the Indonesian Republic were living at that time as students. In perhaps the Comintern’s most glaringly demented phase. Indonesia itself was now only a minor part of the stage. until a bomb attack by a Dutch naval plane put an end to these plans. rather than uniting with the rank and file Social Democrats against the fascists. In 1933 sailors on the Dutch naval vessel Zeven Provincien mutinied briefly. but instead loudly proclaimed it.” (8) For some years a nationalist organisation called Perhimpunan Indonesia had been in existence in Holland and it was to this organisation that the expatriate students were affiliated. who was in Indonesia at the time. what is unquestionable is that subsequent swings in policy by the Comintern were to play a decisive role in Indonesian affairs. “The end of this first phase of PKI history brought a shift in the scene of Indonesian Communist activity. the Comintern did not want to establish any centres outside Moscow for Asian work for fear that Asian revolutionaries would be attracted to the Left Opposition – the group Trotsky led. During this period work within the trade unions was also maintained. In contrast. unemployment rose. As right-wing author JM Van Der Kroef puts it. Given Moscow’s lack of attention it should however be noted that. The Indonesian communists had not buried their own programme. was the Netherlands. despite its ignominious end. returned to Indonesia to set up the ‘illegal PKI’… A far more important centre of Communist activity. It was particularly in Gerindo that PKI members worked. Labour Parties. an exiled PKI leader living in Moscow. the Stalinists veered diagonally in the opposite direction. The depression had a ravaging effect on the Indonesian economy. The amount earned by export sales in 1925 was only 25% of that in 1925. the Communists consistently fought . the Partindo and the Gerindo. in the long run could only strengthen the appeal of the Communist Party. Poverty and hardship rose. The Comintern declared that these parties now constituted the main danger confronting the working class and therefore they had to be destroyed. The Socialist Parties. According to them it was now the “Third Period” – the period of the final collapse of world capitalism (which was quite possible). Then Musso. 1931-84. Furthermore. “those proletarianisation processes.” (7) As a result. 1934-10. the Chinese Communist Party suffered a catastrophic defeat and thousands of workers were slaughtered. and while in the 1930s there were no spectacular outbursts that could be attributed to (the PKI) … there was undoubtedly a broadening of political consciousness in Indonesian society that was ready for exploitation at a later date.here lies a crucial difference. Peasants were forced to pawn their land as taxes were increased to pay for the crisis – between 1926 and 1932 taxes increased 44%. however. were declared to be ‘social-fascist’ parties. Until 1935 there was no significant activity there. the economy contracted and wages were cut. in a chilling preview of Indonesia 1965. Social Democratic Parties internationally.

to prevent them being used for propaganda purposes by the Japanese. but also independence for the colonies of Dutch imperialism – ie Indonesia. But the CPA persisted and won out. In Holland. As Ted Grant put it. and resisted co-operation with the NEI (Dutch) Government-In-Exile. a panicky Stalin did another u-turn. future PKI leader Aidit recalled. When some Indonesians did request arms from the Dutch to help fight the Japanese. that the Dutch colonialists harboured no such ‘allied’ illusions as the PKI had. “…the full danger which Hitler represented to the Soviet Union was apparent to everyone.” Sardjono had spent the previous 16 years in a Dutch concentration camp! . “The Indonesian people harboured illusions that the Japanese were liberators…”. including even independence. which was now controlled by the Communists. Not a few of its members still spoke in the warmed-up cliches of 1926. Stalin more openly converted it into an instrument of Russian foreign policy. the strongest Communist Party outside the Soviet Union was destroyed. Their ‘advice’ manifested in the old PKI leader Sardjono (as Lockwood so inimitably put it). are very revealing: “Though advised by the CPA (Communist Party of Australia). As the mistake became clear. when they first arrived. The ‘Popular Front’ policy was initiated… This policy of coalition with the liberal capitalists is one against which Lenin had struggled all his life. but the Dutch as well! According to ‘the line’. An organisation in class society. at that time a leading Australian Stalinist. Stalin and the bureaucracy became panic-stricken.” (10) What the ‘Popular Front’ policy meant in Indonesia was not only ‘co-operation’ with Indonesian bourgeois nationalists. Having effectively been isolated from the Stalinist degeneration of the Communist movement (as a result of being in prison for the previous decade and a half). in his search for allies. had to be subordinated to the struggle against fascism. But the Indonesian masses wanted no part of such a deal. falls under the pressure and influence of the bourgeoisie. At the same time.” (11) The fundamental ideas of the communist movement were now regarded as “warmed-up cliches”. The comments of Rupert Lockwood. Indeed far from seeing the Japanese as the main enemy. not only was socialism off the agenda. the Comintern declared that the Communist Parties throughout the world must form a ‘Popular Front’ against the fascists with ‘their own’ respective capitalists – of course on the terms of the capitalists. Stalin. Hitler was able to come to power “without breaking a pane of glass”. every other consideration. as Netherlands Indies Government-InExile Public Relations Officer. Ignoring the fact that the Western capitalists had supported Hitler in his rise to power as a ‘bulwark against Communism’. Contemptuous and cynical of the capacity of the Comintern as an instrument of world revolution. Perhimpunan. As a result. which ceases to represent the working class inevitably. the PKI…at first made sectarian errors that made CPA hairs stand on end.against the Social Democrats as the “main enemy”. they were told this was “impossible”. Indonesia Merdeka. they were not at all happy with the idea of a bloc with Dutch colonialism. These illusions were soon dispelled. An interesting contrast with the official PKI line is provided here by the position of Indonesian communists still prisoners from the 1926/27 rebellion. the expatriate Indonesian students’ organisation. The PKI brought many problems with it from behind the barbed wire of D Compound. now turned to the bourgeoisie of Britain and France. “…setting an example…by donning a Dutch uniform. as far as the Netherlands Communist party was concerned. Thus when the Japanese invaded Indonesia in 1942 the PKI were placed in the position of having to argue that the Indonesian masses should combine with the Dutch to fight them. who were taken by the fleeing Dutch administration with them to Australia. dropped the word “Merdeka” from the name of its journal. It is worth noting as well.

But rapidly the exiles realised their position was ridiculous. Stalin and the Western powers were dividing up the continent of Europe between them – nothing was to upset that. has led in the past week to organised protest movements of soldiers culminating in mass demonstrations last Saturday.” The Japanese occupation marked a turning point. “It does seem clear that when they first arrived in Indonesia in late 1945 and early 1946. They soon concluded that it was neither a Japanese product nor a Fascist dictatorship. by following Moscow’s directives. Boycotts were eventually imposed on the Dutch by workers in Burma.000 people died. However with the defeat of Japan the whole situation was radically altered and the PKI missed an enormous opportunity. therefore the PKI had to continue to ‘compromise’ with the Dutch. Sri . “…they saw the Republic from the inside. It should be pointed out that this was in large part due to the influence of the Communist Party of Australia and was effectively against the Moscow line – the pro-Dutch position was clearly untenable for a sustained period. despite their policy towards the Dutch. staged a sit-down strike and British merchant seamen in Sydney mutinied. British paratroops. As Kahin puts it. George Kahin wrote. and went to the Communist headquarters to obtain aid…since many of them were members of the CP. The soldiers’ committee thereupon turned to the other workers’ organisations…” For its part. Thy formed a committee representing at first 150 men. sent to Indonesia to help restore Dutch rule. At the same time. Some sources say up to two million Indonesians died during the occupation. “…the Indonesians held that the war was a purposeless clash of empires. The Soviet Union didn’t adopt a favourable attitude to the Republic until January 1946. Canada. and a general strike in this city which began on Monday band was concluded Tuesday night.”(12) Indeed.Other Indonesian workers were not at all convinced. ignored the proclamation of independence in 1945. illusions in Japanese imperialism disappeared. Lockwood lamented. They conceived of the Republic as Japanese-made and Fascistic and their objective was to reunite the Netherlands and Indonesia. The capitulation of the Dutch Colonial Administration only eight days after the Japanese invaded had an enormous psychological effect on the Indonesian masses – they had seen them defeated. and at their request. Radio Moscow. the voice of the Soviet bureaucracy. “During the second week in September. It was clear to them that the Republic had the enthusiastic support of the population…” From mid 1944 onwards the exiles in Australia were organising Indonesian Independence Committees. And therefore. Referring to Indonesian seamen stationed in Australia during the war. after which they would be asked to accept the familiar currency of authoritarian direction. anti-Republic. Thus the Netherlands government was happy to fly them out free of charge to Indonesia. and defeated easily. the Australian trade unions put a ban on Dutch shipping. They instituted a brutal slave labour (romusha) system under which at least 200. Commenting on Communist exiles returning from the Netherlands. but even the right-wing Moslem party. at times found themselves objectively to the right of not only the PNI. during the Independence struggle. The leaders of the latter refused all help. the Masjumi. the PKI. paralleling that of the Netherlands Communist Party. This proved a definite thorn in the side of Dutch attempts to recolonise Indonesia. In late 1945 the Australian Militant. the colonial world was simmering with revolution. reported on news just received from Amsterdam: “Widespread indignation with the imperialist policy of the government of Holland in suppressing the struggle of the Indonesians for their independence. the soldiers at the Harderwijk camp near Amsterdam were informed that they were to embark for Indonesia… The soldiers protesting against the government order… bluntly refused to go. they were adhering closely to Moscow’s line… Their initial orientation was. While Stalin and the West were leaning on one another. in a magnificent display of working class internationalism. a Marxist paper of the time. the PKI did earn respect for their hostility to Japanese occupation.

Following the British army who arrived in Java in late September. In the mid ’50s. as well as Tan Malaka. including those imperialist bandits. but mainly politically. the PKI still however remained completely submerged within the independence movement itself.” As a result the leadership of the independence movement became a struggle between various bourgeois nationalist figureheads – Sukarno. lacking military training. lacking everything except a burning conviction of the justice of their cause. “Lacking heavy arms. became Vice President. China. As Ruth McVey puts it. “The PKI’s leaders. The British withdrew but the struggle with the Dutch continued. who was a lot more cautious. until December 1949 when independence was finally achieved. This was the first mistake: the failure to declare the Party legal and lead the revolution. who had supposedly gone to Indonesia to disarm the Japanese. ideological and organisational freedom and did not attach sufficient importance to its’ activities in labour and peasant circles. are being taken because the natives have ignored the British ultimatum to disarm. in the meantime holding open Batavia and other ports in readiness for the arrival of the Dutch armies now reported to have reached India. who had split with the . and others. Egypt. and of many women and children killed when troops fired on a “mob”. Japan. In the meantime they continue to spread the usual childish nonsense about thousands of Japanese soldiers fighting for the Indonesians…” In fact the British. they say. “The capitalist press speaks gloatingly of Indonesians mown down in “fanatical” attacks on British tanks.” (13) Demands on behalf of the workers and peasants were set aside in the “national interest”. occasionally militarily. New Zealand. Sjahrir. the Indonesians are fighting back bravely against the British invaders at Surabaya. Aidit. India. devotion. “In bravery. The Party failed to realise that the Dutch colonial era ended and that a new era opened. and the two enemies of yesterday were now fighting alongside each other against the Indonesians. they attempted to militarily re-assert control. in order to force his hand. Hatta. and it was their irrepressible zeal that led to the declaration of independence on August 17th. These were the reasons why the revolution failed… The party failed to realise in the August revolution that there was no need for illegality. Singapore. reflecting on the failure of the PKI to capture the leadership of the independence struggle wrote. 1945.) Sukarno became President of the Republic of Indonesia. Hatta. It was the youth of Indonesia who were the driving force behind the independence struggle. Throughout this period the Indonesian government controlled certain areas of the country and the Dutch controlled other areas. following a policy of extreme self-effacement… identified their programme completely with that of the government even in the latter’s least popular policies. The Dutch however. “During the revolution. have brutally bombed and shelled the virtually defenceless city of Surabaya. and the United States. (They at one stage actually kidnapped the nationalist leader Sukarno. Thailand. “The British Command. and administrative skill. Pakistan. the Soviet Union. “No prisoners. and another bourgeois nationalist. who now find themselves compelled to resort to military force when they had hoped… that trickery and prevarication would do the job. In December 1945 the Militant reported. were not at all pleased with the idea of losing their colony.Lanka. after a series of conferences designed to gain time for the assembling of their and Dutch military forces. had in fact rearmed them. Having abandoned their alliance with the Dutch. Holland. the Party abandoned political. they have astonished the world.

formerly opposed to Communism.000 members in early 1952. However just as in 1926/27 it was quite swiftly crushed – though this time in a more bloody fashion.000 by 1954. the continued existence of feudal relations on the land. Conflicts between pro and anti PKI military units occurred with more and more frequency culminating in the brutal “Madiun Affair” in 1948. the Indonesian people soon made the discovery that independence is not enough. six cabinets succeeded one another. in direct proportion to the frustration of hopes for real national independence… a number of young intellectuals having a high leadership potential. At government level a series of weak and unstable coalitions came and went from power – in less than seven years. The party’s growth continued apace. It should be emphasised that despite the mistakes. the party numbered more than 150. as the revolutionary elan faded and no single inspiring force came to take its’ place.N. In the general elections of 1955 the PKI polled 16 per cent of the vote. the PKI was.” (14) It was also in 1951 that a group of young men led by D.” This illustrates how fluid the situation was.Comintern and taken up a “left-wing nationalist” position. “forced to concentrate on a united front from below. It does not appear that the PKI was involved in the planning of the operation except at a local level. had become the largest in the country. particularly among young intellectuals. It is really from this point that the third incarnation of the party begins. Adit. From fewer than 7. . SOBSI. there was a general miasma of disillusionment. Mintz quite graphically describes the mood of the times: “…within a few weeks after the transfer of sovereignty. are being attracted towards it and are almost certain to join… if the present anti-Communist leaders of the Republic are forced to make more concessions to the Dutch. came into the leadership of the PKI. and PKI leader Musso declared himself head of an alternative government. who wanted no part of such deals following Madiun. Rather than concentrating on making “fronts” with nationalist leaders. Indeed within a year George Kahin was writing in the Far Eastern Survey about the potential of growth for the PKI: “That potential is strong. the appearance of the new leadership was one of spectacular success. However the party itself did not have to go through another twenty-year period underground. and the absence of any visible benefit from independence. However once the rebellion had begun it quickly became an attempt to take power. Jeanne S. The Aidit Years From the outset. By 1958 the PKI membership had reached 1. From the masses of the Indonesian people who had played an active role in achieving their independence there came a rather inarticulate but nevertheless real demand that independence bring in its’ wake something positive and tangible.5 million. none of whom were aged over 30. Pro-PKI soldiers seized control of the city of Madiun in central East Java in September 1948. its’ trade union federation. and in local elections two years later they had become the most popular party in Central Java.” (15) This had occurred as a reflection of declining economic conditions – up to 25 per cent unemployment. Hatta. As some of their leaders had anticipated. the PKI were nevertheless potentially a powerful force with sympathetic military units. Recognising the possible threat. a tactic which proved singularly effective in 1950-1951 and was one of the chief factors in the party’s swift post rebellion recovery and its’ development of a number of powerful Communist mass organisations. some visible differences from the poverty and hardship of their daily lives. now leader of the Republican government initiated a “reorganisation and rationalisation” process within the army – meaning the disbandment of PKI units. It is interesting to note that 70 per cent of the estates on Java and Sumatra were back in foreign hands by 1953. Within three years the Party was leading major strike movements. In addition.

Meanwhile there were increasing signs of agitation from the senior level of the military. Their power was now not only military. the petit-bourgeoisie and the national bourgeoisie. and politically through the institution of parliamentary democracy. dissolved parliament. for the colonial and ex-colonial nations a third task was added: The overthrow of direct rule by imperialism. and in its’ place proclaimed the formation of an appointed. which were: A thoroughgoing land reform. Put simply. both economically. the overthrow of the economic stranglehold exercised by imperialism. it had not completed the tasks of the bourgeois democratic revolution. America etc) roughly by the end of the nineteenth century. In the course of this campaign. under pressure from the army. That is to say the working class. The task of this alliance is to bring about not socialist but democratic reforms. Thus with the advanced capitalist countries increasingly dominating the entire world in imperialist fashion. The following year a faction of the Armed Forces representing feudal interests on the Outer Islands (and backed by the United States) attempted to overthrow the government. ‘Consultative Congress’. According to Aidit. in a series of largely spontaneous actions led by both PNI and PKI rank and file members. but economic as well. the primary task was to form. The PKI approved of Sukarno’s actions. the peasantry. Independence had certainly not brought with it stable capitalist democracy! But worse was to come. Up until 1959 there had at least been elections. the Armed Forces seized the companies. that all the parties in Indonesia became involved in a fervently nationalist campaign to have Dutch occupied West New Guinea incorporated into Indonesia. It’s worthwhile pausing here to consider the theories upon which the PKI’s practical decisions were based. and to divert the attention of the masses from their economic problems. In turn. Lacking mass support the revolt was crushed. these measures were what was necessary to transform Indonesia from a backward agricultural nation into a modern capitalist economy. which forces in society were to carry through these tasks? In Europe these measures had been carried out against the incumbent feudal interests by the rising national . Clearly Indonesia had not become a modern capitalist country – as Marxists put it. who had emerged as a powerful force from the independence struggle. However they had not been completed in the colonial and ex-colonial countries. and which led to their terrible defeat. But why was it such a dangerous theory? The starting point for any serious theory about changing society has to be the concrete reality of society as it stands. The unification of the country and the development of the nation along modern lines. These tasks were completed in the advanced capitalist world (Europe. Thus was introduced the ‘Guided Democracy” period during which not a single election was held. the workers of Indonesia occupied and took control of all Dutch enterprises in the country. but in that year Sukarno the President. and even after that was achieved. As a result some political parties were banned and those that weren’t had their activities severely curtailed. It was against this background. But the vital question was. Martial law was introduced. “…a united front of all anti-imperialist and anti-feudal forces in the country.” It should be noted first of all that this was precisely the same ‘bloc of four classes’ formula from which the Chinese Communist Party had operated in the 1920s. giving land to the peasants which in turn could create a viable internal market. hand-picked.

One of its legs is capitalist while the other is feudal. “throughout history the peasantry. According to Aidit. analysed the nature of the revolution in the colonial world. In fact their analysis was based on the Stalinist two-stage theory of revolution and had little to do with the concrete reality that existed in Indonesia. it was Trotsky. In the very early 1920s when the Communist International had been a healthy organisation an extremely important discussion took place within its’ ranks concerning precisely the relationship between the proletariat and the national bourgeoisie of the colonial countries. In turn. In the modern epoch it is either the capitalists or the working class which provides the lead. and flowing from it. the tasks of communist revolutionaries. And this set of ideas subsequently became known as the “theory of permanent revolution. the revolution would ultimately have to spread internationally or face inevitable degeneration. ie. Was this to be the case in Indonesia? What role was the working class to play? Let us backtrack briefly. who not only earlier.” But if the bourgeoisie themselves are incapable of carrying through the bourgeois democratic revolution. But the bourgeois democratic revolution in Indonesia is no longer one of the old type.” Yet the PKI leadership put their faith in their “alliance” with them. “…I should like especially to emphasise the question of the bourgeois democratic movement in backward countries… There has been a certain rapprochement between the bourgeoisie of the exploiting countries and that of the colonies. Thus there was no way that the national bourgeoisie would side with the masses against those feudal interests. particularly an economically backward one. This was particularly so with the Indonesian bourgeoisie who were so weak as a class that the major question was whether they even actually existed or not! What was incontestable was that those seedlings of a capitalist class that did exist were inextricably interlinked with feudal interests. joins forces with it against all revolutionary movements and revolutionary classes. “The character of the Indonesian revolution at the present stage is bourgeois democratic and not proletarian socialist. As Aidit himself wrote in frustration in 1964. Arising from this discussion Lenin stated. because it is so heterogeneous it always looks to the urban classes for leadership. But having initiated the bourgeois democratic revolution against the bourgeoisie. tied to its’ small plot of land has had a very narrow horizon. the workers and peasants obviously would not stop there and thus the tasks of the bourgeois democratic and the tasks of the socialist revolution were telescoped together – hence permanent revolution. then which section of society is capable? Of all the great revolutionary theoreticians. or part of the outdated world bourgeois democratic revolution: it is one of a new type and a part of the world . Because of the imperialist domination of the world. Moreover. Therefore the workers and peasants would have to carry out the tasks of the bourgeois democratic revolution…against the national bourgeoisie! In addition. “Indonesia’s national bourgeoisie is still young and has many family ties with the landlords. while it does support the national movement.bourgeoisie in each of the different countries – using the masses to do their fighting for them. is in full accord with the imperialist bourgeoisie. there was no role for the colonial bourgeoisie. because of the impossibility of building socialism in one country. so that very often – perhaps even in most cases – the bourgeoisie of the oppressed countries.” (16) The revolution could not be lead by the capitalists because the revolution was against them and thus it had to be by the working class. nor the interests of imperialism. an extremely parochial horizon.” Central to the theory was the realisation that in the colonial and semi-colonial world the national bourgeoisie and the feudal interests were woven together. but also more exactly.

what flowed from the two stage theory was the idea that the working class could not take industrial action against the national bourgeoisie because they were supposed to be in alliance.” And further. because of the authority of Moscow and Peking. “The Indonesian revolution is bourgeois in nature because it does not abolish private ownership of the means of production. Robison continues. this was why it was so dangerous. “It has seldom happened that a party as large as the PKI has held a class fraction. This is manifested in the fact that it distributes land to the peasants and encourages the growth of the national bourgeoisie so that it may be free from dependence upon imperialism. They were relatively untouched by corruption scandals rife at . Let us take stock: Ten and more years after independence and none of the tasks of the bourgeois democratic revolution had been accomplished. But as Richard Robison explains. parliamentary democracy had been abolished. to 1956. The development of the economy that had taken place was undertaken by the state. decades(?). operate enterprises that were necessary but beyond the capacity of national capital. The Dutch concerns that the masses had seized could not be handed over to the local bourgeoisie because they were simply too weak.”(17) For all of Aidit’s playing with words about “new types” and “old types” of bourgeois democratic revolutions. even centuries(?). As Rex Mortimer put it. because it is opposed to feudalism and fights for democratic rights for the Indonesian people as a whole. because all their theoretical education had been Stalinist. Feudal property relations were still intact. and because of their growth in numbers.proletarian socialist revolution firmly opposed to imperialism. the PKI continued to base their strategy on ‘alliance’ with the national bourgeoisie. or indeed even nationalisation of the economy… the intervention of the state in the economy. therefore they had to be nationalised. Why then was the PKI growing so rapidly? Because as Indonesia slid towards catastrophe the whole of society was polarising … and on one side was the PKI. “… the development of state enterprises did not represent a concerted move towards socialisation. It was the concrete reality rather than the desires of those in power that governed the situation. “The failure of the August 1945 revolution showed that the Indonesian bourgeoisie was unable to lead the bourgeois democratic revolution in the era of imperialism. As Rex Mortimer describes it. Yet as Aidit himself had pointed out. firstly the bourgeoisie would come to power and then. the growth of this class was not impressive. what it boiled down to was two distinct stages. It is also democratic in nature.” Yet still.(19) This was the most dangerous and ultimately the most fatal aspect of the whole situation. whole knowing so little about it. In essence the PKI leadership were putting their faith in people who were not ‘allies’ but were in fact enemies of the masses. “…the entire emphasis … was on the self-abnegating role of the workers and their political responsibilities toward other classes and the nation as a whole…”. Because it was supposedly the bourgeois democratic revolution then the interests of the bourgeoisie had to come first – the interests of the workers had to come second. placed so many hopes upon it and accommodated itself to it. was heavily influenced by the idea that the state would provide the infrastructure for the development of a domestic capitalist class. It was fundamentally the same economic idea underlying the Guided Democracy period but increasingly the historical ineptitude of the local capitalist class was becoming obvious. after years(?).”(18) But furthermore. “it is agreed by most commentators that by 1965… the domestic bourgeoisie had not advanced since the 1950s. the working class and peasants would come to power. and instead of capitalist industry forging ahead the economy was in shambles. But this was not an equal alliance. and directly finance and protect a national (and by national was generally meant indigenous) bourgeoisie. “Despite the concerted attempt by the state to build an indigenous bourgeoisie. the ‘national bourgeoisie’ in such high esteem.

the time, and despite their policies they were at least perceived to be ‘doing something’ – they were the workers’ traditional, and only, political voice. As Ruth McVey observed in the early 1960s, “The PKI is now virtually the only party worth considering as a major factor in Indonesia. The Masjumi and PSI were generally discredited as a result of the rebellion… and were finally outlawed in 1960. The Nahdatul Ulama and PNI have degenerated as organisations into little more than self-perpetuating patronage machines. Only Murba, a national-Communist Party … has improved its position: but it remains a splinter group at heart, a state of mind rather than a political organisation.” On the other side was the military. Their increasing prominence was a reflection of the weakness of not only the Indonesian bourgeois/feudal political parties, but more fundamentally, the Indonesian bourgeoisie itself. According to the two stage theory, this should have been the period where bourgeois democracy was in blossom yet so weak was the capitalist class that its up-front representation had to be the military – the State forces – normally capitalism’s last line of defence! And then there was Sukarno – the classical Bonapartist balancing delicately in between. By the early 1960s the class forces in Indonesia were assembling for the showdown. It was now only a matter of time.Conditions for the masses were becoming impossible. “The late 1963 harvest in Java had been heavily depleted by the worst drought and rat plague in living memory … Aidit himself in his report of December 1963 mentioned that “the people are now eating virtually anything edible” and in the following months various sources drew attention to misery on a huge scale. Reuters Newsagency reported on February 16th, 1964 that in Central Java, where the crop failure had been particularly severe, one million people were starving; in the district of Wonosari between two and six people starved to death daily; and the deputy governor of Central Java said that 12,000 people were being treated for malnutrition and 15,000 families had deserted their barren rice fields. Antara detailed that 18,000 people were starving in Bali and that there were serious rice shortages in South Sumatra. Harian Rakjat reported on February 18th that people were selling everything including their children.”(20) Land reform laws had existed since 1960 yet in practice nothing had changed. The peasants in frustration began taking over the land. The police, army and reactionaries in the rural areas responded with violence. The country was in ruin, corruption and smuggling in the civilian and military bureaucracy were rife. Managerial inefficiency and corruption by the military had ruined the nationalised industries. Production had declined absolutely to below what it was on the eve of the Second World War. Indonesia had at one time been a rice surplus area. Now it was having to import 150,000 tons of rice every year. The tin and rubber export industries had dwindled away and only oil remained as an earner of dollars. The nation was heavily in debt to the world’s banks and each year the budget deficit was doubling. The value of the rupiah had sunk to a hundredth of its legal value as the result of chronic inflation – in the six years to 1965 the cost of living increased by 2,000 per cent. At the same time it was reported that up to an incredible 75% of the State Budget was being spent on the armed forces. For his part, Sukarno was more concerned with Indonesians developing “a sense of pride in their nationhood” – an affordable sentiment for a man living in a mansion surrounded by expensive works of art. To facilitate this “sense of pride” millions were spent on prestige buildings, new boulevardes and grand statues in Jakarta. At the same time an endless stream of speeches, slogans and acronyms, increasingly coated in left-wing rhetoric, issued forth from Sukarno – “Manipol/USDEK – Manipol being the political manifesto and USDEK an acronym made up of the initial letters of the 1945 Constitution, Indonesian socialism, Guided Democracy, guided economy and Indonesian identity. To these were added a host of others – Ampera (the Message of the People’s suffering), Berdikari (standing on our own feet), Tavip (the Year of Living Dangerously), NEFOS AND OLDEFOS (New Emerging Forces and Old Established Forces), Nasakom (union of Nationalism, Religion and Communism), the need to avoid textbook thinking, to return to the rails of revolution, the idea of continuing

revolution…”(21), and so on and so forth. Enthusiastically the PKI took up the chorus of these slogans. In the early fifties the PKI were calling Sukarno a “Japanese collaborator”, a “perverter of Marxism” and a “semi-fascist”. By the early sixties he was addressing PKI congresses. As Rex Mortimer puts it, “By 1963 the party’s worship was becoming almost idolatrous. Despite the President’s notorious disdain for, and ignorance of, economic affairs, it declared that the solution of economic difficulties could safely be left in his hands … A short time later (Aidit) bestowed the final accolade by describing the President as his first teacher in Marxism-Leninism.”(22) In the end the PKI were arguing that Marxism and Sukarnoism were identical! By August 1965 the PKI had become the third largest Communist Party in the world (only the Soviet and Chinese parties were bigger). Three and a half million Indonesians were members of the party. In addition, the different organisations affiliated to it – trade unions, peasant, youth, womens and cultural movements – claimed the support of probably 20 million people. The international bourgeoisie looked on at the situation in Indonesia with increasing horror: it was commonly felt that the PKI were soon to take power. No matter what their policies may have been on paper, the concrete realities of the situation would force them to nationalise the economy as had happened in Cuba and China (as we have seen many sectors had been nationalised already). The loss of Indonesia, the fifth most populated country in the world, would be an enormous blow to international capitalism, yet they were powerless to intervene. The desperation of their thinking is shown in a memorandum to the Rand Corporation, in which key American policy advisor (and CIA operative) Guy Pauker wrote, “Were the Communists to lose Sukarno as a protector, it seems doubtful that other national leaders, capable of rallying Indonesia’s dispersed and demoralised antiCommunist forces, would emerge in the near future. Furthermore, these forces would probably lack the ruthlessness that made it possible for the Nazis to suppress the Communist Party of Germany a few weeks after the elections of March 5th, 1933… The enemies of the PKI including the remnants of various right-wing rebellions, the suppressed political parties, and certain elements in the armed forces, are weaker than the Nazis, not only in numbers and in mass support, but also in unity, discipline and leadership.”(23) (This was the thinking of international capitalism – “Where are the Nazis when you need them?”) On the night of September 30th , 1965 things came to a head. Six generals of the high command were kidnapped and killed by a small force of middle-ranking military officers and a number of locations in Jakarta were seized. Army units under General Suharto rapidly crushed the ‘coup’ attempt in the capital, although fighting continued for several weeks in Central Java. The ‘coup’ and the killing of the generals were blamed on the PKI. The killing of PKI members and sympathisers began. At first there was enormous confusion. Most observers thought there would be a civil war. As the Economist pointed out on the 16th October, “The most significant party in the country can hardly be driven underground without the risk of civil war.” And indeed there was a civil war – but only one side was fighting. Time magazine reported on December 17th, 1965 that “Communists, red sympathisers and their families are being massacred by the thousands. Backlands army units are reported to have executed thousands of Communists after interrogation in remote jails. Armed with wide-bladed knives called parangs, Moslem bands crept at night into the homes of Communists, killing entire families and burying the bodies in shallow graves.

“The murder campaign became so brazen in parts of rural East Java that Moslem bands placed the heads of
victims on poles and paraded them through villages. The killings have been on such a scale that the disposal of the corpses has created a serious sanitation problem in East Java and Northern Sumatra where the humid air bears the reek of decaying flesh. Travellers from those areas tell of small rivers and streams that have been literally clogged with bodies. River transportation has at places been seriously impeded.”

The New York Times Sunday Magazine on May 8th, 1966 reported a schoolteacher in a village near Jogjakarta as having said, “My students went right out with the army. They pointed out PKI members. The army shot them on the spot along with their whole family; women, children. It was horrible…” The NYT’s correspondent, Seth King, commented, “Surabaya, capital of East Java and long a centre of Communist activity, is laced with turbid canals. Since last October one of the more grisly tasks of local householders living beside the canals has been to get up each morning and push along the bodies caught near their garden landings.”(24) In Bali, which had been the fastest growing centre of PKI organisation, the killings became so indiscriminate that finally the army stepped in to control them. And the CIA, not known as a humanitarian organisation, itself wrote, “In terms of the numbers killed, the anti-PKI massacres in Indonesia rank as one of the worst mass murders of the twentieth century…”. Within four months between half a million and a million people, the cream of the working class, the best and brightest of Indonesian society, were slaughtered. The culmination of the PKI’s two-stage theory of revolution was vicious counter-revolution with no stages! But what was most incredible about the whole situation was that the PKI, the third largest Communist Party in the world with 20 million supporters, was wiped out virtually without resistance. As Rex Mortimer explains, “A dispersed and shattered leadership seems to have lost all capacity to rally the party or cope with the decimation of its ranks. Sticking to the last to the hope that Sukarno would pull their irons out of the fire, the leaders went into hiding and became to all intents and purposes, deactivated. Illustrative of the paralysis that afflicted the cadre forces of the party is the following account by a PKI member and wife of a Central Committee functionary of the way she and her husband reacted in the weeks and months following the coup:

“After September 30th, we went on with our work for some days in the normal manner, but no one with whom
we came in contact was able to inform us as to what had happened or what we were expected to do. As the atmosphere in Jakarta grew worse, we just sat at home and waited for instructions. My husband had been given no guidance about what to do in such an eventuality. We did not expect things to turn out so badly; we thought there would be a setback for the party but that eventually it would be sorted out by Sukarno.

“That is why the party disintegrated so rapidly. There were no orders and no one knew who to turn to or who to
trust, since arrests had started and we knew there had been betrayals… (Party leaders) sent word just to wait and I know that a party leader’s wife was sent to see Sukarno.”(25) Sukarno… it all rested on Sukarno. Flowing from their theory of alliance with the national bourgeoisie and following the eclipse of all the political parties, the PKI had come to the conclusion that Sukarno himself, an individual, now represented the national bourgeoisie. But Sukarno had no mass movement. Had he represented something solid, a powerful class interest, his demise in no way would have been so rapid. It was not Sukarno but the army that ultimately represented the interests of the national bourgeoisie, along with the forces of feudalism and imperialism – all interwoven together. On the other side of the class divide were the PKI representing the workers and peasants and when these great class forces finally cracked apart, Sukarno simply toppled into the crevice. For the third time in less than 50 years the PKI had been bloodily crushed. The rank and file of the PKI were caught completely by surprise – small wonder given Aidit’s bizarre “two-aspect theory” of the state on which the party had been ‘educated’. (As the underground PKI themselves put it in 1966, “According to this ‘two-aspect theory’ a miracle could happen in Indonesia. Namely the state could cease to be an instrument of the ruling oppressor classes to subjugate other classes, but could be made the instrument shared by both the oppressor classes and the

Could the PKI have come to power? Yes.oppressed classes. Without those mistakes the efforts of the CIA would have been futile. Let us recall: Aidit’s criticism of the PKI leadership during the independence struggle had been that the Party. the PKI on 4th February.(26) Even bourgeois observers in Indonesia at the time were drawing the parallel between Indonesia of the 1960s and the China of the 1920s. What happened in 1965 was all the more incredible when one considers that in the last few years it was the Chinese Communist Party that had become the mentors of the PKI. Certainly from the 1930s onwards much of the blame for what happened in Indonesia can be laid squarely at the doorstep of international Stalinism. whilst supporting native capitalism? The Aidit leadership of the PKI had effectively reverted to these ideas. These were the reasons why the revolution failed…”. History repeats itself. Indeed. But the tragedy did not stop there. Or let us put it more accurately – the .” In essence this was really just the classical reformist approach. And the fundamental change in state power … could be peacefully accomplished by developing the ‘pro-people’ aspect and gradually liquidating the ‘anti-people’ aspect. the CIA were intricately and bloodily involved with the destruction of the PKI. we believe – many times. both Moscow and Peking were putting forward the idea of “alliance” with the national bourgeoisie. Obviously there were certain local peculiarities (such as the reliance on one man – Sukarno) but the underlying theoretical base that led the PKI to such a position emanated initially from Moscow. precisely for putting their faith in an alliance with the national capitalists. including addresses. position in the party and date of entry into the party. The history of the PKI is in many ways a history of the international Communist movement itself. It illustrates the whole approach of the leadership – deals at the top rather than mobilisation of the masses. Just as in Chile. in Indonesia it was the mistakes of the PKI leadership that were crucial.”. ‘Jakarta is approaching’”. 1961 handed “the authorities” a list of party members. “… unity of the native population groups necessary for the achievement of of national independence and freedom. Yet it was precisely in the struggle against these ideas that the PKI had developed in the first place! The wheel had come full circle. Did not this therefore mean support for the national bourgeoisie? Had the right-wing not split from those who went on to form the PKI precisely over this question? Had not the Tjokroaminoto faction of Sarekat Islam condemned ‘sinful’ (by which they mean ‘foreign’) capitalism.) It is quite possible that Aidit knew in advance of the plan to kidnap the generals. Even following the Moscow/Peking split. “… abandoned political ideological and organisational freedom and did not attach sufficient importance to its activities in labour and peasant circles. But let’s go back one generation more. In 1960 Aidit stated explicitly that the “class struggle was subservient to the national struggle”. But their effect should not be exaggerated.(27) As is the case with Chile. when Indonesia came to side with the Chinese. back to the very foundation of the PKI itself. The same Chinese Communists who themselves had been obliterated 40 years earlier. This is the key point. “… the US-backed overthrow of the Allende government in Chile occurred under the slogan. Less than a decade later in Chile the labour movement was smashed and the best of the working class slaughtered for following exactly the same policies. The parallels even extended to certain details.. yet in reality this had been PKI policy from at least the time that Musso had arrived back in Indonesia from Moscow in 1935. Had not the right-wing of the ISDV opposed the raising of class questions and spoken of the need for. In an eerie replay of China in the 1920s.

but theory that was the PKI’s problem. not to mention India or Pakistan. fleeing from the revolution on the Chinese mainland. performed the same role. that the resulting regime would not have been of a genuinely socialist nature – run by workers’ democracy – but rather a deformed workers’ state along the lines of China. to overrule the defeated Japanese warlords and impose a very drastic land distribution programme. or even a South Korea. Again it was General Macarthur (in one sense the most progressive bourgeois this century!) who carried through this programme. The revolution was spreading to Korea. “The capitalist class in these countries was incapable of breaking the power of the feudal landlords and carrying through the land reform without which industrialisation was impossible. just a decade or so after losing China. Chiang Kai Shek’s armies. Tan Malaka believed the uprising of 1926 had been left too late and that more time was needed now to build up the Party’s strength – that is probably right. the repercussions of revolution in the largest country would have been enormous. there is no way in the world that Indonesia will develop to the point of being a Japan. “In Taiwan. to stabilise their occupation of the island. given the policies of the leadership. Yet in terms of political theory it was way behind. the elimination of landlordism and capitalism in the largest country in South East Asia would have been an enormous step forward and a mighty boost in confidence for the oppressed masses internationally. In Japan. Obviously there are no guarantees of success. Vietnam and Malaya and even in Japan revolution was a serious danger in the 1940s. Likewise during the 1960s there was no question that Indonesia was ripe for revolution. However during the independence struggle it is quite clear that the PKI essentially handed their chance for the leadership of that struggle away. it took American imperialism in the form of General Macarthur at the head of its occupation armies. Singapore and Hong Kong). and for Western imperialism the loss of the fifth largest country in the world. “American imperialism imposed the same stringent land programme on occupied South Korea as a defence against the spread of revolution from the Northern half of the peninsula. at the same time financing industrialisation with huge dollar subsidies. sometimes the conditions are just not right. In the South East Asia region itself. It is not even excluded that the PKI could have come to power in the 1960s with Sukarno remaining as nominal head of government. yet Indonesia still has the lowest wage rates in South East Asia. likewise . It was not numbers. it was fear at the example of the Chinese revolution which lay behind their development. In the 1920s – leaving aside their organisational disarray – it is certainly questionable whether they were powerful enough. “The only capitalist countries which can claim to have developed from backward societies into fully developed industrialised societies in the post war period are Japan and the socalled ‘Newly Industrialised Countries’ of South East Asia (South Korea. In addition. Nevertheless. even if the most scrupulous attitude is taken towards theory. We do not believe this was the case however in the Indonesia of the 1940s and 1960s. As the Indian Marxists have pointed out.objective conditions for taking power were ripe on many occasions. Had the PKI taken power in the 1960s the whole pattern of events in the Middle East since then may well have been very different. would have been devastating. Indonesia has the largest Moslem population of any country in the world. which despite its social backwardness was already a strong military imperialist power. But had they taken power (with or without Sukarno) it is inevitable. In all these countries. Taiwan. It is simply too late. A significant indicator is always the attitude of the international capitalism – and what was their attitude? It varied from alarm to panic! Let us also not forget that numerically the PKI in the 1960s was in a way more favourable situation than the Bolsheviks had been in 1917 for example. Singapore and Hong Kong are really ‘city-states’. Furthermore. Resurgence? And what is the situation now? Since 1965 the embryonic native bourgeoisie has expanded and some have become very rich.

The island of Java was. more than 20 years after the PKI’s last stand. developments have been in precisely the opposite direction.”(29) 80% of the 180 million people of Indonesia live at a minimum existence. that the revolutionary cadre of tomorrow is being formed. The winds of revolt are blowing through Indonesia once more. The Indonesian bourgeoisie are clearly historically incapable of carrying out their own revolution. And the PKI? Still the regime is shooting the old men. When the working class movement does rise again. the key to the whole country. real trade unions are banned. tomorrow there will be many more. Darsono. and continues to be. so the land question was not so formidable. But as to whether or not the Indonesian working class will politically reform again under the banner of the PKI or whether it will be under another banner is hard to say. But there are even more serious dangers on the horizon. But really that’s not the key issue. Likewise today. individual terrorist action. Some of them have very bloody hands. In the early 1960s Java had a greater density of population per square mile than either Holland or Belgium.based on off-shore islands. They are all fragments splintered off from countries already over-run by revolution – counter revolutions in exile! In no way can they be regarded as arguments in favour of the viability of capitalism. left-wing paper are banned. that will form the core of the resurgence. And what was true in the 1960s is many times more true today given the population increase that has occurred since. It is to these heroic young revolutionaries that this pamphlet is dedicated. The back pages of Indonesian revolutionary history are indelibly stamped with the imprint of youth – Semaun. still it is purging the civil service of ‘communists’. Following 1965 there were sporadic reports. “It is noteworthy that not one of the famous ‘NIC’s is a real country. It is the programme that the party adopts rather than the name which is the important thing. And it is from this debate. As far as the democratic aspect of the bourgeois-democratic revolution is concerned. culminating in 1968. But as a central tactic the road of guerillaism. Tan Malaka and millions more. is a complete dead end.” (28) As far as land reform in Indonesia is concerned. It is the working class in the towns and cities that is the key social force. Many people in Indonesia pose today as ‘democrats’ and ‘friends of the people’. Often military and civilian officials have moved into this sector with capital accumulated outside the commercial world. In Indonesia today workers’ political parties are banned. there is less democracy in Indonesia today than there was under Dutch colonial rule. the ‘armed struggle’ in the sense of the mass of the workers being armed. as well of course as the ongoing active struggle against this most vicious of all regimes. or even worse. simply by geographical factors. and once more it is the youth who are at the forefront. Yet guerillaism in Indonesia as a focal tactic is doomed. Indeed the occurrence of terrorist activities in the 1920s was an indication of the disarray of the movement. is absolutely vital at a certain stage. Yet for all the regime’s banning it is precisely the ideas of Marxism that are being debated within the ranks of the young activist and study groups at this moment. Notes . ideas are banned – particularly the ideas of Marxism. That is not to say that at a later stage some form of guerilla struggle in the Outer Islands is completely excluded as a supplement to the work in the towns. it is those young men and women gathered together in the study circles and activist groups. now linking together with the workers and farmers. it is crucial that it does not mistake its enemies for its friends. Furthermore. of surviving PKI groups engaging in guerilla activities. “Following independence there has been a continuing trend towards concentration of landholding and consolidation of a landlord class. Infant mortality in Indonesia is the highest of the ASEAN nations (87/1000) and 89% of the population do not have access to safe drinking water.

Pendiri Sarekat Islam.(1) Alisa Zainnu’ddin – A Short History of Indonesia – pg 165 (2) Ruth McVey – The Rise of Indonesian Communism – pg 24 (3) McVey – pg 274 (4) McVey – pg 328 (5) McVey – pg 333 (6) McVey – pg 178/179 (7) Marxist Workers Tendency (ANC) – South Africa’s Impending Socialist Revolution – pg 28 (8) Ruth McVey – The Development of the Indonesian Communist Party and its Relations with the Soviet Union – pg 2 (9) JM Van Der Kroef – The Communist Party of Indonesia – pg 24 (10) Ted Grant – The Rise and Fall of the Communist International -pg 19 (11) Rupert Lockwood – Black Armada – pg 35 (12) George McT Kahin – Nationalism and Revolution in Indonesia – pg 160 (13) Ruth McVey – ….Tujuan utama SI pada awal berdirinya adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang Islam Jawa. sedangkan pengusaha-pengusaha batik lainnya adalah orangorang Cina dan Arab. Haji Samanhudi adalah seorang pengusaha batik di Kampung Lawean (Solo) yang mempunyai banyak pekerja. Perkumpulan ini semakin berkembang pesat ketika Tjokroaminoto memegang tampuk pimpinan dan mengubah nama perkumpulan menjadi Sarekat Islam. Marx and Marhaen – The Roots of Indonesian Socialism – pg 102 (15) Ruth McVey – …. SI . Sarekat Islam (SI) dapat dipandang sebagai salah satu gerakan yang paling menonjol sebelum Perang Dunia II. Pemerintah Hindia Belanda merasa khawatir terhadap perkembangan SI yang begitu pesat.Relations with the Soviet Union – pg 8 (16) Peter Taaffe – The 1925/27 Revolution (China – the Tradition of Struggle) – pg 7 (17) DN Aidit – The Indonesian Revolution and the Immediate Tasks of the Communist Party in Indonesia – pg 14/15 (18) Richard Robison – Indonesia: The Rise of Capital – pg 41/42 (19) Rex Mortimer – Indonesian Communism under Sukarno – Ideology and Politics 1959-65 – pg 62 (20) Mortimer – pg 300 (21) John D Legge – Indonesia – pg 159 (22) Mortimer – pg 88/89 (23) Quoted by Peter Dale Scott in Ten Years Military Terror in Indonesia – pg 231 (24) Ten Years – pg 14/15 (25) Mortimer – pg 391 (26) Mintz – pg 203 (27) Ten Years – pg 15 (28) Dudiyora Horaata – Time to Change Course! Communists and the Indian Revolution – pg 25/26 (29) Robison – pg 18 For more on Indonesia see the CWI publication Indonesia: An Unfinished Revolution. Click here SEJARAH ORGANISASI PERTAMA DI INDONESIA "SAREKAT ISLAM"Sarekat Islam pada awalnya adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang diberi nama Sarekat Dagang Islam (SDI). Keadaan hubungan yang tidak harmonis antara Jawa dan Cina mendorong pedagang-pedagang Jawa untuk bersatu menghadapi pedagang-pedagang Cina. Di samping itu agama Islam merupakan faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang-pedagang Islam.Relations with the Soviet Union – pg 8 (14) Jeanne S Mintz – Mohammed. Perkumpulan ini didirikan oleh Haji Samanhudi tahun 1911di kota Solo.

dan cabang Sarekat Islam yang mendapat pengaruh komunis menyatakan diri bernaung dalam Sarekat Rakyat yang merupakan organisasi di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia berpendapat bahwa pertentangan yang terjadi bukan antara penjajah-penjajah. Idenburg digantikan oleh Gubernur Jenderal van Limburg Stirum (1916-1921). Gubernur Jenderal baru itu bersikap agak simpatik terhadap Sarekat Islam. atas nama dirinya sendiri. Namun sebelum Kongres Sarekat Islam Kedua tahun 1917 yang diadakan di Jakarta muncul aliran revolusionaer sosialistis yang dipimpin oleh Semaun. Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam yang diselenggarakan tahun 1921 dibicarakan masalah disiplin partai. dikeluarkan dari Sarekat Islam. HOS Tjokroaminoto (anggota yang diangkat) dan Abdul Muis (anggota yang dipilih) mewakili Sarekat Islam dalam Dewan Rakyat (Volksraad). perlu memobilisasikan kekuatan buruh dan tani disamping tetap memperluas pengajaran Islam. Dengan pemecatan Semaun dari Sarekat Islam. Oleh karena itu. Walaupun demikian. Dalam Kongres Sarekat Islam kelima tahun 1921. Semaun Sementara itu pengaruh Semaun menjalar ke tubuh SI. organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Abdul Muis (Wakil Ketua CSI) yang menjadi pejabat Ketua CSI menggantikan Tjokroaminoto yang masih berada di dalam penjara. HOS Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Sarekat Islam. Rupanya benih perpecahan semakin jelas dan dua aliran itu tidak dapat dipersatukan kembali. Ia berusaha tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari Central Sarekat Islam harus dikutuk dan persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu. Kongres . Pada saat itu ia menduduki jabatan ketua pada SI lokal Semarang. Pada kongres Sarekat Islam di Yogayakarta pada tahun 1914. yaitu Sarekat Islam Putih yang berasaskan kebangsaan keagamaan di bawah pimpinan Tjokroaminoto dan Sarekat Islam Merah yang berasaskan komunis di bawah pimpinan Semaun yang berpusat di Semarang. kongres tetap memutuskan bahwa tujuan perjuangan Sarekat Islam adalah membentuk pemerintah sendiri dan perjuangan melawan penjajah dari kapitalisme yang jahat. Semaun melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan Central Sarekat Islam yang menimbulkan perpecahan. Dalam Kongres SI Keempat tahun 1919. Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Artinya. tetapi antara kapitalis-buruh. Keanggotaan Sarekat Islam semakin luas. Namun dalam kongres ini pengaruh sosial komunis telah masuk ke tubuhCentral Sarekat Islam (CSI) maupun cabang-cabangnya. Namun setelah tahun 1923. Pada Kongres Sarekat Islam Ketiga tahun 1918 di Surabaya.Abdul Muis Pada Kongres Sarekat Islam Ketujuh tahun 1923 di Madiun diputuskan bahwa Central Sarekat Islam digantikan menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). maka Sarekat Islam pecah menjadi dua. Sarekat Islam memperhatikan gerakan buruh dan Sarekat Sekerja karena hal ini dapat memperkuat kedudukan partai dalam menghadapi pemerintah kolonial. karena Central Sarekat Islam baru diberi pengakuan badan hukum pada bulan Maret 1916 dan keputusan ini diambil ketika ia akan mengakhiri masa jabatannya. pengaruh Sarekat Islam semakin meluas. HOS Cokro Aminoto Politik Kanalisasi Idenburg cukup berhasil. golongan komunis yang diwakili oleh Semaun dan Darsono. Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Akhirnya Kongres tersebut mengeluarkan ketetapan aturan Disiplin Partai. dengan dikeluarkannya aturan tersebut. Artinya. Artinya.dianggap membahayakan kedudukan pemerintah Hindia Belanda. Dalam Kongres itu diputuskan pula tentang keikutsertaan partai dalam Voklsraad. memimpin kongres tersebut. Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Namun Gubernur Jenderal Idenburg (1906-1916) tidak menolak kehadiran Sarekat Islam. karena mampu memobilisasikan massa.

lalu diajarkannya menulis Arab (maksudnya tulisan Melayu/Jawi. Sumatera Barat. Tarusan. ayah dan ibunya telah memerintahkan beliau mendirikan sembahyang dan puasa pada bulan Ramadan. itulah yang harus menjadi insvirator dan motivator bagi kita generasi muda hari ini untuk terus berjuang memajukan bangsa dan negara. Namun yang harus kita ambil pelajaran bahwa cita-cita dari organisasi Seikat Dagang Islam dalam melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan. Syeikh Abdul Karim bin Amrullah. pengarang kitab Al-Anwarul Muhammadiyah. Ayahnya menghantarnya belajar ke Sungai Rotan. Pada usia 13 tahun beliau mulai belajar ilmu nahu dan saraf daripada ayahnya. Betung Panjang. Syeikh Saleh Ba Fadhal. Sehingga hari ini jumlah ulama yang telah diperkenalkan ialah seramai 95 orang. Syeikh ini jadi terkenal kerana dia benci kepada Syeikh Muhammad Abduh! (Karangan-karangannya itu besar pengaruhnya di kalangan ulama-ulama tua di Indonesia. Tujuan saya memperkenalkan tokoh-tokoh Kaum Tua dan Kaum Muda bukan bererti memperlihatkan diri berpihak. Namanya nama yang terkenal ialah Dr. Negeri Sungai Batang. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri denganPemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Painan belajar al-Quran daripada Tuanku Haji Hud dan Tuanku Pakih Samnun. Namun dalam tubuh PSII terjadi perbedaan pendapat antara Tjokroaminoto yang menekankan perjuangan kebangsaan di satu pihak. usia Muhammad Rasul sekitar lingkungan 16 ke 17 tahun iaitu pada tahun 1312 H/1894 Masihi. Sukiman yang menyatakan keluar dari PSII dan mendirikan Partai Islam Indonesia (PARI). pen:) daripada Adam anak Tuanku Said. Hingga terbitan hari ini hanya tiga orang ulama Kaum Muda atau Tajdid diperkenalkan. Minangkabau. dan PARI dr.sejak jaman penjajahan belanda sampai saat ini. Pada tahun 1927 nama Partai Sarekat Islam ditambah dengan “Indonesia” untuk menunjukan perjuangan kebangsaan dan kemudian namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). dan di pihka lain dr. ayah saudaranya. Syeikh Amrullah. Perpecahan ini melemahkan PSII. Ketika belajar di sana. Pendidikan Sejak berumur tujuh tahun.Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Perubahan nama itu dikaitkan dengan kedatangan dr. Kemudian Syeikh Amrullah sendiri membawa anaknya Muhammad Rasul itu ke Mekah untuk mendalami pengetahuannya dengan ulama-ulama Mekah pada zaman itu. Manjinjau. Beliau lahir pada hari Ahad.didalam percaturan politik tanah air. Syeikh Abdullah Jamidin. Dalam Luhak Agam. Syeikh Hamid Jeddah dan Syeikh Sa'id Yaman. Buya Hamka dalam buku Ayahku menyebut nama guru-guru Haji Rasul ialah Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau. Pariaman. PSII. 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di Kepala Kebun. Artikel pertama disiarkan pada Khamis 19 Februari 2004. menuntut ilmu daripada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf. PSII Abikusno. Sukiman dari negeri Belanda. Syeikh Umar Ba Junaid. Akhirnya PSII pecah menjadi PSII Kartosuwiryo. Haji Rasul Amrullah Tokoh Tajdid Nusantara Dicatat oleh Tawel Sensei di 5:39 PG Pada bulan Januari 2006 genap dua tahun tulisan saya tentang ulama dunia Melayu disiarkan dalam ruangan agama Utusan Malaysia. Ulama yang diperkenalkan kali ini nama asalnya ialah Muhammad Rasul. Haji Abdus Samad membawanya ke Sibalantai. tetapi lebih kepada memaparkan sejarah. Dua tokoh tajdid (pembaharuan) yang diperkenalkan sebelum ini ialah Syeikh Tahir Jalaluddin dan Syed Syeikh al-Hadi. Buya Hamka menyebut bahawa setahun kemudian beliau pulang ke Sungai Batang. Selanjutnya pada usia 10 tahun. Syeikh Utsman Sarawak. sehingga . Sukiman Sejarah perjalan serikat Dagang Islam mengalami pasang surut. Tulis Buya Hamka selanjutnya: "Dan pernah juga belajar kepada Syeikh Yusuf Nabhani.

Dari segi ini Buya Hamka mencerminkan kejujuran beliau menulis tentang ayah dan datuknya itu.payah menghapuskannya). bagi saya. namun akhirnya hanya melalui pembacaan menjadi tokoh Kaum Muda yang dapat kita bandingkan dengan Mufti Haji Wan Musa Kelantan. Memperhatikan tahun kelahiran Haji Rasul Amrullah (1296 H/1879 M). "Belum lama di rumah. tetapi kepada ulama Kaum Tua. seperti kitab Fat-h al-Mu'in. Syeikh Wan Ali al-Kalantani dan Syeikh Ahmad alFathani. hlm. Meraikannya disembelih beberapa ekor kerbau dan dipanggil tuanku-tuanku dari keliling danau untuk turut menyaksikan. "Kedatangan di kampung disambut dengan gembira oleh ayahnya dan orang kampung. termasuk Laras sendiri mengadakan peralatan melantik Syeikh Amrullah bergelar 'Tuanku Nan Tuo' dan Haji Rasul diberi gelar 'Tuanku Nan Mudo'. hanya dua orang ulama yang berasal dari dunia Melayu menajdi guru ayah beliau Haji Rasul Amrullah di Mekah iaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syeikh Utsman Sarawak. Kata beliau. di antara mereka ialah Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani. Syeikh Muhammad Nur al-Fathani. Mengenai sambutan kepulangan Haji Rasul ke negerinya. Tafsir Jalalain dan lain-lain. Kemungkinan juga Haji Rasul Amrullah pernah mendatangi dan belajar daripada Syeikh Yusuf Nabhani di Beirut. Sebenarnya jika disimpulkan. Mereka ialah Syeikh Muhammad Sa’id Linggi (lahir 1292 H/1875 M). 59." (Lihat Ayahku. Ibnu Qaiyim. Saya belum menemui riwayat bahawa Syeikh Yusuf Nabhani pernah mengajar di Mekah.) Kegembiraan Tuan Kisa-i (Syeikh Amrullah) atas kepulangan anak beliau Haji Rasul yang membawa ilmu tiada dapat kita bayangkan. Mereka adalah golongan Kaum Tua. Tidak terdapat keterangan lanjut baik daripada Buya Hamka mahupun dalam tulisan orang lainnya. Saya belum menjumpai riwayat bahawa beliau pernah belajar kepada tokoh Kaum Muda. Buya Hamka menulis. Tulisan Buya Hamka yang menyebut bahawa ayah beliau "pernah juga belajar daripada Syeikh Yusuf Nabhani". Jadi pengetahuan Haji Rasul Amrullah adalah berdasarkan pembacaan kitab-kitab karangan Ibnu Taimiyah. Daripada tarikh itu maka dapatlah kita bandingkan dengan beberapa orang ulama yang berasal dari dunia Melayu yang agak berdekatan tahun kelahiran dan sempat belajar dengan guru-guru yang sama di Mekah. baik . kitab-kitab yang dipelajari Haji Rasul Amrullah daripada semua gurunya adalah kitab-kitab Kaum Tua juga. belajar kitab-kitab Kaum Tua." (Lihat Ayahku. orang dalam negeri. Kadi Haji Abu Bakar Hasan Muar. Johor (lahir 1292 H/1875). hlm. tetapi kegembiraan itu rupa-rupanya bertukar menjadi sebaliknya kerana jalan pemikiran dalam pegangan Islam antara ayah dengan anak sangat jauh berbeza. Riwayatnya menunjukkan beliau tidak belajar daripada ulama Kaum Muda. dan Syeikh Basiyuni Imran (Maharaja Imam Sambas) yang ketigatiganya adalah murid Syeikh Muhammad Abduh dan Saiyid Rasyid Ridha di Mesir. Minangkabau (lahir 1298 H/1880 M) dan masih ramai lagi. Tetapi yang saya kumpulkan daripada pelbagai sumber. masih belum jelas kerana Syeikh Yusuf Nabhani itu adalah ulama di Beirut. Syeikh Muhammad Abdul Wahhab dan terakhir sekali ialah karangan Syeikh Muhammad Abduh dan karangan Saiyid Rasyid Ridha terutama Tafsir al-Manar. Lain halnya dengan Syeikh Tahir Jalaluddin. Syeikh Abdul Hamid Mahmud Talu. Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani (lahir 1293 H/1876 M).) Daripada sumber Buya Hamka di atas. tahun beliau belajar di Mekah ialah antara tahun 1312 H/1894 M hingga musim haji tahun 1323 H/Januari/Februari 1906 M dan beliau pulang ke Minangkabau pada Muharam 1324 H/Februari/Mac 1906 M. kecuali Haji Rasul Amrullah yang diriwayatkan ini saja dalam golongan Kaum Muda. Haji Rasul Amrullah Minangkabau juga belajar daripada ulama-ulama Melayu yang terkenal di Mekah ketika itu. kecuali beliau hanya belajar daripada Syeikh Tahir Jalaluddin. 61.

Buya Hamka menulis.) Saya belum mengetahui sampai di mana benarnya tulisan Buya Hamka itu kerana beliau masukkan Perlis juga melarang karangan-karangan ayah beliau." Pada waktu itulah keluar kefahamannya yang ganjil-ganjil dan 'moden' sehingga beliau dicap Kaum Muda dan menggoncangkan masyarakat Minang 30 tahun yang lalu. tentang ‘Ushalli’. Di antara yang dipandang paling hebat ialah Syeikh Muhammad Sa'ad Mungka. dan Negeri Sembilan. Tetapi hingga sekarang bererti sudah lebih 80 tahun. pen:). Yang ditulis pada peringkat awal mulai tahun 1908 M hingga tahun 1923 M. penyusun kitab Miftah ad-Din. bertambah tersinggunglah perasaannya. 222. Padahal Syeikh Amrullah sendiri adalah Syeikh Thariqat Naqsyabandi. ada 11 judul. Buya Hamka menulis selanjutnya. Syeikh Ahmad Khatib juga seorang sufi. Ia sebenarnya telah ditentang oleh beberapa orang ulama yang berasal dari Minangkabau sendiri. Pahang. Pada konteks ini Buya Hamka menulis." . termasuk Syeikh Sulaiman ar-Rasuli. Perlis. Saya kagum terhadap Buya Hamka. "Karangan-karangannya itulah yang menjadi 'soal besar' dan 'membuat ribut' dalam zamannya. Tentang Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau menganggap "memakai kaifiat-kaifiat yang bidaah-bidaah" adalah bidaah yang disebut oleh Buya Hamka itu. beliau cukup faham ada perkara yang perlu diketahui oleh umum untuk dijadikan iktibar dan ada pula yang tidak perlu disebarkan kepada umum. mengapa soal itu dibuka. Buya Hamka membahagikan karangan ayahnya kepada beberapa jenis. murid Syeikh Ahmad Khatib juga mengamalkan tarekat. Namun ada dua judul terakhir tidak terdapat tahun penulisan. hlm. iaitu tahun 1950. Demi menerima serangan daripada Syeikh Saad Mungka dan penyesalan daripada gurunya yang sangat dihormatinya. Buya Hamka cukup beradab dan berbudi bahasa untuk menceritakan sesuatu yang menyentuh darah dan daging beliau sendiri. Medan.. tetapi beliau tidak menyetujui cara tarekat yang memakai kaifiat-kaifiat yang bidaah-bidaah itu. Tetapi kegembiraan itu akhirnya akan kecewa juga . Sewaktu Syeikh Saad Mungka dalam perkara yang sama (Ushalli) menyalahkan Haji Rasul Amrullah.kalangan lebai-lebai atau kalangan ninik-mamak. Dia seorang yang sangat bijaksana." (lihat Ayahku. kerana belum terdapat tulisan orang lain yang membicarakan perkara itu. "Sehingga buku-buku itu dilarang dibaca dalam kerajaan Melayu: Johor. Terengganu. ada orang melaporkan kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau di Mekah. Kelantan. Perak. Lalu beliau menguatkan lebih baik juga Ushalli dipakai.) Kita tidak dapat menggambarkan bagaimana pergolakan dalaman antara ayah dengan anak yang terjadi sebenarnya.’’ (30 tahun yang lalu dihitung ketika Buya Hamka menulis buku tersebut.. 61. Sewaktu terjadi polemik antara Haji Rasul Amrullah dengan Syeikh Hasan Maksum. Selangor. Bahkan sangat ramai murid Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tetap istiqamah mengamalkan tarekat di antaranya ialah Syeikh Khathib Ali bin Abdul Muthalib al-Khalidi an-Naqsyabandi. "Maka datanglah balasan dari Mekah! Syeikh Ahmad Khatib rupanya agak marah kepada ayahku. Kemungkinan di Minangkabau telah hangat pertikaian antara Kaum Tua dan Kaum Muda tetapi di Perlis ketika itu para ulamanya masih berpegang dengan fahaman Kaum Tua. Ternyata Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tidak menyokong Haji Rasul Amrullah. Dalam simpanan saya terdapat beberapa bukti bahawa Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau marah kepada muridnya Haji Rasul Amrullah. hlm. Sebab menyebarkan bibit Kaum Muda!" (Lihat Ayahku. Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau menulis sepucuk surat berpihak kepada muridnya Syeikh Hasan Maksum (Kaum Tua) dan menolak fahaman Haji Rasul Amrullah. jumlahnya ada 15 judul. sedangkan negeri Perlis sendiri dikatakan orang adalah satu-satunya negeri Kaum Muda di Semenanjung Melayu. Yang dikarang setelah beliau mengikut Kongres Islam di Mesir ditulis mulai tahun 1928 M hingga tahun 1943 M.

Iraq. dan kias serta etika dalam menyebarkannya. An attack on Syria will only spread the war and killing Instead of removing the chemical weapon threat. Somalia and Pakistan. the looming bombardment follows onslaughts on Sudan.’’ (Lihat Ayahku. Libya and Mali. That is the war itself and the death and destruction that has engulfed the country. In both Iraq and Sudan.w. Tidak semestinya kita berpendapat bahawa pemikiran kita saja yang benar. hlm. Once again they are planning to bypass the UN security council. tidak mungkin kedua-duanya adalah 'betul'. Once again. Britain and France. the intelligence was of course wrong. Apabila terjadi pertikaian pendapat yang bertentangan antara dua golongan.Serangan Syeikh Saad Mungka tambah mendorongnya buat mempersiap diri. on August 26 2013. 280. hadis Nabi s. kerana sangat ramai orang selain kita juga berfikir. The attack on Syria now being planned by the US and its allies will be the ninth direct western military intervention in an Arab or Muslim country in 15 years. UN weapons inspectors are struggling to investigate WMD claims while the US and its friends have already declared them "undeniable". they are dressing up military action as humanitarian. dan penyesalan gurunya menambahkan ragunya. Ketiga: masih ada kemungkinan kedua-duanya adalah 'salah'. The two former colonial powers that carved up the Middle East between them. mengapa maka gurunya yang mendidiknya selama ini bebas berfikir telah menghambat kebebasan berfikir itu. Tuesday 27 August 2013 22. ijmak. Jawabnya kepada gurunya sangat hormat. Kedua: yang sudah pasti.' Photograph: Abo Al-Nur Sadk/AFP/Getty Images All the signs are they're going to do it again. saya berpendapat. while failing to win the support of their own people. are as ever chafing for a slice of the action as the US assembles yet another "coalition of the willing". 'Chemical weapons are far from being the greatest threat to Syria’s people. intelligence about weapons of mass destruction is once again at the centre of the case being made for a western missile strike. . Pertama: masih dalam kemungkinan yang satu adalah 'betul' dan yang satu lagi adalah 'salah'.) Kebebasan Mengenai kebebasan berfikir perlulah dibimbing daripada wahyu Allah.00 BS A victim of an air strike by regime forces on Aleppo is carried away. But once again. Depending how you cut the cake. Ditulis oleh Ustaz Wan Mohd Shaghir Abdullah.a. And as in Iraq and Sudan (where President Clinton ordered an attack on a pharmaceuticals factory in retaliation for an al-Qaida bombing). Afghanistan. terdapat tiga rumusan. as well as a string of murderous drone assaults on Yemen. another western assault on the Arab world risks escalation and backlash • Seumas Milne •The Guardian.

British and French . Paul Schulte. as atrocities have multiplied on all sides. clearly has an interest in that red line being crossed. The Damascus government and its international backers. The western powers and their allies. A comparison of their response to the Ghouta killings with this month's massacres of anti-coup protesters in Egypt gives a measure of how far humanitarianism rules the day. But it's hard to see a rational motivation. undoubtedly has the capability and the ruthlessness. even if the "balance of probability" points to the regime or a rogue military commander. Now the risk to US red line credibility seems to have tipped him over to back a direct military attack. The arms proliferation expert. while Kerry earlier claimed the army was "restoring democracy". In reality. chemical weapons are far from being the greatest threat to Syria's people. That is the war itself and the death and destruction that has engulfed the country. their suffering caught on stomachchurning videos. But even if it turns out that regime forces were responsible for Ghouta. But that won't hold back the western powers from the chance to increase their leverage in Syria's grisly struggle for power. estimated to have killed over 100. have been estimated at 1. But so far no reliable evidence whatever has been produced to confirm even what chemical might have been used. Russia and Iran. was damned as a "moral obscenity" by US secretary of state John Kerry. The Syrian atrocity. the vast majority of them of civilians. costly interventions that actually breed more resentment".000. it's highly unlikely to be definitive. the western camp has been prepared to bleed Syria while Obama has resisted pressure for what he last week called more "difficult.The trigger for the buildup to a new intervention – what appears to have been a chemical weapons attack on the Damascus suburb of Ghouta – certainly has the hallmarks of a horrific atrocity. whatever Colin Powell-style evidence is produced this week. The killings in Egypt. including the Syrian rebels. balkanised the country and turned more than a million people into refugees. the UN Syria human rights commission member Carla Del Ponte said there were "strong concrete suspicions" that rebel fighters had used the nerve gas sarin. backed by a united security council. Now covert support has become open military backing for a rebel movement split into over 1.000 groups and increasingly dominated by jihadist fighters. that's unlikely to hold them to account or remove the risk from chemical weapons. If the US. But Barack Obama said the US wasn't "taking sides". The regime. For the same reason. mostly civilians. of King's College London. white phosphorus and Agent Orangearound the region and beyond. are reported killed and many more wounded. Three months ago. the rebel camp (and its regional sponsors). More effective would be an extension of the weapons inspectors' mandate to secure chemical dumps. believes rebel responsibility "can't be ruled out". insist the Syrian army was responsible. western and Gulf regime intervention in Syria has been growing since the early days of what began as a popular uprising against an autocratic regime but has long since morphed into a sectarian and regional proxy war. which has been trying to engineer a western intervention in the Libya-Kosovo mould for the past two years to tip the military balance. and Turkish security forces were reported soon afterwards to have seized sarin from al-Qaida-linked al-Nusra Front units heading into Syria. rather than moral grandstanding by governments that have dumped depleted uranium. which has large stockpiles of chemical weapons. Either way. where the death toll has been reported by opposition-linked sources at 322 but is likely to rise. let alone who delivered it.295 over two days. blame the rebels. Hundreds. rebels have been ethnically cleansing tens of thousands of Kurds from north east Syria across the border into Iraq. Its forces have been gaining ground in recent months and the US has repeatedly stated that chemical weapons use is a "red line" for escalation. Until now. While the focus has been on Ghouta this week. In any case.

Sumatera Barat. Hingga terbitan hari ini hanya tiga orang ulama Kaum Muda atau Tajdid diperkenalkan. which British MPs have a responsibility to oppose on Thursday. they will certainly increase the death toll and escalate the war. Minangkabau. Tarusan. Artikel pertama disiarkan pada Khamis 19 Februari 2004. Syeikh Abdul Karim bin Amrullah. Selanjutnya pada usia 10 tahun. Syeikh Abdullah Jamidin.governments were genuinely interested in bringing it to an end – instead of exploiting it to weaken Iran – they would be using their leverage with the rebels and their sponsors to achieve a ceasefire and a negotiated political settlement. Manjinjau. usia Muhammad Rasul sekitar lingkungan 16 ke 17 tahun iaitu pada tahun 1312 H/1894 Masihi. Syeikh Amrullah. Sehingga hari ini jumlah ulama yang telah diperkenalkan ialah seramai 95 orang. Betung Panjang. they seem intent on escalating the war to save Obama's face and tighten their regional grip. Buya Hamka dalam buku Ayahku menyebut nama guru-guru Haji Rasul ialah Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau. Beliau lahir pada hari Ahad. the free encyclopedia Haji Rasul Amrullah Tokoh Tajdid Nusantara Dicatat oleh Tawel Sensei di 5:39 PG Pada bulan Januari 2006 genap dua tahun tulisan saya tentang ulama dunia Melayu disiarkan dalam ruangan agama Utusan Malaysia. Tujuan saya memperkenalkan tokoh-tokoh Kaum Tua dan Kaum Muda bukan bererti memperlihatkan diri berpihak. ayah dan ibunya telah memerintahkan beliau mendirikan sembahyang dan puasa pada bulan Ramadan. menuntut ilmu daripada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf. Syeikh Hamid Jeddah dan Syeikh Sa'id Yaman. Syeikh Umar Ba Junaid. lalu diajarkannya menulis Arab (maksudnya tulisan Melayu/Jawi. Painan belajar al-Quran daripada Tuanku Haji Hud dan Tuanku Pakih Samnun. . Dua tokoh tajdid (pembaharuan) yang diperkenalkan sebelum ini ialah Syeikh Tahir Jalaluddin dan Syed Syeikh al-Hadi. Syeikh Utsman Sarawak. Twitter: @SeumasMilne Abdul Karim Amrullah From Wikipedia. Haji Abdus Samad membawanya ke Sibalantai. pen:) daripada Adam anak Tuanku Said. 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di Kepala Kebun. Even if the attacks are limited. The west can use this crisis to help bring Syria's suffering to an end – or pour yet more petrol on the flames. Namanya nama yang terkenal ialah Dr. Pariaman. Ketika belajar di sana. The risk is that they will invite retaliation by Syria or its allies – including against Israel – draw the US in deeper and spread the conflict. Negeri Sungai Batang. Ulama yang diperkenalkan kali ini nama asalnya ialah Muhammad Rasul. Dalam Luhak Agam. Pada usia 13 tahun beliau mulai belajar ilmu nahu dan saraf daripada ayahnya. Syeikh Saleh Ba Fadhal. Pendidikan Sejak berumur tujuh tahun. Buya Hamka menyebut bahawa setahun kemudian beliau pulang ke Sungai Batang. Ayahnya menghantarnya belajar ke Sungai Rotan. It's a dangerous gamble. tetapi lebih kepada memaparkan sejarah. Instead. ayah saudaranya. Kemudian Syeikh Amrullah sendiri membawa anaknya Muhammad Rasul itu ke Mekah untuk mendalami pengetahuannya dengan ulama-ulama Mekah pada zaman itu.

Haji Rasul Amrullah Minangkabau juga belajar daripada ulama-ulama Melayu yang terkenal di Mekah ketika itu.) Daripada sumber Buya Hamka di atas. kecuali beliau hanya belajar daripada Syeikh Tahir Jalaluddin. Tidak terdapat keterangan lanjut baik daripada Buya Hamka mahupun dalam tulisan orang lainnya. pengarang kitab Al-Anwarul Muhammadiyah. Syeikh ini jadi terkenal kerana dia benci kepada Syeikh Muhammad Abduh! (Karangan-karangannya itu besar pengaruhnya di kalangan ulama-ulama tua di Indonesia. belajar kitab-kitab Kaum Tua. Meraikannya disembelih beberapa ekor kerbau dan dipanggil tuanku-tuanku dari keliling danau untuk turut menyaksikan. "Belum lama di rumah. Saya belum menjumpai riwayat bahawa beliau pernah belajar kepada tokoh Kaum Muda." (Lihat Ayahku. tetapi kepada ulama Kaum Tua. hlm. hlm. Daripada tarikh itu maka dapatlah kita bandingkan dengan beberapa orang ulama yang berasal dari dunia Melayu yang agak berdekatan tahun kelahiran dan sempat belajar dengan guru-guru yang sama di Mekah. dan Syeikh Basiyuni Imran (Maharaja Imam Sambas) yang ketigatiganya adalah murid Syeikh Muhammad Abduh dan Saiyid Rasyid Ridha di Mesir. Syeikh Muhammad Nur al-Fathani. Kemungkinan juga Haji Rasul Amrullah pernah mendatangi dan belajar daripada Syeikh Yusuf Nabhani di Beirut. Kadi Haji Abu Bakar Hasan Muar. bagi saya. Johor (lahir 1292 H/1875). Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani (lahir 1293 H/1876 M). Syeikh Wan Ali al-Kalantani dan Syeikh Ahmad alFathani. tahun beliau belajar di Mekah ialah antara tahun 1312 H/1894 M hingga musim haji tahun 1323 H/Januari/Februari 1906 M dan beliau pulang ke Minangkabau pada Muharam 1324 H/Februari/Mac 1906 M. Ibnu Qaiyim. Syeikh Muhammad Abdul Wahhab dan terakhir sekali ialah karangan Syeikh Muhammad Abduh dan karangan Saiyid Rasyid Ridha terutama Tafsir al-Manar. Saya belum menemui riwayat bahawa Syeikh Yusuf Nabhani pernah mengajar di Mekah. hanya dua orang ulama yang berasal dari dunia Melayu menajdi guru ayah beliau Haji Rasul Amrullah di Mekah iaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syeikh Utsman Sarawak. masih belum jelas kerana Syeikh Yusuf Nabhani itu adalah ulama di Beirut. Mereka adalah golongan Kaum Tua. Riwayatnya menunjukkan beliau tidak belajar daripada ulama Kaum Muda.Tulis Buya Hamka selanjutnya: "Dan pernah juga belajar kepada Syeikh Yusuf Nabhani. orang dalam negeri. 61. termasuk Laras sendiri mengadakan peralatan melantik Syeikh Amrullah bergelar 'Tuanku Nan Tuo' dan Haji Rasul diberi gelar 'Tuanku Nan Mudo'. sehingga payah menghapuskannya). Mengenai sambutan kepulangan Haji Rasul ke negerinya. Syeikh Abdul Hamid Mahmud Talu. kecuali Haji Rasul Amrullah yang diriwayatkan ini saja dalam golongan Kaum Muda. Jadi pengetahuan Haji Rasul Amrullah adalah berdasarkan pembacaan kitab-kitab karangan Ibnu Taimiyah. Tafsir Jalalain dan lain-lain. Tulisan Buya Hamka yang menyebut bahawa ayah beliau "pernah juga belajar daripada Syeikh Yusuf Nabhani".) Kegembiraan Tuan Kisa-i (Syeikh Amrullah) atas kepulangan anak beliau Haji Rasul yang membawa ilmu tiada dapat kita bayangkan. 59. Mereka ialah Syeikh Muhammad Sa’id Linggi (lahir 1292 H/1875 M). kitab-kitab yang dipelajari Haji Rasul Amrullah daripada semua gurunya adalah kitab-kitab Kaum Tua juga. Tetapi yang saya kumpulkan daripada pelbagai sumber. Memperhatikan tahun kelahiran Haji Rasul Amrullah (1296 H/1879 M). di antara mereka ialah Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani. tetapi kegembiraan itu rupa-rupanya bertukar menjadi sebaliknya kerana . Sebenarnya jika disimpulkan. Buya Hamka menulis." (Lihat Ayahku. Minangkabau (lahir 1298 H/1880 M) dan masih ramai lagi. seperti kitab Fat-h al-Mu'in. namun akhirnya hanya melalui pembacaan menjadi tokoh Kaum Muda yang dapat kita bandingkan dengan Mufti Haji Wan Musa Kelantan. Lain halnya dengan Syeikh Tahir Jalaluddin.

Buya Hamka membahagikan karangan ayahnya kepada beberapa jenis." (lihat Ayahku. 222. kerana belum terdapat tulisan orang lain yang membicarakan perkara itu.’’ (30 tahun yang lalu dihitung ketika Buya Hamka menulis buku tersebut. Sewaktu Syeikh Saad Mungka dalam perkara yang sama (Ushalli) menyalahkan Haji Rasul Amrullah. "Maka . Selangor. Ternyata Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tidak menyokong Haji Rasul Amrullah. Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau menulis sepucuk surat berpihak kepada muridnya Syeikh Hasan Maksum (Kaum Tua) dan menolak fahaman Haji Rasul Amrullah. tentang ‘Ushalli’. termasuk Syeikh Sulaiman ar-Rasuli. Buya Hamka menulis selanjutnya. Pahang. jumlahnya ada 15 judul. Perlis. Buya Hamka cukup beradab dan berbudi bahasa untuk menceritakan sesuatu yang menyentuh darah dan daging beliau sendiri. Medan. Saya kagum terhadap Buya Hamka. hlm. hlm.) Saya belum mengetahui sampai di mana benarnya tulisan Buya Hamka itu kerana beliau masukkan Perlis juga melarang karangan-karangan ayah beliau. Dari segi ini Buya Hamka mencerminkan kejujuran beliau menulis tentang ayah dan datuknya itu. Pada konteks ini Buya Hamka menulis. Sewaktu terjadi polemik antara Haji Rasul Amrullah dengan Syeikh Hasan Maksum.jalan pemikiran dalam pegangan Islam antara ayah dengan anak sangat jauh berbeza..) Kita tidak dapat menggambarkan bagaimana pergolakan dalaman antara ayah dengan anak yang terjadi sebenarnya. Padahal Syeikh Amrullah sendiri adalah Syeikh Thariqat Naqsyabandi. Kata beliau. dan Negeri Sembilan. iaitu tahun 1950. Kemungkinan di Minangkabau telah hangat pertikaian antara Kaum Tua dan Kaum Muda tetapi di Perlis ketika itu para ulamanya masih berpegang dengan fahaman Kaum Tua. penyusun kitab Miftah ad-Din. pen:). Dalam simpanan saya terdapat beberapa bukti bahawa Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau marah kepada muridnya Haji Rasul Amrullah. Tentang Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau menganggap "memakai kaifiat-kaifiat yang bidaah-bidaah" adalah bidaah yang disebut oleh Buya Hamka itu. ada 11 judul. Buya Hamka menulis. Ia sebenarnya telah ditentang oleh beberapa orang ulama yang berasal dari Minangkabau sendiri. Tetapi kegembiraan itu akhirnya akan kecewa juga . sedangkan negeri Perlis sendiri dikatakan orang adalah satu-satunya negeri Kaum Muda di Semenanjung Melayu. Namun ada dua judul terakhir tidak terdapat tahun penulisan. Perak. Kelantan. Di antara yang dipandang paling hebat ialah Syeikh Muhammad Sa'ad Mungka. murid Syeikh Ahmad Khatib juga mengamalkan tarekat." Pada waktu itulah keluar kefahamannya yang ganjil-ganjil dan 'moden' sehingga beliau dicap Kaum Muda dan menggoncangkan masyarakat Minang 30 tahun yang lalu. Yang ditulis pada peringkat awal mulai tahun 1908 M hingga tahun 1923 M. Dia seorang yang sangat bijaksana. Syeikh Ahmad Khatib juga seorang sufi. Yang dikarang setelah beliau mengikut Kongres Islam di Mesir ditulis mulai tahun 1928 M hingga tahun 1943 M. "Kedatangan di kampung disambut dengan gembira oleh ayahnya dan orang kampung. "Sehingga buku-buku itu dilarang dibaca dalam kerajaan Melayu: Johor. Bahkan sangat ramai murid Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tetap istiqamah mengamalkan tarekat di antaranya ialah Syeikh Khathib Ali bin Abdul Muthalib al-Khalidi an-Naqsyabandi. 61. Terengganu. Tetapi hingga sekarang bererti sudah lebih 80 tahun. baik kalangan lebai-lebai atau kalangan ninik-mamak. tetapi beliau tidak menyetujui cara tarekat yang memakai kaifiat-kaifiat yang bidaah-bidaah itu. Sebab menyebarkan bibit Kaum Muda!" (Lihat Ayahku.. beliau cukup faham ada perkara yang perlu diketahui oleh umum untuk dijadikan iktibar dan ada pula yang tidak perlu disebarkan kepada umum. ada orang melaporkan kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau di Mekah. "Karangan-karangannya itulah yang menjadi 'soal besar' dan 'membuat ribut' dalam zamannya.

hlm. Tatkala ia berusia 12 tahun. Plotinus. ia memiliki kesempatan membaca bermacam-macam buku. HAJI ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH (HAMKA). Ditulis oleh Ustaz Wan Mohd Shaghir Abdullah. bertambah tersinggunglah perasaannya. kedua orang tuanya bercerai.datanglah balasan dari Mekah! Syeikh Ahmad Khatib rupanya agak marah kepada ayahku. terdapat tiga rumusan. Engku Mudo Abdul Hamid Hakim. Ayahnya adalah Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) bin Syekh Muhammad Amrullah (gelar Tuanku Kisai) bin Tuanku Abdullah Saleh./13 Muharam 1326 H dari kalangan keluarga yang taat beragama. akan tetapi ia tidak mempunyai ijazah. Guru-gurunya waktu itu antara lain Syekh Ibrahim Musa Parabek. Sebab hal tersebut bisa merusak ikatan dan keharmonisan rumah tangga. Jawabnya kepada gurunya sangat hormat. Bersama dengan Engku Dt. kunjungannya ke Jawa hanya ingin mengunjungi kakak . Plato.) Kebebasan Mengenai kebebasan berfikir perlulah dibimbing daripada wahyu Allah. dan Syekh Zainuddin Labay el-Yunusiy. sambil bekerja melipat-lipat kertas. Apabila terjadi pertikaian pendapat yang bertentangan antara dua golongan. Pertama: masih dalam kemungkinan yang satu adalah 'betul' dan yang satu lagi adalah 'salah'. Pada awalnya.a. Perceraian kedua orang tuanya ini merupakan pengalaman pahit yang dialaminya. Sinaro. ijmak. dalam silsilah Minangkabau ia berasal dari suku Tanjung. sebagaimana suku ibunya. Tak heran jika pada fatwa-fatwanya. Melalui perpustakaan ini. Pythagoras. 280. ia di bawa ayahnya ke Padangpanjang. seperti agama. ia belajar agama di Diniyah School Padangpanjang dan Sumatera Thawalib Padangpanjang dan Parabek. dan sastra. Sejak kecil. mengapa soal itu dibuka. Pada tahun 1916 sampai 1923. tanggal 16 Pebruari 1908 M. Pada usia 7 tahun.’’ (Lihat Ayahku. dan kias serta etika dalam menyebarkannya. dan ilmuan lainnya. Demi menerima serangan daripada Syeikh Saad Mungka dan penyesalan daripada gurunya yang sangat dihormatinya. Di sini. Ketika usia 6 tahun. Maninjau (Sumatera Barat) pada hari Ahad. ia menerima dasar-dasar agama dan membaca al-Quran langsung dari ayahnya. Di sini ia mulai berkenalan dengan karya-karya filsafat Ariestoteles. kerana sangat ramai orang selain kita juga berfikir. Sementara ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria (w. ia diizinkan untuk membaca buku-buku yang ada diperpustakaan tersebut. ia kemudian dimasukkan ke sekolah desa –hanya sempat dienyam sekitar 3 tahun– dan malamnya belajar mengaji dengan ayahnya sampai khatam. tidak mungkin kedua-duanya adalah 'betul'. Tidak semestinya kita berpendapat bahawa pemikiran kita saja yang benar. Kegelisahan intelektual yang dialaminya telah menyebabkan ia berhasrat untuk merantau guna menambah wawasannya. saya berpendapat. filsafat. hadis Nabi s. lahir di Sungai Batang. Kedua: yang sudah pasti. Engku Zainuddin memiliki percetakan dan perpustakaan sendiri dengan nama Zinaro. Ketiga: masih ada kemungkinan kedua-duanya adalah 'salah'. ia sangat menentang tradisi kaum laki-laki Minangkabau yang kawin lebih dari satu. Sutan Marajo. mengapa maka gurunya yang mendidiknya selama ini bebas berfikir telah menghambat kebebasan berfikir itu. dan penyesalan gurunya menambahkan ragunya. Walaupun pernah duduk di kelas VII." Serangan Syeikh Saad Mungka tambah mendorongnya buat mempersiap diri.w. 1934). Ptolemaios. Lalu beliau menguatkan lebih baik juga Ushalli dipakai.

M. dan Syakib. Soeryopranoto (sosiologi).R. Untuk membuka wawasannya. antara lain Islam dan Sosialisme (kumpulan dari semua pidato H. Hasan Bandung. dan A. Di Medan. Tjokroaminoto (Islam dan sosialisme). ia ditumpangkan dengan Marah Intan. Zulverdi Untuk memperkenalkan semangat modernis tentang wawasan Islam “baru” tersebut. A. ‘Aliyah. maka akhirnya ia diizinkan untuk berangkat.S. Sebagai putra Minang. ia berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sambil menjadi koresponden pada harian “Pelita Andalas’ di Medan. Mansur dan kakaknya Fathimah yang tinggal di Pekalongan. ia menikah lagi dengan seorang perempuan asal Cirebon. dan Rasyid Ridha yang berupaya mendobrak kebekuan umat.O. Melalui surat khabar tersebut. Pada tanggal 5 April 1929 ia kemudian dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan (anak mamaknya). Hilmi. Dari perkawinannya dengan Siti Raham. Meskipun kegandrungan ide pembaharuannya demikian menggelora. Pelaksanaannya dilakukan sekali seminggu dan mengambil tempat di Surau Jembatan Besi Padangpanjang. Syarif Husein.R. Di antaranya Muhammad Natsir. Untuk sementara waktu. H.O. baik di Indonesia maupun luar negeri. St. ia mulai berkenalan dengan ide pembaharuan gerakan SI dan Muhammadiyah yang dipimpin A. akan tetapi singgah di Medan untuk beberapa waktu lamanya. Di sini ia “berkenalan” dengan ide-ide pembaharuan Jamaluddin al-Afghani. Pada tahun 1927. dan “Suara Muhammadiyah” di Yogyakarta. Adapun buah tangan berharga yang dibawanya adalah beberapa buah karya yang memuat pemikiran dinamis ilmuan muslim waktu itu. ia berkenalan dengan teman-teman seusianya. Atas desakan iparnya. Irfan. Mansur. Pada awalnya. Singo Mangkuto.R. Kumpulan pidato ini kemudian ia cetak dalam sebuah buku dengan judul Khatib al-Ummah. A. Dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan. Sa’ad Zaghlul Pasya. Ketika di Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta. Ja’far Amrullah di desa Ngampilan. St. Sekembalinya dari Mekah. Mansur. Tjokroaminoto) dan Islam dan Materialisme (salinan merdeka A. ia kemudian diajak pulang ke Padangpanjang. Haji Fachruddin. ia awali dengan membuka kursus pidato yang diberi nama “Tabligh Muhammadiyah” pada tahun 1925. ia telah berani tampil berpidato di muka umum. Rusydi. ia diajak mempelajari kitab-kitab klasik dengan beberapa ulama waktu itu. seperti Haji Agus Salim. Fakhri. KH. Muhammad Abduh. Mansur. satu setengah tahun kemudian. R. ia mulai berlangganan surat kabar dari Jawa. Kemudian pada tahun 1925. ia . gelar pusaka turun temurun dalam suku Tanjung. baik tentang Islam yang dinamis maupun politik. seorang saudagar Minangkabau yang hendak ke Yogyakarta dan Pekalongan. Fathiyah. Sutan Mansur. ia tinggal bersama adik ayahnya.S. Hani atas karangan Sayyid Jamaluddin al-Afghani. Engku Datuk Rajo Endah Nan Tuo. Mirza Wali Ahmad Baig. Di sini. Mustafa Kemal Attaturk. baik agama maupun umum. Buya Hamka dalam Dokumentasi Ed.R. banyak yang ia sendiri membuatkannya. Zaky. Akan tetapi karena melihat demikian besar keinginan anaknya untuk menambah ilmu pengetahuan dan yakin anaknya tidak akan terpengaruh. ia pulang ke Maninjau dengan membawa semangat dan wawasan baru tentang Islam yang dinamis. memaklumkan Hamka dengan gelar Datuk Indomo. Sekembalinya dari tanah suci. pembantu redaksi “Bintang Islam”. seperti Ki Bagus Hadikusumo (tafsir). A. Soekarno. bukan berarti ia lupa untuk mendalami adat Minangkabau. ia tidak langsung ke Pekalongan. A. Pada tahun 1928. ia berangkat ke Pekalongan dan tinggal selama enam bulan bersama iparnya. ia banyak berkenalan pula dengan ide-ide pembaharuan dan pergerakan umat Islam. ia dikarunia 11 orang anak. ia banyak menulis artikel dipelbagai majalah waktu itu. Setelah istrinya meninggal dunia. tepatnya pada tahun 1973. yaitu Hj. Ia banyak belajar dari iparnya. Siti Khadijah. seperti majalah “Seruan Islam” di Tanjung Pura. Azizah. Afif. ayahnya melarangnya untuk berangkat. Mereka antara lain Hisyam (meninggal usia 5 tahun). St. Naskah pidato teman-temannya. Pada bulan Juni 1925. Bersama dengan pamannya. dan lain sebagainya.iparnya. Untuk itu. ia tidak langsung pulang ke Minangkabau. Ibn Sa’ud. Ir. Mas Mansur (filsafat dan tarikh Islam).R. Kreativitas jurnalistiknya semakin kelihatan melalui beberapa karya tulisnya. ia juga mempelajari adat istiadat negerinya dengan Dt.D. St. karena khawatir akan pengaruh faham komunis yang mulai berkembang saat itu. dalam satu rapat adat ninik mamak “Nan Kurang Dua Empat Puluh” dalam Nagari Sungai Batang.

Pembela Islam. Namun demikian. sambil melaksanakan tugasnya sebagai seorang mubaligh Muhammadiyah. Untuk itu. Melalui makalah tersebut. telah menarik perhatian seluruh peserta kongres. dan dipadang sinis oleh masyarakat. Karena faktor biaya. Ia juga pemimpin majalah “Kemajuan Zaman” di Medan. Kepiawaiannya sebagai mubaligh kembali memukau para peserta Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta pada tahun 1931. Pada tahun 1934. ketika di Makasar ia juga mencoba menerbitkan majalah pengetahuan Islam yang terbit sekali sebulan. Dari sana ia meneruskan perjalanan ke Bagan Siapi-Api. baik masyarakat awam maupun kaum intelektual. maka bulan Januari 1936. bahkan sampai menangis.menulis buku romannya yang pertama dalam bahasa minang dengan judul “si Sabariah”. ilmu tafsir (al-Manar).50. ia diajak ayahnya ke Sumatera Timur dan Aceh untuk memenuhi undangan kaum Muhammadiyah di sana. Agus Salim. bahkan oplahnya mencapai 4000 eksamplar setiap penerbitannya. ia memperoleh kedudukan istimewa dari pemerintah Jepang sebagai anggota Syu Sangi Kai (Dewan Perwakilan Rakyat) pada tahun 1944. tidak heran jika pada tahun 1932 ia dipercayai oleh pimpinan Muhammdiyah sebagai mubaligh ke Makasar (Sulawesi Selatan) dan pada tahun 1934 sebagai anggota tetap Majlis Konsul Muhammadiyah Sumatera Tengah. Bahkan pada masa ini ia muncul sebagai peneliti pribumi pertama yang mengungkap secara luas riwayat ulama besar Sulawesi Selatan. seperti Natsir. terutama ketika ia menjadi pembicara dengan makalah ‘Agama Islam dan Adat Minangkabau’ pada Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi tahun 1930. untuk senantiasa menantikan dan membaca setiap terbitan Pedoman Masyarakat. majalah ini hanya mampu bertahan sebanyak 9 nomor. menempatkannya sebagai pembicara yang pertama sekali mencoba mempertalikan antara adat dan agama. Bukan itu saja. sosial kemasyarakatan. dan Mohammad Isa Anshari. seperti Sedjarah Sajjidina Abubakar Shiddiq. Ia mencoba melacak beberapa manuskrip sejarawan muslim lokal. dibenci. dan ilmu ‘arudh. Kemudian pada tahun 1931. tidak semua karyanya tersebut merupakan tulisan secara utuh. dengan judul ‘Muhammadiyah di Sumatera’. Sebagian di antaranya merupakan kumpulan artikel yang tersebar dalam berbagai media massa dan kemudian dibukukan. Pada beberapa mata pelajaran penting seperti ilmu ushul fiqh dan manthiq. Tujuan lembaga ini adalah untuk mencetak para mubaligh. Ketika zaman pendudukan Jepang (1942). Ketika di Makasar. Pada tahun 1929. baik yang berbentuk roman. teologi. sampai tahun 1938 peredaran majalah ini berkembang cukup pesat. Kondisi yang tidak menguntungkan ini membuatnya “lari malam” dari kota Medan menuju Padangpanjang pada tahun 1945. Pemikiran-pemikirannya yang cerdas yang dituangkannya di Pedoman Masyarakat merupakan alat yang sangat banyak menjadi tali penghubung antara dirinya dengan kaum intelektual lainnya. Agama Islam. Pada awal 1930. Melalui rubrik “tasauf modern”. Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari. biografi dan otobiografi. Labuhan Bilik (Pane). Kariernya di Muhammadiyah mulai diperhitungkan. Medan. Adat Minangkabau (buku ini dilarang beredar oleh Kolonial pemerintah Belanda). Setiap penerbitan majalah ini dicetak sebanyak 500 eksamplar. tasauf. Majalah tersebut diberi nama “al-Mahdi”. . tafsir. Dengan kemampuan retorikanya dalam menyampaikan makalah. Agama dan Perempuan. pemikiran pendidikan (Islam). dan fiqh. Ayat-Ayat Mi’raj. ia diundang ke Bengkalis untuk mendirikan cabang Muhammadiyah. ia meninggalkan Makasar dan kembali ke Padangpanjang untuk meneruskan cita-citanya dan mengelola Kulliyatul Muballighin antara tahun 1934-1935. sebagai mubaligh Muhammadiyah. ia memutuskan untuk berangkat ke Medan. tulisannya telah mengikat hati para pembacanya. hadir pula buku-bukunya. terutama dalam mengembangkan lebih jauh minat sejarahnya. Akan tetapi. ia masih sempat menerbitkan majalah Semangat Islam. ia memanfaatkan masa baktinya dengan sebaik-baiknya. dan lain sebagainya. Sikap kompromistis dan kedudukannya sebagai “anak emas” Jepang telah menyebabkannya terkucil. Di tengah-tengah kekecewaan massa terhadap kebijakan Jepang. Meskipun melalui banyak rintangan dan kritikan. sejarah. Dinamika jurnalistiknya terus berkembang dan melahirkan berpuluh-puluh karya tulis. Kepentingan Tabligh. karena honorarium dari mengajar tak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Ringkasan Tarich Umat Islam. dan kemudian ke Tebing Tinggi. Namun demikian. ilmu ikhtilaful mazahib (dengan memakai kitab Bidayatul Mujtahid). Di Medan –bersama M. Yunan Nasution– ia mendapat tawaran dari Haji Asbiran Ya’kub dan Mohammad Rasami (bekas sekretaris Muhammadiyah Bengkalis) untuk memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat dengan gaji sebesar f 17. kehadiran majalah ini tidak bisa menggantikan kedudukan majalah Pedoman Masyarakat yang telah demikian melekat di hati pembacanya. Hatta.

Pusat dakwah Islam Indonesia. Sinar Poedjangga. di antara karya-karya Hamka meliputi : Kenang-Kenangan Hidup. Padang Pandjang.Y. Padang. 6. Falsafah Ideologi Islam. Bulan Bintang. pada tanggal 15 Juni 1959 ia menerbitkan majalah bulanan Panji Masyarakat. Perkembangan Kebatinan di Indonesia. Pribadi. Negara Islam. 1959. 1975. Jakarta. Jilid I. Padang Pandjang. Riwayat Hidup Dr. Islam dan Adat. Tebing Tinggi. cet. 1970. Jakarta. Faqih Oesman dan M. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangannya. cet. Sepulangnya dari lawatan ini. Anwar Rasjid. Sutan Mangkuto. 1925. 1974. Jakarta. 1952. 1946. Djakarta. Pada bulan Mei 1960 kontinuitas majalah ini terpaksa ditutup (dibrendel) dan kemudian kembali diterbitkan pada tahun 1967 pada masa pemerintahan Soeharto. 1962. Kebudayaan Islam di . Yayasan Nurul Iman. 1946. dan Di Tepi Sungai Dajlah. Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia. 1969. Jakarta. Khatib al-Ummah. Negara Islam. 1973. Poestaka Islam. Bulan Bintang. Bulan Bintang. Djakarta. Jakarta. 3 Jilid. Falsafah Hidoep. ia melakukan lawatan ke beberapa negara Arab. dalam A. 1947 (tempat dan penerbit tidak diketahui). 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui). Di sini. Jakarta. ia mendukung gagasan untuk mendirikan negara Indonesia yang berdasarkan Islam. Dibandingkan Ombak Masjarakat. Pelajaran Agama Islam. Hikmat Isra’ Mi’raj. Gerakan Pembaruan Agama di Minangkabau. Di antaranya Mandi Cahaya di Tanah Suci. Jakarta. 1962. 2. Jakarta. K. Tasauf. “Faham Soekarno”. 1982. Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam. 1957. Pustaka Panjimas. Jakarta. tp. 1967. 1939. Djakarta.A. Jakarta. 1. Angkatan Baru. Islam dan Demokrasi. Sesoedah Naskah Renville. 1929. 1950. 1929. 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui). Tanya Jawab Islam Jilid I dan II cet. Revolusi Pikiran. Djakarta. Islam. Kedudukan Perempuan dalam Islam. Pandangan Hidup Muslim. cet. Boelan Bintang. 1968. 1973. H. Exspansi Ideologi. Mengembalikan Tasauf ke Pangkalnya. 1976. 1963. 1962 (kemudian dicetak ulang di Singapura oleh Pustaka Nasional dalam dua kali cetakan (1995 dan 1999). Cerdas. 1962. Jakarta. Bersama K. Djakarta. ia dapat bertemu langsung dengan Thaha Husein dan Fikri Abadah yang karangan mereka selama ini dikenalnya dengan baik. CV..Sesampainya di Padangpanjang. Pada konferensi Muhammadiyah di Padangpanjang pada tahun 1946. cet. Di Lembah Sungai Nil. 1976. 3. Medan. Dahlan. Jakarta. Pustaka Panjimas. Jakarta. Jakarta. ia memutuskan untuk meninggalkan Minangkabau menuju Jakarta. Firma Tekad. Perkembangan Tasawoef dari Abad ke Abad. Hikmat. II. Boelan Bintang. 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui). cet. Pedoman Moebaligh Islam. tanggal 21-1-1958). Oerat Toenggang Pantjasila. 1971. Kepentingan Melakoekan Tabligh. Muhammadiyah di Minangkabau. Studi Islam. 1962. tp. setalah melaksanakan ibadah haji yang kedua kalinya. Dari Lembah Cita-Cita. Di antaranya . Aqidah. Bulan Bintang. 1980. cet. Medan. Pustaka Widjaja. 1972. Djakarta. 1939. ia dipercayakan untuk memimpin kembali Kulliyatul Muballighin dan menyalurkan kemampuan jurnalistiknya dengan menghasilkan beberapa karya tulis. 1001 Tanya Jawab tentang Islam. Jakarta. Hak-Hak Azasi Manusia Dipandang dari Segi Islam. Djajamurni.). Pada tahun 1950. Tindjaoean Islam Ir. Tintamas. Islam dan Demokrasi. Moehammadijah Melaloei Tiga Zaman. Soekarno. Lembaga Hikmat. Perkembangan dan Pemurniannya.. Di samping itu. Keluarga. Revoloesi Fikiran. Poestaka Pandji Masyarakat. Yayasan Nurul Islam.H. Cemburu. sampai tahun 1949. Anwar Rasjid. 1979. Pribadi. cet. Padang Pandjang. Ibadah. Bulan Bintang. Bulan Bintang. Bukhandel Islamiah. 1965. Agama dan Perempuan. 4. Yayasan Nurul Islam. 1950 (tempat dan penerbit tidak diketahui). 4. 1950. Bersama-sama dengan tokoh Masyumi lainnya. 1951. Padang Pandjang. Nurul Islam. Cerdas. Ia kemudian mengarang karya otobiografinya Kenang-Kenangan Hidup (1950). Sayyid Jamaluddin alAfghani.H. Yusuf Ahmad. 3. Medan.. 8. Ayahku . Setelah tercapainya Persetujuan Roem-Royen pada tanggal 18 Desember 1949. Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi. 1949. Islam dan Kebatinan. Pustaka Panjimas. Hubungan antara Agama dengan Negara menurut Islam. ia menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi koresponden majalah Pemandangan dan Harian Merdeka. 4. Revolusi Agama. Pustaka Panjimas. cet. Syari’ah. Bulan Bintang. 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui). Revoloesi Agama. Anwar Rasjid. Bulan Bintang. Jakarta. Jakarta. 1952. 1965 (awalnya merupakan naskah yang disampakannya pada orasi ilmiah sewaktu menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Mesir. ia terpilih sebagai ketua konsul Muhammadiyah Sumatera Timur menggantikan S. 1958. Jakarta. Jakarta. Jakarta. IV cet. Jakarta. III. Bulan Bintang. Hikmat. Secara terperinci. Alim-Ulama dan Pembangunan. ia mengarang beberapa buku roman. Djakarta. Bulan Bintang. 1941. Bohong di Doenia. Beberapa Tantangan terhadap Umat Islam di Masa Kini. Poestaka Widjaja. ia juga aktif di kancah politik melalui Masyumi. Minang Permai. Padang Pandjang. Jakarta. Di sini. Jakarta. 1973. Lembaga Hidup. 1. 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui). 1966. Muchlis (ed. Jakarta. Anwar Rasjid. Jakarta. dan Dari Lembah Cita-Cita.

Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi. Margaretta Gauthier. Djakarta. Laila Majnun. No. dan Idul Fitri. Hak Azasi Manusia di Pandang dari Segi Islam. 18 September 1954. 1982. Djakarta. makalah kuliah umum di Universitas Kristen Jakarta. NV. 1977 (ditulis pada tahun 1939). Makalah. Djakarta. Bulan Bintang. Hadji Moehammad Soedjak. Yayasan Idayu. Djakarta. Menoenggoe Bedoek Berboenji. VII. tiga orang politisi sarungan Sejak tahun 1952 sampai 1981. 1950. Jakarta. Medan 1943. I. 1932. 1975. Jakarta. Kuala Lumpur. Medan. 1963. Surabaya. suatu Komentar terhadap Seminar Pendahuluan Sejarah Islam di Indonesia”. 1952.A. Cerdas. Jakarta.Indonesia. 13. Si Sabariah. Pustaka Panjimas. 1926 (Buku ini merupakan kisah nyata pembunuhan yang terjadi pada tahun 1915 di Sungai Batang). 34 & 36. Angkatan Baroe. 1939. Juz I sampai Juz XXX. 1953. Persatoean Islam. No. Muktamar Masjid di Mekkah 1976). “Dari Hati ke Hati. Terj. Djakarta. Firma Poestaka Antara. Sedjarah Islam di Soematera. Jakarta. “Das Verhaeltnis zwischen Religion und Staat im Islam”. cet. Mega Bookstrore. Lembaga Budi. Pustaka Nasional. Jakarta. 1940.” dalam Panji Masyarakat. “Tajdid dan Mujaddid. Jakarta. Firma Poestaka Antara. Pustaka Panjimas. artikel dalam Islam dan Kebudayaan Melayu. 1984. Jakarta. Toean Direktoer. tt. Kenang-Kenangan Beberapa Moeballigh Moehammadijah. Pustaka Nasional. “Hubungan Timbal Balik antara Adat dan Syara’”. Konferensi Negara-negara Islam di Rabat (1968). Masaalah Chilafijah dan tentang Taqlid dan Idjtihad. (roman dalam bahasa Minangkabau). 1984. 1978. Berbagai jabatan penting pernah didudukinya antara lain adalah . II. 1984. 1984. Jakarta. 1968. 1962. Thn. Majalah “Menara”. dalam Panji Masyarakat. 1931. 7. Tuntunan Puasa. Balai Poestaka. 1932. 3. 291 Tahun XXI. Tintamas. 9 No. Boekti jang Tepat. 1963. Muhammadiyah di Minangkabau. 1979. Padang. dalam Peringatan Seratus Tahun Haji Agus Salim. 7. 1958. Djakarta. 1995. Jakarta. Poestaka Nasional. 1957. Pembela Islam. 7. Majalah Panji Masyarakat No. Medan. 1963. 1963. Jakarta. Pengantar Ushul Fiqh. Salah Faham Yang Menghebohkan. 7. Dahlan”. Medan. Mensyukuri Tafsir al-Azhar. Merantau ke Deli. M. 403 / 1 Agustus 1983. Natsir. Empat Bulan di Amerika. dalam Panji Masyarakat. Iman dan Amal Shaleh. Majalah “Tentara” (4 nomor). Makassar. Italiaander. 1974. Pustaka Panjimas. 1932. Islam : Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial. 6. 30. No. Padang Pandjang. 1972. 1950. cet. Panji Masyarakat. Majalah al-Mahdi (9 nomor).. Di Tepi Sungai Dajlah. Gema Islam. Sullam al-Wushul . (Hrsg). Djakarta. Jakarta. Sinar Harapan. 1985. vol.. I. No. Jakarta. Cita-Cita Kenegaraan dalam Ajaran Islam. No. 1950. Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian. Bulan Bintang. Renungan Tasauf. Pustaka Nasional. Prinsip-prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam. Jakarta. Partisipasi Ulama dalam Pembangunan. 15 Maret 1980. Cahaya Baroe. 1984. Tekad. Dari Perbendaharaan Lama. Tp. Jakarta. Sejarah Umat Islam. 1959. memenuhi undangan pemerintah Amerika (1952). . Pembela Islam. 1974. Ringkasan Tarikh Ummat Islam. Majalah Pandji Masyarakat. menghadiri peringatan mangkatnya Budha ke-2500 di Burma (1954). Terj. Jakarta. R. Djajamurni. No. 1932. Di Bawah Lindoengan Ka’bah. Filsafat Ketuhanan. Dijempoet Mamaknja. Cerdas. Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Arkanoel Islam. Nos. Balai Poestaka. Medan. 1970. Almarhoem Ki Bagoes Hadikoesoemo. Jakarta. Dengan Sekularisasi Pantjasila akan Kosong. Kementerian Belia dan Sukan. anggota komisi kebudayaan di Muangthai (1953). karya Dr. 40. 2. 46. Hikmah. Pustaka Panjimas. Tintamas. Orthodox and Modernisme. Pembela Islam (Tarikh Sayyidina Abubakar Shiddiq). Erlangen. (kumpulan cerpen). Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. 1961. Karunia. Jakarta. Di Dalam Lembah Kehidoepan. Pustaka Panjimas. Keadilan Sosial dalam Islam. Tintamas. 1975. cet. “K. “Haji Agus Salim sebagai Sastrawan dan Ulama”.H. 1983. Pustaka Panjimas. 15 Mei 1973. 1983. Gapura. 1983. 1946. Jakarta. 1985. Medan.. Pustaka Panjimas. Imam Masjid al-Azhar (Kebayoran Baru). 1990.1929. Pustaka Panjimas. menghadiri Konferensi Islam di Lahore (1958). 121. Balai Poestaka. 2. Jakarta. Medan. XIV. 15. H. cet. cet. tp. No. Cermin Kehidoepan. Islam dan Adat Minangkabau. Jakarta. Tasauf Modern. Tafsir alAzhar. Bulan Bintang. II. Majalah Panji Masyarakat. 1951. Jakarta. No. 1953. 9. Pustaka Panjimas. 1962. 154. 1929. Cerdas. 1949. 317. Jakarta. No. Djakarta. Makassar. 61. Jakarta. No. Salahnya Sendiri. Mengembara di Lembah Nil. Padang Panjang. Keadilan Ilahi. Jakarta. Majalah Panji Masyarakat. 1962. Mandi Cahaya di Tanah Suci. Pengaruh Islam dalam Sastra Melayu. dalam Indonesians verantwortliche Gesellschaft. Pustaka Panjimas. Bulan Bintang. Hamka (duduk) dan Isa Anshary. Medan. 1985. 1. Tarawih. Gema Islam. Risalah Seminar Sedjarah Masoeknja Islam di Indonesia. Gema Islam. 29. Mega Bookstrore. kariernya mulai menanjak. Bulan Bintang. Pustaka Antara. 1975. 1986. 1954. Lembaga Fatwa. Majalah Panji Masyarakat. Makassar. Pustaka Panjimas. 1950. Medan. cet. Arbi. Teroesir. 2 Jilid. Djakarta. 1972. 4 Jilid. karya Alexander Dumas Jr. Majalah “Semangat Islam”. cet. Djakarta. cet. cet. dalam Panji Masyarakat. Abdul Karim Amrullah. dalam Boekoe Peringatan 40 tahoen Moehammadiyah. 1932. 1963.

Meskipun ide-ide pembaharuan yang dikembangkan Cak Nur menimbulkan kotroversial. namun ide-ide tersebut tetap dimuatnya dalam Panjimas. Unsourced material may be challenged and removed. Menurutnya.R. was a Muslim reformer who led reformation of Islam in Sumatra. Hamka meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1981. Sutan Mansur. Fleksibelitas sikapnya terhadap berbagai perbedaan khilafiyah dapat terlihat secara jelas pada ‘tampilan’ majalah Panjimas yang dipimpinnya. ia terpilih menjadi anggota DPR mewakili Jawa Tengah. Untuk itu.Seminar tentang Islam dan Peradaban di Kuala Lumpur. Karena itu. kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Kebangsaan Malaysia pada bidang kesusanteraan. Please help improve this article by adding citations to reliable sources. haram bagi kaum muslim nikah berdasarkan RUU tersebut dan hanya wajib nikah secara Islam. Ia juga pernah menjadi pegawai tinggi Departemen Agama selama beberapa waktu. ia secara tegas mengharamkannya dan mengecam keputusan tersebut. Bahkan ketika menteri Agama dipegang Alamsyah Ratu Prawiranegara yang berupaya melakukan fatwa dengan diperbolehkannya menyertai peringatan Natal bersama umat Nasrani. HAMKA diasingkan ke Sukabumi. Moestopo. Kemudian pada 6 Juni 1974. ia memutuskan untuk melepaskan jabatannya sebagai Ketua MUI. Badan Pertimbangan Kebudayaan Kementerian PP dan K. akan tetapi ia tetap dengan pendiriannya yang dengan keras dan tegas menolak untuk menariknya. dan terakhir dirawat di rumah sakit Persahabatan Rawamangun. Akan tetapi pengangkatan tersebut ditolak karena merasa tempat tersebut tidak sesuai baginya. This article needs additional citations for verification. akhirnya Hamka menerima untuk diangkat menjadi anggota konstituante. Dr. baik secara internal maupun eksternal. Sikapnya yang konsisten terhadap agama dan tidak kompromis terhadap kemungkaran. dan sejumlah posisi penting lainnya. Jakarta Selatan. (December 2010) Abdul Karim Amrullah (1879–1945). terutama terhadap beberapa kebijakan pemerintah. Ia juga dengan tegas menolak kebijakan pemerintah memberlakukan RUU Perkawinan tahun 1973. Atas desakan A. terutama pada era awal 1967 sampai menjelang akhir tahun 1970-an yang tampil dengan corak ‘liberal’. Pada Pemilu 1955. Contents [hide] • • • 1 Personal 2 Family 3 See also life . serta gelar Profesor dari Universitas Prof. Penasehat Kementerian Agama. RUU tersebut secara prinsipil telah bertentangan dengan ajaran Islam. pada tanggal 19 Mei 1981. Ketua MUI (1975-1981). Pada awalnya. sebagai tawanan. Guru Besar Perguruan Tinggi Islam dan Universitas Islam di Makasar. kemudian ke Puncak. dalam usia 73 tahun dan dikebumikan di Tanah Kusir. Pada tahun 1959. akan tetapi jabatan tersebut akhirnya dilepaskannya. ia mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu yang indah. Keteguhan sikapnya ini membuatnya untuk merelakan diri hidup dibalik terali besi (1964-1966). known as Haji Rasul. menyebabkannya acapkali berhadapan dengan berbagai rintangan. menghadiri peringatan Seratus Tahun Muhammad Iqbal di Lahore dan Konferensi Ulama di Kairo (1977). Ketua Dewan Kurator PTIQ. Megamendung. Meskipun pemerintah mendesaknya agar menarik kembali fatwanya (dengan diiringi berbagai ancaman).

he founded an Islamic organization known as Muhammadiyah in West Sumatra. a member of DPR from United Development Party. His father was Muslim ulema. In 1915. he taught Islam in Mecca until 1906. is a politician. Rusdi Hamka.[1] Upon his return to the Dutch East Indies (now Indonesia). Minang Forum.[citation needed] In 1894. he went to Mecca. his grandson. politician.• 4 References Personal life[edit source | editbeta] Haji Rasul was born in Sungai Batang. and author. Family[edit source | editbeta] Haji Rasul's son Hamka was also a prominent ulama. Maninjau. West Sumatra on February 10. See also[edit source | editbeta] • Islam in Indonesia • List of Minangkabau people References[edit source | editbeta] 1. Thawalib was an Islamic school that produced many progressive students. Haji Rasul founded Sumatera Thawalib in Padang Panjang. Retrieved 22 July 2012. Syekh Muhammad Amarullah Tuanku Kisai and his mother Andung Tarawas. Minang Forum (in Bahasa Indonesia). 1879. After he graduated. ^ "HAMKA atau HAJI ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH (HAMKA)". 1945. . studying Islamic law under Shaikh Ahmad Khatib.[citation needed] He died in Jakarta before independence day on June 2.