CEDERA KEPALA

Pendahuluan
Cedera kepala akibat trauma sering kita jumpai di lapangan. Di Amerika Serikat, kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500.000 kasus. Dari jumlah di atas, 10% penderita meninggal sebelum tiba di rumah sakit dan lebih dari 100.000 penderita menderita berbagai tingkat kecacatan akibat cedera kepala tersebut. Di negara berkembang seperti Indonesia, perkembangan ekonomi dan industri memberikan dampak frekuensi cedera kepala cenderung semakin meningkat. Cedera kranioserebral merupakan masalah kedaruratan neurologi yang sering ditemukan dan umumnya terjadi pada pria atau wanita, dengan penyebab utama kecelakaan lalu lintas (KLL) maupun jatuh dari ketinggian. Distribusi kasus cedera kepala terutama melibatkan kelompok usia produktif antara 15 – 44 tahun dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Cedera kepala lebih sering terjadi pada usia muda yang sedang produktif dengan mortalitas dan morbiditas yang tinggi hingga mengakibatkan kerugian karena kehilangan sumber daya menusia, kehilangan pekerjaan dan produktifitas dan menimbulkan beban financial bagi penderita dan keluarganya. Cedera kranioserebral sering di sebut cedera kepala merupakan suatu kedaruratan neurologik yang perlu mendapat penanganan/penatalaksaan yang cepat, tepat dan cermat. Cedera pada kepala dan otak dapat berupa luka pada kulit kepala, fraktur pada tulang tengkorak, robekan pada selaput otak, kerusakan pada pembuluh darah baik intra maupun ekstra serebral dan kerusakan jaringan otaknya sendiri. Cedera kepala merupakan keadaan yang serius. Oleh karena itu, setiap petugas kesehatan diharapkan mempunyai pengetahuan dan keterampilan praktis untuk melakukan penanganan pertama dan tindakan live saving sebelum melakukan rujukan ke rumah sakit. Diharapkan dengan penanganan yang cepat dan akurat dapat menekan morbiditas dan mortalitasnya. Penanganan yang tidak optimal dan terlambatnya rujukan dapat menyebabkan keadaan penderita semakin memburuk dan berkurangnya kemungkinan pemulihan fungsi.

Definisi
Cedera kranioserebral adalah cedera kepala dimana terjadi kerusakan kompleks pada kulit kepala, tulang tengkorak, selaput pembungkus otak dan jaringan otak yang disebabkan oleh kematian fisik dari luar.

Etiologi
Disebabkan oleh kecelakaan lalulintas, kekerasan fisik, misalnya terkena benda tajam seperti pisau tertembak peluru dan lain-lain

Klasifikasi cedera kepala
Cedera kepala diklasifikasikan dari berbagai aspek. Secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan: • • • 1. Mekanisme Beratnya Morfologi Mekanisme cedera kepala Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dibagi atas cedera kepala tumpul dan cedera kepala tembus. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil motor, jatuh, atau pukulan benda tumpul. Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan. Adanya penetrasi selaput dura menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau tumpul. 2. Beratnya cedera Skala koma glassgow (SKG) digunakan untuk menilai secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera kepala.juga dalam menilai tingkat kesadaran penderita akibat berbagai penyebab lain. Koma didefinisikan bila penderita tidak mampu melaksanakan perintah, tidak dapat mengeluarkan suara, tidak dapat membuka mata, nilai SKG tersebut minimal 3.sebenarnya istilah koma tidak dapat dinyatakan dengan tepat apabila memakai

3. komosio serebri : pada keadaan ini tidak ada jaringan otak yang rusak tapi hanya kehilangan fungsi otak sesaat. B. Berat ringannya cedera kranioserebral dapat di bagi berdasarkan patofosiologi. Perdarahan intradural dapat berupa subarachnoid. 2. kontusio dan laserasi otak : disebut kontusio bila pia subarachnoid masih utuh dan jika robek disebut laserasi. . Namun sebanyak 90 % penderita dengan nilai SKG sama atau kurang dari 8 adalah dalam keadaan koma. Klasifikasi lokalisasi cedera kranioserebral 1. lesi difus : kerusakan akibat proses trauma akselerasi/deselerasi yang merusak sebagian besar akson susunan saraf pusat akibat regangan. berupa pingsan kurang dari 10 menit atau amnesia pasca trauma. lokalisasi dan gambaran klinis (SKG). 3. intraserebral atau intraserebelar. Hematom intrakranial : perdarahan intrakranial dapat terjadi ekstradural atau epidural di mana pembuluh darah meningea atau cabang-cabangnya pecah. kontusio serebri : kerusakan jaringan otak dengan defisit neurologis yang timbul setara dengan kerusakan jaringan otak tersebut.SKG. 2. A. lesi fokal : a. dan tidak satupun dengan nilai SKG di atas 9 dalam keadaan koma. laserasi otak : kerusakan otak yang luas dan jaringan otak robek yang umumnya disertai fraktur tengkorak terbuka. Klasifikasi patofisiologi cedera kranioserebral 1. b. lesi kerusakan vaskuler otak : disebabkan oleh lesi sekunder iskemik terutama akibat hipoperfusi dan hipoksia yang dapat terjadi pada waktu selama perjalanan ke rumah sakit atau selama perawatan. pingsan > 10 menit.

komplikasi / defisit neurologis (-) Pingsan >10 menit s/d <6 jam.C. komplikasi /defisit neurologis (+) Tabel II GLASGOW COMA SCALE Jenis pemeriksaan Respon buka mata (E) Spontan Terhadap suara Terhadap nyeri Tidak ada Respon motorik terbaik (M) Ikut perintah Melokalisir nyeri Flexi normal (menarik anggota yang dirangsang) Flexi abnormal (dekortikasi) Ekstensi abnormal (deserebrasi) Tidak ada Respon verbal (V) Berorientasi baik Berbicara mengacau (bingung) Kata-kata tidak teratur Suara tidak jelas Tidak ada 3. Klasifikasi berdasarkan derajat kesadaran cedera kranioserebral. Tabel I Berdasarkan derajat kesadaran cedera kepala Kategori Ringan Sedang Berat SKG 13 – 15 9 – 12 3–8 Gambaran klinis Pingsan <10 menit. komplikasi / defisit neurologis (+) Pingsan >6 jam. Penderita cedera kepala yang mengalami perburukan yang cepat. namun Nilai 4 3 2 1 6 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 . Morfologi cedera CTscan secara dramatis merubah klasifikasi cedera kepala dan penatalaksaannya. baik neurologis maupun hemodinamik dapat saja di operasi tanpa CT scan.

ini akan berakhir dengan kematian/kegagalan organ. CC Scan yang berturut-turut sangatlah penting karena penderita cedera kepala sering mengalami perubahan morfologis dalam waktu beberapa jam. dan merupakan suatu fenomena mekanik. hari.Tidak banyak yang bisa kita lakukan kecuali membuat fungsi stabil.  Cedera kepala sekunder merupakan hasil dari proses yang berkelanjutan ( on going process) sesudah atau berkaitan dengan cedera primer dan lebih merupakan fenomena metabolic. kita mengenal dua macam cedera kepala. Penyebab cedera otak sekunder di antaranya : . Yang local berupa kontusio maupun laserasi ditempat benturan dan bisa di seberangnya. Tetapi. bila ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi dan tidak ada upaya untuk mencegah atau menghentikan proses tersebut maka cedera akan terus berkembang dan berakhir pada kematian jaringan yang cukup luas. Patofisiologi Berdasarkan patofisiologinya. Umumnya menimbulkan lesi permanen.mayoritas penderita akan memerlukan CT Scan sebelum tindakan operatif. Beban ekstra ini bisa karena penyebab sistemik maupun intrakranial.kerusakan difus berupa kerusakan aksonal difus ( DAI) atau kerusakan mikrovaskular difus. Secara morfologis cedera kepala dapat dibagi atas fraktur kranium dan lesi intrakranial. banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya cedera otak sekunder. yaitu:  Cedera kepala primer adalah cedera yang terjadi saat atau bersamaan dengan kejadian trauma.Proses berkelanjutan tersebut sebenarnya merupakan proses alamiah. minggu. Cedera kepala sekunder disebabkan oleh keadaan-keadaan yang merupakan beban metabolik tambahan pada jaringan otak yang sudah mengalami cedera (neuron-neuron yang belum mati tetapi mengalami cedera). sehingga sel-sel yang sedang sakit bisa mengalami proses penyembuhan yang optimal. Kerusakan dapat lokal dan difus. Berbeda dengan cedera kepala primer. Pada tingkat organ.

Penatalaksaan cedera kepala Penanganan awal cedera kepala pada dasarnya mempunyai tujuan: 1. hipoksemia. Penderita tidak perlu dirawat jika : 1. 4. Tidak ada gejala fokal neurologis. perawatan luka. edema. hipertermia. 5. buat foto kepala. Tidak ada fraktur tulang kepala. dan hiponatremia. gejala-gejala laterasisasi (pupil anisokor. reflex patologis +). pergeseran otak (brain shift). Penyebab sistemik: hipotensi. Memantau sedini mungkin dan mencegah cedera otak sekunder 2. Memperbaiki keadaan umum seoptimal mungkin sehingga dapat membantu penyembuhan sel-sel otak yang sakit. 3. jika diperlukan buat CT Scan. Ada yang bisa mengawasi dengan baik di rumah. di sertai terapi simptomatis. 6.  Penyebab intrakranial: tekanan intrakranial meningkat. kejang. kesadaran menurun. Orientasi waktu dan tempat masih baik 2. Observasi minimal 24 jam di rumah sakit untuk menilai kemungkinan adanya hematom intrakranial misalnya ada riwayat lucid interval. Tempat tinggal tidak jauh dari puskesmas Cedera kepala sedang ( GCS 9 – 12) Pasien dalam keadaan ini mungkin mengalami gangguan kardiopulmonal. Tidak sakit kepala ataupun muntah-muntah. vasospasme. Cedera kepala ringan ( GCS 13 – 15 ) Lakukan pemeriksaan fisik umum. sakit kepala. jika ada gangguan tersebut maka : . istirahat baring dengan mobilisasi bertahap sesuai dengan kondisi pasien. dan infeksi. muntah-muntah. hipo/hiperkapnea. hematoma.

13 % dengan hipotensi. segera lakukan resusitasi jantung paru (RJP) yaitu : bersihkan jalan nafas. kesadaran. Foto kepala. lebih dari 50 % di sertai cedera sistemik mayor yang memerlukan bantuan konsultasi dokter ahli lain.a. CT Scan jika di duga adanya hematom intrakranial. Secondary survey Penderita dengan cedera kepala sering disertai cedera multipel. Dalam suatu penelitian terhadap 100 orang yang berurutan dengan cedera kepala berat yang dilakukan evaluasi pada saat tiba di UGD di peroleh data 30 % penderita dengan hipoksemia. b. Adanya hipoksia pada penderita yang disertai dengan hipotensi akan menyebabkan mortalitas mencapai 75 %. ganguan fokal neurologis. cedera organ lain. pupil. Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan neurologis langsung di lakukan segera setelah status kardiovaskular penderita stabil. Dalam satu penelitian penderita cedera kepala. dan 12 % dengan anemia. pupil dan defisit neurologis. perbaiki pernafasan dan sirkulasi. Oleh karena itu tindakan stabilisasi kardiopulmoner pada penderita cedera kepala berat harus dilaksanakan secepatnya. c. Observasi fungsi vital. Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan GCS dan reflex cahaya .penderita cedera kepala berat dengan hipotensi mempunyai mortalitas 2 x lebih banyak daripada penderita tanpa hipotensi. C. Cedera kepala berat ( GCS 3 – 8) Penderita dengan cedera kepala cedera kepala berat tidak mampu melakukan perintahperintah sederhana walaupun status kardiopulmunalnya telah di stabilisasi. Primary survey dan resusitasi Cedera otak sering di perburuk akibat cedera sekunder. d. e. bila perlu foto organ tubuh lain yang mencurigakan. Periksa kesadaran. B. jika ada jejas di leher pasang fiksasi leher. A.

Dengan perkataan lain respon motorik extremitas kanan dan kiri harus di catat dengan terpisah. foto anggota tubuh yang lain tergantung indikasi. karena merupakan indikator prognosis yang paling tepat. Namun untuk dapat mengikuti perkembangan penderita sebaiknya di catat respon yang terbaik dan terburuknya. Tanda awal suatu herniasi lobus temporalis adalah dilatasi ringan pupil atau reaksi cahaya pupil yang melambat. D. tes kalori (reflex okulovestibuler dan reflex kornea). E. Pada penderita koma. Hal ini juga merupakan masukan yang baik bagi pemeriksa akan kestabilan penderita sehingga dapat dideteksi adanya suatu perburukan sedini mungkin. Pemeriksaan serial harus terus di lakukan karena respon penderita akan bervariasi menurut jalannya waktu. dicatat pula respon reaksi pupilnya. Gerakan bola mata (Doll eye phenomena. Pemeriksaan radiologi Buat foto kepala dan leher. Pemeriksaan yang teliti tentang respon reaksi cahaya pupil dan ukuran diameter pupil sangatlah penting dilakukan pada tahap awal pemeriksaan penderita dengan cedera kepala berat. respon motorik dapat di peroleh dengan memijat kuku atau papila mamae. Sebagai tambahan penilaian GCS. CT Scan otak di buat jika ada fraktur kepala atau klinis di duga ada hematom intrakranial.pupil. Medikamentosa Penatalaksanaan tekanan intrakranial meninggi dilakukan sejak awal yaitu: . reflex okulokardiak). Bila penderita menunjukkan respon motorik yang bervariasi maka yang di nilai adalah respon motorik terbaik.

bolus IV atau oral.5°C) dapat diberikan kombinasi asetaminofen. tinggikan kepala 30 °. 3.1. hematom intrakranial di berikan phenitoin dengan dosis 18 mg/Kg bb. selimut dingin. naikkan CPP lakukan terapi tersier jika usaha terapi sekunder tidak berhasil yaitu: terapi supresif metabolik dengan pemberian barbiturat dosis tinggi atau propofol. terapi blokade neuromuskular lakukan terapi sekunder bila terapi primer belum berhasil yaitu: 1. menjaga suhu tubuh tetap normal (<37.25 g/KgBB.9 % atau ringer laktat. profilaktis antikonvulsan. keseimbangan cairan tercapai jika tekanan darah stabil normal. Terapi cairan pada saat awal cedera kepala dibatasi untuk mencegah bertambahnya edema serebri. Jika usaha tersebut diatas belum berhasil lakukan terapi primer yaitu: 1. jaga euvolemia 5. jaga CPP > 70 mmHg 6. drainase cairan cerebrospinal 2. denyut jantung normal dan volume urine normal >30 mL/jam. pemberian manitol per hari maksimal 200 gram. 2. jangan berikan cairan yang mengandung glukosa oleh karena hiperglikemia dapat menambah edema serebri. aksis tubuh netral. bolus manitol. misalnya pada cedera kepala dengan resiko kejang tinggi seperti impresi fraktur. Jumlah cairan di berikan 1500 – 2000 mL/hari berikan cairan kristaloid seperti NaCL 0. terapi sedativa ( narkotik dan karbamazepim) 3. kecuali jika ada tanda-tanda syok hemoragik. hiperventilasi ringan pertahankan Pa CO2±35 mmHg 4. . 2. berikan 0. lavage air es. minimal sampai minggu pertama setelah cedera kepala.

Dapat diberikan neuroprotektan misalnya sitikolin dengan dosis 1 – 1.5 gram/hari IV. PRESENTASI KASUS Identitas pasien . Zinc 12 mg/hari kadar gula dipertahankan < 200 mg/hari. Adanya selang waktu antara terjadinya trauma dengan timbulnya kerusakan jaringan.Kebutuhan energi pada cedera kepala meningkat rata-rata 40 % protein diberikan 1.52 g/Kgbb/hari.lipid 10-40% dari kebutuhan kalori perhari.

Bekasi Timur : 25 Maret 2007 : 28 Maret 2007 Anamnesis Keluhan utama Keluhan tambahan : Pingsan karena kecelakaan lalu lintas. Pasien jatuh tertelungkup dan dada mengenai aspal. Tiba-tiba sepeda motor mengerem mendadak kemudian motor oleng dan akhirnya pasien terjatuh. . Kepala pasien terbentur aspal dan langsung pingsan sekitar 10 menit. hipertensi disangkal. Ratna : Perempuan : 21 tahun :: SMA : Islam : Kp. : Nyeri pada pergelangan kaki kanan Riwayat perjalanan penyakit : ± 1 hari SMRS pasien mengalami kecelakaan lalu lintas pada saat dibonceng oleh temannya dengan sepeda motor yang berkecepatan tinggi ± 60 km/jam. diabetes mellitus disangkal. Rawa Aren RT 05/02 Kec. Kemudian pasien dibawa ke RSUD Bekasi atas permintaan pasien. kaki kanan pasien tertimpa sepeda motor. muntah (+).Diagnosis Nama Jenis kelamin Umur Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat Masuk tanggal Keluar tanggal : Cedera kepala ringan + defek pada fibula distal dextra + curiga defek talus dan calcaneus dextra : Nn. Pasien langsung dibawa ke RS Medika dan diberi obat penghilang rasa sakit. Riwayat penyakit dahulu : Jantung disangkal. Kemudian dilakukan foto rontgen kaki kanan dan CT-Scan kepala. Kedudukan dalam keluarga : Anak 4 dari 5 bersaudara Lingkungan tempat tinggal : Lokasi padat. Mual (+).

lemas.Pemeriksaan fisik Status generalis Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu RR Umur klinis Bentuk badan Gizi Stigmata Kulit Kuku KBG Turgor Status regional Kepala Kalvarium Wajah Mata Hidung Mulut Telinga Leher Toraks Paru-paru Jantung Abdomen : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : konjungtiva tidak anemis. murmur – : datar. lapang +/+. ronki -/-. sklera tidak ikterik : bentuk biasa. gallop -. retraksi – : bunyi nafas dasar vesikuler. BU +5 x/m : Tampak sakit sedang : E4V5M6. Composmentis : 110/60 mmhg : 70 X/menit : 36.5ºC : 20 X/menit : 20-an : biasa : cukup :: sawo matang : tidak sianosis : tidak teraba : baik . sekret -/: tidak ada kelainan : lapang +/+. sekret -/:jejas (-) : pergerakan dinding dada simetris kanan = kiri. wheezing -/: bunyi jantung I& II murni.

Composmentis Rangsang meningeal Kaku kuduk Brudzinki I Brudzinki II Laseque Kernig Saraf kranial N. IV.VI : Sikap bola mata : Ptosis -/Strabismus -/Exophtalmus -/Endophtalmus -/Diplopia -/::: -/: >70° />70º : -/- .I N.otot : tidak teraba : tidak teraba : tidak ada kelainan : tidak di lakukan : : terpasang spalk : nyeri tekan + : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan Pemeriksaan neurologis Kesadaran : E4M6V5.Hepar Lien Vesica urinaria Genitalia externa Extremitas Regio cruris dextra Inspeksi Palpasi Sendi Otot.III.II : Normosmia : Tajam penglihatan kasar baik Buta warna – Lapang pandang baik Funduskopi tidak dilakukan N.

simetris : baik. simetris . simetris : baik.Deviasi konjugae -/Pergerakan bola mata: Lateral kanan : baik.VII : Wajah simetris Kembung pipi baik Menyeringai baik Angkat alis baik Kerut dahi baik Sulcus nasolabialis simetris N. 3mm/3mm Reflex cahaya langsung +/+ Reflex cahaya tidak langsung +/+ Reflex akomodasi +/+ N. simetris Atas Bawah Berputar Pupil: Bulat Isokor . simetris Lateral kiri : baik.V : Motorik : Buka tutup mulut baik Gerakan rahang baik Sensorik : Rasa raba : kanan = kiri Rasa nyeri : kanan = kiri Reflex : Reflex kornea +/+ Reflex maseter + N.VIII : Test gesek jari +/+ Test berbisik +/+ Nistagmus + : baik.

N.XII : Menoleh kanan dan kiri baik : Julur lidah : Deviasi lidah – Gerakan lidah : baik Tenaga otot lidah : baik. XI N.IX. kanan= kiri Tremor – Fasikulasi - Motorik Derajat kekuatan otot : 5555 Tidak dapat diperiksa terpasang spalk Tonus otot Trofi otot Gerakan spontan abnormal : Normotoni : Eutrofi : Tetani Kejang Tremor Khorea Atetosis Balismus Diskinesia Miokonik Test koordinasi Statis : duduk Tidak dapat diperiksa – – – – – – – 5555 5555 . X : Uvula di tengah Arcus faring simetris Palatum molle simetris Disfoni Disfagi Batuk Mengejan Menelan - N.

berdiri Tidak dapat diperiksa berjalan Tidak dapat diperiksa Dinamis Reflex Fisiologis Biseps Triseps KPR APR Kulit Telapak kaki Kulit perut Anus interna Anus externa Patologis Babbinski Chaddock Oppenheim Gordon Schaeffer : -/: -/: -/: -/: -/: +/+ : + : tidak di lakukan : tidak di lakukan : ++/++ : ++/++ : tidak dapat diperiksa terpasang spalk/++ : tidak dapat diperiksa terpasang spalk/++ : telunjuk hidung baik Sensibilitas Exteroseptif Rasa raba Rasa nyeri : kanan = kiri : kanan = kiri .

pingsan < 10 menit.Vegetatif Miksi tidak ada kelainan Defekasi tidak ada kelainan Salivasi tidak ada kelainan Sekresi keringat tidak ada kelainan Fungsi luhur Memori amnesia (-) Bahasa tidak ada kelainan Afek dan emosi biasa Kognitif baik Visuospatial tidak di lakukan Resume Pasien seorang perempuan berusia 21 tahun datang ke RSUD Bekasi dengan keluhan utama pingsan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Composmentis Rangsang meningeal : - .5ºC : 20 X/menit Pemeriksaan neurologis GCS : E3M6V5. sakit pada kaki kanan. Pemeriksaan fisik Status generalis Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu RR : Tampak sakit sedang : Composmentis : 110/60 mmhg : 70 X/menit : 36.

Saraf kranialis Motorik : N VIII : Nistagmus (+) : 5555 Tidak dapat diperiksa terpasang spalk 5555 5555 Sensibilitas Fungsi luhur Reflex fisiologis Biseps Triseps KPR APR : kanan = kiri : baik : : ++/++ : ++/++ : tidak dapat diperiksa terpasang spalk/++ : tidak dapat diperiksa terpasang spalk/++ : -/: baik Reflex patologis Fungsi otonom Hasil CT-Scan Kepala : Gambar oedem cerebri ringan Gambar perdarahan kapsula 1-2 mm kanan Defek pada fibula distal dextra Curiga defek talus dan calcaneus dextra \ Foto rontgen cruris dextra : Diagnosa Klinis .

5 mg Ratan 2 X 1 ampul Brain act 3 x 1 ampul Kalnex 3 x 1 ampul Mefinal 3 x 500 mg Mertigo 3 x 1 Pemeriksaan penunjang Laboratorium darah lengkap Prognosis Ad vitam Ad sanationam Ad fungsionam : bonam : bonam : bonam Tanggal 25 Maret 2007 .Cedera Kepala Ringan + defek fibula distal dextra + curiga defek talus dan calcaneus dextra Topis Intraserebral Etiologis Trauma kapitis Therapy  IVFD  Medikamentosa : Asering 2 kolf / 24 jam : Eticlav 2 x 1 gr Somerol 2 x 62.

Hasil Pemeriksaan Laboratorium : LED Leukosit Hitung jenis Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit : 14 mm/jam : 11.4 g/dl : 34.5 % : 72.74 juta/µl Follow – up : .1 pg : 93 gr/dl : 345.600/µl : 0/2/1/64/31/2 : 11.000/µl Jumlah eritrosit : 4.8 fl : 24.

5ºC : 20 X/menit Pemeriksaan neurologis Rangsang meningeal Saraf kranial Motorik Derajat kekuatan otot : -/: N VIII : Nistagmus (+) : : 5555 Tidak dapat diperiksa terpasang spalk Tonus otot Trofi otot Gerakan spontan abnormal Test koordinasi Vegetatif Miksi Defekasi Keringat Reflex : baik : baik : baik : normotoni : eutrofi : : baik 5555 5555 .Tanggal 26 Maret 2007 (PH I) S O : sakit kepala. nyeri pada tungkai kanan : Status generalis Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu RR \ Status lokalis Regio cruris dextra : Inspeksi Palpasi : terpasang spalk : nyeri tekan + : tampak sakit sedang : composmentis : 110/80 mmhg : 76 X/menit : 36.

5 mg Frego 2 x 1 Tanggal 27 Maret 2007 (PH II) . Mercy L.00 : Konsul Bedah Ortopedi → pasien menolak Therapi : Thimelon 2 x 62. : Cedera Kepala Ringan Defek fibula distal Curiga defek talus dan calcaneus dextra P : IVFD mm/ : Asering 20 tts/mnt : Eticlav 2 x 1 gr Thimelon 2 x 62..S pkl 10. Sp.Fisiologis Patologis Fungsi luhur : ++/++ : --/-: memori : Segera Jangka pendek Jangka panjang : baik : baik : baik A.5 mg Ratan 2 X 1 ampul Brain act 3 x 1 ampul Kalnex 3 x 1 ampul Mefinal 3 x 500 mg Mertigo 3 x 1 Visite dr.

S O : nyeri pada tungkai kanan : Status generalis Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu RR Status lokalis Regio cruris dextra : Inspeksi Palpasi : terpasang spalk : nyeri tekan + : tampak sakit sedang : composmentis : 110/60 mmhg : 78 X/menit : 36.5ºC : 24 X/menit Pemeriksaan neurologis Rangsang meningeal Saraf kranial Motorik Derajat kekuatan otot : -/: defisit neurologis (-) : : 5555 Tidak dapat diperiksa terpasang spalk Tonus otot Trofi otot Gerakan spontan abnormal Test koordinasi Vegetatif Miksi Defekasi Keringat Reflex : baik : baik : baik : normotoni : eutrofi : : baik 5555 5555 .

Irwansyah. : Cedera Kepala Ringan Defek fibula distal Curiga defek talus dan calcaneus dextra P: IVFD : Asering 20 tts/mnt mm/ : Eticlav 2 x 1 gr Somerol 2 x 62.00 : Therapi diteruskan Boleh berobat jalan Pada tanggal 28 Maret 2007 pkl 08.Fisiologis Patologis Fungsi luhur : ++/++ : --/-: memori : Segera Jangka pendek Jangka panjang : baik : baik : baik A. ANALISA KASUS .5 mg Ratan 2 X 1 ampul Brain act 3 x 1 ampul Kalnex 3 x 1 ampul Mefinal 3 x 500 mg Mertigo 3 x 1 Visite dr. Sp.S pkl 14.00 : pasien keluar dari RSUD Bekasi dalam keadaan baik.

disertai sakit kepala. mual dan muntah. kaki kanan terpasang spalk. Saat pasien masuk dalam ruang perawatan pasien telah terpasang infuse Asering. Dan foto Rontgen cruris dextra didapatkan adanya defek pada fibula distal dextra dan curiga defek talus dan calcaneus dextra. Pemberian ratan (ranitidine) 2 x 1 amp di gunakan untuk mencegah strees ulcer yang dapat menyebabkan perdarahan. pada pemeriksaan saraf karanial N VIII didapatkan nistagmus. Pemberian somerol / thimelon (methylprednisolon) 2 x 62.Diagnosis cedera kepala ringan di tegakkan atas autoanamnesis di dapatkan bahwa pasien mengalami kecelakaan motor dan terbentur di daerah kepala. Pemberian ethiclaf ( cefotaxime ) 2 x 1 gr bertujuan untuk mencegah adanya infeksi sekunder. Sehingga penggunaan steroid pada cedera kepala tidak dianjurkan. Pemberian Mefinal (asam mefenamat) 3 x 500 mg bertujuan untuk mengurangi rasa sakit yang diakibatkan adanya defek pada fibula distal dextra dan curiga defek talus dan calcaneus dextra. Namun berdasarkan penelitian terakhir menunjukkan bahwa steroid tidak bermanfaat baik dalam mengendalikan kenaikan tekanan intracranial maupun memperbaiki hasil terapi penderita dengan cedera kepala berat.5 mg ini bertujuan untuk mengurangi terjadinya edema serebri. Pemberian infuse Asering di sini sudah tepat. ditemukan gambar oedem cerebri ringan dan gambar perdarahan kapsula 1-2 mm kanan. Karena Asering merupakan cairan kristaloid yang tidak mengandung glukosa oleh karena hiperglikemia dapat menyebabkan edema serebri. Pemberian brain act (citycoline) 3 x 1 amp sebagai neuroprotektan terhadap kerusakan otak sekunder. telah di lakukan CT-Scan kepala. Dari pemeriksaan fisik di dapatkan kesadaran composmentis dengan GCS E3M6V5. Pemberian kalnex sebagai anti perdarahan cerebri. DAFTAR PUSTAKA . kemudian pasien pingsan < 10 menit .

Penanganan cedera kepal di puskesmas. K. Bogor 1992 Wim de jong.1997 :195 -227 Budi Ryanto. Soertidewi. Trauma kapitis : dalam buku advanced trauma life support. Jakarta 1997: 1170-1171 asra alfauzi. W. 5. Epidemiologi dan patofisiologi cedera kranio serebral. Jakatra. Buku ajar ilmu bedah. 7. Perdarahan Intrakranial Akibat Cedera Kranioserebral di RSCM. 8. 2000 Mardjono. Penatalaksanaan non bedah pada cedera kepala : paper bagian saraf FKUI/RSUPN. Jofizal Jannis. Edisi 4. SMF. Surabaya Yuda Turana. Soetomo. Ikatan ahli bedah Indonesia (penerjemah). 2000 American college of surgeon. N. 4. M. penerbit EGC. Edisi revisi. Sjamsuhidajat. Pendekatan diagnostik cedera kranio serebral. Ilmu penyakit saraf FKUP – RSHS Bandung. 6. 9. bagian farmakologi fakultas kedokteran universitas indonesia. 3. Bagian neurologi RSCM. farmakologi dan terapi. penatalaksaan fase akut cedera kepala. Mei 2000 lyna.cermin dunia kedokteran.jakarta 2001 adelina yasmar alfa. Bagian Neurologi FKUI / RSUPN Cipto Mangunkusumo. Abdulbar Hamid. Mei 2000 CASE . Jakarta. Ilmu Bedah Saraf FK UNAIRRSUD Dr.1. Jakarta. R.. 2.

Tobing.DISUSUN OLEH : AINA CHRISTINA WONG (00 – 116) PEMBIMBING : Dr.S KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF PERIODE 26 MARET – 28 APRIL 2007 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA JAKARTA . Mercy L. Sp.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.