P. 1
Pengaruh HD reuse pada PGK

Pengaruh HD reuse pada PGK

|Views: 100|Likes:
Published by Lely Hudoyo
Pendahuluan
Pendahuluan

More info:

Published by: Lely Hudoyo on Oct 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2014

pdf

text

original

BAB 1. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan suatu keadaan hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan diet normal yang terjadi progresif dan lambat biasanya berlangsung selama beberapa tahun (Wilson, 2006). Pada pasien PGK, klasifikasi stadium ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) sesuai dengan rekomendasi NKF-K/DOQI (2002), yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai LFG yang lebih rendah. Klasifikasi tersebut membagi penyakit ginjal kronik menjadi 5 stadium. (Suwitra, 2009). Penurunan LFG <50% menandakan terjadinya kehilangan fungsi nefron yang tersisa walaupun penyakit/kelainan yang menyebabkan PGK tersebut bisa dikontrol. Perburukan fungsi ginjal ini ditandai oleh proteinuri, hipertesi, makin menurunnya LFG dan secara klinis keadaan umum penderita akan semakin memburuk. Bila LFG telah mencapai nilai <15 ml/menit/1,73 disebut sebagai gagal ginjal terminal (End Stage Renal Disease

(ESRD)) (Bakri, 2005). Perhitungan angka prevalensi Menurut USRDS (United States Renal Data System) Annual Data Report 2012, PGK stadium 5 di Amerika Serikat pada tahun 2010 adalah 580.741 kasus/1 juta penduduk, meningkat bila dibandingkan pada tahun 2009 dengan jumlah sebesar 559.448 kasus/1 juta penduduk. Di negara berkembang seperti Thailand, perhitungan angka prevalensi PGK stadium 5 pada tahun 2010 adalah 40.845 kasus/1 juta penduduk, meningkat bila dibandingkan pada tahun 2009 dengan jumlah sebesar 35.110 kasus/1 juta penduduk. Sedangkan untuk insidensi PGK stadium 5 di negara maju seperti Inggris pada tahun 2010 adalah 136 kasus/1 juta penduduk, menurun bila dibandingkan dengan tahun 2009 dengan jumlah sebesar 140 kasus/1 juta penduduk. Namun hal yang berbeda terjadi di negara berkembang seperti Malaysia, pada tahun 2010, insidensi PGK stadium 5 adalah 183 kasus/1 juta penduduk, meningkat bila dibandingkan pada tahun 2009 dengan jumlah sebesar 175 kasus/1 juta penduduk. Di Indonesia sendiri belum terdapat data pasti tentang jumlah pasien PGK stadium 5.

2

Penumpukan toksin, cairan, dan elektrolit yang pada keadaan normal diekskresikan oleh ginjal menyebabkan suatu keadaan sindrom uremik. Keadaan ini dapat berujung kematian jika toksin tersebut tidak dikeluarkan dari tubuh melalui suatu terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy) antara lain hemodialisis (HD), peritonial dialisis atau transplatasi ginjal (Bargman, 2012). Khusus di Indonesia transplantasi ginjal sangat langka, bukan masalah teknik medik tetapi keterbatasan donor hidup keluarga dan donor mayat (cadaver) masih belum mempunyai tempat. Perkembangan dialisis peritoneal di Indonesia masih tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya karena masalah biaya yang lebih mahal dari HD, sanitasi lingkungan, dan tingkat pendidikan untuk sebagian besar pasien (Sukandar, 2006). Di Indonesia, HD masih menjadi terapi pengganti ginjal pilihan dengan bukti terjadinya kenaikan populasi pasien HD reguler terutama pasien PNS karena mendapat dukungan biaya dari PT ASKES Indonesia. Di Kabupaten Jember sendiri saat ini sudah ada 4 rumah sakit yang telah memiliki instalasi hemodialisa. Di Amerika Serikat, pembiayaan untuk HD selama setahun pada tahun 2010 adalah sebesar 23,6 milyar dollar Amerika atau 87.561 dollar per pasien per tahun (USRDS, 2012). Penelitian oleh Prodjosudjadi dan Suhardjono (2009), mendapatkan angka prevalensi PGK stadium 5 yang menjalani HD per sejuta populasi Indonesia pada tahun 2002 sebesar 10,2%, tahun 2003 sebesar 11,7%, tahun 2004 sebesar 13,8%, tahun 2005 sebesar 18,4% dan tahun 2006 sebesar 23,4%. Menurut Annual Report tahun 2011 dari PT. ASKES, memperlihatkan kenaikan jumlah pelayanan dan biaya untuk pasien PGK stadium 5. Pada tahun 2009, jumlah pelayanan sebesar 549.550 dengan biaya 99 milyar rupiah, meningkat pada tahun 2010 dimana jumlah pelayanan sebesar 572.817 dengan biaya 148,9 milyar rupiah dan meningkat lagi pada tahun 2011 dengan jumlah pelayanan sebesar 1.135.471 dengan biaya 316,4 milyar rupiah. Pembiayaan untuk HD pasien PGK stadium 5 menduduki peringkat 2 dibawah penyakit jantung. Melihat mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk HD, pemakaian ulang dialyzer (re-use dialyzer) mulai dilakukan sekitar 2-3 dekade terakhir untuk

3

menghemat biaya yang dikeluarkan. Re-use dialyzer berarti dialyzer yang sama digunakan lebih dari sekali untuk pasien yang sama. Dialyzer ini akan digunakan kembali setelah dibersihkan dan didisinfektan (NKF-K/DOQI, 2005). Pada tahun 2002, di Amerika Serikat, terdapat sekitar 78% klinik HD yang menggunakan tehnik re-use dialyzer (NKF-K/DOQI, 2002). Dilaporkan di Amerika Serikat sekitar 80% pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani HD menggunakan tehnik re-use dialyzer, dan presentase lebih kecil sekitar 10% di Eropa. Belum terdapat data pasti tentang penggunaan re-use dialyzer di Indonesia (Rahardjo, 2009). Adekuasi hemodialisis (AHD) saat ini masih menjadi kendala utama dalam penerapan dialyzer re-use di Indonesia. Terapi HD secara umum dikatakan adekuat apabila pasien memperlihatkan keadaan umum dan status nutrisi baik tanpa presentasi terkait akumulasi toksin azotemia. Kriteria klinik utama dialisis adekuat diantaranya meliputi tekanan darah normal, tidak ada presentasi anemia, tercapai keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa (Sukandar, 2006). Telah diketahui bahwa tidak adekuatnya suatu tindakan HD akan meningkatkan mortalitas. Di Amerika Serikat penderita yang mengalami tindakan HD reguler tidak adekuat 22-24% , di Jepang dan di Eropa 10 –15 %. Masalah tersebut menjadi sangat penting karena mortalitas pasien PGK stadium 5 yang menjalani HD reguler terus meningkat, seperti di Amerika Serikat 1981 mortalitasnya 21,0% dan tahun 1988 24,3%. Akibat tidak adekuatnya HD menyebabkan kerugian materi yang sangat besar dan tidak produktifnya penderita HD reguler tersebut. (Gatot, 2003). Sejauh ini penelitian tentang dialyzer re-use lebih mengarah kepada penilaian terhadap parameter fungsi ginjal/renal function test (RFT) seperti LFG, kreatinin, ureum maupun asam urat. Penelitian tentang penggunaan dialyzer reuse di instalasi hemodialisa RSD dr. Subandi Jember antara lain yang pernah dilakukan oleh Yustina (2010) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara penurunan kadar kreatinin sebelum dan sesudah HD menggunakan dialyzer baru dan re-use.

4

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melakukan studi tentang pengaruh dialyzer re-use terhadap AHD pada pasien PGK stadium 5 (ESRD) di RSD dr.Subandi Jember ditinjau dari nilai URR, tekanan darah, berat badan, dan hemoglobin karena di rumah sakit tersebut belum ada suatu penelitian tentang hal tersebut.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah bagaimanakah pengaruh dialyzer re-use terhadap adekuasi hemodialisis di RSD dr.Subandi Jember ditinjau dari nilai URR, tekanan darah, berat badan, dan hemoglobin.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum Untuk mengetahui pengaruh pengunaan dialyzer re-use terhadap adekuasi HD pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 di RSD dr. Subandi Jember.

1.3.2

Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui karakteristik penderita PGK stadium 5 yang menjalani HD di RSD dr. Subandi Jember yang meliputi : jenis kelamin, usia, tempat tinggal, pekerjaan, dan penyakit yang mendasari pasien. b. Untuk membandingkan pengeluaran biaya pasien PGK stadium 5 berdasarkan jenis dialyzer di RSD dr. Subandi Jember. c. Untuk membandingkan URR pasien PGK stadium 5 berdasarkan jenis dialyzer di RSD dr. Subandi Jember. d. Untuk membandingkan tekanan darah pasien PGK stadium 5 berdasarkan jenis dialyzer di RSD dr. Subandi Jember. e. Untuk membandingkan berat badan pasien PGK stadium 5 berdasarkan jenis dialyzer di RSD dr. Subandi Jember.

5

f. Untuk membandingkan nilai hemoglobin pasien PGK stadium 5 berdasarkan jenis dialyzer di RSD dr. Subandi Jember.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Pasien a. Adanya data ilmiah tentang pengaruh dialyzer re-use terhadap AHD sehingga pasien tidak perlu khawatir lagi terhadap isu – isu yang terkait dengan dialyzer re-use b. Adanya data ilmiah tentang pengaruh dialyzer re-use terhadap AHD menjadi jaminan bahwa pasien dapat mendapatkan terapi HD yang adekuat dengan biaya yang lebih terjangkau.

1.4.2 Bagi Pelayanan Kesehatan Adanya data ilmiah tentang pengaruh dialyzer re-use terhadap AHD pada pasien PGK stadium 5 yang menjalani HD di RSD dr.Subandi Jember dapat digunakan untuk mengetahui angka kejadian dan upaya untuk menanggulanginya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi pasiennya dengan biaya yang lebih terjangkau.

1.4.3 Bagi Ilmu Pengetahuan Adanya data ilmiah tentang pengaruh dialyzer re-use terhadap AHD pada pasien PGK stadium 5 yang menjalani HD di RSD dr.Subandi Jember yang dapat digunakan sebagai bahan acuan penelitian selanjutnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->