PELANGGARAN HUKUM LAUT

Setelah konferensi di bawah LBB mengalami kegagalan dirasakan perlumengadakan konferensi hukum laut di bawah naungan PBB. Di bawah PBB dilaksanakanUNCLOS I (United Nations Convention on The Law of The Sea) di Jenewa pada tanggal24 Februari – 27 April 1958. Konferensi dihadiri 700 delegasi dari 86 negara, termasuk Indonesia. Dalam rangka menyambut konferensi tersebut, pada tanggal 13 Desember 1957 Perdana Menteri Djuanda memproklamasikan hukum laut Indonesia yang dikenal dengan Deklarasi Djoeanda.
Konferensi tersebut berhasil menyetujui 4 buah konvensi, yaitu: 1. Konvensi tentang laut teritorial dan zona tambahan (convention on territorial sea and the contigous zone). 2. Konvensi tentang perikanan dan konservasi sumber daya alam hayati dan laut lepas (convention on fishing and conservation of the living resources of the high sea). 3. Konvensi tentang hukum laut lepas (convention on the high sea). 4. Konvensi tentang landas kontinen (convention on the continental shelf). Selain itu konferensi juga menyetujui 9 resolusi yang meliputi tes nuklir di laut lepas, polusi laut lepas oleh bahan-bahan radio aktif, konservasi perikanan internasional,kerjasama dalam upaya-upaya konservasi, pembunuhan oleh manusia terhadap makhluk hidup kelautan, situasi khusus tentang penangkapan ikan pantai, ketentuanketentuantentang perairan sejarah, dan menentukan waktu penyelenggaraan UNCLOS II.Akan tetapi UNCLOS I gagal untuk menetapkan lebar laut teritorial dan batas zona perikanan karena usulan masing-masing negara peserta tidak mendapatkan dukunganmayoritas. Negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, negara-negara Arab dan Blok UniSoviet menghendaki batas laut teritorial 12 mil. Sedangkan negara-negara maritim diEropa menghendaki 3 mil. Oleh karena tidak tercapai kesepakatan beberapa negara pantai dan kepulauan termasuk Indonesia kemudian menetapkan secara sepihak bataslaut teritorial. Secara umum sebagian besar dari negara pantai membatasi tuntutan sampai12 mil laut kecuali beberapa negara seperti Chile, Equador, dan Peru yang menuntutsampai 200 mil. Pada tanggal 6 – 10 Desember 1982 di Montego Bay Jamaica ditandatangani Conventionon the Law of the Sea III yang merupakan aturan-aturan hukum laut yang panjang, terdiridari 320 pasal dan 9 annex. Konvensi hukum laut 1982 ini ditandatangani oleh 119negara.Sebanyak 80 negara pada UNCLOS III bersepakat untuk menentukan batas 12 mil untuk laut teritorial yang diukur dari garis-garis pangkal. Indonesia pun mengadopsi danmenggunakan ketentuan ini sebagai batas dengan ratifikasi melalui UU No. 17 rahun 1985.Zona tambahan atau contiguous zone merupakan bagian tradisional dari laut lepas tetapi negaradapat melakukan fungsi-fungsi tertentu di dalam zona ini. Negara-negara pantai dapatmelakukan pengawasan yang diperlukan untuk mencegah berbagai pelanggaran yang terjaditerhadap peraturan douane, pajak, imigrasi, dan kesehatan di laut teritorialnya danmenghukum para pelanggar ketentuan tersebut. Zona tambahan diatur sejauh 24 mil darigaris

yaitu: 1. Zona ekonomi ekslusif (ZEE)merupakan laut yang bersambung dengan laut teritorial denganluas tidak lebih dari 200 mil. dasar lautdan tanah di bawahnya. Di laut lepas terdapat beberapa kebebasan. tanah. Laut lepas adalah seluruh bagian laut yang tidak termasuk laut pedalaman dan laut teritorialsuatu negara. Bila tidak diatur dalam perjanjian internasional. Landas kontinen terdiri dari dasar laut dan tanah di bawahnya yang menyambung dari laut teritorial negara pantai. 3. melakukan penahanan. Hak kedaulatan (souvereignth rights) untuk mengadakan eksploitasi. risetilmiah.seperti: 1. 3. dalam menerapkan hukuman negara pantai tidak diperbolehkan untuk memenjarakan awak kapal. Menaiki kapal untuk melakukan inspeksi. denganmemberitahukan tindakan yang diambil serta denda yang dikenakan. kapal dan awaknya segeradibebaskan. perlindungan dan pem-binaan lingkungan maritim. Negara-negara pantai memiliki kedaulatan atas dasar laut dan tanah di bawahnya sertahak eksklusif untuk mengatur segala sesuatu yang bertalian dengan eksploitasi sumber daya alam. Adapun hak-hak negara pantai di ZEE adalah: 1. 2. 4. negara pantai tersebut wajib memberitahu perwakilan negara yang merupakan negara asal dari kapal tersebut. Kebebasan melakukan penangkapan ikan 3. dan mengadili kapal beserta awak asing yang melakukan pelanggaran. Kebebasan pelayaran 2.pangkal. Hak kedaulatan atas eksplorasi dan eksploitasi produksi energi air. Ketika melakukan penangkapan kapal asing. instalasi dan bangunan. Laut Iepas terbuka untuk semua bangsa dan tidak ada satu bangsa atau satunegara pun yang memilikinya secara syah. Jika mereka yang ditahan itu sudah membayar jaminan.ketika mengukur laut teritorial. angin. Selain itu negara pantai berhak untuk menegakkan perundang-undangan dan hukum dengan berbagai cara. konservasi danmengurus sumber kekayaan alam hayati dan nonhayati dari perairan. Kebebasan untuk meletakan kabel-kabel maupun pipa-pipa bawah laut . Yurisdiksi untuk pendirian dan pemanfaatan pulau buatan. melalui kelanjutan alamiah dari wilayah daratannya sampai pada ujung luar tepian kontinen atau sampai pada jarak 200 mil laut dari garis pangkal. 2.

Alur-alur kepulauan harus cocok digunakan untuk lintas kapal dan pesawat asing yangterusmenerus dan langsung. Menghadapikegagalan UNCLOS I dalam menetapkan batas laut teritorial. Indonesia telah menetapkan alur-alur laut kepulauan Nusantara pada Rapat Kerja Nasional tentang ALKI di Cisarua pada tanggal 17-19 Januari 1995. Dengan Deklarasi ini. DeklarasiDjuanda ini telah menjadi dasar lahirnya Wawasan Nusantara.4. 2. Kebebasan untuk melakukan riset ilmiah sesuai ketentuan-ketentuan Bab VI dan XIII. Kebebasan penerbangan. ALKI III: Selat Lombok — Selat Makasar — Laut Sulawesi. ketentuan tentang alur-alur laut kepulauan juga menjamin hal-hal sebagai berikut: 1. Hak lintas alur laut kepulauan diperuntukkan bagi kapal dan pesawat udara jenis apa pun (all ships and aircraft). Pemerintah Indonesia membuatlangkah bagus dengan Perpu tersebut untuk menghadapi UNCLOS II tahun I960. 6.Penetapan Peraturan Pemerintah No. ALKI IV: Laut Maluku – Laut Seram – Laut Banda – Selat Ombai — LautSawu/Laut Timor/Laut Arafura. Indonesia dan Hukum Laut Laut Indonesia semula diatur dalam Ordonansi 1939 tentang Wilayah Laut dan LingkunganMaritim (Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonnantie 1939) yang menetapkanlaut teritorial selebar 3 mil. Lebar laut teritorial itu kemudian ditambah menjadi 12 mil berdasarkan pengumuman Pemerintah Indonesia pada tanggal 13 Desember 1957 atau lebihdikenal dengan sebutan Deklarasi Djuanda. laut yang tadinya menjadi bagian dari laut lepas menjadi laut teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. Selain itu. Kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lain-nya yang diizinkanhukurn internasional sesuai dengan ke-tentuan Bab VI dan XII. 5. ALKI 1: Selat Malaka — Laut Singapura — Laut Natuna — Laut Cina Selatan. berupa 4 buahALKI Utara-Selatan. 2. Rute penerbangan hanya akan ada di atas (there above) alur-alur laut kepulauan. 3. 4. 4 tahun I960 tentang perairan Indonesia inimerupakan langkah besar Pemerintah Indonesia dalam upaya melindungi laut. 1. ALKI 2: Selat Sunda — Selat Karimata — Laut Natuna -Laut Cina Selatan/LautSingapura. .

Dengan Malaysia mencakup penentuan batas teritorial.Indonesia yang memiliki batas 12 mil laut teritorial memiliki kedaulatan penuh untuk melindungi sumber-sumber ekonomi yang dihasilkan oleh laut tersebut. Misalnya. Potensi konflik di laut antara Indonesia dan negara lain mecakup hal-hal sebagai berikut: 1. Perlindungan terhadap transportasi laut 4. dan penentuan bataslandas kontinen. Perlindungan tersebut terdiriatas: 1. Kedaulatan ini berarti juga hak untuk menguasaisepenuhnya seluruh sumber daya alam hayati dan nonhayati yang ada di wilayah lautteritorial tersebut. Sebagai konsekuensi penguasaan wilayah yang begitu besar diperlukan hukum laut untuk melindungi sumber-sumber ekonomi. . laut. Penguasaan ini merupakan suatu penambahan sumber ekonomi dari laut yang berasal dari wilayah lautteritorial. Vietnam dan Philipina mencakup masalah penetapan landaskontinen dan penentuan batas ZEE. Perlindungan terhadap wisata bahari 5. Perlindungan terhadap pelabuhan.Dengan Australia. Perlindungan terhadap sumber mineral laut 2. ZEE.Di laut teritorial negara pantai mempunyai kedaulatan penuh untuk mengatur.Penambahan dan perluasan wilayah laut Indonesia bisa menjadi dasar tumpuan pembangunan. Dengan konsepini wilayah Indonesia dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan antaradarat. Perlindungan terhadap industri perikanan 3.Sumbangan ekonomi dari laut ini semakin bertambah setelah Indonesia berhasilmemperjuangkan statusnya sebagai negara kepulauan melalui konsep Wawasan Nusantarayang telah diakui secara internasional dalam UNCLOS III. termasuk dasar laut dan udara di atas wilayah tersebut. disertai dengan kewajiban untuk menjaminhak lintas damai bagi kapal-kapal asing. Penambahan luas lautan dapat atau telah menimbulkan sengketa internasional antaraIndonesia dan beberapa negara yang selama ini bersentuhan dengan ZEE karena persoalan ekonomi. Kelima sumber ekonomi di atas harus betul-betul dilindungi dengan baik melalui penegakan hukum karena laut merupakan sumber ekonomi yang dapat diandalkan padahari ini maupun masa yang akan datang. 2. Demikian pula tambahan penguasaan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil yang diukur dari garis laut teritorial merupakan sumber ekonomiyang dapat diandalkan untuk memakmurkan rakyat Indonesia melalui laut. tahun 1982. kapal-kapal berbendera asing yang selama ini melakukan penangkapan ikan di wilayah ZEE jadi mengalami kesulitan karena setelah wilayah tersebut menjadi bagian Indonesia maka setiap bentuk kegiatan di zona ini harus mendapatkan restu dari Pemerintah Indonesia. dan udara.

3. mencakup penentuan batasZEE. mencakup penetapan batas teritorial. Thailand dan Palau. . India.Dengan Papua Nugini.Dengan Singapura. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful