You are on page 1of 45

Konsep Pendidikan Islam A.

Latar Belakang Masalah Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung lama, yaitu sepanjang sejarah manusia itu sendiri, dan seiring pula dengan perkembangan sosial budayanya. Secara umum memang aktivitas pendidikan sudah ada sejak manusia diciptakan. Betapapun sederhana bentuknya manusia memerlukan pendidikan, sebab manusia bukan termasuk makhluk instinkif. Menurut pandangan Islam, pendidikan sebagai suatu proses yang berawal dari saat Allah sebagai Rabb al-Alamin menciptakan alam ini. Selanjutnya tugas-tugas kependidikan itu dilimpahkan kepada Para Nabi dan Rasul untuk mendidik manusia di muka bumi. Sehubungan dengan hal itu, maka para ahli didik muslim kemudian berusaha menemukan kembali pedoman tersebut dengan menyusun konsep pendidikan Islam dalam konteks zamannya. Dalam pengertian umum pendidikan sering diartikan sebagai usaha pendewasaan manusia. Tetapi merujuk kepada informasi Al-Quran pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai pendidik Yang Maha Agung. Kosa kata Rabba yang dirujuk sebagai akar kata dari konsep tarbiyah atau pendidikan, pada hakikatnya merujuk kepada Allah sebagi Murabby sekalian alam. Kata Rabb dan Murabby berasal dari akar kata seperti temuan dalam ayat Al-Quran yaitu: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku waktu kecil. (QS. Al-Isro:24) Dengan demikian dalam makalah ini akan bemberikan suatu kontribusi untuk

page 1 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ pembaca supaya sadar akan pendidikan Islam yang sebenarnya. Dengan itu langkah yang kita lakukan dalam dunia pendidikan khususnya tidak luar konsep pendidikan Islam yang telah direncanakan sejak awal. 1. A. Pengertian Pendidikan Islam Secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab Tarbiyah dengan kata kerjanya Robba yang berarti mengasuh, mendidik, memelihara.(Zakiyah Drajat, 1996: 25) Menurut pendapat ahli, Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. (Hasbullah, 2001: 4) Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. (Ngalim Purwanto, 1995:11). HM. Arifin menyatakan, pendidikan secara teoritis mengandung pengertian memberi makan kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan menumbuhkan kemampuan dasar manusia.(HM.Arifin, 2003: 22) Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab 1 pasal 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU Sisdiknas No. 20, 2003) Pendidikan memang sangat berguna bagi setiap individu. Jadi, pendidikan merupakan suatu proses belajar mengajar yang membiasakan warga masyarakat sedini mungkin menggali, memahami, dan mengamalkan semua nilai yang disepa kati sebagai nilai terpuji dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. page 2 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ Pendidikan Islam menurut Zakiah Drajat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis. (Zakiah Drajat,1996: 25) Menurut pendapat lain pendidikan Islam adalah suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam, atau menurut Abdurrahman an-Nahlawi, pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah. Dengan demikian, pendidikan Islam berarti proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik (Insan Kamil).

1. B.

Ruang Lingkup Pendidikan Islam

Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al Quran dan Sunnah (Hadist). 1. 1. Pendidikan Keimanan

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran kepadanya:hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesengguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang nyat a. (Q.S 31:13) page 3 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ Bagaimana cara mengenalkan Allah SWT dalam kehidupan anak? a) Menciptakan hubungan yang hangat dan harmonis (bukan memanjakan)

Jalin hubungan komunikasi yang baik dengan anak, bertutur kata lembut, bertingkah laku positif. Hadits Rasulullah: cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka: (H.R

Bukhari) Barang siapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia turut berlaku kekanak-kanakkan kepadanya. (H.R Ibnu Babawaih dan Ibnu Asakir) b) Menghadirkan sosok Allah melalui aktivitas rutin

Seperti ketika kita bersin katakan alhamdulillah. Ketika kita memberikan uang jajan katakan bahwa uang itu titipan Allah jadi harus dibelanjakan dengan baik seperti beli roti. c) Memanfaatkan momen religious

Seperti Sholat bersama, tarawih bersama di bulan ramadhan, tadarus, buka shaum bareng. d) Memberi kesan positif tentang Allah dan kenalkan sifat-sifat baik Allah

Jangan mengatakan nanti Allah marah kalau kamu berbohong tapi katakanlah anak yang jujur disayang Allah. e) Beri teladan

page 4 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ Anak akan bersikap baik jika orang tuanya bersikap baik karena anak menjadikan orang tua model atau contoh bagi kehidupannya. Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.(Q.S 61:2-3) f) Kreatif dan terus belajar

Sejalan dengan perkembangan anak. Anak akan terus banyak memberikan

pertanyaan. Sebagai orang tua tidak boleh merasa bosan dengan pertanyaan anak malah kita harus dengan bijaksana menjawab segala pertanyaannya dengan mengikuti perkembangan anak. 1. 2. Pendidikan Akhlak

Hadits dari Ibnu Abas Rasulullah bersabda: Akrabilah anak-anakmu dan didiklah akhlak mereka. Rasulullah saw bersabda: Suruhlah anak-anak kamu melakukan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah mereka kalau meninggalkan ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka. (HR. Abu Daud) Bagaimana cara megenalkan akhlak kepada anak : page 5 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ a) Penuhilah kebutuhan emosinya

Dengan mengungkapkan emosi lewat cara yang baik. Hindari mengekspresikan emosi dengan cara kasar, tidak santun dan tidak bijak. Berikan kasih saying sepenuhnya, agar anak merasakan bahwa ia mendapatkan dukungan. Hadits Rasulullah : Cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka : (H.R Bukhari) b) Memberikan pendidikan mengenai yang haq dan bathil

Dan janganlah kamu campur adukan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui .(Q.S 2:42) Seperti bahwa berbohong itu tidak baik, memberikan sedekah kepada fakir miskin

itu baik. c) Memenuhi janji

Hadits Rasulullah :. Jika engkau menjanjikan sesuatu kepada mereka, penuhilah janji itu. Karena mereka itu hanya dapat melihat, bahwa dirimulah yang memberi rizki kepada mereka. (H.R Bukhari) d) e) Meminta maaf jika melakukan kesalahan Meminta tolong/ mengatakan tolong jika kita memerlukan bantuan.

page 6 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ f) 1. 3. Mengajak anak mengunjungi kerabat Pendidikan intelektual

Menurut kamus Psikologi istilah intelektual berasal dari kata intelek yaitu proses kognitif/berpikir, atau kemampuan menilai dan mempertimbangkan. Pendidikan intelektual ini disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak. Menurut Piaget seorang Psikolog yang membahas tentang teori perkembangan yang terkenal juga dengan Teori Perkembangan Kognitif mengatakan ada 4 periode dalam perkembangan kognitif manusia, yaitu: - Periode 1, 0 tahun 2 tahun (sensori motorik) Mengorganisasikan tingkah laku fisik seperti menghisap, menggenggam dan memukul pada usia ini cukup dicontohkan melalui seringnya dibacakan ayat-ayat suci al-Quran atau ketika kita beraktivitas membaca bismillah. - Periode 2, 2 tahun 7 tahun (berpikir Pra Operasional) Anak mulai belajar untuk berpikir dengan menggunakan symbol dan khayalan

mereka tapi cara berpikirnya tidak logis dan sistematis. Seperti contoh nabi Ibrahim mencari Robbnya. - Periode 3, 7 tahun- 11 tahun (Berpikir Kongkrit Operasional) Anak mengembangkan kapasitas untuk berpikir sistematik. Contoh: Angin tidak terlihat tetapi dapat dirasakan begitu juga dengan Allah SWT tidak dapat dilihat tetapi ada ciptaannya. - Periode 4, 11 tahun- Dewasa (Formal Operasional) page 7 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ Kapasitas berpikirnya sudah sistematis dalam bentuk abstrak dan konsep 1. 4. Pendidikan fisik

Dengan memenuhi kebutuhan makanan yang seimbang, memberi waktu tidur dan aktivitas yang cukup agar pertumbuhan fisiknya baik dan mampu melakukan aktivitas seperti yang disunahkan Rasulullah Ajarilah anak-anakmu memanah, berenang dan menunggang kuda. (HR. Thabrani) 1. 5. Pendidikan Psikis

Dan janganlah kamu bersifat lemah dan jangan pula berduka cita, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. 3:139) - Memberikan kebutuhan emosi, dengan cara memberikan kasih saying, pengertian, berperilaku santun dan bijak. - Menumbuhkan rasa percaya diri

- Memberikan semangat tidak melemahkan 1. C. Tujuan Pendidikan Islam Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56: page 8 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. Jalal menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah Haji, serta mengucapkan syahadat. Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah merupakan kewajiban orang islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar. Ibadah ialah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah. Menurut al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah:

1. Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat. 2. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat. 3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat. Menurut Imam Ghazali, Tujuan Pendidikan yaitu pembentukan insani paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan mengamalkan fadhilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Tujuan-tujuan individual yang ingin dicapai oleh Pendidikian Islam secara keseluruhan berkisar pada pembinaan pribadi Muslim yang terpadu pada perkembangan pada segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan sosial. Dan hakikatnya adalah pengabdian kepada Allah SWT. page 9 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ QS. Al-Anbiya; 25: .( ) Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelummu, melainkan kami mewahyukan kepadanya, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Aku. Maka

mengabdillah kalian kepada-ku. (Surah Al-Anbiya ayat 25) 1. D. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam Memang tidak diragukan bahwa ide mengenai prinsip-prinsip dasar pendidikan banyak tertuang dalam ayat-ayat al Quran dan hadits nabi. Dalam hal ini akan dikemukakan ayat ayat atau hadits hadits yang dapat mewakili dan mengandung ide tentang prinsip prinsip dasar tersebut, dengan asumsi dasar, seperti dikatakan an Nahlawi bahwa pendidikan sejati atau maha pendidikan itu adalah Allah yang telah menciptakan fitrah manusia dengan segala potensi dan kelebihan serta menetapkan hukum hukum pertumbuhan, perkembangan, dan interaksinya, sekaligus jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya. Prinsip prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 1. 1. Prinsip Integrasi

Adalah suatu prinsip yang seharusnya dianut adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu, mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat dielakkan agar masa kehidupan di dunia ini benar benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa ke akhirat. Perilaku yang terdidik dan nikmat Tuhan apapun yang didapat dalam kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan kelayakan itu terutama dengan mematuhi keinginan Tuhan. Allah Swt Berfirman, Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kanu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi... (QS. Al Qoshosh: 77). Ayat ini menunjukkan kepada prinsip integritas di mana diri dan segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni kebajikan dalam rangka pengabdian kepada Tuhan.

page 10 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ 1. 2. Prinsip Keseimbangan.

Karena ada prinsip integrasi, prinsip keseimbangan merupakan kemestian, sehingga dalam pengembangan dan pembinaan manusia tidak ada kepincangan dan kesenjangan. Keseimbangan antara material dan spiritual, unsur jasmani dan rohani. Pada banyak ayat al-Quran Allah menyebutkan iman dan amal secara bersamaan. Tidak kurang dari enam puluh tujuh ayat yang menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secara implisit menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan. Diantaranya adalah QS. Al Ashr: 1-3, Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh. 1. 3. Prinsip Persamaan

Prinsip ini berakar dari konsep dasar tentang manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat, baik antara jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa, maupun suku, ras, atau warna kulit. Sehingga budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Nabi Muhammad Saw bersabda: Siapapun di antara seorang laki laki yang mempunyai seorang budak perempuan, lalu diajar dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan yang baik kemudian dimerdekakannya lalu dikawininya, maka (laki laki) itu mendapat dua pahala (HR. Bukhori). 1. 4. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup

Sesungguhnya prinsip ini bersumber dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan keterbatasan manusia di mana manusia dalam sepanjang

hidupnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskandirinya sendiri ke jurang kehinaan. Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu memperbaiki kualitas dirinya. Sebagaimana firman Allah, Maka siapa yang bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima taubatnya.... (QS. Al Maidah: 39). 1. 5. Prinsip Keutamaan

page 11 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ Dengan prinsip ini ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah hanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh dimana segala kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan. Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai nilai moral. Nilai moral yang paling tinggi adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang paling buruk dan rendah adalah syirik. Dengan prinsip keutamaan ini, pendidik bukan hanya bertugas menyediakan kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu turut membentuk kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik tersebut. Nabi Saw bersabda, Hargailah anak anakmu dan baikkanlah budi pekerti mereka, (HR. Nasai). 1. E. Etika Mencari Ilmu

Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.

Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah : 1. 1. Ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Taala

Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah karena Allah Azza Wa Jalla dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya : Barangsiapa

yang mempelajari suatu ilmu dengan mengharap wajah Allah, tidaklah ia mempelajarinya melainkan untuk memperoleh harta dunia, dia takkan mendapatkan harumnya bau surga di hari kiamat. *Dekeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan] Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar. page 12 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ 1. 2. Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.

Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk menghilangkan

kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita. Apakah disyaratkan untuk memberi manfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi manfaat pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat (HR: Bukhari) Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain. 1. 3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syariat.

Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syariat. Karena kedudukan syariat sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bidah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qoran dan As-Sunnah. 1. 4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.

Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan

persoalaan aqidah, karena persoalan aqidah adalah masalah yang tidak ada page 13 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ perbedaan pendapat di kalangan salaf 1) . Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita. 1. 5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.

Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan). 1. 6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.

Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama. 1. 7. Mencari kebenaran dan sabar

Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah

mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut. Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting karena page 14 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.Wallahu Alam. 1. F. Etika Mengajarkan Ilmu

Sebenarnya kode etika pada suatu kerja adalah sifat-sifat atau ciri-ciri vokasional, ilmiah dan aqidah yang harus dimiliki oleh seorang pengamal untuk sukses dalam kerjanya. Dari segi pandangan Islam, maka agar seorang muslim itu berhasil menjalankan tugas yang dipikulkan kepadanya oleh Allah S.W.T dalam masyarakat Islam dan seterusnya di dalam masyarakat antarabangsa maka seorang pendidik harus memiliki etika dalam mengajarkannya supaya apa yang mereka lakukan tidak sia-sia. Adapun etika-etika tersebut adalah sebagai berikut;

- Ikhlas karena Allah SWT Seorang muallim atau pendidik harus sabar terhadap apa yang dihadapinya dalam melaksanakan amanah Allah sebagai transformator ilmu pada anak didiknya, baik dari segi material maupun pisik. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus [1595] , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (Al-Bayyinah:5) - Sabar dalam menghadapi segala cobaan Hal penting yang pelu dimiliki oleh muallim dalam mengajarkan dan mengamalkan ilmunya adalah kesabaran. Mereka dituntuk untuk sabar karena sikap dan karakreristik antar orang yang di didiknya berbeda-beda. Sehingga akan timbul hal-hal yang selalu bertolak belakang dengan kepribadian dan keinginan sang page 15 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ muallim. - Mempunyai persiapan ilmiah, vokasional dan budaya menerusi ilmu-ilmu pengkhususannya. Seperti geografi, ilmu-ilmu keIslaman dan kebudayaan dunia dalam bidang pengkhususannya - Benar dalam hal yang didakwahkannya (diajarkannya) dan tanda kebenaran

itu ialah tingkah lakunya sendiri, supaya dapat mempengaruhi jiwa murid-muridnya dan anggota-anggota masyarakat lainnya. Seperti makna sebuah hadith Nabi S.A.W, Iman itu bukanlah berharap dan berhias tetapi meyakinkan dengan hati dan membuktikan dengan amal - Fleksibel dalam memperagakan kaedah-kaedah pengajaran dengan menggunakan kaedah yang sesuai bagi suasana tertentu. Ini memerlukan bahawa guru dipersiapkan dari segi professional dan psikologikal yang baik - Memiliki sahsiah yang kuat dan sanggup membimbing murid-murid ke arah yang dikehendaki - Sadar akan pengaruh-pengaruh dan trend-trend global yang dapat mempengaruhi generasi dan segi aqidah dan pemikiran mereka - Bersifat adil terhadap murid-muridnya, tidak pilih kasih, ia mengutamakan yang benar. Seperti makna firman Allah S.W.T dalam surah al Maidah ayat ke 8, Janganlah kamu terpengaruh oleh keadaan suatu kaum sehinga kamu tidak adil. Berbuat adillah, sebab itulah yang lebih dekat kepada taqwa. Bertaqwalah kepada Allah, sebab Allah Maha Mengetahui apa yang kamu buat. - Selalu sejalan dan searah dengan syariat Islam, semua pendidikan yang dilakukan oleh muallim tidak melenceng dari kaidah-kaidah Islam supaya pendidikan Islam sebagai amanah Allah SWT terus tersiar dan mencapai tujuan. Karena dengan pendidikan Islam diharapkan akan lebih dekat hubungan manusia dengan sang Kholiq (muamalah maallah). - Tidak membebani atau memberikan sangsi kepada anak didik dengan kekerasan yang tidak mengandung dan berlandaskan pada pendidikan. Jika

memang diperlukan adanya sangsi untuk meningkatkan kualitasnya hendaklah dengan sangsi-sangsi yang mendidik supaya mereka itu bisa sadar terhadap apa yang telah dilakukannya. 1. G. Hidup Seorang Ilmuwan Muslim Dalam perkembangannya ilmuan yang ada di Indonesia semakin membludak, tetapi page 16 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ tidak banyak dari mereka dalam hidupnya kurang memberikan kontribusi pada orang lain maupun masyarakat luas. Mereka terkadang hanya ingin padai dan memjadi penguasa atas didirinya sendiri tanpa memberitahunya atau mentransformasikannya kepada orang lain. Walaupun melakukannya mereka masih tergantung dengan uang dan lain sebagainya. Tentunya hal seperti ini sudah menyimpang dari rel pendidikan Islam yang ada. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh ilmuwan Muslim dalam pola hidupnya, yaitu: - Bermanfaat bagi orang lain Seorang alim atau orang berilmu mempunyai tugas penting dalam hidupnya yaitu menyampaikan sesuatu yang dirinya tahu kepada orang lain yang belum tahu. Dengan konsep ini ilmu yang dimilikinya tidak sia-sia, tetapi bisa bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda; Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik akhlaknya dan bermanfaat bagi orang lain (manusia) Dalam hadits lain juga disebutka barang siapa yang ditanya tentang sesuatu (ilmu) kemudian dia menyembunyikan ilmu tersebut (tidak memberitahunya kepada orang lain), maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka.

- Tidak selalu berorientasi pada uang Banyak diantara kita para pendidik yang selalu memprioritaskan uang sebagai media untuk mentransformasikan ilmu yang mereka miliki. Mereka tidak

sadar kalau dengan mengajarkan ilmu kepada orang lain itu berarti orang tersebut lebih menguasai ilmunya. Selain itu dari segi agamanya bisa mendapatkan pahala dari apa yang ia ajarkan, lebih-lebih orang yang diajarinya mengajarkannya lagi kepada orang ketiga/orang lain. Dan yang perlu dilurusnya ilmu disini adalah ilmu yang hasanah dan tidak melenceng dari koredor Islam. - Memperhatikan orang disekitarnya untuk kemashlahatan dan mencerahkan kehidupan sebagai wujud ibadah, jihad dan dakwah Meningkatkat dan megembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena merupakan bagian tidak terpisahkan dengan iman dan amal shaleh yang menunjukkan derajat kaum muslimin dan membentuk pribadi ulil albab. - Bersikap kritis terbuka menerima kebenaran dari manapun datangnya 110 , serta senantiasa menggunakan daya nalar. page 17 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ - Tidak sombong dengan ilmu yang dimilikinya 1. H. Kesimpulan Dari paparan yang telah dijelaskan diatas maka dapat ditari kesimpulan sebagai berikut:

1. Pendidikan Islam berarti proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi Muslim yang baik (Insan Kamil) 2. Adapun pendidikan yang di utamakan dalam Islam yaitu pendidikan keimanan, akhlak, intelektual, fisik dan psikis. 3. Tujuan dari pendidikan Islam yaitu pembentukan insani paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan mengamalkan fadhilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. 4. Prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam adalah prinsip integrasi, keseimbangan, persamaan, pendidikan seumur hidup dan prinsip keutamaan. 5. Dalam pendidikan Islam etika dalam menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan harus diperhatikan. Sebab dengan adanya etika yang benar dapat menjadikan si penuntut ilmu mudah dalam mempelajarinya dan juga berkomonikasi aktif dengan si pengajar. 6. Pola hidup ilmuwan masa kini dapat memberikan sebuah pelajaran bagi kita untuk meningkatkan taraf hidup di masyarakat dengan mengamalkan ilmunya tanpa memprioritaskan uang atau tidak selalu dengan uang. Dan perlu diingat Khoironnasi ahsanuhum khuluqon wa anfau\uhum lillas, setidaknya kata-kata ini yang menjadi acuran seorang ilmuwan Muslim. Daftar Pustaka 1. Depertemen Agama RI, Mushaf Al-Quran Terjemah, Al- Huda, Depok, 2003 2. Zakiah Daradjat, Dr, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996 3. H.M.Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Bumi Aksara, 2003

4. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan, Raja Grafindo Persada, 2001 page 18 / 19Muhammad Faisol | Konsep Pendidikan Islam Copyright Muhammad Faisol faisol@webmail.umm.ac.id http://ishals.student.umm.ac.id/2012/02/03/konsep-pendidikan-islam/ 5. Dra. Hj. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (IPI), Pustaka setia, Bandung, 2001 6. www.google.com page 19 / 19

A.

Pendahuluan Al-Quran merupakan sumber pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia dengan bahasanya yang lemah lembut, balaghoh yang indah, sehingga al-Quran membawa dimensi baru terhadap pendidikan dan berusaha mengajak para ilmuwan untuk menggali maksud kandungannya agar manusia lebih dekat kepada-Nya. Petunjuk pendidikan dalam al-Quran tidak terhimpun dalam kesatuan pragmen tetapi ia diungkapkan dalam berbagai ayat dan surat al-Quran, sehingga untuk menjelaskannya perlu melalui tema-tema pembahasan yang relevan dan ayat-ayat yang memberikan informasi-informasi pendidikan yang dimaksud. Al-Quran mengintroduksikan dirinya sebagai pemberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus (Q.S. Al-Israa: 19) Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukupkan Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-

hamba-Nya. Petunjuk-petunjuknya bertujuan memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut. Muhammad Rasulullah dipandang sukses dalam mendidik masyarakatnya menjadi masyarakat yang berbudi tinggi dan akhlak mulia. Pada mulanya masyarakat Arab adalah masyarakat jahiliyah, sehingga perkataan primitif tidak cukup untuk menggambarkannya, hingga datang Rasulullah yang membawa mereka untuk meninggalkan kejahiliahan tersebut dan mencapai suatu bangsa yang berbudaya dan berkepribadian yang tinggi, bermoral serta memberi pengetahuan. Al-Quran memberi petunjuk atau arah, jalan yang lurus mencapai kebahagiaan bagi manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 16:

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah untuk manusia di bumi ini di beri kuasa oleh Allah sebagai penerima wahyu, yang diberi tugas untuk mensucikan dan mengajarkan manusia sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 151. Dalam ayat tersebut mensucikan diartikan dengan mendidik, sedang mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dan metafisika dan fisika. Tujuan yang ingin dicapai dengan pembacaan, penyucian dan pengajaran tersebut adalah pengabdian kepada Allah, sejalan dengan tujuan penciptaan manusia dalam surat Al-Dzariyat(51) ayat 56: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku Maksudnya Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menjadikan tujuan akhir atau hasil segala aktivitasnya sebagai pengabdian kepada Allah (M. Quraish Shihab, 1994: 172). Pada makalah ini akan dibahas konsep pendidikan menurut Al-Quran yang akan mencoba menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep

pendidikan yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 31-34, surat Al-Baqarah ayat 129 dan 151, dan surat Luqman ayat 13-14. Tercatat prince_darkness

Pengunjung

Re: Makalah : Konsep Pendidikan Islam Jawab #1 pada: Juni 14, 2007, 08:55:15 pm B. Pengertian Konsep dan Pendidikan Konsep berasal dari bahasa Inggris concept yang berarti ide yang mendasari sekelas sesuatu objek,dan gagasan atau ide umum. Kata tersebut juga berarti gambaran yang bersifat umum atau abstrak dari sesuatu (A.S. Hornby, A.P. Cowie (Ed), 1974: 174) Dalam kamus Bahasa Indonesia, konsep diartikan dengan (1) rancangan atau buram surat tersebut. (2) Ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkrit (3) gambaran mental dari objek, proses ataupun yang ada diluar bahasa yang digunakan untuk memahami hal- hal lain (Tim Penyusun, 1989: 456). Sedangkan pengertian pendidikan menurut Mohamad Natsir adalah suatu pimpinan jasmani dan ruhani menuju kesempurnaan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya (Mohamad Natsir, 1954: 87). Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU Sisdiknas no. 20 th. 2003) Kemudian pengertian pendidikan Islam antara lain menurut Dr. Yusuf Qardawi sebagaimana dikutip Azyumardi Azra memberi pengertian pendidikan Islam yaitu pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis pahitnya (Azyumardi Azra, 2000: 5) Endang Saefuddin Anshari memberi pengertian secara lebih tehnis, pendidikan Islam sebagai proses bimbingan (pimpinan, tuntunan dan usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi), dan raga obyek didik dengan bahan-bahan materi

tertentu, pada jangka waktu tertentu, dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai ajaran Islam (Endang Saefuddin,1976: 85) Pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Muhammad Saw (Azyumardi Azra, 1998: 5) Sedangkan menurut hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam seIndonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai: bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.(Muzayyin Arifin, 2003: 15) Berdasarkan beberapa pengertian diatas, terdapat perbedaan antara pengertian pendidikan secara umum dengan pendidikan Islam. Pendidikan secara umum merupakan proses pemindahan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perbedaan tersebut dalam hal nilai-nilai yang dipindahkan (diajarkan). Dalam pendidikan Islam, nilai-nilai yang dipindahkan berasal dari sumber-sumber nilai Islam yakni Al-Quran, Sunah dan Ijtihad. Jadi, pendidikan Islam merupakan proses bimbingan baik jasmani dan rohani berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian muslim sesuai dengan ukuran-ukuran Islam. Tercatat prince_darkness

Pengunjung

Re: Makalah : Konsep Pendidikan Islam Jawab #2 pada: Juni 14, 2007, 08:57:45 pm C. Konsep Pendidikan Menurut Al-Quran Merujuk kepada informasi al-Quran pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Konsep pendidikan al-Quran sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang dipresentasikan melalui kata tarbiyah, talim dan tadib. Tarbiyah berasal dari kata Robba, pada hakikatnya merujuk kepada Allah selaku Murabby (pendidik) sekalian alam. Kata Rabb (Tuhan) dan Murabby (pendidik) berasal dari akar kata seperti termuat dalam ayat al-Quran: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh

kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. AlIsraa:24) Menurut Syed Naquib Al-Attas, al-tarbiyah mengandung pengertian mendidik, memelihara menjaga dan membina semua ciptaan-Nya termasuk manusia, binatang dan tumbuhan (Jalaluddin, 2003: 115). Sedangkan Samsul Nizar menjelaskan kata al-tarbiyah mengandung arti mengasuh, bertanggung jawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan dan memproduksi baik yang mencakup kepada aspek jasmaniah maupun rohaniah (Samsul Nizar, 2001, 87). Kata Rabb di dalam Al-Quran diulang sebanyak 169 kali dan dihubungkan pada obyek-obyek yang sangat banyak. Kata Rabb ini juga sering dikaitkan dengan kata alam, sesuatu selain Tuhan. Pengkaitan kata Rabb dengan kata alam tersebut seperti pada surat Al-Araf ayat 61: Nuh menjawab: Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan Tuhan semesta alam. Pendidikan diistilahkan dengan tadib, yang berasal dari kata kerja addaba . Kata al-tadib diartikan kepada proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti peserta didik (Samsul Nizar, 2001: 90). Kata tadib tidak dijumpai langsung dalam al-Quran, tetapi pada tingkat operasional, pendidikan dapat dilihat pada praktek yang dilakukan oleh Rasulullah. Rasul sebagai pendidik agung dalam pandangan pendidikan Islam, sejalan dengan tujuan Allah mengutus beliau kepada manusia yaitu untuk menyempurnakan akhlak (Jalaluddin, 2003: 125). Allah juga menjelaskan, bahwa sesungguhnya Rasul adalah sebaik-baik contoh teladan bagi kamu sekalian. Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(Q.S. Al-Ahzab, 21) Selanjutnya Rasulullah Saw meneruskan wewenang dan tanggung jawab tersebut kepada kedua orang tua selaku pendidik kodrati. Dengan demikian status orang tua sebagai pendidik didasarkan atas tanggung jawab keagamaan, yaitu dalam bentuk kewajiban orang tua terhadap anak, mencakup memelihara dan membimbing anak, dan memberikan pendidikan akhlak kepada keluarga dan anak-anak. Pendidikan disebut dengan talim yang berasal dari kata alama

berkonotasi pembelajaran yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Dalam kaitan pendidikan talim dipahami sebagai sebagai proses bimbingan yang dititikberatkan pada aspek peningkatan intelektualitas peserta didik (Jalaluddin, 2003: 133). Proses pembelajaran talim secara simbolis dinyatakan dalam informasi al-Quran ketika penciptaan Adam As oleh Allah Swt. Adam As sebagai cikal bakal dari makhluk berperadaban (manusia) menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari Allah Swt, sedang dirinya (Adam As) sama sekali kosong. Sebagaimana tertulis dalam surat al-Baqarah ayat 31 dan 32: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar. Mereka menjawab, Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dari ketiga konsep diatas, terlihat hubungan antara tarbiyah, talim dan tadib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Quran yaitu membentuk akhlak al-karimah Tercatat prince_darkness

Pengunjung

Re: Makalah : Konsep Pendidikan Islam Jawab #3 pada: Juni 14, 2007, 08:58:47 pm a. Ayat-ayat lain yang berhubungan dengan pendidikan 1. Surat al-Baqarah ayat 129

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Quran) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 2. Surat al-Baqarah ayat 151

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu), Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. 3. Surat Luqman ayat 13 Dan ingatlah ketika luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar. 4. Surat Luqman ayat 14 Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tua (ibu bapaknya); ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Tercatat prince_darkness

Pengunjung

Re: Makalah : Konsep Pendidikan Islam Jawab #4 pada: Juni 14, 2007, 08:59:30 pm b. Tafsir surat al-Baqarah ayat 31-34 Penjelasan dari ayat diatas, makna Dia yakni Allah mengajar Adam namanama benda seluruhnya, yakni memberinya potensi pengetahuan tentang nama-nama atau kata-kata yang digunakan menunjuk benda-benda, atau mengajarkannya mengenal fungsi benda-benda. Ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugerahi potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak-anak) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama (yang mudah), seperti ini papa, ini mama, itu pena, itu pensil

dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya: Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya.(M.Quraish Shihab, vol.1, 2002: 146) Bagi ulama-ulama yang memahami pengajaran nama-nama kepada Adam As, dalam arti mengajarkan kata-kata, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa kepada beliau dipaparkan benda-benda itu, dan pada saat yang sama beliau mendengar suara yang menyebut nama benda yang dipaparkan itu. Ada juga yang berpendapat bahwa Allah mengilhamkan kepada Adam As nama benda itu pada saat dipaparkannya sehingga beliau memiliki kemampuan untuk memberi kepada masing-masing benda namanama yang membedakannya dari benda-benda yang lain. Pendapat ini lebih baik dari pendapat pertama. Ia pun tercakup oleh kata mengajar karena mengajar tidak selalu dimaknakan menyampaikan suatu kata atau idea, tetapi dapat juga berarti mengasah potensi yang dimilki peserta didik sehingga pada akhirnya potensi itu terasah dan dapat melahirkan aneka pengetahuan. Apapun tafsiran ayat tersebut, namun yang pasti salah satu keistimewaan manusia adalah kemampuannya mengekspresikan apa yang terlintas dalam benaknya serta kemampuannya menangkap bahasa sehingga mengantarkannya untuk mengetahui. Kemampuan manusia merumuskan idea dan memberi nama bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.(M. Quraish Shihab, vol.1,2002, 147) Kata al-alim terambil dari akar kata ilm berarti menjangkau sesuatu sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya. Bahasa Arab menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf ain, lam dan mim dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Allah Swt menamai dirinya alim karena pengetahuan-Nya yang amat jelas sehingga terungkap baginya hal-hal yang sekecil-kecilnya apapun. Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (Q.S. al-Baqarah, 255) Melalui informasi ayat diatas, diketahui bahwa pengetahuan yang dianugerahkan Allah Swt kepada Adam As, atau potensi untuk mengetahui segala sesuatu dari benda-benda dan fenomena alam merupakan bukti kewajaran Adam As menjadi khalifah di muka bumi ini.

Kekhalifahan di bumi adalah kekhalifahan yang bersumber dari Allah Swt, yang antara lain bermakna melaksanakan apa yang dikehendaki Allah menyangkut bumi ini. Dengan demikian pengetahuan atau potensi yang dianugerahkan Allah itu merupakan syarat sekaligus modal utama untuk mengelola bumi ini. Tanpa pengetahuan atau pemanfaatan potensi berpengetahuan, maka tugas kekhalifahan manusia akan gagal, walau dia tekun beribadah kepada Allah Swt, serupa dengan sujud dan ketaatan malaikat. Akhirnya, Allah Swt, bermaksud menegaskan bahwa bui tidak dikelola semata-mata hanya dengan tasbih dan tahmid tetapi dengan amal ilmiah dan ilmu amaliyah. Tercatat prince_darkness

Pengunjung

Re: Makalah : Konsep Pendidikan Islam Jawab #5 pada: Juni 14, 2007, 09:00:03 pm c. Tafsir surat Al-Baqarah ayat 129 dan ayat 151 Adapun surat al-Baqarah ayat 129 memuat tentang doa nabi Ibrahim As supaya Allah menurunkan di kalangan anak cucu keturunannya seorang Rasul yang menyampaikan pokok-pokok pendidikan dan pengajaran agar mereka kembali kepada kesuciannya. Dan Rasul yang dimaksud adalah Nabi Muhammad Saw, beliau membawa petunjuk pendidikan dan pengajaran untuk dapat mereka pedomani dalam kehidupannya. Rasul yang domohonkan (Nabi Muhammad Saw) bertugas untuk terus membacakan kepada umatnya ayat-ayat Allah baik berupa wahyu yang diturunkan, maupun alam raya yang diciptakan, dan terus mengajarkan kepada mereka kandungan al-Kitab yaitu al-Quran, atau tulis baca, dan alHikmah yakni Sunnah, atau kebijakan dan kemahiran melaksanakan hal yang mendatangkan manfaat serta menampik mudharat, serta mensucikan jiwa umatnya dari segala macam kotoran, kemunafikan, dan penyakitpenyakit jiwa (M.Quraish Shihab,Vol.1, 2002:327) Hal-hal yang dimohonkan Nabi Ibrahim diatas, mempunyai keserasian perurutannya. Dimulai dengan permohonan kehadiran rasul yang menyampaikan tuntunan Allah, yakni membacakan Al-Quran, selanjutnya permohonan untuk mengajarkan makna dan pesan-pesanya, kemudian pengetahuan yang menghasilkan kesucian jiwa, melalui pengamalan sesuai dengan tuntunan Allah Swt (M.Quraish Shihab,Vol.1, 2002: 328) Terdapat banyak kaitan antara kandungan ayat 129 dan ayat 151. Pada

ayat 151 menyucikan ditempatkan pada peringkat kedua dari lima macam anugerah Allah dalam konteks memperkenankan doa Nabi Ibrahim, yaitu: Rasul dari kelompok mereka, membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan mereka, mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah, mengajarkan apa yang mereka belum ketahui. Kalimat mengajarkan apa yang belum mereka ketahui merupakan nikmat tersendiri, mencakup banyak hal dan melalui berbagai cara. Sejak awal diturunkannya al-Quran telah mengisyaratkan dalam wahyu pertama (iqra) bahwa ilmu yang dperoleh manusia diraih dengan dua cara, pertama melalui upaya belajar mengajar dan yang kedua anugerah langsung dari Allah berupa ilham dan intuisi.(M. Quraish Shihab, vol,1, 2002, 361). Tercatat prince_darkness

Pengunjung

Re: Makalah : Konsep Pendidikan Islam Jawab #6 pada: Juni 14, 2007, 09:01:27 pm d. Tafsir surat Luqman ayat 13-14. Dari ayat tersebut Allah menjelaskan cara menetapkan aqidah kepada anak, bertauhid, mengesakan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu selain Allah. Masalah tauhid dikaitkan dengan hubungan antara orang tua dan anak. Allah mengingatkan betapa penting dan dominan peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai tauhid dalam diri anak-anak. Pendidikan dalam ayat tersebut sejalan dengan konsep pendidikan tarbiyah yang menitikberatkan pada pelaksanaan nilai-nilai Ilahiyat yang bersumber dari Allah selaku Rabb al-Alamin. Dalam hubungan anatar manusia, tugas penyampaian nilai-nilai ajaran itu dibebankan kepada orang tua, sedangkan para pendidik tak lebih hanyalah sebagai tenaga professional yang mengemban tugas berdasarkan keparcayaan para orang tua. Secara garis besar nasehat dalam ayat tersebut berisi tentang hal-hal berikut, (Jalaluddin, 2003: 121): 1. Masalah ketauhidan, yaitu larangan menyekutukan Allah. Walaupun seandainya perintah menyekutukan Allah datang dari orang tua (ibu dan bapak), maka perintah tersebut tetap harus ditolak. 2. Kewajiban anak untuk berbakti kepada ibu bapaknya dengan cara berlaku santun dan lemah lembut. 3. Menyangkut misi utama kemanusiaan, yaitu berupa kewajiban menegakkan amar maruf dan nahi munkar.

4. Membangun hubungan manusia dengan melakukan perbuatan baik, sikap dan perilaku dalam pergaulan, serta kesedehanaan dalam berkomunikasi dengan sesama. Pada ayat ke 14, nasehat tersebut menekankan kepada anak agar senantiasa mengormati ibu terlebih dahulu, ini disebabkan karena ibu telah melahirkannya dengan susah payah, kemudian memeliharanya dengan kasih sayang yang tulus ikhlas, sehingga ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelamahan ibu yang berbeda dengan bapak. Di sisi lain peranan bapak dalam konteks kelahiran anak lebih ringan di banding dengan peranan ibu. (M. Quraish Shihab, vol.11, 2002, 129). Tetapi keduanya tetaplah orang tua yang mempunyai tugas utama dalam mendidik anak sehingga proses kedewasaan. Para pakar ilmu pendidikan menjelaskan bahwa usaha pendidikan adalah usaha sadar yang dilaksanakan oleh seseorang yang menghayati tujuan pendidikan. Berarti bahwa tugas pendidikan dibebankan kepada seseorang yang lebih dewasa dan matang, yaitu orang yang mempunyai integritas kepribadian dan kemampuan yang profesional (Umar Shihab, 2005: 169) Isi nasehat keempat diatas mengantarkan pada kejelasan makna bahwa ada patokan fundamental tentang pendidikan dalam al-Quran. Pendidikan dapat disimpulkan sebagai suatu peristiwa komunikasi yang berlangsung dalam situasi dialogis antara manusia untuk mencapai tujuan tertentu (Umar Shihab, 2005: 154) Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan konsep pendidikan menurut Al-Quran diarahkan pada upaya menolong anak didik agar dapat melaksanakan fungsinya mengabdi kepada Allah. Seluruh potensi yang dimiliki anak didik yaitu potensi intelektual, jiwa dan jasmani harus di bina secara terpadu dalam keselarasan, keserasian dan keseimbangan yang tergambar dalam sosok manusia seutuhnya. Tercatat prince_darkness

Pengunjung

Re: Makalah : Konsep Pendidikan Islam Jawab #7 pada: Juni 14, 2007, 09:04:42 pm D. Kesimpulan Pendidikan Islam yang sejalan dengan konsep pendidikan menurut alQuran terangkum dalam tiga konsep yaitu pendidikan tarbiyah, talim dan tadib. Pendidikan dalam konsep tarbiyah lebih menerangkan pada manusia

bahwa Allah memberikan pendidikan melalui utusan-Nya yaitu Rasulullah Saw dan selanjutnya Rasul menyampaikan kepada para ulama, kemudian para ulama menyampaikan kepada manusia. Sedangkan pendidikan dalam konsep talim merupakan proses tranfer ilmu pengetahuan untuk meningkatkan intelektualitas peserta didik. Kemudian tadib merupakan proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan akhlak peserta didik. Konsep pendidikan menurut al-Quran terangkum dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan pendidikan di dalam Kitab al-Quran itu sendiri seperti pada ayat-ayat yang telah dijelaskan yaitu surat al-Baqarah ayat 31-34, 129, dan 151 menjelaskan tentang pelajaran yang diberikan Allah kepada Nabi Adam As, dan pokok-pokok pendidikan yang diberikan Rasul kepada umatnya. Surat Luqman ayat 13-14 berisi tentang konsep pendidikan utama yakni pendidikan orang tua terhadap anak. Daftar Pustaka Anshari, Endang Saefuddin, Pokok-Pokok Pikiran tentang Islam, Usaha Enterprise, Jakarta: 1976 Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, Wacana Ilmu --------, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, Wacana Ilmu, 1998 Arifin, Muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003 Cowie, Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, London:Oxford University Press, 1974 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahannya, Bandung, Gema Risalah Press, 1992 Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003 Natsir, Muhammad, Kapita Selekta, Bandung, Gravenhage, 1954 Nizar, Samsul, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001 Redaksi Penerbit, Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Asa Mandiri, 2006

Shihab, Umar, Kontekstualitas Al-Quran; Kajian Tematik Atas Ayat-Ayat Hukum Dalam Al-Quran, Jakarta: Penamadani, 2005 Shihab, Quraish, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Jakarta: Lentera Hati, 2002 Vol. 1 --------, Tasfir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol. 11 --------, Membumikan Al-Quran, Bandung, Mizan: 1994 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989

Surat Luqman Ayat 11 S.d 20 Posted on February 10, 2011 31:11. Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah sebenarnya orang-orang yang lalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata. 31:12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 31:13. Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar. 31:14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-

tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 31:15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. 31:16. (Lukman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. 31:17. Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). 31:18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 31:19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. 31:20. Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN AYAT 12-19 Nilai berdasarkan arti denotatifnya dapat dimaknai sebagai harga. Namun ketika nilai dihubungkan dengan suatu objek atau sudut pandang tertentu, harga yang terkandung didalamnya memiliki pemaknaan yang bermacam-macam. Dalam kaitan dengan nilai pendidikan, maka mengandung arti konsep pendidikan menjadi bahan utama dalam pertimbangan nilai. Dengan demikian nilai pendidikan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah sesuatu yang berharga yang memiliki kaitan dan mendukung pemikiran dan pelaksanaan pendidikan khususnya dalam surah Luqman ayat 12-19. Berdasarkan susunan mushaf utsman surah Luqman merupakan surah ke 31, terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surah-surah Makiyyah, dan diturunkan sesudah surah Ash-Shaffaat. Dinamai surah Luqman karena pada ayat 12 disebutkan bahwa Luqman telah diberi oleh Allah hikmah, oleh sebab itu dia bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan itu. Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya. Al-Alamah Abi Fadl Syihabuddin Al-Alusi dalam kitab Ruhul Maaani fi Tafsiril Quranil Adzim was Sabil Matsani (Beirut, 1999: 88)menyebutkan:Dinamakan surah Luqman karena di dalamnya memuat kisah pengajaran Luqman kepada anaknya. Sebab turunnya surah ini adalah seorang Quraisy bertanya mengenai kisah Luqman beserta anak lelakinya serta tentang bakti kepada kedua orang tuanya, maka turunlah surah ini. Aspek personal Luqman Jika dilihat dalam perspektif pendidikan yaitu bahwa kualitas manusia tidak dipandang dari sudut keturunan atau ras. Figur Luqman sebagai seorang pendidik memiliki kelebihan dalam kualitas kepribadiannya bukan kelebihan dalam bentuk kepemilikan berupa material maupun keturunan. Kelebihan dalam konteks ini yaitu hikmah. Luqman dipandang sebagai figur pendidik yang memiliki sifat dan perilaku yang menggambarkan hikmah. Dalam tafsir Ath-Thabari (Kairo, 2005: 65536555) hikmah diartikan sebagai pemahaman dalam agama, kekuatan berfikir, ketepatan dalam berbicara, dan pemahaman dalam Islam meskipun ia bukan nabi dan tidak diwahyukan kepadanya. Implikasi dari makna hikmah bagi figur pendidik adalah bahwa seorang pendidik selain senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan akademiknya, ia pun berupaya menselaraskan dengan amalannya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabul ilmi babAl-Igtibat fil ilmi wal hihmah (Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam kitab Fathul Bari, 1997: 219) ketika menjelaskan bolehnya hasad, salah satunya kepada seseorang yang Allah berikan hikmah lalu ia amalkan dan ajarkan kepada orang lain. Kemudian pada surah Luqman ayat 12 terdapat

pula kata syukur. Konsep syukur dalam ayat ini, menyiratkan pemahaman pendidik terhadap dirinya sendiri yang menjadi bagian dari nilai pendidikan, yaitu sebagai salah satu syarat yang harus dimiliki oleh pendidik. Saifudin Aman dalam bukunya yang berjudul: 8 Pesan Luqman Al-Hakim (Jakarta, 2008: 80) menjelaskan bahwa makna syukur berarti meningkatkan seluruh potensi yang diberikan oleh Allah baik fisik, mental maupun spiritual. Adapun bentuknya, yaitu: Pertama, dengan mengucapkan Alhamdulillah. Kedua, dengan merasakan dan menikmati dengan segenap jiwa dan raga. Ketiga, menjadikannya sebagai pemicu untuk meningkatkan kualitas hidup, ibadah, amal baik dan prestasi. Dalam ayat 13, Allah mengabarkan tentang wasiat Luqman kepada anaknya, yaitu Luqman bin Anqa bin Sadun, dan nama anaknya Tsaran, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Suhaili dalam tafsir Ibnu Katsir (Kairo, 2000: 53) agar anaknya tersebut hanya menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Ungkapan la tusyrik billah dalam ayat ini, memberi makna bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang harus ditanamkan pendidik kepada anak didiknya karena hal tersebut merupakan sumber petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman. Sebagaimana firman Allah: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-Anam: 82). Penyampaian materi pendidikan dalam ayat ini, diawali dengan penggunaan kata Ya bunayya (wahai anakku) merupakan bentuk tashgir (diminutif) dalam arti belas kasih dan rasa cinta, bukan bentuk diminutif penghinaan atau pengecilan (Al-Alusi, 1999: 114). Itu artinya bahwa pendidikan harus berlandaskan aqidah dan komunikasi efektif antara pendidik dan anak didik yang didorong oleh rasa kasih sayang serta direalisasikan dalam pemberian bimbingan dan arahan agar anak didiknya terhindar dari perbuatan yang dilarang. Oleh karena itu, Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (AlManshurah, 1996: 85) menyebutkan bahwa salah satu diantara tugas pendidik ialah menyayangi anak didiknya sebagaimana seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Dan selalu menasehati serta mencegah anak didiknya agar terhindar dari akhlak tercela. Dari segi anak didik, ungkapan la tusyrik billah innassyirka lazhulmun azhim(janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar) mengandung arti bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh anak didik tidak hanya sebatas larangan, tetapi juga diberi argumentasi yang jelas mengapa perbuatan itu dilarang. Anak didik diajak berdialog dengan menggunakan potensi pikirnya agar potensi itu dapat berkembang dengan baik. Komunikasi efektif antara Luqman dan anaknya mengisyaratkan bahwa hendaknya

seorang pendidik menempatkan anak didiknya sebagai objek yang memiliki potensi fikir. Dari segi lain, ungkapan Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar menimbulkan rasa kehati-hatian di diri anak didik dalam melakukan kewajiban kepada Allah serta usaha untuk menghindar dari persoalan yang dilarang, sehingga dengan demikian materi pendidikan lebih mudah diterima anak didik. Adapun makna yang dapat diungkap dalam ayat 14 adalah bahwa pendidikan Luqman tidak terbatas pada pendidikan yang dilakukan orang tua kepada anaknya dalam keluarga, karena ayat yang berisi pesan berbuat baik kepada kedua orang tua ini diletakkan di tengah-tengah konteks pembicaraan peristiwa Luqman. Dengan demikian, wasiat Luqman kepada anaknya menjadi dasar bagi pendidikan pada umumnya baik dalam keluarga maupun yang lainnya, yaitu antara lain upaya mendidik anak untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Dalam ayat 14 ini materi berbuat baik kepada kedua orang tua disampaikan melalui anjuran untuk menghayati penderitaan dan susah payah ibunya selama mengandung. Metode seperti ini merupakan cara memberi pengaruh dengan menggugah emosi anak didik, sehingga berdampak kuat terhadap perubahan sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Dalam ayat 14 dapat diungkap pula makna tujuan manusia yang terangkum dalam kalimat ilayyal mashir, yaitu kembali kepada kebenaran hakiki dimana sumber kebenaran itu sendiri adalah Allah semata-mata. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah penyerahan diri secara total kepada Allah. Sedang nilai pendidikan yang tersirat dalam ayat 15 adalah bahwa peran orang tua tua tidaklah segalanya, melainkan terbatas dengan peraturan dan norma-norma ilahi, berdasarkan firman Allah: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya... Implikasi pemaknaan tersebut terhadap peran pendidik adalah bahwa pendidik tidak mendominasi secara mutlak kepada tingkah laku anak didik, tetapi anak didik didorong untuk aktif mengembangkan kemampuan berfikirnya untuk menyelidiki nilai yang diberikan berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya yang berlandaskan kepada nilai-nilai ilahiyah. Dalam ayat 16 tersirat tujuan pendidikan, yaitu pengarahan kepada perilaku manusia untuk meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa wasiat Luqman dalam ayat ini dimaksudkan untuk mengusik perasaan

anaknya agar tumbuh keyakinan akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Jika keyakinan ini tumbuh, maka akan lahir pula sikap-sikap dan perbuatan baik, sesuai dengan keyakinan akan keMahatahuan Allah yang telah tertanam dalam dirinya. Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsir Al-Jami li Ahkaamil Quran (Kairo, 1994: 68): Makna ayat ini yaitu bahwa Allah menghendaki amal-amal perbuatan, baik itu perilaku maksiat maupun perilaku ketaatan. Maksudnya: Jika amal itu adalah amal baik atau amal itu adalah amal buruk, meski itu seberat biji sawi, niscya Allah akan mendatangkannya. Yakni bahwa seorang manusia tidak akan kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan padanya. Dalam ayat ini pula terkandung komunikasi pendidikan melalui penghayatan yang melibatkan lingkungan untuk memperoleh penguatan yang lebih mendalam, tidak hanya sebatas pengetahuan. Hal ini tampak dalam ungkapanmitsqala habbatin min khardalin (seberat biji sawi). Kata-kata habbatin min khardalin merupakan upaya komunikasi melalui kata-kata yang mendekatkan makna nilai yang dididiknya dengan pengalaman yang telah dimiliki anak didik. Pengungkapan materi pendidikan dalam ayat ini dilakukan melalui perumpamaan yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman anak didik mengenai suatu konsep yang abstrak dengan cara mengambil sesuatu yang telah diketahuinya sebagai bandingan, sehingga sesuatu yang baru itu dapat dipahami karena terkait dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya (apersepsi). Kata-kata di dalam batu, di langit, atau di perut bumi merupakan ungkapan-ungkapan yang dikenal dan dipersepsi keadaannya oleh anak didik sebagai sesuatu yang tidak mungkin diketahuinya, karena keadaannya yang jauh, dalam dan tidak terjangkau oleh pengetahuan manusia. Dalam tempat dan keadaan seperti itu, sebuah biji sawi yang kecil diketahui oleh Allah. Dalam ayat 17 terdapat materi pendidikan berupa shalat, yaitu bentuk ibadah ritual yang wajib dilakukan oleh setiap muslim dengan cara dan waktu yang telah ditentukan, materi amar maruf nahyi munkar, yaitu kewajiban setiap muslim untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkarmerekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali-Imran: 104) dan materi sabar, yaitu menerima dengan lapang dada hal-hal yang menyakitkan dan menyusahkan serta menahan amarah atas perlakuan kasar. Dalam Ayat 18 Luqman mengatakan: Jangan kamu palingkan wajahmu dari manusia ketika berbicara kepada mereka atau mereka berbicara denganmu karena merendahkan mereka dan sombong kepada mereka. Akan tetapi berlemah lembutlah kamu, dan tampakkan keramahan wajahmu pada mereka (Sebagaiman dijelaskan Ibnu Katsir

dalam tafsir Al-Qurnul Adzim, Kairo, 2000: 56). Ini menunjukan etika berinteraksi dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Sopan dan rendah hati dapat dipandang sebagai materi yang sangat penting untuk diajarkan sebagai bekal bersosialisasi. Allah Taala berfirman:Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al-Isra: 37) Allah berfirman: Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. Nilai pendidikan yang terdapat dalam ayat ini berkaitan dengan metode pendidikan, yaitu menyampaikan komunikasi melalui pemisalan. Tamtsil yang dimaksud adalah keledai dengan sifat yang melekat dalam dirinya yang digunakan untuk mengumpamakan orang yang bersuara keras. Sedangkan tujuan yang tersirat di dalamnya adalah agar terdidik tidak berbuat sombong, tetapi dapat berkata dan berperilaku lemah lembut dan sopan. Selain itu, dalam ayat ini binatang (keledai) digunakan sebagai alat pendidikan. Penggunaaan alat pendidikan yang diambil dari lingkungan yang akrab dengan anak didik mengandung makna dan nilai paedagogis yang dalam, karena komunikasi pendidikan yang ditunjang oleh alat pendidikan akan memungkinkan terjadinya komunikasi yang efektif, yaitu anak didik dapat mencerap makna didikan secara utuh, karena alat yang digunakan telah dikenal secara akrab oleh terdidik. Dengan demikian materi pendidikan dapat disampaikan dengan baik yang dalam konteks ayat ini adalah adab kesopanan. Wallahualam Konsep Pendidikan menurut Naquib al-Attas Tujuan Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah suatu proses penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode dans i s t e m p e n a m a a n s e c a r a b e r t a h a p , d a n k e p a d a m a n u s i a p e n e r i m a p r o s e s d a n kandungan pendidikan tersebut. Definisi pendidikan Islam menurut Al-Attas diperuntukan untuk manusiasaja. Menurutnya pendidikan Islam dimasukkan dalam Attadib, karena istilahini paling tepat digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan itu,s e m e n t a r a i s t i l a h t a r b i ya h t e r l a l u l u a s k a r e n a p e n d i d i k a n d a l a m i s t i l a h i n i mencakup juga pendidikan kepada hewan. Menurut Al-Attas Adabun berarti p e n g e n a l a n d a n p e n g a k u a n t e n t a n g h a k i k a t b a h w a p e n g e t a h u a n d a n w u j u d bersifat teratur secara hierarkis sesuai dengan beberapa tingkat dan tingkatanderajat mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannyadengan hakikat itu serta dengan kepastian dan potensi jasmaniah,

intelektual,maupun rohaniah seseorang.D a r i p e n g e r t i a n A l A t t a s t e r s e b u t d i b u t u h k a n p e m a h a m a n y a n g mendalam, arti dari p engertian itu adalah, pengenalan adalah menemukant e m p a t y a n g t e p a t s e h u b u n g a n d e n a g n a p a y a n g d i k e n a l i , s e d a n g k a n pengakua n m e r u p a k a n t i n d a k a n ya n g b e r t a l i a n d e n g a n p e n g e n a l a n t a d i . P e n g e n a l a n t a n p a p e n g a k u a n a d a l a h k e c o n g k a k a n , d a n p e n g a k u a n t a n p a pengen alan adalah kejahilan belaka. Al-Attas (1991: 23-24) beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan dalam diri manusia sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan materiil dan spirituilnya. Di samping, tujuan pendidikan Islam yang menitik beratkan pada pembentukan aspek pribadi individu, juga mengharapkan pembentukan masyarakat yang idel tidak terabaikan. Seperti dalam ucapannya, ...karena masyarakat terdiri dari perseorangan-perseorangan maka membuat setiap orang atau sebagian besar diantaranya menjadi orang-orang baik berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik. Secara ideal, al-Attas menghendaki pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi alArdl (wakil Allah di muka bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw. Dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw. Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas dari individuindividu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat kumpulan dari individu-individu. Konsep Pendidikan Islam Menurut Al-ghazali ujuan pendidikan menurut al-ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan selaim untuk mendekatkan diri pada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan kemundaratan. Rumusan tujuan pendidikan didasarkan pada firman Allah swt, tentang tujuan penciptaan manusia yaitu: Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada -Ku( Q.S. aldzariat: 56) Tujuan pendidikan yang dirumuskan Al-ghazali tersebut dipengaruhi oleh ilmu tasawuf yang dikuasainya. Karena ajaran tasawuf memandang dunia ini bukan merupakan hal

utama yang harus didewakan, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatannya setiap saat. Dunia merupakan tempat lewat sementara, tidak kekal. Sedangkan akhirat adalah desa yang kekal dan maut senantiasa mengintai setiap manusia.

31. Luqman

[31:11] Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahansembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.

[31:12] Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

[31:13] Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

[31:14] Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun {1181}. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

[31:15] Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

31. Luqman

[31:16] (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus {1182} lagi Maha Mengetahui.

[31:17] Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

[31:18] Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

[31:19] Dan sederhanalah kamu dalam berjalan {1183} dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

[31:20] Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni'mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.