Laporan kasus kelompok

ANESTESI SPINAL PADA PASIEN SECTIO SESARIA DENGAN HIV/AIDS

Disusun Oleh:

Fitrianita, S.Ked Uswatun Hani Astuti, S.Ked Ummatul khairiyah, S.Ked Yusa Has Juliana, S.Ked

Pembimbing : dr. Sutantri Edi Prabowo, Sp.An 1

dr. Dino Irawan, Sp.An dr. Sony, Sp.An

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVEERSITAS RIAU PEKANBARU 2013 BAB I PENDAHULUAN Laporan Epidemi HIV Global UNAIDS 2012 menunjukkan bahwa terdapat 34 juta orang dengan HIV di seluruh dunia. Sebanyak 50% di antaranya adalah perempuan dan 2,1 juta anak berusia kurang dari 15 tahun. Di Asia Selatan dan Tenggara, terdapat kurang lebih 4 juta orang dengan HIV dan AIDS. Menurut Laporan Progres HIV-AIDS WHO Regional SEARO (2011) sekitar 1,3 juta orang (37%) perempuan terinfeksi HIV. Jumlah perempuan yang terinfeksi HIV dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual tidak aman, yang selanjutnya akan menularkan pada pasangan seksualnya. Di sejumlah negara berkembang HIV-AIDS merupakan penyebab utama kematian perempuan usia reproduksi. Infeksi HIV pada ibu hamil dapat mengancam kehidupan ibu serta ibu dapat menularkan virus kepada bayinya. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak atau mothertochild HIV transmission(MTCT). Virus HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya selama kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui. Data estimasi UNAIDS/WHO (2009) juga memperkirakan 22.000 anak di wilayah Asia-

2

Human Immunodeficiency Virus (HIV) telah ada di Indonesia sejak kasus pertama ditemukan tahun 1987. karena terdapat beberapa daerah dengan prevalensi HIV lebih dari 5% pada subpopulasi tertentu. Sementara itu. Di negara maju risiko anak tertular HIV dari ibu dapat ditekan hingga kurang dari 2% karena tersedianya intervensi PPIA dengan layanan optimal. 2012) dan merupakan negara dengan tingkat epidemi HIV terkonsentrasi. yaitu 35%. setengah dari anak yang terinfeksi tersebut akan meninggal sebelum ulang tahun kedua. Indonesia adalah salah satu negara di dunia dengan estimasi peningkatan insidens rate infeksi HIV lebih dari 25% (UNAIDS. terdapat kemajuan signifikan dalam mencegahpenularan HIV dari ibu ke anak. Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) telah terbukti sebagai intervensi yang sangat efektif untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Sampai saat ini kasus HIV-AIDS telah dilaporkan oleh 341 dari 497 kabupaten/kota di 33 provinsi. 45% dari ibu hamil yang terinfeksi HIV di negara berpendapatan rendah dan sedang. dengan minimnya akses intervensi. angka ini meningkat dibandingkan tahun 2007 (15%). telah menerima obat antiretroviral (ARV) untuk mencegah penularan HIV ke bayinya pada tahun yang sama. di Indonesia terdapat 186. Namun di negara berkembang atau negara miskin. Selain itu. Bali. Pada tahun 2008 diperkirakan 21% ibu hamil yang melahirkan di negara berpendapatan rendah dan menengah telah dites HIV.Di Indonesia. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2007. Riau. dan prevalensi HIV 2. sejak tahun 1999 telah terjadi peningkatan jumlah Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pada kelompok orang berperilaku risiko tinggi tertular Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu para penjaja seks komersial dan penyalah-guna NAPZA suntikan di beberapa provinsi seperti DKI Jakarta. dan tahun 2004 hanya 10% ibu hamil terinfeksi HIV yang menerima obat antiretroviral. Di Indonesia.1 Menurut laporan UNAIDS (2009). 3 .4% pada populasi umum 15-49 tahun terjadi di Provinsi Papua dan Papua Barat.Pasifik terinfeksi HIV dan tanpa pengobatan. Hasil estimasi tahun 2009. infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan anak. Jawa Barat dan Jawa Timur. risiko penularan masih berkisar antara 20% dan 50%.000 orang dengan HIV positif.

2 Etiologi dan cara penularan Penyebab infeksi HIV dalah virus HIV (HIV-1 dan HIV-2). Untuk mengadakan replikasi HIV perlu mengubah ribonucleic acid (RNA) menjadi deoxyribonucleid acid (DNA) di dalam sel pejamu. yang berarti terjadi peningkatan angka kematian anak akibat AIDS. Prevalensi HIV pada ibu hamil diproyeksikan meningkat dari 0.4 4 . RNA diliputi oleh kapsul berbentuk kerucut terdiri atas sekitar 2000 kopi p24 protein virus. yang diperlukan untuk replikasi HIV yaitu reverse transcriptase.565 (2016).1 Definisi AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus (HIV).4 2.7 kb (kilobases). yaitu virus RNA family retroviridae dan genus lentivirus.189 orang pada tahun 2012 menjadi 16. Meskipun angka prevalensi dan penularan HIV dari ibu ke bayi masih terbatas.49% (2016).361 (2012) menjadi 5. HIV termasuk virus RNA dengan berat molekul 9.38% (2012) menjadi 0.Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya juga cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan HIV positif yang tertular baik dari pasangan maupun akibat perilaku yang berisiko. dan jumlah ibu hamil HIV positif yang memerlukan layanan PPIA juga akan meningkat dari 13. jumlah ibu hamil yang terinfeksi HIV cenderung meningkat. Demikian pula jumlah anak berusia di bawah 15 tahun yang tertular HIV dari ibunya pada saat dilahirkan ataupun saat menyusui akan meningkat dari 4. Di dalam inti virus juga terdapat enzim-enzim yang digunakan untuk membuat salinan RNA. HIV merupakan virus yang memiliki selubung virus (envelope).3.3. dan protease. mengandung dua kopi genomik RNA virus yang terdapat di dalam inti. integrase. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi.191 orang pada tahun 2016 (Gambar 2).

Meskipun virus terdapat dalam saliva.4 2.HIV terdapat dalam cairan tubuh (terutama pada darah. yaitu:3. air mata.4 a. cairan serebrospinal dan urin tetapi cairan tersebut tidak terbukti berisiko menularkan infeksi karena kadar virus HIV sangat rendah.3 Patofisiologi Secara ringkas perjalanan infeksi HIV dapat dijelaskan dalam tiga fase. cairan sperma. Fase Infeksi Akut (Sindroma Retroviral Akut) Keadaan ini disebut juga infeksi primer HIV yang ditandai oleh proses replikasi yang menghasilkan virus-virus baru (virion) dalam jumlah yang besar. Virus yang dihasilkan dapat terdeteksi dalam darah sekitar tiga minggu setelah terjadinya infeksi. faringitis. Viremia oleh karena replikasi virus dalam jumlah yang besar akan memicu timbulnya sindroma infeksi akut antara lain: demam. cairan vagina dan air susu ibu) ODHA dan seseorang dapat terinfeksi HIV bila kontak dengan cairan tersebut. malaise. yang timbul sekitar 3–6 minggu setelah infeksi. dan mual muntah. dan kemudian terjadi kenaikan limfosit T karena mulai terjadi respons imun. limfadenopati. Pada fase ini selanjutnya akan terjadi penurunan sel limfosit T-CD4 yang signifikan sekitar 2–8 minggu pertama infeksi primer HIV. b. Fase Infeksi Laten 5 . bercak pada kulit.

000 kopi/ml pada fase infeksi laten. Fungsi kelenjar limfa sebagai perangkap virus menurun atau bahkan hilang dan virus dicurahkan ke dalam darah. Sejumlah pasien yang belum mendapatkan terapi memiliki jumlah virus antara 10. virus terutama terakumulasi di dalam kelenjar limfe. mengalami penurunan jumlah limfosit T-CD4 yang lebih cepat dan mengalami perkembangan menjadi penyakit AIDS dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun. meskipun jarang ditemukan di dalam plasma. Selama berlangsungnya fase ini. di dalam kelenjar limfa terus terjadi replikasi virus yang diikuti dengan kerusakan dan kematian sel dendritik folikuler serta sel limfosit T-CD4 yang menjadi target utama dari virus HIV. Sebagian besar pasien dengan jumlah virus lebih dari 100. Pada fase ini terjadi peningkatan jumlah virion secara berlebihan di dalam sirkulasi sistemik.000 hingga 100. penyakit AIDS kemungkinan akan terjadi dengan periode laten lebih dari 10 tahun. terperangkap di dalam sel dendritik folikuler dan masih terus mengadakan replikasi.Setelah terjadi infeksi primer HIV akan timbul respons imun spesifik tubuh terhadap virus HIV sehingga virus dapat dikendalikan. respons imun tidak mampu mengatasi jumlah virion yang sangat besar. Fase Infeksi Kronis. Namun demikian sebagian virus masih menetap di dalam tubuh. jumlah virus dalam darah menurun dan perjalanan infeksi mulai memasuki fase laten. Jumlah virus akan mencapai suatu "set point" selama fase laten. Pada fase ini jumlah limfosit T-CD4 menurun hingga sekitar 500 sampai 200 sel/mm3. Jumlah sel limfosit T-CD4 menurun hingga dibawah 200 sel/mm3. Sedangkan jika jumlah virus kurang dari 200 kopi/ml.000 kopi/ml. jamur. protozoa atau bakteri. Set point ini dapat memprediksi onset waktu terjadinya penyakit AIDS. Dengan jumlah virus kurang dari 1000 kopi/ml darah. c. Pada fase ini pasien umumnya belum menunjukkan gejala klinis atau asimtomatis. infeksi HIV tidak mengarah menjadi penyakit AIDS. jumlah virus meningkat dengan cepat sedangkan respons imun semakin tertekan sehingga pasien semakin rentan terhadap berbagai macam infeksi sekunder yang dapat disebabkan oleh virus. Sehingga penurunan limfosit T-CD4 terus terjadi walaupun virion di plasma jumlahnya sedikit. 6 . Perjalanan infeksi semakin progresif yang mendorong ke arah AIDS.

pasien IMS dan seluruh pasangan seksualnya.Setelah terjadi AIDS pasien jarang bertahan hidup lebih dari dua tahun tanpa intervensi terapi. Konseling dan tes HIV sukarela (KTS) atau Voluntary Counseling & Testing (VCT ) b. Periode jendela sangat penting diperhatikan karena pada periode jendela ini pasien sudah mampu dan potensial menularkan HIV kepada orang lain.1 2.4 Diagnosis Terdapat dua macam pendekatan untuk tes HIV.5oC) yang lebih dari satu bulan  Diare (terus menerus atau intermiten) yang lebih dari satu bulan 7 .2 a. Antibodi yang terbentuk belum cukup terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium oleh karena kadarnya belum memadai. Konseling dan Tes HIV atas inisiatif petugas kesehatan (KTIP) atau ProviderInitiated Testing and Counseling (PITC) . periode saat pemeriksaan tes antibodi terhadap HIV masih menunjukkan hasil negatif walaupun virus sudah ada dalam darah pasien yang terinfeksi HIV dengan jumlah yang banyak. lelaki seks dengan lelaki dan pengguna NAPZA suntikan). Selain tiga fase tersebut di atas. meskipun antibodi terhadap HIV dapat mulai terdeteksi 3–6 minggu hingga 12 minggu setelah infeksi primer. KTIP merupakan kebijakan pemerintah untuk dilaksanakan di layanan kesehatan yang berarti semua petugas kesehatan harus menganjurkan tes HIV setidaknya pada pasien yang menunjukkan gejala dan tanda klinis diduga terinfeksi HIV. Periode ini dapat berlangsung selama enam bulan sebelum terjadi serokonversi yang positif.2 Tabel gejala dan tanda klinis yang patut diduga infeksi HIV2 Keadaan Umum  Kehilangan berat badan >10% dari berat badan dasar  Demam (terus menerus atau intermiten. pada perjalanan infeksi HIV terdapat periode masa jendela atau "window period" yaitu. yaitu :1.1. pasien dari kelompok berisiko (pekerja seks komersial. temperatur oral >37.

yaitu dengan menggunakan strategi 3 dan selalu didahului dengan konseling pra tes atau informasi singkat.1 Tabel interpretasi dan tindak lanjut hasil tes HIV1 Hasil A1(-) Interpretasi Non-reaktif Tindak Lanjut • Bila yakin tidak ada faktor risiko dan atau 8 . sedang untuk pemeriksaan selanjutnya (A2 dan A3) menggunakan tes dengan spesifisitas tinggi (>99%). Untuk pemeriksaan pertama (A1) harus digunakan tes dengan sensitifitas yang tinggi (>99%). folikulitis dan psoriasis sering terjadi pada ODHA tapi tidak selalu terkait dengan HIV  Kandidiasis oral*  Dermatitis seboroik*  Kandidiasis vagina berulang  Herpes zoster (berulang atau melibatkan lebih dari satu dermatom)*  Herpes genital (berulang)  Moluskum kontagiosum  Kondiloma  Batuk lebih dari satu bulan  Sesak nafas  Tuberkulosis  Pneumonia berulang  Sinusitis kronis atau berulang  Nyeri kepala yang semakin parah (terus menerus dan tidak jelas penyebabnya)  Kejang demam  Menurunnya fungsi kognitif Infeksi jamur Infeksi viral Gangguan pernafasan Gejala neurologis * Keadaan tersebut merupakan dugaan kuat terhadap infeksi HIV Prosedur pemeriksaan laboratorium untuk HIV sesuai dengan panduan nasional yang berlaku pada saat ini. Ketiga tes tersebut dapat menggunakan reagen tes cepat atau dengan ELISA. Beberapa kelainan seperti kutil genital (genital warts).Kulit  Limfadenopati meluas  PPE* dan kulit kering yang luas* merupakan dugaan kuat infeksi HIV.

A1(+) A2(-) A3(-) A1(+)A2(+) A3(-) A1(+)A2(+) A3(+) Indeterminate 2.5 Stadium klinis infeksi HIV Tabel stadium klinis infeksi HIV berdasarkan gejala atau tanda. yaitu :5 Stadium klinis 1: Stadium klinis 2: Stadium klinis 3: Sakit sedang •Berat badan turun > 10% •Kandidiasis mulut: Bercak putih yang menutupi daerah di dalam mulut •Oral hairy leukoplakia: Stadium klinis 4 : Sakit berat •HIV wasting syndrome: Sangat kurus disertai demam kronik dan/ atau diare kronik •Kandidiasis esofagus: Nyeri hebat saat menelan 9 Asimtomatik Sakit ringan Gejala Tidak ada •Berat badan /tanda gejala atau hanya: •Limfadeno pati generalisata persisten: Kelenjar multipel berukuran turun 5-10% •Luka pada sudut mulut (keilitis angularis) •Dermatitis Seboroik: Lesi kulit bersisik pada . Konseling cara menjaga agar tetap negatif ke Indeterminate Reaktif atau Positif depannya. Ulang tes dalam 1 bulan. Lakukan konseling hasil tes positif dan rujuk untuk mendapatkan paket layanan perawatan dukungan dan pengobatan HIV. Ulang tes dalam 1 bulan. • Bila belum yakin ada tidaknya factor risiko dan atau perilaku berisiko dilakukan dalam tiga bulan terakhir maka dianjurkan untuk tes ulang dalam 1 bulan.atau A1(-)A2(-) A3(-) perilaku berisiko dilakukan lebih dari tiga bulan sebelumnya maka pasien diberi konseling cara menjaga tetap negatif.

kecil tanpa rasa nyeri. wajah atau ekstremitas •ISPA berulang: Infeksi tenggorokan berulang. Trombosit < 50. sinusitis atau infeksi telinga •Ulkus pada mulut berulang Garis vertical lidah. piomiositis dan lain-lain •TB paru •HB < 8 g. tidak nyeri.000 •Gingivitis/ periodontitis ulseratif nekrotikan akut •Lebih dari 1 Ulserasi Herpes simpleks: Luka lebar dan nyeri kronik di genitalia dan/ atau anus •Limfoma*: •Sarkoma Kaposi: Lesi berwarna gelap (ungu) dikulit dan/ atau mulut. mata. batas antara wajah dan rambut serta sisi hidung •Prurigo: Lesi kulit yang gatal pada lengan dan tungkai •Herpes zoster: Papul disertai nyeri pada satu sisi tubuh. usus dan sering disertai edema •Kanker serviks invasif*: •Retinitis CMV •Pneumonia pneumosistis*: Pneumonia berat disertai sesak napas dan batuk kering •TB Ekstraparu*: Contoh : pada tulang atau meningitis •Meningitis kriptokokus*: Meningitis dengan atau tanpa kaku kuduk 10 putih di samping bulan: . paru. tidak hilang jika dikerok •Lebih dari 1 bulan: Diare: kadang-kadang intermiten Demam tanpa sebab yang jelas: kadang-kadang intermiten •Infeksi bakteri yang berat: Pneumonia. Lekosit < 500.

Obat dalamgolongan ini termasuk nevirapine (NVP). seringkali membaik dengan pengobatan ARV) 2. lamivudine (3TC). Non-Nucleside Reserve Trancriptase Inhibitor (NNsRTI) : obat ini berbeda dengan NRTI walaupun juga menghambat proses perubahan RNA menjadi DNA. c. zalcitabine (ddC). Obat dalam golongan ini termasuk zidovudine (ZDV atau AZT). Obat 11 . Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NsRTI) : obat ini dikenal sebagai analog nukleosida yang menghambat proses perubahan RNA virus menjadi DNA. stavudine (d4T) dan abacavir (ABC). b. efavirenz (EFV). Proses ini diperlukan agar virus dapat bereplikasi.6 Tatalaksana pemberian anti retroviral (ARV) Saat ini ada tiga golongan ARV yang tersedia di Indonesia :1. dan delavirdine (DLV). didanosine (ddI). Protease Inhibitor (PI) : Obat ini bekerja menghambat enzim protease yang memotong rantai panjang asam animo menjadi protein yang lebih kecil.•Abses otak Toksoplasmosis* •Ensefalopati HIV *: (Gangguan neurologis yang tidak disebabkan oleh faktor lain.5 a.

12 . b. PI yang ada di Indonesia dan dianjurkan digunakan adalah Lopinavir/ritonavir (LPV/r) Untuk memulai terapi antiretroviral perlu dilakukan pemeriksaan jumlah CD4 (bila tersedia) dan penentuan stadium klinis infeksi HIV-nya. Hal tersebut adalah untuk menentukan apakah penderita sudah memenuhi syarat terapi antiretroviral atau belum. ritonavir (RTV). Mulai terapi ARV pada semua pasien dengan jumlah CD4 <350 sel/mm3 tanpa memandang stadium klinisnya. saquinavir (SQV). Tidak tersedia pemeriksaan CD4 Dalam hal tidak tersedia pemeriksaan CD4. dengan pilihan: AZT + 3TC + NVP AZT + 3TC + EFV TDF + 3TC (atau FTC) + NVP TDF + 3TC (atau FTC) + EFV Pemerintah akan mengurangi penggunaan (phasing out) Stavudin Jenis obat ARV Lini Kedua (d4T) sebagai paduan lini pertama karena pertimbangan toksisitasnya Terapi lini kedua harus memakai Protease Inhibitor (PI) yang diperkuat oleh Ritonavir (ritonavir-boosted) ditambah 2 NRTI. amprenavir (APV). nelfinavir (NFV). Tersedia pemeriksaan CD4 Rekomendasi : 1.dalam golonganini termasuk indinavir (IDV). Berikut ini adalah rekomendasi cara memulai terapi ARV pada ODHA dewasa. Jenis obat ARV Lini Pertama Terapi Lini Pertama harus berisi 2 NRTI + 1NNRTI . dan lopinavir/ritonavir (LPV/r). dengan pemilihan Zidovudine (AZT) atau Tenofovir (TDF) tergantung dari apa yang digunakan pada lini pertama dan 3TC.1 a. maka penentuan mulai terapi ARV adalah didasarkan pada penilaian klinis.

Terapi ARV dianjurkan pada semua pasien dengan TB aktif. serta tenaga penunjang termasuk tenaga teknis. 2. Pada umumnya tidak memerlukan perawatan tersendiri (isolasi) kecuali bila muncul gejala yang mungkin membahayakan lingkungannya (source isolation} atau kemungkinan lingkungan yang dapat membahayakan penderita (protective isolation). kaki memakai plastik sebagai kaos kaki kemudian menggunakan sepatu boot karet. Yang paling penting adalah penyiapan tenaga kesehatan mengingat perawatan penderita tidak dapat hanya dibebankan pada tenaga khusus saja namun harus pula melibatkan seluruh staf rumah sakit baik dari tingkatan struktral sampai fungsional bedah dan medik. kaca mata dan penutup kepala atau dapat menggunakan penutup kantong plastik tipis yang telah di lubangi atasnya untuk saluran udara 5. baju tengah berupa baju dan celana plastik (dapat digunakan jas hujan lengkap baju dan celana) dan memakai sarung tangan 3.7 Prinsip Perawatan dan Penanganan AIDS Perawatan penderita AIDS di rumah sakit tergantung pada gejala yang muncul. serta tangannya menggunakan sarung tangan kedua 4. Protap Bayi Lahir dari Ibu HIV (+) Penolong Paramedis.2. wajah ditutupi dengan masker. baju dalam terbuat dari kain berlengan pendek 2. berdedikasi tinggi untuk rela bekerja demi keselamatan semua pihak. Terapi HIV dengan infeksi oportunistik TB diberikan setidaknya 2 minggu setelah mendapat pengobatan TB. ibu hamil dan koinfeksi Hepatitis B tanpa memandang jumlah CD4. mahasiswa dan dokter menggunakan pakaian yang khusus berupa: 1. Perawatan bayi di kamar bersalin 13 . Pada awalnya tim dokter dan perawat seyogyanya dipilih pada mereka yang mempunyai kecakapan bekerja. mental yang stabil. baju luar skort operasi yang terbuat dari kain lengkap baju panjang dan celananya.

AS 0‐4 1.v dan infuse 4. menangis berat) tidak usah dimandikan hsnys dibersihkan dengan air hangat yang diberi byclean konsentrasi 0. Herpes genitalis 4. bayi diletakkan didalam inkubator didekat ibunya. bayi diletakkan di dalam inkubator dan di observasi 8. sampel darah diambil oleh petugas khusus yang ditunjuk oleh Tim AIDS pada saat tali pusat dipotong atau sewaktu‐waktu diperlukan.AS baik: 1. K per parenteral. sebelum dibawa ke ruang rawat gabung (isolasi) oleh petugas kamar bersalin 7. gerakan aktif. Pengidap HIV 2. Karier Hepatitis virus B/C/D 3. bayi tidak boleh menyusui pada ibunya dan diberi susu pengganti/formula. diletakkan di meja resusitasi yang sudah dihangatkan dengan lampu 3. 9. glukosa 40% i. Condylomata accuminata Alasan Ke 4 penyakit tersebut. jalan jafas dibersihkan dengan penghisap lendir steril dispossable dihidap dengan injektie spuit 50 cc pelan pelan dan berulang ulang 4. bila keadaan asphyksia sudah teratasi observasi ketat Protap untuk Penderita HIV/Virus Menular di Kamar bersalin Definisi Ibu hamil/bersalin di kaber tergolong berpenyakit virus (sangat menular) ialah: 1. O2 diberikan melalui slang 5. pemberian Na Bic intra umbilical untuk menanggulangi acidosis 3. mempunyai : 14 . bayi bila sudah baik (nafas teratur. tidak sesak) bayi diletakkan bersama ibu di kamar bersalin. pemberian antibiotik.5 % kalau perlu dengan minyak kelapa steril untuk membersihkan vernix Casseosa 6. Bila keadaan bayi jelek. vit. resusitasi aktif oleh dokter ahli anak 2. bila bayi sudah bersih dan keadaan umumnya baik (tangis berat. bayi langsung di bungkus dengan kain steril 2.

Dampak jangka panjang dan belum ada obat terpilih (DOC) terhadap etiologi. Kala 4 ditunda menjadi 4 jam untuk karier infeksi HIV. sekret ibu ke bayi atau dapat menularkan kepada dokter penolong/paramedic. cervix) Terapi dengan acyclovir oral dan topikal sesuai dengan dosis anjuran dan konsultasi ke bag. 4. kecua1i ada monitoring kemungkinan besar komplikasi yang sudah diperkirakan. Penularan dapat melewati limbah ibu. 4. 5. • Condylomata accuminata: Selama hamil dapat diterapi dengan asam triclor asetat 80% topical kemudian diguyur dengan aquades. Kombinasi dan atau rentan terhadap penyakit infeksi lain. penolong cuci tangan terlebih dulu dengan air mengalir dan/atau air klorin (60 cc byclean/2000 cc air steril) kemudian keringkan dengan handuk kering atau alat pengering listrik. Penularan melalui hubungan seksual. 2. Kulit dan kelamin KPD/PRM kurang 4 jam ‐‐ SC primer (indikasi perinatal) 4 jam atau lebih ekspektatif kecuali indikasi obstetri untuk SC memberitahu dokter perinatologi.1. Untuk infeksi virus lain kala IV 2 jam. 3. ceceran darah kering. Penanganan obstetri ibu hamil dan bersalin sama dengan yang tidak berpenyakit tersebut. peralatan "reuseable" yang belum/tidak sempurna proses dekontaminasinya. diulang pada ANC berikutnya. Pemeriksaan 15 . 2. ANC ibu dengan infeksi tersebut sama dengan ibu hamil yang lain. Hanya pada Condyloma accuminata maligna primer SC atas indikasi bahaya perdarahan pada ibu Konsultasi bagian Dermatovinerologi dan memberitahu dokter Perinatologi. Memerlukan pengamanan khusus alat dan bahan "reuseable/dispassable" untuk menghidari penularan kepada masyarakat luas (termasuk pemakai kali/sungai Prinsip pemeriksaan dan penanganan obstetri 1. vagina. kecuali: • Herpes Genitalis (labia. Pemeriksaan obstetri di poliklinik hamil (resiko tinggi) kecuali ibu hamil dengan HIV sementara di lakukan di kamar khusus penyakit virus kaber dengan alasan konfidensial. klien baru dipindah bila dipandang sudah aman. 3. Pra dan pasca pemeriksaan penderita.

6. masker dan kacamata lebar. rubella. untuk bayi dengan waslap air clorin (60 cc bayclin dalam 2000 cc air). 10. Kamar Bersalin khusus ini digenangi dengan air chlorin selama 10 menit kemudian kran pembuangan dibuka untuk mengalirkan air genangan kedalam bak resapan. chlamidia ).laboratorium tambahan rutin dan deteksi infeksi sekunder ( hepatitis B . Tempat tidur bersalin dan bayi diberi alas plastik (bila mungkin membungkus tempat tidurnya). alat dan limbah . Setelah ibu nifas dan bayi dipindah ke kamar nifas khusus (rooming in. 7. pembuangan air mandi kedalam bak resapan) alas tempat tidur direndam dalam air clorin 0. Setelah penderita dipindahkan ke kamar nifas. topi steril ( kelengkapan baju astronot). Penyedotan air ketuban dari rongga mulut dan hidung bayi dengan mesin "suction" berkekuatan sedot tidak besar.5% selama 10 menit.5% dan dibilas dengan air. Pemberian terapi Antiretroviral 16 . waslap. alas tempat tidur dapat dilakukan dekontaminasi air chlorin 0. 9. 8. 11. Dilanjutkan pengamanan baju penderita. selanjutnya dimasukkan dalam tas plastik untuk dikirim kebagian pencucian Rurnah Sakit. dan berkamar mandi‐WC dalam satu kamar.5% 10 menit dan pencucian dengan air kemudian dijemur. memakai baju "astronot" steril dan tidak tembus air. Penolong/operator dan asisten penolong ibu dan bayi menggunakan handschoen steril. Pembersihan badan ibu setelah bersalin dengan waslap air clorin (60 cc bayclin dalam 2000 cc air). 5. handuk terpakai.5% 10 menit. sesuai prosedur dekontaminasi dengan air clorin 0. toxoplasma. sebaiknya tidak dengan mulut asisten penolong bayi. memakai handschoen steril lagi (rangkap dua). Penyedotan dengan alat hisap lendir bayi di trachea untuk yang air ketubannya meconial kental (bila jernih dibiarkan). Pengamanan dan dekontaminasi Kamar Bersalin. tempat tidur dicuci dengan air detergen cair terutama yang mengandung kontaminasi air ketuban‐darah‐lochea kemudian dicuci dengan air clorin 0. tetapi disambung dengan alat suntik besar. CMV.

17 . Diperlukan peran serta aktif pasien dan pendamping/ keluarga dalam terapi ARV. Pemberian ARV pada ibu hamil dengan HIV selain dapat mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak. sehingga ODHA dapat tetap hidup layaknya orang sehat. Terapi ARV bertujuan untuk: • • • • Mengurangi laju penularan HIV di masyarakat. timbulnya infeksi oportunistik harus mendapat perhatian dan tatalaksana yang sesuai. Di samping ARV. Pemberian terapi antiretroviral (ART) untuk ibu hamil dengan HIV mengikuti PedomanTatalaksana Klinis dan Terapi Antiretroviral pada Orang Dewasa. Pilihan terapi yang direkomendasikan untuk ibu hamil dengan HIV adalah terapi menggunakan kombinasi tiga obat (2 NRTI + 1 NNRTI). Terapi kombinasi ARV harus menggunakan dosis dan jadwal yang tepat. pengobatan ARV dapat dimulai pada stadium klinis apapun atau tanpa menunggu hasil pemeriksaan CD4. Kementerian Kesehatan (2011). (2011). cara paling efektif untuk menekan replikasi hIV adalah dengan memulai pengobatan dengan kombinasi ArV yang efektif. pasien TB dan penderita Hepatitis B kronik aktif yang terinfeksi HIV. Semua obat yang dipakai harus dimulai pada saat yang bersamaan pada pasien baru. Namun pada ibu hamil. Memperbaiki kualitas hidup ODHA. adalah untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan ibu dengan cara menurunkan kadar HIV serendah mungkin. namun dengan terapi antiretroviral.Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV-AIDS. Obat ARV harus diminum terus menerus secara teratur untuk menghindari timbulnya resistensi. jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan sangat rendah. Penentuan saat yang tepat untuk memulai terapi obat antiretroviral (ARV) pada ODHA dewasa didasarkan pada kondisi klinis pasien (stadium klinis WHO) atau hasil pemeriksaan CD4. Memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan tubuh. dan Menekan replikasi virus secara maksimal. Seminimal mungkin hindari triple nuke (3 NRTI). Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV. Pemeriksaan CD4 tetap diperlukan untuk pemantauan pengobatan.

HW : 82 42 49 : 25 tahun : Perempuan : Ibu Rumah Tangga : Tembilahan : Islam : Janda : 2 September 2013 : 2 September 2013 .BAB III LAPORAN KASUS STATUS PASIEN BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU Nama Pasien Nomor RM Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat Agama Status Tanggal MRS Tanggal Operasi ANAMNESIS 18 : Ny.

haid teratur dengan lama haid ± 7 hari Hari pertama haid terakhir (HPHT) pasien lupa Riwayat Perkawinan • Menikah satu kali. • 1 hari SMRS. saat ini pasien dalam pengobatan ARV. Pasien pergi ke RSUD Tembilahan untuk memeriksakan kandungannya. Pernikahan pertama pada usia 21 tahun. ANC dilakukan 1 kali dan tidak ada dilakukan USG. • Pada saat usia kehamilan 7 bulan pasien didiagnosis menderita HIV positif di RSUD Tembilahan.Pasien rujukan dari RSUD Tembilahan dengan G2P1A0H1 dengan HIV positif Keluhan utama SMRS. : Pasien datang dengan keluhan nyeri pinggang menjalar ke ari-ari sejak 1 hari Riwayat Menarce • • Menarce usia 14 tahun. hal ini baru diketahui setelah suaminya dirawat di RSUD Tembilahan selama 9 hari kemudian dilakukan pemeriksaan darah dan didiagnosis menderita AIDS. pasien mengeluhkan nyeri pinggang menjalar ke ari-ari. Riwayat Persalinan • G/P/A/H  2/1/0/1 Riwayat KB 19 . dan tidak ada keluar air-air. kemudian pasien dirujuk ke RSUD AA dengan G2P1A0H1 dengan HIV positif untuk tindakan selanjutnya. Riwayat penyakit sekarang: • 8 bulan yang lalu SMRS pasien dinyatakan hamil oleh bidan. keluar lendir darah dari kemaluan (+).

20 .• Riwayat menggunakan KB suntik Riwayat Penyakit Dahulu • • • • Riwayat penyakit jantung (-) Riwayat Hipertensi (-) Riwayat DM (-) Riwayat Asma (-) Riwayat Penyakit Keluarga • • • • Riwayat penyakit jantung (-) Riwayat Hipertensi (-) Riwayat DM (-) Riwayat Asma (-) Riwayat pekerjaan. Pasien tidak pernah menggunakan narkotika suntikan. anak pasien telah didiagnosis menderita HIV positif di rsud tembilahan. suami telah didiagnosis menderita AIDS di RSUD Tembilahan. Suami pasien bekerja sebagai sopir ayam yang membawa ayam dari tembilahan ke jambi. sosial ekonomi dan kebiasaan Pasien adalah seorang ibu rumah tangga Pasien telah menikah sebanyak 1 kali dan telah dikaruniai seorang anak perempuan berumur 2 tahun. Pasien tidak pernah berhubungan seksual dengan laki-laki yang bukan suaminya dengan atau tanpa kondom. Pasien tidak mengetahui apakah suaminya pernah berhubungan seksual dengan perempuan yang bukan istrinya dengan atau tanpa kondom.

isokor. GCS 15 : Tekanan darah Nadi RR T Pemeriksaan Kepala dan Leher : +/+. Riwayat Operasi sebelumnya • Pasien belum pernah operasi sebelumnya Pemeriksaan fisik Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign : Tampak sakit sedang : Komposmentis. wheezing (-/-).- Pasien mengaku tidak pernah mengkonsumsi alkohol dan merokok. sklera ikterik +/+. bibir kering (-) Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-). : 110/70 mmHg : 92 x/menit : 18x/menit : 36. Auskultasi : suara napas vesikuler (-/-).50C Mata : konjungtiva anemis -/-. Jantung : Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat 21 . ronki(-/-). peningkatan JVP(-) Pemeriksaan Thorak: Paru : Inspeksi Palpasi Perkusi : pergerakan dinding dada simetris kiri dan kanan : vokal fremitus kanan lebih = vokal fremitus kiri. : sonor pada lapangan paru. reflek cahaya diameter 2 mm - Mulut : Lidah Kotor(-).

000/µl : akral hangat. CRT < 2 detik.9 % : 300. DJJ : 138x/menit. Pemeriksaan Ekstremitas Pemeriksaan Kelenjer Limfe Pemeriksaan Penunjang: Darah Rutin 2-9-2013 Leukosit Hb Ht Trombosit : 9. gallop (-) Status Obstetri Leopold 1 : 3 jari dibawah pemeriksaan TFU : 28 cm. : batas jantung dalam batas normal Auskultasi : Suara jantung 1 dan 2 normal.900/µl : 8. Leopold 2 : Teraba punggung pada sebelah kiri dan teraba bagian ekstremitas sebelah kanan Leopold 3 : Kepala Leopold 4 : Sudah masuk pintu atas panggul.- Palpasi Perkusi : iktus kordis tidak teraba. tidak ada edema.8 g/dl : 28. : Tidak ada perbesaran kelenjar getah bening. Diagnosis Kerja : G2P1A0H1 gravid aterm+ inpartu kala I fase laten+ODHA on ARV+Janin hidup tunggal intrauterin letak memanjang persentasi kepala Anestesi Status ASA Penatalaksanaan Persiapan operasi • Pasien telah puasa selama 8 jam sebelum operasi 22 : Anastesi Spinal : ASA II : Sectio Sesaria . murmur (-). TBJ : 2480 gram.

• Akses intravena satu jalur (kateter IV no. metergin. jarum spinal No. dan efedrin. asam traneksamat Premedikasi : • Akses IV : masukkan Midazolam 2. Induksi anestesi 23 . • Loading cairan sebanyak 1000cc RL sebelum operasi dimulai. cek ulang tabung O2. • Mempersiapkan obat-obatan untuk resusitasi seperti induksin. Persiapan Alat dan Obat Anestesi Spinal • Menghidupkan mesin anastesi dan mempersiapkan sirkuit anastesi.5mg.18 G) dan dipasang di tangan kiri dan infus mengalir dengan lancer. tensimeter. dan gigi tidak ada yang goyang.• • Menggunakan pakaian khusus operasi Pasien tidak menggunakan perhiasan ataupun gigi palsu.5 mg (1 cc) secara intravena Oksigenisasi • Alirkan O2 3 L/menit melalui nasal kanul kearah depan wajah pasien. kassa povidone iodine dan handschoen steril. oksimeter. • Menyiapkan obat untuk premedikasi seperti midazolam (0. • Menyiapkan spuit 5cc.5cc=2. • Mempersiapkan obat tambahan sesuai kasus seperti ketorolac. kassa alkohol.25G. obat untuk induksi bucain 20mg).

Instruksi post op di ruangan perawatan • • • • • Awasi vital sign. dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik. kesadaran dan diuresis (1-2 cc/ kgBB) Tidur telentang. diinjeksikan bupivakain 20mg dan diberikan plester ditempat tusukan. Maintenance • Inhalasi: O2 3 L/menit Recovery • Masukkan Ketorolac 6 mg drip dalam RL 500 ml 20 tpm. nadi. Oksigenasi dengan O2 3 L/menit. Instruksi post op di RR • • • Awasi tanda-tanda vital: tekanan darah. jangan duduk atau mengangkat kepala selama 24 jam Analgetik post op Cairan rumatan (Ringer Laktat) 20 tetes/menit Terapi lain sesuai kebutuhan pasien 24 . nafas dan saturasi. Pasien dipindahkan keruangan setelah skor Aldrete ≥ 8.• Pasien dalam posisi duduk membungkuk. ditusuk didaerah lumbal 4-5 dengan menggunakan jarum spinal 25G( dipastikan jarum menembus ruang subarakhnoid dengan keluarnya LCS).

aspirasi isi lambung merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu. bedah urologi. bedah obstetric ginekologi. Anestesi spinal adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestesi lokal kedalam ruang subarachnoid. payudara yang besar. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut. dilakukan pemeriksaan pre-op yang meliputi anamnesis. Pasien dikategorikan kedalam ASA II karena pasien tersebut cenderung memiliki kelainan sistemik ringan sampai sedang akibat penyakit bedah yang diderita olehnya. obesitas morbid. Alasan anestesi spinal menjadi pilihan dibandingkan anestesi umum karena kegagalan intubasi/ventilasi pada anestesi umum pada pasien obstetrik memiliki risiko kesulitan intubasi/ ventilasi 10x dibanding wanita tidak hamil. Pasien ini didiagnosis G2P1A0H1 gravid aterm+ inpartu kala I fase laten+ODHA on ARV+Janin hidup tunggal intrauterin letak memanjang persentasi kepala. hipertensi berat akibat anestesi yang kurang dalam dan stimulasi trakea dapat menyebabkan penurunan aliran darah uterus. cukup efektif dan mudah dikerjakan dibandingkan anestesi umum. dan dapat memperberat hipertensi sebelumnya (preeklampsia). indikasi sectio caesarea dan anestesi spinal 25 . bedah panggul. teknik anestesia spinal sering menjadi pilihan. Jadi. selain itu pada anestesi spinal ini pasien dalam keadaan sadar sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya aspirasi. fetal distress. kondisi fisik pasien termasuk ASA II serta ditentukan rencana teknik anestesia yang akan dilakukan. Pada bedah obstreti ginekologi. Indikasi anestesi spinal adalah untuk tidakan pembedahan pada regio ekstremitas bawah. Teknik ini sederhana. abdomen bawah. hal ini terjadi akibat perubahan anatomi (leher pendek. operasi emergensi). edema laring.BAB IV PEMBAHASAN Sebelum pembedahan sectio sesaria dimulai. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan status fisik ASA pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Pekanbaru.

Kemudian dilakukan induksi regional anestesi berupa anestesi spinal dengan tekhnik subarachnoid block dengan menggunakan jarum spinal ukuran 26G. tekanan darah harus dipertahankan dalam batas normal untuk menjaga uteroplacental perfusion tetap agar baik. diberikan methylergometrine 0. Premedikasi yang dilakukan pada pasien ini adalah dengan pemberian loading cairan (infus) RL 1000 ml. Sesaat setelah bayi lahir. setelah obat berhasil masuk pasien diminta tidur terlentang dan diminta untuk mencoba mengangkat kedua kakinya. Selama operasi pasien diberikan oksigen 2 liter/menit. selain itu pada pasien ini akan dilakukan pembedahan obstetric dimana salah satu indikasi anestesi spinal adalah pada pembedahan obstetrik gynekologi. Pada bayi.pada pasien ini dengan HIV positif sudah tepat. Tindakan anestesi spinal ini juga bertujan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas ibu akibat tindakan anestesi umum. selain itu dilakukan pemeriksaan sistem sensoris dengan cara memeberi rangasang nyeri. sehingga membrane akson tidak dapat bereaksi dengan asetil kolin yang menyebabkan membrane 26 . Hipotensi hal ini terjadi karena berkurangnya venous return (peningkatan kapasitas vena dan pengumpulan volume darah dari kaki) dan penurunan afterload (penurunan resistensi pembuluh darah sistemik) sehingga menurunkan maternal mean arterial pressure (MAP). Bupivacain merupakan obat anestesi yang bekerja mencegah terjadinya depolarisasi pada membrane sel saraf pada tempat suntikan tersebut. proses pembedahan segera dimulai. Setelah obat anestesi bekerja. Persiapan sebelum dilakukannya pembedahan sectio caesarea pada pasien ini sudah tepat. para tenaga medis yang terlibat dalam proses pembedahan sudah menggunakan alat perlindungan diri sesuai ketentuan. tindakan sectio caesarea dilakukan bertujuan agar tidak memperberat infeksi HIV terhadap bayi yang akan dilahirkan dibandingkan dilahirkan pervaginam. kemudian disuntikkan bupivacain 20mg pada lumbal 4/5. Pada saat proses penjahitan pasien diberikan ketorolac 60 mg drip dalam RL. Pasien diminta duduk sedikit membungkuk.2 mg IV dan oxytocin 20 IU yang diberikan secara drip dalam RL. Pemberian loading 1000 ml RL bertujuan untuk menghindari terjadinya hipotensi akibat terjadinya vasodilatasi pembuluh darah. keuntungan menggunakan obat-obat anestesi spinal ini tidak melewati sawar darah uri.

Pemeberian O2 sebanyak 2 liter/menit yang diberikan dengan nasal kanul bertujuan untuk menjaga oksigenasi pada pasien. 27 . ventilasi dan pertukaran gas. Pemberian methylergometrine dan oxytocin pada pasien untuk penanganan aktif kala III. yang bertujuan menimbulkan kontraksi uterus dengan baik sehingga mencegah terjadinya perdarahan uteri yang terjadi setelah pemisahan plasenta. parestesia terjadi sampai batas paralisis dan vasodilatasi pembuluh darah pada daerah yang terblok. Functional residual capacity menurun sampai 15-20%. Hal ini menyebabkan timbulnya parestesia sampai analgesia. cadangan oksigen juga berkurang. karena pada kehamilan terjadi perubahan pada fungsi pulmonal. kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%. Pada saat persalinan.tetap semipermeabel dan tidak terjadi perubahan potensial. Setelah operasi selesai nasal kanul O2 dilepas dan drip ketorolac tetap dilanjutkan. Hal ini menyebabkan aliran impuls yang melewati saraf tersebut berhenti sehingga segala macam rangsangan atau sensasi tidak sampai ke sistem saraf pusat. Selanjutnya perawatan diruang pemulihan diberikan O2 2 liter/menit dan diawasi tekanan darah setiap 15 menit selama 2 jam post operasi. Operasi berlangsung selama 45 menit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.