You are on page 1of 9

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Tentang Pohon Pinus merkusii Pinus merkusii termasuk dalam famili Pinaceae dengan nama lainnya Pinus sumatrana Jungh. Pinus memiliki nama lokal yang berbeda-beda diantaranya tusam (Indonesia), uyam (Aceh), son son bai (Thailand), mindero pine (Philipina) dan tenasserim pine (Inggris) (Hidayat dan Hansen 2001). Pinus merkusii Jung et de Vriese pertama kali ditemukan dengan nama tusam di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seorang ahli botani JermanDr. F. R. Junghuhnpada tahun 1841. Jenis ini tergolong jenis cepat tumbuh dan tidak membutuhkan persyaratan khusus. Keistimewaan jenis ini antara lain merupakan satu-satunya jenis pinus yang menyebar secara alami ke selatan khatulistiwa sampai melewati 2 LS (Harahap 1995). Tinggi Pinus merkusii Jungh et de Vriese dapat mencapai 20-40 meter. Daunnya dalam berkas dua dan berkas jarum (sebetulnya adalah tunas yang sangat pendek yang tidak pernah tumbuh) pada pangkalnya dikelilingi oleh suatu sarung dari sisik yang berupa selaput tipis panjangnya sekitar 0,5 cm. Bunga jantan panjangnya sekitar 2 cm, pada pangkal tunas yang muda, bertumpuk seperti bulir. Bunga betina berkumpul dalam jumlah kecil pada ujung tunas muda, silindris dan sedikit berbangun telur, kerapkali bengkok. Sisik kerucut buah dengan perisai ujung berbentuk jajaran genjang, akhirnya merenggang, kerucut buah panjangnya 710 cm. Biji pipih berbentuk bulat telur, panjangnya 67 mm, pada tepi luar dengan sayap besar, mudah lepas (Steenis 2003). Jenis Pinus merkusii memiliki bentuk batang bulat, lurus dengan kulit

berwarna coklat tua, kasar dan beralur dalam serta memiliki tekstur halus dan licin saat diraba, memiliki permukaan mengkilap berwarna coklat kuning muda dan memiliki serat lurus dan memiliki tinggi rata-rata 2535 m dengan tajuk bundar. Berdasarkan karakteristik tempat tumbuhnya, Pinus merkusii dapat tumbuh pada ketinggian bervariasi antara 2002000 mdpl dan dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian diatas 400 mdpl dengan rata-rata curah hujan 15004000 mm/th. Jenis Pinus merkusii dapat tumbuh pada tempat kering maupun basah dengan iklim

panas atau dingin dan dapat tumbuh secara optimal pada daerah yang memiliki curah hujan sepanjang tahun (Siregar 2000, diacu dalam Natalia 2010). 2.2 Pinus sebagai Penghasil Getah Getah pinus adalah semacam oleoresin yaitu campuran senyawa komplek resin dan terpentin berupa cairan kental dan lengket, bening atau buram. Oleoresin ini larut dalam alkohol, benzene, eter dan banyak pelarut lainnya, tetapi tidak larut dalam air (Sumadiwangsa et al. 1999). Menurut Wibowo (2006) getah pinus merupakan campuran asam-asam resin yang larut dalam pelarut netral atau pelarut organik non polar seperti eter dan heksan. Getah pinus terdapat pada saluran resin (interseluler). Pada kayu daun jarum terdapat dua macam saluran resin, yaitu saluran resin normal dan saluran resin traumatis yang terbentuk akibat pelukaan dalam kayu. Getah pinus terdapat pada saluran resin atau celah-celah antar sel. Saluran tersebut sering disebut saluran interseluler. Saluran ini terbentuk baik ke arah memanjang batang

diantara sel-sel trakeida maupun ke arah melintang dalam jaringan jari-jari kayu. Fakultas kehutanan IPB (1989) menyatakan bahwa getah atau resin terbentuk sebagai akibat proses metabolisme sekunder dalam pohon. Getah berfungsi untuk melindungi sel-sel yang sedang tumbuh, memacu aktivitas pertumbuhan untuk penutupan luka mekanis jika terjadi serangan hama serta penyakit. Getah pinus mampu menghasilkan manfaat berupa gondorukem dan terpentin. Kegunaan dari gondorukem adalah sebagai bahan vernis, bahan pembuat sabun, bahan pembuat batik, bahan solder, tinta printer, cat dan lain-lain. Terpentin bisa digunakan sebagai bahan pengencer cat dan vernis, bahan pelarut lilin dan bahan pembuatan kamper sintesis. 2.3 Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Getah Pinus Menurut Sumadiwangsa (2000), faktor yang mempengaruhi produktivitas getah pinus adalah: a. Faktor dalam (genotip, umur, kondisi dan diameter pohon) b. Faktor luar yaitu elevasi, bonita (kesuburan), iklim (curah hujan, suhu, kelembaban), kelerengan dan lingkungan jarak tanam

c. Faktor perlakuan seperti metode penyadapan, jumlah pembaharuan luka, pemakaian bahan stimulan (kadar dan dosis), keterampilan penyadap kebijaksanaan dan Sumber Daya Manusia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ternyata bahwa pohon pinus umur 16 tahun dengan kadar stimulan 20% dapat meningkatkan produksi getah sebesar 33%, sedangkan untuk umur 26 tahun kadar stimulan 15% dapat meningkatkan produksi getah sebanyak 50% (Yusnita dan Setyawan 2000). Produktivitas getah pinus dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor dari dalam pohon itu sendiri seperti jenis, diameter dan umur tegakan. Menurut Wibowo (2006) pengaruh getah pohon pinus berhubungan dengan diameter pohon. Dengan adanya pertumbuhan diameter pohon, maka volume kayu gubal semakin besar. Oleh karena itu semakin besar volume kayu gubal, maka saluran getah yang terkandung pada pohon pinus akan semakin banyak dan produksi getah pinus akan semakin meningkat. Produktivitas getah pinus juga dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh pohon dan perlakuan yang diberikan terhadap pohon seperti cara penyadapannya Berdasarkan penelitian Litbang Kehutanan (1996), getah pinus sebagai hasil dari proses metabolisme pohon, produksinya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berpengaruh terhadap pohon itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Faktor Biologi Pohon a. Jenis pohon Produksi getah berbeda menurut jenis, misalnya Pinus caribaea menghasilkan getah yang lebih banyak dengan kerak yang menempel pada pohon lebih sedikit daripada Pinus palustris. Pinus khasya dapat memproduksi getah sebanyak 7 kg/pohon/tahun, sedangkan Pinus merkusii 6 kg/pohon/tahun. b. Umur tegakan Menurut Priyanto (1994) diacu dalam penelitian Litbang Kehutanan (1996), umur dan bonita tegakan mempunyai pengaruh nyata terhadap produksi getah pinus. Perum Perhutani juga baru melaksanakan penyadapan setelah pohon umur 10 tahun (kelas umur III) dan

dinyatakan bahwa produksi getah pada kelas umur V-VI telah mulai menurun. c. Diameter dan tinggi pohon Bidang dasar atau diameter pohon, tinggi pohon dan jarak antar pohon (populasi) berpengaruh nyata terhadap produksi getah Pinus merkusii. Dari ketiga peubah tersebut, diameter pohon mempunyai pengaruh paling besar. 2. Faktor Tempat Tumbuh Proses fisiologis internal dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan silvikultur serta potensi keturunan pohon. a. Ketinggian tempat Tinggi tempat dari permukaan laut mempengaruhi produksi getah Pinus merkusii. Tinggi tempat mempengaruhi suhu dan intensitas cahaya semakin tinggi tempatnya dari permukaan laut, suhu semakin rendah demikian juga intensitas cahaya. Rendahnya intensitas cahaya ini karena kelerengan dan adanya awan yang sering menutupi matahari. Hal yang demikian, akan mempengaruhi laju metabolisme dan asimilasi untuk selanjutnya akan mempengaruhi produksi getah. b. Iklim Musim panas akan memberikan hasil yang lebih tinggi karena suhu dan intensitas cahaya lebih besar, tetapi karena panas yang terus menerus menyebabkan getah cepat kering dan aliran getah dapat berhenti. Cuaca yang dingin dapat memperlambat aliran getah, karena saluran getah dapat tersumbat oleh getah yang beku. 3. Faktor Perlakuan Terhadap Pohon Produksi getah pinus dipengaruhi oleh perlakuan manusia terhadap pohon maupun tegakannya, seperti sistem penyadapan, arah sadap dan penggunaan larutan kimia sebagai perangsang dalam penyadapan. Perlakuan terhadap tegakan yang mempengaruhi produksi getah adalah penjarangan. a. Metode Sadapan Penyadapan tanpa asam (stimulansia), lebih baik daripada dengan menggunakan asam sulfat dalam penyadapan sistem quarre.

Penggunaan asam hanya dapat mempengaruhi waktu pembaharuan koakan (quarre) dari tiga hari menjadi enam hari dan bukan untuk meningkatkan produksi. Kerusakan pada pemakaian asam dapat terlihat jelas dalam penyadapan bentuk koakan yaitu pada kayu yang mengering dan kulit yang merekah terpisah antara kayu dan kulitnya. b. Arah Sadapan Koakan yang menghadap ke timur akan menghasilkan getah yang lebih banyak karena mendapatkan cahaya yang lebih cepat dan lebih lama. Karena suhu yang lebih tinggi dengan intensitas cahaya yang lebih banyak maka getah tidak cepat menggumpal. c. Penjarangan Pohon Penjarangan adalah perlakuan silvikultur terhadap tegakan hutan yang dibangun untuk menghasilkan kondisi pohon dalam pertumbuhan yang baik. Pada kondisi pohon yang baik akan menghasilkan kayu maupun getah pinus yang baik pula sehingga yang menjadi perhatian utama adalah tegakan dan bukan hasil produksi penjarangan. Pohon yang ditebang saat penjarangan adalah pohon yang terserang hama atau penyakit, bentuknya jelek, tertekan, yang abnormal, jaraknya terlalu rapat dengan pohon lain dan tanaman selain pokok yang mengganggu tanaman pokok. Pada umumnya penjarangan dilakukan setiap 5 tahun sekali. 2.4 Sistem Penyadapan Getah Pada Pinus Soetomo (1971) menyatakan ada tiga sistem penyadapan yang digunakan dalam menyadap getah pinus, yaitu: 1. Sistem koakan (quarre system) Keuntungan dalam sistem koakan antara lain: a. Alat yang digunakan mudah didapat, murah dan mudah diaplikasikan b. Pelaksanaan kerja lebih efisien Kerugian dalam sistem koakan antara lain: a. Mengingat bentuk dan ukuran alat yang besar dan kasar dengan penanganan oleh pekerja yang tidak tetap koakan umumnya terlalu dalam dan lebar sehingga membahayakan kelestarian produksi

b. Getah yang dihasilkan tercampur kotoran karena penampung selalu terbuka c. Luka yang lebar mudah terserang penyakit 2. Sistem bor Keuntungan sistem bor ini antara lain: a. Kualitas getah yang dihasilkan lebih baik daripada sistem koakan demikian juga dengan kuantitasnya. Sistem bor menghasilkan 20 gram/lubang/hari b. Interval sadapan lebih panjang dari sistem koakan c. Tidak rentan penyakit, karena luka yang dibuat lebih kecil Sedangkan untuk kekurangan dari sistem bor ini adalah: a. Tenaga yang diperlukan lebih banyak dari sistem koakan b. Alat yang diperlukan lebih mahal 3. Sistem Amerika Penyadapan getah pinus dengan menggunakan sistem Amerika dilakukan dengan dua cara, yaitu sistem Amerika dengan perlakuan permukaan dan sistem Amerika asam sulfat. Perbedaan sistem Amerika asam sulfat dengan sistem Amerika dengan perlakuan permukaan terletak pada kedalaman luka dan penggunaan bahan kimia, yaitu asam sulfat (H2SO4). Luka sadap berbentuk V pada sistem Amerika dengan perlakuan permukaan memiliki kedalaman luka 2-5 cm sedangkan untuk sistem Amerika asam sulfat hanya 1 cm. Sistem penyadapan getah pinus di Indonesia yang biasa digunakan adalah dengan menggunakan sistem penyadapan koakan dengan jumlah koakan lebih dari satu dalam satu pohon, namun sistem penyadapan dengan menggunakan sistem koakan masih memiliki kelemahan, diantaranya produktivitas rata-rata getah yang dihasilkan rendah yaitu 8,30 gram/quarre/hari data berdasarkan penelitian Darmastuti (2011), bagian luka yang terbuka relatif besar, getah yang tertampung banyak terdapat kotoran karena tempurung penampung yang selalu terbuka dan kualitas gondorukem yang dihasilkan rendah. Selain itu menurut Adhi (2006), kelemahan-kelemahan lain dalam sistem koakan ini adalah alat sadap

yang sederhana dan tenaga yang berbeda-beda menyebabkan luka terlalu dalam, dikhawatirkan kelestarian produksi getah dan pohon kurang terjaga. Berdasarkan alasan tersebut maka digunakan metode bor pada penyadapan pinus yang memiliki keunggulan, diantaranya bagian luka sadap yang terbuka relatif kecil, sehingga diharapkan dapat meminimalisir terserangnya bahaya penyakit atau hama dan kebakaran dan kelestarian produksi getah dan pohon lebih terjamin serta produktivitas rata-rata getah yang dihasilkan dengan metode bor lebih besar dari pada dengan menggunakan sistem koakan. Menurut Wibowo (2006) dengan menggunakan metode bor getah yang keluar akan lebih cepat karena getah-getah tersebut tidak beraksi dengan udara bebas sehingga pembekuan getah dapat dikurangi. Disamping memiliki keunggulan, penggunaan metode bor dalam penelitian ini juga memiliki kelemahan diantaranya alat penyadapan yang masih manual sehingga tenaga yang dibutuhkan untuk menyadap harus besar, serta tenaga penyadap harus merupakan tenaga yang tetap karena dibutuhkan keahlian khusus dalam menyadap untuk mengurangi tingkat kerusakan mata bor yang digunakan, selain itu alat bor manual yang susah didapat dan harganya yang relatif mahal dan pengaplikasian alat bor manual yang susah di lapang. Menurut Sumantri dan Endom (1989) dalam upaya peningkatan produksi getah pinus, Perum Perhutani secara intensif terus melakukan sadapan baru disamping melakukan juga percobaan baru untuk mencari sistem sadap yang lebih tepat, dalam arti penyadapan yang dilakukan mampu mendapatkan hasil getah yang lebih banyak sedang kerusakan batang akibat sadapan sekecil mungkin. Dengan pola sadapan seperti itu diharapkan batang pohon yang diperoleh masih dalam keadaan mulus di saat pemanenan dan dengan demikian dapat memberikan nilai yang tinggi. Penyadapan getah tusam pada umumnya dilakukan dengan cara koakan (quarre) baik dengan maupun tanpa bahan perangsang (stimulant). Selain itu, telah banyak dilakukan percobaan penyadapan dengan cara lain, seperti cara rill dan cara bor. Agaknya suatu cara atau teknik penyadapan belum tentu cocok secara menyeluruh pada semua lokasi penyadapan. Sebagai contoh di daerah Sumedang dan Sukabumi, cara koakan memberi hasil sadap yang lebih tinggi

10

dibanding cara rill (Mardikanto dan Tobing 1996, diacu dalam Sudrajat et al. 2002). 2.5 Peranan Zat Stimulansia Menurut Sumadiwangsa (2000) dalam penyadapan getah pinus bahan perangsang yang digunakan macamnya adalah beragam, tetapi komponen utamanya adalah asam sulfat atau asam nitrat atau campurannya. Kedua asam tersebut termasuk asam kuat dan oksidator kuat yang dapat merusak kulit manusia, kayu dan lingkungan. Campuran kedua asam tersebut akan mengeluarkan ion natrium (NO2+) dan mono hidrogen sulfat (HSO4-). Kedua ion ini selain mengganggu lingkungan juga diduga (terutama bila overdosis) akan mengganggu kelangsungan hidup pohon dan akan mengubah komponen kimia getah. Karenanya penggunaan asam ini patut dikaji ulang penggunaan sebagai bahan perangsang. Penggunaan stimulansia dapat berfungsi sebagai perangsang terbentuknya ethylene pada tanaman dan selanjutnya menaikkan tekanan osmosis serta tekanan turgor yang menyebabkan aliran getah bertambah cepat dan lebih lama. Ethylene pada hakekatnya adalah suatu hormon pertumbuhan yang banyak berperan dalam perubahan suatu tanaman, antara lain terjadi perubahan dalam membran yang permeabel dari dinding saluran getah sehingga selama ada aliran getah, air masuk saluran getah dan jaringan-jaringan disekitarnya. ETRAT mengandung Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yaitu ethylene dan stimulansia organik dalam satu larutan (asam organik). Ethylene adalah senyawa berbentuk gas, senyawa ini dapat memaksa pematangan buah menyebabkan daun tanggal dan penuaan. Tanaman sering meningkatkan produksi ethylene sebagai respon terhadap stress dan sebelum mati. Penggunaan stimulan tidak meningkatkan kandungan getah yang ada, tetapi membuat celah dinding sel yang terhidrolisis dan akibat pelukaan tetap terbuka sehingga getah terus mengalir keluar (Santosa 2011). Produksi getah dalam pohon dapat ditingkatkan dengan memberikan rangsangan terhadap proses metabolisme dalam sel dan struktur jaringan lainnya. Bahan-bahan yang dapat berfungsi memberi rangsangan tadi bisa berupa bahanbahan kimiawi atau bentuk perlakuan mekanis pada pohon. Peranan stimulansia dalam hal ini adalah membantu produksi resin sehingga jumlahnya dalam pohon

11

meningkat, namun adakalanya stimulansia tersebut menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan baik terhadap jumlah dan kualitas resin yang keluar maupun terhadap kondisi jaringan sel-sel penghasil resin itu sendiri (Fakultas Kehutanan IPB 1989).