I.

IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis Kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn.M : 50 tahun : Laki-laki : Kristen : SLTA : Wiraswasta : Pondok kelapa

II. RIWAYAT PSIKIATRI Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 22 Juli 2013 pukul 10.30 WIB di Poliklinik Psikiatri RS Persahabatan. a. Keluhan Utama Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri untuk kontrol karena obat hampir habis. b. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan untuk kontrol karena obat hampis habis. Pasien mengatakan masih suka merasa sesak jika sedang bersama istrinya, dan merasa tidak nyaman bila obat tidak diminum. Sejak 3 tahun yang lalu, pasien sering merasa sesak, berkeringat dingin, sakitsakit badan, dan kaku leher setiap berada di rumah, terutama bila sedang bersama istri. Bahkan pasien sampai sulit tidur jika tidur dengan istrinya. Awalnya yaitu tahun 2010 pasien sering merasa sesak yang tidak begitu mengganggu, lama-kelamaan pasien merasa badannya semakin tidak enak, pasien sering kejang, keringat dingin sakit-sakit badan, dan kaku leher dirasa semakin berat. Sehingga pasien sering ke IGD karena sakitnya tersebut, keluhan utama yang dirasakan pasien yaitu sesak yang sangat mengganggu, pasien merasakan nafasnya hanya sampai di tenggorokan, pasien mengatakan dadanya dirasa sangat sakit sehingga udara sulit masuk ke paru-parunya, selain itu pasien merasa cemas seperti dirinya ingin mati. Selama tahun 2010, pasien sudah lebih

1

Pada awal pernikahan. namun tidak sesering pada awal sakit. Pasien mengtakan bahwa dia akan melakukan apa saja untuk istrinya sehingga pasien memilih untuk mati terlebih dahulu sebelum istrinya karena pasien tidak ingin merasa sedih yang mendalam jika istrinya pergi duluan. Kemudian keluhan tersebut dirasa membaik. anak pertama pasien sering sakitsakitan. dikatakan pasien memiliki pneumonia ringan namun setelah diobati pasien merasa tidak ada perubahan. sehingga pasien merasa pantang untuk membagi masalah dengan keluarganya. saat masih memiliki anak pertama. Pasien merupakan orang yang mengalah. sering step dan sudah lebih dari 10 kali. Sehingga pasien memberikan dan menunjukkan sebanyak-banyaknya kasih sayang kepada istrinya. pasien sangat menyayangi dan mencintai istrinya. Kemudian pasien membawa anaknya berobat 2 . namun dirasa keluhan hanya hilang sementara. maka pasien dirujuk ke bagian psikiatri RS Persahabatan. sehingga setiap ada permasalahan pasien lebih banyak memendam dan mengalah. Yaitu dengan keluhan sulit tidur dan sesaknya yang tiba-tiba sering muncul lagi. Kemudian buah pernikahan tersebut pasien memiliki dua orang anak. dan kalaupun sesaknya timbul. Keluhan-keluhan tersebut muncul karena pasien merasa terbebani dengan rumah tangganya yang telah dibina hampir 25 tahun. Menurutnya hal tersebut adalah keputusan yang bijak demi menjaga keutuhan rumah tangganya. Selain itu pasien juga mencoba berobat ke penyakit dalam dan ke bagian paru. dan hal tersebut juga mengganggunya untuk tidur. Kemudian pasien berobat juga ke alternatif. pasti akan muncul gejala step. Masalah yang menonjol pada kehidupan pasien yaitu mengenai hubungan antara suami dan istri. sehingga obatnya semakin naik dosisnya karena lama-kelamaan pasien merasa obatnya kurang berefek. Karena sesaknya timbul setiap berada di rumah dan dekat dengan istrinya. Setiap kali anaknya demam.dari 10 kali masuk IGD. awalnya pasien merasa obatnya berefek sangat baik. pasien merasa ada perubahan. Sejak tahun 2011 pasien sudah tidak pernah kejang lagi. pasien merasa sesaknya lebih ringan. Setelah berobat di poli psikiatri. namun tidak juga merasakan perubahan. Pasien masih saja sering sesak tiba-tiba. Pasien tidak memiliki teman cerita di keluarganya karena pasien merasa dirinya adalah yang dituakan. Pada tahun 2011 pasien sudah lebih jarang merasa sesak.

pasien memberikan kasih sayang dan perhatian penuh. hal tersebut karena usia kedua anaknya sudah dewasa dan pasien berharap anak-anaknya tidak takut menikah setelah melihat 3 . karena ingin memperlihatkan pada anaknya bahwa laki-laki tidak seburuk yang dia lihat pada sosok ayahnya. karena pasien khawatir anaknya demam dan step.rutin untuk kejangnya. hal tersebut membuat pasien menjadi semakin sering mengalah di keluarganya. pada akhirnya pada tahun 2010 mulai muncul gejala-gejala panik tersebut. dan jarang berada di rumah. istrinya sering mengeluhkan sakitnya pada perut. anak pasien sudah tidak pernah step lagi. sehingga setiap ada permasalahan pasien lebih banyak mengalah. Sedemikian lamanya pasien memendam permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan mengalah. maka pasien mencari wanita idaman lain dan menjalin hubungan gelap dengan wanita tersebut. Pada saat anaknya sakit-sakitan itu juga membuat beban pikiran pasien. Kemudian ditambah dengan istrinya yang juga sakit-sakitan. hal tersebut karena istri pasien jauh lebih mendominasi. Sehingga pada suatu saat ketahuan oleh istrinya dan anakanaknya yang tiba-tiba memergoki pasien yang sedang berdua dengan wanita tersebut. selain itu membuat pasien menjadi lebih cemas dan khawatir akan keadaan anaknya. anak kedua pasien tidak pernah mengalami sakit yang serius. pasien tidak lagi mampu memuaskan istrina karena sudah tidak ada gairah lagi seperti sebelumnya. Padahal pasien sangat menyayangi anak-anaknya. namun setelah usia kanak-kanak. Pada tahun itu juga pasien meraa karena sudah terlalu sering mengalah membuat pasien tidak cinta lagi pada istrinya. Karena pasien sangat menyayangi istri dan anaknya. Istrinya adalah lulusan S2 dan berpenghasilan lebih tingi dari pasien. karena menurutnya dengan membawa kedua anak perempuannya tersebut akan membuat anak-anaknya menjadi benci pada ayahnya. Karena sudah tidak adanya rasa cinta tersebut. Pasien mengatakan istrinya mungkin saja mencari-cari info tentang dirinya. Selain itu juga dalam melakukan hubungan seksual. Setelah ketahuan dengan istri dan anaknya tersebut membuat pasien merasa sangat kesal dan semakin benci dengan istrinya. karena istrinya merasakan perubahan sikap pasien yang dulunya sangat perhatian dan sangat sayang tiba-tiba berubah seperti cuek. Sejak saat itu pasien sudah tidak lagi nyeleweng.

Sejak 1 bulan terakhir pasien merasa gejala paniknya tidak muncul. Pasien merasa obat yang diberikan sangat membantunya mengatasi gejala panik yang dialami. Pasien mengaku pernah mengkonsumsi alkohol. Jika pasien minum obat teratur dalam aktivitas sehari-hari juga psien merasa lebih tenang. sehingga pasien merasa seperti orang girang. Pasien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi NAPZA. Sejak timbulnya gangguan tersebut. Pernah sesekali pasien mencoba untuk tidak meminum obat dengan harapan ia gejala paniknya tidak timbul. tidak mencium bau-bau yang tidak dirasakan orang lain. kecuali jika berada dekat istrinya pasien hanya masih sering batuk. namun yang pasien rasakan adalah tidak enak badan sehingga membuat pasien kembali meminum obatnya. karena didasari rasa benci yang awalnya pasien tidak menyadarinya dan malah mengira gejala timbul karena penyakit lain. pasien mulai mencari cara untuk mengatasi gajala-gejala yang timbul. sakitsakit pada badan. dan kaku leher. tidak ada keluhan lain sseperti mendengar suara-suara bisikan. namun esehariannya tidak selalu minum alkohol. 4 . obat yang diberikan juga semakin meningkat dosisnya. Sejak munculnya gejala panik. pasien juga tidak pernah merasa isi pikirannya disedot tiba-tiba. maupun curiga terhadap orang lain. kadang juga muncul kejang. melihat bayangan orang yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Pasien tidak pernah merasakan cemas yang berlebihan.kelakuan pasien. Pasien juga tidak pernah merasa seperti dirinya dikejar oleh sesuatu ataupun merasa orang-orang dapat membaca pikirannya. dan sakit kepala. Pasien rutin berobat di poli psikiatri RS Persahabatan. Selama 3 tahun pasien berobat rutin di RS Persahabatan. Selama ini pasien tidak pernah merasa dirinya dapat berinteraksi dengan penyiar di TV. pasien mengatakan hal tersebut merupakan tindakan yang tidak berani ia lakukan karena pasien sadar bahayanya NAPZA. kepanikan yang tidak dapat diatasi. Masalah tersebut juga yang membuat pasien sering merasa gejala sesak muncul setiap berada dekat istrinya. pasien hanya mengeluh sesak. hal tersebut dilakukan hanya apabila sedang berada di pesta.

Di silsilah keluarganya. Pasien tidak memiliki alasan tertentu untuk menikahi mantan pacar akakaknya yang berbeda usianya 3 tahun diatasnya. Kemudian pasien mencoba usaha sendiri dengan menjalani usaha bengkel AC. Menurutnya prestasinya biasa-biasa saja dan selalu dapat mengikuti pelajara dengan baik. hanya sedikit panggilan servis AC yang datang. Riwayat pendidikan pasien ditempuh sampai tingkat SLTA. Pasien memiliki cukup teman dan tergolong orang yang supel dan mudah bergaul. pasien mengaku tidak ada masalah dan selalu harmonis. Keluarga kandungnya pasien saat ini sudah berkeluarga semua dan tinggal terpisah. Pasien hanya merasa saat itu dia menyukai 5 . Masa kecilnya pasien mampu berinteraksi dengan baik dengan teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Tidak ada cacat maupun kelainan saat lahir. tidak ada yang mengalami keluhan seperti yang ada pada pasien. Menurut cerita dari orangtua pasien kepada pasien. Setelah lulus SLTA pasien bekerja sebagai kru pada salah satu production house film indonesia. Selama dalam kandungan tidak ada kelainan yang ditemukan. Dalam hubungan dengan keluarga kandungnya. Keadaan ekonomi pasien saat ini dirasa cukup. Selama bayi juga tidak ada kelainan. Tidak pernah ada gangguan perilaku pada masa kanak-kanaknya. Selama sekolah pasien tidak pernah mendapatkan masalah dengan guru dan temantemannya. Selama pendidikan juga pasien tidak pernah tinggal kelas dan mendapat prestasi yang tidak mengecewakan. Selama bekerja pasien tidak pernah mengacaukan lingkungan kerjanya dan bekerja rajin serta disiplin. Terutama jika sedang musim hujan. Saat ini pasien mengatakan penghasilannya jauh lebih kecil dibanding istrinya. namun kemudian berhenti karena phk massal karena likuidasi perusahaan. Pasien merupakan anak ke sembilan dari sepuluh bersaudara. Namun pasien juga merasa agak malu karena penghasilannya yang lebih kecil dari istrinya. Masa tumbuh kembangnya baik. Namun pasien tidak lama bekerja di perusahaan tersebut kemudian melamar sebagai pegawai bank. Pasien telah menikah pada tahun 1988 dengan mantan pacar kakaknya. pasien dilahirkan normal sebagai anak pertama dari sepuluh bersaudara. Saat ini biaya hidup sehari-hari didapat dari penghasilannya dan istrinya sebagai guru PNS. tidak ada gangguan selama masa pertumbuhan.

Awalnya pernikahannya baik-baik saja dan sangat harmonis.istrinya dan sangat sayang dan sangat ingin melindungi istrinya. Riwayat Gangguan Sebelumnya Riwayat Gangguan Psikiatri Tidak ada gangguan psikiatri sebelumnya. 1. pasien berharap agar dapat menikah lagi. Orang-orang sekitar rumah pasien sangat bersahabat dan pasien pun menjaga hubugan baik dengan para tetangga. karena dalam sukunya. gairahnya dirasa lebih baik. Sampai saat ini pasien masih mempertahankan rumah tangganya demi anak-anaknya. Namun setelah sekian lama. namun pasien sudah tidak merasa cinta pada istrinya sehingga saat ini yang dia lakukan adalah melindungi istri dan anakanaknya sebagai saudara dan keluarga yang dia miliki. berbeda dengan apabila dia sedan dengan wanita lain. marga yang dimiliki pasien adalah marga yang memiliki nama baik. tidak terdapat keluarga pasien yang mengalami sakit serupa dengan pasien. Sejak kecil pasien mengaku tidak pernah mengalami kejang ataupun kecelakaan yang menyebabkan benturan di kepala hingga hilang kesadaran. 6 . c. Saat ditanyakan mengenai keinginan saat ini yang ingin dicapai. Saat ini aktivitas yang dilakukan pasien adalah melaksanakan peekerjaannya sesuai panggilan bengkel AC. bukan karena cinta. Pasien tidak pernah mendapat masalah di lingkungan rumahnya yang baru saat ini. Saat ini pasien memiliki penyakit darah tinggi yang terkontrol. Selain pasien. pasien merasa kasih sayangnya terlalu berlebihan ia curahkan di awal pernikahan sehingga lama-lkelamaan habis sampai tidak cinta samasekali saat ini. Pasien merasa gairahnya berkurang dengan istrinya. mengurus rumah tangga dan seringkali berkumpul dengan teman-teman di lingkungan rumahnya. Hal tersebut juga dikarenakan pasien tidak ingin orang lain dan keluarga memandang buruk mengenai pasien. Riwayat terdahulu pasien manyangkal pernah mengalami sulit tidur. Namun hal tersebut adalah mustahil bagi pasien karena tabu menurut adatnya dan tidak diperbolehkan dalam agamanya. Bebagai maalah muncul sehingga pasien merasakan keluhan gejala panik setiap berada dirumah dan dekat dengan istrinya.

Riwayat Pranatal Pasien dilahirkan dalam proses persalinan normal dan tidak ada penyulit selama masa kandungan dan proses persalinan. Riwayat Masa Akhir Anak-Anak Pasien tumbuh dengan baik dan dapat bersosialisasi dengan teman-temannya. 3. Riwayat Pendidikan Pasien bersekolah sampai tingkat SLTA selama sekolah pasien tidak pernah membuat kekacauan di sekolah. Riwayat Masa Kanak-Kanak dan Remaja Pasien tumbuh dan berkembang sesuai umur sebagaimana anak seumurnya. Riwayat Pekerjaan Saat ini pasien wiraswasta menjalani usaha bengkel AC. 6. Riwayat Penggunaan Zat Psikotropika/Alkohol Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan zat psikotropika. Riwayat Gangguan Medik Tidak ada gangguan medik sebelumnya. d. Hubungan dengan Keluarga Saat ini pasien tinggal bersama istri dan anaknya. 3. 9. Namun hubungan dengan istrinya sudah jarang ada komunikasi dan kepeduliannya sudah berkurang. 4. Kemudian berhenti karena likuidasi perusahaan. Keluarga kandungnya sudah tinggal masing-masing. Riwayat Kehidupan Pribadi 1. Hubungan dengan anggota keluarga kandungnya baik. 5.2. Aktivitas Sosial 7 . Sebelumnya pasien pernah bekerja sebagai kru film dan pegawai bank.. 7. Pasien memiliki jumlah teman yang cukup. Hubungan dengan anaknya baik. Riwayat Agama Pasien menganut agama Kristen dan taat dalam menjalankan ibadahnya. 2. 8. Riwayat Pernikahan Pasien sudah menikah pada tahun 1988 dan telah memiliki 2 anak. namun memiliki riwayat minum alkohol.

namun hal tersebut bertentangan dengan adat dan budayanya. berpakaian rapi. Gejala tersebut mulai muncul setelah pasien mengalami beberapa permasalahan karena sering memendam masalah dan mengalah dari istrinya yang dominan. penampilan pasien tampak sesuai dengan usianya. Kontak Psikis a. Riwayat Keluarga Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami hal serupa dengan pasien. Perekonomian keluarga tercukupi dan dipenuhi dengan penghasilan dari istri dan pasien. : Baik. Riwayat Situasi Sosial Sekarang Pasien laki-laki usia 50 tahun. Penampilan Laki-laki usia 50 tahun. ekspresi luas. Saat ini pasien merupakan wiraswasta bangkel AC. 2. III. Penghasilan pasien lebih rendah dibandingkan istrinya. STATUS MENTAL 1. Pasien sudah menikah dan memiliki 2 anak. Deskripsi Umum 4. anak kesembilan dari sepuluh bersaudara. e. A. : Dapat dilakukan dengan wajar. Cara berjalan : Compos Mentis. Kesadaran Umum 3. Pasien mengalami gangguan panik sejak tahun 2010.Pasien tidak mempunyai masalah dalam berinteraksi dengan orang lain. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor 8 . hubungan dengan istrinya kurang baik dan saling tidak peduli. f. g. Pasien rutin berobat dan mau minum obat teratur. Pasien dapat bersosialisasi dengan baik kepada tetangga. Pasien tinggal bersama istri dan anaknya. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya Pasien berharap agar bisa menikah lagi. perawatan diri baik.

6. : Pemeriksa dapat merasakan perasaan pasien saat ini. terutama jika sedang berada dekat dengan istrinya. Fungsi Intelektual/Kognitif 1. Taraf pendidikan. Sikap terhadap Pemeriksa B. Taraf Pendidikan Pasien mengaku menempuh pendidikan sampai ke tingkat SLTA. 2. pasien dapat menjawab pertanyaan dokter dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas. Keserasian 4. dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan cukup jelas. C. Tidak ada masalah selama sekolah. 5. pengetahuan umum dan kecerdasan a. : Ekspresi afektif luas. volume bicara normal. Pengetahuan Umum Pasien mampu menjawab pertanyaan tentang presiden Indonesia saat ini dan gubernur Jakarta saat ini. Terdapat sesak pada keadaan tertentu. b. 3. Afek 3. Mood 2. Kuantitas : Baik. Empati : Biasa-biasa saja. b. pasien duduk tenang. Kualitas : Bicara spontan. tidak ada gerakan involunter. Aktifitas psikomotor : Pasien kooperatif. Daya konsentrasi Daya konsentrasi pasien cukup. Keadaan Afektif 1. Pembicaraan a. pembicaraan kadang sirkumtansial dan kadang tangensial. selama wawancara kontak mata baik. Pasien tidak dapat menyebutkan dengan benar jumlah pengurangan 100 – 7 yaitu 93 dan dilakukan pengurangan 7 lagi yaitu 86.b. Orientasi 9 . 5. : Mood dan afek serasi. pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari awal sampai akhir sampai selesai. artikulasi jelas dan : Pasien kooperatif.

b. Pikiran Abstrak Baik. Daya ingat : Baik. D. : Baik. pasien mengetahui bahwa dirinya sedang jiwa lantai 3 RSUP Persahabatan. Gangguan Persepsi 1. Daya ingat jangka panjang Baik. pasien mengerti makna peribahasa dari “bagai katak dalam tempurung”. Depersonalisasi dan derealisasi 10 . Akibat hendaya daya ingat pasien Tidak terdapat hendaya daya ingat pasien saat ini. 2. Bakat Kreatif Pasien memiliki kemampuan berbisnis dan reparasi.a. Situasi 4. pasien dapat mengingat dengan baik kendaraan yang digunakan selama perjalanan ke RSUP Persahabatan. pasien mengerjakan segala sesuatunya sendiri dan mampu mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Kemampuan Menolong Diri Sendiri Baik. berkonsultasi dan wawancara. c. f. Halusinasi dan ilusi Halusinasi Ilusi : Tidak terdapat halusinasi : Tidak terdapat ilusi. pasien dapat dengan segera menyebutkan kembali 5 nama binatang yang disebutkan oleh pemeriksa. Daya ingat segera Baik. e. g. a. pasien dapat mengingat dengan baik hal-hal tentang masa pendidikannya dan pekerjaanya. pasien mengetahui pemeriksa adalah dokter. Daya ingat jangka pendek Baik. pasien dapat mengetahui sedang berada di poliklinik : Baik. Tempat c. Orang d. Waktu b. : Baik. d. pasien dapat mengetahui waktu berobat siang hari.

Norma Sosial Baik. Hendaya bahasa : Tidak terdapat hendaya bahasa pada pasien ini. Proses Pikir 1. : Tidak terdapat depersonalisasi. H.Depersonalisasi Derealisasi E. : Baik. b. Gangguan pikiran : Tidak terdapat waham F. pasien menolong anak itu dan menyerahkan ke pihak yang lebih berwenang. 2. Arus Pikir a. pasien dapat menjawab dengan spontan bila : Baik. pasien mau berobat 11 . 3. : Tidak terdapat derealisasi. pasien dapat menendalikan dirinya. Pembicaraan pasien sampai c. Persepsi Pasien terhadap Diri dan Kehidupannya Menurut penilaian pemeriksa terhadap pasien yaitu saat ini pasien dalam keadaan sakit dan pasien mengetahui bahwa diirinya sakit. pertanyaan dengan baik dan cukup jelas. G. pasien masih dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dengan baik. koheren. Produktifitas b. tidak ada gerakan involunter. Preokupasi : Tidak terdapat preokupasi. Daya Nilai 1. Uji Daya Nilai Baik. 2. Pengendalian Impuls Baik. Kontinuitas pada tujuan. Pasien dapat menjawab semua diajukan pertanyaan oleh dokter. karena ketika diberikan perumpamaan jika pasien bertemu anak kecil yang terpisah dari orangtuanya. Isi Pikiran a. Penilaian Realitas Pada pasien tidak terdapat gangguan penilaian realitas.

Fungsi Luhur 6. : TD = 120/80 mmHg. dan minum obat teratur. dimana pasien sadar sepenuhnya tentang motif dan perasaan dalam dirinya yang menjadi dasar dari gejalanya. : Tidak ditemukan kelainan. Saraf Kranial 2. PEMERIKSAAN FISIK A. Sistem Kardiovaskular 4. Sistem Muskuloskeletal 5. Gangguan Khusus : Kesan dalam batas normal. Gangguan Khusus B. Pihak keluarga dan tetangga tidak ada yang mengucilkan pasien karena penyakitnya. : Baik. I. Tanda Vital 3. Susunan Saraf Vegetatif 5. Pasien tidak memiliki masalah sosial selama kecil dan remaja. : Kesan dalam batas normal. Sensibilitas 4. N = 88 x/min RR = 16 x/min. : Kesan dalam batas normal. : Kesan dalam batas normal. Sistem Urogenital 7. : Tidak ada. S = afebris : Kesan dalam batas normal. Keadaan Umum 2. J. Compos Mentis. : Kesan dalam batas normal. Taraf Dapat Dipercaya Pemeriksa memperoleh kesan bahwa jawaban pasien dapat dipercaya karena konsistensi dalam menjawab pertanyaan yang diajukan dari awal sampai akhir. Gejala timbul sejak tahun 2010 setelah pasien merasa lelah mengalah teus dengan istrinya yang mendominasi. : Tidak ada. IV. : Tidak ditemukan kelainan. Sistem Gastrointestinal 6. Tilikan/Insight Tilikan derajat 6. Status Generalis 1. Saraf Motorik 3.rutin. 12 . : Kesan dalam batas normal. Status Neurologis 1.

13 . Pasien juga merasa sesak. Pasien merasa panik jika berada dirumah terutama jika dekat dengan istrinya. b. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA a. pasien tidak pernah merasa dirinya dapat berinteraksi dengan penyiar di TV. dan kaku leher setiap berada di rumah. banyak belanja. pasien juga tidak pernah merasa isi pikirannya disedot tiba-tiba g. kehilangan minat dan semangat. Hal tersebut karena pasien sudah tidak mencintai istrinya lagi. pasien juga tidak pernah sedih yang berkepanjangan. badannya semakin tidak enak. pasien merasa cemas seperti dirinya ingin mati. atau penyakit pada otak. Pasien laki-laki usia 50 tahun datang untuk kontrol karena obat habis. terutama bila sedang bersama istri. Pasien Pasien mengatakan masih suka merasa sesak jika sedang bersama istrinya. dan merasa tidak nyaman bila obat tidak diminum. d. dan kaku leher dirasa semakin berat e. sakit-sakit badan. maupun curiga. Pasien tidak pernah merasa seperti dirinya dikejar oleh sesuatu ataupun merasa orang-orang dapat membaca pikirannya. Pasien tidak pernah mengalami bahagia yang berlebihan. pasien sering kejang. pasien sudah tidak memiliki gairah seks dan tidak dapat mencapai klimaks apabila sedang berhubungan dengan istri. melakukan aktivitas terlalu banyak. Pasien juga merasakan sulit tidur jika tidur dengan istrinya. kepanikan yang tidak dapat diatasi. Berdasarkan anamnesis pasien memiliki hambatan dalam berhubungan seks dengan istri. Pasien tidak pernah merasakan cemas yang berlebihan. c. berkeringat dingin. j. i.V. pasien merasakan nafasnya hanya sampai di tenggorokan. Pasien pernah mengalami sesak yang sangat mengganggu. Pasien tidak pernah mengalami riwayat trauma kepala. berbeda dengan bila pasien berhubungan seks dengan wanita lain tidak ada hambatan dalam mencapai klimaks f. keringat dingin sakit-sakit badan. h.

Pasien merupakan orang yang ramah dan mudah bergaul. Pasien pernah memiliki wanita simpanan. t. Pasien tidak pernah dikucilkan oleh lingkungannya. Pada pasien didapatkan beberapa gejala minimal. n. m. FORMULASI DIAGNOSIS Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan pada pasien terdapat kelainan pola perilaku dan psikologis yang secara klinis bermakna yang dapat menyebabkan 14 . tanpa ada cacat bawaan. l. Selama wawancara berlangsung pasien cenderung terbuka terhadap semua pertanyaan. s. Selama sekolah tidak pernah ada masalah kepribadian dan perilaku. Pasien dapat bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungannya dan mempunyai teman yang cukup banyak. Hubungan pasien dengan anaknya harmonis. VI. Pasien bersekolah sampai tingkat SLTA selama sekolah pasien tidak pernah membuat kekacauan di sekolah. Pasien dapat bersosialisasi dengan baik kepada tetangga. q. tidak lebih dari masalah harian biasa.k. p. u. Pasien tidak mempunyai masalah dalam berinteraksi dengan orang lain. Pasien lahir secara normal. Selain itu juga pasien menjaga keburukan-keburukannya dari saudara-saudaranya karena bagi budayanya hal yang telah dilakukan pasien adalah hal tabu. Pemeriksaan fisik dan neurologis pasien dalam batas normal. namun hubungan dengan istrinya tidak harmonis. Pasien merasa dirinya harus menjaga nama baiknya dan keluarganya setelah istri dan anaknya memergoki pasien berselingkuh. Pasien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi NAPZA. tidak pernah tinggal kelas. o. cukup puas. Pasien mengaku pernah mengkonsumsi alkohol. Pada pemeriksaan fisik TD: 120/80 mmHg. Penilaian terhadap fungsi kognitif pasien cukup baik. berfungsi baik. r. Saat ini pasien tinggal bersama istri dan anaknya.

2). kaku leher yang dicetuskan oleh adanya situasi yang sebenarnya tidak membahayakan. Fungsi kognitif baik. Yaitu saat pasien beraa di rumah atau beada di dekat istrinya. Pasien dapat menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SLTA.0). • Pada pasien ini tidak terdapat afek depresif. Karena 15 . Selain itu pasien tidak pernah mengalami afek yang meningkat. aktivitas psikomotor dan mental yang meningkat. sehingga pasien ini bukan penderita gangguan mental organik (F. orientasi masih baik. Maka pasien ini bukan penderita mania. sehingga pada pasien ini bukan penderita gangguan psikotik (F. Hal ini dapat dinilai dari tingkat kesadaran.timbulnya distress dan disabilitas dalam fungsi sehari-hari maka pasien dikatakan menderita gangguan jiwa a. Maka pasien ini bukan penderita gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif atau alkohol (F. dapat bersosialisasi maka dari itu pasien tidak ada gangguan kepribadian.41.0). Diagnosis Aksis I • Pada pasien ini tidak terdapat riwayat penyakit yang menyebabkan adanya disfungsi otak.3).1). b. tidak terdapat retardasi mental. Diagnosis Aksis II Tumbuh kembang masa kanak-kanak baik. Maka pasien ini bukan penderita gangguan afektif atau mood (F. jantung berdebar. • Dari anamnesis tidak didapatkan riwayat penggunaan zat psikoaktif (NAPZA) serta mengkonsumsi alkohol selama satu bulan terakhir. Keluhan dirasakan sejak 3 tahun lalu dan setelah menjalani pengobatan sudah dirasakan membaik. • Pada pasien ini didapatkan adanya gejala panik berat yang ditandai dengan sesak napas. Maka pasien ini bukan penderita depresi. berkurangnya energi dan mudah lelah. kehilangan minat. daya konsentrasi. • Pada pasien ini tidak ditemukan adanya gangguan dalam menilai realitas. Oleh karena tidak ditemukan gejala manik atau depresi. nyeri kepala. Maka pasien ini pada aksis I merupakan penderita gangguan panik dalam perbaikan (F.

e.40). : Tidak ada diagnosis : Tidak ada diagnosis : masalah relasi dengan istri : GAF Scale 90-81 VIII. Maka pada aksis III tidak ada diagnosis. d. Diagnosis Aksis V Pada aksis V. Namun hubungan dengan istri tidak baik dan tidak harmonis sudah tidak merasakan kasih sayang lagi. Maka aksis V didapatkan GAF Scale 90 – 81. pasien sudah berkeluarga dan tinggal bersama istri dan anaknya. Diagnosis Aksis IV Pasien merupakan anak kesembilan dari 10 berasudara. DAFTAR PROBLEM 16 . tidak lebih dari masalah harian biasa. Maka pada aksis IV didapatkan masalah relasi dengan istri. cukup puas. VII. Hubungan pasien dengan anak baik. tidak ada masalah. EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV: Aksis V : gangguan anxietas fobik (F. Pada pasien didapatkan beberapa gejala minimal. c. Diagnosis Aksis III Pada pemeriksaan fisik dan neurologis pada pasien ini tidak ditemukan gangguan organobiologik lainnya. dinilai kemampuan penyesuaian diri pasien dengan menggunakan GAF. berfungsi baik. Pasien sebagai wiraswasta. maka tidak ada diagnosis aksis II. penghasilannya mencukupi kehidupan sehari-hari ditambah penghasilan istrnya yang lebih besar dari penghasilan pasien.tidak ditemukan gangguan kepribadian dan retarsadi mental.

dapat disimpulkan prognosis pasien adalah : Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : dubia ad bonam. Prognosis ke Arah Baik • • • • • Pasien patuh minum obat dan rutin kontrol. Keluarga mendukung pasien untuk sembuh dengan memberikan dorongan dan semangat. : dubia ad bonam. Berdasarkan data-data di atas. Psikofarmaka Alprazolam 3 x (1mg – ½ mg – 1mg) 17 . Pasien dapat bersosialisasi baik dengan tetangga. b. PROGNOSIS a. : dubia ad bonam.Organobiologik : tidak terdapat gangguan organobiologik Psikologis Sosioekonomi : terdapat gejala sesak napas yang timbul pada keadaan tertentu. Pasien berusaha melakukan relaksasi jika mulai dirasa tidak enak badan. Pasien masih merasa masih timbul gejala sesak jika berada dirumah. X. yaitu saat berada dekat istrinya : masalah dalam hubungan antar suami istri IX. Respon terhadap pengobatan baik. TERAPI a. Prognosis ke Arah Buruk • • Perjalanan penyakit sudah berlangsung lama (3 tahun).

mengingatkan pasien untuk minum obat teratur. semangat penuh terhadap 18 . • Mendampingi pasien untuk kontrol berikutnya. Psikoterapi 1) Pada pasien Antiprestin 1x 20mg • Edukasi pentingnya minum obat secara teratur dan kontrol rutin. serta pasien. • Mengajarkan untuk melakukan relaksasi • Mengisi waktu luang dengan berbagai aktivitas untuk mengalihkan panik • Konseling keluarga • Menyarankan agar pasien lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dirinya diberi ketenangan dalam menghadapi masalah yang ada. dukungan. mengingatkan pasien untuk menjaga dan merawat diri dengan baik. • Memberikan perhatian. 2) Pada keluarga • Edukasi tentang keadaan penyakit pasien dan kondisi pasien.b.

Edisi ketiga. PT Nuh Jaya. 3. Buku Ajar Psikiatri. Maslim. Jakarta: 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.dkk. Jakarta: 2010 19 . Rusdi. 2. Badan Penerbit FKUI. Sylvia D. Jakarta: 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Maslim.DAFTAR PUSTAKA 1. PT Nuh Jaya. Cetakan pertama. Elvira. Rusdi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful