You are on page 1of 16

HIDUP BERTETANGGA

MENURUT ISLAM

PAPER

Diajukan sebagai salah satu persyaratan mengikuti


Ujian nasional ( UNAS ) dalam ilmu pengetahuan sosial ( ips)
Madrasah mu’alimin-mu’alimat ( MMA )

Oleh
FIQRI UMAR WACHID
Nomor induk :
737
Guru penbimbing

MADRASAH MU’LIMIN-MU’LIMAT
YAYASAN PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT
BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN
2009
MADRASAH MU’LIMIN-MU’LIMAT
YAYASAN PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT
BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN

PENGESAHAN

Paper atas nama saudara :


Nama :
Nomor induk siswa :
Judul :
Telah dipertahankan dalamnsidang munaqasah madrasah Mu’alimin-
mu’alimat Yayasan pondok pesantren sunan drajat pada :
Hari :
Tanggal :
Dan sidang sudah menerima sebagai perlengkapan persyaratan menempuh
Ujian Nasional ( UNAS ) dalam ilmu pengetauan social ( IPS ) pada
Madrasah Mu’alimin-Mu’alimat Yayasan pondok pesantren Sunan Drajat
Maka dengan ini kami sahkan hasil siding Munaqasah paper diatas
Banjaranyar,……………..2009

Waka Kurikulum

Muhammad Mas’ud
Tim penguji :
ketua : ( )
sekretaris : ( )
pembimbing : ( )
MOTTO

“ Tiap-tiap kebaikan adalah sodaqah,”


( al- Hadist

“ Barang siapa senang diperluas rezekinya, diperpanjang umurnya


hendaklah bersilaturrahim,”
( Al-Hadist )
HALAMAN PERSEMBAHAN
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan
karunianya,sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan paper ini untuk
persyaratan jian Nasional ( UNAS ) Madrasah Mu’alimin-Mu’alimat yayasan
Pondok Pesantren Sunan Drajat, sebagai alat untuk menumbuhkan
kreatifitasnya kita semua, sehingga dikemudian hari dapat bermanfaat bagi
kita semua.
Paper ini sengaja penulis persembahkan kepada :
1. Papa dan Mamaku tercinta yang selalu memberikan yang terbaik
bagi saya
2. Pak Zainul Musthafa, M.Hi.S.ag selaku kepala sekolah
3. Pak Su’arif, S.ag yang selalu membimbing penulis dalam
mengerjakan paper ini
4. Kakak dan adik kelas yang selalu men-suport saya
5. Semua teman sekelas saya yang selalu memberikan warna
dalam hidupku
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah saya ucapakan kepada Allah SWT. Atas segala
petunjuk dan hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan paper ini yang
pada dasarnya sebagai persyaratan mengikuti ujian.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Nabi
besar Muhammda SAW sehingga beliau dapat menjadi suri tauladan bagi
setiap umat.
Kemudian dengan terwujudnyapaper ini maka penulis behutang banyak
kepada segenap Bapak guru dan teman-teman atas bantuan dan motifasi
yang telah diberikan kepada penulis , maka penulis tidak lupa mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Prof.Dr.K.H. Abdul Ghofur, selaku pengasuh Pondok Pesantren
Sunan Drajat.
2. Bapak R. Zainul Musthofa, M.Hi.S.sg selaku kepala sekolah
Madrasah Mu’alimin-mu’alimat.
3. Bapak Su’arif, S.ag. yang telah memberikan waktu untuk
membimbing penulis.
4. Semua teman-teman yang telah memberikan semangat pada
penulis dalam pembuatan paper ini.
5. Semua pihak yang telah membantu dalam mengerjakan paper
ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan paper ini masih


terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, untuk itu penulis berharap
adanya kritik dan saran dari pembaca demi tersempurnanya paper ini.
Dan semoga kandungan-kandungan yang tertulis dalam paper ini dapat
bermanfaat bagi panulis dan yang membaca. Amiin……

Banjarnyar,………………2009

penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN...................................................................
MOTTO..................................................................................................
HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................
KATA PENGANTAR...............................................................................
BAB I PENDAHULUAN....................................................................
A. Latar Belakang....................................................................
B. Rumusan Masalah..............................................................
C. Tujuan Pembahasan...........................................................
D. Sistematika Pembahasan...................................................
BAB II LANDASAN TEORI.................................................................
A. Pengertian Hidup Bertetangga...........................................
B. Manusia Makhluk Sosial.....................................................
BAB III PEMBAHASAN.......................................................................
A. Faktor Pendukung ketidak harmonisan Hidup
Bertetangga........................................................................
B. Konsep Hidup Bertetangga Dalam Islam...........................
BAB IV PENUTUP..............................................................................
A. Kesimpulan.........................................................................
B. Saran-saran
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sesungguhnya Negara kita adalah Negara yang menjunjung tinggi
nilaipersatuan dan kesatuan. Oleh karena itu, kita sebagai rakyat
Indonesia harus bersatu padu, caranya kita harus berbuat baik kepada
setiap orang, walaupun orang tersebut kita kenal maupun tidak.
Perbuatan baik itu bisa dimulai dari tetangga yang paling dekat
sampai tetangga yang paling jauh, misalnya apabila ada orang yang
meminta pertolongan maka sebisa mungkin kita membantunya tanpa
memikirkan embel-embel yang lain. Dengan cara begitu kita akan
dihormati atau diperlakukan secara baik pula tanpa sepengetahuan kita
oleh seseorang terebut.
Pada zaman sekarang ini sangatlah jarang orang-orang
memperhatikan tetangga yang ada disekitar mereka. Saat ini yang
terpenting dalam hidup adalah bagaimana cara kita bisa berbisnis
disuatau tempat tersebut dengan sukses tanpa memperdulikan tetangga,
padahal manusia tidak akan bisa hidup sendirian. Maka dari itu manusia
tetap saja masih membutuhkan sesamanya. Jadi dalam hal ini sangat
diperlukan hubungan baik atar tetangga. Apaliagi dizaman yang modern
seperti ini kita akan mudah menjalin hubungan baik karena sudah ada alat
elektronik seperti Hp atau yang lainnya. Maka dari itu memperbanyak
teman sangatlah berguna bagi diri sendiri maupun orang lain karena hidup
didunia itu perlu seseorang teman agar tidak kesepian dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari yang sangatlah membuat kita menjadi jenuh. Oleh
sebab itu kita kembali dari awal yaitu rakyat Indonesia harus bersatu padu
karena bersatu padu dengan kokh seperti layaknya bangunan megah yang
saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Inilah sekedar
contoh yang digambarkan oleh Rasulullah terhadap bentuk persaudaraan
antara ummat Islam. Kejayaan seorang tokoh kurang berarti kalau tidak
menyatukan dirinya dengan kekuatan ummat Islam yang lainnya. Itulah
sebabnya ada pepatah mengatakan “ kejahatan terorganisir bisa
mengalahakankebenaran yang tidak terorganisisr,” kuncinya terletak pada
kerukunan, kebersamaan, dan saling menolong sesama ummat Islam.
Oleh karena itu penulis ngin mengangkat dan membahas persoalan
“ HIDUP BERTETANGGA MENURUT ISLAM,” dengan tujuan agar
masalah ini mendapat perhatian secara lebih.

B. Rumusan Masalah
Dibawah ini ada beberapa permasalahan yang akan dibahas
penulis didalam paper ini :
1. Apap factor pendukung ketidak harmonisan hidup
bertetangga ?
2. Bagaimana konsep hidup bertetangga dalam Islam ?

C. Tujuan Pembahasan
Di bawah ini tujuan penulis membahas judul paper ini :
1. Ingin mengetahui factor ketidak harmonisan hidup
bertetangga.
2. Ingin mengetahui konsep hidup bertetangga dalam Islam.

D. Sistematika Pembahasan
Agar memudahkan pembaca membaca karya ilmiah ini dibawah ini
penulis membuatkan sistematika pembahasan :
Bab I Pendahuluan : kita awali dengan bab satu yang meliputi latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan dan sistematika
pembahasan.
Bab II Landasan Teori : di bab dua ini meliputi pengertian hidup
bertetangga, manusia makhluk sosial.
Bab III Pembahasan : bab tiga ini meliputi faktor pendukung ketidak
harmonisan hidup bertetangga, konsep hidup bertetangga dalam Islam.
Bab IV Penutup : bab ini meliputi kesimpulan dan sara-saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Hidup Bertetangga
Pengertian bertetangga adalah seseorang yang sangat dekat
dengan kita, dan kita sebagaia seorang muslim yang apabila bene-bener
paham akan ajaran agamanya biasanya menjadi seorang yang terbaik
dalam berhubungan dengan tetangga, paling menghormati, paling baik
hati, dan baik budi pada mereka. Setiap orang yang rumahnya bertetangga
dengan kita itu harus kita hormati sehingga dapat menimbulkan kerukunan
setiap orang.
Kita ambil contoh binatang, setiap binatang pasti hidup secara
bergerombol dengan sesamanya, kambing saja yang tak punya akal bisa
hidup rukun dengan sesamanya, mencari makan bersama dan tidak
pernah bertengakar satu sama lain tak terkecualai binatang ganas seperti
harimau, walaupun kelihatannya harimau itu tidak pernah rukun sama
temannya tapi kalau sudah ada makanan mereka akan makan bersama
tanpa berkelahi untuk memperebutkan makanan tersebut.
Dan dalam Alqur’an Allah melarang manusia menyekutukannya,
lebih dari itu, Allah menyuruh manusia apapun agamanya untuk berbuat
baik kepada kedua orang tua kerabat juga tetangga dekat maupun yang
jauh. Allah berfirman dalam Alqur’an

Artinya : “sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukannya denga


apa/siapapun, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat,
anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan jauh, teman
sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.”
Dalam ayat diatas Allah secara tegas menempatkan penghormatan
dan penghargaan terhadap orang lain ( oarng tua, kerabat, teman, anak
yatim, ibnu sabil, dan seterusnya ) sebagai suatu yang sangat urgent dan
berada pada posisi kedua setelah menyembah kepada Allah. Oleh karena
itu menghormati mereka sudah barang tentu menjadi salah satu
penyempurna bagi keimanan seseorang. Hubungan keluarga dan
persaudaraan dalam pandangan Islam tidak hanya bersifat duniawi
semata, melainkan juga ukhrawi, soal pertemanan misalnya kebaikan
seorang teman tak cukup diukur melalui hubungan sesaat, apalagi dengan
motivasi keuntungan sepihak. Menurut pandangan Rasulullah, teman yang
baik disisi Allah adalah seorang yang paling baik dengan temannya. Begitu
pula dalam membangun hubungan bertetangga kita juga tidak boleh
terjebak dengan manipulasi perilaku seseorang. Oleh karena itu orang
yang baik menurut Rasulullah adalah orang yang paling baik terhadap
tetangga. Perintah berbuat baik, menolong orang, memberi bnatuan
kepada sesanatidak harus didasarkan pada prinsip perkawanan atau atas
dasar kenal dan tidak kenal. Nabi menyuruh umat Islam bersedekah
kepada siapa saja tanpa pandang bulu.
Tolong menolong sesame saudara maupun tetangga adalah sebuah
kebutuhan bagi seorang muslim yang mendambakan hidup rukun, damai,
dan sejahtera. Bersatu padu dengan kokoh seperti layaknya bangunan
megah yang saling berkaitan antara yang asatu dengan yang lainnya.
Apalah artinya tegaknya sebuah tiang kalau tidak ada keterkaitan dengan
rakitan yang lain. Oleh sebab itu tolong menolong adalah alat untuk
bersatu padu yang sangat kokoh. Ini adalah contoh Rasulullah
menggambarkan persaudaraan antar umat untuk mengukur keimanan
seseorang memang bisa dari berbagai perspektif, Rasulullah sendiri
menganjurkan agar keimanan seorang muslim dilihat dari segi tiga hal
yaitu : yang pertama adalah selalu berbuat baik kepada tetangga, yang
kedua adalah selalu berbuat baik kepada setiap tamu tanpa membedakan
derajatnya dan yang terakhir adalah selalu berkata yang baik kepada
orang lain. Tiga alat ukur yang sudah disampaikan oleh Rasulullah diatas
bisa dijadikan barometer bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Membantuan menolong tetangga yang sedang kesulitan adalah keharusan
bagi setiap tetangga sehingga mereka bisa merasakan manfaat
bertetangga dan akhirnya bisa terwujud kehidupan bertetangga yang baik
rukun dan damai. Memberi bantuan kepada tetangga tidak harus berupa
uang atau barang tapi juga bisa dalam bentuk jasa sebagaimana yang
dikatakan oleh Rasulullah yaitu apabila ada tetangga yang hendak
menancapkan kayu di dinding rumah kita merupakan salah satu bentuk
bantuan berupa berupa jasa. Kalau kebutuhan tetangga yang kecil-kecil
saja itu dianjurkan apalagi kebutuhan yang lebih besar tentu juga sangat
dianjurkan. Namun jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, ada sebuah
pepatah lama mengatakan sangat popular dimata masyarakat yaitu “
Banyak jalan menuju Roma” memang kenyataannya demikian kita
memiliki beribu-ribu jalan untyk menanamkan kebaikan, melalui perbuatan
langsung maupun maupun tidak langsung. Islam sangat memperhatikan
perilaku baik seseorang. Kita tidak boleh meremehkan arti kebaikan yang
kita lakukan, sikap ramah tamah dan bermuka manis denga keluarga,
saudara sesame muslim, maupun tidak dan karena semua itu adalah
kebaikan yang pasti akan mendapat perkenan tuhan dan manusia
sekaligus.
Memang remeh tampaknya arti sebuah senyuman, namun itu
adalah salah satu yang diperhatikan Islam. Islam bukan agama yang
muluk, tetapi Islam adalah agama yang sederhana, simple dan prktis
diamalkan penganutnya. Dengan demikian diharapkan amal kebaikan
penganutnya akan semakin banyak dan berlipat ganda. Islam
menganjurkan umatnyauntuk hidup rukun, tentram, saling kasih sayang
dan mencintai. Nilai-nilai Islam ini harus di junjung tinggi, baik kepada
teman, tetangga, orang yang dikenal maupun belum. Sebaliknya
permusuhan keonaran dan kebencian antara satu dengan yang lain itu
dilarang oleh Islam. Sampai-sampai Rasulullah mengibaratkan mereka
separti tubuh di mana satu anggota dengan yang lain saling membutuhkan
.jika ada anggota tubuh yang sakit maka bagian yang lain ikut
merasakannya.
B. Manusia Makhluk Sosial
Pengerian manusia makhluk sosial adalah setiap manusia tidak bisa
hidup sendirian melainkan masih membutuhkan sesamanya. Seorang
muslim yang menyadari ajaran-ajaran agamanya akan menjadi pribadi
yang berjiwa sosial, karena dia memiliki misi dalam hidupnya. Orang yang
memiliki misi dalam hidupnya tidak akan mempunyai pilihan lain kecuali
harus berhubungan dengan orang lain, bergaul dan berbaur dengan
mereka serta terlibat dalam kegiatan memberi dan menerima.
Seorang muslim akan bergaul dalam kehidupan sosial dengan cara
yang terbaik, sesuai pemehamannya atas agama yang benar dan nilai-
nilai kemanusiaan yang mulia yang dianjurkan dalam bidang interaksi
social. Kepribadian sosial seorang muslim yang diwarnai tuntuna Al-
qur’an dan sunnah merupakan kepribadian yang unik yang tidak bisa
dibandingkan keprbadian social lain yang dibangun oleh system buatan
manusia atau oleh hukum-hukum terdahulu manapun yang dikemukakan
oleh para pemikir dan filosof. Kepribadian muslim adalah kepribadian
sosial yang berkualitas tinggi, yang terdiri dari sejumlah karakter mulia
yang disebutkan dalam Al-qur’qn dan sunnah. Islam mewajibkan umatnya
agar setia terhadap karakter-karakter tersebut. Manusia akan diberi pahala
jika melaksanakannya dan akan dimintai pertanggung jawaban jika
mengabaikan. Dengan cara ini Islam bisa membuat kepribadian seorang
muslim sejati sebagai teladan yang brilian dari sebuah kebaika, kehidupan
yang bersih, kesalehan, individu-individu sosial yang berlaku baik.
Sumber-sumber Islam yang berbicara tentang hubungan sosial
cukup banyak, bahkan komprehensif dan teliti. Sumber-sumber ini tidak
mengabaikan aspek hubungan social manapun, dan sumber-sumber itu
menunjukkan level tinggi dan murni yang diinginkan islam untuk diikuti
oleh umatnya. Tentu saja seorang muslim akan meraih derajat itu
manakala realitas islam benar-benar menancap dalam hati dan jiwanya,
menembus sisi batinnya.
Kekuatan kepribadian social seseorang muslim didasarkan atas
ketaatannya dalam mematuhi hukum-hukum Allah dalam berhubungan
dengan orang lain. Dari syarat mendasar kepercayaan islam dalam
membendung hal-hal sosial dan moril inilah seseorang muslim yang saleh
dan tulus berhubungan orang lain. Atas dasar pondasi yang kluat ini,
seorang muslim sejati membina hubungan sosialnya. Orang yang
berupaya menjelajahi ajaran-ajaran islam mengenai isu-isu social akan
medapati dirinya berhadapan dengan sekumpulan ajaran-ajaran yang
menekankan sikap mulia ini. Ini merupakan indikasi besarnya perhatian
islam dalam membentuk kepribadian sosial seorang muslim dalam cara
yang paling seksama. Maka islam tidak hanya menyebutkan bentuk
globalnya, namun juga memperhatikan isu-isu moral yang terinci yang bisa
membentuk aspek-aspek kepribadian sosial individu yang utuh,
keseluruhan ini tidak ada dalam system sosial lain sebagaimana dalam
islam.
Secara khusus ada dua pertanyaan yang akan selalu menghantui
sosiologi agama, yaitu : yang pertama apakah agama ? dan yang kedua
yaitu apakah mungkin , baik secara individu maupun secara sosial, hidup
tanpa agama atau paling tidak tanpa sesuatu yang dapat dikatakan
3
sebagai ganti agama ? dalam sejarah social agama, ada dua pertanyaan
yang muncul silih berganti jika dalam proses ilmiah, peradaban urban,
agama muncul sebagai kebohongan intlektual, moral dan social. Maka dari
itu, jika agama sebagai institusi social dapat memenuhi beberapa
kebutuhan sosialmaka agama itu sangat penting dalam kehidupan kita
bersama.
Oleh sebab itu kita jangan memandang agama agama itu sebagai
alat untuk kita tidak mau saling tolong menolong sesama dalam
bermasyarakat, jikalau sudah dapat menghargai dalam bermasyarakat
maka dalam lingkungan tersebut akan tercipta suasana yang rukun, damai
dan sejahtera sebagaimana ada contoh yaitu dalam kasus anda ingin
bertemu dan meminta bantuan seseorang agar dia berkenan membantu
anda sedangkan anda benar-benar tengah membutuhkan bantuan atau
pertolongan tersebut maka belum tentu orang yang anda temui itu mau
membantu anda. Jadi, apakah anda benar-benar sedang membutuhkan
pertolongan, anda menitika air mata mengharap belas kasih dan iba
kepada orang itu, tetap saja ada kemungkinan dia tidak bisa, tidak akan,
atau tidak mau membantu anda. Apalagi dalam meminta bantuan tersebut
anda justru menunjukkan wajah yang tidak sungguh-sungguh anda
meminta bantuan atau pertolongan kepada orang itu, masih tetap terbuka
kemungkinan bahwa dia tidak akan membantu atau menolong anda.
Dengan cerita diatas kita bisa menyimpulkan bahwa hidup didunia itu
diharuskan tolong menolong sesame manuasi contohnya saja agama
islam yang bertujuan membina kehidupan masyarakat yang terbaik dimuka
bumi, sehingga mempunyai dada yang lapang bagi terjalinnya hubungan
yang baik dan pergaulan yang rukun dan damai. Dalam diri sifat
mementingkan diri sendiri, individualisme dan egoisme sebagai bagian dari
sifat manusia adalah saudara kandung nafsu syahwat, karena dorongan
mementingkan diri sendiri, seorang ingin memperoleh suatu tanpa
mempertimbangkan kepentingan orang lain. Jika seseorang telah dikuasia
egonya ia rela mengorbankan orang lain.
Disamping itu dalam diri manusia ada pula sifat social. Suka hidup
bersama dan bantu membantu dalam senang dan susah. Tetapi jika sifat
ini tidak dipimpin dan dipupuk, tentu tidak sanggup melawan sifat
4
mementingkan diri sendiri. dalam Negara bineka tunggal eka yang
berdasarkan pancasila ini. Masing-masing kita memang lebih dituntut
untuk tepo seliro ( tenggang rasa ). Kita tidak hanya sadar dengan hak kita,
5
tapi juga harus menyadari hak orang lain.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Faktor Pendukung Ketidak Harmonisan Hidup Bertetangga
Setiap manusia pasti mempunyai keinginan untuk selalu harmonis
dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu agar hidup kita dengan
tetangga selalu rukun harus membiasakan melakukan kebaikan, seperti
hadist Nabi

Artinya : “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari
kejelekannya”
Dari hadist diatas bisa disimpulkan bahwa membangun sebuah
keharmonisan, abik pada lingkingan keluarga maupun masyrakat, memang
menjadi dambaan pada setiap kalangan masyarakat pada tahap awal bisa
dimulai dengan cara melakukan kebaikan sekecil apapun itu kepada
orang-orang terdekat, yaitu anggota keluarga dan masyarakatsekitar. Islam
sendiri tegas mengatakan bahwa seorang tidak akan masuk pada surga
Allah jika sikap dan perbuatannya masih membuat tetangga merasa tidak
aman dan nyaman.
Konsep persaudaraan bisa digambarkan dengan tatanan kehidupan
harmonis, tentram dan tidak ada permusuhan. Kalau ada saudara kita
yang sedang mengalami hidup kekurangan, wajib bagi kita membantu
meringankan beban hidupnya dan percayalah Allah pasti akan mencukupi
kebutuhan orang-orang yang bersedia membantu mencukupi kebutuhan
saudaranya. Nilai persaudaraan harus tetap dioptimalkan mulai dari aspek
materi, social, hingga yang bersifat individual seprti aib saudara kita yang
harus wajib kita tutupi agar senantiasa tidak terjadi permusuhan dalam
kehidupan bermasyarakat. Karena dalam ajaran agama islam itu
sesamamuslim hakekatnya adalah bersaudara. Rasulullah bersabda:

Artinya : “ Sesama muslim adalah saudara,”


Dalam membina dan menjaga keutuhan persaudaraan kita harus
selalu menjauhi prasangka , mencari kesalahan orang lain, memat-matai,
saling iri dan benci satu dengan yang lain. Jika kita tidak bisa menjauhi
apa yang sudah digariskan Rasul yakni kebiasaan jelek diatas maka yang
tersisa adalah sebuah permusuhan dan saling membenci antar satu
dengan yang lain. Tentu ini adalah awal bencana keretakan, ketidak
rukunan, dan hilangnya keharmonisan di dalam lingkungan keluarga dan
masyarakat.
Bersikap dan berbuat baik pada tetangga adalah sebagian dari
perilaku mulia untuk mewujutkan tatanan kehidupan yang harmonis dalam
skala yang lebih luas tidak saja dilingkungan keluarga tapi juga dalam
lingkungan masyarakat, seseorang yang bisa menciptakan suasana
keharmonisan dalam sebuah kelurga, tapi selalu bermusuhan dengan
tetangga tentu suatu keharmonisan yang ada dalam sebuah keluarga
B. Konsep Hidup Bertetangga