JAWABAN SOAL STASE ANAK Tatalaksana kasus DBD

DBD Derajat III
TATALAKSANA KASUS DSS ATAU DBD DERAJAT III DAN IV

DBD Derajat IV

1. 2.

Oksigenasi (berikan O2 2-4 lt/menit) Penggantian volume plasma segera (cairan kristaloid isotonis) Ringer laktat/ Ringer asetat/ Nacl 0,9% 20 ml/kgBB secepatnya (bolus dalam 30 menit)

Evaluasi 30 menit, apakah syok teratasi? Pantau tanda vital tiap 10 menit Catat balans cairan selam pemberian cairan intravena Syok teratasi Keadaaan membaik Nadi teraba kuat Tekanan nadi >20 mmHg Tidak sesak nafas/sianosis Ekstremitas hangat Diuresis cukup 2 ml/kgBB/jam Syok tidak teratasi Keadaan memburuk Nadi lembut/tidak teraba Tekanan nadi <20 mmHg Distres pernafasan/sianosis Kulit dingin dan lembab Ekstremitas dingin

Cairan dan tetesan disesuaikan 10 ml/kgBB/jam

1. Lanjutkan cairan kristaloid 20 ml/kgBB/jam 2. Tambahan koloid/plasma dekstran/FPP 10-20 (max 30) ml/kgBB/jam

Evaluasi ketat Tanda vital Tanda perdarahan Diuresis Pantau Hb, Ht, Trombosit Stabil dalam 24 jam Tetesan 5 ml/kgBB/jam

3. Koreksi asidosis Evaluasi 1 jam

Syok belum teratasi

Tetesan 3 ml/kgBB/jam

Syok teratasi

Ht turun

Ht tetap tinggi/naik

Infus stop tidak melebihi 48 jam Setelah syok teratasi

Transfusi darah segar 10 ml/kgBB Diulang sesuai kebutuhan

koloid 20 ml/kgBB

Mencari faktor penyebab dan mengobati sesuai standar profesi misalnya terhadap ankilostomiasis. bergantian dengan Dekstrosa 5% Bila terdapat purpura  bila perlu transfusi darah  Antibiotik sistemik Indikasi: infeksi traktus urinarius dan kulit.m atau Deksametason 5 mg/kali i.  Diet Rendah garam dan tinggi protein. dalam 2 Dosis. Tranfusi. 3.v.v. suspek bakteriemi : Gentamisin 5 mg/kgBB/hari i. diklonin. Diberikan packed red cell.o .9 % larutan burowi Mulut Gliserin Kumur-kumur dengan klorheksasidin Anestesia topikal : difenhidramin. Sulfas ferosus 3 x 10 mg /kgBB/hari atau Glukonas ferosus 10 mg/kgBB/hari. apabila terdapat tanda-tanda gangguan oksigenasi atau kadar Hb < 6 g%. sehari 4 – 6 kali Bila keadaan membaik (dapat menelan) Prednison 1. dalam 2 dosis Bila resisten terhadap gentamisin: Netilmisin sulfat 6 mg/kgBB/hari i. Memberikan makanan yang banyak mengandung Heme Fe seperti daging dan hati 2.v.Tatalaksana SJS Pada Anak TERAPI  Dirawat di PICU  Hentikan faktor penyebab  Topikal Kulit Kompres NaCL 0. karena pada pemberian kortikosteroid terjadi retensi Na dan kehilangan protein Tatalaksana Anemia Defisiensi Besi pada anak Pengobatan 1.6 bulan. lidokain  Kortikosteroid Pada keadaan sopor/koma atau tak dapat menelan Triamsinolon asetonid 1 mg/kgBB/hari i. . 4. dalam 4 dosis Penyembuhan klinis tercapai  kortikosteroid ↓ bertahap  Infus/transfusi Bila terdapat vesikel dan bula yang luas  infus Darrow glukosa.5 – 2 mg/kgBB/hari p. dengan catatan makin rendah Hb anak maka dosis tiap kali transfusi per hari menjadi semakin kecil (berkisar antara 5-10 cc/kgBB/hari) Pencegahan  Menganjurkan pemberian ASI jangka panjang untuk bayi dan pemberian preparat besi pada bayi prematur sampai usia 1 tahun atau pemberian makanan tambahan yang mengandung suplemen besi pada usia 4 . Jumlah yang diberikan = 3 x BB (kg) x kenaikan Hb yang diinginkan.

15-30 menit setelah infus albumin/plasma selesai diberikan furosemid 1–2 mg/kg BB IV. bila kadar kalium rendah < 3. Bila SN disertai hipovolemia (hipoalbuminemia berat → kadar albumin ≤ 1.5 mEq/L dapat dikombinasi dengan spironolakton (1–2 mg/kgbb/hr) diberikan pada edema berat /anasarka. steroid alternating dilanjutkan 4 minggu lagi.  Kontak dengan penderita varicella → Imunoglobulin varicella-zoster dalam waktu < 72 jam Tuberkulostatika o Test Mantoux (+) → INH profilaksis o TBC aktif → OAT Pengobatan Kortikosteroid Pengobatan steroid untuk sementara tidak boleh diberikan bila dijumpai hal-hal sebagai berikut: hipertensi. dispneu. Diuretika Retriksi cairan (30 ml /kgBB/hari) selama ada edema berat dan oliguri. azotemia Pengobatan inisial  Dosis inisial prednison atau prednisolon 60 mg/m2/hari atau 2 mg/kgbb/hari (BB ideal) maksimal 80 mg/hari selama 4 minggu  Remisi (+) pada 4 minggu pertama. dosis alternating 40 mg/m2/hr (2/3 dosis initial) selang sehari pada pagi hari sudah makan selama 4 minggu lalu stop.Penatalaksanaan a. hipertensi → tirah baring. Bila remisi terjadi antara minggu ke 5 sampai dengan akhir minggu ke 8. Sindroma nefrotik primer Aktivitas Bila ada edema anasarka. Diuretika lebih dari 1 minggu periksa ulang natrium dan kalium plasma. infeksi berat (viral/ bakteri).  Remisi (-) sampai akhir minggu ke 8  steroid resisten . atau sefaleksin  Infeksi → antibiotika yang diberikan disesuaikan dengan derajat berat infeksi  Bila terjadi infeksi varicella → asiklovir 80 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis → 7-10 hari sedang pengobatan kortikosteroid stop sementara. Antibiotika/antiviral Antibiotika diberikan bila:  Edema anasarka + laserasi kulit → amoksisilin. eritromisin. Dietetik  Protein normal sesuai RDA yaitu 2 g/kg/hr  Rendah garam (1-2 g/hr) selama edema/ mendapat terapi steroid.5 gr/dl) berikan infus albumin rendah garam 20-25 % 1 g/ kg BB atau plasma sebanyak 15–20 ml /kg BB dalam 1-2 jam. Imunisasi  Vaksin virus hidup baru diberikan setelah 6 minggu pengobatan steroid selesai. Loop diuretic (furosemid 1–2 mg/kgbb/hr).

dengan menentukan pH dan cadangan alkali atau pemeriksaan analisa gas darah menurut Satrup (bila memungkinkan). Kadar C-peptide. Pemeriksaan tinja 1) Makroskopis dan mikroskopis 2) pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest. bila diduga terdapat intoleransi gula. kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang).Pemeriksaan Laboratorium pada diare anak. c. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah. ketonuria. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal d. Pemeriksaan Laboratorium DM tipe 1: Kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl dan 2 jam setelah makan > 200 mg/dl. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif. Glukosuria Bila hasil meragukan atau asimtomatis. IAA (Insulin auto-antibody). Anti GAD (Glutamic decarboxylase auto-antibody). perlu dilakukan uji toleransi glukosa oral (oral glucosa tolerance test). 3) Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi. terutama dilakukan pada penderita diare kronik. Ketonemia. e. 2007: a. kalium. . Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium.14 b. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Marker imunologis : ICA (Islet Cell auto-antibody).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful