PRINSIP UMUM PENATALAKSANAAN FRAKTUR DISLOKASI Kita mengingat enam prinsip penatalaksanaan fraktur dislokasi :

1

1. Jangan menambah kerusakan ( FIRST DONO HARM ; PRIMUM NON NOCERE ), Kemajuan ilmiah dibidang kedokteran memberi kesempatan pertolongan yang besar kepada penderita. Ingat bahwa metode-metode yang memberikan keuntungan pertolongan yang besar juga potensial untuk terjadinya kerusakan yang hebat. “ Pengobatan bisa berupa pedang bermata dua “ Ada pengertian IATROGENIC DISEASE ( GREEK : IATROS = PHYSICIAN or SURGEON and GENIC = PRODICED BY ) Kelainan iatrogenik ini berhubungan dengan meningkatnya tuntutan hukum karena ketidakpuasan baik oleh penderita maupun oleh keluarga penderita. Tuntutan hukum ini banyak yang bisa dihindari / dicegah dengan cara menguasai prinsip-prinsip perawatan fraktur dislokasi misal : a. Mencegah kerusakan jaringan lunak yang penting saat pertolongan pertama dan transportasi. b. Mencegah kerusakan jaringan lunak seperti kulit, pembuluh darah dan syaraf akibat aplikasi yang salah plester cost maupun traksi yang berlebihan. c. Menyebabkan infeksi pada bagian fraktur dislokasi saat memasang fixasi internal. 2. Melakukan pengobatan berdasarkan diagnose dan prognose yang akurat 3. Lakukan pengobatan dengan tujuan yang spesifik. Dislokasi dan subluksasi harus direposisi secara sempurna untuk mengembalikan kongruensi normal pada permukaan sendi dan mencegah radang sendi pasca trauma. Pemberian obat-obatan untuk perlukaan jaringan lunak termasuk pemberian jangka pendek NSAIDS akan mengurangi kehebatan dan lamanya peradangan dan rasa nyeri.

Perhatikan kemungkinan robekan ligament sehingga tidak terjadi residual joint instability dan recurrent dislocation. Sprain ligament – terjadi karena rangsangan tiba-tiba sehingga terjadi robekan kecil dan perdarahan lokal tetapi ligament tetap utuh. b. ligament. vascular yang putus menyebabkan hemarthrosis. Pilihlah therapi sesuai kebutuhan penderita sebagai individu. kelamin. subluksasi atau fraktur bila perlu stress foto. Fraktur dislokasi yang sama memberikan masalah yang berbeda bagi setiap individu. Contusio – terjadi bila sendi mendapat benturan langsung. Perlu latihan aktif untuk mempertahankan gerakan sendi dan kekuatan otot-otot sekitar sendi c. 2 Pemberian corticosteroid sistemik tidak ada indikasinya. 4. . Dengan cara tidak mengganggu vaskularisasi mencegah infeksi post operasi. Dislokasi dan subluxatio – perlu segera dilakukan reposisi baik dengan cara reposisi tertututp maupun dengan reposisi terbuka bila perlu. seyogyanya tidak diinjeksikan langsung dan berulang kedalam tendon. terutama sehubungan dengan umur. pekerjaandan penyakit yang menyertai. Hati-hati dengan pemberian steroid. 5. Hal-hal yang khusus terjadi pada trauma sendi : a. Sendi menjadi stabil karena ligament melar. Melakukan terapi secara realistik sesuai dengan kenyataan dan bisa dikerjakan dengan sarana yang cukup sesuai kebutuhan penderita. Perlu X-foto untuk kemungkinan dislokasi. maka membran synovial akan bereaksi dengan memproduksi cairan synovial berlebihan (effusion) . “ Kerjasama “ dengan “ hukum-hukum alamiah “ Dengan mempelajari perikebiasaan jaringan hidup. Perlu X-foto untuk kemungkinan fraktur intra artikular. atau sendi karena efeknya yang merugikan. 6. Tampak pembengkakan lokal. nyeri yang bertambah dengan gesekan sendi.

d. Pada siku dan sendi panggul immobilisasi yang akan membantu mencegah komplikasi myositis ossificans post trauma . Putusnya ligament – misalnya collateral ligament pada lutut harus direpair sesegera mungkin karena repair yang tertunda hasinya tidak sebaik apabila dilakukan segera untuk ligament yang lainnya misal ligament lateral ankle atau collateral ligament jari-jari setelah reposisi sendi perlu immobilisasi untuk mencegah regangan ligament dan kapsul selama masa penyembuhan. Immobilisasi sendi segera setelah reposisi perlu untuk mendapatkan stabilitas.

Avascular necrosis pada tulang pembentuk sendi ( misal kaput femoris ) c). Komplikasi Fraktur Dislokasi a).“ Post traumatic arthritis “ ( degenerative joint disease ) .Reflex sympatic dystrophy .Post traumatic myositis ossificans . Komplikasi lanjut .Kaku sendi menetap .Post traumatic osteoporosis .“ Recurrent dislocation “ . Komplikasi segera pada lokal trauman : .Cedera pada kulit Pembuluh darah Syaraf perifer Medulla spinalis pada multi trauma b).Infeksi ( septic arthritis ) . Komplikasi awal pada lokal trauma .

MD / Acute elbow Dislocation : Evaluation and Management / JAAOS Vol 6. 5. 2. Cohen S.and Four-Part Proximal Humerus Fractures : Evaluation and Management / JAAOS Vol 8.. Jr. 11.R. 10.H.. Allen C.A.W. MD et al / Monteggia Fractures in Children and Adults / JAAOS Vol 8.C.. MD and Hastings II H. MD / Hip Diwslocation : Current Treatment Regimens / JAAOS Vol 5.. Nov/Des 2000. No 4. 3. Naranja J. Hak J.. MD / Displaced Three. Bednar M. 6. / General Pathobilogy / Appleton and Large / @ 1994. Jul-Aug 1998.J. Jan-Feb 1998.J. No 1. Ring D... MD / Textbook of Disorders and Injuries of The Muskuloskeletal System / 3rd ed / @ 1999. No 4.. No 1.. MD / Acute and chronic Instability of the Elbow / JAAOS Vol 4..G.B. Sept/Oct 1995. Solomon L. MD et al / injuries to the Midtarsal Joint and Lesser Tarsal Bones / JAAOS Vol 6. MD / Olecranon Fractures : Treatment Options / JAAOS Vol 8. 13.. MD / The Dislocated Knee / JAAOS Vol 3. MD and Mostafavi R.R. Apley G. MD / Carpal Instability : Evaluation and Treatment / JAAOS Vol 1. MD and Iannotti P. No 3. / Apley’s System at Orthopaedics and Fractures / 7 th ed / @ 1993.B. No 6. Sept/Oct 1993. 4. 8. 7.D. Tornetta III P.M. MD / Coxa Saltans : The Snapping Hip Revisited / JAAOS Vol 3. 14. MD and Cope R.. et al / Effect at Quinolones on Cartilage growth and degeneration / WPOA 1995 Congress poster 53. Sept/Oct 1995. Jan/Feb 1997.. 9.K.. Lee M.. Miller M. .A. Salter R. CONSTANTINIDES P. Jul/Aug 1998. MD and Johnson J. Good L. Morney F. MD and Golladay J. No 5. 12.. No 4. No 5. May-Jun 1996. Daftar Bacaan : 1 1.. MD and Osterman L.. Jul/Aug 2000. No 1.

. Goss P. Kozin H. Mar/Apr 1998. MD / Perilunate Injuries : Diagnosis and Treatment / JAAOS Vol 6..J. No 1. Jan/Feb 1995..J. MD / Acromioclavicular joint injuries and Distal Clavicle Fractures / JAAOS Vol 5.. FRCS© / Displaced Proximal Humeral Fractures : Evaluation and Treatment 17. Nuber W.R. MD and Bowen K. No2.R. Jr. No 2. 21. No 4. Jan/Feb 1997. . Mar/Apr 1995.. MD and Marsh L.. No 1. 2 15..S.T. JAAOS Vol 3. No 2.L. Jul/Aug 1997. MD and Heckman D. MD / fractures and Dislocations of the Forefoot : Operative and Nonoperative Treatment / JAAOS Vol 3. Saltzman C. Chidgey K..G. MD / The Distal Radioulnar Joint : Problems and Solutions / 16. Mar/Apr 1995. 20. Schlegel F.M. MD / scapular fractures and Dislocations : Diagnosis and Treatment / JAAOS Vol 3. Schenck C...T. MD / Hindfoot Dislocation : when Are They Not Benign? / JAAOS Vol 5.. 18. MD and Hawkins J. MD. 19.

sayangnya kebanyakan dokter dan ahli bedah lebih menganjurkan “ immobilisasi “ daripada “ mobilisasi “. sehingga kecenderungan adalah kearah degenerative arthritis yang progressive sebagai kelanjutan dari kerusakan tulang rawan. 1970 membangun konsep baru sebagai kebalikan dari “ Continuos rest “ yaitu “ Continuos Passive Mation ( CPM ) untuk sendi synovial pada penderita berdasarkan hipotesis bahwa gerakan itu akan merangsang penyembuhan dan regenarasi tulang rawan sendi dengan cara differensiasi pluripotential Mesenchymal cells pada tulang subchondral. (E). Kemungkinan penyembuhan dan regenerasi tulang rawan sendi Seperti banyak dikemukakan oleh para ahli kemampuan sembuh atau regenerasi tulang rawan sendi sangatlah terbatas. Selama ini perlakuan pada trauma muskuloskeletal adalah “ immobilisasi “ atau “ mobilisasi “ anggota gerak .B. Adanya degenerasi pada daerah sentral tukang rawan sendi dan daerah gerakan sendi maka terjadi juga proliferasi perichondrium bagian tepi dan penebalan tulang rawan ( pembentukan chondrophyte ) yang diikuti osifikasi ( osteophyte = spur formation ). Reaksi membran synovial terhadap trauma. CPM membuktikan terjadinya stimulasi dan mempercepat penyembuhan dan regenerasi tulang rawan sendi. lebih besar daripada immobilisasi atau intermittent active mation. Membran synovial mensekresi cairan synovial untuk nutrisi dan pelumas pada tulang rawan sendi. Proliferasi perifer 3 Bagian tepi tulang rawan pada sendi synovial seperti daerah central adalah sendiri dari perichondrium yang berhubungan dengan membran synovial. Salter R. Menebal ( hyperthrophy ) dan . ligament dan tendon. Memproduksi cairan synovial secara berlebihan ( effusion ) 2. Membran ini mampu bereaksi pada kondisi abnormal dengan 3 cara : 1.

Reaksi diatas bersamaan dengan hypertrophy synovial membran dengan derajat yang bervariasi serta perlekatan ( synovial adhesion formation ). sendi ( adhesion ). bisa juga berupa exudat inflamasi seperti pada synovitis dan rheumatoid arthritis . Bawaan lahir : Congenital joint contracture misalnya tampak pada “clubfeet“. Melakukan perlekatan antara membran ssynovial dengan tulang rawan Effusi bisa berupa cairan serous misalnya pada sprain . b. bisa hemorrhogic seperti pada trauma hebat atau pada haemophilia. Perlekatan synovial juga bisa sebagai akibat gerakan sendi yang terbatas oleh berbagai sebab termasuk immobilisasi dalam gips atau bidai yang kaku. 2. bisa purulent pada septic arthritis . . dengan tetap menjaga stabilitas sendi dengan membatasi gerakan-gerakan yang tidak diinginkan. synovial membran pada tendon sheath dan bursa mampu bereaksi pada kondisi seperti synovial membran pada sendi. 1. “ Joint Contracture “ bisa karena : a. 4 3. Menajdi ketat dan “ mengkerut “ ( joint contracture ) ini menyebabkan terbatasnya ruang gerak sendi. Reaksi kapsul sendi dan ligament Kapsul fibrous persendian dan ligament-ligament memungkinkan luas ruang gerak sendi. Infeksi : fibrosis dan jaringan parut akibat infeksi bisa menyebabkan contracture sendi. Menjadi terlalu menegang dan “ molor “ ( joint laxity ) ini menyebabkan sendi tidak stabil. (F). “ Joint laxity “ bisa karena : Trauma cerai sendi akibat trauma dengan robekan kapsul atau ligament menyebabkan sendi tidak stabil.

. 5 c. d. Pengerutan otot : terjadi pada pengerutan karena ischemic (compartment syndrome). Radang sendi kronis : Rheumatoid arthritis dan penyakit regenerasi pada sendi keduanya menyebabkan pengerutan progressive kapsul fibrous persendian. ini berakibat terbatasnya luas ruang gerak sendi. “ muscle in balance “ dan spasme otot berkepanjangan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful