TUGAS

APLIKASI PEMETAAN TEMATIK : Sebaran Penduduk Miskin

ARIF ADITIYA

PUSAT JARING KONTROL GEODESI GEODINAMIKA

BADAN INFORMASI GEOSPASIAL
i|Ar if Ad iti ya

Arif Aditiya, S.Kom. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JABATAN FUNGSIONAL SURVEYOR PEMETAAN TINGKAT AHLI

PUSAT JARING KONTROL GEODESI DAN GEDINAMIKA

BADAN INFORMASI GEOSPASIAL
2013

I.

LATAR BELAKANG Meski kegiatan pembangunan namun masih dilaksanakan banyak melalui berbagai

penyempurnaan,

terjadi

ketimpangan-

ketimpangan secara sosial ekonomi. Ketimpangan di atas pada gilirannya menciptakan kelompok-kelompok penduduk yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses sumberdaya-sumberdaya pembangunan. Kelompok tersebut sering disebut kelompok penduduk atau masyarakat miskin.

Jumlah kelompok masyarakat miskin ini semakin banyak dengan semakin besarnya gelombang krisis ekonomi. Terpaan krisis ekonomi tidak hanya meluluhlantahkan program-program pembangunan, namun juga merusak tatanan ekonomi masyarakat yang telah terbangun sebagai hasil dari pembangunan yang selama ini dilakukan. Lebih parah lagi, kondisi krisis telah menjadikan sebagian besar masyarakat tidak dapat lagi menikmati fasilitas-fasiltas mendasar, seperti fasilitas pendidikan, sarana dan prasarana transportasi dan lain sebagainya.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, banyak sekali perubahan status keluarga dari yang tadinya keluarga sejahtera menjadi keluarga miskin dan sebaliknya. Hal ini merupakan dampak atau pengaruh dari adanya krisis ekonomi, yang menimpa sektor usaha (investasi) yang pada gilirannya akan diikuti dengan pengenaan PHK sehingga dengan sendirinya mengurangi tingkat pendapatan masyarakat. Pada sisi lain, tingkat inflasi terjadi sangat tinggi. Hal ini selain akibat nilai tukar rupiah yang semakin merosot, juga disebabkan oleh semakin sedikitnya barang (produk) yang dihasilkan oleh kegiatan usaha dalam negeri. Gambaran di atas menuntut rasa keprihatinan dan kebijakan semua pihak, sehingga setiap kegiatan produktif diarahkan untuk

menanggulangi kondisi kemiskinan di atas. Upaya penanggulangan kemiskinan tidak terlepas dari program-program peningkatan

kesejahteraan keluarga, yang sampai saat ini masih dinaungi oleh program-program pemerintah. Namun demikian lembaga-lembaga

1|Arif Ad iti ya

masyarakat pun telah banyak mengambil peran, seperti pada sektor kesehatan, pendidikan, kebutuhan pangan dan lain sebagainya.

Secara lokal maupun nasional, kemiskinan mempunyai empat dimensi pokok,yaitu : (1) kurangnya kesempatan (lack of opportunity); (2) rendahnya kemampuan (low of capabilities); (3) kurangnya jaminan (low-level of security); dan (4) ketidakberdayaan (low of capacity or empowerment). Dalam memahami masalah kemiskinan di Indonesia, penting untuk diperhatikan adalah lokalitas yang ada di masing-masing daerah, yaitu kemiskinan pada tingkat lokal yang ditentukan oleh komunitas dan pemerintah setempat. Dengan demikian kriteria kemiskinan, pendataan kemiskinan, penentuan sasaran, pemecahan masalah dan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dapat lebih obyektif dan tepat sasaran.

Penanggulangan kemiskinan merupakan bagian agenda pembangunan nasional yang diamanahkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR-RI) sebagaimana tertuang dalam ketetapan MPR RI Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan Dan Normalisasi Kehidupan Nasional Sebagai Haluan Negara dan Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999-2004, ketetapan MPR RI Nomor XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi Dalam Rangka

Demokrasi Ekonomi.

Penyelenggaraan upaya penanggulangan kemiskinan memerlukan sinkronisasi dengan upaya-upaya pembangunan yang lain sehingga dapat mencapai sinergi dan hasil yang optimal. Dengan demikan tidak terjadi pelaksanaan program yang tidak sinergi dan tumpang tindih satu sama lain, serta kurang terfokus dalam menetapkan sasaran program (siapa, apa, dimana, dan bagaimana).

Upaya penanggulangan kemiskinan, senantiasa menjadi perhatian pemerintah melalui berbagai kebijakan pembangunan yang dijabarkan 2|Arif Ad iti ya

ke dalam program-program pembangunan, baik melalui pembangunan sektoral nasional maupun pembangunan sektoral di daerah yang

(pembangunan

daerah).

Program-program

pembangunan

mempunyai sasaran pada penduduk miskin adalah sangat beragam, baik ditinjau dari segi sektor program pembangunan, sektor alokasi anggaran, maupun sektor instansi penyelenggara (governance

institution) pelaksana program (implementingagency) penanggung jawab program (executing agency).

Strategi ke depan yang diterapkan adalah, pemerintah hanya sebagai fasilitator, yaitu pemicu dan pemacu proses pembangunan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Itulah demokrasi pembangunan. II. TUJUAN a. Mengetahui jumlah dan persentase penduduk miskin secara nasional menurut daerah perkotaan dan perdesaan. b. Mengetahui karakteristik rumah tangga miskin dan tidak miskin secara nasional menurut daerah perkotaan dan perdesaan. c. Mengetahui distribusi dan ketimpangan pendapatan secara

nasional menurut daerah perkotaan dan perdesaan. III. TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Pengertian Kemiskinan Pengertian kemiskinan ada bermacam-macam, namun dalam rangka penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan terpadu harus ada kesepakatan pemahaman semua pihak penyelenggara agar targeting yang dilaksanakan tepat sasaran baik target penduduk miskin maupun program yang dilaksanakan. Pengertian kemiskinan yang perlu diketahui dan dipahami adalah sebagai berikut : 1. Kriteria BPS, kemiskinan adalah suatu kondisi seseorang yang hanya dapat memenuhi makanannya kurang dari 2.100 kalori per kapita per hari.

3|Arif Ad iti ya

Peta Indeks Kemiskinan (Sumber : BPS, 2005)

2. Kriteria BKKBN, kemiskinan adalah keluarga miskin prasejahtera apabila: a. Tidak dapat melaksanakan ibadah menurut agamanya. b. Seluruh anggota keluarga tidak mampu makan dua kali sehari. c. Seluruh anggota keluarga tidak memiliki pakaian berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian. d. Bagian terluas dari rumahnya berlantai tanah. e. Tidak mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan. 3. Kriteria Bank Dunia, kemiskinan adalah keadaan tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan USD 1,00 per hari.

3.2 Masyarakat Miskin Menurut Gunawan Sumodiningrat, masyarakat miskin secara umum ditandai oleh ketidakberdayaan/ ketidakmampuan (powerlessness) dalam hal: 1. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan dan gizi, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan (basic need

deprivation). 2. Melakukan kegiatan usaha produktif (unproductiveness). 3. Menjangkau sumber daya sosial dan ekonomi (inacceribility). 4|Arif Ad iti ya

4. Menentukan nasibnya diri sendiri serta senantiasa mendapat perlakuan diskriminatif, mempunyai perasaan ketakutan dan kecurigaan, serta sikap apatis dan fatalistik (vulnerability); dan 5. Membebaskan diri dari mental budaya miskin serta senantiasa merasa mempunyai martabat dan harga diri yang rendah (no freedom for poor). Ketidakberdayaan atau ketidakmampuan

tersebut menumbuhkan perilaku miskin yang bermuara pada hilangnya kemerdekaan untuk berusaha dan menikmati

kesejahteraan secara bermartabat.

5|Arif Ad iti ya

IV.

DATA-DATA PENYUSUN TEMATIK KEMISKINAN

No Peta Tematik
1 Peta Jumlah Penduduk

Maksud
Memberikan informasi jumlah penduduk di setiap Kabupaten/ Kota, dengan detil jenis kelamin dan tingkat usianya.

Isi
- Jumlah Penduduk - Jenis kelamin - Tingkat usia - Jenis pekerjaan - Tingkat penghasilan - Lembaga Pendidikan - Tingkat pendidikan penduduk - Sebaran sarana - Sebaran Pra-sarana - Sebaran fasilitas umum

Sumber Data
Badan Pusat Stastistik

2

Peta Tingkat Penghasilan

Memberikan informasi penghasilan dan jenis pekerjaan di setiap Kabupaten/ Kota.

Kementerian Keuangan

3

Peta Tingkat Pendidikan & Lembaga Pendidikan yang tersedia

Memberikan informasi tingkat pendidikan penduduk dan informasi infrastruktur pendidikan di setiap Kabupaten/ Kota. Memberikan informasi detil sarana dan pra sarana umum di setiap Kabupaten/ Kota.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

4

Peta Infrastruktur

Kementerian Pekerjaan Umum

5

Peta Pajak Bumi dan Bangunan

Memberikan informasi objek pajak Bumi dan Bangunan serta potensi pajak yang ada di setiap Kabupaten/ Kota.

- Sebaran objek Pajak Bumi dan Bangunan - Informasi potensi pajak daerah

DitJen Pajak Menkeu

6

Peta Penggunaan Tanah

Memberikan informasi penggunaan tanah atau lahan di setiap Kabupaten/ Kota.

- Informasi penggunaan tanah - Informasi vegetasi -

Kementerian Pertanian

6|Ar if Ad itiya

7

Peta Jenis Tanah

Memberikan informasi jenis tanah yang tersedia dan kecocokan aktifitas ekonomi Kabupaten/ Kota.

- Informasi jenis tanah - Informasi kesesuaian tanah - Informasi kegiatan ekonomi penduduk

Kementerian Pertanian

8

Peta Penggunaan BBM/ Gas

Memberikan informasi penggunaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak sebagai acuan aktifitas eknomi dalam dan luar wilayah di Kabupaten/ Kota.

- Informasi distrubusi SPBU - Informasi fasilitas pengguna Gas - Informasi Pengguna listrik - Informasi infrastruktur listrik - Informasi warga miskin - Informasi pengangguran - Informasi tingkat kriminalitas

Pertamina

9

Peta Sarana Listrik

Memberikan informasi ketersediaan saranan listrik Kabupaten/ Kota sebagai sumber aktifitas penduduk Kanupaten/ Kota.

PLN

10

Peta Kerawanan Sosial

Memberikan informasi kesenjangan dan kerawanan sosial di setiap Kabupaten/ Kota.

Kementerian Sosial

11

Peta Tenaga Kerja

Memberikan informasi jumlah penduduk dan jumlah usia kerja di setiap Kabupaten/ Kota.

- Informasi sebaran penduduk usia kerja - Informasi penduduk tidak bekerja

Kementerian Tenaga Kerja

7|Ar if Ad itiya

V.

PENUTUP Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas kemampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan

perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan,

pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosialpolitik, baik bagi perempuan maupun laki-laki.

Informasi

mengenai

profil

kemiskinan

sangat

dibutuhkan

oleh

pengambil kebijakan untuk penanganan masalah kemiskinan baik di tingkat daerah maupun di tingkat pemerintah pusat. Dengan

mengetahui profil kemiskinan, pengambil kebijakan dapat lebih memfokuskan program penanggulangan kemiskinan sehingga dapat lebih sesuai dengan kebutuhan penduduk miskin demikian, berbagai kebijakan pemerintah tersebut. Dengan dalam program

penanggulangan kemiskinan ke depan dapat lebih efisien, efektif, dan tepat sasaran. Makalah ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengguna akan data dan informasi yang berkaitan dengan indikator kemiskinan. Dengan demikian, upaya pemberdayaan masyarakat miskin dapat berjalan efisien, efektif, dan tepat sasaran dengan dilandasi semangat kebersamaan oleh semua pihak baik pemerintah, pengusaha/pelaku bisnis, dan masyarakat di sekitarnya untuk “Berbagi Rasa dan Berbagi Beban” dengan kaum miskin yang sangat membutuhkan pertolongan. DAFTAR PUSTAKA Makmun. 2003. Gambaran Kemiskinan dan Action Plan Penanganannya. Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol. 7 No. 2. Badan Pusat Statistik. 2008. Analisis dan Tingkat Kemiskinan Tahun 2008 Badan Nasional Penanggulan Bencana. 2009. Peta Indeks Kemiskinan. 8|Arif Ad iti ya

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful