BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Imunisasi adalah prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas, memberikan imunitas protektif dengan menginduksi respons memori terhadap patogen tertentu/toksin dengan menggunakan preparat antigen nonvirulen/nontoksik (Baratawidjaja, 2007). Di Indonesia, imunisasi diatur oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pemerintah bertanggung jawav dan terus mensosialisasikan akan wajibnya imunisasi. Bahkan hal ini diatur dalam undang-undang seperti UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kep. Menkes No 1611/ Menkes/ SK/ XI/ 2005 tentang pedoman penyelenggaraan imunisasi, dan masih banyak lagi yang lainnya (Tim Field Lab FK UNS, 2009). Di Indonesia diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau lima persen pada balita adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat. Namun, banyak masyarakat yang meragukan akan pentingnya imunisasi. Hal ini bukan karena tanpa sebab. Banyak dari masyarakat yang melihat dan mengalami bahwa banyak orang yang sudah diimunisasi, tetap saja masih terkena penyakit. Banyak ibu yang mengeluh tentang anaknya setelah diimunisasi, malah demam dan sakit. Ada juga yang mengalami radang. Namun sebagai seorang dokter yang baik, hendaknya dapat memberikan pengarahan yang baik agar masyarakat dapat mengerti akan pentingnya imunisasi. B. TUJUAN PEMBELAJARAN Pada kegiatan kali ini, mahasiswa diharapkan mengetahui segala sesuatu tentang imunisasi serta hal-hal yang harus diperhatikan sebelum dan sesudah imunisasi dilaksanakan. Hal ini dapat membantu mahasiswa dalam praktiknya di masyarakat kelak. Adapun learning outcome pembelajaran ini adalah mahasiswa diharapkan mampu : 1. 2. Menjelaskan tentang dasar-dasar imunisasi dan imunisasi dasar di Indonesia. Melakukan manajemen program dan prosedur imunisasi dasar bayi dan balita di Puskesmas mulai perencanaan, cold chain vaksin, pelaksanaan (termasuk penanganan KIPI), pelaporan dan evaluasi.

1

Polio III DPT I. kami diberikan field lab dengan topik imunisasi. DPT I DPT III. Setelah itu kami mencatat daftar bayi yang divaksinasi. cara injeksi secara sub/intra kutan maupun inra muscular. Polio III DPT III. Polio I DPT III. Polio III Polio IV BCG. Kami juga diperlihatkan cara memvaksinasi polio secara oral. Polio II BCG.dan diperlihatkan proses pelarutan. Sesampainya di puskesmas kami diberi penjelasan secara umum tentang imunisasi. sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Nama Rio Nova P Fashilah Ridwan Fadhlan H Yosi Eko D Yossy Eva A Aira Nuraini Armanda Aji P Novi Muh. Polio III Hep B. Polio II DPT I. Polio I Campak Campak DPT I.BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN Di blok Imunologi ini. Polio IV DPT II. Polio IV Polio II DPT II. Polio I Campak Campak Polio IV BCG. Polio II DPT II. Disini kami diberi pengarahan bagaimana cara memvaksinasi yang baik dan sesuai prosedur. Polio I DPT II. Polio I Campak Campak.5 bulan 1 bulan 9 bulan 10 bulan 7 bulan 2 . tepatnya tanggal 27 April 2010 ke Puskesmas Jenar Sragen. Polio III BCG. Abdul Jabar Muhimatul Felisa Juliyanti Sofia Guntur Aldian Kevin Pramudita Rina Ayu Ringgo Desi Wulandari Loreno Randu Alfikri Juliyanto Kholifah Fitka Erliana Syarif H Ilham Suryana Rio Pradana Wisnu Zakiyatul Umur Nama Ibu Mamik Yatmini Wahyuningsih Retno Parwati Wayem Ayu Fitriani Watini Sutini Sulastri Sutini Panem Suwarti Kori Wasiyem Wiwi Samiyem Sutarni Titik Rantini Lasmini Tarni Krismawati Gini Sri W Harsini Imunisasi DPT III. Polio IV Polio IV 1 bulan 5 bulan 3 bulan 4 bulan 5 bulan 2 bulan 10 bulan 9 bulan 6 bulan 2 minggu 4 bulan 3 bulan 7 bulan 4 bulan 1 bulan 9 bulan 9 bulan 6 bulan 2. Kebetulan juga pada hari itu diadakan imunisasi di desa dekat puskesmas sehingga kami langsung diajak ke tempat pelaksanaan imunisasi.disana sudah terlihat banyak ibu-ibu muda yg akan meng-imunisasikan bayinya. Polio IV BCG.

Polio II DPT III. Vaksin yg sensitif terhadap panas (BCG. Polio III Polio IV DPT I. Polio IV BCG. Kelvin Ali Setyawan Dias Bunga A Anisa Putri 13 hari 4 bulan 4 bulan 6 bulan 3 bulan 7 bulan 1.TT.5 bulan 10 bulan 4 bulan 10 bulan 3 bulan 7 bulan 2 bulan 22 hari 8 bulan 10 bulan 2 bulan 6 bulan Sri Utami Sri Mulyani Surati Suparni Purwati Marsini Sudaryanti Samiyem Paiti Darni Marsini Dami Ginarti Priyanti Purwati Marsini Sulasih BCG. Semua Vaksin disimpan pada suhu +2°C s/d +8°C b. Setelah itu kami kembali ke puskesmas untuk diberi penjelasan bagaimana penyimpanan obat-obat untuk vaksinasi. Peletakan dus vaksin bejarak minimal 1-2 cm d. Polio I DPT III. Berikut cara penanganannya : • Penyimpanan vaksin a.DPT. Polio III DPT III. Polio I DPT II.Campak. Polio IV Campak BCG. Polio III DPT III. Polio III BCG BCG. No 1-4 tidak ada umurnya. • Penggunaan di tempat pelayanan imunisasi a. Polio IV Yang diberi tanda merah tersebut tidak jadi divaksinasi karena kondisinya sedang tidak sehat. Polio IV Campak DPT I. karena ibu bidan lupa mencatat. seperti batuk dan panas.Polio) diletakan dekat evaporator e. Dalam thermos tidak boleh ada air yang merendam vaksin • Penggunaan vaksin dari vial yang sudah dibuka 3 . Dalam penggunaannya vaksin diletakkan diatas spon yg berada dalam thermos d. Polio I DPT III. Bagian bawah lemari es diletakkan cool pack sebagai penahan dingin dan kestabilan suhu c. Polio II Campak DPT III.HB) diletakan jauh dari evaporator. Diletakkan di meja yang tidak terkena matahari langsung c. Vaksin yg sensitif terhadap dingin ( DT. Vaksin disimpan dalam thermos yang berisi cool pack b.28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 NB: • • Aprilia Indah Setyaningsih Yuliana Novito Haca Syaiful Taufik Hidayati Cinta Pertiwi Lingga Marveli Yosfardan Dito Istian Nabila Tegar Rizki Iis Setyawati Muh.

Kondisi vaksin dapat digunakan warna segi empat bagian dalam lebih terang dari warna gelap sekelilingnya b. Kondisi vaksin harus segera digunakan warna segi empat bagian dalam sudah mulai gelap namun msh terang dari warna gelap sekelilingnya c. VVM (Vaccine Vial Monitor : stiker yang ditempel pada botol vaksin ) masih bagus e. Kondisi vaksin tidak boleh digunakan warna segi empat bagian dalam sama gelap / lbh gelap dari warna gelap di sekelilingnya 4 . Vaksin tidak melewati tanggal kadaluwarsa b.TT. Vaksin DPT. Pada pelayanan statis ( di Puskesmas) sisa vaksin dapat digunakan dengan ketentuan: a. Tetap disimpan pada suhu +2°C s/d +8°C c. Vaksin Campak hanya boleh digunakan tidak lebih 6 jam setelah dilarutkan i.Sisa vaksin yg telah dibuka pada pelayanan dinamis tidak boleh digunakan lagi. Vaksin Polio dapat digunakan hingga 2 minggu setelah dibuka g. Kemasan vaksin tidak pernah terendam air d. Vaksin BCG hanya boleh digunakan tidak lebih 3 jam setelah dilarutkan • Sebelum menggunakan vaksin periksa dengan teliti kondisi VVM a. Pada label ditulis tanggal vaksin pertama kali dibuka f.DT.HB dapat digunakan hingga 4 minggu h.

antivirus. • • • b. Macam-macam imunisasi dasar Imunisasi dasar yang wajib diberikan pada bayi adalah BCG.BAB III PEMBAHASAN Vaksin diberikan pada umur-umur tertentu sebab saat janin dan neonatus belum mempunyai kelenjar getah bening yang berkembang kecuali timus. Dalam bimbingan tersebut mahasiswa di beri penjelasan antaral lain tentang : 1. Oleh karena itu pemberian berbagai imunisasi dengan vaksin yang berbeda-berbeda pula pada saat janin berusia tertentu. DPT. a. Janin dapat membentuk IgM pada gestasi 6 bulan. kadar IgG menurun perlahan bila bayi mulai membuat antibodinya sendiri. dan antibakterial. Di samping memberi perlindungan kepada bayi terhadap infeksi atau toksin. Sedangkan IgG didapatkan dalam janin sekitar gestasi bulan ke-2 berasal dari ibu yang ditransfer melalui plasenta. Namun setelah lahir. Kadar IgG meningkat dan mencapai puncaknya sekitar gestasi bulan ke-4. Kemudian kadar IgM meningkat secara perlahan waktu lahir. Campak dan Hepatitis B 2. bersifat antitoksik. Pada field lab hari pertama pihak puskesmas memberikan bimbingan untuk mahasiswa kemudian mengajak mahasiswa untuk mengamati kegiatan imunisasi di desa Banyu Urip kecamatan Jenar Sragen. Polio. • • • luar Pemberian imunisasi BCG BCG diberikan 1 kali pada bayi usia 0-11 bulan Pemberian vaksin adalah secara intrakutan Tempat yang disuntik adalah sepertiga bagian lengan atas kanan DPT DPT diberikan 3 kali pada bayi usia 2-11 bulan Pemberian vaksin adalah secara intramuskular Tempat yang disuntik adalah bagian pertengahan paha bagian 5 . antibodi Ibu dapat pula mengurangi respons terhadap antigen (vaksin).

monitoring vaksin menggunakan VVM dan teknis pengelolaan peralatan vaksin dan rantai vaksin. mempersiapkan vaksin. subkutan untuk vaksin Campak dan intrakutan untuk vaksin BCG). Jadi sebelum imunisasi. menghitung Indeks Pemakaian vaksin. Dan jika VVM sama gelap atau lebih gelap dari warna gelap sekelilingnya. intramuskular pada vaksin DPT/Hepatitis B. 6 . • • Hepatitis B Hepatitis B diberikan 3 kali pada bayi usia 0-11 bulan Pemberian vaksin adalah secara intramuskular Tempat yang disuntik adalah bagian pertengahan paha bagian Campak Campak diberikan 1 kali pada bayi usia 9-11 bulan Pemberian vaksin adalah secara subkutan Tempat yang disuntik adalah sepertiga lengan bagian atas Polio Polio diberikan 4 kali pada bayi usia 0-11 bulan Pemberian vaksin adalah secara oral Di samping itu pada kegiatan field lab hari pertama. wajib dilakukan perencanaan mulai dari menghitung jumlah sasaran. • • • luar d. • • • e. dan cara pemberian vaksin. mahasiswa juga mempelajari halhal yang berhubungan dengan teknis pemberian vaksin seperti bagaimana melakukan persiapan sebelum kegiatan imunisasi. Kegiatan tersebut meliputi bagaimana mengecek kelayakan vaksin (dengan mengamati dan melihat expire date dan VVM di bagian luar ampul/vial). vaksin tidak boleh digunakan. menentukan area tubuh tempat vaksinasi (misal area lengan sebelah kanan untuk BCG dan area pertengahan paha bagian luar untuk DBP/Hepatitis B). Sebelum melakukan imunisasi. Layak tidaknya vaksin dapat ditentukan dengan melihat kondisi VVM yang terdapat di bagian luar ampul/vial dari vaksin dan melihat expire date. menentukan target cakupan. Jika warna pada VVM sudah mulai gelap namun masih lebih terang dari warna gelap sekelilingnya. melarutkan vaksin yang perlu dilarutkan terlebih dahulu sebelum digunakan (vaksin Campak dan BCG). Apabila VVM menunjukkan warna terang. menghitung kebutuhan vaksin.c. kita harus melihat kondisi VVM-nya dan melihat expire date-nyauntuk menentukan kelayakan vaksin. menghitung kebutuhan alat suntik dan safety box. dan teknis cara pemberian vaksin (misal per oral untuk vaksin Polio. maka vaksin harus segera digunakan. berarti menunjukkan vaksin boleh digunakan.

Badan Penerbit FK UI. 2000. mahasiswa diajak untuk mengamati kegiatan imunisasi di desa Banyu Urip. BAB V PENUTUP Dengan adanya imunisasi.2009.Setelah diberi pengarahan dan bimbingan di puskesmas Jenar. GKL8502900444A1 • • H. Reg. seharusnya ada 45 anak tetapi dua anak tidak dapat di imunisasi karena sedang dalam keadaan sakit antara lain demam. Kegiatan tersebut berlangsung dengan baik dan kondusif. KG. Petujuk Penggunaan Vaksin BCG Kering. Jakarta Mansjoer. A. No. Imunisasi. Media Aesculapius. Mereka menyadari bahwa imunisasi sangat penting untuk anak mereka. Markum. Ada 43 anak yang di imunisasi pada kegiatan tersebut. Imunologi Dasar. 2006. Kegiatan ini juga sangat membantu mahasiswa dalam praktik imunisasi di lingkungan masyarakat. Orang tua dari bayi pun sangat antusias dalam mengikuti program imunisasi. Selain itu juga membantu pembelajaran berdasarkan pengalaman karena teori saja tidak cukup dalam mengamalkan ilmu di lingkungan masyarakat. Daftar Pustaka • • Baratawidjaja. status bayi di wilayah ini diharapkan dapat terjaga dan selalu dalam keadan sehat. Badan Penerbit FK UI. 2000. Jakarta Biofarma. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta 7 . edisi ke 8.

2009. • Yuliasti.• Tim Field Lab FK UNS. 2010. Fitramaya. Yogyakarta 8 . Manual Field Lab Program Imunisasi. Surakarta: Field Lab FK UNS. E. Buku Saku Penuntun Imunisasi Dasar.