You are on page 1of 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada penulis sehingga makalah yang berjudul Praktek Penetapan dan Pengendalian Penjarangan ini dapat diselesaikan. Penulisan makalah ini memberikan gambaran tentang bagaimana penjarangan secara umum, macam-macam metode penjarangan seperti Penjarangan Rendah (Low Thinning), Penjarangan Tajuk (Crown Thinning), Penjarangan Seleksi (Selection Thinning), Penjarangan Mekanik (Mechanical Thinning) dan Penjarangan Bebas (Free Thinning), Penetapan dang pengendalian penjarangan dengan LBDS dan jumlah batang, hubungan antara jumlah dan ukuran pohon serta pelaksanaa penjarangan di lapangan. Dalam penyelesaian makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing maupun asisten dosen mata kuliah yang telah memberikan pengarahan mengenai pembahasan dalam makalah ini serta kepada pihak-pihak yang telah berpartisipasi dalam proses pembuatan makalah.

Penulis menyadari keterbatasan dalam penulisan makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa yang akan datang.

Makassar, September 2013

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................ DAFTAR ISI.............................................................................................. DAFTAR PUSTAKA................................................................................

Penjarangan
Penjarangan merupakan kegiatan yang dijalankan pada tegakan seumur atau kelompok seumur dan tegakan tidak seumur pada setiap saat sebelum permulaan atau periode permudaan. Tujuannya yaitu pemungutan pohon terutama untuk mendistribusikan kembali potensi pertumbuhan atau untuk meningkatkan kualitas tegakan tinggal (Soekotjo, 1992) Pada dasarnya penjarangan adalah suatu upaya pemeliharaan yang dilakukan manusia pada tegakan pohon dalam suatu areal hutan, tujuannya adalah menciptakan keseimbangan antara kepentingan biologi dari pohon dan kepentingan ekonomi untuk memperoleh hasil yang maksimal di kemudian hari. Penjarangan berpengaruh terhadap tegakan yaitu meningkatkan diameter batang, tinggi tegakan dan volume total tegakan. Selain itu, jumlah batang tegakan dan volume tegakan tinggal berkurang. (Frans Wanggai, 2009). Dampak penjarangan adalah memberikan ruang tumbuh yang lebih baik pada tegakan tinggal, terutama perkembangan tajuk maupun pertambahan riap. Dapat diungkapkan pula bahwa pada penjarangan pohon-pohon dengan diameter yang sangat kecil yaitu kurang dari 5 cm memang tidak menguntungkan dan menambah beban biaya pemeliharaan. Dengan alasan tersebut, maka dalam banyak hal, kegiatan penjarangan tidak dilaksanakan. Jika dianalisis lebih lanjut, maka tampak bahwa pohon-pohon tanpa penjarangan akan sangat berpengaruh pada hasil akhir yang diperoleh dari suatu kawasan hutan. Manan (1976) mengemukakan bahwa secara alami akan terjadi persaingan dalam suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan. Pada kondisi yang demikian, terjadi suksesi hingga mencapai kondisi klimaks, yaitu saat tercapat keseimbangan antara masyarakat tumbuhtumbuhan dengan lingkungannya. Pohon-pohon yang tertekan, kalah dalam persaingan akan mati dan ini merupakan penjarangan alami. Dalam proses demikian akan terjadi pengurangan jumlah pohon secara bebas dan tidak teratur akibat seleksi alami dalam suatu kawasan hutan. Selanjutnya diungkapkan bahwa penjarangan secara alami akan membiarkan banyak energi dan materi yang terbuang dalam jangka panjang sehingga memerlukan campur tangan manusia. Untuk itu penjarangan buatan perlu dilakukan agar lebih banyak energi dan materi alam dapat digunakan oleh tumbuhan secara optimum sesuai ruang dan waktu tertentu.

Metode Penjarangan
Hawley dan Smith (1962) serta Manan (1976) mengemukakan bahwa pada umumnya terdapat lima metode penjarangan yang digunakan, yaitu : 1. Penjarangan Rendah (Low Thinning)

Disebut penjarangan rendah karena dimulai dari lapisan tajuk yang paling bawah dan merupakan cara tertua diterapkan di Jerman sehingga cara ini dikenal dengan istilah Metode Jerman. Prinsip dasar yang diterapkan dalam metode ini adalah semua pohon dan tajuk jelek pada lapisan paling bawah ditebang, kemudian disusul pohon-pohon dengan tajuk yang jelek pada lapisan tajuk di atas sampai pada lapisan tajuk paling atas. 2. Penjarangan Tajuk (Crown Thinning)

Berbeda dengan penjarangan rendah, penjarangan tajuk lebih diarahkan pada pohon-pohon kelas tajuk paling atas (dominant trees) dan kelas tajuk pertengahan. Dari proses penjarangan ini maka perbedaan pokok antara low thinning dan crown thinning adalah bahwa dalam crown thinning tidak ada penjarangan ringan karena dimulai dari pohon kelas tajuk paling atas serta pohon-pohon yang ditinggalkan untuk penjarangan berikut berasal dari kelas tajuk codominan dan dominan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pohon-pohon yang ditinggalkan berasal dari dua kelas lapisan tajuk dalam satu kelas umur. Kelemahan dari metode penjarangan ini adalah tidak dapat diterapkan pada tegakan pohon yang distribusi atau sebaran kelas-kelas tajuknya yang tidak jelas dalam satu kelas umur tegakan. 3. Penjarangan Seleksi (Selection Thinning)

Ciri khusus dari penjarangan ini seleksi adalah dimulai dari pohon-pohon dominan dengan tajuk paling atas akan dimanfaatkan kayunya. Penjarangan seleksi sangat berbeda dengan penjarangan rendah, yaitu dimulai pada pohon-pohon yang tertekan. Prinsip dari penjarangan seleksi adalah memanfaatkan secara maksimal hasil terbaik pohon selama daurnya. Dengan demikian, pohon codominan dan yang tertekan diberi ruang tumbuh yang lebih baik untuk dimanfaatkan kayunya pada penjarangan berikutnya. Dapat disimpulkan bahwa cara penjarangan ini lebih cocok diterapkan pada suatu tegakan yang menghasilkan kayu dengan diameter sedang dan kecil.

4.

Penjarangan Mekanik (Mechanical Thinning)

Penjarangan ini berbeda dengan metode-metode lainnya yaitu dengan metode mekanik, yang menjadi pertimbangan utama atau dasar penjarangan pohon adalah posisi tajuk pohon yang akan ditebang. Biasanya metode penjarangan ini diterapkan pada tegakan seumur dan tingginya hampir seragam. Dalam aplikasinya, pohon pada jarak tertentu ditebang sehingga disebut penjarangan selang atau spacing thinning. Dapat pula penjarangan dilakukan pada pohon-pohon dalam jalur atau lorong dengan jarak tertentu sehingga membentuk jalur-jalur sempit dan disebut pula penjarangan jalur atau row thinning. Secara umum penjarangan ini diterapkan pada tegakan yang berukuran sedang dan setelah mencapai ukuran poles atau tiang maka digunakan metode lain. 5. Penjarangan Bebas (Free Thinning)

Penjarangan bebas umumnya merupakan gabungan penerapan dari metode lain sehingga disebut free thinning karena tidak terikat pada persyaratan tertentu. Pada umumnya penjarangan bebas dilakukan pada tegakan yang belum dilakukan penjarangan. Dalam pelaksanaan penjarangan beberapa hal seperti jarak, posisi tajuk, bentuk batang menjadi pertimbangan dalam penetapan tegakan yang akan ditebang. Dengan demikian, pohon-pohon yang ditinggalkan berpenampilan kekar dan diharapkan memberikan produk kayu terbaik di kemudian hari (Frans Wanggai, 2009).

Praktek penetapan dan pengendalian penjarangan Penetapan dan pengendalian dengan LBDS
Seperti kita ketahui bersama bahwa LBDS merupakan salah satu komponen yang digunakan dalam rangka menaksir volume suatu pohon yang erat kaitannya dengan riap diameter yang terjadi. Nilai LBDS suatu pohon di peroleh dengan sebelumnya mengukur nilai keliling pohon kemudian dijabarkan ke diameter untuk selanjutnya di masukkan ke persamaan untuk mengetahui nilai LBDS suatu pohon, yaitu sebagai berikut: LBDS = / 4 . D . Dimana : LBDS = Luas Bidang Dasar = 3.14 D = Diameter (m) Pada sistim ini nilai LBDS yang dijadikan sebagai patokan untuk melaksankan penjarangan. Di sini terlebih dahulu LBDS tegakan tinggal di tetapkan. Selajutnya di laksankan inventarisasi tegakan untuk mengestimasi LBDS dilapangan. Dalam praktek

estimasi LBDS di lakukan dengan membuat plot-plot sementara. LBDS yang akan di turunkan di jabarkan dalam jumlah pohon yang nantinya akan di tebang sampai batas LBDS yang di tetapkan atau di kehendaki sebelum penjarangan. Pada tegakan yang sudah di kelola secara intensif tabel-tabel tegakan biasanya tersedia yang menunjukan LBDS normal. Demikian juga telah tersedia LBDS yang akan di turunkan dalam pelaksanaan penjarangan berdasarkan species,umur,dan kualitas tapak.

Penetapan dan Pengendalian Dengan Jumlah Batang


Metode ini lebih umum di pakai termasuk pada pelaksanaan penjarangan tegakan hutan tanaman di Indonesia khususnya pada hutan tanaman jati. Metode penjarangn ini diciptakan oleh Hart kira-kira tahun 1929 (Manan, 1976). Oleh karena itu, metode ini juga disebut sebagai penjarangan metode Hart. Penjarangan jumlah Batang ini didasarkan pada suatu perbandingan yang baik antara jumlah batang dan ruangan tempat tumbuh,dimana pohon-pohon yang baik diberikan kesempatan untuk tumbuh dengan sebaik-baiknya.

Beberapa ketentuan umum yang dikemukakan Hart mengenai metode itu meliputi halhal sebagai berikut: a. Penjarangan dilakukan menurut jumlah batang dan mencari perbandingan yang baik antara jumlah batang dengan ruang tempat tumbuh yang diperlukan untuk pertumbuhan pohon. b. Pohon yang baik supaya diberi ruang tumbuh memadai untuk proses pertumbuhannya. c. Kekerasan penjarangan dinyatakan dengan derajat kekerasan penjarangan, yaitu

perbandingan antara rata-rata jarak antarpohon dengan tingginya, pohon peninggi. Atau merupakan suatu angka yang ditentukan berdasarkan perbandingan (dalam persen) yang tepat antra jarak antar pohon rata-rata dan tinggi pohon. Angka perbandingan ini kemudian dinyatakan sebagai S%. Makin besar angka perbandingan ini, maka makin besar pula intensitas penjarangan tegakan. Umur dan bonita tegakan dengan demikian menentukan S%.

Peninggi yaitu rata-rata tinggi pohon dari 100 pohon tertinggi tiap hektar yang tersebar merata (Manan, 1976). Beberapa sifat pohon yang diukur tingginya diukur tingginya sebagai pohon peninggi yaitu: a. Mudah ditemukan dan mudah diukur di dalam suatu tegakan hutan. b. Merupakan pohon dominan dan pada umumnya tidak ditebang dalam penjarangan berdasarkan metode Hart. c. Memberikan riap tinggi secara nyata untuk pepohonan tertinggi dalam tegakan hutan. d. Dapat dijadikan petunjuk yang baik untuk bonita tanah (kesuburan tanah). Berdasarkan teori Hart, pohon dapat tumbuh dengan baik apabila jarak antar pohon merupakan segitiga sama sisi sehingga membentuk ruang tumbuh yang terbagi sama.

Untuk mempermudah pelaksanaan penjarangan maka beberapa table-tabel tegakan dari hutan tanaman di Indonesia telah dibuat sejak pemerintahan Kolonial Belanda terutama untuk jenis jenis unggulan hutan industry seperti jati,pinus,agatis,jabon,sengon. Tabel-tabel ini memuat jumlah batang, LBDS, peninggi, volume tegakan penjarangan dan tegakan tinggal berdasarkan umur.

Hubungan antara Jumlah dan Ukuran Pohon


Studi dari populasi berbagai tanaman telah memperlihatkan hubungan antra jumlah maksimum individu tanaman yang dapat menempati tapak dan ukuran rata-rata dari individu tanaman. Hubungan ini dapat di rumuskan dalam bentuk matematika yaitu jumlah maksmum

tanaman dari berbagi ukuran yang terdapat pada suatu tapak berkorelasi dangan rata-rata biomasa pangkat 3/2. Banyak upaya yang telah di buat untuk menguantifikasi hubungan ini dan mengaplikasikanya untu studi pada berbagi tegakan. Hubungan antra kedua parameter ini digunakan dalam aplikasi penjarangan. Dalam kaitan ini di kemukakan konsep kerapatan relative (KR). Dimana KR diyatakan sebagai hubungan antara kerapatan tegakan dan kerapatan maksimum yang dapat terjadi namum masih menghasilkan rata- rata ukuran pohon yang sama. Berdasarkan hubungan ini maka patokan penjarangan dapat dibuat sesuai dengan sortimen produksi kayu yang di inginkan dan pengalaman dengan species yang di kelola.

Pelaksanaan Penjarangan di Lapangan


Pada penjarangan sistimatik intensitas penjarangan di tetapkan dengan menentukan jumlah baris atau jumlah jalur barisan pohon-pohon yang akan ditebang. Karena itu pohonpohon ditebang yang di tebang sudah jelas yaitu yang terdapat dalam barisan atau jalur yang telah di tetapkan. Pada penjarangan dengan metode lainnya pohon pohon yang akan ditebang atau di tinggalkan harus diberi tanda. dengan cara seperti ini kita dapat mengetahui pohon pohon yang akan ditebang beserta kuantitasnya. Pada hutan jati penjarangan biasanya dilakukan pada saat pohon berumur 1,5 sampai 2 tahun untuk tanah dengan bonita 4 keatas, sedangkan untuk tanah-tanah dengan bonita 3,5 kebawah, tanaman dijarangi pada umur 3 sampai 4 tahun, selain itu harus diperhatikan perkembangan keadaan tegakan tersebut.

Sebelum digunakan penjarangan, menurut Hart pada hutan jati pelaksanaan penjarangan dengan menggunakan cara penjarangan kelas pohon dan penjarangan bebas. Pada setiap penjarangan, sejumlah pohon yang ada harus dibuang. Untuk menentukan pohon mana yang harus dibuang, tergantung dari sistim penjarangan yang digunakan.

Pelaksanaannya kegiatan penjarangan pada perum perhutani terlebih dahulu melakukan inventarisasi tegakan dengan intensitas sampling 10%, yaitu dengan membuat Petak Contoh Percobaan (PCP) dengan jari-jari 17.8 meter atau setara dengan luas 0.1 Ha, dengan menunjuk satu pohon peninggi sebagai titik tengah. Semua pohon yang ada dalam

PCP dihitung dan diberi nomor urut yang diawali (nomor 1) pada pohon peninggi yang juga diberi tanda T sebagai pohon tengah. Pohon yang tingginya dari pohon peninggi (pohonpohon tertekan) tidak dihitung.

Apabila peninggi dan umur pohon sudah diketahui, maka bonita tanah dapat diketahui pula, yaitu dengan membaca pada tabel tegakan normal jati menurut Wolff van Wulfing, yang memuat jumlah pohon normal dalam luasan satu hekktar berdasarkan bonita tanah dan umur tegakan. Dengan demikian jumlah pohon yang harus dibuang/ ditebang per hektarnya dapat diketahui.

Penjarangan pertama umumnya dilakukan sesuai ketentuan sebagai berikut (Manan, 1976). a. Tegakan hutan dengan bonita kurang dari 3,5 dilakukan penjarangan pertama pada umur 2-3 tahun. b. Tegakan hutan dengan bonita lebih dari 4 dilakukan pada umur 2-2,5 tahun.

Waktu Penjarangan
Kegiatan penjarangan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau dikarenakan pada musim ini terjadi kompetisi yang sangat besar dalam hal memperoleh sumber air pada tapak yang di atasnya tumbuhi suatu tegakan. Penjarangan untuk jenis daun lebar dilaksanakan sebelum live crown ratio berkurang menjadi 30-40 persen, dan jenis pinus kurang lebih 40-50 persen. Terdapat pula penjarangan yang dilakukan lebih awal walaupun hasil kayunya tidak dapat dijual namun merupakan waktu yang optimum bagi pertumbuhan tegakan tinggal yang dinamakan juga pre-

commercial thinning. Namun pada umumnya penjarangan pertama pada hutan tanaman di daerah tropika dilaksanakan 2-4 tahun setelah tajuk pohon-pohon dalam tegakan saling menutupi.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2013 . Contoh Preskipsi Silvikultur, http://aldrenp.blogspot.com/2012/04/contohpreskripsi-silvikultur.html diakses pada tanggal 22 September 2013 pukul 08.00 WITA Anonim, 2013 Penjarangan dan Pemangkasan, http: // akarrumput21.blogspot.com /2011/12/ penja rangan-dan-pemangkasan.html diakses pada tanggal 22 September 2013 pukul 08.00 WITA Nurkin, B. 2012. Pengantar Silvikultur. Masagena Press, Makassar Dephut, 2013. Enumerasi TSP/PSP - Pengolahan Data http://bpkh3.dephut.go.i d/index .php? option =com content&view=article&id=65&Itemid=68&limitstart=3 diakses pada tanggal 22 September 2013 pukul 17.38 WITA Anonim, 2013. Penjarangan http://chipeuw.blogspot.com/2011/01/penjarangan.html diakses pada tanggal 22 September 2013 pukul 08.00 WITA