LAPORAN MANAJEMEN KASUS GAGAL JANTUNG

Disusun oleh: dr. Jonathan Arifputra

PUSKESMAS RAWAT INAP SUNGAI PINYUH KABUPATEN PONTIANAK 2013

1

Untuk itu pasien tidur dengan diganjal 2 bantal. IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Agama Status Alamat Tanggal diperiksa : Tn. H. dan membaik dengan istirahat. Pasien juga mengeluhkan dirinya gampang lelah. Pasien punya kebiasaan merokok sejak 20 tahun yang lalu sebanyak 4 2 . Pasien juga mengeluhkan badannya bengkak sejak 1 minggu SMRS.STATUS PASIEN I. ANAMNESIS Autoanamnesis tanggal 9 Febuari 2013 Keluhan Utama Keluhan Tambahan : Nafas sesak dan jantung berdebar-debar : badan bengkak Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD Puskesmas Rawat Inap Sungai Pinyuh dengan keluhan nafas sesak dan jantung berdebar-debar sejak 2 hari SMRS. Pasien menyangkal pernah mengalami nyeri dada sebelum sesak nafas. dan sering terbangun pada malam hari karena sesak dan BAK. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah sesak seperti ini sebelumnya. Pasien menyangkal mengalami batuk dan demam. Abu Bakar : 65 tahun : Laki – laki : Islam : Menikah : Rasau : 9 Febuari 2013 II. Pasien sering nafas sesak setelah sehabis beraktivitas seperti sehabis mandi atau berjalan. Terdapat riwayat diabetes selama lebih kurang 5 tahun terakhir dan rajin kontrol dan minum obat.

mukosa tidak hiperemis Mulut : mulut kering -. struma -. Pasien mempunyai riwayat stroke dan hipertensi. faring hiperemis (-) Leher : KGB tidak teraba membesar. lidah kotor -. Rambut tidak mudah dicabut Mata : Pupil bulat isokor. mukosa tidak hiperemis. Gigi – geligi caries -. sekret -/-. III.bungkus sehari. Terdapat riwayat hipertensi dan diabeters melitus di keluarga. RCL +/+.Pernafasan . CA -/SI -/Telinga : Normotia. serumen -/membran timpani intak +/+ Hidung : septum lurus ditengah. isi cukup . 3 .Tekanan Darah . Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini. frekuensi teratur. tidak ada gigi yang tanggal Tenggorok : Tonsil T1/T1 tenang.Suhu : 32 x /menit (jenis abdominotorakal) : afebris : Tampak sakit sedang : Compos mentis Status Generalis Kepala : Normocephali. RCTL +/+. distribusi rambut merata. papil eutrofi.Nadi : 140 / 90 mmHg : 120 x/menit. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital . sekret -/-. konka eutrofi. dan sudah berhenti sejak 5 bulan yang lalu.

skoliosis (-) Gerak nafas simetris saat statis dan dinamis Palpasi Perkusi : Vokal fremitus kanan = kiri : redup pada seluruh lapangan bawah paru kanan. ronchi kering+/+. murmur-.JVP 5+2 cm H20 Thorax depan Jantung Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat : Palpasi : ictus cordis tidak teraba. gallop – Paru Inspeksi Palpasi Perkusi : Gerak nafas simetris. bentuk dada normal : Vokal fremitus kanan = kiri : redup pada seluruh lapangan bawah paru kanankiri BPH : sela iga V midklavikularis kanan Peranjakan paru : 1 intercostal space Auskultasi : Suara nafas vesikuler. wheezing -/- 4 .kiri Auskultasi : Suara nafas vesikuler. teraba thrill dengan punctum maximum di apex Perkusi : Batas atas jantung Batas kiri jantung : sela iga II garis parasternal kiri : sela iga VI garis midklavikular kiri Batas kanan jantung: sela iga IV medial garis parasternal kanan Auskultasi : BJ I&II reguler. lordosis (-). wheezing -/- Thorax belakang : Inspeksi : Bentuk simetris. kifosis(-). ronchi basah +/+.

edema tungkai +/+ IV. Pasien menyangkal pernah mengalami nyeri dada sebelum sesak nafas. dilatasi vena : supel. Terdapat riwayat diabetes selama lebih kurang 5 tahun terakhir dan rajin kontrol dan minum obat. dan sering terbangun pada malam hari karena sesak dan BAK. turgor cukup. Pasien punya kebiasaan merokok sejak 20 tahun yang lalu sebanyak 4 bungkus sehari. dan membaik dengan istirahat. Pasien tidak pernah sesak seperti ini sebelumnya. Untuk itu pasien tidur dengan diganjal 2 bantal. Redup di samping kanan dan kiri abdomen. RESUME Pasien datang ke IGD Puskesmas Rawat Inap Sungai Pinyuh dengan keluhan nafas sesak dan jantung berdebar-debar sejak 2 hari SMRS. edema lengan +/+. Pasien sering nafas sesak setelah sehabis beraktivitas seperti sehabis mandi atau berjalan. 5 . Shifting dullness + Auskultasi : BU (+) normal Extremitas : akral hangat. tidak ada nyeri tekan dan Nyeri lepas. Pasien mempunyai riwayat stroke dan hipertensi.Abdomen : Inspeksi Palpasi : tampak cembung. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang V. hepar dan lien sulit dinilai Perkusi : timpani +. Pasien juga mengeluhkan dirinya gampang lelah. dan sudah berhenti sejak 5 bulan yang lalu. Pasien menyangkal mengalami batuk dan demam. Pasien juga mengeluhkan badannya bengkak sejak 1 minggu SMRS.

CA -/SI -/Telinga : Normotia. RCTL +/+. teraba thrill dengan punctum maximum di apex Perkusi : 6 . serumen -/membran timpani intak +/+ Hidung : septum lurus ditengah. papil eutrofi. Gigi – geligi caries -. sekret -/-. sekret -/-.Tekanan Darah . mukosa tidak hiperemis Mulut : mulut kering -.Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital . struma -.Suhu : 32 x /menit (jenis abdominotorakal) : afebris : Tampak sakit sedang : Compos mentis Status Generalis Kepala : Normocephali. konka eutrofi. tidak ada gigi yang tanggal Tenggorok : Tonsil T1/T1 tenang. RCL +/+.Pernafasan . frekuensi teratur. isi cukup . lidah kotor -. faring hiperemis (-) Leher : KGB tidak teraba membesar. mukosa tidak hiperemis.Nadi : 140 / 90 mmHg : 120 x/menit. JVP 5+2 cm H20 Thorax depan Jantung Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat : Palpasi : ictus cordis tidak teraba. Rambut tidak mudah dicabut Mata : Pupil bulat isokor. distribusi rambut merata.

gallop – Paru Inspeksi Palpasi Perkusi : Gerak nafas simetris. murmur-. bentuk dada normal : Vokal fremitus kanan = kiri : redup pada seluruh lapangan bawah paru kanankiri BPH : sela iga V midklavikularis kanan Peranjakan paru : 1 intercostal space Auskultasi : Suara nafas vesikuler. DIAGNOSIS KERJA Edema Pulmo duplex Et causa CHF NYHA grade 3 7 . Redup di samping kanan dan kiri abdomen. turgor cukup.Batas atas jantung Batas kiri jantung : sela iga II garis parasternal kiri : sela iga VI garis midklavikular kiri Batas kanan jantung: sela iga IV medial garis parasternal kanan Auskultasi : BJ I&II reguler. edema lengan +/+. wheezing -/Abdomen : Inspeksi Palpasi : tampak cembung. Shifting dullness + Auskultasi : BU (+) normal Extremitas : akral hangat. edema tungkai +/+ VI. tidak ada nyeri tekan dan Nyeri lepas. dilatasi vena : supel. ronchi basah +/+. hepar dan lien sulit dinilai Perkusi : timpani +.

PEMERIKSAAN ANJURAN EKG Chest X-ray Echocardiography IX. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : dubia Ad Malam : dubia Ad Malam : dubia Ad Malam 8 .VII. PENATALAKSANAAN IVFD RL 10 tetes/menit O2 12 lpm per face mask Rujuk ke RSUD Rubini VIII.

takikarsi. Sedang pada gagal jantung kongestif terjadi manifestasi gabungan gagal jantung kiri dan kanan. Gejala dan tanda yang timbul pun berbeda. bunyi P2 mengeras. bunyi derap S3 dan S4. ventricular heaving. sesuai dengan pembagian tersebut. anoreksia. dan gagal jantung kongestif.ANALISIS KASUS GAGAL JANTUNG Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan / atau kemampuannya hanya ada kalau disertau peninggian volume diastolik secara abnormal. kardiomiopati. dan kembung. serangan hipertensi. pembesaran jantung. pulsus alternans. gagal jantung terbagi atas gagal jantung kiri. peningkatan tekanan vena. atau penyakit perikardial). tanda – tanda penyakit paru kronik. Pada gagal jantung kiri terjadi dyspnea d’effort . batuk. Manifestasi Klinis Berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan pemompaan. ketidakpatuhan menjalani pengobatan anti gagal jantung. irama derap. infeksi atau demam. penyakit pembuluh darah atau penyakit jantung kongenital) dan keadaan yang membatasi pengisian ventrikel (stenosis mitral. Faktor predisposisi gagal jantung adalah penyakit yang menimbukan penurunan fungsi ventrikel (seperti penyakit arteri koroner. kardiomiopati. edema. pernafasan Cheyne Stokes. emboli paru. dan endokarditis infektif. gagal jantung kanan. dispnea nokturnal paroksismal. Pada gagal jantung kanan timbul fatig. heaving ventrikel kanan. infark miokard akut (mungkin yang tersembunyi). dan edema pitting. liver engorgement. ortopnea. anemia. aritmia akut. kehamilan. fatig. tekanan vena jugularis meningkat. irama derap atrium kanan. hepatomegali. Faktor pencetus termasuk mieningkatnya asupan garam. 9 . Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan hipertrofi jantung kanan. hidrotoraks. hipertensi. tirotoksikosis. ronki dan kongesti vena pulmonalis. murmur. asites.

Dispnea nokturnal paroksismal atau ortopnea 2. Kelas 3 Kelas 4 : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari – hari tanpa keluhan : Bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas apapun dan harus tirah baring aktivitas Diagnosis Gagal Jantung Kongestif (Kriteria Framingham) Kriteria mayor 1. Kapasitas vital berkurang menjadi 1/3 maksimum 7. Kardiomegali 5. Edema paru akut 6. Refluks hepatojugular Kriteria Minor 1. Batuk malam hari 3. peningkatan tekanan vena >16 cm H2O 8. Peningkatan tekanan vena jugularis 3. Irama derap S3 7.5 kg dalam 5 hari setelah terapi 10 . Takikardi (>120x/menit) Kriteria mayor atau minor Penurunan berat badan >4. edema pergelangan kaki 2. Dyspnea d’effort 4. Hepatomegali 5. Ronki basah tidak nyaring 4. Efusi pleura 6.New York Heart Association (NYHA) membuat klasifikasi fungsional dalam 4 kelas : Kelas 1 Kelas 2 : Bila pasien dapat melakukan aktivitas berat tanpa keluhan : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas lebih berat dari sehari – hari tanpa keluhan.

Diagnosis ditegakkan dari 2 kriteria mayor.6 mg dalam 24 jam b. dan fungsi tiroid dilakukan atas indikasi. d. Untuk pasien usia lanjut dan gagal jantung disesuaikan. infiltrat prekordial kedua paru. Dosis digitalis : 1. 2.8 mg iv perlahan – lahan 11 . Penatalaksanaan 1.75 – 1 mg dalam 4 dosis selama 24 jam. corakan vaskular paru menggambarkan kranialisasi.5 mg selama 2 – 4 hari. elektrolit.4 – 0. digoksin 0. fungsi ginjal. 2. Digitalisasi : a. Memperbaiki kontraktilitas otot jantung.2 – 1. angiografi. Digoksin iv 0. Digitalisasi cepat diberikan untuk mengatasi edema pulmonal akut yang berat : 1. Fungsi elektrokardiografi (EKG) untuk melihat penyakit yang mendasari seprti infark miokard dan aritmia. Digoksin : 1 – 1. Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan Hb. atau 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor harus ada pada saat yang bersamaan. Cedilanid 0. miksedema. Mengatasi keadaan yang reversibel. ekokardiografi. Digoksin oral untuk digitalisasi cepat 0. dan aritmia. Cedilanid iv 1.5 mg iv perlahan – lahan 2.5 – 2 mg dalam 4 – 6 dosis selama 24 jam dan dilanjutkan 2 x 0. termasuk tiroktoksikosis. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan foto torkas dapat mengarah ke kardiomegali.25 mg sehari.25 mg. Memperbaiki oksigenasi dengan pemberian oksigen dan menurunkan konsumsi O2 melalui istirahat / pembatasan aktivitas. Dosis penunjang untuk gagal jantung . 3. dan efusi pleura. Dosis penunjang digoksin untuk fibrilasi atrium 0. garis Kerley A/B. c.

biasanya diberikan digitalisasi cepat. Pada gagal jantung ringan diberikan digitalisasi lambat. Pemberian dosis besar tidak selalu perlu.Keadaan keracunan digitalis berupa bradikardia.Kontraindikasi relatif : penyakit kardiopulmonal. hipokalemia. gangguan irama. 3. Menurunkan beban jantung Menurunkan beban awal dengan diet rendah garam. kecuali bila diperlukan efek maksimal secepatnya. dan penyertaan obat yang menghambat konduksi jantung. Pemberian digitalisasi per oral paling sering dilakukan karena paling aman. diare dan gangguan penglihatan. gagal ginjal (dosis obat lebih rendah). digoksin dan penghambat angiotensin converting 12 . .Cara pemberian digitalis Dosis dan cara pemberian digitalis bergantung pada beratnya gagal jantung. Diet rendah garam Pada gagal jantung dengan NYHA kelas IV. diuretik dan vasodilator a. infark miokard akut (hanya diberi per oral). idiopathic hypertrophic subaortic stenosis. Pemberian secara intravena hanya dilakukan pada keadaan darurat. muntah. kadar terapeutik dalam plasma dicapai dalam waktu 7 hari. mual. penyakit paru obstruktif kronik. penggunaan diuretik. misalnya pada fibrilasi atrium rapid response. dan konduksi jantung berupa AV blok derajat II dan III atau ekstrasistolik ventrikular lebih dari 5 kali per menit. Pada gagal jantung berat dengan sesak nafas hebat dan takikardia lebih dari 120/menit. harus dengan hati – hati. miokarditis hebat. Kontraindikasi pemberian digitalis . Dengan pemberian oral dosis biasa (pemeliharaan. dan secara perlahan – lahan. Gejala lain yang ditemui pada intoksikasi digitalis adalah anoreksia.

Penggunaan penghambat ACE bersama diuretik hemat kalium maupun suplemen kalium harus berhati – hati karena memungkinkan timbulnya hiperkalemia. b. Dosis penunjang rata – rata 20 mg.2 – 2 ug/kgBB/menit iv . Vasodilator .25 mg atau setara penghambat ACE yang lain. amilorid dan asam etakrinat. tapi merupakan pengobatan garis pertama karena mengurangi gejala dan perawatan di rumah sakit. Untuk gagal jantung kelas II dan III diberikan : 1. klortalidon. Diuretik dalam dosis rendah atau menengah (furosemid 40 – 80 mg) 2. isosorbid dinitrat (ISDN) pada pasien dengan kemampuan aktivitas yang terganggu atau adanya iskemia yang menetap. Semua obat ini harus dititrasi secara bertahap.enzyme (ACE) diperlukan mengingat usia harapan hidup yang pendek. c. Penghambat ACE (kaptopril mulai dosis 2 x 6. dosis dimulai 3 x 10 – 15 mg. triamteren. dosis ditingkatkan secara bertahap dengan memperhatikan tekanan darah pasien).Nitrogliserin 0. Digoksin pada pasien dengan fibrilasi atrium maupun kelainan irama sinus 3.4 – 0. Efek samping berupa hipokalemia dapat diatasi dengan suplai garam kalium atau diganti dengan spironolakton.Nitroprusid 0.6 mg sublingual atau 0. Diuretik lain yang dapat digunakan antara lain hidroklorotiazid. Dampak diuretik yang mengurangi beban awal tidak mengurangi curah jantung atau kelangsungan hidup. Diuretik Yang digunakan furosemid 40 – 80 mg.5 – 1 ug/kgBB/menit iv 13 .

Untuk dosis awal ini perlu diperhatikan efek samping hipotensi yang harus dimonitor dalam 2 jam pertama setelah pemberian. - Menurunkan beban akhir dengan dilator arteriol 14 . Dosis awal enalapril 2 x 2.25 mg.Prazosin per oral 2 – 5 mg . Kaptopril dapat menimbulkan hipoglikemia dan gangguan fungsi ginjal.Penghambat ACE : kaptopril 2 x 6.. Jika secara klinis tidak ada tanda – tanda hipotensi maka dosis dapat ditingkatkan secara bertahap sampai 3 x 25 – 100 mg. Pemberian nitrogliserin secara intravena pada keadaan akut harus dimonitor ketat dan dilakukan di ICCU. Kaptopril sebaiknya dimulai dari dosis kecil 6.5 mg dapat dinaikkan perlahan – lahan sampai 2 x 10 mg.25 mg Dosis ISDN adalah 10 – 40 mg peroral atau 5 – 15 mg sublingual setiap 4 – 6 jam.