STRANGER THAN FICTION

Suatu Investigasi Independen Terhadap Peristiwa 9-11 dan Jargon “Perang Melawan Terorisme” http://www.voxfux.com/ http://www.voxfux.com/features/stranger_than_fiction.htm Dr. Albert D. Pastore Phd. Terjemahan Bebas --- Lagijaga --2004

Author hereby grants full permission to reproduce and mass distribute this paper for non-commercial use. Dengan ini penulis memberikan ijin untuk memperbanyak dan mendistribusikan tulisan ini dengan tidak bermaksud untuk mengkomersilkannya

1

“All truth passes through three stages. First, it is ridiculed, second it is violently opposed, and third, it is accepted as self-evident." “Semua kebenaran melalui tiga tahapan. Pertama, masa cemoohan/ejekan, kedua masa penentangan dengan kekerasan, dan ketiga masa penerimaan sebagai suatu bukti/fakta.” - Arthur Schopenhauer German philosopher, 1788-1860 - Artgur Schonhauer, Filsuf Jerman 1788-1860 "History is indeed little more than the register of crimes, follies, and misfortunes of mankind “Sejarah tidak lebih dari daftar kejahatan, pembodohan dan kemalangan umat manusia.” -Edward Gibbon British historian, 1737-1794 From Decline and Fall of Roman Empire -Edward Gibbon , Sejarawan Inggris, 1737-1794, Dikutip dari : Terbit dan Tenggelamnya Kekaisaran Romawi OPENING STATEMENT The ancient Greek philosopher Socrates taught his students that the pursuit of truth can only begin once they start to question and analyze every belief that they ever held dear. If a certain belief passes the tests of evidence, deduction, and logic, it should be kept. If it doesn't, the belief should not only be discarded, but the thinker must also then question why he was led to believe the erroneous information in the first place. Not surprisingly, this type of teaching didn't sit well with the ruling elite of Greece. Many political leaders throughout history have always sought to mislead the thinking of the masses. Socrates was tried for "subversion" and for "corrupting the youth". He was then forced to take his own life by drinking poison. It's never easy being an independent thinker! Today, our ruling government/media complex doesn't kill people for pursuing the truth about the world (at least not yet!) They simply label them as "extremists" or "paranoid", destroying careers and reputations in the process. For many, that's a fate even worse than drinking poison hemlock! Filsul Yunani kuno -Socrates- mengajarkan para muridnya bahwa pencarian kebenaran hanya bisa dimulai apabila pencari kebenaran mulai bertanya dan menganalisa setiap pemahaman yang pernah mereka terima. Jika suatu pemahaman melewati serangkaian tes mengenai fakta-fakta, pengambilan kesimpulan dan logis, maka pemahaman tersebut bisa diterima. Tetapi jika suatu pemahaman tidak berhasil melewatinya, maka bukan hanya disingkirkan tetapi kemudian bertanya mengapa ia membiarkan dirinya mempercayai informasi yang keliru dari si pemberi informasi. Tidak mengejutkan, tipe pengajaran ini tidak sejalan dengan elit penguasa Yunani pada waktu itu. Banyak para pemimpin politik sepanjang sejarah selalu mencoba menyesatkan pikiran masyarakat. Socrates didakwa “subversi” dan “menghasut para pemuda”. Ia kemudian dipaksa untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum racun. Tidak mudah memang menjadi seorang pemikir bebas! Sekarang pemerintahan / media massa kita (maksudnya Amerika Serikat) tidak membunuh orang-orang yang berusaha mencari kebenaran tentang dunia ( setidaknya belum !) Mereka dengan mudahnya menamakan orang-orang tersebut sebagai “extrimist” atau “paranoid”, menghancurkan karir dan reputasi mereka menyusul kemudian. Bagi banyak orang ini lebih buruk dari meminum racun cemara! Every news story you are about to review in this research paper is true and easily verifiable. This investigation represents 10 months of careful study, research, analysis, source verification and logical
2

deduction. Every event and quote presented here is 100% accurate. There are about 200 detailed footnotes which I encourage, no, urge, readers to explore and verify for themselves. The Internet version of this paper will allow users to obtain instant verification for each and every footnote by clicking on the footnotes/links. Others can obtain easy verification by entering the key search words (provided at the end of the paper) into the Yahoo or Google.com search engines. Due to the fact that well organized efforts are under way to suppress these facts, some of these news links are mysteriously disappearing even as we speak. Fortunately, this information has all been transcribed by many websites and has therefore been preserved from the censors. These footnote searches will take you directly to the news sites of many well known established media organizations throughout the world as well as opening up doors to a world of knowledge and information that has been concealed from you. With just a little common sense and a few clicks of a mouse, Google and Yahoo now enable anyone with an ounce of curiosity to become a Sherlock Holmes. Setiap penuturan yang anda baca pada riset ini adalah benar adanya dan sangat mudah untuk diverifikasi kembali. Investigasi ini menghabiskan 10 bulan studi yang cermat, analisa, verifikasi sumber dan pengambilan kesimpulan yang logis. Setiap peristiwa dan kutipan yang ditampilkan disini 100 % akurat. Ada sekitar 200 catatan kaki yang diajukan dan para pembaca dibebaskan untuk meng-eksplore untuk diri mereka sendiri. Versi internet tulisan ini membolehkan para penggunanya untu mendapatkan verifikasi secara instan untuk setiap catatan kaki dengan meng-klik catatan kaki/links-nya. Yang lainnya akan mendapatkan kemudahan verifikasi dengan memasukan kata kunci (disajikan di akhir tulisan ini ) ke dalam mesin pencari Yahoo atau Google.com. Berdasarkan kepada fakta/bukti bahwa ada usaha-usaha terkoordinir, beberapa dari links website berita ini secara misterius menghilang. Untungnya semua informasi yang hilang itu telah terdokumentasikan oleh banyak website dan terlindung dari sensor. Pencarian catatan-catatan kaki ini akan mengarahkan Anda secara langsung kepada situs-situs berita yang di luncurkan organisasi media di seluruh dunia ibarat membukakan pintu menuju dunia pengetahuan dan informasi yang pada mulanya tersembunyi bagi Anda. Dengan hanya sedikit saja akal sehat dan beberapa klik-an mouse, Google dan Yahoo akan menuntun siapapun yang memiliki rasa keingintahuan menjadi seorang Sherlock Holmes. This is no opinion piece. Rather it is a collection of buried, but undeniable facts, events, and quotes which, when assembled in one place, will state their own conclusions. In putting together this research in a logical and sequential format, great care was taken to confirm, double confirm, and triple confirm every piece of information. Any and all questionable data which could not be independently verified to this author’s satisfaction was discarded. Tulisan ini bukanlah suatu opini yang tak lengkap. Walaupun semua kumpulan informasi terkubur, tetapi fakta-fakta yang tak terbantahkan, peristiwa-peristiwa, kutipan-kutipan, jika semua itu disatukan dan disusun maka akan memunculkan suatu kesimpulan. Dalam riset ini usaha untuk meletakan/menyatukan semua itu dalam format logis dan berkesinambungan, kecermatan yang tinggi diusahakan untuk kepastian, dua kali lipat usaha untuk kepastian, dan tiga kali lipat usaha untuk kepastian dari setiap potong informasi. Semua data yang dipertanyakan yang tidak dapat diverifikasi secara bebas oleh penulis maka data tersebut diabaikan Taken individually, each story, quote and event may not amount to a full case. But when taken collectively, this mountain of facts should hammer home the truth to even the most skeptical reader. There are of course those who have fallen under the hypnotic spell of the TV talking-heads and "experts" whom they worship as authority figures. Unaccustomed to thinking for themselves, no amount of truth can sway them from their preconceived prejudices. They will even deny that which they see with their own eyes. They are victims of a psychological affliction known as "the lemming effect". Lemmings are small rodents who have been observed to follow each other as they charge to their deaths into raging rivers or even off of cliffs. Lemminghood is an innate psychological phenomenon, present in most mammals and observable in common people as well the most sophisticated and educated elites. Lemminghood is not an intellectual phenomenon - it is psychological. As such, no socio-economic class is immune to its strangulating effect. A grant3

seeking university scientist can be a lemming just as much as a fashion obsessed teen-age girl. One blindly follows the latest trendy theory while the other follows the latest clothing style. What's the difference? Neither can resist the force of nature. Jika dikaji bagian per bagian, setiap penuturan, kutipan dan peristiwa tidaklah akan mencerminkan suatu keseluruhan kasus. Tetapi ketika dikaji secara kolektif, gundukan fakta ini akan menjadi godam kebenaran kepada kebanyakan pembaca yang skeptis sekalipun. Ada pula ----tentu saja---- orangorang yang telah terpengaruh oleh mantra hipnotis para pemandu/pemimpin pembicara di TV dan ‘’para ahli’’ yang dipercaya oleh mereka sebagai figur yang memiliki otoritas. Tidak terbiasa untuk berfikir secara independen bagi diri mereka sendiri, kebenaran tidak bisa menggoyahkan anggapan yang telah terbentuk sebelumnya. Mereka bahkan akan tetap menyangkal walaupun mereka melihat dengan mata kepala sendiri. Mereka adalah suatu korban dari suatu penderitaan kejiwaan yang dikenal sebagai ‘’efek lemming (kukang?)’’. Lemming adalah binatang pengerat yang kecil dimana telah diteliti akan mengikuti yang lainnya sampai kematiannya walaupun kedalam sungai yang sangat deras bahkan kedalam jurang/karang yang sangat terjal. Karakter lemming adalah suatu pembawaan lahir fenomena kejiwaan, saat ini kebanyakan dari mamalia dan dapat pula dijumpai di masyarakat yang dikenal pintar dan kalangan elit yang berpendidikan. Karakter lemming bukanlah adalah suatu fenomena intelektual melainkan fenomena kejiwaan. Tidak ada satupun kelas sosialekonomi yang kebal dari efek keterjepitan ini. Seorang ilmuwan universitas yang besar bisa saja merupakan seekor lemming sebagaimana mungkinnya seorang remaja puteri yang terobsesi tentang fashion. Sang ilmuwan mengikuti pemahaman terakhir secara membabi buta sementara si gadis remaja mengikuti gaya pakaian yang sedang trendi. Apakah perbedaannya ? Keduanya tidak bisa melawan kekuatan alam. The power to fit in with one's social peers can be irresistible. To a human lemming, the logic behind an opinion doesn't count as much as the power and popularity behind an opinion. Man, like lemming, behaves collectively. And it could be no other way. Naturally, the individual must be equipped with this trait. Otherwise, the smallest steps toward civilization could never have been made. Lemminghood is a survival trait, an inborn instinct in the majority of people. However, as with all natural phenomena, this tendency can be manipulated and used for harmful purposes. It is this lemming effect which enables entire segments of a society to lose their sense of judgment all at the same time. Suatu kekuatan/kekuasaan yang cocok untuk suatu kelas sosial tertentu bisa saja tidak dapat ditolak. Untuk manusia lemming, sesuatu yang logis dibalik satu opini tidak akan berpengaruh, berbeda apabila ada suatu kekuatan dan popularitas dibalik suatu opini. Manusia yang seperti lemming berkelakuan secara kolektif. Tidak ada jalan lain. Secara alami individu-individunya pastilah dilengkapi dengan karakter seperti ini. Bagaimanapun juga, langkah terkecil menuju peradaban tidak akan pernah terbentuk. Karakter lemming adalah suatu karakter bertahan, naluri yang terlahir diantara kebanyakan orang-orang (di AS). Tetapi, sebagaimana fenomena yang alamiah, kecenderungan ini dapat saja digunakan untuk tujuan yang sangat berbahaya/jahat. Efek lemming ini terdapat pada semua segmen sosial yang secara bersamaan kehilangan nalar untuk menilai sesuatu. This research paper will likely be wasted on many lemmings. For lemmings, denial is a basic psychological defense mechanism used to not only shield themselves from unpleasant realities, but also to reassure themselves that they will still fit within the acceptable range of opinion held by their peer group. Lemmings are absolutely terrified at the thought of being labeled as an "extremist" or a "conspiracy theorist". At all costs, their beliefs must always be on the “right” side of the issue and conform within the boundaries of their lemming peers. Lemmings simply cannot bear the burden of responsibility, or the social discomfort, which comes with thinking independently. They will resist any efforts to change their misguided beliefs with all their mental energy. We can try to open their closed minds and free them from their self-imposed blindness, but it’s not easy fighting the force of human nature. The chains of ideological conformity have too strong of a grip, and breaking them is a difficult task. With the limited resources at our disposal, it is next to impossible to compete with the media
4

lemming-masters. The lie of the emperor is always believed before the truth of the peasant. Nevertheless, some of us must make the meager attempt, and thus lay the foundation upon which the truth might one day rise again. Tulisan investigasi ini pastilah akan dianggap sampah bagi kebanyakan lemming. Bagi para lemming penolakan merupakan karakter dasar dari mekanisme pertahanan yang digunakan bukan saja untuk memperisai diri mereka sendiri dari kenyataan yang tidak menyenangkan, tetapi juga untuk menjamin diri mereka masih cocok/diterima dalam pemahaman kolektif kelompok mereka. Para lemming benarbenar sangat takut apabila dicap sebagai ‘’ekstrimis’’ atau seorang ‘’pendukung konspirasi teori’’. Dengan semua konsekuensi tadi pemahaman mereka selalu haruslah dalam barisan yang ‘’benar’’ dalam suatu issue/wacana dan menyesuaikan diri dalam batas-batas kelompok lemmingnya. Para lemming sejatinya, tidak dapat memikul tanggung jawab berupa ketidaknyamanan sosial dalam berfikir secara bebas. Mereka akan bertahan terhadap usaha apapun untuk mengubah ‘’sesatnya’’ pemahaman mereka. Kita dapat membuka tertutupnya pemikiran mereka dan membebaskan mereka dari keterpedayaan yang buta, tetapi tidaklah mudah untuk bertarung melawan kekuatan alam. Rantai ideologi/mentalitas yang mendambakan kenyamanan terlalu kuat untuk digenggam, dan memecahkannya adalah tugas yang sulit. Dengan terbatasnya sumber daya kami yang tersedia, adalah tidak mungkin untuk bersaing melawan pemimpin/baron media lemming. Kebohongan yang berasal dari sang raja adalah selalu dipercaya sebelum kebenaran yang diajukan oleh seorang petani. Bagaimanapun juga, beberapa orang dari kita harus membuat suatu usaha awal, kemudian meletakan fondasi dimana kebenaran diatasnya akan terbit di suatu hari nanti There are those few among us who do possess both the courage and intellectual capacity to break free of the shackles of lemminghood and accept the truth when it is presented in a clear and logical sequence. To those open minded and independent thinkers I wish to state clearly and unequivocally. I intend to set forth in this paper an overwhelming body of evidence which should forever destroy the ridiculous notion that some Saudi Arabian caveman and his band of half-trained, nerdy Arab flight school attendees, orchestrated the most sophisticated terror operation in world history. The very idea is utterly laughable. And yet, due to the blithering barrage of bullshit dished out by the government/media complex, millions of "patriotic" Americans have accepted this fantastic fairy tale, this moronic mendacity, this silly superstition, this dangerous delusion, with a religious conviction bordering on insanity. As an admittedly useless public service to my helplessly misinformed countrymen of today, and as a gift to a posterity which will hopefully be more enlightened than my bewildered contemporaries, I have published this research so as to liberate as many people as I can from the oppressive yoke of media brainwashing and state sponsored lies. Do you have what it takes to break free from the lemming mob? If so, read on! Adalah sedikit sekali diantara kita yang memiliki keberanian dan kapasitas intelektual secara bersamaan untuk mematahkan belenggu karakter lemming dan menerima kebenaran ketika hal tersebut dipaparkan dalam satu kejernihan dan rangkaian yang logis. Kepada orang-orang yang terbuka pemahamannya dan dapat berfikir secara bebas Saya ingin menyatakan secara jelas dan tegas. Saya bemaksud membeberkan dalam tulisan ini suatu bukti-bukti yang sangat banyak yang akan menghancurkan suatu pemahaman, bahwa beberapa orang manusia gua dari Arab Saudi dan kelompoknya yang setengah terlatih, Orang Arab yang mengikuti sekolah penerbangan, mengatur suatu operasi terror yang paling gemilang dalam sejarah dunia. Suatu pemahaman yang sangat menggelikan. Kemudian, berdasarkan pernyataan-pernyataan yang semangat dan berapi-api mengenai omong kosong yang disajikan oleh pemerintah / baron media massa (AS), jutaan ‘’patriot’’ bangsa Amerika menerima dongengan bohong yang fantastis ini, kedustaan yang membodohkan ini, ketakhayulan yang sangat tolol ini, khayalan yang sangat berbahaya ini, dengan suatu tuduhan terhadap suatu agama yang dibalut oleh kegilaan. Sebagai suatu pengakuan dari ketidakbergunaan pelayanan publik terhadap miss-informasinya warganegara pada waktu ini, dan sebagai suatu hadiah kepada generasi yang akan datang yang diharapkan lebih mendapatkan pencerahan dibandingkan dengan masa sekarang yang membingungkan ini, saya
5

telah mempublikasikan tulisan ini untuk membebaskan masyarakat dari beban penindasan berupa pencucian otak oleh media dan negara (AS) yang mensponsori kebohongan. Apakah Anda bermaksud untuk membebaskan diri dari kungkungan lemming-lemming? Jika iya, bacalah tulisan ini !

SOCRATES TAKES POISON CUP. ARE YOU A THINKER……. OR A LEMMING? SOCRATES MENGAMBIL CANGKIR RACUN. APAKAH ANDA SEORANG PEMIKIR…..ATAU SEEKOR LEMMING? THE DANCING ISRAELIS TARIAN ISRAEL Like most Americans, I was gripped by senses of profound shock, horror, revulsion, sadness, and rage as I watched the horror of September 11, 2001 unfolding live on my television screen. Watching the mass murder of thousands of innocent people live on television was the most upsetting experience of my life. How could any person of sound moral character not be enraged at witnessing this horrific act of barbarism? To read about some faraway, long-ago genocide in a newspaper or a book is distressing enough. But to actually witness the mass murders of what was, at first, believed to have been tens of thousands of innocent people is truly heart stopping and traumatic. I barely slept for two nights afterwards and suffered nightmares. Polling data would later reveal that 65% of Americans actually shed tears on 9-11. (1) Seperti kebanyakan orang Amerika, saya dicengkram oleh perasaan teramat dalam, horror, perubahan yang mendadak, kesedihan, dan marah begitu saya menyaksikan horror 11 September 2001 secara langsung dan gamblang di layar televisi. Menyaksikan pembunuhan besar-besaran ribuan orang-orang yang tak bersalah di layar televisi secara langsung adalah hal yang paling mengganggu/membingungkan dalam hidup saya. Bagaimana tidak marah orang-orang yang memiliki karakter moral menyaksikan aksi menyeramkan dari barbarisme? Pada saat itu dipastikan puluhan ribu orang-orang yang tak bersalah benar-benar berhenti jantungnya dan mengalami trauma. Setelah itu saya tidur dan dalam dua malam berikutnya menderita mengalami mimpi buruk. Data polling mengungkapkan bahwa 65% orang Amerika menitikan air mata setelah menyaksikan peristiwa 9-11. But not all of the eye-witnesses to the 9-11 slaughter were so saddened. On September 11, five Israeli army veterans were arrested by the FBI after several witnesses saw them “dancing“, “highfiving“, and “celebrating” as they took pictures of the World Trade Center disaster from across the river in New Jersey. Steven Gordon was the lawyer who volunteered to represent the five Israelis. He was asked by a Hebrew newspaper why the five men were being detained by the FBI. Here’s what Gordon told Yediot America: Tetapi tidak semua saksi mata peristiwa pembantaian 9-11 bersedih. Pada 11 September, 5 orang veteran tentara Israel ditangkap FBI setelah beberapa orang saksi mata melihat mereka ‘’menari,’’meloncat bersama-sama’’dan merayakan’’ begitu mereka mengambil gambar bencana gedung World Trade Center di seberang Sungai New Jersey. Steve Gordon adalah pengacara
6

sukarela yang membela 5 orang Israel ini. Ia ditanyai oleh surat kabar berbahasa Ibrani mengapa 5 orang Israel ditahan oleh FBI. Inilah pernyataan Gordon kepada harian Yediot America : "On the day of the disaster, three of the five boys went up on the roof of the building where the company office is located," said Gordon. "I'm not sure if they saw the twin towers collapse, but, in any event, they photographed the ruins right afterwards. One of the neighbors who saw them called the police and claimed they were posing, dancing and laughing, against the background of the burning towers…. "Anyhow, the three left the roof, took an Urban truck, and drove to a parking lot, located about a fiveminute drive from the offices. They parked, stood on the roof of the truck to get a better view of the destroyed towers and took photographs. A woman who was in the building above the lot testified that she saw them smiling and exchanging high-fives. She and another neighbor called the police and reported on Middle-Eastern looking people dancing on the truck. They copied and reported the license plates. (2) Pada hari bencana, tiga dari lima orang menuju atap gedung suatu kantor,” kata Gordon. ‘’Saya tidak yakin apakah mereka menyaksikan runtuhnya menara kembar, tetapi dalam peristiwa apapun, mereka memotret reruntuhan tepat setelahnya. Seseorang yang berada dekat dengan mereka menghubungi polisi dan melaporkan bahwa mereka berpose, menari, dan tertawa dilatar belakangi terbakarnya menara…. ‘’Kemudian ketiga orang itu meninggalkan atap gedung, menuju sebuah truk Urban, mengemudikannya menuju lapangan parkir yang berjarak sekitar lima menit dari kantor. Mereka memarkirnya, berdiri di atap truk untuk mendapatkan penglihatan yang lebih baqus tentang kehancuran menara dan memotretnya. Seorang wanita yang berada di dalam sebuah gedung disekitar tempat parkir bersaksi bahwa ia melihat mereka tertawa dan berloncatan secara bergantian. Saksi mata itu dan orang-orang disekitarnya melapor ke polisi dan melaporkan mereka sebagai orang-orang yang berperawakan Timur Tengah menari-nari diatas truk. Orang-orang itu merekamnya dan melaporkan apa yang mereka saksikan. (2) The Ha’aretz new service of Israel reported: “The Foreign Ministry said it had been informed by the consulate in New York that the FBI had arrested the five for "puzzling behavior." They are said to have had been caught videotaping the disaster and shouting in what was interpreted as cries of joy and mockery.” (2b) (emphasis added) Surat kabar Israel The Ha’aretz membeitakan : ‘’Menteri Luar Negeri berkata bahwa telah diberi keterangan oleh konsulat di New York, bahwa FBI telah menahan lima orang untuk ‘’kelakuan yang membingungjan’’. Mereka dikatakan telah merekam bencana itu dan bersorak seperti yang diinterpretasikan sebagai teriakan kegembiraan dan olok-olokan’’. (2b) (penekanan ditambahkan) Ha’aretz went on to describe how the FBI field agents then subjected the five Israelis to days of brutal interrogation, torture, and solitary confinement. When their photos were developed, it was revealed that the dancing Israelis were smiling in the foreground of the New York massacre. (3) According to ABC’s 20/20 attempted whitewash of the incident, in addition to their outrageous and highly suspicious behavior, the five also had in their possession the following items; box-cutters, European passports, and $4700 cash hidden in a sock. (4) Kemudian bukti photo berkembang, ternyata terungkap bahwa orang-orang Israel menari-nari sambil tertawa-tawa di hadapan pembantaian New York. Berdasarkan laporan ABC pada 20/20 yang mencoba menutup-nutupi insiden itu, suatu insiden yang membangkitkan amarah dan kelakuan yang mengandung kecurigaan yang sangat tinggi, lima orang tersebut membawa barang-barang
7

berupa kotak cutter, pasport-pasport Negara Eropa, dan uang tunai sebanyak $4700 yang disembunyikan di dalam kaus kaki. (4) Why were these Israeli agents so happy about the horrible massacre that was unfolding right before their very eyes? What evil spirit could possess people who are supposed to be America's "allies", and who receive billions of dollars in financial and military aid from US taxpayers each year , to publicly rejoice as innocent people (including many American jews) were burning to death and jumping out of 110 story buildings? Could it be that these happy Israeli army veterans were in some way linked to this monstrous attack? That’s what officials close to the investigation initially told The Bergen Record newspaper of New Jersey. (5) Mengapa agen-agen Israel ini begitu bergembira tentang pembantaian yang mengerikan tepat didepan mata mereka? Jiwa iblis apa yang meraksuki mereka-mereka yang diposisikan sebagai ‘’sekutu’’ negara Amerika, dan menerima milyaran dollar berupa bantuan finansial dan militer yang berasal dari para pembayar pajak setiap tahunnya, bertingkah gembira di depan umum sementara orang-orang tak bersalah (termasuk Yahudi-Amerika) terbakar menuju kematian dan meloncat di gedung berlantai 110? Dapatkah dinyatakan bahwa lima orang veteran AD Israel memiliki hubungan dengan serangan monster in I? Inilah yang ditutup-tutupi oleh petugas terhadap investigasi pada mulanya menurut laporan harian di New Jerset The Bergen Record. (5) As incredible, as ridiculous, and as "paranoid" as that belief may appear to you at this point, the fact is that certain elements within the Israeli government, and International Zionist movement in general, have a long history of attacking the USA and framing Arabs in order to gain support from the US. Before we begin to piece together what really transpired on 9-11, it is absolutely critical that we first review some historical precedents regarding Israel's and International Zionism's treacherous history of manipulating America (and other nations) for their own selfish purposes. Without a basic understanding of this history, it would be impossible to understand the truth as it is today. So put aside your preconceived notions, your psychological defense mechanisms, and your prejudices, and step into my time machine for a journey down the memory hole. Begitu tak masuk akal, begitu menggelikan, dan begitu ‘’paranoidnya’’ mungkin keyakinan itu muncul dalam pikiran Anda, fakta bahwa elemen tertentu dalam pemerintahan Israel, dan pergerakan Zionis Internasional secara umumnya, memiliki sejarah yang panjang dalam menyerang Amerika Serikat kemudian menyalahkan Bangsa Arab untuk mendapatkan dukungan dari AS. Sebelum kita menyatukan potongan-potongan kejadian peristiwa 9-11, adalah mutlak untuk mengkritisi pertamatama beberapa latar belakang jejak sejarah Israel dan Zionisme Internasional dalam memanipulasi Bangsa Amerika (dan bansa lainnya) untuk kepentingan egoisme mereka. Tanpa dasar sejarah ini, tidaklah mungkin untuk mengerti kebenaran perustiwa yang sekarang ini. Jadi kesampingkan dulu dugaan awal Anda, mekanisme pertahanan Anda, dan persangkaan Anda, dan melangkah kedalam mesin waktuku untuk suatu perjalanan menembus dunia memori.

SHOCK. RAGE. GRIEF. HORRIFIED WITNESS REACT TO 9-11 TERKEJUT.MARAH.DUKA CITA. REAKSI MENAKUTKAN SAKSI MATA 9-11

8

 “CRIES OF JOY AND MOCKERY!” WHILE 5 ISRAELI MOSSAD AGENTS ARRESTED IN A WHITE VAN “DANCED, HIGH-FIVED, AND CELEBRATED.” SORAK SORAI KEGEMBIRAAN DAN OLOK-OLOK SEMENTARA 5 AGEN MOSSAD ISRAEL DITAHAN DALAM SEBUAH VAN PUTIH ‘’MENARI, MELONCAT-LONCAT, DAN MERAYAKAN.’’ ZIONISM AND WORLD WAR I ZIONISME DAN PERANG DUNIA I In the latter part of the 1800's, there arose in Europe a political movement known as "Zionism". Zionism in particular referred to the effort among certain jews to establish a jewish nation in the land of Palestine. Today, the term Zionism is more commonly applied to those jews who want to expand the borders of what was already established, at the expense of the Palestinians who once owned the land. In a more general sense, the term "Zionist" is also used to describe a certain element within the jewish community (not all of them!), who believe in Jewish Supremacy, thus putting their own interests ahead of those of any nation in which they reside. It is a mistake to assume that all jews are supporters of the “Zionist Mafia” or Jewish Supremacy. In fact, some of the strongest condemnations of Zionism and Jewish Supremacy comes from jews themselves! There exists an enormous collection of hard-hitting anti-Zionist writings compiled by such notable jewish authors, historians, and journalists as John Sack,(6) Alfred Lilienthal (7) Noam Chomsky,(8) Israel Shahak,(9), Benjamin Freedman,(10) , Jack Bernstein, (10B), Henry Makow (10C), and Victor Ostovsky (11) just to name a few. .There is even a jewish religious group called “Neturei Karta, Jews United Against Zionism”. (12) For their brave efforts, these men have had to tolerate vicious abuse from Zionist smear groups like the Anti Defamation League (ADL) - an organization which actually specializes in slander, defamation, and spying for Israel! Author Jack Bernstein described the abusive ADL smear process and challenged his fellow jews as follows: Pada paruh akhir tahun 1800-an, di Eropa muncul pergerakan politik yang dikenal sebagai ‘’Zionisme’’. Zionisme dengan segala faktanya ditujukan kepada usaha-usaha dari kalangan Yahudi tertentu untuk mendirikan Negara Yahudi di Tanah Palestina. Pada masa sekarang istilah Zionisme biasanya ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang menginginkan memperluas perbatasan negara Yahudi yang telah didirikan, dengan mengorbankan orang-orang Palestina yang telah memiliki tanah. Secara umum istilah Zionisme juga digunakan untuk melukiskan suatu elemen tertentu dari komunitas Yahudi (tidak semuanya), yang meyakini Supremasi (Kenggulan diatas segla-galanya) Yahudi, kemudian meletakan tujuannya sendiri didepan tujuan negara yang ditumpanginya. Adalah suatu kesalahan untuk berasumsi bahwa semua orang Yahudi merupakan pendukung ‘’Mafia Zionisme’’ atau Supremasi orang-orang Yahudi. Faktanya beberapa pengutukan paling keras mengenai Zionisme dan Supremasi orang-orang Yahudi justru datang dari orang Yahudi
9

sendiri! Ada banyak koleksi tulisan mengenai anti-Zionis dari penulis-penulis Yahudi, sejarawan, dan jurnalis seperti John Sack, (6) Alfred Lilenthal (7) Noam Chomsky (8) Israel Sahak (9) Benyamin Freedman (10) Jack Bernstein (10B) Henry Makow (10C), and Viktor Ostovsky (11) itu hanyalah beberapa yang dapat disebutkan. Bahkan ada gerakan keagamaan Yahudi yang dinamakan ‘’Neturei Karta’’, Persatuan Yahudi Melawan Zionisme’’. (12). Demi usaha beraninya tersebut, orang-orang Yahudi ini harus menerima perlakuan yang sangat kejam yang berasal dari fitnahan kelompok seperti Anti Defamation League (ADL) – suatu organisasi yang mempunyai spesialisasi dalam pemfitnahan, penistaan, dan mata-mata untuk Negara Israel! Penulis Jack Bernstein menggambarkan proses perlakuan yang kejam dari sesama orang Yahudi tersebut : “I am well aware of the tactics YOU, my Zionist brethren, use to quiet anyone who attempts to expose any of your subversive acts. If the person is a gentile, you cry, "you're anti-Semitic," which is nothing more than a smokescreen to hide your actions. But if a Jew is the person doing the exposing, you resort to other tactics: * First, you ignore the charges, hoping the information will not be given widespread distribution. * If the information starts reaching too many people, you ridicule the information and the person giving the information. * If that doesn't work, your next step is character assassination. If the author or speaker hasn't been involved in sufficient scandal, you are adept at fabricating a scandal against the person or persons. * If none of these are effective, you are known to resort to physical attacks. But NEVER do you try to prove the information wrong. So, before you commence efforts to silence me, I offer this challenge: You Zionists assemble a number of Zionist Jews and witnesses to support your position; and I will assemble a like number of anti-Zionist, pro-American jews and witnesses. Then, the Zionists and anti-Zionists will state their positions and debate the material in this book as well as related material -- and the debate WILL BE HELD ON PUBLIC TELEVISION. Let's explore the information both sides can present and let the American people decide for themselves if the information is true or false. ISN'T THAT A FAIR CHALLENGE? Certainly, you will willingly accept the challenge if what I have written is false. But if you resort to crying "Lies, all lies" and refuse to debate, you will, in effect, be telling the American people that what I have written here are the true facts.” (12B) ’Saya benar-benar memahami taktik KAMU, saudara Zionisku, kalian akan membungkam siapa saja yang mencoba meng-ekspose aksi-aksi bawah tanahmu. Jika orang itu bukan orang Yahudi, kamu berteriak,’’kamu seorang anti-Semit,’’ dimana itu tidak lebih dari suatu asap untuk menutupi aksiaksimu. Tetapi jika yang meng-ekspose adalah seorang Yahudi, kamu berusaha menggunakan taktik yang lainnya: ‘’Pertama kamu mangabaikan pengekposan itu, sambil berharap informasi itu tidak disebar luaskan.’’ ‘’ Jika informasi itu mulai menjangkau banyak orang, kamu mengejek-ejek informasi itu dan orangorang yang diberi informasi itu.’’ ‘’Jika usaha itu tidak ada pengaruhnya, langkah kamu selanjutnya adalah pembunuhan karakter. Jika si pemberi informasi itu tidak mempunyai skandal untuk dipublikasikan, kalian mulai membuat sesuatu untuk dijadikan sebagai skandal melawan seorang atau kelompok. ‘’jika semuanya tidak ada pengaruhnya kamu mulai dengan usaha lainnya yaitu penyerangan fisik.’’ Tetapi kalian tidak pernah berusaha untuk membuktikan bahwa informasi itu salah. Jadi sebelum kalian berusaha untuk membungkamku, saya memberikan tantangan kepadamu : Kalian kumpulkan teman-teman Zionismu dan saksi-saksi untuk mendukung posisimu, dan saya akan mengumpulkan beberapa orang anti-Zionist, Yahudi pro-Amerika dan saksi-saksi.
10

Kemudian Zionist dan anti-Zionist akan bertahan pada posisinya masing-masing dan berdebat mengenai buku ini sebagai bahan perdebatan – dan perdebatan AKAN DISIARKAN DI TELEVISI PUBLIK. Marilah kita meng-eksplor keterangan dari kedua belah pihak dan tampilkan, dan biarkan Bangsa Amerika memutuskan untuk mereka sendiri apakah keterangan-keterangan itu benar atau salah. BUKANKAH ITU MERUPAKAN SUATU TANTANGAN YANG ADIL? Tentu saja kalian akan menerima tantangan itu jika tulisanku ini salah. Tetapi kamu berusaha untuk berteriak ‘’Bohong, semua bohong’’ dan menolak debat, kamu pasti melakukan itu, tetapi saya akan menginformasikan kepada Amerika bahwa tulisanku adalah fakta yang sebenarnya’’ Needless to say, Bernstein’s challenge was never accepted. So let us put to rest now and forever the slanderous lie, and strategic Zionist propaganda ploy, that labels anyone who dares to call attention to the dangers of the Zionist Mafia is an “anti-semite”, a “hatemonger”, or a “skin-head“. Tetapi sayang tantangan Bernstein tersebut tidak pernah diterima. Jadi marilah kita tidak menghiraukan dicap sebagai pemfitnah selamanya, dan plot strategi propaganda Zionist, cap tersebut disematkan kepada siapapun yang berani memberikan perhatian kepada bahayanya Mafia Zionist sebagai seorang ‘’anti-semit’’ seorang ‘’penuh benci’’ atau seorang ‘’skin-head’’ Now the Zionists of the late 1800’s faced one small problem with their bold takeover scheme of Arab Palestine. Palestine was under the sovereignty of the Ottoman Turkish Empire and the Arabs certainly weren't about to just give away prime real estate in Palestine to the Zionists of Europe. There were very few jews even living in Palestine and the jews had not controlled Palestine since the days of the Roman Empire. This destroys the commonly believed myth that the Arabs and the jews "have been fighting over that land for centuries". The handful of Arab jews who lived in Palestine got along well with their Muslim hosts and never expressed any desire whatsoever to overthrow the Ottoman rulers and set up a nation called Israel. The movement to strip Palestine away from the Ottoman Empire came strictly from European Zionists who had become very influential within several European nations. Zionist pada akhir tahun 1800-an menghadapi masalah kecil untuk mengambil alih tanah Arab Palestina. Palestina dibawah kekuasaan Kesultanan Turki Ottoman dan Bangsa Arab tidak mau begitu saja menyerahkan tanahnya di Palestina kepada Zionist yang berasal dari Eropa. Ada sedikit orang Yahudi yang tinggal di Palestina dan orang-orang Yahudi tidak memiliki kekuasaan di tanah Palestina semenjak jaman Kekaisaran Romawi. Ini menghancurkan mitos bahwa Arab dan Yahudi ‘’telah berjuang untuk tanah itu selama berabad-abad’’ Semua penduduk Yahudi-Arab yang tinggal di Palestina hidup berdampingan dengan tuan rumahnya Muslim dan tidak pernah mengutarakan keinginan untuk lepas dari kekuasaan Turki Ottoman dan mendirikan negara yang disebut Israel. Pergerakan untuk memisahkan Palestina dari Kesultanan Ottoman muncul dengan kuatnya dari kalangan Zionist Eropa yang sangat berpengaruh di beberapa negara Eropa. As fate (or perhaps design) would have it, a great opportunity would soon present itself to the Zionist Mafia. There came in 1914 "The Great War" pitting the three powers of Germany, Austria-Hungary, and the Ottoman Turkish Empire against the three powers of England, France, and Russia. In the interests of staying on the subject of 9-11 and today's "War on Terrorism", we won't get into all of the underlying causes or the historical flow of World War I. What we need to understand is that the Zionists played an important role in dragging the USA into that bloody European war - a war in which the US had no vital interests at stake whatsoever. Suatu takdir (atau mungkin desain) telah terjadi, suatu kesempatan besar kemudian muncul dihadapan Mafia Zionist. Kesempatan itu muncul pada tahun 1914 ‘’Perang Besar’’ melibatkan tiga kekuatan yaitu Jerman, Austria-Hongaria, dan Kesultanan Turki Ottoman melawan tiga kekuatan Inggris, Perancis dan Russia. Untuk tetap tertarik kepada peristiwa 9-11 dan ‘’Perang Melawan Terrorisme’’ kita tidak akan mendapatkan garis besar penyebab atau efek historis dari Perang Dunia I. Apa-apa yang kita butuhkan untuk memahami bahwa kaum Zionist memainkan peran yang sangat
11

penting untuk menarik AS kedalam pertempuran berdarah di Eropa – suatu perang dimana AS tidak memiliki kepentingan dan interest apapun. Here was the situation. By 1916, the Germans, Austrians, and Ottoman Turks had seemingly won the war. Russia was in turmoil and about to be swallowed up by communist revolution. France had suffered horrible losses, and Britain was under a German U-boat blockade. Germany made an offer to Britain to end the war under conditions favorable to Britain. But the British, and the international Zionists, had one more card to play! Inilah situasinya. Tahun 1916, Jerman, Austria dan Turki terlihat akan memenangkan peperangan. Russia dalam masa pergolakan dan kacau balau diakibatkan oleh Revolusi Komunis. Perancis mengalami beberapa kekalahan yang sangat telak, dan Inggris dibawah blokade U-Boat Jerman. Jerman memberi suatu tawaran kepada Inggris untuk mengakhiri perang dibawah kondisi yang diinginkan Inggris. Tetapi Inggris dan kaum Zionist Internasional masih memiliki satu kartu lagi untuk dimainkan! The British government and the Zionist leaders struck a dirty deal. The Zionists were led by Chaim Weizmann, the man who one day become the first President of the State of Israel. The idea was for the Zionists to use their influence to drag the mighty USA into the war on Britain's side, so that Germany and it's Ottoman allies could be crushed. In exchange for helping to bring the USA into the war, the British would reward the Zionists by taking over Palestine from the conquered Ottomans after the war was over. The British had originally wanted to give the Zionists a jewish homeland in an African territory. But the Zionists were fixated on claiming Palestine as their land. Once under British control, the jews of Europe would be allowed to immigrate to Palestine in great numbers. Pemerintah Inggris dan pemimpin kaum Zionist melakukan perjanjian yang kotor. Zionist dipimpin oleh Chaim Weizman, yang nantinya menjadi Presiden Israel. Idenya adalah kaum Zionist menggunakan pengaruhnya untuk menyeret negara besar AS kedalam perang di pihak Inggris, untuk menghancurkan persekutuan Turki-Jerman. Imbal jasa dengan menyeret AS kedalam perang Inggris akan memberi hadiah Zionist untuk mengambil alih Palestina dari pihak yang kalah yaitu Turki setelah perang berakhir. Inggris sesungguhnya hendak memberikan tanah kepada Yahudi di Afrika. Tetapi Zionist merubahnya dan mengklaim Palestina sebagai tanah mereka. Dibawah kontrol Inggris, Yahudi di Eropa diperbolehkan untuk berimigrasi ke Palestina dalam jumlah yang besar. Zionists powerbrokers such as Bernard Baruch, Louis Brandeis, Paul Warburg, Jacob Schiff, and many others immediately went to work to put the screws to President Woodrow Wilson. The Zionist influenced press, quickly transformed the German Kaiser and his people into bloodthirsty “Huns”, determined to destroy civilization. In 1916, the US, with the help of the Lusitania “incident”, entered the war on Britain's side under the ridiculous pretext of “making the world safe for democracy”. Overnight, a slick propaganda campaign transformed the Germans into bloodthirsty “Huns” bent on destroying western civilization. “Beat Back the Hun” declared Fred Strothman’s famous propaganda poster, - a slogan which became a rallying cry of “patriotic” Americans. Calo-calo kekuasaan Zionist seperti Bernard Baruch, Louis Brandeis, Paul Warburg, Jacob Schiff dan banyak lainnya dengan tiba-tiba bergegas untuk mendesak Presiden Woodrow Wilson. Media Zionist yang berpengaruh, dengan cepat mengubah imej Kaisar Jerman dan rakyatnya menjadi suku barbar yang haus darah, yang bermaksud menghancurkan peradaban. Di tahun 1916, AS dengan bantuan insiden ‘’Lusitania’’, terlibat kedalam perang untuk pihak Inggris dengan motto yang menggelikan ‘’menjadikan dunia aman untuk demokrasi’’. Setiap malam suatu kampanye propaganda licik mengubah imej Jerman menjadi bangsa barbar yang haus darah yang akan merusak peradaban barat. ‘’Pukul Mundur Bangsa Biadab Itu’’ dideklarasikan dalam poster propaganda terkenal oleh Fred Strothman, suatu slogan yang menjadi teriakan ‘’patriotic’’ orang Amerika. Meanwhile in Germany - where Zionists also wielded tremendous influence in the press and industryenthusiasm for the war was suddenly watered down by Zionist run newspapers. Wartime labor-strikes in German weapons factories were organized by Zionist and Marxist union leaders. With the German
12

branch of the International Zionist Mafia undermining Germany from within, and the English and American branches of the Zionist mafia pushing America to join the war, it wasn't long before the German, Austrian, and Ottoman Empires were defeated and their maps rewritten by the victorious powers at the infamous Treaty of Versailles in 1918. In addition to the numerous Zionist bankers who were influencing Versailles, the Zionists also had their own delegation which was headed by Chaim Weizmann. Sementara itu di Jerman – dimana kaum Zionist juga memiliki pengaruh yang sangat besar di bidang media massa dan industri – dengan antusias menyambut perang yang dirasuki oleh media massa milik Zionist. Dengan cabang dari Mafia Zionist Internasional merusak Jerman dari dalam, dan orang Inggris dan Amerika yang menjadi cabang dari mafia Zionist menekan Amerika untuk terlibat dalam perang, dan tidak begitu lama Jerman, Austria, dan Kesultanan Turki Ottoman berhasil dikalahkan dan batas-batas negara mereka dikaji ulang/dikurangi oleh pihak pemenang melalui perjanjian tidak populer yaitu Perjanjian Versailes tahun 1918. Ditambah dengan sejumlah bankir Zionist yang mempengaruhi Versailles, Zionist juga memiliki delegasi yang dipimpin oleh Chaim Weizmann. Great Britain issued the Balfour Declaration in November 1917, one year before Germany surrendered. But it had actually been prepared 20 months earlier in March 1916 with Weizmann's influence (13) The Declaration allowed mass jewish immigration to conquered Palestine while promising to preserve Arab rights. The Arabs living in Palestine weren't buying these promises. They protested, but there was nothing that they could do to stop the coming wave of jewish immigration. This was the first step in creating what was to later become the state of Israel 20 years later. Inggris Raya membicarakan Deklarasi Balfour pada bulan November 1917, satu tahun sebelum Jerman menyerah. Tetapi hal tersebut sebenarnya telah dipersiapkan 20 bulan sebelumnya dengan pengaruh dari Weizmann. (13) Deklarasi itu mengijinkan imigrasi secara besar-besaran untuk menduduki Palestina dan akan berjanji untuk menjaga hak-hak orang Arab. Orang Arab yang hidup di Palestina tidak mendapatkan janji tersebut. Mereka protes, tetapi mereka tidak dapat menghentikan gelombang kedatangan imigran Yahudi. Inilah langkah pertama untuk menciptakan negara Israel yang berdiri 20 tahun kemudian. Years after the war, an American Zionist millionaire named Benjamin Freedman broke ranks with his fellow Zionists and turned against them. Freedman was the principal owner of the Woodbury Soap Company and was one of the many Zionists present at the Treaty of Versailles. Freedman was very well connected and had enjoyed access to several US presidents. Freedman grew disgusted with the criminal behavior of the Zionist mafia and dedicated much of his life and fortune to exposing the truth about both World Wars and the Zionist grip on America. According to Freedman, Wilson had been blackmailed by Zionists with the threat of a public disclosure of an old extramarital affair Wilson had when he was president of Princeton University. (14) Freedman's voluminous (and buried) writings, speeches, and books on this subject are essential reading (if you can find them!). One leader of the Anti Defamation League - Arnold Forster- once smeared Freedman as a "self-hating jew." (15) Here’s a brief excerpt from a 1961 speech that Freedman gave before an audience at the Willard Hotel in Washington DC in which described the forces at work behind America’s entry into World War I : Bertahun-tahun setelah perang, seorang milyuner Zionist berkebangsaan Amerika yang bernama Benyamin Freedman merusak hubungannya dengan teman-teman sesama Zionist dan berbalik melawan mereka. Freedman adalah pemilik perusahaan sabun Woodbury dan satu diantara banyak Zionist yang menghadiri Perjanjian Versailles. Freedman memiliki koneksi yang luas dan menikmati akses kepada beberapa presiden AS. Dalam dirinya tumbuh sikap jijik dan muak melihat perilaku kriminal dari mafia Zionist dan mendedikasikan hidupnya untuk mengungkapkan kebenaran mengenai kedua perang dunia dan cengkeraman Zionist di Amerika. Menurut Freedman, Wilson telah diperas oleh Zionist dengan ancaman untuk menyebarkan kepada publik tentang hubungan dan pernikahan gelapnya ketika dia menjabat sebagai Presiden Universitas Princeton.(14) Tulisan-tulisan Freedman yang sangat banyak (dan terkubur), pidato, dan buku mengenai subjek ini adalah bacaan
13

yang sangat berharga (jika anda dapat menemukannya!). Seorang pemimpin Anti Defamation League Arnold Foster pernah sekali menghujatnya sebagai ‘’seorang yang membenci ke-Yahudiannya sendiri.’’ Ini adalah kutipan singkat di tahun 1961 yang diberikan Freedman di Willard Hotel, Washington DC yang ia gambarkan sebagai kekuatan yang tak terlihat yang menyebabkan terlibatnya AS ke dalam Perang Dunia I : “The Zionists in Germany, who represented the Zionists from Eastern Europe, went to the British War Cabinet and -- I am going to be brief because it's a long story, but I have all the documents to prove any statement that I make -- they said: "Look here. You can yet win this war. You don't have to give up. You don't have to accept the negotiated peace offered to you now by Germany. You can win this war if the United States will come in as your ally." The United States was not in the war at that time. We were fresh; we were young; we were rich; we were powerful. They told England: "We will guarantee to bring the United States into the war as your ally, to fight with you on your side, if you will promise us Palestine after you win the war." In other words, they made this deal: "We will get the United States into this war as your ally. The price you must pay is Palestine after you have won the war and defeated Germany, Austria-Hungary, and Turkey." Now England had as much right to promise Palestine to anybody, as the United States would have to promise Japan to Ireland for any reason whatsoever. It's absolutely absurd that Great Britain, that never had any connection or any interest or any right in what is known as Palestine should offer it as coin of the realm to pay the Zionists for bringing the United States into the war. However, they did make that promise, in October of 1916. And shortly after that -- I don't know how many here remember it - - the United States, which was almost totally pro-German, entered the war as Britain's ally. (15B) Kaum Zionist di Jerman merupakan Zionist yang berasal dari Eropa Timur, mendatangi Kabinet Perang Inggris – saya akan singkat saja karena ceritanya panjang --- tetapi saya memiliki semua dokumen untuk membuktikan semua pernyataan yang telah saya keluarkan --- mereka berkata : ‘’Perhatikan. Anda dapat memenangkan perang ini. Anda tidak perlu menyerah. Anda tidak perlu menerima perjanjian damai yang ditawarkan oleh Jerman. Anda dapat memenangkan perang ini jika Amerika Serikat datang sebagai sekutumu’’. Amerika Serikat belumlah terlibat perang pada saat itu. Kami masih segar, masih muda, kami kaya dan kami berkuasa. Mereka berkata kepada orang Inggris :’’Kami akan memberi garansi untuk membawa Amerika Serikat kedalam perang sebagai sekutumu, untuk berperang disisimu, jika Anda menjanjikan kami Palestina setelah memenangkan perang.’’Dengan kata lain mereka melakukan perjanjian ini. Kami akan menyeret Amerika kedalam perang ini sebagai sekutu Anda. Harga yang harus dibayar adalah Palestina setelah memenangkan perang dengan mengalahkan Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki Sekarang Inggris sepertinya mempunyai hak penuh atas Palestina dengan menjanjikannya, sama seperti Amerika yang memberi janji dari Jepang sampai Irlandia demi alasan apapun. Ini sangatlah absurd karena Inggris Raya tidak ada hubungan apapun dan tidak memiliki ketertarikan apa-apa terhadap Palestina, kemudian menawarkannya seperti memberikan koin dunia kepada Zionist untuk membayar perjanjian dan menyeret Amerika Serikat ke dalam perang. Bagaimanapun juga mereka menyanggupi janjinya pada bulan Oktober 1916. Setelah itu secara singkat --- saya tidak tahu, seingat saya --- Amerika Serikat yang hampir secara total pro-Jerman, melibatkan diri kedalam perang sebagai sekutu Inggris. (15B) We may debate as to exactly what extent this Zionist-British dirty deal was responsible for dragging the sons of America off to die in a European bloodbath. Some, such as Freedman, believe it was the only reason that the US entered the war. Others, such as this writer, believe it was the primary contributing factor. But let us at this point agree on this one irrefutable point: the Zionists had no aversion to seeing Americans die for their own selfish interests. Even the Encyclopedia Britannica and Microsoft Encarta Encyclopedia (look under "Balfour Declaration) confirm this little known fact of World War I. Here's the excerpt from Microsoft Encarta:
14

Kita mungkin memperdebatkan kebenaran perjanjian kotor Zionist-Inggris yang mengakibatkan terseretnya pemuda-pemuda Amerika untuk tewas dalam suatu perang berdarah di dataran Eropa. Beberapa orang seperti Freedman, meyakini bahwa hanya karena inilah Amerika terlibat kedalam perang. Yang lainnya seperti penulis tulisan ini, meyakini bahwa itu merupakan faktor yang paling utama. Tetapi marilah sama menyetujui mengenai poin yang tak terbantahkan ini kaum Zionist tidak ragu-ragu untuk menjadikan orang Amerika tewas demi ego/keinginan/kepentingan mereka sendiri. Bahkan Ensiklopedia Britanica dan Ensiklopedia Microsoft Encarta (cari ‘’Balfour Declaration’’) mengkonfirmasikan sebagai fakta dari Perang Dunia I. THE BALFOUR DECLARATION. "The Balfour Declaration was a letter prepared in March 1916 and issued in November 1917, during World War I, by the British statesman Arthur James Balfour, then foreign secretary....Specifically, the letter expressed the British government's approval of Zionism with “the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people.” The letter committed the British government to making the “best endeavors to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done to prejudice the rights of existing non-Jewish communities in Palestine.” "The immediate purpose was to win for the Allied cause in World War I the support of Jews in the warring nations and in the United States. As a result of the Balfour Declaration, Israel was established as an independent state in 1948 in the mandated area." (16) DEKLARASI BALFOUR. ’’Deklarasi Balfour adalah suatu rancangan perjanjian yang dipersiapkan bulan Maret 1916 dan dibicarakan bulan November 1917, selama PD I, oleh negarawan Ingris Arthur James Balfour, kemudian sekretaris Dept. Luar Negeri. Istimewanya pemerintah Inggris mengijinkan kaum Zionis ‘’menjadikan Palestina sebagai sebuah rumah/tempat tinggal nasional bagi bangsa Yahudi. ‘’Rancangan ini mengharuskan pemerintahan Inggris melakukan ‘’usaha-usaha terbaik dan sungguh-sungguh untuk memfasilitasi demi tercapainya tujuan ini, sangatlah jelas untuk dimengerti bahwa tidak akan ada hak untuk komunitas selain Yahudi di Palestina’’. Tujuan yang dijabarkan dengan kilat ini yang diusahakan kepada pihak sekutu yang tercetus dalam PD I disupport oleh Yahudi di berbagai negara dan di Amerika Serikat. Hasil dari Deklarasi Balfour ini Israel muncul sebagai sebuah negara merdeka tahun 1948 di daerah mandat.’’ (16) It's also worth mentioning at this point that when the British dismantled the Ottoman Empire after World War I, they created many smaller nations. The oil rich, puppet kingdom of Kuwait was formed by slicing off the southern coastal tip of what we now know as the nation of Iraq. As a result of this arbitrary redrawing of the Ottoman map, a bitter conflict was created between Iraq and Kuwait. Iraq has always considered Kuwait as its true southern province. This is what ultimately led to Iraq's invasion of Kuwait in 1991 and the Gulf War. Adalah sangat penting untuk disebutkan disini, ketika Inggris melucuti Kesultanan Turki setelah PD I, mereka menciptakan negara-negara yang lebih kecil. Negara boneka kaya minyak seperti Kerajaan Kuwait dibentuk dengan membagi garis pantai bagian selatan negara yang dikenal sebagai negara Iraq. Sebagai hasil dari penyusunan kembali peta negara Ottoman ini suatu konflik pahit terbentuk antara Iraq dan Kuwait. Iraq menganggap Kuwait sebagai provinsinya di bagian selatan. Inilah yang menyebabkan Iraq menginvasi Kuwait dan menjadi Perang Teluk.

15

WEIZMANN -- BRANDEIS -- BARUCH. THREE ZIONISTS WHO SQUEEZED WOODROW WILSON INTO WORLD WAR I TIGA ORANG ZIONIST YANG MENEKAN WOODROW WILSON TERLIBAT DALAM PD I

HISTORY REPEATS ITSELF. SHIFTY EYES OF A FOREIGN ENEMY STALK US FROM ACROSS THE WORLD SCARE TACTICS 1917: SCARE TACTICS 2001 “THE HUNS ARE COMING!” “THE MUSLIMS ARE COMING!” “THE HUNS ARE COMING!” “THE MUSLIMS ARE COMING!” SEJARAH TERULANG. MATA-MATA YANG LICIK DARI MUSUH DI LUAR NEGERI MENGINTAI KITA DIMANAPUN TAKTIK UNTUK MENAKUT-NAKUTI TAHUN 1917 : TAKTIK UNTUK MENAKU-NAKUTI TAHUN 2001 ‘’ORANG-ORANG HUN (BANGSA BARBAR) TELAH DATANG !’’’’ORTANG-ORANG MUSLIM TELAH DATANG!’’ ‘’ORANG-ORANG HUN (BANGSA BARBAR) TELAH DATANG !’’’’ORTANG-ORANG MUSLIM TELAH DATANG!’’ ZIONISM AND WORLD WAR II ZIONISME DAN PERANG DUNIA II Let us fast forward our time machine to the early 1930's. Again, there is no need for a detailed analysis and debate of the causes and major events of World War II. The purpose here is to again illustrate yet another case of selfish Zionist agitation for American entry into a war. The German people were bitterly resentful of not only the Zionist role in bringing about their defeat in World War I, but also over the brutal monetary reparations which had been imposed upon them by certain Zionist bankers who helped craft the brutal Treaty of Versailles after the war. Stripped of
16

formerly German territory, and with the German economy in ruins, the people of Germany elected Adolf Hitler as their Chancellor. Hitler and the Nazi party soon seized control of the German media, banks, and universities away from the influential Zionists who had reigned supreme in those institutions. Almost immediately, Zionists all over the world began to agitate for action against Germany. Boycotts of German imports were imposed and calls for the UK and USA to take immediate action against Germany began to emanate from Zionist circles. On March 24, 1933, The Daily Express of England carried the bold headline; “Judea Declares War on Germany. Jews of All the World Unite in Action“ . (17) The front page story revealed that the Zionists had announced a concerted worldwide effort to isolate Germany and turn other nations against her. Mari majukan mesin waktu kita menuju awal tahun 1930-an. Kembali, tidak perlu menganalisa secara mendetail dan memperdebatkan penyebab peristiwa besar dari PD II. Tujuannya ---lagi-lagi---- seperti yang akan digambarkan di depan nanti adalah bentuk lain dari keegoisan hasutan Zionist kepada bangsa Amerika untuk terlibat dalam perang Orang-orang Jerman memendam rasa pahit dan penuh amarah bukan saja terhadap peran Zionist dalam kekalahan mereka dalam PD I, tetapi juga terhadap pengaturan brutal moneter mengenai ganti rugi pampasan perang yang dijatuhkkan terhadap mereka oleh bankir Zionist tertentu yang ikut merancang Perjanjian Versailles setelah perang berakhir. Memperkecil wilayah asal negara Jerman, dan dengan ekonomi yang runtuh, orang-orang Jerman memilih Adolf Hitler sebagai Kanselir mereka. Hitler dan Partai Nazi kemudian meraih kontrol media, bank, dan universitas dan mencoba untuk menghilangkan pengaruh-pengaruh Zionist yang sebelumnya memegang supremasi dari institusiinstitusi ini. Dengan cepat, Zionist di seluruh dunia mulai menghasut untuk mengatur aksi melawan Jerman. Boikot terhadap produk Jerman dijatuhkan dan meminta Inggris dan AS untuk segera beraksi melawan Jerman adalah pandangan-pandangan yang keluar dari lingkaran Zionist. Tanggal 24 Maret 1933 harian Inggris The Daily Express menampilkan headline, ‘’Yahudi mendeklarasikan Perang Melawan Jerman. Yahudi di Seluruh Dunia Bersatu Dalam Aksi Ini’’. (17) Pemaparan halaman depan di surat kabar mengungkapkan bahwa kaum Zionist mengumumkan suatu pengaturan kepada seluruh dunia usaha-usaha untuk mengisolasi Jerman dan mengubah bangsa-bangsa lainnya untuk melawan Jerman The following year, Zionist political leader Vladimir Jabotinksy wrote: "The fight against Germany has now been waged for months by every Jewish community, on every continent...We shall start a spiritual and material war of the world against Germany. Our Jewish interests call for the complete destruction of Germany" (18) Di tahun berikutnya, pemimpin politik kaum Zionist, Vladimir Jabotinsky menulis : ‘’Perang melawan Jerman berbulan-bulan telah diutarakan oleh komunitas Yahudi, di setiap bagian dunia…Kami akan memulai suatu perang dunia secara lahir dan batin melawan Jerman. Kalangan Yahudi kami menginginkan penghancuran secara tuntas terhadap Jerman’’(18) A few years later, Lord Beaverbrook, a British newspaper magnate issued this warning about the Zionist influence over the British press. Beaverbrook warned: "There are 20,000 German Jews who have come here to England. They all work against an agreement with Germany. The Jews have got a big position in the press here. Their political influence is driving us into the direction of war." (19) Beberapa tahun kemudian, Lord Beaverbrook, seorang tokoh terkemuka media massa Inggris, memperingatkan pengaruh Zionist di media Inggris. Beaverbrook memperingatkan :

17

‘’Ada 20.000 Yahudi-Jerman yang datang ke Inggris. Mereka semua berusaha melawan perjanjian dengan Jerman. Orang-orang Yahudi itu memiliki posisi yang besar pada media massa disini. Pengaruh politik mereka mengarahkan kami menuju peperangan’’. (19) In September of 1939, Germany and Poland went to war over disputed territory that was taken away from Germany by the Versailles Treaty of 1918. Under the phony pretext of protecting Poland, Great Britain and France immediately declared war on Germany (conveniently ignoring the fact that the Soviet Union had invaded Poland too). Germany pleaded with Britain and France (the Allies) to withdraw their war declarations but to no avail. The Allies continued their massive military buildup along Germany’s western frontiers. In the spring of 1940, the war in the West began when Germany launched pre-emptive invasions of Norway, Holland, and Belgium, pinning the British and French forces on the beaches of Belgium. Beaverbrook’s prediction was realized. Di bulan September 1939, Jerman dan Polandia berperang setelah berselisih mengenai teritori yang di rampas dari Jerman melalui Perjanjian Versailles tahun 1918. Sebagai langkah awal yang palsu untuk melindungi Polandia, Inggris Raya dan Perancis dengan segera mendeklarkan perang melawan Jerman (dengan jitu sekali mengabaikan fakta bahwa Uni Soviet juga menginvasi Polandia). Jerman sesungguhnya telah memohon kepada Inggris Raya dan Perancis (Sekutu) untuk meninjau kembali deklarasi perang mereka, namun hal tersebut tidaklah berfaedah. Sekutu meneruskan penempatan militer secara besar-besaran di sepanjang garis depan Jerman. Di musim semi 1940, perang di daerah barat dimulai ketika Jerman melancarkan pre-emptive invasion (mendahului menyerang dengan maksud sebagai pertahanan) kepada Norwegia, Belanda dan Belgia, menempatkan Inggris dan Perancis untuk menyerang daerah pantai Belgia. In the United States, the Zionist Mafia again went to work on a US president. The names of the players had changed but the game was still the same. Baruch was still pulling presidential strings along with other Zionist “advisors” like Henry Morgenthau and Harold Ickes. It was Franklin Delano Roosevelt’s turn to deliver the US into another European war. Patriotic Americans such as famed aviator Charles Lindbergh saw this and tried to warn the American people that Zionist media influence was intending to drive us into another World War. Said Lindbergh: “I am not attacking the Jewish people. But I am saying that the leaders of both the British and the Jewish races, for reasons which are as understandable from their viewpoint as they are inadvisable from ours, for reasons which are not American, wish to involve us in the war. “ (20) Di Amerika Serikat, Mafia Zionist lagi-lagi ‘’menggarap’’ Presiden Amerika. Nama-nama telah berbeda namun permainannya masih tetap sama. Baruch masih menekan lingkaran kepresidenan sejalan dengan ‘’penasihat’’ Zionist lainnya seperti Henry Morgenthau dan Harold Ickes. Adalah Franklin Delano Roosevelt yang dipengaruhi untuk terlibat dalam perang di Eropa lagi. Patriot Bangsa Amerika yang terkenal seperti Charles Lindbergh melihat hal tersebut dan memperingatkan orangorang Amerika terhadap pengaruh media Zionist yang bermaksud mengarahkan kita (AS) menuju Perang Dunia kembali. ‘’Saya tidak bermaksud menyerang orang Yahudi. Namun saya katakan bahwa para pemimpin Inggris maupun pemimpin ras Yahudi, dengan alasan-alasan yang tak dapat dimengerti dari sudut pandang mereka bagaimana tidak dapat diberi nasihatnya mereka, bahwa mereka bukanlah bangsa Amerika, menginginkan kita terlibat di dalam perang’’. (20) Because of strong public anti-war sentiment, FDR and his Zionist handlers had a very difficult time dragging the US into the European war. Then another “incident” occurred at Pearl Harbor in 1941. Japan and Germany were bound to a mutual defense agreement, which meant that war with Japan would automatically mean war with Germany. FDR embargoed Japan’s oil supply in the hopes of forcing Japan to attack Pearl Harbor. Overwhelming evidence from government documents clearly shows that FDR had advance knowledge of the Japanese attack and allowed it to happen so that he could drag the US into World War II. (21)
18

Dikarenakan sentiman anti-perang begitu kuat di kalangan masyarakat AS, FDR dan penasihat Zionistnya menghadapi masa-masa yang sulit dalam menyeret AS kedalam perang di Eropa. Kemudian ‘’insiden’’ lain terjadi di Pearl Harbor tahun 1941. Jepang dan Jerman terikat dalam persetujuan pertahanan bersama, yang berarti secara otomatis perang dengan Jepang berarti perang dengan Jerman. FDR mengembargo suplay minyak ke Jepang dengan harapan menguatkan niat Jepang untuk menyerang Pearl Habor. Banyak bukti dokumen pemerintah dengan jelas memperlihatkan bahwa FDR memiliki pengetahuan akan adanya serangan dari Jepang sebelum serangan itu berlangsung dan membiarkan hal itu terjadi, dan inilah yang menyeret Amerika kedalam PD II. (21) As was the case in World War I, US entry the war led to another crushing defeat of Germany. Hours before committing suicide on April 30, 1945, Adolf Hitler dictated his last will and political testament. In it he placed responsibility for World War II on the Zionist Mafia - or, as he called it - "International Jewry and its henchmen". It's certainly no surprise that Hitler would make such a claim. However, his final accusation of the Zionists does parallel the statements made by Jabotinsky, Lindbergh, Beaverbrook, Prime Minister Neville Chamberlain, Ambassador Joe Kennedy, and many others. In the final public communication of his life, Hitler wrote: "It is untrue that I or anyone else in Germany wanted war in 1939. It was wanted and provoked solely by international statesmen either of Jewish Origin or working for Jewish interests...Nor had I ever wished that after the appalling first World War, there would ever be a second against either England or America." (22) Regardless of your view of World War II and whether or not the USA belonged in the fight, the essential point which cannot be refuted is again this: years before World War II had even started, the Zionists had yet again demonstrated that they had no aversion to sending Americans to die for their own interests. Seperti dalam kasus PD I, AS memasuki perang memimpin negara-negara lainnya dalam menghancurkan Jerman. Berjam-jam sebelum memutuskan bunuh diri pada tanggal 30 April 1945, Adolf Hitler mendiktekan keinginan terakhirnya dan statemen politik terakhirnya. Bahwa yang paling bertanggung jawab dari terjadinya PD II adalah Mafia Zionist, yang ia sebut sebagai –‘’Golongan Yahudi Internasional dan dan antek-anteknya’’--. Hal itu tidaklah mengejutkan Hitler sampai mengeluarkan klaim tersebut. Bagaimanapun juga tuduhan terakhirnya kepada Zionist parallel/sejalan dengan statemen yang dikeluarkan oleh Jabotinsky, Beaverbrook, Perdana Menteri Neville Chamberlain, Duta Besar Joe Kennedy dan masih banyak lagi. Dalam hubungan terakhirnya dengan publik, Hitler menulis : ‘’Adalah tidak benar bahwa saya dan siapapun di Jerman menginginkan perang tahun 1939. Hal tersebut semata-mata diinginkan dan diprovokasi oleh penegasan internasional dari kalangan Yahudi dan kalangan yang bekerjasama dalam mewujudkan keinginan Yahudi…Tidak juga saya berharap setelah PD I yang megerikan, ada yang keduanya juga dengan melawan Inggris dan Amerika.’’(22) Apapun pandangan Anda terhadap PD II dan apakah AS terlibat atau tidak terlibat dalam perang ini, poin yang paling utama yang tidak dapat ditolak adalah ---lagi-lagi---: bertahun-tahun sebelum terjadinya PD II kaum Zionist lagi-lagi mempergakan bahwa mereka tidak ragu-ragu untuk menjadikan orang Amerika tewas demi ego/keinginan/kepentingan mereka sendiri.

19

LEFT: HEADLINE FROM BRITISH NEWSPAPER (1933) “JUDEA DECLARES WAR ON GERMANY.” RIGHT: JABOTINSKY: WE SHALL START A WAR AGAINST GERMANY KIRI : HEADLINE DARI HARIAN INGGRIS (1933) “JUDEA DECLARES WAR ON GERMANY.” KANAN : JABOTINSKY : KITA AKAN MENGAWALI PERANG MELAWAN JERMAN

LEFT: LINDBERGH WARNED ABOUT ZIONIST INFLUENCE CENTER: FDR ADVISOR HAROLD ICKES RIGHT: FDR ADVISOR MORGENTHAU DRIVING WITH HIS PUPPET PRESIDENT KIRI : LINDENBERGH MEMPERINGATKAN AKAN PENGARUH ZIONIST TENGAH : PENASIHAT FDR HAROLD ICKES KANAN : PENASIHAT MORGENTHAU MENGARAHKAN PRESIDEN BONEKANYA GREAT BRITAIN'S TURN TO BE BETRAYED GILIRAN INGGRIS YANG DIKHIANATI A few years after the end of World War II, the Zionist plan to establish the nation of Israel in Palestine was finally realized. But not before the British protectors of Palestine were chased out by acts of terror carried out by ungrateful Zionist terrorists. It was the British who had taken Palestine away from Arab control and allowed the jews of Europe to immigrate there. But with Great Britain weakened and in debt from the war, the ungrateful Zionists saw their opportunity to chase the British out of Palestine by committing acts of terrorism against them. The most notorious of the Zionist terror groups was the Irgun, whose leader Menachem Begin would one day go on to become Prime Minister of Israel!
20

Beberapa tahun selepas PD II, rencana Zionist mendirikan negara Israel di tanah Palestina akhirnya benar-benar terwujud. Namun hal tersebut tidak terwujud sebelum Inggris sebagai pemegang mandat di Palestina dikejar oleh serangkaian aksi terror oleh terroris Zionist yang tak tahu terima kasih. Bangsa Inggris yang mengontrol Palestina berusaha menjauhkan kekuasaan Arab di tempat tersebut dan membiarkan bangsa Yahudi dari Eropa berimigrasi ke Palestina. Tetapi Inggris yang sedang lemah dan mengalami debet akibat perang dilihat oleh Zionist yang tak tahu terima kasih sebagai satu kesempatan untuk mengusir Inggris dari Palestina dengan membuat serangkaian aksi-aksi terror melawan mereka. Kelompok terror Zionist yang paling sangar adalah Irgun, dimana pemimpinnya Menachem Begin suatu hari nanti menjadi Perdana Menteri Israel ! On the morning of July 22, 1946, of 15-20 Irgun terrorists dressed as Arabs entered the King David Hotel in Jerusalem. They unloaded 225 kilograms of explosives hidden in milk churns. (23) The King David Hotel housed the Secretariat of the Government of Palestine and Headquarters of the British Forces in Palestine. When a British officer became suspicious, a shootout took place and the Irgun lit the fuses and fled. The explosion destroyed part of the hotel and killed 91 people. Most of the victims were British but 15 innocent jews also died, proving that radical Zionists are capable of even killing fellow jews in order to advance their cause. Di suatu pagi tanggal 22 Juli 1946, 15 sampai 20 terrorist Irgun berpakaian sebagai orang Arab memasuki King David Hotel di Yarusalem. Mereka mengeluarkan 225 kg bahan peledak dari tong susu. (23) King David Hotel merupakan tempat Sekertariat Pemerintahan Palestina dan markas pusat pasukan Inggris di Palestina. Ketika seorang petugas Inggris menjadi curiga, sebuah tembakan terlontar dan anggota Irgun menggabungkan diri untuk kemudian melarikan diri. Ledakan menghancurkan bagian dari hotel dan membunuh 91 orang. Kebanyakan korban adalah orang Inggris tetapi ada juga 15 orang Yahudi ikut terbunuh, ini membuktikan bahwa Zionist radikal dapat saja membunuh sesama Yahudi untuk mencapai tujuan mereka. The Irgun terror gang also targeted Arab civilians in order to frighten them into evacuating their land. The most well known of these numerous massacres happened at the village of Deir Yassin on the morning of April 9, 1948. More than 100 Arabs, including women and children were systematically slaughtered by Menachem Begin's murderous gang. (24) The Israelis took over whatever villages from which the terrorized Arabs fled from. Terror dari Irgun juga mengarah kepada penduduk sipil Arab, dengan maksud untuk menakuti mereka dan memindahkan mereka dari tanahnya. Pembunuhan besar-besaran yang paling dikenal terjadi di Dir Yassin pada pagi hari tanggal 9 April 1948. Lebih dari 100 orang Arab, termasuk wanita dan anakanak secara sistematis dibantai oleh gerombolan pembunuh pimpinan Menachem Begin. (24) Israel mengambil alih tanah orang-orang Arab yang pergi sebagai akibat dari terror yang mereka terima. By 1948, the British had had enough of Palestine. Under intense Zionist lobbying, the UN, UK and US recognized the nation of Israel in 1948. One of the first acts of the new Israeli government was to pass "the law of return", which gives any jew in the world the right to move to Israel and become a citizen. Understandably, the Arab nations weren't too pleased about this. There would be a several wars that followed. But the Israelis and their free arsenal of America’s finest weapons kept the Arabs from reclaiming their land. The Arabs have never been a match for the US supplied Israeli war machine. The irony of "the law of return" is that many of today's jews have no direct ancestral link to the jews of the Old Testament. Many, perhaps even most, jewish people are descended from the Khazars, a people whose rulers converted to Judaism sometime during the 800's AD. (25) The Khazars never even set foot in Palestine! Tahun 1948 Inggris sudah merasa cukup di Palestina. Dibawah pengauh lobi Zionist yang intens, PBB, Inggris dan Amerika mengakui negara Israel tahun 1948. Salah satu kebijakan pertama pemerintah Israel adalah tidak menghiraukan ‘’pengembalian hukum’’, dengan memberikan hak kepada orang Yahudi di seluruh dunia pindah ke Israel dan menjadi warga negara. Dapat dimengerti bahwa bangsa Arab tidak menerima hal ini. Kemudian terjadi beberapa pertempuran. Namun Israel
21

dengan persenjataan canggih gratisan dari Amerika mencegah orang-orang Arab dari pengklaiman kembali tanah-tanah mereka. Orang-orang Arab tidaklah mendapatkan peralatan perang dari Amerika sebagaimana orang Yahudi. Yang ironis dari ‘’pengembalian hukum’’ banyak dari orang-orang Yahudi tidak mempunyai hubungan darah secara langsung kepada ummat Yahudi yang disebutkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Banyak dari mereka, mungkin sebagian besar adalah keturunan langsung dari Khazar, suatu masyarakat dimana para pemimpinnya mengubah kepercayaannya kepada Yudaisme disekitar abad ke-8 M. (25) Orang-orang Khazar ini bahkan tidak pernah menjejakkan kakinya di Palestina ! The brutal and criminal circumstances surrounding the creation of Israel are now a half century in the past. Even most Arabs understand that Israel isn't going to go away. But by reviewing this real history, we can better understand the deceptive, dangerous, and brutal nature of international Zionism today. Kebrutalan dan kriminalitas mewarnai pendirian negara Israel sekitar setengah abad yang lalu. Bahkan orang-orang Arab menyadari bahwa Israel tidak akan menghentikan keadaan ini. Namun dengan mengkaji ulang sejarah, kita menjadi lebih mengerti mengenai pemutar balikan fakta, berbahayanya dan sifat brutal dari Zionisme Internasional sekarang ini

TERRORIST MENACHEM BEGIN KING DAVID HOTEL, BEGIN’S BLOODY WORK TERRORIST MENACHEM BEGIN. KING DAVID HOTEL, KARYA BERDARAH BEGIN

DEIR YASSIN STILL REMEMBERED. RECITATION OF THE NAMES OF THE VICTIMS OF BEGIN’S MASSACRE APRIL 2002, ST. JOHN’S CHURCH DESA DEIR YASSIN MASIH DIINGAT. PEMBACAAN NAMA-NAMA YANG MENJADI KORBAN DARI PEMBANTAIAN OLEH BEGIN BULAN APRIL 2002. GEREJA ST. JOHN AMERICA BECOMES THE ZIONIST'S MAIN WHORE AMERIKA MENJADI PELACUR UTAMA ZIONIST

22

We have reviewed how the Zionists used and discarded Germany. Then they used and discarded Great Britain. After World War II, it was clear that the chief remaining global power was the United States. Now the USA had never had any problem with the Arab people, and had no reason to quarrel with the Arabs. For the Zionists to maintain and expand the support they were receiving from America, it would benefit them greatly if the Arabs and the mighty US could somehow become enemies. Could the Zionists possibly stoop so low? Why not? Look at what they had already pulled off! Remember that the official motto of the Mossad (Israeli's intelligence organization) is "by way of deception thou shalt do war." (26) Kita telah mengkaji ulang bagaimana Zionist memanfaatkan dan mencampakkan Jerman. Kemudian merekan memanfaatkan dan mencampakkan Inggris. Setelah PD II pemimpin dunia yang tersisa adalah Amerika Serikat. AS sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah dengan bangsa Arab, dan tidak ada alasan untuk berselisih dengan mereka. Bagi kaum Zionist untuk menjaga dan mengembangkan dukungan yang mereka terima dari AS, adalah suatu keuntungan yang sangat besar jika baangsa Arab dan super power AS menjadi bermusuhan. Mungkinkah kaum Zionist melakukan hal tersebut ? Mengapa tidak ? Perhatikan apa yang telah mereka ungkapkan! Ingatlah bahwa motto Mossad (organisasi intelejen Israel) adalah ‘’perang adalah tipu daya’’. (26) In 1955, one of these "false flag" operations was publicly exposed for the world to see. Israeli agents, impersonating Arab terrorists, were caught staging a series of bombings against American installations in Egypt.(27) When this conspiracy was exposed, it ultimately created such a controversy that it brought down the Israeli government. The long since forgotten scandal became known as "the Lavon Affair". Tahun 1955, satu dari operasi ‘’pengkambinghitaman’’ ini diekspos secara luas kepada dunia. Agenagen Israel yang berkedok terroris Arab, tertangkap ketika melakukan serangkaian pemboman kepada instalasi Amerika di Mesir. (27) Ketika konspirasi ini terungkap, dengan segera hal tersebut menjadi kontroversi karena hal tersebut berasal dari pemerintah Israel. Skandal lama yang terlupakan ini dikenal sebagai ‘’Affair Lavon’’. Then again during a 1967 war with the Arabs, Israeli gunboats and fighter jets deliberately attacked the USS Liberty, an unarmed US communications ship. (28) Thirty five American sailors were murdered and 170 others injured in a prolonged Israeli onslaught - carried out in broad daylight and with the U.S. flag flying prominently. The intent was to kill all the Americans and then leave the Egyptians to take the blame. Israel denied that the attack was deliberate but the chilling stories of the lucky American survivors clearly contradicts that lie. To this very day, the U.S. Congress has never investigated the USS Liberty massacre. Kemudian kembali selama perang dengan Arab tahun 1967, kapal perang dan jet tempur Israel dengan sengaja menyerang USS Liberty, satu kapal komunikasi AS yang tidak dipersenjatai. (28) Tiga puluh orang pelaut AS terbunuh dan 170 lainnya terluka dalam suatu serangan gencar Israel dari jarak jauh—terjadi di siang bolong dengan bendera AS berkibar secara jelas. Maksud dari pembunuhan orang-orang Amerika ini dan kemudian menjadikan Mesir sebagai pihak yang dipersalahkan. Israel menyangkal bahwa serangan tersebut disengaja, namun penuturan yang menakutkan dari orang-orang Amerika yang beruntung selamat berkebalikan dari pembohongan tersebut. Mengenai peristiwa tersebut Kongres AS tidak pernah menginvestigasi pembantaian USS Liberty. In 1989, the Israelis once again succeeded in framing enemy Arabs in order to enrage America. Former Mossad case officer Victor Ostrosvky became so disgusted with the criminal behavior of his own government that he defected from the Mossad and tried to warn America of just how evil and dangerous they were. Ostrovsky revealed exactly how the Israelis framed Libya for the bombing of a German night club which killed American servicemen. (29) It was this frame up job that caused President Reagan to bomb Libya, killing the 4 year old daughter of Libyan leader Muamar Qadaffi. France refused to allow US bombers to fly over their air space and bomb Libya because French
23

intelligence knew that Libya was unjustly framed by the Israelis. Among some of Ostrovosky's other amazing revelations are: that the Mossad often uses Arab agents to carry out missions, that Israeli agents are skilled at impersonating Arabs, that Mossad had a plan to turn American public opinion against Iraq, and that wealthy Zionists in America are often called upon to help carry out Mossad missions. Ostrovsky, whose tell all book, By Way of Deception, infuriated the Mossad and made him the target of numerous death threats. (30) Di tahun 1989, Israel kembali sukses dalam menyalahkan Arab dengan maksud untuk membuat Amerika marah. Mantan petugas Mossad Victor Ostrovsky menjadi sangat muak terhadap perilaku kriminal pemerintahannya sendiri, kemudian ia keluar dari Mossad dan mencoba untuk memperingatkan Bangsa Amerika bagaimana jahat dan bahayanya mereka. Ostovsky mengungkapkan dengan tepat bagaimana Israel menyalahkan Libya tentang pemboman sebuah night club Jerman yang membunuh petugas Amerika. (29) Inilah yang menyebabkan Presiden Reagan membom Libya, membunuh putri tertua pemimpin Libya Muamar Qadaffi. Perancis menolak dilalui para pembom Amerika karena dinas intelejen Perancis mengetahui bahwa Libya dengan tidak adil dipersalahkan oleh Israel. Diantara pengungkapan Ostrovsky yang luar biasa adalah : kadangkadang Israel menggunakan agen Arab untuk membawa misi, agen-agen Israel ahli dalam mempersalahkan bangsa Arab, bahwa Mossad berencana untuk mengubah opini masyarakat Amerika melawan Iraq, dan kaum Zionist yang kaya sering diminta bantuannya dalam misi-misi Mossad. Ostrovsky yang mengungkapkan semuanya dalam bukunya : ‘’Perang Adalah Tipu Daya’’, membangkitkan amarah Mossad dan menjadi target serangkaian percobaan pembunuhan. (30) In 2001, the Washington Times ran a story about a 68 page research paper issued by the Army School of Advanced Military Studies (SAMS). The research was compiled by 60 US Army officers as an attempt to predict the possible outcomes of deploying a US force to maintain peace between the Israel and Palestinians. Here’s what SAMS had to say about the Israeli military machine: “a 500 pound gorilla in Israel. Well armed and trained. Operates in both Gaza and the West Bank. Known to disregard international law to accomplish mission” (31) Of Israel’s Mossad, the officers issued this warning: “Wildcard. Ruthless and cunning. Has capability to target US forces and make it look like a Palestinian Arab act.” (32) Di tahun 2001, harian The Washington Times mengungkapkan kisah tentang 68 halaman tulisan penyelidikan yang dikaji oleh Army School of Advance Military Studies (SAMS). Riset ini dikumpulkan oleh 60 orang petugas tentara AD AS sebagai suatu usaha untuk memprediksi kemungkinan yang dihasilkan dari penempatan kekuatan militer AS untuk menjaga perdamaian antara Israel dan Palestina. Inilah yang dilaporkan SAMS mengenai mesin militer Israel : ‘’Seekor gorilla seberat 250 kg di Israel, dipersenjatai dan terlatih secara baik. Operasi-operasi baik di Gaza dan Tepi Barat ditujukan untuk mencampakkan dengan maksud untuk mencapai tujuannya’’. (31) Bersumber dari Mossad, petugas tersebut melanjutkan : ‘’Pengacauan. Kekejaman dan kelicikan. Memiliki kapabilitas dalam menjadikan kekuatan AS sebagai target dan membuat seolah-olah hal tersebut dilakukan oleh Arab – Palestina.’’ (32) Why does the US, which is trillions of dollars in debt, gives away billons of taxpayer dollars to a foreign government whose military violates international laws and whose Mossad is capable of murdering US troops in order to frame Arabs? Have we lost our minds? Mengapa AS, yang mengalami debet triliunan dollar, memberikan milyaran dollar yang berasal dari para pembayar pajak kepada pemerintah luar negeri dimana militernya mencabik-cabik hukum internasional dan dimana Mossad dapat saja membunuh pasukan AS dan kemudian menyalahkan bangsa Arab? Sudah gilakah kita?
24

LEFT: THE BADLY DAMAGED USS LIBERTY CENTER: ARLINGTON NATIONAL CEMETERY MEMORIAL TO THE DEAD RIGHT:MOSSAD LOGO. HEBREW INSCRIPTION READS: “BY WAY OF DECEPTION SHALT THOU DO WAR”. KIRI : KERUSAKAN PARAH USS LIBERTY TENGAH : ARLINGTON NATONAL CEMETERY MEMORIAL, MAKAM BAGI YANG GUGUR KANAN : LOGO MOSSAD. INSKRIPSI HEBREW YANG TERBACA : ‘’PERANG ADALAH TIPU DAYA’’ ZIONIST POWER STRUCTURE IN AMERICA STRUKTUR KEKUATAN ZIONIST DI AMERIKA Now that we have established the ruthless and criminal nature of radical Zionism, one more lesson needs to be understood before we return to the five dancing Israelis of 9-11 and other related stories. Even the Zionists themselves have never denied that they have long exerted great influence in America. But what we must understand is that the Zionists do not merely influence United States policy....they dominate it! It is this domination that enables them to pull off monstrous crimes and then conceal them from the general public. The observation that Zionists dominate the American media, government, academia, and Hollywood has been made by many prominent Americans and is easily verifiable by public information. Kita telah menampilkan kekejaman dan sifat alami kriminal dari Zionisme radikal, satu pembahasan lagi diperlukan sebelum kita kembali kepada lima orang Israel yang menari di peristiwa 9-11 dan kisah-kisah lainnya yang saling terkait. Bahkan kaum Zionist sendiri tak pernah menyangkal bahwa mereka memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap Amerika. Namun kita harus memahami bahwa mereka bukan hanya memiliki pengaruh besar dalam kebijakan AS…….tetapi mereka mendominasinya! Dominasi ini menyebabkan mereka dapat melakukan aksi-aksi kriminal yang luar biasa besarnya kemudian menyembunyikannya dari sorotan masyarakat. Dominasi kaum Zionist media Amerika, pemerintahan, dunia akademi, hingga Hollywood telah dinyatakan oleh orang-orang Amerika terkemuka dan dengan mudah dapat diverifikasi oleh masyarakat informasi. Henry Ford said this: "If after having elected their man or group, obedience is not rendered to the Jewish control, then you speedily hear of "scandals" and "investigations" and "impeachments" for the removal of the disobedient. Usually a man with a "past" proves the most obedient instrument, but even a good man can often be tangled up in campaign practices that compromise him. It has been commonly known that Jewish manipulation of American election campaigns have been so skillfully handled, that no
25

matter which candidate was elected, there was ready made a sufficient amount of evidence to discredit him in case his Jewish masters needed to discredit him." (33) Henry Ford mengatakan mengenai hal ini : ‘’Apabila telah dipilih oleh orang-orang atau kelompok mereka, jika ketaatan tidak dirubah (tidak diberi) kepada kendali Yahudi, kemudian Anda dengan cepat akan mendengar ‘’skandal’’ dan ‘’investigasi’’ dan ‘’pemecatan’’ untuk merubah ketidakpatuhan itu. Biasanya seseorang dengan ‘’sejarah masa lalu’’ membuktikan sebagai alat untuk membuat patuh namun bahkan seorang manusia yang baik sering kali terjerat dari praktek kampanye mereka yang membuatnya berkompromi. Ini biasanya dikenal sebagai manupulasi kampanye pemilu di Amerika yang ditangani sangat terampil, tidak peduli apakah ia kandidat yang terpilih, dibuat cukup banyak bukti untuk mendiskreditkannya sesuai dengan keinginan pemimpin Yahudi yang berniat mendiskreditkannya. Charles Lindbergh said this: “Their greatest danger to this country lies in the Jewish ownership and influence in our motion pictures, our press, our radio, and our government. (34) ‘’Bahaya yang terbesar kepada negara ini terletak pada kepemilikan dan pengaruh dalam produksi film kami, pers kami, radio kami, dan pemerintahan kami’’ Admiral Thomas Moorer, Chairman of the US Joint Chiefs of Staff under Ronald Reagan said this: "I've never seen a President -- I don't care who he is -- stand up to them [the Israelis]. It just boggles the mind. They always get what they want. The Israelis know what is going on all the time. If the American people understood what a grip those people have got on our government, they would rise up in arms. Our citizens certainly don't have any idea what goes on." (35) Admiral Thomas Moorer, Kepala Staf Gabungan AS selama masa Reagen berkata : ‘’Saya tidak pernah melihat seorang presiden --- siapapun dia --- menentang mereka (Israel). Ini sangat mengejutkan. Mereka selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Israel mengetahui apa yang sebenarnya yang sedang terjadi di sepanjang waktu. Jika orang-orang Amerika mengerti cengkraman apa yang dimiliki oleh orang-orang ini dalam pemerintahan kami, mereka akan mengangkat senjata. Warga negara kita ternyata tidak mengetahui perihal ini.’’ While a guest on ABC's Face the Nation, William Fulbright - US Senator and Chairman of the US Foreign Relations committee - said this before a national audience: "Israel controls the United States Senate. We should be more concerned about the United States' interests." (36) Nationally syndicated columnist and former presidential candidate Patrick Buchanan said: "The United States Congress is Israeli occupied territory." (37) Sementara itu seorang tamu dalam acara ABC Face The Nation, William Fullbright – Senator AS dan Kepala Komite Hubungan Luar Negeri – mengatakan hal ini sebelum suatu dengar pendapat nasional : ’Israel mengendalikan senat AS. Kita seharusnya lebih peduli terhadap ‘’keinginan Amerika Serikat’’ Kolumnis sindikasi nasional dan mantan kandidat presiden Patrick Buchanan mengatakan : ’Kongres Amerika Serikat adalah teritori yang diduduki oleh Israel’’. And US religious leader Billy Graham and President Richard Nixon once had the following exchange, which was caught on tape: GRAHAM: The Jewish stranglehold on the media has got to be broken or this country's going down the drain". NIXON: "You believe that?"
26

GRAHAM: "Yes, sir." NIXON: "Oh boy. So do I. I can't ever say that but I do believe it" (38) Dan pemimpin rohani AS Billy Graham serta Presiden Nixon pernah satu waktu melakukan percakapan yang terekam : GRAHAM : Cekikan orang Yahudi pada media haruslah dihancurkan atau negara ini akan tenggelam’’. NIXON : ‘’Anda yakin?’’ GRAHAM : ‘’Ya, Pak.’’ NIXON : ‘’Ya, ampun. Begitu juga saya. Saya bahkan tak dapat mengatakannya tetapi saya meyakini hal tersebut But enough of quoting others. Let's look at the facts of Zionist control. MEDIA: ABC, NBC, CBS, CNN, UPN, The Washington Post, The New York Times, The Wall Street Journal, The New York Daily News, Time Magazine, Newsweek, People Magazine, US News and World Report and countless other media and Hollywood companies all have either a Zionist CEO, or a Zionist News President, or are owned by a media conglomerate which has a Zionist CEO. (39) Have you ever noticed how Hollywood movies always seem to portray Germans and Arabs as a bigoted fanatics or terrorists? Now you know why! GOVERNMENT: AIPAC (the Israeli lobbying organization), and the ADL are the most feared pressure groups in Washington DC. By their own admission, they are capable of unseating Congressmen and Senators that do not carry out their requests. The majority of Congressmen from both political parties receive large donations from AIPAC. Writing for the Nation Magazine, journalist Michael Massing explains: “AIPAC is widely regarded as the most powerful foreign-policy lobby in Washington. Its 60,000 members shower millions of dollars on hundreds of members of Congress on both sides of the aisle. Newspapers like the New York Times fear the Jewish lobby organizations as well. "It's very intimidating," said a correspondent at another large daily. "The pressure from these groups is relentless." (40) PENTAGON: The Pentagon is under the control of a hard core group of Zionist moles led by Richard Perle. The civilian Defense Policy Board actually wields more control over the military establishment than the Defense Secretary or the generals and admirals. There are a number of other Zionists who serve on the board (Kissinger, Cohen, Schlessinger, Adelman, Abrahams) as well as non-jewish members who have always supported Israel and the expansion of the "War on Terror". The notoriously belligerent Perle, nicknamed the "The Prince of Darkness", is Chairman of the Board. (41) Perle is also a former Director of The Jerusalem Post. Namun cukuplah kita mengutip dari orang-orang tersebut. Marilah kita melihat fakta-fakta mengenai pengendalian oleh Yahudi. MEDIA : ABC, NBC, CBS, CNN, UPN, The Washington Post, The New York Times, The Wall Street Journal, The New York Daily News, Time Megazine, Newsweek, People Megazine, US News dan World Report serta tak terhitung media lainnya dan perusahaan-perusahaan Hollywood semua juga memiliki CEO dari Zionist atau seorang presiden pemberitaan dari Zionist, atau mereka dimiliki konglomerat media yang memiliki CEO seorang Zionist. (39) Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana film-film Hollywood selalu menggambarkan Jerman dan Arab sebagai seekor bigot fanatik atau terroris ? Sekarah Anda tahu kenapa! PEMERINTAHAN : AIPAC (Organisasi Lobi Israel) dan ADL adalah kelompok yang paling menekan di Washington DC. Dengan hak ijin masuk yang dimiliki oleh mereka, mereka sanggup mendepak kursi anggota kongres atau senator yang tidak membawa/menuruti permintaan mereka. Mayoritas
27

anggota kongres dari kedua partai politik menerima donasi yang besar dari AIPAC. Menulis untuk Nation Megazine, journalist Michael Massing menjelaskan : ‘’AIPAC secara luas dikenal sebagai lobi luar negeri yang paling berkuasa di Washington. Anggotanya 60.000 orang menghamburkan jutaan dollar bagi ratusan anggota kongres dari kedua partai. Surat kabar seperti New York Times takut akan organisasi lobby Yahudi ini. ‘’Hal ini sangatlah mengintimidasi,’’ ujar seorang koressponden harian besar lainnya : Tekanan dari kelompok-kelompok ini tak ada belas kasihan’’. (40) PENTAGON : Pentagon dibawah kontrol suatu kelompok garis keras dari tikus-tikus Zionist yang dipimpin oleh Richard Perle. Kelompok sipil Dewan Pengurus Kebijakan Pertahanan biasanya lebih memegang kendali dibandingkan Sekretaris Pertahanan atau para jenderal dan admiral. Ada sejumlah Zionist lainnya berada dalam dewan pengurus (Kissinger, Cohen, Schlessinger, Adelman, Abraham ) sebagaimana anggota non-Yahudi yang lain mendukung Israel dan meluaskan program ‘’Perang Melawan Terrorisme’’. Perle yang dikenal bereputasi buruk bila negara sedang berperang, memiliki nama lain ‘’Pangeran Kegelapan’’ adalah Kepala Dewan Pengurus. (41) Perle merupakan mantan Direktur Jerusalem Post. With Perle as Chairman of the Defense Policy Board, Zionist Paul Wolfowitz as Undersecretary of Defense, and Zionist award winner Douglass Feith as Undersecretary of Defense Policy, the Zionist Pentagon gang controls 3 of the top 4 civilian leadership positions of America’s armed forces. Careerist scoundrels like Condoleeza Rice and Donald Rumsfeld are either under their influence or unwilling to oppose their drive for WW III. The Perle-Wolfowitz-Feith gang represent a fanatical and warmongering "government-within-a-government". In league with these Zionist Pentagon conspirators are jewish Zionist and potential 2004 Presidential candidate, Senator Joseph Lieberman (D-CT) his partner in crime, Senator John McCain (R-AZ), and scores of other Zionist or Zionist owned Senators and Congressmen from BOTH parties. Dengan Perle sebagai Kepala Dewan Pengurus Kebijakan Pertahanan, Paul Wolfowitz sebagai Sekretaris Pertahanan, dan pemegang Zionist Award Douglass Feith sebagai Sekretaris Kebijakan Pertahanan, geng Zionist di Pentagon memegang kendali 3 dari 4 posisi puncak kepemimpinan dari pasukan Amerika. Bajingan-bajingan berkarir seperti Condoleeza Rice dan Donald Rumsfeld juga dibawah pengaruh mereka atau tidak mempunyai keinginan yang bertentangan dengan arahan mereka kepada Perang Dunia III. Genk Perle-Wolfowitz-Feith meresprentasikan suatu fanatisme dan hasutan perang ‘’pemerintahan didalam pemerintahan’’. Sekelompok dengan Zionist ini konspirator Pentagon adalah Zionist Yahudi dan kandidat potensial pemilu presiden 2004, Senator Joseph Lieberman (D-Cincinnati), partner kriminalnya Senator John McCain (R-Arizona), yang mencetak Zionist lainnya atau Senator yang dipengaruhi Zionist dan anggota Kongres dari kedua partai. An Israeli journalist named Ari Shavit, lamenting the harsh treatments that his government dishes out to the Palestinians, made the following observation in Ha'aretz, a leading Israeli journal: " We believe with absolute certitude that now, with the White House and Senate in our hands along with the Pentagon and the New York Times, the lives [of Arabs] do not count as much as our own. Their blood does not count as much as our blood. We believe with absolute certitude that now, when we have AIPAC [the Israel lobby] and [Edgar] Bronfman and the Anti-Defamation League, , we truly have the right to tell 400,000 people that in eight hours they must flee from their homes. And that we have the right to rain bombs on their villages and towns and populated areas. That we have the right to kill without any guilt." (42) Seorang jurnalis Israel bernama Ari Shavit, menyesali perlakuan kasar pemerintahannya mengusir orang-orang Palestina, memuat observasi lanjutan di Ha’aretz, sebuah jurnal terkemuka Israel : ‘’Kami meyakini secara pasti bahwa sekarang dengan Gedung Putih dan Senat di tangan kita begitu juga dengan Pentagon dan New York Times, nyawa (orang Arab) tidak dianggap sama
28

sebagaimana nyawa kita. Darah mereka tidak disamakan dengan darah kita. Kami yakin dengan pasti bahwa sekarang, ketika kita memiliki AIPAC dan (Edgar) Brontman dan Anti Defamation League, kami memiliki hak untuk berkata kepada 400.000 orang bahwa delapan jam lagi harus pergi dari rumah mereka. Dan kami memiliki hak untuk menghujani dengan bom desa-desa dan kota-kota mereka serta area berpenduduk. Bahwa kita memiliki hak untuk membunuh tanpa rasa bersalah.’’(42) And this only scratches the surface of Zionist power! We haven’t even mentioned the powerful Zionist element that dominates finance (Greenspan, Soros, etc.), publishing, (Simon & Schuster, Newhouse Publications etc.) and the academic world. With such awesome power to control and cover up events, is it any wonder why so many of America's journalists, intellectuals, and politicians are afraid to even talk about this issue? Is it any wonder why President Bill Clinton would grovel before a jewish audience and utter something as ridiculously pathetic as the following statement: "The Israelis know that if the Iraqi or the Iranian army came across the Jordan River, I would personally grab a rifle, get in a ditch, and fight and die." (43) I could go on at much greater length about Zionist power in banking, academia, and book publishing, but I want to get back to the dancing Israelis. Have I made my point yet? Dan ini merupakan satu goresan kecil dari permukaan mengenai kekuatan Zionist. Kami bahkan belum menyebutkan bagian kekuatan Zionist yang mendominasi finansial (Greespan, Soros, dsb), penerbitan (Simon & Schuster, New House Publication, dsb) dan dunia akademisi. Dengan kekuatan yang luar biasa untuk mengendalikan dan menyembunyikan/menutupi peristiwa-peristiwa, bukankah tidak mengherankan jika jurnalis Amerika, intelektual, politisi takut berbicara mengenai topik ini ? Adalah tidak mengherankan mengapa Presiden Bill Clinton membungkuk/menyembah-nyembah pada audiense Yahudi dan mengutarakan sesuatu menggelikan dan menyedihkan seperti berikut ini : ‘’ Bangsa Israel mengetahui bahwa jika pasukan Iraq atau Iran menyebrangi Sungai Jordan, saya secara pribadi mengambil senapan, tiarap di selokan, dan bertempur sampai mati.’’ (43) Saya bisa saja memaparkan tentang kepanjangan tangan kekuatan Zionist dalam perbank-an, dunia akademi, dan penerbitan buku, namun saya akan kembali ke belakang membahas tarian Israel. Bukankah saya telah menjelaskan poin ini ?

LEFT TO CENTER: PERLE, WOLFOWITZ, FEITH. THE WARMONGERING ISRAELI MOLES WHO CONTROL BUSH’S PENTAGON. RIGHT: BILL CLINTON: “I’D FIGHT AND DIE FOR ISRAEL” KIRI KE KANAN : PERLE, WOLFOWITZ, FEITH, TIKUS-TIKUS PENGHASUT PERANG ISRAEL YANG MENGONTROL PENTAGON-NYA BUSH. KANAN : BILL CLINTON : ‘’SAYA AKAN BERTEMPUR DAN MATI DEMI ISRAEL’’
29

ZIONIST MEDIA BOSSES: L-R: SUMNER REDSTONE (VIACOM-CBS- MTV-UPN-BET) MICHAEL EISNER (DISNEY-ABC). NORM PEARLSTINE (TIME). WALT ISAACSON (CNN NEWS) ANDY LACK (NBC NEWS) BOS-BOS MEDIA ZIONIST. KI-KA : SUMNER REDSTONE (VIACOM-CBS-MTV-UPN-BET) MICHAEL EISNER (DISNEY-ABC). NORM PEARLSTINE (TIME). WALT ISAACSON (CNN NEWS), ANDY LACK (NBC NEWS)

THEY TRIED TO WARN AMERICA ABOUT ZIONIST POWER: LEFT TO RIGHT: HENRY FORD, SENATOR FULBRIGHT, ADMIRAL MOORER, REVEREND GRAHAM, PAT BUCHANAN MEREKA MENCOBA MENGINGATKAN AMERIKA TENTANG KEKUATAN ZIONIST. KI-KA : HENRY FORD, SENATOR FULBRIGHT, ADMIRAL MOORER, REVEREND GRAHAM, PAT BUCHANAN THE BUTCHER SHARON SHARON SI PENJAGAL I know. I know. You want to return to the scene of the dancing Israelis on 9-11. But there is one more quick lesson that needs to be covered before we climb back into the time machine and fast-forward back to 9-11. If we don’t cover this, you won’t be able to fully understand the “big picture”. During the 1967 war, Israel occupied the Palestinian territories of the West Bank and Gaza. Thirty five years have passed since that war ended, yet the Israeli army continues the humiliating occupation of those Palestinian areas. Those areas are not part of the nation of Israel that was created in 1948 by the UN. What the Palestinian people are resisting today is not the 1948 confiscation of their land. They simply want the 1967 occupation to end. It is this ongoing occupation, not the 1948 creation of Israel, which fuels the conflict today. Prior to the current outbreak of hostilities, the majority of the Israeli people also supported the end of Israel's occupation and oppression of these territories. They elected Yitzak Rabin as Prime Minister and Rabin made more strides towards achieving peace than any of his processors. The 1990's were a quiet years in Israel. Palestinian leader Yasser Arafat and Prime Minister Rabin appeared to have finally reached a peace deal the US acting as the mediator. Saya tahu. Saya tahu. Anda menginginkan untuk kembali kepada skema tarian orang-orang Israel pada peristiwa 9-11. Tetapi ada satu penjelasan sebelum kita mendaki kepada mesin waktu dan dengan cepat menuju peristiwa 9-11. Jika kita tidak mengungkapkan ini, Anda tidak dapat sepenuhnya mengerti gambaran besarnya. Selama perang tahun 1967, Israel menduduki teritori Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Tiga puluh tahun lewat sejak perang tersebut berakhir selanjutnya tentara Israel meneruskan pendudukan yang menghinakan tersebut atas daerah-daerah Palestina ini. Area-area ini bukanlah bagian dari negara Israel yang dibentuk tahun 1948 oleh PBB. Apa yang orang-orang Palestina lakukan adalah bertahan dari penyitaan terhadap tanah mereka ini. Secara sederhananya mereka menginginkan pendudukan
30

tahun 1967 berakhir. Pendudukan tersebut berlangsung terus, yang bukan daerah yang didirikannya Israel tahun 1948, yang menyebabkan banyak konflik sekarang ini. Dengan pecahnya perang-perang sporadis ini, kebanyakan orang Israel juga mendukung diakhirinya pendudukan Israel dan penindasan di daerah ini. Mereka memilih Yitzak Rabin sebagai Perdana Menteri dan Rabin membuat langkah-langkah kedepan untuk menggapai perdamaian melebihi apa yang di capai oleh para pendahulunya. Tahun 1990-an adalah tahun penuh ketenangan bagi Israel. Pemimpin Palestina Yasser Arafat dan Perdana Menteri Rabin tampil untuk akhirnya menggapai suatu perjanjian damai dimana AS berperan sebagai mediator. This did not sit well with the hard core Zionists who ultimately hope to expand Israel's borders even more. Hopes for a lasting peace deal were soon dealt a major setback when a flurry of five bullets were pumped into Prime Minister Rabin at close range as he was attending a 1995 Israeli peace rally. It was not an Arab that killed Rabin. It was a Zionist fanatic named Yigal Amir. Amir was a law student at Israel’s Bar-Ilan University. He later told investigators that he had no regrets for his actions. (44) Amir, a bright young law student was willing to throw his life away in the service of the Zionist cause. (More on that concept later on.) At the head of the Israeli government today sits a brutal man who has been a guest of honor at George Bush's White House on a regular basis since he took office in October 2000. His name is Ariel Sharon. His fanatical Zionist supporters in Israel refer to him as "Arik King", but the Arabs know him as a lifelong butcher, terrorist, and war criminal. There was a time when Sharon was disgraced and his political career seemed to be over. The isolation of Ariel Sharon was the result a 1982 Palestinian massacre which Sharon engineered when he was Israel's Defense minister. It was the Israelis themselves who forced Sharon to resign. Ini tidak sejalan dengan Zionist garis keras yang pada akhirnya berharap memperluas perbatasan. Harapan-harapan untuk perdamaian yang abadi segera menjadi suatu langkah mundur kebelakang ketika berondongan lima peluru ditembakkan kepada Perdana Menteri Yitzak Rabin di jarak dekat ketika ia di tahun 1995 menghadiri perdamaian Israel yang berkesinambungan. Yang menembak bukanlah seorang Arab, melainkan seorang Zionist fanatik bernama Yigal Amir. Amir adalah seorang mahasiswa hukum di Universitas Bar-lian Israel. Ia kemudian mengatakan kepada penyidik bahwa ia tidak menyesali aksinya. (44) Amir, seorang mahasiswa muda yang cemerlang telah membuang hidupnya demi melayani tujuan Zionist. (Mengenai pemahaman ini dipaparkan selanjutnya). Di puncak pimpinan pemerintahan Israel yang sekarang duduk seorang manusia brutal yang pernah menjadi tamu kehormatan George Bush di Gedung Putih dalam satu kunjungan berkala sejak ia memegang tugas pada bulan Oktober 2000. Ia bernama Ariel Sharon. Pendukung Zionist fanatiknya menyebut ia sebagai ‘’Raja Arik’’, tetapi orang-orang Arab menganggap ia sebagai penjagal abadi, terroris dan kriminal perang. Ada suaru waktu ketika Sharon dibuang dan karir politknya terlihat akan berakhir. Isolasi terhadap Ariel adalah sebagai hasil dari pembantaian Palestina tahun 1982, dimana Sharon mengatur pembantaian tersebut sewaktu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Israel. Adalah orang Israel sendiri yang menekan Sharon untuk mengundurkan diri. Sharon's troops blocked the exits from the Sabra and Shattila refugee camps while a Lebanese militia, allied with the Israeli military, went into the camps and slaughtered more than 1,500 unarmed Palestinian civilians while raping many women. (45). Though these Lebanese militias were the ones who did the actual killing, it was Ariel Sharon who controlled the militias and it was Sharon's soldiers who stood by and blocked the camp exits, deliberately allowing the slaughter to take place. A survivor of the attack who had been raped and shot went to Belgium and initiated a war crimes case against Sharon. Several Lebanese militia leaders were summoned to testify against Sharon. Shortly before their testimony, three of them were suddenly killed by unknown gunmen and car bombs. Israel's Mossad of course denied any responsibility for the strange and untimely deaths of these three witnesses against Sharon. (46) And if you believe that lie, I’ll sell you the World Trade center!
31

Pasukan Sharon memblokade dari area di sekelilingnya kamp pengungsi Sabra dan Shattila sementara suatu milisi Lebanan bersekutu dengan militer Israel, menuju kamp dan membantai lebih dari 1500 rakyat sipil Palestina yang tak bersenjata dan memperkosa para wanitanya. (45) Walaupun milisi Lebanon adalah pihak yang melakukan pembunuhan yang sebenarnya, adalah Ariel Sharon yang mengendalikan para milisi dan pasukannya yang menjaga serta memblokade kamp dari area sekitar, membiarkan terjadinya pembantaian. Seorang yang selamat dari serangan yang telah diperkosa dan ditembak pergi menuju Belgia dan mengajukan pendakwaan penjahat perang kepada Ariel Sharon. Beberapa pemimpin milisi Lebanon dikumpulkan untuk memberikan kesaksian melawan Sharon. Beberapa saat sebelum persaksian mereka, tiga dari mereka tiba-tiba dibunuh oleh orang-orang tak dikenal yang bersenjata dan bom mobil. Mossad Israel tentu saja menyanggah setiap tanggung jawab dari kematian yang aneh dan terlalu cepat dari ketiga saksi yang melawan Sharon. (46) Dan jika Anda mempercayai kebohongan tersebut, sampai jumpa di World Trade Center ! After nearly 20 years of political exile, Sharon made his comeback in October 2000. Knowing full well how much the Palestinians hated him for his role in the 1982 massacres, Sharon and a small army of Israeli soldiers showed up at the Temple Mount (47) - a site held sacred by both Muslims and jews. This was a deliberate provocation. When the Muslims protested the Sharon provocation, the Israeli troops cracked down. Rocks were thrown and shots were fired. In just a matter of minutes, years of peace and the Israeli-Arab peace effort had been destroyed by Mr. Sharon’s bullying antics. When the fighting broke out, a frightened and propagandized Israeli population soon turned to a strong man for their protection - the very man who had deliberately instigated the violence in the first place. Ariel Sharon was elected Prime Minister. Setelah lebih dari 20 tahun pengasingan politik, Sharon comeback bulan Oktober 2000. Mengetahui sangat bencinya orang-orang Palestina terhadap perannya pada pembantaian tahun 1982, Sharon dan sejumlah kecil pasukan Israel menunjukan diri di Kuil Mount (47) suatu tempat suci bagi Muslimin dan Yahudi. Ini adalah provokasi yang disengaja. Ketika kaum Muslimin memprotes provokasi Sharon, pasukan Israel menyerangnya. Batu dilemparkan dan senjata ditembakkan. Dalam beberapa menit, bertahun-tahun usaha perdamaian Arab-Israel telah dirusak oleh penggertak orang-orang lemah yang menggelikan milik Sharon. Ketika pertempuran pecah, satu propaganda dan ancaman kepada penduduk Israel kemudian berubah menjadi semacam orang kuat sebagai pelindung mereka, orang yang benar-benar dengan sengaja menjadikan penghasutan kekerasan sebagai prioritas utamanya. Ariel Sharon terpilih menjadi Perdana Menteri. True to form, Sharon has brutalized the Palestinian civilian population under the pretext of "selfdefense". Armed and funded by Israel's wholly owned US Congress, the Israeli war machine can bulldoze and bomb Arab homes at will. The only weapon that the outgunned Palestinians can retaliate with is the "suicide bomber". With every suicide bombing, Sharon is able to "justify" even more attacks and occupy more land. The Zionist game plan is to ultimately drive the Palestinians out of the West Bank and Gaza, just like the Irgun massacres had driven the Arabs out of Deir Yassin. Standing in the way of such a bold Zionist scheme were three major obstacles: 1. the force of world opinion. Prior to 9-11, the Palestinian struggle against Israeli occupation had gained the sympathy of many people around the world. 2. the force of Israeli domestic opinion (most Israelis wanted peace and were opposed to the 35 year occupation of Palestinian territories). 3. Saddam Hussein‘s oil rich Iraq, which had always been a champion of the cause of Palestinian self determination. Benar-benar Sharon telah melakukan kebrutalan terhadap penduduk Palestina dengan alasan terlebih dulu ‘’pembelaan diri’’. Dipersenjatai dan didanai oleh Kongres Amerika yang sepenuhnya dimiliki oleh Israel, mesin perang Israel dapat saja membuldozer dan membom rumah-rumah orang
32

Arab sesuai keinginan mereka. Satu-satunya senjata yang dapat di tembakkan oleh orang Palestina hanyalah ‘’bom bunuh diri’’ (bom syahid ---- penerjemah)’’. Pada setiap terjadinya bom bunuh diri, Sharon dapat langsung menjustifikasi bahkan bukan hanya itu juga menyerang dan menduduki daerah yang lebih luas. Permainan dan rencana Zionist pada akhirnya adalah mengusir para penduduk Palestina keluar dari Tepi Barat dan Gaza, persis seperti pembantaian oleh Irgun yang mengeluarkan orang Arab dari Deir Yassin. Tiga poin yang penting dari skema Zionist secara jelas terlihat 1. Melawan opini dunia. Sebelum peristiwa 9-11, perjuangan bangsa Palestina melawan Israel meraih simpati banyak orang di seluruh penjuru dunia. 2. Melawan opini domestik di Israel (mayoritas bangsa Israel menginginkan perdamian dan menentang 35 tahun pendudukan teritori Palestina). 3. Saddam Hussein pemimpin negeri kaya minyak yang selalu memperjuangkan kebulatan tekad bangsa Palestina. How useful it would be for the Zionists if some “incident” were to happen which would turn American and world opinion against the Palestinians and ultimately drag the US into a war against Israel's Arab enemies. If only a modern day “Pearl Harbor” would happen to occur! Now you know why those Israelis were celebrating on 9-11! Begitu bermanfaatnya bagi Zionist jika suatu ‘’insiden’’ terjadi yang akan mengubah opini bangsa Amerika dan dunia melawan Palestina dan dengan segera menyeret AS kedalam perang melawan bangsa Arab musuh Israel. Ini akan terlaksana jika ada peristiwa ‘’Pearl Harbor’’ modern. Sekarang Anda memahami orang-orang Israel yang merayakan peristiwa 9-11 itu !

TOP: ARIEL “THE BUTCHER” SHARON, SMILING AND SHAKING HANDS WITH PUPPET BUSH. OTHER: SOME PALESTINIAN VICTIMS OF THE US BACKED ISRAELI ARMY ATAS : ARIEL ‘’SI PENJAGAL’’ SHARON, TERSENYUM DAN BERJABAT TANGAN DENGAN BONEKA BUSH YANG LAINNYA : BEBERAPA KORBAN RAKYAT PALESTINA OLEH MILITER ISRAEL YANG DIDUKUNG AMERIKA ADVANCE WARNINGS PERINGATAN-PERINGATAN AWAL SEBELUM TERJADINYA PERISTIWA 9-11
33

The days and hours leading up to 9-11 were marked by a series of chilling warnings about impending terrorist plots involving hijacked commercial airplanes. It's worth mentioning at this point that months before 9-11, the US had already informed some of its allies of plans to go to war in Afghanistan. On June 26, 2001, News Insight/India Reacts, an Indian public affairs magazine, wrote: “India and Iran will "facilitate" US and Russian plans for "limited military action" against the Taliban if the contemplated tough new economic sanctions don't bend Afghanistan's fundamentalist regime. Indian officials say that India and Iran will only play the role of "facilitator" while the US and Russia will combat the Taliban from the front with the help of two Central Asian countries, Tajikistan and Uzbekistan, to push Taliban lines back to the 1998 position 50 km away from Mazar-e-Sharief city in northern Afghanistan. Military action will be the last option though it now seems scarcely avoidable with the UN banned from Taliban-controlled areas” (48) Hari-hari dan jam-jam yang mengarah kepada terjadinya peristiwa 9-11 ditandai dengan serangkaian peringatan yang mengerikan mengenai plot terroris yang terlibat membajak pesawat komersial. Hal tersebut penting untuk diungkapkan dimana dalam poin ini beberapa bulan sebelum peristiwa 9-11, AS telah diberi informasi oleh beberapa sekutunya mengenai rencana berperang di Afganistan. Bulan Juni 2001, News Insight / India Reacts, sebuah majalah India hubungan masyarakat menulis : ‘’India dan Iran akan difasilitasi oleh AS dan Russia dengan maksud untuk membatasi aksi militer melawan Taliban jika sangsi ekonomi tidak dapat menjatuhkan rejim fundamentalis Taliban. Petugas dari India mengatakan bahwa India dan Iran hanya berperan sebagai fasilitator sementara AS dan Russia akan memerangi Taliban dari garis depan dengan bantuan dua negara Asia Tengah, Tajikistan dan Uzbekistan untuk menekan Taliban kembali kepada posisinya di tahun 1998, 50 km dari kota Mazar-e-Sharief di utara Afganistan. Aksi militer akan menjadi opsi terakhir walau hampir tidak dapat dihindarkan sejalan dengan larangan PBB yang seharusnya mengontrol daerah Taliban’’. The story of US military involvement in Afghanistan was reported months before 9-11 in respected Indian (49) and British (50) publications but it was never reported in the US media. With the military plans already in motion since at least June of 2001, all that was needed was for an "incident" to take place to justify the US going to "war against Terrorism" in Afghanistan. Here are just a few of the advance warnings which were brought to light in the aftermath of 9-11: The London Daily Telegraph reported on September 16, 2001: "The Telegraph has learned that two senior experts with Mossad, the Israeli military intelligence service, were sent to Washington in August to alert the FBI and CIA to the existence of a cell of as many as 200 terrorists said to be preparing a big operation. They had no specific information about what was being planned but linked the plot to Osama Bin Laden and told American officials that there were strong grounds for suspecting Iraqi involvement." (51) Pengungkapan keterlibatan militer AS di dilaporkan berbulan-bulan sebelum peristiwa 9-11 dalam publikasi terpercaya di India (49) dan Inggris (50) namun hal tersebut tidak pernah dilaporkan di media AS. Dengan rencana militer dalam pergerakannya setidaknya sejak Juni 2001, semua peran hanya membutuhkan suatu ‘’insiden’’ untuk menjustifikasi AS mengenai ‘’Perang Melawan Trrorisme’’ di Afghanistan. Ini hanya beberapa bukti peringatan yang mendahului yang mengakibatkan terjadinya peristiwa 9-11 : London Daily Telegraph melaporkan pada tanggal 16 September 2001 : ‘’Harian Telegraph telah memperingatkan bahwa dua orang ahli senior dari Mossad, dinas intelejen Israel, mengirimkan kepada Washington bulan Agustus untuk memperingatkan FBI dan CIA mengenai keberadaan sekelompok mungkin berjumlah 200 terroris dengan maksud mempersiapkan operasi besar. Mereka tidak memiliki informasi spesifik mengenai apa yang direncanakan tetapi dihubungkan dengan Osama bin Laden dan dikatakan kepada petugas Amerika kami dengan kuat menuduh Iraq terlibat.’’
34

Do you smell a "false flag" operation in the works? How is possible that the Mossad knew of the existence of these 200 terrorists but could not name or locate a single one? And how convenient for Israel that Saddam Hussein should be in cahoots with Osama Bin Laden, despite the fact that Bin Laden and Hussein hate each other! The Franfurter Allgemeine Zeitung, (FAZ) one of Germany’s most respected newspapers, quoted German intelligence sources who said that the Echelon electronic spy network gave US and Israeli intelligence agencies several warnings that suicidal hijack attacks were being planned against US targets.(52) Echelon is capable of monitoring all electronic communication in the world. Utilizing 120 satellites, Echelon is designed to suck up enormous amounts of data by using keyword search techniques to sift through the data. (53) Apakah Anda mencium operasi ‘’pengkambinghitaman’’ dalam aksi ini? Bagaimana mungkin Mossad mengetahui keberadaan 200 terroris tetapi tidak dapat menyebutkan satupun nama dan lokasi ? Dan bagaimana mungkin dengan yakinnya Israel berpendirian bahwa Saddam Hussein mungkin saja bersekutu secara rahasia dengan Osama bin Laden dan mengabaikan fakta bahwa mereka saling membenci? The Franfurter Allgemeine Zeitung (FAZ), satu diantara harian Jerman yang terpercaya, mengutip sumber dinas rahasia Jerman yang mengatakan bahwa Echelon, yaitu jaringan mata-mata elektronik memberi agen rahasia AS dan Israel beberapa peringatan tentang penyerangan bunuh diri pembajak telah direncanakan dan menjadikan AS sebagai sasaran. (52) Echelon memiliki kemampuan dalam memonitoring semua komunikasi elektrik di dunia. Dengan penggunaan 120 satelit, Echelon didesain untuk mengambil data dalam jumlah yang sangat besar dengan menggunakan keyword dalam teknik pencariannya untuk menyaring data. (53) The San Francisco Chronicle reported on September 12 that San Francisco Mayor and former California Assembly Speaker Willie Brown was advised eight hours before the attacks that he should be careful about flying on 9-11. (54) In its September 24, 2001 issue, Newsweek broke this startling revelation: “Three weeks ago there was another warning that a terrorist strike might be imminent… On September 10, Newsweek has learned, a group of top Pentagon officials suddenly cancelled travel plans for the next morning, apparently because of security concerns.“. (55) (emphasis added) Wow! Could these unnamed "top Pentagon officials" have been some of the Zionist directors of the Defense Policy Board which we talked about earlier? If these Pentagon officials were scared enough not to fly, then why didn’t the Pentagon place the Air Force on full alert? How could they have been so slow to react to 9-11 when they already knew there was a threat? The San Fransisco Chronicle melaporkan pada tanggal 24 September 2001 bahwa walikota San Fransisco mantan juru bicara dewan California Willie Brown mendapatkan nasihat delapan jam sebelum serangan bahwa ia harus berhati-hati jika melakukan penerbangan pada tanggal 11 September. ‘’Tiga minggu yang lalu ada peringatan yang lain yang mengatakan bahwa serangan terroris terjadi sebentar lagi….Tanggal 10 Septmber Newsweek telah mengetahui, sekelompok petinggi Pentagon tiba-tiba membatalkan rencana travel untuk hari berikutnya, rupa-rupanya disebabkan oleh pertimbangan keamanan’’ (50) (penekanan ditambahkan) Wow ! Mungkinkah ‘’petinggi Pentagon’’ yang tidak dapat disebutkan namanya ini merupakan direktur-direktur Zionist dari Dewan Pengurus Kebijakan Pertahanan yang kita bicarakan sebelumnya? Jika para petugas Pentagon cukup takut untuk berterbangan, mengapa Pentagon tidak memerintahkan Angkatan Udara siap siaga penuh? Bagaimana bisa mereka sangat lamban bereaksi ketika mereka sudah mengetahui akan adanya ancaman?
35

On September 27, The Washington Post reported that two workers of the Israeli company Odigo (with offices also in New York) received instant message warnings just two hours before the attacks. Here’s an excerpt from the Post: “Officials at instant-messaging firm Odigo confirmed today that two employees received text messages warning of an attack on the World Trade Center two hours before terrorists crashed planes into the New York landmarks” (56) Soon after the attacks, the Odigo employees informed the management of the electronic message they had received. Israeli security services were contacted and the FBI was informed. Nothing has been heard about this event since. I think it's safe to say that "Islamic terrorists" would not have been considerate enough to send detailed E-mail warnings to some obscure Israeli office workers. Pada tanggal 27 September, The Washinton Post melaporkan bahwa dua petugas perusahaan Israel Odigo (yang kantornya juga di New York) menerima pesan singkat berupa peringatan hanya dua jam sebelum serangan. Inilah kutipan dari Post : ‘’Petugas yang menerima pesan singkat dari firma/perusahaan Odigo mengkonfirmasikan hari ini bahwa petugasnya menerima text pesan peringatan dari suatu serangan di World Trede Center dua jam sebelum terroris menabrakkan pesawat ke landmark New York’’. Segera setelah serangan, pegawai Odigo memberi informasi kepada manajemen mengenai pesan elektronik yang telah mereka terima dari agen keamanan Israel dan FBI telah diberi informasi megenai hal tersebut. Belum pernah terdengar perihal ini sebelumnya. Saya kira adalah aman jika mengatakan ‘’terrorist Islam’’ tidak cukup mempertimbangkan untuk mengirimkan email peringatan dari beberapa petugas Israel yang tak jelas.

LEFT: SAN FRANCISCO’S MAYOR BROWN WAS WARNED RIGHT: NEWSWEEK’S EVAN THOMAS: PENTAGON OFFICIALS CANCELLED THEIR FLIGHTS ON 9-11. KIRI : WALIKOTA SAN FRANSISCO TELAH DIPERINGATKAN KANAN : EVAN THOMAS DARI NEWSWEEK. PETINGGI PENTAGON MEMBATALKAN PENERBANGAN MEREKA TANGGAL 11 SEPTEMBER THE SEPTEMBER 11 DANCE PARTY PESTA DANSA 11 SEPTEMBER Let us review what we have learned. We have clearly established that Zionists played a key role in steering the US into two World Wars. We have clearly established that Zionists do not care if Americans (or others) are killed to further their goals. We have clearly established that Zionists have a record of attacking Americans in order to frame Arabs. We have established that the Zionists are capable of acts of unspeakable brutality and genocide. We have established that US politicians fear the Zionist Mafia and defy them at their own peril. We have learned that warnings of a suicidal hijacking plot were issued to several people. And most importantly of all, we have clearly established that the Zionists have the capacity to make these amazing stories suddenly disappear from their controlled news media.
36

Having established these precedents, we can now easily deduce that the reason why those five dancing Israeli agents who celebrated the 9-11 attacks were so happy is because they knew that Americans would now become unconditional supporters of their "Israeli ally" and fanatical haters of Muslims and Arabs. On the day of the attacks, former Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu was asked what the attack would mean for US-Israeli relations. His quick reply was "It's very good…….Well, it's not good, but it will generate immediate sympathy (for Israel)" (57) Mari kita mengkaji kembali apa yang telah kita bahas. Kita telah mengungkapkan dengan jelas bahwa Zionist memegang peran kunci dalam mengarahkan AS kepada dua kali perang dunia. Kita benar-benar telah mengungkap bahwa Zionist sama sekali tidak peduli jika orang Amerika terbunuh dalam pemenuhan tujuan mereka. Kita telah mengungkap bahwa Zionist memiliki suatu sejarah menyerang orang Amerika kemudian menyalahkan Bangsa Arab. Kita telah mengungkap bahwa Zionist bisa berlaku benar-benar brutal dan memusnahkan manusia. Kita telah mengungkap bahwa politisi Amerika takut terhadap mafia Zionist dan menentang mereka akan membahayakan diri mereka sendiri. Kita telah mempelajari bahwa peringatan-peringatan dari plot pembajakan bunuh diri telah diperbincangkan oleh beberapa orang. Dan yang paling penting dari itu semua, kita telah menampilkan bahwa Zionist memiliki kapasitas untuk menghilangkan penuturan-penuturan yang luar biasa ini menghilang tiba-tiba dari media massa yang dikendalikan oleh mereka. Setelah menampilkan hal-hal yang bisa dijadikan hikmah ini, kita sekarang dengan mudah menyimpulkan alasan mengapa lima orang agen Israel yang berdansa merayakan peristiwa penyerangan 11 September begitu gembira karena mereka mengetahui bahwa Bangsa Amerika menjadi pendukung tanpa syarat bagi ‘’sekutu Israel’’ mereka dan akan menjadi pembenci fanatik Kaum Muslimin dan Bangsa Arab. The five Israeli Mossad agents made such a spectacle that everyone who saw them felt compelled to call the police. According to ABC’s 20/20, when the van belonging to the cheering Israelis was stopped by the police, the first words out of the driver's (Sivan Kurzberg) lying mouth were: "We are Israelis. We are not your problem. Your problems are our problems. The Palestinians are your problem." (58) The police and FBI field agents became really suspicious when they found box cutters (the same items that the hijackers supposedly used), $4700 cash stuffed in a sock, and foreign passports. Police also told the Bergen Record that bomb sniffing dogs were brought to the van and that they reacted as if they had smelled explosives. (59) From there, the story gets becomes even more suspicious. The Israelis worked for a Weehawken moving company known as Urban Moving Systems. An American employee of Urban Moving Systems told the Bergen Record that a majority of his co-workers were Israelis and they were all joking about the attacks. The employee, who declined to give his name said: "I was in tears. These guys were joking and that bothered me." (60) A few days after the attacks, Urban Moving System's Israeli owner, Dominick Suter, dropped his business and fled the country. He was in such a hurry to flee America that some of Urban Moving System's customers were left with their furniture stuck in storage facilities. (61A) It was later confirmed that the five Israeli army veterans were in fact Mossad agents(61B) They were held in custody for several months before being quietly released. Some of the movers had been kept in solitary confinement for 40 days. (62) Lima orang agen Mossad Israel membuat suatu tontonan besar dimana semua orang yang melihatnya merasa harus menghubungi polisi. Menurut laporan ABC di acara 20/20, ketika sebuah van dimana terdapat orang Israel yang merayakan dihentikan oleh polisi, kata-kata pertama yang keluar dari mulut berbohong sopirnya (Sivan Kurzberg) adalah : ‘’Kami adalah orang Israel. Kami bukan masalah bagi kalian. Masalah Anda adalah masalah kami. Bangsa Palestina adalah masalah kalian’’.(58) Polisi dan agen lapangan FBI menjadi begitu curiga ketika mereka menemukan kotak cutter (barang yang sama yang diduga digunakan oleh para pembajak), uang tunai $4700 disembunyikan dalam kaus kaki, dan passport luar negeri. Polisi juga mengatakan kepada surat
37

kabar Bergen Record bahwa anjing pelacak bom dibawa menuju van itu dan anjing tersebut bereaksi sama bereaksinya jika mencium bahan peledak. (59) Dari sana, penuturan menjadi lebih mencurigakan. Orang Israel yang bekerja untuk sebuah perusahaan angkutan pindahan Werehawken yang dikenal bernama perusahaan Urban Moving System. Seorang pegawai Amerika di Urban Moving System mengatakan kepada Bergen Record bahwa rekan kerjanya mayoritas orang Israel dan mereka semua bergurau mengenai serangan itu. Si pegawai, yang enggan disebut namanya berkata : ‘’Saya mengucurkan air mata. Orang-orang ini bercanda dan ini mengganggu saya’’. (60) Beberapa hari setelah serangan 9-11, pemilik Urban Moving System berkebangsaan Israel Dominick Suter, menghentikan bisnisnya dan terbang keluar negeri. Ia terburu-buru keluar Amerika dimana beberapa pelanggan Urban Moving System hanya ditinggali furnitur dalam ruang fasilitas. (61A) Kemudian hal tersebut dikonfirmasikan bahwa lima orang veteran AD Israel sebenarnya agen Mossad. (61B) Mereka ditahan sekitar beberapa bulan sebelum benar-benar dilepaskan. Beberapa dari mereka ditahan dalam tahanan tersendiri selama 40 hari. (62) Immediately following the attacks, the Zionist controlled media was filled with stories linking the attacks to Bin Laden. TV talking-heads and scribblers of every stripe spoon-fed a gullible American public a steady diet of the most outrageous propaganda imaginable. We were told that the reason Bin Laden attacked the USA was because he hates our “freedom” and “democracy”. The Muslims were “medieval” and they wanted to destroy us because of our wealth. But Bin Laden strongly denied any role in the attacks and suggested that Zionists orchestrated the 9-11 attacks: "I was not involved in the September 11 attacks in the United States nor did I have knowledge of the attacks. There exists a government within a government within the United States. The United States should try to trace the perpetrators of these attacks within itself; to the people who want to make the present century a century of conflict between Islam and Christianity. That secret government must be asked as to who carried out the attacks....The American system is totally in control of the Jews, whose first priority is Israel, not the United States. " (63) Dengan segera setelah terjadinya serangan, media yang dikendalikan kaum Zionist penuh dengan berita-berita yang menghubungkan serangan dengan Bin Laden. Topik perbincangan TV dan tulisantulisan singkat disuapkan kepada publik Amerika yang mudah ditipu secara terus menerus yang berisikan suatu propaganda dengan tujuan untuk mengundang amarah yang tak terbayangkan. Kita diberi informasi bahwa alasan Bin Laden menyerang AS adalah karena ia membenci kebebasan kita dan demokrasi kita. Kaum Muslimin sedang dalam masa pertengahan (masa kegelapan) dan hendak menghancurkan kita karena kesejahteraan kita. Namun Bin Laden dengan keras membantah setiap peran dalam serangan tersebut dan menduga Zionist mengatur serangan 9-11. ‘’Saya tidak terlibat dalam serangan 11 September di Amerika Serikat juga tidak memiliki keahlian dalam mewujudkan serangan itu. Ada pemerintahan yang eksis didalam pemerintahan Amerika Serikat. Pihak Amerika Serikat seharusnya mencoba untuk mencari pengatur serangan didalam negaranya sendiri, kepada orang-orang yang ingin menjadikan abad ini sebagai abad konflik antara Islam dan Christianity. Pemerintahan rahasia seharusnya ditanyai kepada siapa serangan itu ditujukan…..System di Amerika benar-benar dikendalikan oleh orang-orang Yahudi, dimana prioritas utamanya adalah Israel, bukan Amerika Serikat’’.(63) To date, the only shred of “evidence” to be uncovered against Bin Laden was a highly suspicious, barely audible, fuzzy amateur video, that the Zionist dominated Pentagon just happened to find "lying around" in Afghanistan. How very convenient! Though there is no evidence, be it hard or circumstantial, to link the Al Qaeda "terrorist network" to these acts of terror; there is in fact a mountain of evidence, both hard and circumstantial, which suggests that the Zionist Mafia has been very busy framing Arabs for terror plots against America. Sampai sekarang, satu-satunya potongan ‘’bukti’’ yang dibuka untuk menuduh Bin Laden benarbenar mencurigakan, hampir tidak dapat di dengar, video amatir yang tak jelas, dimana Zionist
38

mendominasi Pentagon di saat kejadian untuk menemukan ‘’tempat persembunyian’’ di Afghanistan. Benar-benar sangat tepat ! Walaupun tidak ada bukti namun hal tersebut dijadikan atau disesuaikan, diarahkan kepada ‘’jaringan terroris’’ Al Qaeda mengenai aksi-aksi terror, adalah fakta ada sejumlah besar bukti, fakta keras (yang tidak bisa dibantah) dan kondisi yang sesuai, mengarah kepada Mafia Zionist yang sangat sibuk menyalahkan orang Arab untuk skema terror melawan Amerika.

LEFT: BIN LADEN “I WAS NOT INVOLVED” NETANYAHU: “ATTACKS WILL GENERATE IMMEDIATE SYMPATHY FOR ISRAEL.” KIRI: BIN LADEN ‘’SAYA TIDAK TERLIBAT’’ NETANYAHU : ‘’SERANGAN AKAN MENJADIKAN SIMPATI UNTUK ISRAEL’’ WHO WAS REALLY FLYING THOSE PLANES? SIAPAKAH SEBENARNYA YANG MENERBANGKAN PESAWAT - PESAWAT TERSEBUT ? Hours after the 9-11 attacks, authorities began to find clues conveniently left for them to stumble upon. The Boston Globe reported that a copy of the Koran, instructions on how to fly a commercial airplane and a fuel consumption calculator were found in a pair of bags meant for one of the hijacked flights that left from Logan. (64) Authorities also received a "tip" about a suspicious white car left behind at Boston's Logan Airport. An Arabic-language flight training manual was found inside the car. (65) How fortunate for investigators that the hijackers forgot to take their Koran and Arab flight manuals with them! Within a few days, all "19 hijackers" were “identified” and their faces were plastered all over our television screens. Then, like a script from a corny "B" spy movie, the official story gets even more ridiculous. The passport of the supposed "ringleader" Mohammed Atta, somehow managed to survive the explosion, inferno, and smoldering collapse to be oh-so-conveniently "found" just a few blocks away from the World Trade Center! (66) It is obvious that this "evidence" was planted by individuals wishing to direct the blame towards Osama Bin Laden. How is it possible that Arab students who had never flown an airplane could take a simulator course and then fly jumbo jets with the skill and precision of “top-gun” pilots? It is not possible and the fact is, the true identities of the 9-11 hijackers remains a mystery. In the days following the disclosure of the "hijackers" names and faces, no less than 7 of the Arab individuals named came forward to protest their obvious innocence. (67) Beberapa jam setelah penyerangan 9-11, pihak yang berwenang memulai mencari petunjuk-petunjuk yang tertinggal. The Boston Globe melaporkan bahwa copy-an dari Al Qur’an, dan buku instruksi bagaimana untuk menerbangkan pesawat komersial serta suatu kalkulator yang terpakai ditemukan dalam sepasang tas yang berarti seorang pembajak meninggalkan Logan (64) Pihak yang berwenang juga menerima sebuah ‘’tip’’ mengenai mobil putih yang mencurigakan di belakang Bandara Logan di Boston. Sebuah petunjuk latihan penerbangan yang berbahasa Arab ditemukan didalam mobil. (65) Begitu beruntungnya bagi penyelidik bahwa para pembajak lupa untuk membawa
39

Al Qur’an dan buku petunjuk berbahasa Arab bersamanya! Dalam beberapa hari, semua ‘’19 pembajak diidentifikasi’’ dan wajah-wajah mereka dipampang dalam semua layar televisi. Kemudian, seperti skenario dari suatu kelas ‘’B’’ film mata-mata yang dangkal, petugas menuturkan lebih menggelikan lagi. Passport dari tertuduh ‘’pemimpin jaringan’’ yaitu Mohammed Atta, yang diatur selamat dari ledakan, nyala api yang besar, bangunan yang kolaps begitu tepatnya ‘’ditemukan’’ hanya beberapa blok dari World Trade Center ! (66) Sangatlah jelas bahwa ‘’bukti’’ini direncanakan oleh individu-individu yang mengarah kepada pengkambinghitaman Osama Bin Laden. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa Arab yang belum pernah menerbangkan sebuah pesawat terbang dan hanya mengambil kursus simulator kemudian menerbangkan pesawat jumbo jet dengan skill setara pilot ‘’top gun’’? Hal itu tidaklah mungkin dan faktanya adalah identitas yang sesungguhnya dari para pembajak 9-11 masih menyisakan suatu misteri. Dalam hari-hari berikutnya pengungkapan nama-nama, wajah-wajah ‘’para pembajak’’, tidak kurang dari 7 orang Arab yang namanya muncul memprotes mengenai ketidakbersalahan mereka’’. That's right! Seven of the nineteen "hijackers" are alive and well. They were victims of identity theft, some of whom had had their passports stolen. They were interviewed by several news organizations including the Telegraph of England. Here’s an excerpt from David Harrison’s Telegraph story entitled: Revealed: The Men With Stolen Identities: “Their names were flashed around the world as suicide hijackers who carried out the attacks on America. But yesterday four innocent men told how their identities had been stolen… The men - all from Saudi Arabia - spoke of their shock at being mistakenly named by the FBI as suicide terrorists. None of the four was in the United States on September 11 and all are alive in their home country. The Telegraph obtained the first interviews with the men since they learnt that they were on the FBI's list of hijackers who died in the crashes in New York, Washington and Pennsylvania. All four said that they were "outraged" to be identified as terrorists. One has never been to America and another is a Saudi Airlines pilot who was on a training course in Tunisia at the time of the attacks. Saudi Airlines said it was considering legal action against the FBI for seriously damaging its reputation and that of its pilots.” (68) (emphasis added) Betul sekali ! Tujuh dari sembilan belas ‘’pembajak’’ masih hidup dan segar bugar. Mereka adalah korban dari identitas yang dicuri, beberapa dari mereka telah memiliki passport mereka yang dicuri. Mereka diwawancara oleh beberapa media berita termasuk Telegraph of England. Inilah kutipan penuturan David Harrison yang diberi judul : Revealed : The Men With Stolen Identities : ‘’Nama-nama mereka muncul di seluruh dunia sebagai seorang pembajak bunuh diri yang membawa penyerangan ke Amerika. Namun kemarin empat orang menceritakan bagaimana identitas mereka dicuri… Orang-orang ini –semuanya dari Arab Saudi—menceritakan keterkejutan mereka terhadap kesalahan penamaan mereka sebagai terroris bunuh diri. Tidak ada dari keempatnya berada di Amerika Serikat pada tanggal 11 September dan semua masih hidup di negaranya. The Telegraph mendapatkan wawancara pertamanya dengan orang-orang tersebut sejak mereka mengetahui bahwa mereka ada di daftar FBI sebagai pembajak yang tewas dalam tabrakan di New York, Washington dan Pennsylvania. Keempatnya berkata bahwa mereka ‘’marah’’ diidentifikasi sebagai terrorist. Seorang belum pernah ke Amerika dan yang lainnya seorang pilot Arab Saudi yang sedang berlatih di Tunisia pada waktu terjadinya serangan. Saudi Airlines tengah mempertimbangkan melakukan tindakan legal (secara hukum) melawan FBI yang dengan serius merusak reputasi para pilotnya. (68) ( penekanan ditambahkan)
40

The story of these identity thefts was also briefly reported by ABC (69) and BBC (England) (70). The FBI does not deny this. Nobody denies this fact because it is easily verifiable. Instead, the US media and government just ignore this inconvenient little fact and keep right on repeating the monstrous lie that the hijacker identities are known and that 15 of them were Saudis. CNN revealed that FBI director Robert Mueller openly admitted that some of the identities of the 9-11 hijackers are in question due to identity theft. Here’s what CNN reported on September 21: “FBI Director Robert Mueller has acknowledged that some of those behind last week's terror attacks may have stolen the identification of other people, and, according to at least one security expert, it may have been "relatively easy" based on their level of sophistication.” (71) Penuturan mengenai identitas yang dicuri ini juga secara singkat diberitakan oleh ABC (69) dan BBC (Inggris) (70). FBI tidak menyanggahnya. Tidak ada seorangpun yang menyangkal fakta ini karena dengan mudah dapat diverifikasi. Lagi pula media dan pemerintahan Amerika mengabaikan fakta kecil yang tidak menyenangkan ini dan tetap meneruskan kebohongan yang sangat besar bahwa identitas pembajak telah diketahui dan 15 diantaranya dari Arab Saudi. CNN mengungkapan bahwa Direktur FBI Robert Muller secara terbuka mengakui mengenai identitas para pembajak 9-11 yang dipertanyakan ini telah dicuri. Inilah yang dilaporkan CNN tanggal 21 September. ‘’Direktur FBI Robert Muller telah mengakui bahwa dibelakang terror beberapa minggu yang lalu mungkin ada identifikasi yang dicuri oleh orang lain, dan berdasarkan kepada setidaknya seorang ahli keamanan, hal itu ‘’relatif mudah’’ dilakukan berdasarkan tingkat keahlian mereka.’’ (71) The Washington Post, under the headline “Some Hijacker Identities Remain Uncertain” reported: “FBI officials said yesterday that some of the 19 terrorists who carried out last week's assault on New York and Washington may have stolen the identities of other people, and their real names may remain unknown. Saudi government officials also said yesterday that they have determined that at least two of the terrorists used the names of living, law-abiding Saudi citizens. Other hijackers may have faked their identities as well, they said. FBI Director Robert Mueller said Friday that the bureau had "a fairly high level of confidence" that the hijacker names released by the FBI were not aliases. But one senior official said that "there may be some question with regard to the identity of at least some of them." The uncertainty highlights how difficult it may be to ever identify some of the hijackers who participated in the deadliest act of violence on American soil. Most of the hijackers' bodies were obliterated in the fiery crashes. "This operation had tremendous security, and using false names would have been part of it," said John Martin, retired chief of the Justice Department's internal security section. "The hijackers themselves may not have known the others' true names." (71B) The Washington Post dalam suatu headline-nya yang berjudul ‘’Beberapa Identitas Para Pembajak Menyisakan Ketidakpastian ‘’ melaporkan : ‘’Kemarin petugas FBI berkata beberapa dari 19 terrorist yang melakukan penyerangan di New York dan Washington kemungkinan merupakan identitas yang dicuri orang lain, dan nama-nama mereka yang sesungguhnya (terrorist yang asli) masih belum diketahui. Pemerintah Saudi juga kemarin mengatakan bahwa mereka telah menentukan setidaknya dua nama terrorist yang digunakan masih hidup, masih dibawah perlindungan payung hukum warga negara Arab Saudi. Pembajak lainnya kemungkinan juga memalsukan identitas mereka sebagaimana yang lainnya.’’ Direktur FBI menjelaskan pada Hari Jum’at biro telah melakukan ‘’kepercayaan diri yang hampir kepada keyakinan’’ (terlalu percaya diri) bahwa nama-nama para pembajak yang dirilis oleh FBI bukanlah nama yang sesungguhnya. Tetapi seorang petugas senior berkata bahwa ‘’ada banyak pertanyaan yang ditujukkan kepada setidaknya satu identitas diantara mereka’’.
41

Diliputi oleh ketidakpastian bagaimana sulitnya memastikan beberapa identitas para pembajak yang berperan serta dalam kekerasan yang mematikan di tanah Amerika. Kebanyakan dari mayat para pembajak lenyap dalam tabrakan yang menyebabkan ledakan yang keras dan berapi. ‘’Operasi ini memiliki tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi, dan menggunakan nama-nama yang sangat palsu adalah bagian daripadanya,’’ujar John Martin, pensiunan Departemen Kejaksaan dibidang keamanan internal. ‘’Para bembajak sendiri kemungkinan saling tidak mengetahui nama-nama asli mereka’’. This opens up a whole Pandora’s box of unanswered questions. First and foremost of which is this: why would Osama Bin laden, the Saudi Arabian caveman, steal identities? To cover his tracks you say? Next question: why would a Saudi Arabian, attempting to cover his tracks, steal the identities of....fellow Saudi Arabians??? What would be the point? Why go you through the trouble of stealing identities that would point back to you? Why not steal Greek identities, or Brazilian identities, or Turkish ones? A much more logical conclusion is that non-Arabs stole these identities as part of a "false flag" operation designed to point the blame at Arabs, and Saudi Arabs in particular. What kind of a corrupt character is FBI boss Mueller? He initially admitted that false identities were involved with 9-11, but then he allows the media to keep naming these innocent, and alive, Arabs as the hijackers? Why doesn’t he correct them? More on the slimy Mr. Mueller later on! Penuturan ini akan membuka seluruh kotak segala masalah yang tak terjawab. Pertama dan dan paling penting adalah : mengapa Osama Bin Laden, manusia gua dari Arab yang dicuri identitasnya? Apakah untuk menutupi sejarahnya? Pertanyaan selanjutnya mengapa seorang Arab Saudi, mencoba untuk menutupi masa lalunya dengan mencuri identitas…..teman sebangsa Arab Saudinya ??? Apa yang menjadi demikian penting ? Mengapa Anda mengatasi kesulitan dengan mencuri identitas tetapi menyebabkan kesulitan itu berbalik pada diri Anda? Mengapa tidak mencuri identitas orang Yunani, atau identitas orang Brazil, atau orang Turki? Ada banyak kesimpulan logis yang lainnya bahwa selain orang Arab-lah yang mencuri identitas ini sebagai bagian dari suatu operasi ‘’pengkambinghitaman’’ yang didesain untuk menyalahkan orang-orang Arab, dan Arab Saudi secara umum. Sifat korup semacam apa yang ditunjukkan boss FBI Muller? Pada mulanya ia mengakui identitas palsu terlibat dalam peristiwa 9-11, namun kemudian ia membiarkan media tetap menulis namanama yang tak bersalah tersebut, dan masih hidup, orang-orang Arab sebagai pembajaknya? Now I'm really going to rock your faith in the false religion of 9-11. In February of 2000, Indian intelligence officials detained 11 members of what they thought was an Al Qaeda hijacking conspiracy. It was then discovered that these 11 "Muslim preachers" were all Israeli nationals! India’s leading weekly magazine, The Week, reported: “On January 12 Indian intelligence officials in Calcutta detained 11 foreign nationals for interrogation before they were to board a Dhaka-bound Bangladesh Biman flight. They were detained on the suspicion of being hijackers. "But we realized that they were tabliqis (Islamic preachers), so we let them go, said an Intelligence official." The eleven had Israeli passports but were believed to be Afghan nationals who had spent a while in Iran. …Indian intelligence officials, too, were surprised by the nationality profile of the eleven. "They say that they have been on tabligh (preaching Islam) in India for two months. But they are Israeli nationals from the West Bank," said a Central Intelligence official. He claimed that Tel Aviv "exerted considerable pressure" on Delhi to secure their release. "It appeared that they could be working for a sensitive organization in Israel and were on a mission to Bangladesh," the official said.” (72) (emphasis added) Sekarang mari kita mengguncangkan keyakinannu mengenai pengkambinghitaman suatu agama (tepatnya Agama Islam ---- penerjemah) dalam peristiwa 9-11. Bulan Februari 2000 dinas rahasia India menahan 11 orang anggota yang mereka sebut sebagai konspirasi pembajakan Al Qaeda.
42

Kemudian terungkap bahwa 11 ‘’pendakwah Muslim ‘’ini adalah Warga negara Israel! Mingguan terkemuka India, The Week melaporkan : ‘’Bulan Januari 12 orang agen rahasia India di Calcutta menahan 11 orang berkebangsaan luar negeri untuk diintrogasi sebelum mereka menaiki pesawat menuju Dhaka dalam penerbangan Bangladesh Biman. Mereka ditahan setelah dicurigai sebagai pembajak. ‘’Namun kami menyadari bahwa mereka para tabligh (pendakwah Islam), jadi kami melepas mereka, seorang agen intelejen berkata : Sebelas orang memiliki passport Israel tetapi meyakinkan kami bahwa mereka berkebangsaan Afghanistan yang meghabiskan sebagian hidupnya di Iran…Petugas intelejen India juga terkejut akan profil kebangsaan sebelas orang tersebut. ‘’Mereka berkata telah ber-tabligh (berdakwah Islam ) di India selama dua bulan. Namun mereka berkebangsaan Israel yang tinggal di Tepi Barat,’’ ujar seorang petugas Pusat Intelejen Ia mengklaim bahwa Tel Aviv mempertimbangkan penggunaan tekanan kepada Delhi untuk menjamin keamanan pelepasan mereka. ‘’Terbukti bahwa mereka bekerja untuk organisasi rahasia di Israel dan sedang berada dalam misi di Bangladesh,’’ujar petugas’’ (72) (tekanan ditambahkan) What were these 11 Israelis doing trying to impersonate Al Qaeda men? Infiltrating?...perhaps. Framing?...more likely. But the important precedent to understand is this: Israeli agents were once caught red handed impersonating Muslim hijackers! This event becomes even more mind boggling when we learn that it was Indian Intelligence that helped the US to so quickly identify the "19 hijackers"! On April 3, 2002, Express India, quoting the Press Trust of India, revealed: Washington, April 3: Indian intelligence agencies helped the US to identify the hijackers who carried out the deadly September 11 terrorist attacks in New York and Washington, a media report said here on Wednesday. (73) Ain't that a kick in the ass?!! Did you catch that? The Indian intelligence officials that were duped into mistaking Israeli agents for Al Qaeda hijackers back in 2000- were the very same clowns telling the FBI who it was that hijacked the 9-11 planes! Keep in mind that Indian intelligence has an extremely close working relationship with Israel’s Mossad because both governments hate the Muslim nation of Pakistan. (74) Apa maksud 11 orang Israel yang mencoba memfitnah orang-orang Al Qaeda? Infiltrasi?…mungkin. Pengkambinghitaman?…sepertinya begitu. Namun preseden terpenting adalah untuk memahami hal ini : Agen-agen Israel telah tertangkap secara meyakinkan memfitnah, berlaku seolah sebagai pembajak Muslim! Peristiwa ini menjadi semakin mengejutkan pemahaman ketika kita mengetahui bahwa intelejen India yang membantu AS dalam mengidentifikasi secara cepat mengenai ‘’19 pembajak’’! Pada bulan April 2002, Express India, mengutip Press Trust of India, mengungkapkan: Washington, 3 April : Agen Intelejen India membantu AS mengidentifikasi para pembajak yang melakukan serangan mematikan 11 September di New York dan Washington, suatu media melaporkannya pada hari Rabu : Bukankah serangan itu sangat kurang ajar?!! Sudahkah Anda menangkapnya? Intelejen India yang menjadi korban penipuan mengenai kesalahan menempatkan para agen Israel sebagai pembajak Al Qaeda --- di tahun 2000 yang lalu --- adalah badut-badut yang sama yang mengatakan kepada FBI siapa yang membajak pesawat-pesawat dalam peristiwa 9-11 ! Tetapkanlah dalam pikiran bahwa intelejen India memiliki satu kerja sama yang sangat dekat dan saling berhubungan dengan Mossad karena kedua pemerintahanannya sangat membenci negara Muslim Pakistan. (74)
43

Now about Mohamed Atta, you know, the so-called "ring leader". There are a number of inconsistencies with that story as well. Like some of the 7 hijackers known to be still alive, Atta also had his passport stolen in 1999, (75) (the same passport that miraculously survived the WTC explosion and collapse?) making him an easy mark for an identity theft. Atta was known to all as a shy, timid, and sheltered young man who was uncomfortable with women. (76) The 5'7" 150 pound architecture student was such a "goody two shoes" that some of his university acquaintances in Germany refrained from drinking or cursing in front of him. How this gentle, non- political mamma's boy from a good Egyptian family suddenly transformed himself into the vodka drinking, go-go girl groping terrorist animal described by the media, has to rank as the greatest personality change since another classic work of fiction, Dr. Jekyll and Mr. Hyde. Sekarang tentang Mohammed Atta, seperti yang Anda ketahui, disebut sebagai ‘’pemimpin jaringan’’. Terdapat beberapa ketidakcocokan dari kisah yang diungkapkan. Seperti diketahui 7 dari para pembajak terbukti masih hidup, Atta pernah mengalami passport-nya dicuri di tahun 1999. (75) (passport yang sama yang secara ajaib selamat dari ledakan dan runtuhnya gedung WTC?) membuatnya menjadi sangat mudah dikenali sebagai seseorang yang identitasnya dicuri. Atta diketahui oleh orang sekitarnya sebagai seorang pemalu, anak muda penakut yang tidak merasa nyaman berada didekat wanita. (76) Mahasiswa yang memiliki tinggi 178 cm berat 75 kg, dikenal sebagai seorang pemuda ‘’baik-baik’’ dimana universitas yang dimasukinya di Jerman, para mahasiswanya sampai berhenti dari kebiasaannya meminum minuman keras jika dihadapannya. Bagaimana mungkin pemuda yang lembut- anak mamih yang tak suka politik yang berasal dari keluarga baik-baik di Mesir tiba-tiba merubah dirinya menjadi peminum vodka, hewan terrorist penonton gadis-gadis go-go seperti yang digambarkan oleh media, menjadikannya sebagai seorang yang merubah pribadinya yang terbesar sejak karya fiksi klasik , Dr. Jekyl and Mr. Hyde. Atta, or someone using Atta's identity, had enrolled in a Florida flight school in 2001 and then broke off his training, conveniently telling his instructor he was leaving for Boston. In an October 2001 interview with an ABC affiliate in Florida, flight school president Rudi Dekkers said that his course does not qualify pilots to fly commercial jumbo jets. (77) He also described Atta as "an asshole". (78) Part of the reason for Dekker's dislike for Atta stems from a highly unusual incident that occurred at the beginning of the course. Here’s the exchange between ABC producer Quentin McDermott and Dekkers: McDermott: Why do you say Atta was an asshole? Dekkers: Well, when Atta was here and I saw his face on several occasions in the building, then I know that they're regular students and then I try to talk to them, it's kind of a PR - where are you from… I tried to communicate with him. I found out from my people that he lived in Hamburg and he spoke German so one of the days that I saw him, I speak German myself, I'm a Dutch citizen, and I started in the morning telling him in German, "Good morning. How are you? How do you like the coffee? Are you happy here?", and he looked at me with cold eyes, didn't react at all and walked away. That was one of my first meetings I had. (79) (emphasis added) Atta, atau seseorang yang mencuri identitasnya, telah mendaftarkan diri di sekolah penerbangan Florida tahun 2001 kemudian menghentikan pelatihannya, dengan tepat sekali mengatakan kepada instrukturnya bahwa ia akan pergi menuju Boston. Di bulan Oktober 2001 dalam sebuah wawancara di sebuah stasiun yang berafiliasi ke ABC, presiden sekolah penerbangan Rudi Dekkers mengatakan bahwa kursus penerbangannya tidak memiliki kualifikasi dalam mencetak pilot untuk menerbangkan pesawat komersil jet jumbo. (77) Ia juga menggambarkan Atta sebagai ‘’seorang bajingan’’ (78) Bagian dari alasan ketidaksenangan Dekker terhadap Atta berasal dari kajadian yang tidak biasa yang terjadi pada awal-awal kursus. Inilah dialog antara produser ABC Quentin McDernott dengan Dekkers: McDermott : Mengapa Anda menyebut Atta Sebagai bajingan?
44

Dekkers : Baiklah, ketika Atta disini dan saya melihat wajahnya di beberapa kesempatan dalam gedung, kemudian saya mengetahui bahwa mereka mahasiswa reguler dan saya mencoba bercakap-cakap dengan mereka, --- ini semacam suatu hubungan publik --- dimana asal Anda…. Saya mencoba berkomunikasi dengan mereka. Saya mengetahui dari orang-orang saya bahwa ia tinggal di Hamburg dan ia berbahasa Jerman jadi ketika suatu hari saya melihatnya, Saya berbicara dalam Bahasa Jerman, Saya adalah seorang Warga Jerman, dan memulai dalam suatu pagi bercakap-cakap dalam Bahasa Jerman,’’Selamat pagi. Bagaimana kabar Anda ? Bagaiman kopinya, Anda suka? Apakah Anda senang disana?’’, Ia menatapku dengan mata yang dingin, tidak bereaksi sama sekali dan pergi menjauh. Itulah pertemuan pertama yang saya alami. (79) (penekanan ditambahkan) This is eerily similar to the way in which Zacharias Moussaoui (the so-called "20th hijacker) became “belligerent” when his Minnesota flight instructor tried to speak to him in French (his first language), at the beginning of that course. The Minnessota Star Tribune reported on December 21, 2001: “Moussaoui first raised eyebrows when, during a simple introductory exchange, he said he was from France, but then didn't seem to understand when the instructor spoke French to him. Moussaoui then became belligerent and evasive about his background, (Congressman) Oberstar and other sources said. In addition, he seemed inept in basic flying procedure, while seeking expensive training on an advanced commercial jet simulator.” (80) (emphasis added) Ini serupa kejadiannya dengan Zacharias Moussaoui (yang dikenal sebagai ‘’pembajak ke-20’’) menjadi ‘’bersifat mengajak perang’’ ketika instruktur penerbangannya di minnesota mencoba berbicara dengannya dalam Bahasa Perancis (bahasa pertamanya), pada permulaan kursus. The Minnesota Star Tribune melaporkan pada tanggal 21 Desember 2001 : ‘’Moussaoi pertama menaikkan alisnya, kemudian selama perkenalan yang singkat itu, ia berkata bahwa ia berasal dari Perancis, namun kemudian ia terlihat tidak mengerti ketika instruktur berbicara dalam Bahasa Perancis kepadanya. Moussauoi kemudian menjadi bersifat menantang dan mengelak mengenai latar belakangnya, (Seorang Anggota Kongres) Oberstar dan sumber lainnya mengatakan. Tambahan lagi ia terlihat janggal dalam prosedur dasar penerbangan, ketika melakukan latihan yang mahal dalam suatu pendahuluan simulator jet komersil.’’(80) (penekanan ditambahkan) It truly is an amazing twist of fate that both Ata and Moussaoui both had American flight instructors who spoke German and French respectively. Even the great Mossad could not have foreseen such a coincidence! The real Atta would have been able to respond to his instructor’s German small talk and the real Moussaoui would have been able to respond to his instructor’s French small talk. Ata just walked away and Moussaoui threw a fit! Neither responded because neither could. They were imposters, whose faces were probably disguised by a make up artist. Their mission was to frame the two innocent Arabs who were probably targeted by the Mossad at random. The imposter was able to create a new Ata by using Atta's stolen passport from 1999 - the same passport that floated safely to the ground with a few burnt edges on 9-11. These strange inconsistencies tend to give support to Mohammed Atta's father's claim that he spoke over the phone with his son on September 12th, the day after the attacks. (81) Could a group of professionals have abducted and killed the real Atta in the days following the 9-11 attacks? Mossad agents, posing as “art students” were arrested after conducting some type of operation in Hollywood, Florida, the same small town that Atta stayed in! (82) So what happened to the real Mohammed Atta? To quote his grief stricken father: "Ask Mossad!". So who, if not the “19 Arabs” was on those planes? That’s the million dollar question! There are a number of alternative scenarios. Could some Israelis have been fanatical enough to have volunteered for such a suicide mission? Odd as that may sound at first, it is not out of the realm of possibility. The fact is, hard-core Zionist extremists have proven themselves to be every bit as fanatical, (perhaps even more so), than Arab extremists.
45

Penuturan diatas benar-benar merubah nasib Atta dan Moussaoui yang memiliki instruktur penerbangan yang berbicara dalam Bahasa Jerman dan Perancis terhadap keduanya. Bahkan nama besar Mossad tak dapat menyangka suatu kebetulan yang tak terduga ini! Atta yang asli pasti akan merespon instruktur Jerman-nya dan Moussaoui yang asli pasti akan merespon instruktur Perancisnya dalam suatu percakapan kecil. Atta langsung pergi menjauh sementara Moussaoui mengamuk. Keduanya tidak merespon karena keduanya tidak mampu. Mereka adalah para penipu, yang wajah-wajahnya kemungkinan disamarkan oleh artist make-up. Missi mereka adalah untuk mengkambinghitamkan dua orang Arab yang menjadi target Mossad secara acak. Para penipu memiliki kemampuan dalam membuat Atta yang baru dengan menggunakan passport Atta yang dicuri tahun 1999 --- passport yang sama yang ditemukan terbang dengan selamat menuju bumi (tanah) dengan hanya mengalami sedikit terbakar di sisi-sisinya pada saat peristiwa 9-11. Ketidakkonsistenan yang aneh ini cenderung untuk memberi dukungan pengakuan ayahandanya Atta bahwa ia berbicara dengan anaknya pada tanggal 12 September, sehari setelah penyerangan. (81) Apakah sebuah kelompok professional menculik dan membunuh Atta yang asli di hari-hari setelah kejadian serangan 9-11 ? Agen Mossad yang berperan sebagai ‘’mahasiswa seni’’ ditangkap setelah mengatur beberapa operasi di Hollywood, Florida, kota kecil yang sama dimana Atta tinggal! (82) Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada diri Mohammed Atta yang asli ? Mengutip ayahanda Atta yang berduka. ‘’Tanyakan kepada Mossad!’’ Jadi siapa, jika bukan ‘’19 orang Arab’’ ini yang berada dalam pesawat? Itu merupakan pertanyaan bernilai jutaan dollar! Ada sejumlah skenario alternatif. Mungkinkah beberapa orang Israel yang cukup fanatik menjadi sukarelawan dalam missi bunuh diri ini? Pada mulanya memang terdengar aneh, tetapi ini tidak keluar dari batas-batas kemungkinan. Faktanya adalah ekstrim garis keras Zionist telah membuktikan dirinya dalam setiap bagiannya fanatik (mungkin melebihi) orang-orang Arab ekstrim. A nation which can produce thousands of bloodthirsty Zionist extremists, Irgun war criminals, Mossad terrorists who blow up occupied buildings, assassins who kill Israeli Prime Ministers in full view of policemen, and crazed killers who have carried sickening massacres of Arab women and children; would surely be capable of recruiting a few fanatics willing to sacrifice for “the cause”. This theory becomes even more plausible when we consider that only the pilots would have needed to know that the planes were on a suicide mission. Still don’t think Israel is capable of producing suicidal terrorists? Have you already forgotten the case of Dr. Baruch Goldstein?. Goldstein was a New York doctor and father of four who resettled in Israel. On February 25, 1994, Goldstein walked into a crowded Arab mosque in the occupied West Bank. With hundreds of worshippers kneeled in silent prayer, Goldstein sealed off the exit, and opened fire with a rapid-firing assault rifle, killing 29 and wounding many more. Goldstein, a father of four, was finally stopped and killed when the frenzied crowd overpowered him. With as many as 800 worshippers packed into the mosque, Goldstein surely could not have been expecting to come out alive. This was clearly a suicide attack. And what did Goldstein’s mother have to say about her son’s suicide attack? The Boston Globe revealed: “The mother of Baruch Goldstein, the Jewish settler who massacred about 40 Palestinians in a Hebron mosque a week ago, says she is proud of her son. "I always thought to myself, 'When would someone get up and do such a thing?' And in the end, my son did it," Miriam Goldstein told the weekly Shishi newspaper.” (83) Sebuah negara yang bisa mencetak ribuan ekstrimis Zionist yang haus darah, penjahat perang Irgun, terrorist Mossad yang meledakan gedung yang ditempati, pembunuhan yang membunuh Perdana Menteri Israel dalam jangkauan pandangan penuh para polisi, dan pambunuh yang tak waras yang membantai secara gila para wanita dan anak-anak Arab; pasti mampu merekrut sejumlah kecil yang berjiwa fanatik untuk mengorbankan dirinya sebagai ‘’penyebab’’. Pemahaman ini bahkan menjadi
46

lebih masuk akal ketika kita mempertimbangkan bahwa hanya pilot yang dibutuhkan untuk mengetahui pesawat-pesawat misi bunuh diri. Masih belum berpikir bahwa Israel sanggup memproduksi terrorist bunuh diri? Apakah Anda telah melupakan kasus Dr. Baruch Goldstein? Goldstein adalah seorang doktor di New York dan seorang ayah empat anak yang tinggal di Israel. Pada tanggal 25 Februari 1994, Goldstein berjalan menuju kerumunan orang Arab di mesjid di daerah pendudukan Tepi Barat. Dengan ratusan orang yang beribadah, bersujud dalam keheningan, Goldstein membuka pintu, dan memulai membrondong menggunakan senjata yang memuntahkan peluru dengan cepat, membunuh 29 orang dan melukai banyak yang lainnya. Goldstein ayah empat anak, akhirnya dihentikan dan terbunuh ketika hirukpikuk kerumunan orang menyergapnya. Dengan adanya 800 orang yang beribadah di mesjid, Goldstein tak berharap dirinya keluar dengan selamat. Ini benar-benar satu penyerangan bunuh diri. Dan apa yang dikatakan ibu Goldstein mengenai aksi bunuh diri anaknya? The Boston Globe mengungkapkan : ‘’Ibu Baruch Goldstein, penduduk Yahudi yang membantai 40 orang Palestina di mesjid Hebron seminggu yang lalu, berkata bahwa ia bangga terhadap anaknya. ‘’Saya selalu berpikir pada diri sendiri, ‘’Dapatkah seseorang melakukan hal tersebut? ’’ Pada akhirnya putra sayalah yang melakukannya’’ Miriam Goldstein berkata pada harian Shishi. (83) It gets even more sickening than that. Baruch Goldstein has become a folk hero among many of the crazed side-locked settlers who have encroached upon the West Bank. They have turned Goldstein’s gravesite into a memorial and set up a website to honor his murderous deed! Look what these fanatics posted on the Goldstein memorial website: “Over the years, the grave has become a site of pilgrimage. Numerous people from all over the world come to pray and honor his (Baruch’s) memory. (84) (emphasis added) One has to wonder if some of Goldstein’s admirers were flying those planes on 9-11. Then there is the case of Irv Rubin, former head of the radical Jewish Defense League. Rubin and an associate were arrested in California in December of 2001 after there were caught plotting to blow up a Muslim mosque and the office of an US Congressman of Arab descent. Rubin later committed suicide in jail. (84B) Bahkan menjadi lebih menjijikkan dari yang diatas. Baruch Goldstein menjadi seorang pahlawan masyarakat diantara banyak penduduk berwatak gila yang telah melanggar batas di sepanjang Tepi Barat. Mereka memindahkan kuburan Goldstein kedalam sebuah tanda peringatan dan membuat satu website untuk menghargai aksi pembunuhannya. Lihatlah fanatisme apa yang dicantumkan pada website peringatan Goldstein : ‘’Selama bertahun-tahun, kuburan ini menjadi tempat berziarah. Begitu banyak orang diseluruh penjuru dunia datang untuk berdo’a dan menghormati memorinya (Baruch). (84) (penekanan ditambahkan) Bayangkanlah jika diantara para pengagum terbang bersama pesawat-pesawat pada peristiwa 9-11. Kemudian ada kasus Irv Rubin, mantan ketua perkumpulan radikal Liga Pertahanan Yahudi. Rubin dan genk-nya ditahan di California pada Bulan Desember 2001 setelah ditangkap mengatur upaya peledakkan mesjid Muslim dan sebuah kantor milik anggota kongres berdarah Arab. Rubin kemudian memutuskan bunuh diri di penjara. (84B) There is one interesting side note here which may or may not be of any significance. One of the two Israelis who died aboard the hijacked planes was Daniel Lewin - who was aboard the first plane to crash into the Twin Towers. The Ha‘aretz News Service of Israel revealed that Lewin, was a one-time officer in the Israeli Defense Forces elite Sayeret Matkal commando unit. (85) Another possibility is that some other group of “patsies” was recruited for the operation. Perhaps some anarchists, or some leftover Marxists who thought they were going to bring down western capitalism. Or perhaps, the hijackers were another group of angry Arabs who weren’t even aware of
47

who their true handlers really were or what the broader strategic aim of the mission actually was. In the dark world of covert operations, agents are often kept ignorant of who it is that orchestrating the show. Admittedly, these scenarios are speculative, but one thing that is not speculative is this: the hijackers were not the same 19 men whose faces were shown on our TV screens! Ada satu sisi yang menarik disini, apakah ini memiliki signifikansi atau tidak. Satu dari dua orang Israel yang tewas diatas pesawat adalah Daniel Lewin --- yang berada di pesawat pertama menabrak menara kembar. The Ha’aretz News Service dari Israel mengungkapkan bahwa Lewin, pernah dalam suatu waktu menjadi petugas Pasukan Pertahanan Elit Israel yaitu Sayeret Matkal dalam unit komando. (85) Kemungkinan yang lainnya beberapa kelompok lainnya direkrut dalam operasi ini. Mungkin beberapa anarkist, atau beberapa kaum kiri Marxist, yang berpikir mereka sedang merubuhkan sistem kapitalisme barat. Atau kemungkinan lainnya para pembajak merupakan kelompok Arab yang marah yang tidak menyadari akibat aksinya bagi tujuan yang hendak digapainya. Dalam dunia hitam penyamaran operasi, para agen sering kali menjaga kemungkinan mengenai siapa yang mengatur operasi. Secara terbuka harus diakui bahwa skenario-skenario diatas adalah spekulatif, namun satu hal yang tidak spekulatif adalah : para pembajak bukanlah 19 orang yang wajahnya muncul di layar TV kita!

SUICIDAL ZIONIST TERRORISTS TERRORIS BUNUH DIRI ZIONIST DR. BARUCH GOLDSTEIN (LEFT) AND JDL’S IRV RUBIN (RIGHT) REMAIN HEROS TO SOME ZIONISTS DR. BARUCH GOLDSTEIN (KIRI) DAN IRV RUBIN (KANAN) DIANGGAP PARA PAHLAWAN OLEH ZIONIST

48

STILL ALIVE AND WELL!!! MASIH HIDUP DAN BAIK-BAIK SAJA !!! AL NAMI, AL SHEHRI, AL OMARI, AL GHAMDI, AL-MIHDHAR ALL VICTIMS OF STOLEN IDENTITY! AL NAMI, AL SHEHRI, AL OMARI, AL GHAMDI, AL MIHDHAR SEMUA KORBAN DARI PENCURIAN IDENTITAS WHO PROVIDED THE PROTECTIVE COVER FOR THE 9-11 OPERATION? SIAPA SAJA YANG TERBUKTI MENUTUP - NUTUPI OPERASI 9-11 ? On October 26, 1999, the famous golfer Payne Stewart boarded a private Learjet in Florida and left for Texas. Shortly after takeoff, Stewart's jet veered sharply off course and began heading northwest. All contact with air controllers was lost. Within 15 minutes of having gone off course, US fighter jets had already intercepted the jet. Everyone on board was likely dead due to depressurization. These fighter jets were dispatched by NORAD, the branch of the US air force whose job it is to monitor and defend US airspace 24 hours a day. NORAD maintains a huge array of land based radar systems and has fighter jets on alert 24 hours a day so that they can respond to a crisis. The jets escorted the doomed airplane until another group of Air National Guard jets took over the escort mission. Finally, Stewart's jet ran out of fuel a crashed in South Dakota. The quick reaction time and military precision with which NORAD intercepted and escorted Stewart's jet was impressive, and exactly what one would have expected from the greatest military power in world history. (86) But on 9-11, the same NORAD which had so effortlessly intercepted Stewart's jet in 1999, was nowhere to be found during that two hour period between the first planes going off course and the last one crashing in a Pennsylvania field. How is it possible that the airspace between Boston and Washington DC, an area which contains the political and economic heart of the nation, was left completely defenseless? The second plane to hit the New York had flown off course without communication for 40 minutes. On its way to New York, it actually flew within a few miles of McGuire Air Force base in New Jersey, after the first tower had already been hit! And how is it possible that Washington DC was left undefended (long after the New York attacks) when Andrews Air Force base is within car driving distance? The air force jets which did finally arrive were too late. Was this due to NORAD's incompetence, or was the order to scramble the fighter jets deliberately delayed so that the terror attacks could take place. Given NORAD's impressive performance in the 1999 Payne Stewart
49

disaster, this would suggest that someone high up in the Air Force establishment may have issued stand down orders to some of our Air Force bases. Remember, the Pentagon's Defense Policy Board is headed by Zionist Richard Perle and his gang of warmongering lackeys.(87) This civilians on this board wield the power to promote career minded Generals and Admirals. Is it really that hard to believe that a highly placed military leader could have collaborated with the true 9-11 planners? Pada tanggal 26 Oktober 1999, pegolf terkenal Payne Stewart terbang dengan pesawat jet pribadi dari Florida menuju Texas. Secara singkat setelah take-off, jet yang ditumpangi Stewart menikung secara tiba-tiba menuju arah barat laut. Semua kontak dengan pengatur lalu-lintas udara hilang. Dibawah 15 menit hilang arah, tentu saja jet fighter AS telah mengintersep jetnya. Semua orang di pesawat hampir mati karena tekanan. Pesawat-pesawat jet fighter ini dikirim oleh NORAD, bagian dari Angkatan Udara AS yang bertugas untuk memonitor dan mempertahankan wilayah udara AS dalam 24 jam sehari. NORAD menjaga kesatuan yang besar berbasis sistem radar dan memiliki jetjet tempur yang siaga dalam 24 jam sehari, sehingga kesatuan ini sangat cepat dalam merespon bila terjadi suatu krisis. Jet-jet tersebut terbang mengawal pesawat yang dibidik hingga jet-jet kesatuan lain dari Air National Guards mengambil alih tugas mengawal. Akhirnya jet Stewart kehabisan bahan bakar dan terhempas di Dakota. Waktu reaksi yang sangat cepat dan ketelitian militer dimana intersepsi NORAD dan pengawalan terhadap jet Stewart sangatlah mengesankan, dan dengan tepat sekali menggambarkan harapan orang-orang dari kekuatan militer terbesar sepanjang sejarah dunia (militer AS). (86) Namun dalam peristiwa 9-11, NORAD yang sama begitu tidak berusaha seperti mengintersep jet Stewart tahun 1999, tidak dapat ditemukan selama dua jam berselang antara tabrakan / ledakan pesawat-pesawat pertama dan tabrakan yang terakhir di daerah Pennsylvania. Bagaimana mungkin wilayah udara antara Boston dan Wasington DC, suatu area yang berisikan jantung ekonomi dan politik negara, benar-benar tanpa pertahanan ? Pesawat kedua yang menghantam New York tidak memiliki komunikasi sekitar 40 menit. Menuju perjalanannya ke New York, sebenarnya terbang dalam beberapa mil dari pangkalan McGuire Air Force di New Jersey, setelah menara pertama ditabrak! Dan bagaimana mungkin Washington DC ditinggalkan tanpa pertahanan (jauh setelah New York diserang) ketika pangkalan Andrew Air Force berjarak terlihat ketika mengemudikan mobil? Jet Angkatan Udara yang akhirnya datang pada saat sudah terlambat. Ini menjadikan NORAD tak memiliki kemampuan, atau suatu perintah yang dengan sengaja menunda dengan begitu serangan terror bisa terlaksana. Penampilan NORAD yang impresif tahun 1999 dalam bencana Payne Stewart, menimbulkan dugaan bahwa seseorang yang berjabatan tinggi di keberadaan Angkatan Udara memberi perintah tidak bersiaga kepada beberapa pangkalan Angkatan Udara kita. Ingatlah, Dewan Pengurus Kebijakan Pertahanan di Pentagon dikepalai oleh Richard Perle dan genk-nya budak penghasut perang. (87) Orang-orang sipil dalam dewan pengurus ini mempunyai kekuasaan untuk mempromosikan/menaikkan karir para jendral dan admiral. Tidakkah sulit untuk dimengerti bahwa pejabat tinggi pemimpin militer telah berkolaborasi dengan perencana peristiwa 9-11 yang sebenarnya ? What makes the Air Force's slow response even more outrageous and suspicious is that previously mentioned Newsweek article which revealed that several Pentagon leaders (Defense Policy Board?) cancelled flight plans for September 11 due to security concerns.(88) There were other warning signals too which we’re reviewed earlier. In light of all these warnings, why wasn’t NORAD and it's armada of fighters placed on an even higher alert than they already are? There is only one logical answer to these questions: Certain Pentagon leaders were "in on it". Some high level Intelligence officials around the world have come to the same conclusion. General Hamid Gul, a former Director of Pakistani Intelligence appears to have hit the nail on the head with his analysis: “The attacks against New York and Washington were Israeli engineered…”
50

"The attacks started at 8:45, and four flights are diverted from their assigned air space and no Air Force fighter jets scramble until 10:00. Radars are jammed, transponders fail and no IFF - friend or foe identification - challenge. In Pakistan, if there is no response to an IFF, jets are instantly scrambled. This was clearly an inside job. Will this also be hushed up in the investigation, like the Kennedy assassination?" (89) Apa yang membuat Angkatan Udara begitu lamban dalam merespon, bahkan lebih membuat marah dan mencurigakan bahwa sebelumnya telah disebutkan dalam artikel di Newsweek yang mengungkapkan bahwa beberapa petinggi Pentagon (Dewan Pengurus Kebijakan Pertahanan?) membatalkan rencana penerbangan untuk 11 September dengan alasan pertimbangan keamanan. (88) Ada beberapa tanda peringatan yang lainnya juga seperti yang dibahas sebelumnya. Garis besarnya semua peringatan-peringatan ini : tidakkah NORAD dan armada tempur yang ditempatkannya telah siap siaga? Ada satu ,jawaban logis dari pertanyaan-pertanyaan ini : Petinggi tertentu di Pentagon ‘’terlibat’’. Beberapa petinggi intelejen diseluruh dunia memiliki kesamaan kesimpulan. Jenderal Hamid Gul, mantan Direktur Intelejen Pakistan muncul secara mengejutkan dengan analisanya : ‘’Serangan kepada New York dan Washington diarsiteki oleh Israel…’’ ‘’Serangan dimulai pada jam 8:45, dan empat penerbangan dialihkan dari tugas kedirgantaraan mereka dan tidak ada jet tempur yang menyerang sampai jam 10:00. Radar-radar tersumbat, transponder error dan tidak ada masukan dari IFF – frend or foe identification -- . Di Pakistan jika tidak ada respon IFF jet secara cepat diserang. Ini jelas merupakan kerja orang dalam. Akankah hal ini juga membekukan investigasi seperti halnya pembunuhan Kennedy ?’’ (89) The German newspaper, Der Tagesspiegel, interviewed Andreas von Bulow, the former head of the parliamentary commission that oversees Germany’s secret services. Von Bulow stated: “The planning of the attacks was technically and organizationally a master achievement—to hijack four huge airplanes within a few minutes and within one hour, to drive them into their targets, with complicated flight maneuvers,” said von Bülow in the Tagesspiegel interview. “This is unthinkable, without years of support from state intelligence services.” (89B) Koran Jerman, Der Tagesspiegel, mewawancarai Andreas von Bulow, mantan kepala komisi parlementari yang berhubungan luas dengan dinas rahasia Jerman. Von Bulow menyatakan : ‘’Perencanaan serangan secara teknis dan organisasi adalah suatu pencapaian yang tinggi --- untuk membajak empat pesawat berukuran besar dalam beberapa menit dan dibawah satu jam, kemudian mengendalikannya menuju target yang membutuhkan manuver-manuver yang rumit,’’ujar von Bulow dalam wawancara bersama Der Tagesspiegel.’’Ini tak terpikirkan, tanpa bertahun-tahun dukungan dari dinas rahasia negara.’’ This led the interviewer to call Von Bulow “a conspiracy theorist.” To which Von Bulow responded: “Yeah, yeah. That’s the ridicule from those who prefer to follow the official, politically correct line,” von Bulow responded. “Even investigative journalists are fed propaganda and disinformation. Anyone who doubts the official line is called crazy.” “With the help of the horrifying attacks, the Western mass democracies are being subjected to brainwashing. The enemy image of anti-communism doesn’t work anymore; it is to be replaced by peoples of Islamic belief. They are accused of having given birth to suicidal terrorism.” (89C) Hal ini membawa pewawancara mengajukan kepada von Bulow ‘’suatu konspirasi teori’’. Von Bulow merespon : ‘’Ya…ya. Hal yang menggelikan dari itu semua bahwa diharuskan mengikuti petugas, adalah benarbenar digariskan untuk bernuansa politis,’’ von Bulow menambahkan. ‘’Bahkan jurnalis investigasi
51

adalah propaganda pemerintahan federal dan suatu usaha menutupi/menyelewengkan informasi. Siapapun yang menentang dari apa yang telah digariskan oleh petugas disebut gila.’’ ‘’Dengan dibantu oleh penyerangan yang mengerikan, masyarakat barat yang demokratis menjadi subjek pencucian otak. Gambaran musuh yang anti-komunis tidak berlaku lagi; musuhnya telah digantikan oleh pemeluk Agama Islam. Mereka difitnah sebagai yang melakukan terroris bunuh diri.’’ (89C) Both Hamid Gul and Andreas Von Bulow accuse Israel’s Mossad and elements within the US of being responsible for 9-11. These charges drew this response from George Bush, who said before the United Nations in November of 2001: "Let us never tolerate outrageous conspiracy theories concerning the attacks of September the 11th malicious lies that attempt to shift the blame away from the terrorists themselves, away from the guilty." (89D) Baik Hamid Gul dan Andreas von Bulow menuduh Mossad Israel dan elemen didalam AS bertanggung jawab terhadap peristiwa 9-11. Tuduhan ini melahirkan respon dari George Bush yang berbicara di PBB bulan November 2001 : ‘’Marilah kita tidak akan pernah mentolerir teori konspirasi terhadap penyerangan 11 September --kebohongan yang jahat yang mencoba membuang tuduhan terhadap mereka para terroris yang sebenarnya, menjauhkan mereka dari vonis bersalah.’’(89D) Bush understandably has no tolerance for “conspiracy theories” but too many unanswered questions still arise. Surely the masterminds of the 9-11 operation would have taken the time to learn something about US air defense procedures. They would therefore have realized that hitting New York City with jets hijacked from Boston would have been difficult. New York is about 30 minutes away by airplane and jumbo jets fly very slowly when compared to US fighter jets crack the sound barrier. Even with a 15-20 minute head start, NORAD's jets could have easily intercepted them, especially the second plane, which took a longer route to New York and flew way off course for 40 minutes. Why choose Boston's airport and jeopardize the success of the operation? Wouldn't it be safer to just hijack planes from New York's Kennedy or La Guardia Airports? Or even Newark which is just across the river. Any plane hijacked from either of those three busy airports would have been unstoppable. Even a plane from Philadelphia's Airport would have been much closer to the target than far away Boston. The planners were no dummies. They must have counted on receiving protective cover and a window of opportunity by someone high up at US Air command. Why else choose Boston? In addition to the protection that the planners were to receive from certain Air Force elements, there is another plausible theory for choosing Boston's Logan Airport as well as United and American Airlines planes. It should be noted that the firm which provides security at Boston's Logan Airport and also Newark Airport, and also works extensively with United and American Airlines, is a company called Huntleigh USA. (90) Claiming that Huntleigh USA's airport security was grossly negligent on 9-11, family members of some of the victims are suing Huntleigh. (91) Huntleigh USA had been acquired by ICTS International in 1999. ICTS is controlled by two Israelis; Ezra Harel and Menachem Atzmon. (92) In short, security at Boston's Logan airport was handled (or mishandled) by an Israeli controlled company. Is there a connection here? Could agents have been infiltrated into Logan Airport under Israeli owned Huntleigh's cover? It's quite possible. In the days following the 9-11 attacks, Israeli security professionals began aggressively marketing themselves in order to gain more airport security jobs. (93) Americans should be grateful to have such wonderful allies who care about our airport security so much! Bush dengan sangat mengerti tidak mentolerir ‘’teori konspirasi’’ namun terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab masih muncul. Sudah pasti dalang peristiwa operasi 9-11 telah memiliki waktu untuk mempelajari prosedur pertahanan udara AS. Mereka bagaimanapun telah menyadari bahwa menabrak New York dengan jet bajakan dari Boston akan sangat sulit. New York berjarak 30 menit
52

dengan pesawat udara dan jumbo jet yang terbang dengan sangat lamban jika dibandingkan dengan kecepatan jet tempur AS yang menembus kecepatan suara. Bahkan dengan suatu start 15-20 menit diawal bagi pesawat komersil (di-voor ---- penerjemah) jet-jet NORAD dapat dengan mudah mengintersep mereka, teristimewa pesawat yang kedua, yang memiliki rute lebih jauh ke New York dan terbang selama 40 menit. Mengapa memilih bandara Boston dan membahayakan kesuksesan operasi ini ? Bukankah lebih aman membajak pesawat di bandara Kennedy New York atau bandara La Guardia? Atau bahkan bandara Newark yang hanya diseberang sungai ? Pesawat apapun yang dibajak di ketiga bandara sibuk tadi tidak akan bisa dihentikan. Bahkan sebuah pesawat di bandara Philadhelpia memiliki jarak yang lebih dekat kepada target dibandingkan dengan Boston. Para perencana tidaklah dungu. Mereka harus memiliki perhitungan dalam menerima perlindungan penyamaran dan suatu lubang kesempatan dari seseorang petinggi komando udara AS. Mengapa memilih Boston ? Sebagai tambahan bahwa para perencana menerimanya dari elemen tertentu di Angkatan Udara, ada lagi pemahaman yang masuk akal dengan memilih bandara Logan di Boston juga bandara Newark, dan bekerja sejalan secara ekstensif / menyeluruh dengan United Airlines dan American Airlines, adalah sebuah perusahaan yang bernama Huntleigh USA. (90) Mengklaim bahwa petugas bandara Huntleigh USA adalah kesembronoan yang sangat besar pada peristiwa 9-11, anggota keluarga dari beberapa korban adalah dari Hunleigh. (91) Huntleigh USA telah dimiliki oleh ICTS Internasional tahun 1999. ICTS dikendalikan oleh dua orang Israel Ezra Harel dan Menachem Atzmon. (92) Secara singkatnya, kemanan bandara Logan di Boston ditangani (atau tepatnya tidak ditangani) oleh sebuah perusahaan yang dikendalikan orang Israel. Apakah ada hubungannya disini ? Mungkinkah para agen telah meng-infiltrasi bandara Logan dibawah perlindungan pemilik Hunleigh yang orang Israel itu ? Ini sangatlah mungkin. Di hari-hari setelah penyerangan 9-11, keamanan profesional Israel mulai secara agresif memasarkan diri dengan harapan mendapatkan job sebagai security bandara. (93) Orang Amerika seharusnya berterima kasih memiliki sekutu yang begitu baik yang sangat pedulipeduli terhadap keamanan bandara kita ! Could some of the failure of our defense systems be attributed to a cyber attack from computer hackers? Our defense and intelligence systems are very dependent upon technology. A well coordinated attack on these systems may also have contributed to our inability to expose and prevent the attacks. There is one group that has the capability to attack our military computer systems. In July of 1999, Ha’aretz (Israel) ran a story headlined: “Hackers Using Israeli Net Site to Strike at Pentagon”: Ha’aretz reported: “An Israeli Internet site is being used by international computer hackers as a base for electronic attacks on US government and military computer systems, according to Pentagon officials who were quoted in a Washington Times report yesterday.” “According to the Times, the real danger to US national security is the threat posed by foreign intelligence services or governments that could launch electronic warfare against the United States” (94) Mungkinkah kesalahan pada sistem keamanan kita tertuju kepada suatu serangan maya (cyber attack) dari komputer hacker? Sistem pertahanan dan intelejen sangatlah bergantung kepada teknologi. Suatu serangan yang terkoordinir dengan baik dalam sistem ini mungkin saja memberi konstribusi kepada ketidakmampuan kita untuk mengekspos dan menjaga serangan. Ada satu kelompok yang memiliki kemampuan untuk menyerang sistem komputer militer kita. Pada bulan Juli tahun 1999, Ha’aretz (Israel) menampilkan satu penuturan yang diberi judul,’’Hacker Menggunakan Jaringan Situs Israel Untuk Menyerang Pentagon’’. Ha’aretz melaporkan : ‘’Sebuah situs internet Israel digunakan oleh hacker komputer internasional sabagai sebuah pangkalan untuk penyerangan elektronik terhadap sistem komputer pemerintah AS dan militer, berdasarkan kepada petugas Pentagon yang dikutip oleh laporan Washington Times kemarin.’’
53

‘’Berdasarkan laporan Times, bahaya nyata terhadap keamanan nasional AS adalah suatu ancaman yang di-pos-kan oleh dinas intelejen luar negeri atau pemerintahan yang dapat meluncurkan peperangan menyeluruh secara elektronik melawan Amerika Serikat.’’ (94) And look what the US Department of Justice wrote in this 1998 press release: WASHINGTON, D.C. -- The Department of Justice, in conjunction with the FBI, the Air Force Office of Special Investigation, the National Aeronautic and Space Administration and the Naval Criminal Investigative Service, announced today that the Israeli National Police arrested Ehud Tenebaum, an Israeli citizen, for illegally accessing computers belonging to the Israeli and United States governments, as well as hundreds of other commercial and educational systems in the United States and elsewhere. (95) No doubt about it. Covert elements in Israel have been targeting the US military’s defense systems for some time now. This could very well have been yet another instrument played during the great orchestrated concert of 9-11. Dan perhatikan apa yang dinyatakan oleh Dept. Kehakiman AS melalui press release-nya tahun 1998: Washington DC ---Departemen Kehakiman, bekerjasama dengan FBI, petugas Investigasi Spesial Angkatan Udara, Administrasi Aeronatika dan Dirgantara Nasional, dan Dinas Investigasi Kriminal Angkatan Laut mengumumkan hari ini bahwa Polisi Nasional Israel menahan Ehud Tenebaum, yang berkewarganegaraan Israel, secara illegal memasuki komputer yang dimiliki oleh pemerintahan Israel dan Amerika Serikat, juga sebagaimana ia memasuki ratusan sistem pendidikan dan komersil lainnya di Amerika Serikat dan dimanapun. (95) Hal itu tak terbantahkan. Elemen tersamarkan di Israel telah dan pernah mentargetkan sistem pertahanan militer AS pada satu waktu. Ini kemudian dapat menjadi suatu alat lagi yang berperan selama konser orkestra akbar peristiwa 9-11

GENERAL HAMID GUL: “CLEARLY AN INSIDE JOB” RIGHT: PAYNE STEWART. HIS JET WAS IMMEDIATELY INTERCEPTED. JENDRAL HAMID GUL : ‘’JELAS HASIL KERJA ORANG DALAM’’ KANAN : PAYNE STEWART. JETNYA TIBA-TIBA DIINTERSEP

54

ISRAEL’S WHITE HOUSE PUPPETS BONEKA-BONEKA ISRAEL DI GEDUNG PUTIH RIGHT: BUSH: “LET US NEVER TOLERATE OUTRAGEOUS CONSPIRACY THEORIES.” PHOTO OP BEFORE ISRAELI FLAG. CENTER: BUSH DONS SKULLCAP AND PRAYS AT ISRAEL’S WAILING WALL. LEFT: VICE PRESIDENT CHENEY DONS SKULLCAP AT ISRAELI CEREMONY. KANAN : BUSH : MARILAH KITA TIDAK PERNAH MENTOLERIR TEORI KONSPIRASI. ‘’PHOTO DISEBELAH BENDERA ISRAEL. TENGAH : BUSH MENGENAKAN KOPIAH YAHUDI DAN BERDOA DI TEMBOK RATAPAN DI ISRAEL KIRI : WAKIL PRESIDEN MENGENAKAN KOPIAH YAHUDI PADA SUATU PERAYAAN BANGSA ISRAEL THE CURIOUS COLLAPSE OF THE TWIN TOWERS AND WTC #7 KOLLAPS YANG MENCURIGAKAN DARI MENARA KEMBAR DAN WTC #7 The government/media approved version of events insists that the fires in the World Trade Center burned so hot that they caused steel supports to melt and buckle, thus triggering a total collapse of the towers and also WTC #7 (which was never even hit by a plane!). This is a strange theory for a number of reasons: 1. The architects who designed the World Trade Center designed it to withstand the direct impact and fuel fire of a commercial airline crash. Aaron Swirsky, one of the architects of the WTC described the collapse as "incredible" and "unbelievable." (96) Lee Robertson, the project's structural engineer said: "I designed it for a 707 to hit it. The Boeing 707 has a fuel capacity comparable to the 767." (97) 2. The history of high-rise building fires provides no case histories of buildings collapsing due to steel beams melting from a fire. 3. The total collapse of WTC 1, WTC 2, AND WTC 7 (which was never even hit by a plane!) were all perfectly symmetrical and methodical. The three straight down collapses were all identical in appearance to well engineered, controlled implosions. (Go here to view the amazing video of the collapse of WTC 7.…www.whatreallyhappened.com/wtc7.html ) Pemerintah/media menyetujui versi peristiwa yang menegaskan bahawa api di World Trdae Center membakar begitu panasnya yang menyebabkan baja penopang meleleh dan melengkung, kemudian memicu keruntuhan yang total menara-menara dan juga WTC #7 (yang tidak pernah tertabrak satu pesawatpun). Hal ini merupakan suatu pemahaman yang anaeh terkait oleh beberapa alasan : 1. Arsitek yang mendisain WTC mendesainnya untuk tetap bertahan dalam tabrakan dari pesawat komersil yang berisikan bahan bakar yang penuh. Aaron Swirsky, seorang dari arsitek menggambarkan Runtuhnya WTC sebagai sesuatu yang ‘’luar biasa’’ dan ‘’tak dapat dipercaya’’. (96) Lee Robertson, insinyur proyek struktur berkata : ‘’Saya mendisainnya untuk sebuah 707 yang menabraknya. Boeing 707 memiliki kapasitas yang sama dengan 767.’’ (97) 2. Sejarah kebakaran gedung-gedung pencakar langit membuktikan tak ada satupun dari runtuhnya gedung yang bajanya meleleh oleh api. 3. Keruntuhan total dari WTC 1, WTC 2, WTC 7 (yang tak pernah tertabrak oleh satu pesawatpun!) benar-benar simetrikal dan metodikal (sudah direncanakan). Ketiga keruntuhan tersebut sangat identik (dikenal ) bagi para insinyur yang ahli dibidangnya, yaitu ledakan yang dikendalikan/direncanakan. (lihatlah video dari keruntuhan yang menakjubkan WTC 7 ……… www.whatrellyhappened.com/wtc7.html)
55

A demolition company could not have done it better. Now that we know that all one has to do to bring a tall building straight down is set a fuel fire in it, the well trained experts who work for demolition companies should all be out of a job by now! Even a layman with no explosives background should be able to see this. But many specialists in the explosives and structural engineering have also made this observation and commented on these inconsistencies. After the WTC collapse, the Vice President of New Mexico Tech, Van Romero, gave an interview to the Albuquerque Journal. He stated plainly that he believed that the WTC collapse was too methodical and that explosive devices must have been placed in key points of both buildings. Romero said: "It would be difficult for something from the plane to trigger an event like that. It could have been a relatively small amount of explosives placed in strategic points. One of the things that terrorists are noted for is a diversionary attack and a secondary device." (98) Satu perusahaan peledakan tidak akan dapat mengerjakan hal tersebut secara lebih baik. Sekarang kita mengetahui bahwa yang menjadikan gedung yang tinggi rubuh haruslah memercikkankan suatu kebakaran yang besar didalamnya, dan ahli-ahli yang terlatih yang bekerja untuk perusahaan peledakkan seharusnya kehilangan pekerjaan sekarang! Bahkan seorang awampun yang tidak berlatarbelakang peledakkan dapat melihat hal ini. Tetapi banyak spesialis peledakkan dan insinyur struktural juga telah melakukan observasi ini dan berkomentar mengenai ketidakcocokkan-ketidakcocokkan ini. Setelah WTC runtuh, Vice Presiden New Mexico Tech, Van Romero diwawancarai oleh The Albuquerque Journal. Ia menyatakan secara panjang lebar bahwa ia yakin runtuhnya WTC sangat metodikal dan suatu peralatan peledakan haruslah ditempatkan di tempat-tempat vital dari kedua gedung tersebut. Romero berkata : ‘’Akan sangat sulit bila seseuatu dari pesawat memicu suatu peristiwa seperti itu. Hal tersebut dipicu oleh sejumlah bahan-bahan peledak yang ditempatkan pada posisi-posisi strategis. Satu hal yang terrorist (maksudnya terrorist yang sesungguhnya ---- penerjemah) perhatikan disini adalah suatu peyerangan yang dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dan suatu alat penyerangan yang kedua.’’ (98) In that same interview, Romero revealed that he was in Washington DC when the attacks took place. He and a colleague were there to discuss defense research programs for New Mexico Tech. A few days after his interview, Romero abruptly changed his opinion and told the Albuquerque Journal that he no longer believed that bombs brought down the towers. (99) Romero, who relies upon the Zionist occupied Pentagon for funding, had suddenly flip-flopped and joined the "melted steel" theorists. There is more than just my own common sense and Romero's expert opinion to support the belief that the towers were imploded from within. Several witnesses and survivors reported hearing bombs going off inside the World Trade Center. Louie Cacchioli is a firefighter with Engine 47 in Harlem, New York. Cacchioli told People Magazine the following: "I was taking firefighters up in the elevator to the 24th floor to get in position to evacuate workers. On the last trip up a bomb went off. We think there were bombs set in the building." (100) Dalam wawancara yang sama, Romero mengungkapkan bahwa ia berada di Washington DC ketika penyerangan berlangsung. Ia dan kolleganya disana untuk mendiskusikan program riset pertahanan untuk New Mexico Tech. Beberapa hari setelah wawancara, Romero dengan tiba-tiba merubah opininya dan mengatakan kepada Albuquerque Journal bahwa tidak yakin lagi bom-lah yang merubuhkan menara-menara. (99) Romero, yang menyandarkan diri pada Yayasan Pentagon yang diduduki Zionist, dengan tiba-tiba berubah haluan dan bergabung dengan skenario ‘’baja yang meleleh’’. Ada lagi bukan hanya akal sehatku dan pendapat ahli dari Romero yang mendukung keyakinan bahwa menara-menara diledakkan dari dalam. Beberapa orang saksi dan korban yang selamat melaporkan mendengar bom-bom meledak ketika mereka keluar dari gedung WTC. Louie Cacchioli
56

adalah seorang pemadam kebakaran di kesatuan Engine 47 di Harlem New York. Cacchioli berkata kepada People Megazine : ‘’Saya memimpin pemadam kebakaran menuju elevator di lantai 24 dalam upaya mendapatkan posisi untuk mengevakuasi para pekerja. Dalam perjalanan terakhir sebuah bom meledak. Kami berpikir ada sejumlah bom yang dipasang didalam gedung.’’ (100) Now this whole controversy between the "melted steel" scenario and the detonation scenario is one that could be very easily resolved. All we have to do is dig up the steel beams and examine each and everyone of them. If an explosive device caused the steel to fail, there will be tell-tale indications for the engineers to see. But if it was intense heat that caused the steel to "melt" or “buckle“, there will be tell-tale signs of that as well. All we have to do to put an end to this controversy is to closely examine the steel. Right? Well, don't hold your breath. That's never going to happen. Thanks in large part to Time Magazine's "Person of the Year 2001", New York Mayor Rudy Giuliani, the steel beams were quickly recycled before investigators even had the chance to look at them! A media darling and lifelong supporter of Israel, Saint Rudy Giuliani made sure that all of the "smoking gun" evidence was destroyed and right quick too. Much of the steel was recycled in America, but an additional seventy thousand tons of WTC steel was sold to Metals Management - a New York company with a jewish (Zionist?) president named Alan Ratner. Ratner then turned around and shipped the WTC’s steel to China and India for recycling! (101) China Radio International’s English Edition also reported: “New York's Metals Management is among the firms taking steel from the huge project to clear Ground Zero. The company says it has bought 70,000 tons of scrap from the ruined twin towers. Some of the scrap has been shipped across the Pacific to Asian, including China and India. Among the consignments of scrap are the "very dense" steel girders from Ground Zero, which could finally yield 250,000 to 400,000 tons of scrap for recycling.” (102) (emphasis added) Sekarang kontroversi mengenai skenario ‘’baja yang meleleh’’ dan skenario peledakan dengan sangat mudah dapat dipecahkan. Yang harus kita lakukan adalah menggali reruntuhan baja dan meneliti tiap bagiannya serta semua bagiannya. Jika bahan peledak menyebabkan baja menjadi rusak, akan ada petunjuk dan para insinyur akan mengetahuinya. Namun jika panas yang tinggi menyebabkan baja ‘’meleleh’’ atau ‘’melengkung’’, akan ada petunjuknya juga. Yang harus kita lakukan adalah tetap tenang dan mengakhiri kontroversi ini untuk meneliti baja. Betul? Baiklah, janganlah menahan nafas Anda. Hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Berterima kasihlah kepada ‘’Person of The Year’’ versi Majalah Time, Walikota New York Rudi Giuliani, reruntuhan baja dengan cepat didaur ulang bahkan sebelum para investigator memiliki kesempatan untuk melihatnya! Seorang anak kesayangan media dan pendukung abadi Israel, Saint Rudi Giuliani memastikan semua bukti-bukti ‘’senjata yang berasap’’ telah dihancurkan dan dengan sangat cepat pula. Banyak dari baja-baja tersebut didaur ulang di Amerika., namun sebagai tambahan ribuan ton baja WTC dijual kepada Metals Management – sebuah perusahaan di New York dengan presidennya seorang Yahudi (Zionist?) yang bernama Alan Ratner. Ratner kemudian mengapalkan baja WTC ke China dan India untuk didaur ulang ! (110) Radio internasional China dalam Bahasa Inggris juga melaporkan ‘’Metal Management New York adalah diantara perusahaan yang membawa baja dari proyek besar untuk mengosongkan Ground Zero (lantai dasar WTC). Perusahaan tersebut menegaskan telah membawa 70.000 ton dari reruntuhan menara kembar. Sebagiannya telah dikapalkan menyebrangi Samudera Pasifik ke Asia, termasuk China dan India. Diantara pengiriman tersebut adalah baja penopang yang ‘’sangat padat’ dari Ground Zero, yang menghasilkan 250.000 hingga 400.000 ton sisa reruntuhan untuk didaur ulang.’’ (102) (penekanan ditambahkan)
57

Imagine that! The largest criminal investigation in history and the investigators weren't even permitted to see the most important evidence of all - the steel! During the whole time that Saint Rudy the Recycler and Ratner the Rat were destroying evidence, many of the most respected engineers in the country openly complained not only about the recycling, but also about the Federal government's suffocating control of their investigation. On December 25, 2001, the New York Times ran a story about the frustrations of some of the engineers who were called in to study the cause of the collapse: “Interviews with a handful of members of the team, which includes some of the nation's most respected engineers, also uncovered complaints that they had at various times been shackled with bureaucratic restrictions that prevented them from interviewing witnesses, examining the disaster site and requesting crucial information like recorded distress calls to the police and fire departments..." (103) Dapat dibayangkan investigasi terbesar sepanjang sejarah dan bahkan para investigator tidak diberi ijin untuk melihat bukti yang paling penting dari semua baja-baja tersebut. Selama keseluruhan waktu ketika Saint Rudi Si Pendaur ulang dan Ratner menghancurkan bukti-bukti, banyak dari para insinyur ahli yang terkemuka di negara ini (AS) secara terbuka komplain bukan hanya mengenai daur ulang, namun juga mengenai kontrol/pengendalian yang menyesakkan (sangat ketat) dari pemerintahan Federal mengenai penyelidikan mereka. Pada tanggal 25 Desember 2001, New York Times menuliskan kisah mengenai frustasinya sejumlah insinyur yang ditugaskan untuk mempelajari penyebab keruntuhannya ‘’Wawancara dengan sejumlah anggota tim, yang mencakup insinyur terkemuka di beberapa negara, juga memunculkan komplain yang mereka alami di banyak kesempatan dibelenggu oleh pelarangan birokrasi yang menjaga mereka mewawancarai para saksi mata, meneliti tempat terjadinya bencana dan meminta informasi yang sangat penting seperti rekaman keadaan sekitar kejadian kepada polisi dan petugas pemadam kebakaran…’’ (103) They made their concerns known publicly. Bill Manning, editor of the 125 year old Fire Engineering magazine, noticed a strange difference between the WTC investigation and other major fire investigations in New York City’s past. Manning wrote: Did they throw away the locked doors from the Triangle Shirtwaist fire? Did they throw away the gas can used at the happy land social club fire?...That's what they're doing at the World Trade Center. The destruction and removal of evidence must stop immediately." (104) Mereka memberitahukan publik mengenai keluhan diatas. Bill Maning, editor suatu majalah yang sudah berusia 125 tahun yaitu majalah Fire Engineering, menyoroti suatu perbedaan yang aneh antara investigasi WTC dan investigasi kebakaran besar lainnya di New York di waktu yang telah lewat. Maning menulis : Apakah mereka melempar pintu-pintu yang terkunci pada kebakaran Triangle Shirtwaist? Apakah mereka yang membuang gas yang digunakan pada kebakaran klub sosial daerah yang berbahagia ?…..Itulah yang sedang mereka lakukan di WTC. Penghancuran dan pemindahan bukti seperti itu harus segera dihentikan.’’ (104) One investigator told the New York Times: This is almost the dream team of engineers in the country working on this, and our hands are tied," said one team member who asked not to be identified. Members have been threatened with dismissal for speaking to the press. "FEMA is controlling everything," the team member said. “ (105) Dr. Frederick W. Mowrer from the Fire Engineering department at the University of Maryland told the New York Times:

58

"I find the speed with which important evidence has been removed and recycled to be appalling." (106) Finally, the Times story made this interesting little revelation about St. Rudy the Recycler: Officials in the mayor's office declined to reply to written and oral requests for comment over a threeday period about who decided to recycle the steel and the concern that the decision might be handicapping the investigation.. (107) It is a very odd form of science that the government and some of its house scientists practice these days. Without a shred of physical evidence, these modern-day alchemists have been able to "prove" their theory fire caused the towers to collapse. This appears to be yet another monstrous lie. Why else would you destroy the "melted steel"? Ask Rudy. Seorang investigator mengatakan kepada New York Times : Ini hampir merupakan tim insinyur impian di negeri ini bekerja bersama kami, dan tangan kami diikat,’’ ujar seorang anggota tim yang tidak ingin identitasnya dibuka. Para anggota telah diancam akan dipecat jika berbicara kepada pers. ‘’FEMA mengendalikan semuanya’’, kata anggota tim itu.’’ (105) Dr. Frederick W. Mowrer dari departemen Fire Engeneering di Universitas Maryland berkata kepada New York Times : ‘’Saya menemukan suatu kecepatan dari pemindahan dan pendaur ulangan bukti-bukti benar-benar sangatlah mengerikan.’’ (106) Akhirnya, penuturan dari The Times menjadi menarik mengenai sedikit pengungkapan dari St. Rudy Si Pendaur Ulang. Para petugas di kantor walikota mengundurkan diri dalam menjawab secara tertulis dan lisan untuk komentar sepanjang periode tiga hari mengenai siapa yang memberi keputusan untuk mendaur ulang baja dan mempertimbangkan bahwa keputusan tersebut akan mencacatkan penyelidikan. (107) Ini adalah suatu bentuk aneh dari sains dimana pemerintah dan para ilmuwan yang bersamanya mempraktekan hal tersebut pada waktu sekarang ini. Tanpa secuilpun bukti fisik seorang ilmuwan kimia tidak akan mampu untuk ‘’membuktikan’’ pemahaman yang menyebabkan runtuhnya menara tersebut. Kemudian muncul lagi suatu kebohongan yang besar. Mengapa juga kamu merusak ‘’baja yang meleleh’’? Tanya Rudi.

LEFT; EXPLOSIVES EXPERT VAN ROMERO: "THE COLLAPSE WAS TOO METHODICAL." RIGHT: SAINT RUDY THE RECYCLER AT PRO-ISRAEL RALLY. HE WAS NAMED "PERSON OF THE YEAR" BY ZIONIST RUN TIME MAGAZINE. KIRI : AHLI PELEDAKKAN VAN ROMERO : ‘’RUNTUHNYA TERLALU METODIKAL.’’ KANAN : SAINT RUDY SI PENDAUR ULANG DALAM RAPAT UMUM PRO-ISRAEL. IA DIJADIKAN SEBAGAI ‘’PERSON OF THE YEAR’’ OLEH MAJALAH TIME YANG DIKENDALIKAN ZIONIST.
59

THE MIRACLE OF PASSOVER PERAYAAN PASKAH BAGI ORANG YAHUDI YANG AJAIB Not just Americans were murdered on 9-11. Nearly 500 foreign nationals from over 80 different nations were killed in the World Trade Center. (108) As a center of world trade and finance this is not surprising. It is also commonly known that many Israelis work in the field of international trade and finance. The laws of probability dictate that among the nearly 500 dead foreign nationals, from over 80 different nations, there should have been a considerable number of Israelis. But the number of Israeli dead was suspiciously low, especially when we consider the report, contained in the September 12 Jerusalem Post, that the Israeli embassy in America was bombarded on 9-11 with calls from 4000 worried Israeli families. (109) George Bush had told the US Congress that he also mourned the deaths of foreign citizens including "more than 130 Israelis". (110) But Bush was either misinformed or he was lying. The actual number of Israeli dead at the WTC was far less than 130. It was far less than 100. It was far less than 50. It was far less than 25. It was far less than 10. It was… …. zero! (111A) (111B), NY Times, September 22, 2001) That's right! Zero Israeli nationals lost their lives in the WTC* while citizens from over 80 different nations, including such powerhouses of world trade and finance as Granada, Bermuda, Ireland, and the Philippines, all lost people in the WTC. *(One Israeli was killed aboard each of the flights that crashed into the WTC. None were killed in the WTC.) Bukan hanya orang Amerika yang terbunuh dalam peristiwa 9-11. Hampir 500 orang berkebangsaan dari 80 negara yang berbeda terbunuh World Trade Center (108). Sebagai sebuah pusat perdagangan dunia dan finansial hal tersebut tidaklah mengejutkan. Secara terbuka juga diketahui bahwa banyak orang Israel yang bekerja di area perdagangan dan finansial tersebut. Hukum probabilitas menjabarkan bahwa hampir 500 orang yang terbunuh bekebangsaan lebih dari 80 negara yang berbeda, mestinya ada suatu pertimbangan sejumlah orang Israel. Tetapi jumlah orang Israel yang terbunuh benar-benar sedikit mencurigakan, terutama ketika kita mempertimbangkan laporan yang dinyatakan dalam Jarusalem Post tanggal 12 September, dimana kedutaan Israel di Amerika dibombardir mengenai orang-orang yang menelepon peristiwa 9-11 yang berasal dari 4000 keluarga Israel yang khawatir. (109) George Bush mengatakan kepada kongres AS bahwa ia juga berduka cita kepada meninggalnya para warga negara asing termasuk ‘’lebih dari 130 orang Israel’’.(110) Namun apakah Bush mengalami miss-informasi ataukah ia berbohong. Jumlah sebenarnya orang Israel yang tewas pada peristiwa 9-11 adalah kurang dari 130. Jumlahnya jauh dibawah 100 orang. Jumlahnya jauh dibawah 50 orang. Jumlahnya jauh dibawah 25 orang. Jumlahnya jauh dibawah 10 orang. Jumlahnya adalah….tidak ada! (111A) (112B), New York Times, 22 September 2001) Betul sekali! Tidak ada orang berkebangsaan Israel kehilangan nyawa dalam gedung WTC*), sementara warga negara di lebih dari 80 negara, termasuk pekerja-pekerja perdagangan dunia dan finansial dari Granada, Bermuda, Irlandia, dan Filipina kehilangan nyawanya dalam WTC. *) Seorang Israel terbunuh dalam pesawat pada tiap-tiap penerbangan yang menabrak WTC. Tidak ada seorangpun yang terrbunuh dalam gedung WTC.) We learned earlier about the employees of the Israeli instant messaging company Odigo, who were anonymously informed of the attacks two hours before they took place. (112) Even more intriguing than the Odigo warnings was the narrow escape of 200 employees of an Israeli government run company called Zim Israel Navigational. With over 80 vessels, Zim Navigational is the 9th largest shipping company in the world. Just one week before 9-11, Zim Navigational moved out of its World Trade Center offices with over 200 workers. (113A), (113B) Company spokesperson Dan Nadler said: "When we watched the pictures, we felt so lucky. Our entire US operations were run out of the 16th floor. (114A),(114B) Zim moved to Virginia. Nadler added that the aim of the sudden move "was to save on rent". (115A), (115B) Somehow the claim that
60

a major global shipping firm, backed up by government money, needed to save a few bucks on rent lacks credibility. And oh what perfect timing! So who tipped off Zim? Who tipped off Odigo? Who tipped off those Pentagon officials? Who tipped off those Israeli workers in New York? I think it's safe to say it wasn't Osama Bin Laden from his cave in Afghanistan! Kita mempelajari sebelumnya mengenai pegawai-pegawai orang Israel di perusahaan pesan singkat Odigo, yang diberi informasi secara anonim tentang penyerangan dua jam sebelum terjadinya. (112) Bahkan melebihi intrik-intrik dari peringatan kepada Odigo adalah pelarian diri yang terbatas 200 pegawai dari perusahaan yang dijalankan pemerintah Israel yang bernama Zim Israel Navigational. Dengan memiliki 80 kapal, Zim Internasional adalah perusahaan pelayaran ke-9 terbesar di dunia. Hanya seminggu sebelum peristiwa 9-11, Zim Navigational memindahkan kantornya dari gedung WTC, dengan 200 pekerjanya. (113A)(113B) Juru bicara perusahaan Dan Nadler berkata : ‘’Ketika kita melihat tayangannya, kami merasa begitu beruntung. Seluruh operasi kami di AS dijalankan di lantai 16. (114A)(114B) Zim pindah ke Virginia. Nadler menambahkan bahwa tujuan pemindahan yang secara tiba-tiba ‘’adalah untuk menghemat biaya sewa’’. (115A)(115B). Namun kenyataan bahwa perusahaan tersebut merupakan pelayaran global, di back-up oleh keuangan pemerintah, memerlukan untuk penghematan beberapa dollar dari sewa tempat adalah tidak kredibel. Dan begitu sempurna waktu perpindahannya! Jadi siapakah yang memberi informasi kepada Zim ? Siapakah yang memberi informasi kepada Odigo ? Siapakah yang memberi informasi kepada petugas Pentagon ? Siapakah yang memberi informasi kepada pekerja-pekerja Israel di New York ? Saya kira adalah aman apabila kita mengatakan Osama Bin Laden-lah yang memberi informasi itu kepada mereka dari gua persembunyiannya di Afghanistan !

LEFT: BUSH COMMEMORATES 9-11 AT A DECEMBER 11 WHITE HOUSE CEREMONY. ISRAELI FLAG WAS USED AS HIS PROP. RIGHT: ZIM NAVIGATIONAL MOVED OUT OF WTC 1 WEEK BEFORE 9-11. ZIM CLAIMS IT COULDN'T AFFORD WTC RENT! KIRI : BUSH MEMPERINGATI PERISTIWA 9-11 DALAM PERAYAAN DI GEDUNG PUTIH. BENDERA ISRAEL DIGUNAKAN SEBAGAI PENDAMPINGNYA KANAN : ZIM NAVIGATIONAL PINDAH DARI WTC SEMINGGU SEBELUM PERISTIWA 9-11. ZIM MENGKLAIM MEREKA TAK MAMPU MEMBAYAR SEWA GEDUNG WTC! FRAMING BIN LADEN MENYALAHKAN BIN LADEN Within minutes after the attack, a parade of politicians and "terrorism experts" appeared on every TV channel all claiming that the attacks were the work of Osama Bin Laden. A traumatized American public swallowed it all hook, line, and sinker, just like the real perpetrators knew we would. The Bush administration claimed that it had evidence linking Bin Laden to the attacks which it would release to
61

the public in a matter of days. They never did. Just like they never provided any evidence that Al Qaeda blew up the US embassies in Africa in 1997. The entire case against Osama Bin Laden was based on nothing but the repeated claim that he was the culprit for the embassy bombings and for 911. It was a mass brainwash job from the very start. Demands were placed upon the Taleban government of Afghanistan turn Bin Laden over to the US or face an attack (we established earlier that US military action had already been planned since June). (116A) , (116B) The Taleban offered to turn Bin Laden over to a neutral party if the US provided any evidence to them that he had anything to do with the 1997 US African embassy bombings or the 9-11 attacks. The evidence was never presented to the Taleban for two reasons: 1. There was never any evidence, not even circumstantial 2. The war to replace the Taleban with a US puppet government was already in motion. The 9-11 attacks served as the perfect excuse, the “incident” to win the support of the American people and kick off the war. Three months after the attacks, and with the bombing of Afghani peasants in full swing, the US had still not provided one shred of evidence to link Bin Laden and his Al Qaeda "network" to 9-11. People in foreign countries were beginning to ask questions. Then one day, the Pentagon claimed that some unnamed source found a video tape in Afghanistan. The Bush gang began dropping hints in the media that this video shows Osama Bin Laden bragging and admitting his role in the attacks. How convenient! And how improbable. The "mastermind" of 9-11, who was so brilliant that he pulled off 911 without being detected, was careless enough to leave a "confession video" laying around to be discovered by the US! Dalam beberapa menit setelah serangan, suatu parade politisi dan ‘’ahli terrorist’’ muncul di setiap saluran TV yang mengklaim bahwa serangan adalah ulah Osama Bin Laden. Masyarakat Amerika yang traumatis menelan mentah-mentah semuanya, dimana-mana, dan bulat-bulat, seperti telah dipersiapkan sebelumnya. Admistrasi Bush mengklaim bahwa ada bukti yang mengaitkan Bin Laden kepada serangan yang akan di-release kepada publik beberapa hari mendatang. Tetapi mereka tak pernah melakukannya. Begitupun mereka tidak pernah membuktikan bahwa Al Qaeda yang membom kedubes AS di Amerika tahun 1997. Keseluruhan kasus melawan Osama Bin Laden adalah tidak memiliki dasar apapun tetapi klaim yang diulangi bahwa ia merupakan penjahat yang membom kedubes dan peristiwa 9-11. Hal ini merupakan pencucian otak secara masal sejak permulaannya. Perintah-perintah ditempatkan kepada pemerintahan Taliban dari Afghanistan menjadikan Bin Laden berhadapan dengan AS atau menghadapi suatu serangan (kita telah menampilkan diawal bahwa aksi militer AS ke Afghanistan telah direncanakan sejak bulan Juni 2001). (116A) (116B) Taliban menawarkan mengembalikan Bin Laden kepada pihak yang netral jika pihak AS memberikan buktibukti kepada mereka bahwa ia tidak terlibat dalam pemboman kedubes Amerika di Afrika tahun 1997 dan penyerangan 9-11. Bukti-bukti tidak pernah ditampilkan kepada Taliban karena dua alasan : 1. 2. Tidak akan pernah ada bukti, bahkan tidak berhubungan sama sekali. Perang yang ditujukan untuk mengganti Taliban dengan sebuah pemerintahan boneka AS sedang dalam perkembangan. Serangan 9-11 menyajikan suatu excuse (alasan) yang sempurna, ‘insiden’ untuk mendapatkan dukungan masyarakat Amerika dan memulai perang.

Tiga bulan setelah serangan, dan dengan pemboman terhadap petani Afghanistan yang dilancarkan secara penuh, AS belum memberikan secuilpun bukti yang menghubungkan Bin Laden dan Al Qaeda-nya ‘’berhubungan’’ dengan peristiwa 9-11. Masyarakat di luar negeri mulai menayakan pertanyaan-pertanyaan. Kemudian suatu hari, Pentagon mengklaim bahwa beberapa sumber tanpa nama menemukan sebuah video tape di Afghanistan. Genk-nya Bush mulai menjatuhkan petunjukpetunjuk di media bahwa dalam video ini memperlihatkan Osama Bin Laden menyombongkan dirinya dan mengakui perannya dalam penyerangan tersebut. Begitu tepat sekali ! Dan begitu tidak mungkinnya. ‘’Otak’’dari peristiwa 9-11, yang begitu brilian bahwa ia menciptakan serangan 9-11
62

tanpa terdeteksi, begitu cerobohnya untuk meninggalkan ‘’video pengakuan’’ yang diletakkan begitu saja untuk kemudian agar supaya ditemukan oleh AS ! The video was shown on the news with English subtitles. Bin Laden's voice was so barely audible that even viewers in Arab nations had to rely on the Pentagon’s translated subtitles! An obedient American (Zionist) news media accepted the Pentagon story and translation without question. A few Arab media whores were even trotted out to vouch for the tape’s authenticity. Aha! This is the "smoking gun" they assured us. But this too is another vicious lie. On December 20, 2001, the German TV show Monitor (the "60 Minutes of Germany“) found the translation of the "confession" video to be not only “inaccurate“, but even "manipulative“. (117) Dr. Abdel El M. Husseini and Professor Gernot Rotter made an independent translation and accused the White House translators of "writing a lot of things that they wanted to hear but cannot be heard on the tape no matter how many times you listen to it." (118) Even more compelling than the revelations of the European press are the actual images of the "confession video". Every photo previously taken of Osama Bin laden shows gaunt facial features and a long thin nose. The Pentagon video of Bin Laden clearly shows a man with full facial features and a wide nose. Examine the pictures side-by-side for yourself if you don't believe it. The differences in facial features will jump right out at you. (119) Video yang diperlihatkan dalam berita dibubuhi sub-titles Bahasa Inggris. Suara Bin Laden begitu hampir tidak dapat didengar yang bahkan para pemirsa di Arab-pun harus menurutkan subtitle terjemahan Pentagon! Suatu media berita Amerika (Zionist) yang patuh menerima kisah versi Pentagon dan terjemahannya tanpa pertanyaan. Beberapa budak media di Arab bahkan menghindar dari menjamin/memeriksa keautentikan rekaman. Aha ! Inilah ‘’senjata berasap’’ yang dijanjikan kepada kita. Namun hal ini merupakan kebohongan yang bersifat jahat lainnya juga. Pada tanggal 20 Desember 2001, acara TV Jerman Monitor (acara ‘’60 Minutes’’-nya Jerman) menemukan terjemahan dari video ‘’pengakuan’’ adalah tidak hanya ‘’tidak akurat’’ tetapi juga ‘’manipulatif’’. (117) Dr. Abdel El M. Husseini dan Professor Gernot Rotter membuat suatu terjemahan independen dan menuduh penerjemah Gedung Putih ‘’menulis apa yang ingin mereka dengar namun tidak dapat didengar pada rekaman berapa kalipun kamu mendengarnya.’’ (118) Bahkan ada yang lebih memaksakan lagi seperti yang dibeberkan pers Eropa diatas adalah gambargambar dari ‘’video pengakuan’’. Setiap foto Osama Bin Laden yang diambil sebelumnya menunjukkan wajah yang cekung/kurus kering dan hidung yang panjang dan kecil. Video Bin Laden Pentagon dengan jelas menunjukkan seorang laki-laki dengan wajah yang penuh dan hidung yang lebar. Telitilah gambar sisi demi sisi/bagian demi bagian oleh Anda sendiri jika Anda tak mempercayainya. Perbedaan dalam feature wajah akan datang tepat kearah Anda. (119) Would the Pentagon leadership be capable of such deception? Why not?! They were capable of allowing 9-11 to happen weren't they? The Pentagon itself has even admitted the existence of a special department established for the purpose of planting false stories in the media in order to carry out strategic objectives. The very Zionist and very pro-war New York Times broke a story in February 2002 which revealed that the Pentagon has plans to deliberately provide false stories to the press as part of an effort to influence policy. The Pentagon set up the Office of Strategic Influence (OSI) for this purpose. A Zionist Air Force General named Simon P. Worden was chosen to head this criminal effort. (120) Worden's boss is Douglass Feith, another dedicated Zionist who serves as Undersecretary of Defense for Policy. How dedicated of a Zionist is Feith? The Zionist Organization of America (ZOA) honored Feith and his father at an award dinner in 1999. So I’ll let ZOA’s 1997 press release you about Feith: “This year's honorees will be Dalck Feith and Douglas J. Feith, the noted Jewish philanthropists and pro-Israel activists. Dalck Feith will receive the ZOA's special Centennial Award at the dinner, for his lifetime of service to Israel and the Jewish people. His son Douglas J. Feith, the former Deputy
63

Assistant Secretary of Defense, will receive the prestigious Louis D. Brandeis Award at the dinner.” (121)- (Google usues enter: feith zionist organization award) Apakah petinggi Pentagon memiliki kemampuan dalam melakukan tipu daya semacam itu ? Mengapa tidak ! Bukankah mereka mampu membiarkan terjadinya peristiwa 9-11 ? Pentagon sendiri membiarkan keberadaan dari suatu departemen istimewa dengan tujuan untuk merencanakan kisah palsu kepada media sebagai maksud untuk mencapai tujuan-tujuan strategis. Harian yang sangat Zionist dan pro perang New York Times memuat laporan di Bulan Februari 2002 yang mengungkapkan bahwa Pentagon telah merencanakan dengan sengaja mengajukan kisah yang palsu kepada pers sebagai bagian dari kebijakan mempengaruhi. Pentagon menjadikan Office of Strategic Influence (OSI) demi tujuan ini. Seorang Jendral Zionist bernama Simon P. Worden telah dipilih untuk memimpin usaha kriminal ini. (120) Boss-nya Worden adalah Douglass Feith, seorang yang berdedikasi untuk Zionist yang lainnya sebagai Sekretaris Kebijakan Pertahanan. Bagaimana berdedikasinya kepada Zionist dari seorang Feith ini? The Zionist Organization of America (ZOA) memberikan kehormatan kepada Feith dan ayahnya dalam suatu acara makan malam penghargaan tahun 1999. Jadi silahkan lihat press release ZOA tahun 1997 tentanh Feith : ‘’Tahun ini kehormatan diberikan kepada Dalck Feith dan Douglas J. Feith, yang dikenal sebagai seorang Yahudi penderma dan aktivis pro-Israel. Dalck Feith akan menerima Penghargaan Seabadnya ZOA di acara makan malam, untuk hidupnya dalam mengabdi kepada Israel dan masyarakat Yahudi. Puteranya Douglas J. Feith, Assisten Deputy Sekretaris Pertahanan, akan menerima penghargaan prestisius Louis D. Brandeis dalam acara makan malam. (121)-(kata kunci penggunaan Google- feith zionist organization award) There you have it! The Zionist Air Force General who runs the Pentagon’s media disinformation department, reports directly to a Zionist Pentagon boss who was a recipient of the “prestigious” Louis Brandeis Award. Brandeis, a former Supreme Court judge, was one of the key Zionist powerbrokers who helped influence Woodrow Wilson into joining World War I as part of the Zionist-British Balfour deal we learned about earlier. Remember that the next time some new “video” or “tape” that seems to implicate Muslims surfaces out of nowhere. The most mind boggling, ridiculous, and yet scariest part of this story is that General Worden later went on to tell a US Congressional committee that an asteroid might one day hit Pakistan and be mistaken for a nuclear bomb, thus triggering a nuclear war between Muslim Pakistan and pro-Israeli India! Behold this bit of brazen bullshit from admitted liar Worden, courtesy of CNN: “An asteroid 5 to 10 meters in diameter exploded in June over the Mediterranean Sea, releasing as much energy as the atomic bomb dropped on Hiroshima in World War II, Worden told the House Committee on Science. "Imagine that the bright flash accompanied by a damaging shock wave had occurred over India or Pakistan.” (121B) Anda mendapatkannya! Jendral Angkatan Udara Zionist yang mengendalikan Departeman Dissinformasi Media di Pentagon, melaporkan secara langsung kepada seorang boss Zionist Pentagon yang merupakan seorang penerima penghargaan ‘’prestisius’’ Louis Brandeis, mantan hakim di Mahkamah Agung, adalah satu diantara calo kekuasaan yang ikut mempengaruhi Woodrow Wilson untuk ikut berperang dalam PD I sebagai bagian dari perjanjian Balfour Zionist-Inggris yang kita kaji dimuka. Ingatlah bahwa pada masa yang akan datang beberapa ‘’video’’ atau ‘’rekaman’’ yang terlihat untuk melibatkan kaum Muslimin pada dasarnya akan keluar dimanapun. Yang paling mengejutkan, menggelikan dan kemudian bagian menakutkan dari kisah ini adalah Jendral Worden kemudian berkata kepada komite Kongres AS bahwa suatu asteroid mungkin suatu hari akan menghantam Pakistan dan disangka sebagai sebuah bom nuklir, kemudian memicu perang antara Muslim Pakistan dan India yang pro-Israel! Tahanlah dulu omong kosong yang kurang ajar ini dari pengakuan bohong Worden, ada laporan dengan persetujuan CNN :
64

‘’Suatu asteroid berdiameter 5 hingga 10 meter meledak di bulan Juni di Laut Mediterania, melepaskan energi yang besar sebagaimana bom atom dijatuhkan di Hiroshima pada PD II, Worden mengatakannya kepada komite sains. ‘’Bayangkan kilatan yang menyertai gelombang kerusakan yang terjadi di India atau Pakistan.’’ (121B) Worden noted that at the time the two countries were near the brink of war and that either could have mistaken it for a surprise attack. Wouldn’t that be convenient for the Pakistan-hating Zionists! One year has passed since the 9-11 attacks and the FBI has not uncovered any Al Qaeda cells in the United States nor has it found any paper trail. The London Times reported: "Thousands of FBI agents have rounded up more than 1,300 suspects across America since September 11, but they have failed to find a single Al-Qaeda cell operating in the United States...Tom Ridge, Director of Homeland Security could not explain why none had been caught." (122) Worden menekankan hal tersebut pada dua abad yang dekat perang dan juga akan terjadi suatu kesalahan dalam suatu serangan kejutan. Bukankah ini merupakan alasan yang jelas bagi Pakistan untuk membenci Zionist ! Setahun setelah berlalunya serangan 9-11 dan FBI tidak mengungkapkan bagian Al Qaeda di Amerika Serikat juga tak ditemukan jejak tertulis. The London Times melaporkan : ‘’Ribuan agen-agen FBI telah memeriksa lebih dari 1300 tersangka di seluruh Amerika sejak 11 September, tetapi mereka gagal untuk menemukan satu sel Al Qaeda yang beroperasi di Amerika Serikat…Tom Ridge, Direktur Keamanan Dalam Negeri tak dapat menjelaskan mengapa tidak ada seorangpun yang tertangkap.’’ (122) In April of 2002, FBI director Robert Mueller - the same Robert Mueller who admitted that several hijacker identities were in doubt due to identity thefts- made this stunning announcement: "In our investigation, we have not uncovered a single piece of paper - either here or in the treasure trove of information that has turned up in Afghanistan and elsewhere - that mentioned any aspect of the September 11 plot." (123) Predictably, Directors Ridge and Mueller attribute this total lack of any evidence to the skill of the Al Qaeda "terrorist network". If you've read this far you should know better. The reason that the US has been unable to uncover a shred of evidence to link Al Qaeda to 9-11 is because....Al Qaeda didn't do it! Bulan April 2002, Direktur FBI Robert Muller – yaitu Si Robert Muller yang sama yang mengakui bahwa beberapa identitas pembajak tidak diragukan lagi merupakan identitas curian – membuat pengumuman yang menarik : Dalam investigasi kami, kami belum mengungkapkan secuil kertaspun – juga disini atau di tempat tersembunyi dari informasi yang telah berubah di Afghanistan atau di tempat lainnya --- yang disebutkan di setiap bagian skenario 11 September.’’ (123) Dapat diprediksi, Direktur Ridge dan Muller mengalihkan sedikitnya bukti kepada hebatnya skill ‘’jaringan terrorist’’ Al Qaeda. Jika Anda membaca lebih jauh anda akan mengerti lebih baik. Alasan bahwa AS tak dapat mengungkap secuilpun bukti yang menghubungkan Al Qaeda kepada 9-11 karena….Al Qaeda tidak melakukannya !

65

WILL THE REAL OSAMA BIN LADEN PLEASE STAND UP? BERSEDIAKAH OSAMA BIN LADEN YANG ASLI UNTU BERDIRI/MENAMPAKKAN DIRI ? LEFT/CENTER: PENTAGON’S “CONFESSION” VIDEO OF BIN LADEN VS. KNOWN IMAGE OF HIM. RIGHT: GENERAL SIMON P. WORDEN. ZIONIST AIR FORCE GENERAL WHO RUNS PENTAGON’S DISINFORMATION DEPARTMENT. KIRI/TENGAH : VIDEO ‘’PENGAKUAN’’ BIN LADEN MILIK PENTAGON VS. GAMBAR YANG TIDAK DIKETAHUI DARINYA KANAN : JENDRAL SIMON P. WORDEN JENDRAL ANGKATAN UDARA ZIONIST YANG MEMIMPIN DEPARTEMEN DISSINFORMASI PENTAGON WHISTLEBLOWERS WHISTLEBLOWERS WHISTLEBLOWERS THE FBI AGENTS WHO TRIED TO PREVENT 9-11 PARA VOCALIST, SEGELINTIR AGEN-AGEN FBI YANG MENCOBA UNTUK MENCEGAH PERISTIWA 9-11 The FBI's field agents are "the good guys". It's the ass kissing, spineless careerists at the top who have corrupted the agency. In the critical weeks and months leading up to that fateful day, numerous clues were picked up by loyal FBI field agents. Some of these agents were so alarmed at what they thought was an unfolding terror plot, that they tried to convince their superiors to investigate deeper. These agents were either ignored, threatened, or fired. Each of these FBI agents thought that they were on the trail of an Arab terror plot and unless they've read this paper, they probably still believe so. We can forgive them their ignorance if they haven't realized yet that the trail they were on was not that of Arab terrorists, but rather Mossad agents impersonating Arab terrorists. (much more on that later!) The essential point is that these agents were on to something big that someone didn't want them to digging into. There is FBI Special Agent Robert Wright. The public interest law firm Judicial Watch is representing agent Wright. Wright claims that he was met with retaliation and threats from his bosses and from the Justice Department who told him they wanted his probes to go no further. (124) Wright maintains that if his investigation had been allowed to continue, the attacks could have been prevented. Agen-agen lapangan FBI adalah ‘’orang-orang yang baik’’. Ini sangatlah mengada-ada (menjilat?), pejabat tinggi yang lemahlah yang telah menyelewengkan institusi ini. Pada minggu dan bulan-bulan yang kriris pada masa-masa yang menetukan, banyak petunjuk-petunjuk yang diambil oleh agenagen FBI lokal di lapangan. Beberapa dari agen-agen ini ditekankan bahwa apa yang mereka selidiki
66

adalah suatu skenario terrror yang membentang, mereka berusaha untuk meyakinkan mengenai superioritas mereka dalam menyelidiki lebih dalam. Agen-agen ini diabaikan,, diancam, atau dipecat. Setiap agen-agen FBI in berpikir bahwa mereka mencari jejak skenario terror Arab, kecuali yang membaca tulisan ini, mereka mungkin saja masih berpikir demikian. Kita dapat memaafkan ketidakpedulian mereka jika mereka belum menyadarinya bahwa jejak yang mereka cari bukanlah terrorist Arab, namun mereka lebih baik dari agen-agen Mossad yang memfitnah orang Arab sebagai terrorist (diterangkan lebih banyak nanti!). Poin terpentingnya adalah agen-agen ini terkungkung didalam sesuatu yang yang besar dimana seseorang tidak menginginkan mereka menggali lebih jauh lagi. Adalah Agen Spesial Robert Wright. Firma hukum masyarakat Judicial Watch menampilkan agen Wright. Wright mengklaim bahwa ia mengalami suatu objek pembalasan dendam dan ancaman dari bos-bosnya dan dari Departemen Kehakiman yang memperingatkannya bahwa mereka menginginkan supaya penyelidikannya yang mendalam tidak dilanjutkan lagi. (124) Wright berkeyakinan bahwa jika investigasinya terus dilanjutkan, maka serangan 9-11 tersebut dapat dicegah. There is FBI agent Coleen Rowley. The gutsy Rowley wrote a 13 page letter to FBI Director Robert Mueller in which she actually accuses the director of her own agency of "a subtle skewing of the facts". (125) Rowley's letter also charged that the agency refused to react to evidence of a pending terror plot. According to Rowley the FBI's obstruction was so blatant that her and some of her fellow agents jokingly speculated that key FBI personnel must have been moles working for Osama Bin laden! (126) Rowley’s main point of contention was the agency’s failure to go after Zacharias Moussoui, the “20th hijacker”, even after his flight school instructor reported his suspicious behavior to the FBI. Moussoui you will recall was the French Algerian who couldn’t speak French to his flight school instructor. There is FBI agent Sibel Edmonds. Edmunds was an FBI wiretap translator. She claims that another FBI translator was working for the Mossad and that the Mossad also tried to recruit Edmonds to make phony translations for the purpose of misdirecting investigations. When agent Edmonds refused, the Mossad threatened her safety! (127) When she brought these allegations to the attention of her superiors, she was fired for being “disruptive“. The Washington Post briefly reported this story without mentioning the name of nation that tried to recruit Edmonds. But The Post did reveal that Edmonds and the other translator “trace their ethnicity” to this certain "Middle Eastern" country. (128) Agent Sibel Edmunds is not an Arab. Edmonds is jewish. Therefore we know that the “Middle Eastern” nation which the Post chose not to name is Israel. (No big surprise there!) Sibel Edmonds deserves a lot of credit for defying the Mossad and blowing the whistle to her superiors. Instead, she was fired for her patriotic efforts, proving once again that Zionists are willing to hurt innocent jews. Ada lagi agen FBI Coleen Rowley. Si pemberani Rowley (seorang wanita! --- penerjemah) menulis surat sebayak 13 halaman kepada Direktur FBI Robert Muller bahwa ia dituduh oleh direktur institusi dimana ia bekerja melakukan ‘’suatu pembengkokan fakta-fakta’’. (125) Surat Rowley juga menyatakan bahwa agensi menolak untuk bereaksi kepada bukti-bukti dari suatu skenario plot. Berdasarkan kepada rintangan-rintangan yang sangat jelas dari FBI terhadap Rowley, ia dan beberapa orang koleganya dengan bergurau berspekulasi bahwa petugas kunci FBI haruslah menjadi tikus-tikus yang bekerja untuk Osama Bin Laden! (126) Poin utama perdebatan Rowley ini adalah bahwa agensi telah gagal menindaklanjuti Zacharias Moussaoui, ‘’si pembajak ke-20’’ walaupun setelah instruktur penerbangannya melaporkan perilakunya yang mencurigakan kepada FBI. Moussaoui yang dimaksud adalah seorang Aljazair-Perancis yang tidak bisa berbahasa Perancis kepada instrukturnya sekolah penerbangan. Ada lagi agen FBI Sibel Edmonds (seorang wanita juga! --- penerjemah). Ia adalah seorang penerjemah penyadapan FBI. Ia mengklaim bahwa penerjemah yang lain bekerja untuk Mossad dan bahwa Mossad juga berusaha untuk merekrutnya untuk menyadap telepon yang bertujuan untuk
67

mengubah arah / mengacaukan penyelidikan. Ketika agen Edmonds menolaknya, Mossad mengancam keselamatannya ! (127) Ketika ia membawa masalah ini kepada atasannya untuk diperhatikan, ia dipecat karena ‘’melakukan perbuatan yang mengakibatkan perpecahan’’. The Washington Post dengan singkat melaporkan kisah ini tanpa menyebutkan negara yang akan merekrut Edmonds. Namun The Post mengungkap bahwa Edmonds dan penyadap yang lainnya ‘’mencari jejak etnisnya’’ kepada negara tertentu di‘’Timur-Tengah’’. (128) Agen Sibel Edmonds bukanlah seorang Arab. Edmonds adalah seorang Yahudi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa negara ‘’Timur Tengah’’ yang tidak disebutkan Washington Post adalah Israel. (Bukanlah sesuatu yang mengejutkan!) Sibel Edmonds menerima resiko besar dengan menolak Mossad dan melaporkannya kepada atasannya. Akibatnya ia dipecat untuk usahanya yang patriotis tersebut, hal ini membuktikan sekali lagi bahwa Zionist tidak segan-segan untuk menyakiti orang Yahudi yang tak bersalah. There is FBI agent John M. Cole, program manager for FBI intelligence investigations covering India, Pakistan, and Afgahinstan. In the same Washington Post story about Edmunds, it was reported that Cole also wrote a letter to FBI chief Mueller warning him about lax security procedures in the hiring of translators. (129) Dedicated agents such as Wright, Rowley, Cole, Edmonds and others who have spoken anonymously, had to be stopped from going after “Muslim terrorists”. If not so obstructed, they would in time come to discover that they weren’t really Al Qaeda terrorists!! Not only were investigations blocked before 9-11, but they continue to be blocked after 9-11. The cover up is so blatant that members of both the House and Senate Intelligence committees complains directly to CIA Director George Tenet and Attorney General John Ashcroft. The Los Angeles Times reported: "Lawmakers leading the investigation of intelligence failures surrounding the 9-11 attacks are increasingly concerned that the CIA and Justice department are actively impeding their efforts....The flare up centers on obstacles congressional investigators say the agencies have strewn in their path." (130) That's exactly what FBI agents Wright, Rowley, Edmunds, and Cole said happened to them when they tried to investigate before the attacks! By the way, did I mention that the FBI is under the jurisdiction of yet another Zionist named Michael Chertoff? Chertoff is the Director of the Criminal Division of the US Justice Department. FBI chief Mueller has to answer to Chertoff. Ada lagi agen FBI John M. Cole, manajer program investigasi intelejen FBI yang mencakup India, Pakistan dan Afghanistan. Dalam kisah yang sama di Washington Post dengan Edmonds, dilaporkan bahwa Cole juga menulis surat kepada ketua FBI Muller yang memperingatkannya tentang lemahnya prosedur dalam merekrut para penerjemah penyadap. (129) Agen berdedikasi seperti Wright, Rowley, Cole, Edmonds dan yang lainnya yang tidak bisa disebutkan namanya, dihentikan dalam menyelidiki ‘’Terrorist Muslim’’. Jika tidak dihalang-halangi mereka pada waktunya dapat mengungkapkan bahwa mereka bukanlah terrorist Al Qaeda ! Bukan saja penyelidikan yang diblok sebelum peristiwa 9-11, tetapi mereka meneruskannya setelah peristiwa 9-11. Penutupan ini sangat jelas menyebabkan komite Intelejen Senat komplain kepada Direktur CIA George Tenet dan Jaksa Agung John Ashcroft. The Los Angeles Times melaporkan : ‘’Para penentu kebijakkan yang memimpin penyelidikan terhadap kesalahan intelejen selama penyerangan 9-11 adalah adalah terutama CIA dan Mahkamah Agung yang secara aktif merintangi usaha-usaha penyelidikan mereka ini…. Pusat rintangan para penyelidik kongress mengatakan agensi telah kehilangan jejak mereka’’. (130) Tepatlah seperti yang dikatakan agen-agen FBI Wright, Rowley, Edmunds, dan Cole yang menimpa mereka ketika mencoba untuk menyelidiki sebelum terjadinya penyerangan !
68

Sudahkah saya mengatakan bahwa FBI dibawah juridiksi (payung hukum) dari seorang Zionist yang lainnya yang bernama Michael Chertoff? Chertoff adalah Direktur Divisi Kriminal di Departemen Kehakiman AS. Ketua FBI Muller berada dibawah Chertoff.

WHAT ARE THEY HIDING AND WHY? APA YANG MEREKA SEMBUNYIKAN DAN MENGAPA ? LEFT TO RIGHT: BUSH, CIA DIRECTOR TENET, ATTORNEY GENERAL ASHCROFT, AND FBI DIRECTOR MUELLER HAVE ALL BLOCKED 9-11 INVESTIGATION. KI-KA : BUSH, DIREKTUR CIA TENET, JAKSA AGUNG ASHCROFT, DAN DIREKTUR FBI MULLER SEMUANYA MEM-BLOK PENYELIDIKAN PERISTIWA 9-11 FOXMAN’S FAMOUS FLUNKIES PENJILAT – PENJILAT FOXMAN YANG TERKENAL Working hand in hand with the Zionist run media and the Zionist Congressional Lobby (AIPAC), is the Mossad affiliated Anti-Defamation League (ADL). Though professing to be a civil rights organization interested only in protecting individual freedom and resisting bigotry, the ADL is in reality a political attack group that specializes in destroying the careers and reputations of anyone (jews and non-jews alike) who criticizes Zionism or Israel. The ADL’s current Director Abe Foxman has declared: “AntiZionism is Anti-Semitism. Period.“ (130B) In a furious response to the growing worldwide speculation about Zionist involvement in 9-11, Dishonest Abe added: “When we first heard of the charge that Jews, Israel and the Mossad was responsible for the Sept. 11 attacks, most of us chuckled. But it didn't take long to realize that it was not a joking matter that it wasn't anything to laugh about. Today you can travel the Arab world, Asia, and Europe, and read in newspapers and hear on radio and TV the big hideous lie that has become a truth --that Jews bring about a situation in their interest in order to put the blame on somebody else. How classically antiSemitic! (130C) Bekerja beriringan dengan media yang dikendalikan Zionist dan lobi kongres Zionist (AIPAC), adalah Anti-Defamation League (ADL) yang berafiliasi dengan Mossad. Walaupun profesinya ditujukkan untuk organisasi hak-hak sipil yang tertarik hanya kepada kebebasan individu dan melawan kefanatikan terhadap agama, ADL pada kenyataannya adalah suatu kelompok penyerang politik yang memiliki spesialisasi menghancurkan karir dan reputasi siapapun (baik Yahudi maupun non-Yahudi) yang mengkritisi Zionisme dan Israel. Direktur ADL yang sekarang adalah Abe Foxman yang mendeklarkan :’’Anti-Zionisme adalah Anti-Semitisme. Period.’’ (130B) Dalam suaru respon yang sangat marah terhadap spekulasi yang berkembang di seluruh dunia tentang keterlibatan Zionist dalam penyerangan 9-11, pembohong Abe menambahkan: ‘’Ketika pertama kali kita mendengar tuduhan kepada Yahudi, Israel dan Mossad yang bertanggung jawab terhadap serangan 11 September, kebanyakan dari kita tertawa dengan mulut yang tertutup. Tetapi tidak butuh waktu yang lama untuk menyadari bahwa hal tersebut merupakan suatu gurauan
69

yang tak patut untuk ditertawakan. Sekarang Anda boleh bepergian ke dunia Arab, Asia dan Eropa, dan bacalah media massa atau dengar di TV mengenai kebohongan besar yang tersembunyi menjadi suatu kebenaran --- bahwa orang-orang Yahudi menyebabkan suatu situasi demi tujuannya dan menyalahkan pihak lain. Betapa anti-Semitnya ! ‘’ (130C) When Foxman starts raving and ranting “anti-semitism…anti-semitism”, it usually a good indication that some brave soul has struck a nerve by daring to tell the truth about the Zionist mafia. When Foxman and his gang cry “anti-semitism”, politicians and journalists tremble. The ADL not only defines “anti-Semitism”, but also tells writers and political figures what to think and who to blame for “terrorist attacks”. The list of political luminaries that Foxman carries around in his hip pocket like so many spare coins is truly impressive. This explains FBI Director Mueller’s highly pathetic, and revealing, speech before the ADL’s 24th Annual National Leadership Conference held in May of 2002: “I have long admired and respected the work of ADL, and I appreciate your longstanding support of the FBI. I know that under my predecessor, Louis Freeh, this partnership reached new heights. . . . I am absolutely committed to building on that relationship. We in the FBI tremendously value your perspectives and your partnership. Your insights and research into extremism are particularly helpful to us, shedding light on the changing nature of the terrorist threats facing America. Your support of hate crime and terrorist investigations, which are now front and center in the work of the FBI, is essential to us. And the training and education you provide for the FBI and for law enforcement have never been more relevant. That includes the conference on extremist and terrorist threats you are sponsoring this month at the FBI Academy.” (131) Ketika Foxman memulai mengigau dan berpidato tak karuan tentang ‘’anti-semit….anti-semit’’, hal ini biasanya indikasi kuat bahwa beberapa jiwa pemberani telah diserang karena dengan berani mengatakan yang sebenarnya tentang mafia Zionist. Ketika Foxman dan genk-nya berteriak ‘’antisemit’’, para politisi dan jurnalis menjadi gemetar. ADL tidak hanya mendefinisikan arti ‘’anti-semit’’, tetapi juga mengatakan kepada para penulis dan figur politisi apa yang harus pikirkan dan siapa yang harus disalahkan sebagai ‘’pelaku terror’’. Daftar politisi yang terdapat dalam saku pinggulnya Foxman seperti banyaknya koin adalah sangat luar biasa. Ini merupakan suatu penjelasan mengenai begitu menyedihkannya Direktur FBI, dan pengungkapan, berpidato sebelum Konfrensi Tahunan Kepemimpinan Nasional ADL yang ke-24 yang terjadi bulan Mei 2002 : ‘’Saya telah lama mengagumi dan menghormati kerja ADL, dan saya menghargai kerjasama yang lama terbina dengan FBI. Saya mengetahuinya dari pendahulu saya Louis Freeh, partnership ini telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi…Saya benar-benar berkomitmen untuk membangun kerjasama yang seperti itu. Kami di FBI benar-benar sangat menghargai perspektif dan kerjasama Anda. Kesadaran dan riset Anda mengenai ekstrimisme benar-benar sangat membantu kami, mengalirkan cahaya alam mengenai ancaman terrorist yang dihadapi Amerika. Bantuan Anda dalam membenci kriminalitas dan investigasi terrorist yang sekarang merupakan barisan depan dan pusat dari kerja FBI, merupakan essensi yang sangat mendasar bagi kami. Serta pelatihan dan pendidikan Anda membuktikan kepada FBI dan upaya penegakkan hukum bahwa tidak ada yang lebih relevan lagi dari hal tersebut. Itu mencakup konfrensi mengenai ekstrimist dan ancaman terrorist yang Anda sponsori bulan ini di Akademi FBI.’’ (131) Just shoot me now! The FBI is in “partnership” with the Zionist ADL and relies upon this smear group for “insights, research, education and training! “ Over at the CIA, the situation isn’t much better, perhaps even worse! Just listen to CIA Director George Tenet express his love for ADL Director Abe Foxman at a dinner in Foxman’s honor: "I searched for a Greek word that best captures the way I feel, and it suddenly came to me...The word, from ancient Greek, is 'rabbi.' …… 'rabbi' means 'my teacher,' not just 'teacher,' but 'my
70

teacher.' And Abe, that is what you have been to me and to so many others in this room. You have...educated me about anti-Semitism and made me understand it far better than I ever did before, and like the greatest of rabbis, you just don't teach the ethical precepts of the Torah, you live them." (131B) (emphasis added) Astaga, tembaklah saya sekarang juga! FBI dalam ‘’kerjasama’’ dengan ADL Zionist dan percaya kepada kelompok pemfitnah ini mengenai ‘’kesadaran, riset, pendidikan, dan pelatihan!’’ Di CIA keadaannya tidaklah lebih baik, mungkin lebih buruk ! Dengarlah apa kata Direktur CIA George Tenet yang menkspresikan rasa cintanya untuk Direktur Abe Foxman dalam suatu makan malam penghargaan untuk Foxman : ‘’Saya telah mencari satu kata dari Bahasa Yunani yang merupakan penemuan terbaik yang pernah saya rasakan, dan tiba-tiba mendatangiku……Kata yang berasal dari Yunani kuno, adalah ‘rabbi’…. ’rabbi’ berarti ‘guruku’, tidak hanya guru tetapi ‘guruku’. Dan Abe, untuk itulah arti Anda bagi diriku dan banyak yang lainnya dalam ruangan ini. Anda telah …mendidikku tentang anti-Semiisme dan membuatku lebih memahami dibandingkan sebelumnya, dan seperti juga rabbi-rabbi terbesar yang lainnya, Anda bukan hanya mengajarkan persepsi etis dari Taurat, tetapi Anda hidup didalamnya.’’ (131B) (penekannan ditambahkan) When you’re finished throwing up, I have more declarations of love and affection for the known criminal, slanderer, liar, and Israeli agent Foxman, issued by some of the most powerful men in America. At that same dinner, then president Bill Clinton said this: “Abe, throughout your life you've been a guiding light to the people of our nation, to the citizens of Israel, and to those fighting for peace and justice around the world." (131C) (emphasis added) Jika Anda telah berhenti muntah-muntah, saya memiliki lebih banyak pernyataan cinta yang ditujukan kepada kriminal, pemfitnah, pembohong, dan agen Israel Foxman, pernyataan cinta tersebut diutarakan oleh beberapa orang terkuat di Amerika. Pada acara makan malam yang sama, presiden Bill Clinton berkata : ‘’Abe disepanjang hidupmu Anda telah membawa cahaya kepada masyarakat bangsa kami, kepada warga Israel, dan kepada orang-orang yang berjuang untuk perdamaian dan keadilan diseluruh dunia.’’ (131C) (penekanan ditambahkan) St. Rudy the Recycler added: "I thank Abe for the people of the City of New York, and personally, for all that he's done…”:(131D) Future president, then Texas governor, George Bush paid his ass-kissing tribute to Foxman too: "Throughout the years, you have prodded the conscience of the world.” (131E) At a 2001 ADL conference, Attorney general John Ashcroft thanked the ADL: "I want to express personally my gratitude, my gratitude to the ADL for its assistance that it provides to us.” (131F) Study some of the above comments closely. “Partner”… “My rabbi” …“Guiding Light to our nation”…. “Prodder of the Conscience of the World.” Is this the language of sincere admiration? Or does it sound more like the type of exaggerated flattery that awestruck subordinates might use to please and pacify a demanding boss? Think about it. Didn’t anyone ever tell these important public officials of ours that when the FBI raided the California offices of the ADL in 1993, they found that the ADL had computerized files on nearly 10,000 people across the country, and that more than 75 percent of the information had been illegally obtained from police, FBI files and state drivers license data banks? (132) Are they not aware that the San Francisco Superior Court awarded $150,000 in court judgments against the Anti-Defamation League in connection with this FBI bust? (133)
71

What other group in America could get away with not only stealing FBI files (a Federal offense!), but then becoming “partners” with the FBI? What purpose would the ADL have for these files? Why would men like FBI Director Mueller, Attorney General Ashcroft, CIA Director Tenet, and Presidents Clinton and Bush disregard the fact that the ADL is a criminal group that was caught spying on US citizens by their own FBI? Why does Mueller ignore the insights of his own agents while thanking the criminal and slanderous ADL for it’s “advice“? It’s because Mueller, Tenet, Ashcroft, Bush, Clinton, Giuliani etc. are empty, careerist “yes men” who understand that it doesn’t pay to defy the Zionist Mafia, lest Foxman and his Mossad buddies reveal some juicy little secret to the Zionist media, a secret contained in those stolen FBI files. These obedient ass-kissers are promoted and honored by the Zionist controlled media, while honest field agents like Wright, Rowley, Edmonds and Cole go nowhere! St. Rudi si pendaur ulang berkata : ‘’Saya berterima kasih kepada Abe sebagai wakil dari penduduk kota New York, dan secara pribadi, bagi semua yang telah ia lakukan…’’(131D) Presiden masa depan, kemudian Gubernur Texas, George Bush menjilat Foxman juga : ‘’Selama bertahun-tahun, Anda telah membawa kesadaran kepada dunia’’ (131E) Dalam suatu konfrensi ADL tahun2001, Jaksa Agung John Ashcroft berterima kasih kepada ADL : ‘’Saya ingin mengekspresikan rasa bersyukur saya secara pribadi, rasa bersyukur kepada ADL atas pendampingannya yang melengkapi kami.’’(131F) Pelajari beberapa komentar diatas secara cermat. ‘’Partner’’…’’Rabbiku’’…’’Membawa Cahaya kepada bangsa kami’’…’’Membawa Kesadararan kepada Dunia.’’ Apakah seluruh bahasa ini merupakan pemujaan/pengaguman? Atau terdengar seperti sebentuk sanjungan yang dilebihlebihkan yang penuh hormat dari bawahan yang digunakan untuk menyenangkan dan mendamaikan hati seorang bos? Pikirkanlah. Adakah yang pernah memberitahukan ketika FBI menggasak kantor ADL di California tahun 1993, mereka menemukan ADL telah mengkomputerisasi arsip-arsip sekitar 10.000 warga di seluruh negara, dan lebih dari 75 persennya secara illegal diperoleh dari polisi, arsip FBI dan bank data surat ijin mengemudi ? (132) Apakah mereka tidak menyadari bahwa Dewan Kehakiman San Fransisco akan mendenda $150.000 di pengadilan kepada ADL dalam hubungannya dengan patung FBI ini? Apa yang kelompok lain tak dapat lolos dari bukan hanya mencuri arsip-arsip FBI (suatu penyerangan terhadap Federal), namun kemudian menjadi ‘’partner’’ dengan FBI? Tujuan apa dari ADL memiliki arsip-arsip ini ? Apa yang membuat orang-orang seperti Direktur FBI Muller, Jaksa Agung Ashcroft, Direktur CIA Tenet, dan Presiden Bill Clinton dan Bush mengabaikan fakta bahwa suatu kelompok kriminal tertangkap memata-matai warga negara AS melalui FBI-nya sendiri? Mengapa Muller mengabaikan pandangan dari agenya sendiri sementara ia berterimakasih kepada kriminal ADL pemfitnah untuk ‘’nasihatnya’’ ? Adalah karena Muller, Tenet, Ashcroft, Bush, Clinton, Giulliani, dan lainnya adalah hampa, peng-karir ‘yes men’ yang mengerti bahwa tidak ada gunanya menentang Mafia Zionist, kalau-kalau Foxman dan jasad-jasad/kacung-kacung Mossad mengungkapkan rahasia kecil yang memalukan kepada media, berisikan suatu rahasia yang dicuri dari arsi-arsip FBI. Penjilat-penjilat yang patuh ini dipromosikan dan dihargai oleh media Zionist, sementara agen lapangan yang jujur seperti Wright, Rowley, Edmonds, dan Cole tidak tahu bagaimana nasibnya !

72

FOXMAN’S FAMOUS FLUNKIES PENJILAT-PENJILAT FOXMAN YANG TERKENAL CLOCKWISE: FBI DIRECTOR MUELLER, NEW YORK MAYOR GIULIANI, ADL DIRECTOR FOXMAN, CIA DIRECTOR TENET, PRESIDENT CLINTON. PRESIDENT BUSH, ATTORNEY GENERAL ASHCROFT. SEARAH JARUM JAM : DIREKTUR FBI MULLER, WALIKOTA NEW YORK GIULIANI, DIREKTUR FOXMAN, DIREKTUR CIA TENET, PRESIDEN CLINTON, PRESIDEN BUSH, JAKSA AGUNG ASHCROFT. THE ANTHRAX LETTERS: ANOTHER ANTI-ARAB FRAME UP SURAT ANTHRAX : PENGKAMBIMBING HITAMAN YANG ANTI-ARAB YANG LAINNYA On October 3, 2001, an Egyptian-American scientist named Dr. Ayaad Assaad sat terrified in a vaultlike interrogation room at an FBI office in Washington D.C. It was not yet known that a pair of letters containing deadly anthrax had been mailed to NBC Newsman Tom Brokaw and US Senator Tom Daschle. Five people would die as a result of the anthrax mailings which had been mailed from New Jersey. Billions of pieces of mail were delayed, costing the US Post Office to suffer huge losses. The news media ran nothing but anthrax stories night and day. Politicians and commentators speculated that Osama Bin Laden or Saddam Hussein were behind the letters. Why was the FBI questioning Asaad? Before the anthrax murders were committed, someone had sent the FBI an anonymous letter accusing Dr. Assaad of being a bio-terrorist with a grudge against the United States. (134) Tanggal 3 Oktober 2001, seorang ilmuwan Amerika –Mesir yang bernama Dr. Ayaad Assaad duduk dengan takutnya di ruang bawah tanah kantor FBI di Washington DC. Belum diketahui bahwa sepasang surat yang berisikan racun anthrax yang mematikan telah dikirim ke wartawan NBC Tom Brokaw dan Senator AS Tom Daschle. Lima orang tewas sebagai hasil dari surat anthrax yang dikirim dari New Jersey. Milyaran surat menjadi tertunda, menyebabkan Dinas Kantor Pos AS mengalami
73

kerugian yang sangat besar. Media berita tidak memberitakan apapun kecuali tentang anthrax di siang dan malam. Para politikus dan komentator berspekulasi bahwa Osama Bin Laden-lah atau Saddam Hussein dibalik aksi ini. Mengapa FBI menanyai Asaad ? Sebelum pembunuhan anthrax terjadi, seseorang telah mengirim FBI surat kaleng menuduh Dr. Assaad adalah seorang bio-terrorist yang memiliki dendam kepada Amerika Serikat. (134) The letter was sent on September 25th - before the first anthrax case was even diagnosed. The FBI agents soon were convinced that the anonymous letter was a hoax and a frame up attempt. Assaad was cleared of suspicion and released. Assaad later told The Hartford Courant of Connecticut: '“I was so angry when I read the letter, I broke out in tears. Whoever this person is knew in advance what was going to happen and created a suitable, well-fitted scapegoat for this action. You do not need to be a Nobel Laureate to put two and two together." (135) If we find out who would have wanted to frame Dr. Assad in particular, and Arabs in general, we will likely find out who was behind the anthrax murders. That the wording of the anthrax letters was contrived in such a manner as to frame Arabs/Muslims is so self evident that even a mentally retarded child could see through it. Here is the wording of the Daschle letter: "You cannot stop us. We have this anthrax. You die now. Are you afraid? Death to America. Death to Israel. Allah is great." (136)……. and the Brokaw letter: "This is next. Take Penacilin now. Death to America. Death to Israel. Allah is great." (137) Surat dikirim pada tanggal 25 September, bahkan sebelum kasus anthrax pertama diperiksa. Agen FBI segera diyakinkan bahwa surat kaleng tersebut adalah sebuah gurauan dan upaya pemfitnahan. Assaad dibebaskan dari tuduhan dan dilepaskan. Assaad kemudian menceritakannya kepada The Hartford Courant di Connecticut : ‘’Saya begitu marah ketika saya membaca surat itu, saya menangis. Siapapun orang ini sangat mengetahui apa yang sedang terjadi dan membuat menjadi layak, sangat sesuai untuk aksi ini. Anda tidak usah menjadi seorang Nobel Laureate untuk menyatukannya.’’ (135) Jika kita mencari siapa yang memfitnah Dr. Assaad secara khusus dan Arab pada umumnya, kita akan menemukan juga siapa yang dibalik pembunuhan anthrax. Bahwa kata-kata didalam surat anthrax adalah dicari-cari sedemikian rupa untuk memfitnah Arab/Muslim adalah membuktikan dirinya sendiri bahkan seorang anak yang mentalnya lamban dapat melihatnya. Inilah kata-kata dari surat Daschle : ‘’Kalian tak dapat menghentikan kami. Kami mempunyai anthrax ini. Kamu mati sekarang. Apakah kamu takut ? Kematian bagi Amerika. Kematian bagi Israel. Allahu Akbar’’. (136)….dan surat Brokaw : Ini adalah yang selanjutnya. Ambil Penacilin sekarang juga. Kematian bagi Amerika. Kematian bagi Israel. Allahu Akbar.’’ (137) Give me a break!!!!!!!!! Ask yourself. Who would want to frame Arabs? Who would want to link the interests of the US and the interests of Israel in the obvious way these ridiculous letters attempt to? Remember the Lavon Affair? Remember the USS Liberty? Remember the dancing Israelis? Remember Netanyahu's saying 9-11 was good for US-Israeli relations? A good place to start searching would be the US bio-weapons lab at Fort Detrick, MD. The Ames strain of anthrax has in fact been traced to Fort Detrick, where Assaad once worked until he was laid off in 1997. After he was let go from Fort Detrick, Assaad filed a federal discrimination suit based upon the brutal abuse and harassment that he had endured from some highly suspicious co-workers. In 1991, Assaad found an 8 page poem in his mailbox which became a courtroom exhibit. The poem had 235 lines, many of them lewd and sexually explicit, mocking Assaad. Along with the poem, the perpetrators left Assaad a rubber camel with a large penis attached to it. (138) This was an obvious
74

attempt to mock Assaad’s Arab ethnicity. Assaad said that when he brought the poem to the attention of his supervisor, Col. David Franz, Franz kicked him out of his office! (139) Now these weren’t immature college kids doing this. This outrageous emotional abuse was carried out by highly trained scientists who obviously wanted Aassad out. Yang benar saja !!!!!!!!! Tanya dirimu sendiri. Siapa yang ingin memfitnah Arab ? Siapa yang ingin menghubungkan antara kepentingan AS dan kepentingan Israel yang dengan cara yang jelas sekali melalui percobaan surat menggelikan itu? Ingat akan Lavon Affair ? Ingat akan USS Liberty ? Ingat tarian Israel ? Ingat akan perkataan Netanyahu bahwa peristiwa 9-11 adalah bagus untuk hubungan AS-Israel? Satu tempat yang tepat untuk mulai mencari tahu adalah laboratorium senjata-biologi AS di Fort Detrick, MD. Hubungan kasus anthrax dapat ditelusuri sampai kepada Fort Detrick, dimana Assaad pernah bekerja disana hingga mengundurkan diri tahun 1997. Setelah ia meninggalkan Fort Detrick, Assaad mengadu kepada pengaduan diskriminasi federal terhadap tuduhan brutal dan pelecehan yang ia terima dari rekan kerja yang sangat dicurigai. Pada tahun 1991, Assaad menemukan 8 halaman puisi di kotak suratnya yang menjadi tontonan di ruang sidang. Puisi itu mempunyai 235 baris, banyak diantaranya tentang nafsu dan sex vulgar, mengejek Assaad. Sejalan dengan puisi itu, si pembuat meninggalkan unta karet dengan penis besar yang ditempelkan. (138) Hal ini jelas usaha untuk mengejek kesukuan Arab-nya Assaad. Assad mengatakan hal tersebut ketika ia membawa puisi yang diperlihatkannya kepada supervisornya, Kol. David Franz. Franz mengusir si pembuat puisi itu dari kantornya! (139) Sekarang jelaslah bukan hanya siswa yang tak dewasa yang bisa melakukan itu. Fitnah yang membuat marah emosi ini diciptakan oleh ilmuwan yang sangat terlatih yang menginginkan Assaad keluar. One of the scientists known to have been a leader in the horrible attacks on Dr. Assaad was Dr. Lt. Col. Philip Zack. Philip Zack was to "voluntarily" leave Fort Detrick shortly after Assaad brought Zack’s poem and camel to the attention of his supervisors. (140) Strike one on Dr. Zack! In an completely unrelated matter, another Fort Detrick researcher, Dr. Mary Beth Downs told army investigators that on several occasions in January and February of 1992, she had come to work several times to discover that someone had been conducting anthrax research after hours. (141) Seorang ilmuwan yang diketahui memimpin serangan yang mengerikan terhadap Dr. Assaad adalah Dr. Letkol. Phillip Zack. Phillip Zack ‘’secara sukarela’’ meninggalkan Fort Detrick segera setelah Assaad membawa puisi dan unta-nya Zack kepada supervisornya. (140). Satu pukulan kepada Dr. Zack ! Dalam suatu kasus yang tak ada hubungannya sama sekali, periset Fort Detrick yang lainnya, Dr. Mary Beth Downs melapor kepada tentara penyelidik bahwa dalam beberapa kesempatan bulan Januari dan Februari 1992, ia telah beberapa kali ketika bekerja menemukan bahwa seseorang mengatur riset anthrax selama berjam-jam. (141) Who could that have been? Documents from that 1992 inquiry confirm that an unauthorized person was observed on a surveillance camera being let into the lab at 8:40 PM on January 23, 1992. Who was this unauthorized person caught sneaking into the bio-weapons lab, during the same time period that anthrax research was being done after hours? None other than Lt. Col. Philip Zack! (142) The same Zack who was forced to resign a year earlier because of his horrible abuse of Dr. Assaad. Strike two on Dr. Zack! Why would Dr. Zack and others have such an animosity towards Dr. Assaad? What would motivate him to help write a 235 line hate poem? What motive would he have to frame Arabs for the deadly anthrax murders? Well, some research into the name "Zack" reveals that it is a fairly common jewish surname, derived from the Old Testament "Zacharias". Dr. Zack is jewish, and given his obvious,
75

fanatical hatred of Arabs - we can safely deduce that he is a hard core Zionist. Strike three on Dr. Zack! Siapa yang membiarkan ini terjadi ? Dokumen-dokumen dari pemeriksaan tahun 1992 menyatakan bahwa seorang yang tidak memiliki otoritas diamati dari satu kamera pengawas yang masuk kedalam lab pukul 8:40 pagi tanggal 23 Januari 1992. Siapakah orang yang tak memiliki otoritas ini yang menyelinap kedalam laboratorium senjata-biologi, selama periode yang sama dimana riset anthrax telah selesai selama berjam-jam ? Tidak lain adalah Letkol Philip Zack! (142) Zack yang sama yang meminta mengundurkan diri setahun sebelumnya karena hinaan yang mengerikan terhadap Dr. Assaad. Pukulan kedua untuk Zack! Mengapa Dr. Zack dan lainnya memiliki kebencian terhadap Dr. Assaad? Apa motivasi mereka menulis 235 baris puisi kebencian ? Motive apa yang menjadikan ia memfitnah Arab untuk surat anthrax yang mematikan itu ? Baiklah, suatu riset menuju nama ‘’Zack’’ mengungkap bahwa nama tersebut merupakan nama umum Yahudi, variasi dari Perjanjian Lama ‘’Zacharias’’. Dr. Zack adalah seorang Yahudi, dan menerangkan dengan jelas, kebencian fanatik terhadap Arab – ia dengan mudah dapat disimpulkan sebagai seorang Zionist garis keras. Pukulan ketiga untuk Zack ! All of the above is public information. Assaad's 1990's legal proceedings, Dr. Down's testimony, the surveillance video of Zack sneaking into Fort Detrick one year after he had "resigned"- it's all there. The Hartford Courant exposed all of these facts (143) as did the Toronto Globe and Mail, (144) the Seattle Times, (145) and other publications. Just the facts contained in Hartford Courant story alone should be enough to at least indict Philip Zack. So why didn't we see Dr. Zack's face on our TV screens? Why hasn’t Dr. Zack been given a lie detector test? What forces in the media and the government are protecting Zack from being exposed as the logical prime suspect? The plot thickens (and sickens) even more. It is not my intent to smear, defame, or offend jewish people here. But to not mention the ethnicity of certain players in this fantastic drama would be like writing an expose on the Italian Mafia without mentioning that it's major players are Italians. Remember, some of the Zionists’ harshest critics are themselves jewish. Dr. Assaad had been cleared and Dr. Zack was coming under a small amount of media and FBI suspicion. Enter, from stage left, one Barbara Rosenberg, a jewish environmentalist professor and political activist with no expertise in bio-warfare. (146) Rosenberg suddenly went public with the claim that she knew who the anthrax killer was. (147) She was supported in this effort by another Zionist New York Times journalist named Nicholas D. Kristof, who openly called for the arrest of Hatfill! (148) Semua hal diatas diinformasikan ke publik. Pendampingan legal Assaad tahun 1990, pengakuan Dr. Downs, hasil rekaman menyelinapnya Dr. Zack ke Fort Detrick setahun setelah ia ‘’mengundurkan diri’’ ---ada semuanya. Hanya dengan fakta-fakta yang terdapat dalam laporan Hartford Courant saja seharusnya cukup untuk setidaknya mengindikasikan Philip Zack. Jadi mengapa kita tidak melihat wajah Zack di layar TV ? Mengapa Dr. Zack tidak diberi test kebohongan ? Kekuatan media dan pemerintahan apa yang melindungi Zack untuk diekspose sebagai tersangka ? Skenario menjadi lebih tebal (dan lebih sakit) dari sebelumnya. Saya tidaklah bermaksud untuk memfitnah, menuduh atau menyerang orang Yahudi disini. Namun dengan tidak menyebutkan kesukuan dari pemain-pemain drama fantastis ini seperti menulis suatu pengeksposan Mafia Italia tanpa menyebutkan bahwa kebanyakan pemainnya adalah orang-orang Italia. Ingatlah beberapa pengkritik Zionist terpedas adalah orang Yahudi sendiri. Dr. Assaad telah dibebaskan dan Dr. Zack menjadi kecurigaan dari sejumlah kecil media dan FBI. Memasuki dari arah kiri panggung seorang Barbara Rosenberg, profesor lingkungan Yahudi dan seorang aktifis politik yang tak berpengalaman dalam perang senjata-biologi. (146) Rosenberg tibatiba menemui masyarakat dengan klaim bahwa ia mengetahui siapa pembunuh anthrax. (147) Ia didukung oleh jurnalis New York Times Yahudi lainnya yang bernama Nicholas D. Kristof, yang secara terbuka dipanggil untuk penahanan Hatfill! (148)
76

Quietly and behind the scenes, Rosenberg began directing investigators towards an American scientist named Dr.Stephen Hatfill (and therefore away from Dr. Zack). The Washington Post confirmed that it was Rosenberg who helped put authorities on the trail of the innocent Dr. Hatfill. (149) The name of Hatfill trickled forth from the news media. In a matter of weeks, the trickle became a media flood. Dr. Hatfill became a household name. Hatfill called a news conference to protest his innocence. There is not a shred of evidence against him and he passed an FBI lie detector test. (150) But the Zionist controlled media lynch mob, led by the evil Rosenberg and the yellow journalist Kristoff, continued to pursue and harass Hatfill. Dr.Hatfill may never be imprisoned, but his life and career have been destroyed by these false allegations and the media hype. Lt. Col. Zack is off the hook. What these mad Zionist scientists and their media brethren have done to Dr. Assaad and Dr. Hatfill is monstrous beyond belief. It is clear that these anthrax letters were first intended to be an anti-Arab frame up with Assaad meant to take the blame. When that didn't work, these fanatical Zionists (who always stick together like glue!) put the media and the FBI on poor Dr. Hatfill‘s back, and wrecked his career and reputation in the process. Why hasn’t Dr. Zack been given an FBI lie detector test???? Ask FBI boss and ADL’ “partner” ; Robert Mueller! Secara sembunyi-sembunyi dan di belakang panggung, Rosenberg mulai mengarahkan penyelidik kepada seorang ilmuwan Amerika bernama Dr. Stephen Hatfill (dan jauh dari Dr. Zack). The Washington Post mengkonfirmasikan bahwa Rosenberg yang menyebabkan pihak berwenang memenjarakan Dr. Hatfill yang tak bersalah. (149) Nama Hatfill mengalir dari media berita. Dalam beberapa minggu, aliran itu menjadi suatu banjir. Dr. Hatfill menjadi nama tuan rumah bagi media berita. Hatfill meminta konfrensi pers untuk memprotes mengenai ketidak bersalahannya. Tidak ada bukti yang terhampar melawannya dan ia melewati tes kebohongan FBI. (150) Namun media yang dikendalikan Zionist ‘’membunuh’’ rakyat jelata. Dipimpin oleh setan Rosenberg dan jurnalis kuning Kristoff, meneruskan mengejar dan mengganggu Hatfill. Dr. Hatfill mungkin belum pernah dipenjara, namun hidup dan karirnya telah dihancurkan oleh penuduhan-penuduhan palsu kekejaman media. Letkol Zack terhindar dari pukulan. Apa yang dilakukan ilmuwan-ilmuwan gila dari Zionist dan media sealirannya kepada Dr. Assaad dan Dr. Hatfill adalah diluar batas akal sehat. Adalah jelas bahwa surat-surat anthrax ini suatu pemitnahan yang anti-Arab dengan Dr. Assaad sebagai yang dikorbankan. Ketika hal tersebut tidak terlaksana, orang-orang Zionist fanatik ini (yang selalu lengket bersama seperti lem!) menempatkan media dan FBI kepada punggung orang malang semacam Dr. Hatfill, dan menghancurkan karir dan reputasi kedepannya. Mengapa Dr. Zack tidak diberikan tes kebohongan ????? Tanya boss FBI dan ‘’partner’’ ADL, Robert Muller!

THE ANTHRAX LETTERS: AN OBVIOUS ANTI-ARAB FRAME UP
77

KIRI : SETAN ZIONIST KRISTOFF MENCOBA UNTUK MEMFITNAH ORANG YANG TAK BERSALAH.

LEFT: EVIL ZIONIST KRISTOF TRIED TO FRAME AN INNOCENT MAN CENTER: DR. HATFILL. NO LONGER A SUSPECT, YET HIS CAREER WAS RUINED RIGHT: WHO TRIED TO FRAME DR. ASSAAD? TENGAH : DR. HATFILL. TIDAK LAGI MENJADI TERSANGKA, KEMUDIAN KARIRNYA MENURUN. KANAN : SIAPA YANG MENCOBA MEMFITNAH DR. ASSAAD ? HUNDREDS OF MOSSAD AGENTS RUNNING WILD IN AMERICA! RATUSAN AGEN MOSSAD BERKELIARAN DI AMERIKA ! We talked at length about the five Israeli "movers", i.e. Mossad agents, who were arrested and placed in solitary confinement after they were caught celebrating the 9-11 horror show. We also reviewed how the Israeli owner of Urban Moving Systems - Dominick Suter - then suddenly abandoned his “moving company” and fled for Israel on 9-14. But there were still more Israeli "movers" in America whose actions raise serious suspicions. In October of 2001, three more Israeli "movers" were stopped in Plymouth, PA because of their suspicious behavior. These "movers" were seen dumping furniture near a restaurant dumpster! When the restaurant manager approached the driver, a "Middle Eastern" man later identified as Moshe Elmakias fled the scene. (151) The manager made note of the truck's sign which read "Moving Systems Incorporated" and called the police. When the police spotted the truck, two other Israelis Ayelet Reisler and Ron Katar began acting suspiciously. (152) The Plymouth police searched the truck and found a video. The Israelis were taken into custody and the video tape was played at the police station. The video revealed footage of Chicago with zoomed in shots of the Sears Tower. (153) The police quickly alerted the FBI and it was also discovered that the Israelis had falsified travel logs and phony paperwork on them. (154) They were also unable to provide a name and telephone number for the customer that they claimed to have been working for. These Israelis were up to some sort of dirty business, and you can be sure it had nothing to do with moving furniture. Kita telah membicarakan secara panjang lebar tentang lima orang ‘’tukang angkut pindahan’’ Israel yang merupakan agen-agen Mossad, yang ditahan dan ditempatkan dalam sel tersendiri ketika mereka merayakan pertunjukan horror peristiwa 9-11. Kita juga telah mengkaji bagaimana pemilik Urban Moving System -- Dominick Suter – kemudian tiba-tiba meninggalkan ‘’perusahan angkutan pindahan’’ itu dan terbang ke Israel pada tanggal 14 September. Namun masih ada ‘’tukang angkut’’ Israel yang lainnya lagi di Amerika yang tindak-tanduknya menimbulkan kecurigaan. Bulan Oktober 2001, tiga ‘’tukang angkut’’ Israel – lagi-lagi -- dihentikan di Plymouth, PA, karena tindak-tanduknya mencurigakan. Ketiga ‘’tukang angkut’’ ini terlihat menjual furniture murah dekat sebuah restauran ! Ketika manajer restauran mendekati pengemudi, seorang ‘’berperawakan TimurTengah’’ kemudian diidentifikasi sebagai Moshe Elmakias meninggalkan TKP. (151) Si Manajer membuat catatan dari tanda di truk yang terbaca ‘’Moving System Incorporated’’ dan memanggil polisi. Ketika polisi mengincar truk itu, dua orang Israel – Ayelet Reisler dan Ron Katar – bertindak78

tanduk mencurigakan. (152) Polisi Plymouth menggeledah truk tersebut dan menemukan sebuah video. Orang-orang Israel itu dibawa ke tempat penahanan dan video tape di putar di kantor polisi. Video itu mengungkap perekaman di Chicago dengan men-zoom Sears Towers (suatu gedung tinggi kembar di Chicago). (153). Polisi kemudian memperingatkan FBI yang juga mengungkapkan bahwa orang-orang Israel ini memalsukan surat ijin untuk bepergian dan buku telepon kerja mereka. (154) Mereka juga tak dapat menyebutkan satu nama dan nomor telepon costumer yang diklaim mereka sebagai rekan kerjanya. Orang-orang Israel ini sedang melakukan suatu urusan kotor, dan Anda dapat memastikan bahwa hal tersebut tak ada sangkut pautnya dengan pemindahan furniture. On October 10, 2001, CNN made a brief mention of a foiled terrorist bomb plot in the Mexican Parliament building. They promised to bring any further developments of this story to their viewers, but the incident was never heard of again in America. But the story appeared in bold headlines on the front page of the major Mexican newspapers (155) and was also posted on the official website of the Mexican Justice Department. (156) Two terrorist suspects were apprehended in the Mexican Chamber of Deputies. Caught red-handed, they had in their possession a high powered gun, nine hand grenades, and C-4 plastic explosives (great stuff for demolishing buildings!) (157) Within days, this blockbuster story not only disappeared from the Mexican press, but the terrorists were released and deported! The two terrorists were Salvador Gerson Sunke and Sar ben Zui. Can you guess what their ethnicity was? Grson Sunke was a Mexican jew and Zui was a colonel with the Israeli special forces. (158) Can you say "Mossad?" The story in El Diario de Mexico went on to reveal that the Zionist terrorists had fake Pakistani passports on them. (159) Can you say "false flag operation?" The probable motive of this particular botched terrorist operation was to involve oil rich Mexico in the "War on Terrorism". (The War on Israel's enemies would be a more accurate description). Mexico is no military power, but the psychological trauma of an "Arab" attack on Mexico would surely have induced Mexico to provide unlimited cheap oil to her American "protector". With cheap oil flowing to America at rock bottom prices from Mexico, the US could better afford to break off relations with the oil rich Arabs in general and Saudi Arabia in particular. That‘s why the conspiracy chose so many Saudi identities to steal for the 9-11 operation.. In November of 2001, 6 more suspicious Israelis were detained in an unspecified mid-eastern state. They had in their possession box cutters, oil pipeline plans, and nuclear power plant plans. (160) The local police called in the Feds and Immigration officials took over the scene and released the men without calling the FBI. The Jerusalem Post, (161) the Miami Herald, (162) and the Times of London (163) all carried this amazing story and all revealed how furious FBI officials were that these suspects with nuclear power plant plans were allowed to go free. Of course, the corruption riddled FBI would only have caved into Zionist pressure from the Justice Department’s Criminal Division boss, Michael Chertoff, and also from the ADL’s “partner”, FBI boss Robert Mueller - who would no doubt have found a way to release those Israeli terror suspects too. Pada tanggal 10 Oktober 2001, CNN menyebut secara singkat tentang penggagalan skenario terror bom terhadap gedung Parlemen Mexico. Mereka berjanji untuk mengabarkan perkembangan kasus tersebut kepada para pemirsanya, namun hal itu tak terdengar lagi di Amerika. Tetapi laporan itu muncul dalam headline besar di beberapa surat kabar terkemuka di Mexiko. (155) dan di pasang di website Departemen Kehakiman Mexico (156). Dua tersangka terrorist ditahan di Kantor deputi Mexico. Tertangkap basah, mereka memiliki senjata berat, sembilan granat tangan, dan bahan peledak C-4 (bahan-bahan yang tepat untuk menghancurkan gedung!) (157) Dalam beberapa, laporan yang menggemparkan ini bukan hanya menghilang dari pers Mexico, namun para terrorist dilepas dan di deportasi ! Kedua terroris itu adalah Salvador Gerson Sunke dan Sar ben Zui. Dapatkah Anda menebak kesukuan/kebangsaan mereka? Gerson Sunke adalah seorang Yahudi Mexico dan Zui adalah seorang kolonel pasukan khusus Israel. (158) Bisakah Anda menyebut ‘’Mossad’’ ? Laporan dari El Diario de Mexico mengungkap bahwa terrorist Zionist memiliki passport palsu Pakistan pada mereka. (159) Dapatkah Anda berkata ‘’operasi pengkambinghitaman’’? Kemungkinan motif dari operasi terror ini adalah melibatkan negara kaya minyak Mexico dalam
79

‘’Perang Melawan Terrorisme’’. (Perang melawan musuh-musuh Israel adalah deskripsi yang lebih akurat). Mexico bukanlah negara dengan kekuatan militer, namun trauma psikologis dari serangan ‘’Arab’’ kepada Mexico sudah pasti menyebabkan memberikan minyak murah dengan jumlah tak terbatas kepada ‘’pelindung’’ Amerika-nya. Begitu minyak murah menuju Amerika dengan harga terendah di Mexico, AS akan menghentikan hubungan perdagangan dengan negara kaya minyak di Arab secara umum dan Arab Saudi khususnya. Inilah mengapa konspirasi ini mengambil begitu banyak identitas Saudi yang dicuri untuk operasi 9-11. Bulan November 2001, 6 orang Israel yang mencurigakan ditahan di suatu negara Timur-Tengah. Mereka ditahan karena kepemilikan box cutter, rencana terhadap pipa saluran minyak, dan rencana menanam kekuatan nuklir. (160) Polisi lokal mengontak Federal dan petugas keimigrasian mengambil alih kasus ini dan melepaskan mereka tanpa memberitahukan FBI. The Jarusalem Post, (161) dan The Times di London (163) menyuguhkan laporan yang luar biasa ini dan mengungkapkan betapa marahnya petugas FBI mengenai para tersangka dengan rencana menanam kekuatan nuklir dibiarkan bebas begitu saja. Tentu saja, banyaknya penyelewengan di seputar tubuh FBI disebabkan tekanan Zionist melalui boss Departemen Divisi Kriminal Kehakiman yaitu Michael Chertoff, dan juga ‘’partner’’ ADL, bos FBI Robert Muller—yang tak bisa dibantah lagi memiliki cara untuk melepas tersangka terror dari Israel. In December, 2001, the Los Angeles Times published the story of how two jewish terrorists were arrested by the FBI for plotting to blow up the office of US Congressman of Arab descent - Darrell Issa (R-CA), and a California mosque. (164) Irv Rubin and Earl Kruger of the Jewish Defense League (JDL) were charged with conspiracy to destroy a building by means of explosives. This story got brief national coverage but quickly disappeared too. These Zionists sure love blowing up buildings and killing innocent people don't they? In May of 2002, yet another moving van was pulled over in Oak Harbor, Washington near the Whidbey Island Naval Air Station. Fox News reported that the van was pulled over for speeding shortly after midnight. The passengers told the police they were delivering furniture, but because it was so late at night, the police weren't buying the story. A bomb sniffing dog was brought in and the dog detected the presence of TNT and RDX plastic explosives in the truck (great stuff for demolishing buildings!) Both Fox News (165) and the Ha'aretz newspaper of Israel (166) reported that the two "movers" were Israelis. Bulan Desember 2001, The Los Angeles Times mempublikasikan laporan mengenai bagaimana dua orang Yahudi ditahan oleh FBI dengan rencana untuk meledakkan kantor Anggota Kongres keturunan Arab yaitu Darell Issa (R-CA), dan sebuah mesjid di California. (164) Irv Rubin dan Earl Kruger dari Jewish Defense League (JDL) didakwa melakukan konspirasi menghancurkan sebuah gedung menggunakan bahan peledak. Laporan ini secara singkat tersebar ke seluruh negara dan secara cepat juga menghilang. Zionist-zionist ini sangat menyukai meledakkan gedung-gedung dan membunuh orang-orang yang tak berdosa, bukankah begitu ? Bulan Mei 2002, van berjalan lainnya muncul di Oak Harbor, Washington yang berdekatan dengan Pangkalan Udara Angkatan Laut Whidbey Island. Fox News melaporkan van muncul dengan kecepatan rendah setelah tengah malam. Para pengguna jalan mengatakan kepada polisi bahwa mereka mengirimkan furnitur, namun karena sudah terlalu malam, polisi tidak menanggapi laporan itu. Anjing pelacak bom dibawa, dan anjing itu mendeteksi keberadaan bahan peledak TNT dan RDX di truk (bahan-bahan yang tepat untuk mengahancurkan gedung !) Baik Fox News dan harian Ha’aretz di Israel (166) melaporkan bahwa dua ‘’pengangkut’’ itu adalah orang Israel. According to FOX news, throughout late 2000 and 2001, a total of 200 Israeli spies were arrested. (167) It was the largest spy ring to be uncovered in the history of the US. The Washington Post also reported that some of these Israelis were arrested in connection with the 9-11 investigation. (168) US. Carl Cameron of FOX News Channel did a excellent four part, nationally televised, series of investigations into this blockbuster scandal. But FOX pulled the investigative series after Zionist
80

groups complained to FOX executives. FOX even went so far as to remove the written transcripts of the series from its website! In it’s place was posted a chilling, Orwellian message which reads: "This story no longer exists." (169) Fortunately for the sake of history, the FOX transcripts were copied onto to many other websites and all four parts are available for your review. (see footnotes.) The FOX series and other mainstream news media sources revealed that many of these Israelis were army veterans with electronics and explosives expertise. Many of them failed lie detector tests. FBI agents told FOX that some of their past investigations were compromised because suspects had been tipped off by Israeli wiretapping specialists. It was discovered that Israeli companies such as Comverse and Amdocs have the capability to tap American telephones (great for blackmailing all those wife-cheating politicians!) FBI agents also told FOX they believed the Israelis had advance knowledge of the 9-11 attacks. (which certainly would explain why no Israelis died in the WTC) Still another US official informed FOX that some of the detained Israelis actually had links to 9-11, but he refused to describe the nature of those links. The FBI official told FOX's Carl Cameron: "Evidence linking these Israelis to 9-11 is classified. I cannot tell you about the evidence that has been gathered. It is classified information." (170) Berdasarkan kepada FOX News, sepanjang dari akhir tahun 2000 sampai tahun 2001, 200 orang mata-mata Israel telah ditangkap. (167) Itu merupakan suatu jumlah jaringan mata-mata terbesar yang berhasil diungkap dalam sejarah AS. The Washington Post juga melaporkan beberapa orang Israel ini ditahan dalam hubungannya dengan investigasi peristiwa 9-11. (168) Carl Cameron dari saluran FOX News melakukan empat bagian laporan yang brilian, disiarkan secara nasional, suatu seri penyelidikan mengenai skandal yang menggemparkan ini. Namun FOX menarik seri investigasi ini setelah kelompok Zionist berkeberatan terhadap eksekutif FOX. Bahkan FOX bertindak lebih jauh lagi dengan menghilangkan transkrip tertulis seri ini dari web site-nya sendiri ! Di situs ini dipampang pesan yang menggetirkan, pesan dari Orwellian terbaca :’’Kisah ini tidak eksis lagi.’’ (169) Untungnya demi kepentingan sejarah, transkrip FOX telah di-copy kedalam banyak situs lainnya dan empat seri investigasi dapat anda kaji. (lihat catatan kaki) Serial dari FOX tersebut serta sumber-sumber media utama yang lainnya mengungkapkan bahwa banyak dari orang-orang Israel ini merupakan veteran AD dengan keahlian elektronik dan peledakkan. Banyak diantara mereka gagal dalam tes kebohongan. Agen-agen FBI berkata kepada FOX bahwa penyelidikan-penyelidikan yang telah mereka lakukan telah melewati suatu kompromi/’’dikompromikan’’ karena para tersangka telah diselewengkan oleh spesialis penyadapan Israel. Hal ini terungkap karena perusahaan-perusahaan Israel seperti Comverse dan Amdocs memeiliki kapabilitas membobol/menguping/menyadap telepon Amerika (tepat sekali untuk memeras siapapun politisi yang melakukan perselingkuhan!) para agen FBI juga memberitahukan kepada FOX mereka yakin bahwa Israel lebih dulu memiliki informasi sebelumnya mengenai penyerangan 9-11. (yang menjelaskan dengan meyakinkan mengapa tak ada seorangpun Israel yang tewas di WTC). Masih petugas lain di AS menginformasikan kepada FOX bahwa penahanan orang-orang Israel sebenarnya memiliki hubungan kepada peristiwa 9-11, namun ia menolak untuk menjelaskan hubungan yang sesungguhnya ini. Petugas FBI berkata kepada Carl Cameron dari FOX : ‘’Bukti-bukti yang menghubungkan orang-orang Israel kepada peristiwa 9-11 adalah sangat rahasia. Saya tidak dapat mengatakan kepada Anda mengenai bukti-bukti yang telah terkumpul. Hal itu adalah informasi yang sangat rahasia.’’ (170) Then there was that small army of Israeli "art students" who were arrested for trying to sneak into secured US Federal buildings and staking out 36 Department of Defense sites. Some of these suspicious “art students” even showed up at the homes of Federal employees. (171) Ron Hatchett, a Department of Defense analyst, told Channel 11, KHOU news in Houston that he believed that the “art students” were gathering intelligence for future attacks. Here’s an excerpt from the October 1, 2001 KHOU investigative report by Anna Werner:
81

“Could federal buildings in Houston and other cities be under surveillance by foreign groups? That's what some experts are asking after federal law enforcement and security officials - nationally and in Houston - described for the 11 News Defenders a curious pattern of behavior by a group of people claiming to be Israeli art students.” “Hatchett says they could be doing what he would be doing if he were a terrorist, sizing up the situation: "We need to know what are the entrances to this particular building. We need to know what are the surveillance cameras that are operating. We need to know how many guards are at this operation, when do they take breaks?" Says Hatchett: This is not a bunch of kids selling artwork." “A former Defense Department analyst, Hatchett believes groups may be gathering intelligence for possible future attacks. "Some organization, thinking in terms of a potential retaliation against the U.S. government could be scouting out potential targets and … looking for targets that would be vulnerable." And a source tells the Defenders of another federal memo, stating that besides Houston and Dallas, the same thing has happened at sites in New York, Florida, and six other states, and even more worrisome, at 36 sensitive Department of Defense sites. "One defense site you can explain," says Hatchett, "well that was just a serendipitous, …….. Thirty-six? That's a pattern." (172) Kemudian ada sejumlah kecil tentara ‘’mahasiswa seni’’ Israel yang ditahan karena mencoba menyelinap memasuki gedung-gedung Federal AS yang terkunci dan mengacak-acak 36 tempat Departemen Pertahanan. Beberapa dari ‘’mahasiswa seni’’ yang mencurigakan ini bahkan muncul di beberapa rumah pegawai Federal. (171) Ron Hatcett, pengamat Departemen Pertahanan berkata kepada Channel 11, KHOU News di Houston bahwa ia yakin para ‘’mahasiswa seni’’ itu mengumpulkan informasi intelejen/rahasia untuk suatu penyerangan di waktu yang akan datang. Inilah kutipan dari investigasi KHOU tanggal 1 Oktober 2001 yang dilaporkan oleh Anna Werner : ‘’Mungkinkah gedung-gedung Federal di Houston dan tempat-tempat yang lainnya dibawah pengawasan suatu kelompok diluar negeri? Itulah yang dipertanyakan para ahli setelah penegakkan hukum federal dan petugas keamanan – secara nasional dan di Houston – menjelaskan untuk 11 News Defenders suatu keingintahuan mengenai tindak-tanduk dari sekelompok orang yang mengklaim sebagai mahasiswa seni dari Israel.’’ ‘’Hatchett mengatakan mereka dapat saja melakukan apa yang terrorist lakukan, melihat/memperhatikan situasi : ‘’Kita perlu tahu apa maksudnya memasuki gedung-gedung tertentu. Kita perlu tahu maksud dari kamera-kamera pengawas yang dioperasikan. Kita perlu tahu berapa orang yang terlibat dalam operasi ini, kapan mereka berhenti ? Ujar Hatchett : Itu semua bukanlah kelakuan anak-anak seni. ‘’Seorang mantan analis Departemen Pertahanan, Hatchett meyakini kelompok itu sedang mengumpulkan informasi intelejen untuk kemungkinan suatu penyerangan di masa mendatang. ‘’Beberapa organisasi, berpendapat dengan menyebutkan suatu pembalasan dendam melawan pemerintahan AS dapat saja dijadikan alasan sebagai suatu target potensial…..mencari untuk target yang mudah dilaksanakan.’’ Dan sejumlah sumber menjelaskan petugas keamanan tentang memo federal yang lainnya, menegaskan bahwa disamping Houston dan Dallas, hal yang sama juga terjadi di beberapa tempat di New York, Florida, dan enam negara bagian yang lainnya, dan yang lebih merisaukan, adalah pada 36 tempat sensitif di Departemen Pertahanan. ‘’Satu tempat pertahanan Anda masih dapat menjelaskan,’’ujar Hatchett,’’mungkin hal itu sebagai suatu yang masih bisa menenangkan,…….tapi tiga puluh enam? Ini sudah jadi pola.’’(172) A Federal memo stated that these art students may have had ties to an "Islamic terror group". (173) Remember the bombing of the King David Hotel in 1946, and how the "Arab terrorists" were actually Irgun terrorists? Remember the Zionist terrorists caught in Mexico with Arab passports? remember
82

the official motto of the Mossad - By Way of Deception Thou Shalt Do War. Are you getting the picture? Can you say "false flag operations."? Before his excellent work was silenced, FOX's Cameron reported this amazing bit of information: "Investigators within the DEA, INS, and FBI have all told FOX News that to pursue or even suggest Israeli spying is considered career suicide." (174) (emphasis added) Suatu memo Federal menegaskan bahwa para mahasiswa seni ini mungkin telah memiliki ikatan kepada kelompok terror ‘’Islam’’. (173) Ingatlah akan pemboman King David Hotel tahun 1946, dan bagaimana ‘’terrorist Arab’’ sebenarnya adalah terrorist Irgun ? Ingatlah akan terrorist Zionist yang tertangkap di Mexico dengan ber-passport-kan Arab ? Ingatlah akan motto resmi Mossad – Perang Adalah Tipu Daya. Apakah Anda sudah mendapatkan gambarnya ? Dapatkah Anda mengatakan ‘’operasi pengkambinghitaman ? Sebelum hasil kerja briliannya dihentikan, Cameron dari FOX News melaporkan sedikit informasi yang luar biasa ini : ‘’Para penyelidik di DEA, INS, dan FBI semuanya telah mengatakan kepada FOX News bahwa untuk mengejar atau bahkan menuduh orang-orang Israel sebagai mata-mata adalah membunuh karir sendiri.’’(174) (penekanan ditambahkan) Did you catch that? If an investigator dares to mention Israeli spying, he has committed career suicide! And if a journalist like FOX's Cameron dares to bring this scandal to light, he is told to shut his mouth. If they persist, they may even be called "anti-Semitic" - a label which has served as the kiss of death for many a career. This means that Zionist Mafia can do whatever it wants, whenever it wants, and however it wants - including orchestrating, financing, executing, and covering up the true story of events in the Middle East, the 9-11 massacre, and the ensuing "War on Terrorism" (war on Israel's enemies). Now do you remember the Mossad's "warning" about the 200 "Al-Qaeda terrorists" said to have been preparing major attacks in the US? (175) At the time of this writing, we are one year into the largest investigation in American history, and not one of these 200 "terrorists" has yet to be uncovered. (176) But 200 Israeli spies were uncovered, among them many military members, electronics experts, wiretapping and phone tapping specialists, and explosives experts with the skill to bring down tall buildings. (177) Logic and common sense leads to the conclusion that the "200 Al Qaeda terrorists" were in reality, 200 Zionist terrorists sent to frame the Arabs for terrorist attacks and drag America into a war. History repeats itself. But who will teach this history to the American people when the Zionists control the information industry? The Zionist Mafia and their ass-kissing careerist henchmen in media, government, academia, and business have all of the bases covered. Dapatkah Anda memahaminya ? Jika seorang penyelidik berani untuk menyebutkan kegiatan matamata Israel, ia membunuh karirnya sendiri ! Dan jika seorang jurnalis FOX seperti Cameron berani menerangkan skandal ini, ia disuruh bungkam. Jika tidak bisa juga dapat disebut sebagai ‘’antisemit’’ --- suatu label yang dilekatkan sebagai kematian bagi banyak karir. Ini berarti bahwa Mafia Zionist dapat melakukan apapun yang diinginkan, kapanpun yang diinginkan, dan bagaimanapun yang diinginkan – termasuk mengatur, membiayai, menjalankan, dan menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya di Timur Tengah, pembantaian 9-11, dan membenarkan ‘’Perang melawan Terrorisme’’ (perang melawan musuh Israel) Sekarang apakah Anda ingat akan ‘’peringatan’’ Mossad mengenai 200 ‘’terrorist Al Qaeda’’ yang mengatakan sedang bersiap-siap melakukan penyerangan besar di AS ? (175) Pada waktu yang sama dengan penulisan ini, kita satu tahun memasuki penyelidikan terbesar dalam sejarah Amerika, dan tak satupun dari terrorist telah terungkap (176) Namun 200 mata-mata Israel telah terungkap, diantara mereka adalah anggota militer, ahli elektronik, spesialis penyadap telepon dan jalurnya, dan ahli peledakkan dengan kemampuan meruntuhkan gedung-gedung tinggi. (177) Logika dan akal sehat membawa menuju kesimpulan bahwa ‘’200 terrorist Al Qaeda’’ adalah dalam kenyataannya
83

200 terrorist Zionist yang dikirim dengan maksud mengkambinghitamkan Arab untuk terror penyerangan dan menyeret Amerika kedalam suatu perang. Sejarah terulang kembali. Namun siapa yang akan memberi tahukan sejarah ini kepada orang-orang Amerika ketika Zionist mengendalikan industri informasi ? Mafia Zionist dan para penjilatnya yang demi karir di media, pemerintahan, dunia akademis, dan bisnis semuanya merupakan dasar dari usaha penutupan ini.

FRONT PAGE OF EL DIARIO DE MEXICO FOX NEWS TELEVISED REPORT OF TWO SHOWING TWO ISRAELIS BEING TAKEN ISRAELI “MOVERS” ARRESTED IN OUT OF MEXICAN CONGRESS AFTER WASHINGTON STATE BEING CAUGHT WITH EXPLOSIVES HALAMAN DEPAN EL DIARIO DE MEXICO. FOX NEWS MENYIARKAN DUA ORANG ISRAEL YANG DIKENAL ‘’TUKANG ANGKUT’’ DITAHAN DI LUAR KONGRES MEXICO SETELAH DI WASHINGTON TERTANGKAP MEMILIKI BAHAN PELEDAK ZIONISTS AND GLOBALISTS WANT TO TRICK AMERICA INTO WORLD WAR III, WORLD CRISIS, AND WORLD DICTATORSHIP ZIONIST DAN GLOBALIST INGIN MEMPERDAYA AMERIKA MENUJU PERANG DUNIA III, KRISIS DUNIA, DAN KEDIKTATORAN DUNIA In January of 2001, 9 months before the 9-11 attacks, a well known economist and political figure with worldwide intelligence connections issued the following prediction: "A new Middle East war of the general type and implications indicated, will occur if certain specified incidents materialize. It will occur only if the combination of the Israeli government and certain AngloAmerican circles wish to have it occur. If they should wish it to occur, the incidents to "explain" that occurrence, will be arranged." "Contrary to widespread childish opinion, most of the important things that happen in the world, happen because powerful forces intend them to happen, not because of some so-called "sociological" or other statistical coincidence of the types reported for the popular edification of the easily deluded. A new Middle East war, bigger than any yet seen, is inevitable under presently reigning global influences. (178) Bulan Januari 2001, 9 bulan sebelum penyerangan 9-11, seorang ahli politik dan ekonomi yang mempunyai jaringan luas dengan dunia intelejen memberikan suatu prediksi : “Ada indikasi suatu perang besar dengan implikasi yang luas di Timur Tengah akan terjadi. Perang itu hanya akan terjadi bilamana pemerintah Israel bersama dengan kelompok Anglo-Amerika tertentu
84

menghendakinya terjadi. Sekiranya mereka “membenarkan” kejadian itu dapat diatur.”

menghendakinya,

serangkaian

insiden

untuk

‘’Berlawanan dengan opini kekanakan yang tersebar luas, hal yang paling penting terjadi di dunia terjadi karena tekanan kekuatan yang menjadikannya terjadi, bukan karena yang disebut dengan ‘’keadaan sosial’’ atau suatu peristiwa lainnya yang serempak terjadi, hal itu merupakan pembohongan yang populer. Suatu perang yang baru di Timur Tengah, lebih besar dari yang pernah terlihat sebelumnya, adalah tak terhindarkan dibawah suatu pengaruh global yang ada saat ini.’’ The man who made that prediction is the perpetual presidential “wannabe” Lyndon Larouche. Now Larouche may be a cult like figure with some really weird interpretations of history, but his intelligence contacts are legitimate and many of his political and economic forecasts have been accurate in the past. Considering all the history and recent events reviewed in this paper, and the logical conclusions which they lead us to, the above prediction was "right on the money." An even more chilling prophecy was issued in 1984 by jewish author and anti-Zionist Jack Bernstein. Bernstein warned: “The Zionists who rule Israel and the Zionists in America have been trying to trick the U.S. into a Mideast war on the side of Israel. They almost succeeded when U.S. Marines were sent to Lebanon in 1982. The blood of the 250 American Marines who died in Lebanon is dripping from the hands of the Israeli and American Zionists. If more Americans are not made aware of the truth about Zionist Israel, you can be sure that, sooner or later, those atheists who claim to be God's Chosen People will trick the U.S. into a Mideast war against the Arabs who in the past have always been America's best friends. Then more AmerIcan boys will die because of these clever murderous Zionists, who, incidentally, have been responsible for pushing America into World War I, World War II, as well as the Korean War and Vietnam Wars. While Zionist international bankers and other Zionist Jews were busy counting their profits for those wars, American mothers and fathers, brothers and sisters were mourning the loss of their sons and brothers. Will YOU someday be mourning the loss of your son or brother -- because of Zionist treachery? (emphasis added) (178B) Orang yang membuat prediksi diatas adalah Lyndon Larouche. Sekarang Larouche mungkin seorang tokoh yang dipuja karena beberapa interpretasi sejarahnya yang aneh/nyeleneh, namun kontak-kontaknya dengan dunia intelejen benar-benar legitimate dan banyak ramalan politik serta ekonominya akurat dan terjadi. Dengan mempertimbangkan semua sejarah dan peristiwa-peristiwa yang dikaji dalam tulisan ini, dan suatu kesimpulan logis yang menuntun kita, maka diprediksikan bahwa penyebabnya adalah duit…duit…duit. Bahkan satu ramalan yang getir sempat terlontar tahun 1984 oleh penulis Yahudi dan anti-Zionisme Jack Bernstein. Ia memperingatkan : ‘’ Zionist yang memimpin Israel dan Zionist yang memimpin Amerika pernah memperdaya AS kedalam perang Timteng untuki pihak Israel. Mereka hampir saja berhasil ketika Marinir AS dikirim ke Lebanon tahun 1982. Darah 250 Marinir Amerika yang tewas di Lebanon mengucur dari tangantangan Zionist Amerika dan Israel.’’ Jika orang-orang Amerika yang tidak sadar akan kebenaran Zionis Israel lebih banyak lagi, Anda bisa pastikan, cepat atau lambat, para atheist ini yang mengklaim sebagai Orang-orang Pilihan Tuhan akan mengibuli AS menuju suatu perang di Timteng melawan Negara-negara Arab dimana negara-negara Arab sejak dulu merupakan sahabat sejati Amerika. Kemudian banyak pemuda-pemuda Amerika terbunuh karena pembunuhan licik Zionist yang bertanggung jawab juga menjerumuskan Amerika kedalam PD I, PD II, seperti juga Perang Korea, dan Perang Vietnam. Sementara bankir Zionist Internasional dan Zionist Yahudi lainnya sibuk menghitung-hitung keuntungan mereka dari perang-perang itu, ibu-ibu dan bapak-bapak di Amerika, saudara-saudara
85

dan saudari-saudarinya berduka cita kehilangan putera-putera dan saudara-saudara mereka. Apakah ANDA suatu hari nanti akan berduka cita karena kehilangan putera atau saudara --- karena sakitnya kaum Zionist itu? (penekanan ditambahkan) (178B) That part of Bernstein’s warning has already come to pass. What’s amazing is that Bernstein wrote that way back in 1984! But the other part of Bernstein’s warning is far more chilling. Bernstein adds: “At some point during the war, when the U.S. military is deeply involved and the U.S. citizens are demoralized, the Zionist-oriented Jewish international bankers will make their move. Evidence leads to the conclusion that it is these bankers who own the Class A Stock of the U.S. Federal Reserve, America's central bank. In this position of power these Zionist bankers can, and likely will, trigger an economic collapse in America -- like they did in 1929 when they caused the stock market crash and started the severe depression of the 1930's.” “Since the money system currently used in the U.S. is NOT backed by gold, silver, or anything of value, the paper dollars and tin coins now in use will be worthless. In the resulting state of confusion and in an effort to obtain food and other necessities, the American people will accept the "New States Constitution" which has already been written. This will place the American people under the dictates of one-world government run by the Zionist-oriented international bankers and Zionist/Bolshevik Jews. Exactly what direction the war in the Mideast will take only the New York/Moscow/Tel Aviv triangle and God can know. When it is all over, the main LOSERS will be: The American people. The Arab people. Those Jews who stand for justice and freedom. The only WINNERS will be: The Zionist international bankers and the Zionist/Bolshevik Jews.” (178C) Sebagian dari peringatanyang diberikanoleh Bernsteinersebut telah terjadi dan terlewati. Begitu luar biasanya peringatan tersebut mengingat ia menulisnya pada tahun 1984. Namun bagian lainnya dari peringatan Bernstein bahkan lebih mengerikan lagi. Bernstein menambahkan : ‘’Beberapa poin penting selama berlangsungnya perang, ketika militer AS sudah begitu dalamnya terlibat dan warga negara AS didemoralisasi, bankir internasional Yahudi Zionist yang memiliki Stok Class A dari Cadangan Devisa Federal dan Bank Central Amerika. Dalam posisi yang diperoleh bankir Zionist ini --- dan ini akan terjadi --- akan memicu kollaps-nya ekonomi Amerika – seperti yang mereka lakukan di tahun 1929 ketika mereka menyebabkan stok pasar terganggu dan mengawali beberapa depressi ekonomi tahun 1930-an.’’ ‘’Sejak sistem pembayaran uang yang digunakan di Amerika TIDAK didukung oleh emas, perak atau sesuatu yang berharga, kertas uang dollar dan koin tipisnya yang digunakan menjadi tak bernilai. Dengan menghasilkan negara yang bingung dan usaha untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan mendasar lainnya, orang-orang Amerika akan menerima ‘’Konstitusi Negara yang Baru’’ yang telah dipersiapkan atau telah ditulis sebelumnya. Ini akan menempatkan orang Amerika dibawah kendali one world government (satu pemerintahan dunia) yang dijalankan oleh bankir internasional Zionist-oriented dan Yahudi Zionist/Bolshefik. Tepatnya apa arah/tujuan dari perang di Timteng hanya segi tiga New York/Moscow/Tel Aviv dan Tuhan yang tahu. Ketika semuanya berakhir, PECUNDANG utamanya adalah : Orang-orang Amerika. Orang-orang Arab. Orang-orang Yahudi yang berdiri untuk keadilan dan kebebasan.
86

Para PEMENANGNYA adalah : Bankir Internasional Zionist dan Yahudi Zionist/Bolshevik. (178C) The Zionists (and also other Anglo-American Internationalists) do not conceal their desire for World War III and an eventual New World Order (World Government), with American boys doing the dying. Theses are the forces that pulled off 9-11, turned us into Arab hating fanatics, put an American flag in our hands, and are marching us off to fight for Zionism. Just read what Ra'anan Gissin - a senior adviser to and spokesman for Ariel "the Butcher" Sharon - said in an interview with the Arizona Daily Star in April of 2002: The terror attacks on Sept. 11 and extreme turmoil in the Middle East point to one thing - World War III. We've been fighting a war for the past 18 months, which is the harbinger of World War III. The world is going to fight, whether they like it or not. I'm sure.'' (179) Zionist (dan juga Internasionalist Anglo-Amerika yang lainnya) tidak menutupi keinginannya untuk Perang Dunia III dan suatu New Worl Order / Tata Dunia Baru ( World Government / Pemerintahan Dunia ), dengan putera-putera Amerika yang sedang sekarat. Inilah kekuatan yang menjadikan terjadinya peristiwa 9-11, menjadikan kita membenci Arab secara fanatik, membawa bendera Amerika di tangan kita, dan berbaris bertempur untuk Zionisme. Bacalah apa yang dikatakan Ra’anan Gissin – seorang penasihat senior dan juru bicara untuk Ariel ‘’si penjagal’’ Sharon – dalam suatu wawancara dengan Arizona Daily Star bulan April 2002 : “Serangan teroris pada 9 Sept. dan ketegangan luar biasa di Timur Tengah menunjuk kepada hanya satu hal – Perang Dunia III. Kami sedang berada dalam situasi perang selama 18 bulan terakhir ini, yang merupakan awal dari Perang Dunia ke-3 itu. Suka tidak suka, dunia dipastikan akan berperang. Soal itu, saya yakin benar.” (179) Here's another warmongering, inflammatory quote from Israeli Foreign Minister Shimon Peres, urging the US to attack Iraq: Attacking Iraq now would be "quite dangerous, but postponing it would be more dangerous." The problem today is not if but when." (180) And here's another warmongering quote from an editorial that former Israeli Prime Minister Benjamim Netanyahu wrote for the New York Post headlined “Today We are All Americans“: "What is at stake today is nothing less than the survival of civilization.... I have absolute confidence that if we, the citizens of the free world, led by President Bush, will marshal the enormous reserves of power at our disposal, harness the steely resolve of a free people and mobilize our collective will to eradicate this evil from the face of the earth....The international terrorist network is thus based on regimes - Iran, Iraq, Syria, Taleban Afghanistan, Yasser Arafat's Palestinian Authority and several other Arab regimes such as the Sudan. For the bin Ladens of the world, Israel is merely a sideshow. America is the target" (181) Inilah hasutan perang yang lainnya, kutipan yang menjerumuskan dari Menlu Israel Shimon Peraz, yang menginginkan menyerang Iraq : ‘’Menyerang Iraq sekarang akan ‘’benar-benar berbahaya, namun menundanya akan lebih membahayakan.’’ Masalahnya bukan terletak sekarang tetapi akan ada kemudian.’’ (180) Dan inilah kutipan menghasut perang dari satu editorial yang ditulis oleh mantan PM Israel Benyamin Netanyahu untuk headline New York Post ‘’Sekarang Kita Semua Adalah Bangsa Amerika.’’ ‘’Apa yang dipertaruhkan sekarang tidak lebih dari mempertahankan peradaban…Saya benar-benar yakin bahwa kita sebagai warga negara dari dunia yang merdeka, dipimpin oleh Presiden Bush, akan mengatur potensi kekuatan kita yang sangat besar, memberi komando dengan tegas kepada oerang-orang yang merdeka, dan memobilisasi persatuan kita akan membasmi para penjahat ini dari permukaan bumi…Jaringan terrorist internasional ini ditopang oleh rejim-rejim – Iran, Syiria, Taliban,
87

Afghanistan, Otoritas Palestina Yasser Arafat dan beberapa rejim Arab lainnya seperti Sudan. Untuk Bin Laden Israel hanyalah sampingan. Amerika adalah targetnya.’’ (181) Note the ominous similarity between Netanyahu's lies and the first words that Sivan Kurzberg - one of the dancing Israeli "movers" - spoke to arresting police officer on 9-11: "We are Israelis. We are not your problem. Your problems are our problems. The Palestinians are your problem." (182) Recall Netanyahu's 9-11 comment about the attacks being "very good" for Israeli-US relations. The title of the New York Times article which carried that comment was: "Spilled Blood is Bond That Draws 2 Nations Closer." (183) Perhatikanlah ada kesamaan yang luar biasa antara kebohongan Netanyahu dan kata-kata yang keluar dari Sivan Kurzbeg – satu diantara ‘’tungkang angkut’’penari Israel – berbicara kepada penangkapan petugas polisi dalam peristiw 9-11 ‘’Kami orang-orang Israel. Kami bukan masalah kalian. Masalah kalian adalah masalah kami. Bangsa Palestina adalah masalah kalian.’’ Komentar yang kembali terlontar dari Netanyahu mengenai penyerangan 9-11adalah ‘’sangat bagus’’ untuk hubungan Israel-AS. Judul artikel New York Times yang memuat komentar itu adalah : ‘’ Darah Yang Tercurah Akan Mendekatkan Dua Bangsa’’ (183) Ariel Sharon used the same “linking tactic” in a speech before the notoriously defamatory, Zionist Anti-Defamation League: "There is a moral equivalency and direct connection between America's continuous operations against al Qaeda in Afghanistan and any other Israel Defense Forces operation to defeat terrorism," Sharon said in a speech Monday to the Anti-Defamation League. They are acts of self-defense against the same forces of evil and darkness bent on destroying civilized society." (184) Notice how Sharon, Netanyahu, the Israeli "movers", and the totally Zionist dominated New York Times and New York Post all used the same strategic tactic of linking the interests of the US with the interests of Israel. The same ploy was utilized in the anthrax letters: "Death to America! Death to Israel!". Do see how these evil Zionist bastards play the game? They turn their enemies into our enemies while pretending to be our "allies". They laugh and celebrate as 1000's of innocent Americans are burned and crushed to death. And when someone dares to shine the light of truth upon them, they label you an "anti-Semite"! Can you not see by now that these murderous swindlers have played us all for fools? Ariel Sharon menggunakan ‘’taktik menghubungkan’’ yang sama dalam suatu pidato sebelum pemitnahan jahat dari Zionist ADL : ‘’ Ada kesamaan moral dari hubungan langsung antara kesinambungan operasi Amerika melawan Al Qaeda di Afghanistan dan operasi Pasukan Pertahanan Israel untuk megalahkan terrorisme, ’’Sharon berkata dalam pidato hari Minggu di hadapan ADL. ‘’Mereka melakukan pertahanan diri melawan kekuatan yang sama dari para penjahat dan kegelapan yang menghancurkan komunitas sipil.’’ (184) Perhatikanlah bagaimana Sharon, Netanyahu, ‘’tukang angkut’’ Israel, dan New York Times dan New York Post yang didominasi sepenuhnya oleh Zionist semuanya menggunakan strategi yang sama untuk menghubung-hubungkan kepentingan Amerika Serikat dengan kepentingan Israel. Skenario yang sama digunakan dalam surat anthrax : ‘’Kematian bagi Amerika! Kematian bagi Israel!’’ Apakah Anda melihat bagaimana Zionist bajingan yang jahat memainkan permainan? Mereka menjadikan musuh-musuh mereka menjadi musuh-musuh kita sementara berpura-pura menjadi ‘’sekutu’’ kita. Mereka tertawa gembira dan merayakan 1000 orang Amerika yang tak berdosa terbakar dan terjerembab menuju kematian. Dan ketika seseorang berani menyalakan cahaya kebenaran mengenai hal itu, mereka mencap kamu sebagai ‘’anti-Semit’’! Dapatkah Anda sekarang melihat pembunuhan-pembunuhan yang kejam ini diputarbalikan dengan mengibuli kita semua?
88

Behold this bit of bold hypocrisy by American Jewish Congress President Jack Rosen: "I don't think Palestinians celebrating the death of thousands of Americans should go unchallenged.” (185) Is that so Jack? What about the Israelis who celebrated the death of thousands of Americans. Why haven't you challenged that? Now read this quote from the Prince of Darkness himself - Pentagon big shot and Zionist fanatic Richard Perle: "Neither the president nor the British Prime Minister will be deflected by Saddam's diplomatic charm offensive, the feckless moralizing of 'peace' lobbies or the unsolicited advice of retired generals." (186) Perhatikanlah sedikit kemunafikan yang jelas dari Presiden Kongres Amerika Yahudi Jack Rosen : ‘’Saya tidak berpikir Bangsa Palestina yang merayakan kematian ribuan orang Amerika tidak dipermasalahkan.’’(185) Begitukah Jack? Bagaimana mengenai orang-orang Israel yang merayakan kematian ribuan orang Amerika. Mengapa kamu tidak mempermasalahkan mereka? Sekarang baca kutipan dari Pangeran Kegelapan itu sendiri – senjata Pentagon dan fanatik Zionist Richard Perle : ‘’Baik presiden (AS) maupun PM Inggris akan disimpangkan oleh diplomasi ofensif yang mengambil simpati dari Saddam Hussein, moralitas tak berdaya dari lobi-lobi ‘’perdamaian’’ atau nasihat-nasihat yang tak diminta dari jendral-jendral yang telah pensiun.’’ (186) Perle not only lays down the policy line for Bush, but apparently for British Prime Minister Tony Blair as well. And note how casually he dismissed the sound advice of those retired generals who warned that a war against Iraq was unnecessary. But what does Perle care! His kids won't be dying. As always, it will only be the children of the flag waving masses, which Perle and his Zionist brothers and sisters see as nothing more than cannon fodder for Zionism, who will do the fighting and killing. What threat did Iraq ever pose to the US? None! Iraq, and other Arab nations, are to be crushed so that Israel can have a freer hand to expand in the Middle East. It appears that George Bush goes along with the wishes of these Zionist gangsters for his own political protection and/or advancement, but it is unclear as to what extant he is truly in agreement with them. Bush and Cheney may even be under a some form of blackmail. But they also represent oil interests and the Caspian Sea area is rich in oil and minerals. Plans have been in the works for years to build pipelines to take the oil from the Caspian, through Afghanistan and Pakistan, and then out to sea. The “oil angle” may be a secondary contributing factor behind the “War on Terrorism”, one much nearer to the hearts of Bush/Cheney than the cause of Zionism. It is clear from just the well publicized information that the president had at least some type of knowledge that a major attack was coming. Do you remember Bush’s strange behavior when he was first told of the attacks? He was reading to a group of Florida school children when his Chief of Staff Andy Card whispered the news of the second tower being hit in New York. Instead of just calmly excusing himself and apologizing to the kids for having to leave suddenly, Bush qickly shifted his eyes at the camera, turned somber, and then returned to reading for another 15 minutes! (187) Our major cities were under attack, 1000’s of his countrymen were burning or jumping to their deaths on live TV, and more planes were still unaccounted for. Yet Bush just sat there with a stupid look on his face and then went back to reading a story about a goat. Is this the reaction of a man who was truly surprised by these horrible attacks? Or is this more indicative of the reaction of a guilty person who, like FDR just before Pearl Harbor, was expecting an attack and therefore was not surprised? (188)

89

Perle bukan hanya meletakkan garis kebijakan politik Bush, namun juga terhadap PM Inggris Tony Blair. Dan perhatikan bagaimana ia mengabaikan nasihat dari para jendral yang telah pensiun yang berkata bahwa perang melawan Iraq tidaklah perlu. Namun Perle tak peduli! Anak-anaknya mungkin tidak akan sekarat. Seperti biasanya, hal itu hanyalah akan menjadi barisan besar anak-anak pembawa bendera, dimana saudara-saudari Zionist-nya Perle melihatnya hanya sebagai isi meriam untuk Zionisme, yang akan berperang dan membunuh. Ancaman apa dari Iraq yang pernah dilakukan terhadap AS ? Tidak ada ! Iraq dan negara-negara Arab yang lainnya, akan dihancurkan sehingga Israel lebih bebas untuk meluaskan kekuasaannya di Timur Tengah. Satu hal yang terungkap bahwa George Bush sejalan dengan keinginan gangster-gangster Zionist ini untuk proteksi politiknya dan/atau perluasan, namun tidaklah jelas apakah ia masih dalam persetujuan dengan mereka-mereka ini. Bush dan Cheney mungkin dalam kondisi sedang diperas. Namun mereka juga menunjukkan ketertarikannya terhadap minyak di area Laut Kaspia yang kaya akan minyak dan mineral. Rancana digarap bertahun-tahun untuk membangun pipa saluran yang menyalurkan minyak dari Kaspia melewati Afghanistan dan Pakistan kemudian menuju ke laut. ‘’Faktor minyak’’ ini mungkin merupakan sebab kedua dibelakang jargon ‘’Perang Melawan Terrorisme’’, faktor minyak ini lebih dekat kepada jiwa Bush/Cheney dibandingkan dengan Zionisme. Adalah jelas dari informasi yang dipublikasikan bahwa presiden (Bush) setidaknya sudah memiliki suatu gambaran sebelumnya terhadap penyerangan besar yang terjadi. Apakah Anda ingat akan perilaku aneh Bush ketika ia pertama kali diberitahukan tentang penyerangan itu ? Ia sedang membacakan kepada sekelompok anak-anak dari sekolah anak-anak Florida ketika ketua Staff Andy Card membisikkan berita tentang menara yang kedua ditabrak di New York. Secara santai ia meminta ijin dan meminta maaf kepada anak-anak karena menghentikan secara tiba-tiba, Bush dengan cepat mengusap matanya dalam sorotan kamera, berubah menjadi suram, dan kemudian kembali membaca untuk 15 menit kedepan ! (187) Kota-kota besar kita dalam penyerangan, 1000 orang teman sebangsanya terbakar atau meloncat kepada kematiannya yang disiarkan secara langsung di TV, dan pesawat-pesawat lainnya yang mungkin akan menyerang tidak diperhitungkannya. Kemudian Bush duduk dengan muka yang bodoh kemudian kembali untuk membaca cerita tentang seekor kambing. Apakah ini reaksi dari seorang manusia yang benar-benar terkejut akan penyerangan yang mengerikan ? Atau hal ini lebih mengindikasikan reaksi dari orang yang bersalah, seperti juga FDR sebelum penyerangan Pearl Harbor, yang sudah mengetahui penyerangan dan tidak terkejut lagi ? There is one more interesting coincidence worth mentioning. During the whole time that these terror attacks were expected, Bush was out of Washington DC on what the media had dubbed “the longest vacation in presidential history.” Time Magazine of August 5, 2002 explains: “Getting ready for vacation can be so hectic. It certainly was for George W. Bush last week. While Laura Bush left the White House early to get the ranch in Crawford, Texas, ready for a month-long holiday (one of the longest in presidential history), the President rushed through last-minute errands.” (189) Bush was in Texas for the entire month of August, returned to the White House briefly, then left again and ended up in a Florida classroom on September 11. (What a tough job eh?) Is this of any significance? Well, I don’t know about you, but if I had the kind of intelligence network and advance warning that we know certain people had- and surely a sitting US president would also have had- I would not have been in Washington DC on 9-11 either! Ada lagi kejadian yang lebih menarik yang penting untuk disebutkan. Selama keseluruhan waktu penyerangan yang telah dinantikan itu, Bush keluar dari Washinton DC yang media menyebutnya sebagai liburan terlama dalam sejarah kepresidenan.’’ Majalah Time pada 5 Agustus 2002 menjelaskan : ‘’Bersiap-siap untuk suatu liburan benar-benar merepotkan. Ini benar-benar terjadi pada George Bush minggu yang lalu. Sementara Laura Bush meninggalkan Gedung Putih duluan menuju ranch di
90

Crawford Texas, untuk liburan sebulan penuh (satu dari yang terpanjang dalam sejarah kepresidenan), Presiden bergegas disaat-saat terakhir.’’ (189) Bush di Texas selama bulan Agustus, kembali ke Gedung Putih secara singkat, kemudian pergi lagi dan berakhir di kelas anak-anak di Florida pada tanggal 11 September. (Benar-benar tugas yang berat heh?) Apakah ada signifikasinya? Saya tidak tahu mengenai Anda, namun jika saya mempunyai semacam hubungan intelejen (seperti halnya Bush) yang memberi peringatan sebelumnya bahwa kita mengetahui orang-orang tertentu telah – dan dengan pasti juga presiden AS juga mempunyainya – sayapun tidak akan berada di Washington pada tanggal 11 September ! There are many politicians and journalists in America who "carry the Zionist’s water" for them only because they are careerists who understand very well from whence their bread is buttered. My suspicion is that if Bush doesn't deliver a war against Iraq, and then WW III against other Arab states, Senator Joe Lieberman may be installed as president in 2004, with his close pal John McCain running as an independent to draw votes away from Bush. Will Bush, like Wilson in WW I, and FDR in WW II, go all the way and deliver WW III to the Zionist Mafia? At the time of this writing it does appear that way. But if Bush should hesitate (like his father did in 1991) to "go all the way", the Zionist Mafia will replace him in 2004. Iraq knows who is behind the planned attack on their nation. In an interview with CBS’s Dan Rather, Iraqui Minister Tariq Aziz accused the Zionists: “This war which the Bush government is a planning does not serve the basic interest in the long run of the American nation. It serves the imperialistic interest of Israel and the Zionist groups who have now a great say in the American policy.” (190) How sadly ironic it is that the Arabs know that the Zionist Mafia dominates America but the American people are oblivious to it. But who will tell the American people if the Zionists dominate the media too? Ada banyak politisi dan journalis di Amerika yang ‘’membawa air Zionist’’ hanya untuk mereka saja demi karirnya, mereka sangat mengerti berasal dari mana mentega yang membubuhi rotinya. Perkiraan saya adalah bahwa Bush tidak membawa suatu perang melawan Iraq, kemudian PD III melawan negara-negara Arab lainnya. Senator Joe Liberman mungkin dipasang sebagai presiden tahun 2004, dengan teman dekatnya John Mc Cain berperan dari kubu independen untuk mengurangi jumlah pemilih Bush. Apakah Bush seperti Wilson di PD I, dan FDR di PD II mengiyakan PD III untuk mafia Zionist ? Pada waktu penulisan ini mengindikasikan kearah sana. Namun jika Bush mempertimbangkan (seperti yang dilakukan ayahnya tahun 1991) untuk ‘’membabat habis semuanya’’, Mafia Zionist akan menggantinya tahun 2004. (Ket : Pada kenyataannya Bush mengiyakan keinginan Mafia Zionist dan ‘’membabat habis semuanya’’ seperti menyerang Iraq tahun 2003, membiarkan Lebanon diserang Israel tahun 2005 dan sekarang mulai mengintimidasi dan mempersiapkan penyerangan terhadap Iran dan Syiria, hal tersebut mengakibatkan perpanjangan waktu bagi Bush sebagai ‘’boneka’’ Mafia Zionist, --- penerjemah) Bangsa Iraq mengetahui siapa di belakang rencana penyerangan terhadap negara mereka. Dalam satu wawancara dengan Dan Rather dari CBS, Menteri Iraq Tareq Aziz menuduh Zionist : ‘’Perang yang pemerintahan Bush rencanakan ini bukanlah demi kepentingan yang mendasar bagi negara Amerika. Hal ini karena kepentingan imperialistik dari Israel dan kelompok Zionist yang sekarang memiliki suara yang besar dalam kebijakan Amerika.’’(190) Begitu ironisnya bahwa orang Arab mengetahui Mafia Zionist mendominasi Amerika namun orangorang Amerika tidak tahu akan hal itu. Namun siapa yang akan mengatakan kepada orang-orang Amerika jika Zionist mendominasi media juga ?

91

LEFT: BUSH: "THE WORLD TRADE CENTER WILL HAVE TO WAIT UNTIL I'M DONE READING ABOUT THE LITTLE GOAT". (writer's joke) CENTER LEFT: NETANYAHU: "ATTACKS WILL BE GOOD FOR US-ISRAEL RELATIONS." CENTER RIGHT: SENATOR LIEBERMAN. A ZIONIST PRESIDENT IN 2004??? RIGHT: BUSH WITH ZIONIST PENTAGON WARMONGER WOLFOWITZ AT HIS SIDE KIRI : BUSH : ‘’WTC HARUS MENUNGGU SAMPAI SAYA MENYELESAIKAN PEMBACAAN TENTANG KAMBING KECIL’’ (GUYONAN PENULIS) KIRI TENGAH : NETANYAHU : ‘’PENYERANGAN AKAN BAGUS UNTUK HUBUNGAN AS-ISRAEL.’’ KANAN TENGAH : SENATOR LIBERMAN : SEORANG PRESIDEN ZIONIST TAHUN 2004? KANAN : BUSH DENGAN PENGHASUT PERANG ZIONIST PENTAGON WOLFOWITZ DISISINYA CLOSING ARGUMENT Ladies and gentlemen of the jury, we have established that the political force of Zionism is a dangerous supremacist movement, and that its leaders have always placed the interests of International Zionism ahead of the interests of their respective nations. We have demonstrated that this Zionist Mafia will send unsuspecting Americans to war to fight for their interests. We have seen how Germany and Great Britain were selfishly used for their purposes. We have demonstrated the role played by Zionism in helping bring about some of the 20th centuries greatest disasters; such as World Wars I and II and the Treaty of Versailles. We have learned about Zionist massacres of unarmed Arab civilians and Zionist terrorism designed to frame Arabs and poison relations between the US and Israel’s Arab enemies. We learned about the awesome Zionist power structure that exists in America, covering the Congress, the Pentagon, the mass media and more. We have established that the Zionists, through their media monopoly, have the ability to cover up and conceal some of the most amazing stories of both the past and present. We have established a primary motive - to turn the US into a nation of Arab haters and Israel lovers eager to go to war against Zionism’s Arab enemies. We have established a secondary motive - to brutally crush the Palestinian resistance under the cover of a major US war on terrorism. Sharon’s tanks were unleashed on September 12 in a major escalation of the Israeli-Palestinian conflict. Because of the 9-11 attacks, few even noticed and still fewer even cared. We have established numerous precedents for these type of “false-flag” operations as well as cases of Israeli agents impersonating Arab terrorists (Lavon Affair, USS Liberty, Mossad agents caught with Arab passports, Taleban impersonators caught in India etc.) We have established that the Zionists have the logistical capability - the means - and the opportunity to orchestrate such an operation (best intelligence service in the world, key positions of power at the Pentagon and in US intelligence, experts with explosives, access to WTC, access to Logan Airport and US Air and American Air, unlimited supply of money, able to thwart investigators with phony wire translations and US moles, etc)
92

Para hadirin dan hadirot sebagai penilai, kita telah menampilkan wajah politik dari Zionisme adalah suatu pergerakan supremasi (‘’penganggapan dirinyalah yang paling utama’’) yang sangat berbahaya, dan para pemimpinnya selalu menempatkan kepentingan Zionist Internasional diatas kepentingan negara yang ditinggalinya. Kita telah mendemonstrasikan bahwa Mafia Zionist ini akan mengirim orang-orang Amerika yang tidak menyadari kepada perang demi memperjuangkan kepentingan mereka. Kita telah melihat bagaimana Jerman dan Inggris Raya yang dengan sangat egoisnya digunakan untuk kepentingan mereka. Kita telah mendemonstrasikan peranan yang dimainkan oleh Zionisme dalam membawa beberapa bagian dari abad ke-20 menuju bencana terbesar, seperti Perang Dunia I dan II serta Perjanjian Versailles. Kita telah mempelajari mempelajari pembantaian Zionist terhadap orang-orang sipil Arab tak bersenjata dan terrorisme Zionisme yang didesain untuk mengkambinghitamkan Orang Arab serta meracuni hubungan AS dan orang Arab yang dianggap sebagai musuh Israel. Kita telah mempelajari struktur kekuatan Zionist yang luar biasa dan eksis di Amerika, mencakup anggota kongres, Pentagon, mass media dan masih banyak lagi. Kita telah menampilkan bahwa Zionist, melalui monopoli media, memiliki kemampuan untuk menutupi dan menyembunyikan banyak dari peristiwa-peristiwa yang luar biasa baik pada masa yang lalu atau masa sekarang. Kita telah menampilkan suatu motif utama – untuk mengubah AS menjadi negara pembenci Arab dan pecinta Israel yang sangat menginginkan berperang melawan Arab musuh Zionisme. Kita telah menampilkan suatu motif kedua – untuk secara brutal menghancurkan keberadaan Bangsa Palestina dibawah naungan tujuan AS yaitu berperang melawan terrorisme. Rasa terima kasih Sharon dinyatakan pada tanggal 12 September dalam suatu ketegangan yang luar biasa pada konflik Israel-Palestina. Karena serangan 9-11, sedikit yang memperhatikan dan masih lebih sedikit lagi yang peduli. Kita telah menampilkan banyak dari peristiwa yang lalu sebagai suatu bentuk operasi ‘’pengkambinghitaman’’ sebagaimana kasus-kasus para agen Israel yang memfitnah sebagai terroris Arab (Lavon Affair, USS Liberty, Agen-agen Mossad yang tertangkap dengan membawa passport Arab, pemfitnah Taleban yang tertangkap di India, dsb). Kita telah menampilkan bahwa Zionist memiliki kapabilitas logistik – pastinya – dan kesempatan untuk mengatur suatu operasi tertentu – (dinas rahasia terbaik di dunia, kekuatan utamanya terletak di Pentagon dan pada intelejen AS, ahli dalam peledakkan, akses ke WTC, akses ke Bandara Logan, dan US Air dan American Air, suplai dan yang tak terbatas, mampu untuk menghalang-halangi para penyelidik dengan penyadapan jalur telepon, dsb) We have established that the Zionist controlled media has the ability to cover-up the facts contained in this paper, even after the stories had initially penetrated their own media screens. We have established that the Zionists have the power to ruin the careers of Congressmen, Senators, presidents, law enforcement officials, and journalists. Conversely, they also have the power to advance the careers of those whores who serve their interests. We have seen that they have the ability to block investigations as well misdirect and thwart existing investigations. We have established that the Zionists were the beneficiaries of the 9-11 attacks whereas Arabs have been hurt greatly by the 9-11 attacks. We have exposed numerous lies linking Arabs to 9-11. We have established how evidence against Arabs was planted and contrived in order to misdirect investigators (wording of anthrax letters, phony passports, stolen passports, Korans and Arab flight manuals left conveniently behind for FBI filed agents to find in cars and “forgotten” suitcases, Atta‘a passport surviving the blast and floating down to earth, etc). We have established that 7 of the 19 hijackers are alive and well. We have established that a small army of Mossad agents was caught planning terror acts in America and Mexico. We have seen how anxious the Zionists are to use 9-11 as a pretext to crush the Palestinian resistance and to have the US attack Iraq and other nations. We have established all of this and much more. In addition, there is a plethora of even more damning facts which, in the interests of time and space, weren’t even included in this paper!
93

The only logical conclusion that a reasonable person can arrive at is this: The 9-11 attacks, the anthrax murders, the Bali bombing, the African embassy bombings, and numerous other foiled terror plots, were planned, orchestrated, financed, carried out, and covered up by the forces of international Zionism. What other logical explanation can there be? As incredible as this may seem, what other conclusion is there that can so neatly tie up all of the “loose ends” and mysteries related to 9-11? This is the only scenario into which the many pieces of the 9-11 jig-saw puzzle snap snugly together to reveal a clear image. Now compare this to the official explanation of 911, which requires us to force, bend, recreate, ignore, and manipulate puzzle pieces. Kita telah menampilkan bahwa Zionist yang dikendalikan Zionist mamiliki kemampuan untuk menutupi fakta-fakta yang disebutkan dalam tulisan ini, bahkan setelah penuturan memasuki layar media mereka. Kita telah menampilkan bahwa Zionist memiliki kekuatan untuk meruntuhkan karir dari anggota Kongres, Senator, presiden, petugas penegak hukum, dan jurnalis. Sebaliknya mereka juga memiliki kekuatan untuk meningkatkan karir orang-orang /budak-budak yang melayani kepentingan mereka. Kita telah melihat bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mem-blok penyelidikan sebagaimana bisa juga mengacaukan dan menghalangi penyelidikan yang sedang berlangsung. Kita telah menampilkan bahwa Zionist sebagai pihak yang memperoleh keuntungan dari serangan 9-11 sebaliknya Arab sebagai pihak yang tersakiti dengan besar sekali dari serangan 9-11 Kita telah membuka begitu banyak kebohongan yang menghubungkan Arab kepada peristiwa 9-11. Kita telah menampilkan bagaimana bukti yang melawan Arab direncanakan dan dicari-cari demi menyimpangkan para penyelidik (kata-kata dari surat anthrax, passport palsu, passport curian, Al Qur’an dan buku panduan penerbangan berbahasa Arab yang dengan sengaja ditinggalkan untuk agen lapangan FBI untuk mencari didalam mobil dan koper yang ‘’terlupakan’’, passport Atta selamat dari ledakan besar dan jatuh kebawah ke permukaan bumi, dsb). Kita telah menampilkan bahwa 7 dari 19 pembajak masih hidup dan baik-baik saja. Kita telah menampilkan bahwa sejumlah kecil tentara dari agen Mossad tertangkap sewaktu merencanakan terror di Amerika dan Mexico. Kita telah melihat bagaimana bernafsunya Zionist untuk menggunakan peristiwa 9-11 sebagai sebab pendahuluan (alasan) untuk menghancurkan keberadaan Bangsa Palestina dan menggunakan/memperalat AS untuk menyerang Iraq dan negara-negara lainnya. Kita telah menampilkan semuanya dan masih banyak lainnya. Sebagai tambahan, mungkin masih banyak lagi fakta-fakta, karena keterbatasan tempat dan waktu, tidak dapat ditampilkan dalam tulisan ini! Hanya ada kesimpulan yang logis yang dapat digapai disini : Penyerangan 9-11, pembunuhan anthrax, pemboman Bali, pemboman kedubes di Afrika, dan banyak skenario terror yang gagal, adalah direncanakan, diatur, didanai, dilaksanakan, dan ditutupi oleh kekuatan Zionisme internasional. Penjelasan logis apalagi yang bisa diajukan ? Sebagaimana luar biasa terlihanya, kesimpulan apalagi yang dapat begitu tepat menghubungkan semua misteri yang berhubungan dengan peristiwa 9-11 ? Ini hanyalah skenario dimana banyak potongan-potongan dari teka-teki jig-saw peristiwa 9-11 dkumpulkan dan disusun bersama untuk memunculkan suatu gambar yang jernih. Sekarang bandingkan ‘’gambar’’ ini dengan penjelasan resmi peristiwa 9-11 (versi pemerintah AS, ---- penerjemah) yang mengharuskan kita merusak, membengkokkan, menyusun kembali, mengabaikan, dan memanipulasi potongan-potongan puzzle. Even in the face of this mountain of logic and evidence, there will be those weaklings who will go into denial and casually dismiss this whole case as just another silly “anti-semitic conspiracy theory”. But the funniest “conspiracy theory” of all is the theory that some Saudi caveman and his “network” of Arab video game pilots managed to elude US investigators and pull off the most sophisticated intelligence operation in world history. You can continue to believe that fairy tale if it makes you sleep better at night (and if your sense of credulity can stand the burden!) Or, you can muster the moral and intellectual courage to free your mind from Zionist bondage and face the ugly truth for what it is. You can join the “extremists” and
94

make a commitment to share the horrible truth with others, or, you can smirk, roll your eyes, and “pooh-pooh” everything you’ve just read. Go back to your controlled TV news, your ballgames, your TV shows, and pretend this horror doesn’t exist, and let Messrs. Rather, Brokaw, Jennings, and Brown do your thinking for you while our world goes to hell in a Zionist hand-basket. The choice is yours. History and posterity will judge your actions -or inactions- accordingly. To borrow a line from the Maximus, hero of the film Gladiator: “What we do in life, echoes in eternity.” What will you do? Bahkan dalam wajah gunung logika dan bukti-bukti ini, akan ada orang-orang lemah yang menolak dan mengabaikan seluruh kasus ini sebagai suatu kebodohan ‘’konspirasi teori anti-semit’’ yang lainnya. Namun yang paling menggelikan mengenai ‘’konspirasi teori’’ dari semua teori adalah bahwa beberapa orang Arab Saudi yang penghuni gua itu dan ‘’jaringannya’’ yaitu pilot-pilot Arab untuk video game mengatur untuk menghindari para penyelidik AS dan melakukan operasi intelejen yang paling luar biasa dalam sejarah dunia. Anda dapat melanjutkan untuk yakin akan kisah diatas jika membuat Anda tidur lebih pulas di malam hari (dan jika nalar anda yang mudah percaya dapat memikul tanggung jawab!) Atau Anda dapat membesarkan moral dan keberanian intelektual untuk membebaskan pikiran dari belenggu Zionisme dan menghadapi buruknya kebenaran mengenai apa yang terjadi. Anda dapat bergabung sebagai ‘’ekstimis’’ dan membuat komitmen untuk membagi kebenaran yang mengerikan ini dengan yang lainnya, atau Anda dapat pura-pura tertawa, memutar-mutar mata, dan ‘’pooh-pooh’’ semua yang telah Anda baca. Kembalilah kepada berita TV yang dikendalikan, permainan bola Anda, TV show Anda, dan berpura-pura bahwa horror ini tak pernah terjadi dan biarkan Messrs. Rather, Brokaw, Jennings, dan Brown mengatur pemikiran Anda sementara dunia kita menuju neraka di keranjang sampahnya Zionist. Pilihan ada ditangan Anda. Sejarah dan anak cucu Anda akan menilai perbuatan –atau tidak berbuat-- . Meminjam istilah Maximus, pahlawan film Gladiator. ‘’Apa yang kita lakukan dalam hidup, bergema dalam keabadian. Apa yang Anda lakukan ? A CLOSING STATEMENT FROM THE FATHER OF OUR COUNTRY

"A passionate attachment of one nation for another produces a variety of evils. Sympathy for the favorite nation, facilitating the illusion of an imaginary common interest in cases where no real common interest exists, and infusing into one nation the enmities of the other, betrays the former into a participation in the quarrels and wars of the latter without justification. It leads also to concessions to the favorite nation of privileges denied to others which is apt doubly to injure the nation making the concessions; by unnecessarily parting with what ought to have been retained, and by exciting jealousy, ill-will, and a disposition to retaliate, in the parties from whom equal privileges are withheld. And it gives to ambitious, corrupted, or deluded citizens who devote themselves to
95

the favorite nation), facility to betray or sacrifice the interests of their own country, “- George Washington (191) (emphasis added) FOOTNOTES AND KEY SEARCH WORDS FOR YAHOO OR WWW.GOOGLE.COM Other suggested resources. As with all news sources, the discriminating reader should evaluate the veracity of each item based upon its own merit. www.cooperativeresearch.org/completetimeline/ www.whatreallyhappened.com www.propagandamatrix.com/thepropagandamatrix.html
1. Athens Banner-Herald December 22, 2001. Google users enter these words: university chicago poll americans cried 2. Yediot America (Israeli Newspaper), November 2, 2001. Google users enter: yediot america urban moving 2B. Ha’aretz. September 17, 2001.5 Israelis detained for `puzzling behavior' after WTC tragedy By Yossi Melman …Google: five 5 Israelis detained for puzzling behavior 3. Jewish Week. November 2, 2001. Stewart Ain. Google users enter: urban moving Israelis smiling took pictures on 9-11 4. ABC News20/20. ABCNews.com, June 21,2001.Google users enter : white van Israeli spies 5. Bergen Record (New Jersey). September 12, 2001. Paolo Lima. Google users enter: Bergen Lima five israelis 6. Eye For an Eye, By John Sack. Google users enter: john sack eye for eye 7.The Zionist Connection. By Alfred Lilienthal Google users enter: alfred lilienthal zionist 8.Fateful Triangle. By Noam Chomsky Google users enter: chomsky fateful triangle 9. Open Secrets. By Israel Shahak Google users enter: israel shahack open secrets 10.The Hidden Tyranny. By Benjamin Freedman. Google users enter: benjamin freedman 10B. The Life Of An American Jew In Racist-Marxist Israel. By Jack Bernstein,© 1984 10C. The Zionist Roots Of The 'War On Terror' Israel's Policy Of 'Covert Aggression' . By Dr. Henry Makow. www.savethemales.com. November 2002 11. By Way of Deception. By Victor Ostovsky. Google users enter: victor ostovsky 12. Neturei Karta. Jews United Against Zionism. Google users enter: neturei karta jews against Zionism 12B. The Life Of An American Jew In Racist-Marxist Israel. By Jack Bernstein,© 1984 13. Jewish Virtual Library of the American-Israeli co-operative enterprise. Google users enter: weizmann balfour zionist 14. Benjamin Freedman's 1955 speech. Google users enter: Benjamin Freedman speaks and also Benjamin Freedman 15. Square One: A Memoir. By Arnold Forster. Google users enter: Arnold Forster Square One....or see amazon.com 15B. Same as 14 16. Microsoft Encarta Encyclopedia. refer to "Balfour Declaration". Google users enter: Balfour Zionism 17. Daily Express. (England) Judea Declares War on Germany. March 24, 1933 Google users enter: Judea Declares War on Germany 18. Vladimir Jabotinsky. Mascha Rjetsch, January, 1934. Google users enter: vladimir jabotinsky and also jabotinsky mascha rjetsch 19. Beaverbrook papers. House of Lords Records Service. (England). Google users enter: beaverbrook jews position press 20. Charles Lindbergh's Speech in Iowa. September 11, 1941. Google users enter: Lindbergh Des Moines speech 21. Day of Deceit. By Robert Stinnett. Google users enter: day of deceit stinnett 22. From Adolf Hitler's last Will and Political Testament. Google users enter: Hitler my political testament 23. Britain's Small Wars. Google users enter: dressed as Arabs king david and also king david Hotel bombing

96

24. Deir Yassin Remembered. Google users enter: deir Yassin remembered and also deir yassin 25. The Khazaria Information Center. Google users enter: khazars 26. Victor Ostrovsky. By Way of Deception. Google users enter: mossad motto 27.The Gun and the Olive Branch. By David Hirst. Google users enter: lavon affair 28. Assault on Liberty. By James M Ennes Jr. Google users enter: ennes uss liberty 29. Ostrovsky. How How Mossad got America to bomb Libya and fight Iraq. Google users enter: ostrovsky how mossad got america 30. Ostrovsky. The Contrasting Media Treatment of Israeli and Islamic Death Threats. Google users enter: Ostrovsky death threats 31. The Washington Times. Army Study Suggests U.S. Force of 20,000. By Rowan Scarborough. September 10, 2001. Google users enter: army study suggests sams rowan scarborough 32. ibid 33. The International Jew. By Henry Ford. Google users enter: ford international jew 34. Jewish Frontier. Lindbergh and the Jews. By Hal Derner. Google users enter: lindbergh jews press 35. They Dare to Speak Out. By Paul Findley. Google users enter: admiral moorer boggles mind 36. Senator William Fulbright on ABC's Face the Nation. Google users enter: fulbright israel controls senate 37. Patrick Buchanan on the Mclaughlin Group. Google users enter: buchanan israeli occupied territory 38. Rev. Billy Graham and Richard Nixon. CNN Google users enter: graham jewish media stranglehold 39. Who Rules America? By Dr. William Pierce. Google users enter: jewish media control 40. The Israel Lobby. By Michael Massing.The Nation Magaazine. Google users enter: massing israel lobby 41.Saudis Lash Out at 'Zionist' U.S. Critics By Marc Perelman. Jewish Forward. Google users enter: forward zionist defense policy board 42.Ari Shavit. Ha'aretz Israel, reprinted in New York Times. May 27 1996. Google users enter: sobran shavit in our hands 43. Bubba: I'd fight and Die for Israel. New York Post. .By Andy Geler. August 2, 2002. Google users enter: clinton grab a rifle fight die 44. CNN.Rabin Assassinated at Peace Rally. November 4, 1995 Google users enter: rabin assassinated 45. The Fateful Triangle. Noam Chomsky's Account of the Sabra and Shatila Massacre. Google users enter: Chomsky Sabra Shatila 46. Third former Militiaman with links to Sabra and Chatila murdered. By Robet Fisk, The Independent, March 11,2001 Google users enter: fisk former militiaman murdered 47. CNN. Israeli troops, Palestinians clash after Sharon visits Jerusalem sacred site. September 28, 2002. Google users enter: cnn after sharon visits sacred 48.India Reacts. India in anti-Taliban military plan. June 21, 2001. Google users enter: india anti taliban military plan 49. Ibid 50. Jane’s International Security News. (England) India joins anti-Taliban coalition. By Rahul Bedi. March 15, 2001 Google users enter: india joins anti-taliban coalition Rahul Bedi 51. The Telegraph. (England) Israeli security issued urgent warning to CIA of large-scale terror attacks. By David Wastell in Washington and Philip Jacobson in Jerusalem. September 16, 2001. Google users enter: telegraph israeli security issued urgent warning 52. Biz Report (from Frankfuter Algemaine Zeitung of Germany) Echelon Gave Authorities Warning Of Attacks. By Ned Stafford. September 13, 2001. Google users enter: Zeitung of Germany Echelon Gave Authorities Warning 53. ibid 54. San Francisco Chronicle.Willie Brown got low­key early warning about air travel By Phillip Matier, Andrew Ross. September 12, 2001. Google users enter: chronicle willie brown got early warning

97

55. Newsweek. Bush: We're at War. By Evan Thomas and Mark Hosenball. September 24, 2001. Google users enter: newsweek bush evan thomas we're at war 56. Newsbytes/Washington Post. Instant message to Israel warned of WTC attack. September 27, 2001. By Brian McWiliams Google useres enter: instant messages Israel warned attack 57. New York Times. Spilled Blood is Seen as Bond That Draws 2 Nations Closer. By James Bennet. September 12, 2001. Google users enter: it will generate immediate sympathy for Israel 58. ABC News20/20. ABCNews.com, June 21,2001.Google users enter : white van Israeli spies 59. The Bergen Record (New Jeresy). Five Men Detained as Suspected Conspirators. By Paulo Lima. September 12, 2001. Google users enter: paulo lima five men detained 60. The Bergen Record. (New Jersey) Five hijack suspects had links to N.J. By Adam Lisberg. September 15, 2001. Google users enter: adam lisberg guys were joking 61A. New Jersey Department of Law and Public Safety. Division of Consumer Affairs. December 13, 2001. Google users enter: state granted access to moving facility 61B. The Forward. March 15, 2001. Spy Rumors Fly on Ghosts of Truth. By Marc Perelman. Google users enter: Americans Probing Reports of Israeli Espionage 62. ABC News20/20. ABCNews.com, June 21,2001.Google users enter : white van Israeli spies 63.Unmat (Pakistan). From BBC Monitoring Service. September 28,2001. Google users enter: bin laden already said I am not involved 64. WCBV TV. Boston Channel. FBI Agents Search Hotels; Several People Detained . September 12, 2001 Google users enter: boston airport koran arab flight 65. Ibid 66. Guardian Unlimited. (England) Uncle Sam's Lucky Finds. By Anne Karpf. March 19, 2002 Google users enter: uncle sam lucky finds anne karpf and also atta passport found 67. ABCNews.com. Saudi Prince says Seven Saudis on FBI list Innocent. September 23, 2001. Google users enter: hijack suspects alive and well 68. The Telegraph. (England). Revealed: The Men With Stolen Identities. By David Harrison. September 23, 2001. Google users enter: hijackers still alive and well and also telegraph men with stolen identities hijackers 69. ABCABCNews.com. Saudi Prince says Seven Saudis on FBI list Innocent. September 23, 2001. Google users enter: hijack suspects alive and well 70. BBC News (England) Hijack Suspects alive and well. September 23, 2001. Google users enter: hijack suspects alive and well 71. CNN. Hijackers likely skilled with fake IDs September 21, 2001. Google users enter: cnn mueller identity thefts 71B. Washington Post. Some Hijacker Identities Uncertain. By Dan Eggen, George Lardner Jr. and Susan Schmidt. September 20, 2001. 72. The Week (India) Aborted Mission. Investigation: Did Mossad attempt to infiltrate Islamic radical outfits in south Asia? By Subir Bhaumik. February 6, 2000. Google users enter: muslim tabliqis mossad 73.Express India. Indian intelligence wiretap identified 9/11 hijackers. Press Trust of India. April 3,2002 Google users enter: indian intelligence wiretap identified 9/11 74. Jewsweek. India. Israel’s New Best Friend? By Gil Sedan. The Jewish Telegraph Agency. August 2002. Google users enter: jewsweek Israel new best friend 75. Wikipedia.com. The Free Encyclopedia. Mohammed Atta Google users enter: atta reported passport stolen 76. Frontline. PBS. Inside the Terror network. January 17, 2002 Google users enter: frontline atta shy timid 77. ABC Channel 4. (Florida). A Mission To Die For. Rudi Dekkers interviewed by Quentin McDermott. October 21, 2001 Google users enter: rudi dekkers interview 78. ibid 79. Ibid

98

80. Star Tribune. Eagan Flight Trainer Won’t Let Unease about Moussaoui Rest.. December 21, 2001. Google users enter: star tribune eagan flight trainer 81. MSNBC. He Never Even Had a Kite. By Alan Zarembo.. September 24, 2001. Google users enter: atta he never even had kite 82. The Israeli Art Student Papers. Antiwar.com. By Justin Raimondo. March 21, 2002. Google users enter: Israeli art students hollywood 83. Boston Globe. March 5, 1994 Google users enter: baruch goldstein 84. Goldstein memorial website. http://www.newkach.org/special/baruch/02.htm Google users enter: baruch goldstein 84B. JDL's Irv Rubin Brain Dead After Suicide Attempt. By Dan Whitcomb. Rueters. 85.Ha’aretz. (Israel) At least two Israelis dead in Tower attack .By Mazal Mualem and Shlomo Shamir Google users enter: daniel lewin elite commando 86. CNN. Investigators Arrive at Payne Stewart Crash Site. October 26,1999. Google users enter: CNN payne stewart crash 87. Forward. Defensive Saudis Lash Out at 'Zionist' and U.S. Critics . By Marc Perelman. December 28,2001. Google users enter: perle zionist defense policy board 88. Newsweek. Bush: We're at War. By Evan Thomas and Mark Hosenball. September 24, 2001. Google users enter: newsweek bush evan thomas we're at war 89. UPI United Press International. Sep. 26, 2001 Interview with General Gul Google users enter: hamid gul upi interview 89B.Former Top German Spy Says U.S. Wrong About September 11. By Christopher Bollyn.The American Free Press. 28 Jan. Issue, 2002 quoting from Tagesspiegel interview, published on Jan. 13,2002. Google users enter: andreas von bulow interview 89C. Ibid 89D. Fresno Bee. Analysis - Conspiracy Theories Arise From September 11 Attacks. By James Rosen McClatchy. Washington Bureau 1-13-2 . Google: "Let us never tolerate outrageous conspiracy theories 90. Press release from Law Firm of Baum, Hedlund, Aristei, Guilford & Schiavo. April 11, 2002 Google users enter: family members lawsuit huntleigh 9-11 91. Ibid 92. Hoover’s Online. The Business Information Authority. Google users enter: hoover online icts 93. Associated Press. Experience, Reputation Make Israelis Hot Commodities for Homeland Security. By John P. Mcalpin. March 21, 2002. Google users enter: mcalpin experience reputation make israelis 94. Ha’aretz. (Israel) Hackers using Israeli 'net site to strike at Pentagon. By Nitzan Horowitz. July 30 1999 Google users enter: Israel hackers pentagon 95. US Department of Justice Press Release. March 18, 1998 Google users enter: israeli citizen arrested israel hacking 96. Jerusalem Post. WTC Architect: Collapse “Unbelievable”. By Michael Meyer and Stuart Winer. September 12, 2001. Google users enter: swirsky collapse unbelievable 97. American Free Press. Eyewitness Reports Persis Of Bombs At WTC Collapse. By Christopher Bollyn. December 12, 2001. Google users enter: bollyn bombs lee robertson 98. Albuquerque Journal. ABQjournal.com. Explosives planted in towers,N.M. Tech Expert Says. By Oliver Uyttebrouck. September 11, 2001. Google users enter: romero explosives planted tower 99. Albuquerque Journal. ABQjournal.com. Fire, Not Extra Explosives, Doomed Buildings, Expert Says. By John Fleck. September 21, 2001. Google users enter: van romero fire not explosives 100. People Magazine. People.com United in Courage. September 12, 2001. Google users enter: people louie cacchioli 51 101. Reuters News Service. World Trade Center Scrap Sails for India, China. By Pete Harrison and Manuela Badawy .January 21, 2002. Google users enter: world trade center scrap sails

99

102..Chinese Radio International. January 2002. Google users enter: cri online world centre trade scrap 103.. New York Daily News. Firefighter Mag raps 9/11 Probe. By Joe Calderone. January 4, 2002. Google users enter: joe calderone firefighter mag raps 104. Ibid 105. New York Times. Experts Urging Broader Inquiry In Towers’ Fall. December 25, 2001. Google users enter: times experts urging broader nquiry towers fall 106. ibid 107. ibid 108.News India. Census of Sept. 11 Victims by Birthplace. April 26, 2002. Google users enter: census of sept. 11 victims by birthplace 109. Jerusalem Post. Thousands of Israelis missing near WTC, Pentagon. September 12, 2002. Google users enter: jerusalem post thousands israelis missing 110. New York Times. Bush speech to US Congress. September 22, 2001. Google users enter: nor will we forget more than 130 israelis 111A. CNN. September 11. A Memorial. Google users enter: cnn september 11 memorial 111B. NY Times. September 22, 2001 112. Newsbytes/Washington Post. Instant message to Israel warned of WTC attack. September 27, 2001. By Brian McWiliams Google users enter: instant messages Israel warned attack 113A. Jerusalem Post Digital Israel. Zim Workers Saved By Cost-Cutting Measures. November 12, 2001. Google users enter: zim workers saved if removed try: zim saved by move to virginia zim Israel navigation 113B Bible Light International. Zim saved by a Move to Virginia. June 2001 Google users enter: zim israel navigation world trade center Virginia 114A Jerusalem Post Digital Israel. Zim Workers Saved By Cost-Cutting Measures. November 12, 2001. Google users enter: zim workers saved if removed try: zim saved by move to virginia zim Israel navigation 114B. Bible Light International. Zim saved by a Move to Virginia. June 2001 Google users enter: zim israel navigation world trade center Virginia 115A.Jerusalem Post Digital Israel. Zim Workers Saved By Cost-Cutting Measures. November 12, 2001. Google users enter: zim workers saved if removed try: zim saved by move to virginia zim Israel navigation 115B.Bible Light International. Zim saved by a Move to Virginia. June 2001 Google users enter: zim israel navigation world trade center Virginia 116A.India Reacts. India in anti-Taliban military plan. June 21, 2001. Google users enter: india anti taliban military plan 116B. Jane’s International Security News. (England) India joins anti-Taliban coalition. By Rahul Bedi. March 15, 2001 Google users enter: india joins anti-taliban coalition Rahul Bedi 117. Der Erste.(Germany) Monitor. Aired December 20, 2001. Translated by Craig Morris. Google users enter: bin laden translation manipulated for German original transcripts enter: monitor bin laden video restle sieker 118. Ibid 119. Sam Lacey. More Osama Video Analysis . Google users enter: more osama video analysis 120. The New York Times. Pentagon Considers Using Lies. By James Dao & Eric Schmitt. February 18,2001. Google users enter: new york times simon worden osi 121. Zionist Organization of America Press Release. October 13, 1997 Google users enter: Zionist organization america feith award 121B. CNN. General: Asteroid could start nuke war, By Richard Stenger (CNN)Thursday, October 3, 2002

100

122. The Times (England). FBI Fails to Expose al-Qaeda networks. By Daniel McGrory. March 11, 2002. Google users enter: FBI Fails Expose al-Qaeda networks 123. Sydney Morning Herald. (Reprinted from Los Angeles Times) The Plot thins as FBI hunts for evidence. May 1, 2002 Google users enter: plot thins as FBI hunts evidence 124. Newsmax. Scandal inside the FBI: Why did G-Men Miss the Boat on 9-11? By Wes Vernon. March 14, 2002 Google users enter: robert wright fbi 125. Time Magazine. Time.com. Coleen Rowley's Memo to FBI Director Robert Mueller. May 21, 2002. Google users enter: time rowley memo mueller 126. Ibid 127. The Washington Post. 2 FBI whistleblowers Allege Lax Security, Possible Espionage. By James V. Grimaldi. June 18, 2001 Google users enter: sibel edmonds john cole 128. ibid 129. ibid 130. Los Angeles Times. Inquiries of Intelligence failures Hits Obstacles. By Greg Miller. Google users enter: times inquiry intelligence failures hits 130B.New Excuses, Old Hatred: Worldwide Anti-Semitism In Wake Of 9/11 by Abraham H. Foxman National Director of the Anti-Defamation League Google: foxman anti Zionism is anti semitism 130C. Ibid 131.www.fbi.gov FBI Major Speeches. Anti-Defamation League's 24th Annual National Leadership Conference. Washington, DC May 7, 2002 Google users enter: Mueller fbi adl speech 132. Arab News. ADL Found Guilty Of Spying By California Court . By Barbara Ferguson. Arab News Correspondent. April 27, 2002. Google users enter: barbara Ferguson adl guilty 133. ibid 134. The Hartford Courant. Turmoil in a Perilous Place. Angry Scientists Allege Racism at Bio-warfare Lab. By Lynee Tuohy & Jack Dolan. December 19, 2001. Google users enter: courant assaad zack anthrax 135. Ibid 136. FBI. www.fbi.gov Google users enter: anthrax letters 137. ibid 138. The Hartford Courant. Turmoil in a Perilous Place. Angry Scientists Allege Racism at Biowarfare Lab. By Lynee Tuohy & Jack Dolan. December 19, 2001. Google users enter: courant turmoil perilous place And also anthrax downs zack 139. ibid 140. ibid 141. Hartford Courant. Anthrax Missing from Army Lab. By Jack Dolan & Dave Altimari. January 20, 2001. Google users enter: courant anthrax missing army lab 142. ibid 143. See footnotes 138 and 141. 144. Globe and Mail. (Canada). On the Trail of an Anthrax Killer. By Paul Koring. March 6, 2001. Google users enter: globe mail trail anthrax killer 145. Seattle Times. Deadly specimens disappeared from Army research lab in '90s. Reprinted from Hartford Courant. January 21, 2002 Google users enter: seattle times anthrax zack 146. Insight Magazine. Media Manufacture Cloud of Suspicion Over Hatfill. August 14, 2002. By Nicholas Stix Google users enter kristof hatfilll 147. The Times of Trenton. Expert: Anthrax Suspect ID’d. By Joseph Dee. February 19, 2002. Google users enter: rosenberg hatfill 148. Insight Magazine. Media Manufacture Cloud of Suspicion Over Hatfill. August 14, 2002. By Nicholas Stix Google users enter kristof hatfilll

101

149. Washington Post. Ex Army Scientist Denies Role in Anthrax Attacks. August 2002. Google users enter: rosenberg hatfill 150. Washington Times. Scientist Says FBI asked About Setup. By Gus Taylor. August 3, 2001. Google users enter: hatfill fbi passed lie detector test 151.The Mercury (Philadelphia area newspaper) 2 Found with Video of Swears Tower. By Michelle Mowad. October 17, 2001 Google users enter: Mercury 2 found video sears tower 152. ibid 153. ibid 154. ibid 155. Diario de Mexico. Bomba en San Lazaro. October 11, 2001. Google users enter: action report visual proof mexico and also mossad terrorists mexico 156. Mexican Department of Justice. (PGR) Press Bulletin. October 12, 2001. Bulletin 697/01 PGR bulletin can be viewed in Spanish, Google users enter: Mossad terrorists penetrate Mexican congress 157. Diario de Mexico. Bomba en San Lazaro. October 11, 2001. Google users enter: action report visual proof mexico and also mossad terrorists mexico 158. Mexican Attorney General Releases Zionist Terrorists. La Voz de Aztlan. By Ernesto Cienfuegos. October 15, 2001 Google users enter: mossad zionist terrorists mexico 159. Ibid 160. Jerusalem Post. FBI suspect Israelis of Nuclear Terrorism. November 1, 2001. Go to: www.jpost.com/Editions/2001/11/01/LatestNews/LatestNews.37390.html (Case sensitive. enter lower case and upper case letters exactly as shown. ) or Google to: Jerusalem post FBI suspect israelis nuclear 161. ibid 162. Miami Herald. Nuclear plants tighten security FBI seeking 6 men seen in Midwest . By Martin Merzer, Curtis Morgan, & Lenny Savino. October 3, 2001. Google users enter: miami herald israelis nuclear power plans 163. The Times (England) FBI Fury as Men with Nuclear Plan Escape. By Katty Kay in Washington. November 1, 2001. Google users enter: katty kay fbi nuclear plan israeli 164. Los Angeles Time. Militant JDL Members Arrested by FBI. By Linda Deutsch. December 12, 2001. Google users enter: jdl bomb rubin issa 165. FOX News. Police Seize Rental Truck with TNT Traces. By Carl Cameron. May 13, 2001 Google users enter: fox bomb sniffing Israeli truck 166. Ha’aretz. (Israel) 2 Israelis wanted in US After Traces of Explosives Found in Their Truck. May 18, 2002 Google users enter: american police arrested two Israelis gear shift 167. FOX News. Massive Israeli Spy Operation2 Discovered in US. Carl Cameron Investigates. Four Part series. December 2001. Google users enter: israeli spy carl cameron investigates 168. Washington Post. 60 Israelis on Tourist Visas detained Since Sept. 11. By John Mintz. November 23, 2001. Google users enter: washington post 60 Israelis detained 169. FOX News website. Carl Cameron Investigates. This Story No Longer Exists. December 21, 2001 View this very strange posting…. Google users enter: carl cameron this story no longer exists http://www.foxnews.com/story/0,2933,40684,00.html 170. FOX News. Massive Israeli Spy Operation2 Discovered in US. Carl Cameron Investigates. Four Part series. December 2001. Google users enter: israeli spy carl cameron investigates 171. KHOU, Channel 11 (Houston) Federal Buildings Could be in Jeopardy - in Houston and Nationally October 10, 201. Google users enter: israeli art students federal buildings 172. ibid

102

173. ibid 174. FOX News. Massive Israeli Spy Operation Discovered in US. Carl Cameron Investigates. Four Part series. December 2001. Google users enter: Israeli spy carl cameron 175. See footnote # 51 176. See footnote # 122 177. FOX News. Massive Israeli Spy Operation Discovered in US. Carl Cameron Investigates. Four Part series. December 2001. Google users enter: Israeli spy carl cameron 178. Executive Intelligence Review. Lyndon Larouche. January 2001. Google users enter: larouche middle east war implications 178B. The Life Of An American Jew In Racist-Marxist Israel. By Jack Bernstein,© 1984 178C. Ibid 179. Arizona Daily Star. .WWIII Is Coming 'Whether They Like It Or Not' -Top Sharon Aide By Stephanie Innes, April 27, 2002. Google users enter: gissin world war coming like or not 180. CNS News. Israel to US: Don't Wait To Attack Iraq, Report Says. August 2002. Google users enter: peres iraq attack 181. New York Post. Today We are All Americans. By Benjamin Netanyahu. September 21, 2001. Google users enter: netanyahu today we all americans 182. ABC News20/20. ABCNews.com, June 21,2001.Google users enter : white van Israeli spies 183. New York Times. Spilled Blood is Seen as Bond That Draws 2 Nations Closer. By James Bennet. September 12, 2001. Google users enter: new york times spilled blood bond draws 184. CNN. Sharon Compares Incursions to U.S. War on Terror. CNN.com. May 7, 2002 Google users enter: Sharon speech adl 185. The Jerusalem Post.Jewish leaders stress Palestinians' support of attacks. By Melissa Radler. September 13, 2001. Google users enter: radler jewish congress jack rosen 186. Telegraph. (England) Bush will act alone if need be, says Perle. By Toby Harnden in Washington, August 9, 2002. Google users enter: perle bush will act alone 187. The obscure goat story of 9-11. ecclesia.org . Google users enter: obscure goat story bush and also card bush turned somber reading 188. Day of Deceit. By Robert Stinnett. (Simon and Schuster 2001) Google users enter: robert stinnett pearl harbor 189. Time Magazine. How George Bush Earned His Summer Vacation. By James Carney and John Dickerson. August 5, 2001. Google users enter: longest vacation in presidential history 190. CBS News. Tariq Azis interview with Dan rather. August 20,2002/ Google users enter: tariq aziz dan rather 191. Washington's Farewell Address. Google users enter: washington's farewell address

103