Patofisiologi Pneumonia Oleh; Shopiati Merdika Nugraha, 1106012741

Definisi pneumonia Pneumonia adalah inflamasi akut pada parenkim paru. Inflamasi ini disebabkan oleh sebagian besar oleh mikroorganisme (virus atau bakteri) dan sebagian kecil oleh hal lain seperti aspirasi dan radiasi (Said, 2008; Sectish and Prober, 2007). Pneumonia merupakan radang paru yang disebabkan mikroorganisme(bakteri, virus, jamur, dan parasit). Proses peradangan akan menyebabkan jaringan paru yang berupa aveoli (kantung udara) dapat dipenuhi cairan ataupun nanah. Akibatnya kemampuan paru sebagai tempat pertukaran gas (terutama oksigen) akan terganggu. Kekurangan oksigen dalam sel-sel tubuh akan mengganggu proses metabolisme tubuh. Bila pneumonia tidak ditangani dengan baik, proses peradangan akan terus berlanjut dan menimbulkan berbagai komplikasi seperti, selaput paru terisi cairan atau nanah (efusi pleura atau empiema), jaringan paru bernanah (abses paru), jaringan paru kempis (pneumotoraks) dan lain-lain. Bahkan bila terus berlanjut dapat terjadi penyebaran infeksi melalui darah (sepsis) ke seluruh tubuh sehingga dapat menyebabkan kematian. Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang. Kantong-kantong udara dalam paru yang disebut alveoli dipenuhi nanah dan cairan sehingga kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bisa bekerja. Karena inilah, selain penyebaran infeksi ke seluruh tubuh, penderita pneumonia bisa meninggal. Sebenarnya pneumonia bukanlah penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacammacam dan diketahui ada 30 sumber infeksi dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun partikel. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali per menit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.

2008). Pada penyembuhan demam menurun secara tiba-tiba (krisis) dalam 5-9 hari. Staphylococcus aureus. dan Haemophilus influenza.fungus. 2008). Di negara maju. pneumoniae. Jarang timbul relaps. .pekak relatif pada perkusi. termasuk strain atipik. virus yang terbanyak ditemukan adalah RSV. Gambaran radiologik jelas terlihat infiltrate yang jelas. 2008). demam tidak terlalu tinggi (sering sebagai demam remitten). Anak tampak sakit berat.hypostatic pneumonia.prognosis baik. cakupan vaksinasi Hib dan Pneumokokus cukup luas (Said.virus. Keadaan umum tidak terlalu terganggu (bila belum sesak).pergerakan dada pada sisi yang sakit tampak lambat. Namun secara umum. pada foto thorax tidak tampak bayangan infiltrate (atau bila ada tersebar kecil). bakteri coli.sembuh sempurna.demam tinggi.Etiologi Faktor penting dalam kekhasan pneumonia anak adalah usia (Said.kebanyakan menyerang anak besar (biasanya sesdudah berumur 3 tahun). Tidak ditemukan pekak relatif pada perkusi. H. Pada tabel 2.aspirasi. TBC.alergi . dan virus parainfluenza (Said. Spektrum etiologi ini tidak dapat serta merta di ekstrapolasikan di Indonesia karena faktor risiko pneumonia yang berbeda. Said. Pneumonia bakteri dapat disebabkan oleh Pneumococcus.  Bronchopneumonia Biasanya merupakan penyakit sekunder. Kebanyakan menyerang bayi dan anak kecil. lalu menurun perlahan setelahnya (Sectish and Prober. Klebsiella. Di negara maju pelayanan kesehatan dan akses ke pelayanan kesehatan sangat baik. 2007). Ditemukan pula pneumonia yang disebabkan oleh virus. 2008).influenza. 2007). Rhinovirus. mortalitas rendah.1 ditampilkan daftar etiologi pneumonia anak di negara maju. Penyebab pneumonia bermacam-macam yaitu bakteri. (McIntosh. Di negara berkembang pneumonia anak khususnya disebabkan oleh bakteri khususnya S. 2002. Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab pneumonia yang paling sering (Sectish and Prober. Staphylococcus. Manifestasi Klinis Secara anatomik pneumonia terbagi atas dua yaitu :  Pneumonia lobaris Merupakan penyakit primer.timbul setelah menderita penyakit lain. Frekuensi tertinggi dari viral pneumonia terjadi pada usia 2-3 tahun.

IgA sekretori. 2006). dan pada perabaan seperti hepar. Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat. Reaksi jaringan menimbulkan edema yang mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. 2003).mortalitas lebih tinggi. Karena saluran napas terus-menerus terpapar agen infeksius. Inilah yang disebut sebagai stadium hepatisasi merah. Terjadi konsolidasi yaitu terjadi serbukan sel polimorfonuklear. Proses radang pneumonia dapat dibagi atas 4 stadia. tempat terjadi fagositosis Pneumococcus. Stadium ini berlangsung sangat pendek. Alveolus terisi fibrin dan leukosit. leukosit neutrofil eksudat dan banyak sekali eritrosit dan kuman. warna menjadi merah. fibrin. Stadium ini berlangsung sangat pendek. Saluran napas memiliki mekanisme pertahanan yang menjaganya tetap steril. Di dalam alveolus didapatkam fibrin. Fibrin diresorbsi dan menghilang.(4) stadium resolusi: eksudat berkurang. warna mernjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Mekanisme pertahanan imunologis di paru yaitu makrofag yang berada di alveoli dan bronkiolus. Dengan pe\ pengobatan antibiotika urutan stadium khas ini tidak terlihat. eritrosit. Selanjutnya deposisi fibrin semakin meningkat. yaitu : (1) stadium kongesti: kapiler melebar dan kongesti serta di dalam alveolus terdapat eksudat jernih . yaitu bersihan oleh mukosiliar. Secara patologi anatomis bronkopneumonia berbeda dari pneumonia lobaris dalam hal lokalisasi sebagai bercak-bercak dengan distribusi yang tidak teratur. terdapat fibrin dan leukosit di . dan Ig lainnya (Sectish and Prober. beberapa neutrofil dan makrofag. dan sembuh dengan sisa-sisa fibrosis. IgA sekretori.Sering relaps. sel-sel imun. cairan edema. penyebarannya langsung dari saluran napas atas (Asih dkk. Kapiler tidak lagi kongesif. Umumnya mikroorganisme penyebab pneumonia terhisap ke paru bagian perifer. dan ditemukannya kuman di alveoli dari bagian paru yang terkena. (2) Stadium hepatisasi merah: lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak menggabung udara. (3) stadium hepatsasi kelabu: lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu. dan mekanisme batuk. tidak efektif dan lemahnya mekanisme pertahanan ini menyebabkan terjadinya infeksi saluran napas dan paru (Hazinski. Permukaan pleura suram karna diliputi oleh fibrin. Dalam alveolus makrofag bertambah dan leukosit menglami nekrosis dan degenarasi lemak. 2007). Patogenesis Pneumococcus masuk ke dalam paru bayi melalui jalan pernafasan secara percikan (droplet).Bakteri dalam jumlah banyak.

mengi. 1999. Napas cepat dinilai dengan menghitung frekuensi napas selama satu menit penuh dalam keadaan anak/bayi tenang. Sistem bronkopulmoner yang tidak terkena akan tetap normal (Hassan dan Husein. 2008). fibrin menipis. Pneumonia berulang didefinisikan sebagai 2 atau lebih episode dalam setahun atau 3 atau lebih episode yang pernah dialami pasien. kesadaran menurun. agar anak segera dirujuk ke pelayana kesehatan. WHO juga menetapkan beberapa tanda bahaya. Stadium ini disebut stadium resolusi. 2005. 2008).alveoli. stridor. karena kuman ini menghasilkan berbagai toksin dan enzim seperti hemolisin. kuman dan debris menghilang. yaitu pneumonia-masyarakat (community-acquired pneumonia) yaitu infeksinya terjadi di masyarakat dan pneumonia nosokimoal (hospital-acquired pneumonia) bila infeksinya didapat di rumah sakit. dan demam/badan terasa dingin. bronkiektasis. Tanda bahaya bayi usia <2 bulan yaitu malas minum. Pneumonia nosokomial seringkali merupakan infeksi sekunder pada . Streptococcus pneumoniae biasanya bermanifestasi sebagai bercak-bercak konsolidasi merata diseluruh lapangan paru (bronkopulmoner). kejang. perdarahan. s\elalu memuntahkan segalanya dan gizi buruk. lekosidin. Tanda bahaya pada anak usia 2 bulan – 5 tahun yaitu tidak dapat minum. Staphylococcus aureus pada bayi sering menyebabkan abses-abses kecil atau pneumotokel. 2007). 2008). Klasifikasi Saat ini dikenal dua bentuk pneumonia berdasarkan tempat terjadinya infeksi. Said. Lobus tetap padat dan warna menjadi pucat kelabu. sehingga stadium yang telah disebutkan sebelumnya tidak terjadi. Stadium ini disebut sebagai stadium hepatisasi kelabu. kejang. Jika anak mengalami pneumonia berulang maka perlu dipertimbangkan adanya kelainan yang mendasari seperti fibrosis kista. dan terjadi fagositosis yang cepat. Pemberian antibiotik sedini mungkin dapat memotong perjalanan penyakit pasien pneumonia. dengan hasil radiologis normal diantara episode pneumonia. Pada tahap berikutnya terjadi peningkatan jumlah makrofag di alveoli. Beberapa bakteri tertentu memiliki gambaran patologis khas. Penilaian tanda bahaya harus diselesaikan sebelum penilaian lainnya agar dapat dilakukan penanganan segera dan rujukan tidak terlambat (Depkes RI. Sesak napas dinilai dengan melihat adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam ketika menarik napas (retraksi epigastrium). dan koagulase yang menyebabkan nekrosis. stafilokinase. AIDS. dan lain-lain (Sectish dan Prober. stridor. Said. dan kavitasi (Said. pada anak atau remaja dapat berupa konsolidasi pada satu lobus (pneumonia lobaris). sel mengalami degenerasi.

Klebsiella Sp. mikrorganisme atau kuman lebih mudah menembus pertahanan tubuh. jenis mikroorganisme yang menginfeksinya adalah mikrobakterium tuberculosis. disebabkan oleh bakteri. Dokter spesialis anak dari RSAB Harapan Kita. virus atau mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus ). Dr. gejala klinis. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Gejala khususnya adalah demam. vIrus misalnya virus influensa. “Akibatnya. dan terapi yang diberikan berbeda dengan pneumoniamasyarakat (Said. komplikasi. dan (3) pneumonia interstisialis (Hassan dan Husein. Dr. penderita mengalami kesulitan bernapas. sesak napas. “Pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri pneumokok. . „‟Pneumonia yang ada di masyarakat umumnya. 2005). Attila Dewanti SpA menjelaskan bahwa bakteri pneumokok ini dapat masuk melalui infeksi pada daerah mulut dan tenggorokan. dahak berwarna kehijauan atau seperti karet. 2008). Oleh sebab itu. mengikuti aliran darah sampai ke paru-paru dan selaput otak. Bambang Supriyatno SpA(K). Sedangkan. Jenis bakteri pneumococcus atau pneumokok belakangan semakin populer seiring kian dikenalnya jenis penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD). perbedaan mendasar antara pneumonia dengan TBC terletak pada jenis mikroorganisme yang menginfeksi. timbul peradangan pada paru dan daerah selaput otak. (2) pneumonia lobularis (bronkopneumonia). yang te\rmasuk IPD adalah radang selaput otak (meningitis) atau infeksi darah (bakteremia).” kata Bambang. Bambang menyebutkan.‟‟ katanya. “Pada TBC. Tapi akibatnya fungsi paru terganggu. Epidemiologi Menurut dokter spesialis paru dari RSIA Hermina Jatinegara. Sedangkan secara anatomis.‟‟ sambungnya. menembus jaringan mukosa lalu masuk ke pembuluh darah. Selain pneumonia.berbagai penyakit dasar yang telah diderita pasien sehingga spektrum etiologi. Rentannya anak terkena penyakit pneumonia umumnya dikarenakan lemahnya atau belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh balita. Staphylococcus Aureus. Pseudomonas sp. kerap menimbulkan komplikasi dan mengakibatkan penderita juga terkena meningitis atau bakteremia. bakteri yang umum adalah streptococcus Pneumoniae.” tambahnya. derajat beratnya penyakit. karena tak tersisa ruang untuk oksigen. serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru. pneumonia dibagi menjadi: (1) pneumonia lobaris. napas dan nadi cepat.

2009). 2009). 2006). Menurut WHO (2006). bila sudah sesak baru dibawa ke dokter.8% kematian balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit respiratori terutama pneumonia (Said.877 kasus (17. Diperkirakan lebih dari 150 juta kasus pneumonia terjadi setiap tahunnya pada balita di negara berkembang.6% (Depkes RI. Karena gejala awal panas dan batuk. 2006). 2006). Antara 11 sampai 20 juta anak dengan pneumonia butuh rawat inap dan lebih dari 2 juta meninggal. Penyakit ISPA yang menjadi fokus program kesehatan adalah pneumonia karena merupakan salah satu penyebab utama kematian anak (Depkes RI. 2008). ” jelas Atilla. ISPA dibagi menjadi pneumonia dan nonpneumonia. Di Propinsi NTB.5%) di Kabupaten Lombok Barat. menurut Depkes RI tahun 2008.752 kasus dimana lebih dari 70% tersebar di empat kabupaten/kota yaitu 14.8 juta balita tiap tahunnya meninggal karena pneumonia. Pada tahun 2001. Angka ini melebihi jumlah akumulasi kematian akibat malaria. Di Indonesia ISPA masih mendapat perhatian cukup besar.Namun. segeralah ke dokter untuk dicari tahu penyebabnya.7%) di Kabupaten .026 episode/anak/tahun dibandingkan negara berkembang 0. “Orang tua sering datang terlambat membawa anaknya ke dokter. pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak usia di bawah 5 tahun (balita). AIDS. Perlu pula diingat bahwa insidensi pneumonia berkurang seiring dengan bertambahnya usia anak (UNICEF/WHO. SKN menyebutkan 22. yaitu sekitar 95% dari semua kasus baru pneumonia di dunia (UNICEF/WHO. vaksinasi. Tiga perempat kejadian pneumonia pada balita di dunia terjadi di 15 negara dan Indonesia menduduki urutan keenam dengan insidensi per tahunnya sekitar 6 juta (UNICEF/WHO. Antara 40-60% kunjungan di puskesmas adalah karena ISPA.28 episode/anak/tahun). Propinsi NTB. Dinkes Propinsi NTB melaporkan bahwa jumlah kejadian pneumonia pada tahun 2007 sebanyak 55.6% kematian bayi dan 22. orang tua sering mengobati sendiri dirumah dengan obat biasa. 2007). menduduki urutan pertama kejadian pneumonia anak di Indonesia yaitu sekitar 56. dan campak. Hal ini diperkirakan karena peran antibiotik. Karenanya dokter spesialins bagian neurologi anak ini menyatakan sebaiknya bila anak sakit panas tinggi dan batuk.247 kasus (25. 9. dan asuransi kesehatan anak yang berkembang di negara maju (Sectish and Prober. Kejadian pneumonia di negara maju jauh lebih kecil (0. yaitu sekitar 19% atau sekitar 1. gejala awalnya yang tergolong sederhana seringkali membuat orangtua kurang waspada terhadap penyakit ini.

Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia. terutama terkait dengan meningkatkan resistensi bakteri pneumokokus. Klasifikasi Bukan-pnemonia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. termasuk pneumonia. upayakan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik. atau malnutrisi. bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan . Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain batuk-pilek biasa. 6 bulan dan diulang lagi pada usia 12 bulan. usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pencegahan Penanggulangan penyakit Pnemonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA (Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit. “Selain itu. Pencegahan penyakit IPD. menurut penjelasan Atilla adalah sebanyak 4 kali. Ungkapan klasik bahwa “mencegah lebih baik daripada mengobati” benar-benar relevan dengan penyakit pneumonia ini. Selain imunisasi.4%) di Kabupaten Lombok Tengah (Dinkes Propinsi NTB. sehingga memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangannya.828 kasus (17. peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%. tonsilitis dan otitis. Mengingat pengobatannya yang semakin sulit.Lombok Timur. dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. 9. 2008). yakni pada saat bayi berusia 2 bulan. 4 bulan. MMR maupun Hepatitis B. Yaitu. Adapun mengenai waktu ideal pemberian vaksin IPD. pharyngitis. Menurut Atilla yang juga bertugas di klinik khusus tumbuh kembang anak RSAB Harapan kita. Atilla menguatkan bahwa vaksin itu aman dan dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti Hib. maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan. Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat.” jelasnya. antara lain dengan cara cukup istirahat juga olahraga. Pneumonia oleh Bakteri Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja. pencegahan pneumonia menurut Bambang adalah dengan menjaga keseimbangan nutrisi anak. usia tua.741 kasus (17. dari bayi sampai usia lanjut. dan 9.6%) di Kota Mataram.

namun dengan sedikit lendir. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda.kerusakan. Angka kematian sangat rendah. Bahkan untuk pencegahan vaksinnya pun sudah tersedia. Karena itu. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama. Demam dan menggigil hanya muncul di awal. Demam tinggi kadang membuat bibir menjadi biru. Sebelum terlambat. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. ngilu diseluruh tubuh. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influensa. Mikoplasma menyerang segala jenis usia. Pneumonia oleh virus Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. gigi bergemelutuk. batuk kering sakit kepala. Gejala Pneumonia oleh virus sama saja dengan influensa. Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi. batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Bibir dan kuku mungkin membiru karena tubuh kekurangan oksigen. pasien akan mengigil. gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian. pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal ( Atypical Penumonia ). Dan letih lesu. penyakit ini masih bisa diobati. Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walau tidak terlihat jaringan paru yang dipenuhi cairan. Namun. dan denyut jantungnya meningkat cepat. Gejala yang paling sering adalah batuk berat. selama 12 – 136 jam. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri. sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Pada kasus yang eksterm. yaitu demam. Pneumonia Jenis Lain Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia ( PCP ) yang diduga disebabkan oleh jamur. berkeringat. napas terengah-engah. PCP biasanya menjadi tanda awal serangan penyakit pada pengidap . Pneumonia mikoplasma Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda-tanda fisiknya bila dibandingkan dengan pneumonia pada umumnya. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas-terutama pada anak-anak. napas menjadi sesak. bahkan juga pada yang tidak diobati. sakit dada. dan pada beberapa pasien bisa mual dan muntah.gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah. meski memiliki karakteristik keduanya. dan kalau batuk mengeluarkan lendir berwarna hijau.

Penyakit-penyakit ini juga mengganggu fungsi paru. PCP bisa diobati pada banyak kasus. gas. . Komplikasi Dengan penggunaan anti biotika. cairan. perikarditis. otitis media akut.juga masuk golongan antara virus dan bakteri-menyebabkan demam Rocky Mountain. namun pneumonia tuberkulosis alis TBC adalah infeksi paru paling berbahaya kecuali dioabati sejak dini. demam Q. peritonitis lebih jarang dilihat. tipus. komplikasi hampir tidak pernah dijumpai. Rickettsia. debu maupun jamur. Pneumonia lain yang lebih jarang disebabkan oleh masuknya makanan. Komplikasi media lain seperti meningitis. dan psittacosis. Bisa saja penyakit ini muncul lagi beberapa bulan kemudian.HIV/AIDS. osteomielitis. Komplikasi yang dapat dijumpai ialah: empiema. namun pengobatan yang baik akan mencegah atau menundah kekambuhan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful