Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Propinsi Banten lahir dalam era otonomi daerah yang tumbuh berkembang sesuai
dengan kemampuan serta karakteristik khas dari daerah, yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat
Banten.

Pembangunan memerlukan perencanaan yang komprehensif serta sesuai dengan
harapan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Sebagai salah satu dokumen
perencanaan, Rencana Strategis Daerah (RENSTRA) merupakan dokumen yang
digunakan sebagai peta yang menunjukan arah pembangunan yang ingin dituju
bagi Pemerinatah Propinsi Banten beserta masyarakatnya.

Sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, Pemerintah
Propinsi Banten berupaya untuk menyusun dokumen Renstra Propinsi Banten
Tahun 2002 – 2006 yang terdiri dari Visi – Misi – Tujuan – Sasaran yang akan
dicapai selama kurun waktu tersebut dengan disertai strategi kebijakan dan
program pembangunan yang akan dilakukan serta indikator untuk mengukur
pencapaian kinerja.

Dokumen ini disusun melalui serangkaian kegiatan kajian ilmiah serta diskusi dan
lokakarya yang melibatkan para pelaku pembangunan di seluruh kabupaten dan
kota di wilayah Propinsi Banten. Keterlibatan pelaku pembangunan dimaksudkan
agar dokumen perencanaan memiliki bobot aspiratif sebagai hasil partisipasi para
pelaku kegiatan kepemerintahan di Propinsi Banten.

Kegiatan penyusunan Renstra Propinsi Banten ini merupakan sebuah langkah
awal dari kegiatan perencanaan pembangunan di Propinsi Banten. Keberhasilan
dari perencanaan pembangunan yang telah disusun, sangat bergantung semua
pihak terkait serta para pelaku pembangunan untuk bersama-sama bahu
membahu mewujudkan cita-cita masyarakat Banten yang mandiri, maju, dan
sejahtera.


Gubernur Banten

KATA PENGANTAR

Sejalan dengan upaya-upaya pelaksanaan pembangunan di segala bidang sesuai
dengan maksud dan tujuan pembentukan Propinsi Banten, maka Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Banten bersama-sama dengan
Pemerintah Propinsi Banten telah melaksanakan penyusunan salah satu dokumen
perencanaan daerah yaitu Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Propinsi Banten
2002 – 2006, yang alhamdulillah telah ditetapkan menjadi Peraturan Daerah
Propinsi Banten Nomor 2 Tahun 2002.

Proses penyusunan dokumen Renstrada ini dilaksanakan melalui beberapa
tahapan, dimana dalam setiap tahapan tersebut telah melibatkan semua pihak
yang terkait, berkepentingan dan dianggap berkompeten dalam bidangnya.
Proses dan tahapan ini dilakukan tidak hanya karena ketentuan peraturan
perundang-undangan mensyaratkan demikian, tetapi juga karena kesadaran
akan arti pentingnya peran serta aktif semua pihak sebagai perwujudan rasa
tanggung jawab bersama untuk membangun dan memajukan Propinsi Banten.
Dengan demikian dokumen Renstrada ini bisa dikatakan sebagai komitmen
bersama baik eksekutif, legislatif serta semua stakeholoders di Propinsi Banten.

Demikian semoga Rencana Strategi Daerah Propinsi Banten dapat benar-benar
dijadikan sebagai dasar acuan bersama dalam mengarahkan pembangunan
Propinsi Banten Tahun 2002 – 2006.



Ketua DPRD Propinsi Banten

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Besar, karena dalam waktu
yang relatif singkat Pemerintah Propinsi Banten bersama-sama dengan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Banten telah berhasil menyelesaikan
penyusunan dan pembahasan salah satu dokumen perencanaan daerah yaitu
Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Propinsi Banten 2002 – 2006.

Dokumen Renstrada ini merupakan dokumen yang sangat penting karena akan
menjadi acuan / pedoman dasar bersama baik pihak eksekutif amupun legislative
dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program proyek
pembangunan Propinsi Banten selama kurun waktu lima tahun ke depan.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam proses
penyusunan Renstrada 2002 – 2006 ini kami ucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya. Semoga segala upaya kita untuk membangun Propinsi Banten
mendapat ridho dari Allah Yang Maha Kuasa.



Kepala BAPEDA Propinsi Banten
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Melalui Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000, status Karesidenan Banten
Propinsi Banten J awa Barat berubah menjadi Propinsi Banten. Wilayah Propinsi
Banten terdiri dari Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang,
Kabupaten Tangerang, Kota Cilegon, dan Kota Tangerang dengan Ibukota
berada di wilayah Kabupaten Serang.

Era desentralisasi yang ditandai dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor
22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah memberikan peluang bagi
Propinsi Banten untuk memiliki kemandirian dalam membangun daerahnya
dengan berpijak pada; (1) prinsip-prinsip demokrasi, (2) partisipasi dan peran
serta masyarakat, (3) pemerataan dan keadilan serta, (4) memperhatikan
potensi dan keanekaragaman daerah dalam rangka mengoptimalkan
pemanfaatan sumberdaya lokal.

Setiap daerah berupaya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang
memperhatikan kemampuan generasi selanjutnya untuk memenuhi semua
kebutuhan. Prinsip-prinsip dasar pedoman pelaksanaan pembangunan
berkelanjutan agar tercapai hasil pembangunan yang optimal dan berkeadilan
adalah sebagai berikut :
a. Melibatkan seluruh stakeholders
b. Mengoptimalkan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sarana dan
prasarana
c. Memaksimumkan pembangunan sumberdaya lokal
d. Mencegah degradasi sumberdaya dan penurunan fungsi
e. Mengoptimalkan pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya lokal.

Dalam mewujudkan pemerintahan yang transparan, demokrasi, dan efisien,
diperlukan untuk memberikan peran lebih besar kepada seluruh stakeholders.
Potensi seluruh stakeholders harus didayagunakan untuk mengatasi keterbatasan
segala bentuk sumberdaya, mengingat representasi stakeholders berupa
kemitraan sinergi merupakan aset dalam pembangunan.

Kemajuan Propinsi Banten di masa datang sangat ditentukan oleh keberhasilan
dalam melewati periode masa transisi yang saat ini sedang dihadapi. Agar proses
transisi berlangsung dengan baik, diperlukan penyiapan pondasi yang kokoh
untuk membangun masyarakat dan wilayah Banten agar dapat mengejar
ketertinggalan dan mensejajarkan dengan Propinsi maju lainnya.

Setiap daerah memiliki keterbatasan aset, dana dan sumberdaya sehingga perlu
ditentukan dan disusun prioritas pembangunan berikut strategi pelaksanaan,
pengendalian dan pengawasannya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tatacara Pertanggungjawaban Kepala Daerah,
setiap Kepala Daerah, baik Gubernur maupun Bupati/Walikota perlu menyusun
Rencana Strategis (Renstra) Daerah yang berisi tentang visi, misi, strategi,
kebijakan, dan program unggulan kegiatan yang diperlukan serta indikasi
pengukuran kinerja. Renstra tersebut disiapkan oleh setiap Kepala Daerah satu
bulan setelah pelantikan untuk periode 5 (lima) tahun.

Visi dan misi suatu daerah merupakan arah dari pembangunan daerah tersebut.
Penetapan visi dan misi selain harus sesuai dengan norma-norma dan nilai yang
disepakati bersama (share of value) oleh stakeholders juga harus
mempertimbangkan berbagai aspek seperti aspek potensi, kebutuhan dan
aspirasi masyarakat, kondisi dan situasi mutakhir, dan permasalahan saat ini,
prediksi ke masa depan dan sebagainya. Tujuan, sasaran, strategi, kebijakan,
serta program dan kegiatan merupakan penjabaran dan pelaksanaan dari visi
dan misi yang telah dirumuskan tersebut.

Dengan demikian dapat dipahami betapa pentingnya Rencana Strategis Propinsi
Banten yang akan menentukan arah pembangunan Propinsi Banten. Oleh karena
itu penyusunannya harus dilakukan secara komprehensif, terpadu, dan
menyeluruh (holistik) serta partisipatif dengan mengakomodir dan
mempertimbangkan aspirasi seluruh stakeholders, terutama sektor dunia usaha
(swasta), organisasi non-pemerintah, perguruan tinggi, dan sebagainya.

Pada pokoknya segala kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Daerah Propinsi
Banten dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu (1) penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan publik, (2) pelaksanaan pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi, dan (3) peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dan
pemberdayaan masyarakat. Agar dapat melaksanakan ketiga hal tersebut
diperlukan perencanaan yang baik.
Penilaian warga masyarakat terhadap keberhasilan pembangunan daerahnya
akan ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan hidupnya. Semakin banyak
kebutuhan hidup masyarakat terpenuhi, maka semakin tinggi penilaian
masyarakat terhadap keberhasilan pembangunan daerah.

Dari sisi pengelola, dalam hal ini Pemerintah Daerah dan instansi atau lembaga
penunjang lainnya yang berfungsi sebagai fasilitator, tantangan yang dihadapi
adalah bagaimana mengalokasikan berbagai sumberdaya yang ada untuk seluruh
pihak secara berkeadilan serta untuk menumbuhkan peluang berusaha dan
pertumbuhan ekonomi atau pembangunan sumberdaya yang dimiliki dengan
meminimalkan degradasi sumberdaya alam, pencemaran lingkungan, dan
berbagai masalah sosial di masyarakat.

1.2. Pengertian

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tertanggal
21 J uni 2001, Rencana Strategis (Renstra) adalah dokumen perencanaan taktis-
strategis yang menjabarkan potret permasalahan pembangunan daerah serta
indikasi daftar program dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk memecahkan
permasalahan secara terencana dan bertahap melalui sumber pembiayaan APBD
setempat berikut evaluasi pengukuran kinerjanya, dengan mengutamakan
kewenangan wajib disusul dengan bidang lainnya sesuai dengan prioritas dan
kebutuhan daerah.

1.3. Kedudukan dan Fungsi

Kedudukan
Renstra Propinsi Banten 2002 – 2006 berfungsi sebagai dasar perencanaan dan
penyelenggaraan pembangunan daerah di Propinsi Banten. Renstra ini
merupakan hasil penjabaran kehendak, aspirasi, dan kebutuhan masyarakat dan
stakeholders lainnya, dan secara resmi telah memperoleh kekuatan hukum
yang mengikat seluruh komponen masyarakat.

Fungsi
Renstra Propinsi Banten 2002 – 2006 berfungsi sebagai dokumen perencanaan
lima tahun (2002 – 2006) yang memuat strategi serta daftar indikasi program
dan kegiatan yang khusus dibiayai dari APBD. Renstra tersebut juga berfungsi
sebagai acuan, rujukan atau pedoman dalam penyusunan Laporan
Pertanggunngjabawan Gubernur Propinsi Banten, baik pertanggungjawaban
tahunan maupun pertanggungjawaban akhir jabatan.

1.4. Tujuan

Tujuan penyusunan Rencana Strategis Propinsi Banten 2002 – 2006 ini adalah
sebagai berikut :
1). Menyediakan acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah dan
badan legislatif Propinsi Banten dalam menentukan prioritas program dan
kegiatan tahunan daerah yang akan dibiayai dari APBD dalam kurun waktu
tahun 2002–2006
2). Menyediakan rujukan bagi penyusunan Laporan Pertanggungjawaban
tahunan maupun pertanggungjawaban masa akhir jabatan.
3). Menyediakan tolok ukur bagi evaluasi dan penilaian kinerja Gubernur
Propinsi Banten.

Secara lebih rinci, penyusunan Rencana Strategis Propinsi Banten dapat juga
memiliki berbagai tujuan penting lainnya, seperti antara lain :
1). Menjabarkan gambaran tentang kondisi perekonomian Propinsi Banten
sekarang dalam keseluruhan konstelasi ekonomi regional dan nasional
sekaligus memahami arah dan tujuan yang ingin dicapai dalam rangka
mewujudkan visi dan misi Propinsi Banten.
2). Menguraikan kebijakan strategis yang berskala nasional, terutama lima isu
pokok sebagaimana dinyatakan dalam Propenas, dengan maksud
menentukan indikasi program dan kegiatan yang dapat ditangani melalui
APBD sesuai dengan batas-batas kewenangan daerah.
3). Memudahkan seluruh jajaran Aparatur Pemda dan Badan Legislatif Propinsi
Banten dalam menyusun rencana kegiatan dan program tahunan secara
terpadu, terarah, dan terukur.
4). Memudahkan seluruh jajaran Aparatur Pemda dan Badan Legislatif Propinsi
Banten untuk memahami dan menilai arah kebijaksanaan dan program-
program operasional tahunan dalam rentang periode 2002 – 2006.

1.5. Landasan Penyusunan

Rencana Strategis Propinsi Banten 2002 – 2006 disusun berdasarkan Pancasila
sebagai landasan idiil, UUD 19445 sebagai landasan konstitusional, dan
ketentuan MPR No. IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999 – 2004 sebagai landasan
operasional.

Selain itu penyusunan Rencana Strategis Propinsi Banten 2002 – 2006
berpedoman pada dasar hukum sebagai berikut :
1). TAP MPR X Tahun 1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan
Dalam Rangka Penyelenggaraan Pemerintah.
2). UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
3). UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah.
4). UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Bebas Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme.
5). UU Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten.
6). UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional
(Propenas).
7). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi.
8). Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan.
9). Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.
10). Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2000 tentang pengelolaan dan
pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan.
11). Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tatacara
Pertanggungjawaban Kepala Daerah.
12). Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan
Dekonsentrasi.
13). Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/1240/II/Bangda tentang
Pedoman Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan Propinsi,
Kabupaten, dan Kota.

Untuk mengakomodir muatan lokal, penyusunan Rencana Strategis Propinsi
Banten 2002 – 2006 ini mempertimbangkan ; (1) norma-norma pokok yang
berlaku dan dijadikan pegangan (share of value) masyarakat Propinsi Banten,
(2) sejarah pendirian dan kejayaan masa lalu, (3) kebutuhan, aspirasi,
permasalahan, potensi, prospek dan kondisi Propinsi Banten saat ini, (4)
kewenangan pemerintah propinsi, (5) prediksi dan antisipasi kondisi yang akan
datang di dalam wilayah Propinsi Banten sendiri dan dari luar yang diperkirakan
berpengaruh terhadap Propinsi Banten.

1.6. Sistematika Penyusunan

Sistematika penyusunan Rencana Strategis Propinsi Banten 2002 – 2006 adalah
sebagai berikut :
Bab I PENDAHULUAN, berisi tentang latar belakang, pengertian,
kedudukan dan fungsi, tujuan, landasan penyusunan, serta ruang
lingkup dan sistematika penyusunan.
Bab II PROFIL PROPINSI BANTEN, yang menguraikan tentang Kondisi
Geofisik, Keadaan Demografi, Kondisi dan Potensi Ekonomi, Aspek
Prasarana Wilayah.
Bab III ISU-ISU STRATEGIS SERTA ANALISIS LINGKUNGAN INTERNAL
DAN EKSTERNAL (ANALISA SWOT), yang berisi tentang isu-isu
strategis serta analisa SWOT tentang kekuatan, kelemahan,
ancaman, dan peluang.
Bab IV VISI, MISI, DAN PRIORITAS DAERAH, yang berisi tentang
pernyataan visi berikut penjelasan, pernyataan misi dan
penjelasannya, dan prioritas daerah.
Bab V TUJ UAN DAN SASARAN, berisi tentang tujuan dan sasaran dari
masing-masing misi untuk mencapai visi yang dicanangkan.
Bab VI STRATEGI DAN KEBIJ AKAN, berisi tentang strategi dan kebijakan
untuk mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah
dicanangkan.
Bab VII PROGRAM PRIORITAS, yang berisi tentang program prioritas
untuk pencapaian visi, misi, sesuai dengan strategi dan arah
kebijakan.
Bab VIII PENGUKURAN DAN EVALUASI KINERJ A, yang berisi tentang
kerangka pengukuran kinerja, evaluasi kinerja, kriteria hasil
evaluasi kinerja, dan analisis pencapaian akuntabilitas kinerja.
Bab IX PENUTUP
BAB II
PROFIL PROPINSI BANTEN

Sebagai propinsi yang baru terbentuk, Propinsi Banten sampai saat ini masih
menghadapi berbagai tantangan, ketertinggalan dan permasalahan yang belum
dapat diatasi ketika masih menjadi bagian daerah Propinsi J awa Barat.

Salah satu kondisi yang sangat perlu mendapat perbaikan dan peningkatan
adalah kualitas sumberdaya manusia dan tingkat kesejahteraan, terutama di
daerah-daerah Propinsi Banten bagian selatan.

Sebenarnya Propinsi Banten memiliki potensi yang dapat didayagunakan untuk
dijadikan modal dalam mengatasi ketertinggalan dan permasalahan tersebut.
Beberapa potensi utama Propinsi Banten diantaranya adalah lokasi geografis,
perikanan dan kelautan, pariwisata serta pertambangan.

Deskripsi beberapa aspek secara singkat yang diharapkan dapat memberikan
gambaran profil Propinsi Banten saat ini yang disajikan di bawah ini :

2.1. Kondisi Geofisik

2.1.1 Letak Geografis dan ekosistem

Wilayah Propinsi Banten yang luasnya 8.651,20 km
2
, dan berada pada batas
astronomisnya 10501’11” – 10607’12” BT dan 507’50” – 701’1” LS, mempunyai
posisi strategis pada lintas perdagangan internasional dan nasional.

Propinsi Banten mempunyai batas wilayah :
a. Sebelah utara dengan Laut J awa
b. Sebelah timur dengan Propinsi Daerah Khusus Ibukota J akarta dan Propinsi
J awa Barat
c. Sebelah selatan dengan Samudera Hindia
d. Sebelah barat dengan Selat Sunda

Sedangkan ekosistem wilayah Banten pada dasarnya terdiri dari :
a. Lingkungan Pantai Utara yang merupakan Ekosistem sawah irigasi teknis dan
setengah teknis, kawasan permukiman dan industri Kawasan Banten Bagian
Tengah berupa irigasi terbatas dan kebun campur, sebagian berupa
permukiman pedesaan. Ketersediaan air cukup dengan kuantitas yang stabil.
b. Kawasan Banten sekitar Gunung Halim-Kendeng hingga Malimping,
Leuwidamar, Bayah berupa pegunungan yang relatif sulit untuk di akses,
namun menyimpan potensi sumber daya alam.
c. Banten Bagian Barat (Saketi, DAS Cidano dan lereng kompleks Gunung
Karang-Aseupan dan Pulosari sampai Pantai DAS Ciliman-Pandeglang dan
Serang Bagian Barat) yang kaya akan potensi air, merupakan kawasan
pertanian yang masih perlu ditingkatkan (intensifikasi).
d. Ujung Kulon sebagai Taman Nasional Konservasi Badak J awa (Rhino
Sondaicus).

DAS Cibaliung – Malimping, merupakan cekungan yang kaya air tetapi belum
dimanfaatkan secara efektif dan produktif. Sekelilingnya berupa bukit-bukit
bergelombang dengan rona lingkungan kebun campur talun, hutan rakyat yang
tidak terlalu produktif.

2.1.2 Iklim Dan Curah Hujan

Iklim wilayah Banten sangat dipengaruhi oleh Angin Monson (Monson Trade) dan
Gelombang La Nina dan El Nino. Saat musim penghujan (November-Maret) cuaca
didominasi oleh angin barat (dari Sumatera Hindia sebelah selatan India) yang
bergabung dengan angin dari Asia yang melewati Laut Cina Selatan. Pada Musim
kemarau (J uni-Agustus), cuaca didominasi oleh angin timur yang menyebabkan
wilayah Banten mengalami kekeringan yang keras terutama di wilayah bagian
pantai utara; terlebih lagi bila berlangsung El Nino.

Temperatur di daerah pantai dan perbukitan berkisar antara 20
0
C dan 32
0
C,
sedangkan suhu di pegunungan dengan ketinggian antara 400-1.350 m dpl
mencapai antara 18
0
C-29
0
C.

2.1.3 Sumber Daya Air

Sebaran air permukaan, dilihat dari jumlah dan penyebaran situ-situ yang ada.
Situ yang luas genangannya lebih dari 100 Ha ada tiga, yaitu Situ Patrasana (360
Ha); Situ Garukgak (180 Ha); dan Situ Cipondoh (142 Ha). J umlah situ secara
keseluruhan di Propinsi Banten adalah 70 buah dengan luas 2.400 Ha, dengan
penyebaran : 15 Situ dengan luas 355 Ha di Kabupaten Serang; 7 Situ yang
luasnya 580 Ha di Kabupaten Pandeglang; 3 Situ dengan luas 130 Ha di
Kabupaten Lebak; dan 45 Situ yang luasnya 1.335 Ha di Kabupaten Tangerang.

Potensi air tanah di Propinsi Banten dari tahun ke tahun cenderung menurun baik
dari segi kuantitatif maupun kualitatif, khususnya di daerah Tangerang, Cilegon,
dan Serang. Potensi air tanah secara keseluruhan diduga mencapai 49,6 juta
m
3
/tahun, yaitu 15,7 juta m
3
/tahun di cekungan Serang dan Tangerang; 6,2 juta
m
3
/tahun di cekungan Cilegon; 1,3 juta m
3
/tahun di cekungan Malimping; dan
26,4 juta m
3
/tahun di cekungan Labuan.

2.1.4 Sumber Daya Lahan

Topografi
Wilayah Propinsi Banten berada pada ketinggian 0 – 1.000 m dpl. Dataran
rendah dengan ketinggian 0 – 50 m dpl terbentang di sepanjang pesisir utara
Laut J awa, sebagian wilayah Serang, sebagian besar wilayah Kabupaten dan
Kota Tangerang, sebagian pesisir Selatan Kabupaten Pandeglang, hingga
Kabupaten Lebak. Kemiringan lereng di daerah tersebut 0-15%.

Topografi perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 15-25%
mencakup wilayah Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, dan
Kota Tangerang serta bagian utara Kabupaten Pandeglang. Sedangkan topografi
terjal dengan kemiringan >25% terdapat di Kabupaten Lebak dan sebagian kecil
Kabupaten Pandeglang Bagian Selatan.

Penggunaan Lahan
Lahan di wilayah Propinsi Banten sebagian besar dipergunakan untuk kebun
campuran, persawahan dan tegalan. Rincian penggunaan lahan disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1
Penggunaan Lahan di Propinsi Banten Tahun 2000 (dalam Ha)

No Kab/ Kota Sawah Bangunan Tegalan
Kebun
campuran
Rawa
dan
Kolam
Lain-lain J umlah
1 Kab. Serang 55.552 28.714 55.924 17.790 9.167 10.595 177.742
2 Kab. Lebak 43.097 15.647 44.514 144.641 1.285 10.721 259.905
3 Kab. Pandeglang 53.355 11.406 48.363 244.174 890 11.120 369.308
4 Kab. Tangerang 41.691 29.121 22.285 1.049 3.656 4.442 102.784
5 Kota Tangerang 1.536 9.290 1.906 1.242 96 2.475 16.545
6 Kota Cilegon 2.064 6.273 4.473 - - 4.739 17.549
J umlah 197.295 100.451 177.465 408.896 15.094 44.092 943.833
2.1.5 Hutan

Potensi sumber daya hutan di Propinsi Banten relatif besar. Luas hutan di
Propinsi Banten adalah 20,37 persen dari luas wilayah. Wilayah yang memiliki
luas hutan yang besar adalah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.

Hutan di Kabupaten Pandeglang mencapai 36,17 persen luas wilayahnya atau
sebesar 95.136,28 Ha. Sedangkan luas hutan di Kabupaten Lebak sebesar
64.539,17 Ha atau 20,19 dari luas wilayahnya. Hutan di Kabupaten Serang dan
Kabupaten Tangerang tidaklah terlalu besar. Di Kabupaten Serang luas hutan
mencapai 10.102,8 Ha atau sebesar 5,83 persen dari luas wilayahnya.
Sedangkan di Kabupaten Tangerang luas hutan mencapai 1.102,75 Ha atau
sebesar 0,98 persen dari luas wilayahnya.

Guna melindungi sumber daya hutan dan kekayaan keanekaragaman hayatinya,
2 (dua) Taman Nasional telah ditetapkan di wilayah Banten, yaitu Taman
Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Gunung Halimun. Ditetapkan pula
cagar alam di Pulau Dua (38 Ha), Rawa Dano (2.500 Ha), dan Tukung Gede
(1.700 Ha); serta Taman Wisata Hutan Pulau Sangiang di Kabupaten Serang dan
Taman Wisata Alam Carita.

2.1.6 Sumber Daya Tambang

Potensi sumber daya tambang di Propinsi Banten relatif banyak dan tersebar di
beberapa wilayah yang meliputi bahan galian industri terdapat di Bayah dengan
Cadangan Fosfat Alam sebanyak 1.275 ton, di Cipanas dengan cadangan Felspar
sebanyak 1 (satu) juta ton, di Bojong, Leuwidamar, Cilayang dengan cadangan
Bentonit masing-masing sebesar 23 juta ton, 4,68 juta ton, dan 10 juta ton. Di
Gunung Karang dengan cadangan Marmer sebesar 3,51 juta ton, dan Teluk
Banten dengan cadangan Batu Gamping dan Kapur sebesar 12 juta ton dan 10
juta ton.

Wilayah yang kaya akan bahan galian logam terdapat di Cibareno dan Cihara
dengan jenis bahan galian logam terdiri dari emas, perak, tembaga, timbal dan
seng. Di Cikotok dan di sekitar Lebak cadangan emas dan peraknya sebesar
12.622 ribu ton. Di Cipicung cadangan emas dan peraknya 322 ribu ton.
Sedangkan di wilayah Ciawi, Citorek dan Lebak selatan cadangannya mencapai
621.000 ton. Selain emas dan perak terdapat juga cadangan biji besi terdapat di
Cipurut dengan jumlah sebesar 126.000 ton.

2.1.7 Lingkungan Laut

Laut Selatan, mempunyai karakter gelombang besar dan sangat dipengaruhi
langsung oleh arus laut global Samudera Hindia. Gelombang laut pada musim
barat lebih besar dibanding dengan musim timuran. Hal ini disebabkan karena
stress angin baratan sangat kuat, bahkan dapat diikuti dengan badai tropis.

Pada musim timuran, di beberapa tempat laut selatan dapat terjadi upwellng
yang sangat kaya akan ikan karena arus laut yang naik ke permukaan membawa
bahan makanan. Pada musim baratan dapat terjadi pula down welling, yaitu
menurunnya atau masuknya arus ke dasar perairan yang sangat membahayakan
bagi keselamatan penduduk.

Lingkungan laut bagian barat, yaitu Selat Sunda yang berbatasan dengan
Propinsi Lampung. Selat Sunda disamping Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI),
juga merupakan perairan yang sangat menarik, sebab pada musim timuran, saat
terjadi surut di Samudera Hindia akan terjadi pertemuan dua arus di Samudera
Hindia dengan masa air laut dari Laut J awa yang berbeda karakteristiknya. Pada
pertemuan dua masa air laut ini biasanya diikuti oleh banyaknya ikan.

Pada musim baratan, curah hujan di DAS Ciliman yang bermuara ke Teluk Lada
sangat besar, sehingga debit air yang mengalir ke Teluk Lada Menyebabkan
menurunnya salinitas air laut. Di pihak lain perairan seperti itu merupakan
daerah subur bagi ikan-ikan yang hidup di perairan payau yang bermigrasi ke
laut. Biota laut Selat Sunda relatif kaya (beragam) dan sangat spesifik.

Lingkungan Laut Banten Utara adalah Laut J awa yang merupakan laut dangkal
yang sudah mulai terkena pencemaran. Ketersediaan air tawar secara kuantitas
dan kualitas berfluktuasi secara ekstrim. Lingkungan laut Banten Utara
menghadapi ancaman lingkungan yang luar biasa, karena intensifnya eksploitasi
sumber daya alam di daratan yang berpengaruh terhadap sedimentasi perairan
llaut utara Banten.



2.2. Keadaan Demografi

J umlah penduduk Propinsi Banten pada tahun 2000 adalah 8.252.312 jiwa,
dengan tingkat kepadatan penduduk 8,74 jiwa/Ha. Penyebaran penduduk di
Propinsi Banten tidak merata, hal ini terlihat dari timpangnya tingkat kepadatan
penduduk per kabupaten atau kota. Tingkat kepadatan tertinggi di Kota
Tangerang yang mempunyai luas wilayah yang paling kecil (16.545 Ha) sebesar
79,28 jiwa/Ha, sedangkan terendah di Kabupaten Pandeglang sebesar 2,74
jiwa/Ha, padahal luas wilayahnya paling besar (369.308 Ha). Permasalahan
ketimpangan kepadatan penduduk ini disebabkan oleh posisi Kota Tangerang
sebagai salah satu pusat pertumbuhan sektor industri yang dapat menyerap
tenaga kerja dalam jumlah yang relatif banyak.

Hal yang sama untuk melihat ketimpangan antar daerah terlihat juga dalam
sebaran penduduk antar Kabupaten/Kota di Propinsi Banten, yang dari tahun
1995-2000 relatif tidak mengalami perubahan. Di tahun 2000 penduduk Propinsi
Banten tersebar di Kabupaten Serang sebanyak 19,77 persen, di Kabupaten
Lebak 12,45 persen, di Kabupaten Pandeglang 12,45 persen, di Kabupaten
Tangerang sebanyak 36,06 persen, di Kota Tangerang sebanyak 15,90 persen
dan di Kota Cilegon sebanyak 3,58 persen.

Laju pertumbuhan penduduk Propinsi Banten dari tahun 1995-2000 rata-rata
sebesar 3,55 persen per tahun. Laju pertumbuhan penduduk ini sejak tahun
1995 mempunyai kecenderungan (trend) menurun. Pada 1995-1996 laju
pertumbuhan sebesar 4,02 persen per tahun, sedangkan pada tahun 1999-2000
menurun menjadi 3,61 persen per tahun. Terdapat dua daerah yang mempunyai
laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi dibanding dengan daerah lainnya,
yaitu Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Kedua daerah ini pada tahun
1998-1999 masing-masing mempunyai laju pertumbuhan sebesar 3,56 persen
dan 5,05 persen per tahun. Sedangkan laju pertumbuhan di Kabupaten Serang,
Lebak, dan pandeglang berturut-turut -13,43, 2,21, dan 1,23 persen per tahun.
Terjadinya penurunan yang cukup besar di Kabupaten Serang pada saat itu
disebabkan terjadinya pemekaran wilayah.

J umlah penduduk yang bekerja di Propinsi Banten pada tahun 2000 sebesar
2.790.353 orang. Sektor yang mempunyai daya serap tenaga kerja yang paling
besar berturut-turut adalah sektor pertanian (27,94 persen), sektor
perdagangan, perhotelan dan restoran (23,81 persen), sektor industri (18,86
persen), dan sektor jasa-jasa (15,33 persen). Penduduk yang bekerja di sektor
pertanian sebagian besar berada di Kabupaten Lebak, Serang dan Pandeglang.
Hal ini menunjukan bahwa pembangunan di daerah tersebut, terutama di
Kabupaten Lebak dan Pandeglang masih berbasis pada sektor pertanian.

Penduduk yang bekerja di sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor
jasa, serta sektor industri sebagian besar berada di Kabupaten Serang,
Tangerang, dan Kota Tangerang. Ketiga daerah tersebut dikenal sebagai daerah
pusat industri dan perdagangan. Kemungkinan ketiga daerah ini untuk menjadi
pusat industri dan perdagangan terkemuka di Propinsi Banten dapat terealisasi
jika melihat potensi kualitas sumber daya manusianya.

Dibandingkan dengan Kabupaten lainnya, Kabupaten Serang, Tangerang dan
Kota Tangerang mempunyai angka persentasi partisipasi sekolah yang relatif
tinggi dibanding lainnya. Di tahun 2000 persentase penduduk yang lulus SD
sampai dengan jenjang S2 dan S3 untuk ketiga kota secara berturut-turut 59, 10,
50, dan 23, 63, 34 persen. Sedangkan persentase untuk Kabupaten Lebak dan
Pandeglang adalah 43, 20 dan 47, 70 persen.

Struktur umur penduduk di suatu daerah dapat menentukan produktivitas
penduduk pada daerah tersebut. Hal ini dikarenakan analisis struktur umur
penduduk akan berkaitan dengan banyaknya penduduk usia produktif di suatu
daerah. Penduduk usia produktif berkisar antara 15 – 64 tahun. Berdasarkan
kategori ini maka di tahun 2000 penduduk usia produktif untuk Kabupaten
Serang sebesar 1.362.215 orang, Kabupaten Pandeglang 729.909 orang,
Kabupaten Lebak 727.749 orang, Kabupaten Tangerang 2.024.299 orang dan
Kota Tangerang 1.004.107 orang. J ika dibandingkan dengan jumlah penduduk
usia non produktif yang dapat menggambarkan tingkat ketergantungan, maka
Kabupaten Lebak mempunyai angka ketergantungan yang paling tinggi yaitu
sebesar 0,33 yang berarti setiap 100 orang menanggung kehidupan 33 orang.
Kota Tangerang mempunyai angka ketergantungan yang rendah yaitu 0,23.

Dalam hal kesejahteraan, sebanyak 294.276 keluarga di Propinsi Banten
tergolong kedalam kelompok pra-sejahtera. J umlah keluarga pra-sejahtera yang
terbesar terdapat di Kabupaten Tangerang sebanyak 99.340 keluarga.
Banyaknya limpahan penduduk dari DKI J akarta yang kurang mampu bersaing
yang bermukim di Kabupaten Tangerang diperkirakan merupakan salah satu
penyebab yang mengakibatkan relatif besarnya kemiskinan di Kabupaten
Tangerang.

2.3. Kondisi dan Potensi Ekonomi

Kondisi ekonomi Propinsi Banten dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto
(PDRB) masing-masing Kota/Kabupaten. Pada tahun 1997 PDRB Propinsi Banten
sebesar 18.462.413,85 juta atas harga konstan 1993. Kota Tangerang
mendominasi perekonomian di Propinsi Banten yang dibuktikan dengan tingginya
PDRB Kota Tangerang dibandingkan dengan wilayah lain yaitu sebesar
6.426.300,79 juta atau share-nya sebesar 34,81 persen.

Pada kurun waktu yang sama PDRB Kabupaten Serang (termasuk Cilegon)
sebesar 5.653.569 juta atau share-nya 30,62 persen. Sedangkan PDRB
Kabupaten Tangerang sebesar 4.284.300,79 juta dengan share sebesar 23,21
persen. Dua Kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Lebak dan Kabupaten
Pandeglang mempunyai PDRB yang relatif kecil, hal ini terlihat dari share masing-
masing sebesar 5,51 dan 5,86 persen. Dengan demikian ketimpangan ekonomi
yang terjadi antara daerah Lebak dan Pandeglang dengan Kota yang lainnya
sangat besar.

Secara umum ketimpangan ini menunjukan, wilayah Propinsi Banten di sebelah
utara (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Serang dan Cilegon) lebih maju
dibandingkan dengan wilayah selatan (Pandeglang dan Lebak).

2.3.1 Sektor Pertanian

Sektor pertanian merupakan kegiatan utama bagi sebagian besar penduduk
Banten. Potensi sektor pertanian Banten terbagi dalam dua kawasan yaitu
pertanian lahan basah (padi sawah) dan lahan kering (padi ladang, palawija,
sayuran, dan buah-buahan). Berdasarkan data tahun 2000 diketahui bahwa
komoditas unggulan untuk Propinsi Banten adalah padi sawah, padi ladang, dan
ubi jalar. Komoditas ini diproduksi di hampir seluruh wilayah Propinsi Banten.
Sedangkan komoditas sayuran unggulan adalah kacang panjang dan ketimun
dengan sentra produksi di Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak. Komoditas
buah-buahan yang menjadi unggulan adalah pisang, durian, dan mangga dengan
sentra produksi di Kabupaten Serang dan Lebak. Komoditas unggulan itu
ditentukan dari besarnya produksi per tahun.
2.3.2 Sektor Perikanan dan Kelautan

Potensi perikanan di Propinsi Banten mencakup perikanan darat dan perikanan
laut. Perikanan darat dilakukan melalui budidaya ikan air tawar di kolam,
keramba, sawah, dan perairan umum. Potensi perikanan darat terdapat di
Kabupaten Lebak, Serang, Pandeglang dan Tangerang, karena di keempat
wilayah tersebut, masih banyak terdapat lahan yang bisa dimanfaatkan untuk
perikanan.

Perikanan laut dikembangkan melalui penangkapan dan budidaya di laut seperti
rumput laut, mutiara, udang. Pengembangan perikanan laut ini diarahkan ke
wilayah Teluk Banten, Kepulauan Seribu, dan perairan laut Kecamatan Sumur
Kabupaten Pandeglang.

Perikanan laut mendominasi potensi perikanan Propinsi Banten, kemampuan
produksinya menacakup 52,28% dari total produksi perikanan sebesar penduduk
yang bekerja di sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor jasa, serta
sektor industri sebagian besar berada di Kabupaten Serang, Tangerang, dan Kota
Tangerang. Ketiga daerah tersebut dikenal sebagai daerah pusat industri dan
perdagangan. Kemungkinan ketiga daerah ini untuk menjadi pusat industri dan
perdagangan terkemuka di Propinsi Banten dapat terealisasi jika melihat potensi
kualitas sumber daya manusianya.

Dibandingkan dengan Kabupaten lainnya, Kabupaten Serang, Tangerang dan
Kota Tangerang mempunyai angka persentasi partisipasi sekolah yang relatif
tinggi dibanding lainnya. Di tahun 2000 persentase penduduk yang lulus SD
sampai dengan jenjang S2 dan S3 untuk ketiga kota secara berturut-turut 59, 10,
50, dan 23, 63, 34 persen. Sedangkan persentase untuk Kabupaten Lebak dan
Pandeglang adalah 43, 20 dan 47, 70 persen.

Struktur umur penduduk di suatu daerah dapat menentukan produktivitas
penduduk pada daerah tersebut. Hal ini dikarenakan analisis struktur umur
penduduk akan berkaitan dengan banyaknya penduduk usia produktif di suatu
daerah. Penduduk usia produktif berkisar antara 15 – 64 tahun. Berdasarkan
kategori ini maka di tahun 2000 penduduk usia produktif untuk Kabupaten
Serang sebesar 1.362.215 orang, Kabupaten Pandeglang 729.909 orang,
Kabupaten Lebak 727.749 orang, Kabupaten Tangerang 2.024.299 orang dan
Kota Tangerang 1.004.107 orang. J ika dibandingkan dengan jumlah penduduk
usia non produktif yang dapat menggambarkan tingkat ketergantungan, maka
Kabupaten Lebak mempunyai angka ketergantungan yang paling tinggi yaitu
sebesar 0,33 yang berarti setiap 100 orang menanggung kehidupan 33 orang.
Kota Tangerang mempunyai angka ketergantungan yang rendah yaitu 0,23.

Dalam hal kesejahteraan, sebanyak 294.276 keluarga di Propinsi Banten
tergolong kedalam kelompok pra-sejahtera. J umlah keluarga pra-sejahtera yang
terbesar terdapat di Kabupaten Tangerang sebanyak 99.340 keluarga.
Banyaknya limpahan penduduk dari DKI J akarta yang kurang mampu bersaing
yang bermukim di Kabupaten Tangerang diperkirakan merupakan salah satu
penyebab yang mengakibatkan relatif besarnya kemiskinan di Kabupaten
Tangerang.

2.3.3 Sektor Perkebunan

Perkebunan di Banten didominasi oleh perkebunan kelapa, selain itu terdapat
juga komoditas karet, cengkeh, kopi dan teh dengan luas keseluruhan areal
perkebunan 141.557 Ha. Secara umum produksi komoditas perkebunan di
banten belum maksimal, pengelolaan sebagian besar areal perkebunan masih
dalam skala kecil di tingkat masyarakat. Perkebunan di Propinsi Banten dikelola
oleh pemerintah (perkebunan negara), swasta, serta perkebunan masyarakat.
Perkebunan rakyat dominan terdapat di Kabupaten Lebak, Serang, dan
Pandeglang dengan konsentrasi pada komoditas karet dan kelapa. Sedangkan
perkebunan pemerintah dikembangkan di wilayah Kabupaten Lebak dan
Pandeglang dengan produksi utama karet dan kelapa.

2.3.4 Sektor Kehutanan

Potensi sumber daya hutan di Propinsi Banten relatif besar. Luas hutan di
Propinsi Banten adalah 20,37 persen dari luas wilayah. Wilayah yang memiliki
luas hutan yang besar adalah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Berdasarkan fungsinya hutan dibagi menjadi hutan lindung, hutan produksi, dan
hutan konservasi. Hutan yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan potensi
ekonomi adalah hutan produksi. Produksi hasil hutan di Propinsi Banten sebagai
sumberdaya hutan unggulan adalah kayu jati.

Alih fungsi lahan kehutanan ke penggunaan lain, membuat luasan hutan produksi
mengalami penurunan. Sejak tahun 1996-2000 penurunan luas hutan mencapai
2.638 Ha. Penurunan luas ini menyebabkan total produksi hasil hutan juga
menurun, kecuali untuk komoditas kayu jati yang justru mengalami peningkatan
sebesar 23,69% pada tahun 2000.

2.3.5 Sektor Peternakan

Sektor peternakan memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan
akan telur, daging, dan susu. Di Propinsi Banten, jenis ternak yang diusahakan
meliputi ternak besar (Sapi, Kerbau, dan Kuda), ternak kecil (Kambing dan
Domba), serta unggas (ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras potong, dan
iitik).

Sentra produksi peternakan di Propinsi Banten mencakup Kabupaten Lebak dan
Kabupaten Tangerang. Pada tahun 1999-2000, populasi ternak di Banten
mengalami peningkatan, terutama populasi kambing dan domba yang mengalami
peningkatan 48% dan 39%. Populasi unggas yang terbesar adalah ayam, yang
mencapai 48% dari total komoditas unggas yang ada.

2.3.6 Sektor Industri

Wilayah Propinsi Banten yang memiliki potensi pengembangan industri kecil,
sedang, dan besar adalah Kabupaten dan Kota Tangerang, Kota Cilegon, dan
Kabupaten Serang. Kabupaten Lebak dan Pandeglang berpotensi untuk
pengembangan industri kecil. Potensi ini dilihat dari ketersediaan infrastruktur
pendukung dan kondisi geofisik wilayah yang bersangkutan.

Sektor industri yang berkembang di wilayah Banten memberikan sumbangan
terbesar pada PDRB atas harga dasar konstan. Walaupun demikian sektor ini
masih potensial untuk dikembangkan. Potensi industri di Propinsi Banten
mencakup industri mesin, elektronik, tekstil, baja dan lainnya. Khusus untuk
industri kecil, Banten memiliki potensi industri pangan, barang dari logam, kayu,
dsb, genteng/batu bata, gual aren, emping, kerupuk, bordir, dan aneka industri
kerajinan rumah tangga lainnya.

2.3.7 Sektor Pariwisata

Propinsi Banten yang terdiri dari kombinasi wilayah pantai, dataran rendah, dan
pegunungan memiliki potensi wisata yang besar karena masing-masing wilayah
tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Selain itu Banten juga kaya akan
peninggalan sejarah dan kekayaan budaya yang potensial untuk menarik
kunjungan wisatawan.

Pengembangan wisata di Propinsi Banten terdiri dari wisata laut, wana wisata,
wisata alam, wisata jiarah dan situs, wisata budaya dan wisata buatan. Keadaan
dan kekayaan sumber daya alam dan lingkungan di Propinsi Banten sangat
memungkinkan untuk tumbuh dan berkembangnya sektor pariwisata secara
optimal.

2.3.8 Potensi Kerjasama Ekonomi Antar Wilayah

Dengan melihat karakteristik wilayah utara dan selatan yang cukup berbeda,
potensi kerjasama untuk pengembangan ekonomi Propinsi Banten tinggi.
Dikotomi antara utara dan selatan tidak lagi relevan untuk diungkapkan, masing-
masing daerah mempunyai keunggulan yang didasarkan atas potensi masing-
masing daerah. Adanya keunggulan yang berbeda-beda ini mengakibatkan arus
barang akan mengalir dari sektor basis ke sektor non basis. Dengan kerangka
pemikiran tersebut, maka potensi kerjasama ekonomi antar daerah sangat besar.
Hal ini dikarenakan setiap Kota atau Kabupaten memiliki keunggulan yang relatif
berbeda.

2.3.9 Ekonomi Wilayah Propinsi Banten

Berdasarkan PDRB Propinsi Banten atas dasar harga konstan 1993, struktur
ekonomi wilayah Propinsi Banten didominasi oleh sektor industri pengolahan
yang kontribusinya mencapai 49,81 persen dan sektor perdagangan, hotel dan
restoran yang kontribusinya mencapai 16,62 persen. Besarnya kontribusi sektor
industri pengolahan berpengaruh terhadap tingginya laju pertumbuhan ekonomi
di daerah yang sektor basisnya sektor industri pengolahan, terutama di
Kabupaten Tangerang. Selama kurun waktu 1995 – 1998 laju pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Tangerang sebesar 4,09 persen, tertinggi di Propinsi Banten.

Sektor yang perlu mendapat perhatian di masa yang akan datang adalah sektor
pertanian. Pada kurun waktu yang sama, kontribusi sektor pertanian relatif
sedikit yaitu sebesar 8,94 persen. Sementara itu, tenaga kerja yang terserap
sangat besar (terbesar di Propinsi Banten) mencapai 779.640 orang (27,94
persen dari total tenaga kerja). Hal ini menandakan bahwa produktivitas sektor
pertanian masih sangat rendah, padahal potensi yang terkandung didalamnya
sangat besar.

Rendahnya produktivitas sektor pertanian, mengakibatkan Kabupaten yang basis
sektornya di sektor pertanian mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang
rendah, seperti Kabupaten Lebak yang rata-rata pertumbuhan ekonomi dari
tahun 1995-1998 sebesar 0,27 persen, merupakan laju pertumbuhan terendah di
Propinsi Banten. Sementara itu Kabupaten Pandeglang laju pertumbuhan
ekonominya lebih besar yaitu 2,33 persen.

Rendahnya laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lebak dan Pandeglang
dikarenakan pertumbuhan ekonomi selama krisis (1997-1998) mengalami
penurunan yang relatif besar dibandingkan dengan Kabupaten atau Kota lainnya.
Pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Pandeglang, Lebak,
Serang, dan Tangerang masing-masing sebesar negatif 25,79 persen, 19,86
persen, 14,42 persen dan negatif 9,28 persen.

Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas sektor
ekonomi di Propinsi Banten adalah dengan cara menarik para investor untuk
mengembangkan usahanya di Propinsi Banten. Selama kurun waktu 1997-2000
investasi asing di Propinsi Banten terkonsentrasi di Kota Cilegon dengan nilai U$
2.376,737 juta atau sebesar 97,5 persen dari total investasi asing sebesar U$
2.438,515 juta.

Sementara itu investasi dalam negeri di Propinsi Banten terkonsentrasi di dua
wilayah, yaitu Kabupaten Serang dengan investasi sebesar 8,97 triliun rupiah
atau sebesar 43,5 persen dari total investasi dalam negeri, dan Kabupaten dan
Kota Tangerang dengan nilai investasi sebesar 9,97 triliun rupiah atau sebesar
48,3 persen dari total investasi dalam negeri di Propinsi Banten.

2.4. Aspek Perhubungan

Sistem transportasi sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu wilayah.
Semakin banyak jaringan transportasi yang tersebar di suatu wilayah, akan
memudahkan pergerakan aktivitas masyarakat, termasuk arus barang dan
tenaga kerja yang pada akhirnya dapat memacu pertumbuhan dan kemajuan
wilayah. Sistem transportasi yang terdapat di Propinsi Banten meliputi sistem
transportasi darat, sistem transportasi laut, dan sistem transportasi udara. Ketiga
sistem transportasi tersebut memiliki arti penting bagi kemajuan Propinsi Banten.

2.4.1 Sistem Transportasi Darat

Sistem transportasi darat di Propinsi Banten mencakup prasarana jaringan jalan,
angkutan umum dan rel kereta api. J aringan jalan merupakan jenis fasilitas yang
pelayanan pergerakan angkutan barang dan penumpang di Propinsi Banten.
Sampai dengan J uni 2001 jalan di Propinsi Banten terdiri dari jalan nasional
dengan panjang jalan 115,78 km, jalan propinsi dengan panjang 679,83 km,
jalan perkotaan dan perdesaan sepanjang 915,762 km.

J alan nasional yanng berada dalam kondisi mantap sebesar 88,86 persen.
Sedangkan jalan propinsi yang mantap sebesar 79,03 persen. Untuk mendukung
transportasi darat, diperlukan terminal. Kondisi terminal di Propinsi Banten secara
umum berada dalam kondisi baik. Di Kabupaten Tangerang terdapat 4 (empat)
buah terminal yaitu : Terminal Ciputat, Terminal Balaraja, Terminal Cisoka, dan
Terminal Kampung Melayu. Di Kota Tangerang terdapat Terminal Cikokol,
sedangkan di Kabupaten Serang terdapat Terminal Pakupatan yang melayani
pengangkutan antar kota dalam propinsi dan angkutan antar kota antar propinsi.
Di Kota Cilegon terdapat terminal terpadu yang berada di kawasan pelabuhan
Merak. Untuk Kabupaten Lebak terdapat satu terminal yang melayani jalur antar
kota dalam propinsi yang terletak di Kota Rangkasbitung.

Berdasarkan paparan di atas, terlihat bahwa sebagian besar terminal utama
tersebut berada di bagian utara Propinsi Banten. Hal ini merupakan salah satu
indikator yang menunjukan bahwa sebagian besar aktivitas masyarakat di
Propinsi Banten terjadi di antara kota-kota bagian utara. Kenyataan ini sekaligus
dapat memberikan penjelasan lebih dalam mengenai “ketertinggalan” bagian
selatan Propinsi Banten yang basis sektornya adalah sektor pertanian.

Transportasi darat lainnya yang terdapat di Propinsi Banten adalah kereta api.
Optimalisasi penggunaan kereta api merupakan salah satu alternatif terbaik
untuk mengatasi masalah kongesti lalu lintas jalan raya, disamping melakukan
peningkatan kondisi jaringan jalan. Panjang lintasan kereta api di Propinsi Banten
adalah 305,90 km terdiri dari lintasan operasi sepanjang 136,10 km dan lintasan
tidak operasi sepanjang 169,80 km. lintasan tersebut dilengkapi dengan 221
buah pintu perlintasan. Akan tetapi hal ini masih jauh dari yang diharapkan,
terutama untuk menjaga keselamatan penduduk dan terhindarnya dari bahaya
tertabrak kereta api. Hal ini disebabkan dari jumlah pintu lintasan tersebut yang
dijaga dengan resmi yaitu 47 buah, sisanya resmi tidak dijaga dan liar.

J umlah kereta api yang beroperasi di Propinsi Banten sebanyak 81 kereta api
yang terdiri dari 56 kereta api penumpang dan 24 kereta api barang. J umlah
tersebut dirasakan masih kurang untuk mengantisipasi perkembangan dan
pertumbuhan wilayah di Propinsi Banten, terutama untuk memacu wilayah
selatan yang masih jauh tertinggal.

Untuk lebih mengoptimalkan pelayanan dan memenuhi kebutuhan masyarakat
dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi di Kabupaten Lebak,
direncanakan untuk dibangun double track. Adapun program yang sedang
dicanangkan saat ini oleh Dinas Perhubungan antara lain menghidupkan kembali
rel kereta api yang sudah tidak berfungsi dengan memiliki kapasitas 18 ton dan
peningkatan pelayanan kereta api executive J akarta-Merak serta pengadaan
kereta api barang dari Merak ke Bojonegara (pelabuhan).

2.4.2 Sistem Tranportasi Laut

Sistem transportasi laut di wilayah Kota dan Teluk terdapat :
1). Sebuah Pelabuhan Umum, yaitu Pelabuhan Ciwandan yang dikelola oleh PT.
Pelindo II (persero) Cabang Banten.
2). Sebuah Pelabuhan Khusus (Pelsus) Krakatau Steel yang dikelola oleh PT.
Krakatau Steel.
3). Dermaga Khusus (Dersus) yang berada di lingkungan daerah kerja Kanpel
Bojonegara yang kesemuanya dikelola oleh pihak swasta sebanyak 24 buah.
4). Dermaga Khusus (Dersus) yang berada di daerah kerja Kanpel Anyer yang
dikelola oleh pemerintah (1 buah) dan swasta (4 buah) sebanyak 5 buah.
5). Dermaga Khusus (Dersus) yang berada di daerah kerja Kanpel Karangantu
yang dikelola oleh Pemda Kabupaten Serang sebanyak 2 buah.

Perairan di wilayah Cilegon memiliki kedalaman perairan pantai rata-rata diatas
20 meter kecuali kedalaman perairan pantai di lokasi Eks-Depot Pertamina Merak
hanya mencapai ± 4,5 meter (gosong dan karang) dengan karakteristik :
a. Gelombang pada musim barat dapat mencapai lebih dari 2 meter, sehingga
kurang kondusif untuk keselamatan pelayaran kapal cepat dan atau kapal-
kapal berukuran kecil (dibawah 500 GT).
b. Lalu lintas kapal untuk Pelabuhan Ciwandan PT. (Persero) Pelabuhan
Indonesia II (general port) cukup tinggi baik untuk kapal keluar/masuk
pelabuhan di kawasan Cilegon maupun yang melewati jalur Alur Laut
Kepualauan Indonesia (ALKI I)
c. Kawasan industri dengan lalul lintas yang padat dari/ke Pelabuhan Ciwandan
PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia II dan Pelabuhan Penyeberangan PT.
ASDP Merak.

Perairan di wilayah Teluk Banten cukup dalam, dengan kedalaman perairan
pantai rata-rata diatas 10 meter dengan karakteristik :
a. Gelombang relatif kecil karena tidak terpengaruh musim barat, sehingga
sepanjang tahun relatif aman untuk keselamatan pelayaran kapal cepat dan
atau kapal-kapal berukuran kecil (dibawah 500 GT).
b. Lalu lintas kapal relatif rendah, karena kapal-kapal yang keluar masuk
KANPEL Karangantu dan KANPEL Bojonegara hanya melayani kapal-kapal
ikan dan kayu dengan kurang dari 300 GT.
c. Lalu lintas kapal di Dermaga Khusus (Dersus) di sekitar perairan Bojonegara
relatif rendah, karena pertumbuhan industri lebih banyak di sekitar wilayah
Cilegon.

2.4.3 Sistem Transportasi Udara

Pengembangan sistem jaringan transportasi udara lebih diarahkan untuk
meningkatkan interkoneksi antar kawasan. Di wilayah Propinsi Banten yaitu di
Cengkareng, Kota Tangerang terdapat lapangan terbang komersil bertingkat
internasional terbesar di Indonesia. Lapangan terbang Soekarno-Hatta sebagai
pintu gerbang utama kunjungan wisatawan mancanegara maupun nusantara.
Lapangan terbang lainnya adalah lapangan terbang militer yaitu lapangan
terbang Gorda di Serang, lapangan terbang swasta di Carita, dan lapangan
terbang bagi calon penerbang di Curug.
BAB III
ISU-ISU STRATEGIS DAN ANILI SIS LINGKUNGAN

3.1 Isu Strategis

Secara umum isu-isu strategis yang perlu mendapat perhatian khusus dapat
dikelompokkan ke dalam :
1). Banten sebagai Propinsi baru
2). Otonomi Daerah
3). Era Globalisasi dan Perdagangan Bebas

3.1.1 Banten sebagai Propinsi Baru

1. Kebutuhan akan percepatan perbaikan sosial dan ekonomi
masyarakat

Banten sebagai propinsi baru, lahir melalui perjuangan untuk melepaskan dari
keterbelengguan, ketertinggalan, keterbelakangan dan kemiskinan selama
bersama Propinsi J awa Barat. Terbentuknya Propinsi Banten, didukung dengan
dimulainya pelaksanaan otonomi daerah menjadi harapan bagi masyarakat
Banten sekaligus pemicu untuk dilakukannya perubahan yang signifikan dalam
bidang sosial dan ekonomi agar terbebas dari ketertinggalan, keterbelakangan,
dan kemiskinan.

Pemicu lainnya yang dapat menjadi daya dorong menuju kemajuan adalah masih
dirasakannya dampak krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997
oleh masyarakat Banten.

Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Banten saat ini memang belum
memenuhi harapan. Kondisi pendidikan, kesehatan, keterampilan dan
penguasaan terhadap iptek serta tingkat kesejahteraannya secara umum masih
memprihatinkan.

Disparitas atau kesenjangan ekonomi wilayah utara-selatan Banten juga menjadi
salah satu pendorong agar percepatan perbaikan dan pemerataan perekonomian
dan kesejahteraan dapat segera dilaksanakan. Selain itu masih banyak
sumberdaya alam dan aset-aset lokal lainnya yang belum didayagunakan secara
optimal menunggu pengelolaan profesional, rasa tanggung jawab dan
keberpihakan kepada kepentingan masyarakat umum demi tercapainya
percepatan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Peningkatan
kualitas sumberdaya manusia dan pemberdayaan masyarakat serta
penggalangan kemitraan sinergis stakeholders sangat terkait dengan percepatan
perbaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

2. Belum terbangunnya sistem kepemerintahan yang mapan

Sebagai propinsi yang baru terbentuk, saat ini Propinsi Banten sedang menata
sistem tata kepemerintahan, baik infra-struktur maupun supra-struktur yang
mapan dan stabil.

Sementara itu aparat pemerintah Propinsi Banten sebagian besar berasal dari
lembaga atau daerah sehingga belum memiliki persepsi yang sama terhadap
tujuan dan arah pembangunan yang pada akhirnya masih sulit menghasilkan
kinerja dan produktivitas yang diharapkan.

Selain itu proses demokratisasi masih belum berjalan seperti yang diharapkan
karena belum tersedianya mekanisme yang kondusif untuk mewujudkannya.
Mekanisme untuk mencegah dan menyelesaikan terhadap berbagai pelanggaran
dan kasus-kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) belum dapat diselesaikan
secara berkeadilan walaupun ada upaya untuk menekan seminimal mungkin.

Rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat dalam aspek hukum dan
penegakan supremasi hukum disebabkan antara lain oleh rendahnya kualitas
perundangan/peraturan dan profesionalisme aparat penegak hukum serta
budaya politik yang kurang menjunjung tinggi supremasi hukum.

Kinerja pemerintah saat ini, baik di lingkungan eksekutif maupun legislatif, masih
belum optimal sehingga masyarakat belum melihat terwujudnya sistem
kepemerintahan yang baik yang tercermin dari belum optimalnya pelayanan
kepada masyarakat. Optimalisasi pelayanan diperlukan untuk mendapatkan
kepercayaan dan dukungan masyarakat guna menciptakan stabilitas sosial,
politik dan keamanan.

Pemerintah Daerah perlu segera menyiapkan program-program dan strategi yang
diperlukan untuk membangun sistem kepemerintahan yang mapan, baik infra-
struktur maupun supra-struktur.
3. Sarana dan prasarana pendukung belum menunjang

Sebagai propinsi yang baru terbentuk, saat ini Propinsi Banten belum memiliki
sarana dan prasarana dasar dan pendukung untuk menunjang percepatan
pembangunan yang masih kurang memadai.

Tidak dapat disangkal bahwa pembenahan sarana dan prasarana pendukung
juga sangat berpengaruh terhadap sistem kepemerintahan. Sebagai propinsi
yang baru terbentuk, penyiapan dan pembenahan sarana dan prasarana
pendukung sistem pemerintahan ini merupakan misi penting yang harus
dilaksanakan segera.

Pemerintah Daerah perlu segera menyiapkan sarana dan prasarana melalui
program-program dan strategi yang tepat untuk membangun infra-struktur dan
supra-struktur.

4. Daerah Istimewa Banten dan penerapan syariat islam

Suasana kehidupan yang agamis dengan nuansa islami terus ingin dipertahankan
oleh masyarakat Propinsi Banten. Hal tersebut tidak terlepas dari sejarah Banten.
Diyakini bahwa masa kejayaan Banten selama tiga abad (abad XVI sampai
dengan XVIII) di bawah Kesultanan Banten karena ditopang oleh dukungan
wawasan global dan penerapan sistem kehidupan yang Islami. Dalam masa
kejayaan tersebut Banten sebagai kota internasional yang memiliki jaringan
politik, agama islam dan perdagangan yang luas.

Banten juga terkenal sebagai salah satu pusat peradaban atau budaya Islam
(tamaddun atau civilization) yang berwibawa dalam jaringan ulama antara
Kepulauan Nusantara dan Timur Tengah. Ciri wawasan global dan kehidupan
islami juga tercermin ketika Kesultanan Banten mengirim Kyai Naja Wipraya dan
Kyai J aya Sadana sebagai duta besar yang pertama dari Nusantara ke Kerajaan
Inggris yang berangkat dengan kapal Inggris “London pada tanggal 10
November 1681.

Sebagai propinsi baru, ada aspirasi masyarakat yang menghendaki agar Propinsi
Banten diperjuangkan sebagai Daerah Istimewa Banten yang ditunjang dengan
penerapan sistem kehidupan yang agamis-islami. Hal tersebut juga dimaksudkan
bahwa sebagai propinsi baru, Propinsi Banten memiliki kekhasan yang
membedakan dengan propinsi lainnya.

Isu strategis ini perlu dikaji secara seksama, komprehensif dan diwacanakan
secara terus menerus yang difasilitasi baik oleh Pemerintah Propinsi maupun oleh
komponen masyarakat.

3.1.2 Otonomi Daerah

1. Meningkatnya kebutuhan akan penggalangan partisipasi
masyarakat dan kemitraan sinergis para stakeholders

Bangkitnya kesadaran terhadap berbagai potensi yang dimiliki serta tingginya
kepercayaan akan kemampuan diri sendiri menyatu dengan hasrat yang besar
mendorong masyarakat untuk berperan serta secara aktif dalam proses-proses
kehidupan sosial dan politik serta pembangunan daerahnya. Dalam masa transisi
ini, segenap masyarakat terus-menerus mengikuti dengan seksama proses-
proses kehidupan sosial dan politik serta pembangunan daerah dengan harapan
dapat berpartisipasi secara aktif untuk terbangunnya sistem kehidupan dan
Pemerintahan yang demokratis.

Namun demikian, dalam realitasnya, hingga saat ini peran serta dan partisipasi
stakeholders dalam kehidupan sosial dan politik serta pembangunan masih belum
memadai. Padahal, partisipasi aktif stakeholders, terutama dalam bentuk
kemitraan sinergis para stakeholders pada semua aspek pembangunan sangat
diperlukan untuk mengoptimalkan sumberdaya lokal.

Melalui berbagai program dan strategi, Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi
untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dan
tergalangnya kemitraan sinergis para stakeholders.

2. Pemekaran wilayah dan penggalangan keutuhan wilayah

Berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000, Propinsi Banten terdiri dari
Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kota Cilegon,
Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang.

Berdasarkan pengamatan masyarakat, wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang
masih belum sepenuhnya merasa terakomodasi kepentingannya setelah
bergabung dengan Propinsi Banten. Hal ini dapat menjadi hambatan bagi
Pemerintah Daerah Propinsi Banten sehingga perlu segera dilakukan upaya-
upaya untuk menggalang konsolidasi.

Secara sosio-kultural masyarakat di kedua wilayah tersebut memang tidak terikat
dengan budaya Banten. Selain itu banyak masyarakatnya yang merasa lebih
cocok untuk bergabung dengan DKI J akarta mengingat kedekatan wilayah ini
dengan DKI J akarta. Sebagian masyarakatnya juga merasa bahwa bergabung
dengan DKI J akarta akan lebih menguntungkan secara ekonomi daripada
bergabung dengan wilayah Banten.

Masalah sengketa tentang 22 pulau antara Propinsi Banten dan DKI J akarta
memerlukan langkah-langkah hukum yang tepat untuk mewujudkan keutuhan
wilayah Propinsi Banten. Untuk menyikapi masalah 22 pulau tersebut,
Pemerintah Propinsi Banten perlu menyiapkan program dan strategi yang lebih
menekankan kepada penyelesaian secara hukum.

Untuk menggalang konsolidasi wilayah, maka aspirasi masyarakat Kabupaten
Tangerang dan Kota Tangerang harus diperhatikan kepentingannya supaya
masyarakatnya merasa memiliki Banten seperti masyarakat di Kabupaten/Kota
lainnya. Upaya konsolidasi Pemerintah Propinsi Banten sebaiknya memberikan
penekanan pada kedua wilayah ini dengan mensinergikan kepentingan wilayah
lain.

Di beberapa tempat lainnya saat ini berkembang adanya aspirasi masyarakat
untuk membentuk Kabupaten, antara lain Kabupaten Malimping (saat ini dalam
wilayah Kabupaten Lebak), Kabupaten Menes (saat ini dalam wilayah Kabupaten
Pandeglang), Kabupaten Palka dan Kabupaten Tirtayasa (saat ini dalam wilayah
Kabupaten Serang), dan Kabupaten Cipasera (saat ini dalam wilayah Kabupaten
Tangerang). Dalam menjawab dan merespon aspirasi masyarakat untuk
pemekaran wilayah dan pembentukan Kabupaten baru tersebut, maka
Pemerintah Daerah Propinsi Banten perlu mencermati secara tepat dan
proporsional melalui kajian-kajian yang komprehensif.



3. Keterbatasan kewenangan propinsi

Pada beberapa pasal yang terdapat dalam UU. Nomor 22/99 dibahas beberapa
kewenangan baik Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, sesunggunhya
otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab terdapat di daerah Kabupaten
dan Kota, sehingga otonomi yang dimiliki propinsi diberikan secara terbatas.

Meskipun demikian pada Peraturan Pemerintah (Peraturan Pemerintah) Nomor
25 Tahun 2000, diatur pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dengan
Pemerintah Daerah Propinsi.
Kewenangan yang diserahkan kepada Daerah Otonom Propinsi dalam rangka
desentralisasi mencakup :
a. Kewenangan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota, seperti kewenangan
dalam bidang pekerjaan umum, perhubungan, kehutanan, dan perkebunan;
b. Kewenangan pemerintahan lainnya, yaitu perencanaan dan pengendalian
pembangunan regional secara makro, pelatihan bidang alokasi sumberdaya
manusia potensial, penelitian yang mencakup wilayah propinsi, pengelolaan
pelabuhan regional, pengendalian lingkungan hidup, promosi dagang dan
budaya/pariwisata, penanganan penyakit menular, dan perencanaan tata
ruang propinsi.
c. Kewenangan kelautan yang meliputi eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan
pengelolaan kekayaan laut, pengaturan kepentingan administratif,
pengaturan tata ruang, penegakan hukum, dan bantuan penegakan
keamanan dan kedaulatan negara, dan
d. Kewenangan yang tidak atau belum dapat ditangani daerah Kabupaten dan
daerah Kota dan diserahkan kepada Propinsi dengan pernyataan dari daerah
otonom kabupaten atau kota tersebut.

3.1.3 Era Globalisasi dan Perdagangan Bebas

1. Rendahnya daya saing

Dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas, daya saing
sumberdaya manusia di Propinsi Banten masih kurang memadai, baik di tingkat
ASEAN maupun dunia. Hal tersebut disebabkan masih rendahnya kualitas aspek
penguasaan iptek dan manajemen. Untuk mengejar ketertinggalan Propinsi
Banten dari propinsi lainnya yang lebih maju serta menghadapi era globalisasi
dan perdagangan bebas, kualitas sumber daya manusia merupakan aset penentu
utama.

Kualitas sumberdaya manusia sangat ditentukan oleh penguasaan iptek dan
manajemen serta derajat iman dan taqwa. Rendahnya kualitas sumberdaya
manusia menjadi sumber penyebab rendahnya produktivitas, kinerja atau hasil-
hasil kegiatan, program, atau usaha yang dilaksanakan.
Usaha kecil dan menengah masih belum dapat berkembang untuk memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi
daerah.

Untuk itu Pemerintah Propinsi Banten perlu menyiapkan program dan strategi
yang tepat untuk meningkatkan daya saing masyarakat dan daerah Banten
dalam rangka menyiapkan dan menghadapi era globalisasi dan perdagangan
bebas, baik untuk tingkat ASEAN maupun dunia.

2. Disparitas potensi dan kemajuan pembangunan antar wilayah

Di Propinsi Banten terdapat disparitas potensi ekonomi, sosial, sumberdaya
manusia dan hasil kemajuan pembangunan antar wilayah utara (khususnya Kota
Tangerang dan Cilegon) dengan wilayah selatan (khususnya Kabupaten Lebak
dan Kabupaten Pandeglang).

Agar disparitas tersebut tidak memberi hambatan, kendala atau hal yang
merugikan dapat diubah menjadi berkah atau peluang sekaligus keuntungan
untuk mensinergikan keragaman potensi tersebut. Pemerintah Daerah Propinsi
Banten memiliki peran dan posisi yang strategis untuk melakukan hal tersebut.

Keberhasilan mensinergikan keragaman potensi tersebut akan memperkuat
keunggulan komparatif setiap wilayah atau bahkan dapat mengubahnya menjadi
keunggulan kompetitif. Hal ini tentu saja sangat dibutuhkan untuk mempercepat
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi serta sangat menguntungkan untuk
menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas.

Untuk itu Pemerintah Propinsi Banten perlu menyusun Wilayah Kerja
Pembangunan yang dapat mengurangi disparitas utara-selatan sekaligus
mensinergikan keragaman potensi antar daerah.

3. Degradasi sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan

Hampir di seluruh wilayah Propinsi Banten, terjadi degradasi sumberdaya alam
dan pencemaran lingkungan yang cukup serius. Bentuk degradasi sumberdaya
alam yang dominan terjadi di daerah hulu, seperti di Kabupaten Lebak,
Pandeglang dan Serang adalah kerusakan hutan akibat pembukaan hutan dan
erosi di lahan pertanian serta berkurangnya daerah resapan air. Hal ini selain
menurunkan produktivitas di wilayah Banten Selatan juga dapat menimbulkan
bencana di wilayah Banten Utara. Sedangkan di daerah hilir, wilayah Banten
Utara, yang banyak terjadi adalah pencemaran lingkungan perairan dan udara
yang terjadi akibat limbah buangan industri. Salah satu akibatnya adalah
menurunnya produktivitas tambak dan menurunnya potensi sumberdaya
kelautan.

Degradasi menyebabkan menurunnya tingkat produktivitas sumberdaya alam
yang berdampak terhadap menurunnya kuantitas dan kualitas produk yang
dihasilkan, semakin tingginya biaya produksi per unit, dan pada akhirnya kalah
bersaing dengan produk dari daerah atau negara lain.

Pencemaran lingkungan menyebabkan keseimbangan ekosistem terganggu dan
berdampak terhadap kualitas kehidupan masyarakat. Disisi lain hal ini
menyebabkan meningkatnya pengeluaran atau alokasi dana untuk pengelolaan
ataupun pengendalian dari akibat pencemaran lingkungan tersebut.

Selain itu, perdagangan internasional yang berkaitan dengan ekspor dari Propinsi
Banten ke negara lain juga dapat dipengaruhi isu lingkungan hidup. Eco-labelling
dan tuntutan sertifikat yang menerangkan bahwa sistem produksi yang
berwawasan lingkungan (ISO 14000) merupakan indikasi bahwa masalah
lingkungan hidup dapat berpengaruh terhadap daya saing dalam perdagangan
internasional.

Mengingat besarnya dampak degradasi sumberdaya alam dan pencemaran
lingkungan ini, baik terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, Pemerintah
Propinsi Banten perlu menyiapkan langkah-langkah yang tepat untuk
meminimalkan degradasi sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan
tersebut.


4. Rendahnya produktivitas pertanian dan kelautan

Produktivitas kegiatan pertanian dalam arti luas yang meliputi tanaman pangan,
hortikultura, perikanan, peternakan, dan perkebunan di Propinsi Banten secara
umum masih tergolong rendah, demikian juga yag terjadi di bidang kelautan.

Produktivitas yang rendah di bidang pertanian diakibatkan oleh masih rendahnya
tingkat pengetahuan dan keterampilan petani untuk mengelola sumberdaya
lahan, serta sarana dan prasarana pendukung yang tersedia belum memadai
untuk menunjang proses pertanian yang produktif, serta sistem tata niaga yang
belum kondusif untuk mendukung berkembangnya agribisnis.

Selain itu kurang terkelolanya sumberdaya kelautan secara optimal menyebabkan
rendahnya produktivitas pada bidang kelautan. Bidang kelautan ini memerlukan
perhatian yang seksama dari para stakeholders karena sebenarnya menyimpan
potensi yang sangat besar yang selama ini belum didayagunakan secara optimal.
Rendahnya produktivitas pertanian dan kelautan pada akhirnya berdampak pada
daya saing menghadapi produk dari daerah atau negara lain, baik di dalam
wilayah Banten sendiri maupun untuk keperluan ekspor dari Propinsi Banten.
Selain belum tercapainya swasembada pangan menyebabkan mengalirnya devisa
ke luar Propinsi Banten.

Peningkatan produktivitas pertanian dan kelautan untuk meningkatkan
ketahanan dan kesejahteraan petani dan nelayan perlu dipersiapkan dan strategi
yang tepat.

5. Belum termanfaatkannya posisi strategis Propinsi Banten sebagai
pusat perniagaan antar pulau dan dunia

Bandar-pelabuhan merupakan saran yang sangat strategis bagi kemajuan suatu
negara atau wilayah. Banten pernah berjayadan dikenal di abad XVI-XVIII karena
memiliki bandar-pelabuhan yang terkemuka pada saat itu, sedangkan pelabuhan
laut terbesar saat ini adalah Tanjung Priok, J akarta. Singapura dan Hongkong
menjadi negara maju dan dikenal sebagai pusat perdagangan dunia juga karena
didukung oleh bandar-pelabuhan yang sangat maju.

Bandar-pelabuhan tidak hanya sebagai tempat untuk melandaskan pesawat dan
bersandarnya kapal, arus keluar masuknya barang dan orang, tetapi juga
sebagai pusat pemasaran, perniagaan atau perdagangan jasa dan komoditas
sehingga sekaligus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Hal ini sangat
menunjang terhadap pola pengembangan wilayah dari laut ke darat untuk
menerapkan orientasi pemasaran.

Kemajuan daam pembangunan bandar-pelabuhan akan mendukung penguasaan
terhadap pemasaran dan akhirnya perdagangan. Keberhasilan dan kelancaran
dalam aspek pemasaran akan memacu dalam bidang produksi. Dengan demikian
kemajuan dalam pembangunan pelabuhan dapat menjadi lokomotif untuk
menarik kemajuan dalam bidang atau sektor lainnya, merubah paradigma
perdagangan berorientasi produksi (production oriented) ke perdagangan
berorientasi pemasaran (marketing oriented). Penguasaan terhadap pusat
perdagangan di wilayah pelabuhan akan menjadi insentif bagi daerah-daerah di
belakangnya (hinterland) untuk menghasilkan berbagai produk atau komoditi.

Dalam era globalisasi dan perdagangan bebas, setiap daerah, wilayah atau
negara dituntut untuk memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage)
dan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Aset pelabuhan bagi
Propinsi Banten dapat meningkatkan keunggulan komparatif didukung
sumberdaya alamnya serta profesionalisme aparatur, kualitas pelayanan dan lain
sebagainya sehingga dapat mengarah kepada keunggulan kompetitif di tingkat
regional. Hal tersebut sangat signifikan dengan fakta bahwa Propinsi Banten
memiliki aset dan modal keistimewaan lokasi geografis yang sangat strategis
sebagai lalu lintas perdagangan J awa-Sumatera dan jalur perdagangan dunia.
Potensi inilah yang perlu diwujudkan untuk mengejar ketertinggalan Propinsi
Banten dari propinsi lainnya.

Pengelolaan yang baik terhadap bandar-pelabuhan diharapkan dapat mengatasi
masalah kelesuhan yang menjadi salah satu kendala utama pertumbuhan
perekonomian nasional pada umumnya dan Propinsi Banten pada khususnya,
dan sekaligus menggairahkan perdagangan dan pemasaran. Dengan demikian
dapat dipahami bahwa melalui kemajuan bandar-pelabuhannya dan ditunjang
dengan sektor-sektor unggulan lainnya, maka hal tersebut akan menempatkan
Propinsi Banten sejajar dengan propinsi maju lainnya di Indonesia pada masa
yang akan datang.

Penempatan bandar-pelabuhan sebagai kata kunci dan pintu gerbang (entry
point) pembangunan Propinsi Banten tidak berarti bahwa pembangunan hanya
akan mengembangkan sektor jasa dan perdagangan dengan meninggalkan
sektor lainnya seperti sektor industri, pertanian, pariwisata, pendidikan, dan
sebagainya, tetapi justru merupakan pemicu atau pembuka jalan bagi sektor
lainnya tersebut untuk berkembang lebih pesat. Dengan demikian seluruh
wilayah di Propinsi Banten harus merasakan manfaat dari majunya pelabuhan-
pelabuhan di seluruh Propinsi Banten.

Pemerintah Propinsi Banten perlu menyiapkan langkah-langkah yang konkret
untuk lebih mendaya-gunakan potensi bandar pelabuhan ini karena
pengembangan bandar-bandar pelabuhan di Propinsi Banten merupakan kunci
meraih daya saing dalam era globalisasi dan perdagangan bebas serta mencapai
kemajuan dan mensejajarkan diri dengan propinsi maju lainnya.

3.2 Analisis Internal dan Eksternal

Berdasarkan data tentang kondisi fisik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat
Propinsi Banten dan faktor-faktor eksternal yangmempengaruhi wilayah
tersebut., dapat diperoleh analisis tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan
tantangan/ancaman yang dimiliki dan dihadapi oleh Propinsi Banten (SWOT
analysis – strength, weakness, opportunity, and threats analysis). Analisis ini
digunakan untuk menentukan strategi yang harus diambil oleh stakeholders
dalam rangka memajukan Propinsi Banten.

3.2.1 Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam Propinsi Banten sendiri
yang berupa kekuatan dan kelemahan. Keduanya dapat menjadi kekuatan atau
keuntungan yang mendukung kemajuan Propinsi Banten apabila dikelola dengan
baik dan sebaliknya menjadi kelemahan atau kerugian apabila bisa dimanfaatkan
dan dikelola dengan baik

Kekuatan (Strength)
1. Letak lokasi geografis yang strategis

Propinsi Banten terletak di ujung barat Pulau J awa yang menghubungkan dengan
bagian barat Indonesia. Keunggulan komparatif yang dimiliki Banten yaitu letak
geografis yang strategis dengan tiga arah mata angin yang berbatasan langsung
dengan laut.
Tiga wilayah yang berbatasan dengan laut tersebut adalah wilayah Barat
berhadapan dengan Selat Sunda, wilayah Utara berhadapan dengan Laut J awa,
dan wilayah Selatan dengan Samudera Indonesia. Keadaan suatu wilayah yang
dikelilingi oleh laut merupakan keuntungan tersendiri bagi prospek
pengembangan kehidupan perekonomian, pariwisata, dan perdagangan lintas
pulau. Dengan posisi strategis seperti itu, Propinsi Banten memiliki potensi untuk
membangun dan mengembangkan pelabuhan-pelabuhan yang akan menjadi
tujuan masuknya arus barang atau perdagangan serta wisatawan antar daerah
maupun antar negara. Dengan demikian, dalam menghadapi era perdagangan
bebas, Propinsi Banten sangat diuntungkan karena memiliki gerbang antar pulau
dan antar negara.

2. Masyarakatnya memiliki keinginan yang kuat untuk membangun
dan bangkit dari ketertinggalan

Semangat masyarakat dan stakeholders untuk mandiri dan bangkit dari
ketertinggalan terlihat dari keinginan kuat dan perjuangan yang begitu gigih
untuk membentuk propinsi baru. Semangat ini semakin besar ketika Propinsi
Banten sudah resmi berdiri. Dengan sendirinya semangat tersebut
menumbuhkan keinginan untuk memberikan yang terbaik terhadap kemakmuran
dan kejayaan Banten sehingga dapat merupakan modal atau aset yang sangat
penting pembangunan Propinsi Banten.

3. Beberapa Kabupaten/ Kota sudah memiliki infra-struktur
pendukung bagi sektor industri dan jasa

Kabupaten/Kota seperti Tangerang, Serang, dan Cilegon telah memiliki sarana
dan prasarana pendukung industri seperti kawasan industri, jalur transportasi,
listrik, sarana komunikasi, dan sebagainya yang memadai untuk pusat
pertumbuhan ekonomi. Hal ini merupakan daya tarik bagi investor untuk
menanamkan modalnya di wilayah Banten. Hal ini merupakan peluang pasar bagi
wilayah penghasil produk primer atau bahan baku, khususnya bagi Kabupaten
Lebak dan Pandeglang.




4. Beberapa Kabupaten/ Kota memiliki sumberdaya alam (SDA),
peninggalan budaya sebagai tempat pengembangan pariwisata

Wilayah Propinsi Banten kaya akan peninggalan sejarah dan sumber daya alam
seperti laut, pantai, sumber air panas, cagar alam yang dapat dikembangkan
untuk daerah dan tujuan wisata. Hampir seluruh Kabupaten/Kota memiliki
potensi wisata yang kurang digarap dengan optimal.

5. Memiliki sarana perhubungan yang vital dan strategis (pelabuhan
laut dan bandara internasional)

Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dan pelabuhan-pelabuhan laut yang
terletak di Propinsi Banten, terutama pelabuhan Merak, adalah gerbang keluar
masuk arus barang dan jasa serta wisatawan mancanegara. Keduanya adalah
sarana transportasi vital tidak saja untuk wilayah banten melainkan untuk
seluruh wilayah Indonesia. Sarana perhubungan ini menjadikan Banten sebagai
wilayah penting dalam lalu lintas barang dan penumpang serta perdagangan
dalam skala nasional dan iternasional.

6. Sebagai propinsi baru, memiliki kesempatan untuk membentuk
“good governance” tanpa ada resistensi dari pihak lain.

Banten sebagai propinsi yang baru terbentuk memiliki kesempatan untuk
menyusun pemerintahan yang baik tanpa campur tangan serta resistensi atau
ingin mempertahankan “status quo” dari pihak lain yang memiliki kepentingan
politis tertentu. Pemerintahan yang baru ini dibentuk semata-mata untuk
kepentingan dan kemakmuran masyarakat Banten.

7. Masyarakat Banten sudah memiliki budaya dan jiwa relijius

Sejak agama Islam yang kemudian menjadikan penguasa kesultanan berhasil
membawa kejayaan Banten pada abad XVI hingga XVIII, menjadikan masyarakat
Banten hingga saat ini masih memiliki budaya dan jiwa relijius keislaman yang
kuat.

Hal inilah yang dapat menjadi pendorong sifat dan perilaku positif yang
bermanfaat bagi pembangunan juga sekaligus menjadi benteng penangkis
masuknya budaya dari luar yang negatif.
Kelemahan
1. Tingginya heterogenitas dan kesenjangan ekonoi, sosial, SDM dan
kemajuan pembangunan antar Kota/ Kabupaten

Kondisi dan potensi wilayah Banten bagian selatan didominasi oleh kekuatan
ekonomi perdesaan (pertanian, pertambangan, perikanan laut dan pariwisata)
sedangkan Banten bagian utara didominasi kekuatan ekonomi perkotaan
(industri, perdagangan dan jasa). Kedua kondisi perekonomian ini melahirkan
suatu kondisi kesenjangan sosial dan ekonomi.

Ditinjau dari segi SDM, kualitas SDM di kedua wilayah Banten tersebut juga
berbeda demikian juga sosial budaya yang mempengaruhi etos kerja
masyarakatnya.

Pembangunan fisik yang tidak merata di masa lalu menyebabkan kemajuan
pembangunan fisik hanya terkonsentrasi di beberapa Kabupaten/Kota.
Kesenjangan tersebut terlihat dari semua sarana dan prasarana fisik yang
tersedia. Hal ini mendorong terjadinya urbanisasi.

2. Peran serta dan partisipasi stakeholders non pemerintah dalam
pembangunan masih rendah

Berdasarkan survey yang dilakukan TIM LPM Unpad (1999) keterlibatan
masyarakat dalam pembangunan umumnya masih rendah. Hal ini terjadi karena
pola pembangunan yang sentralistik tanpa melihat kebutuhan masyarakat
sehingga masyarakat tidak merasa memiliki program pembangunan tersebut.
Dalam era pemerintahan transisi selama tahun 199-2001, masyarakat Banten
dan para stakeholders non pemerintah juga kurang terlihat peran serta dan
partisipasinya secara nyata dalam pembangunan.

3. Rendahnya produktivitas pertanian dan kelautan

Potensi pertanian dan kebutuhan Propinsi Banten sangat tinggi, akan tetapi
kedua sektor ini kurang produktif untuk dapat memberikan sumbangan yang
nyata terhadap peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan percepatan
pembangunan wilayah. Hal tersebut dapat dilihat dari rendahnya tingkat
kesejahteraan kawasan Banten bagian selatan yang mengandalkan kedua sektor
iini bila dibandingkan dengan kawasan yang mengandalkan sektor industri dan
jasa di bagian utara.

Rendahnya produktivitas pertanian dan kelautan tersebut menyebabkan tidak
terpenuhinya swasembada pangan dan mengalirnya devisa ke daerah lain untuk
membeli bahan pangan sangat rendahnya kesejahteraan petani, peternak dan
nelayan.

4. Terjadinya degradasi sumberdaya alam (SDA) dan lingkungan

Pengelolaan SDA yang bersifat eksploitatif tanpa disertai dengan pemakaian
kaedah konservasi yang memadai di masa lalu menyebabkan terjadinya
penurunan daya dukung alam. Hal tersebut tercermin dari rusaknya hutan,
fluktuasi debit sungai yang tinggi, dan frekuensi terjadinya bencana alam banjir
dan kekeringan, longsor, dan sebagainya dalam beberapa tahun terakhir serta
pencemaran lingkungan di sekitar kawasan industri. Selain menimbulkan
bencana, degradasi sumberdaya alam dan lingkungan mengakibatkan penurunan
produktivitas pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kelautan, serta
kemunduran kualitas hidup.

5. Penguasaan dan pemasyarakatan iptek masih rendah

Salah satu hal yang menyebabkan rendahnya produktivitas dan daya saing
masyarakat Banten adalah rendahnya penguasaan iptek (termasuk manajemen).
Padahal tingkat produktivitas, daya saing serta kemampuan untuk mengatasi
berbagai hal yang berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi. Untuk dapat
menjadi masyarakat yang maju dan berdaya saing tinggi, masyarakat Banten
harus memiliki tingkat penguasaan iptek yang tinggi.

Salah satu penyebab utama rendahnya penguasaan iptek adalah rendahnya
permasyarakatan iptek. Penemuan-penemuan hasil penelitian dan kajian
perguruan tinggi, pusat penelitian, dan sebagainya belum secara efektif dapat
disebar luaskan kepada masyarakat untuk meningkatkan wawasan,
pengetahuan, keterampilan, pengalaman, kemandirian, dan daya saing
masyarakat.



6. Kesadaran hukum dan penegakan supremasi hukum masih rendah

Secara umum dapat dilihat sehari-hari tentang rendahnya kesadaran hukum
masyarakat. Permasalahan utama dari krisis sosial dan politik yang sering terjadi
akhir-akhir ini diantaranya disebabkan oleh lemahnya penegakkan hukum.
Disamping karena kualitas peraturan/perundangan dan profesionalisme aparat
penegak hukum yang masih rendah, penyebab lainnya adalah budaya politik
yang belum menjunjung tinggi supremasi hukum.

7. Kualitas SDM masih rendah

Kualitas SDM yang dimiliki Banten masih kurang mendukung pengembangan
wilayahnya mengingat rata-rata pendidikan yang ditempuh adalah SD, dengan
tingkat kesehatan dan gizi tergolong masih belum memenuhi kriteria untuk
sumberdaya manusia yang maju.

8. Belum terbangunnya sistem kepemerintahan yang mapan

Sebagai propinsi yang baru terbentuk, saat ini Propinsi Banten sedang menata
sistem kepemerintahan yang mapan dan stabil.

9. Kinerja dan profesionalisme aparatur Pemda masih rendah

Aparat Pemerintah Propinsi Banten sebagian besar pindahan dan berasal dari
berbagai lembaga atau daerah maka belum memiliki presepsi yang sama
terhadap tuuan dan arah pembangunan Propinsi Banten, belum saling mengenal
dan kompak (belum “tune in”) sehingga masih sulit untuk diharapkan dapat
menghasilkan kinerja dan produktivitas yang tinggi.

10. Sarana dan prasarana pendukung belum menunjang

Sebagai propinsi yang baru terbentuk, saat ini Propinsi Banten kurang memiliki
sarana dan prasarana dasar dan pendukung yang memadai untuk menunjang
percepatan pembangunan.




3.2.2 Faktor Eksternal
Peluang
1. Menjadi pusat perniagaan antar pulau dan antar negara karena
adanya pelabuhan laut dan udara,serta jaringan transportasi yang
memadai

Pelabuhan Merak, Cigading, Anyer serta keberadaan Bandara Soekarno Hatta
dan ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan yang baik memberikan
peluang kepada Banten untuk menjadi pusat perniagaan antar pulau dan antar
negara serta menjadi daerah tujuan wisata dari dalam negeri (Nusantara) dan
luar negeri (mancanegara).

2. Masih merupakan wilayah yang menarik investor untuk
menanamkan modalnya

Dengan dukungan infrastruktur yang cukup memadai dan ketersediaan tenaga
kerja (mengingat potensi penduduk yang dimiliki) wilayah Banten masih
merupakan wilayah yang menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya.
Faktanya ternyata investasi tersebut memang terkonsentrasi di Kabupaten/Kota
tertentu, dengan perbaikan fasilitas di Kabupaten/Kota lainnya akan membuka
peluang yang sama bagi daerah yang selama ini tertinggal mengingat jarak
dengan serta industri yang telah ada relatif dekat. Sebagai propinsi baru, hal ini
juga meningkatkan minat investor untuk berinvestasi asalkan dapat diciptakan
suasana keamanan dan penegakan hukum yang kondusif.

3. Memiliki kesempatan pengembangan yang lebih luas dan fleksibel
dibandingkan dengan propinsi lain yang sudah “mapan”

Sebagai propinsi baru, Banten masih berada dalam tahap persiapan dan
pemantapan. Setiap bagian dari wilayahnya masih memiliki peluang untuk
dikembangkan sesuai dengan potensinya. Hal ini berarti bahwa peluang untuk
mengembangkan wilayah ini masih sangat besar. Dengan perencanan yang
matang dan berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan maka Banten
bisa lebih berkembang dibandingkan dnegan propinsi lain yang sudah mapan.




4. Sebagai propinsi baru mendapat prioritas/ kemudahan dari
pemerintah pusat dan lembaga donor lainnya.

Konsekuensi dari berdirinya sebuah propinsi baru adalah bahwa negara dan
propinsi induknya (J awa Barat) harus membantu proses pendirian propinsi
tersebut pada tahap-tahap awal seperti yang tengah dijalani saat ini.

Selain bentuk bantuan prioritas alokasi anggaran dari pemerintah pusat, peluang
untuk mendapatkan bantuan dari lembaga donor lainnya yang dapat membantu
kelancaran dan percepatan pembangunan propinsi ini sangat besar.

5. Sedang berkembangnya era demokrasi dimana stakeholders ingin
memberikan kontribusi nyata.

Saat ini, mewujudkan pemerintahan yang demokratis sudah menjadi keinginan,
tuntutan dan kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Pola
pendekatan pembangunan yang bersifat dari bawah ke atas (bottom-up) yang
digalakkan saat ini memberikan kesempatan yang semula tertutup pada semua
stakeholders untuk terlibat dalam setiap tahap pembangunan.
Kecenderungannya adalah bahwa setiap stakeholders berlomba-lomba untuk
memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan. Peluang ini harus ditangkap
Pemerintah Daerah Propinsi Banten karena peran stakeholders adalah kunci
keberhasilan pembangunan.

Ancaman
1. Diberlakukannya UU No. 22/ 1999 dan UU No. 25/ 1999 yang
menitikberatkan peran kabupaten/ kota dibandingkan dengan
propinsi

Peran propinsi dalam era otonomi daerah jauh berkurang dibandingkan dengan
era sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan bagi Banten selaku propinsi baru,
karena kewenangannya maupun penyediaan anggaran pembangunan banyak
diambil alih oleh pemerintah kabupaten/kota. Karena itu Pemerintah Daerah
Propinsi Banten harus banyak mencari peluang yang tidak bertentangan dengan
kewenangan kabupaten/kota untuk menghindari konflik dengan kabupaten/kota
yang menjadi ujung tombak pelaksanaan otonomi daerah.


2. Dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan terhadap LPE,
kesejahteraan masyarakat dan angka pengangguran

Krisis ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan menurunnya laju
pertumbuhan ekonomi di wilayah Propinsi Banten. Penyerapan investasi dan
kunjungan wisatawan pun menurun. Seiring dengan itu angka pengangguran
melonjak naik dan kesejahteraan penduduk semakin terpuruk. Pemerintah
Daerah Propinsi Banten harus mampu menjadikan kebangkitan di sektor
ekonomi.

3. Kondisi politik keamanan negara yang belum mendukung laju
investasi dari luar negeri

Sampai saat ini kondisi politik dan keamanan negara masih belum stabil.
Masyarakat internasional masih memandang Indonesia sebagai tempat investasi
yang beresiko tinggi. Hal ini menyebabkan laju investasi dari luar negeri belum
maksimal.

4. Kesulitan mencari dana besar untuk menyiapkan/ mendanai suatu
propinsi baru.

Dana yang dibutuhkan untuk mendirikan propinsi baru sangat besar, terutama
untuk menata landasan awal pemerintahan yang baik. Sumber dana yang
diandaikan yaitu dari surat dan propinsi induk juga belum mampu menutupi
kebutuhan akan dana tersebut. Diperlukan keberanian dan kejelian pemerintah
propinsi untuk mencari sumber dana lain yang dapat mendukung percepatan
pembangunan Propinsi Banten, termasuk dalam menjalin kemitraan baik antar
Pemerintah Daerah Propinsi maupun dengan pihak donatur dan dari luar negeri.

5. Adanya kesepakatan J awa Barat dan DKI J akarta untuk kerangka
pembangunan wilayah Kota dan Kabupaten Tangerang

Kota dan Kabupaten Tangerang yang merupakan daerah maju di wilayah Banten
telah diatur pola pengembangan wilayahnya dalam kesepakatan antara propinsi
J awa Barat dan DKI J akarta karena keduanya adalah daerah penyangga J akarta.
Karena itu maka Pemerintah Daerah Propinsi Banten harus mencermati
kesepakatan itu agar tidak menjadi penghalang kemajuan bagi Propinsi Banten.

6. Pengaruh budaya negatif dari luar sebagai akibat wilayah terbuka

Sebagai wilayah terbuka, pintu gerbang perhubungan, perdagangan, dan
pariwisata antar pulau dan antar negara, Propinsi Banten sangat mudah dimasuki
oleh pengaruh negatif budaya dari luar.

BAB IV
VISI, MISI DAN PRIORITAS DAERAH

4.1 Visi Propinsi Banten 2006






4.1.1 Penjelasan Visi

Dalam visi Propinsi Banten terdapat beberapa kata kunci, yaitu iman dan taqwa,
mandiri, maju dan sejahtera.

Pembangunan apapun tidak akan mendatangkan kemaslahatan dan keberkahan
tanpa dilandasi oleh iman dan taqwa. Oleh karena itu, pernyataan Visi Propinsi
Banten 2006 diawali dengan dilandasi oleh iman dan taqwa.

Iman dan taqwa merupakan prasyarat terwujudnya kehidupan yang agamis,
untuk menjadikan masyarakat yang saleh dan taat pada tuntunan ajaran agama
yang diyakininya. Kehidupan yang agamis merupakan landasan bagi masyarakat
yang mandiri, maju dan sejahtera agar kemajuan dan kesejahteraan yang
diperoleh tetap berada dalam koridor tuntunan kebenaran hakiki demi
terwujudnya kondisi kehidupan yang penuh dengan berkah dan magfiroh dari
khalik-Nya. Hal tersebut merupakan landasan utama untuk menuju masyarakat
Banten yang memiliki akhlakul karimah, rasa persatuan dan kesatuan bangsa
yang kokoh, wawasan ilmu pengetahuan dan penguasaan terhadap teknologi
yang tinggi, serta memiliki kepedulian dan nilai kejuangan, kooperatif dan
mampu menggalang kerjasama tim (team work).

Keberhasilan dalam pembentukan karakter, ideologis dan keagamaan (theologis)
pada periode lima tahun pertama Pemerintah Propinsi Banten ini merupakan
kunci sukses yang sangat menentukan masa depan, arah dan hasil
pembangunan Propinsi Banten pada masa-masa mendatang, yaitu lima tahun
kedua, ketiga, dan seterusnya.

VISI PROPINSI BANTEN 2006
“ Iman dan Taqwa”
Landasan Pembangunan Menuju Banten Mandiri, Maju
dan Sejahtera
Lahirnya Propinsi Banten tidak dapat dipisahkan dari latar belakang perjuangan
pembentukannya serta semangat otonomi daerah. Salah satu isu pokok dalam
perjuangan pembentukan Propinsi Banten dengan memisahkan diri dari Propinsi
J awa Barat merupakan upaya pembebasan dari kemiskinan, ketertinggalan, dan
ketimpangan yang terjadi diantara Kabupaten/Kota. Lahirnya Propinsi Banten
bersamaan dengan mulai dilaksanakannya otonomi daerah sehingga daerah
diberi peluang lebih untuk membangun daerahnya sendiri sedara berhasil-guna
dan beradaya-guna sesuai dengan potensi, aspirasi, dan kehendak stakeholders
di daerah dalam kerangka koordinasi yang harmonis dengan pemerintah pusat.

Sebagai propinsi yang baru terbentuk, salah satu faktor utama yang harus
diperjuangkan pertama-tama adalah kemandirian, yaitu upaya mewujudkan
Banten yang mandiri. Banten yang mandiri memerlukan persatuan dan kesatuan
seluruh komponen masyarakat sehingga semakin kompak dan mampu
menyatukan langkah, semangat dan aspirasi seluruh komponen stakeholders
dalam pensinergian keragaman potensi dan meminimumkan kelemahan. Dengan
demikian Banten yang mandiri merupakan cerminan bersatunya seluruh
kekuatan dan potensi seluruh komponen pembangunan melalui kemitraan yang
sejajar dan sinergis sehingga mampu mengelola dan membangun daerahnya
sendiri secara optimal agar memiliki kemampuan untuk sedikit mungkin
tergantung dari propisi atau wilayah lain. Namun Propinsi Banten tetap kooperatif
dalam membentuk kerjasama atau kemitraan yang sinergis dengan propinsi atau
wilayah lain.

Dengan adanya otonomi daerah diharapkan Propinsi Banten memiliki
kemandirian membangun daerahnya dengan berpijka pada prinsip-prinsip
demokrasi, peran-serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta
memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah dalam rangka untuk
mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal. Era otonomi daerah memberi
peluang bagi Propinsi Banten untuk segera berbenah diri dan bangkit dari
ketertinggalan dan kemiskinan dengan cara mempercepat pembangunan sebagai
langkah awal untuk menuju Banten yang maju, mensejajarkan diri dengan
propinsi maju lainnya. Untuk proyeksi hingga tahun 2006, Banten yang maju
merupakan cerminan bahwa masyarakatnya memiliki keterpaduan langkah dan
gerak, mengalami perbaikan di berbagai bidang sesuai dengan yang diharapkan
(better life) dan terjadi percepatan pembangunan, untuk menuju Banten memiliki
keunggulan-keunggulan yang dapat menjadi acuan, contoh, dan arahan (trend
setter) bagi propinsi atau wilayah lain.

Dengan demikian dapat dipahami mengapa peningkatan kualitas sumberdaya
manusia dan pemberdayaan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dan
strategis karena merupakan prasyarat terwujudnya masyarakat Banten yang
mandiri dan maju.
Lebih lanjut, untuk mewujudkan kemandirian dan daya saing tinggi guna
mencapai keunggulan kompetitif, sangat diperlukan dukungan pemanfaatan dan
penguasaan iptek oleh seluruh pelaku pembangunan (stakeholders).

Tingginya disparitas serta adanya pemahaman dikotomi antara wilayah utara
(Serang, Cilegon, Tangerang) dengan selatan (Pandeglang, Lebak)
membutuhkan strategi khusus dalam pembangunan masalah-masalah
pembangunan. Untuk itu diharapkan agar proses pembangunan di seluruh
wilayah Kabupaten/Kota di Propinsi Banten dapat berlangsung secara sinergis,
serempak, berkeadilan, dan proporsional sesuai dengan potensinya untuk
merubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif.

Dalam konteks periodesasi pembangunan, periode pembangunan Propinsi
Banten 2002-2006 ini merupakan tahap awal pembangunan jangka panjang (20
tahun) yang tertuang dalam Pola Dasar Propinsi Banten 2002-2022. Sangat
mudah untuk dipahami bahwa sebagai langkah awal untuk menyongsong
periode/tahap pengembangan dan pemantapan (stabilisasi) selanjutnya, maka
pada periode tahun 2002-2006 ini difokuskan pada kombinasi tahap konsolidasi
dan akselerasi.

Secara lebih rinci arah pembangunan selama 5 tahun (2002-2006) dapat dirinci
sebagai berikut :
1) Tahun 2002 : Konsolidasi dan inisiasi, yaitu melanjutkan pembangunan
tahun anggaran 2001, penguatan penggalangan kerjasama, perkuatan
manajerial dan inisiasi peningkatan pelayanan umum, dan percepatan
pembangunan.
2) Tahun 2003-2004 : inisiasi dan percepatan pembangunan, terdiri atas inisiasi
program strategis, prasarana dasar dan ketahanan ekonomi kerakyatan,
penyelenggaraan pembangunan, dan sistem tatana kehidupan
bermasyarakat.
3) Tahun 2005-2006, pengembangan dan difersifikasi, meliputi pengembangan
dan difersifikasi secara horizontal dan vertikal hasil tahap sebelumnya,
koreksi dan penyempurnaan secara efektif, perwujudan sistem
pemerintahan dan pembangunan yang mapan.

Sebagai propinsi baru dengan kondisi wilyahnya yang memiliki disparitas yang
tinggi dengan karakteristik masyarakat di berbagai daerah yang berbeda,
langkah awal untuk mewujudkan konsolidasi merupakan suatu strategi yang
tepat. Dengan demikian mudah dimengerti bahwa semangat kebersamaan,
solidaritas dan persatuan merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan. Salah
satu hal yang menjadi inspirasi dan keinginan untuk lepas dari Propinsi J awa
Barat adalah mewujudkan masyarakat Banten yang sejahtera. Untuk proyeksi
hingga tahun 2006, upaya dalam hal menuju masyarakat Banten yang sejahtera
diharapkan dapat tercermin dari berkurangnya secara nyata jumlah masyarakat
miskin, meningkatnya pendapatan masyarakat secara keseluruhan, terpenuhinya
sarana dan prasarana dasar pendidikan dan kesehatan, serta mulai dapat
ditemukan jati diri masyarakat Banten. Hal tersebut merupakan awal dari upaya
menuju suatu masyarakat yang aman sentosa, maju, berdaya saing tinggi, dan
kooperatif dalam mewujudkan berbagai kemitraan yang sinergis, berakhlakul
karimah serta hidup dalam suasana tenang, tertib dan damai.

Kepemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintah yang bersih
(clean government) sangat diperlukan untuk memfasilitasi seluruh stakeholders
dalam mewujudkan Banten yangmandiri, maju, dan sejahtera.

4.1.2 Latar Belakang Penyusunan Visi

Setelah melalui perjuangan yang berat dan panjang, lahirnya Propinsi Banten
patut disyukuri karena telah menciptakan kesempatan bagi masyarakat dan
daerah Banten untuk mewujudkan apa yang telah lama dicita-citakan. Meskipun
Propinsi Banten sebenarnya memiliki potensi yang mendukung untuk
mewujudkan cita-cita tersebut, namun berbagai masalah dan tantangan yang
dihadapi untuk mewujudkan cita-cita tersebut tidaklah ringan.

Pembangunan Propinsi Banten pada dasarnya merupakan upaya untuk
mendayagunakan seluruh sumberdaya yang dimiliki guna meningkatkan
kesejahteraan masyarakat Banten dan kondisi lingkungan hidupnya secara
berkelanjutan. Sumberdaya tersebut terdiri atas sumberdaya alam, sumberdaya
manusia, sumberdaya buatan/sarana prasarana, dan sumberdaya sosial. Namun,
pada akhirnya, penentu utama dalam pencapaian keberhasilan pembangunan
terletak pada pemanfaatan serta penguasaan iptek dan manajemen yang
dilandasi oleh iman dan taqwa.

Dibandingkan dengan propinsi maju lainnya, penilaian terhadap keempat amcam
sumberdaya tersebut, sumberdaya manusia serta sumberdaya buatan/sarana
prasarana yang dimiliki Propinsi Banten secara keseluruhan masih jauh
tertinggal. Beberapa daerah, seperti Kota Tangerang dan Kota Cilegon yang
sudah lebih maju dari wilayah lainnya di Propinsi Banten masih belum dapat
disejajarkan dengan kota-kota besar propinsi lainnya. Dari sisi sumberdaya alam,
sebenarnya Propinsi Banten menyimpan potensi yang sangat besar, terutama
dalam sektor transportasi, kelautan, pertambangan, jasa-perdagangan, dan
pariwisata, namun potensi sumberdaya alam tersebut belum didaya-gunakan
secara optimal.

Selain sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sarana-prasarana,
sumberdaya sosial dan kelembagaan (social capitals) merupakan kekayaan
daerah yang dapat dijadikanmodal dasar pembangunan. Propinsi Banten memiliki
kekhususan (“trade mark”) tentang nilai-nilai agama dan kultur budaya. Seiring
dengan bertambahnya waktu, berbagai perubahan dan dinamika terus
berlangsung, baik yang diharapkan atau diinginkan maupun yang tidak.

Selama ini sudah banyak aset dan sumberdaya sosisal dan kultur budaya Banten
yang mulai pudar sehingga dapat menimbulkan hilangnya spirit dan jati diri serta
hal-hal yang merugikan dan meresahkan seperti anarkisme, sifat individualistik
atau kelompok yang terlalu menonjol, premanisme, hilangnya semangat
kebersamaan, solidaritas, gotong royong, kontrol sosial, kerjasama. Padahal
semangat kebersamaan, solidaritas, gotong royong, kontrol sosial, kerjasama,
dan sejenisnya dapat dijadikan modal dasar yang sangat kokoh dalam
pembangunan secara keseluruhan.

Disparitas ekonomi dan sosial yang tinggi antar daerah di dalam wilayah Propinsi
Banten dapat memberikan keuntungan maupun kerugian, tergantung dari
kemampuan mensinergikan keragaman potensi tersebut. Pensinergian
keragaman atau disparitas antara daerah tersebut sangat ditentukan oleh
perwujudan semangat kebersamaan, solidaritas, gotong royong, kontrol sosial,
kerjasama, dan kemitraan sibergis antar daerah dan antar stakeholders. Oleh
karena itu tantangan yang harus dihadapi oleh Pemerintah Daerah Propinsi
Banten pada awal pemerintahannya saat ini adalah mewujudkan kondisi yang
kondusif untuk menggalang masyarakat untuk bersatu dengan semangat
kebersamaan, solidaritas, kerjasama, dan kemitraan sinergis antar daerah
maupun antar stakeholders.

Pendayagunaan keanekaragaman potensi serta kemitraan sinergis para
stakeholders merupakan modal dasar untuk mencapai Banten yang mandiri, yang
dicerminkan oleh bersatunya seluruh kekuatan dan potensi seluruh komponen
pembangunan malalui kemitraan yang sejajar dan sinergis sehingga mampu
mengelola dan membangun daerahnya sendiri secara optimal agar memiliki
kemampuan untuk sesedikit mungkin tergantung dari propinsi atau wilayah lain.
Hal tersebut perlu ditunjang oleh persatuan dan kesatuan seluruh komponen
masyarakat sehingga semakin kompak dan mampu menyatukan langkah,
semangat, dan aspirasi seluruh komponen stakeholders dalam pensinergian
keragaman potensi dan meminimumkan kelemahan.

Persatuan, semangat kebersamaan, solidaritas, kerjasama dan kemitraan sinergis
antar daerah dan antar stakeholders merupakan modal awal bagi masyarakat
dan Pemerintah Daerah Propinsi Banten untuk mempercepat pembangunan guna
segera bangkit dari ketertinggalan, kemiskinan dan keterbelakangan dalam
rangka menuju Banten yang maju, dimana masyarakatnya memiliki keterpaduan
langkah dan gerak, mengalami perbaikan di segala bidang sesuai dengan yang
diharapkan (better life). Hal tersebut sangat diperlukan untuk percepatan
pembangunan, untuk menuju Banten memiliki keunggulan-keunggulan yang
dapat menjadi acuan, contoh, dan arahan (trend setter) bagi propinsi atau
wilayah lain pada masa mendatang.

Agar tujuan pembangunan jangka panjang Propinsi Banten mencapai sasaran,
maka perlu partisipasi dan dukungan semua unsur masyarakat lebih maju dan
sejahtera yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Banten, kooperatif dan
mampu menggalang kerjasama (team work). Perwujudan masyarakat Banten
sejahtera yang merupakan refleksi dari sedikitnya masyarakat miskin,
meningkatnya pendapatan masyarakat, terpenuhinya sarana dan prasarana
dasar pendidikan, kesehatan, dan ekonomi serta mulai ditemukannya jati diri
masyarakat Banten. Hal tersebut merupakan awal dari upaya menuju suatu
masyarakat yang aman sentosa, maju, berdaya saing tinggi, dan kooperatif
dalam mewujudkan berbagai kemitraan yang sinergis, berakhlakul karimah serta
hidup dalam suasana tenang, tertib dan damai.

Kemajuan ekonomi merupakan salah satu dari sekian banyak tujuan
pembangunan lainnya, yang pada gilirannya akan melahirkan masyarakat
sejahtera. Kemajuan ekonomi dapat menajdi tidak bermakna tanpa dilandasi
kehidupan masyarakat yang penuh dengan maghfiroh dari Khalik-Nya. Oleh
karena itu pembangunan di Propinsi Banten perlu dilandasi oleh iman dan taqwa
untuk mewujudkan masyarakat yang agamis.

Berdasarkan sejarah, Banten pernah mencapai masa kejayaan selama tiga abad
(abad XVI sampai dengan XVIII) di bawah Kesultanan Banten yang pada saat itu
diterapkan sistem keghidupan yang agamis/Islami. Dalam masa kejayaan
tersebut, Banten sebagai kota internasional yang memiliki jaringan politik,
penyebaran agama Islam dan perdagangan yang luas. Banten menjadi salah satu
pusat peradaban atau budaya yang beriwibawa dalam jaringan ulama antara
Kepulauan Nusantara dan Timur Tengah. Masa kejayaan Kesultanan Banten
dibangun melalui 3 tahap : 1) tahap pembentukan akhlak Islam yang merupakan
landasan pembangunan, 2) tahap pembangunan ekonomi, 3) tahap globalisasi,
tampil percaya diri untuk berhubungan dengan dunia luar.

Kejayaan Banten di masa Kesultanan Banten tersebut dapat menjadi sumber
inspirasi dan motivasi bagi pembangunan masyarakat Banten saat ini. Dalam
masa lima tahun pertama ini, sangat diperlukan upaya untuk membangun
landasan pembangunan yang kokoh, yang dilandasi oleh iman dan taqwa.

Dengan demikian, dalam rangka mewujudkan otonomi daerah yang diharapkan
akan dapat mewujudkan masyarakat Propinsi Banten yang agamis dan sejahtera,
perlu digali dan dikembang-luaskan kembali adat istiadat dan kultur budaya
Banten yang pernah membawa masyarakat Banten pada masa kejayaan.

Pembangunan selama lima tahun kedepan (2002-2006) harus ditempatkan
sebagai bagian awal dari proses perubahan selama satu generasi atau 20 (dua
puluh) tahun menuju tahun 2020. Sebagai sebuah Propinsi yang baru lahir maka
pada tahap lima tahun pertama ini termasuk dalam tahap konsolidasi, inisiasi,
dan akselerasi yakni mengkonsolidasi potensi-potensi masyarakat dan
kelembagaan serta sumberdaya yang diperlukan dalam rangka membangun
landasan dan menginisiasi pembangunan dalam lingkup propinsi. Pada tahap ini
diperlukan program-program pembangunan yang bertujuan meletakkan landasan
yang kokoh agar proses pembangunan dapat mengalami percepatan yang berarti
pada tahap-tahap selanjutnya.

Dengan demikian, terwujudnya konsolidasi dan landasan percepatan
pembangunan tersebut diharapkan akan mampu untuk membawa masyarakat
dan Propinsi Banten untuk menuju fase, tahap, atau periode pengembangan dan
stabilisasi 10-15 tahun mendatang dalam mencapai kemajuan, kejayaan dan
kesejahteraan yang dicita-citakan melalui pemanfaatan secara berkeadilan,
optimal dan terkendali terhadap seluruh sumberdaya yang dimiliki.

4.2 Misi Propinsi Banten 2002-2006

Guna mendukung Visi Propinsi Banten 2006, maka Misi Propinsi Banten 2002-
2006 terutama diarahkan untuk peletakkan dan penyiapan landasan
pembangunan yang kokoh, penyiapan sarana dan prasarana dasar serta
mempercepat pemulihan dari krisis ekonomi.

Banten dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya memiliki kehidupan agamis
keislaman yang kuat. Hal tersebut dapat menjadi modal dasar untuk menyiapkan
dan mengembangkan sistem kepemerintahan yang kokoh.

Dengan demikian misi Propinsi Banten 2002-2006, pertama-tama adalah
menyiapkan landasan dan sistem kepemerintahan yang kokoh guna mewujudkan
kepemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih. Selanjutnya Misi
Propinsi Banten adalah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan
kemandirian masyarakat dengan tetap mempertahankan persatuan dan
kesatuan. Agar dapat mengejar ketertinggalan, diperlukan percepatan
pembangunan dan pensinergian keanekaragaman potensi yang ada.

Peran serta masyarakat dan kemitraan sinergis seluruh stakeholders sangat
diperlukan untuk menunjang pembangunan, terutama guna mewujudkan
pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan dan merata untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kesenjangan antar wilayah.
Pengembangan budaya serta kehidupan masyarakat yang agamis merupakan
tembok pengaman agar kemajuan pembangunan yang diperoleh dari tuntutan
kebenaran yang hakiki dari Allah SWT.

Secara rinci, Misi Propinsi Banten 2002-2006 adalah sebagai berikut :

Misi Propinsi Banten 2002-2006

1) Menyiapkan landasan pembangunan dan sistem kepemerintahan yang kokoh
serta memantapkan pelaksanaan otonomi daerah
2) Mewujudkan kepemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintah
yang bersih (clean goverment) yang didukung oleh penegakkan supremasi
hukum.
3) Menignkatkan kualitas sumberdaya manusia dan kemandirian masyarakat
serta pemasyarakatan iptek.
4) Menggalang semangat kebersamaan dan solidaritas untuk mengokohkan
persatuan dan kesatuan.
5) Mendorong pensinergian keaneka-ragaman potensi untuk mengoptimalkan
dan percepatan pembangunan.
6) Meningkatkan partisipasi aktif dan kemitraan yang sinergis seluruh
komponen pelaku pembangunan (stakeholders).
7) Mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan dan merata
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian
lingkungan.
8) Menumbuh-kembangkan budaya Banten dan kehidupan masyarakat Propinsi
Banten yang agamis.

4.2.1 Penjelasan Misi

1) Menyiapkan landasan pembangunan dan sistem kepemerintahan yang baik
dan memantapkan pelaksanaan otonomi daerah. Sebagai propinsi yang baru
terbentuk, sangat penting untuk menyiapkan suatu sistem kepemerintahan
(good governance) yang baik. Selama lima tahun pertama, merupakan
periode yang sangat menentukan untuk dapat menyiapkan pola, struktur
dan sistem manajemen pemerintahan daerah yang produktif, efektif, dan
efisien untuk percepatan pembangunan dalam merealisasikan pembebasan
masyarakat dan daerah banten dari ketertinggalan, keterbelakangan, dan
kemiskinan menuju kesejajaran dengan propinsi maju lainnya. Perundangan
dan peraturan tentang otonomi daerah dimulai dengan berlakunya UU No.
22 tahun 1999 tetapi dalam pelaksanaannya baru mulai diberlakukan tahun
2001 yang lalu dan hingga saat ini masih banyak menimbulkan persoalan
atau masalah serta berbagai perbedaan interpretasi.

Oleh karena itu, sambil menunggu amandemen ata revisi UU No. 22 tahun
1999, Pemerintah Daerah Propinsi Banten tetap menyiapkan dan terus
memantapkan pelaksanaan otonomi daerah di Propinsi Banten.

Dukungan aparatur Pemerintah Daerah yang berkualitas, profesional,
berkemampuan menggalang bekerjasama (team work) yang tinggi serta
memiliki loyalitas, dedikasi, dan pengabdian yang tinggi serta penyiapan dan
pembenahan sarana dan prasarana pendukung sistem pemerintahan ini
merupakan misi penting yang harus dilaksanakan segera.

Sistem pemerintahan yang kokoh dan handal akan sangat membantu
perencanaan dan pelaksanaan dan hasil kegiatan pokok yang dilaksanakan
oleh Pemerintah Daerah Propinsi Banten, baik meliputi peningkatan
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, percepatan
pelaksanaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, maupun
peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat.

2) Mewujudkan kepemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintah
yang bersih (clean government) didukung penegakan supremasi hukum.
Dengan adanya otonomi daerah diharapkan Propinsi Banten dapat
mendorong dan mengkoordinasikan agar Propinsi Banten dapat mendorong
dan mengkoordinasikan agar setiap Kabupaten/Kota dapat mengembangkan
kemandirian membangun daerahnya dengan menekankan pada prinsip-
prinsip demokrasi, peran-serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta
mempertahankan potensi dan keaneka-ragaman daerah dalam rangka untuk
mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal. Terwujudnya
kepemerintahan yang baik memerlukan aparatur pemerintah daerah yang
berwibawa, profesional, berorientasi terhadap pelayanan masyarakat, dan
berdedikasi pengabdian yang tinggi serta mampu bertindak sebagai
fasilitator untuk memeransertakan seluruh pelaku pembangunan
(stakeholders) dalam suatu bentuk kerjasama/kemitraan yang sinergis.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas, profesionalitas, dan dedikasi Aparatur
Pemerintah Daerah merupakan misi penting yang perlu disujudkan karena
akan sangat menentukan efektivitas fungsi-fungsi pemerintah dan
keberhasilan pembangunan secara keseluruhan.

Peningkatan pelayanan kepada masyarakat harus diletakkan sebagai salah
satu tujuan akhir dari terwujudnya kepemerintahan yang baik. Selain itu,
Pemerintah Daerah Propinsi Banten harus bertekad mengupayakan
poenegakkan supremasi hukum di seluruh wilayah Propinsi Banten.
Tegaknya supremasi hukum akan menciptakan rasa keadilan, mendorong
terciptanya ketentraman dan ketertiban, rasa keadilan, mendorong
terciptanya ketentraman dan ketertiban, dan membantu terwujudnya
stabilitas sosial, politik dan keamanan, sehingga pada akhirnya menjadi
faktor penentu terwujudnya pemerintahan yang baik.

Tantangan yang dihadapi adalah membangun semangat kebersamaan dan
kekompakan, mengingat sebagian besar aparat Pemerintah Daerah Propinsi
Banten yang ada saat ini merupakan aparatur yang berasal dariberbagai
tempat.

3) Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan kemandirian masyarakat
serta pemasyarakatan iptek secara keseluruhan, kualitas sumberdaya
manusia Propinsi Banten masih tertinggal. Dalam menghadapi era
perdagangan bebas, baik di tingkat ASEAN maupun dunia, serta mengejar
ketertinggalan Propinsi Banten dari propinsi lainnya yang telah maju, kualitas
sumberdaya manusia merupakan aset penentu utama. Pada dasarnya,
kualitas sumberdaya manusia sangat ditentukan oleh pendidikan, kesehatan,
penguasaan iptek dan manajemen serta derajat iman dan taqwa.
Masyarakat sejahtera memerlukan dukungan individu-individu yang
berkualitas, mandir, berdaya saing tinggi, berakhlak mulia, memiliki
kepedulian terhadap masa depan Banten secara kooperatif dan mampu
menggalang kerjasama (team work). Perwujudan masyarakat Banten yang
sejahtera merupakan refleksi dari suatu masyarakat yang maju, berdaya
saing tinggi, dan kooperatif dalam mewujudkan berbagai bentuk kemitraan
yang sinergis, memiliki akhlak yang baik, serta hidup dalam suasana aman,
tertib, dan damai. Pencapaian masyarakat yang sejahtera dengan dukungan
kualitas sumberdaya manusia yang baik dimulai ketika membangun landasan
bagi percepatan pembangunan Propinsi Banten. Untuk itu sangat
diprioritaskan peningkatan pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan.
Selain itu diperlukan proses percepatan dan peningakatan pemanfaatan dan
pemasyarakatan iptek di seluruh aspek kehidupan dan aktivitas masyarakat,
dunia usaha, dan manajemen pemerrintahan. Masyarakat di abad 21 adalah
masyarakat super kompetitif yang selalu harus mengejar kualitas dan
keunggulan. Apabila masyarakat Banten tidak dapat mengikuti
kecenderungan ini, maka akan semakin tertinggal dan hanya menjadi
pelengkap atau bahkan penonton dalam segala macam transaksi maupun
kegiatan.

4) Menggalang semangat kebersamaan dan solidaritas untuk memperkokoh
persatuan dan kesatuan. Untuk tahap awal bagi suatu propinsi yang baru
terbentuk, memperkokoh persatuan dan kesatuan seluruh masyarakat di
seluruh Kabupaten/Kota merupakan salah satu misi penting yang perlu
diwujudkan.

Menggalang semangat kebersaman dan solidaritas merupakan langkah
penting untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam rangka
menyatukan langkah guna menghadapi berbagai kendala, hambatan,
masalah untuk mengamankan percepatan pembangunan.

Selain itu persatuan dan kesatuan antar stakeholders di seluruh
Kabupaten/Kota diharapkan akan menciptakan kondisi yang kondusif, aman,
tenang, dan tertib, untuk menunjang pengoptimalan sumberdaya yang
tersedia melalui kemitraan sinergis.

5) Mendorong pensinergian keaneka-ragaman potensi untuk optimalisasi dan
percepatan pembangunan. Tingginya disparitas dalam hal ekonomi dan
sosial serta adanya dikotomi wilayah utara (Serang, Cilegon, Tangerang)
dengan selatan (Pandeglang, Lebak) membutuhkan strategi khusus dalam
penanganan masalah-masalah pembangunan. Untuk itu diharapkan bahawa
proses pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten/Kota di Propinsi Banten
dapat terwujud secara sinergis, serempak dan berrkeadilan sesuai
proporsinya. Oleh karena itu mensinergikan keragaman potensi daerah
merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan Propinsi Banten dan
manjadi salah satu kata kunci visi Propinsi Banten 2002-2006.

Sudah terlalu lama masyarakat Banten menunggu menikmati masa kejayaan
dan terbebas dari ketertinggalan dan keterbelakangan. Dengan lahirnya
Propinsi Banten tersebut, masyarakat Banten berharap masa-masa
penantian itu tidak terlalu lama lagi dapat dirasakan. Alternatifnya hanya
satu, yaitu percepatan pembangunan.

Melalui pensinergian keragaman potensi Kabupaten/Kota, percepatan
pembangunan tidak hanya ditujukan untuk yang tertinggal tetapi untuk
selurh Kabupaten/Kota. Keberhasilan mensinergikan keragaman potensi
tersebut akan memperkuat keunggulan komparatif suatu wilayah/daerah dan
propinsi secara keseluruhan, bahkan dapat merubahnya menjadi keuggulan
kompetitif.

Pembangunan yang berkeadilan dan merata tidak berarti bahwa daerah
yang sudah lebih dahulu menikmati kemajuan harus memperlambat atau
dihambat laju pembangunan dan pertumbuhannya, tetapi justru perlu
diupayakan agar disinergikan untuk dapat memberikan kemudahan,
aksesibilitas, fasilitasi, atau bentuk kontribusi lainnya untuk mempercepat
pembangunan dan pertumbuhan daerah yang masih tertinggal.

6) Meningkatkan partisipasi aktif dan kemitraan yang sinergis seluruh
komponen pelaku pembangunan (stakeholders). Sebagai propisi yangbaru
terbentuk, tidak dapat dipungkiri bahwa Propinsi Banten belum memiliki
sarana prasarana dasar yang lengkap serta sistem pemerintahan yang sudah
mapan dan menghadapi berbagai masalah “keterbatasan”

Salah satu cara mengatasi berbagai keterbatasan sumberdaya adalah
menggalang partisipasi aktif dan kemitraan sinergis seluruh stakeholders
untuk mendaya-gunakan aset-aset lokal yang potensial. Terwujudnya
partisipasi aktif dan kemitraan strategis para stakeholders tersebut
merupakan salah satu prasyarat untuk membangun sistem kepemerintahan
yang demokratis, bersih, dan terbuka (good governance).

7) Mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian
lingkungan.
Pembangunan berkelanjutan (sustaninable development) mempertemukan
kebutuhan generasi kini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan
datang. Untuk memenuhi kebutuhannya (World Comission on Environnment
development, 1987). Penyelenggaraan pembangunan yang berkelanjutan
merupakan prasyarat pencapaian kesejahteraan masyarakat. Pembangunan
berkeadilan di Propinsi Banten meliputi berbagai aspek, terutama
penggunaan sumberrdaya alam secara arif dan proporsional, perhatian lebih
terhadap wilayah/daerah tertinggal, dorongan terhadap wilayah/daerah yang
maju, serta pemberdayaan terhadap ekonomi kerakyatan.

Penggunaan sumberdaya alam secara optimal dengan menekankan pada
kaedah-kaedah konservasi daripada rehabilitasi merupakan salah satu syarat
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa disertai dengan
kemunduran produktivitas sumberdaya alam atau kondisi lingkungan akibat
degradasi sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan.

8) Menumbuh kembangkan budaya Banten dan kehidupan masyarakat Propinsi
Banten yang agamis.

Kemajuan pembangunan fisik dan ekonomi semata dapat menjadi bencana
yang menimbulkan berbagai masalah sosial yang sulit untuk diselesaikan
sehingga jauh dari tujuan pencapaian masyarakat yang sejahtera, yang
didalamnya terdapat ketenangan jiwa dan kedamaian.

Tanpa dilandasi iman dan taqwa untuk mewujudkan masyarakat agamis
yang berakhlak mulia, tidak akan pernah terwujud kondisi kehidupan yang
penuh dengan maghfiroh dari Khalik-Nya yang diidamkan oleh masyarakat
Banten.

Oleh karen itu pembangunan di Propinsi Banten perlu dilandasi dengan iman
dan taqwa untuk mewujudkan masyarakat yang agamis. Hal ini sangat
strategis untuk mewujudkan masyarakat Banten yang bersatu, mandiri, dan
agamis, yaitu masyarakat yang memiliki akhlakul karimah, rasa persatuan
dan kebangsaan yang kokoh, wawasan ilmu pengetahuan dan penguasaan
terhadap teknologi yang tinggi, serta memiliki kepedulian dan nilai
kejuangan, kooperatif dan mampu menggalang kerjasama tim (team work)

Dalam hal budaya Banten, agar terjadi penumbuh-kemangan budaya Banten
secara berkelanjutan, maka perlu didorong agar hasil dan dampak
penumbuh-kembangan budaya tersebut dapat dirasakan secara nyata oleh
masyarakat. Untuk itu penumbuh-kembangan budaya Banten perlu dikaitkan
dengan sektor lainnya, terutama pariwisata dan jasa.

4.3 Prioritas Daerah

Dengan mempertimbangkan visi dan misi, kewenangan propinsi dan dukungan
dan ketersediaan sumberdaya pendukung, tersusun 9 (sembilan) Prioritas
Pembangunan Propinsi Banten untuk periode tahun 2002-2006. Keterkaitan
setiap prioritas daerah dengan misi dapat dilihat pada Tabel 2.

Prioritas daerah tersebut disusun berdasarkan beberapa pertimbangan, antara
lain keterkaitan dengan visi dan misi, kewenangan propinsi, serta dukungan dan
ketersediaan sumberdaya pendukung.

Dikaitkan dengan dimensi waktu, agar lebih terlihat penekanan setiap prioritas
daerah waktu ke waktu, maka perlu disusun bobot prioritas daerah dari tahun ke
satu sampai ke lima, seperti tersaji pada Tabel 4. Sedangkan prioritas daerah
beserta strateginya dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 2
Prioritas Daerah dan Keterkaitannya dengan Misi

No. Prioritas Daerah Misi yang terkait
1 Penataan sistem kepemerintahan dan peningkatan
aparatur pemerintah.
1, 2
2. Pemeliharaan dan peningkatan pertahanan keamanan,
ketertiban, kemantapan sistem politik, dan penegakan
supremasi hukum.
1, 2
3. Peningkatan kualitas SDM, kemandirian masyarakat dan
pemasyarakatan iptek
1, 3, 7
4. Peningkaan persatuan, partisipasi, dan kemitraan sinergis
stakeholders
4, 5, 6
5. Percepatan pemulihan krisis dan pembangunan ekonomi. 7, 8
6. Peningkatan sarana dan prasarana dasar 1, 3, 7
7. Peningkatan pengelolaan sumberdaya alam, tata ruang
dan lingkungan hidup
5, 7
8. Pemeliharaan dan pengembangan budaya dan kehidupan
agamis
1, 2, 3, 4, 8
9. Penguatan jaringan kerjasama dan promosi 5, 6, 7

Uraian dari tiap-tiap prioritas pembangunan daerah Propinsi Banten dalam
periode 2002-2006 adalah sebagai berikut :
1. Penataan sistem kepemerintahan yang baik (good governance),
pemerintahan yang bersih (clean government) serta peningkatan
aparatur pemerintahan daerah

Sebagai propinsi yang baru terbentuk yang belum memiliki sistem
pemerintahan yang mapan dan stabil, maka dapat dipahami bahwa pertama-
tama yang harus dibenahi dan dipersiapkan adalah sistem kepemerintahan
yang baik.

Sistem kepemerintahan yang baik merupakan prasyarat dasar untuk
melakukan percepatan pembangunan untuk mengejar ketertinggalan dan
sejajar dengan propinsi maju lainnya.

Pengelolaan pemerintahan meliputi penggunaan wewenang ekonomi, politik
dan andminsitrasi guna mengelola urusan-urusan pemerintahan pada semua
tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses, dan
lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok masyarakat
mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, memenuhi
kewajiban dan menjembatani perbedaan-perbedaan diantara mereka
(Dokumen Kebijakan UNDP, 1997).

Kepemerintahan yang baik bercirikan :
1) Tingginya partisipasi stakeholders dalam proses pembangunan,
2) Adanya transparansi dan akuntabilitas,
3) Responsif terhadap aspirasi masyarakat,
4) Demokratis, dan
5) Berkeadilan, memperhatikan kepentingan golongan paling miskin dan
lemah dalam proses pengambilan keputusan menyangkut alokasi
sumberdaya pembangunan.

Disamping itu, sistem kepemerintahan yang baik perlu dukungan
profesionalisme aparatur pemerintah daerah dan kemampuan manajemen
aparat pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan guna mendukung
penyelenggaraan otonomi daerah yang bertanggung jawab. Untuk itu perlu
disediakan jumlah dan kualitas aparatur pemerintah daerah yang profesional
dengan kualifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan tugas serta
wewenang dengan kinerja yang tinggi. Peningkatan pelayanan kepada
masyarakat merupakan salah satu tujuan akhir terwujudnya kepemerintahan
yang baik.

2. Pemeliharaan dan peningkatan pertahanan keamanan, ketertiban,
pemantapan sistem politik dan penegakan supremasi hukum

Pengembangan demokrasi dan penegakan supremasi hukum merupakan
langkah yang perlu mendapat perhatian Pemerintah Propinsi Banten untuk
menarik dukungan dan kepercayaan dari seluruh komponen masyarakat.

Pendidikan politik masyarakat akan sangat menunjang pemantapan sistem
politik. Hal tersebut merupakan hal yang sangat strategis untuk mewujudkan
semangat kebersamaan, menjaga persatuan, serta menggali aset seluruh
stakeholders melalui kemitraan sinergis. Kokohnya pertahanan serta
terpeliharanya keamanan dan ketertiban menjadi prasyarat untuk
terlaksananya pembangunan ekonomi serta perwujudan masyarakat yang
tenang, damai, dan tertib. Penegakan supremasi hukum diperlukan untuk
mewujudkan kepastian akan berbagai masalah yang terkait dengan hukum
karena penegakan supremasi hukum merupakan prasyarat untuk
menggairahkan dunia usaha dan terwujudnya rasa keadilan.

3. Peningkatan kualitas SDM, kemandirian masyarakat dan
pemasyarakatan iptek

Peningakatan kualitas sumberdaya manusia merupakan hal mendasar bagi
perbaikan seluruh aspek kehidupan dan pembangunan untuk pembenahan
dari ketertinggalan, ketimpangan, dan kemiskinan yang selama ini dirasakan
oleh masyarakat. Insan-insan yang memiliki intelektual tinggi danmenguasai
iptek yang berakhlakul karimah akan mampu mengelola sumberdaya yang
ada (sumberdaya alam, manusia, buatan, dan sosial) untuk mengantarkan
masyarakat Banten kepada kesejahteraan masyarakat yang berakar dari
kemandirian masyarakat. Hal tersebut akan mengantarkan terbentuknya
masyarakat berdaya saing, berjiwa kooperatif untuk menghadapi era
globalisasi dan perdagangan bebas. Peningkatan kualitas sumberdaya
manusia dan pemberdayaan masyarakat juga harus mempertimbangkan
aspek gender.

4. Penggalangan persatuan, partisipasi dan kemitraan sinergis

Tidak dapat disangkal lagi bahwa Propinsi Banten dibangun di atas kehendak
bersama seluruh masyarakat Banten. Untuk itu setelah Propinsi Banten
terbentuk, maka Pemerintah Daerah Propinsi Banten harus tetap
mempertahankan semangat kebersamaan dan persatuan. Penggalangan
semangat kebersamaan dan persatuan mendorong rasa memiliki sehingga
masyarakat mau berpartisipasi dalam proses pembangunan. Hal tersebut
akan mendorong terwujudnya kemitraan sinergis para stakeholders yang
merupakan salah satu syarat penentu atau modal dasar bagi keberhasilan
proses percepatan pembangunan.

Semangat kebersamaan akan menghasilkan rasa untuk menjaga
keharmonisan hubungan antar stakeholders untuk bersatu menjaga dan
mengawal proses pembangunan dan keamanan sehingga tercipta iklim
kondusif bagi para investor baik dari dalam maupun dari luar negeri untuk
menanamkan modalnya.

5. Percepatan pemulihan krisis dan pembangunan ekonomi

Masyarakat Banten sudah merasa hidup terlalu lam dalam kondisi
keterbelakangan, ketertinggalan dan kemiskinan. Dampak krisis ekonomipun
masih terasa hingga saat ini.

Hanya dengan percepatan pembanguna, Propinsi Banten dapat mengejar
ketertinggalannya dari propinsi maju lainnya.

Percepatan pembangunan dan pemulihan ekonomi dicapai melalui
peningkatan produktivitas pertanian dan kelautan, pengembangan
pariwisata, jasa dan perdagangan, serta sektor perhubungan dan sektor
unggulan lainnya.

Percepatan pembangunan dan pemulihan ekonomi bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan. Pembinaan dan
pengembangan pengusaha kecil dan menengah serta perekonomian rakyat
perlu mendapat perhatian seksama. Dalam kaitannya dengan pembangunan,
khususnya pembangunan ekonomi, wilayah Propinsi Banten dapat dibagi ke
dalam 3 (tiga) Wilayah Kerja Pembanguan (WPP), yaitu :
1) Wilayah Kerja Pembangunan I (WKP I), yang terdiri dari atas Kabupaten
Serang dan Kota Cilegon,
2) Wilayah Kerja Pembangunan II (WKP II), yang terdiri atas Kabupaten
Pandeglang dan Kabupaten Lebak, dan
3) Wilayah Kerja Pembangunan III (WKP III), yang terdiri atas Kabupaten
Tangerang dan Kota Tangerang.

Wilayah Kerja Pembangunan ini diharapkan dapat mensinergikan keaneka
ragaman potensi masing-masing daerah. Potensi unggulan masing-masing
Wilayah Kerja Pembangunan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3
Wilayah Kerja Pembangunan di Propinsi Banten dan Bidang
Unggulannya

WKP Kabupaten/Kota Potensi Unggulan
WKP I Kabupaten Serang dan Kota Cilegon Pelabuhan (laut), industri, jasa dan
perdagangan, pariwisata, pendidikan,
pertanian dan kelautan.
WKP II Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten
Lebak
Pertanian dan kelautan, pariwisata,
pertambangan, industri kecil
WKP III Kabupaten Tangerang dan Kota
Tangerang
J asa dan perdagangan, industri, pelabuhan
(udara), perumahan (property) dan
pendidikan

6. Peningkatan sarana dan prasarana dasar

Sarana dan prasarana dasar dan pendukung seperti perkantoran, peralatan,
kendaraan, perangkat lunak (software) dan fasilitas penunjang lainnya yang
betul-betul diperlukan untuk menopang pelaksanaan sistem pemerintahan
yang baik perlu dilengkapi agar tidak menghambat proses pembangunan di
seluruh sektor dan wilayah.

Pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana umum (pendidikan,
kesehatan, perhubungan, dan sebagainya) yang menjadi tanggung jawab
propinsi untuk memenuhi hajat dan melayani masyarakat dan untuk
percapatn pertumbuhan ekonomi harus disesuaikan dengan kebutuhan,
ketersediaan sumberdaya serta rasa keadilan.

Penyiapan pusat pemerintahan propinsi juga merupakan hal yang termasuk
dalam prioritas daerah ini.

7. Peningkatan pengelolaan sumberdaya alam, tata-ruang dan
lingkugan hidup

Sumberdaya alam merupakan modal pembangunan yang harus
dimanfaatkan seoptimal mungkin dan dijaga dari berbagaimacam kerusakan
dan penurunan fungsi dan produktivitas. Kerusakan atau degradasi
sumberdaya alam dan pencemaran lingkungan tidak hanya berakibat
terhadap penurunan produktivitas berbagai kegiatan ekonomi yang terkait
tetapi juga dapat menyebabkan bencana alam.
Pengelolaan SDA yang bersifat eksploitatif disertai dengan pemakaian
kaedah konservasi yang memadai menyebabkan terjadinya penurunan daya
dukung alam. Hal tersebut tercermin dari rusaknya hutan, fluktuasi debit
sungai yang tinggi, dan frekuensi terjadinya bencana banjir dan kekeringan,
longsor, dan sebagainya dalam beberapa tahun terakhir serta pencemaran
lingkungan disekitar kawasan industri.

Untuk mempertahankan keunggulan komperatif dan mendorong terciptanya
keunggulan kompetitif Kabupaten/Kota, perlu adanya spesialisasi
(specializatiob of region).

Sehubungan dengan hal tersebut, rencana pemanfaatan ruang wilayah
Propinsi Banten pada RTRWP 2002-20017 yang menetapkan pengaturan
ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya serta pengembangan
kawasan perkotaan dan perdesaan. Secara garis besar, wilayah Banten Utara
dapat lebih diarahkan sebagai puast pengembangan industri, pelabuhan,
jasa dan perdagangan. Sedangkan wilayah Banten Selatan sebagai pusat
produksi pertanian dan kelautan, pariwisata, dan pertambangan. Sebagian
daerah di wilayah Banten Selatan yang merupakan daerah resapan air
(catchment area) perlu dipertahankan fungsinya untuk mencegah terjadinya
banjir dan kekeringa, terutama di wilayah Propinsi Banten.

Dengan demikian dapat dipahami mengapa peningkatan pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan merupakan salah satu prioritas daerah
dalam Renstra Propinsi Banten 2002-2006.

8. Pemeliharaan dan pengembangan budaya dan kehidupan agamis

Saat ini masyarakat Banten masih menikmati budaya dan suasana kehidupan
agamis Islam sebagai hasil dari perjuangan Kesultanan Banten yang berhasil
membawa kejayaan Banten pada abad XVI dan XVII. Adat/budaya dan
kehidupan agamis ini selain dapat menjadi pendorong sifat dan perilaku
yang bermanfaat bagi pembangunan juga sekaligus menjadi benteng
penangkis masuknya budaya dari luar yang negatif.

Hal ini penting agar kemajuan peradaban di atas bumi persada Banten tidak
dapat dilumuri oleh peradaban barat yang tidak sesuai dengan adat-istiadat
dan jati diri masyarakat Banten.

Untuk mendorong penumbuh-kembangan budaya banten secara
berkelanjutan, maka hasil dan dampak penumbuh-kembangan budaya
tersebut harus diupayakan agar dapat dirasakan secara nyata oleh
masyarakat. Untuk itu penumbuh-kembangan adat/budaya Banten perlu
dikaitkan dengan sektor lainnya, terutama pariwisata dan jasa.

9. Penguatan jaringan kerjasama dan promosi

Dalam era perdagangan bebas, perubahan dan kemajuan teknologi berjalan
demikian cepat. Selain itu kompetisi juga berlangsung semakin ketat.

Salah satu cara untuk mengatasi ketertinggalan dari perubahan iptek (dan
manajemen) adalah dengan menggalang jaringan kerjasama (networking)
dengan lembaga/organisasi/unit kerja lainnya dengan pendekatan saling
menguntungkan (win win approach).

Berdasarkan lingkup kerjasama, kerjasama yang perlu diperkuat meliputi
kerjasama antar daerah di wilayah Propinsi Banten untuk mewujudkan
keserasian dan keterpaduan pembangunan antar wilayah, kerjasama
regional seperti J abotabek, koordinasi Regional Pembangunan Pulau J awa,
kerjasama perbatasan dengan Propinsi DKI J akarta, Propinsi J awa Barat, dan
Propinsi Lampung.

Selain itu memperkuat kegiatan promosi tentang unggulan yang dimiliki,
terutama sektor pariwisata, pertanian, kelautan, industri, jasa dan
perdagangan, akan sangat menguntungkan pemerintah daerah sebagai cara
mendapatkan atau mendorong stakeholders lainnya untuk mendapatkan
bantuan atau modal yang menunjang percepatan pembangunan.
Berdasarkan jenisnya, promosi dilakukan untuk kebutuhan domestik dan
internasional.




Tabel 4
Bobot Setiap Pioritas Daerah Selama Lima Tahun (dalam persen)

Bobot Prioritas Daerah ( % )
Prioritas Daerah
2002 2003 2004 2005 2006 Rata –Rata
1. Penataan Sistem Kepemerintahan
dan Peningkatan Aparatur
Pemerintah
15 13 11 10 10 11,8
2. Pemeliharaan & Peningkatan
Pertaha-nan & Keamanan,
Ketertiban, Peman-tapan Sistem
Politik & Penegakan Supremasi
Hukum
8 8 9 9 8 8,4
3. Peningkatan Kualitas SDM,
Kemandirian Masyarakat & Pema-
syarakatan IPTEK
15 16 16 17 17 16,2
4. Penggalangan Per-satuan,
Partisipasi & Kemitraan Sinergis
Stakeholders
8 8 8 8 8 8
5. Percepatan Pemulihan Krisis &
Pembangunan Ekonomi
13 13 14 15 15 14
6. Peningkatan sarana & prasarana
dasar
15 14 14 14 15 14,4
7. Peningkatan Penge-lolaan
Sumberdaya Alam, Tata Ruang &
Lingkungan Hidup
12 11 11 11 11 11,2

8. Pemeliharaan & Pengembangan
Budaya & Kehidupan Agamis
7 9 9 8 8 8,2
9. Penguatan J aringan Kerjasama &
Promosi
7 8 8 8 8 7,8
100 100 100 100 100 100

Keterangan :
- Angka dalam tabel adalah dalam persen, lebih untuk perbandingan bobot
prioritas daerah yang satu terhadap yang lain, bukan angka yang
mneunjukan kondisi atau kemajuan yang harus dicapai setiap prioritas
daerah setiap tahun.
- Sebagai contoh : prioritas daerah no. 3 dan 4 tahun 2002 adalah 16% dan
18%, hal ini sekedar menunjukan bahwa prioritas daerah no 3 adalah yang
paling harus diperhatikan dan kurang lebihy diperhatikan sebesar 2 kali
daripada prioritas daerah no. 4.

Tabel 5
Prioritas Daerah Beserta Skor dan Bobot Rangkingnya

Keterkaitan dengan
No. Prioritas Daerah
V - M
Kew.
Prop
D - KSD
Total
Skor
Ranking
1.

Penataan Sistem Kepemerintahan dan
Peningkatan Aparatur Pemerintah
8 10 9 27 4
1. Menciptakan Sitem Kepemerintahan yang
baik (good governance) yang mendapat
dukungan seluruh stakeholders

2. Mengharmoniskan hubungan Propinsi
dengan Kabupaten/Kota

3. Peningkatan Kinerja dan profesionalitas
aparatur Pemda

4. Pemantapan pelaksanaan otonomi daerah
5. Meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan
efektivitas Pemda

6. Merumuskan bentuk koordinasi antar
propinsi dalam pengelolaan wilayah-
wilayah dengan karakteristik khusus
seperti Tangerang dengan DKI J akarta dan
J awa Barat


2. Pemeliharaan Dan Peningkatan
Pertahanan Keamanan, Ketertiban,
Pemantapan Sistem Politik Dan
Penegakan Supremasi Hukum
8 9 8 25

6
1. Memperkokoh kondisi politik dan
keamanan dalam mendukung stabilitas
politik keamanan nasional

2. Meningkatkan kesadaran masyarakat
tentang masalah hukum dan penegakkan
supremasi hukum


3. Peningkatan Kualitas SDM, Kemandirian
Masyarakat Dan Pemasyarakatan IPTEK
10 10 8 28 1
1. Peningkatan kualitas SDM
2. Peningakatan penguasaan dan
pemasyarakatan IPTEK

3. Meningkatkan daya saing dan kemandirian
masyarakat

4. Mendorong percepatan pembangunan
SDM wilayah tertinggal


4. Penggalangan Persatuan, Partisipasi &
Kemitraan Sinergis Stakeholders
8 8 8 24 8
1. Menggalang persatuan, kebersamaan dan
solidaritas serta komitmen bersama
konstituen

2. Meningkatkan peran serta dan partisipasi
stakeholders dalam seluruh proses
pembangunan

3. Membangun kemitraan sinergis para
stakeholders



Keterkaitan dengan
No. Prioritas Daerah
V - M
Kew.
Prop
D - KSD
Total
Skor
Ranking
5. Percepatan Pemulihan Krisis Dan
Pembangunan Ekonomi
10 10 7 27 3
1. Membangun Propinsi Banten sebagai
sentra perniagaan dan pertumbuhan
wilayah Barat Pulau J awa melalui
pengembangan bandar pelabuhan (laut
dan udara)

2. Mencari investor untuk memperkuat
pelabuhan, industri dan jasa

3. Meningkatkan produktivitas pertanian dan
kelautan

4. Mengembangkan sektor pariwisata yang
memiliki potensi sumber daya alam dan
peninggalan budaya

5. Membangun industri dan sektor unggulan
lainnya untuk peningkatan penyediaan

6. Memerdayakan usaha kecil menengah dan
ekonomi rakyat

7. peningkatan PAD Propinsi Banten

6. Peningkatan Sarana Dan Prasarana Dasar 9 10 9 28 2
1. Pemenuhan sarana dan prasarana untuk
pemerintahan propinsi

2. Penyediaan sarana dan prasarana dasar
ditingkat propinsi untuk percepatan
pembangunan

3. Memberikan bantuan sarana dan
prasarana untuk Kabupaten/Kota yang
tertinggal dalam mengembangkan potensi
daerahnya


7. Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya
Alam, Tata Ruang Dan Lingkungan Hidup
8 9 9 26 5
1. Peningkatan produktivitas dan rehabilitasi
sumberdaya alam dan lingkungan yang
terdegradasi

2. Penyusunan tata ruang wilayah yang
optimal


8. Pemeliharaan Dan Pengembangan Budaya
& Kehidupan Agamis
8 8 8 24 7
1. Mengutamakan budaya agamis yang sudah
mempercepat pembangunan

2. Memelihara, memperkuat dan
menggunakan budaya agamis untuk
membentengi pengaruh negatif budaya
luar


9. Penguatan J aringan Kerjasama & Promosi 8 8 7 24 9
1. Memperkuat networking untuk
meningkatkan kerjasama, investasi dan
pendanaan sebagai propinsi baru

2. Menyiapkan promosi yang handal
Ket :
V – M = visi dan misi, Kew. Prop = Kewenangan Propinsi, D-K SD = dukungan dan ketersediaan sumberdaya
llokal
BAB V
TUJ UAN DAN SASARAN

Untuk memcapai Visi dan Misi Propinsi Banten, maka telah tersusun 9 (sembilan)
Prioritas Daerah yang perumusannya seperti berikut ini :
1. Penataan sistem kepemerintahan dan peningkatan aparatur Pemda.
2. Pemeliharaan dan peningkatan pertahanan keamanan, ketertiban,
pemantapan sistem politik dan penegakkan supremasi hukum.
3. Peningkatan kualitas SDM, kemandirian masyarakat, dan permasyarakatan
IPTEK.
4. Penggalangan persatuan, partisipasi, dan kemitraan sinergis stakeholders.
5. Percepatan pemulihan krisis dan pembangunan ekonomi.
6. Peningkatan sarana dan prasarana dasar pendukung.
7. Peningkatan pengelolaan sumberdaya alam, tata ruang dan lingkungan
hidup.
8. Pemeliharaan dan pengembangan budaya dan kehidupan agamis.
9. Penguatan jaringan kerjasama dan promosi.

Landasan awal yang perlu ditegakkan dalam tahap konsolidasi dan edukasi
adalah ; pertama, menyiapkan kepemerintahan yang baik, bersih, demokratis
dan transparan, ditunjang dengan penegakan supremasi hukum. Kedua,
membangun pranata sosial yang meliputi ; sistem nilai budaya dan moralitas,
penggalangan persatuan dan kesatuan, kemitraan sinergis para stakeholders,
dan sebagainya. Kedua hal tersebut dapat mendorong terciptanya suatu sistem
pembangunan, termasuk anggaran dan keuangan, yang layak, memadai, sesuai
dan berkelanjutan. Untuk menunjang proses tersebut, Sistem Organisasi Tata
Kerja (SOTK) perlu disesuaikan dengan prioritas, tujuan dan sasaran
pembangunan daerah.

Peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan pemberdayaan masyarakat yang
merupakan suatu prasyarat agar pembangunan dapat optimal dan berkelanjutan.
Pembangunan sumberdaya manusia dan pemberdayaan masyarakat selain
meningkatkan produktivitas, daya saing, kemandirian masyarakat diharapkan
juga menumbuhkan kebutuhan akan kerjasama, kemitraan, dan suasana
kehidupan yang demokratis, tertib, tenang dan aman.

Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana dasar dan pendukung untuk
menunjang pembangunan di sleuruh sektor, merupakan faktor penting lainnya
dalam proses pembangunan di Propinsi Banten. Ketersediaan sarana dan
prasarana yang memadai berdampak terhadap peningkatan kualitas sumberdaya
manusia, pemanfaatan iptek, dan menunjang pemulihan krisis dan pembangunan
ekonomi.

Pemulihan krisis dan pembangunan ekonomi perlu diprioritaskan kepada sektor-
sektor unggulan Propinsi Banten, yaitu pertanian (agribisnia), kelautan,
pariwisata, industri, jasa dan perdagangan, dan pertambangan sesuai dengan
potensi daerah.

Agar pembangunan di sektor-sektor unggulan tersebut dapat terwujud,
diperlukan adanya investasi. Oleh karena itu diperlukan upaya promosi yang
efektif untuk mendorong terjadinya investasi di berbagai sektor unggulan
tersebut.

Secara rinci, tujuan dan sasaran setiap prioritas daerah dapat diuraikan sebagai
berikut :

5.1. Penataan Sistem Kepemerintahan Dan Peningkatan Aparatur
Pemda

Tujuan Sasaran
1. Terbangunnya landasan sistem kepemerintahan yang
baik dan didukung dengan kelembagaan yang mantap
2. terbinanya hubungan yang baik dan harmonis propinsi
dengan kabupaten/kota
3. Terimplementasikannya otonomi daerah secara
proporsional dan terpadu
4. Terumuskannya bentuk kerjasama dan koordinasi
dengan propinsi atau kabupaten/kota lain
5. Terbinanya budaya hukum dan demokratisasi pada
sistem penyelenggaraan kepemerintahan
1. Membangun landasan sistem
kepemerintahan yang baik
dan demokratis
6. Terbangunnya Pusat Pemerintahan Propinsi
1. Terlaksananya analisis jabatan dan evaluasi kelembagaan
2. Meningkatkan kinerja dan profesionalisme aparat
pemerintah
2. Meningkatkan kinerja dan
profesionalisme aparatur
penyelenggara pemerintah
3. Terciptanya kesadaran aparatur sebagai pelayan
masyarakat daerah yang berdedikasi, kreatif, inovatif dan
berbudi pekerti yang baik






5.2. Pemeliharaan Dan Peningkatan Pertahanan Dan Keamanan,
Ketertiban, Pemantapan Sitem Politik dan Penegakan
Supremasi Hukum

Tujuan Sasaran
1. Terwujudnya dan terkendalinya pertahanan dan
ketertiban
2. Terbinanya ketaatan masyarakat
3. Terbinanya kesadaran dan kekuatan masyarakat
terhadap bela negara
1. Memelihara pertahanan
keamanan dan ketertiban
4. Terbinanya peran serta masyarakat dalam
mewujudkan pertahanan keamanan dan ketertiban
1. Terciptanya akuntabilitas publik dalam
penyelenggaraan sistem pemerintahan
2. Meningkatnya peran dan fungsi organisasi politik dan
kemasyarakatan dalam menjaga stabilitas politik
2. Mendorong terwujudnya
sistem politik yang
demokratis dan stabil
3. Meningkatnya pendidikan dan kehidupan politik yang
demokratis
3. Meningkatkan kesadaran
hukum masyarakat
1. Meningkatnya kesadaran hukum masyarakat
1. Meningkatnya penerapan peraturan perundang-
undangan
4. Meningkatkan Penegakan
Supremasi Hukum
2. meningkatnya pelayanan bantuan hukum kepada
masyarakat

5.3. Peningkatan Kualitas SDM, Kemandirian Masyarakat, dan
Pemasyarakatan IPTEK

Tujuan Sasaran
1. Meningkatnya peserta partisipasi sekolah atau
pendidikan
2. Meningkatnya lama pendidikan sekolah
3. Meningkatnya masyarakat yang melek huruf
4. Tercukupinya tenaga pendidik dengan kualitas dan
kesejahteraan yang semakin baik
5. Meningkatnya kesempatan memperoleh pendidikan
yang layak, khususnya bagi keluarga miskin
1. Meningkatkan kualitas
pendidikan masyarakat
6. Meningkatnya wawasan dan pengetahuan masyarakat
1. Meningkatnya kualitas hidup masyarakat
2. Meningkatnya angka harapan hidup
3. Menurunnya jumlah kelahiran dan kematian bayi
4. Menurunnya jumlah kematian ibu melahirkan
5. Menurunnya jumlah masyarakat yang terserang
penyakit menular
6. Meningkatnya tenaga medis dan paramedis dengan
kualitas dan kesejahteraan yang semakin baik
7. Tersedianya air bersih
8. Meningkatnya jumlah peserta keluarga berencana
aktif
2. Meningkatkan kualitas hidup
dan kesehatan masyarakat
9. Terkelolanya sampah
Tujuan Sasaran
10. Tersedianya bantuan kesehatan saat terjadi bencana
alam dan kejadian luar biasa
11. Menurunya penyalahgunaan narkoba dan bahan-
bahan aditif berbahaya lainnya
12. Menurunnya jumlah perkawinan penduduk usia muda
(<16 tahun)
13. Meningkatnya pengetahuan dan peranserta remaja
putri, khususnya reproduksi sehat
14. Tersedianya fasilitas pelayanan dan perlindungan
anak-anak dan perempuan dari ancaman dan
perlakuan kekerasan dalam rumah tangga
15. Menurunnya jumlah perceraian
16. Tersedianya fasilitas pelayanan dan perlindungan hak-
hak perempuan dalam perkawinan

17. Meningkatnya mutu gizi masyarakat dan balita
1. Meningkatnya etos kerja masyarakat produktif dan
berdaya saing
2. Meningkatnya keterampilan & profesionalisme
masyarakat
3. Meningkatnya jiwa kewirausahaan masyarakat
4. Meningkatnya peranan dan kontribusi perempuan
dalm peningkatan kemandirian & daya saing
masyarakat
3. Meningkatkan kemandirian
dan daya saing masyarakat
Banten
5. Tersedianya model pembangunan komunitas
(community development) yang efektif untuk
pemberdayaan masyarakat
1. Termanfaatkannya teknologi tepat guna dan tepat
usaha berbasis masyarakat
2. Teroptimalkannya penguasaan iptek untuk
kemudahan hidup dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat
3. Berkembangnya iptek tepat guna dan tepat usaha
4. Meningkatkan peran dan
pemasyarakatan iptek
4. Teraksesnya informasi teknologi terapan bagi
pengguna

5.4. Penggalangan persatuan, partisipasi, dan kemitraan sinergis
stakeholders

Tujuan Sasaran
1. Menggalang semangat
kebersamaan dan persatuan
Terciptanya semangat kebersamaan dan persatuan
2. Meningkatkan partisipasi
masyarakat/stakeholders
dalam seluruh proses
pembangunan
Meningkatnya peran serta atau partisipasi masyarakat atau
seluruh stakeholders dalam proses pembangunan Banten
1. Terbangunnya sistem komunikasi antar pelaku
pembangunan berbasis masyarakat
2. Teroptimalisasikannya sumberdaya sosial
3. Mengoptimalisasikan peran
stakeholders melalui
kemitraan sinergis para
stakeholders 3. Terwujudnya optimalisasi peran stakeholders

5.5. Percepatan Pemulihan Krisis dan Pembangunan Ekonomi

Tujuan Sasaran
1. Tersusunnya data base dan sistem informasi tentang
keluarga miskin/pra sejahtera, masyarakat lemah dan
tertinggal, secara akurat
2. Tersusunnya upaya pemberdayaan keluarga miskin
masyarakat lemah dan tertinggal secara terpadu
3. Meningkatnya kontribusi sektor riil dalam
perekonomian Banten
4. Meningkatnya peran dan kapasitas usaha kecil dan
menengah (UKM) dan koperasi
5. Terciptanya lapangan pekerjaan yang dapat
menyerap pencari/tenaga kerja
6. Berkembangnya agribisnis dan agroindustri perdesaan
7. Tersedianya pasar yang dapat menampung produksi
masyarakat
1. Membangun fundamental
perekonomian Banten yang
kokoh
8. Terciptanya iklim investasi yang kondusif
1. Meningkatnya pendapatan masyarakat di setiap
kabupaten/kota
2. Terbentuknya sentra-sentra pertumbuhan baru di
setiap kabupaten/kota
3. Terbangunnya sarana dan prasarana dasar dan
pendukung untuk pertumbuhan ekonomi
4. Semakin berkembangnya sektor-sektor unggulan,
terutama di sektor pariwisata, pertanian, kelautan,
industri, jasa dan perdagangan untuk membuka
kesempatan berusaha di setiap daerah
5. Menurunya angka pengangguran di setiap daerah
2. Mendorong laju
pertumbuhan ekonomi
Kabupaten/Kota
6. Meningkatnya investasi di kabupaten/kota
1. Terbentuknya BUMD_BUMD yang mampu
menghasilkan sumbangan dana
perolehan/keuntungan ke Pemerintahan Propinsi
Banten
3. Meningkatkan PAD Propinsi
Banten
2. Teroptimalisasikannya penggalian sumber-sumber
keuangan Propinsi Banten
1. Terkembangkannya wilayah potensial untuk produksi
komoditi unggulan
2. Meningkatnya kesuburan tanah dan produktivitas
lahan pertanian
3. Termanfaatkannyaa lahan-lahan tidur untuk pertanian
4. meningkatnya produksi dan kualitas produk pertanian
dan kelautan
5. Tersedianya pasar yang dapat menampung produk
pertanian yang dihasilkan masyarakat
4. Mendorong terwujudnya
swasembada pangan
6. Tersedianya lembaga pendanaan yang akmodatif
untuk menunjang permodalan petani, peternak dan
nelayan





5.6. Peningkatan Sarana dan Prasarana

Tujuan Sasaran
1. Terpelihara dan meningkatnya fungsi sarana prasarna
dasar pendidikan, kesehatan, air bersih, energi
(listrik), agama, kebudayaan dan lingkungan
1. Memelihara dan
meningkatkan fungsi dan
kapasitas sarana dan
prasarana 2. Terpeliharanya dan meningkatnya fungsi sarana dan
prasarana perhbungan dan telekomunikasi, pengairan
dan ekonomi
1. Terbangunnya sarana prasarana dasar pendidikan,
kesehatan, air bersih, energi (listrik), agama,
kebudayaan dan lingkungan
2. Membangun sarana dan
prasarana sesuai dengan
prioritas, tujuan dan sasaran
pembangunan 2. Terbangunnya sarana dan prasarna perhubungan dan
telekomunikasi, pengairan dan ekonomi

5.7. Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Alam, Tata-ruang, dan
Lingkungan Hidup

Tujuan Sasaran
1. Tersedianya renccana tata ruang yang kondusif untuk
mewujudkan pembangunan berwawasan lingkungan
1. Mewujudkan pembangunan
berwawasan lingkungan
2. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan
1. Terlindunginya sumberdaya alam dari eksploitasi yang
berlebihan dan kerusakan (degradasi)
2. Melindungi sumber daya
alam dan lingkungan daratan
& lautan dari berbagai
bentuk kerusakan dan
pencemaran
2. Terciptanya kondisi lingkungan yang terbebas dari
pencemaran yang membahayakan kehidupan
1. Terpulihkannya sumberdaya alam dan lingkungan
yang terdegradasi
3. Merehabilitasi sumber daya
alam dan lingkungan yang
terdegradasi & tercemar 2. Meningkatnya produktivitas lahan pertanian
1. Terwujudnya kualitas perencanaan tata ruang
2. Terwujudnya kualitas pemanfaatan ruang
3. Terwujudnya kualitas pengendalian pemanfaatan
ruang
4. Memantapkan penataan
ruang yang berwawasan
lingkungan dan Wilayah
Kerja Pembangunan
4. Menyusun Wilayah Kerja Pembangunan untuk
mendukung pensinergian keanekaragaman potensi
antar wilayah untuk mencapai keunggulan komparatif
atau kompetitif sesuai dengan potensinya

5.8. Pemeliharaan dan Pengembangan Budaya Agamis

Tujuan Sasaran
1. Terpelihara dan berkembangnya kebudayaan daerah
Banten
1. Memelihara dan
mengembangkan budaya
Banten 2. Terpeliharanya adat/budaya lokal dan nilai luhur
dalam kehidupan sehari-hari
2. Memelihara dan
meningkatkan jiwa agamis
1. Terbinanya iman dan taqwa dalam rangka
melaksanakan kehidupan beragama
Tujuan Sasaran
masyarakat 2. Terwujudnya kehidupan masyarakat Banten yang
agamis

5.9. Penguatan J aringan Kerjasama dan Promosi

Tujuan Sasaran
1. Terbinanya jaringan kerjasama (networking) dengan
lembaga-lembaga/organisasi penting di Indonesia dan
luar negeri
2. Tersedianya sistem informasi yang daoat menunjang
kebutuhan berbagai stakeholders bak lokal, regional,
nasional, internasional
1. Memperkuat jaringan kerja-
sama (networking untuk
mempercepat pembangunan
3. Terwujudnya keserasian dan keterpaduan
pembangunan antara wilayah
1. Tersedianya profil investasi daerah yang menarik
2. Tersedianya institusi yang bertanggung jawab
terhadap promosi Propinsi Banten
2. Memperkuat perencanaan
dan pelaksanaan promosi
3. Meningkatnya kegiatan pomosi pariwisata

BAB VI

6.1. Strategi

Berdasarkan analisa dan kajian SWOT maka, strategi untuk pencapaian visi, misi,
prioritas daerah, tujuan dan sasaran Propinsi Banten2002-20067 dapat dilihat
pada Tabel 6. Sedangkan strategi untuk melaksanakan 9 (sembilan) prioritas
daerah dapat dilihat pada Tabel 4.

Uraian strategi berdasarkan kombinasi kekuatan, kelemahan, peluan dan
ancaman adalah sebagai berikut :

Strategi Peluang dan Kekuatan (Pakai Kekuatan untuk Memanfaatkan
Peluang)
1. Menciptakan pemerintahan yang baik (good governance) yang mendapat
dukungan seluruh stakeholders.
2. Membangun semangat kebersamaan, solidaritas, dan kemitraan sinergis
stakeholders.
3. Membangun Propinsi Banten menjadi sentra perniagaan dan pertumbuhan
ekonomi wilayah Barat Pulau J awa melalui pengembangan pelabuhan laut
dan udara.
4. Mencari investor untuk memperkuat pelabuhan seta industri dan jasa.
5. Mengembangkan sektor pariwisata yang memiliki potensi sumberdaya alam
dan peninggalan budaya.
6. Menyiapkan promosi yang handal.
7. Menggunakan budaya dan kehidupan agamis yang sudah tertanam di
masyarakat untuk mempercepat laju pembangunan.

Tabel 6
Daftar strategi

1. Menggalang persatuan, kebersaman dan solidaritas serta komitmen bersama konstituen
2. Meningkatkan peran serta dan partisipasi stakeholders dalam proses pembangunan
3. Membangun kemitraan sinergis para stakeholders
4. Membangun Propinsi Banten sebagai sentra perniagaan dan pertumbuhan wilayah barat
Pulau J awa melalui pengembangan bandar pelabuhan (laut dan udara)
5. Mencari investor untukmemperkuat pelabuhan, industri dan jasa
6. Meningkatkan produktivitas pertanian dan kelautan
7. Mengembangkan sektor pariwisata yang memiliki potensi sumberdaya alam dan
peninggalan budaya
8. Membangun industri dan sektor unggulan lainnya untuk penyediaan lapangan kerja untuk
menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
9. Memberdayakan usaha kecil menengah dan ekonomi rakyat
10. Peningkatan kualitas SDM
11. Peningkatan penguasaan dan pemasyarakatan Iptek
12. Meningkatkan daya saing dan kemandirian masyarakat
13. Pemenuhan sarana dan prasarana pemerintahan propinsi
14. Pemenuhan sarana dan prasarana dasar di tingkat propinsi untuk percepatan pembangunan
15. Memberikan bantuan sarana dan prasarana untuk kabupaten/kota yang tertinggal untuk
mengembangkan potensi daerahnya
16. Menciptakan pemerintahan yang baik (good governance) yangmendapat dukungan seluruh
stakeholders
17. Mengharmoniskan hubungan propinsi dengan kabupaten kota
18. Peningkatan kinerja dan profesionalitas aparatur pemda
19. Pemantapan pelaksanaan otonomi daerah
20. Meningkatkan produktifitas, efesiensi dan efektivitas pemerintah daerah
21. Mendorong percepatan pembangunan wilayah tertinggal
22. Peningkatan PAD Propinsi Banten
23. Merumuskan bentuk koordinasi antar propinsi dalam pengelolaan wilayah-wilayah dengan
karakteristik khusus seperti kawasan Botabek
24. Memperkuat networking untuk meningkatkan kerjasama, investasi dan pendanaan sebagai
propinsi baru
25. Menyiapkan promosi yang handal
26. Peningkatan produktivitas dan rehabilitasi sumberdaya alam dan lingkungan yang
terdegradasi
27. Memantapkan penataan ruang berwawasan lingkungan
28. Memperkokoh kondisi politik dan keamanan propinsi dalam mendukung stabilitas politik
keamanan sosial
29. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah hukum dan penegakan supremasi
hukum
30. Menggunakan budaya agamis yang sudah tertanam di masyarakat untuk mempercepat laju
pembangunan, memelihara, memperkuat dan menggunakan budaya agamis untuk
membentengi pengaruh negatif budaya luar

Strategi Peluang dan Kelemahan (Tanggulanmgi Kelemahan dengan
Memanfaatkan Peluang)

1. Mendorong percepatan pembangunan wilayah tertinggal
2. Peningkatan kualitas SDM
3. Peningkatan peran serta dan partisipasi stakeholders dalam proses
pembangunan
4. Meningkatkan produktivitas pertanian dan kelautan
5. Meningkatkan produktivitas dan rehabilitasi sumberdaya alam dan
lingkungan yang terdegradasi
6. Peningkatan penguasaan dan pemanfaatan iptek
7. Memberdayakan usaha kecil menengah dan ekonomi rakyat
8. Pemenuhan sarana dan prasarana pemerintahan propinsi
9. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah hukum dan
penegakkan supremasi hukum
10. meningkatkan kemandirian dan daya saing masyarakat

Strategi Kekuatan dan Ancaman/ Tantangan (Pakai Kekuatan untuk
Menghadapi Ancaman/ Tantangan)

1. Membangun industri dan sektor lainnya untuk peningkatan penyediaan
lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat
2. Memperkokoh kondisi politik dan keamanan propinsi dalam mendukung
stabilitas politik keamanan nasional
3. Pemantapan pelaksanaan otonomi daerah
4. Peningkatan produktivitas, efisiensi dan efektivitas pemerintah daerah
5. Merumuskan bentuk koordinasi antar propinsi dalam pengelolaan wilayah-
wilayah dengan karakteristik khusus seperti kawasan Botabek
6. memelihara, meperkuat, dan menggunakan budaya agamis untuk
membentengi pengaruh negatif budaya luar, termasuk melalui peningkatan
kurikulum pendidikan agama bagi lembaga pendidikan formal dan non-
formal

Strategi Kelemahan dan Ancaman/ Tantangan (Perkecil dan Hindari
Ancaman/ Tantangan)

1. Memberikan bantuan sarana dan prasarana untuk Kota/Kabupaten yang
tertinggal untuk mengembangkan potensi daerahnya
2. Memperkuat networking untuk meningkatkan kerjasama, investasi, dan
pendanaan sebagai propinsi baru
3. Menggalang persatuan, kebersamaan, dan solidaritas serta komitmen
bersama konstituen
4. Mengharmoniskan hubungan propinsi dengan Kabupaten/Kota
5. Pemantapan penataan ruang yang berwawasan lingkungan
6. Penyediaan sarana dan prasarana dasar di tingkat propinsi untuk percepatan
pembangunan
7. Peningkatan kinerja dan profesionalisme aparatur Pemda dan Peningkatan
PAD Propinsi Banten

6.2. Kebijakan

Dengan mempertimbangkan visi, misi, isu strategis, prioritas daerah, tujuan,
sasaran, serta strategi yang telah tersusun maka kebijakan pembangunan
Propinsi Banten 2002-2006 adalah sebagai berikut :

Prioritas Daerah Kebijakan
1. Pembentukan landasan sistem kepemerintahan yang
baik dan kelembagaan yang mantap
2. Pembinaan hubungan yang baik dan harmonis
propinsi dengan kabupaten/kota
3. Penyiapan dan sinkronisasi pelaksanaan otonomi
daerah
4. Pengkajian terhadap usulan pemekaran wilayah dan
pembentukan kabupaten baru
5. Pembangunan Pusat Pemerintahan Propinsi
6. Penyusunan bentuk kerjasama dan koordinasi dengan
propinsi atau kabupaten/kota
7. Pembinaan budaya hukum dan demokratisasi pada
sistem penyelenggaraan
8. Pembentukan pemerintahan yang efektif dan stabil
9. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat
10. Peningkatan efesiensi penggunaan keuangan
11. Pemberlakukan analisis jabatan dan evaluasi
kelembagaan
12. Peningkatan kinerja dan profesionalisme, kesadaran
aparatur sebagai pelayan masyarakat daerah yang
berdedikasi, kreatif, inovatif dan berbudi pekerti yang
baik
1. Penataan Sistem
Kepemerintahan dan
Peningkatan Aparatur
Pemerintahan Daerah
13. Pengembangan proses pendidikan politik dan
demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan
1. Pengendalian pertahanan keamanan dan ketertiban
serta pengembangan pertahanan dan keamanan
2. Pembinaan ketaatan masyarakat
3. Pembinaan kesadaran dan kekuatan masyarakat
terhadap bela negara
4. Pembinaan peranserta masyarakat dalam
mewujudkan keamanan dan ketertiban
5. Peningkatan peran dan fungsi organisasi politik dan
kemasyarakatan dalam menjaga stabilitas politik
6. Pembinaan dan peningkatan kehidupan dan
pendidikan politik masyarakat yang demokratis
7. Peningkatan kesadaran hukum di seluruh lapisan
masyarakat
8. Peningkatan penerapan perundang-undangan
2. Pemeliharaan dan
peningkatan pertahanan
keamanan, ketertiban,
pemantapan sistem politik
dan penegakan supremasi
hukum
9. peningkatan pelayanan bantuan kepada masyarakat
1. Peningkatan pembinaan pendidikan dasar menengah,
tinggi dan luar sekolah
2. Peningkatan jumlah dan kualitas penddik/guru
sekolah sesuai kebutuhan
3. Penyelenggaraan sekolah-sekolah unggulan
4. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan di
lembaga-lembaga kemasyarakatan (pesantren, dll).
5. Penyelenggaraan perpustakaan kota di tingkat
propinsi
3. Peningkatan kualitas SDM,
kemandirian masyarakt dan
pemasyarakatan iptek
6. Pemeliharaan dan peningkatan sarana dan prasarana
pendidikan sekolah
Prioritas Daerah Kebijakan
7. Pengawasan, dan perbaikan kurikulum sekolah
8. Pengawasan dan pembinaan lembaga-lembaga
pendidikan, kursus, pelatihan, dan sejenisnya
9. Peningkatan program pendidikan dan penyiapan
kader masyarakat
10. Peningkatan pembinaan pemuda dan olahraga
11. Penyediaan dukungan fasilitas dan akses atas
pendidikan yang layak bagi keluarga miskin dan kaum
perempuan
12. Peningkatan penyuluhan kesehatan masyarakat
13. Peningkatan pelayanan PUSKESMAS, POSYANDU dan
tempat-tempat pelayanan kesehatan masyarakat
lainnya
14. Perbaikan gizi masyarakat
15. Pemeliharaan dan peningkatan sarana dan prasarana
kesehatan
16. Peningkatan pengawasan terhadap obat, bahan
berbahaya, makanan dan minuman serta anti
tembakau, alkohol dan madat
17. Penanggulangan bencana alam dan kejadian luar
biasa
18. Peningkatan jumlah dan kualitas tenaga medis dan
paramedis
19. Pembinaan pengelolaan lingkungan permukiman yang
aman bersih dan sehat
20. Pengelolaan sampah yang baik
21. Penggalian dan pembinaan tata nilai kesehatan
22. Penanganan dan pemberantasan penyakit menular
23. Penyediaan dan pengelolaan air bersih
24. Pembinaan kader-kader kesehatan masyarakat
25. Penyuluhan dan pembinaan masyarakat produktif dan
berdaya saing
26. Melakukan rekayasa sosial untuk mewujudkan
masyarakat maju dan produktif
27. Menanamkan jiwa kewirausahaan kepada kader-kader
masyarakat dan pesantren-pesantren
28. Peningkatan peran dan pemberdayaan perempuan
dalam pembangunan
29. penyusunan model-model pembangunan komunitas
(community development) yang efektif untuk
pemberdayaan masyarakat
30. Peningkatan penguasaan, penerapan, dan
pemanfaatan iptek di berbagai bidang
31. penyuluhan, pembinaan dan pemasyarakatan iptek
32. Pemberdayaan dan peningkatan koordinasi dengan
lembaga-lembaga pengembang dan diseminasi iptek

33. Pemasyaraktan teknologi informasi untuk kemudahan
akses terhadap teknologi tepat guna dan tepat usaha
yang diperlukan pengguna/masyarakat.
1. Peningkatan peran pemerintah sebagai fasilitator
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
2. Peningkatan partisipasi aktif masyarakat dalam
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan
4. Penggalangan persatuan,
partisipasi dan kemitraan
sinergis stakehodelrs
3. Peningkatan kemitraan sinergis antar komponen
Prioritas Daerah Kebijakan
penyelenggara pemerintahan dan pembangunan
4. Mendorong terbentuknya forum-forum sebagai wadah
aspirasi stakeholders dalam mendaya-gunakan
sumberdaya lokal dan sosial
1. Penyusunan data base dan sistem informasi tentang
keluarga miskin/pra sejahtera, masyarakat lemah dan
tertinggal, secara akurat
2. Penyusunan upaya pemberdayaan keluarga miskin
masyarakat lemah dan tertinggal secara terpadu
3. Pembinaan sektor riil
4. Pembinaan dan menumbuhkembangkan jiwa
kewirausahaan usaha kecil dan menengah (UKM) dan
koperasi
5. Penciptaan iklim investasi yang kondusif serta
lapangan pekerjaan yang dapat menyerap pencari
kerja
6. Pengembangan agribisnis dan agroindustri perdesaan
7. Penyediaan pasar yang dapat menampung produksi
masyarakat
8. Peningkatan produktivitas dan pendapatan
masyarakat di setiap kabupaten/kota pada seluruh
sektor (pertanian, kelautan, industri, pertambangan,
jasa & lainnya)
9. Pembangunan dan pembinaan sentra-sentra
pertumbuhan baru di setiap kabupaten/kota
10. Pembangunan, pemeliharaan dan peningkatan sarana
dan prasarana dasar dan pendukung untuk
pertumbuhan ekonomi
11. Pengembangan sektor-sektor unggulan antara lain
pertanian, pariwisata, kelautan, untuk membuka
kesempatan berusaha di setiap kabupaten/kota
12. Penurunan angka pengangguran di setiap
kabupaten/kota
13. peningkatan investasi di Kabupaten/kota
14. Mengembangkan industri yang berwawasan
lingkungan
15. Pembentukan BUMD-BUMD yang mampu
menghasilkan sumbangan dana
perolehan/keuntungan ke pemerntah Propinsi BAnten
16. Penggalian sumber-sumber keuangan Propinsi Banten
17. Pengembangan wilayah potensial untuk produksi
komoditi unggulan
18. Peningkatan kesuburan tanah dan produktivitas lahan
pertanian, serta mempertahankan lahan produktif dari
kegiatan investasi lain
19. Pemanfaatan lahan-lahan tidur untuk kegiatan
pertanian
20. Peningkatan produksi dan kualitas produk pertanian
dan kelautan
5. Percepatan pemulihan krisis
dan pembangunan ekonomi
21. Penyediaan lembaga pendanaan yang akomodatiif
untuk menunjang permodalan petani, peternak dan
nelayan
Prioritas Daerah Kebijakan
1. Pembangunan, pemeliharaan dan peningkatan sarana
dan prasarana dasar untuk percepatan pembangunan,
khususnya di kawasan-kawasan perbatasan
kabupaten/kota dan propinsi serta kawasan sentra
produksi
2. Pembangunan , pemeliharaan dan peningkatan
sarana dan prasarana pelabuhan dan perhubungan
3. Penyediaan sarana dan prasarana umum secara
memadai
6. Peningkatan sarana dan
prasarana dasar
4. Terbangunnya dan tersedianya sarana dan prasarana
pendukung untuk penyelenggaraan pemerintahan
propinsi
1. Pemantapan tata-ruang yang kondusif untuk
pembangunan berwawasan lingkungan
2. Penyusunan dan pemantapan Wilayah Kerja
pembangunan
3. Pembinaan kesadaran masyarakat dalam menjaga
SDA dari kerusakan dan pencemaran lingkungan
daratan dan lautan
4. penegakan pelaksanaan perundangan peraturan
untuk mewujudkan berwawasan lingkungan
5. penyusunan sistem informasi dan pemetaan SDA dan
lingkungan yang potensial dan telah mengalami
pencemaran dan kerusakan
6. Pembinaan koordinasi dengan aparat penegak hukum
untuk pengawasan dan melindungi SDA dari berbagai
bentuk eksploitasi liar, pencemaran dan perusakan
7. Peningkatan pengawasan, pengendalian dan
penegakan hukumdalam implementasi RTRW
8. Peningkatan kualitas lingkungan hidup, dan
pengendalian dampak dan pencemaran lingkungan
9. Pengembangan dan konservasi sumber-sumber daya
air
7. Peningkatan pengelolaan
sumber daya alam tata-
ruang dan lingkungan hidup
10. Penataan, pengembangan, dan konservasi DAS dan
wilayah pesisir
1. Pengkajian dan penegembangan budaya lokal
2. Pemeliharaan dan peningkatan budaya dan kehidupan
agamis masyarakat Banten
3. Pengintegrasian nilai-nilai budaya agamis dalam
setiap sendi kehidupan masyarakat Banten
4. Peningkatan peran dan kapasitas ulama dalam
pembangunan
5. Peningkatan mutu pendidikan agama
8. Pemeliharaan dan
pengembangan budaya dan
kehidupan agamis
6. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam
pengendalian meluasnya penyebaran pornografi dan
prostitusi
1. Membina hubungan yang harmonis dan saling
menguntungkan dengan pemerintah pusat, Pemda
Propinsi, Lembaga-lembaga/organisasi lainnya di
Indonesia dan luar negeri
9. Penguatan jaringan
kerjasama dan promosi
2. Membina kerjasama antar wilayah untuk keserasian
dan keterpaduan pembangunan antar wilayah
Prioritas Daerah Kebijakan
3. Meletakkan landasan pembangunan teknologi
informasi menuju e-government
4. Penyusunan profil investasi Propinsi Banten

5. Penyusunan atau pembentukan lembaga atau tim
yang bertanggung jawab terhadap promosi Propinsi
Banten

BAB VI I
USULAN PROGRAM

Pada dasarnya usulan program Propinsi Banten 2002-2006 merupakan
pelaksanaan dari kebijakan yang diarahkan untuk dapat mewujudkan tujuan dan
sasaran yang merupakan pengejawantahan dari Visi dan Misi Propinsi Banten
2002-2006

Landasan penyusunan usulan program Propinsi Banten adalah kombinasi usulan
dinas-dinas dan arahan 9 (sembilan) prioritas daerah Propinsi Banten, yaitu :
1. Penataan sistem kepemerintahan dan peningkatan aparatur pemda,
2. Pemeliharaan dan peningkatan pertahanan keamanan, ketertiban,
pemantapan sistem politik dan penegakan supremasi hukum,
3. Peningkatan Kualitas SDM, kemandirian masyarakat, dan pemasyarakatan
IPTEK,
4. Penggalangan persatuan, partisipasi, dan kemitraan sinergis stakeholders,
5. Percepatan pemulihan krisis dan pembangunan ekonomi,
6. Peningkatan sarana dan prasarana
7. Peningkatan pengelolaan sumberdaya alam, tata ruang, dan lingkungan
hidup
8. Pengembangan budaya dan kehidupan agamis, dan
9. Penguatan jaringan kerjasama dan promosi.

Secara rinci, usulan program Propinsi Banten dalam kurun waktu tahun 2002-
2006 dapat dilihat pada Tabel 7

Tabel 7
Usulan Program

Prioritas Daerah Kebijakan Program
1. Pembangunan Pusat Pemerintahan
Propinsi
2. Mengembangkan Pendidikan kader
Pemerintahan melalui kerjasama dengan
Perguruan Tinggi Negeri yang beroreintasi
pada Upaya Peningkatan Kemampuan
Aparatur di Bidang Pemerintahan dengan
menyelenggarakan Pendidikan S1, S2, dan
S3 dalam berbagai disiplin Ilmu
3. Mengembangkan Program Diklat
Manajemen Pemerintahan J angka Pendek
dengan prioritas pada J ajaran Pengambil
Keputusan Eselon III & II
1. Penataan
Sistem
Kepemerintah
an dan
Peningkatan
Aparatur
Pemerintahan
Daerah
1. Pembentukan
landasan sistem
kepemerintahan yang
baik dan kelembagaan
yang mantap
2. Pembinaan hubungan
yang baik dan
harmonis propinsi
dengan
kabupaten/kota
3. Penyiapan dan
sinkronisasi
pelaksanaan otonomi
daerah 4. Mengembangkan Program Diklat untuk
Prioritas Daerah Kebijakan Program
mendukung Pelaksanaan Tugas dan
Fungsi DPRD Tingkat Propinsi maupun
Kabupaten/Kota
5. Mengadakan Analisis Pembelajaran
tentang berbagai teori dan Paradigma
Aktual dalam bidang-bidang sosial, politik
dan pemerintahan serta administrasi dan
manajemen
6. Mengembangkan Program Diklat yang
bersifat Reformatif untuk memberikan
pengetahuan dan wawasan serta sikap
moral dan mental yang sejalan dengan
agenda reformasi
7. Melakukan Analisis dan Pengembangan
Kurikulum untuk semua jenis diklat
sehingga materi diklat senantiasa sesuai
dengan arah kebijakan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi
8. Mengembangkan pendidikan dan Pelatihan
yang dampaknya secara langsung
dirasakan oleh masyarakat sekaligus
dengan memberdayakan aparat baik yang
akan maupun yang telah menduduki
jabatan struktural serta jabatan fungsional
9. Mengembangkan Pendidikan dan Pelatihan
yang mempunyai peranan strategis dalam
menunjang tugas pokok organisasi secara
aplikatif yang dapat meningkatkan
wawasan dan pengetahuan serta
mengubah perilaku kerja aparat ke arah
yang lebih positif
10. Mengembangkan dan menyelenggarakan
diklat bidang teknis umum dan
administrasi serta manajemen tugas pokok
pelayanan
11. Mengembangkan dan menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan untuk
menunjang program kegiatan
pembangunan yang secara teknis
bekerjasama dengan dinas/badan/biro
yang relevan.
12. Mengembangkan dan Menyelenggarakan
Diklat luar negeri melalui kerjasama
dengan lembaga/badan internasional serta
perguruan tinggi di luar negeri dalam
bidang pemerintahan dan pembangunan

4. Pengkajian terhadap
usulan pemekaran
wilayah dan
pembentukan
kabupaten baru
5. Pembangunan Pusat
Pemerintahan Propinsi
6. Penyusunan bentuk
kerjasama dan
koordinasi dengan
propinsi atau
kabupaten/kota
7. Pembinaan budaya
hukum dan
demokratisasi pada
sistem
penyelenggaraan
8. Pembentukan
pemerintahan yang
efektif dan stabil
9. Peningkatan
pelayanan kepada
masyarakat
10. Peningkatan efesiensi
penggunaan keuangan
11. Pemberlakukan
analisis jabatan dan
evaluasi kelembagaan
12. Peningkatan kinerja
dan profesionalisme,
kesadaran aparatur
sebagai pelayan
masyarakat daerah
yang berdedikasi,
kreatif, inovatif dan
berbudi pekerti yang
baik
13. Pengembangan proses
pendidikan politik dan
demokrasi dalam
penyelenggaraan
pemerintahan dan
pembangunan
13. Diklat Bendahara/Akutansi Pemerintahan
14. Mengembangkan Pendidikan tentang
koordinasi antar instansi
15. Sosialisasi internal tentang kebijakan-
kebijakan pemerintah
16. Mengembangkan dan menyelenggarakan
diklat fungsional yang dapat memberikan
bekal pengetahuan bagi PNS di bidang
fungsional dan profesionalisme dengan
bekerjasama dengan badan/dinas/biro
yang memiliki tenaga fungsional
17. Program-program diklat fungsional dapat
dilaksanakan secara berjenjang atau tidak
berjenjang dalam rangka pemantapan
Prioritas Daerah Kebijakan Program
tugas fungsional serta bidang
kependidikan dan kepelatihan yang
dilaksanakan berdasarkan Hasil Analisis
Kebutuhan Diklat
18. Mengembangkan dan menyelenggarakan
diklat kepemimpinan tingkat Daerah dan
menengah sebagai kebutuhan dasar dalam
peletakan podasi penyelenggaraan
pemerintahan di propinsi dan
kabupaten/kota
19. Melakukan koordinasi dan kerjasama
dengan lembaga diklat DEPDAGRI dan
Diklat Regional II Bandung melalui
pengiriman peserta DIKLATPIM Tingkat III
serta dengan Lembaga Administrasi
Negara (LAN_RI) untuk penyelenggaraan
DIKLATPIM Tingkat II
20. Melakukan penseleksian calon-calon
peserta DIKLATPIM Tingkat IV,III dan II
baik diselenggarakan sendiri maupun
kerjasama dengan lembaga diklat yang
relevan
21. Melakukan Fasilitasi Penyelenggaraan
DIKLATPIM Tingkat IV dan III yang
diselenggarakan oleh kabupaten/kota
22. Melakukan pembinaan aparatur
pengawasan dilingkungan Pemda Banten
23. Peningkatan Pelaksanaan Pengawasan di
lingkungan Pemda Banten
24. Peningkatan Pengendalian terhadap aparat
pengawasan fungsional
25. Peningkatan kualitas aparat pengawasan
26. Penyusunan pedoman, standar dan juknis
pengawasan
27. Peningkatan pengembangan sistem
informasi pengawasan
28. Peningkatan koordinasi aparat
pengawasan fungsional pemerintah
29. Pemantapan tugas penyelenggaraan
pemerintah daerah
30. Pemantapan Tupoksi Pol PP dan aparat
Trantib
31. Sosialisasi pengelolaan administrasi
kependudukan se-Propinsi Banten
32. Pembinaan dan pengendalian sarana dan
prasarana umum
33. Evaluasi dan Pengembangan otonomi
daerah Propinsi Banten
34. Analisa dan evaluasi kegiatan pemerintah
Propinsi Banten
35. Kajian Teknis kewilayahan Kepulauan
seribu
36. Penataan Kelembagaan Perangkat daerah
37. Ketatalaksanaan
38. Analisa J abatan
39. Kajian pemekaran wilayah dan usulan
pembentukan kabupaten/kota
2. Pemeliharaan
dan
peningkatan
1. Pengendalian
pertahanan keamanan
dan ketertiban serta
1. Penyusunan peraturan perundang-
undangan yang sesuai dengan
perkembangan masyarakat serta turut
Prioritas Daerah Kebijakan Program
mendorong pengembangan kekuatan
pertahanan keamanan
2. Peningkatan kepercayaan masyarakat
terhadap peran dan citra lembaga
peradilan dan lembaga hukum
3. Peningkatan kesadaran dan kepatuhan
hukum bagi masyarakat dan aparatur
pemerintahan untuk menciptakan budaya
hukum yang baik di semua lapisan
masyarakat
4. Pengembangan keserasian dan
penanganan masalah sosial
5. Penanganan daerah khusus
6. Perbaikan struktur politik
7. Peningkatan kualitas politik
8. Pengembangan budaya politik
9. Pengembangan pendidikan, etika, moral
dan budaya politik yang demokratis
10. Peningkatan kemandirian infrastruktur
politik
11. Fasilitas pelaksanaan pemilu yang
demokratis, langsung, umum, bebas
rahasia, jujur dan adil
12. Optimalisasi peranan lembaga legislatif
sebagai sarana demokrasi
13. Pengembangan upaya perlindungan
pencegahan dan penanggulangan bahaya
penyalahgunaan narkoba
14. Pengembangan kewaspadaan nasional dan
sosialisasi pemantapan wawasan
kebangsaan
15. Pengembangan dan aplikasi peningkatan
upaya pembauran bangsa guna
mewujudkan kerukunan hidup
bermasyarakat
pertahanan
keamanan,
ketertiban,
pemantapan
sistem politik
dan
penegakan
supremasi
hukum
pengembangan
pertahanan dan
keamanan
2. Pembinaan ketaatan
masyarakat
3. Pembinaan kesadaran
dan kekuatan
masyarakat terhadap
bela negara
4. Pembinaan peranserta
masyarakat dalam
mewujudkan
keamanan dan
ketertiban
5. Peningkatan peran
dan fungsi organisasi
politik dan
kemasyarakatan
dalam menjaga
stabilitas politik
6. Pembinaan dan
peningkatan
kehidupan dan
pendidikan politik
masyarakat yang
demokratis
7. Peningkatan
kesadaran hukum di
seluruh lapisan
masyarakat
8. Peningkatan
penerapan perundang-
undangan
9. peningkatan
pelayanan bantuan
kepada masyarakat 16. Pengembangan dan kemantapan
kelembagaan Linmas
17. Peningkatan kemampuan pengerahan dan
pembinaan satuan Linmas dalam rangka
kesiapsiagaan dan penanggulangan
bencana
18. Pemetaan dan penanganan masalah-
masalah kerawanan sosial dan
penyelesaian konflik sosial
19. Peningkatan kemampuan dan kualitas
sumberdaya manusia badan kesbang dan
linmas
20. Advokasi dan yudicial review masalah
sengketa 22 pulau dengan DKI J akarta
Prioritas Daerah Kebijakan Program
3. Peningkatan
kualitas SDM,
kemandirian
masyarakat
dan
pemasyarakat
an iptek








































1. Peningkatan
pembinaan pendidikan
dasar menengah,
tinggi dan luar sekolah
2. Peningkatan jumlah
dan kualitas
pendidik/guru sekolah
sesuai kebutuhan
3. Penyelenggaraan
sekolah-sekolah
unggulan
4. Peningkatan kualitas
penyelenggaraan
pendidikan di
lembaga-lembaga
kemasyarakatan
(pesantren, dll).
5. Penyelenggaraan
perpustakaan kota di
tingkat propinsi
6. Pemeliharaan dan
peningkatan sarana
dan prasarana
pendidikan sekolah
7. Pengawasan, dan
perbaikan kurikulum
sekolah
8. Pengawasan dan
pembinaan lembaga-
lembaga pendidikan,
kursus, pelatihan, dan
sejenisnya
9. Peningkatan program
pendidikan dan
penyiapan kader
masyarakat
10. Peningkatan
pembinaan pemuda
dan olahraga
11. Penyediaan dukungan
fasilitas dan akses atas
pendidikan yang layak
bagi keluarga miskin
dan kaum perempuan
12. Peningkatan
penyuluhan kesehatan
masyarakat
13. Peningkatan
pelayanan
PUSKESMAS,
POSYANDU dan
tempat-tempat
pelayanan kesehatan
masyarakat lainnya
14. Perbaikan gizi
masyarakat
15. Pemeliharaan dan
peningkatan sarana
dan prasarana
kesehatan
1. Program pendidikan dasar dan prasekolah
2. Pogram pendidikan menengah
3. Program pendidikan tinggi
4. Program pendidikan luar sekolah
5. Program peningkatan jabatan fungsional
pendidik, atau guru
6. penataran penilaian angka kredit untuk
jabatan fungsional guru
7. Membentuk perpustakaan propinsi
8. Program pemantauan terhadap kualitas
pendidikan melalui manajemen yang
berbasis sekolah
9. Program beasiswa/tugas belajar untuk
guru
10. Program pembangunan dan rehabilitasi
sarana dan prasarana
11. Program pemerataan kesempatan
memperoleh pendidikan bagi kaum
perempuan dan keluarga miskin
12. Program Bea siswa untuk keluarga miskin
13. Program Sinkronisasi dan koordinasi
pembangunan pendidikan nasional dan
daerah
14. Program penelitian, peningkatan kapasitas
dan pengembangan kemampuan sumber
daya iptek
15. Proram pengembangan dan keserasian
kebijakan kepemudaan
16. Program peningkatan partisipasi pemuda
17. Program pengembangan dan keserasian
kebijakan olahraga
18. Program pemasyarakatan olahraga dan
olahraga jasmani
19. Program pemanduan bakat dan
pembibitan olahraga
20. Program peningkatan prestasi olahraga
21. Pengendalian di bidang pengelolaan data
program kesehatan
22. Pengembangan sistem dan jaringan
informasi kesehatan
23. Penyusunan profil kesehatan
24. Pemeliharaan komputer dan jaringan
komputer
25. Bimbingan dan pengendalian di bidang
kajian strategis dan penyajian informasi
kesehatan
26. Gerakan kampanye lingkungan sehat dan
perilaku sehat
27. Pembangunan dan rehabilitasi sarana
kesehatan masyarakat terutama di lokasi
terpencil
28. Program penyuluhan kesehatan secara
berkala
29. Penyuluhan anti rokok dan narkoba bagi
seluruh lapisan masyarakat
30. Upaya kesehatan
31. Pengelolaan jabatan fungsional bagi
tenaga medis
32. Diklat bagi tenaga medis
33. Perbaikan gizi masyarakat
Prioritas Daerah Kebijakan Program
16. Peningkatan
pengawasan terhadap
obat, bahan
berbahaya, makanan
dan minuman serta
anti tembakau, alkohol
dan madat
17. Penanggulangan
bencana alam dan
kejadian luar biasa
18. Peningkatan jumlah
dan kualitas tenaga
medis dan paramedis
19. Pembinaan
pengelolaan
lingkungan
permukiman yang
aman bersih dan sehat
20. Pengelolaan sampah
yang baik
21. Penggalian dan
pembinaan tata nilai
kesehatan
22. Penanganan dan
pemberantasan
penyakit menular
23. Penyediaan dan
pengelolaan air bersih
24. Pembinaan kader-
kader kesehatan
masyarakat
25. Penyuluhan dan
pembinaan
masyarakat produktif
dan berdaya saing
26. Melakukan rekayasa
sosial untuk
mewujudkan
masyarakat maju dan
produktif
27. Menanamkan jiwa
kewirausahaan kepada
kader-kader
masyarakat dan
pesantren-pesantren
28. Peningkatan peran
dan pemberdayaan
perempuan dalam
pembangunan
29. penyusunan model-
model pembangunan
komunitas (community
development) yang
efektif untuk
pemberdayaan
masyarakat
30. Peningkatan
penguasaan,
penerapan, dan
pemanfaatan iptek di
34. Pengawasan terhadap produksi dan
distribusi obat, makanan, dan bahan
berbahaya
35. Peningkatan kualitas sumber daya
kesehatan
36. Pengembangan program komputer untuk
sistem informasi kesehatan
37. Penyajian dan publikasi informasi
kesehatan
38. Pengembangan Geographic Information
System (Pemetaan)
39. Penyusunan Sistem Informasi Manajemen
Kesehatan
40. Membentuk Bank Data Kesehatan dari 6
kabupaten/kota di Propinsi Banten
41. Membentuk J aringan on-line dengan 6
kabupaten/kota dalam rangka
pemutakhiran data dengan sistem
manajemen kesehatan daerah (SIKDA)
42. Penerapan sistem informasi kependudukan
43. Mendayagunakan pengeluaran teknologi
internet untuk dapat melihat semua
kegiatan atau program yang ada
44. Pemberdayaan masyarakat dalam
pengelolaan SDA
45. Pemberdayaan masyarakat dalam
mencegah kerusakan dan pelestarian SDA
46. Pemberdayaan masyarakat tentang K3
47. Pemberdayaan masyarakat dalam
konservasi kawasan suaka alam, kawasan
hutan lindung dan pelestarian alam
48. Pemberdayaan masyarakat dalam
penataan lingkungan di kawasan wisata
49. Pemberdayaan masyarakat dalam
pengelolaan/penataan rumah tinggal dan
lingkungan
50. Manajemen sampah yang terpadu,
efesien, dan memenuhi standard
kesehatan
51. Perlindungan dan pengembangan lembaga
tenaga kerja
52. Perlombaan desa/kelurahan
53. Optimalisasi pemanfaatan tata ruang
desa/kelurahan dalam pembangunan
54. Pendataan data dasar desa/kelurahan
55. Pendataan prasarana dan pendapatan
serta kekayaan desa/kelurahan
56. Optimalisasi unit daerah kerja
pembangunan (UDKP)
57. Pendapatan lembaga adat dan pembinaan
58. Pembinaan aparatur desa/kelurahan
Badan Perencanaan Daerah dan pengurus
LPM serta penataan kantor desa dan
kelurahan
59. Penguatan lembaga masyarakat melalui
musyawarah, kerja LKMD/Asosiasi LPM,
atau sebutan lainnya
60. Peningkatan swadaya dan kemandirian
masyarakat melalui penerapan metoda
manajemen pembangunan partisipatif
Prioritas Daerah Kebijakan Program
berbagai bidang
31. penyuluhan,
pembinaan dan
pemasyarakatan iptek
32. Pemberdayaan dan
peningkatan
koordinasi dengan
lembaga-lembaga
pengembang dan
diseminasi iptek
33. Pemasyaraktan
teknologi informasi
untuk kemudahan
akses terhadap
teknologi tepat guna
dan tepat usaha yang
diperlukan
pengguna/masyarakat.





















dalam forum musyawarah pembangunan
desa/kelurahan dan kecamatan
61. Peningkatan ketahanan pangan
masyarakat melalui pemanfaatan
kelembagaan dan peningkatan lumbung
pangan dan masyarakat desa
62. Pemasyarakatan dan pendayagunaan
pengembangan sistem jaringan kerja
keswadayaan dengan lembaga swadaya
masyarakat
63. Peningkatan keterampilan manajerial
pengurus lembaga masyarakat melalui
pelatihan kader pembangunan masyarakat
(KPM)
64. Program pendidikan kewirausahaan di
pesantren
65. Peningkatan peran aktif masyarakat dalam
penanggulangan bencana alam dan
penanganan pengungsi
66. Penunjang program makanan tambahan
anak sekolah
67. Program peningkatan usaha ekonomi desa
dan simpan pinjam
68. Program peningkatan dan pemantapan
usaha produksi keluarga dan promosi
produksi unggulan
69. Program peningkatan ketahanan pangan
masyarakat
70. Program penunjang pengembangan
kecamatan
71. Program bantuan pembangunan
perdesaan
72. Pendayagunaan pos pelayanan teknologi
desa
73. Kerjasama pemasyarakatan dan
pendayagunaan teknologi tepat guna
dalam rangka penanggulangan kemiskinan
74. Pemasyarakatan dan pendayagunaan
teknologi tepat guna
75. Peningkatan kemampuan/keterampilan
bagi pegawai BPM Propinsi Banten
76. Penyediaan sarana dan prasarana kantor
BPM Propinsi Banten
Prioritas Daerah Kebijakan Program
4. Penggalangan
persatuan,
partisipasi
dan
kemitraan
sinergis
stakehodelrs
1. Peningkatan peran
pemerintah sebagai
fasilitator
penyelenggaraan
pemerintahan dan
pembangunan
2. Peningkatan
partisipasi aktif
masyarakat dalam
kegiatan
penyelenggaraan
pemerintahan dan
pembangunan
3. Peningkatan kemitraan
sinergis antar
komponen
penyelenggara
pemerintahan dan
pembangunan
4. Mendorong
terbentuknya forum-
forum sebagai wadah
aspirasi stakeholders
dalam mendaya-
gunakan sumberdaya
lokal dan sosial
1. Pengembangan potensi kesejahteraan
sosial
2. Peningkatan Kualitas manajerial
3. Pengembangan keserasian dan
penanganan masalah sosial
4. Penanganan daerah khusus
5. Penciptaan situasi yang kondusif untuk
terciptanya kemerdekaan dalam
berorganisasi
6. Pemberdayaan masyarakat
7. Pemberdayaan LSM
8. Pembentukan forum-forum komunikasi
pembangunan
9. Sosialisasi perencanaan pembangunan
berdasarkan Bottom Up Planning
10. Mengundang perguruan tinggi, LSM,
Masyarakat dalam forum-forum
pemerintahan
5. Percepatan
pemulihan
krisis dan
pembanguna
n ekonomi

1. Penyusunan data base
dan sistem informasi
tentang keluarga
miskin/pra sejahtera,
masyarakat lemah dan
tertinggal, secara
akurat
2. Penyusunan upaya
pemberdayaan
keluarga miskin
masyarakat lemah dan
tertinggal secara
terpadu
3. Pembinaan sektor riil
4. Pembinaan dan
menumbuhkembangka
n jiwa kewirausahaan
usaha kecil dan
menengah (UKM) dan
koperasi
5. Penciptaan iklim
investasi yang
kondusif serta
lapangan pekerjaan
yang dapat menyerap
pencari kerja
6. Pengembangan
agribisnis dan
agroindustri perdesaan
7. Penyediaan pasar
1. Program penyusunan dan updating
database keluarga miskin
2. Peningkatan penerimaan retribusi, bagi
hasil dan pendapatan lain-lain
3. Peningkatan efektivitas, pengelolaan,
konservasi dan rehabilitasi sumberdaya
alam
4. Pengembangan usaha dan lembaga
perdagangan
5. Pengembangan dan pembinaan usaha
nasional
6. Pemberdayaan masyarakat dalam
pengelolaan SDA
7. Pemberdayaan masyarakat dalam
pencegahan kerusakan dan pelestarian
SDA
8. Pemberdayaan Masyarakat Dalam
Konvservasi Kawasan Suaka Alam,
Kawasan Hutan Lindung dan Pelestarian
Alam
9. Pemberdayaan Masyarakat Dalam
Penataan Lingkungan di Kawasan Wisata
10. Pemberdayaan Masyarakat dalam
pengelolaan/penataan rumah tinggal dan
lingkungan
11. Pemberdayaan masyarakat dalam
pengelolaan air bersih dan sanitasi
lingkungan
12. Perlindungan dan pengembangan lembaga
tenaga kerja
Prioritas Daerah Kebijakan Program












yang dapat
menampung produksi
masyarakat
8. Peningkatan
produktivitas dan
pendapatan
masyarakat di setiap
kabupaten/kota pada
seluruh sektor
(pertanian, kelautan,
industri,
pertambangan, jasa &
lainnya)
9. Pembangunan dan
pembinaan sentra-
sentra pertumbuhan
baru di setiap
kabupaten/kota
10. Pembangunan,
pemeliharaan dan
peningkatan sarana
dan prasarana dasar
dan pendukung untuk
pertumbuhan ekonomi
11. Pengembangan
sektor-sektor
unggulan antara lain
pertanian, pariwisata,
kelautan, untuk
membuka kesempatan
berusaha di setiap
kabupaten/kota
12. Penurunan angka
pengangguran di
setiap kabupaten/kota
13. peningkatan investasi
di Kabupaten/kota
14. Mengembangkan
industri yang
berwawasan
lingkungan
15. Pembentukan BUMD-
BUMD yang mampu
menghasilkan
sumbangan dana
perolehan/keuntungan
ke pemerntah Propinsi
BAnten
16. Penggalian sumber-
sumber keuangan
Propinsi Banten
17. Pengembangan
wilayah potensial
untuk produksi
komoditi unggulan
18. Peningkatan
kesuburan tanah dan
produktivitas lahan
pertanian, serta
mempertahankan
13. Optimalisasi pemanfaatan tata ruang
desa/kelurahan dalam pembangunan
14. Peningkatan swadaya dan kemandirian
masyarakat melalui penerapan metoda
manajemen pembangunan partisipatif
dalam forum musyawarah pembangunan
desa/kelurahan dan kecamatan
15. Peningkatan Ketahanan Pangan
Masyarakat Melalui Pemanfaatan
Kelembagaan dan Optimalisasi fungsi
Lumbung pangan masyarakat Desa
16. Peningkatan keterampilan manajerial
pengurus lembaga masyarakat melalui
pelatihan kader pembangunan masyarakat
(KPM)
17. Program peningkatan Usaha Ekonomi
Desa dan Simpan Pinjam
18. Program peningkatan dan pemantapan
usaha produksi keluarga dan promosi
produksi unggulan
19. Program peningkatan ketahanan pangan
masyarakat
20. Program bantuan pembangunan
perdesaan
21. Peningkatan mutu dan efektivitas sistem
pengairan
22. Pendayagunaan Pos Pelayanan Teknologi
Desa
23. Kerjasama pemasyarakatan dan
pendayagunaan teknologi tepat guna
dalam rangka penanggulangan kemiskinan
24. Pemasyarakatan dan Pendayagunaan
Teknologi Tepat Guna
25. Pemantapan Prakondisi Pengelolaan hutan
dan Kebun
26. Program optimalisasi Fungsi dan
Pemanfaatan Hutan dan Kebun
27. Program Pengembangan Agribisnis
28. Program Rehabilitasi Hutan, Lahan dan
Kebun
29. Program Perlindungan Hutan, Kebun dan
Konservasi Alam
30. Program Diversifikasi Komoditi Pertanian
31. Program Peningkatan Ketahanan Pangan
32. Program Pengembangan Kelembagaan
dan SDM
33. Program Pembangunan dan Pembinaan
Kehutanan dan Perkebunan
34. Program Pembangunan Usaha Perhutanan
Rakyat
35. Perencanaan dan Perwujudan Suatu
Kawasan Industri Perikanan Terpadu dan
Berke-sisteman Berbasis Perwiayahan
Komoditas Produk Unggulan dan
Kelestarian Alam
36. Pengembangan Sumberdaya Sarana dan
Prasarana Kelautan Sesuai dengan
Kebutuhan dan Karakteristik Daerah
Masing-Masing
37. Pengembangan Usaha Kelautan yang
Prioritas Daerah Kebijakan Program












lahan produktif dari
kegiatan investasi lain
19. Pemanfaatan lahan-
lahan tidur untuk
kegiatan pertanian
20. Peningkatan produksi
dan kualitas produk
pertanian dan
kelautan
21. Penyediaan lembaga
pendanaan yang
akomodatiif untuk
menunjang
permodalan petani,
peternak dan nelayan
berorientasi dan berwawasan Agribisnis
38. Pengelolaan dan Pengembangan
Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan Secara optimal, Lestari dan
Berwawasan Agribisnis
39. Peningkatan Mutu Hasil Produksi
Perikanan Tangkap/Budidaya serta
Kelestarian/Konservasi Sumberdaya
Kelautan dan Perikanan
40. Peningkatan Sumberdaya Manusia
Masyarakat dan Aparatur, Serta Partisipasi
Masyarakat Khususnya Pihak
Investor/Swasta Dalam Pembangunan
Kelautan dan Perikanan
41. Peningkatan jumlah sarana, prasarana dan
kualitas pelabuhan bagi nelayan
42. Membangun pasar dan pusat grosir bagi
produksi masyarakat
43. Pengembangan Agribisnis Peternakan
44. Pengembangan Agribisnis Buah-Buahan
45. Pengembangan Agribisnis Sayuran
46. Pengembangan Agribisnis Tanaman Hias
47. Pengembangan Agribisnis Tanaman Obat
dan Aneka Tanaman
48. Penumbuhan Komitmen pemerintah,
masyarakat dan pelaku industri pariwisata
49. Penumbuhan dan pembinaan
kelembagaan para pelaku industri
pariwisata
50. Menyusun Perencanaan Detail
Pembangunan Sektor Pertambangan dan
Energi
51. Penyusunan Rencana Strategis Dinas dan
Perda Bidang Pertambangan dan Energi
52. Pemanfaatan Sumberdaya Mineral
53. Pembangunan Tenaga Migas, Batubara,
dan energi lainnya
54. Pengembangan Usaha Pertambangan
55. Penyelidikan Usaha Pertambangan
56. usaha Penambangan Endapan Bahan
Galian Mineral
57. Pengembangan Industri yang padat karya,
berwawasan gender dan menyerap tenaga
kerja lokal
58. Program Pengembangan Industri Kecil
Menengah
59. Program Peningkatan Kemampuan
Teknologi Industri
60. Program penataan struktur industri
61. Program pengembangan usaha dan
lembaga perdagangan
62. Program pengembangan distribusi
nasional
63. Program Pengembangan ekspor
64. Program Peningkatan Kerjasama ekonomi
Luar Negari
65. Program Pengembangan dan Pembinaan
Usaha Nasional
66. Program Persaingan dan Perlindungan
Konsumen
Prioritas Daerah Kebijakan Program
67. Program Pengembangan Kewirausahaan
dan Daya Saing PMK
68. Program Pengembangan Sistem
Pendukung Usaha PMKK
69. Program Deseminasi Informasi IPTEK
6. Peningkatan
sarana dan
prasarana
dasar
1. Pembangunan,
pemeliharaan dan
peningkatan sarana
dan prasarana dasar
untuk percepatan
pembangunan,
khususnya di
kawasan-kawasan
perbatasan
kabupaten/kota dan
propinsi serta kawasan
sentra produksi
2. Pembangunan ,
pemeliharaan dan
peningkatan sarana
dan prasarana
pelabuhan dan
perhubungan
3. Penyediaan sarana
dan prasarana umum
secara memadai
4. Terbangunnya dan
tersedianya sarana
dan prasarana
pendukung untuk
penyelenggaraan
pemerintahan propinsi
1. Pengembangan Pendayagunaan dan
Pengelolaan Pengairan
2. Pengendalian Banjir dan Konservasi
Sumber-sumber Air
3. Pengembangan J aringan Irigasi dan
Reklamasi Pantai
4. Pengusahaan Sumber-sumber Air dan
Penyediaan Air Baku
5. Rehabilitasi sarana transportasi
6. Peningkatan/Pembangunan sarana
Transportasi
7. Pengembangan Aksesibilitas Prasarana
J alan
8. Pengembangan Sarana dan Prasarana
pemukiman yang memadai bagi seluruh
lapisan masyarakat
9. Pengembangan Perkotaan Berwawasan
yang terencana, manusiawi
7. Peningkatan
pengelolaan
sumber daya
alam tata-
ruang dan
lingkungan
hidup

1. Pemantapan tata-
ruang yang kondusif
untuk pembangunan
berwawasan
lingkungan
2. Penyusunan dan
pemantapan Wilayah
Kerja pembangunan
3. Pembinaan kesadaran
masyarakat dalam
menjaga SDA dari
kerusakan dan
pencemaran
lingkungan daratan
dan lautan
4. penegakan
pelaksanaan
perundangan
peraturan untuk
mewujudkan
berwawasan
lingkungan
5. penyusunan sistem
informasi dan
pemetaan SDA dan
lingkungan yang
potensial dan telah
mengalami
1. Pengembangan dan Peningkatan
Akses Informasi Sumber daya Alam
dan Lingkungan Hidup
2. Pencegahan Kerusakan dan
Pencemaran Lingkungan Hidup
3. Peningkatan Peranan Masyarakat
dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
dan Lingkungan Hidup
4. Penataan dan Penegakkan Hukum
Dalam Pelestarian Lingkungan Hidup
5. Penataan Hukum dan Kelembagaan
Dalam Pengelolaan Penataan Ruang
dan Lingkungan Hidup
6. Penyiapan Rancangan Perda yang
berkaitan Dengan Penataan Ruang
Daerah
7. Peningkatan Kualitas Perencanaan
Tata Ruang
8. Peningkatan Kualitas Pemanfaatan
Ruang
9. Peningkatan Kualitas Pengendalian
Pemanfaatan Ruang.
10. Peningkatan Peran Serta Masyarakat
Dalam Penataan ruang
11. Peningkatan Kerjasama Propinsi dan
Kab/Kota Dalam Penataan Ruang
12. Peningkatan Fasilitas Administrasi
Pertanahan di Kabupaten/Kota
Prioritas Daerah Kebijakan Program
pencemaran dan
kerusakan
6. Pembinaan koordinasi
dengan aparat
penegak hukum untuk
pengawasan dan
melindungi SDA dari
berbagai bentuk
eksploitasi liar,
pencemaran dan
perusakan
7. Peningkatan
pengawasan,
pengendalian dan
penegakan
hukumdalam
implementasi RTRW
8. Peningkatan kualitas
lingkungan hidup, dan
pengendalian dampak
dan pencemaran
lingkungan
9. Pengembangan dan
konservasi sumber-
sumber daya air
10. Penataan,
pengembangan, dan
konservasi DAS dan
wilayah pesisir
13. Penetapan daerah disekitar pantai
sebagai daerah konservasi alam
14. Pembinaan fungsi domestik sungai
sebagai penyedia kebutuhan air
masyarakat
15. Pengembangan hutan kota sebagai
paru-paru kota
1. Pemeliharaan
dan
pengembang
an budaya
dan
kehidupan
agamis
1. Pengkajian dan
penegembangan
budaya lokal
2. Pemeliharaan dan
peningkatan budaya
dan kehidupan agamis
masyarakat Banten
3. Pengintegrasian nilai-
nilai budaya agamis
dalam setiap sendi
kehidupan masyarakat
Banten
4. Peningkatan peran
dan kapasitas ulama
dalam pembangunan
5. Peningkatan mutu
pendidikan agama
6. Peningkatan
partisipasi masyarakat
dalam pengendalian
meluasnya
penyebaran pornografi
dan prostitusi
1. Pembinaan dan pengembangan budaya
Banten
2. Pembentukan Dewan Kesenian Daerah
3. Pelestarian dan pewarisan nilai-nilai
tradisonal bagi generasi muda
4. Peningkatan jumlah pendidik/guru dalam
memberdayakan lembaga pendidikan
agama baik formal maupun infomral
5. Penerapan agama Islam untuk
pembangunan Banten
6. Pembangunan dan Pendirian pusat Studi
dan Pengembangan Budaya Banten
(Lembaga Adat Banten)
7. Program peningkatan kegiatan
pendataan/dokumentasi seni dan
kebudayaan Banten lainnya
8. Pemeliharaan dan pelestarian obyek
wisata, adat, seni dan kebudayaan Banten
9. Peningkatan peranan dan kapasitas ulama
dalam pembangunan
10. Pembentukan forum masyarakat/ulama
pengontrol media dari pornografi
11. Program pemberantasan protutusi dengan
memberikan sanksi tegas bagi pihak yang
terlibat
12. Program rehabilitasi moral dan pembinaan
berkelanjutan kepada para pekerja seks
komersial
Prioritas Daerah Kebijakan Program
1. Penguatan
jaringan
kerjasama
dan promosi
1. Membina hubungan
yang harmonis dan
saling menguntungkan
dengan pemerintah
pusat, Pemda Propinsi,
Lembaga-
lembaga/organisasi
lainnya di Indonesia
dan luar negeri
2. Membina kerjasama
antar wilayah untuk
keserasian dan
keterpaduan
pembangunan antar
wilayah
3. Meletakkan landasan
pembangunan
teknologi informasi
menuju e-government
4. Penyusunan profil
investasi Propinsi
Banten
5. Penyusunan atau
pembentukan lembaga
atau tim yang
bertanggung jawab
terhadap promosi
Propinsi Banten
1. Pembangunan dan penerapan e-
Government
2. Pembinaan kerjasama dengan pemerintAh
pusat, propinsi dan kabupaten/kota serta
negara lain
3. Penyusunan Profil Investasi Propinsi
Banten
4. Pembentukan Tim Promosi Propinsi Banten
5. Promosi Propinsi Banten di berbagai
bidang di tingkat nasional dan
internasional, antara lain Promosi
pariwisata, seni dan buday Banten, dll.



BAB VI II
PENGUKURAN DAN EVALUASI KINERJ A

8.1. Kerangka Pengukuran Kinerja

Untuk mengevaluasi kinerja suatu pemerintah daerah, dalam hal ini
Pemerintahan Daerah Propinsi Banten, perlu dirancang metode atau teknik dan
tata-cara yang jelas dan sistematis untuk menilai sejauh mana keberhasilan
pencapaian visi, misi, tujuan atau sasaran yang telah dicanangkan.

Pengukuran kinerja mencakup penetapan komponen/ aspek indikator
kinerja, bobot setiap komponen indikator, dan penetapan/penghitungan
capaian akhir kinerja.

Pengukuran kinerja dengan pengukuran makro, dengan cara indikator
ditetapkan secara makro untuk setiap prioritas daerah yang didasarkan pada visi,
misi, tujuan dan sasaran. Setiap indikator ditetapkan bobotnya, sehingga setelah
dilakukan penilaian kinerja berdasarkan indikator tersebut maka diperoleh total
penjumlahan dari hasil pengalian bobot dan nilai capaian setiap indikator.

8.2. Evaluasi Kinerja

Evaluasi kinerja didasarkan atas hasil capaian atau realisasi pelaksanaan visi,
misi, tujuan dan sasaran berdasarkan pengukuran makro. Evaluasi kinerja
ditentukan oleh total nilai dari keseluruhan berdasarkan indikator yang telah
ditetapkan bersama dengan bobotnya dan nilai capaian setiap indikator.

Dalam pengukuran makro, penilaian kinerja hanya didasarkan kepada
beberapa indikator yang dianggap mencerminkan pencapaian prioritas daerah
yang mangacu pada visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Selanjutnya setiap indikator ditetapkan bobotnya, sehingga setelah dilakukan
penilaian kinerja berdasarkan indikator tersebut maka diperoleh total
penjumlahan dari hasil pengalian bobot dan nilai capaian setiap indikator. Untuk
lebih jelas, bobot tiap prioritas daerah untuk setiap tahun dan untuk akhir
jabatan dapat dilihat pada Tabel 8, 9 , 10, 11, 12, dan 13. sedangakn contoh
perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 14.


8.3. Kriteria Hasil Evaluasi Kinerja

Hasil evaluasi kinerja, ditentukan oleh total nilai akhir. Klasifikasi hasil kinerja
ditetapkan sebagai berikut :
80 – 100 : kinerja tergolong sangat baik
70 – 80 : kinerja tergolong baik
60 – 70 : kinerja tergolong sedang
50 – 60 : kinerja tergolong kurang baik
< 50 : kinerja tergolong buruk

8.4. Analisis Pencapaian Akuntabilitas Kinerja

Analisis menguraikan keterkaitan pencapaian kinerja kegiatan dan program
dengan kebijakan dalam rangka mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran.
Selain itu analisis dilakukan dengan menggunakan informasi/data yang lengkap,
rinci, dan akurat.

Berbagai cara dapat ditempuh untuk melakukan analisis pencapaian akuntabilitas
kinerja, antara lain :
1. Membandingkan kinerja yang diperoleh dengan yang direncanakan
2. Membandingkan kinerja yang diperoleh dengan hasil tahun-tahun
sebelumnya
3. Membandingkan kinerja suatu unit atau daerah dengan unit kerja atau
daerah lain.

Pada dasarnya, analisis pencapaian akuntabilitas kinerja menguraikan hal-hal
yang berkaitan dengan pencapaian kinerja, program, dan kebijaksanaan dan
memuat antara lain keberhasilanatau kegagalan, hambatan, kendala, serta
permasalahan yang dihadapi.

Tabel 8
Bobot Prioritas Daerah untuk Evaluasi Kinerja Tahun 2002 berdasarkan
Indikator

No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
1. Penataan sitem
kepemerintahan dan
peningkatan aparatur
pemerintahan
15 1. Kecukupan dan pendayagunaan Perda
(2)
2. Sistem, Prosedur dan kualitas pelayanan
Publik (4)
3. Pelaksanaan SOTK dan tatalaksana
sesuai TUPOKS (2) I
No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
4. Disiplin dan profesionalisme aparatur
pemerintah (3)
5. Pembangunan Pusat Pemerintahan
Propinsi (3)
2. Pemeliharaan dan peningkatan
pertahanan keamanan,
ketertiban, pemantapan sistem
politik dan penegakan
supremasi hukum.
8 1. J umlah gangguan pertahanan keamanan
dan kriminalitas (3)
2. J umlah pelanggaran terhadap hukum
dan Perda (3)
3. Kesadaran demokrasi dan politik
3. Peningkatan kualitas SDM,
kemandirian masyarakat dan
pemasyarakatan iptek
15 1. Indeks mutu hidup (4)
2. Indeks pendidikan (3)
3. Angka kematian Bayi (2)
4. Serangan penyakit menular dan
berbahaya (3)
5. pemasyarakatan iptek (3)
4. Penggalangan persatuan,
partisipasi dan kemitraan
sinergi stakeholders
8 1. Kualitas forum / kelompok masyarakat /
paguyuban (2)
2. Kerusuhan masa (2)
3. Kemitraan sinergis antar stakeholders
(2)
4. Peningkatan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan (2)
5. Percepatan pemulihan krisis
dan pembangunan ekonomi
13 1. J umlah pengangguran (2)
2. J umlah penduduk miskin (2)
3. Indeks daya beli masyarakat (2)
4. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) (1,5)
5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) (1)
6. Investasi (1)
7. PDRB (1)
8. J umlah wisata (1)
9. Ketahanan pangan (1,5)
6. Peningkatan sarana dan
prasarana dasar
15 1. Perhubungan dan Komunikasi (2)
2. Pendidikan (2)
3. Kesehatan (2)
4. Ekonomi (2)
5. Agama (2)
6. Kebudayaan (1)
7. Lingkungan (1)
8. Energi (1,5)
9. Pengairan dan air bersih (1,5)
7. Peningkatan pengelolaan
sumberdaya alam, tata ruang
dan lingkungan hidup
12 1. Ketersediaan/transparansi RTRW (2)
2. Pengelolaan SDA (2)
3. Luas lahan/DAS kritis (2)
4. Frekuensi bencana banjir dan
kekeringan (2)
5. Kasus pencemaran air, udara, dan tanah
(3)
8. Pemeliharaan dan
pengembangan budaya dan
kehidupan agamis
7 1. Ketersediaan dan kualitas sarana dan
prasarana (1,5)
2. Kerukunan antar umat beragama (1,5)
3. Aktifitas kelembagaan adat/budaya (1,5)
4. Bertumbuh-kembangnya budaya lokal
(1,5)
5. Perda yang mengatur tercapainya
kehidupan agamis (1)
9. Penguatan jaringan kerjasama 7 1. Penyelenggaraan pameran dan promosi
No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
dan promosi lainnya yang diselenggarakan (2)
2. MOU, dan MOA (2)
3. Terbangunnya E-government (1,5)
4. Keserasian dan keterpaduan
pembangunan antar wilayah (1,5)
Total 100

Tabel 9
Bobot Prioritas Daerah untuk Evaluasi Kinerja Tahun 2003 berdasarkan
Indikator

No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
1. Penataan sitem
kepemerintahan dan
peningkatan aparatur
pemerintahan
13 1. Kecukupan dan pendayagunaan Perda
(2)
2. Sistem, Prosedur dan kualitas pelayanan
Publik (3)
3. Pelaksanaan SOTK dan tatalaksana
sesuai TUPOKS (2) I
4. Disiplin dan profesionalisme aparatur
pemerintah (3)
5. Pembangunan Pusat Pemerintahan
Propinsi (3)
2. Pemeliharaan dan peningkatan
pertahanan keamanan,
ketertiban, pemantapan sistem
politik dan penegakan
supremasi hukum.
8 1. J umlah gangguan pertahanan keamanan
dan kriminalitas (3)
2. J umlah pelanggaran terhadap hukum
dan Perda (3)
3. Kesadaran demokrasi dan politik (2)
3. Peningkatan kualitas SDM,
kemandirian masyarakat dan
pemasyarakatan iptek
16 1. Indeks mutu hidup (4)
2. Indeks pendidikan (3)
3. Angka kematian Bayi (3)
4. Serangan penyakit menular dan
berbahaya (3)
5. pemasyarakatan iptek (3)
4. Penggalangan persatuan,
partisipasi dan kemitraan
sinergi stakeholders
8 1. Kualitas forum / kelompok masyarakat /
paguyuban (2)
2. Kerusuhan masa (2)
3. Kemitraan sinergis antar stakeholders
(2)
4. Peningkatan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan (2)
5. Percepatan pemulihan krisis
dan pembangunan ekonomi
13 1. J umlah pengangguran (2)
2. J umlah penduduk miskin (2)
3. Indeks daya beli masyarakat (2)
4. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) (1,5)
5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) (1)
6. Investasi (1)
7. PDRB (1)
8. J umlah wisata (1)
9. Ketahanan pangan (1,5)
6. Peningkatan sarana dan
prasarana dasar
14 1. Perhubungan dan Komunikasi (1,5)
2. Pendidikan (2)
3. Kesehatan (2)
4. Ekonomi (2)
5. Agama (2)
No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
6. Kebudayaan (1)
7. Lingkungan (1)
8. Energi (1,5)
9. Pengairan dan air bersih (1,5)
7. Peningkatan pengelolaan
sumberdaya alam, tata ruang
dan lingkungan hidup
11 1. Ketersediaan/transparansi RTRW (2)
2. Pengelolaan SDA (2)
3. Luas lahan/DAS kritis (2)
4. Frekuensi bencana banjir dan
kekeringan (2)
5. Kasus pencemaran air, udara, dan tanah
(3)
8. Pemeliharaan dan
pengembangan budaya dan
kehidupan agamis
9 1. Ketersediaan dan kualitas sarana dan
prasarana (2)
2. Kerukunan antar umat beragama (2)
3. Aktifitas kelembagaan adat/budaya (2)
4. Bertumbuh-kembangnya budaya lokal
(1,5)
5. Perda yang mengatur tercapainya
kehidupan agamis (1,5)
9. Penguatan jaringan kerjasama
dan promosi
8 1. Penyelenggaraan pameran dan promosi
lainnya yang diselenggarakan (2)
2. MOU, dan MOA (2)
3. Terbangunnya E-government (2)
4. Keserasian dan keterpaduan
pembangunan antar wilayah (2)
Total 100

Tabel 10
Bobot Prioritas Daerah untuk Evaluasi Kinerja Tahun 2004 berdasarkan
Indikator

No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
1. Penataan sitem
kepemerintahan dan
peningkatan aparatur
pemerintahan
11 1. Kecukupan dan pendayagunaan Perda
(2)
2. Sistem, Prosedur dan kualitas pelayanan
Publik (3)
3. Pelaksanaan SOTK dan tatalaksana
sesuai TUPOKS (2) I
4. Disiplin dan profesionalisme aparatur
pemerintah (2)
5. Pembangunan Pusat Pemerintahan
Propinsi (2)
2. Pemeliharaan dan peningkatan
pertahanan keamanan,
ketertiban, pemantapan sistem
politik dan penegakan
supremasi hukum.
9 1. J umlah gangguan pertahanan keamanan
dan kriminalitas (3)
2. J umlah pelanggaran terhadap hukum
dan Perda (3)
3. Kesadaran demokrasi dan politik (3)
3. Peningkatan kualitas SDM,
kemandirian masyarakat dan
pemasyarakatan iptek
16 1. Indeks mutu hidup (4)
2. Indeks pendidikan (3)
3. Angka kematian Bayi (3)
4. Serangan penyakit menular dan
berbahaya (3)
5. pemasyarakatan iptek (3)
4. Penggalangan persatuan, 8 1. Kualitas forum / kelompok masyarakat /
No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
partisipasi dan kemitraan
sinergi stakeholders
paguyuban (2)
2. Kerusuhan masa (2)
3. Kemitraan sinergis antar stakeholders
(2)
4. Peningkatan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan (2)
5. Percepatan pemulihan krisis
dan pembangunan ekonomi
14 1. J umlah pengangguran (2)
2. J umlah penduduk miskin (2)
3. Indeks daya beli masyarakat (2)
4. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) (2)
5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) (1,5)
6. Investasi (1)
7. PDRB (1,5)
8. J umlah wisata (1)
9. Ketahanan pangan (1,5)
6. Peningkatan sarana dan
prasarana dasar
14 1. Perhubungan dan Komunikasi (1)
2. Pendidikan (2)
3. Kesehatan (2)
4. Ekonomi (2)
5. Agama (2)
6. Kebudayaan (1)
7. Lingkungan (1)
8. Energi (1,5)
9. Pengairan dan air bersih (1,5)
7. Peningkatan pengelolaan
sumberdaya alam, tata ruang
dan lingkungan hidup
11 1. Ketersediaan/transparansi RTRW (2)
2. Pengelolaan SDA (2)
3. Luas lahan/DAS kritis (2)
4. Frekuensi bencana banjir dan
kekeringan (2)
5. Kasus pencemaran air, udara, dan tanah
(3)
8. Pemeliharaan dan
pengembangan budaya dan
kehidupan agamis
9 1. Ketersediaan dan kualitas sarana dan
prasarana (2)
2. Kerukunan antar umat beragama (2)
3. Aktifitas kelembagaan adat/budaya (2)
4. Bertumbuh-kembangnya budaya lokal
(1,5)
5. Perda yang mengatur tercapainya
kehidupan agamis (1,5)
9. Penguatan jaringan kerjasama
dan promosi
8 1. Penyelenggaraan pameran dan promosi
lainnya yang diselenggarakan (2)
2. MOU, dan MOA (2)
3. Terbangunnya E-government (1,5)
4. Keserasian dan keterpaduan
pembangunan antar wilayah (1,5)
Total 100

Tabel 11
Bobot Prioritas Daerah untuk Evaluasi Kinerja Tahun 2005 berdasarkan
Indikator

No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
1. Penataan sitem
kepemerintahan dan
10 1. Kecukupan dan pendayagunaan Perda
(1,5)
No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
peningkatan aparatur
pemerintahan
2. Sistem, Prosedur dan kualitas pelayanan
Publik (3)
3. Pelaksanaan SOTK dan tatalaksana
sesuai TUPOKS (2) I
4. Disiplin dan profesionalisme aparatur
pemerintah (2)
5. Pembangunan Pusat Pemerintahan
Propinsi (1,5)
2. Pemeliharaan dan peningkatan
pertahanan keamanan,
ketertiban, pemantapan sistem
politik dan penegakan
supremasi hukum.
9 1. J umlah gangguan pertahanan keamanan
dan kriminalitas (3)
2. J umlah pelanggaran terhadap hukum
dan Perda (3)
3. Kesadaran demokrasi dan politik (3)
3. Peningkatan kualitas SDM,
kemandirian masyarakat dan
pemasyarakatan iptek
17 1. Indeks mutu hidup (4)
2. Indeks pendidikan (4)
3. Angka kematian Bayi (3)
4. Serangan penyakit menular dan
berbahaya (3)
5. pemasyarakatan iptek (3)
4. Penggalangan persatuan,
partisipasi dan kemitraan
sinergi stakeholders
8 1. Kualitas forum / kelompok masyarakat /
paguyuban (2)
2. Kerusuhan masa (2)
3. Kemitraan sinergis antar stakeholders
(2)
4. Peningkatan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan (2)
5. Percepatan pemulihan krisis
dan pembangunan ekonomi
15 1. J umlah pengangguran (2)
2. J umlah penduduk miskin (2)
3. Indeks daya beli masyarakat (2)
4. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) (2)
5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) (2)
6. Investasi (1,5)
7. PDRB (1)
8. J umlah wisata (1)
9. Ketahanan pangan (1,5)
6. Peningkatan sarana dan
prasarana dasar
14 1. Perhubungan dan Komunikasi (1)
2. Pendidikan (2)
3. Kesehatan (2)
4. Ekonomi (2)
5. Agama (2)
6. Kebudayaan (1)
7. Lingkungan (1)
8. Energi (1,5)
9. Pengairan dan air bersih (1,5)
7. Peningkatan pengelolaan
sumberdaya alam, tata ruang
dan lingkungan hidup
11 1. Ketersediaan/transparansi RTRW (2)
2. Pengelolaan SDA (2)
3. Luas lahan/DAS kritis (2)
4. Frekuensi bencana banjir dan
kekeringan (2)
5. Kasus pencemaran air, udara, dan tanah
(3)
8. Pemeliharaan dan
pengembangan budaya dan
kehidupan agamis
8 1. Ketersediaan dan kualitas sarana dan
prasarana (2)
2. Kerukunan antar umat beragama (1,5)
3. Aktifitas kelembagaan adat/budaya (1,5)
4. Bertumbuh-kembangnya budaya lokal
No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
(1,5)
5. Perda yang mengatur tercapainya
kehidupan agamis (1,5)
9. Penguatan jaringan kerjasama
dan promosi
8 1. Penyelenggaraan pameran dan promosi
lainnya yang diselenggarakan (2)
2. MOU, dan MOA (2)
3. Terbangunnya E-government (2)
4. Keserasian dan keterpaduan
pembangunan antar wilayah (2)
Total 100

Tabel 12
Bobot Prioritas Daerah untuk Evaluasi Kinerja Tahun 2006 berdasarkan
Indikator

No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
1. Penataan sitem
kepemerintahan dan
peningkatan aparatur
pemerintahan
10 1. Kecukupan dan pendayagunaan Perda
(1,5)
2. Sistem, Prosedur dan kualitas pelayanan
Publik (3)
3. Pelaksanaan SOTK dan tatalaksana
sesuai TUPOKS (2) I
4. Disiplin dan profesionalisme aparatur
pemerintah (2)
5. Pembangunan Pusat Pemerintahan
Propinsi (1,5)
2. Pemeliharaan dan peningkatan
pertahanan keamanan,
ketertiban, pemantapan sistem
politik dan penegakan
supremasi hukum.
8 1. J umlah gangguan pertahanan keamanan
dan kriminalitas (3)
2. J umlah pelanggaran terhadap hukum
dan Perda (3)
3. Kesadaran demokrasi dan politik (2)
3. Peningkatan kualitas SDM,
kemandirian masyarakat dan
pemasyarakatan iptek
17 1. Indeks mutu hidup (4)
2. Indeks pendidikan (4)
3. Angka kematian Bayi (3)
4. Serangan penyakit menular dan
berbahaya (3)
5. pemasyarakatan iptek (3)
4. Penggalangan persatuan,
partisipasi dan kemitraan
sinergi stakeholders
8 1. Kualitas forum / kelompok masyarakat /
paguyuban (2)
2. Kerusuhan masa (2)
3. Kemitraan sinergis antar stakeholders
(2)
4. Peningkatan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan (2)
5. Percepatan pemulihan krisis
dan pembangunan ekonomi
15 1. J umlah pengangguran (2)
2. J umlah penduduk miskin (2)
3. Indeks daya beli masyarakat (2)
4. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) (2)
5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) (2)
6. Investasi (1)
7. PDRB (1,5)
8. J umlah wisata (1)
9. Ketahanan pangan (1,5)
6. Peningkatan sarana dan 15 1. Perhubungan dan Komunikasi (2)
No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
prasarana dasar 2. Pendidikan (2)
3. Kesehatan (2)
4. Ekonomi (2)
5. Agama (2)
6. Kebudayaan (1)
7. Lingkungan (1)
8. Energi (1,5)
9. Pengairan dan air bersih (1,5)
7. Peningkatan pengelolaan
sumberdaya alam, tata ruang
dan lingkungan hidup
11 1. Ketersediaan/transparansi RTRW (2)
2. Pengelolaan SDA (2)
3. Luas lahan/DAS kritis (2)
4. Frekuensi bencana banjir dan
kekeringan (2)
5. Kasus pencemaran air, udara, dan tanah
(3)
8. Pemeliharaan dan
pengembangan budaya dan
kehidupan agamis
8 1. Ketersediaan dan kualitas sarana dan
prasarana (2)
2. Kerukunan antar umat beragama (1,5)
3. Aktifitas kelembagaan adat/budaya (1,5)
4. Bertumbuh-kembangnya budaya lokal
(1,5)
5. Perda yang mengatur tercapainya
kehidupan agamis (1,5)
9. Penguatan jaringan kerjasama
dan promosi
8 1. Penyelenggaraan pameran dan promosi
lainnya yang diselenggarakan (2)
2. MOU, dan MOA (2)
3. Terbangunnya E-government (2)
4. Keserasian dan keterpaduan
pembangunan antar wilayah (2)
Total 100

Tabel 13
Bobot Prioritas untuk Evaluasi Kinerja Akhir jabatan berdasarkan
Indikator

No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
1. Penataan sitem
kepemerintahan dan
peningkatan aparatur
pemerintahan
11,8 1. Kecukupan dan pendayagunaan Perda
(2)
2. Sistem, Prosedur dan kualitas pelayanan
Publik (2,8)
3. Pelaksanaan SOTK dan tatalaksana
sesuai TUPOKS (2) I
4. Disiplin dan profesionalisme aparatur
pemerintah (2)
5. Pembangunan Pusat Pemerintahan
Propinsi (2)
2. Pemeliharaan dan peningkatan
pertahanan keamanan,
ketertiban, pemantapan sistem
politik dan penegakan
supremasi hukum.
8,4 1. J umlah gangguan pertahanan keamanan
dan kriminalitas (3)
2. J umlah pelanggaran terhadap hukum
dan Perda (3)
3. Kesadaran demokrasi dan politik (3)
3. Peningkatan kualitas SDM,
kemandirian masyarakat dan
pemasyarakatan iptek
17 1. Indeks mutu hidup (4)
2. Indeks pendidikan (3)
3. Angka kematian Bayi (3)
No. Prioritas Bobot
(%)
I ndikator
4. Serangan penyakit menular dan
berbahaya (3)
5. pemasyarakatan iptek (3)
4. Penggalangan persatuan,
partisipasi dan kemitraan
sinergi stakeholders
8 1. Kualitas forum / kelompok masyarakat /
paguyuban (2)
2. Kerusuhan masa (2)
3. Kemitraan sinergis antar stakeholders
(2)
4. Peningkatan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan (2)
5. Percepatan pemulihan krisis
dan pembangunan ekonomi
14 1. J umlah pengangguran (2)
2. J umlah penduduk miskin (2)
3. Indeks daya beli masyarakat (2)
4. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) (2)
5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) (1,5)
6. Investasi (1,5)
7. PDRB (1,5)
8. J umlah wisata (1)
9. Ketahanan pangan (1,5)
6. Peningkatan sarana dan
prasarana dasar
14,4 1. Perhubungan dan Komunikasi (1,6)
2. Pendidikan (2)
3. Kesehatan (2)
4. Ekonomi (2)
5. Agama (1,6)
6. Kebudayaan (1)
7. Lingkungan (1)
8. Energi (1,6)
9. Pengairan dan air bersih (1,6)
7. Peningkatan pengelolaan
sumberdaya alam, tata ruang
dan lingkungan hidup
11,2 1. Ketersediaan/transparansi RTRW (2,2)
2. Pengelolaan SDA (2)
3. Luas lahan/DAS kritis (2)
4. Frekuensi bencana banjir dan
kekeringan (2)
5. Kasus pencemaran air, udara, dan tanah
(3)
8. Pemeliharaan dan
pengembangan budaya dan
kehidupan agamis
8,2 1. Ketersediaan dan kualitas sarana dan
prasarana (2)
2. Kerukunan antar umat beragama (1,7)
3. Aktifitas kelembagaan adat/budaya (1,7)
4. Bertumbuh-kembangnya budaya lokal
(2)
5. Perda yang mengatur tercapainya
kehidupan agamis (1)
9. Penguatan jaringan kerjasama
dan promosi
7,8 1. Penyelenggaraan pameran dan promosi
lainnya yang diselenggarakan (2)
2. MOU, dan MOA (1,8)
3. Terbangunnya E-government (2)
4. Keserasian dan keterpaduan
pembangunan antar wilayah (2)
Total 100





Tabel 14
Cara Perhitungan Evaluasi Kinerja

Prioritas I ndikator Bobot
(%)
Nilai Total
15
1. Kecukupan dan pendayagunaan
Perda 2

2. Sistem, Prosedur dan kualitas
pelayanan Publik 4

3. Pelaksanaan SOTK dan
tatalaksana sesuai TUPOKS I 2

4. Disiplin dan profesionalisme
aparatur pemerintah 3

1. Penataan sitem
kepemerintahan dan
peningkatan aparatur
pemerintahan
5. Pembangunan Pusat
Pemerintahan Propinsi 4

8
1. J umlah gangguan pertahanan
keamanan dan kriminalitas 3

2. J umlah pelanggaran terhadap
hukum dan Perda 3

2. Pemeliharaan dan
peningkatan pertahanan
keamanan, ketertiban,
pemantapan sistem
politik dan penegakan
supremasi hukum.
3. Kesadaran demokrasi dan politik 2
15
1. Indeks mutu hidup 4
2. Indeks pendidikan 3
3. Angka kematian Bayi 2
4. Serangan penyakit menular dan
berbahaya 3

3. Peningkatan kualitas
SDM, kemandirian
masyarakat dan
pemasyarakatan iptek
5. pemasyarakatan iptek 3
8
1. Kualitas forum / kelompok
masyarakat / paguyuban 2

2. Kerusuhan masa 2
3. Kemitraan sinergis antar
stakeholders 2

4. Penggalangan
persatuan, partisipasi
dan kemitraan sinergi
stakeholders
4. Peningkatan partisipasi
masyarakat dalam
pembangunan 2

15
1. J umlah pengangguran 2
2. J umlah penduduk miskin 2
3. Indeks daya beli masyarakat 2
4. Laju pertumbuhan ekonomi
(LPE) 1,5

5. Pendapatan Asli Daerah 1,5
6. Investasi 1,5
7. PDRB 1,5
8. J umlah wisata 1,5
5. Percepatan pemulihan
krisis dan pembangunan
ekonomi
9. Ketahanan pangan 1,5
15
1. Perhubungan dan Komunikasi 2
2. Pendidikan 2
3. Kesehatan 2
4. Ekonomi 2
5. Agama 2
6. Kebudayaan 1
7. Lingkungan 1
6. Peningkatan sarana dan
prasarana dasar

8. Energi 1,5
Prioritas I ndikator Bobot
(%)
Nilai Total
9. Pengairan dan air bersih 1,5
12
1. Ketersediaan/transparansi
RTRW 2

2. Pengelolaan SDA 3
3. Luas lahan/DAS kritis 2
4. Frekuensi bencana banjir dan
kekeringan 2

7. Peningkatan
pengelolaan
sumberdaya alam, tata
ruang dan lingkungan
hidup
5. Kasus pencemaran air, udara,
dan tanah 3

7
1. Ketersediaan dan kualitas sarana
dan prasarana 1,5

2. Kerukunan antar umat
beragama 1,5

3. Aktifitas kelembagaan
adat/budaya 1,5

4. Bertumbuh-kembangnya budaya
lokal 1,5

8. Pemeliharaan dan
pengembangan budaya
dan kehidupan agamis
5. Perda yang mengatur
tercapainya kehidupan agamis 1

7
1. Penyelenggaraan pameran dan
promosi lainnya yang
diselenggarakan 2

2. MOU, dan MOA 2
3. Terbangunnya E-government 1,5
9. Penguatan jaringan
kerjasama dan promosi
4. Keserasian dan keterpaduan
pembangunan antar wilayah 1,5

100 Total
100

BAB IX
PENUTUP

Rencana Strategis Daerah (Renstra) Propinsi Banten ini disusun untuk dijadikan
acuan dan dapat diimplementasikan oleh seluruh pelaku pembangunan di
Propinsi Banten. Renstra Propinsi Banten 2002-2006 ini adalah dokumen
perencanaan taktis-strategis sebagai arah pembangunan di daerah agar sesuai
dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat serta potensi dan kapasitas yang
dimiliki dalam kurun waktu 5 tahun. Renstra ini dapat pula dijadikan indikator
untuk mengukur seberapa jauh program pembangunan yang direncanakan telah
berhasil dicapai.

Renstra ini disusun berdasarkan kajian akademis dan pertimbangan politis dan
teknis serta harapan seluruh stakeholders Propinsi Banten. Kegiatan penyusunan
dokumen perencanaan ini merupakan langkah awal dari kegiatan pembangunan
di Propinsi Banten. Keberhasilan dari rencana pembangunan yang disusun,
sangat tergantung kepada komitmen dan konsistensi bersama seluruh komponen
pelaku pembangunan (stakeholders) agar bersama-sama, bahu-membahu
mewujudkan cita-cita pembangunan daerah, yakni membawa masyarakat
Propinsi Banten kepada kondisi yang lebih baik dalam menepak ke tahap
pembangunan jangka menengah dan panjang.

Oleh karena itu semangat kebersamaan, persatuan, kesatuan, dan kerjasama
atau kemitraan sinergis seluruh pelaku pembangunan sangat menentukan
keberhasilan pencapaian cita-cita bersama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful