Manifestsi klinik Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigna Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma prostatisme.

Syndroma prostatisme dibagi menjadi dua yaitu : 1. Gejala obstruktif a) Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan uretra prostatika b) Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam mempertahankam tekanan intravesika sampai berahirnya miksi. c) Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing d) Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussoe memerlukan waktu untuk melampaui tekanan uretra. e) Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas. 2. Gejala iritasi a) Urgncy yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan b) Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (nokturia) dan pada siang hari. c) Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing d) Hematuria

Diagnosa 1 : perubahan pola eliminasi: resistensi urine berhubungan dengan obstrusksi ditandai dengan klien tidak bisa bak sejak 12 jam yang lalu, urine keluar dengan menetes dan kadang terjadi hematuria apabila dipaksa mengedan, klien mengatakan pencaran urine sewaktu miksi tidak keluar urine, saat dipalpasi teraba keras di suprapubik, uji colok dubur (+++) 1 Peubahan pola eliminasi Tujuan jangka panjang : Pola eliminasi urine mengalami perbaikan setelah 6X24 jam intervensi Tujuan jangka pendek : Setelah 3X24 jam intervensi mengalami perbaikan pola eliminasi Intervensi : 1. lakukan perawatan kateter 2. cegah obstruksi dengan - hindari lipatan -hindari lengkungan pada kateter 3. observasi kelancaran cairan urin yang keluar dari kateter 4. berikan dorongan kepada klien untuk mr=engambil posisis Rasional : 1. untuk mempertahankan posisi kateter 2. untuk menjamin kelancaran urin 3. dengan mengobservasi klancaran urin berguna untuk mengobservasi ada atau tidaknya obstruksi dan dapat

tidak terjadi tandatanda infeksi normal (duduk untuk berkemih) menentukan tindakan yang tepat 4. klien dapat beradaptasi dengan terpasangnya kateter.urin dengan kriteria : 1. warna urin jernih 3. 2. posisi normal memberikan kondisi rileks yang kondusif untuk berkemih .