BAB II Tinjauan Farmakologi 2.

1 Khasiat Empirik dan Hasil Penelitian Piper betle merupakan tanaman yang dikenal penggunaannya sebagai etnomedisin di India, Indonesia, dan negara lain seperti Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Myanmar, Singapura. Penggunaan daun sirih selma berabad-abad untuk sifat kuratifnya seperti mengurangi bau badan dan bau mulut, masalah paru-paru dan tenggorokan, mencegah dan menyembuhkan batuk. Menurunkan sekresi yang tidak dinginkan di vagina , bau yang tidak sedap, dan mencegah gatal yang disebabkan oleh jamur dan internal/eksternal bakteri. Pada pengobatan tradisional china daun sirih banyak digunakn untuk berbagai macam pengobatan penyakit dan dilklaim memiliki aktivitas antioksidan, detoksifikasi, dam amtimutasi. Beberapa suku di India masih menggunakan daun sirih untuk pengobatan dan perlindungan dari berbagai penyakit dan beberapa klaim penggunaan daun sirih sudah divalidasi bebrapa waktu ini. Penggunaan daun sirih termasuk mengunyah,oral dan aplikasi secara topikal (Kumar et al, CURRENT SCIENCE, VOL. 99, NO. 7, 10 OCTOBER 2010) Bagian sirih yang sering digunakan untuk pengobatan adalah daun, akar, dan terkadang buah juga digunakan. Dalam pengobatan tradisional, sirih digunakan untuk batuk, sebagai ekspektoran, difteri dan antiinflamasi. Pada pengobatan india, sirih digunakan untuk mengobati asma, bronkhitis, dyspepsia, rheumatis, leprosi, kehausan yang parah, kecanduan alkohol, sakit gigi, impotensi dan syncopes impotency ( PDR for Herbal Medicine, hal.74). Sirih mengandung minyak atsiri sebesar 0,8-1,8% dengan komponen utama –chavibetol (betel phenol), eugenol, allypyrocathecol (hydroxychaviol, allylpyrocatechol-mono dan diacetate, anethole, chavibetolacetate, chavicol, methyl eugenol, safrol. Selain itu juga sirih mengandung neolignans:termasuk crotepoxide, piperbetol, piperol ( PDR for Herbal Medicine, hal.74). Pada penelitian sebelumnya diketahui ekstrak daun sirih memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Aktivitas antibakteri ekstrak daun sirih ( Piper betle, L.) kemungkinan berasal dari kemampuan komponen kimianya. Dalam ekstrak daun sirih terkandung senyawa-senyawa fenolik seperti chavicol, chavibetol, carvacrol, eugenol dan allilpyrocatechol.Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak atsiri daun sirih memiliki aktivitas terhadap Salmonella typhi. Minyak atsiri diperoleh dengan metode destilasi uap air, selanjutnya dilakukan uji aktivitas antibakteri minyak daun sirih ( Piper betle, L.) terhadap Salmonella typhi dengan metode difusi padat. Untuk mengetahui KHM digunakan metode dilusi cair. Pada penelitian ini juga dilakukan analisis kandungan senyawa minyak atsiri daun sirih (Piper betle, L.) menggunakan KG-SM. Dari uji difusi padat diketahui bahwa minyak atsiri daun sirih memiliki aktivitas terhadap Salmonella typhi dan nilai KHM yang diperoleh adalah 1,25 %. Dan dari hasil KG-SM diperoleh lima senyawa dengan kadar besar yaitu, iso – eugenol, 4 – allylphenol, acetyleugenol, alpha – salinene, chavicol (Charismawan, hal 1).

2.2 Uji Aktivitas Mikroorganisme yang diduga terlibat dengan jerawat adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Propionibacterium acnes. Staphylococcus merupakan

Penyediaan bakteri uji Bakteri uji yang diperoleh ditanam pada permukaan agar miring dalam tabung reaksi steril dan diinkubasikan pada suhu 37°C selama 18-24 jam. Propionibacterium acnes merupakan bakteri anaerob yang memproduksi lipase. Penyediaan suspensi bakteri uji Bakteri S. Kemudian disterilkan dalam otoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa minyak atsiri sirih sangat efektif sebagai antimikroba (Caburian & Osi. protease. Empat sampai lima koloni S. Bacillus subtilis. 1999). estragol dan terpinen (Sastroamidjojo.7: 13. kavibekol. Pseudomonas aeruginosa dan Eschericia coli 20.5: 11.. albicans dan T. kavikol.bakteri aerob.aureus dibiakkan terlebih dahulu pada media NA dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. 3. 5. 2010).mentagrophytes pada konsentrasi 5%. Konsentrasi hambat minimum dari minyak atsiri ditentukan dengan metode dilusi dengan mengunakan “two fold dilution” untuk dilusi seri 1. Cineol methil euganol. 2007 hal 1).aureus hasil biakan diambil dengan .% dan 10% bisa menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Dengan tes duncan diketahui bahwa efek antibakteri yang tertinggi terhadap Staphylococcus aureus diberikan oleh ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 10% (Hermawan et al. dengan demikian daerah pertumbuhannya dalam unit pilosebasea terdapat pada bagian permukaan. Candida albicans dan Trichophyton mentagrophytes dengan konsentrasi hambat minimum masing-masing: 125 μg/ml. 12. Daun sirih dapat digunakan sebagai antibakteri karena mengandung 4.0.2% minyak atsiri yang sebagian besar terdiri dari betephenol yang merupakan isomer Euganol allypyrocatechine. lalu dipanaskan sampai larut sempurna. 2. Mikroorganisme tidak dapat masuk ke dalam kondisi anaerob dari infrainfudibulum di mana reaksi peradangan terjadi pada jerawat. Penelitian yang dilakukan oleh Caburian & Osi (2010) menunjukkan aktivitas antibakteri dan antifungi dari minyak atsiri sirih terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hambatan yang paling besar diberikan oleh dosis optimum 2. Caryophyllen (siskuiterpen). Potensi medium terhadap terhadap Candida albicans (diameter hambatan > 15 mm) dan palinng lemah (diameter 10-15 mm) terhadap Micrococcusluteus.60 μg/ml.5µl/cakram dimana memperlihatkan hambatan pertumbuhan mikroba uji Micrococcusluteus. 2010 in E-International Scientific Research Journal ISSN: 2094-1749 Volume: 2 Issue: 1.7 mm.. Minyak atsiri Piper betle memberikan hambatan terhadap bakteri gram positif Micrococcusluteus dan Bacillus subtilis dan juga terhadap bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa dan Eschericia coli. dan enzim ekstraselular lainnya dan memberikan kontribusi langsung terhadap keberadaan jerawat (Burkhart et al. Streptococcus pyogenes. Pseudomonas aeruginosa dan Eschericia coli. Minyak Piper betle memberikan hambatan pertumbuhan terhadap jamur uji Candida albicans dan trichophyton mentagrophytes (diameter hambatan > 20 mm). 250μg/ml dan 195μg/ml. Daya hambat krim tersebut lebih kecil dibandingkan dengan daya hambat oleh ekstrak etil asetat dan minyak atsiri. Penyediaan media perbenihan Media ini dibuat dengan mensuspensikan 28 g nutrient agar dalam 1 liter air suling. Penelitian Hermawan (2010) menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih pada konsentrasi 2.5%. Bacillus subtilis. Penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningtyas dkk (2008) menunjukkan bahwa krim ekstrak etil asetat dan krim minyak atsiri masih dapat menghambat pertumbuhan C. 15. 1997).

Bacillus subtilis. Peubah yang diamati pada penelitian ini yaitu terbentuknya daerah hambatan pertumbuhan bakteri yang ada di sekeliling kertas disk berupa ukuran diameter daerah jernih. Potensi medium terhadap terhadap Candida albicans (diameter hambatan > 15 mm) dan palinng lemah (diameter 10-15 mm) terhadap Micrococcusluteus. 5. Setelah itu diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37°C dalam inkubator. dibuat beberapa lubang dengan menggunakan perforator sesuai daerah yang telah ditandai.ose steril dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisi lima mililiter PBS . maka terbentuklah kekeruhan yang setara 8 dengan standart Mc Farland 1 dengan konsentrasi bakteri 3 x 10 / ml. Kingscote. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan mistar palstik. 2. Hambatan yang paling besar diberikan oleh dosis optimum 2. 1989.80mg/ml (WHO Monograph). 1990). Pembuatan emulsi minyak atsiri daun sirih Emulsi minyak atsiri daun sirih berbagai konsentrasi dibuat dengan mengemulsikan minyak atsiri daun sirih. 1983.8 mg/ml berdasarkan literatur yang menyebutkan bahwa Eugenol menghambat pertumbuhan in vitro Staphylococcus aureus. Emulsi tersebut diaduk menggunakan homogenizer hingga homogen. lalu ditambahkan ke dalam cawan tersebut media agar sebanyak 20 ml dan digoyang perlahan agar suspensi bakteri dan media tercampur homogen sambil dibiarkan memadat. 12. Pseudomonas aeruginosa dan Eschericia coli 20.Antimicrob.7: 13. Carter dan Cole. dengan MIC of 0. Propionibacterium acnes and Pseudomonas aeruginosa. 53 no. 4.3 Dosis dan Alasan Pemilihan Minyak atsiri Piper betle memberikan hambatan terhadap bakteri gram positif Micrococcusluteus dan Bacillus subtilis dan juga terhadap bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa dan Eschericia coli. Suspensi bakteri sebanyak 20 μl dimasukkan ke dalam cawan. tween 80 dan air suling dalam beaker glass. Setelah media agar yang berisi suspensi bakteri tersebut memadat. Pengujian aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih Pengujian aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih berbagai konsentrasi dilakukan menggunakan metode difusi agar dengan cara perforasi.0.05. 0.5-500 μg/ml) dengan konsentrasi bakterisida minimum 2x lebih besar dibandingkan konsentrasi inhibsinya (Sharma et al . Pseudomonas aeruginosa dan Eschericia coli. Diameter hambat yang terbentuk kemudian diamati. Interpretasi daerah hambatan pertumbuhan bakteri mengacu pada standart umum obat asal tanaman yakni diameter daya hambat berukuran 12 – 24 mm (Departemen Kesehatan. Minyak Piper betle memberikan hambatan pertumbuhan terhadap jamur uji Candida albicans dan trichophyton mentagrophytes (diameter hambatan > 20 mm).5µl/cakram dimana memperlihatkan hambatan pertumbuhan mikroba uji Micrococcusluteus. 1 216-222).7 mm. 1988) Pemilihan dosis 0.05 dan 0.5: 11. Di setiap lubang diletakkan emulsi minyak atsiri daun sirih dalam berbagai konsentrasi. Inkubasi pada suhu 37°C selama dua jam. American society for micobiology.Menghasilkan efek inhibisi pada semua patogen rongga mulut yang diuji (MIC 62. Jumlah bakteri 5 8 telah memenuhi syarat untuk uji kepekaan yaitu : 10 – 10 / ml (Biesher. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Caburian & Osi (2010) aktivitas antibakteri ditunjukkan dengan konsentrasi hambat minimum 125 μg/m minyak atsiri daun sirih terhadap . Hidroksikavikol yang diisolasi dari eksrak kloroform ekstrak air piper betle menunjukkan aktivitas melawan patogen rongga mulut.January 2009 vol. Agents Chemother. Bacillus subtilis.

03 ppm. MSDS minyak atsiri daun sirih Inhalasi Inhalasi uap konsentrasi tinggi bisa menyebabkan iritasi mata. pusing..6 Peringatan dan Perhatian Hasil Penelitian Parwata dkk (2010) menunjukkan toksisitas minyak atsiri daun sirih dengan LC50 = 309.5 g/KGBB.. 2011 pada JURNAL KIMIA 5 (1). dan sakit kepala. Dosis yang digunakan adalah 125 μg/ml pemilihan dosis ini berdasarkan konsentrasi hambat minimum minyak atsiri daun sirih terhadap Staphylococcus aureus. (Parwata et al. 2. Jurnal Ilmiah Farmasi Volume 4 Nomor 2Tahun 2007) 2. 2001). berdasarkan Loomis criteria (1978). Emulgel dapat diterima dengan baik oleh pengguna atau konsumen (Seang et al. Bentuk sediaannya adalah emulgel anti jerawat untuk mempermudah pemakaian. Jadi bisa ditetapkan bahwa quasi LD50 lebih dari 7.bakteri Staphylococcus aureus (Caburian & Osi. Kontak yang lama atau berulang akan menyebabkan kemerahan. hidung. 2010 in E-International Scientific Research Journal ISSN: 2094-1749 Volume: 2 Issue: 1. Bisa menyebabkan iritasi mata Toksisitas yang rendah menyebabkan iritasi lambung dan usus yang menyebabkan mual dan muntah. efek merugikan pada kulit bisa dicegah dengan perawatan dan higiene personal. Bisa menyebkan alergi kulit. ebih mudah dan meningkatkan estetika dari sediaan. dan tidak menimbulkan kematian pada hewan percobaan. Bentuk sediaan emulgel sesuai untuk zat-zat antimikroba. iritasi. Toksisitas tidak diketahui. Bisa memperparah dermatitis. hindari penggunaan selama kehamilan. 2.. antijamur dan antivirus.5 Rute Pemberian Pemberian secara topikal.74 kali dosis terapi tidak menimbulkan efek toksik. Potensi toksisitas akit dari tablet efervescent ekstrak sirih tidak termasuk kategori toksik (Hayati et al.mual. 2010).4 Uji Toksisitas Akut dan Subkronik Hasil Penelitian Parwata dkk (2011) menunjukkan toksisitas minyak atsiri daun sirih dengan LC50 = 309. psoriasis dan kondisi penyakit kulit lainnya.38 g/kg BB sampai 7.5 g. dermatitis. tenggorokan.kgBB atau sekitar 19. 03 ppm. JANUARI 2011 : 88-93) Uji toksisitas akut yang dilakukan terhadap tablet effervescent ekstrak daun sirih dengan memberikan tablek effervescent yang mengandung ekstrak daun sirih dari 0. Tidak ada komponen minyak atsirinya yang Kontak dengan kulit Kontak dengan mata Pencernaan Medical Conditions Aggravated: berkaitan memperburuk kondisi medis Dengan cahaya/by Exposure: Toksisitas kronik/Chronic Toxicity: Data karsinogenik/Carcinogenicity .

Data: Reproductive Toxicity: Acute Toxicity Values: (MSDS: Betel Leaf Essential Oil. Tidak ada data tersedia . hal 4) tredaftar sebagai karsinogen. Efek merugikan terhadap reproduksi tidak diketahui.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful