P. 1
TORCH Pada Kehamilan

TORCH Pada Kehamilan

|Views: 47|Likes:
Published by Herman Wijayantoro

More info:

Published by: Herman Wijayantoro on Oct 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2014

pdf

text

original

PENATALAKSANAAN INFEKSI TORCH DALAM KEHAMILAN

MAKALAH ILMIAH

others. kebutaan dan gangguan neurologis atau perilaku anak. Patogen-patogen ini dikelompokkan menjadi satu kelompok yang dikenal dengan akronim TORCH: toksoplasmosis. Trypanosoma cruzi Other Pada makalah ini akan dibahas mengenai infeksi TORCH pada kehamilan menyangkut diagnosis. pencegahan dan penatalaksanaannya. Dimana infeksi kongenital dari patogen-patogen ini dapat menyebabkan ketulian.BAB I. 2 . rubella. PENDAHULUAN Selama kehamilannya wanita akan menghadapi ancaman berbagai macam patogen. Diharapkan melalui makalah ini kita dapat mengerti lebih jauh penatalaksanaan infeksi ini sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kita. Patogen yang potensial dapat menyebabkan infeksi sistem susunan saraf pusat intrauterin Virus Cytomegalovirus Herpes simplex virus type 2 Varicella zoster virus Lymphocytic choriomeningitis virus Western equine encephalitis virus Protozoa Plasmodium sp. cytomegalovirus dan herpes. mengurangi morbiditas dan mortalitas perinatal serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilahirkan.1 Tabel 1. dan beberapa dari patogen ini memiliki kecenderungan untuk menginfeksi plasenta dan dapat merusak pertumbuhan janin.

tetapi secara keseluruhan mencapai 50%.1. tetapi seringkali infeksi terjadi subklinis.BAB II. hepatosplenomegali. 1.3 Gejala dan Tanda Gejala yang dapat timbul pada toksoplasmosis adalah fatigue. Infeksi pada kehamilan dapat menyebabkan abortus atau janin hidup dengan kelainan tertentu. Pada kedua kelompok biasanya terjadi korioretinitis. 2 Secara keseluruhan. lewat kontak dengan sel-sel oosit dalam feses kucing/binatang lain yang terinfeksi atau diperoleh secara kongenital lewat transfer transplasental. American College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan skrining serologis prekonsepsional (1993). Gejala defisit neurologis seperti kejang-kejang. Salah satu penelitian mendapatkan data bahwa 1/3 wanita Amerika Utara telah memperoleh antibodi yang bersifat protektif sebelum kehamilan. nyeri otot dan kadangkadang limfadenopati. Komite 3 .2 Skrining Sampai saat ini.2 Imunitas ibu memberikan efek perlindungan terhadap infeksi intrauteri. ikterus dan anemia. di seluruh dunia. retardasi mental dan hidrosefalus atau mikrosefalus. oleh karena itu toksoplasmosis kongenital hanya dapat terjadi apabila infeksi terjadi pada saat kehamilan. Sebagian besar baru akan memperlihatkan gejala kemudian hari. Resiko infeksi janin meningkat sesuai usia kehamilan. skrining serologis untuk toksoplasmosis prenatal tidak bisa dilakukan karena kesulitan teknis dan menginterpretasikan hasil tes. untungnya pada awal kehamilan infeksi lebih jarang terjadi. TOXOPLASMA Epidemiologi Toxoplasma gondii adalah suatu protozoa obligat intraselular yang menginfeksi burung dan beberapa jenis mamalia terutama kucing. Gejala yang nampak adalah berat lahir rendah. kurang dari ¼ bayi yang mengalami toksoplasmosis kongenital menampakkan gejala klinis pada saat lahir. kalsifikasi intrakranial. Virulensi infeksi lebih besar pada kehamilan dini. Toksoplasmosis akut diperkirakan terjadi dalam 1-5 dari 1000 kehamilan .1 Infeksi toksoplasma gondii pada manusia dapat terjadi apabila mengkonsumsi patogen ini dalam bentuk kista (bradizoit) dalam daging yang telah terinfeksi dan tak dimasak dengan baik. dan angka ini lebih tinggi pada mereka yang memeiliki kucing sebagai binatang peliharaan. Oookista dalam feses kucing dapat bertahan hingga bertahun-tahun.

maka wanita tersebut tidak memiliki resiko infeksi janin kongenital. Juga dapat dikerjakan untuk mendeteksi infeksi pada kehamilan kurang dari 20 minggu. Konfirmasi yang paling akurat akan adanya infeksi akut adalah peningkatan titer IgG dalam dua sampel yang berbeda. (1992) Tabel 2. Membedakan kedua hal ini adalah sulit. Gambaran Klinis bayi baru lahir yang terbukti mengalami infeksi intrauteri cytomegalovirus. gondiib 20% 15% 40% 10% 50% 50% 65% — 30% 75% 15% 5% 10% — Rubellac 35% 25% — 60% 35% 35% 15% 60% NDd 10% ND ND ND 70% Jika antibodi IgG telah terdapat sebelum kehamilan. Apabila antibodi terdapat dalam titer yang rendah.multidisiplin dari Royal College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan untuk menolak skrining prenatal universal di Inggris. toxoplasma gondii atau rubella. Titer di atas 1/512. Akan tetapi. Teknik tersebut memungkinkan diagnosis prenatal diperoleh dalam sehari dengan melakukan pemeriksaan terhadap cairan ketuban. hal tsb dapat saja merupakan IgM dari infeksi yang baru saja terjadi walaupun IgM dapat bertahan sampai bertahun-tahun3. sangat mungkin menunjukkan infeksi akut. hal ini mungkin menunjukkan imunitas yang telah didapat sebelumnya. Pada sebagian besar kasus tes serologis tidak dilakukan sampai si wanita mengalami kehamilan.2 Penatalaksanaan 4 . Penelitian menunjukkan peningkatan kejadian mikrosefali. ketulian dan retardasi mental pada wanita dengan titer 1/256 atau lebih. Approximate prevalence Feature Petechiae Microcephaly Hydrocephalus IUGR Hepatomegaly Splenomegaly Jaundice at birth Sensorineural hearing loss Abnormal tone Chorioretinitis Seizures Death Pneumonitis Congenital heart disease Cytomegalovirusa 50% 50% 5% 50% 45% 45% 40% 40% 25% 10% 10% 5% 5% — T. Telah dikembangkan teknik PCR dengan spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi untuk mendeteksi toksoplasmosis.

Infeksi pada ibu didiagnosa denganantibodi IgM spesifik toksoplasma. suatu antibiotik makrolid yang dipergunakan secara luas di Eropa dapat menurunkan insidens infeksi pada janin. pirimetamin dan baik sulfadiazin atau sulfadoksin ditambahkan pada rejimen spiramycin.4 Foulon dkk (1990) melaporkan insidens toksoplasmosis kongenital 12% pada 50 wanita Belgia yang terinfeksi sebelum usia kehamilan 20 minggu. Semua wanita dengan dugaan infeksi diterapi dengan spiramycin 3gr/hari selama kehamilan. 5 5 .Untuk wanita yang diduga mengalami infeksi aktif pada saat kehamilan. Mereka menyimpulkan bahwa skrining serologis dengan teknik diagnostik invasif terhadap janin adalah aman. Untuk wanitawanita ini. terapi yang direkomendasikan oleh Wong dan Remington 1994 adalah menggunakan antibiotik spiramycin. Terdapat bukti bahwa Spiramycin. Terapi juga dapat diberikan dengan pirimetamin ditambah sulfadiazin Daffos dkk (1988) melakukan pemeriksaan terhadap cairan ketuban dan darah janin dari 746 wanita Perancis dengan infeksi aktif sebelum usia kehamilan 25 minggu. dan 39 dari jumlah 42 bayi yang terinfeksi ini didiagnosis dengan menemukan IgM spesifik antibodi dengan kordosintesis. Hanya 6 persen dari janin yang dilahirkan terbukti mengidap infeksi.

2 Pencegahan Untuk mengeradikasi penyakit ini secara menyeluruh. Vaksinasi terhadap wanita yang beresiko tertular namun belum memiliki kekebalan dengan serologi premarital 5. Tidak terdapatnya antibodi terhadap rubella menandakan suatu kondisi non-imun/belum memiliki kekebalan. walaupun ada peneliti lain yang melaporkan infeksi pada janin yang terjadi pada 5 ibu yang seropositif. atau campak jerman. 4. Tidak hanya karena gambaran klinisnya serupa dengan penyakit lain. namun juga sekitar ¼ dari infeksi rubella terjadi subklinis walaupun telah terjadi viremia dan infeksi terhadap embryo/janin. suatu penyakit yang dianggap ringan di luar kehamilan. 6 . Jika antibodi ibu sudah ada pada saat pajanan terhadap rubella atau sebelumnya. terutama wanita dalam usia reproduksi: 1. telah dibuktikan dapat menyebabkan keguguran dan kelainan kongenital yang berat. maka sangat tidak mungkin bahwa si janin akan terinfeksi. Imunitas terhadap rubella dapat diperoleh/ditimbulkan/dipicu oleh vaksin atau oleh infeksi rubella subklinis yang dapat terjadi pada saat wabah. Vaksinasi terhadap wanita yang beresiko tertular sebagai bagian dari pelayanan medis dan ginekologis. RUBELLA Rubella. Sedangkan adanya antibodi menandakan respons imun terhadap viremia rubella.BAB III. Identifikasi dan vaksinasi terhadap wanita non-imunsegera setelah melahirkan atau abortus. Pendidikan terhadap pekerja kesehatan dan masyarakat akan bahaya dari infeksi rubella 2. termasuk pelayanan kesehatan di sekolah. berikut ini rekomendasi untuk memberikan kekebalan bagi populasi. Vaksinasi terhadap seluruh pekerja kesehatan yang memiliki kemungkinan kontak terhadap penderita rubella atau yang memiliki kontak dengan wanita hamil. Disarankan untuk menghindari vaksinasi rubella beberapa waktu sebelum atau pada saat kehamilan karena menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan Diagnosis Diagnosa rubella sering sulit ditegakkan. 3. Reinfeksi asimtomatik dalam kehamilan telah dilaporkan tidak berpengaruh pada janin.

semua janin dengan infeksi rubella akan memiliki kelainan kongenital. Sindroma rubella luas (extended rubella syndrome) yang disertai panencephalitis dan diabetes type I. Diperkirakan sebanyak 1/3 janin yang asimtomatik pada saat lahir akan memperlihatkan kelainan perkembangan ini. Pasien non-imun yang mengalami viremia rubella akan memperlihatkan puncak dari titer antibodi 1-2 minggu setelah timbul ruam. kemungkinan infeksi janin menyebabkan kelainan kongenital akan makin berkurang. Pada usia 13-14 minggu insidens tersebut menurun menjadi 54% dan pada akhir trimester kedua hanya 25%. Sindroma Rubella Kongenital Rubella merupakan virus teratogenik yang potensial. dapat muncul secara klinis baru pada dekade kedua atau ketiga dari usia kehidupan.2 Virus akan tetap bertahan di dalam darah dalam waktu sekitar satu minggu setelah infeksi.2 7 . Pada 63 janin yang terinfeksi pada usia kehamilan lebih dari 16 minggu. 6 Gambar 2. atau 2-3 minggu setelah viremia. tidak ditemukan kelainan maupun defisit neurologis hingga usia 2 tahun. dan pada tiga yang lain semua menampakkan gejala sindroma rubella kongenital. Miller dkk (1982) melaporkan 80% wanita yang mengalami infeksi rubella dengan timbulnya ruam pada kehamilan kurang dari 12 minggu akan memiliki janin dengan kelainan kongenital.Pada dua pasien ini abortus terapeutik dilakukan. Hwa dkk (1994) melaporkan insidens infeksi janin yang lebih rendah pada 103 janin dimana ibunya mengalami infeksi rubella sebelum kehamilan 29 minggu. Pada usia kehamilan kurang dari 11 minggu. namun hanya sebanyak 35% janin yang akan mengalami kecacatan apabila terinfeksi pada usia 13-16 minggu. Proporsi fetus dengan infeksi rubella tanpa stigmata dan fetus dengan sindroma rubella kongenital Dengan bertambahnya usia kehamilan.

termasuk meningoensefalitis 5. glaukoma.1.2 8 . Lesi pada mata. Hepatitis. Tuli sensorineural 4. Kelainan kromosom Janin yang lahir dengan rubella kongenital dapat menularkan virus sampai beberapa bulan oleh karena itu dapat menjadi berbahaya bagi bayi lainnya maupun orang dewasa yang belum memiliki kekebalan. mikroftalmia dan bermacam kelainan lain. 2. 3. Pertumbuhan janin terhambat 6.Dapat disimpulkan bahwa manifestasi klinis dari infeksi rubella kongenital berhubungan dengan saat infeksi ibu terjadi dan perkembangan organ janin. Perubahan massa penulangan 10. Sindroma rubella kongenital mencakup satu atau lebih gejala berikut ini: 1. Trombositopenia dan anemia 7. termasuk katarak. Defek sistem susunan saraf pusat. septal defek. dan stenosis arteri pulmoner. Pneumonitis interstisial difusa kronik 9. Penyakit jantung. termasuk patent ductus arteriosus. hepatosplenomegali dan ikterik 8.

Ia merupakan penyebab tersering infeksi perinatal. sedangkan pada golongan sosioekonomi lebih tinggi hanya 50% yang seropositif. imunitas maternal terhadap sitomegalovirus tidak mencegah timbulnya rekurensi/reaktivasi. secara vertikal dari ibu ke janin/bayi dan melalui cara hubungan seksual. kebutaan. dan tuli. Resiko terjadinya serokonversi selama kehamilan adalah 1-4%. Kondisi-kondisi imunosupresi. Imunitas yang diperoleh dari infeksi sebelumnya terapat pada 85% wanita sosioekonomi lebih rendah.5-2% neonatus. Seperti golongan herpesvirus lainnya. akan meningkatkan kecenderungan untuk infeksi yang serius. dengan insidens mencapai 0. yang termasuk golongan DNA-herpesvirus. virus menjadi bersifat laten.1 Laporan Yow dan Demmler (1992) selama 20 tahun dimana 800000 janin mengalami infeksi. merupakan virus yang terdapat di mana-mana dan sering menginfeksi manusia. Simtomatik. baik terjadi secara natural maupun karena obat-obatan. Sekitar 120000 janin lain yang terinfeksi namun asimtomatik. kemudian terjadi reaktivasi periodik dengan pelepasan virus-virus walaupun terdapat antibodi dalam serum. dimana pada 40% kasus akan ditularkan ke janin lewat plasenta. dan sebagian besar yang bertahan hidup memiliki kecacatan berat seperti retardasi mental. Virus ini ditularkan secara horizontal dengan droplet-droplet di udara dan kontak lewat saliva dan urin. CYTOMEGALOVIRUS Cytomegalovirus.1. juga tidak mencegah terjadinya infeksi 9 . seringkali menyebabkan morbiditas yang berat7. akan mengalami kelainan neurologis dikemudian hari. Infeksi transplasental lebih sering terjadi pada paruh pertama kehamilan. terdapat 50000 janin yang dilahirkan dengan kelainan. limfadenopati dan poliarthritis.7 Infeksi Maternal Tidak terdapat bukti bahwa kehamilan akan meningkatkan resiko infeksi atau memperberat gejala kliis infeksi sitomegalovirus. anak-anak mendapatkan infeksi satu dengan yang lain dan juga menularkan orang tuanya. dan seperti infeksi herpesvirus jenis lain.2 Setelah terjadi infeksi primer. Pusat-pusat penitipan anak biasanya merupakan tempat penularan virus yang sering terjadi. faringitis. namun sekitar 15% akan mengalami demam. Kebanyakan meninggal kemudian. Kebanyakan infeksi adalah asimtomatik. Infeksi primer.BAB IV. Pada pasien-pasien ini janin memiliki resiko tinggi mendapatkan sequelae dari infeksi ini. Antibodi humoral memang diproduksi oleh tubuh. namun untuk kesembuhan nampaknya imunitas selular merupakan mekanisme utama untuk terjadinya kesembuhan. Biasanya pada usia 2-3 tahun.

merupakan suatu sindroma dengan gejala-gejala. hepatosplenomegali. Untungnya. Gambar 3. Perlman dan Argyle (1992) melaporkan gejala neurologis lebih berat apabila bayi lahir preterm. hanya 10% yang menunjukkan gejala-gejala sindroma di atas. dimana lebih sering tampak pada wanita yang mengalami infeksi primer saat paruh pertama kehamilan. defisit sensorineural. maka mayoritas neonatus yang terinfeksi secara kongenital adalah dari golongan ini. anemia hemolitik dan trombositopenik purpura. infeksi kongenital yang terjadi dari rekurensi infeksi lebih jarang menyebabkan sequelae daripada yang terjadi dari infeksi primer. kalsifikasi intrakranial. Karakteristik infeksi cytomegalovirus dalam kehamilan Infeksi Kongenital Infeksi cytomegalovirus kongenital. Karena kebanyakan infeksi pada saat kehamilan adalah rekurensi. retardasi mental dan motorik. 10 . ikterik.kongenital. khorioretinitis. Maka dianjurkan untuk mencurigai adanya infeksi cytomegalovirus apabila bayi preterm menunjukkan gejala-gejala neurologis. mikrosefali. cytomegalic inclusion disease. bayi berat lahir rendah. Dari sekitar 40000 janin yang dilahirkan di Amerika Serikat yang terinfeksi secara kongenital.

Terapi prenatal dengan spiramycin atau sulfadiazin-pirimetamin. Sekitar 20% bayi dari kelompok infeksi primer akan menampilkan infeksi simtomatik pada saat dilahirkan. Skrining serologis saat kehamilan memiliki kegunaan yang terbatas karena (1) saat ini tidak dapat diprediksi secara akurat adanya sequelae dari infeksi primer. Ekskresi cytomegalovirus ditemukan pada 10% wanita hamil. sequelae timbul pada 25% dari kelompok infeksi primer dan 8% dari kelompok reinfeksi. Setelah diikuti +5 tahun. Diagnosis Prenatal 11 . melakukan monogami Herpes simplex Mencegah kontak dengan penderita virus Rubella Immunisasi pada saat kanak-kanak Toxoplasma Mencegah kontak dengan kucing dan menghindari gondii mengkonsumsi daging yang tak dimasak dengan baik. mayoritas janin akan berkembang secara normal. Infeksi primer didiagnosis apabila terdapat peningkatan empat kali lipat titer IgG dalam serum periode akut dan konvalesens atau dengan adanya IgM dalam serum. Penatalaksanaan Tidak terdapat terapi yang efektif terhadap infeksi pada ibu. (Demmler 1991. Infeksi rekurens biasanya tidak disertai dengan peningkatan IgM. sedangkan pada kelompok reinfeksi tidak ada yang simtomatik pada saat dilahirkan. Tabel 3. Walaupun dengan tingginya angka infeksi janin pada infeksi primer dalam paruh pertama kehamilan.Fowler dkk (1992) melaporkan hasil jangka panjang dari 197 bayi yang dilahirkan dengan viremia sitomegalovirus kongenital. Hagay 1996) Nilai prediksi dari kultur genitourinaria ibu atau sitologi serviks yang positif dalam menilai infeksi terhadap janin juga minimal. Therapy Ganciclovira Acyclovirb None Sulfadiazine and pyrimethamine Konseling akan luaran kehamilan bergantung pada usia kehamilan pada saat mana infeksi primer berlangsung perlu diberikan kepada pasien dan keluarganya. dan sebagian besar memiliki resiko rendah terhadap infeksi rekurens. (2) tidak terdapat vaksin dan (3) 1-2% dari semua janin akan menularkan cytomegalovirus dan usaha untuk mengidentifikasi dan mengisolasi mereka adalah mahal dan tidak praktis. Strategi pencegahan dan terapi infeksi intrauteri Penyakit Preventif Cytomegaloviru Mencegah kontak dengan anak-anak yang terinfeksi s selama hamil.

Mikrosefali. Lynch dkk (1991) mengevaluasi 12 fetus dengan menggunakan alat ultrasonografi.Pada beberapa kasus. Lebih dari 20 tahun yang lalu. efek dari infeksi janin dapat dideteksi menggunakan sonografi. ventrikulomegali atau kalsifikasi serebral dapat dideteksi. tomografi komputer atau magnetic resonance imaging. infeksi cytomegalovirus pada janin dideteksi dengan kultur cairan amnion. amniosentesis dan kordosintesa dan melaporkan bahwa 12 .

BAB V. Gejala-gejala menyerupai influenza seringkali terjadi. pajanan terhadap partner seksual dengan lesi herpes aktif akan menimbulkan gejala klinis pada sebagian besar kasus. Prevalensi infeksi asimtomatik sebenarnya cukup tinggi. Beberapa adalah ringan atau asimtomatik.2 Infeksi Klinis Gambaran klinis bergantung pada apakah telah terjadi infeksi primer sebelumnya. Lesi vulva seringkali sangat nyeri dan menyebabkan mobilitas terbatas. 2 Infeksi Periode Pertama Infeksi primer seringkali simtomatik. Vesikel-vesikel di vulva dan perineum mudah mengalami trauma dan seringkali berulserasi namun jarang mengalami infeksi sekunder. HERPES SIMPLEX VIRUS Virologi Telah dibedakan dua jenis herpes simplex virus (HSV) berdasarkan perbedaan imunologis maupun klinis. pada suatu survey seroepidemiologis dari 1976 hingga 1980.1. Apabila tidak terdapat antibodi. ensefalitis atau pneumonia dapat terjadi. 20% wanita memiliki antibodi terhadap virus tipe2. HSV tipe-1 merupakan penyebab infeksi non-genital namun terkadang dapat pula menginfeksi traktus genitalia. semua gejala dan tanda akan menghilang. Insidens antibodi terhadap HSV tipe-2 meningkat dengan usia dan bervariasi pada populasi. Kadang-kadang hepatitis. Adenopati ingunial dapat terjadi. Infeksi Rekurens Selama periode laten dimana partikel virus bertahan dalam ganglion nervus. HSV tipe-2 hampis selalu ditemukan pada organ genitalia dan ditularkan sebagian besar melalui hubungan seksual. kemungkinan disebabkan oleh reaksi silang antibodi yang berasal dari infeksi tipe-1 saat kanak-kanak. Periode inkubasi yang khas adalah 3-6 hari diikuti dengan erupsi papular disertai rasa gatal dan sakit diikuti dengan timbulnya lesi vulva dan perineum berupa vesikelvesikel. Retensio urin dapat terjadi karena nyeri pada saat miksi dan karena beberapa saraf sakral terinfeksi. bahkan infeksi orolabial pada virus type-1 akan dapat mempengaruhi gambaran infeksi primer type-2. Dalam 2-4 minggu. reaktivasi sewaktu-waktu dapat terjadi disebabkan karena stimulus-stimulus yang sampai saat ini belum diketahui. Reaktivasi dikenal sebagai infeksi rekurens dimana terjadi pula pelepasan partikel 13 .

Acyclovir yang dipergunakan secara topikal mungkin dapat mengurangi gejala. Pada suatu penelitian terhadap 110 wanita dengan infeksi herpes genital. lebih tidak nyeri dan melepaskan virus dalam perioden yang lebih pendek (2-5 hari) daripada infeksi primer. Sensitivitas kultur adalah 95% sebelum lesi menjadi krusta. lebih dari 50% kultur akan positif setelah 48 jam. Wald dkk (1995) melaporkan bahwa 55% mengalami pelepasan partikel virus tanpa gejala sampai selama 105 hari kemudian. namun dalam sebuah laporan mengenai 168 bayi baru lahir yang mendapatkan acyclovir dalam trimester pertama. Pemeriksaan sitopatologi dengan fiksasi alkohol atau pewarnaan Papanicolau telah digunakan untuk diagnosis cepat rekurensi klinis. Untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan dapat diberikan analgesik dan anestetik topikal. Cone dkk (1994) menemukan bahwa frekwensi pajanan bayi baru lahir terhadap sekresi herpesvirus dari ibu seropositif lebih dari delapan kali lebih tinggi bila digunakan teknik PCR untuk DNA virus dibandingkan dengan teknik sebelumnya menggunakan kultur. namun belum dipergunakan secara luas dalam kehamilan. Sediaan oral atau parenteral dapat mengurangi infeksi klinis juga durasi penularan virus. Lesi-lesi yang timbul lebih sedikit. Kebanyakan wanita dengan infeksi HIV juga mengidap herpes genital. Pada rekurens simtomatik. dan kegagalan pengobatan dengan dosis acyclovir yang direkomendasikan telah dilaporkan. Penatalaksanaan Tidak terdapat terapi yang efektif untuk infeksi virus ini. dimana sediaan akan menampilkan sel-sel multinuklear dan badan inklusi eosinofilik (Tzanck smear). Metode ini terbatas oleh karena spesifisitas untuk infeksi serviks dan Teknik reaksi rantai polimerase (Polymerase Chain Reaction/PCR) baru-baru ini telah diteliti sebagai alat deteksi DNA herpes genital. hanya terdapat 9 dengan kelainan kongenital (Andrews 1992). Dosis yang 14 .9 Diagnosis Ditemukannya virus pada kultur jaringan merupakan konfirmasi yang paling ideal dari infeksi klinis maupun infeksi rekurens yang asimtomatik. Walaupun keamanan acyclovir pada kehamilan belum ditetapkan secara jelas. Infeksi rekurens secara khas terjadi pada tempat yang sama dari infeksi primer. dan retensio urin yang berat dapat ditanggulangi dengan pemasangan kateter menetap.virus.

Prober dkk (1987) melaporkan bahwa tidak ada dari 34 neonatus yang terpajan terhadap virus rekurens pada saat persalinan yang terinfeksi. Hal ini diduga terjadi karna inocuum virus yang lebih kecil dan terdapat antibori yang ditransfer lewat plasenta yang menurunkan insidens dan beratnya penyakit pada neonatal. Asimtomatik Hampir separuh dari neonatus yang terinfeksi adalah preterm dan resiko infeksi mereka tersebut berhubungan dengan jenis infeksi maternal primer atau rekurens. dengan penyebaran pada organ visera mayor. Disseminata. Sebaliknya. Lokalisata. Infeksi Rekurens Acyclovir memiliki manfaat yang terbatas pada herpes genital rekurens. Fetus seringkali terinfeksi oleh virus ini lewat serviks atau jalan lahir. Infeksi pada bayi baru lahir memiliki 3 gambaran: 1. Tidak ada dari 21 wanita yang mendapatkan acyclovir dibandingkan 9 dari 25 (36%) wanita yang mendapatkan placebo mengalami infeksi rekurens saat persalinan. Virus kemudian dapat menginvasi uterus apabila terjadi ketuban pecah. 2.lebih tinggi untuk acyclovir dapat bermanfaat untuk wanita imunokompeten dengan infeksi virus HIV dan herpes genital rekurens yang berat. Nahmias dkk (1971) melaporkan resiko 50% infeksi neonatal pada infeksi maternal primer namun hanya 4-5% pada infeksi rekurens.2 Penyakit pada Neonatus Infeksi jarang ditularkan melalui plasenta atau membran yang intak. (Whitley dkk 91). dengan penyebaran terlokalisir pada sistem saraf pusat. Pengaruh Terhadap Luaran Kehamilan 15 . infeksi neonatal yang disseminata walaupun ditherapi dengan vidarabine atau acyclovir memiliki angka mortalitas mencapai 60%. acyclovir telah dievaluasi sebagai terapi supresif yang diberikan pada saat kehamilan untuk mencegah rekurensi saat aterm. mata. kulit atau mukosa 3. Infeksi yang terlokalisir biasanya memiliki luaran yang baik. Scott 1996 meneliti 46 wanita hamil dengan herpes genital episode primer yang sebagian diberikan acyclovir dan sebagian lain placebo dari 36 minggu sampai partus. Baru-baru ini.

maka persalinan pervaginam dapat dilakukan 2. Tidak perlu memisahkan antara ibu dengan bayinya. namun orangtua dengan lesi herpetik oral tidak diperbolehkan mencium bayi dan harus diajarkan menggunakan teknik mencuci tangan yang benar. Penatalaksanaan Antepartum The American College of Obstetricians and Gynecologists (1988). 3. Apabila tidak terdapat lesi pada saat persalinan. Canadian Paediatric 16 . apabila ketuban pecah atau terdapat gejala rekurensi. Fungsi hati dan cairan spinal harus diperiksa secara serial juga pemantauan ketat secara klinis sampai usia 2 minggu. Tidak perlu dilakukan kultur tiap minggu untuk wanita dengan riwayat infeksi herpesvirus tapi saat ini tidak memiliki lesi. Amniosentesis untuk mengkonfirmasikan infeksi janin tidak direkomendasikan. the Infectious Disease Society for Obstetrics and Gynecology (Gibbs 1988) dan Society (1992) telah merekomendasikan hal-hal berikut: 1.Luaran kehamilan yang buruk seringkali terjadi pada infeksi primer pada kehamilan Resiko terjadinya komplikasi pada janin paling tinggi apabila terjadi infeksi primer dan tidak terdapat antibodi yang bereaksi silang dari herpesvirus tipe-1. Kultur diambil untuk menegakkan diagnosis apabila seorang wanita hamil memiliki suatu lesi yang dicurigai sebagai suatu lesi herpes. akan tetapi tetap harus diinstruksikan untuk mencuci tangan dan mencegah setiap kontak antara lesinya. Menyusui diperbolehkan.2 Perawatan Neonatus Bayi yang lahir dari ibu yang diketahui atau dicurigai mengidap herpes genital harus diisolasi dari bayi lain dan diambil kultur darahnya. 1. tangannya dan bayinya. Infeksi nonprimer episode pertama memiliki gejala yang lebih ringan dibandingkan infeksi primer genital tipe-2. Oleh karena itu maka seksio sesarea dilakukan apabila lesi primer atau rekurens timbul pada saat persalinan.

17 .

Am J Obstet Gynecol 163:1511. 1997. Cuningham G. 3. 7. Valenti D. McGraw-hill. Cox W.DAFTAR PUSTAKA 1. Demmler GJ. Am J Obstet Gynecol 143:75. 1992 8. Brown Z. 1988 5. Toxoplasmosis in pregnancy. Leveno KJ. 2002. 2. Naessens A. Capella-pavlovsky M. Prenatal management of 766 pregnancies at risk for congenital toxoplasmosis. Thullliez P. 6. Bale JF. 1982. Pollock TJM Consequences of confirmed maternal rubella at successive stages of pregnancy. Congenital cytomegalovirus disease—20 years is long enough. Remington. Hickok DE. Daffos F. Craddock-Watson JE. 1990. 1994 4. Detection of congenital toxoplasmosis by chorionic villus sampling and early amniocentesis. Forrester F. 18 . Foulon W. Clin Infect Dis 18:853. Recurrent genital herpes simplex virus infection in pregnancy: infant outcome and frequency of asymtomatic recurrences. Yow MD. Lancet 2:781. Wong. Miller E. Neu Clin 20(4):220. N Engl J Med 326: 703. Vontver LA. 1982. Gant NF. de Catte L. Williams Obstetrics 21st ed. Congenital Infections. N Eng J Med 381:271. Aufrant C. Amy JJ.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->