“topeng dari kebohongan” aku bukan lah aku aku adalah dunia palsuku topeng lah yang ku pakai

untuk menutupi siapa aku ku cipta cerita di atas kertas dunia ku dan mereka percaya aku aku adalah kebohongan itu kebohongan hidupku aku tak ingin terus berlari dan bersembunyi di dunia palsu ku aku ingin mereka tau siapa aku dan ingin ku lepas topengku namun aku adalah debu debu yang tertiup angin dan berlalu aku adalah kebohongan karena kegagalan hidupku aku adalah kegagaln itu tp mereka tak ingin melihat dan menerima kegagalan ku maka aku pakai topeng keberhasilan hidup ku, namun ini palsu.. bukan aku.. maaf’kan aku dgn topeng palsuku puisi ini karya : shetya suwarno

kami adalah topeng topeng Beribu wajah Benda mati yg dihidupkan Oleh berbagai kepentingan Maka kamipun punya rasa Dalam menatap kehidupan Dalam meraba hasrat Sang peminjam Dalam memahami apa yg akan Diburunya Tentu tanpa Latihan lebih dulu Sebab Para pengguna kami Akhli menciptakan Skenario Kami sudah ada Sebelum manusia datang ke bumi

? ...Sebab kami Diciptakan Dari kepura-puraan Brillian dalam memerankan apapun Pandai menampilkan keindahan semu Penjiwaan yg mempesona Mengundang Keyakinan Bagi yg diburu Tetapi Kami tetap dalam kematian Hanya bisa dihidupkan Oleh nafsu sang peminjam Akupun bisa menangis Dg cucuran airmata Yg merangsang keharuan Meski aku tahu Jika sang peminjam sedang tertawa Atau Aku bisa Senyum dg manisnya Padahal peminjamku sedang menangis pilu Akupun kasihan Ikut menangis tanpa airmata Walau tetap dg wajahku yg Senyum Disaat kami digeletakan Kembali jadi benda mati yg tak dihargai Tapi masih menyimpan sisa sisa rasa Kulihat pelangganku Menangis dg cucuran airmata Di wajah yg Sejatinya Meratap dg kata kata menyayat Meringis mengungkapkan rasa perih Diseling doa doa yg tak kumengerti Memanggil manggil nama Seseorang Betapa mencintainya Betapa tersisa rindu bagai sembilu Terkadang dimaki maki Pekat sampah serapah Aku dalam ketidak berdayaan Tumbuh rasa kasihan dan sayang Akupun menangis Dan kaget Mengapa akupun bisa Mengeluarkan airmata ...

....Dg seringnya dititipkan rasa Maka kamipun seolah punya kehidupan sendiri Sebagaian kami lenyap Menjadi daging wajah sang peminjam secara permanen Dan Sebagaian lagi Ikut bergabung Dg arus badai kegalauan Kehidupan manusia Kami tak lagi bergabung Dg hasrat nafsu manusia Karena kami sudah punya Alam nafsu sendir ... Dan kami sering takut Dan segera lari tunggang langgang Saat berhadapan dg Suatu Wajah Sejati Disaat sedang Ruku dan Sujud Di Sajadah nan bening Kami segera berkumpul Memilih kembali menjadi benda mati Sebab Betapa sangat lelah Harus ikut di jagat kemunafikan BANYU SEGARA PANTURA .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful