Simptom—Aksesi Kebenaran dalam Psikoanalisis Lacan

Hizkia Yosie Polimpung

Artikel singkat ini berupaya mengelaborasi pemikiran psikoanalitis Jacques Lacan, terutama tentang kebenaran. Refleksi tentang kebenaran dalam psikoanalisis Lacanian amat menarik untuk dikaji, bukan karena esensi atau substansi transendentalnya, melainkan karena kemunculannya yang selalu disebabkan oleh kegegaran konstitutif dari sisi subyek, dan karena sifatnya yang telah-selalu termediasi. Mediasi kebenaran tidaklah selalu bahasa, sebagaimana yang banyak dipahami penulis-penulis Lacan;1 namun untuk memahami mediasi ini penting untuk mendekatinya dari logika bahasa. Logika yang dimaksud tentu bukan logika strukturalisme de Saussure yang mengasumsikan suatu pertalian fix antara penanda dengan petandanya. Melainkan logika pasca-strukturalis yang memainkan peran besar jika seseorang ingin memahami simptom Lacanian. Artinya, dalam bahasa pasca-strukturalis, simptom (sebagai menanda) telah dan akan selalu menandakan sesuatu yang lain, selain dari dia, yang notabene benar-benar alien, tak dikenal, bahkan, belum tentu ada. Di sinilah enigma dari Simptom Lacanian yang akan penulis bahas. Untuk mengemban tugas demikian, penulis akan pertama-tama menunjukkan titik persimpangan Lacan dengan master-nya, yaitu Sigmund Freud, terutama dalam hal status ketidak-sadaran di hadapan Ego. Kebaruan Lacan ini membawanya kepada serial transformasi teoritik berikutnya, yaitu tentang fase perkembangan psike subyek, struktur psike subyek, kegegaran, kecemasan, dan bagaimana ini semua berkontribusi pada natur dari simptom yang selalu menandakan yang lain yang alien darinya. Perlu diakui juga di sini, penulis memfokuskan pada problem kebenaran bukan pada kontennya, melainkan pada aksesi-nya. Juga ada banyak tema-tema lain dari psikoanalisis Lacan yang menarik untuk dikaji, seperti misalnya obyek, realitas, virtualitas, kegilaan, dst., namun penulis sengaja kesampingkan. Hal ini demi upaya memfoksukan penulisan. Akibatnya, tulisan ini tidak untuk dipandang sebagai suatu kerja yang konklusif, melainkan bisa menjadi simptom untuk mengakses kebenaran lainnya tentang psikoanalisis Lacanian. Psikoanalisis Lacanian: dari gumpalan hasrat sampai ilusi “Aku” Psikoanalisis Freud merupakan gagasan yang mempertanyakan atau mendestabilisasi pandangan ideal tentang diri warisan Pencerahan dengan mengedepankan aspek-aspek ketidaksadaran manusia. Ketidaksadaran merupakan lokus dimana hasrat-hasrat terlarang direpresi, yang sampai taraf represi tertentu akan tampak dalam perbuatan-perbuatan subyek di dunia nyata—mengambil alih “kemudi” kesadaran tanpa disadari oleh sang subyek. Freud berharap bahwa dengan menyingkapkan gagasan ketidaksadaran (yang menandingi kesadaran) ini, ia dapat meminimalisir represi
1

Lihat misalnya, Mark Bracher, Lacan, Discourse and Social Change (Ithaca: Cornell, 1993)

2 Analogi gunung es Freud pun problematik semenjak ia memisahkan dengan cukup jelas antara wilayah kesadaran dan ketidaksadaran. kesadaran dan ketidaksadaran merupakan dua sisi pada satu koin. Lacan tidak merombak total Psikoanalisis Freudian. di situ ada sang Ego (Aku yang sadar).5 Fase terakhir merupakan fase di mana subyek telah “terinstalasi” dengan baik dalam ranah Simbolik—kebudayaan. Jacques Lacan. artinya dimana ada Id. 6. Freud tertarik mengamati bagaimana sang bayi membentuk karakter Ego-nya lewat proses internalisasi dari nilai dan budaya sekitarnya. yaitu mazhab Psikologi Ego. mengantikan. 4 Konteks kemunculan semboyan ini adalah perkembangan mazhab Psikoanalsis yang menurut Lacan telah jauh meninggalkan gagasan-gagasan dasar Freud. Untuk perkembangan (baca: perseteruan) kedua mazhab. Di sinilah letak persimpangan pemikiran Freud dengan seorang penerusnya dari Perancis. hal. otonomi Ego adalah ilusi. yang nantinya diidentifikasikan sebagai “Aku”.4 Lacan memodifikasi trajektori bayi menuju kedewasaan yang telah digariskan Freud sebelumnya. keduanya tak terpisahkan dan saling mengkonstitusi satu sama lain: apa yang tampil di kesadaran merupakan orkestrasi dari ketidaksadaran yang direpresi. dimana fase-fase pembentukan subyek Jacques Lacan. sang subyek dewasa. ia hanya memodifikasi beberapa hal yang menurutnya krusial: diantaranya yang terpenting adalah masalah formasi ego dalam kaitannya dengan ketidaksadaran. justru tertarik memahami bagaimana sang bayi mendapatkan ilusi akan Ego. 2 3 . dan fase odipal pada ranah Simbolik (the Symbolic).3 Apabila lewat kompleks Odipus. dengan tokoh-tokoh kunci seperti Anna Freud—anak Freud sendiri. “return to the meaning of Freud”. Uraian berikut merupakan simpulan penulis sendiri setelah membaca seminar-seminar Lacan berikut komentar-komentar dari para komentatornya. fase cermin pada ranah Imajiner (the Imaginary). lihat Elisabeth Roudinesco. Ketiga ranah ini. bahkan mengenyahkan ketidaksadaran karena sesunggunya Ego sendiri merupakan produk dari ketidaksadaran. Écrits: A Selection. lewat kompleks Odipus. Hal ini sejajar dengan semboyannya. Soll Ich Werden”. Lacan menggariskan lintasan Kompleks Odipus yang harus ditempuh bayi untuk mendapatkan konsepsi ke-diri-annya kedalam tiga fase yang berhubungan erat dengan tiga ranah (register) atau tatanan (order) psikis manusia: fase pra-odipal pada ranah Riil (the Real). Lacan sendiri membahasnya secara sporadis dan tak sistematis. 1977).. Mazhab ini berkembang pesart terutama di Amerika Serikat. Jacques Lacan: An Outline of a Life and a History of a System of Thought (Cambridge: Polity Press). Mazhab ini memfokuskan pada pembentukan Ego sebagai jalan menciptakan karakter (personality) yang baik—suatu hal yang absurd bagi Lacan yang selalu mengkampanyekan “never yield with regard to your desire”. karena menurut Lacan. Penjelasan lebih mendetil dan teknis tentang ini lihat sub-judul “Simptom” di bawah. terj. 5 Tidak ada rujukan pasti dan sistematis mengenai lintasi perkembangan subyek Lacanian. Lacan. Alan Sheridan (London: Tavistock. Lacan berpendapat bahwa Ego tidak akan dapat mengendalikan.ketidaksadaran—ia mendeklarasikan semboyan terkenal tentang hubungan kesadaran dan ketidaksadaran: “Wo Es War. di mana subyek telah memperoleh predikat ‘Odipus’.

bahkan tak ada perbedaan antara bayi dengan siapapun. Pertama. ia mendapat pelukan hangat ibunya. Dalam ranah ini. dan oleh karenanya bahasa tidak dibutuhkan. ketika ia butuh keamanan. Gulliver’s Travel (Irvine. dimana ide state of nature mengemuka.I. yang selalu membawa sekarung barang yang sekiranya dibutuhkan untuk percakapan. terj. bahkan tuhan. bayi mulai menyadari bahwa ternyata ada “yang lain” (ibu dan orang lain) yang utuh. adalah saat bayi menyadari keterpisahannya dengan sang ibu. “what is strictly unthinkable. Pada saat kebutuhan sang bayi tidak langsung atau otomatis terpenuhi seperti pada fase pra-odipal. atau kekurangan. Untaian Borromean (Borromean Knot) Pada fase pra-odipal. tak ada perbedaan antara diri dan ibu.6 Gambar 1. akan senantiasa mengiringi—jika bukan menghantui—perjalanan hidup subyek. yang kurang. bayi akan menyadari bahwa ternyata dirinya tidaklah menyatu dengan objek pemuas kebutuhannya—ibu. Uraian menarik tentang sejarah simpul Borromean ini lihat Awaludin Marwan. seperti juga Freud. tumbuhan. R. dan ingin menyatu kembali dengan ibu. Jack W. Saat ini. 1974-75. 2001). Depok. vii.7 Oleh karenanya definisi minimum tentang yang Riil Lacanian adalah “that which resist symbolization absolutely”. dan “benda-benda” yang memuaskan kebutuhan tersebut. dengan menunjukkan barang-barang tersebut saat berbicara dengan oang lainnya. . Inilah ranah Riil..S. Namun demikian. 8 Jacques Lacan. 7 Bahasa dibutuhkan untuk mewakili/menandakan sesuatu yang absen. peny. Gulliver’s Travel. Hal ini membuat sang bayi merasa kehilangan. sebagaimana pembahasan berikutnya. bayi masih belum mempunyai konsep tentang “diri”-nya. Makalah pada forum diskusi Komunitas Psikoanalisis. perasaan. yang hilang—entah itu barang. 14 Juni 2010. Seminar XXII of Jacques Lacan. Lihat Jonathan Swift. Ketika butuh makanan ia mendapat ASI (Air Susu Ibu).terjadi. Stone dari transkrip utama milik Editions Du Seuil. Lacan berpendapat bahwa bayi merupakan “gumpalan” (mass) yang tak dapat dipisahkan dari ibunya. kekurangan. kehilangan. Yang ada hanyalah kebutuhan. merupakan susunan psikis subyek yang membentuk formasi Untaian Borromean (Borromean Knot). Struktur Subjek. terdiri dari tiga cincin yang saling terhubung sedemikian rupa sehingga apabila salah satu putus atau lepas. Ilustrasi terbaik adalah orang-orang Laputa dalam novel klasik Jonathan Swift.”8 Ranah Riil ini. hal. CA: Saddleback. maka yang lain pun akan terlepas secara otomatis. hewan. Jacques-Alain Miller. 6 Simpul Borromean (Borromean Knot) merupakan spekulasi Lacan tentang formasi tiga ranah subyek. tak ada pula ketiadaan. Pada perkembangan ranah imajiner terjadi tiga hal penting. orang. yang ada hanyalah kepenuhan dan kelengkapan dimana tak ada kebutuhan yang tak terpuaskan.

“the transformation that takes place in the subject when he assumes an image”. Bayangan di cermin merupakan. “ya itu kamu. yaitu fase di mana terjadi proses identifikasi diri pada bayi. Alhasil. terutama ibu.”10 Lacan menafsirkannya sebagaimana yang dilakukan Jacques Derrida: “A signifier represents a subject for another signifier”. Berikutnya adalah saat ia mengidentifikasikan dirinya di depan cermin. utuh. Écrits. ia belum bisa berbahasa. mengikuti asumsi strukturalisme Ferdinand de Saussure. 11 “We are forced. merupakan fase cermin. Padahal “itu” yang ditunjuk oleh sang ibu adalah bayangan di cermin. bayi hanya bisa menangis untuk mengungkapkan segala permintaannya. dan bukan sang bayi. sementar petandanya adalah citraan apapun yang muncul dalam benak saat kata “kucing” dipikirkan. 2.Hal ini membawa bayi pada hal penting berikutnya. Contoh. adalah suatu transformasi yang terjadi pada benak subyek saat ia membayangkan suatu citra. Relasi negatifnya adalah: “kucing” menjadi kucing karena ia bukan “kuda” atau “anjing” atau yang lainnya. to accept the notion of an incessant sliding of the signified under the signifier. Bahasa terstruktur kedalam penanda (signifier) dan petanda (signified). yaitu bergesernya kebutuhan menjadi permintaan. dengan berkata.. kata Lacan) di bawah penanda dalam suatu rantai penandaan11. Sampai pada fase cermin ini. hal. merupakan kompensasi bagi perasaan kehilangan keutuhan dan kesempurnaan saat ia belum berpisah dengan objek pemuasnya—ibu.9 Identifikasi yang pertama-tama dilakukan bayi adalah saat ia mengidentifikasi ‘yang-lain’ (others). bahwa “the unconscious is structured in the most radical way like a language. Biasanya proses ini dibantu oleh orang lain. ‘ego ideal’ yang sempurna. Lacan mengatakan bahwa salah-menegerti (méconnaissance) terhadap ego ideal. bayi mengalami salah-mengerti (misrecognition) terhadap dirinya sendiri. Saat itu ia akan mempersepsi bayangannya sebagai dirinya. Inti dari konsepsi ilusi “aku” ini adalah. sekaligus terpenting. 154. yaitu saat ia menyadari citraan-citraan yang lain di sekitarnya. 9 10 .. 234. dengan memperoleh gagasan tentang ke-diri-an. dan begitu seterusnya. Dengan demikian. secara sederhana petanda merupakan arti dari penanda. tidak ada penanda (kata) yang memiliki petanda (makna) yang tetap. . Identifikasi. sayang bayi belum bisa mengartikulasikan permintaanya dengan tepat. Écrits. Écrits. setidaknya Lacan.12 Tidak ada yang dapat menghentikan “ketergelinciran” ini. hal. Yang ketiga. bayi hanya mempunyai konsep tentang dirinya. yang dianggap diri oleh si bayi. dan mencampur-adukkannya dengan bayangannya sendiri. hubungan keduanya adalah relasi negatif: sebuah penanda menjadi penanda itu sendiri karena ia bukan penanda yang lainnya.” Lacan. Karena kebutuhannya tak lagi otomatis terpenuhi. Lacan. Penanda satu merupakan petanda bagi penanda yang lainnya. kata “kucing” yang dieja “k-u-c-i-n-g” adalah penanda. sang bayi merasa bahagia. kata Lacan. Namun demikian bayi baru mendapatkan kata ilusif “aku” untuk menandai ego idealnya (identitas barunya) saat ia memasuki fase odipal. hal ini dikarenakan petanda akan selalu tergelincir (glissement. menurut Lacan. hal. sang bayi harus memintanya. nak!”. sang ibu atau siapapun tidak akan dengan tepat memenuhi permintaan si bayi. sama seperti “yang lain”. then. Rantai penandaan (chain of signification) merupakan ketiadaan / kekurangan (lack) suatu makna (petanda) stabil bagi suatu kata (penanda).

memperkenalkan pada subyek suatu logika pembendungan sebagai proses subyektivikasi.. peny. 30(1).W. “Sang ayah” merupakan metafora bagi “yang-Lain” (the Other) yang merupakan pusat dari sistem yang mengatur struktur bahasa. kata itu akan dijelaskan dengan kata-kata yang lainnya. (2004). “Is the mirror racist? Interrogating the space of whiteness. atau yang disebut Lacan sebagai obyek a. The Ego in Freud's Theory and in the Technique of Psychoanalysis. Fase simbolik merupakan fase dimana sang bayi kehilangan otoritasnya untuk menentukan dirinya. The Seminar of Jacques Lacan. Saat mencari suatu kata. 12 Lacan. ‘yanglain’ dengan ‘l’ kecil berikutnya merujuk pada obyek-penyebab-hasrat. London: W. bahkan filosofis.13 Citraan ini tidak selamanya visual. kata (penanda) “aku” (lainnya. Book II. ‘yangLain’ dengan ‘L’ besar merupakan pusat dari otoritas kultural Simbolik. . kenegarawanan. diinagurasikan. Lebih dari itu. Pembedaan ini dibahas pada Jacques Lacan. kebapakan. namun dapat juga verbal—sebuah deskripsi. cermin Lacanian adalah segala medium yang melaluinya citraan-citraan yang berhubungan dengan gagasan tentang ke-diri-an ideal. Citraan-citraan yang hari-hari ini membombardir keseharian. S. terj. namun bisa juga berupa fantasi. Fase odipal atau fase Simbolik merupakan fase dimana identitas sang diri diteguhkan.14 Sementara “ancaman pengebirian” merupakan Contoh termudah adalah kamus. Tomaselli (NY. Citra ini pun tidak selalu aktual/riil. Shannon Winnubst. Hal ini berlaku pula dengan diri subyek. atau Phallus dalam bahasa Freud. hal 34. Ibid. dari ambiguitas dan ketidakmenentuan (undecidability) diri Riil di fase pra-odipal. Jadi dampak penting fase cermin dalam perkembangan subyek adalah lahirnya ranah Imajiner dalam struktur psike subyek. yang melalui citraannya. 14 Perlu diperhatikan di sini adalah pembedaan teknis antara ‘yang-lain’ dan ‘yang-Lain’ dengan ‘L’ besar. hal. bahkan teori tentang ke-diri-an ideal.” Philosophy & Social Criticism. karena ia harus “kalah” oleh otoritas “sang Ayah” yang “mengancam akan mengebirinya”. 13 Lih. 303. yang akan dibawanya sampai mati. dan hal. cermin di sini bisa diartikan dalam artian yang lebih luas. keutuhan dan integralitas dihantarkan. Miller. misalnya. 236-47. 1954-1955. kepemimpinan. Secara hakiki. atau memandangi wajah sambil mengusap-usap jerawat di wajahnya. Perlu ditekankan di sini bahwa citraan cermin Imajiner Lacanian tidaklah melulu berkaitan dengan seperti yang biasa digunakan seseorang saat merapikan rambut atau busananya. yaitu pembendungan tubuh dan identitas-diri oleh kulit. Écrits.sampai sang otoritas Simbolik (Ayah) menghentikan ketergelinciran tersebut dengan menjangkarkannya pada suatu penanda lain yang disebut lacan sebagai “anchoring point” (point de capiton). Dan kata-kata yang lainnya akan dijelaskan pula oleh kata-kata yan lainnya lagi. atau kejantanan. 1988). Norton & Company. nama) dipaksakan dikenakan kepada si diri untuk menyudahi ambiguitas dan ketidakmenentuan tersebut. Adalah cermin ini. dan seterusnya. citra-citra: keibuan. J-A. kata “A-K-U”. dan ditahbiskan oleh bahasa—misalnya.

2006). aku berpikir maka aku ada.” Jacques Lacan. The Seminar of Jacques Lacan. dengan demikian berbeda dengan versi Sigmund Freud. 196. selalu berkekurangan. splitted antara hasrat tak sadarnya dengan imperatif Simbolik yang. 2004). Melalui Psikoanalisisnya. edisi kedua (NY. Odipus Lacanian adalah subyek yang secara esensial gegar. From the Freudian point of view man is the subject captured and tortured by language. London: Routledge Classics. (1996). terj. 16 Frederic Jameson. peny. NY: Routledge. yaitu subyek yang integral/utuh. Bertolak belakang dengan Freud. “Jameson’s Lacan. 38. dalam teori Lacan.15 Bahasa.16 Karena determinasi bahasa yang sangat menonjol.20 Subyek Lacanian: Gegar dan Narsis Odipus. hal. The Prison-House of Language: A Critical Account of Structuralism and Russian Formalism (Princeton: Princeton University Press. 130. Bdk juga Steven Helmling. agar ia menjadi “ada”. Gender Trouble: Feminisim and the Subversion of Identity. Subyek bagi Lacan adalah selalu ‘$’. Kegegaran subyek. . bukanlah ayah yang sebenarnya yang mengancam kastrasi. Book III 1955-1956. Undoing Gender (London. atau kekurangan itu sendiri.” Postmodern Culture. 224. merupakan satu-satunya cara agar sang diri dapat masuk ke dalam realitas kebudayaan. hal. hal. ranah ini disebut juga “penjara bahasa”17 (prison-house of language) di mana terjadi suatu proses “penerjemahan kultural”18 (cultural translation) yang melaluinya sang diri dibubuhi identitas gramatikal “aku” oleh “struktur penandaan” (structure of signification)19. Ranah Simbolik ini menempati posisi penting dalam struktur psike. hal. yang sadar dan rasional. melainkan justru dirayakan sebagai unsur konstitutif—conditio sine qua non—bagi keberadaan subyek. 1972). esensial dengan bagi konsep bahasa. Grigg (London: Routledge. Lacan mengajak pembacanya “to oppose 15 Bagi Lacan. 17 Jameson. yang mengkonstitusi seluruh ranah Simbolik. dalam struktur psike subyek. karena hanya dengan menjaga dan menyesuaikan diri berdasar arahan yang-Simbolik inilah subyek bisa menjadi “ada”. terbelah. bahkan Lacan sendiri menekankan bahwa “Psychoanalysis should be the science of language inhabited by the subject. J-A. 1993). 7(1). Imajiner) yang diinginkan oleh kebudayaan (Simbolik. selalu tidak utuh. maka sang ayah menjadi suatu fungsi dari struktur linguistik. Subyek gegar Lacanian ini secara terang-terangan menantang konsepsi subyek modern Eropa Pencerahan ala René Descartes. Oedipus adalah subyek yang telah mengintegrasikan seluruh norma-norma sosial budaya (Simbolik) ke dalam sistem kesadarannya. yang-Lain). subyek yang telah berhasil mengendalikan hasrat-hasrat binatangnya (Id) dan menyelaraskan prilaku diri (ego) sesuai dengan citra diri (ego ideal. Miller. diwakili oleh superego. Malahan. Dalam teori Freudian. R. karena ide tentang “kekurangan”. bukannya disesali. yang memiliki otonomi dan kendali penuh atas dirinya: cogito ergo sum. atau subyek yang telah melalui proses Kompleks Odipus.metafora bagi seluruh ide tentang kekurangan (lack) sebagai suatu konsep struktural. Ibid. 20 Saking pentingnya. bahasa merupakan filter bagi diri— atau apa yang disebut Frederic Jameson sebagai “biological namelessness”—agar ia dapat dipahami oleh yang lain. The Psychosis. 19 Judith Butler. 18 Judith Butler.

171. hal. Écrits. sementara ketidaksadaran bersifat tak terduga dan tak menentu.. 3-4. struktur kebudayaan mensyaratkan suatu keselarasan dan harmoni. Ibid. kegegaran ini berasal dari alienasi ganda dalam prosesi Kompleks Odipus: alienasi di fase cermin dan alienasi di fase odipal simbolik. merupakan “perangkap” untuk menguasai ambiguitas sang subyek. hal. Inkompatibilitas ini akhirnya dikesampingkan mengingat sang subyek. selama ia terus memberikan dirinya pada penguasaan kultural simbolik. “penemuan” ketidaksadaran dalam struktur psike subyek yang sama sekali tidak kompatibel dengan struktur kebudayaan di mana subyek terebut berada. harus segera terintegrasi dan berasimilasi dalam kebudayaan tersebut. Masalahnya justru timbul saat ternyata citraan cermin (ego ideal). bagi Lacan.23 Jadi. Écrits.24 Sayangnya. tergeser keluar dari pusatnya. subyek menyerahkan ke-diri-annya pada citraan cermin dan kemudian menginternalisasikan sebagai identitasdiri—“siapa saya”. Ia menjadi suatu kontainer untuk membendung ketidakmenentuan yang dialami sang subyek: citraan imajiner adalah gestalt yang memberi batasbatas jelas bagi subyek antara yang mana wilayah innenwelt (di dalam-diri) dan umwelt (di luar-diri). hal. Efeknya. Penekanan pada teks asli. 21 22 . didiami. terlepas apakah hal ini akan mengakibatkan konflik dalam diri subyek atau tidak. Konflik inilah yang menyebabkan subyek akan selalu gegar. jauh dari merefleksikan citraan yang “sebenarnya”. Pertama. dan dihidupi. Tak pelak. Inilah asal-usul ilusi perasaan ke-diri-an subyek: subyek mengenali dirinya di realitas melalui mediasi citraan cermin. agama. apabila dicermati lebih jauh. Pasalnya. sebagaimana telah dijelaskan bahwa identitas diri hasil fase cermin adalah hasil kesalah-mengertian. hal. yang mana ‘saya’ dan yang mana ‘bukan-saya’. norma. subyek adalah selalu ‘ex-centric’. and even in the mistrust he has learned to practise against the traps of self-love. 24 Ibid. semenjak Freud. diri pra-fase cermin diberi ‘tubuh’ oleh citra cermin imajiner (ego ideal) untuk dihinggapi. 69. dst.”21 karena baginya cogito Cartesian ini “is at the centre of the mirage that renders modern man so sure of being himself even in his uncertainties about himself. bak roh yang melayanglayang tidak jelas. 1.) kepada keseluruhan struktur kesadaran subyek. mengingat bahwa ketidaksadaran bersifat inkompatibel dengan atribut tersebut.. Secara teknis psikoanalitis.” Maka seharusnya tidak ada masalah di sini.any philosophy directly issuing from the Cogito. mau tidak mau. Lacan. 165. subyek yang terbentuk pada fase cermin merupakan simetri dari citraan diri yang terpantulkan di cermin: “ego = ego ideal.”22 Kegegaran subyek ini sebenarnya bersumber dari. Pengesampingan ini berujung pada pemaksaan atribut kultural simbolik (nama. 23 Lacan. citraan cermin tersebut tidak akan pernah benar-benar “muat” bagi sang diri: ia akan selalu kurang (lack) atau berlebih (excess/surplus).

NY: Routledge.ambiguitas identitas diri akan senantiasa mengiringi sejarah hidup sang subyek. dan yang menawarkan konsistensi bagi ambiguitas citra diri Imajiner. Sebenarnya Lacan tidak menyebut ‘the Real’.” “feminis.” “Kristen. Kedua. Écrits. or the meaning of the return to Freud in psychoanalysis. Dengan demikian alterasi ‘the thing’ dengan ‘yang Riil’ (the Real) pada kutipan di atas adalah demi kepentingan menyelaraskan penjelasan.25 Hal ini demikian. “Thus the symbol manifests itself first of all as the murder of the Real.” dalam Écrits. by nature it immortalizes him. 27 Lacan. yaitu saat citraan Imajiner “distempel” oleh nama-nama dari bahasa yangSimbolik. reduksi ini tetap harus dilakukan. apabila melihat pembahasan Lacan lebih jauh.” dst. Psychosis.29 Jadi. subyek yang lupa bahwa ia sudah mati (di tangan Simbolik.” menurut Lacan. yang Bdk.”28 Bisa dipastikan. maka ‘the thing’ (das ding) yang di maksud adalah ‘the thing’ yang selalu menolak simbolisasi. Sebenarnya..26 Namun demikian. hal. Lihat Jacques Lacan. atau dengan kata lain.” “Yahudi. 167.” “liberalis. Menjadi tidak aneh apabila proses simbolisasi ini dianalogikan Lacan dengan pembunuhan: pembunuhan yang-Riil (the murder of the real). justru karena ketidak-mungkinan untuk benar-benar “muat”-lah yang menjadi prakondisi utama bagi subyek untuk melakukan proses identifikasi-diri terusmenerus—tak kenal lelah mencari jati dirinya . Bahasa sehari-hari untuk ambiguitas ini tak lain adalah: krisis jati diri. yang-Lain). harga yang dibayar saat suatu subyek mengidentifikasikan dirinya dengan suatu penanda Simbolik adalah justru identitas dirinya yang singular.” “realis. 29 FPI atau Front Pembela Islam yang senantiasa membela dan mempertahankan (secara agresif dan vandalis) sebuah tanda bernama “Islam” dari segala macam kontaminasi eksternal yang dianggap “mengganggu” merupakan contoh kontemporer yang relevan. 31. 104.” “pancasilais. Lacan and the Political (London. Namun demikian. melainkan ‘the thing’. bahkan ia rela mati-matian membela nama-dirinya tersebut. Selalu akan ada yang luput dari cakupan penanda yang mencoba menamai sang subyek: “It’s quite simply the subject’s singular existence. seakan-akan melengkapi penderitaan karena alienasi di fase cermin.” yaitu “something radically unassimilable to the signifier. hal. Lagi-lagi terdapat paradoks: dalam pembunuhan ini.”27 Dengan simbolisasi. ‘the thing’ adalah inti dari yang-Riil. alienasi tetap tak terelakkan semenjak apa yang hendak disimbolisasikan oleh penanda Simbolik adalah diri (sebagai petanda) yang berasal dari ranah-Riil yang notabene justru menolak simbolisasi. “The Freudian thing. 25 26 . subyek mengalami alienasi untuk kedua kalinya. 1999). proses penamaan oleh yang-Simbolik ini merupakan cara (atau ritual) untuk meredam. 28 Ibid. bagaimanapun juga. pada fase odipal.” “Batak. Lacan. karena yang-Simboliklah yang mengikat dan mengarahkan diri. bahkan solusi bagi ambiguitas diri pasca-fase cermin. Yannis Stavrakakis. Namun demikian. dalam sudut pandang Lacanian. subyek Odipal adalah mayat hidup. sebagaimana prasyarat kultural Simbolik. justru subyek “menemukan” dirinya yang (seolah-olah) stabil.” “Sosialis. yang belum tentu ada. Namun demikian paradoksnya. “The signifier already considers him dead.. Ribuan kemungkinan “mau jadi apa” diri subyek tidak akan mungkin direduksi ke dalam sepatah kata penanda: “Jawa.

yaitu bahwa adalah sang subyek sendiri yang menginginkan. yaitu hasrat tak sadar untuk memperoleh landasan bagi perasaan kedirian yang utuh. 7-8. prilaku ini merupakan prakondisi bagi fasisme. S. Fletcher. “Everybody Wants To Be A Fascist. penguasa Simbolik terus menerus memainkan ketergelinciran tanda tersebut dan secara konstan menggonta-ganti standar ideal suatu penanda identitas yang notabene akan selalu Bdk. 1997).30 Konsekuensinya. Persis seperti Narcissus dalam mitologi Yunani yang begitu mencintai citra dirinya sendiri. Sampai titik tertentu. diterima.34 Semenjak penanda tidak memiliki acuan tetap. Subyek yang mencintai eksistensinya tentunya memiliki hasrat untuk bertahan hidup.32 Hal ini demikian karena subyek sadar bahwa hanya dengan mengakuisisi penanda simbolik saja dirinya dapat berpartisipasi dalam realitas kultural Simbolik. gelar. The Psychic Life of Power: Theories in Subjection (Stanford: Stanford Uni Press.W. Subyek hanya akan “ada” secara Simbolik apabila ia menerima dan mengakui hukum Simbolik tersebut. Berangkat dari pandangan ini. ketidaksadaran akan selalu menyertai kemunculan subyek Simbolik: “the subject emerges in tandem with the unconscious. Žižek dan F. Baginya.”31 Lalu apakah yang mendorong subyek untuk mau mengakuisisi citraan cermin dan berpaling pada otoritas kultural Simbolik untuk “meratifikasi” citraannya dengan sebuah nama. mendambakan. Telah dibahas sebelumnya bahwa penanda Simbolik merupakan prasyarat utama eksistensi subyek dalam realitas kebudayaan. maka ketidaksadaran tersebut berkaitan dengan penanda. penanda tersebut tidak akan pernah benar-benar “muat” bagi subyek. atau simbol. “The Abyss of Freedom. 31 Lacan. dan akhirnya menyerahkan dirinya pada “perbudakan” otoritas Simbolik.. “this death [of the Real] constitutes in the subject the eternalization of his desire.senantiasa menolak simbolisasi. hal. Persis di sinilah yang membedakan teori subyeksi Lacanian dengan teori-teori subyek lainnya. yang pada gilirannya akan membuat subyek dapat dikenali. hal. Butler menekankan bahwa akuisisi aktif akan penanda merupakan wujud dari kecintaan (love) subyek akan eksistensi.” terj.”33 Semenjak subyek selalu merupakan hasil dari fase Simbolik. 1997). 32 Deleuze dan Guattari berbicara banyak tentang ini dalam Anti-Oedipus. Hasrat inilah yang ditengarai Butler dieksploitasi oleh otoritas Simbolik. 34 Ibid. hal. bahkan mencintainya sampai mati. Semiotext(e) II(3). Schelling. lihat juga esai Guattari. dan bahkan dicintai oleh yang lain. akan keberadaan dirinya. meskipun mensyaratkan alienasi radikal dari dirinya sendiri? Motif untuk mengakuisisi citraan cermin ini tak lain adalah ‘narsisisme’. Sehingga penting untuk ditekankan bahwa alienasi ini dilakukan secara aktif oleh subyek. bahwa hanya dengan menjadi mayat hidup sang subyek dapat menikmati kehidupan Simbolik. 7. hal 43. Écrits. 87–98. 104. Judith Butler memberikan elaborasi yang sangat baik tentang narsisisme ini. Seperti kata Lacan.J.” dalam S. Slavoj Žižek. atau bahasa secara umum. 30 . 33 Judith Butler. yang pada gilirannya membuat subyek terus-menerus menghasrati penanda lainnya yang ia (salah-)kira lebih muat baginya. The Abyss of Freedom/Ages of the World (Ann Arbor: University of Michigan Press.

“dari. Écrits. yang walaupun agak berlebihan. atau dalam bahasa Lacan sendiri.36 Akuisisi akan obyek ini akan memberikan suatu jouissance37 atau ‘sengsara-nikmat’ (pleasure in pain). “saya ini tidak tahu apa-apa”. penulis memilih menerjemahkannya sebagai ‘sengsara-nikmat’—sengsara yang membawa nikmat. Kehilangan (loss) merupakan gagasan yang fundamental dalam konsepsi subyek dalam psikoanalisis Lacanian.” yaitu langsung merujuk pada sang lain tersebut. 2008). 1999). Lacan memberi contoh ketertarikan Alcibiades pada Socrates. The Sublime Object of Ideology. tetapi di sisi lain membawa derita. yang lain). Lack. 184. Sayangnya Alcibiades tidak pernah mendapatkan harta karun tersebut. dan “tentang” yang merujuk pada gagasan seputar yang lain tersebut. xxvi. “unconscious desire is the desire of the Other. yang padanya subyek memiliki ‘kelekatan birahi’ (passionate attachment).” Slavoj Žižek. jouissance selalu merupakan kenikmatan yang masokistik dan paradoksal: di satu sisi membawa nikmat. 37 Penulis ragu untuk menerjemahkan bahasa Perancis ‘Jouissance’ ke dalam bahasa Indonesia ‘kenikmatan’. Hasrat Lacanian adalah selalu berkaitan dengan yang lain. in order to be operative. hal. Kepercayaan buta Alcibiades. yang berakar dari kesalahmengiraannya. Penanda-penanda inilah yang pada gilirannya menjadi obyek adiksi subyek. has to incorporate a series of features in which the exploited/dominated majority will be able to reognize its authentic longings. Tetapi tetap saja Alcibiades berkeras mendapatkannya.35 Kegelisahan (via Loss. Mungkin Wagner memiliki ungkapan. tepat: “the wound can be healed only by the spear which made it”—dikutip dari Slavoj Žižek. Lamella) Gagasan kegelisahan (anxiety) adalah selalu merupakan reaksi akan suatu kehilangan. Lacuna.38 Alcibiades percaya bahwa ada suatu “inestimable treasure” yang terdapat dalam “rustic box” bernama Socrates. dengan mengakuisisi harta-karun ini ia bisa mengisi bagian dirinya yang hilang untuk menjadi sebagaimana bayangan ideal tentang dirinya—suatu jouissance. inilah yang pada akhirnya memproduksi perasaan berkekurangan (lack) secara terus-menerus. 36 Huruf “a” merupakan singkatan bahasa Perancis “autre” (other. kehilangan di sini selalu merupakan sebuah persepsi atau suatu salah-mengira (misrecognition)—dikira hilang (perceived loss). 35 Bandingkan juga bagaimana cara serupa digunakan idiologi untuk merekrut subyek: “the ruling ideology. atau harta-karun tak ternilai dalam kasus Alcibiades-Socrates. The Ticklish Subject: The Absent Centre of Political Ontology (London: Verso. Ia percaya. hal. hal.” merujuk pada arahan sang lain terhadap subyek. kehilangan di sini tidak sematamata merupakan suatu ke-hilang-an. edisi kedua (London: Verso.” Kata “of” di sini dapat diartikan ke dalam tiga pemaknaan: “akan. Ketidak-mungkinan untuk dicapainya obyek a. dan tentu saja Alcibiades amat menginginkan memiliki harta-karun ini sekalipun Socrates selalu menekankan kalimat innocent terkenalnya. dan sebenarnya memang ia tidak akan pernah bisa karena memang sedari mula harta karun tersebut tidak pernah ada. .menjadi obyek hasrat subyek. 322-3. terus membuatnya menggali harta tersebut. Apa yang dikira hilang? Tidak lain adalah obyek-penyebab-hasrat (object-cause-of-desire). sehingga ia menjadi salah satu pengikut (baca: umat) setia Socrates. Oleh karenanya. Namun catatannya. karena dalam konteks Lacanian yang penulis pahami. atau yang disebut Lacan sebagai Obyek a (objet petit a). 38 Lacan.

Inilah kutukan menghasrati obyek a. Sigmund Freud. telah menekankan bahwa kegelisahan adalah kemungkinan (possibility)/kebisaan (capability). 40 Vigilius Haufniensis (alias Søren Kierkegaard). B. Dengan kata lain. dst). 1957). maka aku takut bercinta. melainkan kekonyolan yang tak terbayangkan kalau-kalau kedua tokoh konyol ini berpisah. lihat juga Judith Butler. dan melanjutkan hidupnya (mencari obyek lain. melainkan terhadap potensi/bahaya/kemungkinan hilangnya obyek hasrat. 39 . melankolia terus menjaga identifikasi narsistik dengan sang obyek. melainkan pada resiko yang ditimbulkan apabila sang subyek tidak mendapat/kehilangan obyek tersebut. sebelum Lacan. Kierkegaard. Precarious Life: The Powers of Mourning and Violence (London. Namun tidak demikian dengan melankolia: melankolia terus mempertahankan dan menolak menerima kenyataan bahwa sang obyek telah tiada. Kematian yang dimaksud bisa berarti metafora maupun literer: Aku bisa mati. Tak akan pernah kulepaskan dirimu! | Begitu juga dirimu Esmeralda. dst. Coba renungkan keputus-asaan Kierkegaard. Standard Edition. Kembali ke kegelisahan. hal 24358. kegelisahan Lacanian adalah kegelisahan akan kastrasi (pengebirian) dari obyek hasrat: inilah kegelisahan fundamental subyek bagi Lacan. XIV (London: Hogarth Press. kegelisahan bukan bereaksi terhadap kehilangan. terj. 1980).). maka aku takut hidup.Akhirnya. Mourning and Melancholia (1917). Proses ini mensyaratkan subyek untuk memutus hubungannya dengan sang obyek. temasuk kematiannya. Semenjak gagasan kegelisahan adalah selalu merupakan reaksi akan suatu kehilangan. habis. maka aku takut memanjat.39 Perkabungan merupakan proses berpisahnya subyek dengan obyek hasratnya yang sudah tiada (meninggal. R. Subyek selalu akan menemui lacuna (kehampaan) saat (salah-)mengira telah meraih obyek a. engkau adalah pelabuhan cintaku. maka penting untuk menghampiri dan berikutnya membedakan kegelisahan dari bentuk reaksi akan kehilangan lainnya seperti ‘perkabungan’ (mourning) dan ‘melankolia’ (melancholy). misalnya. aku bisa menyakiti orang. aku bisa sakit hati. menjelaskan mengapa sepasang kekasih—a la telenovela Meksiko—yang sedang kasmaran dengan begitu mudahnya berkata. hal 20-2. dimensi terpenting dari kegelisahan Lacanian bukan pada obyeknya. Perkabungan yang “sukses” membuat subyek mampu menerima kepergian sang obyek. maka aku takut berhubungan dengan orang. Anderson (Princeton: Princeton University Press. kesalah-mengiraan akan kehilangan ini menjadi bedrock bagi kekurangan fundamental yang tak akan pernah dipenuhi secara permanen. Hal ini. Thomte dan A. Verso: 2004). “Alejandro.40 Kemungkinan yang dimaksudnya adalah kemungkinan akan terjadinya segala sesuatu. Agak berbeda dengan melankolia dan perkabungan. Untuk tarikan politiknya. aku bisa jatuh. The Concept of Anxiety: A Simple Psychological Orienting Deliberation on the Dogmatic Issue of Hereditary Sin. Jadi. dst. tak kan kubiarkan ayahmu menjauhkanmu dariku!”—sebenarnya bukan kedua tokoh konyol ini yang saling mengkuatirkan satu sama lain.

he Fragment of Life”. kamu akan menyesal.“Jika kamu kawin. It is precisely what is subtracted from the living being by virtue of the fact that it is subject to the cycle of sexed reproduction. kamu akan menyesal. “The object of anxiety is a nothing”. 2000) 42 Jacques Lacan. kamu akan menyesal.” Lantas apakah kegelisahan adalah tanpa obyek? Tidak juga: Lacan menjawab. simplified. life that has need of no organ. mulai uang yang “digondol” Gayus sampai status quo jabatan yang dipegang SBY saat ini. dari citraan ideal Imajiner sampai kemanunggalan kedaulatan negara: “It is the libido. obyek ini tidak dapat diakses. Howard V. Tertawakanlah kegilaan dunia atau ratapilah. Dalam bahasa Lacanian. maka semakin besar kegelisahan akan kemungkinan terburuk. subyek mengira ia telah mendapat obyek a: padahal tidak—bagaimana mungkin subyek yang salah-mengira akan kehilangan dapat benarmengira telah mendapatkan? Kehilangan dan kemendapatan: kedua-duanya adalah mirage. kegelisahan bukan ditimbulkan dari ketidak-hadiran obyek. immortal life.”41 Bila diamati dengan seksama. Jeffrey Mehlman.”43 Søren Kierkegaard. maka kemungkinan akan segala sesuatu ini dimungkinkan oleh ‘kebebasan’—semakin besar kebebasannya. 1981). kamu akan menyesal. efek salah-mengira. NY: W. jangan gantung dirimu. dan sebagaimana yang akan dibahas di studi ini. that is to say. jika tidak kawin kamu juga akan menyesal.). terj. kegelisahan akan berarti suatu kegelisahan kalau-kalau sang subyek termakan habis saat ia menikmati obyek a-nya. hal. yang telah-selalu (always-already) hilang dari presentasi simbolik rupa-rupa obyek hasrat mulai es krim Cold Stone sampai tubuh molek Jessica Alba. 198. 43 Jacques Lacan. gantunglah dirimu. entah kamu menertawakan kegilaan dunia atau meratapinya. Obyek a adalah obyek kegelisahan Lacanian. Tuan-tuan. 40 (Spring. Sheridan (London. entah kamu menggantung dirimu atau tidak. qua pure life instinct. Ind. “it’s enveloping presence”! Hanya saja terhadap kehadirannya yang enveloping tersebut. A. And it is of this that all the forms of the objet a that can be enumerated are the representatives. atau bahasa Lacan. peny. walaupun Lacan menamainya dengan lebih baik: lamella. inilah ringkasan dan saripati segala filsafat. kamu akan menyesal. kamu akan menyesal. Hong dan Edna H. Book XI: The Four Fundamental Concept of Psychoanalysis. The Seminar of Jacques Lacan. dalam The Essential Kierkegaard. ia adalah sesuatu yang selalu hilang. 82. “ elle n’est pas sans objet” (ia bukanlah tanpa obyek. its figures. the equivalents. melainkan justru kehadirannya. mengatakan bahwa “we are condemned to be free. Tak pelak Jean-Paul Sartre. October. namun sayangnya.” tej. indestructible life. NJ: Princeton Uni Press. mengikui Kierkegaard. 41 . Hong (Princeton.Norton & Company.W. hal. Kierkegaard membahasakannya lebih baik. Selections . sang inti obyek hasrat yang akan selalu luput. “Introduction to the Names-of-the-Father Seminar. kawin atau tidak.42 Seperti petikan imajiner kisah konyol di atas. “Either/Or. kamu akan menyesal. 1987). The objets a are merely its representatives. or irrepressible life.

1971).”45 karena obyek sublim inilah yang dicari-cari subyek dari rupa-rupa obyek hasrat yang dikejar-kejar subyek . hal. Gagasan ini dipengaruhi oleh Kierkegaard tentang fantasi kemungkinan: kemungkinan mati. Saat subyek merasa citra dirinya tidak seperti yang ditampakkan pada cermin ideal. dst. Jadi. Žižek menyebut obyek sublim ini sebagai “something in it more than itself. dan sekali lagi pencarian tersebut adalah sia-sia. melainkan tubuh sublim dari orang itu yang “in you more than yourself. The Sublime. Berbeda dengan obyek material. kemungkinan dikastrasi.” Inilah yang penulis maksud di awal sebagai “intersubyektivitas tanpa subyek.Lamella inilah yang alih-alih menyurutkan hasrat terhadap obyek-penyebab-hasrat tersebut... Vol. malah semakin menyulut hasrat untuk tak henti-hentinya mengejarnya. dan kegelisahan inilah yang mengindikasikan kegegaran subyek—kenyataan bahwa subyek tidak dapat benar-benar Žižek. ‘kastrasi’) dirinya karena kegagalannya dalam mengubah citra-dirinya yang aneh.” Lihat Stuart Schneiderman.. hal 30. “The basic concept of castration asserts that the greatest anxiety derives not from the possibility of dying but from the possibility of never-having-lived. ia tidak dapat dikorupsi dan dihancurkan. Di sini Lacan menghubungkan citra diri yang mencemaskan ini dengan konsep uncanny (keanehan yang melampaui pengetahuan) dari Freud. “The Uncanny (1919). karena obyek sublim tersebut telah-selalu hilang. saat subyek mendambakan orang lain sebagai suatu obyek hasrat.” Simptom Kegagalan yang senantiasa mengiringi subyek untuk dapat mengakuisisi obyek a pada dasarnya memang akan selalu memicu kegelisahan. kemungkinan tertimpa musibah.44 Obyek a yang menjadi “perwakilan” lamella—yang selalu-telah hilang— akhirnya terangkat statusnya menjadi obyek sublim (sublime object). karena merasa ada yang kurang dalam dirinya. fantasi kehancuran eksistensial akan selalu menghantui. anxiety is the lack of a lack. 104. Intinya. atau tubuh di dalam tubuh.” yaitu saat tubuh subyek yang lain dianggap sematamata sebagai kontainer suatu obyek kepuasan yang sebenarnya telah-selalu hilang. kegelisahan ini berikutnya memproduksi suatu skenario yang mengada-ada (berlebihan.” dalam Standard Edition. Oleh karena inilah Lacan mengatakan bahwa kecemasan muncul saat “the lack is itself lacking.” diacritics. Hal ini demikian karena keberadaan—atau lebih tepatnya keselalu-telah-hilangan—lamella memberi tubuh kedua bagi obyek hasrat. 44 45 . bentuk kongkrit obyek hasrat. surplus) akan kehancuran eksistensial47 (bahasa teknisnya. Obyek sublim akan tetap (disalah-mengerti sebagai) ada sekalipun obyek material yang membawanya telah tiada.46 Tidak berhenti disini. hal. “Afloat with Jacques Lacan. obyek sublim ini tidak lekang dimakan waktu. Kegelisahan juga berhubungan dengan fase cermin. XVII 47 Lacan juga kerap menggunakan kata ‘kastrasi’ untuk ini. 12-3. yaitu tubuh sublim (sublime body). 1(2) (Winter. keberadaannya adalah fatamorgana yang diciptakan subyek yang senantiasa gegar dan berkekurangan. yang diinginkannya bukanlah orang tersebut. 46 Sigmund Freud. maka ia akan gelisah. semisal. Ibid.

namun proses pembentukan dan kelangsungannya sepenuhnya bersifat tak sadar. dan yang membuat kehidupan tampak “normal” dan “wajar-wajar saja” setidaknya sampai yang-Riil. kontradiksi. yaitu penundaan pengetahuan. juga pada dasarnya berkekurangan! Dengan kata lain. yang-Simbolik.dipuaskan dengan penyerahan diri ke perangkap citraan Imajiner dan ke perbudakan Simbolik. sebagaimana dikutip Yannis Stavrakakis. 39. agar subyek dapat “enjoy your symptom!”. keretakkan. sebenarnya juga mengalami kegegaran. Enjoy Your Symptom! Jacques Lacan in Holywood and Out (London. sebagaimana Žižek tekankan. atau reifikasi (Lukács) dari ketidaksadaran.” Simptom selalu berada pada tataran kesadaran. mengapa demikian? Bukankah yang-Simbolik sifatnya absolut? “Rahasia besarnya [psikoanalisis]. Lacan and the Political (London: Routledge. yaitu yang selalu dicoba dibendung dan direpresi oleh citraan Imajiner dan Simbolik. persis seperti 48 49 Bdk. 1992) Lihat Lacan. adalah karena yang-Simbolik. Segala pengetahuan harus ditangguhkan secara radikal agar simptom bisa berfungsi dengan mulus. subyek harus rela meredam pertanyaan-pertanyaannya terhadap simptomnya dan menjalaninya secara taken-for-granted. simptom selalu merupakan formasi. adalah bahwa ia ditopang oleh kerelaan sang subyek untuk menjadi dungu (ignorant) dihadapannya. antagonis. yang-Riil dapat diasosiasikan dengan gagasan kontra-tatanan. kristalisasi.”49 seperti kata Lacan. sisi lain (nether side). Slavoj Žižek. Namun demikian. Simptom adalah formasi normalitas keseharian subyek. Adalah ‘simptom’ yang menjadi biang keseolah-lahan di atas. maka subyek tersebut harus rela menjadi dungu dan berpura-pura buta terhadap (i)logika yang mendasari simptom tersebut. Pertanyaannya adalah. hal ini tidak lantas berarti kegagalan ini membuat subyek tidak dapat hidup tanpanya. subyek bisa tetap menjalani kehidupannya sehari-hari dengan tenang dengan bertindak seolah-olah telah mengetahui. demi konsistensi eksistensinya sehari-hari. ketiadaan dan chaos yang akan selalu membatalkan seluruh proses simbolisasi. paradoks kesuraman. berkaitan dengan supremasi Simbolik dalam kehidupan subyek. materialisasi. Jadi.48 Poin penting yang dapat ditarik untuk sementara. Normalitas yang diimplikasikan simptom tidak serta-merta meniadakan kegegaran. . NY: Routledge. atau paradoks yang senantiasa melekat pada subyek. Simptom menata keseharian sedemikian rupa agar kegegaran dan kontradiksi internal yang senantiasa melekat pada formasi ke-diri-an subyek tidak mencuat ke dalam wilayah “kesadarannya. 1999). Dalam konteks ini. kembali menampakkan dirinya di realitas. melainkan ditunda secara terus menerus atau dikanalisasi sedemikian rupa agar “kedatangannya” tidak mengganggu konsistensi normalitas tersebut. Ke-seolah-olahan inilah yang menjamin konsistensi eksistensi subyek ditengah kegegaran dan ambiguitas ke-diri-annya. kontradiksi. artinya. Sehingga sampai titik ini. sublimasi (Žižek). hal. sang Lain besar. Penundaan “return of the repressed” ini mensyaratkan penundaan lainnya pada subyek. kegelapan. atau malah mendapatkan obyek a tersebut.

“The world is a dangerous place to live. London: W. sebagai simptom hasil fabrikasi yang-Simbolik. (1976-1977).51 Kedunguan terhadap simptom adalah hal penting karena meskipun retak. hal 16. 1975-76. “Seminar 19: Wednesday. tidak menjelaskannya secara gamblang sehingga membuat orang harus meraba-raba sendiri—mungkin memang itu yang dimaui Lacan. pemimpinnya tidak bermoral. Miller. seolah-olah hanya negara yang dapat menjadi solusi permasalahan yang dihadapi. hal. kegegaran. simptom adalah oknum yang mengunci RSI dari ketercerai-beraian. atau kontradiksi yang melekat padanya.54 Secara analitis. simptom merupakan tatanan keempat yang sekaligus menata ketiga tatanan sebelumnya. 51 Albert Einstein pernah mengucapkan pernyataan yang senada. Book XX. 55 Bdk.53 Harmoni ketiga tatanan RSI. terj.52 Simptom adalah jalinan kompleks RSI: “The ex-sistence of the symptom is implied by the very position.” kepercayaan fetis terhadap negara. malahan menurut Lacan. symptom bertujuan mengunci Riil. hal ini dilakukannya dengan mendomestifikasi yang-Riil ke dalam suatu kontainer imajiner.” Lacan. terj. 1967. Seminar XXIII: The Sinthome. Karena apabila hal ini terjadi. which supposes this enigmatic link between the imaginary.. On Feminine Sexuality The Limits of Love and Knowledge. kekurangan. hal 6. peny. or loss therein. hole. Tidak jarang ungkapan seperti ini terdengar: “kita tahu bahwa negara kita ini korup.W. 6-11.” 52 Lacan. (Naskah tidak diterbitkan). Namun demikian. seperti biasa. pembahasan paling sistematis dapat dilihat pada Seminar XXIII: The Sinthome. B. Jacques Lacan. dalam hubungannya dengan ketiga tatanan RiilSimbolik-Imajiner (RSI). Tidak hanya itu. but because of the people who don’t do anything about it. May 10. J-A. namun bagaimanapun juga kita tetap butuh negara. antagonisme fundamental pembawa petaka bagi tatanan. dan keretakan ini diasumsikan seolah-olah absen oleh subyek yang mendiaminya. not because of the people who are evil. Mengapa demikian? Karena realitas adalah simptom itu sendiri.55 Jadi. Norton & Company. “symptom is everywhere. 50 . stabilitas dan konsistensi realitas.” kata Lacan. 54 Ibid. maka stabilitas realitas sosial akan kolaps. diterbitkan di Ornicar. the symbolic and the real. definisi analitis bagi simptom: manifestasi simbolik atas keutuhan imajiner yang tak-mungkin. L. 28. Thurston. yang berdampak pada totalitas.subyek: “there is a fault.”50 Sehingga realitas. Secara teknis psikoanalitis.” dalam Seminar 14: The Logic of Fantasy.” Lantas keseolah-olahan apa yang ditimbulkan oleh simptom ini?—tidak lain adalah apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai “statolatry. dan akhirnya menyegelnya dengan penanda simbolik: jadilah apa yang disebut-sebut realitas. Jacques Lacan. akan selalu ditandai dengan keretakan. merupakan hasil kerja simptom. 53 Ibid. Fink (NY. bisa disimpulkan. The Seminar of Jacques Lacan. ketiadaan sama sekali akan simptom justru membawa bencana yang lebih besar. meskipun negara itu sendiri bermasalah (bahkan merupakan sumber masalah)—simptom inilah yang dalam studi ini akan penulis bongkar.

(CA: Zeitgeist Films. bahwa “the truth has no other form than the symptom”59—simptom adalah satu-satunya jalan bagi kebenaran untuk dapat “dipahami”. penyanyi rap dari Amerika Serikat. dalam Astra Taylor. ‘The Real Slim Shady’. Not the whole truth. secara psikoanalitis. kebenaran selalu merupakan kategori yang-Riil—yang selalu menolak simbolisasi..” Eminem. merupakan upaya “irrational rationalizing of the irrational.Gambar 2 Topologi Psike Manusia dan Letak Simptom Efek normal dari realitas yang mampu dihasilkan simptom. yang berusaha membuat pembenaran-pembenaran rasional..”. [HYP] David Harvey. To say everything is impossible. So the true one can never be found because he will deny his own truth. [Film Dokumenter] 59 Lacan. Žižek!. secara tak sengaja memaparkan inspirasi lagu terkenalnya Real Slim Shady yang agaknya sejalan dengan nada Lacanian. 2000). “[T]he true one is the only one that cannot stand up. berikutnya. kebenaran adalah suatu ketidak-mungkinan bagi realitas Simbolik. Pandangan ini seolah-olah mengasumsikan bahwa kebenaran bisa tampil secara vulgar dan vivid. Upaya ini. karena sulit dipungkiri.57 Namun demikian justru ketidak-mungkinan inilah yang membuat kebenaran muncul dalam realitas: “I always tell the truth. “Seminar 19. 56 . 58 Jacques Lacan. on Marshall Mathers (European Union: Records for The Universal Music Company. akan lebih “aman” untuk memahami simptom sebagai kebenaran yang terkodekan dalam suatu kebohongan. Bloomsbury. “The Crisis Now.” disampaikan dalam simposium Marxism 2009.”56 Namun demikian adalah terlalu gegabah untuk mengasosiasikan simptom sebagai kebohongan. the only one who will deny that he is the true one. 2005). 5 Juli 2009. merupakan hasil dari upaya yang-Simbolik untuk membuat yang-Riil dapat “ditolerir” dan tidak dipertanyakan oleh subyek-subyek yang mendiami realitas tersebut. meminjam David Harvey. It’s this impossibility which brings truth close to ‘the real’”58 Jadi. sebaliknya. there’re not enough words. because one can’t. [Video] 57 Eminem.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful