You are on page 1of 15

BAB I STATUS PASIEN MATA I.

IDENTITAS Nama Lengkap Jenis Kelamin Umur Pekerjaan Alamat Datang ke poli mata II.ANAMNESIS Keluhan Utama Keluhan Tambahan RPS : Kedua mata merah sejak 2 hari sebelum kepoli mata : Berair, perasaan seperti berpasir, sakit, silau, belek, nyeri di depan telinga kiri : Pasien datang ke poli mata dengan keluhan kedua mata merah sejak 2 hari sebelum kepoli mata. Selain itu disertai dengan berair, perasaan seperti berpasir, silau, keluar belek, dan nyeri pada depan telinga. Pasien merasa keluhan semakin berat, dan pasien sering mengucek matanya. Pasien menyangkal adanya penurunan penglihatan. Pasien tidak menggunakan kaca mata sebelumnya. RPD Riwayat Lingkungan Riwayat Pengobatan : Pasien belum pernah sakit mata sebelumnya : sebelumnya anak pasien terkena sakit mata Kira-kira 1 minggu yang lalu, namun sudah berobat dan sembuh : Pasien menetesi matanya dengan Cendo Citrol sejak matanya mulai merah, namun tidak dirasakan adanya perubahan. : Tn. Ismail : Pria : 33 tahun : Wiraswasta : Jakarta Timur : 10 februari 2011

III.PEMERIKSAAN FISIK 1. Pemeriksaan Fisik Umum Tanda vital Status generalis Kepala : normocephal, Leher : pembesaran kelenjar (-) Dada : dalam batas normal Perut : dalam batas normal Ekstremitas : dalam batas normal Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan Suhu : sakit ringan : composmentis : 120/ 80 mmHg : 88 kali/ menit : 20 kali/ menit : afebris

2. Pemeriksaan Fisik Mata PEMERIKSAAN VISUS OD : 6/6 OS : 6/6

OD Orthoforia Baik kesegala arah Udem ( + ) hiperemis (-) Udem (-), hiperemis (-) Hiperemis (+) papil (-), folikel (-) Injeksi siliar (-), injeksi konjungtiva (+), kemosis (+) Hiperemis (+), papil(-), folikel (-) Jernih, ulkus (-) Sedang Bulat isokor, reflex (+) Jernih Tidak dapat di evaluasi Tidak dilakukan

Kedudukan Bola Mata Pergerakan Bola Mata Palpebra Superior Palpebra Inferior Konjungtiva Tarsalis Superior Konjungtiva Bulbi Konjungtiva Tarsalis Inferior Kornea COA Pupil Lensa Vitreous Humor Funduskopi

OS Orthoforia Baik ke segala arah Udem ( + ), hiperemis (-) Udem (-), hiperemis (-) Hiperemis (+), papil (-), folikel (-) Injeksi siliar (-), injeksi konjungtiva (+), kemosis (+) Hiperemis (+), Papil(-), folikel(-) Jernih, ulkus (-) Sedang Bulat isokor, reflex (+) Jernih Tidak dapat di evaluasi Tidak dilakukan

IV.RESUME Seorang pria berusia 33 tahun, datang ke poli mata dengan keluhan kedua mata merah sejak 2 hari sebelum kepoli mata yang disertai dengan berair, perasaan seperti berpasir, silau,

keluar belek, dan nyeri pada depan telinga. Pasien sering mengucek matanya. Pasien menyangkal adanya penurunan penglihatan. Pasien tidak menggunakan kaca mata sebelumnya. Pasien belum pernah sakit mata sebelumnya. Dilingkungan tempat tinggal, anak pasien mengeluhkan hal yang sama 1 minggu yang lalu. Pasien membeli obat Cendo Citrol dan menetesi matanya sendiri namun tidak ada perubahan. Pada pemeriksaan oftalmikus didapatkan : Visus : OD : 6/6. dan OS : 6/6. Palpebra ODS : edema palpebra (+) Konjungtiva bulbi ODS : tampak injeksi konjungtiva, Konjungtiva tarsal superior dan inferior tampak hiperemis, folikel (-), papil (-). V. DIAGNOSA KERJA Konjungtivitis akut ODS VI.PENATALAKSANAAN Terapi : Antibiotik topikal Steroid topikal Roborontia Edukasi : jangan mengucek mata dan kompres

BAB II PENDAHULUAN Konjungtiva (selaput lendir) adalah selaput tipis tembus cahaya yang membungkus bagian putih (sclera) bola mata bagian depan dan kelopak mata bagian dalam. Bersifat elastis dan menghasilkan lendir untuk turut membasahi bola mata bagian luar. Di dalam konjungtiva terdapat pembuluh darah halus yang akan semakin jelas apabila di lihat dekat. Konjungtiva mudah terpapar terhadap berbagai mikroorganisme dan substansi lain yang merusak. Meskipun demikian, konjungtiva mempunyai system pertahanan sendiri berupa mekanisme pembersihan oleh air mata yang mengandungg lisozim, betasim, Imunoglobin A, dan imunoglobin G yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. 1,2,3,4 Saat konjugtiva mengalami iritasi atau terjadi peradangan maka pembuluh darah tersebut akan membesar dan tampak menonjol sehingga mata berubah menjadi merah kejadian inilah yang disebut konjugtivitis. Dalam bahasa sehari-hari disebut belekan. Konjungtivitis adalah penyebab mata merah yang paling umum Penyebabnya adalah bakteri, virus, jamur, parasit, zat toksik, alergi, dan trauma. 5,6 Insidensi konjungtivitis di Indonesia berkisar antara 2--75%. Data perkiraan jumlah penderita penyakit mata di Indonesia adalah 10% dari seluruh golongan umur penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis. Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%). 7,8,9. Menurut jenisnya, terdapat 4 jenis konjungtivitis terbanyak, yaitu konjungtivitis kataralis akut (29,74%), konjungtivitis folikularis (21,43%), konjungtivitis fliktenularis (8,88%), dan konjungtivitis kataralis kronik (3,35%). Selebihnya (36,60%) adalah konjungtivitis jenis lain yang didapatkan pada penderita dengan usia termuda 3 hari dan tertua 75 tahun. 9,10,11,12.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

I.

ANATOMI DAN FISIOLOGI KONJUNGTIVA Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian :

1. Konjungtiva tarsal, yang menutupi tarsus 2. Konjungtiva bulbi, yang menutupi sklera 3. Konjungtiva fornix, adalah tempat peralihan konjungtiva tarsal dan konjungtiva bulbi Untuk mencegah kekeringan, konjungtiva dibasahi dengan cairan yang keluar dari kelenjar air mata (kelenjar lakrimal) yang terdapat di bawah alis. Air mata mengandung lendir, garam, dan antiseptik dalam jumlah kecil. Air mata berfungsi sebagai alat pelumas dan pencegah masuknya mikroorganisme ke dalam mata.

KET. GBR : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Forniks sup & inf Konj.tarsal superior & inf erior Kripte Henle Kel. Krause Kel. Wolfring Kel lakrimal Kel. Manz Tarsus superior

II.

KONJUNGTIVITIS Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva, biasanya terdiri dari hyperemia

konjungtiva disertai dengan pengeluaran secret. Konjunctivitis dapat disebabkan bakteri, virus, klamidia, alergi toksik, dan molluscum contagiosum. VIRUS GATAL HIPEREMI LAKRIMASI (SEKRET) ADENOPATI SEL-SEL Minimal Menyeluruh ++ BAKTERI Minimal Menyeluruh + Banyak ALERGI Berat Menyeluruh + (muko- Minimal (benang) Eosinofil

EKSUDAT Minimal (serous, mukous) + Monosit

purulen/purulen) Jarang PMN

Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis dapat berupa hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata di pagi hari, pseodoptosis akibat kelopak membengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membrane, pseudomembran, granulasi, flikten, mata merasa seperti ada benda asing, dan adenopati preaurikular. Biasanya sebagai reaksi konjungtivitis akibat virus berupa terbentuknya folikel pada konjungtiva. Jenis Konjungtivitis dapat ditinjau dari penyebabnya dan dapat pula ditinjau dari gambaran klinisnya yaitu : 1. Konjungtivitis Kataral 2. Konjungtivitis Purulen, Mukopurulen 3. Konjuntivitis Membran 4. Konjungtivitis Folikular 5. Konjungtivitis Vernal 6. Konjungtivitis Flikten Konjungtivitis Kataral

Etiologi Biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, antara lain stafilokok aureus, Pneumokok, Diplobasil Morax Axenfeld dan basil Koch Weeks. Bisa juga disebabkan oleh virus, misalnya Morbili, atau bahan kimia seperti bahan kimia basa (keratokonjungtivitis) atau bahan kimia yang lain dapat pula menyebabkan tandatanda konjungtivitis kataral. Herpes Zoster Oftalmik dapat pula disertai konjungtivitis. Gambaran Klinis Injeksi konjungtiva, hiperemi konjungtiva tarsal, tanpa folikel, tanpa cobble-stone, tanpa flikten, terdapat sekret baik serous, mukus, mukopurulen (tergantung penyebabnya). Dapat disertai blefaritis atau obstruksi duktus lakrimal. Pengobatan Pengobatan Konjungtivitis Kataral tergantung kepada penyebabnya. Apabila penyebabnya karena inf. bakteri maka dapat diberikan antibiotik, seperti : tetrasiklin, kloromisetin, dan lain-lain. Pada infeksi virus dianjurkan pemakaia sulfasetamid atau obat anti-virus seperti IDU untuk infeksi Herpes Simplek. Konjungtivitis Purulen, Mukopurulen Etiologi Pada orang dewasa disebabkan oleh infeksi gonokok, pada bayi (terutama yang berumur di bawah 2 minggu) bila dijumpai konjungtivitis purulen, perlu dipikirkan dua kemungkinan penyebab, yaitu infeksi golongan Neisseria (gonokok atau meningokok) dan golongan klamidia (klamidia okulogenital) Gambaran Klinis Gambaran konjungtiva tarsal hiperemi seperti pada konjungtivitis kataral. Konjungtivitis Purulen ditandai sekret purulen seperti nanah, kadang disertai adanya pseudomembran sebagai massa putih di konjungtiva tarsal. Pengobatan Pengobatan konjungtivitis purulen harus intensif. Penderita harus dirawat diruang isolasi. Mata harus selalu dibersihkan dari sekret sebelum pengobatan. Antibiotik lokal dan sistemik AB sistemik pd dewasa :

Cefriaxone IM 1 g/hr selama 5 hr + irigasi saline atau Penisilin G 10 juta IU/IV/hr selama 5 hr + irigasi AB sistemik pd neonatus : Cefotaxime 25 mg/kgBB tiap 8-12 jam selama 7 hr atau Penisilin G 100.000 IU/kgBB/hr dibagi dl 4 dosis selama 7 hr + irigasi saline Konjungtivitis Membran Etiologi Konjungtivitis Membran dapat disebabkan oleh infeksi Streptokok hemolitik dan infeksi difteria. Konjungtivitis Pseudomembran disebabkan oleh infeksi yang hiperakut, serta infeksi pneumokok. Gambaran Klinis Penyakit ini ditandai dengan adanya membran/selaput berupa masa putih pada konjungtiva tarsal dan kadang juga menutupi konjungtiva bulbi. Massa ini ada dua jenis, yaitu membran dan pseudomembran. Pengobatan Tergantung pada penyebabnya. Apabila penyebabnya infeksi Streptokok B hemolitik, diberikan antibiotik yang sensitif. Pada infeksi difteria, diberi salep mata penisillin tiap jam dan injeksi penisillin sesuai umur, pada anak-anak diberikan penisillin dengan dosis 50.000 unit/KgBB, pada orang dewasa diberi injeksi penisillin 2 hari masing-masing 1.2 juta unit. Untuk mencegah gangguan jantung oleh toksin difteria, perlu diberikan antitoksin difteria 20.000 unit 2 hari berturutturut. Konjungtivitis Folikular Dikenal beberapa jenis konjungtivitis follikular, yaitu konjungtivitis viral, konjungtivitis klamidia, konjungtivitis follikular toksik dan konjungtivitis follikular yang tidak diketahui penyebabnya. Jenis Konjungtivitis Follikular 1. Kerato-Konjungtivitis Epidemi Etiologi Infeksi Adenovirus type 8, masa inkubasi 5-10 hari Gambaran Klinis

Dapat mengenai anak-anak dan dewasa Gejala radang mata timbul akut dan selalu pada satu mata terlebih dahulu. Kelenjar pre-aurikuler dapat membesar dan nyeri tekan, kelopak mata membengkak, konjungtiva tarsal hiperemi, konjungtiva bulbi kemosis. Terdapat pendarahan subkonjungtiva. Pada akhir minggu pertama perjalanan penyakit, baru timbul gejala di kornea. Pada kornea terdapat infiltrat bulat kecil, superfisial, subepitel. Gejala-gejala subyektif berupa mata berair, silau dan seperti ada pasir. Gejala radang akut mereda dalam tiga minggu, tetapi kelainan kornea dapat menetap berminggu-minggu, berbulan-berbulan bahkan bertahun-tahun setelah sembuhnya penyakit. Pengobatan Tidak terdapat pengobatan yang spesifik, dianjurkan pemberian obat lokal sulfasetamid atau antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. 2. Demam Faringo-Konjungtiva Etiologi Penyebab paling sering adalah adenovirus tipe 3 Gambaran Klinis Lebih sering pada anak daripada orang dewasa. Terdapat demam, disamping tanda-tanda konjungtivitis follikular akut dan faringitis akut. Kelenjar pre-aurikuler dapat membesar. Lebih sering mengenai dua mata, kelopak mata membengkak. Dua minggu sesudah perjalanan penyakit dapat timbul kelainan kornea, yaitu terdapat infiltrat bulat kecil superfisial. Faringitis timbul beberapa hari setelah timbulnya konjungtivitis follikular akut. Pengobatan Tidak ada pengobatan yang spesifik 3. Konjungtivitis Hemorraghik Akut Etiologi Penyebabnya adalah Entero-virus 70, masa inkubasinya 1-2 hari Gambaran Klinis Timbulnya akut, disertai gejala subjektif seperti ada pasir, berair dan diikuti rasa gatal, biasanya dimulai pada satu mata dan untuk beberapa jam atau satu dua hari kemudian diikuti peradangan akut mata yang lain.

Penyakit ini berlangsung 5-10 hari, terkadang sampai dua minggu. Pengobatan Tidak dikenal obat yang spesifik, tetapi dianjurkan pemberian tetes mata sulfasetamid atau antibiotik. 4. Konjungtivitis New Castle Etiologi Virus New Castle, masa inkubasi 1-2 hari Konjungtivitis ini biasanya mengenai orang-orang yang berhubungan dengan unggas, penyakit ini jarang dijumpai. Gambaran Klinis Gambaran Klinik : kelopak mata bengkak, konjungtiva tarsal hiperemi dan hiperplasi, tampak folikel-folikel kecil yang terdapat lebih banyak pada konjungtiva tarsal inferior. Pada konjungtiva tarsal dapat ditemukan perdarahan dan pada konjungtiviis ini biasanya disertai pembesaran kelenjar pre-aurikular, nyeri tekan. Sering unilateral Gejala subjektif : seperti perasaan ada benda asing, berair, silau dan rasa sakit. Pengobatan Tidak ada pengobatan yang efektif, tetapi dapat diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. 5. Inclusion Konjungtivitis Etiologi Klamidia okulo-genital, masa inkubasi 4-12 hari Gambaran Klinis Gambaran kliniknya adalah konjungtivitis follikular akut dan gambaran ini terdapat pada orang dewasa dan didapatkan sekret mukopurulen, sedang pada bayi gambaran kliniknya adalah suatu konjungtivitis purulen yang juga disebut Inclusion blenorrhoe. Pengobatan Diberikan tetrasiklin sistemik, dapat pula diberikan sulfonamid atau eritromisin 6. Trachoma Etiologi

Klamidia trakoma Gambaran Klinis Gambaran klinik terdapat empat stadium : 1. Stadium Insipiens atau permulaan Folikel imatur kecil-kecil pada konjungtiva tarsal superior, pada kornea di daerah limbus superior terdapat keratitis pungtata epitel dan subepitel. Kelainan kornea akan lebih jelas apabila diperiksa dengan menggunakan tes flurosein, dimana akan terlihat titik-titik hijau pada defek kornea. 2. Stadium akut (trakoma nyata) Terdapat folikel-folikel di konjungtiva tarsal superior, beberapa folikel matur berwarna abu-abu 3. Stadium sikatriks Sikatriks konjungtiva pada folikel konjungtiva tarsal superior yang terlihat seperti garis putih halus. Pannus pada kornea lebih nyata. 4. Stadium penyembuhan trakoma inaktif, folikel, sikatriks meluas tanpa peradangan Pengobatan Pemberian salep derivat tetrasiklin 3-4 kali sehari selama dua bulan. Apabila perlu dapat diberikan juga sulfonamid oral. Konjungtivitis Vernal Etiologi Kemungkinan suatu konjungtivitis atopik Gambaran Klinis Gejala subyektif yang menonjol adalah rasa sangat gatal pada mata, terutama bila berada dilapangan terbuka yang panas terik. Pada pemeriksaan dapat ditemukan konjungtivitis dengan tanda khas adanya cobble-stone di konjungtiva tarsalis superior, yang biasanya terdapat pada kedua mata, tetapi bisa juga pada satu mata. Sekret mata pada dasarnya mukoid dan menjadi mukopurulen apabila terdapat infeksi sekunder. Pengobatan Kortikosteroid tetes atau salep mata.

Konjungtivitis Flikten Etiologi Gejala Adanya flikten yang umumnya dijumpai di limbus. Selain di limbus, flikten dapat juga dijumpai di konjungtiva bulbi, konjungtiva taarsal dan kornea. Penyakit ini dapat mengenai dua mata dan dapat pula mengenai satu mata. Dan sifatnya sering kambuh Apabila flikten timbul di kornea dan sering kambuh, dapat berakibat gangguan penglihatan. Apabila peradangannya berat, maka dapat terjadi lakrimasi yang terus menerus sampai berakibat eksema kulit. Keluhan lain adalah rasa seperti berpasir dan silau. Pengobatan Usahakan mencari penyebab primernya Diberikan Kortikosteroid tetes mata/salep Kombinasi antibiotik + kortikosteroid dianjurkan mengingat kemunginan terdapat infeksi bakteri sekunder. KONJUNGTIVITIS SIKA Konjungtivitis sika atau konjungtivitis dry eyes adalah suatu keadaan keringnya permukaan konjungtiva akibat berkurangnya sekresi kelenjar lakrimal. Etiologi Terjadi pada penyakit-penyakit yang menyebabkan defisiensi komponen lemak air mata, kelenjar air mata, musin, akibat penguapan berlebihan atau karena parut kornea atau hilangnya mikrovili kornea. Bila terjadi bersama atritis rheumatoid dan penyakit autoimun lain, disebut sebagai sindrom sjogren. Manifestasi Klinis Gatal, mata seperti berpasir, silau, dan kadang-kadang penglihatan kabur. Terdapat gejala sekresi mucus yang berlebihan, sukar menggerakkan kelopak mata, mata tampak kering, dan Disebabkan oleh karena alergi terhadap bakteri atau antigen tertentu (hipersensitivitas tipe IV). Gizi buruk dan sanitasi yg jelek merupakan faktor predisposisi Lebih sering ditemukan pd anak-anak

terdapat erosi kornea. Pada pemeriksaan tedapat edema konjungtiva bulbi, hiperemis, menebal dan kusam. Kadang tedapat benang mucus kekuning-kuningan pada forniks konjungtiva bawah. Keluhan berkurang bila mata dipejamkan. Komplikasi Ulkus kornea, infeksi sekunder oleh bakteri, parut kornea, dan noevaskularisasi kornea. Penatalaksanaan Diberikan air mata buatan seumur hidup dan diobati penyakit yang mendasarinya. Sebaiknya diberikan air mata buatan tanpa zat pengawet kerena bersifat toksik bagi kornea dan dapat menyebabkan reaksi idiosinkrasi. Dapat dilakukan terapi bedah untuk mengurangi drainase air mata melalui oklusi pungtum dengan plug silicon atau plug kolagen.

Daftar Pustaka

1 Vaughan D, Asbury T, Eva PR. General Ophthalmology. Connecticut : Appleton and Lange, 1992. 2. Gombos GM. Handbook of Ophthalmology Emergencies 2nd ed. Singapore : Toppan Company Pte Ltd, 1997. 3. Smolin G, Tabbara K, Witcher J. Infectious Disease of The Eye. London : Williams and Wilkin, 1984. 4. Baum J. Infectious of The Eye. Clin-Infect-Dis 1995 Sept ; 21(3) : 479-86. 5. Scheie HG, Albert DM. Textbook of Ophthalmology. 9th ed. Tokyo : Igaku Shoin Ltd, 1978. 6. Pavan-Langston D. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy 2nd ed. Toronto : Little Brown and Company, 1985 7. Mailangkay HHB. Peningkatan pelayanan kesehatan mata dalam pencegahan kebutaan di Indonesia. Transaction Konggres PERDAMI IV. Medan, 1980. 8. Mnadang JHA. Masa depan pelayanan pelayanan kesehatan mata di daerah pedesaan Indonesia. Transaction. Konggres PERDAMI IV. Medan, 1980. 9. Matuko W, DotulongWHA. Tinjauan Konjungtivitis di RSU Gunung Wenang Manado. Kumpulan Makalah Konggres Nasional VI PERDAMI. Semarang, 1988. 10. Seal GN. Textbook of Ophthalmology 3th ed. Calcutta : New Eastern Press Syndicate, 1987. 11. E Jawaetz, J L Melnick, E A Adelberg. Korinebakteria. Dalam : Mikrobiologi. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran, 1992. 12. Hodes HL. Diphtheria. Pediatr-Clin-North-Am. 1979 26 : 445. http:// www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?tool=pmcentres&artid=1705660 http:// www.nejm.org/cgl/content/short/348/12/1112.