P. 1
373-364-1-PB

373-364-1-PB

|Views: 0|Likes:
Published by Ahmad Ifan
BAgus
BAgus

More info:

Published by: Ahmad Ifan on Oct 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2015

pdf

text

original

ANALISIS PENGARUH KONDISI PEMOTONGAN

BENDA KERJA (PANJANG PENJULURAN)
TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA
MESIN BUBUT GALLIC 16N
Hernadewita
(1)
, Hendra
(2)
, Herman
(3)
(1)
Staf Pengajar Program Studi Teknik Manajemen Industri Jakarta.
(2)
Staf Pengajar Program Studi Teknik Universitas Bengkulu
(3)
Staf Pengajar SMUN 101 Jakarta.
ABSTRAK
Kondisi pemotongan pada proses pemesinan sangat besar pengaruhnya pada proses
pemotongan benda kerja. Kondisi pemotongan yang tidak tepat dan pemilihan elemen dasar
pemesinan yang tidak sesuai mengakibatkan kegagalan dalam menghasilkan suatu produk.
Untuk mengetahui pengaruh kondisi pemotongan dilakukan pengujian dengan
mengkondisikan benda kerja pada posisi menjulur (kantilever). Hasil pemotongan yang
didapatkan diukur kekasaran permukaannya dengan menggunakan alat pengukur kekasaran
permukaan. Dalam pengujian ini dilakukan dua tahap kondisi yaitu memilih feeding tetap
ke dalaman potong bervariasi dan kedalaman potong tetap feeding bervariasi. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa kekasaran permukaan dipengaruhi oleh kondisi pemotongan
seperti panjang penjuluran, besar feeding dan kedalaman potong yang diberikan.
ABSTRACT
Influence the cutting condition of machining process is the high of cutting process work
piece. Effect inaccurate of cutting condition and selection of basic element machining of
product reject. With using experimental testing can be the known cutting condition effect of
work piece (surface roughness). Measuring of surface roughness used tail surf
(measurement of surface roughness). Result the cutting process is surface roughness
influenced by cutting condition example over hang (cantilever), feeding and dept of cut.
Keywords: machining, feeding, dept of cut.
1. PENDAHULUAN
Kondisi pemotongan pada proses pemesinan dapat
dijadikan acuan dalam evaluasi kualitas produk dan
kestabilan mesin perkakas. Ketidakstabilan proses
pemesinan dapat terjadi karena timbulnya getaran
akibat kondisi pemotongan seperti panjang
penjuluran. Efek panjang penjuluran pada mesin
perkakas menimbulkan kerugian seperti kualitas
permukaan benda kerja menjadi rendah serta
menurunkan ketelitian geometri produk.
Untuk mengetahui pengaruh kondisi pemotongan
dilakukan pengujian pemotongan benda kerja dengan
memvariasikan gerak makan dan kedalaman potong.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan mesin
bubut Gallic 16N dan alat ukur kekasaran permukaan
Tail Surf (Taylor).
Tujuan penelitian ini dilakukan, untuk melihat
pengaruh kondisi pemotongan, yang mana secara
teoritis diketahui bila kondisi pemotongan (panjang
penjuluran benda kerja) besar dapat meningkatkan
kekasaran permukaan benda kerja
[1]
. Besarnya
kekasaran permukaan benda kerja yang terjadi diukur
dengan menggunakan alat ukur kekasaran permukaan
taly surf. Dengan mengetahui kekasaran permukaan
dapat diketahui kualitas proses pemesinan atau
pemotongan yang dilakukan.
Kekasaran permukaan merupakan faktor utama yang
untuk evaluasi produk dapat diterima atau tidak.
Kalau kekasaran permukaan yang tinggi akan
mengakibatkan kinerja komponen pasangan produk
yang dihasilkan akan terganggu. Misalnya dapat
dilihat pada komponen poros yang memiliki
kekasaran akibat proses pemotongan dan pemilihan
elemen dasar proses pemesinan yang tidak tepat
mengakibatkan pada saat pemanfaatannya bisa
menimbulkan keausan pada komponen pasangannya.
Untuk melihat pengaruh kondisi pemotongan
.dilakukan pengujian pemotongan dengan
menggunakan mesin bubut Gallic 16N
2. TINJAUAN PUSTAKA
Elemen Proses Pemesinan
Pengoperasian mesin perkakas diperlukan
pengetahuan tentang elemen dasar proses pemesinan.
Elemen dasar proses pemesinan terdiri atas kecepatan
Jurnal Teknik Mesin Vol. 3, No.1, Juni 2006 ISSN 1829-8958
56
putar, kecepatan potong, kedalaman potong, gerak
makan, kecepatan menghasilkan geram dan waktu
pemotongan. Besar kecepatan putar, gerak makan
dan kedalaman potong mesin perkakas dapat dipilih
sesuai dengan yang tertera pada mesin perkakas.
Pengaturan besar kecepatan putar dan kedalaman
potong tergantung dari pengetahuan dan pengalaman
dalam mengoperasikan mesin perkakas.
Kalau kecepatan putar, gerak makan (feeding) dan
kedalaman potong besar akan menimbulkan getaran
pada mesin perkakas. Getaran akan mempengaruhi
kualitas produk yang dihasilkan (kekasaran
permukaan), memperpendek umur mesin dan dapat
merusak pahat.
Beberapa elemen dasar proses pemesinan yang
mendukung kinerja dari mesin perkakas yaitu :
1. Kecepatan potong. (V) (m/min)
Besar kecepatan potong dapat dihitung dengan
rumus :
1000
n d
V
· ·
=
t
... (1)
dimana :
d = diameter rata-rata yaitu :
( ) 2 /
i o
d d d + =
do = diameter dalam benda kerja yang akan
dipotong.
di = diameter luar benda kerja.
n = kecepatan putar.
2. Kecepatan makan (V
f
) (mm/min)
Besar kecepatan makan adalah :
n f v
f
· =
...(2)
Dimana :
f = gerak makan (mm/r)
3. Waktu pemotongan t
c
(min)
f
t
c
v
l
t =
...(3)
Dimana :
l
t
=panjang pemesinan (mm).
4. Kecepatan penghasilan geram ( Z).
V A Z · = ...(4)
v a f A · · =
dimana:
A= luas penampang geram sebelum
terpotong (f.a) mm
2
.
Geometri pahat termasuk faktor penting dalam
menentukan kualitas geometrik produk. Kualitas
geometri produk merupakan ukuran tingkat
keberhasilan proses pemesinan.
Optimasi proses pemesinan dapat dicapai dengan
memilih atau menentukan sudut-sudut pahat yang
sesuai dengan proses pemotongan yang dilakukan.
Sudut-sudut pahat terdiri atas sudut bebas orthogonal,
sudut geram orthogonal, sudut miring, sudut potong
utama, sudut potong bantu dan radius pojok pahat.
[5]
Sudut Bebas Orthogonal
o
o
[1]
Sudut bebas berfungsi untuk mengurangi gesekan
antara bidang utama dengan bidang transien dari
benda kerja agar tidak menimbulkan kenaikan
temperatur dan keausan tepi pahat.
Misalnya untuk harga sudut bebas sesuai dengan
gerak makan yaitu :
Bila f
putaran mm / 2 , 0 s
, maka
o
o
=12
0
atau
f
putaran mm / 2 , 0 >
, maka
o
o =8
0
.
Sudut Geram Orthogonal
o
¸
[1]
Proses pembentukan geram dipengaruhi oleh sudut
geram. Sudut geram tidak boleh terlalu besar guna
menjaga kekuatan pahat dan memperlancar proses
perambatan panas. Pemilihan sudut geram
dipengaruhi oleh jenis material benda kerja. Material
benda kerja yang lunak membutuhkan sudut geram
besar untuk mempermudah proses pembentukan
geram dan material yang keras memerlukan sudut
geram kecil agar pahat kuat.
Sudut Miring
s
ì
[1]
Arah aliran geram dipengaruhi oleh sudut miring.
Jika sudut miring berharga sama dengan nol maka
arah aliran geram tegak lurus mata potong. Dengan
adanya sudut miring maka panjang kontak antara
pahat dengan benda kerja menjadi lebih diperpanjang
dan energi pemotongan spesifik tidak berubah
sampai sudut miring mencapai 20
0
. Temperatur
bidang kontak mencapai harga minimum bila sudut
miring berharga +5
0
untuk proses penghalusan dan -
5
0
untuk proses pengkasaran.. Untuk memperkuat
pahat serta menurunkan efek gaya kejut ini maka
sudut miring –20
0
dapat digunakan.
Sudut Potong Utama
r
k
[1]
Peranan sudut potong utama yaitu untuk menentukan
lebar dan tebal geram sebelum terpotong,
menentukan panjang mata potong yang aktif atau
panjang kontak antara geram dengan bidang pahat
dan menentukan besarnya gaya radial F
x
.
Sudut Potong Bantu
[1]
Sudut potong bantu dapat dipilih untuk memperkuat
ujung pahat dan kehalusan produk. Sudut potong
bantu yang kecil akan memperkuat ujung pahat dan
kehalusan produk dapat dipertinggi.
Sudut potong bantu kecil akan mempertinggi gaya
radial F
x
yang tergantung kepada kekakuan sistem
pemotongan seperti benda kerja, pahat dan metode
pencekamannya.
Analisis Pengaruh Kondisi Pemotongan Benda Kerja (Panjang Penjuluran) Terhadap Kekasaran Permukaan pada Mesin Bubut Gallic 16N (Hernadewita)
57
Untuk sistem pemotongan yang kaku
1
r
k = 5
o
sampai
dengan 10
o
. dan yang lemah
1
r
k = 10
o
sampai dengan
20
o
. Untuk radius pojok yang kecil parameter
kehalusan permukaan R
t
ditentukan oleh
1
r
k ,
r
k .
Rumusnya yaitu :
m c
f
R
r r
t
µ
k k
;
cot cot
1
·
+
=
...(5)
dimana :
1
r
k : sudut potong bantu.
r
k : sudut potong utama.
f : gerak makan, mm/r.
c : faktor konversi > 1000 tergantung
sifat ketermesinan.
Radius Pojok
[5]
Radius pojok berfungsi untuk menentukan kehalusan
permukaan hasil pemotongan. Semakin besar
penampang geram maka radius pojok pahat harus
dipilih lebih kuat. Karena kedalaman pojok besar
akan meningkatkan gaya radial F
x
, sehingga untuk
sistem pemotongan yang tidak kaku akan terjadi
lenturan atau getaran yang menyebabkan kualitas
geometrik produk rendah. Kehalusan permukaan
hasil pemesinan dapat ditentukan dengan rumus :
m
r
f
c R
e
r t
µ :
8
2
·
· =
... (6)
dimana :
R
t
: kekasaran total yang merupakan parameter
kekasaran permukaan m µ .
r
e
: radius pojok (mm).
c
r
: faktor konversi
- kaku = 2000.
- sedang = 2300
- lemah = 3000.
Selama proses pembentukan geram berlangsung,
pahat dapat mengalami kegagalan dari fungsinya
disebabkan oleh keausan yang secara bertahap
membesar pada bidang pahat. Perambatan kerusakan
menimbulkan patahan pada satu pitch pahat dan
deformasi plastis yang terjadi mengubah bentuk atau
geometri pahat. Secara sistematis pengaruh gerak
makan (feeding) akan meningkatkan luas penampang
geram dimana rumusnya adalah :
f h
t b A
· =
· =
Peningkatan luas penampang geram mengakibatkan
gaya pemotongan juga naik. Rumusnya adalah :
s c
k A F · = ...(7)
Kenaikan gaya pemotongan akan
meningkatkan daya potong pada mesin perkakas.
Peningkatan daya pemotongan dapat dilihat pada
rumus berikut :
c c c
V F N · =
...(8)
dimana :
N
c
: Daya potong.
F
c
: Gaya potong (N).
V
c
: Kecepatan potong (m/min).
3. METODE PENELITIAN
Pengujian dilakukan dengan dua tahap. Tahap
pertama dilakukan pengujian dengan menggunakan
feeding sebagai parameter awal dan kedalaman
potong tetap, dan tahap dua dengan kedalaman
potong bervariasi tetapi feeding tetap.
Peralatan pengujian dapat dilihat pada ”gambar (1)”
Peralatan yang digunakan:
1. Mesin bubut Gallic 16N.
2. Benda kerja berbentuk silinder bertingkat
3. Alat ukur kekasaran permukaan (Taly surf).
4. Pahat yang digunakan adalah jenis karbida P25.
5. HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN
Hubungan Kondisi Pemotongan dengan Level
Getaran
Dari hasil pemotongan terlihat bahwa kekasaran
permukaan benda kerja dipengaruhi oleh feeding,
kedalaman potong dan panjang penjuluran benda
kerja.
Kedalaman Potong (a)
Hubungan antara feeding, panjang penjuluran
dan kedalaman potong dengan level getaran dapat
dilihat pada gambar 6.2 sampai gambar 6.4. Terlihat
untuk feeding 0,1 mm/r, kedalaman potong 1,5 mm
berbeda dan panjang penjuluran, level getaran
mengalami peningkatan dalam arah vertikal. Hal ini
disebabkan karena titik sensitif pahat potong bekerja
dalam arah horizontal dan kekakuan mesin perkakas
dalam arah horizontal lebih tinggi dibanding dalam
arah vertikal. Data hasil pengujian dapat dilihat pada
“tabel (1)” dan “tabel (2)”.
Jurnal Teknik Mesin Vol. 3, No.1, Juni 2006 ISSN 1829-8958
58
Tai l stock
PC
C h. 2
C ond tio ning
Am pli fi er
Am pl if ier
M SA
Sp indl e
Exci te r
Ala t Bant u
Chuck
A ccele rom et er
C h. 3
Ch. 1
C h. 3
Am pl i fie r
Pengukuran Arah Horizontal
Gambar 1. Skema Alat Uji FRF
Tabel 1 Data hasil pengujian proses pemotongan teoritik dan eksperimen proses A
F (N)
f
(mm/r)
a
(mm)
Rt
(µm)
Ra
(µm)
1 970 0.25 1 26.04 8.82
2 902 0.2 1 16.67 8.5
3 709 0.18 1 13.5 6.95
4 624 0.1 1 4.17 5.07
5 596 0.071 1 2.04 8.54
Grafik Gaya Pemotongan Vs Kekasaran
Permukaan
0
2
4
6
8
10
0 200 400 600 800 1000 1200
Gaya Pemotongan (N)
K
e
k
a
s
a
r
a
n
P
e
r
m
u
k
a
a
n
(
u
m
)
Graf ik Gaya Pemotongan Vs Kekasaran Permukaan
Grafik 1 Hubungan Gaya Pemotongan dan Kekasaran Permukaan
Analisis Pengaruh Kondisi Pemotongan Benda Kerja (Panjang Penjuluran) Terhadap Kekasaran Permukaan pada Mesin Bubut Gallic 16N (Hernadewita)
59
Tabel 2 Data hasil pengujian panjang penjuluran dengan
level getaran (feeding 0,1 mm/r, a=1,5 mm)
Panjang penjuluran
(mm)
Kekasaran permukaan
(um)
119 4,3
132 5,9
148 5,76
153 7,08
Tabel 3 Data hasil pengujian panjang penjuluran dengan
level getaran (feeding 0,1 mm/r, a=1,25 mm)
Panjang penjuluran
(mm)
Kekasaran permukaan
(um)
119 3,78
132 3,7
148 3,9
153 3,6
Tabel 4 Data hasil pengujian panjang penjuluran dengan
level getaran (feeding 0,1 mm/r, a=1 mm)
Panjang penjuluran
(mm)
Kekasaran permukaan
(um)
119 3,7
132 3,68
148 4,7
153 3,5
Langkah Pemakanan (feeding)
Tabel 5 Data hasil pengujian panjang penjuluran dengan
level getaran (feeding 0,1 mm/r, a=1 mm)
Panjang penjuluran
(mm)
Kekasaran permukaan
(um)
119 3.5
132 2.7
148 4.48
153 5.07
Tabel 6 Data hasil pengujian panjang penjuluran dengan
level getaran (feeding 0,18 mm/r, a=1 mm)
Panjang penjuluran
(mm)
Kekasaran permukaan
(um)
119 6.3
132 6.71
148 6.73
153 6.95
Grafik Panjang Penjuluran Vs Kekasaran permukaan (um)
6.2
6.3
6.4
6.5
6.6
6.7
6.8
6.9
7
100 200
Panjang Penjuluran (cm)
K
e
k
a
s
a
r
a
n
P
e
r
m
u
k
a
a
n
(
u
m
)
Kekasaran permukaan (um)
Grafik 2 Hubungan Panjang Penjuluran dan Kekasaran
Permukaan Pada feeding=0,18 mm/r dan a=1 mm
Tabel 7 Data hasil pengujian panjang penjuluran dengan
level getaran (feeding 0,25 mm/r, a=1 mm)
Panjang penjuluran
(mm)
Kekasaran permukaan
(um)
119 7.47
132 7.69
148 7.07
153 8.82
Panjang Penjuluran Vs Kekasaran permukaan (um)
0
2
4
6
8
10
100 110 120 130 140 150 160
Panjang Penjuluran (cm)
K
e
k
a
s
a
r
a
n
P
e
r
m
u
k
a
a
n
(
u
m
)
Kekasaran permukaan (um)
Grafik 3 Hubungan Panjang Penjuluran dan Kekasaran
Permukaan Pada feeding=0,25 mm/r dan a=1 mm
“Tabel (5)” sampai dengan “tabel (8)” menunjukkan
bahwa untuk variasi feeding dengan kedalaman
potong konstan, kekasaran permukaan akibat panjang
penjuluran jauh berbeda dengan kedalaman potong
yang berubah dan feeding konstan.
Dari kedua variasi pengujian yang dilakukan
menunjukkan bahwa untuk variasi feeding harga
kekasaran permukaan benda kerja lebih rendah
dibanding dengan kekasaran permukaan untuk
kedalaman potong bervariasi.
4. KESIMPULAN
Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa:
1. Mesin bubut Gallic memiliki berkisar antara 3,5
um sampai dengan 4,7 um untuk feeding
konstan dan kedalaman potong bervariasi.
Jurnal Teknik Mesin Vol. 3, No.1, Juni 2006 ISSN 1829-8958
60
2. Pada pengujian pemotongan variasi feeding dan
kedalaman potong tetap menunjukkan harga
kekasaran permukaan benda kerja lebih tinggi
disbanding dengan kedalaman potong bervariasi
dan feeding tetap.
3. Hasil pengukuran kekasaran permukaan
menunjukkan penurunan disebabkan oleh
kondisi panjang penjuluran.
PUSTAKA
1. Rochim, Taufiq, “ Teori dan Teknologi Proses
Pemesinan, Lab. Teknik Produksi dan
Metrologi Industri”, Institut Teknologi
Bandung.
2. Koenigsberger, F,J. Tlusty,” Machine Tools
Structure”, Vol.1, Pergamon Press Ltd, New
York, 1970.
Analisis Pengaruh Kondisi Pemotongan Benda Kerja (Panjang Penjuluran) Terhadap Kekasaran Permukaan pada Mesin Bubut Gallic 16N (Hernadewita)
61
Biografi Peneliti:
1. Hernadewita, S.T., M.Si
Staf Pengajar Program Studi Teknik
Manajemen Industri Jakarta.
Pendidikan:
- Sarjana Teknik Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa Banten.
- Magister Lingkungan Universitas Indonesia
Jakarta.
2. Hendra S.T., M.T.
N.I.P: 132 306 384
Staf Pengajar Program Studi Teknik Universitas
Bengkulu.
Pendidikan:
- Sarjana Teknik Universitas Andalas
Padang.
- Magister Teknik Mesin Bidang Teknik
Produksi Departemen Teknik Mesin
Fakultas Teknologi Industri Institut
Teknologi Bandung.
3. Herman, S.Pd, M.T.
NIP.131119375
Staf Pengajar SMUN 101 Jakarta.
Pendidikan:
- Sarjana Pendidikan UPI Bandung.
- Magister Teknik Industri Fakultas Tekologi
Industri Institut Teknologi Bandung

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->