P. 1
Aksis Gauge

Aksis Gauge

|Views: 10|Likes:
Published by Mikdar Ma'ruf
Aksis Gauge
Aksis Gauge

More info:

Published by: Mikdar Ma'ruf on Oct 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/09/2014

pdf

text

original

Aksis Gauge Agar pengukuran strain gauge pada specimen menghasilkan nilai regangan yang sesuai dengan arah

regangan yang hendak diukur, maka pemasangan strain gauge pada specimen haruslah benar / tepat, yaitu aksis gauge harus sejajar dengan arah regangan yang diukur. Arah aksis gauge pada strain gauge ialah segaris dengan panjang gauge. Gambar 4 menggambarkan peletakan strain gauge yang benar pada suatu specimen. Dimana, garis aksis gauge sejajar terhadap arah gerak regangan.

Memilih Strain Gauge Yang Tepat Beberapa perameter teknis perlu diperhatikan pada saat memilih dan menentukan strain gauge mana yang sesuai untuk pengukuran yang akan dilakukan. Tentunya beberapa yang menjadi pertimbangan adalah jenis material yang menjadi objek, ukuran dimensi benda objek, nilai / besaran yang ingin diperoleh dari hasil pengukuran tersebut, kondisi / kondusifitas lingkungan dan tempat pengukuran berlangsung. Berikut ini adalah parameter parameter teknis yang perlu untuk diketahui, beberapa diantaranya telah diuraikan pada sub-bab sebelumnya ditambah dengan beberapa parameter lain. Panjang Gauge Didefinisikan sebagai panjang grid, yaitu dimensi panjang di area grid yang kedudukannya sensitif terhadap regangan (gambar-konfigurasi susunan strain gauge). Pemilihan panjang gauge bergantung pada objek / specimen. Gauge yang pendek, dapat digunakan untuk lokalisasi pengukuran regangan, sedangkan gauge yang panjang lebih banyak dipilih dan digunakan untuk mengukur regangan rata-rata yang mewakili seluruh permukaan. Sebagai contoh pada pengukuran regangan rata-rata pada beton pondasi (concrete), dibutuhkan panjang gauge yang lebih panjang karena strukturnya yang terdiri atas semen dan campuran pasir dan krikil. Berikut adalah acuan panjang gauge merk Showa Instruments dan aplikasi-aplikasinya: o ≤ 1 mm Untuk pengukuran terpusat o 2 ~ 6 mm Untuk logam dan penggunaan umum o 10 ~ 20 mm Untuk mortar (semen campuran), kayu, FRP, dll o ≥ 30 mm Untuk beton pondasi (concrete) dan material campuran kasar

Untuk jenis high-temperature strain gauge. yang diukur pada keadaan tanpa beban dan pada temperature suhu ruang oleh pabrikan. Umumnya berkisar 2 sampai 4% maksimum. Namun dengan strain gauge foil-yielding dapat mencapai 10% Rentang Suhu (Temperature Range) Menunjukkan batasan suhu lingkungan yang disanggupi oleh strain gauge. Faktor Gauge (K) VS Temperatur Selain regangan. Faktor Gauge (K) Pada saat melakuran. nilainya mencapai ±5με/ºC. Mampu Ukur Regangan (Measurable Strain) Didefinisikan sebagai besarnya regangan yang mampu diukur. Sedangkan besarnya yang menjadi tujuan pengukuran adalah nilai regangan.Resistansi Gauge Menunjukkan nilai resistansi dalam besaran “Ω” [ohm]. Jumlah siklus maksimum yang dapat dilakukan pada strain gauge sebelum hal-hal diatas terjadi . dengan kata lain strain gauge masih dapat menghasilkan nilai pengukuran yang akurat. Sensitifitas Transfers (Kt) Pada kenyataanya nilai resisitansi strain gauge dapat juga berubah akibat pengaruh adanya regangan yang arahnya tegak lurus terhadap aksis gauge – regangan transfersal (εt). nilai keluaran dari strain gauge adalah dalam besaran elektrik – resistansi. Berikut adalah sampel kurva hubungan antara perubahan faktor gauge terhadap perbedaan temperatur. suhu temperature juga mempengaruhi nilai faktor gauge. Dengan demikian diperlukan suatu nilai konversi yang disebut factor gauge (K). Umumnya bernilai pada kisaran ±2με/ºC. dapat mencapai +180ºC. maka akan ada kemungkinan kenaikan nilai resistansi gauge pada kondisi tanpa beban. Usia Fatigue (Lelah) Jika regangan terjadi beberapa kali pada suatu strain gauge. maka ditetapkanlah suatu konstanta yang disebut dengan sensitifitas transfers (Kt). karena keduanya memiliki relasi kesebandingan. Untuk lebih jelasnya hubungan antara nilai thermal output terhadap suhu dapat dilihat pada contoh kurva dibawah ini. atau terjadinya pengelupasan pada strain gauge. Umumnya berkisar antara -30ºC ~+80ºC. atau bahkan patah dan lain sebagainya yang mengindikasikan kerusakan. Pada jenis strain gauge temperature tinggi diatas suhu 160 ºC. Nilai ini biasanya ditulis dalam persen (%) Termal Output Didefinisikan sebagai adanya pergeseran / penyimpangan nilai regangan akibat perbedaan temperatur suhu.

Definisi elastisitas (ε) strain gauge adalah perbandingan perubahan panjang (ΔL) terhadap panjang semula (L) yaitu: atau perbandingan perubahan resistansi (ΔR) terhadap resistansi semula (R) sama dengan faktor gage (Gf) dikali elastisitas starin gage (ε) : Secara konstruksi SG terbuat dari bahan metal tipis (foil) yang diletakkan diatas kertas. Arah tegak lurus perapatan/peregangan dibuat sependek mungkin (lateral) Gambar 3.disebut usia fatigue (lelah). dan lain-lainnya.1. toleransi factor gauge. terdapat juga beberapa parameter lain diantaranya lebar gauge. toleransi resistansi gauge. Strain gauge (SG) Strain gauge dapat dijadikan sebagai sensor posisi. Bentuk phisik strain gauge . 3. Selain seluruh parameter-parameter diatas.1. Untuk proses pendeteksian SG ditempelkan dengan benda uji dengan dua cara yaitu: 1. SG dalam operasinya memanfaatkan perubahan resistansi sehingganya dapat digunakan untuk mengukur perpindahan yang sangat kecil akibat pembengkokan (tensile stress) atau peregangan (tensile strain).1. Arah perapatan/peregangan dibuat sepanjang mungkin (axial) 2.

satu untuk kompensasi temperatur pada posisi yang tidak terpengaruh peregangan/ perapatan • respons frekuensi ditentukan masa tempat strain gauge ditempatkan Gambar 3. satu untuk peregangan/perapatan .2. Pemasangan strain gauge: (a) rangkaian jembatan (b) gage1 dan gage 2 posisi 90 (c) gage 1 dan gage 2 posisi sejajar .Faktor gauge (Gf) merupakan tingkat elastisitas bahan metal dari SG. • metal incompressible Gf = 2 • piezoresistif Gf =30 • piezoresistif sensor digunakan pada IC sensor tekanan Untuk melakukan sensor pada benda uji maka rangkaian dan penempatan SG adalah • disusun dalam rangkaian jembatan • dua strain gauge digunakan berdekatan.

15 mm sampai 1. cobalt (Co). Termistor terbuat dari campuran oksida-oksida logam yang diendapkan seperti: mangan (Mn). bentuk piringan (disk) atau cincin (washer) dengan ukuran 2.5  sampai 75  dan tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran. nikel (Ni). Umumnya tahanan termistor pada temperatur ruang dapat berkurang 6% untuk setiap kenaikan temperatur sebesar 1oC. Cincin-cincin dapat ditumpukan dan di tempatkan secara seri atau paralel guna memperbesar disipasi daya.2. besi (Fe) dan uranium (U). tembaga (Cu). Dalam operasinya termistor memanfaatkan perubahan resistivitas terhadap temperatur. misalnya 25oC sbb.3) Koefisien temperatur α didefinisikan pada temperature tertentu.: (2.5 mm sampai 25 mm.25 mm. dan umumnya nilai tahanannya turun terhadap temperatur secara eksponensial untuk jenis NTC ( RT  R A e T Negative Thermal Coeffisien) (2. yang biasanya negatif. Kepekaan yang tinggi terhadap perubahan temperatur ini membuat termistor sangat sesuai untuk pengukuran.4) . pengontrolan dan kompensasi temperatur secara presisi.2. Rangkuman tahanannya adalah dari 0. Ukuran paling kecil berbentuk mani-manik (beads) dengan diameter 0. Termistor Termistor atau tahanan thermal adalah alat semikonduktor yang berkelakuan sebagai tahanan dengan koefisien tahanan temperatur yang tinggi.

Gambar 2. berikut rangkaian dasar untuk mengubah resistansi menjadi tegangan. Grafik Termistor resistansi vs temperatuer: (a) logaritmik (b) skala linier Untuk pengontrolan perlu mengubah tahanan menjadi tegangan. . Konfigurasi Thermistor: (a) coated-bead (b) disk (c) dioda case dan (d) thin-film Teknik Kompensasi Termistor: Karkateristik termistor berikut memperlihatkan hubungan antara temperatur dan resistansi seperti tampak pada gambar 2.4 Gambar 2.3 .4.

Gambar 2.6. Termistor jenis PTC: (a) linier (b) switching Cara lain untuk mengubah resistansi menjadi tegangan adalah dengan teknik linearisasi. tidak baku) Gambar 2. Rangkaian uji termistor sebagai pembagi tegangan Thermistor dengan koefisien positif (PTC. .5.

Daerah resistansi mendekati linier Untuk teknik kompensasi temperatur menggunakan rangkaian penguat jembatan lebih baik digunakan untuk jenis sensor resistansi karena rangkaian jembatan dapat diatur titik kesetimbangannya. .

Resistance Thermal Detector (RTD) RTD adalah salah satu dari beberapa jenis sensor suhu yang sering digunakan. Rangkaian penguat jembatan untuk resistansi sensor Nilai tegangan outputnya adalah: atau rumus lain untuk tegangan output 2.8.3.Gambar 2. Dua buah Termistor Linier: (a) Rangkaian sebenarnya (b) Rangkaian Ekivalen Gambar 2. RTD dibuat dari bahan kawat tahan korosi. kawat tersebut dililitkan pada bahan keramik isolator. .7.

maka bagian elektronik pengolah sinyal menjadi sederhana dan murah. Tembaga dapat digunakan untuk sensor suhu yang lebih rendah dan lebih murah. Resistance Thermal Detector (RTD) perubahan tahanannya lebih linear terhadap temperatur uji tetapi koefisien lebih rendah dari thermistor dan model matematis linier adalah: RT  R0 (1  t ) dimana : Ro = tahanan konduktor pada temperature awal ( biasanya 0oC) . 3. yaitu dapat dilakukan dengan cara mem-perpanjang kawat yang digunakan dan memperbesar tegangan eksitasi. Konstruksi RTD RTD memiliki keunggulan dibanding termokopel yaitu: 1. Sensitivitasnya cukup tinggi. Kumparan kawat platina Inti dari Quartz Terminal sambungan Kabel keluaran Gambar 2. nikel dan tembaga. tetapi tembaga mudah terserang korosi. Dapat digunakan kawat penghantar yang lebih panjang karena noise tidak jadi masalah 5. dan yang terbaik adalah bahan platina karena dapat digunakan menyensor suhu sampai 1500o C. emas.Bahan tersebut antara lain.9. Tidak diperlukan suhu referensi 2. perak. platina. Tegangan keluaran yang tinggi. Tegangan output yang dihasilkan 500 kali lebih besar dari termokopel 4.

Resistansi versus Temperatur untuk variasi RTD metal Bentuk lain dari Konstruksi RTD .10.RT = tahanan konduktor pada temperatur toC α = koefisien temperatur tahanan Δt = selisih antara temperatur kerja dengan temperatur awal Sedangkan model matematis nonliner kuadratik adalah: Gambar 2.

(a) Three Wire RTD (b) Rangkaian Penguat Ekspansi Daerah Linier Ekspansi daerah linear dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: 1. Jenis RTD: (a) Wire (b) Ceramic Tube (c) Thin Film Rangkaian Penguat untuk three-wire RTD Gambar 2.11. Melakukan kompensasi dengan umpan balik positif .Gambar 2.12. Menggunakan tegangan referensi untuk kompensasi nonlinieritas 2.

diagram rangkaian koreksi (b) Blok .Gambar 2.13. Kompensasi non linier (a) Respon RTD non linier.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->