BAB 8 ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK

8.1 Alat Ukur Listrik
Untuk mengetahui besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan, arus, resistansi, daya, faktor kerja, dan frekuensi kita menggunakan alat ukur listrik. Awalnya dipakai alat-alat ukur analog dengan penunjukan menggunakan jarum dan membaca dari skala. Kini banyak dipakai alat ukur listrik digital yang praktis dan hasilnya tinggal membaca pada layar display (Gambar 8.1 ). Bahkan dalam satu alat ukur listrik dapat digunakan untuk mengukur beberapa besaran, misalnya tegangan AC dan DC, arus listrik DC dan AC, resistansi kita menyebutnya Multimeter. Untuk kebutuhan praktis tetap dipakai alat ukur tunggal, misalnya untuk mengukur tegangan saja, atau daya listrik saja. Sampai saat ini alat ukur analog masih tetap digunakan karena handal, ekonomis, dan praktis (Gambar 8.2). Namun alat ukur digital makin luas dipakai, karena harganya makin terjangkau, praktis dalam pemakaian, dan penunjukannya makin akurat dan presisi.

Gambar 8.1 Tampilan meter digital

Gambar 8.2 Meter listrik analog

Ada beberapa istilah dan definisi pengukuran listrik yang harus dipahami, diantaranya alat ukur, akurasi, presisi, kepekaan, resolusi , dan kesalahan. a. Alat ukur, adalah perangkat untuk menentu kan nilai atau besaran dari kuantitas atau variabel. b. Akurasi, kedekatan alat ukur membaca pada nilai yang sebenarnya dari variabel yang diukur. c. Presisi, hasil pengukuran yang dihasilkan dari proses pengukuran, atau derajat untuk membedakan satu pengukuran dengan lainnya.

211

d. e. f.

Kepekaan, ratio dari sinyal output atau tanggapan alat ukur perubahan input atau variabel yang diukur. Resolusi, perubahan terkecil dari nilai pengukuran yang mampu ditanggapi oleh alat ukur. Kesalahan, angka penyimpangan dari nilai sebenarnya variabel yang diukur.

8.2 Sistem Satuan
Pada awal perkembangan teknik pengukuran mengenal dua sistem satuan, yaitu sistem metrik (dipelopori Prancis sejak 1795). Amerika Serikat dan Inggris juga menggunakan sistem metrik untuk kepentingan internasional, tapi untuk kebutuhan lokal menggunakan sistem CGS (centimeter-gram-second). Sejak tahun 1960 dikenalkan Sistem Internasional (SI Unit) sebagai kesepakatan internasional. Enam besaran yang dinyatakan dalam sistem SI, yaitu: Tabel 8.1. Besaran Sistem Internasional
Besaran Panjang Massa Waktu Arus listrik Temperatur thermodinamika Intensitas cahaya Satuan meter kilogram detik amper derajat kelvin candela Simbol m kg s A 0K Cd

Secara praktis besaran listrik yang sering digunakan adalah volt, amper, ohm, henry, dan sebagainya. Kini sistem SI sudah membuat daftar besaran, satuan dan simbol di bidang kelistrikan dan kemagnetan berlaku internasional. Tabel 8.2. Besaran dan Simbol Kelistrikan
Besaran dan simbol Arus listrik, I Gaya gerak listrik, E Tegangan, V Resistansi, R Muatan listrik, Q Kapasitansi, C Kuat medan listrik, E Kerapatan fluk listrik, D Nama dan simbol amper volt, V volt, V ohm, coulomb farad A V V Ω C F V/m C/m 2 Persamaan R = V/I Q = It C = Q/V E = V/l D = Q/I2

212

dengan diketahui resistansi dan frekuensi secara teliti akan diperoleh standar kapasitansi (farad). Standar resistansi menurut ketentuan SI adalah kawat alloy manganin resistansi 1Ω yang memiliki tahanan listrik tinggi dan koefisien temperatur rendah. diukur dengan derajat kelvin besaran derajat kelvin didasarkan pada tiga titik acuan air saat kondisi menjadi es. Standar amper menurut ketentuan Standar Internasional (SI) adalah arus konstan yang dialirkan pada dua konduktor dalam ruang hampa udara dengan jarak 1 meter. Standar Kapasitansi menurut ketentuan SI. 4. ditempatkan dalam tabung terisolasi yang menjaga dari perubahan temperatur atmosfer. µ - Nama dan simbol F/m A/m Wb T H H/m Persamaan ε = D/E ∫ Hdl = nI E =d Φ /dt B = Φ /I 2 M = Φ /I µ = B/H weber tesla henry - 8. di antara kedua penghantar menimbulkan gaya = 2 × 10 -7 newton/m panjang . Standar Induktansi menurut ketentuan SI. Standart temperatur menurut ketentuan SI. dan temperatur. 3. Air menjadi es sama dengan 0° celsius = 273. kemagnetan. tabung elektrode positip berisi elektrolit mercury dan tabung elektrode negatip diisi elektrolit cadmium. standar induktor akan diperoleh. H Fluk magnet. 2. 6. diturunkan dari standar resistansi dan standar kapasitansi. 7. ε Kuat medan magnet. M Permeability. tegangan. resistansi. Ada enam besaran yang berhubungan dengan kelistrikan yang dibuat sebagai standar. menjadi air dan saat air mendidih.Besaran dan simbol Permittivity. yaitu standar amper. Standar luminasi cahaya menurut ketentuan SI. air mendidih 100°C.160 kelvin. 5. 213 . ditempatkan dalam suhu ruangan. B Induktansi.01858 V. Standar tegangan ketentuan SI adalah tabung gelas Weston mirip huruh H memiliki dua elektrode. Tegangan elektrode Weston pada suhu 20°C sebesar 1. Φ Kerapatan medan magnet.3 Ukuran Standar Kelistrikan Ukuran standar dalam pengukuran sangat penting. induktansi. L. kapasitansi. 1. dengan metode geometris. diturunkan dari standart resistansi SI dan standar tegangan SI. dengan menggunakan sistem jembatan Maxwell. karena sebagai acuan dalam peneraan alat ukur yang diakui oleh komunitas internasional.

Gambar 8. Gambar 8.5 Alat Ukur Listrik Analog Alat ukur listrik analog merupakan alat ukur generasi awal dan sampai saat ini masih digunakan. Sakelar pemindah frekuensi pada pesawat HT juga merupakan angka digital dalam bentuk digital (Gambar 8. Sinyal analog berbentuk fungsi kontinyu. atau penunjukan skala elektronik (Gambar 8.3 Penunjukan meter analog dan meter digital 8.3a). Bagian listrik yang penting adalah. dan kumparan putar. tahanan meter. Bagiannya banyak komponen listrik dan mekanik yang saling berhubungan. Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital. misalnya penunjukan temperatur dalam ditunjukkan oleh skala.4). Sistem analog berhubungan dengan informasi dan data analog.3b).8.4 Komponen alat ukur listrik analog 214 . Bagian mekanik meliputi jarum penunjuk. Penunjukan angka digital berupa angka diskret dan pulsa diskontinyu berhubungan dengan waktu. Penunjukan display dari tegangan atau arus dari meter digital berupa angka tanpa harus membaca dari skala meter. penunjuk jarum pada skala meter. magnet permanen. skala dan sekrup pengatur jarum penunjuk (Gambar 8.4 Sistem Pengukuran Ada dua sistem pengukuran yaitu sistem analog dan sistem digital.

2. Gambar 8. jika terlalu kendor jarum akan mudah goncang. Ampermeter untuk arus listrik DC dengan batas ukur 0-50 µA dan 0-15 A.5 Dudukan poros jarum penunjuk Mekanik pengatur jarum penunjuk merupakan dudukan poros kumparan putar yang diatur kekencangannya ( Gambar 8. Pada meter dengan kelas industri baik dari jenis kumparan putar maupun jenis besi putar seperti meter yang dipasang pada panel meter banyak dipakai peredam jenis pegas. Bentuk skala melingkar dan skala kuadran banyak dipakai untuk alat ukur voltmeter dan ampermeter pada panel meter (Gambar 8. Multimeter memiliki tiga fungsi pengukuran.8 Multimeter analog 215 . Pengaturan jarum penunjuk sekaligus untuk memposisikan jarum pada skala nol meter.6 Multimeter Analog Multimeter salah satu meter analog yang banyak dipakai untuk pekerjaan kelistrikan dan bidang elektronika ( Gambar 8.5 V dan 0-500 V.7). pengukuran tegangan DC dengan batas ukur 0-0.5 ).7 Jenis skala meter analog Bentuk skala memanjang saat kini jarang ditemukan.Gambar 8. pengukuran arus listrik AC 0-15 A. 3. Untuk itu digunakan peredam mekanik berupa pegas yang terpasang pada poros jarum atau bilah sebagai penahan gerakan jarum berupa bilah dalam ruang udara (Gambar 8. Cara bereaksi jarum penunjuk ada yang menyimpang dulu baru menunjukkan angka pengukuran. Gambar 8. Alat ukur analog memiliki komponen putar yang akan bereaksi begitu mendapat sinyal listrik.6). Ohmmeter dengan batas ukur dari 1Ω-1MΩ.8). yaitu 1.6 Pola penyimpangan jarum meter analog Gambar 8. Atau jarum penunjuk bergerak ke angka penunjukan perlahan-lahan tanpa ada penyimpangan. Voltmeter untuk tegangan AC dengan batas ukur 0-500 V. Jika terlalu kencang jarum akan terhambat. 8.

Blok diagram alat ukur digital terdiri komponen sensor. resistansi ohm. murah. mikroprosesor. Gambar 8.11). Display digital akan menampilkan angka diskrit dari 0 sampai angka 9 ada tiga jenis.10). karena tegangan masih dalam orde mV perlu diperkuat oleh penguat input. yaitu 7-segmen. Gambar 8. Informasi digital ditampilkan dalam display atau dihubungkan dicetak dengan mesin cetak. Gambar 8. analog to digital converter. dan praktis. daya listrik mW sampai kapasitansi nF ( Gambar 8.10 Prinsip kerja alat ukur digital Sinyal input analog yang sudah diperkuat.12 Multimeter digital AC dan DC 216 . mudah dioperaikan.7 Alat Ukur Digital Alat ukur digital saat sekarang banyak dipakai dengan berbagai kelebihannya.8. Sensor mengubah besaran listrik dan non elektrik menjadi tegangan. ketika sinyal 1 bertegangan atau ON. dari sinyal analog diubah menjadi sinyal digital dengan (ADC) analog to digital akan diolah oleh perangkat PC atau mikroprosessor dengan program tertentu dan hasil pengolahan disimpan dalam sistem memori digital.9 ). dan display digital (Gambar 8. tegangan milivolt.9 Tampilan penunjukan digital Pada dasarnya data /informasi yang akan diukur bersifat analog. alat cetak. frekuensi Hz.11 Tiga jenis display digital Gambar 8. temperatur °C. penguat sinyal analog. ketika sinyal 0 tidak bertegangan atau OFF. 14-segmen dan dot matrik 5 x 7 (Gambar 8. Sinyal digital terdiri atas 0 dan 1. Multimeter digital mampu menampilkan beberapa pengukuran untuk arus miliamper.

simpangan skala penuh 100 derajat memiliki A : 1. pengukuran diode. terdiri dari tiga jenis alat ukur sekaligus.14 Meter kumparan putar dengan diode penyearah 217 . yaitu mengukur tegangan. Terminal kabel untuk tegangan dengan arus berbeda. komponen B. Gambar 8.92 × 10 –6 Nm R kumparan putar: 88 Ω. yaitu diode bridge sebagai penyearah AC ke DC (Gambar 8.2 Wb/m2. Mampu untuk mengukur besaran listrik DC maupun AC (Gambar 8. Tahanan seri R V untuk mendrop tegangan sehingga batas ukur dan skala pukuran sesuai. Sakelar pemilih mode digunakan untuk pemilihan jenis pengukuran. dan pegas spiral rambut. Sehingga tahanan total R T = RV + R.12). disipasi daya: 88 µW. skala linear.000 G(0.72 cm2. sehingga torsi berbanding lurus dengan arus mengalir ke kumparan putar. T : 2. arus 1mA. Terminal untuk pengukuran arus kecil 300 mA dengan arus sampai 10 A dibedakan.Sebuah multimeter digital. A dan N adalah konstan. mencakup tegangan AC/DC. B : 2. N: 84 lilit. kumparan putar dengan inti besi bulat. dan tahanan. arus. Multimeter menggunakan kumparan putar sebagai penggerak jarum penunjuknya. serta pengatur posisi nol ( Gambar 8. pengukuran arus AC/DC. Torsi yang dihasilkan dari interaksi elektromagnetik sesuai persamaan: T=B×A×I×N T = Torsi B = kerapatan fluk magnet A = luas efektif koil I = arus ke kumparan putar N = jumlah belitan (Nm) (Wb/m2) (m2) (A) Dari persamaan di atas.13 Prinsip Alat Ukur Kumparan Putar Untuk pengukuran listrik AC alat ukur kumparan putar ditambahkan komponen tambahan.13). Gambar 8.8 Alat Ukur Analog Kumparan Putar Konstruksi alat ukur kumparan putar terdiri dari permanen magnet. Data alat ukur kumparan putar dengan dimensi 31/2 in. 8. jarum penunjuk terikat dengan poros dan inti besi putar. pengukuran tahanan. dan pengukuran kapasitor.14).

Terminal 1-3 terhubung ke belitan arus Wattmeter.17 Pemasangan wattmeter 218 .15). Terminal 2-5 terhubung ke belitan tegangan Wattmeter. timbul elektromagnetik dan sirip besi akan bergerak mengikuti hukum tarik-menarik medan magnet.9 Alat Ukur Besi Putar Alat ukur besi putar memiliki anatomi yang berbeda dengan kumparan putar. 8. dan belitan kawat tegangan sebagai kumparan putar terhubung dengan poros dan jarum penunjuk (Gambar 8.10 Alat Ukur Elektrodinamik Alat ukur elektrode memiliki dua jenis belitan kawat. Pemasangan wattmeter dengan notasi terminal 1. 3. Gambar 8.17). Sebuah belitan kawat dengan rongga tabung untuk menghasilkan medan elektromagnetik (Gambar 8.8. Di dalam rongga tabung dipasang sirip besi yang dihubungkan dengan poros dan jarum penunjuk skala meter. dan 5. 2. Jika arus melalui belitan kawat.16 Prinsip elektrodinamik Gambar 8.16). yaitu belitan kawat arus yang dipasang. Interaksi medan magnet belitan arus dan belitan tegangan menghasilkan sudut penyimpangan jarum penunjuk sebanding dengan daya yang dipakai beban: P = V · I · cos θ Pemakaian alat ukur elektrodinamik sebagai pengukur daya listrik atau wattmeter. Gambar 8. Alat ukur besi putar sederhana bentuknya dan cukup handal.15 Prinsip alat ukur besi putar Besarnya simpangan jarum dengan kuadrat arus yang melewati belitan skala meter bukan linear tetapi jaraknya angka non-linear. terhubung seri dengan beban. Terminal 1-2 dikopel untuk mendapatkan catu tegangan suplai tegangan (Gambar 8.

Misalkan daya motor 3 phasa 55 kW dengan tegangan 400 V akan menarik arus jalajala 100 A. dan pemilihan skala batas ukur.18 Pengawatan wattmeter dengan beban satu phasa simpangannya masih kecil baru selektor switch arus atau tegangan diturunkan satu tahap. Jika jarum penunjuk sudut Gambar 8. Gambar 8. Wattmeter portabel pengawatan dengan beban (Gambar 8. Untuk pengukuran daya besar. karena akibatnya meter tidak berfungsi.20 kWH-meter 219 . maka digunakan trafo arus CT dengan rating 100/5 A agar pengukuran daya motor dapat dilaksanakan.Pemasangan terminal meter tidak boleh tertukar. Inti besi U dipasang dua buah belitan arus pada masing-masing kaki inti. di mana arus beban besar dapat digunakan trafo CT untuk menurunkan arus yang mengalir belitan arus wattmeter.19 Prinsip alat ukur piringan putar (kWH-meter) Gambar 8. Alat ukur piringan putar tidak menggunakan jarum penunjuk. pengaturan tegangan. menggunakan kawat berpenampang besar. Ada tiga buah selektor switch. Kemampuan kWH meter maksimal dilalui arus hanya 10 A. Inti besi berbentuk E-I dengan satu belitan tegangan.19). dipasang pada kaki tengah inti besi.18). untuk pengaturan amper. Konstruksi meter piringan putar memiliki dua inti besi (Gambar 8. jumlah belitan tegangan lebih banyak dengan penampang kawat halus. Untuk keamanan tempatkan selektor amper dan selektor tegangan pada batas ukur tertinggi.

Akibat efek elektromagnetis kedua inti besi tersebut. terminal-7 ke belitan arus-3 ke terminal 9 langsung beban. 3. Sebagai pengukur energi listrik kWhmeter mengukur daya pada interval waktu tertentu dalam konversi waktu jam. terminal 7-8 dikopel untuk suplai ke belitan tegangan-3. n Cz = P Cz Konstanta jumlah putaran/kWh n Putaran P Daya listrik kW Contoh: kWh-meter satu phasa memiliki konstanta putaran 600 putaran/kWh dalam waktu 1 menit tercatat 33 putaran piringan. 2. L3 dan N memiliki tiga belitan arus dan tiga belitan tegangan. pada piringan aluminium timbul arus Eddy yang menyebabkan torsi putar pada piringan. Hitunglah beban daya listrik! Jawaban: P = 60 ⋅ 33 ⋅ 1/ h n = = 33 kW 600 ⋅ 1/ kWh Cz 220 . 2. dan 3. terminal-4 ke belitan arus-2 terminal 6 langsung beban.11 Alat Ukur Piringan Putar Pengawatan kWh-meter satu phasa belitan arus dihubungkan ke terminal 1-3. Terminal 10 dan 12. 4.20). Setiap kWh-meter memiliki angka konstanta jumlah putaran /kWh.21 Pengawatan kWH-meter satu phasa dan tiga phasa Bentuk fisik kWh-meter kita lihat di setiap rumah tinggal dengan instalasi dari PLN. untuk penyambungan kawat netral N dan penyambungan dari ketiga belitan tegangan phasa 1. 8. terminal 1-2 dikopel untuk suplai ke belitan tegangan-1. kecepatan putaran sebanding dengan daya dari beban. Jala-jala L2. L2. Jala-jala L1. terminal-1 ke belitan arus-1 terminal-3 ke beban. Piringan aluminium berputar bertumpu pada poros. terminal 1-2 dikopel. Meter piringan putar disebut kilowatthours (kWh)-meter (Gambar 8. Jala-jala L3.Piringan putar aluminium ditempatkan di antara dua inti besi U dan E-I.21 ) L1. Pengawatan kWh-meter tiga phasa dengan empat kawat ( Gambar 8. dan terminal 4-6 juga dikopel langsung. terminal 4-5 dikopel suplai ke belitan tegangan-2. Jumlah putaran sebanding dengan energi yang dipakai beban dalam rentang waktu tertentu. Gambar 8. belitan tegangan disambungkan terminal 2-6. 1.

Tahanan Rp akan dialiri arus sebesar I p . Untuk menaikkan batas ukur voltmeter harus dipasang tahanan seri sebesar RV.6 mA 8.23 Tahanan paralel ampermeter 221 . Voltmeter akan digunakan untuk mengukur tegangan 1.5 V.13 Pengukuran Arus DC Pengukur arus listrik ampermeter memiliki keterbatasan untuk dapat mengukur arus.23). Hitung besarnya tahanan seri meter Rv.3 V. Persamaan tahanan seri meter RV: Uv U − Um Rv = I = Im m Gambar 8. Jawaban: Uv U − Um Rv = I = Im m = 1.8.3 V = 2 kΩ 0.22 Tahanan seri RV pada voltmeter Rv Rv Rm U Um Im n = {n – 1} · Rm = Tahan seri meter = Tahanan dalam meter = Tegangan = Tegangan meter = Arus meter = Faktor perkalian Contoh: Pengukur tegangan voltmeter memiliki arus meter 0. Gambar 8. Menaikkan batas ukur dilakukan dengan memasang tahanan paralel R p dengan ampermeter ( Gambar 8. disebut Ifsd (full scale deflection) arus yang diperlukan untuk menggerakkan jarum meter pada skala penuh. arus yang melalui meter Rm sebesar Im. Tahanan dalam meter juga menunjukkan kepekaan meter.22). tahanan dalam meter R m membatasi kemampuan batas ukur.6 mA dan tegangan meter 0.12 Pengukuran Tegangan DC Pengukur tegangan voltmeter memiliki tahanan meter Rm (Gambar 8.5 V − 0.

dan Rp3 yang ketiganya disambung seri (Gambar 8.26). Batas ukur dengan skala 2 posisi sakelar 2 dipakai tahanan paralel Rp2. didapatkan harga Rp yang sama: Rp Rm = Im Im = I − Im Ip ⇒ Im Rp = Rm · I − I m Rp = 100 Ω · 0.6 mV U = = 11.Untuk menaikkan tahanan dalam meter.24 ). Sakelar posisi 2.6 A Secara praktis untuk mendapatkan batas ukur yang lebar dibuat menjadi tiga tingkatan (Gambar 8. Persamaan tahanan paralel Rp: Rp = U U . sakelar pada posisi 1 dipakai tahanan paralel Rp1. Rp = Ip I − Im Im Rp = Rm = I − I m Gambar 8. tahanan Rp3 paralel dengan rangkaian (Rp1 + Rp2 + Rv + Rm). Rp2.6 mA · 100 Ω = 60 mA Rp = 0. Hitung tahanan paralel Rp. Ampermeter akan mengukur arus I = 6 mA. Jawaban: U = Im · Rm = 0. posisi sakelar 3 dipakai tahanan paralel Rp3.1 Ω 6 mA − 0. Batas ukur ketiga. sedangkan arus yang melewati ( R m + R v ) sebesar Im.6 mA.6 A I − Im Atau dengan cara yang lain. Saat sakelar posisi 3. arus yang diizinkan melewati meter I m = 0.6 mA = 11. Batas ukur skala pertama. Sehingga tahanan dalam meter yang baru ( R m + R v) ( Gambar 8. dipakai tiga tahanan paralel Rp1. Dengan metoda berbeda dengan tujuan memperluas batas ukur. Sakelar posisi 1. 222 .24 Tahanan depan dan paralel ampermeter Rp U I Im Ip Rm = Tahanan paralel = Tegangan = Arus yang diukur = Arus melewati meter = Arus melewati tahanan paralel = Tahanan dalam meter Contoh: Ampermeter dengan tahanan dalam Rm = 100 Ω .25). tahanan (Rp1 + Rp2 + Rp3) paralel dengan rangkaian (Rv + Rm). Tahanan paralel R p tetap dialiri arus I p .1 Ω 6 mA − 0. di depan tahanan meter R m ditambahkan tahanan seri R v . tahanan (Rp2 + Rp3) paralel dengan rangkaian (Rp1 + Rv + Rm).

Hukum Kirchoff tegangan menyatakan jumlah drop tegangan sama dengan tegangan sumber.Gambar 8. Resistor yang diukur dihubungkan dengan kedua kabel meter dan nilai tahanan terbaca pada skala meter. R1 seri dengan R2. U = U1 + U2 dan U = U3 + U4 Gambar 8.14 Pengukuran Tahanan Pengukuran tahanan dapat dilakukan dengan dua cara. dan R3 seri dengan R4. yaitu mengukur langsung nilai tahanan dan pengukuran tidak langsung dengan metode jembatan ( Gambar 8. Sumber tegangan DC mencatu rangkaian empat buah resistor.15 Jembatan Wheatstone Pengembangan rangkaian resistor seri dan paralel menghasilkan prinsip Jembatan Wheatstone (Gambar 8. dengan menempatkan selektor pemilih mode pada pengukuran tahanan.28 Rangkaian jembatan Wheatstone 223 .29).27 Jenis-jenis Pengukuran Tahanan 8. Gambar 8.27 ). Pengukuran tidak langsung.26 Penambahan batas ukur meter 8. menggunakan alat meter tahanan khusus dengan prinsip kerja seperti jembatan Wheatstone. Pengukuran tahanan secara langsung bisa menggunakan multimeter.25 Batas ukur ampermeter Gambar 8.

RMS ( root mean square ). U = U 4 2 R3 R1 = R4 R2 R 1. Jawaban: UAB = 0 V R3 R1 = R4 R2 ⇒ R1 = 40 Ω − 25 Ω R2 ⋅ R3 = 50 Ω R4 Gambar 8. menganalisis gelombang. diketahui besarnya nilai R2 = 40 Ω. dan fenomena lain dalam rangkaian elektronika ( Gambar 8. jika meter menunjukkan nol. digunakan untuk melihat bentuk gelombang. Dengan mengatur posisi tahanan geser B. maka berlaku rumus kesetimbangan jembatan Wheatstone.31 ). juga hubungan antara frekuensi dan phasa antara dua gelombang juga dapat dibandingkan. oleh karena itu harga rata-rata.29 Pengembangan model Wheatstone 8.30 Bentuk fisik osiloskop 224 . Rn R 3 .30. U3 U1 UAB = 0 V. R3 dan R4 dari tahanan geser. Ada dua jenis osiloskop. artinya tegangan U1 = U3 disebut kondisi seimbang. Kondisi ini disebut setimbang. konstan Aplikasi praktis dipakai model Gambar 8. yaitu osiloskop analog dan osiloskop digital. Selain itu.Titik A-B dipasang Voltmeter mengukur beda tegangan. Hitung besarnya R1 dalam kondisi setimbang. R2 = Rn adalah tahanan yang bisa diatur besarannya. Contoh: Jembatan Wheatstone. Dengan osiloskop dapat melihat amplitudo tegangan dan gelombang kotak. puncak.16 Osiloskop Osiloskop termasuk alat ukur elektronik. maupun harga puncak kepuncak atau Vp-p dari tegangan dapat kita ukur. R1 = Rx merupakan tahanan yang dicari besarannya. Gambar 8. sampai Voltmeter posisi nol. R3 = 25 Ω. Rx R 2 . Jika U1 ≠ U3 disebut kondisi tidak seimbang dan meter menunjukkan angka tertentu. R4 Tahanan yang dicari Tahanan variable Tahanan ditetapkan. R4 = 50 Ω.

. Gambar 8. pembelok vertikal (Penguat-Y).32 Pancaran elektron ke layar pendar CRT 225 .33.5 MHz (-3dB) Pembeda Ukuran layar Tegangan akselarasi Kalibrator Output : 8 × 10 cm. simpangan: < 1% Koefisien : di set 1 mV/cm . pembelok horizontal (penguat-X). Katode di dalam CRT (Cathode Ray Tube) akan mengemisikan elektron-elektron ke layar CRT melalui elektrode-elektrode pemfokus intensitas pancaran elektron ditentukan oleh banyaknya elektron yang diemisikan oleh katode Gambar 8. Kanal-1 dan Kanal-2 AC atau chop Menjumlah atau Mengurangkan nilai Kanal-1 dan Kanal-2 Tampilan X-Y : Melalui K-1 dan K-2 (K-2 dapat dibalik/ diinvers) Lebar-Pita : 2 x 0 . . . raster dalam : 2000 V : generator kotak 1 kHz atau 1 MHz : 0.17 Data Teknik Osiloskop • Arah Vertikal Menampilkan Kanal-1 (K-1) atau Kanal-2 (K-2). dan tabung hampa (CRT) lihat Gambar 8. catu daya. . .31 Blok diagram sistem osiloskop Pemancar Elektron: Merupakan bagian terpenting sebuah osiloskop. generator basis waktu (Sweep Generator). 40 MHz (-3dB) Kenaikan waktu : 7 ns.18 Osiloskop Analog Blok diagram dasar osiloskop yang terdiri dari pemancar elektron (Electron Beam ). 20V/cm ± 3% Impedansi Input : 1 MΩ II 20 pF Kopel Input : DC-AC-GND (Ground) Tegangan Input maks.2 V ± 1% • • 8. Gambar 8.8.5 s sampai 100 ns/cm ± 3% (1-2-5 bagian). Lebar-pita penguat-X: 0……2. : 400 V Arah Horisontal: Koefisien waktu: 21 × 0.32.

menghasilkan trace (sapuan) horizontal lewat CRT dan input yang lain menguatkan sinyal eksternal dan ditampilkan pada CRT hanya pada sumbu horizontal. Pada umumnya dipilih warna hijau untuk tampilan cahaya pada layar CRT. emas atau tembaga. Penguat Horisontal: Penguat ini memiliki dua input. karena mata manusia pada umumnya peka terhadap warna ini. dengan cara mengatur periodenya melalui tombol TIME BASE. Input): Bagian ini terhubung dengan tombol pembagi tegangan. Penguat ini harus dapat menguatkan tegangan DC maupun AC dengan penguatan yang sama. untuk membagi tegangan yang akan diukur. oksid atau silikat dari kadmium. dengan perbandingan 10 : 1 atau 100 : 1.34 Trigering memunculkan sinyal gigi gergaji 226 . yang diaktifkan melalui bahan tambahan dari perak. maka sinyal gigi gergaji mulai muncul. satu dari sweep generator. Generator-Waktu Generator waktu menghasilkan sinyal gigi gergaji. Gambar 8.35). Pengukuran sinyal dapat diatur melalui tombol POS (position). Skala pada sumbu Horisontal CRT Osiloskop. Input-Y (Vert. (Gambar 8. Tombol ini harus dibantu dengan sinyal kotak untuk kompensasi. Triggering dan bias waktu Sinyal gigi gergaji akan mulai muncul jika ada sinyal trigger (Gambar 8. Penguat Vertikal: Penguat ini dapat memberikan tegangan hingga 100 V. digunakan untuk mengukur waktu (periode) dari sinyal yang diukur. yang frekuensinya dapat diatur. CRT akan menampilkan sinyal yang diukur (sinyal input) hanya jika periode sinyal tersebut persis sama dengan periode sinyal gigi gergaji ini atau merupakan kelipatan periodenya. misalnya 2 ms/ divisi.34). Pada saat sinyal input melewati level trigger.Bahan yang memantulkan cahaya pada layar CRT dapat diperoleh dari sulfid.

Pengaktifan kedua penguat-Y tersebut dipilih secara elektronik. Osiloskop digital.19 Osiloskop Dua Kanal Seringkali orang perlu melakukan pengukuran dua sinyal AC yang berbeda dalam waktu yang sama. Misalnya kanal-1 mengukur sinyal input dan kanal-2 mengukur sinyal output secara bersamaan. Pemilihan kanal dilakukan oleh multivibrator yang akan mengoperasikan sakelar elektronik secara otomatis. misalnya storage osciloscope terdiri dari: • ADC (Analog-to-Digital Converter) • DAC (Digital-to-Analog Converter) • Penyimpan Elektronik 227 . kecerahan/ brightness. dan sebagainya). Jika sinyal input mempunyai frekuensi rendah.Catu Daya Kinerja catu daya ini sangat mempengaruhi kinerja bagian lainnya di dalam osiloskop. Tampilan sapuan ganda (dual-trace) dari electron beam tunggal dapat dilakukan dengan 2 cara.20 Osiloskop Digital Blok diagram osiloskop digital (Gambar 8. Catu daya yang tidak terregulasi dengan baik akan menyebabkan kesalahan pengukuran dan tampilan yang tidak baik pada CRT (fokus. yaitu chop time sharing dan alternate time sharing.35 Blok diagram Osiloskop dua kanal Blok diagram osiloskop dua kanal Gambar 8. Kedua sinyal input tersebut akan masuk melalui satu elektron-gun secara bergantian lalu ditampilkan pada CRT. maka osiloskop dua kanal mampu menampilkan dua sinyal dalam waktu bersamaan dalam satu layar.36 mempunyai sebuah sistem pembangkit sinar (electron gun). Dua sinyal input dapat dimasukkan melalui kanal-1 dan kanal-2 (masingmasing penguat-Y). jika input sinyal mempunyai frekuensi tinggi. melalui frekuensi yang berbeda untuk tiap kanal. maka sakelar elektronik akan mengaturnya pada frekuensi tinggi. maka sakelar elektronik akan mengaturnya pada frekuensi yang lebih rendah. sensitifitas. 8. Sebaliknya. Gambar 8.37) semua sinyal analog akan digitalisasi. 8.

pengukuran beda phasa tegangan dengan arus listrik AC. Perbedaan antara osiloskop analog dan digital hanya pada pemproses sinyal ADC. 2. Osiloskop digital ada yang dilengkapi dengan perangkat lunak matematik untuk analisis sinyal atau printer. Pengarah pancaran elektron pada osiloskop ini sama dengan pengarah pancaran elektron pada osiloskop analog. Sinyal analog akan dicuplik (sampling). 228 . 5. periode. mengukur tegangan AC. semua data yang akan ditampilkan disimpan di dalam RAM.21 Pengukuran dengan Osiloskop 1. yaitu diberi nilai (biner) sesuai dengan besarnya amplitudo tersampling (Gambar 8. 4. Gambar 8.36 Blok diagram osiloskop digital Pada osiloskop jenis ini.38). dan pengukuran sudut penyalaan thyristor. dan frekuensi. Berikut ini diberikan ilustrasi pengukuran dengan menggunakan osiloskop meliputi: pengukuran tegangan DC.Gambar 8. 3. mengukur arus listrik AC. lalu dikuantisasi oleh ADC.37 Sampling sinyal analog oleh ADC 8. Nilai ini dapat ditampilkan kembali secara langsung pada layar CRT atau monitor PC melalui kabel penghubung RS-232.

Misalnya: VDC = 5V/div. Tegangan terukur diukur dari garis nol ke garis horizontal DC. Jika menggunakan listrik PLN maka frekuensinya 50 Hz.2 V T = 2ms/div · 10 div = 20 ms f = 1/T = 1/20ms = 50 Hz Tegangan AC berbentuk sinusoida dengan tinggi U dan lebar periodenya T. Tegangan searah diukur pada mode DC. Gambar 8. periode T. Probe kanal-1 dihubungkan ujung sambungan R1 dengan R2. Tahanan R1 dan R2 berfungsi sebagai pembagi tegangan. 3div = 15 V Bentuk tegangan DC merupakan garis tebal lurus pada layar CRT. Mengukur Tegangan AC.39 Mengukur tegangan AC dengan osiloskop 229 . Mengukur Tegangan DC. dan frekuensi F Trafo digunakan untuk mengisolasi antara listrik yang diukur dengan listrik pada osiloskop. Ground osiloskop dihubung kan ke negatip catu daya DC. Misalnya: Vp = 2V/div · 3 div = 6 V Vrms = 6 V 2 = 4. Gambar 8. Besarnya tegangan 6 V dan periodenya 20 milidetik dan frekuensinya 50 Hz.38 Mengukur tegangan DC dengan osiloskop 2.1.

1 V = Vrms/R = 0. representasi dari arus AC). Mengukur Arus Listrik AC Pada dasarnya osiloskop hanya mengukur tegangan.15 V Vrms = 0. Mengukur Beda Phasa Tegangan dengan Arus Listrik AC.15 I V 2 = 0.1V / 1Ω = 0. Tegangan U1 menampakkan tegangan catu dari generator AC. Misalnya: Vp = 50 mV/div · 3div = 150 mV = 0.40 Mengukur arus AC dengan osiloskop 4. Pada beban resistor sinyal tegangan dan sinyal arus akan sephasa. untuk mengukur arus dilakukan secara tidak langsung dengan R = 1W untuk mengukur drop tegangan. Beda phasa dapat diukur dengan rangkaian C1 dan R1. Misalnya: ϕ = ∆x · 360°/XT = 2 div · 360°/8div = 90° Tampilan sinyal sinusoida tegangan U1 (tegangan catu daya) dan tegangan U2 (jika dibagi dengan R1. Tegangan U2 dibagi dengan nilai resistor R1 representasi dari arus listrik AC. Pergeseran phasa U1 dengan U2 sebesar Dx. Pergeseran phasa antara tegangan dan arus sebesar ϕ =900 Gambar 8. Gambar 8.3.1 A 8-26 Bentuk sinyal arus yang melalui resistor R adalah sinusoida menyerupai tegangan.41 Mengukur beda phasa dengan Osiloskop 230 .

360%) : 7 =5V Gambar 8.5. Misalnya: α = ∆ x · 360°/XT = (1 div. Dua sinyal yang berbeda. Trafo digunakan untuk isolasi tegangan Triac dengan tegangan catu daya osiloskop.44). Dengan mengatur sudut penyalaan triger α maka nyala lampu dimmer dapat diatur dari paling terang menjadi redup.42 Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan osiloskop 8. dipadukan akan menghasilkan sinyal paduan berupa garis lurus yang membentuk sudut 45° (Gambar 8. Gambar 8. Beda phasa 0° atau 360°.43 Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop 231 . a.22 Metode Lissajous Dua sinyal dapat diukur beda phasanya dengan memanfaatkan input vertikal (kanal Y) dan horizontal (kanal-X). Mengukur Sudut Penyalaan TRIAC Triac merupakan komponen elektronika daya yang dapat memotong sinyal sinusoida pada sisi positip dan negatip. Dengan menggunakan osiloskop dua kanal dapat ditampilkan beda phasa yang dikenal dengan metode Lissajous. dalam hal ini sinyal input dan sinyal output jika dipadukan akan menghasilkan konfigurasi bentuk yang sama sekali berbeda. Sinyal input dimasukkan ke kanal Y (vertikal) dan sinyal output dimasukkan ke kanal X (horizontal) berbeda 0°.

Parameter alat ukur listrik meliputi akurasi.45). juga dipakai alat ukur digital yang praktis dan membaca pada layar display. dan kesalahan. Gaya gerak listrik (E). Kuat medan listrik (E). f v = frekuensi yang tidak diketahui f R = frekuensi referensi Nv = jumlah lup frekuensi yang tidak diketahui NR = jumlah lup frekuensi referensi Contoh Gambar 8. Permittivity (ε). arus. Sinyal horizontal yang berbeda phasa 90° atau 270° dimasukkan. Kerapatan medan magnet (B). arus listrik DC dan AC. Sejak 1960 dikenalkan Sistem Internasional (SI Unit) sebagai kesepakatan internasional.b. Gambar 8. Beda phasa 90° atau 270°. daya. Muatan listrik (Q). resolusi. Permeability (µ). Sinyal vertikal berupa sinyal sinusoida. Induktansi (L. maka fV = 3. presisi.44 Sinyal input berbeda phasa 90° dengan output Gambar 8. dan frekuensi kita menggunakan alat ukur listrik. Hasil paduan yang tampil pada layar CRT adalah garis bulat ( Gambar 8. yaitu sistem metrik dan sistem CGS. Kapasitansi (C). Misalnya sinyal referensi dimasukkan ke input horizontal dan sinyal lainnya ke input vertikal. (2/3) kHz = 2 kHz 8. Pada awal perkembangan teknik pengukuran mengenal dua sistem satuan. misalnya tegangan AC dan DC.45 Lissajous untuk menentukan frekuensi Pengukuran X-Y juga dapat digunakan untuk mengukur frekuensi yang tidak diketahui. Multimeter untuk mengukur beberapa besaran listrik. kepekaan. Fluk magnet (Φ). Besaran dan simbol parameter listrik meliputi Arus listrik (I). resistansi. Alat-alat ukur analog dengan penunjukan menggunakan jarum. Kuat medan magnet (H). Misalnya frekuensi referensi = 3 kHz.46 (c). M). Kerapatan fluk listrik (D). serta resistansi. 232 . Tegangan (V). faktor kerja.23 Rangkuman • • • • • • • Untuk mengukur besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan. Resistansi (R).

dipakai pada KWh-meter. digunakan untuk melihat bentuk gelombang. skala. kemagnetan. memiliki belitan arus dan belitan tegangan terpasang dalam satu inti besi. generator basis waktu (Sweep Generator). jarum penunjuk dan skala pengukuran. catu daya. yaitu standar amper. Sinyal analog berbentuk fungsi kontinyu. Pengukuran tahanan dapat dilakukan dengan dua cara. Torsi yang dihasilkan alat ukur kumparan putar T = B × A × I × N. pembelok horisontal (penguat-X). dan pegas spiral rambut. jarum penunjuk terikat dengan poros dan inti besi putar. memiliki dua belitan kawat. tahanan meter. KWh-meter satu phasa memiliki satu belitan arus dan satu belitan tegangan. dan display digital. serta pengatur posisi nol. dan multimeter. yaitu mengukur langsung nilai tahanan dan pengukuran tidak langsung dengan metode jembatan. resistansi. Alat ukur piringan putar. Blok diagram dasar osiloskop yang terdiri dari pemancar elektron ( Electron Beam ). Dipakai untuk voltmeter. yaitu belitan arus dan belitan tegangan berupa kumparan putar. Bagian listrik alat ukur analog yang penting adalah. Analog to digital converter. dan dot matrik 5 × 7. 14-segmen. Alat ukur kumparan putar terdiri dari permanen magnet. mikroprosesor. dan temperatur. dan sekrup pengatur jarum penunjuk. Sistem analog berhubungan dengan informasi dan data analog. • • • • • • • • • • • • • 233 . Bagian mekanik alat ukur analog meliputi jarum penunjuk. ampermeter. dan kumparan putar. pembelok vertikal (Penguat-Y). dan tabung hampa (CRT). Dengan menggunakan osiloskop dua kanal dapat ditampilkan beda phasa yang dikenal dengan metode Lissajous. Untuk menaikkan batas ukur arus dipasangkan tahanan yang dipasangkan paralel dengan alat ukur. komponen diam. Jembatan Wheatstone bekerja berdasarkan prinsip keseimbangan. komponen putar. penguat sinyal analog. Untuk menaikkan batas ukur tegangan dipasangkan tahanan seri dengan meter. Osiloskop termasuk alat ukur elektronik. Blok diagram alat ukur digital terdiri komponen sensor. Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital.• • • • • • • • Ada enam besaran kelistrikan yang dibuat standart. magnet permanen. tegangan. menganalisis gelombang. Pengukur voltmeter dan ampermeter. Alat ukur besi putar terdiri belitan. Untuk pengukuran listrik AC alat ukur kumparan putar dipasang diode. kapasitansi. induktansi. KWh-meter 3 phasa memiliki tiga belitan arus dan tiga belitan tegangan. Alat ukur elektrodinamis. Tampilan display digital jenisnya 7-segmen. skala linear. alat cetak. kumparan putar dengan inti besi bulat. pengukur wattmeter.

Ampermeter dengan tahanan dalam Rm = 200 Ω. B : 1. 4. 7. Ampermeter akan mengukur arus I = 10 mA. Data alat ukur kumparan putar dengan dimensi 31/2 in.5 mA.8. Voltmeter akan digunakan untuk mengukur tegangan 2. N: 80 lilit. simpangan skala penuh 100 derajat memiliki A: 1. Jembatan Wheatstone. jelaskan urutan cara pengoperasiannya. 2.5 mA. arus yang diizinkan melewati meter Im = 0. 3.70 cm2. arus 1 mA.2 Wb/m 2. Jelaskan cara kerja pengukuran tersebut. Hitunglah torsi putar pada jarum penunjuk. tegangan meter 0. Hitunglah beban daya listrik? Gambarkan skematik pengawatan pengukuran Kwh meter 3 phasa dengan menggunakan tiga buah trafo arus (CT) 200 A/5 A. Hitung besarnya R1 dalam kondisi setimbang. Gambarkan skematik pengukuran tegangan AC menggunakan osiloskop. 234 . R4 = 500 Ω.800 G(0. R 3 = 250 Ω . Hitung tahanan paralel Rp. KWh-meter satu phasa memiliki konstanta putaran 600 putaran/kWh dalam waktu 2 menit tercatat 80 putaran piringan. 5. diketahui besarnya nilai R 2 = 400 Ω .25 V.24 Soal-Soal 1. Pengukur tegangan voltmeter memiliki arus meter 0. Hitung besarnya tahanan seri meter Rv.5 V. 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful