Tentang Gadis Kecil Dan Awan.

Mawwa Lanur Kunuti 18 agustus 2009 Seorang anak duduk di tepi sungai, matanya menerawang memandang awan sore berarakarakan. Kakinya memain-mainkan air sungai menimbulkan suara kecipak air yang hangat dan lembut membasuh kakinya. Sebenarnya dia gadis kecil yang manis, matanya bulat jernih, bibirnya melengkung indah, manis sekali. Rambut pendeknya dikuncir kuda dengan pita merah muda. Dia menerawang melihat langit, saat i2 senja mulai menyerbu. Aku tergoda mendekatinya, sekedar ingin tau apa yang dipikirkannya. Aku mendekatinya perlahan dan memutuskan duduk disampingnya. Dia tetap menatap langit seakan tak peduli aku ada di sampingnya. Aku menunggu dan melihat kearahnya lekat-lekat, tapi dia tetap tidak menghiraukanku. Kucoba mempermainkan air dengan kakiku untuk menarik perhatiannya, tapi dia tetap tidak bergeming, aku jadi kesal dibuatnya. Aku mencoba mengikuti arah tatapannya. Dia menatap langit senja, ada segumpal awan yang berarak-arakan lembut. Dalam hati aku bertanya apa yang dilihatnya dalam awan itu. "hai gadis kecil, apa yang kau lihat" akhirnya aku bertanya. Dia tak menghiraukan aku dan masih saja menatap awan dan mempermainkan air dikakinya. Aku bosan rasanya tak dihiraukan. Ku coba sentuh bahunya, tapi sebelum tanganku mencapai bahunya dia bersuara lembut. "jangan sentuh bahuku" ucapnya dengan tetap melihat awan. Seketika aku tersentak dan menarik kembali tanganku. Aku meliriknya sebentar, menatapnya dalam-dalam. Aku benar-benar ingin tau apa yang ada dalam pikirannya. "apa yang kau pikirkan gadis manis?" tanyaku kembali. Dia masih tak menghiraukanku, kesal aku dibuatnya. Matanya masih tetap lekat memandang awan, kakinya tetap mempermainkan air sungai. Aku bingung. Aku termenung dalam kebingunganku masih tetap menatapnya, aku ingin tau apa yang ada dalam pikirannya. . Ah andai aku bisa baca pikiran. Aku tak perlu kebingungan seperti ini. Aku menunggu, dan masih menunggu, kucoba mengikuti apa yang dilakukannya, kutatap awan itu lekat-lekat. Mencoba memahami apa yang ada dalam awan itu. Semakin lama, aku semakin bosan dan yang kurasa adalah pegal di tengkuk leherku. Rasanya aku menyerah. Tak terasa senjapun berlalu. Malam mulai menapakkan kakinya, langit terlihat kemerahan, kulihat gadis itu, dia masih tetap menatap awan itu. Ku coba bertanya lagi, "gadis kec. . . . ." belum sempat pertanyaanku terucap gadis itupun berdiri dan "TERSENYUM". Tapi dia tak tersenyum untukku tetapi untuk awan itu. Dan diapun pergi berjalan sambil melompat-lompat kecil menuju utara dan meninggalkanku. Ku palingkan lagi wajahku ke awan, masih tak mengerti. . . . -ketika akupun tak tahu kenapa awan masih saja kelabu, mendung tak hujan..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful