PENDAHULUAN

Herpes zoster oftalmikus adalah infeksi virus herpes zoster yang menyerang bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang oftalmikus saraf trigeminus (N.V) yang ditandai dengan erupsi herpetik unilateral pada kulit. 1 Insidensi herpers zoster terjadi pada 20 % populasi dunia dan 10 % diantaranya adalah herpes zoster oftalmikus. Penyakit ini cukup berbahaya karena dapat menimbulkan penurunan visus. Virus Varicella zoster dapat laten pada sel syaraf tubuh dan pada frekuensi yang kecil di sel non-neuronal satelit dari akar dorsal, berhubung dengan saraf tengkorak dan saraf autonomic ganglion, tanpa menyebabkan gejala apapun. Infeksi herpes zoster biasanya terjadi pada pasien usia tua dimana specific cell mediated immunity pada umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia atau pasien yang mengalami penurunan system imun seluler. Morbiditas kebanyakan oftalmik terjadi pada individu dengan imunosupresi lanjut setelah (HIV/AIDS), pasien yang mendapat terapi dengan imunosupresif dan pada usia tua. 1 Herpes zoster merupakan bentuk manifestasi serangan varicella. Virus ini dapat menyerang saraf cranial V. Pada nervus trigeminus, bila yang terserang antara pons dan ganglion gasseri, maka akan terjadi gangguan pada ketiga cabang nervus V (cabang oftalmik, maksilar, mandibular) akan tetapi yang biasa terkena adalah ganglion gasseri dan yang terganggu adalah cabang oftalmik. Bila cabang oftalmik yang terkena, maka terjadi pembengkakan kulit di daerah dahi, alis, dan kelopak mata disertai kemerahan yang dapat disertai vesikel, dapat mengalami supurasi, yang bila pecah akan menimbulkan sikatriks.1 Sifat penting dari herpes virus ini adalah salah satunya ciri khas yang menonjol dapat menyebabkan infeksi laten, menetap tidak terbatas dalam pejamu yang terinfeksi sering di aktifkan kembali di dalam pejamu dengan imunosupresi. Terdapat 3 subfamily herpes virus yaitu alfa yang terdiri dari genus Herpes simplek dan Herpes varicela zoster, beta yaitu genus Cytomegalovirus dan Roseolo, gama yaitu genus Lymphocrypto dan Rhadino.
2

1

PEMBAHASAN
ANATOMI
1. Anatomi Mata 1. Kelopak Mata Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan komea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan pengeringan bola mata. Dapat membuka diri untuk memberi jalan masuk sinar kedalam bola mata yangdibutuhkan untuk penglihatan. Pembasahan dan pelicinan seluruh permukaan bola mata terjadi karena pemerataan air mata dan sekresi berbagai kelenjar sebagai akibat gerakan buka tutup kelopak mata. Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Pada kelopak terdapat bagianbagian :1,3 a. Kelenjar seperti : kelenjar sebasea, kelenjar Moll atau kelenjar keringat, kelenjar Zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar Meibom pada tarsus. b. Otot seperti : M. orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak. Pada dekat tepi margo palpebra terdapat ototorbikularis okuli yang disebut sebagai M. Rioland. M. orbikularis berfungsi menutup bolamata yang dipersarafi N. facial M. levator palpebra,yang berorigo pada anulus foramen orbita dan berinsersi pada tarsus atas dengan sebagian menembus M. orbikularis okulimenuju kulit kelopak bagian tengah. Bagian kulit tempat insersi M. levator palpebra Terlihat sebagai sulkus (lipatan) palpebra. Otot ini dipersarafi oleh n. III, yang berfungsi untuk mengangkat kelopak 2

c. Sistem ekskresi mulai pada pungtum lakrimal. Dinding bola mata terdiri atas : sclera dan kornea. kanalikuli lakrimal. Sistem produksi atau glandula lakrimal. Musin bersifat membasahi bolamata terutama kornea. Sakus lakrimal terletak dibagian depan ronggaorbita. b.mata atau membuka mata. duktusnasolakrimal. Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. sakus lakrimal.3. sakuslakrimal dan duktus nasolakrimal. Sistem ekskresi. Isi bola mata terdiri atas uvea. 3. yang terdiri atas pungtum lakrimal.4 a. Di dalam kelopak terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar didalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra. retina. Air mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam rongga hidung di dalam meatus inferior. Bola Mata Bola mata terdiri atas : a.3 2. b. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihankonjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.4 a. badan kaca dan lensa 3 1. yaitu : digerakkan dari tarsus. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus. 1. Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak. meatus inferior. yaitu :1. b. konjungtiva tarsal sukar . Sistem lakrimal terdiri atas 2 bagian. Glandula lakrimal terletak di temporo anterosuperior rongga orbita. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini.3. Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. kanalikuli lakrimal. Konjungtivamengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya. 4.

4 4 .3. Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Jaringan uvea ini terdiri atas iris. 2. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan suprakoroid. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya menempel pupil saraf optik. badan siliar. Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuoshumor). sedang sfingter iris dan otot siliar di persarafi oleh parasimpatis.3.merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata.4 3. dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak didaerah temporal atas di dalam rongga orbita. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata. Pada iris didapatkan pupilyang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. 1. Terdapat 6 otot penggerak bola mata. yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di bataskornea dan sklera. Otot dilatator dipersarafi oleh parasimpatis. Lensa mata mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula lutea.3.Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan. Bagian terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. yaitu : 1. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akanmerubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Terdapat rongga yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut ablasi retina. Kelengkungan kornea lebih besar dibanding sklera. makula dan pars plans. dan koroid. 1.4 1.

Arteri retina merupakan pembuluh darah terminal .2 mm yang berperan pentinguntuk tajam penglihatan. Membrane limitan interna merupakan membrane hialin. Didalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina. Dibagian retina yang letaknya sesuai dengan sumbu penglihatanterdapat makula lutea (bintik kuning) kira-kira berdiameter 1 . yang ditengahnya agak melekuk dinamakan ekskavasi faali.3. merupakan lapis aselular merupakan tempat sinaps sel bipolar. merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping. merupakan tubuh sel bipolar. Lapis nukleus dalam. Lapis fotoreseptor. Letaknya antara badan kaca dan koroid. 5 . 3.4 1. Bagian anterior berakhir pada ora serata. 4. merupakan lapis aselular dan merupakan tempat sinapsis selfotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal 5. Membran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi. disebut papil saraf optik. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua. terdiri atas penyebaran daripadaserabut-serabut saraf optik. merupakan membrane hialin dan retina. Arteri retina sentral bersama venanya masuk kedalam bola mata ditengah papil saraf optik. Lapis nukleus luar. Ketigalapis diatas avaskular dan mendapat metabolisme dari kapiler koroid. merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik. Ditengah makula lutea terdapat bercak mengkilat yang merupakanreflek fovea.sel amakrin dengan sel ganglion 7. 9. dan sel kerucut. Lapis pleksiform luar. Retina terdiri atas lapisan: 1. 8. 2. Lapis serabut saraf.Retina adalah suatu membran yang tipis dan bening. Lapis pleksiform dalam. Kira-kira 3 mm kearah nasal kutub belakang bola mata terdapat daerah bulat putihkemerah-merahan. merupakan susunan lapis nukleus sel kerucut dan batang. sel horizontal dan sel Muller Lapisini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral 6.

Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. sehingga lensa lama – kelamaan menjadi lebih besar dan kurang elastis. Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus menerus sehingga terbentuk nucleus lensa. yanglebih tebal pada permukaan anterior daripada posterior.LENSA Lensa adalah suatu struktur bikonveks. Kapsul lensa berukuran tipis. yaitu mempertahankan bola mata agar tetap bulat. Lensa dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Kapsul lensa berada disekitar serat lensa dan dibagian perifer kapsul lensa terdapat Zonula Zin ( ligamentsuspensory ) yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar.3. dan beratnya bervariasi dari 135 mg( 0-9 tahun ) sampai 255 ( 40-80 tahun ). Struktur lensa terdiri dari kapsul lensa. pars pelana. Tidak ada serat nyeri. tebalnya sekitar 5 mm. sel epitel lensa dan serat lensa. Kebeningan badan 6 . Perlekatan yang di sebut ora serata. Sesungguhnya fungsi badan kaca sama dengan fungsi cairan mata. pembuluh darah. Nukleus dan korteks terbentuk dari lamelle konsentris yang panjang. avaskular. Garis. transparan dan berada di belakangiris dan digantung oleh zonula( ligament suspensory ) yang menghubungkan dengankorpus siliar. Kapsul lensa adalah suatu membran yang semipermeabel yang akan memperbolehkan air dan elektrolit masuk. membran hialin mengelilingi lensa.garis persambungan yang terbentuk dengan persambungan lamellae ini ujung ke ujung berbentuk Y bila dilihat dengan slitlamp bentuk Y ini tegak di anterior dan terbalik di posterior. Badan kaca bersifat semi cair di dalam bola mata. transparan. 1. serat – serat lamellar subepitel terus diproduksi. Mengandung air sebanyak 90% sehingga tidak dapat lagi menyerap air. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dini dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Lensa berdiameter 9-10 mm.4 BADAN KACA Badan kaca merupakan suatu jaringan seperti kaca bening yang terletak antara lensa dengan retina. dan papil saraf optic. Sesuai dengan bertambahnya usia. dan saraf pada lensa.

12 saraf torakal. pola ini berbeda: dermatom berjalan secara longitudinal sepanjang anggota badan. Meskipun pola umum sama pada semua orang. Dermatome dan Anatomi Saraf Trigeminus Dermatom adalah area kulit yang dipersarafi terutama oleh satu saraf spinalis. Herpes zoster merupakan virus yang dormant di dalam ganglion dorsalis. bermigrasi sepanjang saraf spinalis dan hanya mempengaruhi daerah kulit yang dipersarafi oleh saraf tempat virus tersebut menetap. yang berarti bahwa virus ada pada kedua ganglia dari ganglion dorsalis. Masing masing saraf menyampaikan rangsangan dari kulit yang dipersarafinya ke otak. Virus yang menginfeksi saraf tulang belakang seperti infeksi herpes zoster (shingles). dapat mengungkapkan sumbernya dengan muncul sebagai lesi pada dermatom tertentu . Gejala biasanya unilateral tetapi dalam keadaan kekebalan tubuh menurun. mereka lebih cenderung menjadi bilateral dan simetris.6 7 .kaca di sebabkan tidak terdapatnya kekeruhan badan kaca 3 akan memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskop. Ada 8 saraf servikal. 5 saraf lumbal dan 5 saraf sakral. Sepanjang dada dan perut dermatom seperti tumpukan cakram yang dipersarafi oleh saraf spinal yang berbeda.Sepanjang lengan dan kaki. daerah yang tepat dari inervasi merupakan keunikan untuk individu sebagai sidik jari. 5.

Saraf ini memasuki rongga tengkorak melalui fissura orbitalis superior. yang mensarafi dahi. mata. Cabang-cabang n. badan ciliaris dan iris. Nervus oftalmikus. conjunctiva. dekat dengan batas sebelah atas dengan radiks motorik kecil yang terletak di depan dan radiks sensorik besar yang terletak di medial. Nervus trigeminus dinamai saraf tiga serangkai sebab terdiri atas tiga cabang (rami) utama yang cabang tersebut adalah: 7 menyatu pada ganglion Gasseri. kulit palpebra. Nervus opthalmicus muncul dari bagian atas ganglion semilunar sebagai berkas yang pendek dan rata 8 .Nervus trigeminus merupakan nervus cranial terbesar. dahi dan hidung. hidung. selaput otak. glandula lacrimalis. alis. Nervus opthalmicus merupakan divisi pertama dari trigeminus dan merupakan saraf sensorik. sinus paranasalis dan sebagian dari selaput lendir hidung. Nervus trigeminus muncul dari pons. Ketiga 1. Nervus opthalmicus adalah nervus terkecil dari ketiga divisi trigeminus. sensorik pada leher dan kepala serta merupakan nervus motorik pada otot-otot pengunyahan. bagian membran mukosa cavum nasal. opthalmicus menginervasi kornea.

Ukuran dan posisinya berada di tengah-tengah nervus opthalmicus dan mandibularis. Nervus maksilaris. Akhiran sarafnya terletak di bawah musculus quadratus labii superioris dan terbagi menjadi serabut yang lebih kecil yang mengincervasi hidung.5 cm yang melewati dinding lateral sinus cavernous. yang mensarafi rahang atas serta gigi-gigi rahang atas. N. Saraf ini memasuki rongga tengkorak melalui foramen rotundum. N. sinus maxillaries dan selaput lendir hidung. bibir atas. di bawah nervus occulomotor (N III) dan nervus trochlear (N IV). palpebra bagian bawah dan bibir superior bersatu dengan serabut nervus facial.7 2.7 9 . frontalis dan nasociliaris. maxillaris bermula dari pertengahan ganglion semilunar sebagai berkas berbentuk pleksus dan datar dan berjalan horizontal ke depan keluar dari cranium menuju foramen rotundum yang kemudian bentuknya menjadi lebih silindris dan teksturnya menjadi lebih keras. Nervus maxillaris merupakan divisi dua dan merupakan nervus sensorik. palatum durum. nervus opthalmicus bercabang menjadi tiga cabang: lacrimalis.kira-kira sepanjang 2. menuruni dinding lateral maxilla dan memasuki cavum orbital lewat fissure orbitalisinferior. pipi. Lalu melintasi fissure dan canalis infraorbitalis dan muncul di foramen infraorbital. maxillaris lalu melewati fossa pterygopalatina. Ketika memasuki cavum orbita melewati fissura orbitalis superior.

Cabang-cabang – cabang-cabang n. 7 ovale. lidah. auricular. maxillaris terbagi menjadi empat bagian yang dipercabangkan di cranium. musculus mastikasi. dan membran mukosa lidah 2/3 anterior. Saraf ini memasuki rongga tengkorak melalui foramen Ketiga nervi (rami) ini bertemu di ganglion semilunare Gasseri. mengincervasi gigi dan rahang bawah. kulit pada regio temporal. mukosa pipi. bagian abwah wajah. sebagian dari meatus accusticus externus. 3. Nervus mandibularis. yang mensarafi rahang bawah. fossa pterygopalatina. meatus accusticus internus dan selaput otak. bibir bagian bawah. Nervus mandibularis adalah nervus terbesar dari ketiga 10 . canalis infraorbitalis dan pada wajah. bibir bawah. Nervus mandibularis disebut juga nervus maxillaris inferior.

Reaktivasi bersifat sporadic dan jarang kambuh. kulit palpebra. radiks sensorik keluar dari sudut inferior ganglion semilunar dan radiks motorik minor (bagian motorik dari trigeminus) yang melewati di bawah ganglion dan bersatu dengan radiks sensorik. Di anggap bahwa penurunan imunitas memungkinkan terjadinya replikasi pada ganglion. Biasanya. conjunctiva. glandula lacrimalis. Terdapat juga peradangan akut saraf dan ganglia sensorik. badan ciliaris dan iris. Virus berjalan ke bawah saraf hingga kulit dan menginduksi terbentuknya vesikel. Trigeminus cabang Opthalmica yang menginervasi kornea.divisi dan terdiri atas dua radiks: mayor. di bawah basis cranium. 11 . Imunitas seluler mungkin merupakan pertahanan pejamu yang paling penting untuk menahan virus varisela-zoster. Pencetus reaktifasi varisela zoster laten di ganglia belum jelas. dahi dan hidung. Jadi herpes zoster adalah penyakit infeksi pada kulit yang merupakan lanjutan dari penyakit cacar air karena virus yang menyerang sama. PATOGENESIS Lesi kulit zoster secara histopatologik identik dengan lesi pada varisela. yang menyebabkan peradangan dan nyeri hebat. Herpes zoster oftalmikus adalah infeksi virus herpes zoster yang menyerang bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang oftalmikus saraf trigeminus (N.7 DEFINISI Herpes zoster (shingles atau cacar ular) adalah suatu infeksi yang menyebabkan erupsi kulit yang sangat nyeri berupa gelembung yang berisi cairan yang disebabkan oleh virus yang sama yang menyebabkan cacar air yaitu virus varicella-zoster. alis. Selanjutnya. bagian membran mukosa cavum nasal. Sering kali hanya mengenai satu ganglion. distribusi lesi pada kulit sangat berhubungan dengan area inervasi setiap ganglion radiks dorsalis. nervus tersebut mengeluarkan dari sisi medial cabang recurrent (nervus spinosus) dan nervus yang mempersarafi pterygoideus internus dan kemudian terbagi menjadi dua cabang : anterior dan posterior. langsung setelah keluar dari foramen ovale.V) yang ditandai dengan erupsi herpetik unilateral pada kulit. Pada kasus herpes zoster opthalmicus adalah N.

Keluhan bervariasi dari rasa gatal. tanpa menyebabkan gejala apapun. Riwayat infeksi cacar air (varicella) b. Penegakan diagnosis sebagian besar dilihat dari adanya riwayat menderita cacar air. Infeksi herpes zoster biasanya terjadi pada pasien usia tua dimana specific cell mediated immunity pada umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia atau pasien yang mengalami penurunan system imun seluler. PRESENTASI 1. pasien yang mendapat terapi dengan imunosupresif dan pada usia tua. PEMERIKSAAN MATA 1. Inspeksi 12 . Adakah pengelihatan berkurang/buram c. Nyeri bersifat segmental dan berlangsung terus menerus atau sebagai serangan yang hilang timbul. sefalgia. Virus Varicella zoster dapat laten pada sel syaraf tubuh dan pada frekuensi yang kecil di sel non-neuronal satelit dari akar dorsal.EPIDEMIOLOGI Insidensi herpers zoster terjadi pada 20 % populasi dunia dan 10 % diantaranya adalah herpes zoster oftalmikus. nausea. Visus Pemeriksaan visus dengan snellen chart di lakukan untuk mendiagnosa adanya kelainan media refraksi selama infeksi. 2. berhubung dengan saraf tengkorak dan saraf autonomic ganglion. 2. Keluhan penderita infeksi herpes zoster pada mata diawali dengan gejala prodromal yang berlangsung selama 1-4 hari. berupa nyeri pada daerah dermatom yang akan timbul lesi. ANAMNESA a. Morbiditas kebanyakan terjadi pada individu dengan imunosupresi (HIV/AIDS). manifestasi nyeri dan gambaran ruam kulit seperti vesikel dengan karakteristik distribusi sesuai dermatom d. dengan keluhan mata merah dan pengelihatan kabur. yang biasanya akan hilang setelah erupsi.

terdapat sekret dan mata seperti kelilipan. 1.8 menyempit apabila kelopak atas mengalami pembengkakan. Bila infeksi mengenai jaringan mata yang lebih dalam dapat menimbulkan iridosiklitis disertai sinekia iris serta menimbulkan glaucoma sekunder. faringitis. alis. mata berair. Secara obyektif: kelainan yang terjadi akibat herpes zoster tidak akan melewati garis median kepala.4. Keterlibatan cabang nasociliary dari saraf oftalmik yang dibuktikan dengan ruam zosteric di ujung dan sisi hidung (tanda Hutchinson) terlihat di sekitar sepertiga dari pasien herpes zoster opthalmica dan biasanya disertai dengan gejala okular. vesikel dan 13 . Erupsi ini unilateral dan tidak melewati garis median tubuh. Rima palpebra tampak 1.3. KONJUNGTIVITIS HERPES ZOSTER Secara subyektif: biasanya penderita datang dengan mata merah. demam. dan kelopak atas serta sudah disertai dengan vesikel. mata hiperemia. Secara obyektif: Bila cabang nasosiliar nervus trigeminus yang terkena. BLEFARITIS VIRUS HERPES ZOSTER Secara subyektif: biasanya penderita datang dengan demam. udem palpebra. rasa nyeri disertai edema kulit yang tampak kemerahan pada daerah dahi. Kelainan mata berupa bercak-bercak atau bintik-bintik putih kecil yang tersebar di epitel kornea yang dengan cepat sekalimelibatkan stroma. maka erupsi kulit terjadi pada daerah hidung dan biasanya rima palpebra akan tertutup rapat. yaitu sebatas mata sampai ke verteks tapi tidak melewati garis tengah dahi. 2.Erupsi kulit yang timbul 3-5 hari setelah timbulnya nyeri hampir selalu unilateral dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh nervus trigeminus.

karena asalnya dari perifer atau arteri siliaris anterior. gatal. vesikel pada puncak hidung (Hutchinson sign) menandakan akan timbul kelainan pada kornea dan bagian 14 . 1.3. Pemeriksaan fisik Dapat di temukan pelebaran pembuluh darah arteri konjungtiva posterior 3 atau di sebut juga injeksi konjungtiva ini dapat terjadi akibat pengaruh alergi ataupun infeksi pada jaringan konjungtiva. Secara obyektif: kelainan yang terjadi akibat herpes zoster tidak akan melewati garis tengah dahi. nyeri. penglihatan menjadi buram. • • • • • Pada radang konjungtiva pembuluh darah ini terutama di dapatkan di daerah fornik.8 ditemukannya sel raksasa pada pewarnaan giemsa dan kultur virus. yang tersebar sesuai dengan dermatom yang dipersarafi oleh saraf trigeminus yang dapat progresif dengan terbentuknya jaringan parut. Hal ini di sebabkan arteri konjungtiva posterior melekat secara longgar pada konjungtiva bulbi yang mudah di lepas dari dasarnya sclera. mata hiperemia. mata berair. badan terasa hangat. KERATITIS HERPES ZOSTER Secara subyektif: biasanya penderita datang dengan mata merah. pada kelopak mata terdapat vesikel. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan tes sensibilitas. rasa sakit pada daerah yang terkena. silau. mata seperti ada yang menganjal dan kelilipan.4. anestesi dolorosa. infiltrat pada kornea.pseudomembran pada konjungtiva. Injeksi konjungtiva bersifat : • Mudah di gerakkan dari dasarnya. Berwarna pembuluh darah merah segar Dengan tetes adrenalin 1:1000 injeksi akan lenyap sementara Gatal 5. papil dengan pembesaran kelenjar preaurikel. Ukuran pembuluh darah makin besar ke bagian perifer.

mata yang lainnya dengan disertai. rasa sakit dan mata berair. Penderita di minta melihat jauh ke depan di rangsang dengan kapas kering dari bagian lateral kornea. Uji fluoresein Kertas fluoresein yang di basahi terlebih dahulu dengan garam fisiologis di letakkan pada sakus konjungtiva inferior.3. Bila ada reflek tersebut berarti fungsi trigeminus dan facial baik. Di lihat terjadinya reflek mengedip. Keluhan subjektif rasa sakit terutama di bulbus okuli. sakitnya spontan atau pada penekanan di daerah badan siliar. Di lihat permukaan kornea bila terlihat warna hijau dengan sinar biru berarti ada kerusakan epitel kornea misalnya terdapat pada keratitis superficial epithelial. Defek kornea akan terlihat berwarna hijau. IRIDOSIKLITIS Peradangan iris pada umumnya jarang berdiri sendiri. Uji sensibilitas kornea Di ketahui bahwa serabut sensible kornea melalui saraf trigeminus. beberapa saat kemudian kertas ini di angkat. dan erosi kornea. Bila di rangsang reflek aferen pada saraf facial dan mata akan berkedip. akibat pada setiap defek kornea maka bagian tersebut akan bersifat basa dan memberikan warna hijau pada kornea. adanya injeksi siliar. Penderita di minta untuk menutup matanya selama 20 detik. fotofobia. 15 .4. Di lakukan irigasi konjungtiva dengan garam fisiologi. 3 3 1. lakrimasi. Pada keadaan ini di sebut uji flurosein positif. tetapi selalu bersamaan dengan peradangan badan siliar di sebut iridosiklitis. tukak kornea.8 3. Keratitis herpes zoster dapat terjadi tanpa erupsi kulit yang disebut zoster sine herpete. gangguan visus.

siliaris anterior) terjadi akibat radang kornea. sakit tekan yang dalam sekitar kornea. arteritis retina dan acute retinal necrosis (ARN). sinekia posterior. pupil miosis.3. plebitis dari retina dan koroid. pembentukan cairan bertambah sehingga menyebabkan glaucoma sekunder.8 Gejala Objektif : flare positif. Dapat terdapat presipitat halus pada dataran belakang kornea. 1. Pada acute retinal necrosis adalah sindrom klinik dengan diikuti tiga karakter yaitu: diikuti arteritis. pembuluh darah melebar. retina thrombofhlebitis. Injeksi ini mempunyai sifat : konjungtiva Pembuluh darah tidak tampak Tidak ikut serta dalam pergerakan konjungtiva bila di gerakan karena menempel erat dengan jaringan perikornea Ukuran sangat halus terletak di sekitar kornea paling padat sekitar kornea dan berkurang kea rah forniks Pemberian adrenalin 1:1000 pembuluh darah perikornea tidak menciut Fotofobia. hipopion. eksudat retina infiltrat putih kekuningan.Badan siliar berfungsi sebagai pembentuk cairan bilik mata yang member makanan kepada lensa dan kornea.4. dan ablasi retina regmatogenosa dan iskemik perivaskulitis. Terdapat penyulit yaitu terbentuknya sinekia anterior dan sinekia posterior yang akan menyebabkan glaucoma sekunder. Dengan adanya peradangan di iris dan badan siliar maka timbul hiperemi yang aktif. RETINITIS HERPES ZOSTER Pada retina dapat terjadi perdarahan retina. oklusi arteri retina sentral atau cabang. Glaucoma sekunder sering terjadi karena tertutupnya trabekulum oleh sel radang. iris kabur dan udem. pupil ireguler (iritis) dan lebar (glaucoma) 3 Berwarna lebih ungu di banding dengan pelebaran pembuluh darah 4. Dapat pula terlihat papilitis dan edema makula. presipitat. efek tyndall positif Injeksi siliar Melebarnya pembuluh darah perikornea (a. miopisasi. 16 .

4.nekrosis retina dan vitritis. Bila timbul komplikasi hal-hal berikut dapat terjadi adalah sebagai berikut : 1. plebitis dari retina dan koroid. Kongesti papil.9 4 1 1. Retinitis herpes zoster Pada retina dapat terjadi perdarahan retina. pandangan kabur dan gangguan penglihatan pada beberapa variasi. Pada banyak kasus dengan ARN yang disebabkan HZO mengeluh adanya iritasi. 17 8. karena tenggelam di dalam edema. retina thrombofhlebitis. dan cepat menyebar. Dapat pula terlihat papilitis dan edema makula. Pada banyak kasus dengan ARN yang disebabkan HZO mengeluh adanya iritasi. 5. Puncak papil menunjukan perbedaan tinggi dengan permukaan retina 3. suram. terutama vena nya tampak lebih berkelok warna lebih gelap diameter lebih lebar. Pembuluh darah. Ada bercak eksudat yang berupa bercak berwarna kekuningan yang biasanya tampak sepanjang pembuluh darah atau di macula. KOMPLIKASI Herpes zoster tidak menimbulkan komplikasi pada kebanyakan orang. Pada pemeriksaan funduskopi tampak : daerah papil dan macula 2. dan ablasi retina regmatogenosa dan iskemik perivaskulitis. di sebut perdarahan preretina. nekrosis retina dan vitritis. 3. Perdarahan. Bila terletak di lapisan saraf bentuknya mengikuti jalan saraf dan tampak sebagai bulu ayam yang di sebut flame shaped hemorrhage atau feather shape. Papil batas tidak nyata. Bila terdapat di antara membrane hyaloidea dan retina. Acute retinal necrosis dimulai dengan adanya nekrosis retina pada bagian perifer. nyeri. gangguan lapang pandang. oklusi arteri retina sentral atau cabang. eksudat retina infiltrat putih kekuningan. Pada acute retinal necrosis adalah sindrom klinik dengan diikuti tiga karakter yaitu: diikuti arteritis. mata kemerahan. Kemudian disertai dengan adanya inflamasi pada bagian anterior chamber dan corpus vitreus. arteritis retina dan acute retinal necrosis (ARN). Bila letaknya di lapisan lebih luar tampak sebagai bercak yang berbatas tegas. mata kemerahan. lakrimasi. Bayangan suram terutama terlihat di . nyeri. fotofobia.

dan cepat menyebar. Perdarahan. nyeri menetap selama lebih dari 1 tahun dan jarang berlangsung sampai lebih dari 10 tahun. tetapi pada 10-20% kasus. Kemudian disertai dengan adanya inflamasi pada bagian anterior chamber dan corpus vitreus. Puncak papil menunjukan perbedaan tinggi dengan permukaan retina c.Pada sebagian besar kasus. Ada bercak eksudat yang berupa bercak berwarna kekuningan yang biasanya tampak sepanjang pembuluh darah atau di macula. 3. Pembuluh darah. Infeksi Kulit oleh bakteri sehingga kulit sekitarnya menjadi merah meradang. Nyeri ini bisa menetap selama beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terjadinya herpes zoster. lakrimasi. Bila terletak di lapisan saraf bentuknya mengikuti jalan saraf dan tampak sebagai bulu ayam yang di sebut flame shaped hemorrhage atau feather shape. Neuralgia Pasca Herpes Merupakan komplikasi yang paling umum. karena tenggelam di dalam edema. di sebut perdarahan preretina. Bila letaknya di lapisan lebih luar tampak sebagai bercak yang berbatas tegas. suram. Kongesti papil. Bayangan suram terutama terlihat di daerah papil dan macula b. 18 . nyeri bersifat ringan dan tidak memerlukan pengobatan khusus. nyeri akan menghilang dalam waktu 1-3 bulan. Papil batas tidak nyata. 2.fotofobia. 1 Pada pemeriksaan funduskopi tampak : 4 a. Merupakan nyeri di daerah kulit yang dipersarafi oleh saraf yang terkena herpes zoster. e. d. gangguan lapang pandang. Nyeri bisa dirasakan terus menerus atau hilang-timbul dan bisa semakin memburuk pada malam hari atau jika terkena panas maupun dingin. Pada sebagian besar kasus. Bila terdapat di antara membrane hyaloidea dan retina. pandangan kabur dan gangguan penglihatan pada beberapa variasi. Nyeri paling sering dirasakan pada penderita usia lanjut dan jarang terjadi pada orang yang berusia di bawah 50 tahun. terutama vena nya tampak lebih berkelok warna lebih gelap diameter lebih lebar. Acute retinal necrosis dimulai dengan adanya nekrosis retina pada bagian perifer.

gama yaitu genus Lymphocrypto dan Rhadino. Ini adalah komplikasi yang sangat serius tapi jarang terjadi.4. Terdapat 3 subfamily herpes virus yaitu alfa yang terdiri dari genus Herpes simplek dan Herpes varicela zoster. Penderita herpes zoster dengan sistem kekebalan tubuh lemah lebih berisiko komplikasi ini. air Alergik Ringansedang Berserabu t (lengket) putih Toksik Ringansedang - ++ Minim + >> Minim Keratitis herpes simplek • Mengenai epitel : keratitis dendritik 19 . 5. Kadang-kadang. Komplikasi lain seperti infeksi otak oleh virus varisela-zoster atau penyebaran virus ke seluruh tubuh. Sifat penting dari herpes virus ini adalah salah satunya ciri khas yang menonjol dapat menyebabkan infeksi laten. saraf yang terkena dampak adalah saraf motorik dan saraf sensorik yang sensitif. 2 DIAGNOSA BANDING Bakteri Mencolok Purulen atau mukopurul Pseudomem bran Papil Nodul preaurikuler Gatal en +/+/Minim 3 Injeksi konjungtiva Eksudat Viral Sedang Jarang. menetap tidak terbatas dalam pejamu yang terinfeksi sering di aktifkan kembali di dalam pejamu dengan imunosupresi. ETIOLOGI Herpes Varicela-zoster virus. beta yaitu genus Cytomegalovirus dan Roseolo. Hal ini dapat menimbulkan kelemahan (palsy) pada otot-otot yang dikontrol oleh saraf yang terkena.

hyperemia. Konjungtivitis Sedang Sering purulen Ringan Jernih Normal Keratitis Sedang Hanya reflek epifora Fotofobia Kornea Pengilahat a n Secret Flare Vaskularis as i in je ks i + Konjungtiva +/Siliar ++ Siliar Ringan Fluroseins Menurun Hebat Presipitat Menurun Iritis Sedang sampai hebat Ringan Sakit Kotoran PEMERIKSAAN PENUNJANG2 • LAB 20 . • Mengenai stroma : keratitis disiformis Keratitis membentuk kekeruhan infiltrate yang bulat atau lonjong di dalam jaringan kornea. kelilipan. di sertai dengan sensibilitas kornea yang menurun. Fotofobia. Bentuk dendrite ini terjadi akibat pengerusakan aktif sel epitel kornea oleh virus herpes simplek di sertai dengan terlepasnya sel di atas kelainan. Biasanya merupakan keratitis profunda superficial. konjungtiva.Merupakan keratititis superficial yang membentuk garis infiltrate pada permukaan kornea yang kemudian membentuk cabang. tajam pengelihatan menurun. Sering di duga keratitis disiformis merupakan reaksi alergi ataupun imunologik terhadap infeksi virus herpes simplek.

dan analgesic yang adekuat. dan skleritis dapat digunakan steroid topical dan siklopegik. mengurangi insiden episkleritis rekuren. Lesi kulit dapat diobati dengan kompres hangat dan salep antibiotic. Terapi local untuk lesi pada mata seperti keratitis. iridosiklitis. Untuk mencegah infeksi sekunder dapat digunakan antibiotic tetes atau salep. juga neuralgia post herpetikum. Pemeriksaan lain yaitu direct immunofluorescence assay untuk mendeteksi peningkatan titer antibody spesifik yang dapat di deteksi pada serum pasien. menghentikan progresi virus dan pembentukan vesikel. keratitis. nyeri yang mengganggu (neuralgia pasca herpes) dan hilangnya tajam pengelihatan. Obat yang sering digunakan adalah prednisone dengan dosis 20-60 mg per hari dalam dosis tebagi 2-4 selama 2-3 minggu dan dilakukan tapering off bila gejala berkurang terutama pada pasien 21 . iritis dan mengurangi neuralgia pasca herpetic jika dimulai dalam 72 jam onset ruam. Yang sering digunakan adalah asiklovir 5x800 mg perhari selama 7 hari diikuti 2-3 minggu kemudian. terlihat sel raksasa berinti banyak. TERAPI Strategi pengobatan pada infeksi akut herpes zoster oftalmikus yaitu antivirus.Tekhnik polymerase chain reaction (PCR) adalah tekhnik pemeriksaan yang paling sensitif dan spesifik karena dapat mendeteksi varicella-zoster virus DNA yang terdapat dalam cairan vesikel. • Histologi Pada pewarnaan apusan kerokan atau bilasan dasar vesikel (apusan Tzanck). Sel tersebut tidak ada pada vesikel non herpetic.10. Kultur virus juga dapat dilakukan namun sensitifitasnya rendah.11 Pemberian kortikosteroid diberikan sebagai pencegahan komplikasi-komplikasi di mata.11 Obat antivirus diindikasikan dalam pengobatan herpes zoster yang akut. antidepresan. 3. Jika tidak diobati dengan adekuat dapat terjadi kerusakan permanen pada mata termasuk inflamasi yang kronik. kortikosteroid sistemik. Pada semua jenis herpes zoster diberikan kortikosteroid sistemik untuk mengurangi neuralgia. Obat ini signifikan untuk menurunkan nyeri akut. Jika kondisi pasien berat dianjurkan dirawat dan diberikan terapi asiklovir 5-10 mg/kgBB IV 8 jam selama 8-10 hari. 3.

1 22 . Analgesik seperti asetaminopen. PROGNOSIS Prognosis dari Herpes Zoster Ophtalmica pada umumnya baik.11 Pengobatan topical bergantung pada stadium nya. asam menefenamat. Vesikel dan nyeri biasanya menghilang dalam waktu 3 – 5 minggu. Kalau terjadi ulserasi dapat di berikan salep antibiotic. Jika masih stadium vesikel di berikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. tergantung pada komplikasi serta terapi secara dini. Bila erosive di berikan kompres terbuka. aspirin dan NSAID untuk mengontrol rasa nyeri. Artifial tears untuk lubrikasi kornea dan konjungtiva terutama pada neurotrodik keratopati dan defek epithelial persisten. 3.dengan umur lebih dari 60 tahun. Terapi sistemik dengan antiviral dapat mengurangi timbulnya komplikasi.

Ilmu Penyakit Mata.com/article/1878388-overview Dermatomes Anatomy 7. Hal 439-448.nih.html 6. 4. 2008. 1993 5.com/2010/10/pembagian-dermatom-padatubuh. Ilyas Sudarta.com/2012/03/anatomi-dan-fisiologi-sistemsensori. Wijana Nana. Anatomi Nervus Trigeminus di unduh dari http://aianpramadhan. Dermatom pada Tubuh di unduh dari http://easthomas.gov/pubmed?term= %22Herpes+Zoster+Ophthalmicus/drug+therapy%22[MeSH+Terms] 2.DAFTAR PUSTAKA 1.nlm. Penerbit Buku Kedokteran. Fakultas Kedokteran Indonesia. 3. Tahun 2010. Ed.blogspot.medscape.ncbi. Dermatomes Anatomy di unduh dari http://emedicine. Herpes Zoster Opthalmicus di unduh dari http://www.html 23 . Mikrobiologi kedokteran. Ilmu Penyakit Mata.3. Brooks F Geo at al. Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan.blogspot.

php/article/57-herpes-zoster 9. ERLANGGA. Herpes Zoster di unduh dari http://www.gov/pubmedhealth/PMH0001861/ 24 . Herpes Zoster Opthalmicus di unduh dari http://www.nih.com/index.ncbi.dermatalk. 2006 11.nlm.com/blogs/viral-infection/herpes-zosterophthalmicus-a-review/ 10.8. Ed 9.James Bruce at al.dokterkuonline. Lecture Notes Oftalmologi.http://www.