PENGELOLAAN AIR DI TINGKAT PETANI PADA LAHAN GAMBUT BERBASIS MASYARAKAT KASUS : UPT LAMUNTI, KAWASAN PLG KALIMANTAN

TENGAH

Muhammad Noor

Makalah disampaikanpada Lokakarya “Sistem Pengelolaan Air Lahan Rawa Gambut Berbasis Masyarakat” 4-6Januari 2011, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Sustainable Lowland Use Through Innovative Community Based Environment System (SLUICES) Project 2010

1

PENGELOLAAN AIR DI TINGKAT PETANI PADA LAHAN GAMBUT BERBASIS MASYARAKAT KASUS : UPT LAMUNTI, KAWASAN PLG KALIMANTAN TENGAH Muhammad Noor Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Jl. Ke bun Karet, Lokatabat. Banjarbaru 70712 Telp/fax 0511 4772534 Email : balittra@litbang.deptan.go.id

I. PENDAHULUAN Pengembangan rawa, termasuk lahan gambut sebagai lahan alternatif bagi pengembangan pertanian dipandang mendesak karena (1) penyusutan lahan-lahan pertanian, khususnya di Jawa dan Bali cenderung meningkat, penduduk mendatang masih cukup tinggi, 2) pertambahan

(3) kebutuhan pangan dan hasil

pertanian lainnya terus meningkat; dan (4) kemiskinan semakin meluas, khususnya yang menggantungkan sumber pendapatannya dari pertanian. Pilihan rawa sebagai lahan pertanian karena potensinya yang dinilai dapat diandalkan karena antara lain (1) ketersediaan air yang melimpah; (2) topografinya yang relatif datar dan tidak berbatu-batu, (3) akses wilayah yang relatif mudah dapat dicapai melalui jalur sungai, dan (4) ketersediaan lahan cukup luas. Peruntukan lahan untuk pertanian oleh pemerintah sekarang mendapatkan perhatian yang besar. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mencanangkan untuk adanya lahan abadi untuk pangan seluas 15 juta hektar dan Kementerian Transmigrasi pada periode 20102014 merencanakan penempatan transmigran baru ke berbagai wilayah, temasuk lahan rawa sebanyak 240.000 kepala keluarga . Banyak dan beragam kendala yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan rawa ini baik teknis, sosial, ekonomi maupun budaya. Masalah teknis utama adalah pengelolaan air dan lahan. Pemahaman secara benar terhadap sifat dan watak biofisik lahan dan lingkungan fisiknya merupakan kunci keberhasilan dalam penyusunan rancang bangun pengelolaan air dan lahan rawa 2

(3) Palingkau. Perkembangan sosial ekonomi masyarakat dan kondisi nasional strategis juga patut diperhitungkan dalam pembinaan dan intervensi. 3 . dan (3) kelompok kurang berkembang. dan (6) SebangauPalangka Raya (Team MP-EMRP. dan (3) proyeksi pengaruh pengaturan tinggi muka air terhadap peningkatan produktivitas pertanian sebagai upaya intenvensi pada demplot SLUICES. yaitu (1) kelompok yang relative maju berkembang . Dengan pembagian di atas maka upaya pengembangan lebih lanjut dapat didasarkan pada kondisi kendala dan potensi yang dihadapi pada masing-masing kelompok. (2) Dadahup. khususnya berkenaan dengan infrastruktur pengelolaan air dalam mendukung pengembangan pertanian pada masing-masing kelompok. Pengembangan pertanian di desa-desa wilayah Lamunti ini sangat beragam. (5) Kapuas Hulu.secara berkelanjutan. yaitu (1) Lamuntl. Wilayah Lamunti sendiri terdiri atas 15 UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) dan beberapa desa masyarakat. (4) Jenamas. alih fungsi lahan atau pergeseran komoditas yang menunjukkan perkembangan baru yaitu semakin luasnya intenvensi pengembangan perkebunan kelapa sawit yang merambah ke wilayah lahan pertanian yang diperuntukan untuk tanaman pangan. yang sebagian wilayahnya menitik beratkan pada pengembangan pertanian. Dalam konteks. Kawasan PLG Sejuta Hektar dibagi dalam 6 (enam) wilayah pengembangan. Uraian berikut mengemukakan tentang (1) kondisi pertanian lahan rawa Kalimantan secara umum sebagai pembelajaran. (2) kondisi pertanian UPT Lamunti kawasan PLG Kalimantan Tengah sebagai percontohan kasus khusus. Dalam konteks. Berdasarkan tingkat kemajuan pertanian dan tingkat pendapatan masyarakatnya wilayah Lamunti dapat dipilah atas 3 (tiga) kelompok. tetapi juga aksi atau intervensi dalam upaya revitalisasi pertanian di kawasan tersebut. 2008). khususnya dalam pemanfaatan dan pengembangan untuk pertanian memerlukan banyak perhatian yang tidak hanya konsep. Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah (1995-1999) yang mengalami hambatan dan kendala. (2) kelompok sedang berkembang .

KONDISI PERTANIAN LAHAN RAWA KALIMANTAN Berdasarkan hidrotopografi wilayahnya sebagai cerminan dari pengaruh luapan pasang sungai/laut.II. C. selanjutnya kategori II. Kementerian Pekerjaan Umum menggunakan istilah lahan katogori I untuk tipe A. Pasang tunggal bertahan dengan ketinggian pasang optimal yang dapat meluapi lahan hanya sekitar 3-4 hari dan lamanya antara 3-4 jam saja. III dan IV untuk tipe B. B. C dan D adalah sebagai berikut : Tipe A : wilayah pasang surut yang selalu mendapat luapan pasang baik pasang tunggal (purnama) maupun pasang ganda (perbani) serta mengalami pengatusan secara harian. Selisih tinggi permukaan pasang tunggal antara musim hujan dengan musim kemarau pada lahan sulfat masam tipe A mencapai 30 cm. Tipe D : wilayah pasang surut yang tidak mendapat pengaruh ayunan pasang samasekali dan mengalami pengatusan secara terbatas. Muka air tanah mencapai jeluk > 50 cm dari permukaan tanah. Pada musim kemarau. khususnya pada lahan-lahan tipe B. pada tipe B mencapai 40 cm. Pengaruh ayunan pasang diperoleh hanya melalui resapan (seepage) dan mempunyai muka air tanah pada jeluk < 50 cm dari permukaan tanah. Wilayah tipe luapan ini meliputi pesisir pantai dan sepanjang tepian sungai. B. maka wilayah pasang surut dibagi dalam 4 (empat) tipe luapan. Batasan yang dimaksudkan dengan tipe luapan A. 1992). Jadi kemampuan pengairan untuk lahan tipe B hanya pada saat pasang tinggi yang mempunyai permukaan pasang nisbi lebih tinggi. dan D. Pasang tunggal pada musim hujan lebih tinggi daripada musim kemarau. yaitu tipe A. Wilayah tipe luapan ini meliputi wilayah ke pedalaman sejauh < 50100 km dari tepian sungai. pasang ganda adakalanya tidak dapat meluapi lahan karena debit air yang kurang atau menurun. Ketinggian permukaan air pada musim hujan di lahan tipe C mencapai 65 cm. C dan D. 4 . Tipe B: wilayah pasang surut yang mendapat luapan hanya saat pasang tunggal (purnama). tetapi mengalami pengatusan secara harian. Tipe C: wilayah pasang surut yang tidak mendapat luapan pasang dan mengalami pengatusan secara permanen. Selisih pasang ganda antara musim hujan dengan musim kemarau pada lahan tipe B mencapai 70 cm (Kselik.

Reklamasi telah merubah kondisi tata air dan fluktuasi ketinggian air pasang sebagaimana yang ditunjukkan hasil pengamatan pada UPT Unit Tatas (Kabupaten Kapuas. Ketinggian pasang tunggal di muara sungai Barito mencapai 165 cm. Fluktuasi harian pasang mencapai 40 cm (Beek.5 km) pada sistem reklamasi Garpu Unit Tatas ini berkisar 130 cm. 1986). Aribawa et al. termasuk tipe luapan C. Kalsel). sementara di ujung sekunder (jarak 8 km) pada sistem reklamasi Garpu Barambai mencapai 150 cm (Roelse et al. 8 km dari muara sungai Barito. 1990. Lahan rawa pada lokasi UPT Barambai ini. Tinggi muka air tanah berada pada 54 cm di bawah permukaan tanah (Aribawa. Barambai dan Tabunganen (keduanya termasuk Kabupaten Batola. tetapi turun pada musim kemarau mencapai 100 cm di bawah permukaan tanah (Aribawa et al. Berarti selisih ketinggian pasang antara muara sungai Kapuas Murung dengan ujung saluran sekunder (jarak 5. Kalteng).5 km dari muara sungai Kapuas Murung) hanya mencapai 70 cm. Selisih ketinggian pasang tinggi pada UPT Barambai antara saluran tersier ke 5 dengan muara sungai (berjarak 700 m dari saluran sekunder. Ketinggian 5 . 1990). Ketinggian pasang tunggal di ujung saluran sekunder (kolam) pada UPT Unit Tatas (yang berjarak 5. sementara di muara sungai Kapuas Murung ketinggian air mencapai 200 cm (Vermulst. 1990). Fluktuasi harian pasang pada saluran tersier (berjarak 200 m dari saluran sekunder dan 3 km dari muara saluran primer) pada UPT Unit Tatas berkisar 40 cm. Pasang tunggal maupun pasang ganda dapat meluapi lahan UPT Tabunganen sampai di lokasi saluran tersier (berjarak 600 m sebelah utara saluran sekunder dan 10 km dari sungai Barito). 1990). yang semuanya merupakan wilayah pengembangan pasang surut dengan sistem Garpu.. Muka air tanah maksimum 22 cm. 1990). et al.tetapi pada musim kemarau terjadi kekeringan dengan muka air tanah mencapai > 70 cm di bawah permukaan tanah (Aribawa et al... Pada saluran tersier yang sejajar saluran sekunder pada UPT Barambai (berjarak 3 km sebelah Barat dari sungai Barito) selisih ketinggian pasang mencapai 10 cm. Lahan rawa pada UPT Unit Tatas ini dapat digolongkan sebagai tipe B. 1990). atau 60 km dari laut) hanya 165 cm.

1. III. T1-T2. dilengkapi dengan pintu air di pangkal Sungai Kapuas (Gambar 2). KONDISI PERTANIAN LAHAN UPT LAMUNTI 3. tetapi akibat infrastruktur jaringan tata air dan pintu-pintu air yang belum lengkap dan sebagian rusak maka operasional tata air belum berjalan sepenuhnya (Gambar 1). Perbedaan tipe luapan di atas memberikan konsekuensi diperlukannya sistem penataan air dan penggunaan lahan atau pola tanam yang spesifik sesuai dengan kondisi biofisik lingkungan. Misalnya untuk tipe luapan A dan B sesuai atau cocok untuk tanaman pangan (padi. S1-S2. dimensi lebar 15 m dalam 3 m. V1-V2. Kondisi Tata Air Makro Wilayah UPT Lamunti berada dalam sistim tata air yang pada awalnya ditata dalam sistem satu arah (one way flow system). saluran irigasi dipasok dari SSP (Saluran Sekunder Pembantu) dari utara ke selatan. dan dalam 3 m. lebar bawah 10 m. Menurut Kselik (1990) perbedaan permukaan air antara ujung saluran pengatusan (kolam) dari muara primer/sungai (berjarak 8-10 km) pada reklamasi Sistem Garpu rata-rata 80 cm. P1P2. palawija dan hortikultura). Jaringan utama berdasarkan konsep rancangan awal. U1-U2. Jarak antar saluran 6 . tipe luapan C sesuai untuk tanaman dan tipe luapan D sesuai untuk tanaman perkebunan terbatas atau hutan sebagai wilayah konservasi. Lahan rawa pada UPT Tabunganen ini termasuk tipe A. yakni O1-O2. Dimensi saluran primer lebar atas 15 m. Tegak lurus SSP terdapat Saluran Sekunder setiap jarak 600-625 m. Saluran sekunder ini berselangseling berupa saluran sekunder pemberi (warna biru) dan saluran sekunder pembuang (warna kuning). Q1-Q2. terdiri dari sekunder pemberi (biru) di bagian tanggulnya dibuat untuk jalan diperkeras. R1-R2.genangan atau muka air sekitar 27 cm di atas tanah (genangan) dan paling rendah 3 cm di bawah permukaan tanah. perkebunan. Saluran sekunder arah Barat-Timur. sedangkan sekunder pembuang (kuning) tanggulnya tidak dibuat untuk jalan. termasuk kemampuan masyarakatnya.

Kondisi sekarang ketiga pintu air utama tersebut di atas sudah tidak berfungsi sesuai dengan rancangan awal.sekunder pemberi dengan saluran sekunder pembuang sekitar 2. Kesempatan perbaikan dalam jangka pendek hanya ada di tingkat tersier (Tata Air Mikro). sedangkan pada MH sekitar 264 cm (Desember-Januari). Usaha perbaikannya memerlukan waktu lama dan biaya besar. karena semua pintu air sudah dirusak. Hasil pengukuran yang dilakukan oleh Tim IPB (2009) menunjukkan ratarata muka air maksimum pada musim hujan (MH) lebih tinggi sekitar 50 cm daripada musim kemarau (MK). pada saat MH air masam masuk ke lahan dan mematikan tanaman disebabkan oleh tidak lancarnya aliran di saluran tersier akibat dari tidak terpeliharanya saluran tersebut dari rumput sepanjang saluran karena lahan sekitarnya masih semak belukar (tak diusahakan). Rata-rata muka air minimum pada MH relatif sama dengan MK. Tipe luapan pasang termasuk pasang ganda dimana setiap hari terjadi pasang ganda dan pasang tunggal (dua kali pasang dalam 24 jam) . Beberapa kasus yang terjadi di blok tersier.500 m. Sistim one way flow dengan membuat saluran pemberi dan saluran pembuang terpisah tidak berjalan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dari segi drainase pada MK dan terutama pada MH outlet pembuang tidak menjadi penghambat. Beda elevasi muka air maksimum dan minimum (amplitudo) sekitar 226 cm pada MK (Agustus-September). plat baja dan kayu ulin dicuri orang. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam memelihara infrastruktur yang dibangun sangat rendah. Menahan air di tersier dengan mengoperasikan pintu air pada saluran tersier berpeluang berhasil karena beda muka air antara tinggi maksimum dengan minimum pada MK di sungai Kapuas Murung sekitar 230 cm. bahan materialnya berupa besi. 7 . Kondisi sekarang aliran pasang-surut bebas terjadi karena bangunan kontrol pintu air baik di sekunder maupun di tersier tidak berfungsi.

Kab. Kapuas. Kalimantan Tengah 8 .Dadahup Lamunti Gambar 1. Sistem tata air di daerah Lamunti dan Dadahup (Blok A) Kawasan PLG Sejuta Hektar.

Kab Kapuas. Kalimantan Tengah 9 . saluran sekunder pembuang = kuning) Gambar 2. Sketsa sistem tata air di Lamunti.(saluran sekunder pemberi = biru. Kawasan PLG Sejuta Hektar.

1. Kondisi Tata Air Mikro Sebelum Intervensi Saluran tersier dibuat tegak lurus saluran sekunder juga terdiri dari saluran tersier pemberi dan saluran tersier pembuang.3. D. Tipe-1 berupa pasangan beton dengan pintu sorong ulir vertikal plat baja aliran underflow. dan F. E dan F. B. Lahan usaha antar saluran tersier disebut dengan blok dari Barat ke Timur urut A. Tabel 1. Sebagai contoh di desa A1 Lamunti Permai.5 0. terdiri dari 7 petani.5 1. B.2. Saluran kwater dibuat tegak lurus tersier arah Barat-Timur. tetapi tidak bersambung dengan sekunder pemberi.500 600-625 Saluran tersier Saluran kuarter Pintu air terpasang di ujung atau pangkal saluran tersier terdiri dari tiga tipe.5 Dalam 1. tanpa 10 . E. ada jembatan di atasnya. Satu blok kuarter luas 15 hektar (kotor) atau 14 hektar (bersih).0 0. Demikian pula untuk saluran tersier pembuang melayani areal sekitar 325 hektar kotor atau sekitar 300 hektar bersih. Misal Desa A1 terdiri dari enam blok A. Dimensi saluran tersier dan kuarter disajikan pada Tabel. Saluran tersier pembuang bersambung dengan sekunder pembuang yang dilengkapi dengan pintu air tersier pembuang. D. Pangkal saluran tersier pemberi bersambung dengan sekunder pemberi dilengkapi dengan pintu air tersier.5 Jarak Antar saluran 600-625 200-240 Panjang 2. blok F terdiri dari 10 blok kwarter utara F1 – F10. pintu skot baloknya sudah hilang dicuri orang. Setiap unit saluran tersier pemberi melayani areal sekitar 325 hektar (kotor) atau sekitar 300 hektar (bersih).. Kalteng Dimensi dan Jarak Saluran (m) Jenis saluran Lebar Atas 3. Dimensi saluran tersier dan kuarter pada UPT Lamunti. dan 8 blok kwarter selatan F11 – F18. C. C. Tipe-2 berupa pasangan beton dengan pintu skot balok ulin aliran overflow.5 Lebar Bawah 1. tetapi ujungnya tidak bersambung dengan sekunder pembuang.

Untuk itu di pangkal saluran tersier harus dilengkapi dengan pintu air otomatik yang menutup pada waktu pasang dan membuka waktu surut. Pengelolaan air di tingkat lahan usaha tani (TAM) merupakan faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pengembangan lahan rawa. pintu sorong plat baja underflow. Pada MK menahan air setinggi mungkin supaya kedalaman air tanah di lahan tidak lebih dari 1 m untuk mencegah kebakaran lahan. dilakukan pergantian daun pintu menjadi overflow precast (tabat). Bagi tanah yang kaya akan kandungan bahan 11 . Termasuk pula diantaranya adalah untuk memacu proses pematangan tanah.jembatan di atasnya. Dengan demikian pintu harus dilengkapi baik di pangkal maupun di ujung saluran tersier. elevasi muka air di saluran tersier harus dirancang serendah mungkin. tetapi tidak meluap ke permukaan tanah. sedangkan di lokasi yang belum ada atau ada tetapi tubuh bangunannya rusak berat dibuat pintu baru. Pada musim hujan diharapkan drainase penuh untuk membuang air masam hasil oksidasi pirit yang terjadi pada musim kemarau. kecuali di lokasi desa A3. Tujuannya mencakup pelayanan pemenuhan kebutuhan air tanaman maupun drainase . Pengaruh masuknya air pasang ke saluran tersier tergantung pada tipe hidro-topografi lahan dan jauh-dekat lokasinya ke sungai utama. Pada pintu yang sudah ada dalam kondisi tubuh bangunan masih baik.Pertumbuhan tanaman yang kurang berhasil sering diakibatkan oleh pengaruh yang ditimbulkan dari air yang tergenang di lahan dalam waktu yang lama akibat kurang memadainya sarana untuk proses pelindian maupun tidak adanya penyegaran air secara periodik . Tipe-3 badan bangunan precast beton.5) pada MH di saluran tersier terbuang ke Sungai. Di lokasi desa ini aliran air pasang cukup kuat di saluran tersier. perbaikan atau pelindian (leaching) terhadap asam dan bahan-bahan beracun serta untuk pengembangan lahan dalam jangka panjang . Fungsi pintu air di saluran tersier diharapkan mampu membuang kelebihan air hujan dan air masam (pH 3-3. dan kebutuhan pencucian tanah . Kapuas Murung. Umumnya aliran pasang terjadi lemah di saluran tersier. Hanya saja pintu-pintu air di atas banyak tidak berfungsi dan sebagian badan bangunan rusak berat.

Kalau ada penambahan hubungan antara saluran tersier dan sub-tersier dengan saluran sekunder.3. maka perlu diperhatikan agar semua drainase benar-benar dapat dikendalikan oleh para petani. keracunan tanah dan rendahnya kualitas kandungan bahan organik sehingga kurang sesuai untuk pertumbuhan tanaman yang produktif. Banyak petani yang telah membuka lahan 2 (dua) hektar untuk kebun karet tetapi habis terbakar pada MK dengan sumber api berasal dari sekeliling belukar kering lahan yang tidak diusahakan. pada musim kemarau ada kemungkinan perlu menggunakan pompa agar bisa mencapai hasil pertanian yang optimal. Pada lahan yang tidak terkena luapan pasang (tadah hujan) Sasarannya adalah tanam padi sekali setahun di musim hujan dan tanaman palawija di musim kemarau Untuk maksud itu drainase lahan perlu penyempunaan untuk tanaman palawija di musim kemarau. Pada lahan yang lebih sering terkena irigasi pasang sasarannya adalah pertanaman padi dua kali dalam setahun. Pada musim hujan perlu adanya keseimbangan antara keperluan pelindian (leaching) kandungan racun dari dalam lapisan tanah dengan keperluan mempertahankan permukaan air d iatas lahan untuk budidaya tanaman padi. 3. Lahan diusahakan yang tidak ditanami atau menjadi semak belukar sangat merugikan bagi petani rajin karena rawan terhadap hama dan bahaya kebakaran pada MK. Kondisi ini menjadi faktor penghambat utama keberhasilan usahatani di daerah ini.organik kondisi yang demikian itu akan mengarah kepada kondisi anaerobik. Kondisi Lahan Usaha Tani Kondisi lahan usaha tani UPT Lamunti dapat dipilah dalam kategori (1) lahan yang terluapi langsung dan (2) tidak terluapi langsung. Kondisi yang ada untuk keperluan pemasukan (supply) air tidak perlu diadakan perubahan. Tidak adanya pengelolaan air di lahan usaha tani yang dilakukan dengan baik disertai dengan buruknya pengoperasian bangunan-bangunan pintu air maka waktu proses pematangan untuk mencapai sebagaimana yang diharapkan menjadi semakin lama. Beberapa 12 .

persentase lahan yang dibudidayakan sekitar 20. Berbagai alasan yang menyebabkan kecilnya lahan yang dibudidayakan adalah: (a) banyak transmigran lokal yang tidak tahan dengan kondisi setempat.2%.kasus yang terjadi di blok tersier saat MH air masam masuk ke lahan dan mematikan tanaman disebabkan oleh tidak lancarnya aliran di beberapa ruas saluran tersier akibat dari tidak terpeliharanya ruas saluran tersebut dari rumput sepanjang saluran karena lahan sekitarnya masih semak belukar (tak diusahakan). (c) transmigran yang masih bertahan tidak berani membuka lahannya karena resiko kebakaran dari semak belukar lahan yang tidak digarap di sekelilingnya. kelapa) sedang panen. petai. Pola usaha tani dan penataan lahan dari demplot pada delapan desa yang dipantau disajikan pada Tabel 2 13 . dari total luas lahan yang tersedia 10.133 hektar. banyak yang pulang ke daerah asal nya atau bekerja di kota. mereka hanya datang jika pohon buah-buahan di kebun pekarangan (rambutan. Total lahan yang dibudidayakan di sembilan desa luasnya 2.8% masih semak belukar. (b) transmigran daerah asal yang tidak tahan atau betah dengan kondisi setempat. kemudian meninggalkan lokasi kembali ke kampung asalnya. umumnya mereka sudah menjual tanahnya (sertifikat hak pakai) ke transmigran yang masih bertahan di daerah ini atau ke pihak lain. mangga.050 hektar. atau sekitar 79. cempedak.

Namun demikian. kacang tanah. bawang peraijagung manis) Karet dan pantung dengan jagung Padi-Karet (padi/karet) Penataan lahan Tegalan/Kebun Tegalan/Kebun/ Tadah hujan Tegalan/Kebun Tegalan/Kebun/ Tadah hujan Tegalan/Kebun Tegalan/ Kebun Tegalan/Kebun Sawah dan Kebun 2 3 4 5 B1-Desa Warga Mulyo B3-Desa Sri Widadi 6 7 8 C1-Desa Harapan Jaya C2-Desa Sekata Bangun C3-Desa Sekata Makmur Khusus pada musim tanam MK 2010 intensitas hujan yang cukup tinggi pada bulan-bulan April-Juli bahkan Agustus 2010 tidak seperti biasanya maka banyak bibit padi yang sudah tua dan tidak mungkin lagi ditanam bahkan sebagian yang sudah ditanam menjadi mati karena tenggelam. bawang prei dan kangkung Karet (karet-padi-palawija dan sayuran) Jeruk/Mangga (jeruk/ mangga-tomat/terung/ cabai/ kol/jagung) Sayur (cabai. terung. beberapa lokasi yang relatif lebih tinggi dengan drainase yang cukup baik dapat memanfaatkan kondisi iklim untuk menanam palawija dan sayur mayur dan berhasil dengan baik seperti jagung. Lamunti. tomat. timun. No 1 Lokasi UPT/Desa A1. jagung manis. dan lain 14 . Pola tanam dan penataan lahan usaha tani desa terpilih. dan singkong – sayuran Karet (karet-jagung manis/padi gogo) Jagung.Desa Lamunti Permai A2-Desa Menyahi A4-Desa Keladan Jaya Komoditas Utama dan Pola Tanam Semangka. cabai sebagainya. 2009.Tabel 2. bayam. nenas. sayuran cabai. semangka.

air masam masuk ke lahan dan mematikan tanaman disebabkan oleh tidak lancarnya aliran di beberapa ruas saluran tersier akibat tidak adanya perawatan ruas saluran tersebut dari rumput sepanjang saluran karena lahan sekitarnya masih semak belukar (tak diusahakan). dan pintu air.4. dsb). dan pemasaran. seperti pengelolaan air. IV. 15 . pengadaan sarana dan prasarana produksi (pupuk. Untuk padi. muka air tanah perlu dipertahankan pada jeluk antara 30 . dan kelembagaan eksternal usaha tani seperti pelayanan penyuluhan. alsintan.3. sampai pelayanan pemasaran merupakan masalah yang banyak dihadapi dan penting.50 cm di bawah permukaan tanah. Untuk tanaman perkebunan muka air perlu lebih dalam antara 60-70 cm. PENGATURAN MUKA AIR TANAH DAN PRODUKTIVITAS LAHAN Pengaturan muka air yang dimaksud di sini adalah pengelolaan air skala mikro. Pada wilayah Lamunti hanya sebagian kelompok yang masih aktif. Banyak permasalahan petani yang hanya dapat dipecahkan dengan adanya kerjasama dan yang kuat sesama petani. pestisida. pengendalian kebakaran. Pengelolaan air juga penting untuk menjaga agar tidak terjadi amblesan yang besar. koperasi. Misalnya dalam pembuatan pintu air yang telah direncanakan terkendala penyelesaiannya karena belum terbentuknya rasa kegotong-royongan. Kelembagaan Usaha Tani Kelembagaan petani dan eksternal sebagai pendukung merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pengembangan usaha tani maupun wilayah pedesaan. Pengelolaan air di lahan gambut terutama dimaksudkan untuk mempertahankan muka air tanah pada batas layak untuk tanaman pangan. pelayanan peminjaman modal. sementara lainnya belum menunjukan kemajuan.40 cm dan untuk palawija 40 . pengatusan dan kemalir. tabat. yaitu yang berada di tingkat petani yang meliputi pembuatan saluransaluran keliling. Penguatan kelembagaan petani seperti kelompok tani atau gapoktan. Kasus lain yang terjadi di blok tersier saat musim hujan. pengendalian hama tanaman.

Hasil padi juga dipengaruhi oleh mutu air yang dipergunakan. Pengelolaan air tingkat mikro atau tingkat petani ini dianjurkan menerapkan sistem tata air satu arah sehingga pelindian senyawa atau unsur racun yang menghambat pertumbuhan tanaman lebih mempan.32 .Sistem tabat lazim digunakan oleh petani tradisional untuk mempertahankan air selama musim tanam (lacak) bagi padi lokal berumur 8 . Penerapan sistem pengatusan dangkal untuk pengembangan tanaman palawija di lahan pasang surut Tipe B Unit Tatas..69 ton/Ha (Sarwani et al. 16 .53 . 1994). Noor.34 ton gkg/Ha pada musim kemarau (Gambar 5. Sistem tabat ini memberikan peluang bagi pengembangan padi sekaligus perbaikan mutu lahan.10 bulan. kacang tanah 1. dan jagung 4.00 ton gkg/Ha pada musim hujan dan 2.4. Pintu air yang dipasang di muara saluran tersier (handil) dapat bersifat semi-otomatis (aeroflapgate) yang bersifat membuka ke dalam (tersier) untuk pintu air irigasi dan membuka ke luar untuk pintu air drainasi/pengatusan (Gambar 4). yang bersifat peka fotoperiod pada sekitar bulan Maret-April.99 ton/ha.2. dan H2S) (Gambar 3).4. Hasil penelitian pada lahan pasang surut Tipe B Kapuas Kalimantan Tengah menunjukkan penerapan sistem tata air satu arah dapat meningkatkan hasil padi dari 1.70 ton/Ha. dalam 30-50 cm.43 ton gkg/Ha menjadi 3.1. Fe. Dimensi ukuran saluran kemalir lebar 40 cm.26 . Kapuas (Kalimantan Tengah) dan Tipe C Unit Barambai (Kalimantan Selatan) memberikan hasil kedelai rata-rata sebesar 1. 1996).19 . Tabat dibuka pada akhir musim kemarau atau menjelang musim hujan untuk mengeluarkan unsur dan senyawa racun berupa asam-asam organik dan ionion logam lainnya. pembuatan saluran pengatusan keliling dan kemalir di lahan gambut dari hasil penelitian terbukti dapat memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah serta hasil tanaman jagung dan kedelai. Dalam budidaya tanaman palawija. dengan jarak antara kemalir 9 m. terutama dalam menurunkan kadar unsur pencemaran (Al.

04. Mutu air dan hutan galam kurang baik karena mempunyai pH 3.29.35 ton/ha.45. Sistem tata air mikro satu arah pada lahan pasang surut tipe C. ternyata air dari saluran sekunder/kanal memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan air dari hutan galam atau dari hujan yang dikonservasi. 1992) dibandingkan dengan air saluran 17 .Gambar 3. masing-masing memberikan hasil padi 2.88 cmol(+)/l (Klepper et al.69 cmol(+)/l. dan SO4 5. 1.. Sistem tata air mikro satu arah pada lahan pasang surut tipe A dan B Dari tiga sumber air yang digunakan. Al 1. Gambar 4. dan 1.24 cmol(+)/l. kadar Fe 1.

sekunder yang mempunyai pH 3.65. 18 . Sumatera Selatan (Tabel 3). Delta Saleh.5 0 2.34 1. Hasil padi pada sistem tata air satu arah dan dua arah Unit Tatas. 4 3.5 2 1. Hal serupa ditunjukkan hasil penelitian Harsono (2010) pada lokasi lahan rawa UPT Delta Upang.43 1.19 Hasil (t GKG/ha) 3 2. Air sungai yang mempunyai mutu lebih baik inilah yang diharapkan dapat masuk untuk mengencerkan atau menetralkan senyawa atau unsur logam dan asam organik yang bersifat racun sebagai hasil pengatusan.92 cmol(+)/l. kadar Fe 0. Kapuas Hasil intervensi pintu-pintu air terpasang dari upaya untuk memperbaiki produktivitas lahan pada UPT Lamunti belu dapat disajikan karena pemasangan pintu baru selesai pada musim kemarau (Agustus-Oktober) 2010.89 cmol(+)/l. 1990).26 Musim 1 Kemarau Musim Hujan 2 Gambar 5.5 1 0. Mutu air sungai yang belum memasuki saluran sekunder umumnya lebih baik dibandingkan dengan yang ada di saluran primer atau sekunder. Namun dari hasil penelitian yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pengaturan muka air dapat meningkatkan produktivitas lahan akibat perbaikan sifat-sifat kimia dan kesuburan lahan yang antara lain meningkatnya pH tanah dan menurunnya kadar ion-ion toksis.. dan SO4 3. Al 0.5 Dua arah Satu arah 3. Kab Ogan Ilir. Kab Banyuasin dan UPT Delta Sugihan Kanan.66 cmol(+)/l (Vadari et al.

33 231 31 2. khususnya sayuran dan padi umumnya sar hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sumatera Selatan Paramter pH tanah Daya Hantar Listrik (uS) Fe (ppm) Hasil padi (t GKG/ha) Sumber : Harsono (2010) STA Satu Arah 5. Oleh karena itu maka diperlukan pemantauan selanjutnya. Hasil intervensi pintu-pintu air belum menunjukkan dalam peningkatan produktivitas lahan mengingat intensitas hujan yang tinggi pada musim tanam 2009-2010.39 V. kecuali hasil tanaman karet dan semangka yang dikembangkan cukup luas. Perbedaan tipe luapan di atas memberikan konsekuensi diperlukannya sistem penataan air dan penggunaan lahan atau pola tanam yang spesifik sesuai dengan kondisi biofisik lingkungan dan kemampuan sosial ekonomi petani. sementara pintu-pintu air baru terpasang.2 23 5. Delta Telang. Pertanian utama adalah tanaman karet yang dikombinasi dengan tanaman sayuran. 19 .Tabel 3.59 STA Dua Arah 4. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan dan implikasi kebijakan berikut : 1. 3. 2. Pemanfaatan lahan pada Sembilan desa masih rendah yang belum termanfaatkan mencapai 79.59 159. Delta Saleh dan Delta Upang. Hasil penerapan sistem tata air satu arah dan dua arah.8% dari luas 10 133 hektar. Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah (1995-1999) yang mengalami hambatan dan kendala. Hasil usaha tani. 4. Hanya ada dua dari sembilan desa yang menanam padi (Menyahi A2 dan Sekata Makmur C3). khususnya dalam pemanfaatan dan pengembangan untuk pertanian memerlukan banyak perhatian yang tidak hanya konsep. tetapi juga aksi atau intervensi dalam upaya revitalisasi pertanian di kawasan tersebut.

1986. Alihamsyah. JMC. Bogor 10:1-18. Relation between hydrology and redox status of acid sulphate soils in Pulau Petak.A. P. In Symp. K. 249-276. Driessen. I. dan Pons. Sci. Deptan. 43-72. Optimalisasi pemanfaatan lahan rawa pasang surut. Papers Workshop on Acid Sulphate Soils in The Tropics. Balittra. W..M. 1976.. Inst. M. and P. 40 Tahun Balittra 1961-2001: Perkembangan dan Program Penelitian ke Depan. 2004. In AARD-LAWOO. 84 hlm. dan Sianturi. PJM.G. 1990. Kselik. Pons.. Noorsyamsi. I. Banjarbaru.. dan Suryadi. Blokhois. J. Wisconsin. H. Physiography of coastal sediment and development of potential soil acidity. Wageningen. Balitrtra. R. No. 20 . Proyek SWAMPS II. Problem Soils: Reclamatiuon and management. Pros. Ismail. 1986. 1990.J. ILRI. In Acid Sulphate Weathering. IPG. Agric. Jakarta. 2010. Banjarbaru. 20-22. Rajawali Pers. 1993. Seminar Sehari. Bogor/Jakarta. Litbang Pertanian 5. dan Hidayat. IPG. Widjaja Adhi. Indonesia. Dalam B. p. E. LAWOO-AARD. Kerssens. S. T. p. V. Water quantity and quality aspect of kolam systems in Kalimantan.L. 88-109. Pengelolaan lahan rawa pasang surut dan lebak. Vermulst. Breemen. Widjaja Adhi. E.. The tidal swamp rice culture in South Kalimantan. Suping. Wageningen. Prayudi et al.A. Balittra. Badan Litbang Pertanian. (eds). 2001. Verwey.A.. Herawati. 1980.. 12 Juni 2010 Studi Magister Sains Teeknik Sipil.I. Konstent. Jakarta. Water management on acid sulphate soils at Pulau Petak.B. Harsono.. 35-54.. In Land Reclmation and Water Management. In AARD-LAWOO.. USA. Lahan Rawa: Sifat dan Pengelolaan Tanah Bermasalah Sulfat Masam. Hydrolic survey in the kolam system Unit Tatas. D. the Netherland. 163 p. Jakarta.J. J. 24-31 August 1986. L. T.. Kalimantan. Beek.DAFTAR PUSTAKA Aribawa. 10. V.. Roelse. 1990. K. UNLAM. Paper Workshop on Acid Sulphate Soils in The Humid Tropics. 128 hlm. 1996. N.. Contr. Buku I.M. A. L. November. M.E. p. Seminar Teknologi Sistem Usahatani Lahan Rawa dan Lahan Kering. 27. Driessen. P. Noor.. Report No. p. Tampilan potensi usahatani di lahan rawa lebak. Banjarmasin Kosman. Suwarno. Res. 1990.. N.. 27. R. ILRI Publ. on Lowland Development in Indonesia: Research Paper. Hlm : 75-90. The Netherland. Vries de. SSSA Special Publ. Widjaja Adhi. 241 hlm.. J. Stuip. Breemen.. Madison. 1986. Centr. Badan Litbang Pertanian. H. G. AARD-LAWOO. dan Jumberi. Sewindu Penelitian Pertanian di Lahan Rawa 19851993. dan. 118. S.P. Tahir. Bogor/Jakarta.

21 .