1

Perlunya Teknologi Informasi
PERLUNYA TEKNOLOGI INFORMASI PERGURUAN TINGGI
DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh: Drs. Jerry Marcellinus Logahan, M.Si.


Inspektur J enderal Depdiknas DR. Ir. Soeparna MS, mengakui masih belum optimalnya
pemerintah dalam memberikan dukungannya terhadap dunia pendidikan. Pmerintah sudah
berusaha semaksimal mungkin namun keterbatasan subsidi APBN dalam bidang pendidikan
memang cukup menjadi kendala. Akan tetapi, ke depannya diharapkan subsidi pendidikan
tersebut mendekati yang dharapkan. Pendidikan tinggi di Indonesia bukannya tidak luput dari
permasalahan. Menurut Pembantu Rektor I Unisba, DR Ing. Suparno Satira, menurunnya kualitas
perguruan tinggi di Indonesia sangat memperihatinkan. ITB yang cukup ternama dan dikenal
luas sekarang ini berada di peringkat 15 tingkat Asia dan UGM di peringkat 40 (Republika, 5
Oktober 2004).
Menurut Asia Week, pada tahun 2000 di antara 77 Universitas di Asia Pasifik yang
disurvei, empat universitas terbaik Indonesia menempati peringkat 61, 68, 73, dan 75 (penjelasan
Komisi VI tentang Sisdiknas, 27 September 2001). Hal itu menunjukkan demikian terpuruknya
pendidikan tinggi di Indonesia dibandingkan dengan perguruan tinggi di tingkat Asia, apalagi di
tingkat dunia. Untuk memenangkan persaingan di tingkat dunia, perlu suatu alternatif untuk
meningkatkan daya saing perguruan tinggi ke tingkat dunia. Salah satu alternatif untuk dapat
berkompetitif di tingkat dunia saat ini adalah dengan dipercepatnya transformatisi IT di perguruan
tinggi di Indonesia.

Perkembangan Perguruan Tinggi
Sebelum masuk dalam teknologi informasi di perguruan tinggi, perlu dilihat terlebih
dahulu perkembangan perubahan perspektif pendidikan tinggi di dunia. Menurut Marvin W.
Peterson and David D. Dill dalam buku yang berjudul Planning and Management for a Changing
Environment, perubahan perspektif dan perkembangan zaman dari pendidikan tinggi yang
dianggap masih "tradisional" (traditional higher education) pada masa periode sebelum tahun
1950-an menuju pendidikan tinggi sebagai "pendidikan massal" (mass higher educations) pada
masa periode 1950-an sampai tahun 1970-an dan pendidikan tinggi sebagai "pendidikan lanjutan"
(postsecondary education) pada masa periode 1972-an sampai tahun 1990-an yang menuntut
perubahan paradigma baru dalam menyikapi perkembangan zaman.

2
Perlunya Teknologi Informasi
Traditional Higher Mass Higher Postsecondary
Education Education Education


---1940 ----------1950-----------1960 ------------1970--------------1980------------1990--

Gambar 1: Perkembangan Perubahan Perspektif Pendidikan Tinggi di Dunia

Untuk memenangkan persaingan dalam pendidikan tinggi, dibutuhkan pula analisis dari
Michel Porter sebagai model.



Gambar 2: Analisis Michel Porter sebagai Model

Changing Societal
Conditions and
Challenges

Institutional
Planning
Perpectives and
Approaches
Four Comprehensive
Year Institutions
Higher educations

( Public
And
Private)
Professional Doctoral
And Spe - Granting
Cialized University
Institutions
Traditional
Higher
Education




Two-Year
Higher
d i
Mass Higher
Education





Proprietary
Institutions

Forces Reshaping a
Postsecondary
Knowledge System or
Industry

Internal and External
impacts on Institutions

3
Perlunya Teknologi Informasi



Gambar 3: Analisis Michel Porter sebagai Model

Secara internal, perguruan tinggi perlu mengubah struktur akademis dan proses
pendidikan dalam mengadakan penelitian. Secara eksternal, pendidikan tinggi harus mempu
bersaing atau harus berkolaborasi dengan lembaga luar nonpendidikan tinggi atau dunia industri.
Terdapat enam hal yang sangat berbeda dalam mempengaruhi lembaga pendidikan tinggi yang
bergerak dari tradisonal ke lembaga tinggi sebagai sistem ilmu pengetahuan.

1. Mengubah Pola Perbedaan
Terdapat beberapa pelajaran dari pengalaman (1) Pengertian tentang perbedaan kebudayaan
senantiasa berubah; (2) Kebijaksanaan pemerintah dan respons kelembagaan telah beralih
dari terpisah/diskriminasi kepada tindakan menyetujui pilihan dan sekarang kepada
membongkar tindakan persetujuan; (3) Anggota kebanyakan kelompok minoritas telah
terorganisir dengan baik dan mencapai kekuatan olitik yang efektif, baik di kampus maupun
dalam pemerintahan. Akibatnya pada level industri adalah pelanggan potensial untuk
pembelajaran di perguruan tinggi dapat mempengarhui kebijakan publik dan tekanan untuk
meningkatkan perbedaan yang telah menciptakan kompetisi yang intensif untuk berusaha
meningkatkan jumlah keragaman mahasiswa, dosen, dan staf administratif.



6. Intensity of
Competition
4. Threat of
substitute Services
5. Innovation in the
core technology
2. Bargaining
power of
Suppliers
3. Bargaining
power of
Customers
1. Threat of new
entrants

4
Perlunya Teknologi Informasi
2. Revolusi Telematik: Menemukan Kembali atau Menyuplai Inti Teknologi
Kemungkinan tantangan yang paling hebat pada industri dari lembaga adalah ekspansi yang
sangat cepat dan gelombang jaringan telekomunikasi interaktif yang menghubungkan
mahasiswa dan dosen dengan sumber data melalui jaringan kerja dan komputer yang
memungkinkan pengintegrasian informasi, suara, dan gambar video. Pada level industri,
revolusi ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pilihan dalam
mengakses kesempatan penggunaan media elektronik dalam pembelajaran untuk mencapai
kesatuan pelanggan baru (mahasiswa) dan untuk meningkatkan potensi pembalajaran di
lembaga. Di sisi lain, perusahaan di luar lembaga dapat menjadi pencipta dan sekaligus
pensuplai informasi, bukan sekedar sebagai pelanggan yang mencari informasi hasil
penelitian atau mahasiswa terlatih. Pada level lembaga, secara eksternal universitas akan
menemukan cara mereka sendiri dalam bekerja sama dengan lembaga pendidikan negeri
maupun swasta, perusahaan telekomunikasi, perusahaan yang berbasis pada informasi,
bahkan perusahaan hiburan yang mendasarkan pada pendidikan. Di samping itu, para
mahasiswa mempunyai akses secara luas dalam materi pembelajaran, sumber pendidikan, dan
mahasiswa lain, serta para dosen tanpa terganggu oleh waktu dan tempat. J aringan
pendidikan yang demikian menyarankan proses pembelajaran yang berbeda.

3. Kualitas Akademik dan Lembaga: Fokus pada Pembelajaran dan Perbaikan
Kebutuhan akan kualitas pendidikan telah dimulai sejak tahun 1960-an. Pada tahun 1960-an
dan 1970-an, kualitas akademik dikaitkan dengan tingkat dan kondisi alamiah yang
bersumber pada lembaga pendidikan. Pada tahun 1980-an dikaitkan dengan hasil, pencapaian
prestasi, atau penambahan nilai. Belakangan ini fokus kualitas dikaitkan dengan Total
Qualitiy Management (TQM) atau Continuous Quality Improvement (CQI). Ide itu pada
mulanya muncul untuk sektor swasta dan telah mendapat dukungan tokoh politik. Tidak
seperti fokus pendidikan lain yang menekankan kualitas pada penekanan komperehenshif
dalam mengembangkan budaya kelembagaan pada kebijaksaaan dan praktik yang dapat
meningkatkan (1) Lingkungan yang terus menerus melakukan perbaikan; (2) Berpusat pada
pelanggan/klien; (3) Pendekatan yang rasional pada pembuatan keputusan yang
menggunakan pengukuran yang intensif dan memberi penilaian yang tinggi (benchmarking);
(4) Memfokuskan pada desain proses; (5) Kolaborasi dan kerja kelompok; (6) Pemberdayaan
individu.



5
Perlunya Teknologi Informasi
4. Meningkatkan Produktivitas Ekonomis: Penekanan Baru atau Fungsi Baru?
Kontribusi pendidikan tinggi untuk pengembangan ekonomi yang telah diarahkan dengan
cepat untuk perluasan pendidikan itu sendiri. Perguruan tinggi menghasilkan mahasiswa
terlatih dengan baik, menyediakan program profesional yang diperlukan, dan mengadakan
penelitian murni dan terapan yang menyumbangkan perbaikan kesejahteraan manusia sesuai
dengan standar kehidupan. Pada level industri, tantangan itu mempunyai sedikit efek pada
pelanggan utama (mahasiswa). Akan tetapi, kemungkinan berefleksi pada prioritas orientasi
karier mereka dan kepedulian mereka terhadap program yang bermanfaat. Pada level lembaga,
tekanan pada pengembangan ekonomi melibatkan lembaga itu pada perbedaan tipe dalam
kemitraan yang akan memotong batas industri agar dapat berintegrasi dengan susunan kerja
sama antara lembaga pemerintah dan swasta yang kompleks dan untuk mengembangkan
fungsi yang baru atau yang lebih mengelilinginya.

5. Pembelajaran Kembali di Pendidikan Lanjutan: Pasar Baru, Mode, dan Model Melanjutkan
Pendidikan
Pada dekade terakhir ini, pelayanan pendidikan yang diperluas telah diarahkan kepada
peningkatan masuknya mahasiswa tradisional dan meningkatnya pelayanan untuk kelompok
yang kurang mewakili minoritas/wanita dan mahasiswa yang lebih tua. Modifikasi dalam
penjadwalan (dilaksanakan malam hari atau akhir pekan) atau tempat (di luar kampus),
digunakan untuk menyampaikan mata kuliah atau program tradisional menjadi paruh waktu
kepada mahasiwa non-tradisional. Melanjutkan pendidikan merupakan fungsi tambahan atau
pada mulanya berkaitan dengan program profesional yang barkaitan dengan pekerjaan. Pada
level industri, jumlah itu menyarankan adanya kelompok pelanggan potensial untuk
memperoleh pendidikan kembali di perguruan tinggi. Sementara beberapa perguruan tinggi di
antara mereka membayar untuk pendidikan mereka sendiri, ada kelompok organisasi yang
menjadi klien potensial karena mereka memberi pelayanan pendidikan untuk para
pegawainya. Pada level kelembagaaan, hal itu merupakan pasar yang substansial. Apabila
lembaga pendidikan tinggi tradisional gagal dalam merespons, risikonya kehilangan
kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Hal itu memerlukan model responsif dalam
penyusunan model penyampaian non-tradional dan perubahan substansial peranan dosen.

6. Globalisasi: Memecahkan Kekangan dan Batasan
Globaliaasi merupakan kecenderungan yang telah didekati pada abad ke-21. Model itu
menuntut adanya mahasiswa internasional atau program pertukaran dosen, peningkatan

6
Perlunya Teknologi Informasi
pengajaran berbahasa asing, dan memperkenalkan pandangan global dalam kurikulum.
Fenomena itu dapat membentuk masyarkat madani internasional (interntional civil societies),
yaitu masyarakat yang mempunyai interdisipliner ilmu pengetahuan antarnegara (cross
national) dan antarkelompok industri (cross industry group). Pada level industri, bentuk baru
globalisasi ditandai dengan intensitas kompetisi antarperguruan tinggi. Pada mahasiswa,
peneliti, dan dosen sekarang berpartisipasi dalam kegiatan yang kurang formal menjadi
pelanggan khusus yang nantinya akan tertarik. Pada level kelembagaan, masa depan
berkompetisi pada budaya yang berbeda dan dalam kaitan dengan birokrasi pemerintah yang
bermacam-macam. Dalam manajemen internal, hal itu memerlukan petunjuk yang lebih
bersifat wiraswasta, bentuk jaringan dari organisasi yang multikultural.

Terdapat lima hal yang merupakan suatu kesatuan yang merupakan perspektif baru
pendidikan tinggi sebagai berikut.
1. Inti teknologi
Teknologi merupakan kekuatan yang mempunyai pengaruh sangat besar karena
perkembangannya, transmisi, dan dalam penyebaran ilmu pengetahuan pada masyarakat yang
pada gilirannya pada perguruan tinggi sebagai industri. Revolusi teknologi telah bergeser dari
model pembelajaran, penelitian tradisional menjadi bervariasi responsif interaktif dan
menjadi lebih individual.
2. Masukan Baru Organisasi
Perubahan kelembagaan perguruan tinggi dari model tradisonal ke pendidikan masal dan
pendidikan lanjutan di perguruan tinggi menarik perhatian banyak pihak terkait menjadi
bagian dari sistem itu, seperti perusahaan telekomunikasi perusahaan software dan hardware
komputer, organisasi sumber informasi, asosiasi dan organsiasi pemerintah di bidang
pendidikan, pelatihan dan pengembangan profesional, dan perusahaan jasa hiburan. Semua
pihak dapat menjadi kolaborator atau kompetitor dari lembaga pendidikan tinggi.
3. Kekuatan Pelanggan
Kunci utama perspektif perguruan tinggi sebagai industri ilmu pengetahuan adalah
memokuskan mahasiswa sebagai pebelajar dengan kebutuhan pendidikan yang bersifat
individual dan bukan sebagai mahasiswa yang menerima mata kuliah yang programnya
didesain dan diberikan lembaga pendidikan tinggi.
4. Kekuatan Pemasok dan Ancaman Bagi Pelayanan Pengganti
Kerterlibatan organisasi dalam model perguruan tinggi sebagai industri ilmu pengetahuan
dipandang sebagai lembaga yang mempunyai kekuatan sebagai penyedia karena

7
Perlunya Teknologi Informasi
menyediakan informasi baru, teknologi pendidikan tingkat tinggi, serta mempunyai akses
dalam jaringan komunikasi yang kritis. Namun demikian, sekaligus juga menjadi kelompok
penekan dan pesaing yang potensial.
5. Kompetisi
Kompetisi juga menjadi suatu yang intensif dalam tantangan peningkatan perbedaan,
peningkatan kualitas, pemaksa biaya, dan untuk memasuki pasar baru perluasan pembelajaran
di perguruan tinggi. Hal yang secara kualitatif berbeda adalah persaingan dalam industri ilmu
pengetahuan dari organsiasi telekomunikasi, komputer, atau kerja sama pendidikan dan
pelatihan menjadi lebih bersifat enterprenuer dan lebih cepat dibandingkan dengan
pendidikan tinggi tradisional.

Delapan tantangan yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pendidikan tinggi sebagai
sistem industri ilmu pengetahuan:
1. perlu perencanaan dalam waktu tertentu.
2. pemahaman tentang sistem teknologi informasi yang interaktif.
3. pertumbuhan pelanggan dari berbagai latar belakang yang berbeda.
4. peningkatan perbedaan dan kekuatan kelompok pemilih.
5. pebisnis eksternal dan organisasi pemerintahan yang melakukan kompetisi atau juga
kolaborasi dalam melakukan kerja sama.
6. peningkatan pelanggan untuk menggunakan teknologi sebagai penyampaian pesan ke luar
kampus, termasuk untuk program non degree.
7. dari sisi pendidikan, peningkatan penekanan pembelajaran dari dosen dan pengembangan
intruksional ke proses pembalajaran, dan pengembangan pembelajaran.
8. batas penelitian tampaknya menjadi lebih trans-disipliner dan lebih berkolaboratif tetapi
lokasi geogrtafis menjadi terbatas.



8
Perlunya Teknologi Informasi


Gambar 4 Delapan Tantangan yang Perlu Diperhatikan dalam Perencanaan Pendidikan Tinggi sebagai
SistemIdustri Ilmu Pengetahuan


Teknologi Informasi Perguruan Tinggi
Keinginan masyarakat yang berkembang, menginginkan hal yang relevan dan fleksibel.
Masyarakat menginginkan pendidikan tinggi yang berhubungan dengan kurikulum, penelitian,
dan pelayanan masyarakat memberikan hal yang relevan dengan kebutuhan sosial dan ekonomi
masyarakat. Information Technology (IT) dapat memenuhi kebutuhan akan relevansi dan
Telecommunications Postsecondary
Firms Institutions






Computer hardware Corporate and
And software Firms Govermental
Education





Information Entertaiment
Resources Firms
Organizations
Resources
Constraint
Quality
Reform
Patterns of
Diversity
Postsecondary
Relearning :
Pre and Post
Baccalaureate
Economis
Productivity
New Research
Agendas
Telematics
Revolution
Globalization of
Scholarship

9
Perlunya Teknologi Informasi
fleksibelitas. Dengan fasilitas internet dan berdasarkan standar internet yang terbuka dapat
memberikan hal berikut.
1. Hubungan mendunia.
2. Belajar melalui infrastruktur.
3. Infrastruktur informasi dan berhubungan dengan pelayanan kepada manajemen dan pihak
luar.

Dengan IT sebagai strategi investasi, suatu pendidikan tinggi dapat menjadi industri yang
berkembang. Pendidikan tinggi harus belajar seperti industri untuk membudayakan pelayanan
dalam menghadapi kebutuhan perubahan yang cepat dengan fleksibelitas. Untuk menggunakan IT
pada proses akademik di perguruan tinggi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1. Hubungan Instruksi dan IT
Untuk menggunakan teknologi informasi, pengguna harus memahami (1) Model instruksi
penggunaan IT; (2) Karakteristik yang berbeda dari bermacam-macam instruksi teknologi;
(3) Strategi instruksi yang digunakan untuk mentrasformasikan instruksi. Dalam IT juga ada
tiga hal yang utama, yaitu (1) J aringan interaktif dengan video untuk jarak jauh pendidikan;
(2) Personal Computer (PC) untuk belajar; (3) PC yang mempunyai jaringan internet.
Terdapat empat strategi utama untuk mengatur transisi itu (1) Pusatkan pada masalah utama
dan pembiayaan pendidikan; (2) Pusatkan pada sekolah untuk siap menerima peralihan
pimpinan; (3) Pusatkan perhatian pada pelayanan pendidikan; (4) Pusatkan pada
dosen/instruktur yang ingin mencoba memperbarui secara inovasi IT.
2. Integritas Teknologi
Untuk memahami penggunaan teknologi, pelayanan lembaga akademik dapat
menguntungkan secara maksimal pada investasi IT. Hal itu terlihat dalam menurunnya biaya
per tugas dan meningkatkanya efisiensi dalam penampilan tugas baru. Hal terpenting yang
menjadi kelebihan penggunaan teknologi adalah meningkatkan kemampuan pengguna baru
agar memiliki potensi memimpin pada level yang lebih besar dalam penggunaan IT.
Penggunaan teknologi secara integratif membuat pekerjaan mengalir saling berhubungan
dengan lebih efisien dan efektif.
3. Strategi Manajemen
Untuk menggunakan teknologi, harus disadari perlu bantuan dari berbagai tingkatan
manajemen. Strategi manajemen dalam membawa perubahan tersebut harus memperhatikan
(1) Akademik VS adminsitrasi dengan teknologi baru akademik dan administrasi mempunyai

10
Perlunya Teknologi Informasi
model yang baru pula; (2) Bantuan distribusi; (3) Bantuan spesialiasi; (4) Bantuan institusi;
(5) Sentral koordinasi.
4. Pembiayaan dan Investasi IT
Hal yang utama dalam perubahan infrastruktur dan akademik IT harus menyadari pada
anggaran institusi yang menggambarkan biaya nyata dari penggunaan IT. Beberapa hal yang
harus diantisipasi, yaitu (1) Memahami nilai keseluruhan dari IT adalah lebih besar dari
semua bagian; (2) Nilai IT meningkat maka biaya keseluruah juga akan meningkat; (3)
Memosisikan masalah keuangan dengan institusi pada level yang lebih tinggi.
5. Perencanaan untuk IT
IT tidak akan berhasil terintegrasi tanpa perubahan yang mendasar dari budaya dan
lingkungan operasional. Untuk itu, perlu diperhatikan dalam perancanaan IT adalah (1)
Batasan strategi jangka panjang untuk memprioritaskan dan mendanai penggunaan teknologi;
(2) Terus melibatkan IT lebih khusus dan taktis teknologi untuk mengarahkan penggunaan IT
pada semua tingkatan di institusi; (3) Proses kolaborasi antara pemrograman IT dan standar
IT sebagai suatu strategi operasional pelaksanaan perguruan tinggi.

Perlunya Percepatan Transformasi Teknologi Informasi Perguruan Tinggi Di
Indonesia
Tantangan relevansi pendidikan berkaitan dengan perbuahan struktur ekonomi dan
agroindustri dan manufaktur ke IT dan komunikasi di era globalisasi. Dalam struktur ekonomi
agroindustri dan manufaktur, manajemen produksi dan SDM masih bertumpu pada teknologi
mekanik dan produksi masal dengan orientasi pasar regional. Sementara itu, dalam era informasi
dan komunikasi, manajemen produksi dan SDM bertumpu pada teknologi digital dan networking
dengan orientasi pasar bebas dan global. Dalam kenyataannya, pembangunan pendidikan nasional
masih berorientasi pada pendekatan linier dan konvensional sehingga mengalami kejenuhan dan
tidak responsif terhadap perubahan struktur ekonomi yang terjadi di tingkat regional dan global.
Hal itu berbarti diperlukan pergeseran prioritas dan diversifikasi sasaran program pendidikan
pada pengembangan keterampilan hidup dengann pendekatan inovasi dan kreatif yang
berorientasi pada kebutuhan tenaga kerja sesuai tuntutan perubahan struktur ekonomi baru.
Dalam kuliah perdana pada 12 September 2001 untuk mata kuliah Orientasi Baru dalam
Pedagogik di Universitas Negeri J akarta pada program pascasarjana - program doktoral, Prof. DR.
HAR Tilaat menjelaskan bahwa proses pendidikan berarti proses humanisasi. Manusia dalam
proses perubahan (1) Globalisasi; (2) Demokratisasi dan HAM; (3) Kemajuan ilmu dan teknologi,
terutama teknologi komunikasi dan informasi. Hal itu berarti pedagogik perlu ditinjau dari proses

11
Perlunya Teknologi Informasi
perubahan manusia abad ke-21. Prof DR. HAR Tilaar dalam makalah “Pendidikan Abad ke-21
Menunjang Knowledge Based Economy” menjelaskan bahwa berdasarkan konferensi
Luxembourg, pendidikan abad ke-21 dipengaruhi oleh 2 kekuatan besar, yaitu (1) Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK); (2) Ekonomi Berdasarkan Ilmu Pengetahuan (EBI) yang dapat
melahirkan kapasitas intelektual seseorang/masyarakat/bangsa dalam konwledge society.
Bebarapa simpulan Luxembourg sebagai berikut.
1. Pendidikan dijadikan prioritas utama pengembangan masyarakat.
2. Ekonomi Berdasarkan Ilmu Pengetahuan (EBI) menuntut pendidikan berkualitas.
3. Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pendidikan Berdasarkan
Masyarakat (PBM atau E-PBM).
4. Pentingnya PSH (Pendidikan Sepanjang Hayat) sebagai sarana “The second change”.
5. Reedukasi tenaga guru.
6. Redefinisi pendidikan tinggi (a) Pentingnya riset; (b) Melahirkan “knowledge workers”; (c)
Platform kerja sama dengan dunia industri.
7. Kerja sama internasional yang saling menguntungkan.

Berdasarkan hal tersebut, proses pendidikan:
1. berfungsi dalam proses kohesi sosial.
2. memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (tik)
3. memerlukan guru yang berkualitas.
4. melaksanakan e-pendidikan berdasarkan masyarakat (e-learning).

Dengan hal tersebut, disarankan untuk pendidikan nasional di Indonesia diberi materi:
1. Pendidikan Sains dan Matematika.
2. Bahasa Inggris
3. Pendidikan Kreativitas
4. Pendidikan Digital
5. Orientasi Perguruan Tinggi ke Dunia Kerja
6. Pembentukan J aringan Virtual Perguruan Tinggi Nasional

Penyelenggaraan pendidikan secara terbuka dimungkinkan dengan menerapkan sistem
manajemen pendidikan dan proses pembelajaran yang fleksibel didukung oleh pemanfaatan
teknologi pendidikan, termasuk IT dan komunikasi elektronik. Penyelenggaraan pendidikan
melalui situs internet “on line” dalam tatanan “cyber school” atau “cyber university” merupakan

12
Perlunya Teknologi Informasi
salah satu alternatif untuk meningkatkan pemerataan dan mutu pendidikan dengan sistem
pendidikan terbuka dan jarak jauh.
Perubahan perspektif perguruan tinggi dari perspektif pendidikan tradisional ke
pendidikan masal dan lanjutan, terlihat banyakperubahan yang harus dilakukan oleh perguruan
tinggi. Salah satunya yang perlu diantisipasi adalah penggunaan IT dalam proses pendidikan
tinggi. Untuk membenahi pendidikan tinggi di Indonesia, sudah seharusnya perguruan tinggi
menggunakan IT dalam proses pendidikan tinggi. Kiranya pemikiran itu dapat menjadi masukan
dalam manajemen perguruan tinggi di Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA


Peterson, Marvin W. and David D. Dill. 1997. Planning anda Management for a Changing
Environment. San Francisco: J ossey-Bass Publishers.

Rancangan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. 2001. J akarta.

Tilaar, HAR. 2001. “Orientasi Baru dalam Pedagogik.” Universitas Negeri J akarta.

_______. 2000. “Pendidikan Tinggi Abad ke-21.” Uniersitas Negeri J akarta.