Hari Pangan Sedunia

Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) dimulai sejak Food and Agriculture Organization (FAO) menetapkan World Food Day melalui Resolusi PBB No.1/1979 yang merupakan tindak lanjut dari kesepakatan FAO Conference ke 20 Nopember 1979 di Roma, Italia yang dihadiri oleh 147 negara anggota FAO. Sejak saat itu disepakati bahwa mulai tahun 1981, seluruh negara anggota FAO termasuk Indonesia memperingati HPS secara Nasional pada setiap tanggal 16 Oktober bertepatan dengan terbentuknya FAO. Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Diantaranya kebutuhan yang lainnya, pangan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi agar kelangsungan hidup seseorang dapat terjamin. Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang yang dulu hingga sekarang masih terkenal dengan mata pencaharian penduduknya sebagai petani bercocok tanam. Luas lahan pertanian pun tidak diragukan lagi. Namun, dewasa ini Indonesia justru menghadapi masalah serius dalam situasi pangan dimana yang menjadi kebutuhan pokok semua orang. Pemanasan global yang terjadi karena naiknya rata-rata suhu permukaan bumi dan samudera dalam beberapa dekade terakhir ini, menyebabkan perubahan iklim ekstrim yang terjadi dalam suatu kurun waktu yang panjang. Perubahan iklim ekstrim membuat produksi pangan turun di tengah permintaan yang tetap, bahkan naik. Perubahan iklim juga memicu adanya perubahan cuaca secara ekstrem. Terjadinya pergeseran musim, akan berpengaruh pada perencanaan aktivitas kegiatan pertanian, sehingga jadwal tanam akan terganggu yang mengakibatkan menurunnya angka produksi dan bahkan kegagalan panen. Kemudian munculnya sumber penyakit-penyakit baru pada tanaman, angin kencang dan badai yang merusak tanaman. Perubahan iklim akan terus berpengaruh pada produk hasil pertanian. Dibeberapa daerah di Indonesia, perubahan iklim ekstrim menyebabkan terjadinya gagal panen sehingga jumlah pasokan pangan berkurang dan harga pangan pun menjadi naik di pasaran. Sementara musim kemarau yang terlalu panjang dan banjir di musim hujan membuat produktivitas pertanian menurun. Serta naiknya suhu permukaan bumi akan membuat pola hidup tanaman pertanian menjadi terganggu. Beberapa hal tersebut merupakan beberapa contoh yang dapat dirasakan akibat dari perubahan iklim dari sektor pertanian. Dengan demikian ancaman gagal panen yang berdampak pada ketahanan pangan kian menjadi nyata. Menghadapi tantangan ketahan pangan yang saat ini dirasakan oleh Indonesia, karena perubahan iklim, diperlukan beberapa cara. Mulai dari peningkatan ketahanan pangan baik dalam ketersediaan, stabilitas, aksesabilitas, konsumsi sehingga dapat dilihat kemajuan pertumbuhan ekonomi serta suatu individu dapat memiliki daya saing individu . Namun yang perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti dari kondisi pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia antara lain adalah langkah strategi penerapan dalam menyelesaikan ketahanan pangan pada total luas lahan, upaya untuk pemupukan dan bibit unggulnya. Selain itu kualitas para petani perlu juga perhatian untuk mengolah sumber daya alam yang ada. Para petani tersebut perlu diberikan pengetahuan agar mampu memajukan jumlah komoditi pertanian. Seperti contoh diberikan pelatihan bagi para petani agar mereka dapat member perlindungan lebih aman dan efektif tanaman mereka dari serangan hama, penyakit, dan lainnya. Kemudian dengan mengembalikan lagi atau melestarikan kebiasaan makanan pokok di tiap daerah. Seharusnya masyarakat suatu daerah mencoba makanan pokok lainnya dengan mengganti beras dengan bahan makanan berkomposisi sama atau lebih bergizi seperti sayur-sayuran dan umbi-umbian. Semua upaya untuk menangani permasalahan ketahanan pangan ini harus melibatkan semua pihak. Hal ini dimaksudkan agar seluruh rencana penanganan ini dapat terlaksana dengan baik sehingga tidak ada lagi masalah krisis pangan.