I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada praktikum yang berjudul resonansi gas ini akan ditentukan
besarnya perbandingan atau rasio antara panas jenis Cp dan Cv dari suatu gas
tertentu. Perbandingan ini dapat disebut dengan symbol gamma γ, dimana γ
ini didapat dari terjadinya resonansi gas tersebut. Resonansi ini dipicu oleh
piston magnetic yang digerakkan secara periodic oleh medan magnet, dimana
gas ditekan dan dimuaikan dalam keadaan adiabatic. Pada medan magnet yang
sesuai akan terjadi peristiwa resonansi, sehingga sistem dianggap sebagai
proses osilasi massa m dari suatu pegas. Dan apabila frekuensi medan magnet
sama dengan frekuensi ilmiah dari osilasi pegas gas itu, maka akan terjadi
osilasi harmonis kontinyu yang akan memberikan amplitudo maksimum.Suatu
gas ideal akan mengalami proses adiabatik kuasa statik dimana tekanan,
volume dan temperaturnya berubah dengan cara yang diberikan oleh ketiga
besaran diatas. Proses ini dihasilkan dari resonansi gas dimana piston
magnetik digerakkan secara periodik yang menimbulkan osilasi. Gas
dianalogikan sebagai pegas yang memenuhi hukum Hooke sehingga
didapatkan nisbah kapasitas kalor γ

1.2 I dentifikasi Masalah
Pada pratikum ini masalah nya bagaimana agar dapat menentukan
perbandingan panas jenis Cp dan Cv gas (konstanta γ).Sistem akan bereaksi
dengan lingkungannya bila diberi gangguan hingga mencapai suatu
kesetimbangannya. Percobaan dapat memisalakan gas sebagai pegas yang
dibebani oleh piston magnetik yang bergerak karena adanya tekanan udara
dari atasnya. Dengan menempatkan piston dalam tabung yang berisi udara,
sifat getaran piston dapat diterangkan dengan menggunakan analogi getaran
berbeda berada diantara dua pegas.

1.3 Tujuan Percobaan
Menentukan perbandingan panas jenis Cp dan Cv gas (konstanta γ).
II. TEORI DASAR
Suhu suatu gas dapat dinaikkan dalam kondisi yang bermacam-macam.
Volumenya dikonstankan, tekanannya dikonstankan atau kedua-duanya dapat
dirubah-rubah sesuai dengan kehendak kita. Pada tiap-tiap kondisi ini panas yang
diperlukan untuk menaikkan suhu sebesar satu satuan suhu untuk tiap satuan
massa adalah berlainan. Dengan kata lain suatu
gas mempunyai bermacam-macam kapasitas panas. Tetapi hanya dua macam
yang mempunyai arti praktis yaitu :
- Kapasitas panas pada volume konstan (Cv)
- Kapasitas panas pada tekanan konstan (Cp)
Kapasitas panas gas ideal pada tekanan konstan selalu lebih besar dari pada
kapasitas panas gas ideal pada volume konstan (Cp>Cv), dan
selisihnya sebesar konstanta gas umum (universal) yaitu : R = 8,317 J/mol .
[3]

- Gas Ideal
Seperti yang telah kita pelajari pada dasarnya apa yang disebut dengan gas
ideal merupakan gas yang dengan tepat memenuhi hukum Boyle dan hukum Gay-
Lussac dengan persamaan sebagai berikut:
PV=nRT
Keterangan: P = tekanan,
V = volume,
n = jumlah mol,
T = temperature absolute dan
R = konstanta umum gas.

Persamaan PV=nRT ini dikenal juga dengan persamaan gas ideal. Bila
tekanannya tidak terlalu tinggi dan temperaturnya tidak terlalu rendah gas sejati
akan mirip gas ideal, dan sifatnya dapat digambarkan oleh PV=nRT
Teori kinetika gas ideal didasarkan atas beberapa anggapan :
1. Gas ideal terdiri atas partikel (atom maupun molekul) dalam jumlah yang
besar sekali
2. Partikel itu tersebar merata dan bergerak secara rambangan
3. Jarak antar partikel jauh lebih besar daripada ukuran partikel
4. Tidak ada gaya antara partikel yang satu dengan partikel yang lain, kecuali
bila kedua buah partikel itu bertumbuk
5. Semua tumbukan, baik antara dua buah partikel ataupun antara partikel
dengan dinding, lenting sempurna dan terjadi dalam waktu yang singkat
6. Hukum Newton tentang gerak berlaku disini.
[3]

Menurut definisinya gas ideal memenuhi persamaan sebagai berikut:
PV = nRu
0 = |
.
|

\
|
c
c
u
P
U

persyaratan bahwa 0 = |
.
|

\
|
c
c
u
P
U
dapat ditulis dengan cara lain. Jadi,
u
u u
|
.
|

\
|
c
c
|
.
|

\
|
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
V
P
P
U
V
U
,
Dan karena ( ) V P V NR V U / / /
2
÷ = ÷ = c c u
u
, maka hasil ini tidak nol, sedangkan
( ) = c c
u
P U / 0, maka untuk gas ideal :
0 = |
.
|

\
|
c
c
u
V
U
(gas ideal).
Karena = |
.
|

\
|
c
c
u
P
U
0 = |
.
|

\
|
c
c
u
V
U
, maka
U = f (u ) (gas ideal)
Untuk proses kuasi-statik infinitesimal dari sistem hidrostatik, hukum pertamanya
ialah :
dQ = dU + P dV,
dan kapasitas kalor pada volum tetap ialah
C
v
=
v
U
|
.
|

\
|
c
c
u

Dalam hal khusus untuk untuk gas ideal, U merupakan fungsi dari u saja,
sehingga turunan parsial terhadap u sama dengan turunan totalnya. Jadi,
C
v
=
|
.
|

\
|
c
c
u
U

dan: dQ = C
v
du + P (*)
Keadaan setimbang dinyatakan oleh persamaan gas ideal :
PV = nRu
Dan untuk proses kuasi-statik infinitesimal :
P dV + V dP = nR du
Dengan mensubtitusikan persamaan (*) maka akan kita dapatkan :
dQ = (Cv + nR) du - V dP
kemudian membaginya dengan du diperoleh :
u u d
dP
V nR Cv
d
dQ
÷ + =
Pada tekanan tetap, ruas kiri menjadi Cp, sehingga :
Cp = Cv + nR (gas ideal )
Dengan demikian, didapatkan hasil kapasitas kalor pada tekanan tetap dari gas
ideal selalu lebih besar daripada kapasitas kalor pada volume tetap dan nilai
selisih antara keduanya selalu tetap dan sama dengan nR.
Karena U merupakan fungsi dari u saja, maka :
Cv =
|
.
|

\
|
c
c
u
U
= fungsi dari u saja, dan
Cp = Cv + nR = fungsi dari u saja.
Satu persamaan lagi dapat diperoleh. Karena
dQ = (Cv + nR) du - V dP
didapatkan :
dQ = Cp du - V dP
[3]


Hukum yang mempengaruhi adalah ketiga hukum gas ini baru
menjelaskan hubungan antara suhu, volume dan tekanan gas secara terpisah.
Hukum obet Boyle hanya menjelaskan hubungan antara Tekanan dan volume gas.
Hukum Charles hanya menjelaskan hubungan antara volume dan suhu gas.
Hukum Gay-Lussac hanya menjelaskan hubungan antara suhu dan tekanan
gas. Perlu diketahui bahwa ketiga hukum ini hanya berlaku untuk gas yang
memiliki tekanan dan massa jenis yang tidak terlalu besar. Ketiga hukum ini juga
hanya berlaku untuk gas yang suhunya tidak mendekati titik didih. Kita bisa
menganggap hukum Boyle, hukum Charles dan hukum Gay-Lusac berlaku pada
semua kondisi gas ideal, baik ketika tekanan dan massa jenis gas sangat tinggi
atau suhu gas mendekati titik didih. Adanya konsep gas ideal ini juga sangat
membantu kita dalam meninjau hubungan antara ketiga hukum gas tersebut.
[2]


- Hukum Boyle
Berdasarkan percobaan yang dilakukannya, Robert Boyle menemukan
bahwa apabila suhu gas dijaga agar selalu konstan, maka ketika tekanan gas
bertambah, volume gas semakin berkurang. Demikian juga sebaliknya ketika
tekanan gas berkurang, volume gas semakin bertambah. Istilah kerennya tekanan
gas berbanding terbalik dengan volume gas. Hubungan ini dikenal dengan
julukan Hukum Boyle
[2]







- Hukum Charles
Seratus tahun setelah om Robet Boyle menemukan hubungan antara
volume dan tekanan, seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis yang bernama
Jacques Charles (1746-1823) menyelidiki hubungan antara suhu dan volume gas.
Berdasarkan hasil percobaannya, Charles menemukan bahwa apabila tekanan gas
dijaga agar selalu konstan, maka ketika suhu mutlak gas bertambah, volume gas
pun akan bertambah, sebaliknya ketika suhu mutlak gas berkurang, volume gas
juga akan berkurang. Hubungan ini dikenal dengan julukan hukum Charles
[2]



- Hukum Gay-Lussac
Setelah om obet Boyle dan om Charles mengabadikan namanya dalam
ilmu fisika, om Joseph Gay-Lussac pun tak mau ketinggalan. Berdasarkan
percobaan yang dilakukannya, om Jose menemukan bahwa apabila volume gas
dijaga agar selalu konstan, maka ketika tekanan gas bertambah, suhu mutlak gas
pun ikut2an bertambah. Demikian juga sebaliknya ketika tekanan gas berkurang,
suhu mutlak gas pun ikut2an berkurang. Istilah kerennya, pada volume konstan,
tekanan gas berbanding lurus dengan suhu mutlak gas. Hubungan ini dikenal
dengan julukan Hukum Gay-Lussac
[2]


- Kapasitas Kalor
Jika system mengalami perubahan temperature dari θi ke θf selama
berlangsungnya perpindahan Q satuan kalor, maka kapasitas kalor rata-rata dari
system itu didefinisikan :
Kapasitas kalor rata-rata =

θθ

Ketika keduanya, Q dan (θi-θf) mengecil, hasil bagi ini menghampiri harga sesaat
kapasitas kalor C, jadi
C =
θθ

θθ

C =

θ

Dalam menangani kuantitas ekstensif, seperti volum atau energi internal,
sering menjadi mudah bila kita bagi dengan massa sample dan menuliskannya
sebagai volum per satuan massa atau energi internal per satuan massa,dst.
Kuantitas seperti ini disebut kuantitas spesifik. Kata sifat ‘spesifik’ berarti per
satuan massa.
Kapasitas kalor merupakan kuantitas ekstensif, dan kapasitas kalor
spesifik yang disingkat kalor spesifik diukur dalam J/kg.K atau kJ/kg.K. Bila
kapasitas kalor spesifik berbagai zat dibandingkan, ternyata tidak terdapat
keteraturan yang menarik. Namun bila satuan banyaknya zat (dengan massa
berbeda untuk zat yang berbeda) yang disebut satu mol dipakai, muncullah
keteraturan yang mengherankan.
Kapasitas kalor bisa negative, nol, positif atau tak berhingga, bergantung
pada proses yang dialami system selama pemindahan kalor. Kapasitas kalor
mempunyai harga tertentu hanya untuk proses tertentu. Dalam hal system
hidrostatik, hasil bagi dQ/dθ memiliki harga yang unik bila tekanan dijaga tetap.
Dalam kondisi ini C disebut kapasitas kalor pada tekanan tetap dan diberi
lambang Cp, dengan
p
p
dT
dQ
C
|
.
|

\
|
=
pada umumnya Cp adalah fungsi dari P dan T. Demikian juga kapasitas kalor
pada volum tetap ialah
v
v
dT
dQ
C
|
.
|

\
|
=
Dan kuantitas ini bergantung pada V dan θ. Pada umumnya C
p
dan C
v
berbeda
besarnya.


- Adiabatik kuasi-statik
Suatu proses dimana tidak ada aliran panas yang masuk dan keluar dari
system disebut dengan proses adiabatic. Berdasarkan adiabatic kuasi static,
pemuaian gas dimana gas tersebut terisolasi dalam suatu wadah terisolasi memuai
dengan lambat mengangkat piston, dan melakukan kerja padanya. Saat tidak ada
panas yang masuk dan keluar dari gas (system), maka kerja yang dilakukan oleh
system sama dengan pengurangan energi internal dari gas dan penurunan
temperature dari gas. Kurva yang menggambarkan proses ini,
[3]


Persamaan dari kurva adiabatic untuk gas ideal menggunakan
persamaan yang telah ditetapkan dan hukum pertama termodinamika,
dQ = dU + dW = C
v
dθ + PdV = 0

- Metode Rüchhardt untuk mengukur γ
Gas ditempatkan dalam bejana besar bervolum V. Pada bejana itu
dipasang tabung gelas dengan lubang berpenampang sama berluas (gambar
dibawah). Ke dalam lubang itu dimasukkan bola logam bermassa m yang tepat
menutup lubang tetapi masih dapat bergerak bebas sehingga berlaku sebagai
piston. Karena gas agak tertekan oleh bola baja yang ada dalam kedudukan
kesetimbangan, tekanan gas sedikit lebih besar daripada tekanan atmosfer Po.
Jadi, dengan mengabaikan gesekan, didapatkan
[1]

P = Po + mg/A
Jika bola ditekan sedikit ke bawah, kemudian dilepaskan maka bola logam
tersebut akan bergetar dengan perioda T. Gesekan pada bola akan menyebabkan
osilasi bola logam berhenti. Andaikan simpangan bola dari kedudukan setimbang
pada setiap saat adalah y, yang nilainya y positif bila bola di atas kedudukan
setimbang dan y negatif bila terletak dibawah kedudukan setimbangnya.
[1]



Simpangan positif kecil akan menyebabkan pertambahan volume yang
sangat kecil dibandingkan dengan volume setimbang V, sehingga dapat
dinyatakan sebagai dV, dengan :
[1]

dV = yA
Dengan cara yang sama, simpangan positif kecil menimbulkan penurunan tekanan
yang sangat kecil dibandingkan dengan tekanan setimbang P, sehingga dapat
dinyatakan sebagai dP, dengan dP merupakan kuantitas yang negatif. Gaya
resultan F yang bereaksi pada bola sama dengan A dP jika mengabaikan gesekan,
atau dapat ditulis :
[1]

dP = F/A
Perhatikan bahwa bila y positif, dP negatif, sehingga F menjadi negatif, jadi dapat
disimpulkan bahwa F merupakan gaya pemulih.
Karena getaran yang ditimbulkan oleh bola logam cukup cepat, maka
perubahan yang terjadi pada P dan V berlangsung secara adiabat. Karena
perubahannya sangat kecil, keadaan yang dilalui gas dianggap mendekati keadaan
setimbang sehingga dianggap perubahan P dan V menunjukan proses adiabat
kuasi-statik hampiran, sehingga dapat ditulis :
[1]

P V
¸
= tetap.
y
Keduduk
an
setimban
g
volum
setimbang
= V
Tekanan
Setimbang
= P
P = Po
+mg/A
Y
positif
=0
Y
negatif
P ¸ V
¸-1
dV + V
¸
dP = 0.
Subtitusikan dV dan dP, diperoleh :
F = - ¸P A
2
y / A
Dari persamaan ini dapat dikatakan bahwa gaya pemulih F berbanding
lurus dengan simpangan dan arahnya berlawanan, ini menyatakan hukum Hooke.
Hal ini merupakan syarat untuk terjadinya gerak harmonis sederhana, dengan
perioda T sebagai berikut :
[1]

y F
m
T
/
2
÷
= t
atau,
2
2
PA
mV
T
¸
t = ,
dan
¸ =
2 2
2
4
PT A
mV t
,
atau bisa dengan rumus ¸ =
2
2 2
4
PA
mVf t
dimana f = 1/T
Metode Rüchhardt mengandung galat yang timbul karena ada tiga
anggapan penyederhanaan :
(1) bahwa gasnya ideal;
(2) bahwa tidak ada gesekan;
(3) bahwa perubahan volumnya berlangsung sama sekali secara adiabat.
Diperkirakan anggapan yang kedua menimbulkan galat yang terbesar, yang
mencapai 3 persen. Peredaman gesekan yang besar dalam metode Rüchhardt yang
biasa, dapat dihindarkan dengan menggunakan tabung gelas yang sedikit tirus
dengan garis tengah yang lebih besar dibagian atas. Aliran gas yang lambat
mempertahankan getaran tunak bola disekitar titik setimbangnya.
[1]


III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat – alat Percobaan
1. Tabung gelas berskala dilengkapi pemegang tabung, kran
pembuka/penutup tabung dan statif.
2. Piston magnetik
3. Kumparan dan pegangannya
4. Osilator RC
5. Amperemeter dan kabel-kabel penghubung
6. Pembersih tabung dan piston magnetik
7. Beberapa jenis gas dan peralatan untuk memasukkan gas ke dalam
tabung.
3.2. Prosedur Percobaan
a. Persiapan
a. Membersihkan tabung gelas dan piston magnetik menggunakan
peralatan yang tersedia.
b. Membersihkan kran pembuka/penutup tabung dan olesi dengan silicon
gel sehingga mudah diputar.
c. Merangkai peralatan percobaan sesuai dengan gambar

b. Pengamatan dan Pengukuran
Tabung Vertikal
a. Memasukkan satu buah piston magnetik ke dalam tabung dengan hati-
hati (posisi kedua kran pembuka/penutup tabung dalam kondisi
terbuka).
b. Memposisikan piston magnetik pada skala 70, menggunakan alat
pendorong, kemudian menutup kedua kran tersebut.
c. Meletakkan kumparan sedemikian hingga ujung bawah piston
bersesuaian dengan ujung atas kumparan.
d. Menghidupkan osilator RC, dan mengatur frekuensinya sehingga
diperoleh osilasi dengan amplitudo yang maksimum. Mencatat harga
frekuensi tersebut.
e. Melakukan langkah a, b, c, dan d untuk variasi posisi piston yang
berbeda (paling sedikit 6 variasi).
f. Melakukan paling tidak 3 kali percobaan untuk masing-masing
volume.
g. Melakukan percobaan b s/d f dengan jumlah piston yang berbeda.
Tabung Horizontal
Melakukan tahapan-tahapan seperti pada tabung vertikal tetapi kali ini
tabung diletakkan secara horizontal.


DAFTAR PUSTAKA

[1]
Tipler, P.A. 2009. Physics for Scientist and Engineers ext. ver (5
th
ed.).e-book.
[2]
Sutrisno dan Tan Ik Gie. 1979. Fisika Dasar : Listrik Magnet dan
Termodinamika. Bandung : Pn. ITB.
[3]
Zemansky, M.W & Richard H. D..1986. Kalor dan Termodinamika. Bandung :
Pn. ITB.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful