LI.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi LO 1.

1 Makroskopik

Prostat merupakan kelenjar berbentuk konus terbalik yang dilapisi oleh kapsul fibromuskuler, yang terletak di sebelah inferior vesika urinaria, mengelilingi bagian proksimal uretra (uretra pars prostatika) dan berada disebelah anterior rektum. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 20 gram, dengan jarak basis ke apex kurang lebih 3 cm, lebar yang paling jauh 4 cm dengan tebal 2,5 cm.

Gambar 1.1.1 prostat Kelenjar prostat terbagi menjadi 5 lobus, yaitu : Lobus medius Lobus lateralis (2 lobus) Lobus anterior Lobus posterior (Anonim, 1997) Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior, lobus posterior akan menjadi satu dan disebut lobus medius saja. Pada penampang, lobus medius kadang-kadang tak tampak karena terlalu kecil dan lobus lain tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat. Mc Neal (1976) membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior, dan zona periuretral. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional yang letaknya proksimal dari sfincter eksternus di kedua sisi dari verumontanum dan di zona periuretral. Kedua zona tersebut hanya merupakan 2% dari seluruh volume prostat. Sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer. (B.P. Purnomo, 2000; D. Rahardjo, 1993) Prostat mempunyai kurang lebih 20 duktus yang bermuara di kanan dari verumontanum dibagian posterior dari uretra pars prostatika. Di sebelah depan didapatkan ligamentum pubo prostatika, di sebelah bawah ligamentum triangulare inferior dan di sebelah belakang didapatkan fascia denonvilliers. Fascia denonvilliers terdiri dari 2 lembar, lembar depan melekat erat dengan prostat dan vesika seminalis, sedangkan lembar belakang melekat secara longgar dengan fascia pelvis dan memisahkan prostat dengan rektum. Antara fascia endopelvic dan kapsul sebenarnya dari prostat didapatkan jaringan peri prostat yang berisi pleksus prostatovesikal. Pada potongan melintang kelenjar prostat terdiri dari : 1. Kapsul Anatomis Sebagai jaringan ikat yang mengandung otot polos yang membungkus kelenjar prostat. 2. Jaringan Stroma Terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler. 3. Jaringan Kelenjar Terbagi atas 3 kelompok bagian: a. Bagian luar disebut glandula principalis atau kelenjar prostat sebenarnya yang menghasilkan bahan baku sekret. b. Bagian tengah disebut kelenjar submukosa, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatous zone. c. Di sekitar uretra disebut periurethral gland atau glandula mukosa yang merupakan bagian terkecil. Bagian ini sering membesar atau mengalami hipertrofi pada usia lanjut. Pada BPH, kapsul pada prostat terdiri dari 3 lapis : 1. Kapsul anatomis 2. Kapsul chirurgicum, ini terjadi akibat terjepitnya kelenjar prostat yang sebenarnya (outer zone) sehingga terbentuk kapsul 3. Kapsul yang terbentuk dari jaringan fibromuskuler antara bagian dalam (inner zone) dan bagian luar (outer zone) dari kelenjar prostat BPH sering terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena mengandung banyak jaringan kelenjar, tetapi tidak mengalami pembesaran pada bagian posterior

daripada lobus medius (lobus posterior) yang merupakan bagian tersering terjadinya perkembangan suatu keganasan prostat. Sedangkan lobus anterior kurang mengalami hiperplasi karena sedikit mengandung jaringan kelenjar. (Anonim, 1997) Secara histologis, prostat terdiri atas kelenjar-kelenjar yang dilapisi epitel thoraks selapis dan di bagian basal terdapat juga sel-sel kuboid, sehingga keseluruhan epitel tampak menyerupai epitel berlapis. Vaskularisasi Vaskularisasi kelenjar prostat yanng utama berasal dari a. vesikalis inferior (cabang dari a. iliaca interna), a. hemoroidalis media (cabang dari a. mesenterium inferior), dan a. pudenda interna (cabang dari a. iliaca interna). Cabang-cabang dari arteri tersebut masuk lewat basis prostat di Vesico Prostatic Junction. Penyebaran arteri di dalam prostat dibagi menjadi 2 kelompok , yaitu: 1. Kelompok arteri urethra, menembus kapsul di postero lateral dari vesico prostatic junction dan memberi perdarahan pada leher buli-buli dan kelompok kelenjar periurethral. 2. Kelompok arteri kapsule, menembus sebelah lateral dan memberi beberapa cabang yang memvaskularisasi kelenjar bagian perifer (kelompok kelenjar paraurethral). (A.T.K. Cockett dan K. Koshiba, 1979; Snell, 1992) Aliran Limfe Aliran limfe dari kelenjar prostat membentuk plexus di peri prostat yang kemudian bersatu untuk membentuk beberapa pembuluh utama, yang menuju ke kelenjar limfe iliaca interna , iliaca eksterna, obturatoria dan sakral. (A.T.K. Cockett dan K. Koshiba, 1979; Snell, 1992) Persarafan Sekresi dan motor yang mensarafi prostat berasal dari plexus simpatikus dari Hipogastricus dan medula sakral III-IV dari plexus sakralis. (Snell, 1992) LO 1.2 Mikroskopis Menurut konsep terbaru kelenjar prostat merupakan suatu organ campuran terdiri atas berbagai unsur glandular dan non glandular. Telah ditemukan lima daerah/ zona tertentu yang berbeda secara histologi maupun biologi, yaitu:  Zona Anterior atau Ventral Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.  Zona Perifer Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar prostat. Zona ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal karsinoma terbanyak.  Zona Sentralis. Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulatorius, sesuai dengan lobus tengah meliputi 25% massa glandular prostat. Zona ini resisten terhadap inflamasi.  Zona Transisional. Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai kelenjar preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang lebih 5% tetapi dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular anterior menjadi benign prostatic hyperpiasia (BPH).  Kelenjar-Kelenjar Periuretra Bagian ini terdiri dan duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar abortif tersebar sepanjang segmen uretra proksimal.

asini sekretorisnya merupakan bagian kelenjar tubuloasinar dengan banyak cabang kecil yang tidak teratur. ukuran asini ini bermacam-macam. epitel ini dapat berbentuk gepeng atau kuboid tergantung pada status endokrin dan kegiatan kelenjar. Pada daerah tertentu. lamina basal kurang jelas dan epitel sangat berlipat-lipat. Sitoplasma mengandung sekret yang berbutir-butir halus.prostat bagian dari uretra Pada kelenjar prostat.2. Nukleus biasanya satu. Alveoli dan tubuli kelenjar sangat tidak teratur dan sangat beragam bentuk ukurannya. Asini yang lebih besar memiliki lumen lebar yang tidak teratur dan epitel yang bervariasi. namun dapat sangat bervariasi. Keterangan: Diwarnai dengan hematoksilin dan eosin 1 .kapsul FIBRO-elastis 5 . bulat. . Meskipun epitel kelenjar umumnya selapis atau bertingkat atau bertingkat silindris dan sel-selnya pucat dibagian distal. Saluran ini bermuara ke uretra pada kedua sisi kolikulus seminalis. alveoli dan tubuli bercabang berkali-kali dan keduanya mempunyai lumen yang lebar.stroma terdiri dari sel-sel otot polos dan jaringan ikat 3 . Nukleoli biasanya terlihat di tengah.Prostat terdiri atas 30-50 kelenjar tubulo alveolar yang mencurahkan sekretnya ke dalam 1525 saluran keluar yang terpisah. Otot membentuk masa padat dan dibungkus oleh kapsula yang tipis dan kuat serta melekat erat pada stroma.1.utama kelenjar prostat 2 . lisosom dan butir lipid. Kelenjar itu terbenam didalam stroma fibromuskular khas dengan berkas otot polos. serat-serat kolagen dan elastin yang terorientasi di berbagai arah.stroma terdiri dari sel-sel otot polos dan jaringan ikat 4 . bulat dan biasanya terletak basal. dan kecil Gambar 1.

epitel transisi 2 . Keterangan : epitel transisi dari bagian prostat dari uretra Diwarnai dengan hematoksilin dan eosin 1 .2.2003) LI.Gambar 1. Estrogen menyebabkan    Hiperplasia stroma.1 Definisi Hiperplasia prostat adalah hiperplasia kelenjar periuretral yang mendesak jaringan prostat yang arah ke perifer dan menjadi simpai bedah.2 Memahami dan Menjelaskan Benigna Prostat Hiperplasia LO 2.tunika propria dari mukosa prostat bagian dari uretra (Eroschenko. Merupakan proliferasi elemen epitel dan stroma. yang menyebabkan kelenjar membesar dan pada sebagian kasar. LO 2. obstruksi aliran kemih.2 Etiologi  Teori Hormonal (Teori ketidakseimbangan Estrogen dan Testosteron Semakin tua testosteron menurun (produktivitas nya berkurang) yang menyebabkan terjadinya konversi testosteron menjadi estrogen yang dibantu oleh enzim aromatase di jaringan adiposis di daerah perifer.2. sehingga testosteron diperlukan untuk inisiasi terjadinya proliferasi sel kelenjar prostat tetapi kuman ↑ sensitivitas Sel prostat terhdap rangsangan hormon androgen ↑ jumlah / konsentrasi relatif testosteron / esterogen menyebabkan produksi dan potensiasi .

Zona periferal 3. Faktor-faktor yang menghambat apoptosis :   Hormon androgen menghambat proses kematian sel Estrogen memperpanjang usia sel prostat  Teori Sel (stem cell hypothesis) (Issacs / 1984. Zona sentral 2.3 Patogenesis .   Faktor pertumbuhan lain menyebabkan terjadinya pembesaran prostat ↑ jumlah reseptor androgen ↓ jumlah kematian sel prostat / apoptosis sehingga sel prostat memiliki umur lebih panjang sehingga prostat lebih besar  Teori Peptic Growth Factor (faktor pertumbuhan)  Basic transforming growth factor    Basic transforming B1 Basic transforming B2 Epidermal growth factor (Cunha. gangguan kesehatan hormonal. Dibentuk dari testosteron di dalam sel prostat yang dibantu oleh enzim 5 α reduktase dan NADPH yang diubah menjadi NADP lalu membentuk dehidrotestosteron DHT berikatan dengan reseptor anadrogen (RA) di dalam sitoplasma sel prostat lalu membentuk DHT-Reseptor Kompleks dan kemudian masuk ke dalam di inti sel dan akan mempengaruhi (RNA) setelah itu terjadi sintesis protein growth factor dan akhirnya terjadi stimulasi pertumbuhan sel (proliferasi sel). faktor pencetus lain maka sel stem tersebut berpoliferasi lebih cepat dan terjadi hiperplasia kelenjar periuretral  Teori Dihidro Testosteron (DHT) DHT : metabolit androgen penting untuk pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya.1987) Keadaan normal kelenjar periuretral apoptosis (mati) = sel yang baru (tumbuh) (steadystate) Sel yang baru tumbuh dari sel stem yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat efektif. Zona peralihan LO 2. (Mc. 1973)  Teori Peningkatan Lama Hidup Sel-sel Prostat karena Berkurangnya Sel yang Mati Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis sehingga jumlah sel-sel prostat meningkat dan massa menjadi positif. Mc Neal 1978 membagi prostat menjadi 3 zona yaitu : 1. Penyebab : usia.Connel 1990)  Teori Reawakening Jaringan kembali seperti perkembangan pada masa tingkat embriologik.

Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi. Kontraksi yang terus-menerus ini akan menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor. Keadaan ini akan menyebakan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urin. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesico-ureter. bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter. terbentuknya selula. sakula. Tekanan intravesikal yang tinggi akan diteruskan keseluruh bagian buli-buli.- PATOGENESIS Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan uretra prostatika dan akan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine. Hiperplasi prostat ↓ Penyempitan lumen uretra posterior ↓ Tekanan intravesikal ↑ ↓ . Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor. Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra. sakula dan divertikel buli-buli. tak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan intravesikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. trabekulasi. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter. otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. trabekulasi. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejalagejala prostatismus. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter. hidronefrosis. dan divertikel buli-buli. terbentuknya selula. buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan tersebut. hidronefrosis bahkan akhirnya dapat jatuh kedalam gagal ginjal. Perubahan struktur buli-buli dirasakn oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract simptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejalagejala prostatimus. PATOFISIOLOGI Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan akan menghambat aliran urine.

Pionefrosis Pilonefritis ↓ .4 Manifestasi Gejala hiperplasia prostat menurut Boyarsky dkk pada tahun 1977 dibagi atas gejala obstruktif dan gejala iritatif. Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi syaraf simpatis. Gagal ginjal Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala yaitu komponen mekanik dan komponen dinamik.Hidroureter Selula ..Buli-buli Ginjal dan Ureter ↓     Hipertrofi otot detrusor . yang juga tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik. Pancaran miksi yang lemah (Poor stream) .Hidronefrosis Divertikel buli-buli . Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistency) 2. Gejalanya ialah : 1. Stimulasi pada alpha adrenergik reseptor akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan tonus.. Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga terjadi gangguan aliran urine (obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan kapsulnya. Gejala obstruktif disebabkan oleh karena penyempitan uretara pars prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama saehingga kontraksi terputus-putus. LO 2. yang merupakan alpha adrenergik reseptor.Refluks vesiko-ureter Trabekulasi .

Manifestasi BPH Tabel 3.5.5.1. tetapi apabila masih dikompensasi dengan kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan. Kekuatan kontraksi otot detrusor Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi.3. Volume kelenjar periuretral 2. otot polos prostat dan kapsul prostat 3. LO 2. Manifestasi BOH Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga faktor yaitu : 1. Elastisitas leher vesika. otot polos prostat dan kapsul prostat menurun.1. sehingga meskipun volume kelenjar periuretal sudah membesar dan elastisitas leher vesika. Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying) Gambar 3. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling) 5. Miksi terputus (Intermittency) 4.5 Diagnosis dan Diagnosis Banding Diagnosis .

infeksi. Anamnesis itu meliputi:  Keluhan yang dirasakan dan seberapa lama keluhan itu telah mengganggu  Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia (pernah mengalami cedera. Analisis gejala ini terdiri atas 7 pertanyaan yang masing-masing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35 tiap-tiap pertanyaan. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Eamination (DRE) sangat penting. Pada perabaan prostat harus diperhatikan : Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)      Adakah asimetris Adakah nodul pada prostate Apakah batas atas dapat diraba Sulcus medianus prostate Adakah krepitasi . adanya kelainan lain seperti benjolan pada di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Keadaan pasien BPH dapat digolongkan berdasarkan skor yang diperoleh adalah sebagai berikut:  Skor 0-7: bergejala ringan  Skor 8-19: bergejala sedang  Skor 20-35: bergejala berat. Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani.ANAMNESIS Pemeriksaan awal terhadap pasien BPH adalah melakukan anamnesis atau wawancara yang cermat guna mendapatkan data tentang riwayat penyakit yang dideritanya. A. WHO dan AUA telah mengembangkan dan mensahkan prostate symptom score yang telah distandarisasi. atau pem-bedahan)  Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual  Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan keluhan miksi  Tingkat kebugaran pasien yang mungkin diperlukan untuk tindakan pembedahan. Skor ini berguna untuk menilai dan memantau keadaan pasien BPH. mukosa rektum. reflek bulbo cavernosus. Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala obstruksi akibat pembesaran prostat adalah International Prostate Symptom Score (IPSS).

condiloma di daerah meatus. Sedangkan pada batu prostat akan teraba krepitasi. konsistensi prostat keras dan atau teraba nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Darah :  Ureum dan Kreatinin normal  fungsi ginjal dan VU normal  tidak ada urolithiasis. Pemeriksaan laboratorium a. daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia. Untuk itu pada kecurigaan adanya infeksi saluran kemih perlu dilakukan pemeriksaan kultur urine. fimosis. Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pnielonefritis akan disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan kandung kencing yang terisi penuh dan teraba masa kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri tekan supra simfisis. PSA (Prostate Spesific Antigen) . batu buli-buli atau penyakit lain yang menimbulkan keluhan miksi. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior. di antara-nya: karsinoma buli-buli in situ atau striktura uretra. Urin :  Kultur urin + sensitifitas test  Sedimen  Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria dan hematuria. lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul. pemeriksaan urinalisis tidak banyak manfaatnya karena seringkali telah ada leukosituria maupun eritostiruria akibat pemasangan kateter c. Pada pasien BPH yang sudah mengalami retensi urine dan telah memakai kateter. Ca atau hiperplasia prostat berat  Elektrolit  Blood urea nitrogen  Gula darah b. Sedangkan pada carcinoma prostat. dan kalau terdapat 3 kecurigaan adanya karsinoma buli-buli perlu dilakukan pemeriksaan sitologi urine. fibrosis daerah uretra. Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi retensi total. B.Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung. BPH yang sudah menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih. pada pemeriksaan urinalisis menunjukkan adanya kelainan.

Tes PSA ini sebaiknya dilakukan setiap tahun sejak berumur 50 tahun. pada retensi urine akut. Oleh karena itu pada usia ini pemeriksaan PSA menjadi sangat penting guna mendeteksi kemungkinan adanya karsinoma prostat.Prostate Specific Antigen (PSA) merupakan suatu glikoprotein protease yang diproduksi dan disekresi oleh sel epitel prostat. d.6%. Rentang kadar PSA yang dianggap normal berdasarkan usia adalah:  40-49 tahun: 0-2. Transurethral Resection of the Prostate) Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksikan berdasarkan kadar PSA. Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata setiap tahun pada kadar PSA 0. Pemeriksaan PSA bersamaan dengan colok dubur lebih superior daripada pemeriksaan colok dubur saja dalam mendeteksi adanya karsinoma prostat. bertambahnya umur dan retensi urin serta besarnya volume PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer specific.330% dengan rata-rata 13. Peningkatan PSA juga sebagai dari akibat colok dubur (DRE = Digital Rectal Examination). tes PSA sebaiknya dimulai sejak umur 40 tahun. Dikatakan oleh Roehrborn et al (2000) bahwa makin tinggi kadar PSA makin cepat laju pertumbuhan prostat. reseksi prostat transuretra (TURP. Pemeriksaan fungsi ginjal Obstruksi infravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada traktus urinarius bawah ataupun bagian atas.9 ng/dl adalah 3. dan kadar PSA 3. reseksi prostat transuretra (TURP.1.7 mL/tahun. dan usia yang makin tua. sedangkan pada kadar PSA 1.5 ng/ml Meskipun BPH bukan merupakan penyebab timbulnya karsinoma prostat.4-3. . tetapi kelompok usia BPH mempunyai resiko terjangkit karsinoma prostat. biospsi jarum.1 mL/tahun.5 ng/ml  70-79 tahun: 0-6. Sebagian besar petunjuk yang disusun di berbagai negara merekomendasikan pemeriksaan PSA sebagai salah satu pemeriksaan awal pada BPH. Gagal ginjal menyebabkan resiko terjadinya komplikasi pasca bedah (25%) lebih sering dibandingkan dengan tanpa disertai gagal ginjal (17%).3 mL/tahun19. yang merupakan tanda paling efektif untuk mengetahui adanya kanker prostat dan keadaanya meningkat pada BPH. sistoskopi. biopsi jarum. meskipun dengan sarat yang berhubungan dengan usia pasien atau usia harapan hidup pasien.5 ng/ml  60-69 tahun:0-4.  pemasangan kateter. Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan. ultrasonografi trasnrectal Transrectal Ultrasound). Transurethral Resection of the Prostate). pemasangan kateter.3 ng/dl laju adalah 0. Sesuai yang dikemukakan oleh Wijanarko et al (2003) bahwa serum PSA meningkat pada saat terjadi retensi urine akut dan kadarnya perlahanlahan menurun terutama setelah 72 jam dilakukan kateterisasi. setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP). keganasan prostat. namun untuk pria yang memiliki riwayat penyakit kanker prostat atau orang keturunan Afrika-Amerika.3-9.2. Jika kadar PSA tinggi berarti:  pertumbuhan volume prostat lebih cepat  keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek dan lebih mudah terjadinya retensi urine akut. sistoskopi. ultrasonografi (Transrectal Ultrasound). kateterisasi.5 ng/ml  50-59 tahun:0-3. Dikatakan bahwa gagal ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 0.2 ng/dl sebesar 2.

divertikel atau sakulasi buli – buli.9% jika terdapat kelainan kadar kreatinin serum10. hidronefrosis. Pielografi Intravena (IVP)  pembesaran prostat dapat dilihat sebagai lesi defek isian kontras (filling defect/indentasi prostat) pada dasar kandung kemih atau ujung distal ureter membelok keatas berbentuk seperti mata kail (hooked fish). Untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter ataupun hidronefrosis serta penyulit yang terjadi pada buli – buli yaitu adanya trabekulasi. b. C. Pemeriksaan pencitraan a.8% jika kadar kreatinin serum normal dan sebanyak 18.dan mortalitas menjadi enam kali lebih banyak. atau divertikel kandung kemih juga dapat untuk menghetahui adanya metastasis ke tulang dari carsinoma prostat. Oleh karena itu pemeriksaan faal ginjal ini berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas. Foto polos abdomen (BNO) Dari sini dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit lain misalnya batu saluran kemih. Pasien LUTS yang diperiksa ultrasonografi didapatkan dilatasi sistem pelvikalises 0. foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin   IVP memerlukan persiapan yaitu :  Malam sebeleum pemeriksaan diberi pencahar untuk membersihakan kolon dari feses yang menutupi daerah ginjal .

 Pasien tidak diberi cairan mulai dari jam 10 sebelum pemeriksaan  untuk mendapatkan kondisi dehidrasi Keesokan hari pasien diminta untuk berpuasa Sebelum pasien disuntukian urografin 60 mg%. terlebih dahulu dilakukan penngujian subkutan atau intravena kontras (conray/ meglumineiothalamat 60%) jika pasien alergi terhadap kontras. maka IVP dibatalkan   Perbedaan IVP normal dan abnormal .

Uretrosistoskopi dikerjakan pada saat akan dilakukan tindakan pembedahan untuk menentukan perlunya dilakukan TUIP. Sayangnya pemeriksaan ini tidak mengenakkan bagi pasien. maka sistogram retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi. Disamping itu pada kasus yang disertai dengan hematuria atau dugaan adanya karsinoma buli-buli sistoskopi sangat membantu dalam mencari lesi pada buli-buli. dan retensi urine sehingga tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin pada BPH. infeksi. Sistogram retrograd Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin. bisa menimbulkan komplikasi perdarahan. TURP. trabekulasi buli-buli. d. MRI atau CT jarang dilakukan Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan bermacam – macam potongan f.Gambar 3. selule. batu buli-buli.5. Terlihat adanya pembesaran prostat. cedera uretra. gas dalam kolon Pasien belum lama melakukan tes enema barium tes untuk pemeriksaan kolon c. Selain itu sesaat sebelum dilakukan sistoskopi diukur volume residual urine pasca miksi. dan divertikel bulibuli. Transrektal Ultrasonografi (TRUS)  deteksi pembesaran prostat  mengukur volume residu urin e.7. atau prostatektomi terbuka. .Keuntungan dan kerugiaan IVP Yang dapat mempengaruhi pemeriksaan IVP    Pasien yang tidak bisa diam Masih terdapat fese. obstruksi uretra dan leher buli-buli. Uretrosistoskopi Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan uretra prostatika dan buli-buli.

hingga terjadi bakteriemia. Jumlah residual urine ini pada orang normal adalah 0. Pengukuran melalui kateterisasi ini lebih akurat dibandingkan dengan USG. Pemeriksaan residual urine dapat dilakukan secara invasif. Untuk membedakan kedua hal tersebut dilakukan pemeriksaan tekanan pancaran dengan menggunakan Abrams-Griffiths Nomogram.D. volume residual urine mempunyai variasi individual yang cukup tinggi. Tujuh puluh delapan persen pria normal mempunyai residual urine kurang dari 5 mL dan semua pria normal mempunyai residu urine tidak lebih dari 12 mL. namun Brown et al (2002) mendapatkan bahwa pencatatan selama 3-4 hari sudah cukup untuk menilai overaktivitas detrusor. Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies) / urodinamika Pancaran urin melemah yang diperoleh atas dasar pemeriksaan uroflowmetri tidak dapat membedakan apakah penyebabnya adalah obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor yang melemah. b. maupun non invasif.09-2.24 mL dengan rata-rata 0. Dengan mencatat kapan dan berapa jumlah asupan cairan yang dikonsumsi serta kapan dan berapa jumlah urine yang dikemihkan dapat diketahui seorang pasien menderita nokturia idiopatik. Pemeriksaan Volume Residu Urin Residual urine atau post voiding residual urine (PVR) adalah sisa urine yang tertinggal di dalam buli-buli setelah miksi. yaitu dengan melakukan pengukuran langsung sisa urine melalui kateterisasi uretra setelah pasien berkemih. Pada obstruksi ringan. yaitu seorang pasien yang diukur residual urinenya pada waktu yang berlainan . Pemeriksaan lain a. Pencatatan miksi ini sangat berguna pada pasien yang mengeluh nokturia sebagai keluhan yang menonjol. Catatan harian miksi (voiding diaries) Voiding diaries saat ini dipakai secara luas untuk menilai fungsi traktus urinarius bagian bawah dengan reliabilitas dan validitas yang cukup baik. atau karena poliuria akibat asupan air yang berlebih.53 mL. Dengan cara ini maka sekaligus tekanan intravesica dan laju pancaran urin dapat diukur d. tetapi tidak mengenakkan bagi pasien. instabilitas detrusor akibat obstruksi infra-vesika.10. dapat menimbulkan cedera uretra. Sebaiknya pencatatan dikerjakan 7 hari berturut-turut untuk mendapatkan hasil yang baik2. Laju pancaran urin ditentukan oleh:  daya kontraksi otot detrusor  tekanan intravesica  resistensi uretra Angka normal laju pancaran urin ialah 12 ml/detik dengan puncak laju pancaran mendekati 20 ml/detik. Pengukuran dengan cara apapun. c. laju pancaran melemah menjadi 6 – 8 ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 – 15 ml/detik. Uroflowmetri Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. menimbulkan infeksi saluran kemih. Semakin berat derajat obstruksi semakin lemah pancaran urin yang dihasilkan. yaitu dengan mengukur sisa urine melalui USG atau bladder scan.

Kriteria Pembesaran Prostat Untuk menentukan kriteria prostat yang membesar dapat dilakukan dengan beberapa cara. sehingga perlu dilakukan pembedahan. Variasi perbedaan volume residual urine ini tampak nyata pada residual urine yang cukup banyak (>150 ml). Hal ini diperkuat oleh pernyataan Prasetyawan dan Sumardi (2003). Watchful waiting biasanya akan gagal jika terdapat residual urine yang cukup banyak. menunjukkan perbedaan volume residual urine yang cukup bermakna. namun ternyata peningkatan volume residual urine tidak selalu menunjukkan beratnya gangguan pancaran urine atau beratnya obstruksi.pada hari yang sama maupun pada hari yang berbeda. diantaranya adalah : 1) Rektal grading Berdasarkan penonjolan p1rostat ke dalam rektum :  derajat 1 : penonjolan 0-1 cm ke dalam rektum    derajat 2 : penonjolan 1-2 cm ke dalam rektum derajat 3 : penonjolan 2-3 cm ke dalam rektum derajat 4 : penonjolan > 3 cm ke dalam rektum 2) Berdasarkan jumlah residual urine  derajat 1 : < 50 ml    derajat 2 : 50-100 ml derajat 3 : >100 ml derajat 4 : retensi urin total 3) Intra vesikal grading  derajat 1 : prostat menonjol pada bladder inlet  derajat 2 : prostat menonjol diantara bladder inlet dengan muara ureter . pemeriksaan PVR dikerjakan lebih dari satu kali dan sebaiknya dikerjakan melalui melalui USG transabdominal. demikian pula pada volume residual urine lebih 350 ml seringkali telah terjadi disfungsi pada buli-buli sehingga terapi medikamentosa biasanya tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Karena variasi intraindividual yang cukup tinggi. Beberapa negara terutama di Eropa merekomendasikan pemeriksaan PVR sebagai bagian dari pemeriksaan awal pada BPH dan untuk memonitor setelah watchful waiting. Dahulu para ahli urologi beranggapan bahwa volume residual urine yang meningkat menandakan adanya obstruksi. bahwa volume residual urine tidak dapat menerangkan adanya obstruksi saluran kemih. bagaimanapun adanya residu uirne menunjukkan telah terjadi gangguan miksi. sedangkan volume residual urine yang tidak terlalu banyak (<120 ml) hasil pengukuran dari waktu ke waktu hampir sama. Namun.

6 Penatalaksanaan Hiperplasi prostat yang telah memberikan keluhan klinik biasanya akan menyebabkan penderita datang kepada dokter. penghambat alfa dan parasimpatolitik) C. Kelemahan Detrusor Kandung Kemih  Kelainan medula spinalis  Neuropatia diabetes mellitus  Pasca bedah radikal di pelvis  Farmakologik B. Kekakuan Leher Kandung Kemih  Fibrosis E. Resistensi Urethra yang Meningkat. disebabkan oleh :  Hiperplasia prostat jinak atau ganas  Kelainan yang menyumbatkan uretra  Uretralitiasis  Uretritis akut atau kronik  Striktur uretra  Prostatitis akut atau kronis LO 2. Derajat Colok Dubur Sisa Volume Urin . Derajat berat gejala klinik dibagi menjadi empat gradasi berdasarkan penemuan pada colok dubur dan sisa volume urin. Kandung Kemih Neuropati. Obstruksi Fungsional  Dissinergi detrusor-sfingter terganggunya koordinasi antara kontraksi detrusor dengan relaksasi sfingter  Ketidakstabilan detrusor D. disebabkan oleh :  Kelainan neurologik  Neuropati perifer  Diabetes mellitus  Alkoholisme  Farmakologik (obat penenang.  derajat 3 : prostat menonjol sampai muara ureter derajat 4 : prostat menonjol melewati muara ureter 4) Berdasarkan pembesaran kedua lobus lateralis yang terlihat pada uretroskopi :  derajat 1 : kissing 1 cm    derajat 2 : kissing 2 cm derajat 3 : kissing 3 cm derajat 4 : kissing >3 cm8 Diagnosis Banding A.

I II III IV Penonjolan prostat. batas atas mudah < 50 ml diraba Penonjolan prostat jelas. .6.100 ml dicapai Batas atas prostat tidak dapat diraba >100 ml Retensi urin total Tabel 3.1 derajat gejala klinik BPH Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut WHO PSS (WHO prostate symptom score). batas atas dapat 50.

Terapi non bedah dianjurkan bila WHO PSS tetap dibawah 15. Pada penderita dengan derajat dua sebenarnya sudah ada indikasi untuk melakukan intervensi . Terapi bedah dianjurkan bila WHO PSS 25 ke atas atau bila timbul obstruksi. melainkan dapat diberikan pengobatan secara konservatif. Untuk itu dianjurkan melakukan kontrol dengan menentukan WHO PSS.2. Di dalam praktek pembagian derajat beratnya hiperplasia prostat derajat I-IV digunakan untuk menentukan cara penanganan.6. Pada penderita dengan derajat satu biasanya belum memerlukan tindakan operatif. WHO PSS Jumlah skor: 0 = baik sekali 1 = baik 2 = kurang baik 3 = kurang 4 = buruk 5 = buruk sekali Skor ini berdasarkan jawaban penderita atas delapan pertanyaan mengenai miksi.Tabel 3.

Kadang-kadang derajat dua penderita masih belum mau dilakukan operasi. TUR masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup berpengalaman melakukan TUR oleh karena biasanya pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih dari 60 gram. sehingga sehingga menghasilkan peningkatan laju pancaran urin dan memperbaiki gejala miksi. Pada derajat tiga. menambah kekuatan detrusor Terdapat beberapa pilihan tindakan terapi didalam penatalaksanaan hiperplasia prostat Benigna yang dapat dibagi kedalam 4 macam golongan tindakan. Kadang-kadang mereka yang mengeluh pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) ringan dapat sembuh sendiri dengan observasi ketat tanpa mendapatkan terapi apapun. terutama alpha 1 adrenergik bloker maka tonus leher vesika. 2. Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi tidak akan selesai dalam satu jam maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka. terutama mengandung reseptor alpha. dan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai cara terpilih ialah trans uretral resection (TUR). yaitu : 1. otot polos prostat dan kapsul prostat terutama oleh serabut-serabut saraf simpatis. menurunnya elastisitas leher vesika. Observasi (Watchful waiting) Tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalani tindakan medik. Medikamentosa A. Tetapi diantara mereka akhirnya ada yang membutuhkan terapi medikamentosa atau tindakan medik yang lain karena keluhannya semakin parah. otot polos prostat dan kapsul prostat akan berkurang. kemudian terapi definitif dapat dengan TUR P atau operasi terbuka.operatif. dalam keadaan seperti ini masih bisa dicoba dengan pengobatan konservatif. Mengingat gejala klinik hiperplasia prostat disebabkan oleh 3 faktor yaitu pembesaran kelenjar periuretral. Bila serangan prostatismus memuncak menjurus kepada retensio urin ini adalah pertanda bahwa tonus otot polos prostat meningkat atau berkontraksi sehingga pemberian obat ini adalah sangat rasional. . dan berkurangnya kekuatan detrusor. jadi dengan pemberian obat golongan alpha adrenergik bloker. Tindakan bedah masih merupakan terapi utama untuk hiperplasia prostat (lebih dari 90% kasus). Episode serangan biasanya cepat teratasi. otot polos prostat dan kapsul prostat Melebarkan uretra pars prostatika. maka pengobatan gejala klinik ditujukan untuk :     Menghilangkan atau mengurangi volume prostat Mengurangi tonus leher vesika. Penghambat adrenergik α Seperti kita ketahui persyarafan trigonum leher vesika. Meskipun demikian pada dekade terakhir dikembangkan pula beberapa terapi non-bedah yang mempunyai keunggulan kurang invasif dibandingkan dengan terapi bedah. meningkatkan kualitas hidup dan menghindari komplikasi akibat obstruksi yang berkepanjangan. dengan jalan memasang kateter atau memasang sistostomi setelah itu baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnostik. Pada hiperplasia prostat derajat empat tindakan pertama yang harus segera dikerjakan ialah membebaskan penderita dari retensi urin total. Terapi sedini mungkin sangat dianjurkan untuk mengurangi gejala.

Penggunaan terapi : pemberian obat ini menyebabkan relaksasi otot-otot trigon dan sfingter di leher kandung kemih serta otot polos kelenjar prostat yang membesar. Pengobatan ini efektif untuk BPH tetapi karena efek samping yang ditimbulkan obat ini tidak lagi digunakan.bloker selektif)  Farmakodinamik : efeknya yang utama adalah hasil hambatan reseptor α1 pada otot polos arteriol dan vena. Fenoksibenzamin memblok reseptor α 1 maupun α2 pada otot polos arteriol dan vena sehingga menimbulkan vasodilatasi dan venodilatasi. tetapi lama kerjanya bergantung juga pada kecepatan sintesis reseptor α.  Farmakokinetik : diabsorpsi dengan baik pada pemberian oral. Kelompok obat ini cenderung mempunyai efek yang baik terhadap lipid serum pada manusia. Efek samping yang paling sering berupa pusing (hipotensi postural).  Penggunaan terapi : sebagai kompensasi berkurangnya produksi testoteron. Fitoterapi . edema perifer dan mual.  Intoksikasi dan efek samping : yang utama adalah hipotensi ortostatik. Fenoksibenzamin dapat dianggap bekerja dengan cara mengurangi jumlah adrenoreseptor α yang tersedia untuk dirangsang.Contoh obat yang dipakai:  Fenoksibenzamin (α. Terazosin.  Prazosine. Waktu paruhnya kurang dari 24 jam. yakni hipotensi posturnal yang hebat dan sinkop yang terjadi 30-90 menit setelah pemberian dosis pertama.  Farmakokinetik : absorpsi dari saluran cerna hanya 20-30%. Dosis 2x10 mg/hari. Obat ini dapat memperbaiki aliran urin dan mengurangi gejala-gejala akibat obstruksi prostat.dan venodilatasi sehingga menurunkan resistensi perifer dan alir balik vena. Obat Waktu paruh Waktu diberikan Prazosine 2-3 jam 2-3 x/hari Terazosin 12 jam 1-2 x /hari Doxazosin 20-22 jam 1x/hari Tamzulosin 5-10 jam  Efek samping : yang utama adalah fenomena dosis pertama. dan hanya sedikit yang dieksresi utuh melalui ginjal. dibentuk lebih banyak enzim 5 – α reduktase yang mereduksi testoteron menjadi dihidrotestoteron (DHT) yang lebih aktif.2007)  B. Tamzulosin dan Doxazosin (α1. Hambatan ejakulasi yang reversibel dapat terjadi akibat hambatan kontraksi otot polos vas deferens dan saluran ejakulasi. sakit kepala. mengalami metabolisme yang ekstensif di hati. (Gunawan.bloker non selektif)  Farmokodinamik : karena sifat hambatan yang praktis irreversibel. ngantuk. terikat kuat pada protein plasma (terutama α1-glikoprotein). menurunkan kolesterol LDL dan trigliserid serta meningkatkan kadar kolesterol HDL. sehingga memperbaiki aliran urin serta gejala-gejala lain yang menyertai obstruksi prostat tersebut adalah 1-5 mg/hari. yang menimbulkan vaso. palpitasi. Tetapi DHT merangsang pertumbuhan prostat.

Diantara sekian banyak fitoterapi yang sudah masuk pasaran. Kelompok obat ini juga disebut dengan “obat modern”. Dalam Life Extension Update dimuat. hepatitis. HIV. Catatan empiriknya tentang manfaat tumbuhan ini untuk gangguan urologis sudah ada sejak tahun 1900. Keduanya. dan penuaan yang belum ada obatnya seperti: kanker. demensia. Namun secara empirik. rematik. masih memerlukan penelitian yang panjang. Tidak semua penyakit dapat diobati secara tuntas dengan kemoterapi ini. dari sebanyak 32 publikasi studi terdapat catatan bahwa extract dari SPB ini secara signifikan menunjukan perbaikan klinis dalam hal : .Gejala kurang enak dalam mekanisme urinoir → berkurang Mekanisme kerja obat ini belum dapat dipastikan tetapi diduga kuat ia : .Aliran kencing → bertambah lancar . manfaat sudah lama tercatat dan semakin diakui. dan di negaranegara Eropa dan Amerika pemakaiannya terus meningkat dengan cepat.1% sedangkan finasteride = 4. Termasuk ini adalah: BPH. Disebut demikian karena berasal dari tumbuhan. dll.9%. . Dalam Current Medical Diagnosis and Treatment (2001) dinyatakan bahwa Saw Palmetto Berry (SPB) ini didalam 18 RCT (Randomized Clinical Trial) dengan 2939 subyek adalah superior terhadap placebo dan efektifitasnya sama dengan finasteride. DM. Banyak penyakit kronis.Menghambat aktifitas enzim 5 alpha reduktase dan memblokir reseptor androgen . Efek samping obat berupa disfungsi ereksi = 1. Bahan aktifnya belum diketahui dengan pasti. terutama Serenoa repens semakin diterima pemakaiannya dalam upaya pengendalian prosatisme BPH dalam kontek “watchfull waiting strategy”. hipertensi.  Saw Palmetto Berry (SPB) yang disebut juga Serenoa repens adalah suatu obat tradisional Indian. degeneratif.Kelompok kemoterapi pada umumnya telah mempunyai informasi farmakokinetik dan farmakodinamik terstandar secara konvensional dan universal.Bersifat anti inflamasi dan anti udem dengan cara menghambat aktifitasenzim cycloxygenase dan 5 lipoxygenase. Banyak pula yang belum bisa dituntaskan pengobatannya. Di Jerman 90% kasus BPH di terapi dengan Serenoa repens tunggal atau kombinasi. Isu back to nature memberikan iklim yang kondusif bagi pemakaian obat ini.Volume residu dikandung kencing → berkurang .  Pumpkin seeds (Cucurbitae peponis semen) Testimoni empirik tradisional bahan ini telah digunakan di Jerman dan Austria sejak abad 16 untuk gangguan “urinoir” dan belakangan ini ekstraknya dipakai untuk mengatasi gejala yang berhubungan dengan BPH didalam konteks farmakoterapi maupun uji klinis kombinasi dengan ekstraks serenoa repens. diantaranya yang terkenal adalah Serenoa repens atau Saw Palmetto dan Pumpkin seeds yang digunakan untuk pengobatan BPH. dll. Bukti-bukti empirik lapangan dan empirik uji klinik semakin banyak mencatat efektifitas dan keamanannya. gangguan metabolisme.Frekuensi nokturia → berkurang . Kelompok terapi ini disebut Fitoterapi. Sehingga diperlukan terapi komplementer atau alternatif.

sehingga obat ini akan “menghabiskan” reseptor dengan membentuk LH-RH super agonist reseptor kompleks. pada permulaan justru akan terjadi kenaikan produksi LH oleh hypofisis. suatu hormon androgen yang mempengaruhi pertumbuhan kelenjar prostat. Penurunan kadar zat aktif dehidrotestosteron ini menyebabkan mengecilnya ukuran prostat. Pada tingkat testikular. Cara ini tentu saja menyebabkan penurunan libido oleh karena penurunan kadar testosteron darah. Hasilnya. (7 hari) dan minggu II intra nasal spray 200 mg. Contoh obat tersebut ialah Finesteride. Tetapi setelah reseptor “habis”maka LH-RH tidak dapat lagi mencari reseptor . orchiectomi untuk pengobatan pembesaran prostat jinak hanya dikenal pada sejarah.Penelitian di Jerman melakukan studi terhadap preparat yang mengandung komponen utama beta-sitosterol dengan sedikit campuran campesterot dan stigmasterol untuk mengobati hiperplasia prostat. 3 kali sehari. dengan dosis minggu I 3dd 500 mg s. terjadi perbaikan seperti halnya terapi menggunakan penghambat reseptor alpha dan 5-alpha reduktase. Obat anti androgen lain yang juga bekerja pada tingkat prostat ialah obat yang mempunyai mekanisme kerja sebagai inhibitor kompetitif terhadap reseptor DHT sehingga DHT tidak dapat membentuk kompleks DHT-Reseptor.c. Penelitian lain di Kanada menyatakan bahwa Finasteride mengurangi volume prostat pada 613 pria dengan angka rata-rata 21%. sehingga jumlah DHT berkurang tetapi jumlah testosteron tidak berkurang. sehingga libido juga tidak menurun. Contoh obat adalah Buserelin. maka LH akan menurun.  Hormonal Pada tingkat supra hypofisis dengan obat-obat LH-RH (super) agonist yaitu obat yang menjadi kompetitor LH-RH mempunyai afinitas yang lebih besar dengan reseptor bagi LH-RH. sekarang cara pengobatan ini untuk hiperplasia prostat telah ditinggalkan. Pada tingkat infra hipofisis pemberian estrogen dapat memberikan umpan balik dengan menekan produksi FSH dan LH. Finasteride mengurangi volume prostat sampai 30%. mengurangi gejala dan memperbaiki laju pancaran urin sampai 12%. Pemberian obat-obat anti androgen yang dapat mulai pada tingkat hipofisis misalnya dengan pemberian Gn-RH analogue sehingga menekan produksi LH. tetapi dengan efek samping yang lebih minimal. yang menyebabkan produksi testosteron oleh sel leydig berkurang. Untuk karsinoma prostat tentu saja orchiectomi masih dikerjakan oleh karena pertimbangan kemungkinan penyebaran ca prostat dan juga biasanya penderita telah tua. Walaupun mekanisme kerja dari preparat campuran fitosterol ini belum dapat dibuktikan. Sehingga mula-mula oleh karena banyaknya LH-RH super agonist yang menangkap reseptor. sehingga produksi testosteron juga menurun. Proscar dengan dosis 5 mg/hari dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan. Contoh preparatnya ialah Diaethyl Stilbestrol (DES) dosis satu kali 1-5 mg sehari. Contoh obatnya ialah : . suatu enzim yang diperlukan untuk mengubah testosteron menjadi dehidrotestosteron (DHT). Obat ini mempunyai toleransi baik dan tidak mempunyai efek samping yang bermakna. Pada tingkat yang lebih rendah dapat pula diberikan obat anti androgen yang mekanisme kerjanya mencegah hidrolise testosteron menjadi DHT dengan cara menghambat 5 alpha reduktase. penelitian terus dikembangkan untuk keperluan di masa depan.

Flutamide . Golongan gestagen dan ketokonazole. Operatif a) Prostatektomi terbuka .menekan LH dan FSH. menjadi saingan testosteron untuk 5 alpha reduktase sehingga DHT tidak terbentuk.Retropubic infravesika (Terence millin) Keuntungan :  Tidak ada indikasi absolut. obat-obat ini mempunyai khasiat : mengurangi enzim dehidrogenase dan isomerase yang berguna untuk metabolisme steroid . baik untuk adenoma yang besar pada subservikal  Mortaliti rate rendah  Langsung melihat fossa prostat  Dapat untuk memperbaiki segala jenis obstruksi leher buli  Perdarahan lebih mudah dirawat  Tanpa membuka vesika sehingga pemasangan kateter tidak perlu selama bila membuka vesika Kerugian :  Dapat memotong pleksus santorini  Mudah berdarah  Dapat terjadi osteitis pubis  Tidak bisa untuk BPH dengan penyulit intravesikal  Tidak dapat dipakai kalau diperlukan tindakan lain yang harus dikerjakan dari dalam vesika Komplikasi :  Perdarahan  Infeksi  Osteitis pubis  Trombosis Suprapubic transvesica/TVP (Freyer) Keuntungan :  Baik untuk kelenjar besar  Banyak dikerjakan untuk semua jenis pembesaran prostat  Operasi banyak dipergunakan pada hiperplasia prostat dengan penyulit :  Batu buli  Batu ureter distal  Divertikel  Uretrokel .medrogestone 15 mg2 kali/hari .Cyproterone acetate 100 mg 2 kali/hari . Kesulitan pengobatan konservatif ini adalah menentukan berapa lama obat harus diberikan dan efek samping dari obat.. Contoh obatnya adalah Megestrol acetat 160 mg empat kali sehari dan MPA 300-500 mg/hari. sehingga libido tidak menurun. 4.Anandron Obat ini juga tidak menurunkan kadar testosteron pada darah.

Jaringan yang direseksi hampir seluruhnya terdiri dari jaringan kelenjar sentralis. bladder neck stenosis 4%)  Inkontinensia (<1%)  Perdarahan  Epididimo orchitis  Recurent (10 – 20%)  Carcinoma  Ejakulasi retrograde  Impotensi  Fimosis  Deep venous trombosis Transperineal Keuntungan :  Dapat langssung pada fossa prostat  Pembuluh darah tampak lebih jelas  Mudah untuk pinggul sempit  Langsung biopsi untuk karsinoma Kerugian :  Impotensi  Inkontinensia  Bisa terkena rektum  Perdarahan hebat  Merusak diagframa urogenital b) Endourologi . Evaluasi ini berperan selektif dalam penentuan perlu tidaknya dilakukan TUR. Untuk keperluan tersebut. Jaringan perifer ditinggalkan bersama kapsulnya. bisa terjadi ejakulasi retrograd dan pada sebagaian kecil dapat mengalami impotensi.  Adanya sistsostomi  Retropubik sulit karena kelainan os pubis Kerusakan spingter eksterna minimal Kerugian :  Memerlukan pemakain kateter lebih lama sampai luka pada dinding vesica sembuh  Sulit pada orang gemuk  Sulit untuk kontrol perdarahan  Merusak mukosa kulit  Mortality rate 1 -5 % Komplikasi :  Striktura post operasi (uretra anterior 2 – 5 %. evaluasi urodinamik sangat berguna untuk membedakan pasien dengan obstruksi dari pasien non-obstruksi.Trans urethral resection (TUR) Yaitu reseksi endoskopik malalui uretra. Metode ini cukup aman. efektif dan berhasil guna. Hasil terbaik diperoleh pasien yang sungguh membutuhkan tindakan bedah. Suatu penelitian menyebutkan bahwa hasil obyektif TUR meningkat dari 72% menjadi 88% .

Jika tidak segera diatasi. Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi. Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup murah adalah H2O steril (aquades). kesadaran somnolen. dan memasang sistostomi suprapubik untuk mengurangi tekanan air pada buli-buli selama reseksi prostat. Karena itu untuk mengurangi timbulnya sindroma TUR P dipakai cairan non ionik yang lain tetapi harganya lebih mahal daripada aquades. tekanan darah meningkat. Reseksi kelenjar prostat dilakukan trans-uretra dengan mempergunakan cairan irigan (pembilas) agar supaya daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah.      Keuntungan : Luka incisi tidak ada Lama perawatan lebih pendek Morbiditas dan mortalitas rendah Prostat fibrous mudah diangkat Perdarahan mudah dilihat dan dikontrol Kerugian :  Tehnik sulit  Resiko merusak uretra  Intoksikasi cairan  Trauma spingter eksterna dan trigonum  Tidak dianjurkan untuk BPH yang besar  Alat mahal  Ketrampilan khusus Trans urethral incision of prostate (TUIP) Metode ini di indikasikan untuk pasien dengan gejala obstruktif. membatasi jangka waktu operasi tidak melebihi 1 jam. antara lain adalah cairan glisin . Kelebihan air dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TUR P. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik.dengan mengikutsertakan evaluasi urodinamik pada penilaian pra-bedah dari 152 pasien. Kelebihan dari metode ini adalah lebih . tetapi ukuran prostatnya mendekati normal. Pada hiperplasia prostat yang tidak begitu besar dan pada pasien yang umurnya masih muda umumnya dilakukan metode tersebut atau incisi leher buli-buli atau bladder neck incision (BNI) pada jam 5 dan 7. Mortalitas TUR sekitar 1% dan morbiditas sekitar 8%. yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. dan terdapat bradikardi. Terapi ini juga dilakukan secara endoskopik yaitu dengan menyayat memakai alat seperti yangg dipakai pada TUR P tetapi memakai alat pemotong yang menyerupai alat penggaruk. Angka mortalitas sindroma TUR P ini adalah sebesar 0. Saat ini tindakan TUR P merupakan tindakan operasi paling banyak dikerjakan di seluruh dunia. sayatan dimulai dari dekat muara ureter sampai dekat ke verumontanum dan harus cukup dalam sampai tampak kapsul prostat.99%. pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh dalam keadaan koma dan meninggal.

Pengobatan di RS. Cara ini disebut dengan Trans Urethral Microwave Treatment (TUMT). Dikatakan dengan memanaskan kelenjar periuretral yang membesar ini dengan gelombang mikro (microwave) yaitu dengan gelombang ultarasonik atau gelombang radio kapasitif akan terjadi vakuolisasi dan nekrosis jaringan prostat. Invasif minimal a) Trans urethral microwave thermotherapy (TUMT) Cara memanaskan prostat sampai 44. Di Jakarta telah tersedia dua macam alat yaitu Prostatron yang menggunakan gelombang mikro dan dipanaskan selama satu jam. Pemanasan dilakukan antara 1-3 jam. Prinsip cara ini ialah memasang kateter semacam Foley dimana proximal dari balon dipasang antene pemanas yang baru dipanaskan dengan gelombang mikro melalui kabel kecil yang berada didalam kateter.           Pembedahan dengan laser (Laser Prostatectomy) Trans urethral ultrasound guided laser induced prostatectomy (TULIP) Trans urethral evaporation of prostate (TUEP) Teknik koagulasi Keuntungan bedah laser ialah : Tidak menyebabkan perdarahan sehingga tidak mungkin terjadi retensi akibat bekuan darah dan tidak memerlukan transfusi Teknik lebih sederhana Waktu operasi lebih cepat Lama tinggal di rumah sakit lebih singkat Tidak memerlukan terapi antikoagulan Resiko impotensi tidak ada Resiko ejakulasi retrograd minimal Kerugian :  Penggunaan laser ini masih memerlukan anestesi (regional) 5. Cara pengobatan hypertermia ini masih . Sedangkan alat yang lain menggunakan radio capacitive frequency yang dapat memanaskan prostat sampai 44. Pondok Indah pada 112 kasus yang diobati dengan cara ini didapatkan hasil: perbaikan “symptom score” pada 79 penderita (75%) dan perbaikan pada sisa kencing pada 62 penderita (60%) tetapi perbaikan pada maximal flow rate hanya ditemukan pada 55 penderita (50%). salah satu teori yang masih harus dibuktikan ialah bahwa dengan pemanasan akan terjadi perusakan pada reseptor alpha yang berada pada leher vesika dan prostat. selain itu juga akan menurunkan tonus otot polos dan kapsul prostat sehingga tekanan uretra menurun sehingga obstruksi berkurang.cepat daripada TUR dan menurunnya kejadian ejakulasi retrograde dibandingkan dengan cara TUR. Dengan cara pengobatan ini dengan mempergunakan alat THERMEX II diperoleh hasil perbaikan kira-kira 70-80% pada symptom obyektif dan kira-kira 50-60% perbaikan pada flow rate maksimal.5°C – 47°C selama 3 jam (TURF).5°C – 47°C ini mulai diperkenalkan dalam tiga tahun terakhir ini. Mekanisme yang pasti mengenai efek pemanasan prostat ini belum semuanya jelas.

efektifitasnya serta side efek yang mungkin timbul. . Pertama kali dikerjakan oleh Hollingworth 1910 dan Franck 1930.Joachus Burhenne yang mula-mula mencoba pada anjing dan cadaver. akhirnya dicoba di klinik. Balon mempunyai diameter 30 mm kemudian dengan alat dikembangkan sampai 4 atm yang sama dengan 58.00 dengan jalan melalui operasi terbuka (transvesikal).8 psi atau 3040 mmHg dan kaliber uretra menjadi 30 mm atau 90 F. Castaneda bersama-sama Reddy dan Hulbert kemudian menyempurnakan tehnik Burhenne tersebut. Tetapi sebenarnya pelopor penggunaan balon adalah H. Cara TURF (trans Uretral Radio Capacitive Frequency) memancarkan gelombang “radio frequency” yang panjang gelombangnya lebih besar daripada tebalnya prostat juga arah dari gelombang radio frequency dapat diarahkan oleh elektrode yang ditempel diluar (pada pangkal paha) sehingga efek panasnya dapat menetrasi sampai lapisan yang dalam. tidak invasif dan mekanisme ejakulasi dapat dipertahankan. TUBD ini biasanya memberikan perbaikan yang bersifat sementara. c) Trans urethral needle ablation (TUNA) Yaitu dengan menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi untuk menghasilkan ablasi termal pada prostat. Kemudian setelah balon dikempeskan kembali kateter dilepaskan dengan menggunakan guide wire dan kateter dilepas memutar kebalikan dari arah jarum jam sementara dapat dipasang cystostomi dengan trocard. Kemudian Deisting 1956 melakukan dengan dilator transuretral. Cara kerja TUMT ialah antene yang berada pada kateter dapat memancarkan microwave kedalam jaringan prostat. dan selama pemanasan urine tetap dapat mengalir keluar b) Trans urethral ballon dilatation (TUBD) Dilatasi uretra pars prostatika dengan balon ini mula-mula dikerjakan dengan jalan melakukan commisurotomi prostat pada jam 12. sebaiknya dilakukan dengan narkose. Dengan proses pendindingan ini memang mucosa tidak rusak tetapi penetrasi juga berkurang. Cara ini mempunyai prospek yang baik guna mencapai tujuan untuk menghasilkan prosedur dengan perdarahan minimal. Oleh karena temperatur pada antene akan tinggi maka perlu dilengkapi dengan surface costing agar tidak merusak mucosa ureter. Keuntungan lain oleh karena kateter yang ada alat pemanasnya mempunyai lumen sehingga pemanasan bisa lebih lama. Konsep dilatasi dengan balon ini ialah mengusahakan agar uretra pars prostatika menjadi lebar melalui mekanisme:  Prostat di tekan menjadi dehidrasi sehingga lumen uretra melebar    Kapsul prostat diregangkan Tonus otot polos prostat dihilangkan dengan penekanan tersebut Reseptor alpha adrenergic pada leher vesika dan uretra pars prostatika dirusak Prosedur ini meskipun bisa dilakukan dengan anestesi topikal.memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai cara kerja dasar klinikal.

hidroureter. panjang uretra pars prostatika diukur dengan USG dan kemudian dipilih alat yang panjangnya sesuai.7 Komplikasi  Dekompresi prostat : retensi urin sehingga pada akhir miksi ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih dan timbul rasa tak tuntas pada akhir miksi     Refluks vesiko-ureter . Stents ini digunakan sebagai protesis indwelling permanen yang ditempatkan dengan bantuan endoskopi atau bimbingan pencitraan. hanya saja kateter tersebut dipasang pada uretra pars prostatika. Akhir-akhir ini dikembangkan juga stent yang dapat dipertahankan lebih lama. LO 2. hidronefrosis dan gagal ginjal : akibat retensi kronik Infeksi Hernia atau hemoroid : karena penderita harus selalu mengedan Bahu endapan di kandung kemih : karena terdapat sisa urin. misalnya Porges Urospiral (Parker dkk. LO 2. A. Bentuk lain ialah adanya mesh dari logam yang juga dipasang di uretra pars prostatika dengan kateter pendorong dan kemudian didilatasi dengan balon sampai mesh logam tersebut melekat pada dinding uretra. Bentuk stent ada yang spiral dibuat dari logam bercampur emas yang dipasang diujung kateter (Prostacath).L. Untuk memasangnya. dapat pula menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi pielonefritis.d) Stent urethra dengan prostacath Pada hakekatnya cara ini sama dengan memasang kateter uretra. yang merupakan alternatif sementara apabila kondisi penderita belum memungkinkan untuk mendapatkan terapi yang lebih invasif. Pemasangan stent ini merupakan cara mengatasi obstruksi infravesikal yang juga kurang invasif. Menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. lalu alat tersebut dimasukkan dengan kateter pendorong dan bila letak sudah benar di uretra pars prostatika maka spiral tersebut dapat dilepas dari kateter pendorong.8 Prognosis .) atau Wallstent (Nording. Paulsen).