You are on page 1of 161
AIGER oor (65 ANALISIS EFISIENSI DAN PRODUKTIVITAS, PASCA PENERAPAN ISO 9002 (Studi Kasus pada PT Indofood Sukses Makmur Bogasari Flour Mills, Surabaya) Oleh : MARISKA EKA SETIADI A07498208 ‘ JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2002 RINGKASAN MARISKA EKA SETIADI. Analisis Efisiensi Dan Produktivitas Pasca Penerapan ISO 9002 (Studi Kasus pada PT Indofood Sukses Makmur Bogasari Flour Mills, Surabaya). Dibawah bimbingan RATNA WINANDI ASMARANTAKA Peningkatan efisiensi dan produktivitas untuk menghadapi perdagangan bebas hanya dapat dicapai oleh perusahaan dengan membangun manajemen yang efektif dan terpadau. Salah satunya adalah dengan menerapkan sistem manajemen mutu internasional ISO 9000 yang didalamnya terdapat sistem mutu ISO 9002 yang merupakan model sistem jaminan mutu dalam produksi dan instalasi. Salah satu perusahaan yang telah mendapat sertifikat ISO 9002 adalah PT Indofood Sukses Makmur Bogasari Flour Mills (PT ISM BFM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jalannya sistem penerapan manajemen mutu ISO 9002 di perusahaan, mengetahui perubahan tingkat efisiensi dan produktivitas proses produksi perusahaan antara sebelum dan setelah penerapan ISO 9002 serta mengetahui kinerja perusahaan setelah penerapan ISO 9002. Penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) pada PT ISM BEM, Surabaya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, Data sekunder mengenai produksi perusahaan pada periode setelah penerapan ISO 9002 (2000 ~ 2001) merupakan data saat perusahaan berproduksi pada kondisi perekonomian bangsa dalam masa perbaikan dari krisis ekonomi pada tahun 1997 hingga 1998 yang melanda Indonesia. Analisis data dalam penelitian ini meliputi analisis deslriptif, analisis efisiensi teknis dan ekonomis serta analisis produktivitas dengan menggunakan model The American Productivity Center. Pengukuran efisiensi ekonomis dalam penelitian ini berdasarkan nilai mata uang yang digunakan PT ISM BFM, Surabaya ketika melakukan transaksi, yaitu dalam rupiah dan dollar Amerika. Hasil analisis deskriptif mengenai penerapan mutu ISO 9002 di PT ISM BFM, Surabaya, penerapan ISO 9002 telah meningkatkan kemampuan perusahaan untuk menjual by poduct di pasar internasional, kualitas produk lebih baik dan kesadaran pentingnya mutu di kalangan karyawan menjadi lebbih tinggi. Sedangkan dari analisis efisiensi teknis diperoleh ekstraksi tepung terigu setelah penerapan ISO 9002 meningkat dari 72,18 persen menjadi 73,14 persen. Untuk mencapai jam efektif kerja mesin juga meningkat dari 89,01 persen menjadi 90,38 persen. Analisis biaya produksi menunjukkan bahwa adanya inefisiensi ekonomis biaya tetap produksi, biaya bahan bakar dan listrik serta biaya konsumsi air karena biaya-biaya ini meningkat sebesar lebih dari 100 persen untuk biaya tetap produksi dan biaya bahan bakar dan listrik serta meningkat lebih dari 84,82 persen untuk biaya konsumsi air, sedangkan jumlah output menurun sebesar 5,34 persen. Berdasarkan analisis titik impas untuk produk tepung terigu, tepung industri dan bran meningkat yang menunjukkan bahwa tingkat produksi perusahaan agar tidak mengalami kerugian dan tidak memperoleh laba meningkat. Sedangkan analisis Marginal Income Ratio menunjukkan adanya penurunan nilai MIR bagi tepung terigu dan tepung industri, sedangkan bagi pellet, pollard dan bran mengalami peningkatan. Penurunan MIR tersebut menunjukkan bahwa setelah penerapan ISO 9002 kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dan menutup biaya tetapnya dari hasil produksi tepung terigu dan tepung industri mengalami penurunan, karena bagian biaya untuk menutup biaya variabelnya mengalami peningkatan. Analisis Margin of Safety menunjukkan adanya penurunan nilai MOS untuk tepung terigu dan tepung industri antara periode sebelum dan setelah penerapan ISO 9002. Penurunan nilai MOS ini disebabkan oleh turunnya jumlah output tepung terigu dan tepung industri sedangkan titik impasnya meningkat dari periode sebelum penerapan hingga setelah penerapan ISO 9002. Sedangkan dilihat dari hasil analisis profitabilitas maka nilai kemampuan laba setelah penerapan ISO 9002 dari pengolahan tepung terigu menurun sebesar 3,39 persen dan tepung industri menurun sebesar 0,01 persen. Penurunan nilai profitabilitas kedua produk tersebut dikarenakan menurunnya nilai MIR dan MOS pada produk tepung terigu dan tepung industri.