HomeAboutRSS

nurse nurse keseharian perawat with Blog.com keperawatan Uncategorized Latest Entries » Gangguan keseimbangan asam basa Filed Under: keperawatan — ermadcaprio — Leave a comment03/15/2011 Derajat keasaman merupakan suatu sifat kimia yang penting dari darah dan cairan tubuh lainnya.Satuan derajat keasaman adalah pH: · pH 7,35 – 7,45 adalah netral · pH diatas 7,45 adalah basa (alkali) · pH dibawah 7,35 adalah asam. Suatu asam kuat memiliki pH yang sangat rendah (hampir 1,0); sedangkan suatu basa kuat memiliki pH yang sangat tinggi (diatas 14,0). Darah memiliki ph antara 7,35-7,45. Keseimbangan asam-basa darah dikendalikan secara seksama, karena perubahan pH yang sangat kecil pun dapat memberikan efek yang serius terhadap beberapa organ. Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam-basa darah: 1. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk amonia. Ø Ginjal memiliki kemampuan untuk mengatur jumlah asam atau basa yang dibuang, yang biasanya berlangsung selama beberapa hari. 2.Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Ø Suatu penyangga ph bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan pH suatu larutan.Penyangga pH yang paling penting dalam darah adalah bikarbonat. Bikarbonat (suatu komponen basa) berada dalam kesetimbangan dengan (suatu komponen asam). karbondioksida

Ø Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida.

Ø Jika lebih banyak basa yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak karbondioksida dan lebih sedikit bikarbonat. 3.Pembuangan karbondioksida. Ø Karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel. Ø Darah membawa karbondioksida ke paru-paru dan di paru-paru karbondioksida tersebut dikeluarkan (dihembuskan). Ø Pusat pernafasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernafasan. Ø Jika pernafasan meningkat, kadar karbon dioksida darah menurun dan darah menjadi lebih basa. Ø Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat dan darah menjadi lebih asam.Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan,maka pusat pernafasan dan paruparu mampu mengatur pH darah menit demi menit. Nilai pH dapat dilihat dari darah arterial dengan rentang normal 7,35-7,45. Harga normal hasil pemeriksaan laboratorium analisis gas darah adalah sbb: pH 7,35-7,45 pO2 80-100 mmHg pCO2 35-45 mmHg [HCO3-] 21-25 mmol/L Base excess -2 s/d +2 Adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam keseimbangan asam basa adalah : 1. Konsentrasi ion hidrogen [H+] 2. Konsentrasi ion bikarbonat [HCO3-] 3. pCO2 Berikut perbandingan peranan masing-masing faktor dalam diagnosis gangguan asam basa : -

- Bila HCO3- berubah secara signifikan dalam kondisi tersebut, disebut suatu keadaan metabolik - Bila pCO2 berubah secara signifikan dalam kondisi tersebut, disebut suatu keadaan respiratorik Dari konsep tersebut, didapatkan empat kondisi, yaitu : 1. Asidosis metabolik 2. Asidosis respiratorik 3. Alkalosis metabolik 4. Alkalosis respiratorik 1.ASIDOSIS Ø Asidosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah. 2.ALKALOSIS Ø Alkalosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah. Asidosis dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan suatu akibat dari sejumlah penyakit. Terjadinya asidosis dan alkalosis merupakan petunjuk penting dari adanya masalah metabolisme yang serius.Asidosis dan alkalosis dikelompokkan menjadi metabolik atau respiratorik, tergantung kepada penyebab utamanya. Asidosis metabolik dan alkalosis metabolik disebabkan oleh ketidakseimbangan dalam pembentukan dan pembuangan asam atau basa oleh ginjal. Asidosis respiratorik atau alkalosis respiratorik terutama disebabkan oleh penyakit paru-paru atau kelainan pernafasan. ASIDOSIS RESPIRATORIK Defenisi Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat. Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi asam.

Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam. Penyebab Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida secara adekuat. Hal ini dapat terjadi pada penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paru-paru, seperti: - Emfisema - Bronkitis kronis - Pneumonia berat - Edema pulmoner - Asma. Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan. Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat tidur yang kuat, yang menekan pernafasan. Gambaran Klinis 1. Hipoksia

2. Vasodilatasi (karena CO2 ↑) Diagnosis Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan pH darah dan pengukuran karbondioksida dari darah arteri. Laboratorium: pH ↓ – pCO2 ↑ – HCO3 ↑ – BE (+) Penatalaksanaan Pengobatan asidosis respiratorik bertujuan untuk meningkatkan fungsi dari paru-paru.Obat-obatan untuk memperbaiki pernafasan bias diberikan kepada penderita penyakit paru-paru seperti asma dan emfisema.Pada penderita yang mengalami gangguan pernafasan berat mungkin perlu diberikan pernafasan buatan dengan bantuan ventilator mekanik. ASIDOSIS METABOLIK Defenisi Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah.

Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam. Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma. Penyebab Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama: 1. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar bahan yang menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun.Contohnya adalah metanol (alkohol kayu) dan zat anti beku (etilen glikol).Overdosis aspirin pun dapat menyebabkan asidosis metabolik. 2. Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme. Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari beberapa penyakit; salah satu di antaranya adalah diabetes melitus tipe I. Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut keton. Asam yang berlebihan juga ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam laktat dibentuk dari metabolisme gula. 3. Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normal pun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal. Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis (ATR) atau rhenal tubular acidosis (RTA), yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam. Penyebab utama dari asidois metabolik: · Gagal ginjal · Asidosis tubulus renalis (kelainan bentuk ginjal)

· Ketoasidosis diabetikum · Asidosis laktat (bertambahnya asam laktat) · Bahan beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat, metanol, paraldehid, asetazolamid atau amonium klorida · Kehilangan basa (misalnya bikarbonat) melalui saluran pencernaan karena diare, ileostomi atau kolostomi. Gambaran klinis 1. Asidosis metabolik ringan bisa tidak menimbulkan gejala, namun biasanya penderita merasakan mual, muntah dan kelelahan. 2. Pernafasan menjadi lebih dalam atau sedikit lebih cepat, namun kebanyakan penderita tidak memperhatikan hal ini. 3. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. 4. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan kematian. Diagnosis Diagnosis asidosis biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran pH darah yang diambil dari darah arteri (arteri radialis di pergelangan tangan). Darah arteri digunakan sebagai contoh karena darah vena tidak akurat untuk mengukur pH darah. Untuk mengetahui penyebabnya, dilakukan pengukuran kadar karbon dioksida dan bikarbonat dalam darah. Mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk membantu menentukan penyebabnya. Misalnya kadar gula darah yang tinggi dan adanya keton dalam urin biasanya menunjukkan suatu diabetes yang tak terkendali. Adanya bahan toksik dalam darah menunjukkan bahwa asidosis metabolik yang terjadi disebabkan oleh keracunan atau overdosis. Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan air kemih secara mikroskopis dan pengukuran pH air kemih. Penatalaksanaan Pengobatan asidosis metabolic tergantung pada penyebabnya.Sebagai contoh diabetes dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan membuang bahan racun tersebut dari dalam darah.Kadang-kadang perlu dilakukan dialisa untuk mengobati overdosis atau keracunan berat. Tujuan koreksi – mengganti defisit basa Dipakai Na bikarbonat/ natrium laktat

Rumus: BE x BB x 0.3 = jumlah mEq bikarbonat yg diperlukan 2 – 4 mEq/ kgBB Cara: diencerkan dengan D 5 % – berikan perlahan-lahan ALKALOSIS RESPIRATORIK Defenisi Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah. Penyebab Alkalosis respratorik terjadi bila ada hiperventilasi. Hiperventilasi menyebabkan kadar CO2 tubuh turun sehingga terjadi kompensasi tubuh untuk menurunkan pH dengan meretensi H+ oleh ginjal agar absorpsi HCO3- berkurang. Ingat, bila pH tinggi berarti [H+] turun. Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan. Penyebab akut dapat berupa stimulasi saraf sentral pada tumor serebri,ensefalitis, dan intoksikasi. Penyebab kronis dapat berupa penyakit paru kronis. Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah: - rasa nyeri - sirosis hati - kadar oksigen darah yang rendah - demam - overdosis aspirin. Gambaran Klinis - Pasien sering menguap - Napas lebih cepat dan dalam - Kepala terasa ringan - Parestesi sekitar mulut serta kesemutan Diagnosis Laboratorium: pH ↑ – pCO2 ↓ – bikarbonat ↓ – BE (-) Penatalaksanaan Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan.

Ø Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini. Ø Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri. Ø Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya. Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali. Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik. ALKALOSIS METABOLIK Defenisi Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat. Penyebab Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadangkadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut). Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah. Penyebab utama alkalosis metabolik: 1. Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat) 2.Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung 3.Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing atau akibat penggunaan kortikosteroid). Diagnosis Dilakukan pemeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam keadaan basa. Lab: pH ↑, CO ↑, BE (+), pO2 ↓, HCO3 ↑

Penatalaksanaan Biasanya alkalosis metabolic diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit dalam hal ini adalah natrium dan kalium.Pada kasus berat,diberikan ammonium klorida secara intravena. Untuk pemberian K+ (KCl) memperbaiki alkalosis (max 40 mEq K+/ L) HASIL ANALISA GAS DARAH KETIDAKSEIMBANGAN ASAM BASA Kondisi pH HCO3 PaCO2

Asam basa seimbang Asidosis metabolic Asidosis respiratorik Alkalosis metabolic Alkalosis respiratorik 7,35 -7,45 <7,35 <7,35 >7,45 >7,45 22 – 26 mEq/L <22 mEq/L Normal atau >26 >26 mEq/L Normal atau <22 35 – 45 mmHg Normal atau <35 >45 mmHg Normal atau >45 <35 mmHg Tags: asam basa, asidosis alkalosis metabolik, asidosis alkalosis respiratorik Comment Konsep Model Keperawatan Maddeleine leininger

Filed Under: keperawatan — ermadcaprio — Leave a comment03/15/2011 KONSEP MODEL KEPERAWATAN MADDELEINE LEININGER A. KONSEP TEORI 1. Sekilas tentang M. Leininger. Maddeleine Leininger adalah seorang perawat professional pertama yang menyandang gelar Ph.D dibidang cultural dan social antrophology. Lahir di Sutton, Nebraska ia memulai karir sebagai perawat setelah menyelesaikan program diplomanya di sekolah keperawatan St ‘Anthony di Denver. Dia menyandang gelar di B.S. di bidang Biological Sience di kampus Benedictine tahun 1950, Atrhison Kansas. Setelah tamat ia bertugas sebagai instruktur perawat dan kepala perawatan di unit medical surgical dan membuka unit psikiatri yang baru dimana ia bertindak sebagai kepala pelayanan di rumah sakit St. Santa Joseph. Pada tahun 1954 Leineinger menyandang gelar M.S.N, di Universitas Khatolik di Amerika, Washington. Kemudian ia pindah ke Universitas Cincinnatih, disini ia memulai karirnya sebagainya perawat spesialis di klinik anak. Disinilah ia menemukan adanya kesulitan pada waktu memberikan asuhan keperawatan pada anak-anak dari berbagai macam budaya yang berbeda. Kemudian ia mulai meneliti suatu teori yang bisa membantu memecahkan masalah ini. 2. Konsep Utama Teori M. Leininger. Pada akhir 1970-an M. Leininger membuat model konseptual tentang pemberian traskultural. Konsepnya “sunrise model” di publikasikan di berbagai buku dan artikel jurnal dan menarik banyak perhatian dari berbagai penjuru dunia (Leninger, 1984). Yang kemudian diakui publik pada tahun 1998. Setelah menyelesaikan pendidikannya sebagai perawat psikiatrik, Leninger melanjutkan studinya di bidang antropologi kultural. Sebagai ahli antropologi ia melakukan banyak praktik kerja di berbagai kultur dan subkultur. Bersama dengan sejumlah rekan kerja, ia melakukan penelitian terhadap fenomena pemberian asuhan dan perilaku pemberian asuhan lebih dari tiga puluh budaya yang berbeda diseluruh dunia. Hal ini menghasilkan di kembangkannya konsep kerangka kerja pemberian asuhan transkultural, yang mengakui adanya perbedaan (diversitas), dan persamaan (universalitas) dalam pemberian asuhan di budaya yang berbeda. Hal ini mengarah pada di kembangkannya teori-teori universalitas dan diversitas dalam asuhan kultural. Beberapa inti dari model teorinya adalah : a. Asuhan

Asuhan berarti membantu, mendukung atau membuat seorang atau kelompok yang memiliki kebutuhan yang memiliki kebutuhan nyata agar mampu memperbaiki jalan hidup dan kondisinya. b. Budaya

Budaya dapat diekspresikan sebagai norma-norma dan nilai nilai kelompok tertentu, berdasarkan cara hidup dan pemberian asuhan yang di putuskan, dikembangkan , dan dipertahankan, oleh anggota kelompok tersebut.

c.

Asuhan transkultural

Dalam pemberian asuhan transkultural, perawat secara sadar mempelajari norma-norma, nilai-nilai dan cara hidup budaya tertentu dalam rangka memberikan bantuan dan dukungan dengan tujuan untuk membantu individu mempertahankan tingkat kesejahteraanya, memperbaiki cara hidup atau kondisinya, dan belajar menerima batasan-batasan. d. Diversitas asuhan kultural

Keanekaragaman asuhan kultural mengakui adanya variasi dan rentang kemungkinan tindakan dalam hal memberikan bantuan dan dukungan. Keanekaragaman ini terjadi berdasarkan nilai-nilai, norma-norma, dan cara hidup kultur atau subkultur tertentu. Dalam hal ini berbagai kebiasaan dan ritual dapat muncul dari nilai- nilai, norma-norma, dan cara hidup kultur atau sumber kultur tertentu. Dalam hal ini berbagai kebiasaan dan ritual dapat muncul dari nilai-nilai dan norma-norma budaya tertentu tentang kematian, kesehatan, seksualitas, dan lain sebagainya. e. Universalitas asuhan kultural

Bertentangan dengan konsep sebelumnya, universalitas asuhan kultural merujuk pada persamaan atau karakteristik universal, dalam hal memberikan bantuan dan dukungan. Menurut Leininger, karakteristik universal ini dapat berupa tindakan-tindakan seperti tersenyum, dan memberikan bantuan berkaitan dengan kebutuhan primer. Kontribusi Leininger merupakan hal yang signifikan. Karena : a. Pertama, ia membahas tentang pengaruh budaya dan kebutuhan untuk memenuhi hal tersebut dalam rangka memberikan asuhan. Topik ini semakin bermakna dalam masyarakat multikultural yang modern, perawat perlu mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi pasien, atau klien dari berbagai kelompok etnik yang berbeda. Hal tersebut oleh Leininger disebut asuhan budaya atau etnonursing. b. Kedua, Leininger menarik terhadap peran sentral dari asuhan di dalam keperawatan. Ia masuk kedalam kelompok keperawatan termasuk banner dan Watson yang menekankan pentingnya asuhan sebagai tujuan kemanusiaan dari keperawatan. Hal ini terlihat jelas dalam definisinya tentang keperawatan, yang antara lain sebagai berikut : “keperawatan adalah : seni humanistik yang dapat dipelajari dan ilmu yang berfokus pada personalisasi perilaku asuhan (individu dan kelompok), fungsi, dan proses yang diarahkan pada peningkatan,dan pemeliharaan perilaku sehat atau pemulihan dari penyakit yang memiliki signifikansi fisik, psiko kultural dan social atau makna dari mereka mendapatkan bantuan dari perawat professional atau dari orang yang memiliki kompetensi peran serupa” (Leininger,1984, hal 4-5). Hubungan model dengan paradigma keperawatan a. Manusia Menurut pendapat Leininger tentang variasi struktur sosial, jalan hidup, dan nilai serta norma-norma dari berbagai budaya dan subkultur, individu memiliki opini dan pandangan tentang sehat, sakit, asuhan, sembuh, ketergantungan, dan kemandirian yang berasal dari budaya tersebut. Setiap manusia hidup di dalam dan dengan budayanya dan meneruskan pengetahuan tersebut terhadap

generasi berikutnya. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki atribut fisik dan psikologis, maka hal tersebut merupakan atribut social atau secara lebih spesifik, merupakan atribut budaya atau etnik dari individu. b. Lingkungan Menurut Leininger, lingkungan di tentukan oleh cara orang-orang atau kelompok atau masyarakat tertentu memberi bentuk pada unsur lingkungan sosial mayoritas, ekonomi, budaya dan fisik. Menurut pendapatnya, sistem layanan budaya juga merupakan faktor lingkungan spesifik yang terdiri dari dua sub sistem : 1) Layanan kesehatan formal (Profesional) : semua layanan yang menjadi bagian dari sistem layanan kesehatan regular, termasuk layanan medis, layanan keperawatan, dan fisioterapi. 2) Layanan kesehatan informal, mencakup semua konsep dan ritual yang terlibat dalam bantuan sukarela, pengobatan tradisional, ritual dan kebiasaan etnik, pengobatan alternative. c. Sehat dan sakit Menurut Leininger, ia menggambarkan sehat dan sakit sebagai konsep yang di tentukan dan bergantung pada budaya. Apresiasi sehat dan sakit berbeda-beda antar-budaya, oleh sebab itu pengetahuan tentang budaya di perlukan agar mampu memahami makna yang diberikan oleh kelompok budaya tertentu terhadap sehat dan sakit. d. Keperawatan Dalam deskripsinya tentang keperawatan yang ia sebutkan sebagai keperawatan transkultural atau keperawatan etnik, Leininger menekankan aspek-aspek sebagai berikut : 1) Keperawatan sebagai seni keterampilan dan humanistik 2) Keperawatan berpusat pada individu 3) Tujuan dari keperawatan adalah untuk mempertahankan kesejahteraan, dan memberikan bantuan terhadap proses pemulihan dari suatu penyakit, sambil mempertimbangkan perbedaan budaya. Menurut Leininger, perbedaan budaya dapat dipertimbangkan dengan cara : 1) Preservasi Asuhan Kultural Preservasi asuhan kultural berarti bahwa keperawatan melibatkan penghargaan yang penuh terhadap pandangan budaya dan ritual pasien serta kerabatnya. 2) Adaptasi Asuhan Kultural Bertentangan dengan preservasi asuhan kultural, adaptasi asuhan kultural melibatkan negosiasi dengan pasien dan kerabatnya dalam rangka menyesuaikan pandangan dan ritual tertentu yang berkaitan dengan sehat, sakit, dan asuhan. 3) Rekonstruksi Asuhan Kultural

Rekonstruksi asuhan kultural melibatkan kerjasama dengan pasien dan kerabatnya dalam rangka membawa perubahan terhadap perilaku mereka yang berkaitan dengan sehat, sakit, dan asuhan dengan cara yang bermakna bagi mereka. Dalam model sunrice-nya, Leininger menampilkan visualisasi hubungan antara berbagai konsep yang signifikan ide pelayanan dan perawatan (yang dilihat dari Leininger sebagai bentuk dari asuhan) merupakan inti dari idenya tentang keperawatan. Memberikan asuhan merupakan jantung dari keperawatan dan merupakan karakteristik dasar dari keperawatan. Tindakan membantu diidentifikasi sebagai perilaku yang mendukung. Menurut Leininger, bantuan tersebut baru benar – benar efektif jika latarbelakang budaya pasien dipertimbangkan, dan bahwa perencanaan pemberian asuhan selalu dikaitkan dengan budaya. 3. Hubungan Teori Model Leininger dengan Konsep Caring Caring adalah bentuk perhatian kepada orang lain, berpusat kepada orang lain, menghargai harga diri dan kemanusiaan , berusaha mencegah terjadi suatu yang buruk, serta memberi perhatian dan cinta. Caring adalah suatu tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh,. Caring dalam keperawatan adalah fenomena transkultural dimana perawat berinteraksi dengan klien, staf dan kelompok lain. Sikap caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat baik. Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek bio-psiko-sosio-spiritual. Bersikap caring untuk klien dan bekerja bersama dengan klien dari berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan. Leininger menggunakan metode ethnomethods sebagai cara untuk melakukan pendekatan dalam mempelajari ”care” karena metode ini secara langsung menyentuh bagaimana cara pandang, kepercayaan dan pola hidup yang dinyatakan secara benar. Pada tahun 1960-an, Leininger mengembangkan metode ethnonursing untuk mempelajari fenomena keperawatan secara spesifik dan sistematik. Ethnonursing berfokus pada sistematika studi dan klasifikasi pelayanan keperawatan, nilai-nilai, praktik-praktik secara kognitif atau secara subjektif yang dikenal sebagai designated cultured ( atau cultural representatives) melalui bahasa lokal, pengalaman-pengalaman, keyakinan-keyakinan, dan sistem value tentang fenomena keperawatan yang aktual dan potensial seperti kesehatan dan faktor-faktor lingkungan. Walaupun keperawatan telah menggunakan kata-kata ”care” dan ”caring” untuk menggambarkan praktek keperawatannya selama lebih dari satu abad, definisi dan penggunaannya seringkali masih rancu dan hanyalah berbentuk klise tanpa ada pengertian yang spesifik bagi klien atau bahkan bagi perawat itu sendiri. „walau demikian, konsep caring adalah satu bahasan yang paling sedikit dimengerti dan dipelajari dari pada bidang ilmu pengetahuan dan area penelitian lainnya. Melalui definisi bahwa teori keperawatan transkultural dan ethnomethodes yang berfokus pada “emic” (insiders‟ views) seseorang dapat semakin dekat pada pengertian ”care” itu sendiri, karena ethnomethodes bersumber pada people-centered data dan tidak berasal dari opini peneliti tersebut (outsiders‟ views), kepercayaan dan prakteknya. Tujuan penting dari teori ini adalah bagaimana teori ini dapat mendokumentasikan, mengetahui, memprediksikan dan menjelaskan secara sistematis data dilapangan tentang fakta universal dan perbedaan yang ada terkait dengan

pelayanan professional, pelayanan secara umum dan pelayanan keperawatan. Tujuan secara umum teori keperwatan transkultural adalah untuk menentukan people‟s emic terhadap ”care” sesuai dengan keyakinan dan praktek pelayanan dan mempelajari sumber pengetahuan ini menggunakan persfektif etika keperawatan. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa ”care” adalah cocok dan masuk akal terhadap kebutuhan klien dan realita yang ada. Leininger meyakini bahwa “ perilaku caring dan praktiknya secara unik membedakan keperawatan terhadap kontribusi dari disiplin ilmu yang lain.” Alasan utama untuk mempelajari caring adalah : a. Konsep ”care” muncul secara kritis pada pertumbuhan manusia, perkembangan manusia, dan kemampuan bertahan pada makhluk hidup. b. Untuk secara eksplisit mengerti secara menyeluruh aturan-aturan pemberi pelayanan dan penerima pelayanan pada kultur yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan pelayanan secara kultural. c. ”Care” adalah studi untuk memenuhi kebutuhan yang esensial untuk proses penyembuhan, perbaikan dan untuk bertahan pada manusia dan kelompok sepanjang waktu. d. Profesi keperawatan telah mempelajari ”care” secara terbatas tetapi secara sistematis dari persfektif kultural dan telah melupakan aspek-aspek epistemology dan ontology yg berlandaskan pada pengetahuan keperawatan. Leininger menyatakan bahwa care adalah fenomena yang luas dan eklusive yang sering muncul pada pola hidup masyarakat yang dapat dijadikan landasan bagi perawat dalam menerapkan “care” pada terapi tertentu dalam rangka menjaga kondisi sehat, mencegah penyakit, proses penyembuhan dan membantu orang menghadapi kematian. Lebih lanjut lagi, perhatian utama pada thesisnya adalah jika seseorang mengerti secara keseluruhan mengenai kosep ”care”, orang tersebut dapat memprediksi kesejahteraan individu, keluarga dan kelompoknya. Jadi “care” menurut sudut pandang Leininger merupakan salah satu konsep yang paling kuat dan fenomena distinctive bagi keperawatan. Sebagaimana bentuk dan konsep care itu sendiri, sehingga harus benar-benar di dokumentasikan, dimengerti dan digunakan agar ”care” menjadi petunjuk utama bagi terapi keperawatan dan penjelasan tentang praktek-praktek keperawatan. Leininger (1991) telah mengembangkan bentuk yang relevan dengan teori tetapi hanya beberapa hal yang didefinisikan : a. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, dukungan atau perilaku lain yang berkaitan atau untuk individu lain / kelompok dengan kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia. b. Caring adalah tindakan yang diarahkan untuk membimbing, mendukung individu lain/kelompok dengan nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.

c. Kultur/Culture adalah berkenaan dengan mempelajari, membagi dan transmisi nilai, kepercayaan, norma dan praktik kehidupan dari sebuah kelompok yang dapat menjadi tuntunan dalam berfikir, mengambil keputusan, bertindak dan berbahasa. d. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang mana membimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu lain atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, meingkatkan kondisi kehidupan atau kematian serta keterbatasan. e. Nilai kultur berkenaan dengan pengambilan keputusan tentang suatu cara yang hendak dijalani sesuai dengan adat kebiasaan yang dipercayai dalam periode waktu tertentu. f. Perbedaan kulture dalam keperawatan adalah variasi dari pengertian, pola nilai atau simbol dari perawatan kesehatan untuk meningkatkan kondisi manusia, jalan kehidupan atau untuk kematian. g. Cultural care universality yaitu sesuatu hal yang sangat umum, seperti pemahaman terhadap nilai atau simbol dari pengaruh budaya terhadap kesehatan manusia. h. Ethnosentris adalah kepercayaan yang mana satu ide yang dimiliki, kepercayaan dan praktiknya lebih tinggi untuk culture yang lain. i. Cultural imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas culture lain karena mereka percaya bahwa ide mereka lebih tinggi dari pada kelompok lain. Leininger percaya bahwa tujuan teori ini adalah untuk memberikan pelayanan yang berbasis pada kultur. Dia percaya bahwa perawat harus bekerja dengan prinsip ”care” dan pemahaman yang dalam mengenai ”care” sehingga culture‟s care, nilai-nilai, keyakinan, dan pola hidup memberikan landasan yang realiabel dan akurat untuk perencanaan dan implementasi yang efektif terhadap pelayanan pada kultur tertentu. Dia meyakini bahwa seorang perawat tidak dapat memisahkan cara pandangan dunia, struktur sosial dan keyakinan kultur ( orang biasa dan profesional) terhadap kesehatan, kesejahteraan , sakit, atau pelayanan saat bekerja dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, karena faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lain. Struktur sosial seperti kepercayaan, politik, ekonomi dan kekeluargaaan adalah kekuatan signifikan yang berdampak pada ”care” dan mempengaruhi kesejahteraan dan kondisi sakit. 4. Hubungan Teori Model Leininger dengan Konsep Holism.

Holistic artinya menyeluruh. Perawat perlu melakukan asuhan keperawatan secara menyeluruh/ holistic care, hal ini dikarenakan objek keperawatan adalah manusia yang merupakan indivcidu yang utuh sehingga dengan asuhan keperawatan terhadap individu harus dilakukan secara menyeluruh dan holistic. Pada asuhan holistic maupun menyeluruh individu diperlakukan secara utuh sebagai individu/ manusia, perbedaan asuhan keperawatan menyeluruh berfokus memadukan berbagai praktek dan ilmu pengetahuan kedalam satu kesatuan asuhan. Sedangkan asuhan holistic berfokus pada memadukan sentiment kepedulian ( sentiment of care) dan praktek perawatan ke dalam hubungan

personal-profesional antara perawat dan pasien yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan pasien sebagai individu yang utuh. Leininger dengan teori modelnya telah dengan jelas memaparkan bahwa asuhan keperawatan yang diberikan pada klien atau kelompok harus mengikutsertakan individu/kelompok secara keseluruhan termasuk aspek bio-psiko-sosio-spiritual dengan menitikberatkan konsep terapi pada kondisi kultural klien. 5. Hubungan Teori Model Leininger dengan Konsep Humanism Filosofi (Watson 1979, 1989, 1988) mendefinisikan hasil dari aktifitas keperawatan yang berhubungan dengan aspek humanistic dari kehidupan. Tindakan keperawatan mengacu kepada pemahaman hubungan antara sehat, sakit dan perilaku manusia. Intervensi keperawatan diberikan dengan proses perawatan manusia. Perawatan manusia membutuhkan perawat yang memahami prilaku dan respon manusia terhadap masalah kesehatan yang aktual maupun yang potensial, kebutuhan manusia dan bagaimana cara berespon kepada orang lain dan memahami kekurangan dan kelebihan klien dan keluarganya, sekaligus pemahaman kepada dirinya sendiri. Selain itu perawat memberikan kenyamanan dan perhatian serta empati kepada klien dan keluarganya, asuhan keperawatan tergambar pada seluruh faktor-faktor yang digunakan oleh perawat dalam pemberian pelayanan keperawatan pada klien (Watson, 1987). Hubungan dari teori Leininger dan konsep humanism ini bahwa memberikan pelayanan kesehatan pada klien dengan memandang klien sebagai invidu sebagai personal lengkap dengan fungsinya. B. PROSES ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS Proses asuhan keperawatan dengan pendekatan teori keperawatan transkultural adalah sebagai berikut: 1. Pengkajian (assessment)

Sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien (individu, keluarga, kolompok, komunitas, lembaga) perawat terlebih dulu mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia (world view) tentang dimensi dan budaya serta struktur sosial yang berkembang di perbagai belahan dunia (secara global) maupun masyarakat dalam lingkup yang sempit. Dimensi budaya dan struktur sosial tersebut dipengaruhi oleh tujuh faktor, yaitu : teknologi, agama dan falsafah hidup, faktor sosial dan kekerabatan, nilai budaya dan gaya hidup, politik dan hukum, ekonomi dan pendidikan. 2. Rencana Tindakan Keperawatan (Intervensi)

Peran perawat pada transkultural nursing teory ini adalah menjembatani antara system perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan system perawatan professional melalui asuhan keperawatan. Eksistensi peran perawat digambarkan oleh Leininger seperti dibawah ini: Sistem Generik atau Tradisional Asuhan Keperawatan Sistem Profesional

Sumber : Tomey & Alligood, 1998 Oleh karena itu perawat harus mampu membuat keputusan dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan pada klien (individu, kelompok, keluarga, komunitas, lembaga) dengan mempertimbangkan generic carring dan professional carring. 3. Tindakan keperawatan ( Implementasi)

Tindakan keperawatan yang diberikan pada klien harus tetap memperhatikan 3 prinsip askep, yaitu : a) Culture care preservation/ maintenance Prinsip membantu, memfasilitasi atau memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya hidup yang di inginkan. b) Culture care accommodation/ negotiation Prinsip membantu, memfasilitasi atau memperhatikan budaya yang ada, yang merefleksikan caracara untuk beradaptasi, bernegosiasi atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup klien. c) Culture care repatterning/ restructuring Prinsip merekonstruksi atau mengubah desain untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien kearah yang lebih baik. 4. Evaluasi.

Hasil akhir yang diperoleh melalui pendekatan keperawatan transkultural pada asuhan keperawatan adalah tercapainya culture congruent nursing carry health and well being yaitu asuhan keperawatan yang kompeten berdasarkan budaya dan pengetahuan kesehatan yang sensitive, kreatif, serta caracara yang bermakna guna mencapai tingkat kesehatan dan kesejahteraan bagi klien. Tags: konsep keperawatan, maddeleine leininger, model konsep Comment Hello world! Filed Under: Uncategorized — ermadcaprio — 1 Comment03/15/2011 Welcome to Blog.com. This is your first post, produced automatically by Blog.com. You should edit or delete it, and then start blogging! Comment

Powered by Blog.com[ Back to top ]

Login Create Blog Random Blog Report Blog