You are on page 1of 10

Makalah Akuntansi Syariah Akad Mudharabah

Oleh: 1. 2. 3. 4. Chairul Setyawan Riski Oktavia Lestari Qurrotul Aini Yurista Pradana (108 694 244) (108 694 245) (108 694 256) (108 694 258)

S1 Akuntansi BB 2010 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya 2013

PENGERTIAN AKAD MUDHARABAH Mudharabah berasal dari kata addharbyfil ardhi yaitu bepergian untuk urusan dagang. Disebut juga qiradh yang berasal dari kata alqardhu yang berarti potongan, karena pemilik memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian keuntungan. Secara teknis mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara pemilik dana dan pengelola dana untuk melakukan kegiatan usaha, laba dibagi atas dasar nisbah bagi hasil menurut kesepakatan kedua belah pihak, sedangkan bila terjadi kerugian akan ditanggung oleh si pemilik dana kecuali disebabkan oleh misconduct, negligence, atau violation oleh pengelola dana. PSAK 105 par 8 memberikan beberapa contoh bentuk kelalaian pengelola dana, yaitu persyaratan yang ditentukan di dalam akad tidak dipenuhi, tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) tang lazim dan/atau yang telah ditentukan dalam akad, atau merupakan hasil keputusan dari institusi yang berwenang. Skema Mudharabah Pemilik Dana Akad Mudharabah

Pengelola Dana

Proyek Usaha

Modal dan Porsi Laba serta Rugi

Keuntungan/Keru gian

Porsi Laba

Apabila untung akan dibagi sesuai nisbah, apabila rugi ditanggung oleh Pemilik Dana

JENIS AKAD MUDHARABAH Dalam PSAK, mudharabah diklasifikasikan ke dalam 3 jenis yaitu:

1. Mudharabah Muthlaqah. Mudharabah di mana pemilik dananya memberikan kebebasan kepada pengelolah dana dalam pengelolaan investasinya. Mudharabah ini disebut juga investasi tidak terikat. 2. Mudharabah Muqayyadah. Mudharabah yang pemilik dananya memberikan batasan kepada pengelola dana mengenai lokasi, cara, dan atau objek investasi atau sektor usaha. 3. Mudharabah Musytarakah. Mudharabah yang pengelola dananya turut menyertakan modal atau dananya dalam kerja sama investasi. Ketentuan bagi hasil untuk akad jenis ini dapat dilakukan dengan 2 pendekatan (PSAK 105 par 34) yaitu: a. Hasil investasi dibagi antara pengelola dana dan pemilik dana sesuai nisbah yang disepakati, selanjutnya bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk pengelola dana tersebut dibagi antara pengelola dana (sebagai musytarik) dengan pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing; atau b. Hasil investasi dibagi antara pengelola dana (sebagai musytarik) dan pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing, selanjutnya bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk pengelola dana (sebagai musytarik) tersebut dibagi antara pengelola dana dengan pemilik dana sesuai dengan nisbah yang disepakati. Jika terjadi kerugian atas investasi, maka kerugian dibagi sesuai dengan porsi modal para musytarik.

DASAR SYARIAH Sumber Hukum Akad Mudharabah Menurut Ijmak Ulama, mudharabah hukumbya jaiz (boleh). Prinsip mudharabah sudah dipraktekkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Jenis bisnis ini sngat bermanfaat dan sangat selaras dengan prinsip dasar ajaran syariah, oleh karena itu masih tetap ada di dalam sisitem islam. 1. Al-Quran “Apabila telah diturunkan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bmi dan carilah karunia Allah SWT.” (QS 62:10) “….Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagia yang lain, hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah tuhannya…” (QS 2:283) 2. As-Sunah Dari Shalih bin Suaib r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan

mencampuradukkan dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah)

Rukun dan Ketentuan Syariah Akad Mudharabah Rukun mudharabah ada empat, yaitu: 1. Pelaku, terdiri atas: pemilik dana dan pengelola dana 2. Objek mudharabah, berupa: modal dan kerja 3. Ijab Kabul/Serah Terima 4. Nisbah Keuntungan

Berakhirnya Akad Mudharabah Akad mudharabah berakhir karena hal-hal berikut ini : 1. Dalm hal mudharabah tersebut dibatasi waktunya, maka mudharabah berkhir pada waktu yang telah ditentukan. 2. Salah satu pihak memundurkan diri 3. Salah satu pihak meninggal dunia 4. Pengelola dana tidak dapat menjalankan amanahnya 5. Modal sudah tidak ada.

PRINSIP PEMBAGIAN HASIL USAHA (PSAK 105 PAR 11) Dalam mudharabah istilah profit and loss sharing tidak tepat digunakan karena yang dibagi hanya keuntungannya saja (profit), tidak termasuk kerugiannya (loss). Sehingga untuk pembahasan selanjutnya, akan digunakan istilah prinsip bagi hasil seperti yang digunakan dalam undang-undang no 10 tahun 1998, karena apabila usaha tesebut gagal kerugian tidak dibagi di antara pemilik dana dan pengelola dana, tetapi harus ditanggung sendiri oleh pemilik dana. Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan pengakuan penghasilan usaha mudharabah dalam praktik dapat diketahui berdasarkan laporan bagi hasil atas realisasi penghasilan hasil usaha dari pengelola dana. Tidak diperkenankan mengakui pendapatan dari proyeksi hasil usaha. Untuk menghindari perselisihan dalam hal biaya yang dikeluarkan oleh

pengelola dana, dalam akad harus disepakati biaya-biaya apa saja yang dapat dikurangkan dari pendapatan. Contoh perhitungan pembagian hasil usaha : Data : Penjualan HPP laba kotor Biaya-biaya Laba (rugi) bersih Rp 1.000.000 Rp Rp 650.000 350.000

(Rp 250.000) Rp 100.000

1. Berdasarkan prinsip bagi laba (profit sharing), maka nisbah pemilik dana : pengelola dana = 30 : 70 Pemilik dana Pengelola dana : 30% x Rp 100.000 = Rp 30.000 : 70% x Rp 100.000 = Rp 70.000

Dasar pembagian hasil usaha adalah laba neto/laba bersih yaitu laba kotor dikurangi beban yang berkaitan dengan pengelolaan modal mudharabah. 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, maka dasar pembagian hasil usaha adalah laba bruto/laba kotor bukan pendapatan usaha dengan nisbah pemilik dana : pengelola dana = 10 :90 Jika akad mudharabah melebihi satu periode pelaporan, penghasilan usaha diakui dalam periode terjadinya hak bagi hasil sesuai nisbah yang disepakati (PSAk 105 par 20).

PERLAKUAN AKUNTANSI (PSAK 105) Akuntansi untuk pemilik dana 1. Dana mudahrabah yang disalurkan oleh pemilik dana diakui sebagai investasi mudharabah saat pembayaran kas atau penyerahan asset nonkas kepada pengelola dana 2. Pengakuan investasi mudharabah a. Investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan. b. Investasi mudharabah dalam bentuk asset nonkas diukur sebesar nilai wajar asset non-kas pada saat penyerahan 3. Penurunan nilai jika investasi mudharabah dalam bentuk asset nonkas :

a. Penurunan nilai sebelum usaha dimulai Jurnal : Dr. kerugian investasi mudharabah Kr. Investasi mudharabah b. Penurunan nilai setelah usaha dimulai Jurnal : Dr. kerugian investasi mudharabah Kr. Penyisihan investasi mudharabah Dr. kas Dr. penyisihan investasi mudharabah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx

Kr. Pendapatan bagi hasil mudharabah 4. Kerugian Jurnal : Dr. kerugian investasi mudharabah xxx

Kr. Penyisihan kerugian investasi mudharabbbah 5. Penyajian

xxx

Pemilik dana menyajikan investasi mudharabah dalam laporan keuangan sebesar nilai tercatat, yaitu nilai investasi mudharabah dikurangi penyisihan kerugian (jika ada) 6. Pengungkapan Pemilik dana mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi mudharabah, tetapi tidak terbatas pada : a. Isi kesepakatan utama usaha mudharabah b. Rincian jumlah investasi mudahrabh berdasarkan jenisnya c. Penyisihan kerugian investasi mudharabah selama periode berjalan d. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK no 101 tentang penyajian laporan keuangan syariah.

Akuntansi untuk pengelola dana 1. Dana yang diterima dari pemilik dana dalam akad mudharabah diakui sebagai dana syirkah temporer sebesar jumlah kas atau nilai wajar aset nonkas yang diterma. 2. Pengakuan dana syirkah temporer

Dana syirkah temporer diukur sebesar jumlah kas atau nilai wajar asset nonkas yang diterima. Jurnal : Dr. kas/asset nonkas Kr. Dana syirkah temporer xxx xxx

3. Penyaluran kembali dana syirkah temporer Dr. kas/piutang xxx xxx

Kr. Pendpatan yang belum dibagikan

4. Kerugian yang diakibatkan kesalahan atau kelalaian pengelola dana diakui sebagai pengelola dana. Jurnal : Dr. beban Kr. Utang lain-lain/kas 5. Di akhir akad. Jurnal : Dr. dana syirkah temporeer Kr.kas/asset nonkaas 6. Penyajian Pengelola dana menyajikan transaksi mudahrabah dalam laporan keuangan : a. Dana syirkah temporer dari pemilik dana disajikan sebesar nilai tercatatnya untuk setiap jenis mudharabah b. Bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah diperhitungkan tetapi belum diserahkan kepada pemilik dana disajiakn sebagai pos bagi hasil yang belum dibagikan sebagai kewajiban. 7. Pengungkapan Pengelola dana mengungkapkan transaksi mudharabah dalam laporan keuangan : a. Isi kesepakatan utama usaha mudharabah, seperti porsi dana, pembagian hasil usaha, aktivitas usaha mudahrabah, dan lain-lain b. Rincian dana syirkah temporer yang diterima berdsarkan jenisnya c. Penyaluran dana yang berasal dari mudharabah muqayadah. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK no 101 tentang penyajian laporan keuangan syariah. xxx xxx xxx xxx

ILUSTRASI PENCATATAN AKUNTANSI MUDHARABAH Pengukuran investasi mudharabah adalah sebagai berikut: a. investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang diberikan pada saat pembayaran. Pencatatan jurnalnya adalah sebagai berikut:

Pembiayaan Mudharabah Kas

xxx xxx

b. investasi mudharabah dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai wajar aset nonkas pada saat penyerahan. Ada beberapa kondisi yang harus diperhatikan, yaitu: 1. jika nilai wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya maka selisihnya diakui sebagai keuntungan tangguhan dan diamortisasi sesuai jangka waktu akad mudharabah. Maka pencatatannya adalah sebagai berikut:

Pembiayaan Mudharabah Kerugian Penurunan Nilai Aset Mudharabah

xxx xxx xxx

2. jika nilai wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya maka selisihnya diakui sebagai
keuntungan tangguhan dan diamortisasi sesuai jangka waktu akad mudharabah. Maka pencatatannya adalah sebagai berikut:

Pembiayaan Mudharabah Keuntungan Tanguhan Aset Mudharabah

xxx xxx xxx

Sedangkan untuk jurnal amortisasi nya adalah sebagai berikut:

Keuntungan Tangguhan

xxx

Keuntungan Mudharabah

xxx

3. Jika nilai investasi mudharabah turun sebelum usaha dimulai disebabkan rusak, hilang
atau faktor lain yang bukan kelalaian atau kesalahan pihak pengelola dana, maka penurunan nilai tersebut diakui sebagai kerugian dan mengurangi saldo investasi mudharabah. Maka pencatatannya adalah sebagai berikut:

Kerugian Pembiayaan Mudharabah Investasi Mudharabah

xxx xxx

4.

Jika sebagian investasi mudharabah hilang setelah dimulainya usaha bukan karena kelalaian atau kesalahan pengelola dana, maka kerugian tersebut diperhitungkan pada saat penerimaan bagian bagi hasil. Maka jurnal yang dibuat adalah:

Kas Kerugian Mudharabah

xxx xxx xxx

Pendapatan Bagi Hasil Mdhrbh

Untuk lebih jelas mengenai hal-hal diatas, ada baik nya melihat contoh ilustrasi berikut ini: 2/1/09 Bank Jaya menyerahkan uang sebagai realisasi akad Mudharabah kepada tuan A sebesar Rp 200 juta. 5/1/09 Bank Jaya menyerahkan aset non kas yang nilai bukuya sebesar Rp 120 juta sebagai realisasi akad Mudharabah kepada tuan B. Aset ini diakui dengan nilai pasar sebesar Rp 150 juta. 10/1/09 Bank Jaya menyerahkan aset non kas yang nilai bukuya sebesar Rp 200 juta sebagai realisasi akad Mudharabah kepada tuan B. Aset ini diakui dengan nilai pasar sebesar Rp 190 juta. 20/1/09 Diakui terjadinya penurunan nilai aset non kas mudharabah yang ada pada tuan B karena kerusakan (bukan karena kelalaian tuan B) sebesar Rp 3 juta 31/1/09 Tuan A melakukan pembayaran bagi hasil usaha kepada Bank Jaya sebesar Rp 2 juta

31/1/09

Tuan A Membayar cicilan pokok pembiayaan mudharabah kepada bank Jaya sebesar Rp 10 juta