You are on page 1of 73

TRAUMA THORAX

Oleh : Moh.sholeh 07700011

Kelainan akibat trauma toraks yang berbahaya dan mematikan
Obstruksi jalan napas atas Distress nafas

Flail chest
Tension pneumotoraks Hematothorax Kontusio paru Tamponade jantung

Obstruksi jalan napas atas
I.
• • • • • •

Gejala :
Suara serak (disfoni) sampai afoni Sesak napas (dispneu) Stridor (napas berbunyi) yang terdengar waktu inspirasi Gelisah karena pasien haus udara (air hunger) Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia Retraksi intercostal dan supra sternal akibat kontraksi otototot pernafasan tambahan

Penatalaksanaan: inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh. pasang collar-neck lakukan cricothyroidotomy atau tracheostomi atau intubasi (oral / nasal) .II. lakukan chin-lift dan jaw thrust. hilangkan benda atau cairan yang menghalangi jalan napas Lindungi tulang leher .

TRAKEOSTOMI I. • • Indikasi trakeostomi Obstruksi jalan nafas atas seperti laring Adanya ruang rugi (dead air space) di saluran nafas bagian atas seperti daerah rongga mulut. misalnya pada pasien dalam koma • . sekitar lidah dan faring Ada sekret dari bronkus pada pasien yang tidak dapat mengeluarkan sekret secara fisiologik.

pembersihan dan penggunaan lama . apabila tidak mempunyai fasilitas untuk bronkoskopi Cedera parah pada wajah dan leher • Pada pasien dengan pipa endotrakeal yang perlu pengantian.• • • Pemasangan respirator (alat bantu pernafasan) Ada benda asing dari subglotik.

trakeostomi yang dilakukan lebih dari 48 jam sebelum pembedahan definitif.II. menyebabkan insidens kekambuhan pada stoma bertambah . Kontraindikasi trakeostomi Satu-satunya kontraindikasi trakeostomi adalah pasien dengan obstruksi laring oleh tumor ganas. karena pada beberapa kasus.

yaitu pada tipe ini dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan trakeostomi mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator .III. Insisi dibuat di antara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang 4-5 cm. Jenis Tindakan Trakeostomi Surgical trakeostomi. Mini trakeostomi. yaitu tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam ruang operasi.

Percutaneous trakeostomi. yaitu tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit gawat darurat. maka penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar. Selain itu. kejadian timbulnya infeksi juga jauh lebih kecil. Dilakukan pembuatan lubang di antara cincing trakea satu dan dua atau dua dan tiga. Karena lubang yang dibuat lebih kecil. .

Alat-Alat untuk melakukan Tracheostomy .IV.

Jenis-Jenis Kanul • Flexible Shiley Tracheostomy Tube digunakan dan pada insersi Kanul ini pembedahan perkutaneus. Dapat dipakai untuk perawatan di rumah sehingga biaya perawatan tidak banyak dan waktu perawatan tidak lama . Terdiri dari dua kanul di mana kanul dalam yang dapat dipakai untuk pembedahan atau insersi perkutaneus.IV.

Cuff bervolume tinggi lebih bagus karena mencegah terjadinya stenosis. Cuff bervolume rendah bentuknya seperti balon. proteksi terhadap . sedangkan cuff bervolume tinggi bentuk seperti silinder. Fungsi kanul ber-cuff secara umum adalah membersihkan udara.Kanul Trakeostomi berCuff Kanul ini mempunyai balon dengan tekstur yang lembut dan pada bagian bawahnya berfungsi untuk ventilasi bila terjadi kegagalan pernapasan.

Kanul Trakeostomi non-Cuff Kanul ini berfungsi untuk membersihkan jalan napas tetapi tidak mencegah terjadinya aspirasi .

Kanul Trakeostomi bentuk Fenestrated Kanul seperti ini mempunyai lubang yang berfungsi untuk berbicara melalui jalan napas atas. Bentuk kanul seperti ini cocok untuk anak kecil. Plain Fenestrated Tube b. Cuffed Fenestrated Tub . Fungsi lain dari kanul ini adalah memberikan kemampuan kepada pasien untuk dapat bernapas secara normal ( persiapan dekanulasi ) a.

Bahu diganjal dengan bantalan kecil sehingga memudahkan kepala untuk diekstensikan pada persendian atalanto oksipital.V. Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea akan terletak di garis median dekat permukaan leher. Teknik trakeostomy • Posisi pasien berbaring terlentang dengan bagian kaki lebih rendah 30° untuk menurunkan tekanan vena sentral pada venavena leher. • • .

.

Obat anestetikum disuntikkan di pertengahan krikoid dengan fossa suprasternal secara infiltrasi. .Kulit leher dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik dan ditutup dengan kain steril.

Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari bawah krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kira-kira dua jari dari bawah krikoid orang dewasa. Sayatan jangan terlalu sempit. . dibuat kira-kira lima sentimeter.

.

Bila lapisan ini dan jaringan di bawahnya dibuka tepat di tengah maka trakea ini mudah ditemukan . kulit serta jaringan di bawahnya dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul sampai tampak trakea yang berupa pipa dengan susunan cincin tulang rawan yang berwarna putih.Dengan gunting panjang yang tumpul.

Sub kutis.Kutis. dan fasia otot dipisahkan lapis demi lapis .

Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat . Jika tidak mungkin. Sebelum klem ini dilepaskan isthmus tiroid diikat kedua tepinya dan disisihkan ke lateral.Pembuluh darah vena jugularis anterior yang tampak ditarik ke lateral. isthmus tiroid diklem pada dua tempat dan dipotong ditengahnya. Ismus tiroid yang ditemukan ditarik ke atas supaya cincin trakea jelas terlihat.

a. Aspirasi udara di trakea b. Membebaskan isthmus tyroid .

Buat stoma dengan memotong cincin trakea ke tiga dengan gunting yang tajam. Kemudian pasang kanul trakea dengan ukuran yang sesuai. Kanul difiksasi dengan tali pada leher pasien dan luka operasi ditutup dengan kasa .Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum pada membran antara cincin trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik.

Memotong isthmus tiroid b. Pemasangan Kanul .a.

Komplikasi trakeostomi

Segera : Henti nafas ( pada pasien dengan hipoksia kronik , Perdarahan hingga syok dan pneumothorax . Menengah : trakeitis atau trakeobronkoitis Lanjut :Stenosis saluran napas dapat timbul akibat jaringan parut setinggi lubang trakeostomi, Fistel trakeokutan yang menetap disebabkan oleh epitelisasi pada saluran kanul

• •

DISTRES NAFAS
akibat suplai oksigen tidak cukup

1. Frekwensi nafas meningkat (Nafas dangkal dan cepat ):

>25x/menit = Abnormal , Perlu oksigen >35x/menit = Gagal nafas , Perlu Oksigen dan persiapan nafas buatan
2. Gerak cuping hidung ( Flaring nostrils) 3. Gerak otot leher ( Trakeal tug ) 4. Gerak cekung otot intercosta ( Intrekking )

5. Sianosis ( Tanda lambat )

Tanda lainnya : - Nadi cepat , tekanan darah meningkat , aritmia - Gelisah atau coma

Atasi Pneumothorax .Beri nafas buatan ( ventilator ) . Bersihkan jalan nafas 4. Beri oksigen setinggi mungkin >60% 3.Terapi Distres nafas 1. Bebaskan jalan nafas 2. Jika cara diatas tidak menolong maka .

dan memiliki garis fraktur ≥ 2 (segmented) pada tiap iganya dapat tanpa atau dengan fraktur sternum.FLAIL CHEST Flail chest adalah area thoraks yang “melayang” (flail) oleh sebab adanya fraktur iga multipel berturutan ≥ 3 iga . Ventilasi menurun karena : nyeri dan gangguan gerakan nafas Waspada kontusio paru di belakang iga yang patah .

.

.

nafas buatan ( ventilator) selama 2 minggu ( gold standard ) Fisiotherapi .Penanganan Flail chest Beri oksigen . Intubasi Beri analgesia cukup Kurangi gerak kosta yang patah : Fiksasi pleister lebar dan dengan intubasi trachea .

Cara fiksasi pleister lebar memiliki keuntungan dan kerugian Keuntungan • • Kerugian • Nyeri berkurang Dapat dipakai dimana saja krn tidak semua RS punya ventilator Nafas mungkin tetap inadekuat dan terjadi retensi sputum karena sukar batuk Pneumonia juga bisa terjadi karena sputum yang retensi jadi terinfeksi • • Tidak perlu intubasi trachea Mengurangi resiko pneumonia karena ventilator • .

dsb) Gagal/sulit weaning ventilator Menghindari prolong ICU stay (indikasi relatif) Menghindari prolong hospital stay (indikasi relatif) Menghindari cacat permanen Tindakan operasi adalah dengan fiksasi fraktur iga sehingga tidak didapatkan lagi area "flail" .Indikasi Operasi (stabilisasi) pada flail chest: Bersamaan dengan Torakotomi karena sebab lain (cth: hematotoraks masif.

Tertutup .PNEUMOTHORAX Ada udara masuk cavum pleura yang normalnya kosong tidak berisi udara Diagnosis harus cepat ditegakkan atas tandatanda klinis (tidak menunggu foto xray ) Jenis pneumothorax : Terbuka . dan Tension .

Pneumothorax terbuka Terjadi akibat luka tusuk sehingga udara masuk ke cavum pleura Paru2 kolaps Pasien sesak .

Pneumothorax terbuka Selama luka masih terbuka . udara akan masuk dan keluar waktu inspirasi / ekspirasi melewati lubang tusukan tersebut . mediastinum tergeser kanan kiri sesuai nafas Luka harus segera ditutup .

Jika lubang tusukan ditutup maka tidak ada udara yang terhisap masuk sehingga sesak tidak bertambah berat .

tutup luka dan rekatkan plester ke 3 sisinya membuat jadi katub satu arah Waktu inspirasi udara tidak akan masuk karena tertahan plastik Waktu ekspirasi kelebihan udara akan keluar dari sela plastik • • .Cara menutup lubang tusukan : • Ambil plastik tipis .

Luka tusuk bisa bersifat menghisap ( sucking wound ) Sehingga udara masuk waktu inspirasi tetapi tidak keluar saat ekspirasi sehingga udara dalam pleura makin banyak . paru makin kolaps terjadi Tension pneumothorax Luka tusukan harus segera ditutup .

Luka tusuk yang melukai parenkim paru dan bronkus : Luka robek dinding dada dapat ditutup tetapi robekan bagian dalam tetap sehingga menyebabkan penimbunan udara setiap inspirasi Jika lubang tusukan ditutup pasien jadi semakin sesak terjadi tension pneumothorax • • Lubang luka tusuk harus dibuka lagi Lakukan needle Thoracosthomi ( NTS) .

Pneumothorax tension Kegawat daruratan yang mengancam jiwa : • • • Udara yang masuk ke kavum pleura bertambah naik tekanannya Jantung dan mediastinum terdesak Darah yang kembali ke jantung tertahan di vena cava terjadi shock Diagnosa ditegakkan secara klinis NTS harus segera dilakukan .

Hipotensi Vene leher distensi Deviasi trakea ke arah sisi yang sehat • • • Perkusi hipersonor di sisi yang sakit Gerak dada menurun di sisi yang sakit Suara nafas menurun di sisi yang sakit .Tanda Penumothorax tension • • • • Distress nafas Nadi cepat .

16 panjang 15 cm Pungsi di ICS 2 pada mid clavicular line Setelah ujung jarum masuk kulit .Needle Thoracostomy ( NTS ) Spuit 10-20 cc . Lepaskan piston Dorong spuit masuk sampai terasa jarum menembus selaput dan kehilangan tahanan Lihat apakah keluar gelembung udara dalam air . isi Aquadest / NaCL sampai penuh Gunakan jarum besar ukuran 14.

Jika pneumothorax ( + ) gelembung udara akan keluar Jika pneumothorax ( .) air akan terhisap ke dalam maka jarum harus segera ditarik Setelah needle thoracostomy menunjukkan pneumothoraks ( + ) WSD 1 botol pasang drain thorax untuk Pneumothora x .

WSD berfungsi baik jika nampak air naik turun dalam pipa Pasien nafas spontan : • Pasien dengan ventilator • Permukaan air dalam pipa akan naik pada waktu pasien inspirasi Permukaan air dalam pipa akan turun waktu pasien ekspirasi : bisa juga keluar gelembung jika masih ada pneumothoraks • Permukaan air pada pipa akan turun pada waktu ventilator inspirasi : bisa juga keluar gelembung jika masih ada pneumothoraks Permukaan air di dalam pipa akan rata pada waktu ventilator ekspirasi • .

Emfisema subcutis Terjadi akibat udara pneumothoraks tension yang mencari jalan keluar Penangan emfisema kulit bukan insisi pada kulit melainkan dengan cara mengatasi penyebab utamanya yaitu pneumothoraks .

tekanan nafas buatan terlalu tinggi Penatalaksanaan : Pasien diberi oksigen 60 – 100% jika sesak tidak bertambah kadang lubang pada alveoli tertutup sendiri Kalau sesak bertambah maka dicurigai terjadi Tension pneumothoraks segera NTS . Batuk terlalu keras .Pneumothorax tertutup Terjadi akibat alveoli pecah karena : TBC .

Sering pada trauma tembus dan menyebabkan shock hipovolemi Drain thoraks besar dapat mengeluarkan darah dan mengurangi perdarahan dinding dada sehingga paru bisa mengembang Pertimbangkan thorakotomi jika darah terus keluar lebih dari 200-300 ml/jam .Hematothoraks Definisi: Terakumulasinya darah pada rongga toraks akibat trauma tumpul atau tembus pada dada.

Hematothoraks dapat menyebabkan shock hipovolemik Perdarahan 1-2 liter Darah dalam rongga pleura mendesak paru ( paru kolaps ) sehingga sesak nafas Darah dalam mediastinum / pericard ( menghambat aliran darah vena masuk jantung ) terjadi shock kardiogenik / obstruktif dan sesak nafas .

WSD 2 botol untuk Hematothoraks Botol 1 untuk menampung darah Botol 2 untuk mengatur tekanan positif dalam pleura .

Pompa Continous Suction untuk hematothoraks Botol 1 untuk menampung darah Botol 2 untuk mengatur tekanan negatif dalam pleura (-20 cm ) .

) Drain thoraks buntu dan tekanan cavum pleura tidak ada Suction mati Ada kebocoran Drain thoraks berfungsi Tekanan cavum pleura ( + ) karena ada bronkopleural fistel Drain thoraks buntu dan ada kebocoran • .Apakah continous suction berfungsi baik ? Ada gelembung keluar di botol : • • • • • Tidak ada gelembung keluar di botol : • • • • Suction bekerja Tidak ada kebocoran Drain thoraks berfungsi Tekanan cavum pleura ( .

20cm ) Botol 3 water seal untuk pengamanan jika pompa hisap berhenti (-20cm) .Pompa Continous Suction untuk hematothoraks Botol 1 untuk menampung darah Botol 2 untuk mengatur tekanan negatif dalam pleura ( .

Fungsi WSD tidak efektif lagi (misal: adanya sumbatan. dan pengembangan paru maksimal. clot pada selang. dsb. dan undulasi negatif atau minimal.Indikasi pencabutan WSD Tercapai kondisi: produksi < 50 cc/hari selama 3 hari berturut-turut.) .

Kehilangan darah dengan cepat dibuktikan dengan darah dalam WSD >1500ml .Indikasi Cito Thorakostomi Eksplorasi Absolute : 1. Trauma tembus thoraks disertai cardiac arrest dengan ada bukti pemeriksaan penunjang yang nyata . Hipotensi BP <70 mmHg 2. Trauma tumpul thoraks dengan hipotensi BP < 70mmHg .

Trauma tumpul + thoraks injury dengan cardiac arrest dengan bukti pemeriksaan penunjang . Trauma tembus tanpa thoraks injury disertai cardiac arrest dengan bukti pemeriksaan penunjang 3.Indikasi Cito Thorakostomi Eksplorasi Relative : 1. Trauma tembus + thoraks injury disertai cardiac arrest tanpa ada bukti pemeriksaan penunjang 2.

Kontraindikasi Cito Thorakostomi Eksplorasi Trauma tumpul dengan cardiac arrest tanpa ada bukti pemeriksaan penunjang Trauma tumpul multiple CKB .

jatuh dari tempat yang tinggi dan luka tembak dengan peluru cepat (high velocity) maupun setelah trauma tumpul thoraks Dapat pula terjadi pada trauma tajam dengan mekanisme perdarahan dan edema parenkim. Penyulit ini sering terjadi pada trauma dada dan potensial menyebabkan kematian .KONTUSIO PARU Terjadi pada kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi.

takikardi. suara nafas berkurang atau tidak terdengar pada sisi kontusio patah tulang iga sianosis .Tanda dan gejala sesak nafas/dyspnea hipoksemia.

Patofisiologi kontusio/cedera jaringan → edema dan reaksi inflamasi → lung compliance ↓ → ventilationperfusion mismatch → hypoxia & work of breathing .

Diagnosis Foto xray toraks dan pemeriksaan lab (PaO2 ↓) Pulmonary Contusion Admission CXR Pulmonary Contusion 24 Hours .

Penatalaksanaan Tujuan: • • Mempertahankan oksigenasi Mencegah/mengurangi edema Tindakan : • • • • • • Bronchial toilet batasi pemberian cairan (iso/hipotonik) O2 pain control diuretika bila perlu ventilator dengan tekanan positif (PEEP > 5) .

trauma tembus.Tamponade Jantung Kompresi akut pada jantung yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah dari atau cairan dalam pericardium dari rupture jantung. atau efusi yang progresif .

quiet heart Pemeriksaan fisik • • • Luka penetrasi terhadap leher. . abdomen bagian atas Back triad signs Tachpnea • Tanda kusmaul : peningakatan tekanan vena pasa inspirasi saat nafas spontane. peningkatan CVP (distensi vena jugularis ) > 15cm .Manifestasi klinik & Pemeriksaan fisik Back triad : hipotensi. thoraks anterior/posterior.

• • Distensi vena jugularis tidak pada hipovolemia Pulsus paradoksus : tekanan darah sistolik menurun dengan inspirasi ( 10 mmHg atau lebih ) Tekanan nadi menurun Tachycardi. penurunan kesadaran. bibir sianosis. penurunan urine output. hepatomegali • • . kulit dingin dan pucat.

Foto thorax tamponade jantung Pembesaran bayangan jantung. gambaran jantung .

.Penatalaksanaan ABCD Perikardiosentesis : •Evakuasi cepat darah dari perikard merupakan indikasi bila dengan syok hemoragik tidak memberikan respon pada resusitasi cairan dan kemungkinan tamponade jantung. •Perikardiosentesis merupakan tindakan aspirasi efusi perikard atau pungsi perikard •Monitoring EKG untuk menunjukkan tertusuk nyamiokard (↑ voltase gelombang T atau terjadi disritmia).

.

membentuk sudut 450 dengan permukaan dinding dada. Jarum nomer 18-16 dihubungkan dengan spuit 2050 ml dihubungkan dengan pemantau EKG melalui alligator atau hemostat. Lakukan tindakan aseptic dan anestesi lokal 3. Pasien disandarkan pada sandaran dengan sudut 45° sehingga memungkinkan jantung ke posterior menjauhi dinding thorax. Arahkan jarum ke postero sepalad.Perikardiosintesis 1. 2. dengan prokain 2% atau xilokain 2%. .

Apabila cairan perikard kental. 6. Apabila tidak diperoleh cairan yang mengalir. jarum ditarik perlahanlahan dan ditusuk kembali kearah lain atau lebih . Tusukan jarum 2-4 cm sampai terasa tahanan lapisan perikard 5. akan timbul elevasi segmen ST (injury) dan ekstra sistol ventrikel dengan amplitude tinggi. dapat di pakai trokar yang lebih besar. Bila jarum pungsi menembus perikard dan kontak dengan otot jantung. maka jarum pungsi harus ditarik sedikit dan di arahkan ke tempat lain.4. Bila hal ini terjadi.

Setelah selesai. kasar atau pemindahan arah tusukan secara kasar. cabut jarum dan pasang perban di atas tempat pungsi. 10. 9. . Kateter vena sentral dapat dipasangkan melalui jarum tersebut dan dibiarkan di tempat yang memungkinkan tindakan aspirasi periodic untuk mencegah pengumpulan cairan kembali.8. 11. Perubahan arah tusukan harus dilakukan secara perlahan tepi konstan sambil diisap secara kontinyu. Hindarkan tusukan yang tiba-tiba.