P. 1
Run for My Love

Run for My Love

|Views: 2|Likes:
this is our story, and he wrote this :)
this is our story, and he wrote this :)

More info:

Published by: Nony Hardianti Putri Syarief on Oct 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/25/2014

pdf

text

original

Run for My Love

Wed, May 19 2010
Pagi yang sangat cerah. Bangun pagi badan ku terasa segar, sudah tak sabar menunggu nanti sore pukul 17.00, aku akan bergegas berangkat ke LCCT, salah satu bandara yang ada di Kuala Lumpur. Jadwal take off pukul 19.00, perjalanan 1 jam paling lama, jadi masi ada waktu 1 jam buat cek in. Apalagi kalau bukan ke Jakarta buat bertemu Mimoo, orang yang aku sayangi setelah Orang Tua.. Perut terasa lapar, aku melangkah menuju cik dah, sebuah rumah makan dekat rumah untuk sarapan. Untung sebagian barang udah aku pack ke dalam tas ala backpacker tadi malam, jadi sisanya tinggal di susun sebentar saja. Tumben persiapan ku kali ini sangat matang. Tiba-tiba datang sms “bro,, jam 10.30 aq slese kelas, aq pulang jemput kau tapi g’ masuk rumah,, kita lngsung brangkat”. Sms dari Hurairah ternyata,teman serumah ku. Aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Hurairah buat beli oleh-oleh untuk Mimoo. Kami sudah membahas pembelian oleh-oleh tersebut tadi malam. Suara motor Hurairah terdengar cempreng sampai di kamar atas rumah tercinta. Kami tinggal di rumah Sekre, tempat dimana mahasiswa dan mahasiswi berkumpul untuk melakukan kegiatan rutin. Aku segera turun kebawah dan langsung pergi. It’s shopping time! Hurairah mengajakku ke suatu tempat yang katanya bagus buat oleh-oleh muda-mudi yang sedang falling in love. Aku ikut saja di bonceng dengan motor bersuara cempreng yang banyak jasanya bagi kami. “sbentar,, aq nukar duit dulu ya ke money changer, coz duit ringgit aq hampir abis bro” aku berkata kepada Hurairah sambil membuka dompet. “oke bro,, kita tukar di dekat toko yg mau kita datangin aja”, dia menjawab. Setelah ringgit lumayan menebal di dompet, aku dan Hurairah langsung bergerak ke toko tersebut, disekitar Metro Kajang, seperti plaza yang tak jauh dari rumah kami. Aku membeli beberapa barang untuk Mimoo tersayang. Kemudian kami mampir di giant untuk mmbeli coklat, makanan dan minuman lain nya. “Waduuh,, banyak juga blanjaan kita bro”, aku berkata kepada Hurairah. “iya, serasa pulang pakai taksi,, padahal pake motor,, hehe” dia menjawab sambil tertawa. Kami berhati-hati pulang dengan tangan penuh blanjaan. Bagaikan seorang pembalap bertubuh ramping, Hurairah memacu kencang

motornya dan nyalip kiri kanan melewati celah-celah kecil. Kami makan dulu di R.M. minang Singgalang Indah, tak seberapa jauh dari rumah, karena perut sudah seperti main drum, berbunyi keras. Waktu terus berjalan, menunjukan pukul 13.00 siang. Aku menelefon Ani, teman kampusku yang dititipin mobil oleh Bang Riki, teman serumahku karena Bang Riki pulang ke Indonesia. Aku minta tolong Ani mengantarkan aku ke bandara LCCT pukul 17.00 sore. “deq,, ntar bisa antar abg ke bndara g’? jam 5 an” aku bicara pada Ani d telefon. “oke bg bisa,, masi lama lagi tu” Ani menjawab. Tak lama kemudian, adzan Dzuhur berkumandang, aku segera Sholat. Kemudian packing lagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Aku menimbang barang bawaan. “pas,, g’ lebih dari 7 kg” aku berkata sendiri. Aku tidak mengambil bagasi, hanya kabin. Di dalam Kabin, barang bawaan tidak boleh melebihi 7 kg. Aku terbang memakai pesawat Air Asia yang sudah aku booking kira-kira dua minggu sebelumnya. Tak lama aku menelefon Ani lagi. Aku: “deq udah jam 2,, ntar antar abg y jam 5”. Ani: “sip bg,, tapi adeq blanja dulu sebentar ke testco”. Aku: “oke lah, g’ apa”. Ani: “adeq g’ brani pergi sendirian ke bndara”. Aku: “iya,, ntar di temani bg Fajar”. Ani: “okeh”. Kemudian aku menelefon Bang Fajar yang ketika itu berada di kampus dan mengkonfirmasikan semuanya. Bang Fajar banyak membantu dalam perjalan ini, mulai dari memakai CIMB clicks nya dia untuk membooking tiket karena CIMB clicks punyaku lupa password nya, menemani aku dalam urusan transportasi, dan lainnya. Tak jarang juga dia membuat aku kesal dengan guyonan-guyonan nya yang tak jelas di rumah. At least, he is a good boy. Detik di jam pun terus berputar, menunjukan angka 3, berarti sudah pukul 15.00. Aku bingung apa yang mau dilakukan, semua sudah beres. Tidak

pernah se-siap ini ketika aku ingin berangkat. Aku mulai melakukan hal-hal bodoh. Mulai dari mencari cincin kesayangan yang lumayan lama menghilang dari permukaan bumi, membuat status di FB, Twitter, dan BBM. Mulai menguap merasa ngantuk, suntuk sendiri. Tidak terasa sudah pukul 17.00, Bang Fajar datang dari kampus on time. Aku langsung menelefon Ani. Aku: “deq,, dmn? Jemput abg sekarang”. Ani: “masi di testco bg, ntar lg”. Aku: “loh, abg kira adeq udah blanja dr jam 2 td”. Ani: “blum bg,, itu baru siap2”. Aku: “y udah cepetan y,, ntar telat”. Ani: “oke bg, bisa, ni udah di kasir mau bayar”. Aku berfikir, dari testco kajang ke rumah sekitar 15 menit paling lama, perjalanan ke LCCT kalau melaju dengan kencang sekitar 45 menit. Paling tidak sampai di sana pukul 18.00 ataupun lewat 5 menit, masi bisa cek in. Beberapa kali aku menelefon Ani, dia menjawab hal yang sama “iya bg,, sebentar lagi, ni udah di jalan”. Aku bingung jalan yang mana di tempuh sampai selama itu. Beberapa kali aku menelefon Ani, tetapi teman nya bernama Mira yang menjawab, ternyata mereka belanja ber dua. Mira adalah teman dekat Ani. Gawat, sudah pukul 17.20, ada yang tidak beres. aku mulai panik, berdiskusi dengan Bang Fajar dan Hurairah sambil menunggu di depan rumah. Aku: “bg,, gmn nii udh jam 5.20,, sempat g’ y??” Fajar: “g’ tau bro,, kita sewa mobil aja gmn??” Aku: “udh tanggung bg,, prosedurnya lama juga”. Hurairah: “gmn kalo naek taksi aja?” Aku: “jalan ke bawahnya,, nunggu n stopin taksinya,, lama juga bro”. Hurairah: “kalo g’ bisa ya bilang g’ bisa, g’usah menyanggupi”. Aku: “iya, dia menyanggupi, kalo g’ bisa dr awal, biar aku naek taksi ja”.

Fajar: “udh tunggu ja. lain kali selektif cari kawan bro,, yg tnggung jwb n bisa dipercaya”. Aku: “iya bg”. Waktu sudah menunjukan jam 17.40 sore, sudah berkali-kali aku menelefon dan sms Ani. Akhirnya mereka datang juga. Aku sempat berdebat dengan Bang Fajar tentang siapa yang akan membawa mobil ke bandara. Akhirnya dengan berat hati Bang Fajar menyerahkan kemudi ku kendalikan. Semua barang dimasukan, Hurairah menutup rumah, kami langsung tancap gas. Kami melewati kampus tercinta, gawat, jalanan macet, jam pulang kerja. Ditambah lagi bensin mobil yang benar-benar sedikit, jarum fuel nya mendekati huruf E, alias empty. Otak ku terus berputar, dengan jantung yang deg-degan. Bang Fajar sering kali berkata “hati2 bro,, awas,, kalo kayak gini biar lah abg yg bawa mobil” dan aku selalu mengulang kata “maaf bg” berkali-kali. Aku berspekulasi, tidak ingin mengisi bensin di depan kampus karena jalan nya memutar, memerlukan waktu beberapa menit. Aku tau setiap menitnya sangat berharga. Jadi aku putuskan untuk mengisi bensin di pom bensin dekat bandara. Beberapa kali mobil kehilangan tenaga saat tanjakan,, aku takut kalau-kalau ternyata bensin habis. Jalan demi jalan kami lewati, tak jarang lampu merah kami terobos. Ada dua pilihan jalan yang akan kami lewati. Yang pertama, jalannya lebih dekat tapi berbelok2 ibarat kelok ampek-ampek (44) di SumBar, melewati pasar. Dan yang kedua, jalannya agak jauh tapi lurus ibarat jalan mau ke Bangkinang di Riau. Aku dalam kebingungan, dilema, banyak hal yang aku fikirkan secara bersamaan. Saat itu aku langsung membuat keputusan memilih jalan yang agak jauh, tapi lurus dan sepi agar bisa ngebut. Akhirnya bandara sudah dekat. Tiba-tiba gas mobil kosong, “gawaaat, sampai g’ y di pom bensin?” Aku bertanya dalam hati. Ternyata sampai. Bang Fajar berlari meninggalkan aku di balik kemudi, menuju konter pembelian bensin. Ani keluar memasukan selang kedalam tanki mobil untuk mengisikan bensin. Sementara Mira hanya diam di kursi belakang. Setelah perjalan panjang melelahkan yang kami lalui yang memakan waktu hampir satu jam, aku tiba di LCCT pukul 18.40. Berlari menuju konter cek in dgn nafas ngos-ngosan ditemani Bang Fajar. Tapi apa yang terjadi?? Bisakah aku berangkat hari ini ke Jakarta untuk bertemu kekasih?? To be continued . . .

Sesampainya di konter cek in Air Asia, aku berkata dengan logat melayu “kak saya nak cek in flight yg ke jakarta pukul 7, masi boleh?” lalu dia berkata ”kejap ya, saya tengok dulu”. Beberapa saat aku menunggu sambil mengambil nafas menenangkan diri. “dah tak boleh lah, ngapa awak datang lewat sangat?” “tayar kereta bocor” aku memberi alasan. Tayar kereta dalam bahasa Indonesia nya adalah ban mobil, sedangkan boleh diartikan bisa dan awak adalah kamu. Aku: “tolong lah kak,, macam mana caranya tu,, tak boleh di usahakan lagi?” Kakak: “saya memang tak boleh, cuba awak cakap dengan encik yang ada dekat ujung sana”. Aku: “oke kak,, makasiih”. Tanpa panjang lebar aku segera berlari ke konter ujung, tempat seorang bapak berparas sangar, tinggi besar dan berkulit hitam, dia keturunan India. Encik di artikan pak, kata sapaan dalam bahasa Malaysia. Sedangkan pak cik berarti paman atau om. Aku: “encik, saya nak cek in flight ke jakarta pukul 7 ni masi boleh?” Encik: “ngapa awak lewat sangat datang?” Aku: “tayar bocor encik, tak dapat di elakkan”.

Encik: “tunggu sekejap, saya nak tengok system online”. “mana tiket dan passport awak tu?” Aku: “ini encik” (sambil memberikan tiket n passport). Dengan nafas yang semeraut, jantung berdebar, tangan dingin, muka pucat, aku menungu dan menungu. Jam di tangan menunjukkan pukul 18.50, 10 menit lagi pesawat akan lepas landas. “Sempat g’ y?” aku berbicara dalam hati. Encik: “dah tak boleh laa, system dah di tutup,, maaf saya tak dapat tolong”. Aku: “ada tak sesiapa yg dapat saya jumpai yg boleh mengatasi masaalah ini?” Encik: “tak ada, semua sama, tak dapat menolong, semua dalam system”. Fajar: “ada keperluan keluarga encik,, apa solusi yg terbaek?” Encik: “yg flight malam ada, nak tak? Pukul 20.30”. Fajar: “brapa harganya?” Encik: (sambil mengotak-atik komputer yang berada di mejanya) “325 ringgit”. (Itu sudah termasuk airport tax tanpa bagasi). Otak ku mulai berfikir keras, termenung seperti orang autis, berbicara dalam hati “mahal bgt,, hampir sama dengan harga tiket yg aku booking untuk PP skitar 2 minggu yg lalu. Kalau aku beli, uang jajan aku di sana akan sangat berkurang”. Aku: “nanti lah, saya fikirkan dulu”. Encik: “oke tak apa”. Aku: “oke, makasiih”. Wajah ku murung, terasa sesak di dada, pusing di kepala. Ada yang memanggil namaku samar-samar, ternyata Bang Fajar. Padahal hanya beberapa langkah di sebelah ku, tapi terdengar sangat jauh. “bro,, kau tak apa2 kan? Duduk dulu”. Bang Fajar menggandengku sambil mencari tempat duduk di pinggir tempat menunggu untuk menenangkan diri. Aku mengambil handphone di dalam saku celana. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari mama n mimoo. Soalnya di perjalan sampai bandara, aku sengaja tak mengangkat handphone yang berbunyi. Cuma sekali aku

menganggkat, pas isi bensin, mimoo yang menelefon. Aq berfikir untuk menelpon mama dahulu, tetapi dalam hati aku bicara ”nanti aja bilang ke mama, biar kondisi terkendali dulu”. Aku langsung menelefon mimoo. Aku: “moo,, aq ktinggalan pesawat”. Mimoo: “trus gmn tu? Qmu g’ apa2?” Aku: “g’ pa2 kuq, g’ ush cemas”. Mimoo: “trus, jadi qmu ke sini?” Aku: “masi bingung, ambil tiket yg ntar malam ato aku pulang aja ke rumah?” “book dr internet lagi, cari2 yg hrganya murah”. Mimoo: “terserah qmu,, yg penting qmu nya g’ apa2. jgn terlalu d paksain”. “Qmu hati2 y. Kalo ada apa2 langsung telpon aku”. Aku: “iya sayang”. Dari suaranya aku tau kalo dia sangat sedih, mungkin hampir menangis. Dia sangat mengharapkan kedatanganku, dia sangat rindu. Begitu juga dengan aku. Maklum lah, kami baru jadian, dan selama jadian belum pernah bertemu. Hanya saja dia pernah datang ke Kuala Lumpur dan jalan2 dengan aku, tetapi status saat itu masi teman. Beberapa menit aku duduk, kepala dan jantung sudah agak tenang. Aku mulai bertanya ke Bang Fajar. Aku: “jadi gmn bg? Beli yg jam 8.30 aja?” Fajar: “terserah bro, kalau ada uang ya beli aja”. Aku: “kalo cash g’ ada bg, kita ke atm dulu ya”. Fajar: “ya udah, ayok”. Tak jauh dari tempat kami duduk, ada ATM central bandara. Antrian yang cukup panjang. Para bule-bule yang datang dari belahan bumi bagian barat ingin mengambil uang dalam bentuk Ringgit, mereka senang belanja di kawasan Asia karena perbedaan kurs mata uang yang lumayan. Giliran ku tiba, kartu ATM yang biasa aku gunakan tiba-tiba tak bisa di baca oleh mesin. “sial,, knapa niih? Knapa saat darurat atm malah bermasalah”. Aku menggumam sendiri. Lalu aku pindah ke ATM sebelah, Bank yang berbeda. Antri lagi dari awal. Tiba giliran ku, ternyata berhasil, kartu dan bukti transaksi keluar. Mesin untuk mengeluarkan uang terus berbunyi, memproses uang yang akan dikeluarkan. Lama aku menunggu, tapi ternyata

uang yang di dalam mesin ATM habis, tak cukup. OUT OF SERVICE, tertera besar di layar. Kesabaran ku benar-benar di uji. Sekali lagi aku berpindah ke ATM sebelah, dengan Bank yang berbeda lagi. Tak seberapa lama mengantri, karena ini bukan Bank yang besar. Kembali giliran ku. Pada saat aku mengambil, tertera tulisan INSUFFICIENTS FUNDS yang berarti uang tidak mencukupi. Itu artinya ATM sebelah tadi telah memotong uang tabungan ku, padahal uang nya tidak keluar. “Ya Allah, pertanda apaa ni? g’ bolehkah aq brangkat hari ni??” teriak ku di dalam hati. Kesal, marah, bingung, putus asa, perasaan ku bercampur aduk saat itu. Kemudian Bang Fajar menyarankan aku untuk pulang saja, berfikir baik-baik di rumah. Aku tak tau harus berbuat apa, aku mengikuti saja. Kami lalu ke mobil, Ani dan Mira sudah menunggu. Di dalam perjalanan aku hanya diam, tak ada satu kata maaf pun kluar dari mulut mereka, tidak ada rasa bersalah dan menyesal. Kemudian setelah beberapa menit, Bang Fajar menghidupkan radio di mobil, mencoba mencairkan suasana. Sesekali aku mulai bernyanyi, mulai agak tenang. Sesampainya di rumah, perut terasa lapar. Ternyata Hurairah tidak ada di rumah, dia makan bersama Bang Irul di cafe Arabic dengan menu khas ayam tandori. Cafe tersebut tak jauh dari rumah. Aku dan Bang Fajar menyusul ke sana. Sesampainya di sana, “welcome to jakarta bro” aku di sambut dengan kata sindiran Hurairah. Disusul perkataan Bang Irul “kata2 abg pahit bro, tetapi kenyataan lebih pahit” yang keluar dari mulut Bang Irul itu terasa benar bagiku. Bang Irul adalah senior yang sebentar lagi menyelesaikan S2. Dia sering mengejekku, dengan maksud memberi motivasi. Tapi tak jarang juga ejekan nya benar-benar dengan maksud menjatuhkanku. Aku menelefon mama, memberitahukan bahwa aku ketinggalan pesawat. Mama menasehatiku panjang lebar dengan nada marah. Setelah menelefon mama, beberapa kali aku smsan dengan mimoo. Setelah makan, aku pulang dan langsung tidur dengan badan yang kelelahan. Apa yang akan terjadi padaku keesokan paginya?? Dapatkah aku membeli tiket pesawat ke Jakarta?? Nantikan chapter terakhir RUN FOR MY LOVE. . .

Thursday, May 20 2010
Pagi ini cuaca mendung, semendung hatiku. Berbeda dengan cuaca kemaren yang cerah. Aku langsung buka laptop dan online, mencari-cari tiket yang murah, ternyata tidak ada yang murah, semua sama, sekitaran sejuta lebih. Aku: “bg,, g’ da yang murah tiketnya”.

Fajar: “tak pa lah bro,, beli aja,, pake aja uang abg dulu”. “Nanti kalo uang yg tak keluar kemaren udah di urus, baru ganti”. Aku: “oke bg”. Aku langsung membooking tiket dari internet, ternyata tidak bisa. “apalagi sih masalahnya?” aku berbicara keras dalam kamar. Kemudian aku menelepon agen tiket Air Asia yang kebetulan adalah senior aku di kampus, namanya Bang Andi. Aku: “bg, bisa book tiket g’ air asia hari ini untuk jam 7 sore?” Andi: “waah,, g’ bisa bro, sehari sebelum pnerbangan harus beli di konter”. Aku: “owh iya,, maaf bg lupa,, hehe.. ya udah de,, makasi bg”. Andi: “oke,, sama2”. Aku lupa kalau 24 jam sebelum penerbangan, tiket tidak bisa di book dari internet, harus datang langsung ke konter. Aku bertekat untuk pergi sendiri, memakai angkutan umum. Aku tidak mau terlambat lagi, entah kenapa menunggu satu hari ini bagaikan menunggu satu bulan. Setelah mandi, sarapan dan siap2, aku ke kampus bersama Bang Fajar menggunakan motornya. Bang Fajar setiap hari ke kampus kecuali sabtu dan minggu, karena dia adalah lecturer assistant. Kami mampir di ATM center dalam kampus, kemudian Bang Fajar memberiku pinjaman uang untuk bayar tiket, dan aku berjanji mengganti secepatnya setelah uang yang tidak keluar di ATM kemaren berhasil dikembalikan. Setelah makan siang di kantin kampus, sekitar puku 14.00, Bang Fajar mengantar ku ke station komuter (kereta api) UKM. Stasiun ini berada di sekitar kampus ku. Tapi, dalam perjalanan kami kehujanan. Bang Fajar hanya memiliki satu jas hujan. Kami berhenti sejenak untuk memasang jas hujan ke badan Bang Fajar. Aku hanya bersembunyi di belakang jas hujan, walaupun akhirnya baju, celana, dan tas lumayan basah. Perjalan di mulai. dari kampus UKM aku pakai komuter menuju KL central, tempat semua angkutan umum berkumpul. Mulai dari komuter, monorel, bus, dan taksi. Tubuh kedinginan, karena AC dalam komuter menerpa tubuhku yang kebasahan. Menit demi menit ku lalui, butuh waktu sekitar 40 menit dari UKM untuk sampai ke KL central. Setelah sampai di KL central, aku menaiki bus yang menuju bandara LLCT. Butuh waktu skitar satu jam 30 menit dari KL central ke LCCT dengan bus.

Sebenarnya banyak alternative yang lebih dekat yang bisa di lalui untuk ke LCCT, tetapi aku tidak tau naik apa ke sananya, aku tidak mau mengambil resiko tersesat. Macet sangat panjang, jam nya orang-orang di KL pulang kerja. Sambil melihat jam aq berkata “waduuh udah jam 5,, macet bgt. sepertinya g’ kan terkejar nih naek pesawat yg jam 7.” Sesampainya di bandara sekitar pukul 18.30. Aku langsung menuju konter Air Asia untuk mmbeli tiket, berharap masi sempat buat penerbangan pukul 19.00 Aku: “kak, beli tiket ke Jakarta untuk pukul 7 masi boleh?” Kakak: “dah tak boleh. yg pukul 8.30 ada,, nak tak?” Aku: “berapa harganya?” Kakak: “315 ringgit”. Aku: “oke kak”. (sambil menyerahkan uang dan passport) Akhirnya tiket berangkat sudah di tangan, dan langsung cek in. Aku sholat magrib di surau bandara sebelum masuk ke ruang tunggu. Setelah selesai sholat, aku memasuki ruang tunggu, duduk menunggu take off. Hal yang seharusnya sudah ku lakukan kemaren. Sesekali aku menelpon mama dan mimoo. Sambil mendengarkan lagu di handphone menggunakan headset, aku teringat kejadian-kejadian yang kualami dari kemaren sampai hari ini. Mulai dari telat di jemput, macet, bensin hampir habis, bingung milih jalan yang mana, dan ketinggalan pesawat, juga ATM yg tak bisa di ambil. Kemudian perjuangan basah-basahan naik angkutan umum, sehingga sampailah di sini. Benar-benar melelahkan. Semuanya aku lakukan hanya untuk dia seorang. InsyaAllah 2 jam lagi aq akan bertemu mimoo dan teman nya di bandara, mereka yg mnjemput. Ini lah akhir perjuangan ku untuk bertemu kekasih. Sesampainya di Jakarta, pukul 23.30 waktu Malaysia atau 22.30 waktu Indonesia bagian barat. Antrian panjang buat ngecap passport karena aku tiba bersamaan dengan pesawat yang mengangkut TKI dari Arab Saudi. Lama mengantri, akhirnya giliranku tiba. Setelah slesai proses imigrasi dan scan barang, aku berusaha mencari pintu keluar. Sudah lama aku tidak ke Jakarta, lebih dari 5 tahun. Apalagi sekarang situasinya aku sendirian dan datang dari luar negeri. Aku tidak mau bertanya, karena di Jakarta mudah di tipu orang.

Bermodalkan feeling, akhirnya aku sampai juga di pintu keluar. Sesampainya di luar, Mimoo bersama 2 sahabatnya melambaikan tangan. Bahagia yang tak bisa di ungkapkan, setelah beberapa bulan tak bertemu, dan sekarang bertemu dengan status pacaran :’) Terima kasih buat teman2 yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini :)

By : Muhammad Ardani

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->