2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian terdahulu Mikroalga telah lama diketahui bermanfaat sebagai bahan pangan, terutama makanan kesehatan. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mendukung pemanfaatan mikroalga tersebut, salah satunya yaitu penelitian Poelman et al. (1997) tentang pemisahan mikroalga dengan teknik flokulasi elektrik. Teknik flokulasi elektrik ini memberikan hasil yang potensial dalam melakukan pemisahan mikroalga yaitu menggunakan energi yang relatif kecil (0.3 Kwh/m3) dengan efisiensi pemisahan sebesar 95% menggunakan anoda dan katoda dari aluminium pada pH ±8, selain itu mikroalga hasil pemisahan relatif aman untuk dimanfaatkan sebagai pakan ataupun bahan pangan. Mikroalga umumnya dapat tumbuh di perairan manapun, namun beberapa faktor dapat berpengaruh misalnya jenis perairan sebagai media tumbuh mikroalga dan komposisi kimia yang terkandung didalamnya. Menurut Knuckey et al. (2006), produksi mikroalga laut dengan teknik flokulasi berhasil dilakukan pada pH 10 dan 10,6 dengan menggunakan NaOH, diikuti dengan penambahan polimer non-ionik magnafloc LT-25 dengan konsentrasi akhir 0.5 mg/L, sel mikroalga yang berhasil dipanen yaitu Calcitrans chaetoceros, C. Muelleri, Thalassiosira pseudonana, Attheya septentrionalis, Nitzschia closterium,

Skeletonema sp., Tetraselmis suecica dan Salina Rhodomonas, dengan efisiensi 80%. Pemanfaatan mikroalga sebagai sumber minyak pada pembuatan biofuel mendapat perhatian yang cukup besar dari para peneliti, sehingga dilakukan penelitian terkait dengan proses kultivasi, pemisahan sampai dengan proses ekstraksi minyak sehingga dapat dimaanfaatkan sebagai biofuel nabati. Osborne (2009), telah mengidentifikasi proses pemisahan mikroalga yang terbaik sehingga dapat dimanfaatkan untuk produksi biofuel, serta

mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan dari aplikasi proses-proses tersebut. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa komposisi kimia dari air yang digunakan berpengaruh pada tiap tahapan proses yaitu:

karbondioksida. 3) Pada proses elektrokoagulasi didapatkan hasil pemisahan >70% menggunakan reaktor titanium yang beroperasi <1 A pada 48 volt dengan penambahan NaCl. 4) Ozonisasi pada konsentrasi 1. Scenedesmus sp. Mikroalga dapat tumbuh dalam jangkauan kondisi yang cukup luas.5. hal ini menunjukkan pentingnya peranan kalsium dan magnesium. . dan air. yaitu sinar matahari.1) Pemisahan mikroalga dengan proses flokulasi menggunakan chitosan memerlukan dosis 10 mg/L di air tawar dan dosis 25-35 mg/L di air laut. alum 600 mg/L untuk limbah sintetik dan 400 mg/L untuk limbah riil. Berdasarkan penelitian ini maka diketahui beberapa hal yaitu: 1) Limbah cair RPH dan peternakan berpotesi untuk digunakan sebagai media pertumbuhan mikroalga. yaitu melakukan karakterisasi pertumbuhan mikroalga dalam limbah cair agroindustri melalui penentuan nilai-nilai parameter kinetik pertumbuhan. (b) Untuk memisahkan mikroalga air laut diperlukan penambahan natrium hidroksida pada pH 10-11. Limbah cair agroindustri terutama limbah cair RPH dan peternakan dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi mikroalga karena limbah cair tersebut kaya akan nutrisi yang mendukung pertumbuhan mikroalga. 3) Pertumbuhan eksponensial mikroalga dalam medium tersebut terjadi dalam kurun waktu 10-15 hari. setelah 15 hari akan terjadi fase kematian. dengan kata lain mikroalga dapat tumbuh dimana saja. dan Ankistrodesmus sp baik untuk limbah cair riil maupun limbah cair sintetik. 2) Menggunakan metode autoflokulasi diperoleh hasil: (a) Untuk memisahkan mikroalga air tawar diperlukan kapur dan penambahan air laut (5%) pada pH 9.5 mg/L dapat meningkatkan proses pemisahan dengan koagulasi/flokulasi menggunakan besi klorida (ferric chloride). Mikroalga membutuhkan tiga komponen dasar untuk berkembang biak. 2) Hasil identifikasi terdapat tiga jenis mikroalga dominan yaitu Chlorella sp. 4) Penggunaan koagulan/flokulan yang optimum berdasarkan kajian Jar Test yaitu. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Suprihatin (2009). dan perancangan proses dan sistem produksi mikroalga.

(2010) telah membandingkan efisiensi penggunaan koagulan kimia (FeCl3 dan Fe2(SO4)3) dengan flokulan polimer (Drewfloc 447.sedangkan dosis optimum PAC 400 mg/L untuk limbah sintetik dan 200 mg/L untuk limbah cair RPH. 6) Koagulan PAC memberikan efek kecepatan dan kestabilan koagulasi/flokulasi yang lebih baik daripada koagulan alum.1 Produksi Mikroalga Mikroalga merupakan kelompok tumbuhan berukuran renik. Penelitian ini memberikan hasil bahwa mikroalga dapat dipisahkan menggunakan elektroda aluminium dengan tegangan optimum 15 volt selama 40 menit.2. 5) Kualitas supernatan cukup baik dilihat dari parameter kekeruhan. dan memungkinkan untuk didaur-ulang untuk keperluan tertentu. Flocudex CS/5000. sedangkan koagulan kimia membutuhkan dosis 150250 mg/L untuk menghasilkan biomassa dengan jumlah yang sama. warna. . Flocusol CM/78. Mikroalga yang akan dipisahkan ditumbuhkan pada limbah cair RPH dan limbah cair sintetik menggunakan proses elektrokoagulasi. dan TSS.98% untuk limbah cair sintetik (dilihat dari nilai TSS). namun biaya pemisahan per satuan volume sekitar 4 kali lebih mahal dibandingkan dengan biaya pemisahan dengan alum. 7) Koagulasi menggunakan PAC dihasilkan endapan berwarna tetap hijau. de Godos et al. Efisiensi pemisahan mikroalga tertinggi yang dapat dicapai adalah 51. sedangkan menggunakan alum dihasilkan endapan berwarna abu-abu Penggunaan limbah sebagai media pertumbuhan mikroalga juga diteliti oleh Afriyanti (2011). baik sel tunggal maupun koloni yang hidup di seluruh wilayah perairan air tawar dan laut dan lazim disebut fitoplankton. Hasil yang didapatkan yaitu penggunaan flokulan polimer memberikan hasil yang lebih efisien dalam pemisahan mikroalga (menghasilkan biomassa 66-98%) yaitu dengan dosis 25-50 mg/L. 2.55% untuk limbah cair peternakan dan 28. Chemifloc CV/300 dan Chitosan) pada proses koagulasi untuk pemisahan mikroalga.2 Teori yang mendasari 2. Pemisahan mikroalga yang cukup banyak diterapkan adalah dengan menggunakan teknik koagulasi. Makanan utama mikroalga ialah karbondioksida.

enam divisi telah digunakan untuk keperluan budidaya perikanan sebagai pakan alami. Dari delapan divisi alga. Bentuk dan ukuran wadah kultur ini berhubungan dengan sistem sirkulasi. Mikroalga mengandung beberapa zat gizi yang berguna bagi kesehatan manusia yaitu protein.Mikroalga saat ini menjadi salah satu alternatif sumber energi baru yang sangat potensial. Penggunaan peralatan dalam melakukan kultivasi mikroalga perlu diperhatikan karena terdapat perbedaan bentuk dan ukuran dari peralatanperalatan kultur yang dapat digunakan. asam lemak tak jenuh Omega-3. Kegiatan kultivasi tumbuhan produsen primer ini menghemat ruang (save space). memiliki efisiensi dan efektivitas tinggi salah satunya karena mampu tumbuh cepat dan dipanen dalam waktu singkat yaitu 7-10 hari. Kandungan lemak (lipid) dan asam lemak (fatty acid) yang ada di dalam mikroalga merupakan sumber energi. Eikosa-pentaenoat (EPA) serta Dokosaheksaenoat (DHA). pigmen. pengoperasian. 2010). dan khususnya untuk mengoptimalkan agar wadah kultur dapat . zooplankton ( rotifera. Karakteristik yang digunakan untuk membedakan divisi mikroalga yaitu: tipe jaringan sel. vitamin. yaitu dari wadah yang berbentuk tabung sampai kantong plastik atau drum plastik transparan. dapnia. dan jenis pigmen sel. Disamping itu mikroalga juga digunakan sebagai green water technology yaitu penstabil kualitas air (Frikardo 2008). Sel mikroalga dapat dibagi menjadi 10 divisi. pencahayaan. Jenis mikroalga yang sudah sangat luas pemanfaatannya adalah Chlorella yang mengandung protein sekitar 40-60% (berat kering). ada tidaknya flagella. tipe komponen fotosintesa. dan diduga dapat menghasilkan energi yang belum digali dan dimanfaatkan sepenuhnya (Kawaroe et al. beberapa spesies udang (pada tahap awal hingga tahap akhir) serta beberapa spesies ikan ( pada tahap awal pertumbuhan juvenil). delapan divisi diantaranya merupakan bentuk uniseluler. antara lain sebagai bahan obatobatan. Peranan mikroalga dalam kehidupan perairan yaitu berfungsi sebagai sumber makanan dan nutrsi bagi moluska dan bivalvial. artemia). Karakteristik lain yang digunakan untuk membedakan masing-masing divisi yaitu morfologi sel dan bagaimana sifat sel yang menempel berbentuk koloni/ filamen (Frikardo 2008). aerasi. Pemanfaatan mikroalga telah dikenal luas. Kandungan ini dihasilkan dari proses fotosintesis yang merupakan hidrokarbon. lemak.

Kultivasi mikroalga skala sedang biasanya menggunakan ukuran 10 liter sampai 500 liter yang ditempatkan pada kondisi indoor kultur. 2010). Peralatan dan perlengkapan kultur lainnya disediakan dengan kebutuhan yang diperlukan. Kultivasi mikroalga skala besar umumnya dilakukan di luar laboratorium dan dimulai dari volume satu sampai 20 ton dengan menggunakan kolam terbuka atau fotobioreaktor dengan sistem tertutup dan terkontrol. Untuk menjaga keseimbangan tekanan gas didalam tabung kultur tersebut pada tutupnya ditambahkan satu lubang untuk dimasuki pipa gelas dengan diameter 0. gelas atau polycarbonate yang transparan tembus cahaya lampu flourescent bulb neon. Metode kultur batch klasik pada prinsipnya adalah menginokulasi bibit sel kedalam tabung kultur dengan kepadatan sel mikroalga yang rendah. sistem pengolahan air kultur dan unit ukuran ruangan kecil maupun stok kultur bibit murni jenis mikroalga yang menjadi tujuan kultur (Frikardo 2008). kultur modifikasi batch dan kultur semi kontinu. Bentuk wadah kultur pada umumnya berbentuk tabung dilengkapi penutup yang diletakakan berderet sejajar horizontal maupun vertikal untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi cahaya lampu. Metode yang kedua yaitu kultur . Bahan wadah terbuat dari palstik.5 cm. Penggunaan air sebagai media tumbuh dilakukan dengan penyaringan menggunakan saringan pasir dan arang yang berfungsi untuk mematikan organisme lain yang tidak diinginkan (Kawaroe et al. warna transparan tembus cahaya dan mempunyai tutup tabung (Frikardo 2008). Bentuk wadah kultur yang ideal adalah bentuk silinder lonjong dengan bentuk dasar rata atau konkav. blower aerasi. Pada kultivasi skala kecil yang umumnya digunakan untuk pakan kultivan di aquarium. wadah kultur bisa menggunakan botol bening atau botol coca cola plastik. seperti batu aerasi. Terdapat 3 metode kultivasi yang umum digunakan yaitu kultur batch klasik.menghasilkan jumlah sel yang tinggi per satuan volume media kultur yang digunakan. pipa aerasi. Penggunaan di laboratorium biasanya menggunakan tabung erlenmeyer dengan bagian bawah datar dengan ukuran mulai dari volume 50 ml sampai dengan tiga liter yang diberi tutup tabung yang terbuat dari busa silikon atau silikon padat yang diberi lubang untuk memasukkan selang aerasi. komponen zar penyubur/ pupuk.

Pengembangan metode ini mempunyai kelemahan yaitu kontrol yang rendah dan biasanya menghasilkan produk kultur mikroalga yang rendah daripada kultur yang dilakukan dengan pembersihan peralatan terlebih dahulu sebelum setiap wadah kultur itu digunakan lagi. Metode kultivasi yang ketiga yaitu kultur semi kontinu. Darah dan . Kultur dengan volume 500 ml di erlenmeyer flask ini akan digunakan sebagai stok kultur untuk delapan hari kultur yang akan datang.2. Metode ini barangkali mempunyai tujuan untuk menghasilkan produksi sel mikroalga secara kontinyu persatuan unit volume. sedangkan volume kultur satu liter setelah delapan hari kultur dipindahkan ke kultur alga (20 liter) didalam Carboy dan delapan hari kultur berikutnya dari 20 liter Carboy dipindahkan ke 200-320 liter tabung silinder untuk dikultur lima sampai delapan hari kultur. bukan untuk mendapatkan produksi sel mikroalga yang lebih tinggi per satuan volume dalam periode waktu tertentu. Metode ini cukup praktis dan mempunyai tingkat keberhasilan yang cukup baik. (Frikardo 2008). padatan tersuspensi.2 Limbah Cair RPH dan Peternakan Limbah cair RPH mengandung bahan organik dengan konsentrasi tinggi. protein. Metode ini biasanya digunakan untuk mendesain kultur skala kecil yang sering digunakan untuk keperluan rumah tangga maupun untuk keperluan hobi sampai ukuran kultur masal. sisanya 100 ml ditambahkan air steril yang sudah disaring dan nutrien sebanyak 400 ml. kondisi kultur akan terlihat sudah cukup tua (kepadatan berkisar 105 – 106 sel /ml) dan selanjutnya kultur akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian pertama dan kedua masing-masing 200 ml dimasukkan kedalam erlenmeyer flask volume satu liter. Kultur yang dikultivasi pada tabung silinder ini akan digunakan untuk pakan zooplankton atau untuk larva ikan dan udang. 2. Sumber terbesar dari limbah cair RPH berasal dari darah dan isi perut.modifikasi batch pada prinsipnya adalah pengaturan kultur mikroalga sebanyak 500 ml di dalam erlenmeyer flask yang dilakukan setiap hari. Demikian proses yang terjadi di dalam proses modifikasi kultur batch yang dapat dilakukan secara indoor namun mendapatkan volume dan kualitas hasil kultur yang terprediksi (Frikardo 2008). Setelah dipelihara selama delapan hari. serta bahan koloid seperti lemak. dan selulosa.

Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein. dan . di samping bau yang sangat menyengat. Prasetyo & Padmono 1993). sedangkan isi perut dan usus akan meningkatkan jumlah TSS. vitamin. Menurut Juheini dan Sakryanu (1999). Adanya pencemaran oleh limbah peternakan sapi sering menimbulkan berbagai protes dari kalangan masyarakat sekitarnya. limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (air seni atau urine. sebanyak 56. Soehadji (1992) menyebutkan bahwa limbah peternakan adalah semua buangan dari usaha peternakan yang bersifat padat. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah cair RPH ini akan berdampak pada kualitas fisik air yaitu warna. air pencucian alat-alat). seperti penggunaan suplemen pada pakan. Pengelolaan limbah yang kurang baik akan menjadi masalah serius. sisa pakan. Salah satu upaya untuk mengurangi limbah adalah mengintegrasikan usaha tersebut dengan beberapa usaha lainnya. budidaya padi sawah.2. terutama rasa gatal ketika menggunakan air sungai yang tercemar.pencucian karkas akan memberikan dampak meningkatnya nilai BOD dan TSS.67% peternak sapi perah membuang limbah ke badan sungai tanpa pengelolaan. sedimentasi. usaha pembuatan kompos. Teknik-teknik seperti filtrasi. serta pemanfaatan sebagai media tumbuh mikroalga. mikroba atau biota. bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). TSS dan pH serta meningkatnya BOD dan menurunkan kandungan oksigen yang terlarut dalam air (Sanjaya et al. budidaya ikan. cair dan gas. Pencemaran ini disebabkan oleh aktivitas peternakan. dan zat-zat yang lain (unidentified subtances) (Sihombing 2002). urine. mineral.3 Pemisahan Mikroalga Pemisahan mikroalga merupakan faktor utama yang harus diatasi dalam tujuan penggunaan mikroalga. sebaliknya bila limbah ini dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah. dan air sisa pembersihan ternak dan kandang (Charles & Hariono 1991. 2. sehingga terjadi pencemaran lingkungan. 1996). terutama berasal dari limbah yang dikeluarkan oleh ternak yaitu feses. sehingga menjadi suatu sistem yang saling sinergis. lemak.

2011). Langkah ini membutuhkan energi lebih besar daripada pemisahan massal (Brennan & Owende 2010. (2003) menyimpulkan bahwa sentrifugasi adalah metode yang banyak dipilih untuk pemisahan mikroalga dalam jumlah besar. Teknik-teknik ini dapat dikombinasikan. Filtrasi dapat dilakukan di dalam tekanan atau vakum jika ukuran mikroalga tidak mendekati ukuran bakteri. Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam limbah cair dengan gaya gravitasi. flotasi. seperti densitas. dan teknik elektroforesis (Uduman et al. melalui metode ini. Chen et al. pada umumnya sedimentasi dilakukan setelah . Pemisahan massal. apabila flokulasi dilakukan sebelum filtrasi. sedimentasi. flotasi. atau sedimentasi gravitasi (Brennan & Owende 2010. dan waktu tinggal dari cell slurry. maka efisiensi filtrasi yang dihasilkan akan meningkat (Rahman 2010). ukuran. nilai produk yang diinginkan (Brennan & Owende 2010. 2011). Metode ini memiliki kebutuhan energi yang paling besar dibandingkan dengan metode yang lainnya (Rahman 2010). 2011). untuk menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi (Rahman 2010). Efisiensi pemisahan mikroalga adalah faktor yang sangat penting untuk produksi massal mikroalga. Proses pemisahan mikroalga secara umum dapat dibagi menjadi dua tahap: 1. Chen et al.sentrifugasi telah digunakan untuk pemisahan mikroalga. 2. Kebanyakan mikroalga dapat dipisahkan menggunakan sentrifugasi. tergantung pada ukuran mikroalga dan kualitas produk yang diinginkan. Pembentukan konsentrat lumpur dengan filtrasi dan sentrifugasi. filtrasi. teknik yang digunakan adalah flokulasi. Pemilihan teknik pemisahan tergantung pada sifat-sifat mikroalga. flokulasi. pengaturan kedalaman. tujuan dari tahapan ini adalah untuk memisahkan biomassa mikroalga dari suspensi massal. Chen et al. Efisiensi dari metode ini bergantung pada jenis mikroalga yang digunakan. Sentrifugasi pada skala laboratorium dilakukan pada kolam limbah dengan debit limbah 500-1000 dan memberikan hasil sekitar 80-90% mikroalga selama 2-5 menit. Filter mikro (biasanya berukuran 25-20 μm) dapat digunakan untuk spesies spirulina. 2010. Teknik-teknik utama saat ini diterapkan dalam pemisahan mikroalga yaitu sentrifugasi. Grima et al. materi padatan total bisa mencapai 2-7%. Chen et al. 2011).

Suatu saat benda akan mempunyai percepatan sama dengan nol dan kecepatan konstan yang disebut keecepatan sedimentasi. maka benda tersebut tidak hanya mendapatkan gaya apung melainkan juga mendapatkan gaya yang berlawanan dengan gerak benda karena cairan tersebut memiliki kekentalan. densitas dan viskositas cairan. Kecepatan benda yang jatuh tersebut akan terus bertambah dan memberikan gaya Stokes yang semakin membesar dan percepatan semakin berkurang. silicon derivatif. bahan kimia yang banyak digunakan adalah aluminum sulphate (alum). dan polimer sintetik organik (Rahman 2010). kapur. Apabila sebuah benda jatuh di permukaan air dan kemudian tenggelam. 1). Koagulasi kimia Koagulasi kimia dilakukan untuk menghasilkan densitas massa mikroalga yang lebih mudah untuk dipindahkan. poly aluminum chloride (PAC).2. Kecepatan pengendapan partikel dipengaruhi oleh ukuran partikel. Koagulasi terjadi karena destabilisasi koloid dengan menetralkan muatan sehingga membuat partikel tetap terpisah. dimana kationik memberikan muatan listrik positif untuk mengurangi muatan negatif dari koloid sehingga mengakibatkan partikel-partikel bertabrakan untuk membentuk partikel yang lebih besar. sedangkan flokulasi akan membentuk partikel yang lebih besar dari partikel yang dibentuk dari koagulasi (Rahman 2010). Dengan demikian koagulasi menyiratkan pembentukan agregat kompak yang lebih kecil. Proses koagulasi ini bertujuan untuk memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat mengendap dalam waktu yang lebih singkat (Rahayu 2009).4 Koagulasi Koagulasi merupakan proses dimana partikel terdispersi dikumpulkan bersama untuk membentuk partikel yang lebih besar. sodium aluminat.proses koagulasi dan flokulasi. . Hubungan antara variabel massa jenis fliuda ρF. jari-jari benda r dan kecepatan sedimentasi vT adalah: 2. massa jenis benda ρB. Dalam koagulasi kimia. ferrous sulphate.

PAC mempunyai daya koagulasi lebih besar daripada alum dan dapat menghasilkan flok yang stabil walaupun pada suhu yang rendah dan pengerjaannya pun mudah (Alaerts 1984). Jumlah lumpur yang dihasilkan lebih sedikit . Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari PAC antara lain: a. Salah satu kekurangannya flok yang terjadi lebih ringan dibanding flok koagulan garam besi dan selang pH lebih sempit yaitu 5. Al2(SO4)3.menghasilkan Aluminium Hidroksida Dengan adanya hidroksida aluminium yang bermuatan positip maka akan terjadi tarik menarik antara partikel koloid yang bermuatan negatif dengan partikel aluminium hidroksida sehingga terbentuk gumpalan partikel yang makin lama makin besar dan berat serta cepat mengendap.5 (Tchobanoglous & Franklin 2003).18H2O + 3 Na2CO3 + 3H2O Al2(SO4)3.18. Jika alkalinitas air tidak cukup untuk dapat bereaksi dengan Alum.18H2O + 6NaOH 2Al(OH)3 + 3 CaSO4 + 6 CO2 + 18 H2O Endapan 2Al(OH)3 + CaSO4 + 18 H2O Endapan 2Al(OH)3 +3Na2SO4+3CO2+18H2O Endapan 2Al(OH)3 + 3 Na2SO4 + 3CO2 + 18 H2O Endapan Alum diproduksi dalam bentuk padatan atau cairan.Garam Aluminium Sulfat (Alum).H2O + 3 Ca(OH)2 Al2(SO4)3. Poly Aluminium Chloride (PAC) merupakan bentuk polimerisasi kondensasi dari garam aluminium. zat anorganik. bakteri dan mikro organisme yang lain dapat bersama-sama membentuk gumpalan partikel atau flok yang akan mengendap bersama-sama. Al2(SO4)3. Banyak dipakai karena harganya relatif murah dan efektif untuk mengolah air dengan kekeruhan yang tinggi dan baik dipakai bersama-sama dengan zat koagulan pembantu. Efektif pada rentang pH 5-10 b. Dibandingkan dengan garam besi Alum tidak menimbulkan pengotoran yang serius pada dinding bak.wordpress.18H2O jika ditambahkan dalam air dengan mudah akan larut dan bereaksi dengan HCO3.5 – 8.com/feed/). maka dapat ditambahkan kapur atau soda abu agar reaksi dapat berjalan dengan baik (http://smk3ae. Selain itu juga partikel zat organik tersuspensi.18H2O + 3 Ca(HCO3)2 Al2(SO4)3. berbentuk cair dan merupakan koagulan yang sangat baik.

Koagulasi elektrik Proses koagulasi elektrik mengacu pada pemisahan mikroalga dengan medan listrik tanpa menggunakan kogulan. Ferro Sulfat kurang sesuai untuk menghilangkan warna akan tetapi sangat baik untuk pengolahan air yang mempunyai alkalinitas. seperti koagulan berbasis besi atau aluminium. FeSO4. Penambahan koagulan. Pada koagulasi menggunakan anaorganik flokulan seperti aluminium atau iron salt. namun masih ada kemungkinan biomassa yang dihasilkan terkontaminasi oleh koagulan. seperti yang dilakukan pada penelitian untuk pemanenan Scenedesmus dan Chlorella melalui netralisasi muatan. proses pemisahan mikroalga dapat dilakukan pada pH yang cukup rendah. Menurut Rohman (2009).c.Harga PAC lebih murah dibandingkan dengan koagulan organik sehinggamenghemat biaya Ferro Sulfat diproduksi dalam bentuk kristal bewarna hijau atau butiran untuk pembubuhan kering dengan kandungan FeSO4 kira-kira 55 %. 2). Efek koagulasi 2-3 kali lebih cepat dari garam-garam aluminium lainnya e. Ferro Sulfat lebih murah dibanding Alum tetapi pengolahan air dengan menggunakan Ferro Sulfat memperbesar kesadahan air (http://smk3ae. 2003). Kekurangan dari metode ini adalah biaya pengadaan bahan kimia yang digunakan cukup tinggi sehingga perlu kombinasi dengan metode lain (Grima et al. kekeruhan dan DO yang 18 tinggi. prinsip dasar dari elektrokoagulasi adalah reaksi reduksi dan oksidasi (redoks). Dalam . Biasanya digunakan bersama-sama dengan kapur untuk menaikan pH sehingga ion Ferro terendapkan dalam bentuk Feri hidroksida Fe(OH)3. Kondisi pH yang sesuai antara 9 – 11.7H2O + Ca(OH)2 4 Fe(OH)2 + O2 + 2H2O Fe(OH)2 + CaSO4 + 7 H2O 4Fe(OH)3 Endapan Menurut komposisi kimianya terdapat dua klasifikasi utama koagulan: (a) anorganik flokulan dan (b) organik flokulan.wordpress. akan menetralisir atau mengurangi muatan permukaan. Efek korosi yang ditimbulkan jauh lebih kecil d. sedangkan menggunakan organik koagulan seperti chitosan kemungkinan kontaminasi akan terhindar karena menggunakan bahan yang biodegradabel.com/feed/).

Interaksi yang terjadi di dalam larutan yaitu: (1) migrasi menuju muatan elektroda yang berlawanan (elektroforesis) dan netralisasi muatan. hal ini menunjukkan pentingnya peranan kalsium dan magnesium. Osborne (2009).33 kWh/m3. (2) kation atau ion hidroksil membentuk endapan dengan pengotor.5. pemaparan yang lama di bawah sinar matahari dengan suplai CO2 yang terbatas akan membantu proses Flokulasi spontan sel mikroalga . Apabila dalam suatu elektrolit ditempatkan dua elektroda dan dialiri arus listrik searah. akibat konsumsi CO2 hasil fotosintesis dengan alga (Sukenik & Shelef 1984). sedangkan reduksi terjadi di elektroda yaitu katoda (-). dengan agitasi mikroalga juga dapat diendapkan. dimana ion positif (kation) bergerak ke katoda dan menerima elektron yang direduksi dan ion negatif (anion) bergerak ke anoda dan menyerahkan elektron yang dioksidasi. maka akan terjadi peristiwa elektrokimia yaitu gejala dekomposisi elektrolit. (3) interaksi kation logam dengan ion OH. Mikroalga awalnya akan mengapung karena keterikatan pada hidrogen dan gelembung gas oksigen. Oleh karena itu. yang berfungsi sebagai larutan elektrolit. Percobaan laboratorium juga mengungkapkan Flokulasi spontan dapat dilakukan dengan menambahkan NaOH untuk mencapai nilai-nilai pH tertentu.membentuk sebuah hidroksida dengan sifat adsorpsi yang tinggi selanjutnya berikatan dengan polutan. 3). namun. Penelitian menunjukkan bahwa 90% biomassa dapat dihasilkan dengan waktu pemanenan 35 menit dan konsumsi energi 0. (4) oksidasi polutan sehingga sifat toksiknya berkurang (Holt et al. telah melakukan penelitian dalam hal pemisahan mikroalga untuk produksi biofuel dan didapatkan hasil (a) Untuk memisahkan alga air tawar diperlukan kapur dan penambahan air laut (5%) pada pH 9. Yang terlibat dalam reaksi Koagulasi elektrik selain elektroda yaitu air yang diolah. 2002). Flokulasi spontan Flokulasi spontan terjadi sebagai akibat dari pengendapan garam karbonat dengan sel mikroalga pada pH tinggi. 1997). peristiwa oksidasi terjadi di elektroda yaitu anoda (+).suatu sel koagulasi elektrik. selain itu juga dihasilkan bahwa untuk menghasilkan biomassa sebesar 90% dapat dicapai dengan perlakuan 15 dan 10 volt dan 15 dan 20 menit dari waktu pemisahan (Poelman et al. (b) .

Untuk memisahkan alga air laut diperlukan penambahan natrium hidroksida pada pH 10-11 menggunakan kalsium dan magnesium dengan dosis yang tinggi 2. Variabel bebas bisa terdiri dari X1.2. diasumsikan merupakan variabel acak (random variable). Secara umum persamaan metode permukaan respon dapat dituliskan sebagai Y = f (X1. dimana variabel bebas itu diasumsikan merupakan variabel kontinyu dan dapat dikendalikan oleh peneliti tanpa kesalahan.5 Optimasi dengan Metode Permukaan Respon Metode permukaan respon adalah suatu kumpulan dari teknik-teknik statistika dan matematika yang berguna untuk menganalisis permasalahan tentang beberapa variabel bebas yang mempengaruhi variabel tak bebas atau respon. X2. variabel akan didefinisikan sebagai X. Pada metode permukaan respon kebanyakan masalah adalah menggunakan salah satu model polinomial dari fungsi Y = 0 + 1X1 + 2X2 + … + kXk +  yang merupakan model polinomial ordo satu sebagai tahap awal. pembahasan dalam metode permukaan respon. Menurut Gasperz (1995). Menentukan level dari variabel input yang akan meghasilkan respon yang optimal (Dekker & Petersen 1985). Xk dengan Y sebagai variabel tak bebas atau variabel respon yang diduga sebagian atau seluruhnya merupakan respon dari X1. 2. Xk). serta bertujuan untuk mengoptimalkan respon itu. dengan demikian metode permukaan respon dapat digunakan oleh peneliti untuk : 1.…. Jadi. X2. yaitu menggunakan prosedur pendugaan parameter fungsi respon berdasarkan metode kuadrat terkecil (least squares method). Menentukan nilai-nilai dari variabel bebas yang mengoptimalkan respon yang dipelajari (Gasperz 1995). Metode permukaan respon pada dasarnya serupa dengan analisis regresi. Bila terdapat . hanya saja dalam metode permukaan respon diperluas dengan menerapkan teknik-teknik matematika untuk menentukan titik-titik optimal agar dapat ditemukan respon yang optimal (maksimal atau minimal).…. 3.…. Xk. X2. Mencari fungsi pendekatan yang cocok untuk meramalkan respon yang akan datang.

Biomassa mikroalga yang tumbuh pada . Kemudian ditentukan persamaan bidang tersebut dan setelah itu eksperimen diambil sedemikian rupa agar bergerak ke arah optimal pada permukaan respon. Pada permasalahan ini pendugaan dakian tercuram (steepest ascend method) akan sangat membantu. Eksperimen berikutnya kita harapkan harus bergerak dalam arah mendaki paling cepat menuju titik optimal pada permukaan respon (Hanafiah 1991). 2. tidak diketahui secara pasti lokasi titik maksimal berada. Menurut Garcia-Diaz dan Phillips (1995). pada kebanyakan permasalahan metode permukaan respon. hubungan matematika menggambarkan respon percobaan yang dianggap tidak diketahui sehingga langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan perkiraan yang sesuai untuk hubungan tersebut dapat digunakan untuk menentukan kondisi operasi paling efisien dari sistem yang dipelajari. Pengujian sesuai metode ortogonal polinomial ini dimaksudkan untuk menentukan hubungan fungsional antara tanggapan (respon) dan perlakuanperlakuan yang terlibat dalam kisaran taraf penelitian yang dicoba (Hanafiah 1991).3 Kerangka pemikiran Pemanfaatan mikroalga dalam kehidupan semakin meningkat antara lain sebagai sumber minyak dalam pembuatan biodiesel. maka dapat dirumuskan dengan model polinomial ordo kedua dengan fungsi Y = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X12 + 4X22 +5X1X2 +  Uji beda kecenderungan (metode ortogonal polinomial) dapat diterapkan terhadap perlakuan-perlakuan yang bersifat kuantitas atau percobaan faktor kuantitatif. Sumber minyak yang akan dimanfaatkan sebagai biodiesel tersebut berasal dari biomassa mikroalga. Dasar kerja metode lintas dakian tercuram adalah melakukan sebuah eksperimen yang sederhana pada bagian permukaan respon yang luasnya kecil (bidang). Seringkali dalam penelitian.lengkungan dalam sistem. Proses pembentukan biomassa mikroalga membutuhkan nutrien yang bisa didapatkan dari limbah cair RPH dan peternakan. Pada dasarnya metode dakian tercuram merupakan suatu prosedur untuk mencari daerah respon maksimal (Gasperz 1995).

sehingga dapat didaur ulang untuk tujuan penggunaan yang lain. Proses pemisahan yang dilakukan adalah sedimentasi yang diawali dengan perlakuan pendahuluan yaitu proses koagulasi. P.limbah cair RPH dan peternakan perlu dipisahkan agar bisa dimanfaatkan. Limbah cair RPH dan peternakan yang telah dipisahkan akan mengalami penurunan kadar polutan akibat dari dikonsumsinya bahan-bahan organik yang terkandung didalamnya oleh mikroalga. K) digunakan sebagai media pertumbuhan mikroalga Kajian pemisahan mikroalga Perlakuan pendahuluan yang dikembangkan:  Koagulasi kimia  Koagulasi elektrik Mikroalga Biomassa mikroalga dapat dimanfaatkan sebagai sumber BBN atau pakan Supernatan Kadar nutrien dan polutan berkurang sehingga dapat didaur ulang Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian. Proses pemisahan mikroalga menjadi tahapan yang cukup penting untuk dilakukan agar pemanfaatan mikroalga dapat optimal. Pada penelitian ini dikembangkan dua proses koagulasi yaitu secara kimia dan elektrik. . Limbah cair agroindustri (RPH dan peternakan) mengandung banyak nutrisi (N. Kerangka pemikiran penelitian secara skematis dapat dilihat pada Gambar 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful