A. Pengertian Delik Penganiayaan dan Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Positif 1.

Pengertian Delik Penganiayaan Menurut Hukum Pidana Positif Sebelum membahas mengenai pengertian penganiayaan, penyusun terlebih dahulu akan mengemukakan apa yang dimaksud dengan delik. Dalam kamus hukum delik diartikan sebagai suatu perbuatan yang melanggar hukum. Dalam hukum pidana Belanda selain memakai istilah strafbaar feit kadang juga menggunakan kata delict yang berasal dari bahasa latin delictum. Dan secara umum oleh pakar hukum pidana disetujui penggunaan strafbaar feit. Prof. Simon mendefinisikan strafbaar feit dengan suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh orang-orang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya. Dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagi perbuatan atau tindakan yang dapat dihukum. Utrecht memandang rumusan yang dikemukakan oleh Simon itu merupakan rumusan yang lengkap. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa unsurunsur strafbaar feit meliputi: 1. suatu perbuatan 2. perbuatan itu diarang dan diancam dengan hukuman 3. perbuatan itu dilakukan oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan Oleh karena KUHP bersumber pada W.v.S Belanda, maka istilah yang digunakan pun sama yaitu strafbaar feit. Namun dalam menterjemahkan istilah strafbaar feit ke dalam bahasa Indonesia terdapat perbedaan. Sebagaimana yang dikutip oleh Andi Hamzah, Moeljatno dan Roeslan Saleh menggunakan istilah perbuatan pidana meski tidak untuk menterjemahkan strafbaar feit. Sedangkan Utrecht menyalin istiah strafbaar feitmenjadi peristiwa pidana, di mana beliau menterjemahkan secara harfiah menjadi peristiwa pidana. Meskipun terdapat banyak perbedaan pengistilahan, namun yang jelas semua bersumber pada strafbaar feit. Dan mengenai penggunaan istilah tersebut A.Z. Abidin sependapat bahwa lebih baik digunakan istilah padanannya saja yang banyak digunakan yaitu delik. Delik penganiayaan dalam tatanan hukum termasuk suatu kejahatan, yaitu suatu perbuatan yang dapat dikenai sanksi oleh

undang-undang. Pada KUHP hal ini disebut dengan “penganiayaan”, tetapi KUHP sendiri tidak memuat arti penganiayaan tersebut. penganiayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dimuat artinya sebagai : “perlakuan yang sewenang-wenang…”. Pengertian yang dimuat Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut adalah pengertian dalam arti luas, yaitu termasuk yang menyangkut “perasaan” atau “batiniah”. Penganiayaan yang dimaksud dalam ilmu hukum pidana adalah yang berkenaan dengan tubuh manusia. Mr. M.H. Tirtaamidjaja membuat pengertian “penganiayaan” sebagai berikut: Menganiaya ialah dengan sengaja menyebabkan sakit atau luka pada orang lain. akan tetapi suatu perbuatan yang menyebabkan sakit atau luka pada orang lain, tidak dapat dianggap sebagai penganiayaan kalau perbuatan itu dilakukan untuk menambah keselamatan badan … Kemudian ilmu pengetahuan (doctrine) mengartikan penganiayaan sebagai, “setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau luka pada orang lain”. Sedangkan menurut H.R. (Hooge Raad), penganiayaan adalah : Setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau luka kepada orang lain, dan semata-mata menjadi tujuan dari orang itu dan perbuatan tadi tidak boleh merupakan suatu alat untuk mencapai suatu tujuan yang diperkenankan. 1. Pengertian Delik Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Positif Pembunuhan secara terminologi adalah perkara membunuh; perbuatan (hal, dsb) membunuh. Sedangkan dalam istilah KUHP pembunuhan adalah kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain. Dari definisi tersebut, maka tindak pidana pembunuhan dianggap sebagai delik material bila delik tersebut selesai dilakukan oleh pelakunya dengan timbulnya akibat yang dilarang atau yang tidak dikehendaki oleh Undang-undang.

Klasifikasi Delik Penganiayaan Menurut Hukum Pidana Positif Secara umum. Selain daripada itu. Klasifikasi Delik Penganiayaan dan Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Positif 1. diatur pula pada Bab XX (penganiayaan) oleh Pasal 358 KUHP. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat 3. Mengakibatkan luka berat 2.B. Penganiayaan biasa 2. Penganiayaan ringan yang diatur oleh Pasal 352 KUHP Penganiayaan berencana yang diatur oleh Pasal 353 KUHP. tindak pidana terhadap tubuh pada KUHP disebut “penganiayaan”. Penganiayaan yang diatur KUHP terdiri dari : Penganiayaan yang berdasarkan pada Pasal 351 KUHP yang dirinci atas : 1. Hal ini sangat mirip dengan Pasal 170 KUHP sebab perkelahian pada umumnya adalah penggunaan kekerasan di muka umum. orang-orang yang turut pada perkelahian/ penyerbuan/ penyerangan yang dilakukan oleh beberapa orang. Mengakibatkan orangnya mati Penganiayaan berat dan berencana yang diatur oleh Pasal 355 KUHP dengan rincian sebagai berikut : 1. Mengakibatkan luka berat 2. . Penganiayaan berat dan berencana 2. dengan rincian sebagai berikut : 1. Penganiayaan yang mengakibatkan orangnya mati 4. Penganiayaan berat dan berencana yang mengakibatkan orangnya mati. Mengakibatkan orangnya mati Penganiayaan berat yang diatur oleh Pasal 354 KUHP dengan rincian sebagai berikut : 1.

2.a. yang bersalah dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanyalimatahun. terutama karena pelanggaran terhadap Pasal 352 KUHP lazim disebut dengan “Tipiring” (tindak pidana ringan). dengan. Penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang. Terhadap penerapan Pasal 351 ayat (3) yakni penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang. (3) Jika perbuatan itu berakibat matinya orang. bukan penganiayaan ringan. Penganiayaan yang tidak mengakibatkan luka berat atau matinya orang. Jika kita mencermati Pasal 351 KUHP. yang berdasarkan KUHAP (Pasal 205(1)). maka ada 3 (tiga) jenis penganiayaan biasa. . (4) Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan orang dengan sengaja. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat. langsung diajukan penyidik ke Pengadilan Negeri. Penganiayaan berdasarkan Pasal 351 KUHP Pasal 351 KUHP berbunyi sebagai berikut : (1) Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah. yaitu : 1. Yang termasuk Pasal 351 ayat (1). ada yang mengangkut ke rumah sakit sehingga dapat diselamatkan jiwanya. tetapi karena dalam waktu yang tidak begitu lama. 3. bukan penganiayaan berat atau berencana dan pula tidak mengakibatkan luka berat atau matinya orang. Timbul kerancuan antara Pasal 351 ayat (1) dengan Pasal 352 KUHP. tetapi pada prakteknya kadang-kadang sulit membedakan dengan Pasal 351 ayat (2). sehingga dalam penerapannya timbul kerumitan. (5) Percobaan akan melakukan kejahatan ini tidak boleh dihukum. (2) Jika perbuatan itu berakibat luka berat. tampaknya tidak begitu sulit atau rumit. yang bersalah dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun. misalnya : A dianiaya oleh B yang mengakibatkan luka berat. dengan demikian tidak melibatkan Penuntut Umum.

c. kehilangan salah satu pancaindra. 6. menderita sakit lumpuh. mendapat cacat berat (verminking). 5. ia kehabisan darah. Luka berat berarti: 1. . yang mengakibatkan luka berat. tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian. Mengenai pengertian “luka berat” Pasal 90 KUHP merumuskan artinya. Penganiayaan yang direncanakan terlebih dahulu Hal ini diatur oleh Pasal 353 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : 1. tetapi karena tidak ada yang menolong. “Luka berat” pada rumusan asli disebut “zwaar lichamelijk letsel” yang diterjemahkan dengan “luka badan berat” yang selalu disingkat dengan luka berat. 3. dihukum sebagai penganiayaan ringan dengan hukuman penjara selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah.N dianiaya oleh M. 2. Hukuman itu boleh ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya atau yang di bawah perintahnya. (2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak boleh dihukum. Pada Pasal 90 KUHP “luka berat” diartikan sebagai berikut . Penganiayaan dengan sudah direncanakan lebih dahulu dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun. jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali. gugurnya atau matinya kandungan seseorang perempuan. lalu meninggal. 4. b. Penganiayaan ringan Hal ini diatur Pasal 352 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : (1) Lain daripada hal tersebut dalam Pasal 353 dan 356 penganiayaan yang tidak menyebabkan sakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan. Sebagian pakar menyebut “luka parah” dan tidak tepat memakai kata “berat” pada luka karena pada umumnya kata berat dimaksudkan untuk menyatakan ukuran. terganggu daya pikir selama empat minggu lebih. atau yang menimbulkan bahaya maut. 7.

H.pembentukan Pasal 340 diutarakan sebagai berikut : Diperlukan saat pemikiran dengan tenang dan berfikir dengan tenang. yang bersalah dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun. Penganiayaan Berat Hal ini diatur oleh Pasal 354 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : (1) Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya delapan tahun. untuk berfikir dengan tenang. yang bersalah dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. (2) Jika perbuatan itu berakibat orangnya mati. (2) Jika perbuatan itu berakibat orangnya mati.2. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun. Penganiayaan Berat Dan Berencana Hal ini diatur oleh Pasal 355 KUHP yang berbunyi .” Sedangkan Mahkamah Agung berdasarkan putusan No. Unsur “dengan rencana terlebih dahulu” menurut M. antara saat perencanaaan itu timbul dengan saat perbuatan dilakukan. Hal ini dapat disimpulkan dari sifat dan cara perbuatan itu dilakukan serta alat yang digunakan untuk melaksanakan perbuatan itu. Untuk itu sudah cukup jika si pelaku berfikir sebentar saja sebelum atau pada waktu ia akan melakukan kejahatan .v. antara lain sebagai berikut: Tidak diperlukan suatu jangka waktu yang lama. Jika perbuatan itu berakibat orangnya mati. 3. d. e. yang bersalah dihukum . Tirtaamidjaja mengutarakan arti “direncanakan lebih dahulu” sebagai: “Bahwa ada suatu jangka waktu. M. Jika perbuatan itu berakibat luka berat. sehingga ia menyadari apa yang dilakukannya. 717 K/Pid/1984 tanggal 20 September 1985 mengutarakan pendapat. bagaimanapun pendeknya untuk mempertimbangkan.T. yang bersalah dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun. (1) Penganiayaan berat dengan direncanakan terlebih dahulu.

sedang jika ia melakukan perbuatan maka hal tersebut tetap dipertanggungjawabkan padanya. luka berat dan mati.dengan hukuman penjara selama-lamanya limabelas tahun. yang terdiri dari 13 Pasal. maka selain dari tanggungan masing-masing atas perbuatan khusus yang dilakukannya. Misalnya: A. Mengakibatkan luka parah atau mati. Rumusan Pasal 358 KUHP tersebut memuat 2 (dua) akibat yakni. Jika tidak timbul salah satu akibat tersebut maka perbuatan itu. Berdasarkan hal-hal di atas. dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur Pasal 358 KUHP adalah : 1. Dalam hal ini D dapat dipersalahkan melanggar Pasal 358 KUHP. C. jika penyerangan atau perkelahian itu hanya berakibat luka berat. yakni Pasal 338 sampai Pasal 350. ia dihukum: 1e. Penyerangan/perkelahian. dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan. . perlu diamati rumusan “…. Barangsiapa dengan sengaja turut serta dalam penyerangan atau perkelahian yang dilakukan oleh beberapa orang. 2e.[26] 2. tanpa berbuat sesuatu. 2. semata-mata diperlakukan karena keikutsertaan saja. Si peserta dengan sengaja ikut dalam penyerangan/perkelahian. dan D melakukan penyerangan terhadap R dan P di mana D hanya ikut saja.selain daripada tanggungannya masing-masing bagi perbuatannya”. dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun jika penyerangan atau perkelahian itu berakibat matinya orang. Turut Perkelahian/Penyerbuan Hal ini diatur oleh Pasal 358 KUHP yang bunyinya sebagai berikut . dilakukan lebih dari 2 (dua) orang. tidak dapat dikatakan melanggar Pasal 358 KUHP. ketentuan-ketentuan pidana tentang kejahatan yang ditujukan terhadap nyawa orang lain diatur dalam buku II bab XIX. Klasifikasi Delik Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Positif Dalam KUHP. C. Selain itu. B. 3. rumusan tersebut menyatakan bahwa Pasal 358 KUHP tersebut.

Unsur obyektif : perbuatan menghilangkan. Unsur subyektif : perbuatan dengan sengaja 2.Kejahatan terhadap nyawa orang lain terbagi atas beberapa jenis. dengan pidana penjara paling lama limabelas tahun”. maka unsur-unsur dalam pembunuhan biasa adalah sebagai berikut : 1. Berkenaan dengan “nyawa orang lain” maksudnya adalah nyawa orang lain dari si pembunuhan. sedangkan yang dimaksud sengaja dalam Pasal 340 adalah suatu perbuatan yang disengaja untuk menghilangkan nyawa orang lain yang terbentuk dengan direncanakan terlebih dahulu. diancam. bahwa tindakannya itu bertujuan untuk menghilangkan nyawa orang lain. dan ia pun harus mengetahui. karena pembunuhan dengan rencana (moord). “Dengan sengaja” artinya bahwa perbuatan itu harus disengaja dan kesengajaan itu harus timbul seketika itu juga. artinya pelaku harus menghendaki. paling lama dua puluh tahun. Terhadap siapa pembunuhan itu dilakukan tidak menjadi soal. nyawa. Unsur obyektif yang pertama dari tindak pembunuhan. Sedangkan Pasal 340 KUHP menyatakan Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam. unsur ini juga diliputi oleh kesengajaan. dengan sengaja. yaitu : a. dilakukannya tindakan menghilangkan tersebut. dan orang lain. Pembunuhan Biasa (Pasal 338 KUHP) Tindak pidana yang diatur dalam Pasal 338 KUHP merupakan tindak pidana dalam bentuk yang pokok. karena sengaja (opzet/dolus) yang dimaksud dalam Pasal 338 adalah perbuatan sengaja yang telah terbentuk tanpa direncanakan terlebih dahulu. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Adapun rumusan Pasal 338 KUHP adalah : “barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain. termasuk juga pembunuhan yang dimaksud dalam Pasal 338 KUHP. yaitu : “menghilangkan”. . Dari ketentuan dalam Pasal tersebut. meskipun pembunuhan itu dilakukan terhadap bapak/ibu sendiri. karena pembunuhan. yaitu delik yang telah dirumuskan secara lengkap dengan semua unsur-unsurnya.

Misalnya : D melarikan barang yang dirampok. Pembunuhan Dengan Pemberatan Hal ini diatur Pasal 339 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Pembunuhan yang diikuti. Kata “disertai” dimaksudkan. Pembunuhan itu dimaksudkan untuk mempersiapkan dilakukannya kejahatan lain.Dari pernyataan ini. baru kemudian membunuh B. disertai. melenyapkan nyawa sendiri tidak termasuk perbuatan yang dapat dihukum. atau supaya barang yang didapatkannya dengan melawan hukum tetap ada dalam tangannya. tetapi karena B dikawal oleh P maka A lebih dahulu menembak P. Berkenaan dengan unsur nyawa orang lain juga. Untuk menyelamatkan . maka C lebih dahulu membunuh penjaganya. Kata “diikuti” dimaksudkan diikuti kejahatan lain. b. jika tertangkap tangan. Misalnya : C hendak membongkar sebuah bank. dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun. atau didahului oleh kejahatan dan yang dilakukan dengan maksud untuk memudahkan perbuatan itu. atau didahului oleh kejahatan”. Perbedaan dengan pembunuhan Pasal 338 KUHP ialah : “diikuti. maka undang-undang pidana kita tidak mengenal ketentuan yang menyatakan bahwa seorang pembunuh akan dikenai sanksi yang lebih berat karena telah membunuh dengan sengaja orang yang mempunyai kedudukan tertentu atau mempunyai hubungan khusus dengan pelaku. Karena bank tersebut ada penjaganya. Kata “didahului” dimaksudkan didahului kejahatan lainnya atau menjamin agar pelaku kejahatan tetap dapat menguasai barang-barang yang diperoleh dari kejahatan. disertai. untuk melepaskan diri sendiri atau pesertanya daripada hukuman. karena orang yang bunuh diri dianggap orang yang sakit ingatan dan ia tidak dapat dipertanggung jawabkan. pembunuhan itu dimaksudkan untuk mempermudah terlaksananya kejahatan lain itu. disertai kejahatan lain. Misalnya : A hendak membunuh B.

dan untuk dapat dipidanakannya pelaku. yang menyuruh melakukan (doenpleger).barang yang dirampok tersebut. yakni mereka yang melakukan (pleger). Sedang unsur obyektif yang kedua. Jika unsur-unsur subyektif atau obyektif yang menyebabkan . sedang atau telah dilakukan 4) untuk menjamin tidak dapat dipidananya diri sendiri atau lainnya (peserta) dalam tindak pidana yang bersangkutan 5) untuk dapat menjamin tetap dapat dikuasainya benda yang telah diperoleh secara melawan hukum. dan didahului dengan tindak pidana lain 3) untuk menyiapkan/memudahkan pelaksanaan dari tindak pidana yang akan. maka D menembak polisi yang mengejarnya. Sedang yang dimaksud dengan “lain-lain peserta” adalah mereka yang disebutkan dalam Pasal 55 dan 56 KUHP. tetapi unsur ini harus didakwakan oleh Penuntut Umum dan harus dibuktikan di depan sidang pengadilan. disertai. Unsur subyektif yang kedua “dengan maksud” harus diartikan sebagai maksud pribadi dari pelaku. dan mereka yang membantu/turut serta melaksanakan tindak pidana tersebut (medepleger). “tindak pidana” dalam rumusan Pasal 339 KUHP. seperti dirumuskan dalam Pasal 339 KUHP. dalam ia/mereka kepergok pada waktu melaksanakan tindak pidana. Unsur-unsur dari tindak pidana dengan keadaan-keadaan yang memberatkan dalam rumusan Pasal 339 KUHP itu adalah sebagai berikut : Unsur subyektif : 1) dengan sengaja 2) dengan maksud Unsur obyektif : 1) menghilangkan nyawa orang lain 2) diikuti. maksud pribadi itu tidak perlu telah terwujud/selesai. yakni maksud untuk mencapai salah satu tujuan itu (unsur obyektif). yang menggerakkan/membujuk mereka untuk melakukan tindak pidana yang bersangkutan (uitlokker). maka termasuk pula dalam pengertiannya yaitu semua jenis tindak pidana yang (oleh UU) telah ditetapkan sebagai pelanggaran-pelanggaran dan bukan semata-mata jenis-jenis tindak pidana yang diklasifikasikan dalam kejahatan-kejahatan.

yaitu dengan hukuman seumur hidup atau selamalamanya dua puluh tahun. maka unsur-unsur pembunuhan berencana adalah sebagai berikut : 1. untuk berfikir dengan tenang. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Tirtaamidjaja mengutarakan “direncanakan lebih dahulu” antara lain sebagai : “bahwa ada suatu jangka waktu. sehingga ancaman hukumannya pun lebih berat dari pembunuhan biasa. maka dapat memperingan atau bahkan menghilangkan hukuman. paling lama dua puluh tahun. untuk memikirkan dengan tenang.pembunuhan itu terbukti di Pengadilan. c. Unsur obyektif. Selanjutnya juga bersalah melakukan perbuatannya dengan hati tenang.H. Dan jika unsur-unsur tersebut tidak dapat dibuktikan.v. Jika unsur-unsur di atas telah terpenuhi. Pembunuhan Berencana Hal ini diatur oleh Pasal 340 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam. Pengertian “dengan rencana lebih dahulu” menurut M. Dari rumusan tersebut. Unsur subyektif. maka hal itu memberatkan tindak pidana itu.T. karena pembunuhan dengan rencana (moord). bagaimanapun pendeknya untuk mempertimbangkan. pembentukan Pasal 340 diutarakan. Untuk itu sudah cukup jika si pelaku berpikir sebentar saja sebelum atau pada waktu ia akan melakukan kejahatan sehingga ia menyadari apa yang dilakukannya. maka ia dapat dikenai Pasal 340 KUHP. menyebutkan: Yang dimaksud dengan direncanakan lebih dahulu.” Sedangkan Chidir Ali. yaitu dilakukan dengan sengaja dan direncanakan terlebih dahulu 2. dan seorang pelaku sadar dan sengaja akan timbulnya suatu akibat tetapi ia tidak membatalkan niatnya. yaitu menghilangkan nyawa orang lain. adalah suatu saat untuk menimbang-nimbang dengan tenang. . M. antara lain : “dengan rencana lebih dahulu” diperlukan saat pemikiran dengan tenang dan berfikir dengan tenang.

menghilangkan jiwa anaknya itu pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian daripada itu dihukum karena membunuh bayi secara berencana dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun. maka pembunuhan tersebut tidak termasuk dalam kinderdoodslag melainkan pembunuhan biasa menurut Pasal 338 KUHP. Pembunuhan Bayi Oleh Ibunya (kinder-doodslag) Hal ini diatur oleh Pasal 341 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Seorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama sesudah dilahirkan karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak dihukum karena pembunuhan anak dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. yaitu didorong oleh perasaan takut akan diketahui atas kelahiran anaknya. Pembunuhan Bayi Oleh Ibunya Secara Berencana (kindermoord) Hal ini diatur oleh Pasal 342 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Seorang ibu dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambil sebab takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan melahirkan anak. Pasal 342 KUHP dengan Pasal 341 KUHP bedanya adalah bahwa Pasal 342 KUHP.d. telah direncanakan lebih dahulu. e. dan juga pembunuhan tersebut haruslah pada saat anak itu dilahirkan atau belum lama setelah dilahirkan. Sedangkan unsur yang penting dalam rumusan Pasal tersebut adalah bahwa perbuatannya si ibu harus didasarkan atas suatu alasan ( motief). Tetapi pembunuhan bayi yang baru dilahirkan. Unsur pokok dalam Pasal 341 tersebut adalah bahwa seorang ibu dengan sengaja merampas nyawa anaknya sendiri pada saat ia melahirkan anaknya atau tidak berapa lama setelah anak dilahirkan. Apabila anak yang dibunuh itu telah lama dilahirkan. telah dipikirkan dan telah ditentukan caracara melakukan pembunuhan itu dan mempersiapkan alat-alatnya. tidak memerlukan peralatan khusus sehingga sangat rumit untuk membedakannya dengan Pasal 341 KUHP khususnya dalam pembuktian karena keputusan yang . Jadi Pasal ini hanya berlaku jika anak yang dibunuh oleh si ibu adalah anak kandungnya sendiri bukan anak orang lain. artinya sebelum melahirkan bayi tersebut.

kalau jadi orangnya bunuh diri. Contoh dari pelaksanaan Pasal 344 KUHP adalah jika dalam sebuah pendakian (ekspedisi).ditentukan hanya si ibu tersebut yang mengetahuinya dan baru dapat dibuktikan jika si ibu tersebut telah mempersiapkan alat-alatnya. Unsur khususnya. apabila orang lain menggerakkan atau membantu atau memberi daya upaya untuk bunuh diri. tapi hanya atas persetujuan saja. Penganjuran Agar Bunuh Diri Hal ini diatur oleh Pasal 345 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Barangsiapa dengan sengaja membujuk orang supaya membunuh diri. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. atau menolongnya dalam perbuatan itu. yang disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh. dimana kalau salah seorang anggotanya menderita sakit parah sehingga ia tidak ada harapan untuk meneruskan pendakian mencapai puncak gunung. untuk bunuh diri dan kalau bunuh diri itu benar terjadi. maka dalam hal ini tidak ada pelanggaran atas Pasal 344. Unsur “jika pembunuhan diri terjadi” merupakan “bijkomende voor- . Pasal 344 ini membicarakan mengenai pembunuhan atas permintaan dari yang bersangkutan. f. atau memberi ikhtiar kepadanya untuk itu. di dalam hal ini mungkin ia minta dibunuh saja. adalah dengan sengaja menganjurkan atau memberi daya upaya kepada orang lain. Jadi seseorang dapat terlibat dalam persoalan itu dan kemudian dihukum karena kesalahannya. Pembunuhan Atas Permintaan Sendiri Hal ini diatur oleh Pasal 344 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang lain itu sendiri. karena belum memenuhi perumusan dari Pasal 344. dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya empat tahun. yaitu permintaan yang tegas dan sungguh/nyata. dan baru dapat dipidana kalau nyatanya orang yang digerakkan dan lain sebagainya itu membunuh diri dan mati karenanya. akan tetapi memenuhi perumusan Pasal 338 (pembunuhan biasa). sedangkan ia tidak suka membebani kawan-kawannya dalam mencapai tujuan. artinya jika orang yang minta dibunuh itu permintaanya tidak secara tegas dan nyata. g. Yang dilarang dalam Pasal tersebut.

Tujuan Pasal-Pasal tersebut adalah untuk melindungi janin. Perkataan “gugur kandungan” tidak sama dengan “matinya janin”. yaitu . 347. yaitu yang terlibat pada pengguguran tersebut. Pengguguran kandungan diatur dalam KUHP oleh Pasal-Pasal 346. Jika diamati Pasal-Pasal tersebut maka akan dapat diketahui bahwa ada tiga unsur atau faktor pada kasus pengguguran kandungan. yaitu syarat tambahan yang harus dipenuhi agar perbuatan yang terlarang/dilarang tadi dapat dipidana. . dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun (2) Jika perbuatan itu berakibat perempuan itu mati. janin 2.waarde van strafbaarheid”. Pengaturan KUHP mengenai “pengguguran kandungan” adalah sebagai berikut : 1) Pengguguran Kandungan Oleh si Ibu Hal ini diatur oleh Pasal 346 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : Perempuan dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya atau menyuruh orang lain menyebabkan itu dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun. orang ketiga. janin dalam kandungan dapat dibunuh. Kemungkinan. 1. 2) Pengguguran Kandungan oleh Orang Lain Tanpa Izin Perempuan yang Mengandung Hal ini diatur oleh KUHP Pasal 347 yang bunyinya sebagai berikut : (1) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungan seseorang perempuan tidak dengan izin perempuan itu. belum membedakan kedua hal tersebut. 348. ia dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun. dan 349. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia dimuat arti “janin” sebagai (1) bakal bayi (masih di kandungan (2) embrio setelah melebihi umur dua bulan. tanpa gugur. ibu yang mengandung 3. Namun pembuat undang-undang dalam rumusan KUHP. Pengguguran Kandungan Kata “pengguguran kandungan” adalah terjemahan dari kata “ abortus provocatus” yang dalam Kamus Kedokteran diterjemahkan dengan : “membuat keguguran”.[48] h.

Tetapi kalau diperhatikan benar-benar. Hakikat dari sanksi pidana adalah pembalasan. Selain itu juga bertujuan melindungi masyarakat dari segala bentuk kejahatan dan pendidikan atau perbaikan bagi para penjahat. 1) Hukuman mati. ia dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun 1. D. Hukuman Tambahan (bijkomende straffen) (1) Pencabutan beberapa hak tertentu. Sub-sub sistem hukum seperti disebutkan dalam ketentuan itu kelihatannya sederhana sekali. Sanksi Delik Penganiayaan dan Pemunuhan Menurut Hukum Pidana Positif Dalam perilaku sosial. 24 tanggal 1 dan 15 November 1946)[56] b. . 2) Hukuman penjara. Pengguguran Kandungan dengan Izin Perempuan yang Mengandungnya Hal ini diatur oleh Pasal 348 KUHP yang bunyinya sebagai berikut : (1) Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungan seorang perempuan dengan izin perempuan itu. yaitu tingkah laku yang melanggar atau menyimpang dari aturan-aturan pengertian normative atau dari harapan-harapan lingkungan sosial yang bersangkutan.3.[55] Sistem hukuman yang tercantum dalam Pasal 10 KUHP menyatakan bahwa hukuman yang dapat dikenakan kepada seseorang pelaku tindak pidana terdiri dari : a. (3) Pengumuman putusan Hakim. sedangkan tuuan sanksi pidana adalah penjeraan baik ditujukan pada pelanggar hukum itu sendiri maupun pada mereka yang mempunyai potensi menjadi penjahat. (2) Perampasan barang-barang tertentu. 5) Pidana tutupan (berdasarkan Undang-undang RI No.[54] Dan salah satu cara untuk mengendalikan adalah dengan sanksi pidana. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan (2) Jika perbuatan itu berakibat perempuan itu mati. 20 Tahun 1946 Berita Negara RI tahun kedua No. tindak kejahatan merupakan prototype dari prilaku menyimpang. 3) Hukuman kurungan. 4) Hukuman denda. Hukuman Pokok (hoofdstraffen).

Hal ini tidak berarti bahwa di Indonesia ada gejala “homo homini lupus”. Bahkan hanya dilihat kegunaan untuk menghukum pelaku tindak pidananya saja. maka diharapkan hendaknya masyarakat menjadi takut dan jangan sampai melakukan tindak pidana pembunuhan atau kejahatan lainnya yang dapat dihukum mati. sistem hukumannya masih mempertahankan hukuman mati.[58] 2. Sejak hukuman pidana berlaku di Indonesia yang kemudian dicantumkan sebagai Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie[57]. melainkan kejahatan terhadap negara perlu diberi pertanggungjawaban yang seimbang. Hukuman mati. 1. Hukuman Pokok. hal ini tentu mempunyai pertimbangan tersendiri. tetapi sampai sekarang masih tetap dilaksanakan. tujuan diadakan dan dilaksanakan hukuman mati supaya masyarakat memperhatikan bahwa pemerintah tidak menghendaki adanya gangguan terhadap ketenteraman yang sangat ditakuti umum. Karena itu hukuman mati menurut pemerintah adalah yang sesuai dengan rasa keadilannya. Dengan suatu putusan yang kemudian harus dilaksanakan hukuman mati bagi pelaku tindak pidana pembunuhan dan kejahatan lain yang diancam dengan hukuman sama. Di samping itu suatu pendirian “dalam mempertahankan tertib hukum dengan menghukum mati seseorang karena tingkah lakunya yang dianggap membahayakan” ada di tangan pemerintah.maka kesederhanaanya menjadi berkurang karena sistem hukuman yang kelihatannya sederhana dalam pelaksanaanya kurang memperhatikan sifat obyektifitas hukumannya yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Hukuman penjara. Di Indonesia. a. Dan walaupun pada tahun 1981 pernah dipermasalahkan oleh para ahli hukum tentang hukuman mati itu. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan terjadinya perbedaan pendapat antar para ahli hukum. Pelaksanaan hukuman mati dicantumkan dalam Pasal 11 KUHP yang menyatakan bahwa “Pidana mati dijalankan oleh algojo pada tempat gantungan dengan menjeratkan tali yang terikat di tiang gantungan pada leher terpidana kemudian menjatuhkan papan tempat terpidana berdiri”. .

sebab secara psikologis dapat menimbulkan kemungkinankemungkinan psikis yang berakibat sakit mental. Pidana denda ini diancamkan terhadap hampir semua pelanggaran (overtredingen) yang tercantum dalam buku III KUHP dan juga terhadap kejahatan-kejahatan dalam buku II KUHP yang dilakukan dengan tidak sengaja. sebagaimana telah ditentukan di dalam putusan Hakim yang dibebankan kepada terpidana atas pelanggaran atau kejahatan yang telah dilakukannya.Penjara adalah suatu tempat yang khusus dibuat dan digunakan para terhukum dalam menjalankan hukumannya sesuai putusan Hakim. Dengan jalan demikian diharapkan terhukum kelak kalau selesai menjalankan hukumannya akan menjadi insyaf dan tidak mau lagi melakukan tindak pidana kejahatan. Hukuman kurungan. [59] Ancaman pidana denda ini oleh pembuat undang-undang hukum pidana . Dalam Pasal 18 dinyatakan bahwa lamanya kurungan sekurang-kurangnya satu hari dan tidak lebih dari satu tahun empat bulan. Dari beberapa kemungkinan yang dapat terjadi inilah. 4. Pidana denda merupakan kewajiban membayar sejumlah uang. Tetapi tindakan seperti itu tidak bertujuan mendidik secara positif. kejahatan besar atau kejahatan kambuhan. Artinya para terhukum ditempatkan bersama dan proses penempatan serta kegiatannya sesuai jadwal sejak terhukum masuk lembaga di samping lamanya menjalani hukuman itu. Hukuman kurungan hampir sama dengan hukuman penjara. 3. Hukuman denda. Kegiatan sehari-hari dilakukan secara terstruktur seperti kewajiban mengikuti bimbingan mental rohani dan ketrampilan. Fungsi kamar untuk ditempati terhukum seorang diri tanpa dapat berkomunikasi dengan terhukum lainnya dan kelihatan seperti orang yang dikucilkan dari pergaulan sosial. Tempat terhukum yang ada sampai sekarang merupakan peninggalan penjajah terdiri dari jalur-jalur bangunan dan setiap jalur terdiri dari kamar-kamar yang satu sama lain tidak dapat berhubungan. hanya perbedaanya terletak pada sifat hukuman yang ringan dan ancaman hukumannnya pun ringan. yang berarti tidak ada perbaikan tingkah laku. maka pemerintah Indonesia mengubah fungsi penjara menjadi “Lembaga Pemasyarakatan”.

18/Prp/1960)[60]. sehingga terhadap perbuatan ebih tepat bila dijatuhi dengan pidana penjara (Pasal 2 ayat (2)). Hukuman Tambahan. tetapi ditentukan hanya batas minimumnya saja. 20 Tahun 1946 itu diatur oleh Peraturan Pemerintah No.[63] 1.[62] Dalam Undang-undang No. Pidana Tutupan Pidana tutupan ini dikenal dalam KUHP sesudah tahun 1946 berdasarkan Undang-undang N0. dan suatu tempat yang lebih baik daripada penjara biasa sesuai dengan oang yang dijatuhi pidana tutupan bukan orang atau terdakwa biasa. 5. maka Hakim boleh menjatuhkan pidana tutupan (fertungshaft). . 24 tangga 1 dan 15 November 1946). dan merupakan tambahan pidana pokok pada Pasal 10 KUHP. Pembayaran denda tidak ditentukan harus terhukum. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. karena perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa bukan kejahatan biasa melainkan pada umumnya para pelaku kejahatan politik. sebagaimana tercantum dalam Pasal 30 ayat (1) KUHP sebesar dua puluh lima sen (dikalikan 15 menurut Undang-undang No. 20 Tahun 1946 (Berita Negara RI Tahun II No. Pelaksanaan pidana tutupan dan segaa sesuatunya yang perlu untuk menjalankan Undang-undang No. 8 Tahun 1948 yang diundangkan pada tanggal 5 Mei 1948 yang dinamakan dengan Peraturan Pemerintah tentang Pidana Tutupan. Dalam rancangan KUHP yang baru minimum pidana denda ini ditentukan sebesar paling sedikit lima ratus rupiah. karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati.[61] Ketentuan yang mengatur hukuman denda ini dicantumkan dalam Pasal 30-33 KUHP. Dilihat dari pelaksanaan pembayaran yang demikian akan mengaburkan sifat hukumannya. 20 Tahun 1946 tersebut menyatakan bahwa: “Dalam mengadili orang yang melakukan kejahatan yang diancam dengan pidana penjara.tidak ditentukan batas maksimum secara umum. maka akan dapat dilakukan oleh setiap orang yang sanggup membayarnya. 20 Tahun 1946 dan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1948 yang dimaksud rumah tutupan itu bukan suatu penjara biasa.” Pidana tutupan ini tidak akan dijatuhkan apabila Hakim berpendapat perbuatan yang merupakan kejahatan atau cara melakukan perbuatan itu atau akibat dari perbuatan tadi adalah sedemikian rupa.

Perampasan Barang-Barang Tertentu Pidana tambahan terhadap perampasan barang-barang tertentu . sehingga sifatnya sebagai pidana lalu hilang sebagaimana ternyata dalam hal penyertaan yang kadang-kadang dalam UU tidak merupakan tambahan lagi. Misalnya. melainkan harus dengan suatu putusan Hakim dan tidak untuk selama-lamanya. Jika diartikan dicabut semua hak itu berarti kehilangan kesempatan hidup. 1. maka pidana tambahan itu hanya dapat ditetapkan di samping pidana utama atau pidana pokok. melainkan suatu tindakan tambahan. Pencabutan Hak-hak Tertentu Pidana tambahan pencabutan hak oleh Undang-undang Hukum Pidana ditegaskan bahwa pencabutan tersebut hanya terhadap beberapa hak tertentu saja. Sifat preventif khusus ini kadang-kadang begitu besarnya. tetapi tidaklah merupakan suatu keharusan.[64] Pencabutan hak-hak tertentu itu tidak dengan sendirinya karena penjatuhan pidana pokok. Tujuan diadakannya pidana tambahan adalah preventif khusus. Hak yang dapat dicabut menurut Pasal 35 ayat (1) KUHP Sedangkan untuk lamanya pencabutan adalah sesuai dengan Pasal 38 ayat (1) dan (2) KUHP. sesuai dengan kata “tambahan” yang diletakkan di belakang kata pidana. Penjatuhan pidana tambahan ini pada dasarnya bersifal fakultatif. Apabila Hakim tidak dapat menetpkan suatu pidana pokok dengan sendirinya tidak dapat pula menetapkan pidana tambahan. seorang warganegara Indonesia yang melakukan tindak pidana tertentu oleh Hakim diputus dengan menjalankan hukuman penjara dan dicabut hak pilihnya dalam Pemilihan Umum yang akan datang. dapat dijatuhkan dalam hal-hal yang ditentukan oleh Undang-undang. Sifat hukuman tambahan ini hanya sebagai penambah hukuman pokok kalau dalam putusan Hakim ditetapkan hukuman tambahannya.Menurut aturan umum kodifikasi hukum pidana tambahan ini dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. Pencabutan semua hak itu bertentangan dengan ketentuan dalam Pasal 3 KUH Perdata yang menyatakan : “Tiada hukuman yang dapat mengakibatkan kematian perdata atau kehilangan semua hak-hak sipil (beenerlei straf den burgerlijken dood of het verlies van alle burgerlijke regten ten gevolve). 1.

jenis pidana tambahan perampasan barang inilah yang paling banyak atau paling sering dijatuhkan oleh Pengadilan. Perampasan milik terpidana merupakan pengurangan harta kekayaan terpidana. atau fakultatif. namun dengan dirampasnya barang-barang tertentu itu berarti harta kekayaan terpidana menjadi berkurang. karena sifatnya sebagai tindakan prevensi. sedangkan apabila meyebabkan korban mati dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. . dan diucapkan oleh Ketua di muka anggota-anggota yang turut memeriksa dan memutuskan perkara itu serta Penuntut Umum pada Pengadilan Negeri dan Penasihat. apabila tidak mengakibatkan luka berat dan korban tidak mati dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah.[65] 1. Maksud diadakannya “Pengumuman Keputusan Hakim” dalam bab tentang pidana tambahan ini adalah publikasi ekstra.termasuk barang milik terpidana. Biaya untuk publikasi ekstra ini dibebankan kepada terpidana yang ditentukan pembayarannya. Sanksi Delik Penganiayaan Menurut Hukum Pidana Positif Sanksi atau ancaman pidana yang dimuat pada KUHP merupakan sanksi sejak tahun 1915. misalnya di dalam surat kabar. Penganiayaan berdasarkan Pasal 351 KUHP. apabila korban luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun. 1. pengumuman melalui siaran radio. Di antara pidana-pidana tambahan. dibuat plakat yang ditempelkan pada dinding gedung pemerintahan. yaitu yang tercantum dalam Pasal 351-358 adalah sebagai berikut : 1. gedung bioskop. Pengumuman Keputusan Hakim Sesuai dengan sifat kejahatan atau keadaan yang menjadi obyek kejahatan terpidana dapat dikenai tambahan pengumuman putusan Hakim. Adapun penerapan sanksi terhadap delik penganiayaan yang termuat dalam KUHP. atau imperative. dan gedung lain yang biasanya dikunjungi oleh umum. karena meskipum perampasan tersebut hanya terhadap barang-barang tertentu milik terpidana. televisi dan lain sebagainya. Pidana tambahan tentang pengumuman keputusan Hakim ini di Indonesia jarang sekali dijalankan karena ketentuan bahwa keputusan Hakim Pengadilan dinyatakan dengan pintu terbuka untuk umum.

7 tahun .luka berat . dan apabila mengakibatkan kematian dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun.kematian . akibat yang ditimbulkan. pasal-pasal yang terkait. 4. Penganiayaan berat yang mengakibatkan luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya delapan tahun dan apabila mengakibatkan kematian dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun. Penganiayaan berat dan berencana yang mengakibtkan luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun dan apabila mengakibatkan kematian dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanyalimabelas tahun. Penganiayaan ringan yang tidak menyebabkan sakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan.5 tahun . Penganiayaan berencana yang tidak mengakibatkan luka berat atau mati dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun. 3.tidak luka berat dan tidak mati . tidak dapat dihindarkan untuk tidak mendakwakan Pasal 338 KUHP bahkan Pasal 340 KUHP karena permasalahan adalah pada unsure “dolus” atau “bentuk kesengajaan” terutama dengan bentuk “dolus eventualis“. maka akan diperoleh hasil sebagai berikut : No Jenis Penganiayaan Pasal Akibat 1 Penganiayaan biasa 351 .tidak menjadikan sakit… Sanksi . serta besarnya sanksi. 6.2. 5. Apabila dibuat sebuah daftar mengenai jenis penganiayaan. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah. apabila mengakibatkan luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan dan apabila mengakibatakan kematian dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.2 tahun 8 bulan .3 bulan 2 Penganiayaan 352 . Turut dalam perkelahian. apabila mengakibatkan luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. Khusus bagi tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan orangnya mati.

9 tahun .kematian .4 tahun . Pembunuhan biasa. Pembunuhan dengan pemberatan. bagi orang yang membunuh diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun 7. 2.tidak luka berat / mati . diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun 5.7 tahun . diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun 6.4 tahun 4 Penganiayaan berat 354 5 Penganiayaan berat dan berencana Turut perkelahian 355 6 358 1.15 tahun .kematian . Pembunuhan bayi oleh ibunya secara berencana. Sanksi Delik Pembunuhan Menurut Hukum Pidana Positif Adapun sanksi tindak pidana pembunuhan sesuai dengan KUHP bab XIX buku II adalah sebagai berikut : 1.3 ringan Penganiayaan berencana 353 .luka berat . jika benar-benar orangnya membunuh diri pelaku penganjuran diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun .luka berat . diancam dengan hukuman penjara selamalamanyalimabelas tahun 2. Pembunuhan berencana.kematian .kematian . Pembunuhan atas permintaan sendiri.luka berat .12 tahun .8 tahun .2 tahun 8 bulan . Pembunuhan bayi oleh ibunya.10 tahun .luka berat . diancam dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun 4. Penganjuran agar bunuh diri. diancam dengan hukuman penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun 3.

Pengguguran kandungan dengan izin perempuan yang mengandungnya.limatahun enam bulan tujuh tahun.4 tahun 8 346 -Kematian bayi . diancam dengan hukuman penjara selamalamanya : . jika perempuan itu mati 1.7 tahun 4 Pembunuhan bayi oleh Ibunya Pembunuhan bayi oleh Ibunya secara berencana Pembunuhan atas Permintaan sendiri Penganjuran agar bunuh Diri Pengguguran kandungan : 341 kematian 5 342 kematian . diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun 2.hukuman mati atau seumur hidup atau 20 tahun . 1.seumur hidup pemberatan atau 20 tahun 3 Pembunuhan berencana 340 kematian .8. jika perempuan itu mati Apabila ketentuan di atas juga dibuat sebuah daftar.15 tahun 2 Pembunuhan dengan 339 kematian . Pengguguran kandungan oleh orang lain tanpa izin perempuan yang mengandung.12 tahun 7 345 kematian .limabelas tahun.9 tahun 6 344 kematian .4 tahun . maka hasilnya adalah sebagai berikut : No Jenis Pembunuhan Pasal Akibat Sanksi 1 Pembunuhan biasa 338 kematian . Pengguguran kandungan Pengguguran kandungan oleh si ibu. diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya : dua belas tahun .

Alasan yang membenarkan atau menghalalkan perbuatan pidana. Alasan yang memaafkan pelaku.5 tahun 6 bulan mengandung -Kematian ibu . tidak dipidana 3) Pasal 49 ayat 2 KUHP. Ketentuan-ketentuan tentang alasan dan hal-hal yang mempengaruhi pemidanaan ini bersifat umum. menyatakan terhapusnya pidana karena perintah jabatan tanpa wenang. 4) Pasal 51 ayat 2 KUHP. yang menyatakan seseorang yang melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa. b.oleh si Ibu 347 -Kematian bayi .12 tahun .. tidak dipidana. dan pelaksanaanya termasuk dalam lingkungan pekerjaanya.oleh orang lain dengan izin perempuan yang mengandung Adapun alasan-alasan yang menghilangkan sifat tindak pidana dibedakan dalam dua kategori. jika yang diperintah. yang langsung disebabkan oleh kegoncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu. dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan dengan wenang. sehingga berlaku juga pada kejahatan terhadap nyawa. .15 tahun perempuan yang -Kematian bayi . adalah : 1) Keperluan membela diri atau noodweer (Pasal 49 ayat 1 KUHP) 2) Melaksanakan ketentuan undang-undang (Pasal 50 KUHP) 3) Melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh seorang penguasa yang berwenang (Pasal 51 ayat 1 KUHP) Ketiga alasan ini menghilangkan sifat melawan hukum dari suatu tindakan sehingga perbuatan si pelaku menjadi diperbolehkan. hal ini termuat dalam : 1) Pasal 44 ayat 1 KUHP. yaitu : a. menyatakan bahwa pembelaan terpaksa yang melampaui batas.oleh orang lain tanpa izin 348 -Kematian ibu . disebabkan jiwanya cacat dalam tubuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing) 2) Pasal 48 KUHP.7 tahun . yang menyatakan seseorang tidak dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful