You are on page 1of 8

DESAIN ULANG PEMANFAATAN AIR BUANGAN HASIL KONDENSASI DARI CONDENSER PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP)

SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH)


Disusun Oleh : R. Ahmad Cholilurrahman, Alif Prima Maulana, Dwi Khusna Laboratorium Konversi Energi Listrik, Jurusan Teknik Elektro, FTI, ITATS Jalan Arief Rachman Hakim Nomor : 100, Surabaya 60117 e-mail : www.r_achmad07@yahoo,co.id

ABSTRACT Currently, Geothermal Electric Power Plant (GEPP) has been using conventional system. On conventional system of condensed steam turbine, steam will be used to rotate the turbine hence produces electrical power. Both electrical plants, conventional system and bi- cycles system actually dispose the water disposal by injecting to the ground, which is regretted as it still has potency to produce electrical power. As an evaluation, a Micro Hydro Electric Power Plant (MHEPP) will be designed by not injecting the water disposal excesses to the ground but collecting it in a reservoir. The making of reservoir is aimed to accommodate water in a condition when water volume has not covered the amount needed to run the turbine. Then an intake was made and through the water channel that is passed to a penstock it could move the turbine by using the height of the water drops so the expected electric voltage occurred. The final finding showed that the utilization of disposal water from the condensed water of condenser geothermal electric power plant is 127m3 per hour with reservoir capacity of 21336 m3, so that the water disposal goes to the penstock with water volume speed is 1.17 meter3 per second on 45O elevation with Penstock of 10 meters with the height of water drop of 5 meters therefore 6.796 Horse power or 5 Kilo watt of turbine voltage can be produced and it could rotate the electric generator which produced electrical voltage of 4.06 Kilo Watt. Key words: water disposal, Electric Plant of Microhydro Power, Reservoir, Intake, Penstock.

1. PENDAHULUAN
Lapangan panas bumi Dieng terletak di dataran tinggi Dieng, dalam wilayah Kabupaten Wonosobo termasuk Propinsi Daerah Jawa Tengah. Pada umumnya, air yang terletak di dalam tanah, sekalipun di panasi oleh magma, tidak akan berubah menjadi uap, karena adanya tekanan bumi yang besar. Dengan jalan pengeboran, air panas itu memiliki jalan keluar. Setibanya di permukaan bumi, akan berubah menjadi uap bertekanan tinggi. Uap inilah yang digunakan sebagai penggerak turbin pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Menurut Lombogia (1997), Pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Kamojang di Garut Jawa Barat, berkapasitas 30 Mega Watt sebagai PLTP Unit I merupakan pembangkit yang menggunakan sistem konvensional dengan memanfaatkan energi 0 panas bumi yang bertemperatur di atas 180 C (panas bumi berenthalpy tinggi) dan untuk kajian ini kami cenderung memanfaatkan energi panas 0 bumi yang bertemperatur di bawah 180 C yang pada umumnya panas bumi di Indonesia bertemperatur rendah atau sedang (panas bumi berenthalpy rendah dan sedang). Dengan melihat potensi panas bumi yang tersebar di seluruh Indonesia, maka pemilihan lapangan panas bumi Dieng sebagai daerah kerja eksplorasi dan produksi PT Geo Dipa Energy, layak dibuat rancang bangun pembangkit listrik tenaga panas bumi Dieng yang ditargetkan berpotensi 60 Mega Watt. Menurut Hidayat (1981), hampir semua lapangan panas bumi di Indonesia mengandung uap yang bersifat fluida dua fasa, jadi penggunaan separator pada PLTP ini mutlak diperlukan. Permasalahannya, adalah hampir semua PLTP menggunakan system konvensional. Pada system konvensional turbin uap dengan kondensasi, uap akan digunakan untuk memutar turbin sehingga menghasilkan listrik. Setelah mengalami ekspansi di dalam turbin, uap tersebut akan terkondensasi pada tekanan yang lebih rendah. Pada sistem siklus biner, fluida primer yang merupakan sumber panas utama akan memanaskan fluida sekunder melalui alat penukar kalor (heat exchanger). Uap dari fluida sekunder ini kemudian akan menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Baik sistem konvensional maupun sistem siklus biner kedua sistem pembangkit tenaga listrik tersebut, pada kenyataannya membuang sisa hasil proses (water disposal) dengan cara menginjeksi ke dalam bumi, hal mana sangat disayangkan sebab air buangan sebagai sisa hasil proses

masih berpotensi dapat menghasilkan listrik. Dalam penelitian ini akan dirancang sebuah sistem pembangkit listrik tenaga mikro hidro dengan cara kelebihan air buangan dari pembangkit listrik tenaga panas bumi tidak diinjeksikan ke dalam bumi, melainkan ditampung dalam suatu bak penampung (reservoir). Pembuatan reservoir dimaksudkan untuk menampung air bilamana debit yang ada belum memenuhi dalam menggerakkan turbin. Kemudian dibuatkan bendung / intake dan melalui saluran pembawa air dialirkan ke pipa pesat (penstock) untuk menggerakkan turbin dengan memanfaatkan tinggi jatuh sehingga terjadi daya listrik yang diinginkan. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Direct Contact Condenser. Menurut Hidayat. (1981), pada direct contact condenser ini, uap dari turbin dan air pendingin dari cooling tower bersinggungan secara langsung (bercampur menjadi satu). Oleh karena terjadi persinggungan secara langsung antara air pendingin dengan uap sisa turbin, maka condensate yang dihasilkan tidak semurni seperti halnya condensate yang dihasilkan oleh surface condenser. Jadi fungsi direct contact condenser pada pembangkit listrik tenaga panas bumi, hanya untuk menurunkan tekanan lawan exhaust turbine saja, sedangkan condensate yang dihasilkan merupakan hasil sampingan, dan ini dapat dimanfaatkan untuk mengembunkan uap di dalam condenser,. 2.2 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro ( PLTMH ). Menurut Dwi (1998), adanya air yang terus menerus mengalir tanpa berhenti di Desa Dlundung Trawas, harus dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat sekitarnya. Salah satu kebutuhan yang sangat mendesak adalah masyarakat sangat mendambakan adanya listrik yang dapat menyinari seluruh pelosok desa. Untuk itu perlu di bangun suatu pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rangkaian Bahan dan Alat Penelitian

Uap air panas bumi

Pi p a bar Tekanan 8,7

S T G Tra e ur e nsf p bi n or Buangan air 127 m3 Suhu 1710C ar er mat n Per jam, suhu 100 0C Kapasitas p at at or 150 ton per jam er or or Pe Membuang K ta Da partikel / senyawa ndi o m tidak yang ya Didinginkan ng dibutuhkan n in Sampai 450 C PL an d a Didinginkan hingga 290 C lalu N an (pH) sebelum e dinormalkan derajat keasamannya kembali diinjeksikan ke perut bumi oleh n Pertamina Air s or Listrik Panas Bumi 3.1 Diagram Pembangkit dengan Siklus Uap Basah

panas yang dilepaskan oleh uap sama dengan panas yang diserap oleh air pendingin. Jadi pada direct contact condenser berlaku rumus rumus : s ( h2f + X.L h3 ) = c ( t3 t2 ) (2) dengan : c = Jumlah air pendingin yang dibutuhkan untuk mengembunkan sejumlah uap yang masuk ke condenser, dalam kg / hr. s = Jumlah uap yang masuk ke condenser, dalam kg / hr. h2f = Enthalpi air pendingin pada temperatur akhir dalam Kcal. X= Prosentase kekeringan Uap (kualitas uap). L= Enthalpi penguapan ( evaporated enthalpi ) pada temperatur akhir air pendingin, dalam Kcal. h3 = Enthalpi condensate, dalam Kcal. o t3 = Temperatur condensate, dalam C. o t2 = Temperatur air pendingin, dalam C 3.2.2 Perancangan bangunan/fasilitas Teknik Sipil (instalasi air) dan sistem turbin air

Gambar 3.2 Rangkaian Sistem pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) 3.2 Tahapan Penelitian 3.2.1 Perhitungan debit air yang berasal dari Condenser PLTP daerah Dieng. Alat ini hanya untuk mengembunkan uap didalam condenser, setelah dari condensate tersebut sebagian air ada yang didinginkan di cooling tower (menara pendingin) dan ada juga yang di injeksikan lagi ke bumi. Proses yang terjadi pada direct contact condenser ini dapat diterangkan sebagai berikut : Oleh karena terjadi persinggungan langsung antara air pendingin dan uap exhaust turbin, maka pada direct contact condenser berlaku : 4.h4 + 10.h10 + 14.h14 + 15.h15 + 21.h21 + 24.h24 = 5.h5 + 16.h16 (1) Ini berarti bahwa jumlah condensate yang dihasilkan merupakan penjumlahan antara air pendingin dengan uap exhaust turbin. Berdasarkan hokum kekekalan energy, maka pada direct contact condenser berlaku, baha

A. Perancangan Bak Penampung Bak Penampungan (reservoir) digunakan untuk menampung air buangan dari pembangkit listrik tenaga panas bumi sebelum dialirkan ke bak penenang (fore bay). Perancangan bak penampung dapat dihitung menggunakan Persamaan 3. H= (3) dengan : V L W H = Volume air dalam 1 minggu = Panjang Bak Penampung = Lebar Bak Penampung = Kedalaman Bak Penampung

B. Saluran Pembawa Saluran pembawa berfungsi untuk mengalirkan air dari intake (bak pengendap) ke bak penenang, bisa berupa saluran terbuka (open channel) maupun saluran dalam pipa. Saluran pembawa dapat dihitung menggunakan Persamaan 4. Q= x(bxh) (4)

dengan : 3 Q = Debit yang dibutuhkan (m /det) V = laju air disaluran desain (m/det)

A = luas penampang (m ) R = jari jari hidrolis (m) S = kemiringan dasar saluran n = koefisien kekasaran maning b = lebar dasar saluran (m) h = tinggi muka air (m) C. Bak Penenang (Surge Tank) Bak penenang berfungsi mengurangi kecepatan aliran air dari saluran pembawa dan menjaga kontinuitas debit desain yang masuk ke pipa pesat dan turbin dalam kondisi maksimal sehingga daya output dari turbin stabil. Untuk perencanaan bak penenang dapat direncanakan dengan Persamaan 5, 6, dan 7.

D. Pipa Pesat (Penstock) Pipa pesat berfungsi untuk mengalirkan air dari forebay tank (bak penenang) ke rumah turbin. Selain itu juga menjaga besarnya debit yang mengalir agar konstan. Dalam hal perencanaan pipa pesat ini hal hal yang perlu diperhatikan adalah : a. Diameter pipa pesat b. Tebal pipa pesat a. Diameter pipa pesat Untuk diameter pipa dengan memperhatikan kerugian - kerugian yang terjadi pada pipa pesat yaitu dapat direncanakan dengan Persamaan 8. D= (8)

Panjang Bak Pengendap (L) =

Dengan : D = diameter perencanaan pipa pesat (5) Tinggi Terjun (m) 1 200 Debit (m3/detik) 0.03 9 Kapasitas (KW) 50 1000 Cross Flow, Banki, Mitchel or Obserger Pelton Jenis Turbin

Lebar Bak Pengendap (B) = Volume Bak (V) = L x B x h (7) (6)

dengan : L = Panjang bak pengendap (m) B = Lebar bak pengendap (m) = Kecepatan turun butir (m/det) Q = Debit rencana (m3/det) H = Tinggi muka air dalam bak (m) Umumnya diambil sebesar 1,5 4 meter = didapat dari grafik welikanov

45 0.06 3 100 1000 5000 V = kecepatan aliran fluida pada pipa (m/s)

b. Tebal pipa pesat Dalam penentuan tebal pipa pesat diperhitungkan gaya akibat air dalam pipa yang arahnya tegak lurus aliran air. Perhitungan pipa pesat dirumuskan dengan persamaan 9 dan 10. = (9) dan Po adalah : Po = x Heff (10)

dengan : = tebal pipa pesat (m) 2 Po = tekanan yang terjadi pada pipa (kg/m ) 3 = massa jenis air (kg/m ) D = diameter pipa (m) = koefisien kekuatan sambungan las (0,9) 2 baja = tegangan ijin baja (kg/m ) 3.2.3 Gambar 3.5. Grafik Welikanov V = kecepatan aliran dalam bak (m/detik) Perancangan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), rumah pembangkit (Power House). Rumah pembangkit merupakan lokasi keberadaan dari peralatan utama berupa turbin

dan generator. Maka dengan Persamaan 11. 2 L=6xS Dengan :

dapat

direncanakan (11)
2

Pg

L = Luas rumah pembangkit (m ) 2 S = sisi dinding rumah pembangkit (m )

G Q H

= Daya output listrik, dalam kW. 3 = Massa jenis air (1000 kg/m ) = Efisiensi total (60-80 %) 3 = Gaya gravitasi (9,8 m / s ) 3 = Debit air (m / s ) = Head bersih (m).

3.2.3.1 Perhitungan Daya Turbin Turbin kini dimanfaatkan secara luas dan merupakan sumber energi yang de perbarukan sedangkan generator merupakan alat yang mengubah energi mekanik turbin menjadi energi listrik yang akan di distribusikan ke sejumlah pelanggan. Adapun teori penunjang dalam menentukan parameter turbin dapat dijelaskan sebagai berikut : Tabel 1 Jenis Turbin untuk PLTMH Sumber : Kudip (2002). Dari tabel 3.1. Turbin jenis Crossflow bekerja dengan effisiensi 80 % sehingga daya turbin air dapat ditentukan dari Persamaan 12. N = t x x g x Q x H (12) dengan : t = Efisiensi Turbin 3 = Massa jenis air (kg/m ) 2 g = Kecepatan gravitasi (m/det ) 3/ Q = Debit air (m detik) H = Tinggi air (m) 3.2.3.2 Perhitungan Daya Generator Dengan melihat rugi rugi total seperti berikut : Efisiensi Generator (g) = 0,8 Efisiensi V- belt (belt) = 0,9 Efisiensi Turbin (t) = 0,9 Daya pembangkitan dapat diperoleh dengan persamaan : Pg = g x Q x H x t x belt x gen (13) dengan : Tabel 2 Hasil Perhitungan Bak Penampung
Parameter Debit rencana Panjang Bak Penampung (tandon) Lebar Bak Penampung (tandon) Kedalaman Bak Penampung (tandon) Tinggi bukaan pintu air dari dasar tandon Lebar bukaan pintu air Konstanta Bak Penampung (tandon) Gravitasi Selisih tinggi muka air dari hulu sampai ke hilir notasi Q L W H h b Cb g z nilai 0,1276 30 30 32 0,5 0,5 0,8 9,8 0,02075 Satuan m3/det m m m m m m/det2 m

4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Hasil Perhitungan debit air yang berasal dari Condenser PLTP Dieng. Telah diketahui bahwa Mass Flow pada keluaran Main Condenser sebesar 16 = 18414522,17 Kg/h, karena pada keluaran Main Condenser tidak hanya di buang tapi melainkan ada yang di pompa ke Cooling Tower sebesar CT = 18287678,24 Kg/h. Jadi debit air yang diperoleh untuk perencanaan Mikro Hidro adalah : Q = 16 - CT = 18414522,17 - 18287678,24 = 126843,93 Kg/h 3 = 126,84393 m /h 3 = 127 m /h Sehingga volume air tampungan dalam 1 minggu maka akan diperoleh sebesar V = q x 3600 (detik) x 24 (jam) x 7 (hari) V = 0,035278 x 3600 x 24 x 7 3 V = 21336 m /minggu 4.2 Perancangan bangunan/fasilitas Teknik Sipil (instalasi air) dan sistem turbin air A. Hasil Perencanaan Bak Penampung Dari Persaman 3 jika direncanakan panjang dan lebar bak masing masing 30 m maka kedalaman bak di dapat sebesar 24 m. Hasil perhitungan dari persamaan 3 akan di tunjukkan pada tabel 2. B. Hasil Perencanaan Saluran Pembawa Hasil perhitungan dari persamaan 4 akan di tunjukkan pada tabel 3. Tabel 3. Hasil Perhitungan Bak Penampung

C. Bak Penenang (Surge Tank) Dari hasil perhiatungan Persamaan 5 maka akan di tabelkan pada tabel 5, 6, dan 7. Tabel 4. Hasil Perhitungan Bak Penenang Hasil Perhitungan Pipa Pesat (Penstock) Dari Persamaa 8 maka diameter pipa pesat akan diperoleh sebesar : D= D= D = 0,27 m Sehingga Persamaa 9 dan 10 ketebalan pipa di peroleh : Po = x Heff 3 Po = 1000 kg/m x 4,5 m 3 Po = 4500 kg/m Sehingga tebal pipa pesat adalah : = = D.

Parameter Laju air di saluran desain Pasangan beton Luasan Frontal saluran Tinggi muka air disaluran Tinggi muka air disaluran berdasarkan hubungan dengan lebar Lebar saluran Perimeter saluran Kemiringan dasar saluran

notasi v n A hs

nilai 0,5 0,015 0,2551 0,5102

Satuan m3/det m m2 m

hs`

0,3571

b` p s

0,7143 1,4286 0,00057

m m m

Dari Tabel 1 Turbin jenis Crossflow bekerja dengan effisiensi 80 % sehingga daya turbin air tersebut adalah : N = t x x g x Q x H N = 0,8 x 1000 x 9,8 x 0,1276 x 5 N = 5 KW, atau N = 6,796 HP

= 0,0000417 m = 0,0417 mm Tebal pipa harus ditambah sekitar 1 3 mm untuk cadangan karena karat pada pipa. Sehingga diambil ketebalan pipa minimum yaitu 5 mm. Dengan penambahan ketebalan pipa 1,5 mm, sehingga tebal pipa rencana di dapat : = 5 + 1,5 = 6,5 mm 4.3 Perancangan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), rumah pembangkit (Power House). Perancangan rumah pembangkit maka 2 dapat direncanakan seluas 5 m Maka dari Persamaan 11 didapat : L =6xS =6x5
2 2

B. Hasil Perhitungan Daya Generator Selanjutnya kondisi head dan debit di


Parameter Debit Rencana kecepatan dalam bak kecepatan kritis butir lebar bak pengendap panjang bak pengendap tinggi muka air dalam bak volume bak kemiringan dasar koefisien manning konstruksi notasi Q vn vkritis Bn L hn vb in n nilai 0,1276 0,18 0,1968 1,98 5,9029 1,5 17,57 0,000015 0,015 Satuan m3/detik m/detik m/detik m m m m3 -

= 6 x 25 = 150 m
2

A. Hasil Perhitungan Daya Turbin Air

saluran persegi dengan pasangan beton

lokasi, dapat diperoleh besar daya pembangkitannya yang ditentukan dari persamaan : Pg = x g x Q x H x t x belt x gen Efisiensi Generator (g) = 0,8 Efisiensi V- belt (belt) = 0,9 Efisiensi Transmisi (tr) = 0,9 Sehingga daya yang dibangkitkan oleh adalah : Pg = 1000 x 9,81 x 0,1276 x 5 x 0,9 x 0,9 x 0,8 Pg = 4,06 KW 4.4. Pembahasan Dari semua pembahasan diatas maka diperoleh : Hasil Perhitungan Debit 3 Q = 127 m /h Hasil Perhitungan Volume Air 3 Volume = 21336 m / Minggu Hasil Perhitungan Debit Air yang di butuhkan untuk Desain 3 Q = 0,1275510214 m /det Hasil Dimensi Bak Penampung L = 30 m W = 30 m H = 24 m Hasil Perencanaan Saluran Pembawa 2 A = 0,25510 m Hs = 0,5102 m P = 1,4286 m S = 0,00057 Hasil Perencanaan Bak Penenang (Surge Tank) Lebar bak = 2 m Panjang = 5,903 m 3 Volume bak = 17,71 m 2 Luas Penampang = 3 m Hasil Perencanaan Diameter Pipa Pesat (Penstock) D = 0,27 m Hasil Perencanaan Tebal Pipa Pesat = 6,5 mm Hasil Tegangan Perletakan Pada Pipa Pesat Gs = 5,316 kg/m Gw = 55,8767 kg/m Hasil Posisi Pengambilan MOL = 0,6498 m Perancangan Rumah Pembangkit (Power House) 2 L = 150 m Hasil Perhitungan Daya Turbin Air N = 5 KW Hasil Perhitungan Daya Generator Pg = 4,06 KW

KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan bahwa, pemanfaatan air buangan hasil kondensasi dari kondenser pembangkit listrik panas bumi ini sebesar 127 3 meter /jam dengan kapasitas bak penampung 3 sebesar 21336 meter , maka air buangan tersebut dialirkan ke penstock dengan 3 kecepatan debit air sebesar 1,17 meter /detik o pada sudut kemiringan 45 dengan panjang penstock sebesar 10 meter pada tinggi jatuh air sebesar 5 meter, maka dapat dihasilkan daya turbin sebesar 6,796 Horse Power atau sebesar 5 Kilo Watt dan dapat menggerakkan generator listrik yang menghasilkan daya sebesar 4,06 Kilo Watt. DAFTAR PUSTAKA - Cholilurrahman, R. Ahmad, 2002, Optimisasi Condenser Berbasis Teknik Pinch, pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, Dengan Siklus Kombinasi, Tesis (dari Dana SPP ITATS, tahun anggaran 2001/2002), Program Studi S-2 Teknik Elektro, Jurusan Ilmu-Ilmu Teknik, Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. - Cholilurrahman, R. Ahmad, dan Poernomo, 2009, Pemanfaatan Air Panas Hasil Separasi Dari Separator Sebagai PLTU Mini, Dan Uap Sisa Turbin PLTP Sebagai PLTG Mini, Hibah Penelitian Fundamental, Dibiayai oleh Direktorat Jendaral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian, Nomor : 001 / SP2HP / LPPM / ITATS / IV / 2009, tanggal : 7 April 2009 - Hidayat, Imam, 1981, Studi Dasar Pembangunan PLTP Kamojang 1 X 30 MW, tugas akhir sarjana, Fakultas Teknik Elektro, Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, Surabaya. - Jurusan Teknik Fisika, 2007, Dasar-dasar Desain dan Pengembangan Micro Hydro Power (MHP), Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. - Mayasari, Novita, 2003, Perancangan Ulang PLTMH Berbasis Perencanaan Ulang Kecepatan Spesifik Turbin Air, Skripsi (sebagai Dosen Pembimbing), Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya.